Khotbah Idul Fitri: Id Hakiki, Esensi Ketakwaan Sejati

KHOTBAH IDUL FITRI
Hadhrat Khalifatul Masih V atba
Tanggal 14 Mei 2021/1442 H
di Masjid Mubarak, Islamabad, Tilford, UK

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ   وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ   أَمَّا بَعْدُ…  فأعوذ بِاللّٰهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْم  بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (١) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ (٢) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (٣) مَالِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِيْنُ (٥)  اِهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيْمَ (٦) صِرَاطَ الَّذِيْنَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوْبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّآلِّيْنَ (٧). آمين.

Di antara anugerah dan ihsan Allah yang agung adalah Dia telah memberikan taufik pada kita, hari ini menyaksikan suatu Id setelah melewati bulan Ramadhan, tapi apakah maksud dari Ramadhan terbatas pada kita menunaikan ibadah puasa 29 atau 30 hari saja, kita merayakan kegembiraan Id, kita makan minum, canda tawa suka ria dan menghibur diri semata? Apakah Allah swt hanya menginginkan itu saja dari kita? Sekali-kali tidak! Justru kita akan meraih limpahan-limpahan karunia Allah ini, pada hakikatnya adalah manakala puasa Ramadhan dan Id kita ini menjadikan kita memahami maksud dari keduanya bahwa keberkatan-keberkatan dan perubahan-perubahan suci yang kita dapatkan, apabila telah kita raih, pada hakikatnya haruslah terlihat dan nampak setelah berpuasa 30 hari. Mengharapkan dan menantikan Ramadhan yang akan datang sebagaimana Nabi Saw bersabda harus terealisasi dengan melakukan perubahan-perubahan ini supaya limpahan-limpahan karunia ini akan berkelanjutan.

Yang termasuk dari kebahagiaan kita adalah di zaman ini kita telah mengimani Imam zaman yang betul-betul mengarahkan kita untuk selalu membuat kita berjalan pada jalan yang telah ditetapkan oleh Allah swt dan Rasul-Nya Saw. Kita tidak mampu menunaikan hak ibadah dan menyambut seruan perintah-perintah lain dari Allah sebagaimana harusnya terkecuali dengan mengamalkan perhatian ini serta kita merenungi dan memahami hakikat agama dan ajaran Allah, dari sini inilah kita meraih limpahan-limpahan karunia-Nya.

Hadhrat Masih Mau’ud as telah menerangkan dengan jelas pada kita tujuan dari pengutusannya bahwa itu memiliki dua misi, salah satunya adalah menjalinkan hubungan hamba dengan Tuhannya; yang kedua adalah mendekatkan manusia dari sesamanya, mengetahui kewajiban-kewajiban dan kemanfaatan mereka, memperhatikan emosi dan perasaan mereka serta untuk menghilangkan kesulitan-kesulitan mereka.

Kedua tujuan ini akan terwujud dengan menunaikan dua jenis kewajiban, salah satunya kita namakan huqūqullāh maksudnya kita menjalankan kewajiban terhadap Allah dan menghubungkan seorang hamba dengan Allah Ta’ala; yang kedua adalah huqūqul-‘ibād yang telah saya terangkan pada kalian dengan suatu penjelasan bagaimana supaya bisa menunaikannya. Apabila kita menaruh perhatian terhadap pelaksanaan dua kewajiban ini, maka kita bisa menjadi orang-orang yang meraih keberhasilan dan menjadi orang-orang mukmin yang sejati. Inilah inti dari ajaran-ajaran Islam dan ini merupakan keistimewaan dari seorang mukmin. Karena itulah Allah swt menerangkan beraneka jalan dan sarana-sarana juga, di antaranya adalah puasa di bulan Ramadhan, yaitu bagaimana seorang insan itu meraih tujuan ini dengan bermujahadah dan setelah itu ada kegembiran Id yang tidak semata-mata merupakan suatu kegembiraan dan perayaan, bahkan di dalamnya juga ada pelajaran. Kalaulah demikian, dalam upaya insan itu bukan saja ia meraih limpahan kebaikan Ramadhan saja melainkan bila di dalamnya senantiasa terdapat perubahan-perubahan suci, begitu pula pada hakikatnya kegembiran-kegembiraan Id tidak akan terwujud bagi seorang insan melainkan apabila perubahan-perubahan suci ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupannya. 

Seorang muslim tidak bisa meraih sebutan mukmin sejati kecuali apabila ia memiliki perhatian yang lestari terhadap pemenuhan huqūqullāh dan huqūqul-‘ibād. Kita, seperti yang telah saya katakan adalah orang-orang yang bernasib baik ketika kita telah beriman pada Imam Zaman dan pecinta sejati Nabi Saw dan beliaulah yang telah membimbing kita bagaimana caranya menjadi seorang mukmin sejati. Di bawah   sinar petunjuk-petunjuknya, sekarang saya akan mengambil kutipan-kutipan agar pada kita selalu bisa terdapat limpahan-limpahan keberkatan Ramadhan dan bagaimana caranya kita bisa merayakan kebahagiaan Id dengan corak yang hakiki. Apa standar yang harus kita raih untuk merayakan Id hakiki itu? Apa huqūqullāh yang ditetapkan atas kita dan apa huqūqul-‘ibād satu sama lain yang ditetapkan atas kita?, apabila kita mengerti hal itu dan memenuhi hak-hak ini secara benar, maka itulah Id yang hakiki dan dengan perantaraannya dunia ini pun akan menjadi surga bagi kita. Kita menyerukan bahwa kita menyembah Allah swt dan mencintai-Nya. Apakah standar kecintaan yang dengan memenuhinya kita memperoleh kedekatan dengan Allah swt? Hadhrat Masih Mau’ud a.s di suatu tempat menjelaskan tentang hal itu dengan bertanya:

Apa tujuan dari mencintai Allah swt? Tujuannya adalah agar seseorang mengutamakan Allah Ta’ala di atas kedua orang tuanya, istrinya, anak-anaknya, dirinya dan segala sesuatu yang dicintainya. Terdapat di dalam Al-Qur’an:

فَاذْكُرُوْا اللهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءَكُمْ أَوْ أَشدَّ ذِكْرًا

(… maka ingatlah Allah seperti kalian mengingat bapak-bapak kalian atau lebih keras lagi)

(Ini tidak akan terwujud kecuali apabila seorang insan itu meraihnya, akan tetapi apabila hal itu terjadi pada kita, maka pada saat itu kita bisa mengatakan Id kita adalah Id hakiki, maka penting menginstrospeksi diri, “Apakah kita siap untuk itu” atau “Apakah kita telah berupaya untuk itu?” Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda dengan menerangkan “kecintaan” ini lebih banyak lagi🙂

“Penting untuk menegakkan Tauhid hakiki demi meraih bagian sempurna dari cintanya Allah Ta’ala dan cinta ini tidak akan pernah terbukti hanya dengan lisan selama bagian amaliahnya belum sempurna. Seperti contoh: apabila seseorang banyak-banyak mengulang-ulang kata “gula”, maka sekali-kali ia tidak akan meraih rasa manis [maksudnya: ia tidak mencicipi rasa manis itu] atau dengan lidahnya seseorang mengaku berlaku tulus pada seseorang tapi ia menahan diri dari memberikan pertolongan padanya saat terjadi musibah dan ia tidak meraihnya dengan tangannya, maka ia tidak terhitung sebagai teman sejati. Demikian pula, apabila dengan lisannya ia mengikrarkan keesaan Allah dan menyatakan cinta pada Allah Ta’ala hanya dengan lidah saja, dari pernyataannya itu sama sekali tidak ada faedahnya. Bagian ini menuntut banyak pengamalan daripada pernyataan dengan lisan.

(Pengakuan dengan lisan itu sekali-kali tidak memberikan faedah bagi kalian, justru kalian harus membuktikannya dengan amal kalian bahwa kalian adalah orang yang mencintai Allah Ta’ala). Namun, hal itu tidak berarti bahwa mengucapkan dengan lisan itu tidak penting. (Justru harus berikrar dengan lisan juga), Sekali-kali tidak demikian, yang dimaksudkan adalah membuktikan amalan pun adalah penting untuk mengiringi ikrar dengan lisan, oleh karena itu adalah penting untuk kalian mewakafkan hidup kalian pada jalan Allah Ta’ala. (yakni kalian setiap saat dan setiap waktu harus menempatkan di hadapan mata, janji yang kalian ikrarkan bahwa akan mendahulukan agama di atas dunia, maka hal ini adalah untuk seorang mukmin biasa. Adapun bagi orang yang mewakafkan dirinya, maka hendaknya mereka memahami ruh wakaf dan mereka senantiasa mengambil pertimbangan bahwa mereka memperhatikan setiap amalan itu demi meraih ridha Allah swt).

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda:

“Inilah Islam dan inilah tujuan yang karenanya aku diutus. Orang yang saat ini tidak mendekat pada mata air yang telah Allah Ta’ala pancarkan untuk tujuan ini, tentu ia akan tetap mahrūm. Apabila kalian ingin mengupayakan sesuatu perkara dan berusaha meraih maksud kalian, maka hendaklah seorang pencari sejati itu maju dan meletakkan mulutnya pada tepi mata air yang mengalir ini.

