Nubuatan dan Pribadi Mushlih Mau’ud

Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 21 Februari 2020 (Tabligh 1399 Hijriyah Syamsiyah/ 27 Jumadil Akhir 1441 Hijriyah Qamariyah) di Masjid Baitul Futuh, Morden, London, UK (United Kingdom of Britain/Britania Raya)

أشْهَدُأنْلاإلهإِلاَّاللَّهُوَحْدَهُلاشَرِيكلَهُ،وأشْهَدُأنَّمُحَمَّداًعَبْدُهُوَرَسُولُهُ. أمابعدفأعوذباللهمنالشيطانالرجيم.

بسْمِاللهالرَّحْمَنالرَّحيم* الْحَمْدُللهرَبِّالْعَالَمينَ* الرَّحْمَنالرَّحيم* مَالكيَوْمالدِّين* إيَّاكَنَعْبُدُوَإيَّاكَنَسْتَعينُ* اهْدنَاالصِّرَاطَالْمُسْتَقيمَ* صِرَاطالَّذِينَأَنْعَمْتَعَلَيْهِمْغَيْرالْمَغْضُوبعَلَيْهمْوَلاالضالِّينَ. (آمين)

Tanggal 20 Februari dalam Jemaat Ahmadiyah, diingat secara khusus berkaitan dengan nubuatan Mushlih Mau’ud dan di Jemaat-Jemaat diadakan juga acara Hari Mushlih Mau’ud. Meskipun sebelum ini pernah saya sampaikan dalam berbagai kesempatan, namun perlu saya sampaikan lagi untuk para Ahmadi baru dan juga kalangan remaja bahwa hari Mushlih Mau’ud ini diadakan bukanlah merayakan hari kelahiran Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) melainkan mengenang tergenapinya satu nubuatan.

Nubuatan yang diumumkan oleh Hadhrat Masih Mau’ud (as) berdasarkan ilham Ilahi untuk membuktikan kebenaran dan keunggulan Islam yang dinubuatkan tiga tahun sebelum kelahiran Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra). Di selebaran pengumuman itu dikabarkan akan lahirnya seorang putra yang dijanjikan, yaitu khadim Islam yang dijadikan sebagai tanda bagi para penentang Islam. Kemarin tanggal 20 Februari dan nubuatan tersebut genap 134 tahun sehingga ini merupakan tanda cemerlang sejak lebih dari masa 100 tahun yang lalu.

Seperti yang telah saya katakan bahwa dalam Jemaat diadakan acara-acara. Di dalam acara-acara itu dijelaskan juga sampai batas tertentu perihal nubuatan tersebut yang terkandung beragam sisi dan keistimewaan putra yang dijanjikan. Namun demikian, di dalam sebuah acara yang berlangsung selama satu atau dua jam saja tidak mungkin dapat dijelaskan seluruh pokok bahasan, keutamaan dan juga keagungan penggenapannya. Jika dalam acara tersebut tidak mungkin dapat menjangkau semuanya, maka apalagi dalam satu khotbah sama sekali tidak mungkin dapat dijelaskan seluruh sisinya. Untuk itu saya berpikir untuk menyampaikan beberapa diantara pokok bahasan yang telah dijelaskan oleh Hadhrat Mushlih Mau’ud. Dengan membaca dan mendengarnya secara langsung memberikan kenikmatan tersendiri. Dari rujukan singkat tersebut dapat diperkirakan betapa luasnya nubuatan tersebut dan telah tergenapi dengan dahsyatnya dalam diri putra yang dijanjikan dari Hadhrat Masih Mau’ud (as).

Namun sebelum itu saya akan sampaikan matan (isi) nubuatan dari Hadhrat Masih Mau’ud (as) dan keterangannya. Beliau (as) bersabda dalam menjelaskan nubuatan tersebut dan memberitahukan kepada para penentang nubuatan apa saja berkenaan dengan nubuatan Mushlih Mau’ud: “Nubuatan pertama, bi ilhaamillaahi Ta’aala wa i’laamihii (dengan perantaraan ilham dan pemberitahuan dari Allah Ta’ala) Tuhan ‘Azza wa Jalla yang Rahiim (Maha Penyayang), Kariim (Maha Mulia) dan Yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu (jalla syaanah wa ‘azza ismuhuu) Dia berfirman kepadaku lewat ilham, ‘Aku anugerahkan sebuah Tanda Rahmat kepada engkau sesuai dengan permohonan engkau kepada-Ku. Telah Ku-dengar rintihan doa engkau dan dengan kasih-sayang-Ku permohonan doa engkau telah Ku-kabulkan dan perjalanan engkau [perjalanan ke Hoshiarpur dan Ludhiana] telah diberkati bagi engkau. Maka, telah diberikan kepada engkau tanda Qudrat (Kekuasaan) dan Rahmat (kasih-sayang) serta Qurbat (kecintaan, kedekatan). Tanda Fadhl (Karunia) dan Ihsaan (Kebaikan) telah dianugerahkan kepada engkau dan engkau mendapat kunci Fath (kemenangan) dan kunci Zhafr (kejayaan, pertolongan). Hai Muzhaffar (orang yang berjaya)! Salaam (selamat sejahtera) atas engkau!’

Demikianlah yang difirmankan oleh Tuhan, ‘Supaya mereka yang menghendaki kehidupan terselamat dari cengkeraman maut dan mereka yang terbenam di dalam kubur agar keluar dari padanya dan supaya terlihat jelas kepada manusia kemuliaan agama Islam dan keagungan Kalam Allah dan supaya kebenaran tegak bersama semua berkat-berkatnya dan supaya kebatilan jauh sirna bersama kesialannya dan supaya manusia paham bahwa Aku ini Qaadir(Maha Kuasa) Aku berbuat sesuai dengan keinginan-Ku.

Supaya manusia menjadi sangat yakin bahwa Aku ada bersama engkau dan supaya orang-orang yang tidak beriman kepada keberadaan Tuhan dan memandang dengan pandangan ingkar dan kedustaan terhadap Tuhan dan terhadap agama Tuhan dan terhadap Kitab-Nya dan terhadap Rasul Suci-Nya Muhammad Mustafa (shallallaahu ‘alaihi wa sallam) mendapat Tanda yang sangat terbuka (jelas, terang-benderang) dan supaya tampak jelas jalan orang-orang berdosa.

Maka, kabar sukalah bagi engkau! Seorang anak lelaki yang mulia dan bersih akan dianugerahkan kepada engkau. Engkau akan mendapat seorang anak lelaki suci yang akan lahir dari benih keturunan engkau. Seorang anak lelaki yang tampan dan suci akan datang sebagai tamu bagi engkau. Namanya Emanuel dan Bashir.

Kepadanya diberikan ruh yang disucikan. Dia suci bersih dari dosa dan kotoran. Dia adalah Nur Allah. Penuh keberkahanlah dia yang datang dari langit. Dia didampingi fadhl (karunia) yang turun bersama-sama kedatangannya. Dia memiliki syakwah (kehormatan, wilayah), ‘izhmat (keagungan) dan daulat (kemakmuran, kekayaan).

