Intisari Ketakwaan

Tafsir mendalam Surah Al-Baqarah, 2:184 tentang la’allakum tattaquun.

Hadits Nabi Muhammad (saw), “Puasa adalah perisai (tameng pelindung).”

Terkait Ramadhan yang penuh berkah, terdapat petunjuk dan nasehat Hadhrat Aqdas Masih Mau’ud (as) kepada Jemaat beliau supaya memperolah ketakwaan yang murni.

Keistimewaan Islam ialah ketakwaan yang dengannya diperoleh wilaayat (kewalian), karunia berbicara dengan para malaikat dan Tuhan memberikan kabar-kabar gembira.

Takwa hakiki tidak dapat menyatu dengan jahiliyyat (kejahilan). Takwa hakiki mengandung nur di dalamnya.

Ketakwaan dan keilmuan mengenai ketakwaan yang didapat dengan menelaah al-Qur’an dan merinci berbagai amal baik dan amal buruk.

Penjelasan Hadhrat Masih Mau’ud (as) atau Pendiri Jemaat Ahmadiyah mengenai Hadits Nabi Muhammad (saw), “Tidaklah seorang pencuri melakukan pencurian atau pezina berzina, melainkan ia dalam keadaan tidak beriman.”

Penjelasan Pendiri Jemaat Ahmadiyah mengenai akar dan tujuan yang sejati adalah takwa serta membahas beberapa ayat al-Qur’an terkait takwa.

Penjelasan Pendiri Jemaat Ahmadiyah mengenai perbedaan kesuksesan orang beriman dan orang kafir dan munafik. Orang beriman menghubungkan keberhasilannya dengan karunia Allah dan membuatnya semakin rendah hati dan maju dalam ketakwaan sedangkan orang kafir menghubungkan keberhasilannya dengan diri sendiri dan keahliannya.

Penjelasan Pendiri Jemaat Ahmadiyah mengenai pengaruh ketakwaan.

Penjelasan Pendiri Jemaat Ahmadiyah mengenai keindahan rohani manusia terletak pada meniti segenap jalan halus ketakwaan.

Penjelasan Pendiri Jemaat Ahmadiyah mengenai huquuqullah (hak-hak Allah) dan huquuqul ‘ibad (hak-hak sesama hamba Allah).

Penjelasan Pendiri Jemaat Ahmadiyah mengenai tersebarnya bidah dan jauhnya manusia dari takwa.

Penjelasan Pendiri Jemaat Ahmadiyah mengenai ketakwaan dan hubungannya dengan pemanfaatan nikmat-nikmat duniawi dan menjauhi pemikiran kaum Sufi yang ekstrim dalam hidup sederhana sampai-sampai mengharamkan kenikmatan duniawi.

Sabda Pendiri Jemaat Ahmadiyah mengenai cahaya dan ketakwaan.

Penjelasan Pendiri Jemaat Ahmadiyah mengenai makrifat dan hubungannya dengan ketakwaan.

Penjelasan Pendiri Jemaat Ahmadiyah menjawab keberatan terkait kritikan bahwa beliau bukan berasal dari kalangan Sayyid (keturunan Nabi Muhammad (saw)) sehingga tidak wajib berbaiat kepada beliau. Tanggapan berdasarkan Tafsir mendalam al-Qur’an mengenai ketakwaan seperti dalam Surah ath-Thalaaq, 65:3-4; Surah al-Baqarah, 2:3; Surah al-Jumu’ah, 62:5 danSurah Ali Imran, 3:141.

Tafsir mendalam Surah Al-Fatihah إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ‘Kepada Engkau-lah kami menyembah dan kepada Engkau-lah kami memohon pertolongan’

Hadhrat Masih Mau’ud (as) menjawab keberatan berkenaan dengan pendakwaan beliau. Tafsir Surah Al-Anfal, 8:35, tentang wali hakiki.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) menjelaskan perihal latar belakang pengutusan beliau. Nasehat ketakwaan. Penjelasan tentang tujuan kedatangan para Nabi yaitu mengungkap rahasia ketakwaan. Hubungan antara ilham dan ketakwaan.

Doa-doa dan harapan baik di bulan Ramadhan.

Khotbah Jumat Sayyidina Amirul Mu-minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 22 April 2022 (Syahadat 1401 Hijriyah Syamsiyah/ Ramadhan 1443 Hijriyah Qamariyah) di Masjid Mubarak, Islamabad, Tilford, UK (United Kingdom of Britain/Britania Raya).

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم

[بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم* الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يوْم الدِّين * إيَّاكَ نعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ]

(آمين)

Saat ini kita sedang menjalani bulan Ramadhan dan kurang lebih 20 hari telah berlalu. Dengan karunia Allah Ta’ala, setiap mukmin (orang beriman) di bulan ini berusaha untuk mengambil bagian dari keberkatan bulan ini dengan sebanyak-banyaknya. Allah Ta’ala telah menjelaskan tujuan puasa bahkan di awal perintah kewajiban puasa, لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ la’allakum tattaquun “Puasa diwajibkan atas kalian dengan tujuan supaya kalian bertakwa.” Alhasil, kita baru akan bisa meraih bagian dari keberkatan puasa dan Ramadhan, apabila kita seiring dengan berpuasa juga meningkatkan tolok ukur ketakwaan kita dan berusaha untuk masuk ke dalam lindungan Allah Ta’ala demi terhindar dari segala macam keburukan.

Hadhrat Rasulullah (saw) bersabda, الصِّيَامُ جُنَّةٌ “Puasa adalah tameng perlindungan.”[1] Apakah puasa yang hanya sekedar nama saja cukup bagi kita? Apakah cukup hanya makan sahur dan berbuka puasa saja? Apakah dengan hanya makan sahur dan berbuka puasa akan membawa kita ke balik tameng perlindungan puasa ini? Tidak demikian! Bahkan hendaknya perhatikanlah juga persyaratan-persyaratannya dan sebagaimana telah saya katakan tujuan mendasar yang Allah Ta’ala telah sampaikan adalah لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ la’allakum tattaquun. Yakni, supaya kalian meraih ketakwaan. Alhasil, jika kita ingin menjadikan puasa dan Ramadhan kita sebagai puasa dan Ramadhan yang dilaksanakan demi Allah Ta’ala dan untuk meraih ridha Allah Ta’ala serta yang ganjarannya adalah Allah Ta’ala sendiri maka kita harus membawanya pada tolok ukur yang dikehendaki Allah Ta’ala dari kita dan yang untuknya puasa ini telah diwajibkan dan sebagaimana telah saya sampaikan, Allah Ta’ala telah menjelaskan bahwa tolok ukur itu adalah supaya kalian bertakwa pada Allah Ta’ala.

Kita menyebut diri kita sebagai Mukmin (orang beriman) dan Muslim (orang Islam), kita mengklaim telah mengamalkan perintah Hadhrat Rasulullah (saw) dan menyempurnakan keimanan kita kepada beliau (saw) dengan mengakui bahwa sesuai dengan nubuatan beliau (saw), al-Masih dan al-Mahdi yang akan datang itu telah datang dalam wujud Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad Qadiani (as) dan sekarang sesuai dengan janji Allah Ta’ala, kebangkitan Islam hanya akan diraih melalui tangan Masih dan Mahdi ini sehingga menjadi kewajiban kita untuk mencari petunjuk dan bimbingan dari Masih Mau’ud (as) untuk menegakkan ruh Islam yang hakiki dalam diri kita. Oleh karena itu, ketika kita melihat apa yang beliau (as) sampaikan mengenai ketakwaan, dari topik tersebut pun kita akan memahami apa ketakwaan itu. Sebagaimana telah saya katakan, kita mengklaim bahwa kita adalah Muslim dan kita telah termasuk golongan orang-orang yang beriman.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda, “Dengarlah! Tingkatan pertama keimanan adalah hendaknya manusia bertakwa.” Kemudian beliau (as) bersabda, “Apakah takwa itu? Jawabannya adalah, menghindarkan diri kita dari segala jenis keburukan. Jika kita meninjau hal ini maka ini bukanlah perkara sepele. Dari peninjauan yang kita lakukan, kita akan mengetahui apakah kita sedang memenuhi hak-hak Allah seraya menunaikan hak ketakwaan? Apakah kita tengah memenuhi hak-hak makhluk Allah Ta’ala seraya berjalan di atas ketakwaan?”

Beliau (as) bersabda, “Apakah takwa itu? Hal ini tidak dapat diketahui selama manusia belum mendapatkan ilmu yang sempurna mengenai perkara-perkara tersebut. Meraih ilmu adalah penting, karena tanpa ilmu tidak ada sesuatu yang dapat diperoleh dan manusia tidak akan mampu meraihnya.” Beliau (as) bersabda, “Untuk meraih ilmu mengenai apa hak Allah Ta’ala, apa hak para hamba, hal apa saja yang telah dilarang Allah Ta’ala dan hal apa saja yang telah diperintahkan Allah Ta’ala maka seseorang dapat meraihnya dengan membaca Al-Qur’an berulang-ulang.” Beliau (as) bersabda, “Dan hendaknya kalian catatlah rincian amal-amal keburukan ketika sedang membaca Al-Qur’an. Kemudian dengan karunia dan dukungan Allah Ta’ala, berusahalah untuk terhindar dari keburukan-keburukan tersebut.” Beliau (as) bersabda, “Ini adalah tingkatan pertama dari takwa.”

Alhasil, di bulan Ramadhan ini kita pun membaca Al-Qur’an dan secara umum timbul perhatian yang lebih banyak terhadap pembacaan Al-Qur’an. Hendaknya bacalah dengan pemikiran kita harus merenungkan perintah dan larangan-Nya, menghindari perbuatan-perbuatan buruk dan berusaha untuk menunaikan dan mengamalkan amal-amal kebaikan. Beliau (as) bersabda, “Di dalam Al-Qur’an dari awal hingga akhir terdapat rincian perintah-perintah dan larangan-larangan serta hukum-hukum ilahi.”