Hal ini tidak akan terpenuhi selama seseorang tidak melepas pakaian ghairiyatnya di hadapan Allah Ta’ala, selama ia tidak tunduk pada gerbang Rubūbiyyah dan selama ia tidak berjanji bahwa ia tidak akan meninggalkan Allah Ta’ala sekalipun kekuatan duniawinya hilang dan menghadapi gunung-gunung musibah, bahkan ia bersedia mempersembahkan segala pengurbanan di jalan Allah swt. Sebagaimana keikhlasan agung yang dimiliki oleh Hadhrat Ibrahim as yang ia persembahkan untuk mengurbankan puteranya.

Islam menghendaki memperbanyak orang-orang seperti Hadhrat Ibrahim as, oleh karena itu hendaklah setiap kalian berusaha untuk menjadi Hadhrat Ibrahim as. Aku berkata dengan sebenar-benarnya: “Jadikan diri kalian sendiri menjadi wali, bukan menjadi orang-orang yang menyebah para wali; jadikan diri kalian menjadi mursyid dan janganlah menjadi para penyembah mursyid-mursyid; (dan tumbuhkanlah jalinan dengan Allah Ta’ala sehingga suatu ikatan kecintaan personal yang khas dengan Allah Ta’ala tercipta bagi kalian),maka tempuhlah jalan ini. Benar, hal ini sangat sulit (misi yang sangat berat), tetapi dengan memasukinya seorang insan akan meraih ketenteraman dan kebahagiaan. Namun yang terpenting adalah supaya kalian memasuki pintu ini dengan sangat mudah (maka harus membuang banyak keburukan seperti takabur, angkuh dan sebagainya), apabila di kepala ada ikatan keangkuhan, memasukinya menjadi sulit. Jika kalian ingin untuk melintasi pintu ini, maka lepaskanlah ikatan jalian-jalinan duniawi dan mengutamakan dunia di atas agama. Apabila Jemaatku ingin meraih ridha Allah swt, maka hendaklah mereka ia melepaskan ikatan ini. Ketahuilah dengan seyakin-yakinnya bahwa selama kalian tidak bisa berhiaskan kesetiaan dan keikhlasan, pastilah kalian seorang pendusta dan tidak terhitung sebagai orang yang benar di sisi Allah. Jadi orang yang mencampakkan keikhlasan dan mengambil jalan ketidaksetiaan, maka ia akan binasa menghadapi musuh. Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak teperdaya dan tidak akan kuasa bagi seorang pun untuk menipu-Nya, karena itu yang terpenting adalah ciptakanlah ketulusan dan keikhlasan yang hakiki.”

Hubungan kita dengan Allah Ta’ala dan kecintaan ini saja akan membuat kita teguh dengan kesetiaan terhadap janji kita – yakni kita akan mengutamakan agama di atas dunia – dengan corak yang benar dan berpegang pada janji ini. Dan jika pada kita tidak ada kecintaan, maka sesungguhnya janji-janji kita akan membuat kita menjadi orang-orang yang tertipu. Jadi kita harus memeriksa diri kita, apakah standar-standar kecintaan kita pada Allah swt? karena standar-standar tertinggi dari kecintaan kita yang tulus pada Allah swt akan mengantarkan kita untuk meraih kebahagiaan Id hakiki. Kemudian untuk meraih kecintaan pada Allah Ta’ala kita harus senantiasa menaruh perhatian kita pada tobat dan istigfar. Hadhrat Masih Mau’ud as memberikan nasihat seputar hal ini, dimana beliau as bersabda:

“Dawamlah kalian beristigfar dan senantiasalah untuk mengingat kematian karena tidak ada alarm atau pemberi ingat yang lebih baik daripada kematian. Ketika seorang insan bertobat pada Allah Ta’ala dengan hati yang tulus, maka Allah Ta’ala akan memberikan rahmat padanya. Ketika seorang insan bertobat di hadirat Allah Ta’ala dengan niat yang tulus, maka Allah akan mengampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan hisab seseorang itu akan dimulai lagi. Apabila seseorang melakukan kesalahan kecil dalam urusan hak insan pun, itu akan menyimpan rasa dendam dan permusuhan sepanjang umur di hadapannya sekalipun ia telah meminta maaf dengan lidah. Namun, manakala ada kesempatan untuk ini, ia akan menzahirkan rasa dendam dan permusuhan itu. Tapi, ketika seorang hamba datang ke hadapan Allah swt dengan hati yang tulus, maka Dia akan mengampuni dosa-dosanya, menerima tobatnya, memberikan rahmat kepadanya dan Dia memaafkan hukuman dosa baginya. Maka bergegaslah kalian menuju pada-Nya seperti ini. Yakni seolah-olah kalian tidak akan pernah kembali pada keadaan kalian sebelumnya. Tegakkanlah shalat dengan memenuhi segala syarat-syaratnya. Tuhan yang ada di sana, Tuhan itu pula yang ada di sini. Oleh karena itu seharusnya kalian tidak pergi ke rumah-rumah kalian melainkan dengan rasa khawatir dan rasa takut pada Allah swt, sementara selama di sini hati kalian dikuasai oleh rasa belas kasih dan takut pada Allah. Bahkan kalian harus selalu takut ada Allah di setiap saat. Renungkanlah baik-baik sebelum memulai setiap perbuatan dan perhatikanlah apakah Allah Ta’ala akan ridha pada kalian ataukah akan murka?

Sholat sangatlah penting karena shalat itu adalah mikrajnya orang-orang mukmin. Jalan yang paling terbaik untuk berdoa pada Allah Ta’ala adalah shalat. Tidaklah shalat itu difardhukan supaya dilaksanakan secara cepat-cepat tanpa perhatian akan maksudnya atau seseorang melakukan beberapa gerakan mematuk-matuk di dalam shalat seibarat ayam. Tapi dalam hal ini banyak orang-orang yang shalat dengan cara seperti ini; dalam hal ini banyak yang lainnya yang mengerjakan shalat sebagai akibat nasihat dari seseorang, tapi shalat seperti ini tidak berarti sedikit pun. Tujuan dari shalat adalah hadir di hadapan Allah Ta’ala. Shalat adalah nama lain bagi gambaran terpadu atau cara yang sistematis memuji Allah Ta’ala dan istigfarnya seseorang atas dosa-dosanya. Tidak ada shalat sama sekali bagi orang yang tidak menjalankan shalatnya dengan menempatkan tujuan ini dalam perhatiannya. Kalian harus memperbaiki pelaksanaan shalat dengan sebaik-baiknya. Jika kalian berdiri, maka hendaklah posisi kalian jelas-jelas menginformasikan bahwa kalian tengah berdiri dengan penuh tawaduk dalam menaati Allah Ta’ala; ketika kalian rukuk, nyatakanlah bahwa hati kalian sedang rukuk dan apabila kalian bersujud, maka hendaklah kalian bersujud seperti orang yang hatinya dalam kondisi takut. Dan hendaklah kalian berdoa dalam shalat untuk agama kalian dan dunia kalian.’’

Jadi, kalau kita meraih corak shalat seperti ini, maka hari-hari kita akan menjadi Id hakiki bagi kita. Dalam hal ini perlu untuk mengintrospeksi diri kita untuk melihat apakah kita tengah berusaha untuk hal itu sehingga perayaan Id kita menjadi perayaan Id yang hakiki? Apakah kita telah berjanji di bulan Ramadhan bahwa kita akan mengamalkan hal itu pada tahun depan untuk meraih ridha Allah Ta’ala dan meraih Id yang hakiki untuk diri kita? Hadhrat Masih Mau’ud as telah memberikan petunjuk kepada kita tentang standar ibadah-ibadah yang dikehendaki. Beliau bersabda: “Seorang Muslim mengurbankan dirinya dan menyerahkannya untuk meraih ridha Allah Ta’ala dan satu-satunya tujuan yang dimilikinya dari sisi iktikad dan amalan-amalan adalah ridha Allah semata. Kebaikan-kebaikan dan amalan-amalan baik yang yang dihasilkan olehnya semuanya tidak akan berbuah kesulitan dan kesusahan, justru seseorang itu akan mendapatkan kelezatan dan rasa manisnya. Di dalam ibadah suatu kebahagiaan itu akan mengubah suatu kesulitan menjadi kelapangan.

Kemudian Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda:

“Seorang muslim sejati itu mencintai Allah dengan mengatakan dan percaya bahwa, “Dia adalah kekasihKu, Pelindungku, Khalikku, Muhsinku dan ia meletakkan kepalanyaa di gerbang singgasana-Nya. Apabila dikatakan pada seorang muslim sejati bahwa ia tak akan diberi sama sekali ganjaran untuk amal-amal ini dan tak ada surga maupun neraka, tidak ada keleluasaan dan kelezatan-kelezatan, sekali-kali tidak akan mampu meninggalkan amal-amal salehnya dan tidak pernah meninggalkan kecintaan pada Allah karena ibadah-ibadahnya, hubungannya dengan Allah Ta’ala dan kefanaannya dalam mentaati Allah Ta’ala tidak mengharapkan ganjaran. Bahkan, ia menganggap dirinya adalah diciptakan untuk mengenal Allah Ta’ala, mencintai-Nya, menaati-Nya dalam corak yang hakiki serta tidak ada maksud dan tujuannya selain hal-hal tersebut. Oleh karena itu, ketika ia mempersembahkan segenap daya dan kemampuannya yang telah Allah anugerahkan padanya untuk mewujudkan tujuan-tujuan dan sasaran-sasaran ini, ia hanya memperhatikan wajah kekasih sejati-Nya saja dan pada hakikatnya ia tidak mengarahkan pandangan pada surga dan neraka.”