Dia akan datang ke dunia dan melalui berkat-berkat Masihi Nafs (jiwa, ruh Masih) dan Ruhul Haqq-nya dia akan menyembuhkan banyak orang dari penyakit-penyakit mereka. Dia adalah Kalimatullaah, sebab dia telah dikirim oleh Rahmat dan Ghairat Tuhan dengan kalimah Tamjid-Nya (pujian-Nya). Dia akan sangat pandai dan sangat cerdas sedangkan hatinya sangat lembut, dan dia akan dibekali penuh dengan ilmu-ilmu pengetahuan zhahiri dan bathini, dan dia akan merubah 3 menjadi 4.”

“Hari Senin! Beberkatlah hari Senin itu! Anak cemerlang, mulia dan terhormat, مَظهر الأول والآخِر، مظهَرُ الحقّ والعلاء ، كأن الله نزل من السماء ‘mazhharul awwali wal aakhiri, mazhharul haqqi wal ‘ulaa-i, ka-annaLlaaha nazala minas samaa’Mazhhar al-Awwal wal Akhir (manifestasi Yang Maha Awwal dan Akhir), Mazhhar al-Haqq wal ‘Ulaa-i (manifestasi Yang Maha Benar dan Maha Tinggi), ka-annaLlaha nazala minas samaa’ seakan-akan Allah turun dari langit. Kedatangannya sangat penuh keberkahan dan menjadi sebab penampakan kegagahan Ilahi [jalaali Ilahi].

Cahaya datang. Cahaya yang Tuhan telah sirami dengan air harum keridhaan-Nya. Akan Kami masukkan ruh Kami ke dalamnya dan naungan Tuhan akan selalu diatas kepalanya. Dia akan cepat sekali mengalami kemajuan dan menjadi pembebas orang-orang yang terbelenggu, dan dia akan masyhur sampai ke pelosok-pelosok bumi, dan bangsa-bangsa akan mendapat banyak berkat dari padanya. Kemudian ia akan diangkat ke langit dari segi keruhaniannya. وكان أمرًا مقضيًّا – ‘wa kaana amram maqdhiyya. Hal ini telah ditetapkan. Sempurnalah seluruh pekerjaan.”1

Demikianlah matan nubuatan yang menerangkan berbagai sisi dan keistimewaan putra yang dijanjikan. Untuk memohon tanda dari Allah Ta’ala, khalwat yang beliau lakukan dan sebagai hasilnya Allah Ta’ala mengilhamkan kepada beliau yang saya sampaikan selengkapnya tadi. Dalam menjabarkan tempat beliau berkhalwat dan doa doa yang beliau panjatkan, sebagai buah dari pengabulan doa dan dalam menjelaskan berkenaan dengan ilham yang hasilnya beliau nubuatkan yakni nubuatan Mushlih Mau’ud.

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda: “Genap 58 tahun lalu (Ketika beliau bersabda, usia nubuatan genap 58 tahun) Pada hari ini akan mulai 59 tahun. Pada tanggal 20 Februari 1886 di Hosyarpur di tempat ini.” (Saat itu Hadhrat Mushlih Mau’ud tengah menyampaikan pidato di Hosyarpur di tempat tersebut dan Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) menunjuk dengan jari beliau) bersabda: “Di depan jari saya ini terdapat sebuah tempat yang saat ini dinamai Tawilah yang berarti bahwa tempat itu bukanlah rumah sebenarnya melainkan merupakan tempat lebih yang merupakan bagian rumah milik seorang yang kaya sebagaimana terkadang dibuatkan neksiyan yang mungkin saja secara kebetulan ditempati oleh tamu. Di tempat tersebut pemilik rumah membuat gudang di dalamnya atau jika diperlukan digunakan untuk mengikat hewan di dalamnya yakni ruangan tambahan.

Seorang laki-laki penduduk Qadian yang tidak dikenal dan tersembunyi, bahkan oleh penduduk Qadian sendiri karena melihat penentangan yang dilancarkan terhadap Islam dan pendirinya, beliau datang ke tempat sederhana itu yang benar-benar sebuah ruang kosong dari rumah yang agak besar untuk mempersembahkan dirinya ke hadapan Allah Ta’ala dalam kesendirian untuk beribadah kepada-Nya dan mencari pertolongan serta dukungan-Nya.

Beliau tinggal mengasingkan diri dari orang-orang dan melibatkan diri dalam doa-doa dengan penuh kekhusu’an selama 40 hari. Allah Ta’ala menganugerahkan beliau (as) sebuah tanda setelah berdoa 40 hari. Tanda ini ringkasnya adalah, ‘Aku (Allah) tidak hanya akan memenuhi janji-janji yang telah Ku-buat terhadap engkau serta akan menjadikan nama engkau sampai ke seluruh penjuru dunia, namun untuk memenuhi janji ini dengan kemuliaan yang lebih agung, Aku bahkan akan menganugerahi engkau seorang anak laki-laki yang akan diberkati beberapa sifat dan kualitas yang khas. Dia akan menjadikan Islam tersebar ke seluruh belahan bumi. Dia akan membuat orang-orang memahami pokok-pokok ma’rifat Samawi. Dia akan menjadi manifestasi rahmat dan karunia-Ku. Dia akan dikarunai pengetahuan duniawi dan rohani yang dibutuhkan guna penyebaran Islam ke setiap tempat. Aku akan memberinya juga umur panjang hingga dia meraih kemasyhuran di seluruh dunia.’”2

Di negeri manapun dunia saat ini Jemaat Ahmadiyah berdiri, kemasyhuran nubuatan tersebut dan kemasyhuran putra yang agung itu sampai. Ketika selebaran itu diterbitkan, saat itu para penentang melontarkan keberatan, nubuatan apalah ini? Kata mereka, “Siapapun dapat mengabarkan bahwa akan terlahir seorang putra di rumahnya sendiri.”

Sebagai jawabannya diberikan oleh Hadhrat Masih Mau’ud (ra). Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda: “Ketika selebaran pengumuman ini diterbitkan, para penentang Jemaat mulai melancarkan berbagai kritikan dan kemudian pada 22 Maret 1886 Hadhrat Masih Mau’ud (as) menerbitkan pengumuman yang lain. Para penentang telah melancarkan kritikan, ‘Keyakinan apa yang dapat dimiliki seseorang terhadap suatu nubuatan yang mengatakan, “Saya akan diberkati dengan seorang anak laki-laki”?! Tidakkah yang lahir di rumah orang-orang selalu anak laki-laki? Mungkin hanya segelintir saja orang yang di rumahnya terlahir bukan anak laki laki atau hanya anak perempuan saja. Pada umumnya yang lahir di rumah orang-orang adalah anak laki-laki dan kelahiran mereka tidak pernah dijadikan suatu tanda yang khas. Jadi jika seorang anak laki-laki dilahirkan di rumah kalian lalu bagaimana hal ini akan membuktikan bahwa dengan cara ini tanda Ilahi akan dimanifestasikan ke dunia?’

Dalam menjawab keberatan ini, Hadhrat Masih Mau’ud (as) menulis dalam pengumuman tanggal 22 Maret 1886, “Hal ini tidak hanya sekedar nubuatan belaka namun sebenarnya adalah tanda samawi dahsyat yang telah Allah Ta’ala manifestasikan dalam mendukung kebenaran dan kemuliaan utusan-Nya yang pengasih dan penyayang, baginda Nabi Muhammad, Rasulullah saw.”