Alhasil, kita hendaknya meninjau perkara-perkara tersebut, merenungkannya dan mengamalkannya dan inilah ciri dari seorang mukmin. Beliau (as) dengan penuh penekanan menjelaskan mengenai hal ini bahwa selama manusia belum menjadi muttaqi, maka dalam ibadah-ibadah dan doa-doanya belum tercipta corak pengabulan, karena demikianlah yang difirmankan Allah Ta’ala. Sebagaimana Dia berfirman, إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ Yakni, sesungguhnya Allah Ta’ala hanya akan menerima amal-amal ibadah orang-orang yang bertakwa.”

Beliau (as) bersabda, “memang benar bahwa hanya shalat dan puasa orang-orang muttaqilah yang akan diterima.”

Kemudian beliau (as) menjawab pertanyaan apakah pengabulan ibadah itu dan apa maksudnya? “Apakah pengabulan itu? Jawabannya adalah, ketika kita mengatakan shalat telah dikabulkan, maksudnya adalah, di dalam diri orang yang shalat itu tercipta pengaruh-pengaruh dan keberkatan-keberkatan dari shalat.”

Beliau (as) bersabda, “Selama keberkatan-keberkatan dan pengaruh-pengaruh itu belum tercipta, maka itu hanyalah gerakan-gerakan semata.” Alhasil, kita hendaknya meninjau apakah Ramadhan kita dan puasa kita tengah berupaya untuk membawa kita pada tolok ukur ini.

Beliau (as) bersabda, “Jika masih tetap terjebak dalam aib-aib dan keburukan-keburukan, maka katakanlah, manfaat apa yang telah diberikan oleh shalat itu pada dirinya? Semestinya, seiring dengan melaksanakan shalat, keburukan-keburukan dan kejelek-kejelekkan yang sebelumnya ia terjerumus di dalamnya menjadi berkurang dan shalat adalah satu sarana yang sangat baik untuk hal ini.” Beliau (as) bersabda, “Alhasil, tahapan dan kesulitan pertama bagi seseorang yang ingin menjadi mukmin adalah, hendaknya ia menghindari keburukan-keburukan dan ini dinamakan takwa.”[2]

Alhasil, jika ibadah-ibadah kita, puasa-puasa kita dan pembacaan Al-Qur’an kita tidak menciptakan perubahan-perubahan amalan dalam diri kita dan ketakwaan yang untuk meraihnya menjadi tujuan puasa tidak berusaha untuk diraih maka kita belum memenuhi tujuan puasa-puasa kita. Kita memang membicarakan mengenai tameng yang mengenainya Hadhrat Rasulullah (saw) bersabda bahwa puasa adalah tameng, namun kita tidak berusaha untuk mempelajari cara menggunakan tameng tersebut. Kita memang melakukan sahur dan berbuka puasa, namun kita tidak memenuhi tujuan dari sahur dan berbuka. Kita melewati sepanjang hari tanpa makan dan minum, namun kita tidak memenuhi tujuan dari peristiwa tersebut dan tujuan yang akan terpenuhi dengan ketakwaan dan ketakwaan yang seharusnya tercipta dalam diri kita. Alhasil, hendaknya kita meninjau apakah hal ini telah tercapai ataukah tidak?

Saya akan menyampaikan juga beberapa kutipan sabda Hadhrat Masih Mau’ud (as) lainnya mengenai ketakwaan yang dengannya kita mendapatkan bimbingan mengenai apa ketakwaan yang sejati dan ketakwaan semacam apa yang Hadhrat Masih Mau’ud (as) ingin ciptakan dalam diri kita. Mengenai hal ini, pada satu kesempatan beliau (as) bersabda, “Ketakwaan sejati – yang membersihkan dan menyucikan manusia dan yang untuk itu para Nabi datang – telah lenyap dari dunia. Adakah seseorang yang menjadi cerminan قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا qod aflaha man zakkaahaa, yakni siapa yang menyucikannya, sungguh ia telah meraih tujuannya.”

Beliau (as) bersabda, “Adakah seseorang yang menjadi cerminan قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا qod aflaha man zakkaahaa. Kesucian dan kemurnian adalah sesuatu yang sangat mulia. Jika seorang manusia suci dan murni, maka para malaikat akan menyapanya. Orang-orang tidak menghargai hal ini, padahal, kelezatan segala sesuatu bisa mereka dapatkan dengan jalan halal. Seorang pencuri melakukan pencurian sehingga mendapatkan harta, namun jika ia bersabar, maka Allah Ta’ala akan menjadikannya orang yang berharta dengan jalan lain.”

Ini bukan hanya pencurian yang sifatnya keliatan jelas, sebagian pebisnis yang menjual barang-barang yang tidak benar juga termasuk dalam kategori ini.

Demikian juga seorang pezina yang melakukan perzinaan, jika ia bersabar, maka Allah Ta’ala akan memenuhi hawa nafsunya itu dengan jalan lain yang dengannya ia meraih ridha-Nya. Terdapat di dalam hadits bahwa, لَا يَسْرِقُ السارق حِينَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ ولَا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ ‘Tidaklah seorang pencuri melakukan pencurian, melainkan ia dalam keadaan tidak beriman. Dan tidaklah seorang pezina melakukan perzinaan, melainkan ia dalam keadaan tidak beriman.’”[3] Artinya, ketika keimanan itu keluar dari hati, pada saat itulah perbuatan-perbuatan itu dilakukan manusia.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda, “Jika di hadapan kambing ada singa maka kambing itu bahkan tidak akan bisa memakan rumput. Maka dari itu, arti keimanan seperti kambing pun tidak dimiliki oleh orang-orang.”

Ketika manusia melakukan dosa-dosa dan keburukan-keburukan, maka hendaknya saat itu timbul kesadaran bahwa Allah Ta’ala melihat kami setiap saat.

Beliau (as) bersabda, “Akar dan tujuan yang sejati adalah takwa. Siapa yang dianugerahi hal ini, maka ia bisa meraih segala sesuatu. Tanpanya, tidak mungkin seseorang dapat terhindar dari dosa-dosa kecil dan dosa-dosa besar. Undang-undang pemerintahan manusia tidak bisa menyelamatkan dari dosa-dosa. Pihak berwenang tidak selalu menyertai untuk membuat manusia senantiasa merasa takut. Manusia melakukan dosa dengan beranggapan bahwa ia tengah sendirian, jika tidak, ia tidak akan pernah melakukannya. Dan ketika ia merasa dirinya tengah sendiri, maka saat itu ia menjadi seorang atheis. Di dalam dirinya tidak terdapat keimanan. Tuhan telah keluar dari hatinya, maka saat itu ia menjadi atheis dan ia tidak berpemikiran, ‘Tuhan-ku sedang bersamaku dan dia sedang melihatku.’ Jika tidak, sekiranya ia beranggapan bahwa Tuhan sedang melihatnya, maka ia tidak akan melakukan dosa. Segala sesuatu bersumber dari ketakwaan.

Al-Qur’an pun mengawali dengan hal ini. Arti إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin pun adalah taqwa. Yakni, sekalipun manusia melakukan amalan, namun ia tidak berani menghubungkan amal perbuatan tersebut pada dirinya sendiri dan ia menganggapnya sebagai pertolongan Tuhan dan kemudian hanya kepada-Nya-lah ia memohon pertolongan di masa yang akan datang.”

Artinya, jika pun ia melakukan kebaikan, ia berpemikiran, “Ini bukanlah suatu kesempurnaan saya, atau saya memiliki hati yang baik atau saya telah sampai pada tolok ukur kebaikan yang sangat luhur, melainkan ini adalah merupakan karunia Allah Ta’ala bahwa Dia telah memberikan taufik kepada saya untuk melakukan kebaikan dan memanjatkan doa.”

“Kemudian, Surah kedua Al-Qur’an juga dimulai dengan هُدًى لِلْمُتَّقِينَ hudal lil muttaqiin. Shalat, puasa, zakat dan sebagainya baru akan diterima ketika seorang manusia bertakwa. Ketika itu Tuhan menghilangkan semua yang menyerunya pada dosa.” Artinya, jika terdapat ketakwaan, Allah Ta’ala akan menjauhkan segala sesuatu yang memanggilnya ke arah dosa.

“Jika orang itu memerlukan istri, Allah Ta’ala akan memberikannya istri. Jika ia membutuhkan obat, Allah Ta’ala akan memberikannya obat. Barang apa pun yang ia perlukan, Allah Ta’ala akan berikan dan akan memberikan kepadanya rezeki dari tempat yang ia tidak ketahui.

Terdapat ayat lain dalam Al-Qur’an, إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا yang dimaksud oleh ayat ini pun adalah orang-orang muttaqi. ثُمَّ اسْتَقَامُوا Tsumma istaqoomuu, yakni guncangan menimpa dirinya, musibah datang, angin topan menerpa, namun ia tidak berpaling dari janji yang telah ia ikrarkan. Ia menjalin ikatan dengan Allah Ta’ala dengan penuh kesetiaan. Sekali ia beriman, ia senantiasa teguh pada keimanan tersebut. Keimanan itu tidak terguncang dan tergoyahkan oleh hal-hal sepele (kecil).

Selanjutnya, Allah Ta’ala berfirman bahwa ketika mereka melakukan demikian dan memperlihatkan ketulusan hati serta kesetiaan maka sebagai ganjarannya mereka akan mendapatkan, تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ tatanazzalu ‘alaihimul malaaikah. Yakni, malaikat akan turun kepadanya dan mengatakan, أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا janganlah takut dan bersedih hati. Tuhan engkau adalah Maha Penjaga. وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنْتُمْ تُوعَدُونَ Wa absyiruu bil jannatillati kuntum tuu’aduun. Dan memberikan kabar suka, ‘Bergembiralah kalian dengan surga yang dijanjikan ini!’ dan yang dimaksud dengan ‘surga ini’ di sini adalah surga dunia, sebagaimana terdapat dalam Al-Qur’an, وَلِمَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ جَنَّتَانِ – ‘Dan bagi orang yang takut pada keagungan Tuhan-nya ada dua surga’ (ar-Rahmaan, 55:47).

