Riwayat Abu Bakr Ash-Shiddiiq Ra (Seri 22)

khotbah jumat kisah sahabat Abu Bakar Siddiq

Keteladanan Para Sahabat Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam (Manusia-Manusia Istimewa seri 156, Khulafa’ur Rasyidin Seri 04, Hadhrat ‘Abdullah Abu Bakr ibn ‘Utsman Abu Quhafah, radhiyAllahu ta’ala ‘anhu, Seri 22)

Khotbah Jumat Sayyidina Amirul Mu-minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 17 Juni 2022 (Ihsan 1401 Hijriyah Syamsiyah/Dzulqa’idah 1443 Hijriyah Qamariyah) di Masjid Mubarak, Islamabad, Tilford, UK (United Kingdom of Britain/Britania Raya).

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم

[بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم* الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يوْم الدِّين * إيَّاكَ نعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ  (آمين)

Pada khotbah yang lalu saya telah menyampaikan bahwa kisah mengenai orang-orang murtad atau munafik yang kaitannya dengan Yamamah, Musailamah Al-Kadzdzaab beserta komplotannya telah usai. Pembahasan mengenai orang-orang murtad yang mengangkat senjata di masa Hadhrat Abu Bakr (ra) masih terus berlanjut.

Sebagaimana telah saya sampaikan bahwa terdapat beberapa ekspedisi. Ekspedisi yang pertama telah dibahas dengan cukup panjang lebar.

Dari 10 ekspedisi yang tersisa, diriwayatkan berkenaan dengan yang kedua dan ketiga bahwa ekspedisi ini dipimpin oleh Hadhrat Hudzaifah (ra) dan Hadhrat Arfajah (ra) guna menghadapi para pemberontak yang murtad di ‘Umaan [sekarang lebih populer dieja dengan tulisan Oman].

‘Umaan adalah sebuah kota di Yaman di dekat Bahrain. ‘Umaan terletak di antara Teluk Persia dan Laut Arab, yang pada masa itu termasuk bagian timur dari apa yang sekarang disebut Uni Emirat Arab. Kabilah Azid yang menyembah berhala dan kabilah-kabilah lainnya yang beragama Majusi tinggal di sini. Muscat, Sohar dan Daba (دبّا) adalah kota-kota pesisir di wilayah ini.

Di masa berberkat Hadhrat Rasulullah (saw) ‘Umaan termasuk ke dalam wilayah kekuasaan orang-orang Iran dan mereka menetapkan seseorang bernama Jaifar sebagai gubernur dari pihak mereka. Agama Majusi tersebar di wilayah tersebut.

Pada tahun 8 Hijriah, Hadhrat Rasulullah (saw) mengutus Hadhrat Abu Zaid Anshori (ra) dan Hadhrat ‘Amru bin ‘Ash (ra) untuk menablighkan Islam dan mengirim surat kepada dua orang pemimpin yang bersaudara, yakni Jaifar bin Julundi dan ‘Abbad bin Julundi. Isi surat Hadhrat Rasulullah (saw) adalah sebagai berikut:

«بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ، مِنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ إِلَى جَيْفَرَ وَعبّاد ابْنَي الْجَلَنْدِيِّ، سَلَامٌ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ الْهُدَى.. أَمَّا بَعْدُ: فَإِنِّي أَدْعُوكُمَا بِدِعَايَةِ الْإِسْلَامِ؛ أَسْلِمَا تَسْلَمَا، فَإِنِّي رَسُولُ اللهِ إِلَى النَّاسِ كَافَّةً، لِأُنْذِرَ مَنْ كَانَ حَيًّا وَيَحِقَّ الْقَوْلُ عَلَى الْكَافِرِينَ، وَإِنَّكُمَا إِنْ أَقْرَرْتُمَا بِالْإِسْلَامِ وَلِيْتُكُمَا، وَإِنْ أَبَيْتُمَا أَنَ تُقِرَّا بِالْإِسْلَامِ فَإِنَّ مُلْكَكُمَا زَائِلٌ عَنْكُمَا، وَخَيْلِي تَحِلُّ: أَيْ تَنْزِلُ بِسَاحَتِكُمَا، وَتَظْهَرَ نُبُوَّتِي عَلَى مُلْكِكُمَا» Bismillahir-rahmanir-rahim. Surat dari Muhammad (saw), hamba Allah dan Rasul-Nya, kepada Jaifar dan ‘Abbad dua putra al-Julundi. Kesejahteraan bagi siapa pun yang mengikuti petunjuk. Saya menyeru Anda untuk menerima Islam. Masuklah Islam, niscaya Anda akan selamat. Saya adalah utusan Allah dan diutus kepada seluruh dunia, untuk memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup dan menyempurnakan hujjah terhadap orang-orang kafir. Jika Anda berkenan menerima Islam, saya akan membiarkan Anda menjadi penguasa di sana seperti sebelumnya. Dan jika Anda menolak untuk menerima Islam, kekuasaan Anda akan diambil dari Anda.”[1]

Berdasarkan sebagian riwayat, setelah berdiskusi beberapa hari, kedua bersaudara tersebut kemudian menerima Islam dan berdasarkan satu riwayat, penguasa ‘Umaan, Jaifar berkata, “Saya tidak berkeberatan untuk menerima Islam, namun saya takut jika saya mengumpulkan zakat dari sini dan mengirimkannya ke Madinah, kaum saya akan marah pada saya.” Atas hal itu, Hadhrat ‘Amru bin ‘Ash (ra) memberikan penawaran kepadanya bahwa harta zakat yang diterima dari wilayah tersebut akan dibelanjakan untuk orang-orang miskin di wilayah tersebut. Maka kemudian ia menerima Islam.

Hadhrat ‘Amru (ra) tinggal di sana selama 2 (dua) tahun dan terus menablighkan Islam kepada orang-orang. Dengan upaya pertablighan beliau yang sukses ini sebagian besar penduduk di wilayah tersebut menerima Islam.

Ketika Hadhrat Rasulullah (saw) wafat dan kemurtadan serta pemberontakan meluas di setiap penjuru Arab, Hadhrat Abu Bakr (ra) memanggil Hadhrat ‘Amru bin ‘Ash (ra) dari ‘Umaan ke Madinah.

Di sisi lain, setelah kewafatan Hadhrat Rasulullah (saw), Laqith bin Malik Azdi (لقيط بن مالك الأزدي) bangkit di tengah-tengah orang-orang ‘Umaan. Ia memiliki julukan Dzut-Taaj (ذو التاج) dan di masa jahiliah ia dianggap setara dengan Raja ‘Umaan al-Julundi. Al-Julundi adalah julukan untuk raja-raja ‘Umaan. Ia mendakwakan kenabian bagi dirinya dan orang-orang jahil ‘Umaan (عُمان) menjadi pengikutnya. Ia merebut ‘Umaan.

Jaifar beserta saudaranya ‘Abd berlindung ke pegunungan. Jaifar menginformasikan seluruh situasi ini kepada Hadhrat Abu Bakr (ra) dan meminta bantuan.

Hadhrat Abu Bakr (ra) mengutus dua Amir kepadanya, yang pertama adalah Hudzaifah bin Mihshan al-Ghalfani al-Himyari (حذيفة بن محصن الغلفاني الحميري) yang diutus ke ‘Umaan dan yang kedua adalah Arfajah bin Hartsamah al-Baariqi al-Azdi (عرفجة بْن هرثمة البارقي الأزدي) yang diutus ke Mahrah (مَهْرة) dan keduanya diperintahkan supaya berangkat bersama-sama dan memulai perang dari ‘Umaan. Mahrah adalah nama satu kabilah di Yaman. Beliau (ra) memerintahkan bahwa apabila pertempuran terjadi di ‘Umaan maka Hudzaifah akan menjadi pimpinan dan apabila pertempuran terjadi di Mahrah maka Hudzaifah akan menjalankan tugas sebagai komandan pasukan.