Pada pengumuman yang sama, Hadhrat Masih Mau’ud (as) juga menyatakan, “Dengan karunia Allah Ta’ala Yang Maha Pemurah, dan melalui berkat dari Sang Khaataman Nabiyyiin (saw), Allah Yang Maha Pengasih, dengan mengabulkan doa-doa seorang yang rendah ini, menjanjikan untuk mengirimkan suatu jiwa yang diberkati yang segala keberkatannya baik yang tampak maupun yang tersembunyi akan menyebar ke seluruh bumi dan langit.”

Terkait:   Keteladanan Para Sahabat Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam (Manusia-Manusia Istimewa, seri 57)

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda: “Nyatanya,[pertama], jika Hadhrat Masih Mau’ud (as) telah memberikan berita begitu saja dari diri beliau (as) sendiri mengenai kelahiran seorang anak laki-laki maka bahkan kabar ini pun kemudian akan menjadi suatu nubuatan. Sebab, ada sekelompok orang di dunia ini yang tidak bisa memiliki keturunan, tidak masalah seberapa kecilnya jumlah mereka. Kedua, ketika beliau membuat pengumuman ini, beliau telah berumur lebih dari 50 tahun. Ada ribuan orang yang berumur seperti beliau ini di dunia ini yang berhenti berketurunan. [Ketiga], kemudian ada juga orang-orang yang hanya memiliki anak-anak perempuan sedangkan yang lainnya memiliki keturunan laki-laki namun meninggal dalam jangka waktu yang singkat setelah kelahirannya – dan semua kemungkinan dan keraguan ini dapat terjadi dalam hal ini.

Pendeknya, hal pertama ialah memberikan kabar kelahiran seorang anak laki-laki bukanlah kuasa seorang manusia. Namun, katakanlah, keberatan ini diterima bahwa menganggap hanya menyebutkan kelahiran seorang anak laki-laki bukanlah suatu hal yang bernilai untuk disebutkan sebagai suatu nubuatan maka…” [Sabda Hadhrat Masih Mau’ud (as)] “Silahkan berikan sebuah kabar kelahiran seorang anak laki-laki yang akan lahir dari kalian. Saya tidak hanya berkata akan lahir seorang anak laki-laki. Apa yang saya katakan adalah, Allah Ta’ala dengan mengabulkan doa-doa saya telah berjanji mengirimkan ke dunia ini suatu jiwa yang diberkati yang segala keberkatannya baik yang tampak maupun yang tersembunyi akan tersebar ke seluruh bumi.”3

Sebagaimana telah saya katakan bahwa pada hari ini dunia menjadi saksi bahwa anak yang dijanjikan ini telah meraih kemasyhuran sampai ke berbagai pelosok dunia. Setiap misi dunia diluar Hindustan dan luar Qadian menjaid bukti akan kebenaran beliau. Banyak sekali misi yang berdiri di dunia pada zaman Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra). Mata rantai itu, mata rantai nizam ini terus berlangsung sampai hari ini.

Sebagian orang melontarkan keberatan bahwa Hadhrat Mushlih Mau’ud akan lahir di kemudian hari setelah suatu masa yakni setelah 100 tahun, 200 atau 300 tahun kemudian. Dalam menjelaskan hal itu yakni atas alasan apa Hadhrat Masih Mau’ud memohon tanda dan kenapa kelahirannya dan pemenuhan tanda tersebut perlu terjadi pada zaman beliau.

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda: “Orang-orang ada yang mengatakan, ‘Mushlih Mau’ud akan dilahirkan dari keturunan Hadhrat Masih Mau’ud (as) sekitar 300-400 tahun mendatang dan tidak dapat datang pada masa sekarang ini.’” (Di sini pun disebutkan Mushlih Mau’ud itu keturunan Masih Mau’ud yakni dari keturunan berikutnya 300-400 tahun kemudian. Ia tidak akan datang pada masa Hadhrat Masih Mau’ud (as)) “Apakah tak ada satu orang pun dari antara mereka yang takut akan Tuhan lalu melihat serta merenungkan kata-kata nubuatan itu?

Hadhrat Masih Mau’ud (as) menulis bahwa pada saat ini suatu kritikan disampaikan terhadap Islam bahwa Islam tidak memiliki kekuatan apapun untuk dapat memanifestasikan suatu tanda guna mendukungnya. Pandit Lekh Ram adalah salah seorang yang menyampaikan kritikan, ‘Jika Islam sungguh benar, lalu tunjukanlah suatu tanda.’ Indarman Muradabadi juga membuat permintaan yang sama.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersujud di hadapan Allah Ta’ala dan berdoa kepada-Nya, ‘Ya Allah! Perlihatkan suatu tanda yang akan membuat orang-orang yang menuntut itu yakin. Perlihatkan suatu tanda yang akan membuat Indarman Muradabadi itu yakin.’

Orang-orang yang berkeberatan berkata, ‘Hadhrat Masih Mau’ud (as) memanjatkan doa demikian dan Allah Ta’ala menjawab doa-doanya lalu Dia akan menganugerahinya seorang anak yang akan menjadi tanda kebenaran Islam pada 300 atau 400 tahun dari sekarang.’ Apakah ada orang yang berakal sehat di dunia ini yang dapat mencerna pemahaman seperti itu?

Perumpamaan hal ini adalah seperti seseorang yang sangat haus yang pergi ke depan pintu rumah seseorang dan berkata, ‘Saya sangat haus, demi Allah Ta’ala berikanlah saya air minum.’

Orang tersebut menjawab dengan berkata, ‘Lihat, jangan takut tuan. Saya telah menulis surat ke Amerika. Pada akhir tahun ini saya akan menerima bahan dasar yang sangat berkualitas tinggi dari sana yang dengannya kita buat serbat (minuman) segar dan memberikannya pada Anda untuk diminum.’ Bahkan seorang yang paling tidak waras diantara orang yang tidak waras sekalipun tidak akan menyematkan hal ini kepada Allah dan Rasul-Nya.

Pandit Lekh Ram, Munshi Indarman Muradabadi dan orang-orang Hindu di Qadian berkata, ‘Pernyataan dia atas nama Islam bahwa Tuhannya memiliki kekuatan untuk menunjukan suatu tanda untuk mendukungnya benar-benar salah dan tidak berdasar. Jika ada suatu kebenaran terhadap pernyataan ini maka tunjukanlah kepada kami suatu tanda.’

Kemudian, Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersujud di hadapan Allah Ta’ala seraya berkata, ‘Wahai Tuhan, hamba memohon kepada Engkau agar tunjukanlah suatu tanda Kasih Sayang Engkau, suatu tanda Kedekatan Engkau dan Kekuasaan Engkau.’

Itu artinya, tanda tersebut hendaknya muncul pada masa yang dekat sekali dari masa itu, ketika mereka yang menuntut tanda itu masih hidup. Seperti itulah yang terjadi. Pada tahun 1889 ketika saya lahir berdasarkan nubuatan Allah Ta’ala, saat itu orang-orang yang menuntut tanda itu masih hidup. Seiring dengan tumbuh berkembangnya saya, tanda-tanda samawi dari Allah Ta’ala terus bermunculan banyak sekali.”4

Dengan demikian, munculnya tanda tersebut pada masa kehidupan Hadhrat Masih Mau’ud (as) dan kehidupan orang-orang yang menuntut tanda itu sendiri adalah perlu. Sangat penting bagi kita untuk mengetahui apa saja tujuan dari nubuatan tersebut? Dan mengapa peraihan tujuan tersebut pada masa Hadhrat Masih Mau’ud (as) dinyatakan perlu? Sebagian telah saya sampaikan secara singkat baru saja mengenai kenapa penggenapan tanda tersebut kepada putra biologis beliau (as) sendiri dianggap perlu?