Terkait:   Khutbah Idul Fitri 2010: Sesudah Kesusahan ada Kemudahan

Kemudian Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda dengan menyampaikan perumpamaan:

“Sekiranya ditetapkan bagiku bahwa aku akan dihukum dengan seberat-beratnya sebagai konsekuensi dari kecintaanku kepada Allah dan ketaatan pada-Nya, maka aku berkata dengan bersumpah: ‘Demi Allah! Sesungguhnya fitratku telah terbentuk siap sedia menanggung segala musibah dan bencana ini sebagai kenikmatan disertai dengan gelora kecintaan dan kerinduan. Meskipun siksaan dan rasa sakit adalah termasuk kepastian, Anda akan menganggap keluar satu langkah dari menaati dan mengikuti Allah Ta’ala lebih besar daripada seribu kematian bahkan itu lebih besar dari kematian-kematian yang tak terhitung dan tak terkira jumlahnya yang anda lihat sebagai serangkaian rasa sakit dan bencana.

Sebagaimana apabila seorang raja memberikan satu pengumuman pada khalayak bahwa jika seorang Ibu tidak menyusui anaknya, maka sang raja akan senang akan hal itu dan memberinya imbalan, sekali-kali seorang ibu tidak tahan membinasakan anaknya hanya karena ingin dan mengharapkan hadiah, demikian juga seorang muslim sejati menganggap, keluar dari mematuhi perintah Allah adalah penyebab untuk kebinasaannya betapa pun dijanjikan dengan kemakmuran dan kebahagiaan dalam kondisi ketidaktaatannya atas perintah itu. 

Penting sekali bagi seorang muslim sejati meraih tabiat semacam ini sehingga kecintaan dan ketaatannya pada Allah bukan karena menginginkan ganjaran atau karena takut hukuman, bahkan itu harus menjadi keistimewaan tabiat fitratnya dan menjadi bagian dari fitratnya yang tidak terbagi-bagi. Pada saat itulah kecintaan itu menciptakan surga baginya. Surga ini adalah surga hakiki. Seorang pun tidak akan masuk surga selama tidak menempuh jalan ini. Karena itulah aku mengajarkan pada kalian – mereka yang ada pertalian dengan aku – untuk menempuh jalan ini karena inilah jalan hakiki menuju surga.”

Aku katakan: “Inilah surga dan inilah kebahagiaan sejati untuk Id yang harus kita raih dan kita harus upayakan untuk mencapainya. Seyogianya kita mengadakan muhasabah terhadap diri kita, apakah kita siap untuk merayakan kegembiraan Id pada corak dan cara ini, apakah kita tengah mengerahkan segenap upaya kita untuk mendapatkan surga ini.”

Kemudian Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda mengenai kedudukan Ikrar tauhid [pernyataan mengesakan Allah Ta’ala]:

‘’Tetapi, undang-undang Allah yang senantiasa berlaku di alam adalah Jemaat yang didirikannya setahap demi setahap mengalami kemajuan, karena itulah Jemaat kita juga berangsur–angsur akan mengalami kemajuan laksana tanaman. Tujuan-tujuan dan maksud-maksud itu sesungguhnya seibarat benih yang ditanam di tanah.  Tujuan-tujuan yang mulia yang Dia kehendaki bahwa menjadikan Jemaat sampai pada tujuan itu masih sangat jauh dan tidak mungkin mewujudkannya selama keistimewaan yang Dia kehendaki dengan menciptakan Jemaat ini belum terwujud. Pernyataan tauhid juga harus diwarnai dengan corak yang khas, tabattul ilallāh termasuk satu corak yang istimewa itu, dzikrullāh juga merupakan satu corak yang khas dan menjalankan hak-hak terhadap saudara ditandai dengan tanda khas.”

Kalau begitu, kita harus berupaya dengan sungguh-sungguh supaya jalinan kita dengan Allah Ta’ala setelahnya baiat dicelup dengan corak yang indah, dan ketika itu terwujud, dengan demikian Id kita bisa menjadi Id hakiki. Kita harus memeriksa diri kita dari titik tolak ini juga, apakah kita tengah berupaya mewujudkan tujuan ini ataukah kita seperti halnya benih yang pantasnya dibuang?

Kemudian Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda:

“Ketahuilah dengan yakin bahwa insan itu meraih kebahagian dan kemuliaan ketika tidak memusuhi seseorang dengan rasa permusuhan yang bersifat pribadi. Adapun apabila rasa permusuhan itu untuk kemuliaan Allah dan Rasul-Nya, maka ini adalah hal yang lain. Maksudnya: bahwa ia yang tidak memuliakan Allah dan Rasul-Nya bahkan memusuhi Allah dan Rasul-Nya, maka anggaplah ia sebagai musuh kalian.[yakni bukanlah maksud dari hal itu kalian tidak berdoa untuk musuh, bahkan kalian harus berdoa untuk perbaikan musuh juga] bukanlah maksud dari permusuhan bahwa kalian mereka-reka terhadapnya dan merancang rencana untuk menyakitinya tanpa hak, justru kalian harus menghindari itu dan menyerahkan urusan itu pada Allah. Jika memungkinkan, maka berdoalah untuk perbaikannya dan janganlah kalian memulai pertikaian dari diri kalian sendiri. [maksudnya janganlah kalian berselisih dengan seseorang dan jangan menciptakan permasalahan-permasalahan supaya mereka memulai rasa permusuhan terhadap kalian, dan apabila seseorang ingin menyatakan girah atau semangat, maka perlihatkanlah girah itu bagi Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya upaya insan untuk menunaikan hak ibadah pada Allah Ta’ala dan membaca Kitab-Nya ‘Ajja wa Jalla, memahami dan mengamalkannya, insan itu menjadi seorang mukmin sejati. Al-Qur’an sajalah yang membimbing kita menuju perintah-perintah Allah Ta’ala dan mengamalkannya dengan bimbingan yang benar. Kalaulah demikian, sesungguhnya qiraah Al-Qur’an dan memahaminya serta mengamalkannya adalah sangat penting untuk kemajuan keimanan dan keyakinan].

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda:

“Bacalah Al-Qur’an dan jangan pernah berputus asa terhadap Allah. Seorang mukmin itu jangan pernah berputus asa dari Allah, bahkan putus asa merupakan tabiatnya orang-orang kafir bahwa mereka itu berputus asa dari Allah. Sesungguhnya Tuhan kita Mahakuasa atas segala sesuatu. Pelajarilah terjemah makna-makna Al-Quran juga, tunaikan shalat dengan segala macam syarat-syaratnya dan pahamilah makna-makna [bacaan] shalat dan berdoa juga dengan bahasamu sendiri. Janganlah membaca Al-Qur’an dengan menganggap Al-Qur’an sebagai kitab biasa, bahkan bacalah Al-Qur’an dengan memperhitungkan Al-Qur’an sebagai Kalamullah Ta’ala. Shalatlah sebagaimana Rasulullah Saw mengerjakan shalat. Meskipun bisa saja kalian menyebut keperluan-keperluan kalian dan maksud-maksud kalian dengan bahasa kalian setelahnya zikir-zikir yang disunahkan, mintalah dari Allah ketika tidak ada jalan keluar sama sekali dalam hal itu, jangan menyia-nyiakan shalat karena hajat-hajat itu. Di zaman ini orang-orang sudah menjadikan shalat mereka fasad, seakan-akan mereka tidak mengerjakan shalat bahkan mereka hanya mematuk-matuk saja dengan cepat seperti halnya ayam mematuk-matuk, lalu setelah itu mereka duduk lama untuk berdoa. Sesungguhnya tujuan shalat hakiki dan ruh shalat adalah doa. Bilakah maksud hakiki dari shalat akan dicapai dengan doa setelah keluar dari shalat? Apabila seseorang pergi ke istana raja dan padanya ada kesempatan untuk menyampaikan keadaannya, tapi ia tidak mengatakan sesuatu pun pada saat itu dan menyampaikan permintaannya setelah keluar dari kawasan istana, apakah mungkin suatu manfaat ada dari itu? Keadaan serupa dimiliki oleh orang-orang yang tidak berdoa dengan khusyuk dan merendahkan diri di dalam shalat. Kalian harus pohonkan setiap doa yang ingin kalian berdoa pada-Nya di dalam shalat dan perhatikanlah adab-adab berdoa dengan baik.”

Dengan begitu, shalat semacam ini dan perhatian terhadap Al-Qur’an seperti ini akan menjadikan Id kita sebagai Id yang hakiki dan kontinu. Walakin, apakah kita berjanji di dalam Ramadhan sekarang ini untuk meraih Id ini? jika tidak, hari ini kita harus bertekad bahwa kita akan membuat kegembiraan Id kita itu kontinu dengan menjalankan shalat-shalat dengan syarat-syaratnya dan menilawahkan Al-Qur’an dan tidak mengutamakan Hadis daripada Al-Qur’an.