Terkait:   Keteladanan Para Sahabat Nabi Muhammad shallAllahu ‘alaihi wasallam (Manusia-Manusia Istimewa, seri 35)

Selanjutnya, نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ artinya, Kami-lah yang menjadi Pelindung dan Pemeliharamu di dunia dan akhirat.’ (Fushshilat/Ha Mim As-Sajdah, 41:31-32) [4] Alhasil, betapa beruntung orang-orang yang Allah Ta’ala menjadi pelindung dan pemelihara mereka, yaitu mereka yang melakukan segala amalannya untuk meraih ridha Allah Ta’ala.”[5]

Kemudian dalam menjelaskan mengenai perbedaan antara keberhasilan seorang mukmin dengan seorang kafir, bagaimana seorang mukmin memandang keberhasilannya dan bagaimana seorang kafir memandangnya, Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda, “Ingatlah selalu asas ini bahwa yang dilakukan seorang mukmin adalah, ia merasa malu dengan suatu keberhasilan yang dianugerahkan kepadanya. Mengapa ia merasa malu? Ini menunjukkan bahwa ia merasa, ‘Saya tidak mampu melakukan itu. Karunia Allah Ta’ala-lah yang telah memberikan semuanya. Apa pun yang dianugerahkan adalah atas karunia Allah Ta’ala, bukan karena suatu kehebatan, ilmu, kecerdasan, harta atau keadaan fisik saya. Bukanlah seperti itu, melainkan ini adalah karunia Allah Ta’ala.” Ketika timbul kesadaran seperti ini, maka ia memuji Allah Ta’ala karena Dia telah menurunkan karunia-Nya dan dengan demikian ia terus melangkah maju, ia tetap teguh dalam setiap musibah dan meraih keimanan.’”

Beliau (as) bersabda, “Ingatlah, keberhasilan seorang kafir adalah jalan kesesatan, sedangkan keberhasilan seorang mukmin membukakan pintu kenikmatan-kenikmatan baginya.” Karena seorang kafir membanggakan segala sesuatu atas dirinya dan mengambil penghargaan atas keberhasilan tersebut untuk dirinya sendiri maka ia terjatuh dalam kesesatan. Namun ketika seorang mukmin sejati menghubungkan segala sesuatu pada karunia Allah Ta’ala, maka pintu kenikmatan-kenikmatan akan terbuka baginya.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda, “Keberhasilan seorang kafir membawa pada kesesatan karena ia tidak mengarahkan mukanya pada Tuhan, melainkan ia menjadikan kerja keras, kecerdasan dan kemampuannya sebagai Tuhan. Namun, seorang mukmin berpaling kepada Allah Ta’ala dan menciptakan suatu pengenalan baru terhadap Tuhan dan dengan demikian, setelah setiap keberhasilan dimulailah suatu hubungan baru antara ia dengan Tuhan dan terjadi perubahan di dalam dirinya. إِنَّ اللهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا Allah bersama dengan orang-orang yang bertakwa. Hendaknya diingat, kata taqwa disebutkan berkali-berkali dalam Al-Qur’an. Disebutkan lebih dari 100 kali. Pengertiannya diberikan oleh kata sebelumnya. Di sini disebutkan kata ma’a, yakni barangsiapa yang mengutamakan Allah Ta’ala, maka Allah Ta’ala akan mengutamakannya dan akan menyelamatkannya dari segala macam kehinaan-kehinaan di dunia.”

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda, “Keimanan saya adalah, jika manusia ingin selamat dari segala macam kehinaan dan kesulitan di dunia, maka untuknya hanya ada satu jalan untuk itu, yaitu jadilah muttaqi (orang yang bertakwa). Kemudian ia tidak akan kekurangan suatu apa pun. Alhasil, keberhasilan seorang mukmin membawanya lebih maju dan ia tidak stagnan (tetap) di satu tempat.”[6]

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda, “Pengaruh takwa dimulai pada orang-orang bertakwa di dunia ini juga, bukan hanya di akhirat kelak. Ini adalah ganjaran yang disegerakan. Sebagaimana efek racun dan efek obat menjalar pada tubuh dengan segera, demikian juga pengaruh ketakwaan.”[7]

Alhasil, jika meskipun dengan melakukan kebaikan, melaksanakan ibadah-ibadah dan mengamalkan amal-amal kebaikan, tidak muncul pengaruh pada keadaan manusia, maka ini adalah hal yang patut dikhawatirkan. Orang-orang banyak menulis dan mengirimkan pertanyaan mengenai bagaimana cara untuk mengetahuinya. Cara untuk mengetahuinya adalah, jika timbul perhatian yang lebih banyak pada kebaikan-kebaikan dan tercipta lebih banyak perhatian pada Allah Ta’ala, maka berarti manusia melakukan amalan itu demi Allah Ta’ala dan Allah Ta’ala memberikan keberkatan di dalamnya.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) seraya menjelaskan jalan-jalan ketakwaan yang dalam menekankan hal ini beliau bersabda, “Semua keindahan rohani manusia terletak pada meniti segenap jalan halus ketakwaan. Jalan-jalan halus ketakwaan merupakan gambaran dan cerminan elok keindahan rohani. (yang dimaksud dengan jalan-jalan halus ketakwaan adalah jalan yang darinya dalam diri seseorang lahir suatu keindahan rohani). Jelas bahwa Allah Ta’ala sungguh melihat [bagaimana pemenuhan] janji-janji dan amanat-amanat iman. Segenap kekuatan dan bagian yang dimiliki oleh tubuh — yang diantaranya secara lahiriah adalah mata, telinga, tangan, kaki, dan bagian tubuh lainnya, lalu secara batiniah yaitu hati, akhlak dan kekuatan-kekuatan lainnya — maka betapapun kekuatan yang ada padanya hendaknya dipergunakan sesuai dengan kepentingannya, menghindarkan diri dari penggunaannya yang tidak tepat, dan hendaknya selalu waspada dari serangan-serangan yang tersembunyi, lalu seiring dengannya terdapat pula huquuqul ‘ibaad.

[Jadi] Inilah yang dimaksud dengan janji keimanan yang telah kita jalankan kepada wujud Allah Ta’ala, yakni menggunakan mata secara benar, menjaganya dari pandangan buruk dan perbuatan-perbuatan keliru, menjaga telinga dari mendengar hal-hal yang buruk, dan juga mengupayakan tangan dan kaki agar melakukan amal yang baik; lalu juga mengeluarkan pikiran-pikiran buruk dari dalam kalbu, dan hendaknya sebanyak mungkin beristigfar untuknya. Ada juga kekuatan-kekuatan lain yang juga hendaknya dipergunakan, yaitu berupaya meninggikan derajat akhlak. Inilah janji rohani yang dijalankan oleh insan terhadap Allah Ta’ala. Beliau (as) bersabda, “Anda harus memenuhi janji-janji itu.”

Seiring dengan ini beliau (as) bersabda, “Huquuqul ‘ibaad pun harus diperhatikan. Hendaknya memperhatikan hak hamba-hamba-Nya. Hal yang sebelumnya telah terpenuhi pada dirimu, maka kini hendaknya juga memenuhi hak-hak hamba-Nya.

Jika hak-hak ini terpenuhi, maka ini adalah jalan yang berkaitan erat dengan segenap keindahan rohani. Tatkala hak Allah terpenuhi lalu hak hamba-hamba-Nya pun telah terpenuhi, maka akan terlahir keindahan rohani di dalam diri manusia. Allah Ta’ala di dalam Al-Quran Syarif telah menamakan ketakwaan sebagai pakaian, yaitu dengan lafaz لِبَاسُ التَّقْوٰی – pakaian ketakwaan. hal ini mengisyaratkan bahwa sesungguhnya keindahan dan perhiasan rohani terlahir dari takwa. Takwa bermakna, seorang insan berupaya sedapat mungkin untuk menjalankan segenap amanat dan janji keimanannya kepada Tuhan, serta sedapat mungkin berupaya memenuhi segenap amanat dan janji terhadap makhluk-Nya, yakni berupaya patuh menjalankan segenap hal darinya hingga yang sekecil-kecilnya. Yakni, terhadap segenap perintah Allah Ta’ala – baik tentang ibadah-ibadah, tentang melakukan perbaikan diri, dan tentang memenuhi hak orang lain – berupayalah melaksanakannya hingga pada persoalan yang sekecil-kecilnya atau yang sehalus-halusnya.”[8]

Alhasil, selama seseorang tidak berupaya untuk mengamalkan huquuqullah dan huquuqul ‘ibaad hingga yang sekecil-kecilnya maka (Hudhur (as) bersabda) bahwa selama itu pula ia tidak akan meraih tolok ukur ketakwaan. Jadi, ini adalah hal sangat penting yang hendaknya kita ingat. Jika hanya beribadah saja dan hak-hak hamba Allah tidak seseorang penuhi maka ibadahnya tidak akan berfaedah untuknya; lalu jika hanya memenuhi hak-hak makhluk-Nya dan ia melupakan Allah Ta’ala (seperti halnya orang yang kerap mengungkapkan bahwa dirinya tengah memenuhi hak hamba-hamba Tuhan), maka ini pun tidak dapat menjadikannya sebagai orang yang berjalan diatas ketakwaan. Seorang mukmin sejati harus memperhatikan kedua hak tersebut.

Kemudian Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda tentang tersebarnya bid’ah dan jauhnya manusia dari takwa, “Ribuan jenis bid’ah telah lahir di setiap agama dan golongan dalam coraknya masing-masing. Ketakwaan dan kesucian yang merupakan maksud dan tujuan utama manusia – yang karenanya Rasulullah (saw) telah menanggung kesulitan-kesulitan yang dahsyat dan tidak ada kalbu lain yang sanggup memikulnya selain kalbu kenabian – saat ini telah menjadi lenyap dan sirna.

Lihatlah keadaan penjara, dari manakah jumlah kebanyakan datangnya orang-orang yang terhukum di sana?”