Menjelaskan berkenaan tanda-tanda tersebut Hadhrat Mushlih Mau’ud Ra bersabda, “Dalam selebarannya tertanggal 20 Februari 1886, Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda: Allah Ta’ala telah menyatakan padaku bahwa nubuatan yang diumumkan kepada dunia memiliki banyak tujuan. Pertama, tujuannya adalah ‘supaya siapa saja yang mengharapkan kehidupan, dibebaskan dari kematian dan bagi mereka yang terpendam di dalam kubur, bangkit keluar yakni yang telah mati ruhaninya menjadi hidup kembali.’

Jika dipahami bahwa nubuatan tersebut akan tergenapi 300-400 tahun kemudian maka makna nubuatan itu berarti siapa saja yang mengharapkan kehidupan, mati saja terus karena 400 tahun lagi dia akan dihidupkan. Keyakinan seperti itu jelas sekali batil dan keliru. Khalwat itu dilakukan bertujuan supaya tanda Tuhan yang hidup tampak jelas di hadapan mereka yang mengingkari agama Islam, dan bagi mereka yang mengingkari karomah Hadhrat Rasulullah (saw), dapat meraih bukti kuat dan segar bahwa saat ini pun Allah Ta’ala masih menzahirkan tanda-tandaNya sebagai dukungan kepada Islam dan Rasulullah (saw).

Kalimat ilham yang menjelaskan tujuan dari nubuatan itu adalah: Tuhan mengatakan demikian yakni supaya mereka yang mengharapkan kehidupan mendapatkan keselamatan dari cengkraman maut dan mereka yang terpendam di dalam kubur, dapat bangkit keluar.

Jika saja pandangan mereka dianggap benar yang mengatakan bahwa Mushlih Mau’ud akan datang 300-400 tahun kemudian, berarti penjelasan dari kalimat tadi adalah seperti ini, yakni nubuatan ini disampaikan supaya orang-orang yang mengharapkan kehidupan, biar saja tetap mati, lalu 300-400 tahun kemudian akan dihidupkan sebagian orang dari antara keturunan mereka, namun apakah aka nada orang yang dapat meyakini kalimat tersebut.

Kedua, bertujuan supaya kemuliaan agama Islam terlihat jelas dan martabat Kalam Ilahi terlihat jelas kepada setiap orang. Dari kalimat tersebut jelas memberikan makna bahwa jika saja kemuliaan agama Islam dan martabat Kalamullah dinyatakan kepada orang orang 300-400 tahun kemudian ketika mereka sendiri sudah tiada, begitu juga anak keturunan mereka, ketika Pandit Lekhram telah tiada, begitu juga Munshi Indraman Muradabadi sudah tiada, tidak juga anak keturunan mereka dan juga anak keturunan dari keturunan mereka sudah tiada baru kemuliaan Islam dan martabat Kalam Ilahi akan ditampakkan? Apakah akan ada orang berakal yang membenarkan makna tersebut?

Tujuan ketiga, dinubuatkan supaya ‘Haq kebenaran tampil disertai dengan segenap keberkatannya dan kebatilan sirna dengan segenap kesialannya.’ Maknanya pun jelas bahwa kebenaran pada saat itu lemah dan kebatilan unggul. Allah Ta’ala menghendaki supaya tampak tanda yang secara akal dan ilmu sempurnalah hujjah bagi para penentang Islam sehingga mereka terpaksa mengakui bahwa Islam adalah Haq dan sekian banyak agama yang tampil melawannya kesemuanya adalah batil.

Tujuan keempat dari nubuatan tersebut adalah ‘..supaya orang-orang mengerti bahwa Aku (Allah) adalah Maha Kuasa dan dapat melakukan apa yang Aku kehendaki.’

Hal yang perlu direnungkan adalah, Dalam corak tersebut, bagaimana orang-orang dapat memahami bahwa Tuhan Maha Kuasa. Jika dikatakan bahwa akan zahir suatu tanda setelah 300 atau 400 tahun berlalu yang akan membuat kalian terpaksa mengakui bahwa Tuhannya Islam adalah Maha kuasa.

Bagaimana Lekhram atau orang-orang yang pada saat itu berkeberatan kepada Islam akan memberikan keutamaan pada nubuatan semacam itu? Begitu juga orang-orang yang mengatakan tanda-tanda Rasulullah itu adalah batil dan meyakini Islam sebagai agama yang sudah mati, hujjah apa yang bisa diberikan kepada mereka? Apakah kalian setela 400 tahun nanti kalian akan mulai meyakini Tuhan itu Maha Kuasa? Bagaimana mereka akan dapat meyakini Tuhan Maha Kuasa setelah tergenapi nubuatan 400 tahun kemudian? Malah sebaliknya mereka akan mengatakan, ‘Kami tidak dapat menerima pernyataan lisan saja bahwa akan terjadi demikian 400 tahun kemudian. Setiap orang akan mengatakan bahwa sesuatu akan dianggap meyakinkan jika tanda tersebut diperlihatkan kepada kami dan dibuktikan kekuasaan Tuhannya Islam.’

Jadi, tergenapinya tanda tersebut pada masa kehidupan Hadhrat Masih Mau’ud (as) adalah perlu.

Tujuan kelima dijelaskan, ‘Supaya mereka yakin nahwa Aku menyertai engkau.’ Artinya, Allah Ta’ala menyertai Hadhrat Masih Mau’ud (as). Jika nubuatan tersebut akan tergenapi 400 tahun kemudian bagaimana orang-orang pada masa itu dapat meyakini bahwa Allah Ta’ala menyertai Hadhrat Masih Mau’ud As?

Tujuan keenam, supaya orang-orang yang tidak meyakini wujud Tuhan dan mengingkari Tuhan, agama-Nya, kitab-Nya dan Rasul suci Muhammad (saw) dan memandangnya dengan pandangan mendustakan mendapatkan tanda yang terang.

Maknanya, ‘Orang-orang yang mendustakan Islam pada zaman saya ini.’ (yaitu pada zaman Hadhrat Masih Mau’ud (as) menyampaikan nubuatan beliau) ‘…supaya mereka mendapatkan tanda terang akan kebenaran Islam.’

Akan tetapi, jika tanda itu didapatkan 400 tahun kemudian ketika orang-orang pada saat itu, juga keturunannya bahkan keturunan dari keturunannya tidak ada yang hidup lagi maka pemahaman seperti itu tidak dapat dicerna akal sehat.

Tujuan ketujuh, nubuatan itu disampaikan supaya tampak jelaslah cara-cara yang ditempuh oleh para pendosa dan menjadi tahu bahwa mereka adalah pendusta. Lantas bagaimana orang-orang pada zaman itu dapat mengetahui wujud yang akan datang 400 tahun kemudian.”