Biodata Hadhrat Hudzaifah (ra) dan Hadhrat Arfajah (ra) adalah sebagai berikut. Dalam Tarikh ath-Thabari dijelaskan nama Hadhrat Hudzaifah adalah Hudzaifah bin Mihshan al-Ghalfani, sedangkan dalam sebagian buku-buku riwayat para sahabat, nama beliau disebut sebagai Hudzaifah al-Qal’ani (حذيفة القلعاني). Beliau menjadi Gubernur ‘Umaan hingga kewafatan Hadhrat Abu Bakr (ra).

Dalam buku-buku riwayat para sahabat disebutkan nama lengkap Hadhrat Arfajah (ra) adalah Arfajah bin Khuzaimah (عرفجة بن خزيمة). Menurut ‘Allamah Ibnu Al-Atsir nama ayahanda beliau adalah Hartsamah (هرثمة). Beliau dikenal karena taktiknya melawan musuh.

Untuk membantu mereka berdua [yaitu Hadhrat Hudzaifah (ra) dan Hadhrat Arfajah (ra)], Hadhrat Abu Bakr (ra) mengutus Hadhrat Ikrimah bin Abu Jahal (ra). Sebelumnya dalam rincian perang Yamamah telah disampaikan dalam pembahasan Musailamah Al-Kadzdzaab bahwa ketika Hadhrat Abu Bakr (ra) mengutus Hadhrat Ikrimah (ra) untuk menghadapi fitnah kemurtadan dan pemberontakan dan mengutus Hadhrat Syurahbil bin Hasanah (ra) untuk membantu beliau, maka diperintahkan kepada Hadhrat Ikrimah (ra) untuk tidak melakukan serangan sebelum Hadhrat Syurahbil (ra) tiba, namun beliau melakukan serangan tanpa menunggu Hadhrat Syurahbil (ra), yang akibatnya beliau mengalami kekalahan. Hadhrat Abu Bakr (ra) marah atas hal tersebut dan memerintahkan beliau untuk pergi ke ‘Umaan.

Sesuai dengan perintah dari Hadhrat Abu Bakr (ra), Hadhrat Ikrimah (ra) beserta pasukannya berangkat mengikuti Hadhrat Arfajah (ra) dan Hadhrat Hudzaifah (ra) ke ‘Umaan. Sebelum keduanya tiba di ‘Umaan, Hadhrat Ikrimah (ra) telah bertemu dengan keduanya di Rajam (رجام), sebuah tempat di dekat ‘Umaan. Mereka mengirimkan utusannya kepada Jaifar dan saudaranya, ‘Abbaad. Dalam beberapa buku Tarikh seperti Al-Kaamil karya Ibnu Al-Atsir, nama ‘Abbaad disebut sebagai ‘Iyadz (عياذ).[2] Rajam adalah nama rangkaian pegunungan yang panjang di ‘Umaan.

Setelah menerima pesan dari para komandan pasukan Muslim, Jaifar dan ‘Abbaad keluar dari tempat tinggal mereka masing-masing. Sebelumnya mereka bersembunyi setelah orang murtad yang mengklaim sebagai Nabi itu menggalang pasukan dan kekuatannya membesar. Singkatnya, mereka berdua keluar dari tempat tinggal mereka masing-masing dan berkemah di Sohar lalu mereka mengirimkan pesan kepada Hadhrat Ikrimah (ra), Hadhrat Arfajah (ra) dan Hadhrat Hudzaifah (ra) untuk datang kepada mereka. Sohar adalah sebuah kota kecil di ‘Umaan yang terhubung dengan pegunungan.

Diriwayatkan mengenai kota ini bahwa di sini biasa berlangsung salah satu pasar di ‘Umaan selama lima malam di awal bulan Rajab. Pasukan umat Islam berkumpul di Sohar dan membersihkan wilayah-wilayah yang berbatasan dengannya dari orang-orang murtad.