Wahai anggota-anggota Jemaatku yang tercinta, ketahuilah dengan yakin bahwa masa sudah sampai akhirnya dan perubahan yang nyata telah terjadi, janganlah kalian memperdaya diri sendiri, segeralah untuk menjadi orang-orang yang sempurna takwanya. Jadikanlah Al-Quran sebagai anutan kalian dan dapatkanlah cahaya dalam setiap perkara dengan Al-Quran, namun jangan pula menyia-nyiakan hadis-hadis seperti barang-barang yang dibuang, karena hadis-hadis juga sangat penting dan khazanah-khazanah hadis itu terkumpul dengan mengerahkan upaya-upaya yang besar, namun apabila suatu riwayat hadis kontra produktif dengan Al-Quran, maka kalian tianggalkanlah hadis itu sehingga kalian tidak tersesat. Sesungguhnya Allah Ta’ala telah membuat Al-Qur’an sampai pada kalian dalam keadaan terpelihara, maka muliakanlah Kalam suci ini dengan penghargaan yang sepantasnya dan janganlah mengutamakan sesuatu pun di atas Al-Qur’an karena segala jenis kebenaran dan kelurusan terdapat di dalamnya. Pengaruh Kalam [Al-Qur’an] di kalbu orang-orang akan semakin bertambah manakala mereka semakin bertambah yakin akan makrifat dan ketakwaan orang yang membaca Al-Quran.”

Kemudian Hadhrat Masih Mau’ud as menjelaskan lebih banyak lagi tentang pentingnya Al-Qur’an:

“Sekiranya pada kita tidak ada Al-Qur’an dan as atau poros keimanan dan iktikad semata–mata pada kumpulan hadis-hadis ini saja, tentu kita tidak bisa menghadapi umat-umat karena sangat menanggung malu dan penyesalan. Aku sudah mendalami lafaz “اَلْقُرْآن”, maka terungkaplah bahwa dalam lafaz yang beberkat ini ada satu kabar agung bahwa Al-Qur’an adalah Kitab yang pantas untuk dibaca dan sangat layak dibaca di zaman yang kitab-kitab lain dijadikan padanannya dalam pembacaan, dan pada saat itulah ada pembelaan terhadap kemuliaan Islam dan pembasmian terhadap kebatilan, Kitab ini akan menjadi satu-satunya Kitab yang layak untuk dibaca sementara kitab-kitab yang lain semuanya pada akhirnya lebih pantas ditinggalkan. Inilah makna “اَلْفُرْقَان” – furqān juga, bahwa hanya Kitab ini saja yang akan jadi “Pembeda” antara yang haq dan yang batil, sementara kitab manapun dari antara kitab-kitab hadis dan yang lainnya sama sekali tidak akan berani menghadapi kedudukan dan standar Al-Qur’an. Maka sekarang tinggalkanlah semua kitab dan bacalah Kitabullah (Al-Qur’an) siang dan malam. Alangkah tidak bersyukurnya seseorang yang menekuni kitab-kitab lainnya siang malam dan tidak menaruh perhatian terhadap Al-Qur’an! Setiap anggota Jemaat harus sibuk dalam menadaburi Al-Qur’an dari dalam kalbu dan jiwa, tinggalkanlah sibuk dengan hadis-hadis. Sangat disayangkan di saat ini Al-Qur’an tidak diperhatikan dan tidak dipelajari seperti halnya hadis-hadis. Jika kalian menempatkan senjata Al-Qur’an di tangan kalian, kemenangan adalah milik kalian, tidaklah mungkin bagi berbagai macam kegelapan memberikan perlawanan di hadapan nur ini.” [Malfuzāt JIlid 2 halaman 122].

Demikian Nabi Saw bersabda:

إِنَّ الَّذَيْ لَيْسَ فِيْ حَوْفِهِ شَيْئٌ مِنَ الْقُرْآنِ كَالْبَيْتِ الْخَرِبِ

 “Sesungguhnya seseorang yang tidak terdapat sedikit pun bagian dari Al-Qur’an di dalam dadanya adalah seperti sebuah rumah yang kosong.” [Sunan at-Turmudziyy, Kitāb Fadhāilul Qur’ān dari Rasulullah Saw].

Dan juga bersabda:

“Janganlah tergesa-gesa dalam membaca Al-Qur’an, justru kalian harus membacanya dengan merenungkannya dan penuh perhatian. Di dalam Ramadhan ini terdapat macam tobat hingga tilawah Al-Qur’an, terkadang sebagian orang berupaya untuk menghapal bagian dari Al-Qur’an, maka apa yang ia hapal itu harus ia pelihara dan murajaah hapalan-hapalannya supaya tetap terjaga dalam ingatan dan ia harus berupaya memperhatikan Ajaran Al-Qur’an juga. Kalian harus memperhatikan hukum-hukum Al-Qur’an sebagaimana Nabi Saw dan khadim sejatinya as yaitu kalian harus menadaburi Al-Qur’an. Sekiranya perhatian kita terhadap hapalan Al-Quran, merenungkannya, dan membacanya sebanyak mungkin, pada saat itulah kita akan menjadi orang-orang yang menunaikan hal Al-Qur’an, dan ketika demikian kita bisa mengatakan bahwa bulan Ramadhan ini menciptakan pada kita perubahan-perubahan suci yang menyebabkan perhatian kita terhadap pembacaan Al-Qur’an dan pemahamannya. Inilah Id hakiki bagi kita dan sekali-kali kita tidak akan membatasi Id ini dengan perayaan di hari ini saja bahkan kita akan menikmati qiraah Kitabullah Ta’ala dengan penuh tadabur setiap hari secara kontinu, kita tidak puas hanya dengan mendengarnya saja bahkan kita akan membacanya supaya keruhanian kita maju, supaya setiap hari kita akan menjadi Id karena kita memahami ajaran ini. Secara amaliah nampak dalam kehidupan kita bahwa kita menjalankan ibadah pada Allah dan kita membaca Al-Qur’an dengan penuh perhatian ketika kita menunaikan huqūqul-‘ibād. Karena itulah Allah Ta’ala banyak memfokuskan pada huqūqul-‘ibād.”

Hadhrat Masih Mau’ud as mengarahkan perhatian pada hal itu:

“Sesungguhnya Allah swt telah berfirman di dalam Al-Quran:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا * وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

[Berjayalah orang-orang yang menyucikan dirinya dan tidaklah berhasil orang-orang yang merusakkan dirinya – QS Al-Syams: 10-11]. Maksudnya telah meraih keselamatan orang yang menyucikan dirinya dan merugi serta gagallah orang yang dimahrumkan dari itu; karena itu kalian harus memahami dan memperhatikan apa itu tazkiyatun-nafs [penyucian diri].

Kalau demikian ingatlah oleh kalian bahwa seorang muslim itu harus tetap siap sedia setiap saat dan setiap waktu untuk melaksanakan huqūqullāh dan huqūqul-‘ibād dengan penuh semangat, maka sebagaimana halnya dengan lisannya mengumumkan bahwa Allah tidak mempunyai sekutu baik zat maupun sifat-sifat harus menzahirkan contohnya secara amaliah, harus membantu makhluk-Nya dan harus saling menaruh rasa simpati terhadap mereka, tidak menyembunyikan segala macam kedengkian, rasa benci dan dendam di dalam dirinya. Finalnya, harus mencegah diri dari melakukan fitnah terhadap orang lain. Walakin, aku melihat bahwa standar ini sangat jauh, di mana saja salinglah kalian ber-fanā’ fillāh hingga tahapan kalian menjadi milik-Nya saja dan kalian menzahirkan juga menjadi milik-Nya secara amaliah sebagaimana kalian berikrar dengan lisan kalian. Sampai sekarang kalian tidak menunaikan kewajiban-kewajiban terhadap makhluk juga sebagaimana harusnya, banyak orang-orang menyembunyikan kefasadan dan rasa permusuhan di antara mereka, menaruh pandangan terhadap orang yang lebih lemah dari mereka dengan pandangan merendahkan dan bertindak buruk dalam memperlakukan mereka, menggibah satu sama lain [sekalipun gibah itu merupakan dosa besar] serta menyimpan kebencian dan dendam di dalam kalbunya, walakin Allah swt berkata : “Jadilah kalian di antara sesama kalian seperti satu wujud.” Ketika kalian menjadi wujud yang satu, pada saat itulah kita bisa mengatakan sesungguhnya kalian telah menyucikan diri kalian, karena selama perlakuan kalian dengan orang-orang yang berada di antara kalian belumlah bersih, tidaklah mungkin perlakuan kalian terhadap Allah Ta’ala juga bersih. Memang benar bahwa pelaksanaan kewajiban terbesar di antara dua kewajiban ini [yakni huqūqullāh dan huqūqul-‘ibād] adalah huqūqullāh [menjalankan kewajiban terhadap Allah] meski perlakuan yang baik terhadap makhluk-Nya seperti sebuah cermin. Maka orang yang tidak membersihkan perlakuannya dengan saudara-saudaranya tidak mungkin menjalankan huqūqullāh juga.” [Malfuzāt JIlid 10].