Maksudnya, Hadhrat Masih Mau’ud (as) mengisyaratkan pada golongan mana yang banyak terhukum di sana. Beliau (as) bersabda, “Banyak kaum Muslim yang menjadi terpidana.”

Di Ghana, ada seorang menteri Ahmadi. Ini pernah saya jelaskan juga sebelumnya. Ia kerap menyampaikan tentang peristiwa di suatu rapat dimana diketahui bahwa golongan yang banyak terdapat di penjara di sana adalah orang Muslim. Ia lalu berkata, “Saya adalah Ahmadi. Saya memberi tantangan kepada Anda tidak akan ada seorang Ahmadi pun diantara orang-orang Muslim di penjara sana. Seandainya ada, jumlahnya sama sekali tidak berarti dibandingkan dengan yang lain.” Ketika kembali diperiksa, pernyataannya terbukti benar. Jadi, inilah tanda seorang mukmin dan Ahmadi sejati dan ini akan menjadi sarana tabligh yang sangat besar. Jika hal ini kita kedepankan – baik dalam dalam setiap urusan, setiap amalan, setiap kesibukan, setiap pekerjaan, dan dalam bergaul dengan orang-orang di sekitar kita sehari-hari – yaitu kita menjadi sosok memperlihatkan akhlak yang tinggi, sosok yang berupaya meningkatkan tolok ukur ibadah-ibadahnya, sosok yang berupaya untuk melahirkan ketakwaan di dalam hatinya, sosok yang di dalam hatinya menaruh rasa takut pada wujud Allah Ta’ala, maka selain ini menjadi sarana perbaikan bagi kita, ini pun akan menjadi satu sarana tablig yang senyap [tabligh tanpa bicara].

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda, “Perzinaan, minum minuman keras, pengabaian hak orang lain dan kejahatan-kejahatan lainnya kini telah sedemikian banyaknya hingga seolah dianggap bahwa Tuhan itu tidak ada. Jika segenap kerusakan dan kelemahan yang terdapat di berbagai kaum dan golongan dibahas secara rinci, ini akan menjadi satu buku yang tebal. Siapa saja orang yang cakap dan merenungi dengan seksama keadaan berbagai orang di dalam kaumnya, ia akan tiba pada kesimpulan yang benar dan pasti ini bahwa takwa yang menjadi tujuan Al-Quran Karim dan yang merupakan sarana utama kemuliaan manusia, saat ini sedang menghilang.”

Al-Quran Karim memang bertujuan untuk melahirkan ketakwaan dan inilah yang merupakan maksud dari Al-Quran Karim dan hal ini telah lenyap di dalam umat Muslim.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda, “Keadaan amal perbuatan seorang Muslim yang sangat diperlukan, yaitu seorang beramal baik – dimana ini menjadi pembeda antara orang Muslim dan bukan – kini telah sangat lemah dan rusak.”[9]

Jika demikianlah keadaannya, tabligh apa yang dapat dilakukan? Jika demikian, pengaruh apa yang justru diberikan oleh umat Muslim pada dunia?

Karena kelemahan inilah maka kini kita melihat akibatnya dan para Ahmadi-lah yang memiliki jalan keluarnya. Jika kita pun tersesat, maka siapa lagi yang akan menanganinya. Dengan karunia Allah Ta’ala, janji Allah Ta’ala kepada Hadhrat Masih Mau’ud (as) pasti akan sempurna, tetapi jika kita tidak ikut serta di dalamnya, Allah Ta’ala pasti akan membangkitkan kaum lain dan Dia akan menyempurnakan janji-Nya itu dengan perantaraan mereka. Jika keadaan masyarakat [di sekitar] kita telah menjadi sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Hadhrat Masih Mau’ud (as), hendaknya kita sedemikian rupa memikirkan tolok ukur kesalehan dan ketakwaan kita dan hendaknya kita telah sedemikian rupa memikirkan tolok ukur kesalehan dan ketakwaan keturunan-keturunan kita.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) pun bersabda bahwa takwa bukanlah berarti tidak mengambil manfaat dari nikmat-nikmat Allah Ta’ala karena jika tidak diambil manfaat darinya [dari karunia-karunia Allah Ta’ala] maka ini pun merupakan keadaan yang jauh dari takwa. Beberapa orang yang menyebut dirinya suci, panutan dan sufi, mereka sengaja mengenakan pakaian seadanya dan memakan makanan yang tidak sedap hanya untuk dilihat orang lain dan demi memperlihatkan bahwa dirinya adalah orang yang bertakwa dan sangat suci.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda, “Ingatlah, hendaknya manusia di setiap saat dan keadaan berupaya untuk terus berdoa serta berusaha mengamalkan وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ yang artinya hendaknya menyampaikan apa saja nikmat yang Allah Ta’ala anugerahkan padanya. Hendaknya ia memperlihatkan dan menyebarkannya. Dengan ini kecintaan kepada Allah Ta’ala menjadi bertambah (yaitu dengan memperlihatkan nikmat-nikmat-Nya). Melalui hal ini akan lahir suatu semangat untuk semakin taat dan patuh pada-Nya. ‘Penyebutan nikmat’ ini bukanlah bermakna seseorang cukup dengan terus mengucapkannya di mulut saja, tetapi hal ini pun hendaknya berpengaruh [terdapat bukti lahiriah] pada jasmaninya. Sebagai contoh, jika ada seseorang yang Allah Ta’ala telah berikan taufik untuk mengenakan baju yang indah, tetapi ia selalu mengenakan baju yang lusuh, dengan pemikiran agar ia patut dikasihani atau supaya orang lain tidak mengetahui keadaannya yang berkecukupan, maka orang seperti ini telah berdosa, karena ia ingin menyembunyikan karunia dan belas kasih Allah Ta’ala. Ia melakukan kemunafikan dan penipuan. Ia ingin melakukan pembohongan. Ini sangatlah jauh dari mutu seorang mukmin. Seorang mukmin tidaklah berperilaku demikian.

Ajaran Yang Mulia Rasulullah (saw) adalah sedemikian rupa, yakni beliau memilih jalan yang mudah. Apa saja yang tersedia beliau menggunakannya tanpa membuat-buat dan memaksakan diri.” Beliau tidak berkecenderungan hanya pada satu sisi saja. Jika beliau (saw) memperoleh pakaian bermutu tinggi, beliau pun mengenakannya. Jika tidak, pakaian biasalah yang beliau kenakan.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda, “Rasulullah (saw) mengenakan apa saja yang beliau dapatkan. Beliau tidak menghindarinya. Beliau menerima pakaian yang dipersembahkan kepada beliau.

Adapun, orang-orang yang hidup jauh sepeninggal beliau (saw) berpandangan bahwa tawadhu (sikap rendah hati) hanya terdapat dalam ajaran rahbaniyat (kerahiban yang mensyaratkan sikap ekstrim sangat sederhana dan tidak menikah). Beberapa darwis ‘penganut sufi’ terlihat memakan daging seraya mencampurkan tanah di dalamnya. Mereka menamakan dirinya darwis dan memakan daging dengan mencampurkan tanah di dalamnya.

Ada orang yang mendatangi seorang darwis. Darwis lalu berkata kepada muridnya, ‘Berilah ia (yakni tamu) makanan.’ Tamu itu menjawab dengan bersikeras bahwa ia akan makan bersamanya, ‘Tuan, saya hanya akan makan jika bersama tuan.’

Pada akhirnya, ketika ia duduk makan bersama sosok darwis itu, darwis itu meletakkan mangkuk berisi daun neem di hadapannya. Neem adalah pohon yang daunnya sangat pahit dan ia memiliki biji yang juga sangat pahit. Setelah menyiapkannya maka ia menghidangkan masakan pahit tersebut. Masakan itu sama sekali tidak enak dan rasa yang dimilikinya adalah rasa pahit yang amat sangat.”

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda, “Beberapa orang menempuh hal-hal seperti ini. Hal ini bertujuan agar orang lain meyakininya sepagai orang hebat. Tetapi Islam tidak menyatakan ini sebagai hal yang hebat. Hal yang dianggap hebat dalam Islam adalah ketakwaan, yang darinya seorang akan mendapat derajat kewalian. Dengan ini, para malaikat berbicara padanya, dan Allah Ta’ala memberi berbagai kabar suka kepadanya. Kita sama sekali tidak memberi ajaran seperti itu, karena ini adalah bertentangan dengan hakikat ajaran Islam. Al-Quran Syarif mengajarkan كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ yakni makanlah makanan yang suci, sementara orang-orang ini memasukkan suatu yang hina di atas sesuatu yang bersih dan istimewa sehingga itu pun menjadi tidak baik. Ajaran-ajaran seperti ini muncul di dalam Islam setelah masa yang panjang. Orang-orang ini telah menambah-nambah ajaran Rasulullah (saw), dan ini sama sekali tidak ada kaitannya dengan Islam dan Al-Quran Karim. Mereka membuat syariat mereka sendiri secara terpisah. Saya melihat mereka dengan pandangan penuh kebencian dan antipati. Rasulullah (saw) merupakan uswah hasanah ‘teladan’ bagi kita. Adalah suatu kebaikan bagi kita jika kita sedapat mungkin berjalan mengikuti jejak langkah beliau (saw) dan tidak melangkah menentang beliau.”[10] Ini adalah tentang makan dan minum.

Terkait:   Ramadhan: Pelatihan bagi orang-orang Beriman

Selanjutnya, berkenaan dengan akhlak di dalam keseharian, demikian pula tentang bagaimana hubungan dengan istri dan anak-anak, yakni hubungan di dalam rumah tangga, Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda, “Dalam hal hubungan dengan istri dan anak keturunan, serta hubungan bermasyarakat, banyak orang yang jatuh dalam kekeliruan, dan mereka telah tergelincir dari jalan mustaqim, yakni telah jauh dari jalan yang lurus. Di dalam Al-Quran Syarif tertera وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ namun kini yang terjadi adalah yang bertentangan dengannya.”[11]

Bukannya melakukan hal yang ma’ruf, yang terjadi di beberapa rumah tangga justru adanya penganiayaan. Alhasil, jika mendapat taufik untuk mengenakan pakaian yang indah dan jika mendapat taufik untuk memakan hidangan yang sedap maka hendaknya ia tidak surut, tetapi justru meningkat dalam hal ketakwaan.