Di sisi lain, tatkala Laqith bin Malik telah mendapatkan kabar mengenai kedatangan pasukan Islam, ia pun keluar dengan membawa pasukannya untuk berperang dan berkemah di Daba. Ia membawa serta para wanita, anak-anak dan harta benda di belakangnya untuk memperkuatnya dalam pertempuran. Daba juga merupakan kota dan pasar perdagangan di wilayah tersebut.

Para Amir umat Islam menulis surat kepada para pemimpin yang bersekutu dengan Laqith. Pertama-tama mereka mengirimkannya kepada pemimpin kabilah Bani Jazid. Sebagai jawaban atas surat-surat tersebut para pemimpin itu juga menulis surat untuk para Amir umat Islam. Hasil dari koresnpondenesi tersebut adalah mereka semua meninggalkan Laqith dan bergabung dengan umat Islam. Maka terjadilah pertempuran yang sengit dengan pasukan Laqith di tempat tersebut, yakni Daba.

Awalnya Laqith unggul dan nyaris saja umat Islam menelan kekalahan, namun Allah Ta’ala menganugerahkan rahmat dan kasih sayangnya dan menurunkan pertolongannya pada situasi yang rawan tersebut. Bala bantuan dalam jumlah besar dari berbagai Kabilah Bahrain dan Bani Abd Al-Qais tiba, yang dengannya mereka menjadi semakin kuat dan mereka maju menggempur pasukan Laqith dengan hebat yang membuat pasukan Laqith menelan kekalahan dan melarikan diri. Kaum Muslimin mengejar mereka dan membunuh 10.000 laskar serta menawan para wanita dan anak-anak. Mereka mengambil alih harta benda dan pasar serta mengirimkan ⅕ bagiannya ke hadapan Hadhrat Abu Bakr (ra) melalui tangan Hadhrat Arfajah (ra). Dengan demikian fitnah di ‘Umaan pun berakhir dan pemerintahan Islam ditegakkan di atas pondasi-pondasi yang kokoh.

Seusai pertempuran, Hadhrat Hudzaifah (ra) menetap di ‘Umaan dan sibuk dalam memperbaiki kondisi serta menegakkan perdamaian dan keamanan di sana. Hadhrat Arfajah (ra) – sebagaimana telah disebutkan – berangkat ke Madinah dengan membawa harta ganimah dan Hadhrat Ikrimah (ra) membawa pasukanya berangkat ke Mahrah untuk mengentaskan pemberontakan di sana.

Diriwayatkan berkenaan dengan ekspedisi Hadhrat Ikrimah (ra) melawan para pemberontak yang murtad bahwa Hadhrat Abu Bakr (ra) memberikan sebuah bendera kepada Hadhrat Ikrimah (ra) dan memerintahkannya untuk menghadapi Musailamah. Hadhrat Abu Bakr (ra) mengutus Hadhrat Ikrimah (ra) ke Yamamah untuk menghadapi Musailamah dan mengutus Hadhrat Syurahbil bin Hasanah (ra) di belakang beliau. Hadhrat Abu Bakr (ra) menyebutkan nama Yamamah untuk keduanya, namun beliau bersabda kepada Hadhrat Ikrimah (ra) bahwa selama Hadhrat Syurahbil (ra) belum tiba, janganlah melakukan serangan. Namun Hadhrat Ikrimah (ra) bersikap tergesa-gesa – sebagaimana telah dikisahkan sebelumnya – dan maju melakukan serangan sebelum kedatangan Hadhrat Syurahbil (ra). Musailamah mendesak beliau ke belakang. Beliau mengalami kekalahan dan mundur.