Terkait:   Riwayat Umar bin Khattab (Seri 14)

Maka ketika kita menjadikan diri kita sesuai dengan keinginan Hadhrat Masih Mau’ud as ini, hari itu akan menjadi hari kebahagiaan hakiki dan hari Id bagi kita, karena itulah kita mesti mengadakan muhasabah terhadap diri kita, “Apakah kita menjalankan hak-hak terhadap saudara-saudara kita atau kita berjanji bahwa kita akan menunaikannya di masa yang akan datang dengan perantaraan karunia Allah?

Kemudian Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda:

“Untuk itu Allah Ta’ala menghidangkan Surah Al-Fātihah pada kita dan sifat Allah Ta’ala yang paling awal disebut adalah sifat: Rabbul-‘ālamīn yang mencakup semua makhluk. Seharusnya zona rasa simpati seorang mukmin terhadap semua makhluk itu sangat komprehensif yang mana mencakup semua jenis hewan, burung dan makhluk. Kemudian sifat rahmāniyyat mengajari kita bahwa kita juga harus menaruh simpati khususnya terhadap makhluk-makhluk hidup. Kemudian pada sifat rahīmiyyat kita diajari rasa empati terhadap sesama kita, maksudnya adalah manusia.

Pendek kata, sesungguhnya sifat-sifat Allah Ta’ala yang disebutkan di dalam Surah Al-Fātihah seakan-akan itu merupakan akhlak-akhlak Allah Ta’ala yang seorang hamba harus mengambil bagian darinya, sesungguhnya caranya itu adalah seorang insan apabila dalam kondisi yang baik, maka ia harus memperlakukan sesamanya dengan segala macam simpati yang memungkinkan, ia tidak berkesal hati terhadap orang lain siapa pun dia, baik yang termasuk kerabatnya ataupun bukan, tidak memperlakukannya seperti orang asing, bahkan ia harus memelihara hak-haknya terhadap yang lainnya dan apabila dari kalangan karib kerabatnya ia harus menjalankan hak kerabatnya tersebut secara sempurna.

Setiap kali kita membaca Surah Al-Fātihah dalam shalat seharusnya perhatian-perhatian kita tertuju pada huqūqul-‘ibād dan pada inti-inti semua pelajaran dan perkara ini, dengan cara demikian kita akan tetap menaruh perhatian dalam menjalankan huqūqul-‘ibād seiring dengan pelaksanaan kita terhadap huqūqullāh Ta’ala, dan pada saat itu pun Id kita akan menjadi Id hakiki.

Kemudian Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda sambil menjelaskan penunaian huqūqul-‘ibād sampai pada penjelasan menegakkan ibadah, tilawah Al-Qur’an dan memahami maknanya, itu termasuk kewajiban-kewajiban utama dari seorang mukmin:

“Sesungguhnya huqūqul-‘ibād juga ada dua macam: pertama: hak-hak terhadap saudara-saudara seagama baik sebagai saudara, bapak atau pun anak, namun di antara mereka semua terdapat persaudaraan seagama; kedua: rasa simpati yang tulus terhadap orang-orang umum.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda:

“Sesungguhnya menurut pendapatku berkenaan dengan rasa empati terhadap sesama manusia adalah bahwa selama seseorang belum berdoa bagi musuhnya, maka dadanya belum benar-benar bersih, maka sesungguhnya Allah Ta’ala tidak menetapkan syarat dalam firman-Nya:  اُدْعُوْنِيْ أَسْتَجِبْ لَكُمْ – [berdoalah kalian, tentu Aku akan memperkenankan doa kalian] – adalah bahwa kalian apabila berdoa untuk musuh, maka sekali-kali Aku tidak akan memperkenankan itu untuk kalian. Sesungguhnya pandangan-Ku adalah bahwa doa bagi musuh itu merupakan sunah Nabi Saw. Hadhrat Umar bin Khaththab ra masuk Islam adalah buah doa itu sendiri, ketika Nabi Saw banyak berdoa untuk Hadhrat Umar ra Karena itu seharusnya seseorang itu tidak memusuhi dengan rasa permusuhan pribadi sebagai efek kebakhilannya terhadap seseorang, pada hakikatnya ia tidak akan menyakiti seorang pun.

Aku menyanjung Allah Ta’ala bahwa aku tidak mendapati seorang pun di antara musuh-musuhku yang aku tidak berdoa untuknya dua atau tiga kali. Dalam hal ini tidak ada seorang pun dari mereka terkecuali aku berdoa untuknya. Ini apa yang aku akan katakan pada kalian dan aku ajarkan pada kalian bahwa tentu saja kalian harus berdoa untuk musuh. Sesungguhnya Allah berlepas diri dari orang-orang yang menyakiti orang-orang yang lainnya dengan perbuatan yang benar-benar mengganggu atau memusuhinya tanpa hak dikarenakan kebakhilannya, seperti halnya Allah berlepas diri dari seseorang yang melakukan perbuatan syirik.

Maksudnya adalah Allah Ta’ala merasa tidak suka jika seseorang itu menyakiti yang lainnya sebagaimana Dia membenci seseorang dipersekutukan dengan-Nya. Sesungguhnya Dia tidak menginginkan di satu maqām ada pemutusan, dan tidak menghendaki ada hubungan pada maqām yang lain, maksudnya: Dia tidak menginginkan adanya pemutusan [hubungan] di antara sesama manusia, dan tidak menginginkan seseorang sebagai sekutu diperhubungkan dengan-Nya. Maksudnya: Dia tidak menginginkan perpecahan di antara satu insan dengan insan yang lainnya, dan tidak menghendaki bahwa seseorang dihubung-hubungkan dengan-Nya, maksudnya sesuatu apa pun dipersekutukan dengan Dia. Kedua perkara ini dibenci di sisi Allah Ta’ala. Hal itu sebenarnya akan menjadi mudah apabila kita berdoa bagi orang-orang yang melakukan perbuatan munkar juga, karena ini akan membawa pada kesucian kalbu, kelapangan dada dan semangat yang tinggi.

Karena itulah selama Jemaat kita tidak berwarnakan dengan corak ini, maka dalam hal ini tidak ada hal yang membuat berbeda antara Jemaat kita dengan yang lainnya. Saya punya pandangan: penting sekali bahwa apabila seseorang menjalin pertemanan seagama dan di antara kerabat-kerabat temannya ini ada yang paling rendah dari segi dunia, maka ia harus memperlakukannya juga dengan welas asih, kelembutan dan cinta, karena termasuk sifat-sifat Allah bahwa Tuhan Yang Mahamulia itu beserta orang-orang saleh memberi ampun bagi orang-orang yang melakukan kejahatan juga sebagaimana terdapat dalam pepatah bahasa Farsi.

Wahai orang yang menjalin ikatan dengan-Ku kalian harus menjadi orang-orang datang dalam hak mereka: “Maka sesungguhnya mereka adalah suatu kaum yang temannya tidak akan bernasib malang” – Ini adalah intisari apa yang kami diajari pada: “تَخَلَّقُوْا بِأَخْلَاقِ اللهِ” – berakhlaklah kalian dengan akhlak-akhlak Allah.”

    Maka apabila hubungan-hubungan kita dengan orang-orang yang di antara kita dan doa-doa sebagian kita terhadap yang lainnya mencapai taraf ini, maka saat itu pun Id kita tengah menjadi Id yang hakiki.

Kemudian Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda dengan menyampaikan standar yang seharusnya dicapai dalam menjalankan huqūqul-‘ibād:

“Sebenarnya tahapan tersulit dan dan paling sensitif adalah tahapan huqūqul-‘ibād, karena seseorang akan menghadapinya setiap saat dan setiap kesempatan, dan selalu ada dalam perhatian dan pertimbangan. Karena itulah seseorang itu harus melangkah pada tahapan ini dengan penuh kehati-hatian dan kewaspadaan. Sesungguhnya keyakinanku adalah bahwa janganlah pula seseorang itu bertindak kejam terhadap musuh melebihi kelaziman. Sebagian orang melakukan sabotase terhadap musuh dan sebisa mungkin melakukan pengrusakan, lalu pemikiran ini mendorong mereka melakukan tuduhan dengan segala cara yang terencana maupun tidak terencana, dan mereka melancarkan tuduhan-tuduhan palsunya dan mengadakan rekayasa, memfitnah dan juga melakukan kefasadan pada yang lain. Kalian akan melihat betapa rasa permusuhan yang sederhana yang tengah mewarisi seseorang ini termasuk kejahatan dan kemunkaran, lalu ke mana lagi hal itu akan menulari ketika kejahatan-kejahatan ini beranak pinak.