Dengan demikian, nubuatan tersebut akan digenapi oleh keturunan Hadhrat Masih Mau’ud (as) sendiri sebagaimana tertulis dalam nubuatan, “Pribadi tersebut akan berasal dari benihmu dan anak keturunanmu”, bukan dari keturunan pada masa kemudian. Dalam hal ini ialah mengenai putra beliau sendirilah dan itu tergenapi dengan dahsyatnya. Masa kekhalifahan Hadhrat Mushlih Mau’ud yang berlangsung selama 52 tahun telah tampak jelas kepada dunia seperti seberkas sinar yang terang.

Terkait:   Keteladanan para Sahabat Nabi Muhammad seri-81

Berkenaan dengan jasa-jasa beliau dalam bidang ilmu dan makrifat diakui oleh non Ahmadi sekalipun, selengkapnya kita akan jumpai dalam literatur Jemaat. Jika itu disampaikan akan memakan banyak waktu.

Hadhrat Khalifatul Masih kedua Ra bersabda, “Saya adalah Mushlih Mau’ud.”

(Sebelum itu dilontarkan keberatan bahwa beliau tidak mengumumkan diri sebagai Mushlih Mau’ud, lalu pada tahun 1944 beliau mengumumkannya)

Ketika mengumumkan beliau (ra) bersabda, “Saya katakan dengan sumpah atas nama Allah bahwa saya-lah penggenapan dari nubuatan Mushlih Mau’ud dan saya-lah yang dimaksud oleh nubuatan yang disampaikan oleh Hadhrat masih Mau’ud (as) berkenaan dengan akan lahirnya putra yang dijanjikan. Orang yang beranggapan bahwa saya mengada-adakan kedustaan atau memberikan keterangan palsu, silahkan datang dan bermubahalah dengan saya dalam hal ini atau silahkan menyatakan ikrar disertai pernyataan kesiapan untuk menjadi sasaran azab Ilahi bahwa Allah Ta’ala telah mengatakan padanya bahwa saya (Hadhrat Mushlih Mau’ud) telah berdusta. Lalu dengan sendirinya Allah Ta’ala akan memutuskan melalui tanda-tanda samawi siapa yang pendusta dan siapa yang benar.” (Dalam hal ini tdak ada yang tampil apakah dari kalangan penentang Jemaat atau pun mereka yang memisahkan diri dari Jemaat).

Seandainya mereka mengatakan bahwa mimpi mereka itu benar sebagaimana yang dikatakan oleh Misri Sahib.” (yaitu beberapa Jemaat yang telah keluar dari Jemaat), “lantas silahkan tulis suatu makalah yang mendukung kebenaran hal itu, niscaya saya akan menjawabnya. Saya yakin bahwa jika ia tampil dalam pertandingan ini, ia sedemikian akan menganggung malu sehingga akan selalu mengingatnya sampai masa yang panjang. Alhasil, berkat karunia dan rahmat Allah Ta’ala nubuatan yang dinanti-nanti penggenapannya itu, telah Allah Ta’ala kabarkan kepada saya dengan perantaraan ilham dan tanda bahwa nubuatan tersebut telah tergenapi dengan perantaraan wujud (keberadaan) saya.

Saat ini Allah ta’ala telah memberikan hujjah yang kamil terhadap para penentang Islam dan menjelaskan kepada mereka bahwa Islam merupakan benar-benar agama Allah Ta’ala, Muhammad Rasulullah adalah benar-benar Rasul Allah Ta’ala dan Hadhrat Masih Mau’ud (as) adalah benar-benar utusan Allah Ta’ala. Pendusta adalah mereka yang menuduh Islam pendusta. Pendustalah mereka yang mengatakan Rasulullah (saw) pendusta. Dengan perantaraan nubuatan agung ini Allah Ta’ala telah memberikan bukti hidup kepada orang orang akan kebenaran Islam dan Rasulullah (saw).”

Beliau ra bersabda, “Manusia seperti apa yang memiliki kekuatan sehingga pada tahun 1886, terhitung 58 tahun yang lalu mengabarkan bahwa di rumahnya akan terlahir seorang putra dalam masa 9 tahun, anak itu akan maju berkembang dengan cepat, akan meraih kemasyhuran sampai ke pelosok dunia, ia akan menyebarkan nama Islam dan Rasulullah (saw) di dunia, ia akan dipenuhi dengan ilmu lahir dan batin, ia akan menjadi penyebab tampaknya keperkasaan Ilahi, ia akan menjadi tanda hidup akan kekuasaan Ilahi, Kedekatan-Nya dan Rahmat-Nya.

Tidak ada orang yang mampu mengabarkan hal seperti itu dari dirinya sendiri, Allah Ta’ala telah mengabarkan itu padanya dan Allah itu jugalah yang menggenapinya dengan perantaraan manusia yang berkenaan dengannya dokter pesimis, apakah anak tersebut akan terus hidup atau berumur panjang?” (Maksudnya, kondisi kesehatan Hadhrat Mushlih Mau’ud pada masa awal sedemikian rupa menghawatirkan sehingga dokter pun merasa pesimis, apakah beliau akan berumur panjang?)

Selanjutnya beliau (as) bersabda, “Kesehatan saya pada waktu kecil sedemikian buruknya sehingga suatu ketika Dokter Mirza Yaqub mengatakan kepada Hadhrat Masih Mau’ud (as) berkenaan dengan saya supaya saya dikirimkan ke suatu tempat di kawasan pegunungan. Hadhrat Masih Mau’ud (as) lalu mengirim saya ke Shimla, namun sesampainya di sana saya merasa sedih sehingga saya segera pulang lagi.

Alhasil, kesehatan seorang anak manusia yang setiap harinya buruk, Allah ta’ala terus membiarkannya hidup karena dengan perantaraannya Allah Ta’ala akan menggenapi nubuatannya dan memberikan bukti kebenaran Islam dan Ahmadiyah kepada orang-orang. Selanjutnya seorang insan yang tidak memperoleh ilmu dari antara ilmu lahiriah, namun Tuhan dengan karuniaNya mengutus malaikatnya untuk mengajari saya. Mereka mengajarkan padaku pokok-pokok tema dalam Al-Qur’an yang mana hal itu tidak mungkin akan terpikirkan oleh orang lain.

Ilmu yang Allah Ta’ala anugerahkan kepada saya merupakan sumber mata air ruhani dan yang memancar di dada saya bukanlah ilusi melainkan sedemikian rupa meyakinkan dan qath’i sehingga saya dapat menantang seluruh dunia jika di balik tirai dunia ini terdapat manusia yang mengaku bahwa Allah Ta’ala telah mengajarkan Al Quran padanya maka setiap saat saya siap untuk bertanding dengan orang itu. Namun saya mengetahui bahwa pada hari ini tidak ada seorang pun di dunia ini yang dianugerahkan ilmu Al-Qur’an oleh Allah Ta’ala kecuali saya. Allah Ta’ala telah menganugerahkan ilmu Al Quran kepada saya dan untuk mengajarkan Al Quran pada zaman ini, Allah Ta’ala telah menetapkan saya sebagai guru bagi dunia.