Kemudian tentang akhlak dalam hidup bermasyarakat, disabdakan bahwa memperlakukan istri dengan baik pun adalah penting. Memperhatikan anak keturunan, memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, memberi tarbiyat yang benar kepadanya pun adalah penting dan ini pun adalah takwa dan perintah dari Al-Quran Karim. Jadi, adalah penting untuk memenuhi keduanya yakni huquuqullah dan huquuqul ‘ibaad.

Kemudian, Hadhrat Masih Mau’ud (as) menyampaikan bahwa orang-orang muttaqi diberikan nur oleh Allah Ta’ala yang tentang ini beliau (as) bersabda, “Takwa hakiki tidak dapat menyatu dengan jahiliyyat (kejahilan). Takwa hakiki mengandung nur di dalamnya, sebagaimana Allah yang Maha Mulia berfirman يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ dan Dia juga berfirman, وَيَجْعَلْ لَكُمْ نُورًا تَمْشُونَ بِهِ yakni, wahai orang-orang yang beriman, jika kalian terus teguh dalam ketakwaan, dan kalian tetap tegak dan kukuh dalam sifat ketakwaan demi Allah Ta’ala maka Allah Ta’ala akan menurunkan suatu pembeda antara kalian dengan yang lainnya. Pembeda itu adalah, kalian akan diberi sebuah nur yang dengan nur itu kalian berjalan di setiap langkah kalian. Yakni nur itu akan ada bersama segenap tindakan, perkataan, kemampuan dan kesadaran Anda. Akan ada nur di dalam pikiran Anda dan akan ada nur di dalam setiap hal yang Anda ucapkan.”[12] Sosok yang berjalan sesuai dengan kehendak Allah Ta’ala maka tidak ada suatu kesalahan pun yang dapat terjadi padanya. Jika ada, Allah Ta’ala akan segera menegaskan padanya menuju perbaikannya. Allah Ta’ala akan segera menekankan dirinya untuk beristigfar.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda, “Dalam hal yang tidak sengaja terucap pun akan ada nur di dalamnya. Akan ada nur pada kedua mata Anda. Akan ada nur pada kedua telinga, lidah, ucapan, dan setiap tindakan serta diam Anda dan segenap jalan yang Anda tempuh akan menjadi jalan yang penuh dengan nur.” [13]

Alhasil, segenap jalan Anda, yakni segenap jalan kemampuan Anda, segenap jalan kesadaran Anda, semuanya akan penuh dengan nur, dan Anda akan meniti jalan penuh nur. Apapun jalan yang Anda miliki, semuanya akan menjadi jalan menuju kesalehan. Segenap kemampuan Anda pun akan membawa pada amal yang saleh. Segenap pikiran dan angan-angan Anda pun akan menjadi suci. Pikiran-pikiran buruk akan lenyap. Tatkala suasana seperti ini terwujud, maka ini sungguh merupakan masyarakat yang berjalan diatas ketakwaan.

Hudhur (as) bersabda, “Hukum alam yang ada semenjak awal mula adalah, semua ini akan didapat setelah adanya makrifat sempurna. Akar rasa takut, cinta dan penghargaan wujud Tuhan adalah adanya makrifat sempurna. Dengan demikian, seseorang yang telah diberi makrifat sempurna, ia pun akan diberi rasa takut dan cinta yang sempurna dan siapa saja yang telah diberi rasa takut dan cinta yang sempurna maka ia akan diberi keselamatan dari setiap dosa yang lahir dari amarah. Dengan demikian, kita tidak membutuhkan darah apapun demi meraih keselamatan ini, tidak pula kita membutuhkan suatu salib atau ajaran kaffarah. Yang kita perlukan adalah suatu pengorbanan yaitu mengorbankan hawa nafsu kita, yang mana fitrat manusia memerlukannya. Pengorbanan seperti ini dalam kata lain bernama Islam. Mengorbankan hawa nafsu merupakan jalan menuju ketakwaan, dan inilah yang dinamakan Islam. Islam bermakna mnjulurkan leher untuk dikorbankan. Yakni seorang dengan segenap kerelaan meletakkan ruhnya di hadapan singgasana Tuhan. Istilah yang indah ini merupakan ruh bagi syariat dan merupakan jiwa bagi segenap perintah agama. Meletakkan leher di depan dengan segenap keridaan dan kerelaan hati untuk dikorbankan, membutuhkan adanya suatu kecintaan yang sempurna; dan kecintaan yang sempurna membutuhkan adanya makrifat yang sempurna. Selama seorang tidak memiliki makrifat sempurna atas sesuatu, selama itu pula kecintaan tidak dapat lahir. Alhasil, lafaz Islam sendiri memberi isyarat bahwa pengorbanan hakiki membutuhkan makrifat yang sempurna dan kecintaan yang sempurna, dan tidak membutuhkan hal yang lain. Kepada hal inilah Allah Ta’ala memberi isyarat di dalam Al-Quran Syarif yaitu لَنْ يَنَالَ اللهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُم yakni dalam pengorbanan-pengorbanan kalian, dagingnya tidak akan sampai pada-Ku dan tidak pula darahnya; tetapi pengorbanan yang sampai pada-Ku adalah tatkala kalian takut kepada-Ku dan menempuh ketakwaan untuk-Ku.’”[14]

Jadi, inilah tolok ukur ketakwaan yang Allah Ta’ala harapkan dari kita, yang diharapkan oleh Rasulullah (saw) dari kita, yang diharapkan oleh imam zaman dari kita dan berkali-kali dinasihatkan dalam Al-Qur-an dan untuk meraihnya telah diwajibkan untuk berpuasa di bulan Ramadhan.

Beruntunglah diantara kita yang berupaya disertai dengan pemikiran ini bahwa mereka akan melalui beberapa hari lagi Ramadhan demi meraih ketakwaan. Semoga kita melakukannya sesuai dengan itu dan kita harus menyelaraskan setiap amalan dan ucapan kita sesuai dengan keridhaan Allah Ta’ala.

Ada seseorang datang ke hadapan Hadhrat Masih Mau’ud (as). Orang itu berkata, ‘Orang-orang melontarkan keberatan dengan mengatakan bahwa Anda telah mendakwakan diri sebagai Al-Masih yang dijanjikan padahal Anda bukanlah seorang Sayyid (keturunan Rasulullah). Maka dari itu, bagaimana bisa seorang Sayyid baiat kepada orang dari kalangan umat biasa?’

Hingga sekarang pun orang-orang yang mengagung-agungkan status Sayyid masih melontarkan keberatan tersebut bahwa seorang Sayyid memiliki kedudukan yang luar biasa, untuk itu bagaimana mungkin seorang sayyid baiat kepada orang yang bukan sayyid? Demikian pula timbul pemikiran di kalangan sebagian orang Arab bahwa jika Al-Masih yang dijanjikan (al-Masih al-Mau’ud atau Imam Mahdi yang dinanti) akan datang, seyogyanya berasal dari kalangan orang Arab. Bagaimana mungkin berasal dari kalangan Non Arab? Bagaimana kita dapat mengakuinya?

Meskipun mereka membaca Al-Qur-an namun tidak merenungkannya. Jawaban atas keberatan tersebut sudah tersedia dalam Al-Qur-an. Allah Ta’ala berfirman bahwa Akulah yang akan memberikan kedudukan tersebut, bukanlah manusia yang membagikan kedudukan tersebut.

Beliau (as) bersabda, “Keridhaan Allah Ta’ala bukanlah pada segi jasmani atau asal kaum (golongan) seseorang secara lahiriah, pandangan-Nya senantiasa tertuju pada ketakwaan seseorang إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ yakni dalam pandangan Allah yang paling mulia diantara kalian adalah yang paling bertakwa. Sama sekali keliru jika seseorang membanggakan diri dengan statusnya sebagai Sayyid, Mughal, Pathan atau Syeikh.[15] Jika seseorang membanggakan diri akan kebesaran kaumnya, maka kebanggaan seperti itu adalah sia-sia. Setelah mati, status kebesaran kaum seseorang akan hilang. Di hadapan Allah Ta’ala status kaum seseorang tidak berarti apa apa. Ketinggian status silsilah keturunan seseorang semata tidak akan membuatnya dapat meraih najat keselamatan.

Nabi (saw) sendiri pernah bersabda kepada Hadhrat Fathimah, ‘Wahai Fathimah! Janganlah engkau membanggakan diri akan statusmu sebagai putri Rasul. Dalam pandangan Allah Ta’ala status seseorang tidak bernilai apa-apa. Derajat kedudukan yang menjadi penentu adalah dari sisi ketakwaan.’[16] Ketika untuk seorang Hadhrat Fathimah pun diperintahkan demikian maka bagi siapa lagi yang masih tersisa [kebanggaan status] selain beliau?

Adapun suku bangsa dan kabilah hanya merupakan identitas dan administrasi seseorang secara duniawi, tidak ada kaitannya dengan Allah Ta’ala. Kecintaan Allah Ta’ala terlahir dari ketakwaan kepada-Nya. Ketakwaanlah yang memberikan ketinggian derajat kepada seseorang.

Seandainya ada seorang Sayyid masuk agama Kristen lalu melontarkan cacian terhadap pribadi Rasulullah (saw) dan bersikap lancang pada hukum-hukum Allah Ta’ala, apakah ada yang berani mengatakan bahwa disebabkan statusnya yang Sayyid sehingga Allah akan memberikan najat keselamatan padanya dan ia akan masuk ke surga?