Selama demikian adanya, maka mestilah kemurkaan Allah Ta’ala ada baginya, dan apabila Allah Ta’ala murka padanya, maka bagaimana ada untuknya kegembiraan Id hakiki. Hal tersebut menuntut dari kita untuk memeriksa diri kita dengan rasa takut yang sangat.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda:

“Terdapat di dalam Hadits bahwa Allah Ta’ala akan berkata pada beberapa hamba-Nya pada Hari Kiamat: “Sesungguhnya kalian termasuk di antara orang-orang yang terpilih dan utama, aku begitu ridha dengan kalian, karena saat aku dalam keadaan lapar, maka kalian memberiku makan, saat aku tidak berpakaian, kalian memberiku pakaian, saat aku haus kalian memberiku minum, dan saat aku dalam keadaan sakit, kalian menjenguk aku.” Mereka berkata: “Wahai Tuhan kami, kapan Engkau dalam keadaan demikian sampai kami memperlakukan Engkau dengan perlakuan ini?” maka Allah menjawab : “Sesungguhnya si Anu dan si Anu adalah hamba-hamba-Ku, mereka ada dalam keadaan demikian tadi, lalu kalian memberikan pertolongan pada mereka dan memperlakukan mereka dengan perlakuan seperti ini, maka pertolongan kalian terhadap hamba-hamba-Ku ini adalah seperti kedudukan pertolongan kalian terhadap Aku.”

Kemudian satu kelompok yang lain dihadapkan pada Allah Ta’ala, maka Allah berkata pada mereka: “Kalian telah memperlakukan Aku dengan sangat buruk! karena saat aku dalam keadaan lapar, maka kalian tidak memberiku makan, saat Aku haus kalian tidak memberiku minum, saat Aku tidak berpakaian, kalian tidak memberiku pakaian, dan saat Aku dalam keadaan sakit, kalian tidak menjenguk-Ku.” Mereka berkata: “Wahai Tuhan kami, kapan Engkau dalam keadaan demikian dan kapan kami memperlakukan Engkau dengan cara perlakuan seperti ini?” maka Allah menjawab: “Hamba-Ku si Fulan dalam keadaan seperti ini, maka kalian tidak memberikan bantuan padanya, maka sekiranya kalian memberikan bantuan padanya berarti kalian telah menolong Aku.” Ringkasnya, sesungguhnya rasa simpati dan pertolongan terhadap makhluk Allah Ta’ala dan rasa belas kasih terhadap mereka merupakan ibadah yang agung dan merupakan wasilah yang besar untuk menarik ridha Allah Ta’ala.”

Hadhrat Masih Mau’ud as juga mengatakan:

“Sesungguhnya mereka yang tidak memperlakukan orang-orang miskin dengan baik dan merendahkannya, maka sesungguhnya aku merasa khawatir bahwa mereka terjatuh dalam musibah yang sama. Sesungguhnya mereka yang telah dikarunia nikmat oleh Allah dengan perantaraan karunia-karunia-Nya, maka sesungguhnya cara menghargai mereka atas karunia-karunia Allah Ta’ala adalah berlaku ihsan pada makhluk Allah Ta’ala dan tidak membanggakan diri atas karunia-karunia yang diberikan oleh Allah pada mereka dan tidak menginjak-nginjak orang-orang fakir seperti binatang.”  

Karena itu membantu orang-orang miskin dan menolong orang-orang yang membutuhkan menjadi sarana menarik karunia dan kecintaan Allah terhadap kita, dan akan mendatangkan karunia-Nya bagi kita tentunya, pada saat itulah kita akan menjadi Id hakiki. Tidak diragukan lagi bahwa para anggota Jemaat tengah dan akan memberikan bantuan kepada orang-orang yang tengah memerlukan dari antara mereka secara pribadi pribadi, namun di dalam Nizam Jemaat ada pos-pos yang dikhususkan untuk tujuan ini dan orang-orang yang memiliki kemampuan seharusnya memberikan sesuatu juga pada pos-pos [Candah] ini. Dalam hal ini ada pos-pos [candah] untuk orang-orang yang sakit, untuk para yatim, untuk membantu para fakir miskin, pos-pos untuk membantu para pelajar dan banyak pos-pos atau kolom-kolom [pengurbanan] lainnya yang bisa saja kalian menempatkan bantuan-bantuan kalian di dalamnya. Anggota-anggota Jemaat yang dalam keadaan berlebih harus memperhatikan juga hal ini.

Kemudian Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda:

“Sesungguhnya Allah Ta’ala menghendaki bahwa kalian tidak akan meraih kesuksesan selama kalian tidak menjadi saudara bagi yang lain dan selama tidak seperti kedudukan anggota-anggota suatu tubuh. Apabila perlakuan seseorang terhadap saudara-saudaranya tidaklah benar, maka perlakuan terhadap Allah pun tidak akan benar pula. Tidak diragukan lagi bahwa kewajiban terhadap Allah itu adalah paling besar, namun cermin yang digunakan untuk mengetahui apakah ia melakukan kewajibannya terhadap Allah atau tidak sesungguhnya adalah cermin untuk mengetahui apakah dia melakukan kewajiban terhadap makhluk ataukah tidak? Sesungguhnya yang tidak memperlakukan saudara-saudaranya sebagaimana harusnya, ia tidak bisa memperlakukan Tuhannya sebagaimana harusnya. Hal ini tidaklah mudah, justru sulit. Kecintaan sejati adalah satu hal dan kemunafikan benar-benar satu hal yang lain. Ketahuilah bahwa bagi seorang mukmin terhadap saudaranya yang mukmin ada hak-hak yang besar, apabila ia sakit ia menjenguknya, apabila meninggal ia menghadiri jenazahnya, dan tidak memperkarakannya atas hal-hal yang tidak penting, bahkan memafkannya. Sesungguhnya keinginan Allah Ta’ala adalah janganlah kalian seperti demikian [maksudnya tidak ada rasa persaudaraan]. Jika di antara kalian tidak ada persaudaraan sejati, maka Jemaat akan mengalami kebinasaan.

Oleh karena itu persaudaraan adalah yang akan menjadi sarana bagi kebahagian-kebahagiaan kontinu kita, dan akan menjadi penyokong kita untuk selalu menjadi bagian dari Jemaat dan ini menuntut dari kita kita memeriksa diri kita.

Kemudian bagaimana seorang mukmin itu seharusnya memperlakukan keluarganya, dan apakah standar yang harus ia capai dan memperlakukan kaum perempuan secara baik. Mengenai hal ini Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda: “Kalian harus menahan diri dari segala jenis perilaku buruk dan perlakuan buruk dari kaum perempuan selain daripada fakhsyā’ [perbuatan asusila]. Adapun aku memiliki pandangan benar-benar termasuk hal yang kontradiksi dengan sifat jantan seorang pria berselisih dengan kaum perempuan sementara kita ini adalah kaum laki-laki. Allah Ta’ala telah menjadikan kita sebagai laki-laki, hal itu yang pada hakikatnya merupakan penyempurnaan nikmat atas kita [kaum laki-laki], dan mensyukuri ituadalah dengan memperlakukan kaum perempuan dengan kelembutan dan belas kasih.

Perumpamaan perlakuan yang baik ini mempunyai keserupaan dengan Lajnah Imailah, maka pada Lajnah Imailah anak-anak akan mendapatkan tarbiyat yang baik, sebagaimana pula mengantarkan pada terjaganya suasana keluarga yang lembut. Seharusnya kebahagiaan terbesar bagi seorang mukmin memberikan gambaran bahwa rumahnya menampilkan contoh yang sesuai dengan ajaran Allah Ta’ala dan Rasul-Nya. Sesungguhnya selalu ada suasana kebahagiaan dan ketenangan bagi rumah-rumah mesti menciptakan bagi insan sarana-sarana Id setiap hari.

Kemudian Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda:

“Ketahuilah dengan yakin bahwa bukanlah tujuan dari Jemaat kita bahwa mereka hidup seperti orang-orang duniawi pada umumnya dan mereka hanya mengatakan dengan lidahnya bahwa kami mengharapkan Jemaat ini dan kami tidak perlu beramal sebagaimana halnya orang-orang muslim, karena nasib buruk dimana apabila kalian bertanya pada mereka apakah kalian orang-orang muslim? Mereka mengatakan: Alhamdulillah, tapi mereka tida shalat dan tidak menghormati syiar-syiar Allah. Aku tidak menginginkan dari kalian bahwa kalian menyatakan dengan lisan saja tanpa pelaksanaan. Ini kondisi yang mengalami penurunan dan Allah tidak menyukai itu. Sebenarnya keadaan dunia ya inilah yang dia tuntut sehingga Allah Ta’ala membangkitkan aku untuk mengadakan perbaikan, maka apabila seseorang – meskipun demikian keadaaannya sehubungan dengan aku – sekarang ini tidak melakukan perbaikan pada dirinya dan tidak meningkatkan kekuatan-kekuatan amaliahnya, bahkan menganggap  pernyataannya dengan lisan saja itu cukup, maka seakan-akan membuktikan dengan amalannya adalah tidak penting. Maka jika kalian ingin menegaskan dengan amalan kalian bahwa kedatanganku adalah tidak ada faedahnya, maka apa artinya menciptakan hubungan dengan aku. Jika kalian ingin menjalin hubungan denganku, maka wujudkanlah tujuan-tujuan dan maksud-maksudku, ketahuilah bahwa itu adalah membuktikan keikhlasan dan kesetiaan kalian di hadirat Allah dan ketahuilah ajaran Al-Qur’an sebagaiman diperlihatkan oleh Rasulullah dan para Sahabat melalui amalannya.