Allah Ta’ala telah menegakkan saya untuk tujuan ini yaitu untuk menyampaikan nama Muhammad Rasulullah (saw) dan Al-Qur’an Karim sampai ke pelosok dunia dan memberikan kekalahan abadi kepada segenap agama batil yang menentang Islam di dunia. Silahkan dunia mengerahkan segenap kekuatan! Kumpulkanlah segenap kekuatan dan perkumpulan! Silahkan raja Kristen dan pemerintahannya pun bergabung! Silahkan Eropa dan Amerika bersekongkol! Silahkan para hartawan dunia dan bangsa bangsa yang tangguh bergabung lalu bersatu untuk menggagalkan misi saya ini!

Namun, tetap saja saya ikrarkan sumpah atas nama Allah bahwa mereka akan gagal dalam menghadapi saya. Allah Ta’ala akan membinasakan segenap rencana, makar dan tipun mereka di hadapan doa-doa dan upaya saya. Demi membuktikan kebenaran nubuatan ini, Allah Ta’ala akan menegakkan kehormatan Islam dengan perantaraan saya atau murid-murid saya dan pengikut saya sebagai buah dari nama dan pengorbanan Rasulullah (saw) dan saat ini tidak akan melepaskan dunia sebelum Islam tegak lagi di dunia dengan segenap keagungannya dan sebelum Muhammad Rasulullah (saw) diakui sebagai nabi yang hidup di dunia ini.”

Alhasil, ini bukanlah pengumuman yang biasa-biasa saja. Seperti yang telah saya katakan, masa kekhalifahan beliau yang berlangsung 52 tahun memperlihatkan kedahsyatannya setiap hari. Beliau (ra) bersabda: “Wahai teman-teman! Saya tidaklah berambisi untuk mendapatkan suatu kehormatan. Saya pun tidak berharap mendapatkan tambahan umur sebelum Tuhan memperlihatkannya kepada saya. Yang saya harapkan adalah karunia Allah Ta’ala dan saya memiliki keyakinan penuh bahwa dalam menegakkan kehormatan Rasulullah (saw) dan Islam dan menegakkan kembali Islam diatas kakinya sendiri dan dalam mengalahkan Kristen, sepak terjang saya yang lalu maupun yang akan datang insya Allah akan memberikan andil di dalamnya. Diantara tumit yang akan melumatkan kepala setan dan akan mengalahkan agama Kristen, salah satunya adalah tumit saya, insya Allah.

Saya persembahkan kebenaran ini kehadapan dunia secara terbuka, suara ini merupakan suara Tuhan langit dan bumi. Kehendak ini merupakan kehendak Tuhan langit dan bumi. Kebenaran ini tidak akan terelakkan, tidak akan terelakkan dan tidak akan terelakkan. Islam akan unggul di dunia ini, insya Allah. Agama Kristen akan kalah di dunia ini, tidak ada lagi penolong yang dapat menyelamatkan agama Kristen dari serangan saya. Allah Ta’ala akan mengalahkannya dengan perantaraan tanganku. Jika tidak dalam kehidupan saya Dia akan melumatkannya sehingga tidak akan mampu lagi untuk mengangkat kepala atau dengan perantaraan benih yang saya tanam yang selanjutnya akan tumbuh pohon yang di hadapannya agama Kristen akan layu layaknya ilalang yang kering.”

Di berbagai penjuru dunia panji Islam dan Ahmadiyah akan terlihat jelas berkibar pada puncak ketinggian. Pada kesempatan ini di satu sisi saya berikan kabar suka kepada Anda semua bahwa dihadapan Anda semua Allah Ta’ala telah menggenapi nubuatan Hadhrat Masih Mau’ud (as) ini yang berkaitan dengan Mushlih Mau’ud, di sisi lain saya pun ingin menarik perhatian Anda semua akan tanggung jawab yang ada di pundak anda.

Anda semua yang menjadi saksi pengumuman ini, yang membenarkan bahwa saya adalah Mushlih Mau’ud, kewajiban Anda yang pertama adalah, ciptakanlah perubahan di dalam diri Anda dan bersiaplah untuk tertumpahnya darah kalian hingga tetes penghabisan demi kemenangan dan kesuksesan Islam dan Ahmadiyah. Tentu saja Anda boleh merasa senang. Anda boleh bergembira atas pernyataan nubuatan ini. Anda boleh berbahagia karena Allah Ta’ala telah menyempurnakan nubuatan ini, bahkan saya katakan, sungguh Anda harus merasa senang karena Hadhrat Masih Mau’ud (as) sendiri menulis, ‘Bergembiralah kalian dan bersuka citalah setelah nubuatan ini.’”

Kemudian beliau (ra) bersabda, “Bersuka citalah kalian karena sebagaimana telah saya katakan setelah ini akan datang cahaya. Pendek kata, saya tidak melarang kalian untuk bergembira. Saya tidak melarang kalian untuk bersuka cita. Tentu saja, rayakanlah kegembiraan dan dan bersuka citalah, namun saya katakan di tengah kegembiraan dan suka cita ini janganlah kalian melupakan tanggung jawab-tanggung jawab kalian.”

“Sebagaimana yang Allah Ta’ala telah perlihatkan kepada saya di dalam ru’ya bahwa saya akan berlari dengan cepat dan tanah berkumpul di bawah telapak kaki saya. Demikian juga Allah Ta’ala mengabarkan kepada saya melalui ilham bahwa saya akan tumbuh dengan cepat. Singkatnya, telah ditaqdirkan bagi saya bahwa saya akan melangkahkan kaki saya di medan kemajuan dengan pesat dan cepat. Namun seiring dengan itu Anda pun berkewajiban untuk mempercepat langkah Anda dan meninggalkan kemalasan anda. Mubaraklah bagi mereka yang menyeimbangkan langkah mereka dengan langkah saya dan berlari dengan cepat di medan kemajuan. Semoga Allah Ta’ala mengasihi mereka yang malas dan lalai serta tidak mempercepat langkah mereka, dan alih-alih melangkah ke medan kemajuan, mereka malah memalingkan langkahnya ke belakang layaknya orang-orang munafik.”

Beliau (ra) bersabda, “Jika kalian ingin meraih kemajuan, jika kalian memahami dengan benar tanggung jawab-tanggung jawab kalian. Melangkahlah ke depan langkah demi langkah dan bahu-membahu bersama saya sehingga kita bisa menancapkan bendera Muhammad Rasulullah (saw) di hati orang-orang kafir dan memusnahkan kebatilan dari muka bumi untuk selama-lamanya, dan insya Allah demikianlah yang akan terjadi. Langit dan bumi bisa musnah namun firman-firman Allah Ta’ala tidak akan bisa dihapuskan.”

Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada kita untuk menjadi orang-orang yang senantiasa bekerja, tidak hanya sekedar merayakan Jalsah Mushlih Mau’ud, melainkan menyebarkan pesan Islam di dunia, dan janganlah merasa puas bahwa kita sedang merayakan Jalsah, melainkan kita harus melanjutkan misi ini dengan sebenarnya dan melanjutkan tugas-tugas yang untuk itu Allah Ta’ala telah mengutus Hadhrat Masih Mau’ud (as) dan yang untuk itu beliau (as) telah menyampaikan nubuatan-nubuatan yang begitu banyak dan nubuatan mengenai Mushlih Mau’ud pun adalah salah satu diantaranya.