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللهِ الْإِسْلَامُ Artinya, dalam pandangan Allah Ta’ala, agama yang benar yang menjadi sarana untuk mendapatkan najat adalah Islam. Jika ada yang menjadi Kristen, Yahudi, Hindu Arya, maka dalam pandangan Allah Ta’ala orang seperti itu tidak pantas untuk mendapatkan kemuliaan. Allah Ta’ala telah mengangkat keistimewaan status pribadi berdasarkan suku bangsa dan kelompok jasmani seseorang karena status kebangsaan ini adalah untuk pengaturan dan identitas di dunia, namun kami telah merenungkannya secara matang bahwa yang menjadi penyebab terpandangnya kedudukan seseorang di hadapan Allah Ta’ala adalah takwa. Barangsiapa yang bertakwa maka ia akan masuk surga. Allah Ta’ala telah memutuskan, إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ dalam pandangan Allah Ta’ala yang termulia adalah yang paling bertakwa.

Kemudian Dia firmankan إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ bahwa amalan dan doa orang bertakwa lah yang akan diterima (al-Maa-idah, 5:28). Di sini tidaklah dikatakan من السادات Minas saadaat atau minas sayyidiin – ‘dari kalangan kaum Sayyid’.

Kemudian difirmankan وَمَنْ يَتَّقِ اللهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا * وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ artinya, ‘Oorang Muttaqi akan dijauhkan dari kesempitan, ia akan diberikan rezeki dari arah yang tidak ia sangka-sangka.’ (Surah ath-Thalaaq, 65:3-4). Silahkan jawab, apakah janji ini diperuntukkan bagi para sayyid ataukah para muttaqi (yang bertakwa)?

Kemudian difirmankan, إِنْ أَوْلِيَاؤُهُ إِلَّا الْمُتَّقُونَ ‘Para muttaqi-lah yang merupakan Wali (kekasih) Allah Ta’ala’ (al-Anfaal, 8:35). Janji tersebut tidaklah diperuntukkan bagi para Sayyid. Martabat apa lagi yang lebih besar dari wilayat (kekasih Allah Ta’ala). Seorang muttaqi-lah yang mendapatkannya. Sebagian menyatakan wilayat lebih tinggi dari nubuwwat dan berkata bahwa wilayat kenabian lebih tinggi dari kenabiannya. Wujud seorang Nabi sebenarnya merupakan kumpulan dua hal yakni Nubuwwat dan Wilayat. Dengan perantaraan nubuwwat, seorang Nabi memberikan hukum-hukum dan syariat kepada makhluk. Sedangkan Wilayat menegakkan jalinannya dengan Allah Ta’ala.

Selanjutnya Dia berfirman, ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ dzaalikal Kitaabu laa raiba fiihi hudal lil muttaqiin – itulah Kitab yang tiada keraguan padanya petunjuk bagi orang-orang bertakwa (al-Baqarah, 2:3). Di ayat ini tidak dikatakan هدى للسيدين Hudan lis sayyidiin atau petunjuk bagi kaum Sayyid.

Alhasil, Allah Ta’ala menuntut adanya ketakwaan. Adapun seorang Sayyid lebih dituntut untuk melangkah ke jalan tersebut, karena kaum Sayyid merupakan keturunan orang-orang Muttaqi. Adalah kewajibannya untuk berusaha menempuh ketakwaan. Statusnya sebagai Sayyid tidaklah serta-merta memberikan kedudukan [ketakwaan] tersebut kepadanya. Untuk itu sudah selazimnya seorang Sayyid paling dulu melangkah ke arah ini, bukannya melawan Allah Ta’ala dengan mengatakan bahwa kedudukan ini merupakan hak para Sayyid. Allah Ta’ala akan menganugerahkannya kepada yang dikehendaki-Nya. ذَلِكَ فَضْلُ اللهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ . Surah al-Jumu’ah, 62:5)

Perkataan ini sama saja dengan ucapan keberatan kaum Yahudi [atas diutusnya Nabi Muhammad (saw) dari kalangan Arab] dengan mengatakan, ‘Kenapa Bani Ismail yang mendapatkan Nubuwwat (kenabian) ini?’

Mereka tidak mengetahui, تِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ – ‘Hari-hari itu Kami pergilirkan diantara umat manusia.’ (Surah Ali Imran, 3:141) Maksud dari ayat tersebut adalah Dan hari-hari itu Kami pergilirkan di antara manusia. Ini merupakan keputusan Allah Ta’ala. Jika ada yang menentang Allah Ta’ala, maka ia adalah mardud (tertolak). Tuhan bisa menanyai siapapun, sebaliknya tidak ada yang dapat berkeberatan kepada Allah Ta’ala.”[17]

Beliau (as) bersabda dalam menjawab keberatan berkenaan dengan pendakwaan beliau, “Ketika Hadhrat Rasulullah (saw) diutus dan beliau mendakwakan diri, pada saat itu pandangan orang-orang tertuju pada banyak ulama Yahudi yang dikenal oleh orang-orang sebagai bertakwa dan saleh. Namun tidaklah mesti bahwa dalam pandangan Allah Ta’ala pun mereka muttaqi. Allah Ta’ala menyebutkan orang-orang Muttaqi yang benar-benar takwa dan tulus dalam pandangan-Nya.

Ketika mereka mendengar kabar pendakwaan seseorang yang mengaku Rasul dan mereka melihat adanya perbedaan dalam kehormatan duniawi, mereka spontan menolaknya dengan penuh kesombongan dan tidak bersedia untuk menerima kebenaran.

Coba perhatikan, para ulama tersebut di masa kini dalam pandangan orang-orang pun adalah kaum muttaqi, namun mereka bukanlah muttaqi sejati. Muttaqi hakiki adalah orang yang sekalipun kehormatannya hilang, mengalami ribuan kehinaan atau ada resiko kehilangan nyawa atau hingga harus menanggung kelaparan dan kemiskinan yang sangat, ia (seorang muttaqi hanya) semata takut kepada Allah dan bersedia untuk menanggung semua kerugian itu, namun sekali-kali tidak akan menyembunyikan kebenaran.

Ketakwaan bukan seperti yang didefinisikan oleh para Maulwi di pengadilan pada masa ini, yakni siapa yang mengakui segala sesuatu secara lisan, terlepas apakah ia mengamalkannya ataukah tidak, bahkan sekalipun dibumbui dengan kedustaan dan mencuri, maka ia adalah muttaqi.

Hanya menyatakan diri Muslim saja, bukanlah ketakwaan. Ketakwaan memiliki tingkatan. Selama itu belum mengalami kesempurnaan, hingga saat itu seseorang belum muttaqi seutuhnya.

Segala sesuatu akan bermanfaat, jika berimbang. Jika seseorang Syaikh (sesepuh) merasa lapar dan haus lalu diberikan secuil roti dan setetes air, maka ia tidak akan merasa kenyang.” Ketika para Maulwi menyampaikan keilmuannya, maka itu bukanlah takwanya karena takwa timbul dari amal perbuatanan. Dengan mengatakan bahwa si fulan adalah maulwi atau ulama besar, tidak lantas akan terlahir katakwaan. Beliau bersabda, “Jika seseorang Syaikh (sesepuh) merasa lapar dan haus lalu diberikan secuil roti dan setetes air maka ia tidak akan merasa kenyang dan tidak juga dapat menyelamatkan jiwa sebelum ia mendapatkan makanan dan minuman yang cukup. Demikian juga ketakwaan, sebelum manusia menempuh ketakwaan dari berbagai sisi sepenuhnya, tidak mungkin ia menjadi muttaqi. Jika ini tidak benar maka seorang kafir pun dapat kita katakan sebagai muttaqi, karena pasti ada saja satu sisi ketakwaan atau kelebihan yang terdapat dalam dirinya.” Pasti ada saja kebaikan yang ia lakukan yang meskipun hal itu tidak menjadikannya sebagai seorang muttaqi.

“Allah Ta’ala tidaklah menciptakan seseorang hanya untuk terperangkap dalam kegelapan.” (Allah Ta’ala tidaklah menciptakan keburukan sepenuhnya dalam diri setiap orang. Kebaikan pun ada.) Namun, kadar ketakwaan seperti itu jika ada dalam diri orang kafir maka tidak dapat memberikan manfaat baginya. Kadarnya harus banyak sehingga membuat hatinya bersinar.” Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa seseorang harus memenuhi hak-hak Allah Ta’ala dan juga hak-hak hamba-Nya. Segala jenis kebaikan harus ada dalam dirinya.

“Keridhaan Allah Ta’ala harus menyertainya dan ia terhindar dari setiap keburukan. Banyak sekali umat Islam yang mengatakan, ‘Bukankah kami berpuasa? Bukankah kami melakukan shalat dan lain sebagainya?’ Namun, dengan melakukan itu saja tidak lantas membuatnya menjadi seorang muttaqi. Takwa adalah sesuatu yang berbeda. Sebelum manusia mendahulukan Allah Ta’ala dan memutuskan segala penghargaan (penghormatan), apakah itu didasarkan pada persaudaraan, kesukuan, perkawanan dan ketokohan di suatu tempat, dengan didasari rasa takut kepada Allah Ta’ala dan selama ia belum bersedia untuk menanggung berbagai kehinaan demi Allah Ta’ala maka ia belum layak untuk menjadi seorang muttaqi. Janji-janji besar yang diberikan kepada para muttaqi dalam Al-Qur-an, itu adalah berkaitan dengan orang-orang muttaqi yang memelihara ketakwaannya semaksimal mungkin. Ia terus tegak diatas ketakwaan selama kekuatan manusiawinya menyertainya hingga akhirnya kekuatannya menyerah dan kemudian ia memohon kekuatan baru kepada Allah Ta’ala sebagaimana jelas dari ayat, إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ‘Kepada Engkau-lah kami menyembah dan kepada Engkau-lah kami memohon pertolongan’. إِيَّاكَ نَعْبُدُ artinya, ‘Kami telah bekerja selama kekuatan kami menyertai dan tidak meninggalkannya hingga hal yang sekecil-kecilnya’ sedangkan وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ artinya, ‘Untuk melangkah maju kami memohon kekuatan baru kepada Engkau’. Hal ini sebagaimana seorang penyair bernama Hafizh mengatakan [dalam bahasa Persia atau Farsi]:

Terkait:   Jalsah SalanahUK (Britania Raya)

’’ما بِدَاں منزِل عالی نَتَوَانِیم رسید

ہاں اگر لطفِ شُما پیش نِہَد گامے چند‘‘

Kami tidak dapat sampai hingga puncak tertinggi, jika kasih sayang Engkau tidak menyertai.