Pelajarilah dengan seksama maksud dari ajaran Al-Qur’an dan ketahuilah itu sampai mengerti. Pernyataan dengan lisan semata tidaklah cukup di sisi Allah, jika suatu nur dan semangat tidak menyertai amal-amal. Ketahuilah dengan pasti bahwa Jemaat yang pendiriannya dikendaki oleh Allah tidaklah mungkin akan hidup tanpa amal. Sesungguhnya penegakkan Jemaat yang agung yang persiapannya mulai semenjak zaman Adam as ketika tidaklah seorang nabi datang melainkan itu telah dikabarkan, maka kuasailah itu oleh kalian. Maksud dari penguasaan atas hal itu adalah supaya kalian menegakkan amalan kalian bahwa kalian adalah merupakan Jemaat ahli kebenaran.” [Malfuzāt Jilid 9].

Terkait:   Riwayat Abu Bakr Ash-Shiddiiq Ra (Seri 27)

Inilah hal-hal yang teramat penting. Sesungguhnya berimannya kita pada Hadhrat Masih Mau’ud as dan baiatnya kita kepadanya bukanlah suatu perkara yang mudah. Sesungguhnya kegembiraan lahiriah tidak menjadikan kita meraih tujuan kita yang mendasar, sebagaimana bahwa hanya baiat saja tidak akan menjamin maksud kita, bahkan semestinya mengerahkan segenap daya upaya menyertai baiat itu, lalu karunia Allah Ta’ala akan turun. Jika karunia Allah Ta’ala turun dan kita menjadi Jemaat ahlul-haq, maka bagi kita sekali-kali tidak ada kegembiraan dan tidak ada Id yang lebih besar daripada itu.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda:

“Sudah sering kali aku katakan sebelumnya seputar keharmonisan para anggota Jemaat dan saling cinta di antara mereka, bahwa bersatulah kalian dan saling mencintailah, inilah yang diajarkan Allah terhadap orang-orang muslim  bahwa mereka bersatu dan jika tidak, maka kekuatan mereka akan hilang. Orang-orang yang shalat juga diperintahkan berdiri dengan menempel satu sama lain dalam shalat supaya timbul persatuan, karena itulah perintah berdiri bahu ketemu bahu supaya timbul persatuan, dan supaya kebaikan satu orang akan merembes pada yang lainnya seumpama arus listrik. Apabila ada perselisihan satu sama lain dan tidak ada persatuan, maka sekali-kali kalian tidak akan mendapatkan keberkatan.

Nabi Saw bersabda:

“Saling cinta mencintailah satu sama lain dan berdoalah bagi sebagian kalian yang lainnya tanpa sepengetahuan mereka. Sesungguhnya seseorang yang berdoa bagi saudaranya di luar pengetahuan mereka, maka malaikat akan berkata: “Untukmu adalah sebanding doa yang kau panjatkan”[1] Alangkah eloknya penyataan ini, jika doa seorang insan tidak dikabul, maka sesungguhnya doa malaikat pasti akan dikabulkan. Sesungguhnya aku menasihatkan dan senang sekali mengatakan seharusnya tidak ada perselisihan di antara kalian. Sesungguhnya aku datang hanya dengan membawa dua perkara saja: pertama: kalian memilih tauhid Allah Ta’ala dan yang kedua: kalian menyatakan kecintaan dan rasa simpati di antara kalian dan kalian akan melihat contoh tersebut yang merupakan karomah bagi orang-orang yang lain, dan ini merupakan dalil yang nampak pada para Sahabat r.a. : كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ – dulunya kalian bermusuhan, maka Allah menimbulkan cinta kasih di antara hati kalian. Ketahuilah bahwa mempersatukan hati itu adalah suatu mukjizat. Ingatlah oleh kalian: selama setiap orang dari antara kalian tidak seperti orang yang menyukai untuk saudaranya, apa pun yang ia sukai bagi dirinya, maka ia bukan dari Jemaat kami, bahkan ia berada dalam musibah dan cobaan dan hasil akhirnya tidaklah terpuji.”

Perselisihan-perselisihan timbul dari hal-hal sepele dan secara khusus Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda:

“Ingatlah oleh kalian bahwa melenyapkan kemarahan merupakan tanda-tanda dari Mahdi, kalau begitu apakah sekali-kali itu tidak akan tergenapi? Sekali-kali tidak, itu pasti akan tergenapi.”

[namun, jika kita tidak menciptakan terjadinya perubahan-perubahan pada diri kita, maka kita akan terluput dari keberkatan-keberkatan].

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda:

“Itu akan terjadi dengan perantaraan suatu Jemaat yang saleh, Insyaallah. Apa penyebab dari saling membenci? Sesungguhnya penyebabnya itu adalah: kedurhakaan, gelap mata, berbangga diri dan pemberontakan-pemberontakan.  

Hudhur as bersabda:

“Aku tidak menghendaki jatuhnya satu keberatan pun atasku karena seseorang. Oleh karena itu dia yang setelah masuk dalam Jemaatku tidak beramal sebagaimana keinginanku, maka ia adalah sebuah dahan yang kering, dan jika tukang kebun tidak memotongnya, maka apa lagi yang akan dia perbuat dengan dahan yang kering itu, maka suatu dahan yang telah kering ketika ada bersama-sama dengan dahan lainnya yang hijau, maka ia akan menghisap air tapi tidak membuatnya menjadi hijau, bahkan menjadi sebab mengeringnya dahan-dahan yang lainnya juga.”

Itu adalah kekhawatiran yang sangat. Bagaimana mungkin Id-id kita akan menjadi Id-id hakiki selama kita tidak menyempurnakan derajat-derajat yang diharapkan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as dari kita untuk mencapainya melalui perbaikan keadaan-keadaan akhlak kita dan pemusatan perhatian kita pada pelaksanaan huqūqul-‘ibād dan menciptakan cinta dan kasih sayang di antara kita. Sesungguhnya pertemuan dengan beberapa kerabat yang dicintai dan menunaikan hak mereka tidak akan menjadikan kita orang-orang yang menunaikan hak Id. Maka mestinya kita melihat – untuk merayakan Id hakiki – hingga batas mana kita telah mewujudkan standar yang dituntut dari saling saling cinta dan saling berkasih sayang.  

Kemudian Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda:

“Wahai orang-orang yang bernasib baik, tetapilah ajaran yang telah diberikan untuk keselamatan kalian, jadikanlah Allah yang Esa tidak ada sekutu bagi-Nya, janganlah mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, tidak di langit dan tidak pula di bumi. Aku tidak melarang kalian mempergunakan sarana–sarana, tapi itu adalah jalan kesyirikan orang yang meninggalkan Allah Ta’ala dan bersandar pada sarana-sarana saja. Allah Ta’ala sudah berfirman sejak dahulu sesungguhnya tidak ada satu segi pun tanpa kebersihan kalbu, maka jadilah kalian orang-orang yang bersih kalbunya dan berlepaslah dari rasa dengki dan kemarahan. Di dalam diri manusia ada amarah yang secara umum banyak sekali macamnya, namun yang terburuk adalah kenajisan sifat takabur. Seandainya tidak ada sifat takabur tentu tidak ada seorang pun yang dalam keadaan kafir, maka jadilah orang-orang yang tawaduk dan secara umum bersimpatilah pada sesama manusia. Sesungguhnya kalian tengah dinasihatkan untuk meraih surga, tapi bagaimana nasihat terhadap kalian itu berada pada tempatnya selama kalian tidak menjadi orang-orang yang memberi nasihat bagi mereka di dunia yang fana ini. Ketahuilah akan kewajiban-kewajiban terhadap Allah dengan rasa kekhawatiran di dalam kalbu karena kalian akan dimintai pertanggungjawaban mengenainya. Perbanyaklah doa di dalam shalat-shalat supaya Allah menarik kalian ke arah-Nya dan supaya Dia menyucikan hati kalian dikarenakan insan itu lemah. Tidaklah mungkin lepas dari berbagai macam keburukan melainkan dengan kekuatan yang berasal dari Allah Ta’ala, dan selama seorang insan belum meraih kekuatan dari Allah, maka ia tidak kuasa lepas dari keburukan. Bukanlah tujuan dari Islam bahwa dikatakan pada seseorang sesungguhnya ia mengucapkan kalimah Syahadat sebagai suatu kebiasaan saja, bahkan hakikat dari Islam adalah jiwa-jiwa kalian itu bersimpuh di haribaan Allah Ta’ala dan kalian mengutamakan Allah dan perintah-perintah-Nya daripada dunia kalian dari segala segi. [Tadzkīratusy Syahādatain, Rūhani Khazāin Jilid 20 halaman 63].

Kalaulah demikan, inilah ajaran yang bisa memberikan kebahagiaan Id hakiki. Apabila kita menjalani kehidupan kita sesuai dengan taklim ini, maka kita akan menjadi orang-orang yang merayakan Id hakiki. Maka seharusnya, sekali-kali kita tidak hanya memiliki dua Id saja dalam setahun, bahkan setiap hari yang berkaitan dengan kita akan menjadi hari Id, karena kita akan senantiasa mengupayakan untuk melaksanakan kewajiban ibadah Allah Ta’ala agar menjadi hamba-hamba-Nya yang sejati. Hal itu yang menjadi sebab kita diberikan keberkatan lebih banyak daripada sebelumnya. Apabila kita membaca Al-Qur’an, maka kita memahaminya dan berupaya mengamalkan ajarannya, maka Allah Ta’ala akan menjadikan kita para ahli waris karunia-karunia-Nya. Apabila kita mengupayakan huqūqul-‘ibād, maka Allah Ta’ala akan melihat kita dengan pandangan cinta dan sebagai hasil daripada hal-hal ini Idnya akan beralih menuju Id hakiki. Kita berdoa dan berupaya untuk meraih Id hakiki ini.