Terkait:   Kisah Sahabat: Mu'adz bin al-Harits, Sosok Pembunuh Abu Jahal

Berkenaan dengan pencapaian-pencapaian beliau (ra), saya hanya akan menyampaikan satu hal secara singkat, yaitu di dalam nubuatan terdapat kalimat, ‘aur ‘uluumi zhaahiri-o-baathini se purkiya jaega.’ – “Dan ia akan dipenuhi dengan anugerah berupa ilmu-ilmu lahiriah dan batiniah (ilmu-ilmu duniawi dan rohani).” Saya akan sampaikan kepada Anda selayang pandang pencapaian beliau dalam hal tersebut. Kompilasi buku-buku, ceramah-ceramah dan pidato-pidato Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) sedang terus diterbitkan dengan nama “Anwaarul ‘Uluum”.

Telah diterbitkan beberapa jilid, yang memahami bahasa Urdu harus membacanya. Demikian juga sebagian buku telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris. Saat ini, 26 jilid telah diterbitkan, di dalamnya mencakup 670 buku, ceramah dan pidato beliau (ra). Saat ini Khutbaat-e-Mahmuud telah diterbitkan sebanyak 39 jilid yang di dalamnya diterbitkan khutbah-khutbah hingga tahun 1959. Dalam volume-volume tersebut mencakup 2.367 khutbah. Tafsir shagir yang terdiri dari 1.071 halaman. Tafsir Kabir yang terdiri dari 10 jilid. Di dalamnya dijelaskan tafsir 59 surah Al-Quran. Jumlah keseluruhan halaman 10 jilid Tafsir Kabir tersebut sebanyak 5.907 halaman. Kemudian ada Tafsir yang belum dicetak berupa Dars Al-Quran Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra), research cell telah menyusunnya dan menyerahkannya ke Fazl-e-Umar Foundation. Dars Quran tersebut terdiri dari 3.094 halaman. Setelah itu saya meminta kepada research cell untuk mengkompilasi tafsir Qur’an dari tulisan-tulisan dan sabda-sabda Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) yang pengerjaannya telah dimulai, dan hingga saat ini telah terkompilasi tafsir sebanyak 9.000 halaman.

Ini adalah sekilas ulasan pencapaian beliau (ra), namun Hadhrat Khalifatul Masih Ats-Tsalits (rh) pun pernah menyampaikan ulasan seperti itu di masa beliau (rh). Saya akan bacakan juga kutipan dari Hadhrat Khalifatul Masih Ats-Tsalits (rh). Beliau (rh) bersabda, “Allah Ta’ala berfirman mengenai Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bahwa beliau akan dipenuhi dengan ilmu duniawi dan rohani. Saya telah mengumpulkan banyak sekali rincian, namun pada kesempatan ini saya hanya akan menyampaikan gambaran yang saya telah siapkan untuk tujuan tersebut. Di bidang tafsir, Hudhur (ra) mempunyai satu tafsir yaitu Tafsir Kabir yang merupakan tafsir yang begitu luar biasa sehingga orang yang membaca satu bagiannya dengan seksama maka ia akan terpaksa mengakui bahwa, jika lahir di dunia ini seorang suci yang berasal dari Allah Ta’ala dan ia hanya menerbitkan sebagian kecil dari tafsir Al-Quran ini dengan catatan-catatan maka hal ini cukup untuk menjadikannya orang suci terbesar dalam pandangan dunia. Namun tidak hanya sampai di situ. Hudhur (ra) menulis banyak sekali buku mengenai Al-Quran dan saya beranggapan hanya mengenai tafsir Al-Quran saja Hudhur (ra) telah menulis 10.000 halaman. Di dalamnya termasuk juga 10 jilid Tafsir Kabir. Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) menulis 10 buku dan artikel mengenai kalam. Beliau (ra) menulis 31 buku dan artikel mengenai kerohanian, akhlak Islami dan akidah-akidah Islam, 13 buku dan artikel mengenai Siirat, 4 buku dan artikel mengenai Tarikh, 3 buku dan artikel mengenai Fiqih, 25 buku dan artikel mengenai politik sebelum partisi India-Pakistan, 9 buku dan artikel mengenai politik setelah partisi India-Pakistan, 15 buku dan artikel mengenai politik Kashmir, 99 buku dan artikel mengenai Ahmadiyah dari berbagai aspek. Semuanya itu berjumlah lebih dari 225 buku dan artikel.”

Pada saat itu Hadhrat Khalifatul Masih Ats-Tsalits mungkin belum mendapatkan informasi/data selengkapnya. Saat ini tersedia data-data yang lebih banyak lagi dari itu.

Hadhrat Khalifatul Masih Ats-Tsalits (rh) bersabda, “Sebagaimana telah difirmankan dalam ilham bahwa beliau akan dipenuhi dengan ilmu dunia dan kerohanian, jika kita melihat sepintas saja pada karya-karya tersebut maka terlihat jelas di dalamnya ilmu-ilmu duniawi maupun ilmu-ilmu rohani. Dan yang menjadi luar biasa adalah, ketika beliau (ra) menulis sebuah buku atau artikel, maka setiap orang mengatakan bahwa tidak mungkin bisa ditulis yang lebih baik lagi dari ini. Ketika beliau mengemban kepemimpinan dalam perpolitikan, atau ketika kapan pun beliau sebagai pemimpin memberikan saran-saran mengenai politik, lawan yang paling besar sekalipun terpaksa mengakui kemampuan beliau yang tiada bandingannya.

Singkatnya, pembahasan berkenaan dengan dipenuhinya Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) dengan ilmu duniawi dan rohani sangatlah luas, yang seperseribunya pun saya tidak mampu menyampaikannya. Saya hanya menyampaikan kepada Anda gambaran umumnya saja dan saya mencukupkannya sampai di sini.

Semoga Allah Ta’ala menurunkan rahmat-Nya kepada beliau (ra) dan setiap saat senantiasa meninggikan derajat beliau (ra), dan semoga kita dapat menciptakan di dalam hati kita keperihan untuk menyebarkan Islam seperti halnya putra Hadhrat Masih Mau’ud (as) ini dan setiap saat selalu siap untuk mengkhidmati Islam. Semoga kita termasuk ke dalam golongan orang-orang yang mengkhidmati agama, bukan ke dalam golongan orang-orang yang mengenai mereka Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Jangan sampai di masa beliau nama Jemaat ini menjadi tercemar.”

Semoga tidak ada orang-orang yang mencemarkan nama baik Jema’at ini, melainkan semoga banyak orang-orang yang terus melangkah maju dalam pengkhidmatan. Setelah shalat Jum’at saya akan memimpin dua shalat jenazah ghaib.

Yang pertama yang terhormat Almarhum Ny. Maryam Elizabeth, yang merupakan istri kedua yang terhormat Tn. Malik Umar Ali Khokar, Amir Jemaat Ahmadiyah Multan yang terdahulu. Beliau wafat di usia 86 tahun dikarenakan sebuah kecelakaan. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Beliau bersama dengan puterinya sedang berada di dalam lift, kecelakaan terjadi dikarenakan kerusakan lift tersebut. Puteri beliau pun terluka dan di rawat di rumah sakit. Namun beliau tidak selamat.