Jadi, ingatlah dengan baik, dalam pandangan Allah Ta’ala tolok ukur ketakwaan adalah berbeda dari anggapan manusia. Ini jugalah yang menjadi penyebab munculnya grup-grup penentang pada zaman Isa Almasih (as) yaitu orang-orang yang dianggap oleh orang-orang Yahudi pada umumnya sebagai orang muttaqi dan saleh yang sebenarnya adalah sebaliknya. Jika memang tidak bertentangan, maka tidak akan muncul grup-grup dll. Demikian pula keadaannya pada zaman Hadhrat Rasulullah (saw) yakni adanya berbangga diri, bakhil, pamer dan membanggakan status duniawi dan sebagainya yang menjadi penghalang bagi mereka untuk menerima kebenaran. Alhasil, ketakwaan adalah sesuatu yang sulit. Ketika Allah Ta’ala menganugerahkan hal itu kepada seseorang, bersamaan dengan itu Dia pun memberikan ciri-cirinya. Faktanya, ketika kebenaran muncul maka orang yang menolaknya tanpa sebab lalu membantah tanda-tanda dari Allah Ta’ala dan bukti-bukti yang rasional dan membumi maka sekali-kali ia tidak dapat menjadi seorang muttaqi. Seorang muttaqi seharusnya memiliki rasa takut.”

Kemudian, Hadhrat Masih Mau’ud (as) menjelaskan perihal latar belakang pengutusan beliau, bersabda, “Pernahkah terjadi di dunia di mana seseorang terus menerus selama 24 tahun merencanakan kejahatan di malam hari dan keesokan paginya mengklaim bahwa wahyu dan ilham diturunkan kepadanya oleh Tuhan dan Tuhan tidak menghukumnya? Jika itu masalahnya maka dunia akan diliputi kegelapan dan orang-orang akan binasa. Bagi orang benar, bahkan satu tanda saja sudah cukup untuk memperoleh manfaat, tetapi dalam kasus saya ada ribuan tanda. Keadaan dunia sedang memanggil [pembaharu]; hadits menyatakan bahwa [imam] akan berasal ‘dari antara kamu’ dan ‘dari antara kamu’ juga disebutkan dalam Surah al-Nur. Demikian pula, pada segi lainnya, keadaan keras hati orang-orang dan mereka yang hidup seperti binatang juga menuntut kedatangan [seorang pembaharu]. Mereka katakan bahwa mujaddid [pembaharu] akan muncul pada awal setiap abad. (yaitu tatkala Hadhrat Masih Mau’ud (as) berbicara pada masa itu). Telah terjadi gerhana matahari dan gerhana bulan di bulan Ramadhan, wabah telah muncul dan ibadah Haji juga telah dihentikan. Jika orang-orang masih tidak menerima setelah menyaksikan semua ini lalu bagaimana kita bisa percaya bahwa mereka bertakwa.”

Ini adalah tanggapan terhadap mereka yang mengeluarkan fatwa kekafiran terhadap Hadhrat Masih Mau’ud (as). Mereka menganggap diri mereka benar-benar bertakwa dan berbudi luhur (saleh). Orang-orang seperti itu menyesatkan orang lain.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) menyatakan, “Kami telah berulang kali mengundang mereka untuk datang dan mengajukan pertanyaan yang mereka berhak untuk bertanya. Memang, tidak mungkin Al-Qur’an menyatakan satu hal dan Anda mengatakan sesuatu yang sama sekali berbeda. Mereka mengklaim bahwa Yesus (as) akan turun secara tubuh jasmani dari surga, namun itu hanya dapat dianggap benar jika ia naik terlebih dahulu. Al-Qur’an berbicara tentang kewafatan Yesus (as) namun mereka mengklaim beliau naik ke langit.

Apakah dengan meninggalkan ketakwaan lalu mengikuti takhayul pantas disebut takwa? Ketakwaan sejati dapat diketahui dari pemberitahuan oleh Al-Qur’an dan seseorang dapat mengetahuinya dengan melihat apa yang telah dilakukan oleh orang-orang bertakwa.”[18]

Kemudian, dalam memberikan nasihat kepada para anggota jemaat Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda, “Allah Ta’ala memperlihatkan manifestasinya kepada orang-orang bertakwa dan mereka berada di bawah naungan-Nya. Namun, seyogyanya ketakwaan yang dimiliki murni tanpa ada pengaruh dari setan. Allah Ta’ala tidak menyukai perbuatan syirk dan jika sebagian teracuni oleh setan maka Allah Ta’ala akan menganggapnya sepenuhnya milik setan.

Saya sampaikan kepada anggota Jemaat untuk tidak merasa bangga hanya karena sudah melaksanakan shalat, puasa atau menghindari dosa-dosa besar seperti zina, mencuri dan lain-lain karena kebanyakan orang di luar Jemaat kita, orang musyrik dan lain-lain pun memiliki keistimewaan seperti kalian dalam hal ini.” Yakni mereka pun tidak melakukan dosa-dosa besar tersebut.

“Bahasan takwa merupakan suatu perkata yang sangat halus. Oleh sebab itu, raihlah ketakwaan. Tanamkan keagungan Allah Ta’ala di dalam hati. Allah Ta’ala menolak segala amal perbuatan yang mengandung unsur riya, meskipun hanya sedikit saja.” Janganlah beramal dengan didasari pamer.

“Sulit untuk menjadi orang yang bertakwa. Sebagai contoh, jika seseorang menuduh kalian mencuri sebuah pena, lantas kenapa kalian marah?”

(Jika ada seseorang yang membicarakan tentang kita akan hal-hal sepele dengan mengatakan, ‘Kamu telah mengambil penaku’, lantas langsung naik pitam. Ini bukanlah ciri ciri orang yang bertakwa. Hendaknya menampilkan kesabaran dan kesantunan.

“Hendaknya sikap menjauhkan hal-hal ini didasari karena Allah semata. Hendaknya terhindar dari kemarahan seperti itu. Kemarahan dalam kasus ini tidak didasari oleh keinginan untuk melangkah pada kebenaran. Manusia tidak menjadi bertakwa jika ia tidak melewati berbagai tahapan yang menyerupai banyak kematian.

Berbagai mukjizat dan ilham pun merupakan ranting ketakwaan dan aspek mendasarnya ialah ketakwaan. Ketakwaan merupakan intisari. Oleh karena itu, janganlah kalian terlalu mengejar mengejar ilham, rukya dan kasyaf melainkan sibukanlah untuk meraih ketakwaan.”

Janganlah disibukkan bahwa si anu telah mendapatkan ilham itu mimpi itu. Yang harus menjadi fokus adalah apa itu takwa.

“Orang-orang yang bertakwa memperoleh wahyu (ilhaamaat) yang benar, sedangkan wahyu yang diterima tanpa ketakwaan tidak dapat dipercaya karena di dalamnya ada kemungkinan sudah terkena pengaruh setan.

Janganlah mengukur ketakwaan seseorang dengan melihat bahwa ia menerima ilham, melainkan jadikanlah keadaan ketakwaan seseorang sebagai tolok ukur ilham yang diterimanya dan perkirakanlah. Tutuplah mata kalian terhadap berbagai hal lain, pertama-tama tempuhlah terlebih dulu tahapan takwa.

Sekian banyak Nabi yang datang, mereka semua datang dengan tujuan untuk mengungkap rahasia ketakwaan. إِنْ أَوْلِيَاؤُهُ إِلا الْمُتَّقُونَ ‘… Para Wali hakiki itu tidak ada selain para muttaqi …’ [Al-Anfal, 8:35] Tetapi, Al-Quran mengajarkan jalan-jalan halus ketakwaan. Seorang Nabi sempurna menuntut umat sempurna. Karena Nabi Suci (saw) adalah Khatamun nabiyyin sehingga keunggulan kenabian memuncak dalam dirinya. Ketika keunggulan kenabian mencapai titik kesempurnaan akhir, saat itulah segel ditetapkan pada lembaga kenabian. Seorang individu yang ingin menyenangkan Allah Ta’ala, dan menyaksikan keajaiban dan kejadian luar biasa, harus membuat hidupnya juga luar biasa.

Lihatlah, mereka yang akan menghadapi ujian sedemikian rupa bekerja gigih hingga terkadang jatuh sakit dan menjadi lemah seperti korban TBC (batuk, tuberkolosis). Demikian pula, hendaknya kalian juga bersiap untuk menanggung segala penderitaan agar lulus dalam ujian ketakwaan. Ketika manusia berada di jalan ini, setan senantiasa melancarkan serangan dahsyat. Namun, ketika sampai pada satu batas tertentu, setan pada akhirnya berhenti. Inilah tahapan ketika kehidupan manusia yang rendah mengalami kematian kemudian ia masuk naungan Allah Ta’ala. Intisari ajaran kita adalah hendaknya manusia mengerahkan seluruh kemampuan dan tenaganya di jalan Allah Ta’ala.”[19]

Saya telah sampaikan nasihat yang telah diberikan oleh Hadhrat Masih Mau’ud (as) kepada kita yang dikutip dari berbagai rujukan supaya kita dapat mengetahui makna takwa hingga ke kedalamannya dan sebagaimana yang telah disabdakan oleh Hadhrat Masih Mau’ud (as), semoga setelah bergabung dengan jemaat beliau (as), kita dapat memahami ruh hakiki takwa dan melangkah diatasnya. Pada beberapa hari Ramadhan yang tersisa ini kita hendaknya berusaha sedapat mungkin untuk memahami hakikat Takwa dan dapat memenuhi hak hak dan kewajiban terhadap Allah dan hamba-Nya. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada kita semua. [آمين , aamiin][20]

Khotbah II

الْحَمْدُ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا – مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ – وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ – عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ – أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُاللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ


[1] Sahih al-Bukhari 1894, Kitab tentang puasa atau shaum (كتاب الصوم), bab keutamaan puasa (باب فَضْلِ الصَّوْمِ). Sahih al-Bukhari 7492, Kitab at-Tauhid (كتاب التوحيد), bab firman Allah (باب قَوْلِ اللَّهِ تَعَالَى يُرِيدُونَ أَنْ يُبَدِّلُوا كَلَامَ اللَّهِ إِنَّهُ لَقَوْلٌ فَصْلٌ حَقٌّ وَمَا هُوَ بِالْهَزْلِ بِاللَّعِبِ): عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ  ” يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ الصَّوْمُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَأَكْلَهُ وَشُرْبَهُ مِنْ أَجْلِي، وَالصَّوْمُ جُنَّةٌ، وَلِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ حِينَ يُفْطِرُ وَفَرْحَةٌ حِينَ يَلْقَى رَبَّهُ، وَلَخَلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ “ yang artinya, dari Abu Hurairah (ra), dari Nabi (saw), beliau (saw) bersabda, Allah swt. berfirman, “Puasa adalah untukku dan Aku lah yang membalasnya. Ia (orang yang berpuasa) meninggalkan syahwatnya, makanan, dan minumannya karena-Ku. Puasa adalah perisai dan bagi orang yang berpuasa itu dua kebahagiaan. Kebahagiaan ketika ia berbuka dan kebahagiaan ketika ia menemui Tuhannya. Sungguh berubahnya mulut orang yang berpuasa itu lebih wangi di sisi Allah dari pada minyak misik.” H.R. Ahmad: قَالَ رَبُّنَا عَزَّ وَجَلَّ : الصِّيَامُ جُنَّةٌ يَسْتَجِنُّ بِهَا الْعَبْدُ مِنَ النَّارِ، وَهُوَ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ “Rabb kita ‘azza wa jalla berfirman,Puasa adalah perisai, yang dengannya seorang hamba membentengi diri dari api neraka, dan puasa itu untuk-Ku, Aku-lah yang akan membalasnya/memberikan ganjaran atau pahala kepadanya.’

[2] Malfuuzhaat jilid 8, hal. 377, Edisi 1984 (ماخوذ از ملفوظات جلد 8 صفحہ 374تا 377 ایڈیشن1984ء)

[3] Sahih al-Bukhari 2475, Kitab al-Mazhalim (كتاب المظالم), bab (باب النُّهْبَى بِغَيْرِ إِذْنِ صَاحِبِهِ). Sahih Muslim 57f, Kitab iman (كتاب الإيمان), bab (باب بَيَانِ نُقْصَانِ الإِيمَانِ بِالْمَعَاصِي وَنَفْيِهِ عَنِ الْمُتَلَبِّسِ بِالْمَعْصِيَةِ عَلَى إِرَادَةِ نَفْيِ كَمَالِهِ). Sunan an-Nasa’i 5660, Kitab al-Asyribah (كتاب الأشربة), bab (باب ذِكْرِ الرِّوَايَاتِ الْمُغَلِّظَاتِ فِي شُرْبِ الْخَمْرِ). Sunan an-Nasa’i 4870, Kitab Qath’is Saariq (كتاب قطع السارق), bab (باب تَعْظِيمِ السَّرِقَةِ).

[4] Dalam metode penomoran ayat-ayat Al-Qur’an Karim, sesuai dengan tolok ukur penomoran ayat-ayat Al-Qur’an Karim yang digunakan oleh Jemaat Ahmadiyah, bismillahirrahmaanirrahiim sebagai ayat pertama terletak pada permulaan setiap Surah kecuali Surah at-Taubah.

[5] Malfuuzhaat jilid 4, hal. 253, Edisi 1984 (ملفوظات جلد 4صفحہ 251تا 253 ایڈیشن1984ء)

[6] Malfuuzhaat jilid 1, hal. 155-156, Edisi 1984 (ماخوذ از ملفوظات جلد 1صفحہ 155-156 ایڈیشن1984ء)

[7] Malfuuzhaat jilid 2, hal. 324, Edisi 1984 (ملفوظات جلد 2صفحہ 324 ایڈیشن1984ء)

[8] Dhamimah Barahin Ahmadiyah bagian ke-5, Ruhani Khazain jilid 21, hlmn. 209-210 (ضمیمہ براہین احمدیہ حصہ پنجم، روحانی خزائن جلد 21 صفحہ 209-210)

[9] Malfuuzhaat jilid 4, hal. 4, Edisi 1984 (ملفوظات جلد4صفحہ 4 ایڈیشن1984ء)

[10] Malfuuzhaat jilid 4.

[11] Malfuuzhaat jilid 4, hal. 4344, Edisi 1984 (ملفوظات جلد 4صفحہ 43-44 ایڈیشن1984ء)

[12] Ainah Kamalaat-e-Islam.

[13] Ainah Kamalaat-e-Islam, Ruhani Khazain jilid 5, halaman 177-178 (آئینہ کمالاتِ اسلام، روحانی خزائن جلد 5صفحہ 177-178).

[14] Pidato Lahore, Ruhani Khazain jilid 20, halaman 151-152 (لیکچر لاہور، روحانی خزائن جلد 20صفحہ 151-152).

[15] Sayyid/Sayyidah: gelar untuk keturunan Nabi (saw). Di negara lain ada gelar Syarif/Syarifah dan Habib/Habibah. Habib, ditujukan untuk yang menggeluti agama dan dianggap populer atau dicintai masyarakat. Mughal: di India ialah sebutan bangsa Mongol beragama Islam dan telah bercampur dengan bangsa lain seperti Turki dan Persia serta menjadi penguasa India selama abad 16-19. Pathan: bangsa yang dikenal pemberani dalam peperangan dan pernah menjadi penguasa di sebagian India utara. Shaikh atau Syaikh: di India ialah istilah nama keluarga untuk orang-orang Muslim yang dianggap atau menganggap diri keturunan Arab Muslim awal atau para Sahabat Nabi (saw) dan kakek moyang mereka hijrah ke India.

[16] Sahih al-Bukhari 2753, Kitab Wasiat (كتاب الوصايا), bab (باب هَلْ يَدْخُلُ النِّسَاءُ وَالْوَلَدُ فِي الأَقَارِبِ): وَيَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍ سَلِينِي مَا شِئْتِ مِنْ مَالِي لاَ أُغْنِي عَنْكِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًاwahai Fathimah binti Muhammad, mintalah kepadaku hartaku yang kamu sukai, namun aku tidak dapat menolongmu dari kehendak Allah sedikitpun”.  Sahih Muslim 206a, (كتاب الإيمان), bab (باب فِي قَوْلِهِ تَعَالَى: {وَأَنْذِرْ عَشِيرَتَكَ الأَقْرَبِينَ}): يَا فَاطِمَةُ أَنْقِذِي نَفْسَكِ مِنَ النَّارِ فَإِنِّي لاَ أَمْلِكُ لَكُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا غَيْرَ أَنَّ لَكُمْ رَحِمًا سَأَبُلُّهَا بِبَلاَلِهَا – “Wahai Fathimah binti Muhammad, selamatkanlah dirimu dari api neraka, karena sesungguhnya aku tidak dapat memberikan perlindungan apapun di sisi Allah. Hanya saja, karena aku memiliki hubungan kekeluargaan dengan kalian, maka akan aku gunakan sesuai haknya.”. Jami` at-Tirmidhi 3185, (كتاب تفسير القرآن عن رسول الله صلى الله عليه وسلم), (باب وَمِنْ سُورَةِ الشُّعَرَاءِ):يَا فَاطِمَةُ بِنْتَ مُحَمَّدٍ أَنْقِذِي نَفْسَكِ مِنَ النَّارِ فَإِنِّي لاَ أَمْلِكُ لَكِ ضَرًّا وَلاَ نَفْعًا إِنَّ لَكِ رَحِمًا سَأَبُلُّهَا بِبِلاَلِهَا – “Wahai Fathimah binti Muhammad, selamatkanlah dirimu dari api neraka, karena sesungguhnya aku tidak dapat berkuasa memberikan mudharat (kerugian) dan manfaat. Hanya saja, karena aku memiliki hubungan kekeluargaan dengan kalian, maka akan aku gunakan sesuai haknya.” Sunan an-Nasa’i 3644, (كتاب الوصايا), (باب إِذَا أَوْصَى لِعَشِيرَتِهِ الأَقْرَبِينَ): وَيَا فَاطِمَةُ أَنْقِذِي نَفْسَكِ مِنَ النَّارِ إِنِّي لاَ أَمْلِكُ لَكُمْ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا غَيْرَ أَنَّ لَكُمْ رَحِمًا سَأَبُلُّهَا بِبِلاَلِهَا .

[17] Malfuuzhaat jilid 3, hal. 343-345, Edisi 1984 (ملفوظات جلد 3 صفحہ 343 تا 345 ایڈیشن1984ء).

[18] Malfuuzhaat jilid 7, hal. 73-74, Edisi 1984 (ملفوظات جلد 7 صفحہ 73 تا 76 ایڈیشن1984ء)

[19] Malfuuzhaat jilid 2, hal. 301-302, Edisi 1984 (ملفوظات جلد 2صفحہ 301-302 ایڈیشن1984ء).

[20] Sumber referensi: Majalah al-Fadhl International https://www.alfazl.com/2022/05/07/47161/; www.alislam.org (website resmi Jemaat Ahmadiyah Internasional bahasa Inggris dan Urdu) dan www.Islamahmadiyya.net (website resmi Jemaat Ahmadiyah Internasional bahasa Arab). Penerjemah: Mln. Mahmud Ahmad Wardi, Syahid (London-UK), Mln. Hasyim dan Mln. Fazli ‘Umar Faruq. Editor: Dildaar Ahmad Dartono.

Leave a Reply

Begin typing your search above and press return to search.
Select Your Style

You can choose the color for yourself in the theme settings, сolors are shown for an example.