Di akhir saya juga ingin mengarahkan perhatian kalian pada doa. Maka pertama-tama berdoalah untuk orang-orang Palestina yang saat-saat ini tengah menderita kezaliman yang sangat, oleh karenanya mereka tidak bisa mendatangi daerah-daerah mereka dan Masjid Aqsha kecuali dengan surat-surat izin tapi surat-surat izin tidak diberikan dan mereka dicegah dari itu. Adapun dari antara mereka yang datang untuk shalat, mereka telah menghadapi keaniayaan dan pemukulan oleh tangan tentara dan mereka menghadapi penindasan. Demikian pula, mereka mendapatkan pengusiran secara paksa dari kawasan Syeikh Jarah yang merupakan kawasan kecil yang didiami oleh penduduk Palestina, sekalipun tempat ini adalah milik mereka.

Sekarang informasi-informasi mulai banyak menulis tentang itu, bahkan Surat kabar-surat kabar Israel sendiri mulai menulis tentang hal itu, demikian pula berita-berita mereka menulis tentang itu, begitu pun mereka yang mencintai keadilan di tempat-tempat yang lain.

Aparat kepolisian menghujani orang-orang Palestina dengan gas air mata dan peluru, bahkan Israel mengarahkan serangan gas udara juga dengan dalih bahwa mereka tengah melakukan pengawasan terhadap musuh-musuhnya yang tengah ketakutan di sana, akan tetapi sebenarnya mereka tengah menimpakan keaniayaan atas penduduk setempat dan membunuhi mereka. Sebagaimana laporan-laporan jurnalistik memberikan laporan bahwa di beberapa tempat kepolisian Israel melarang orang-orang yang tengah menderita itu mendatangi kemah-kemah kesehatan, maka mereka membuat orang-orang ini tidak mendapatkan pertolongan pengobatan.

Pendek kata, kita memohon pada Allah Ta’ala supaya mencurahkan belas kasih-Nya terhadap orang-orang yang tengah teraniaya itu dengan perantaraan karunia-Nya dan memberikan kelapangan pada mereka dan mencengkeram orang-orang zalim.

Sesungguhnya Kementrian Luar negeri Amerika tengah sering-seringnya mengklaim keadilan dan kebijaksanaan, tapi mereka diam dan tidak menunjukkan keterangan apa pun menentang pembunuhan terhadap terbunuhnya sembilan orang anak Palestina, mereka tidak menyatakan simpati apa pun, Sembilan orang itu adalah pada sebelumnya adapun sekarang jumlahnya sudah bertambah.

Surat kabar New York Times menulis dengan mengutip dari laporan Human Right Watch bahwa Israel memberikan keterangan berbeda terhadap penyerangan orang-orang Palestina adalah untuk kemaslahatan kaum Yahudi di Israel dan di daerah-daerah pendudukan Palestina. Ini adalah hal yang alami sehubungan dengan itu ketika padanya tidak terdapat keadilan apa pun.

Terdapat dalam Laporan Amnesti Internasional juga bahwa kezaliman-kezaliman yang lebih jauh lagi lebih besar terjadi pada orang-orang Palestina. Surat kabar Israel Hareetz menulis bahwa Yerusalaem tengah membara. Sesungguhnya blokade-blokade yang ditempatkan di Gerbang Damaskus adalah tindakan bodoh dan provokatif, pengusiran ratusan penduduk Palestina dari rumah mereka di Kawasan Syeikh Jarah di bulan Ramadhan menjadi sumber kekalutan besar bagi para penduduk Palestina.

Kemudian Surat kabar itu menulis juga bahwa sangat mengherankan sekali bahwa pandangan mereka kepada keadilan itu aneh! Ketika contohnya dikatakan Sesungguhnya kami tidak memiliki apa yang jadi milik kami untuk selamanya, adapun yang menjadi milik anda itu adalah yang lain yang menjadi milik saya untuk selamanya! Demikianlah hak-hak mereka tengah dirampas secara terus-terusan dari orang

Kita berdoa kepada Allah supaya Dia memberikan kasih sayang kepada rakyat Palestina, karena kegembiraan Id bagi mereka telah berganti menjadi gunungan-gunungan kepiluan dan dan kesedihan. Semoga Allah Ta’ala menggantikan kesusahan dan penderitaan mereka dengan kegembiraan, menganugerahkan pada mereka kehidupan yang damai dan tenang, menganugerahi mereka dengan kepemimpinan yang lurus yang akan membimbing mereka ke arah petunjuk dan kebenaran. Adapun Negara-negara Islam, sekiranya mereka bersatu untuk memainkan peranannya, maka mereka bisa menyelamatkan orang-orang muslim yang teraniaya di Palestina dan di Negara-negara yang lainnya dari keaniayaan. Tapi sungguh disayangkan bahwa umat Islam juga tidak bersatu, tidak ada reaksi umat Islam dan Negara-negara Islam berupa kekuatan yang seharusnya ada. Yang keluar dari mereka hanyalah deklarasi-deklrasi lemah lagi biasa, kendati pun jika di sana ada [di kalangan bangsa Arab] ada suatu deklarasi yang bersatu lagi besar tentu di dalamnya terdapat kekuatan.

Walau bagaimana pun kita berdoa pada Allah Ta’ala semoga Dia mengilhami akal para pimpinan muslim, memberikan juga hal yang benar pada orang-orang Israel sehingga mereka tidak berlaku aniaya. Begitu pun kita berdoa semoga Allah Ta’ala memberikan petunjuk pada orang-orang Palestina yang bertindak berdasarkan apa yang terdapat di benaknya tanpa kepemimpinan yang bijak lagi benar, dari mereka telah timbul berbagai keaniayaan; sekalipun dalam hal ini keaniayaan bukanlah berasal dari mereka, bahkan mereka adalah orang-orang yang teraniaya. Apabila mereka melakukan tindakan pembangkangan, maka mereka menghadapi senjata-senjata yang diluncurkan pada mereka. Sebelumnya juga sudah saya katakan bahwa tidak ada satu sisi pun untuk membanding-bandingkan antara kekuatan yang mereka gunakan dan yang kekuatan yang dilancarkan untuk melawan mereka. Dalam hal ini penting sekali berdoa untuk orang-orang Palestina semoga Allah Ta’ala menjadikan keadaan mereka menjadi lebih baik dan menyiapkan untuk mereka sarana-sarana untuk merdeka dan mendapatkan keabsahan atas tanah-tanah yang menjadi milik mereka sesuai dengan kesepakatan yang terdapat dalam perjanjian awal di permulaan.

Demikian pula seharusnya kalian berdoa untuk para ahmadi yang teraniaya di dunia yang menghadapi kesempitan-kesempitan, baik yang berada di Pakistan atau di Aljazair atau pun di berbagai Negara-negara lainnya semoga Allah Ta’ala memelihara mereka dari kejahatan-kejahatan para penentang, baik mereka itu dari kalangan masyarakat umum atau yang diberikan tanggung jawab memerintah.

Doakan semua orang yang berkebutuhan supaya Allah Ta’ala memenuhi hajat-hajat mereka yang telah direncanakan dan menyingkirkan problem-problem mereka dan berdoalah secara umum untuk menghapuskan keaniayaan dari dunia. Semoga Allah Ta’ala menghapuskan keaniayaan dari dunia sehingga orang-orang akan mengenal Allah Ta’ala.

Berdoalah pada Allah Ta’ala untuk wabah [Covid-19] ini yang saat-saat ini tersebar semoga Allah Ta’la menyelamatkan dunia dari wabah ini, segala hal akan kembali pada jalan semula yang alami, maka keamanan akan terkendali, tapi hal itu tidak akan tiba melainkan apabila penduduk dunia mengenal Khāliqnya dan mereka menjalankan huqūqullāh dan huqūqul-‘ibād. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik pada semua untuk hal ini. Āmīn.

Khotbah II 

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَّهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ ‑ وَنَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ -عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ أُذكُرُوْااللهَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Diterjemahkan oleh :  Mln. Ridwan Buton & Abkari Munwana 8, 21-27 April 2022


[1]

إِذَا دَعَا الْمُسْلِمُ لِأَخِيْهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ قَالَ الْمَلَكُ : آمِيْنُ وَلَكَ بِمِثْلِهِ

“Apabila seorang muslim mendoakan bagi saudaranya di luar kehadirannya [tanpa sepengetahuannya], malaikat akan mengatakan: “Amin”, semoga Anda memperoleh yang semacam itu.” [HR Muslim].

Leave a Reply

Begin typing your search above and press return to search.
Select Your Style

You can choose the color for yourself in the theme settings, сolors are shown for an example.