Beliau seorang kebangsaan Jerman dan tinggal di Hamburg. Beliau lahir pada tahun 1934. Pada tahun 1952 beliau baiat dan menikah dengan Tn. Malik Umar Ali Khokar. Kemudian beliau pindah ke Pakistan. Setelah kewafatan suaminya, almarhum pulang ke Jerman kemudian kembali lagi ke Pakistan.

Beliau seorang Mushiah, seorang yang dawam melaksanakan shalat dan puasa, sangat memperhatikan untuk melaksanakan shalat tepat waktu, membayar candah dengan teratur, dan biasa menilawatkan Al-Quran secara dawam sebelum terbenam dan terbitnya matahari. Beliau melaksanakan puasa secara dawam.

Putera-puteri beliau menuturkan, “Beliau menikah dengan ayah pada tahun 1952. Pada waktu itu Mubaligh Jerman, yang terhormat Tn. Abdul Latif membaiatkan beliau dan menikahkannya. Setelah menikah beliau pindah ke Pakistan. Kemudian beliau tinggal bersama dengan ibu kami (yakni istri pertama Tn. Malik Umar Ali), Ny. Sayyidah Begum yang merupakan putri Hadhrat Mir Muhammad Ishaq dan beliau sangat menghormati istri pertama dari Tn. Malik. Setelah datang ke Pakistan beliau mulai belajar shalat dan membaca Al-Quran. Dipanggil seorang pengajar untuk mengajarkan itu kepada beliau. Buku Hadhrat Masih Mau’ud (as) yang pertama beliau baca adalah “Filsafat Ajaran Islam”. Karena tinggal di Pakistan beliau sedikit bisa berbicara bahasa Urdu dan Saraiki dan juga memahami bahasa-bahasa itu dengan baik.

Beliau memiliki dua orang anak, satu orang putera dan satu orang puteri. Pada waktu akan diambil keputuskan pernikahan mereka (anak-anak istri kedua), keputusan diserahkan kepada istri pertama Tn. Malik, Ny. Sayyidah Begum mengenai siapa yang terbaik untuk menjadi jodohnya. Dari beliau lahir seorang putera, Tariq Ali dan seorang puteri, Tahirah.”

Semoga Allah Ta’ala memberikan rahmat dan ampunan-Nya kepada almarhumah dan meninggikan derajat almarhumah.

Jenazah yang kedua adalah saudara Jahid Faris Ahmad, yang wafat pada usia 12 tahun. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun.Ia adalah putera Tn. Tariq Nuri dan ‘Atiyatul Aziz Khadijah. Kakek almarhum adalah Tn. Faruq Ahmad Khan yang merupakan cucu pertama Hadhrat Nawwab Amatul Hafiz Begum Sahibah.

Kakek beliau dan banyak juga orang lainnya menulis kepada saya bahwa almarhum adalah seorang anak yang memiliki banyak keistimewaan, sangat sopan, memiliki ikatan kecintaan yang mendalam dengan Khilafat dan rutin menulis surat kepada saya. Almarhum selalu memulis surat kepada saya ketika menghadapi ujian atau mengenai hal-hal lainnya.

Almarhum sangat bangga sebagai Ahmadi dan di sekolahnya almarhum menyatakan diri sebagai Ahmadi kepada orang-orang. Di Pakistan ini adalah suatu hal yang luar biasa. Almarhum secara rutin menyimak khutbah dan seorang waqif nou juga. Almarhum selalu hadir di kelas-kelas Waqfenou dan menghafal semua materi silabus waqfenou sesuai dengan usianya. Almarhum juga hapal qasidah Hadhrat Masih Mau’ud (as).

Almarhum juga secara pribadi ikut serta secara dawam dalam Tahrik Jadid, Waqfi Jadid dan candah-candah lainnya. Almarhum biasa pergi ke shalat center dengan dawam, sangat memperhatikan shalat berjama’ah, setelah subuh biasa membaca Al-Quran secara dawam. Teman-temannya pun menulis bahwa almarhum memiliki suara yang sangat bagus.

Beliau siswa kelas tujuh. Terjadi kebakaran pada generator di rumah dan almarhum terkena api dan terluka. Kondisinya sempat membaik, para Dokter mengatakan kondisinya membaik, luka-lukanya sembuh, namun kemudian infeksi menyebar di tubuhnya. Singkatnya infeksi tersebut berpengaruh pada organ-organ tubuh yang lainnya, dikarenakan infeksi ini almarhum wafat di rumah sakit. Kita yakin anak di usia tersebut masih ma’shum (suci dari dosa), tentunya almarhum ahli surga. Semoga Allah Ta’ala memberikan tempat kepada almarhum di dekat-Nya.

Ibunya yang telah merawat almarhum. Ayahnya tidak pernah menanyakannya sepanjang hidupnya karena telah bercerai. Jadi ibunya dan kakek-neneknyalah yang membesarkannya.

Semoga Allah Ta’ala memberikan kesabaran dan ketabahan kepada mereka dan semoga mereka diberikan taufik untuk bisa dengan sabar menghadapi ujian yang besar ini. Nenek dari anak tersebut, Ny. Tahirah Begum yang merupakan puteri dari Ny. Maryam Begum, sebagaimana telah saya sampaikan, beliau pun terluka pada kecelakaan lift dan sedang di rawat di rumah sakit. Semoga Allah Ta’ala memberikan kesehatan dan keselamatan kepada beliau dan semoga senantiasa diberikan kebahagiaan di masa yang akan datang.

Seorang anak laki-laki menulis, “Salah satu kebiasaan baik Jahid adalah, ketika sedang dalam kondisi sakit di rumah sakit, terkadang dalam keadaan setengah sadar, ia setiap waktu selalu menanyakan kepada saya, ‘Apakah saya sudah shalat atau belum?’, dan jika saya jawab belum maka segera ia mulai melaksanakan shalat sambil berbaring.”

Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat almarhum dan menganugerahkan kesabaran dan ketabahan kepada ibu dan kakek-neneknya.

Khotbah II

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ

وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

مَنْيَهْدِهِاللهُفَلَامُضِلَّلَهُوَمَنْيُضْلِلْهُفَلَاهَادِيَلَهُ

وَنَشْهَدُأَنْلَاإِلٰهَإِلَّااللهُوَنَشْهَدُأَنَّمُحَمَّدًاعَبْدُهُوَرَسُوْلُهُ

عِبَادَاللهِ! رَحِمَكُمُاللهُ!

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ

يَعِظُكُمْلَعَلَّكُمْتَذكَّرُوْنَ

أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Penerjemah: Mln. Mahmud Ahmad Wardi, Syahid (London, UK) dan Mln. Hashim; Editor: Dildaar Ahmad Dartono.

1Majmuu’ah Isytihaaraat (Kumpulan Selebaran Pengumuman) jilid awwal h. 95-96, isytihaar (pengumuman) number 33 ‘isytihaar 20 Februari 1886’, Cetakan Rabwah.

2Da’wa Mushlih Mau’ud pur syaukat i’laan, Anwarul ‘Ulum, jilid 17, 155-156

3 Al-Mau’ud, Anwarul ‘Ulum, jilid 17, 529-530

4 Me hi Mushlih Mau’ud ki pesygui ka mishdaaq hu’ (Akulah pembenaran nubuatan Mushlih Mau’ud) , Anwarul ‘Ulum, jilid 17, 222-223