Terkait:   Riwayat ‘Utsman bin ‘Affan radhiyAllahu ta’ala ‘anhu (Seri-3)

Ketika Hadhrat Syurahbil bin Hasanah (ra) mendapatkan kabar mengenai peristiwa tersebut, beliau berhenti di tempat beliau berada pada saat itu. Hadhrat Abu Bakr (ra) menulis kepada Hadhrat Syurahbil (ra), “Menetaplah di dekat Yamamah hingga Anda menerima perintah selanjutnya dari saya” dan Hadhrat Abu Bakr (ra) menulis kepada Hadhrat Ikrimah (ra), “Sekarang saya tidak ingin melihat wajah Anda – sebelumnya pun telah saya sampaikan – dan tidak juga akan mendengar perkataan anda, kecuali setelah Anda menjalankan suatu tugas yang menonjol. Perlihatkanlah suatu peranan yang luar biasa. Barulah Anda boleh datang ke hadapan saya.” Kemudian Hadhrat Abu Bakr (ra) bersabda, “Pergilah ke ‘Umaan, bertempurlah dengan penduduk ‘Umaan dan bantulah Hudzaifah dan Arfajah.”

Sebagaimana telah disampaikan sebelumnya, ‘Umaan merupakan bagian dari Teluk Persia yang pada masa itu termasuk bagian timur dari apa yang sekarang disebut Uni Emirat Arab. Kabilah Azid yang menyembah berhala dan kabilah-kabilah lainnya yang beragama Majusi tinggal di daerah ini. Muscat, Sohar dan Daba adalah kota-kota pesisir di wilayah ini.

Beliau juga bersabda, “Masing-masing dari kalian akan tetap menjadi komandan pasukan berkuda kalian. Namun, ketika kalian semua memasuki wilayah yang berada di bawah pengawasan Hudzaifah, beliau akan menjadi Amir bagi kalian semua. Ketika kalian semua telah selesai maka pergilah ke Mahrah. Kemudian dari sana pergilah ke Yaman, hingga tinggallah bersama Muhajir bin Abu Umayah dalam operasi Yaman dan Hadhramaut dan tumpaslah orang-orang yang murtad di antara ‘Umaan dan Yaman. Saya ingin mendengar peranan besar Anda dalam pertempuran.” Inilah perintah yang disampaikan oleh Hadhrat Abu Bakr (ra).

Sebelum keberangkatan Hadhrat Ikrimah (ra), berdasarkan perintah dari Hadhrat Abu Bakr (ra), Hadhrat Hudzaifah bin Mihshan Ghalfani telah berangkat ke ‘Umaan dan Hadhrat Arfajah Bariqi telah berangkat ke Mahrah untuk memerangi orang-orang murtad. Sesuai dengan perintah Hadhrat Abu Bakr (ra), Hadhrat Ikrimah (ra) bersama pasukannya berangkat di belakang Hadhrat Arfajah (ra) dan Hadhrat Hudzaifah (ra) dan sebelum keduanya sampai di ‘Umaan, Hadhrat Ikrimah (ra) telah bergabung dengan mereka. Sebelumnya, Hadhrat Abu Bakr (ra) telah memberikan perintah yang penuh penekanan kepada mereka berdua bahwa setelah selesai dari misi di ‘Umaan, mereka harus melaksanakan pendapat Hadhrat Ikrimah (ra). Apakah itu beliau membawa mereka bersama beliau atau memerintahkan untuk menetap di ‘Umaan.

Bagaimanapun, sebagaimana telah disampaikan, ketika ketiga Amir ini bergabung satu sama lain di Rajjam, sebuah tempat di dekat ‘Umaan, mereka mengutus utusannya kepada Jaifar dan Abbad.

Di sisi lain, ketika Laqith [pimpinan kaum murtad yang mengaku Nabi di sana] mendapatkan kabar kedatangan pasukan mereka, lalu ia mengumpulkan kelompok kelompoknya dan tiba di Daba lalu membuat perkemahan.

Jaifar dan Abbad juga keluar dari tempat tinggalnya. Mereka tiba di Sahar dan membuat kemah di sana. Mereka mengirimkan pesan kepada Hudzaifah, Arfajah dan Ikrimah, “Datanglah Anda semua kepada kami.” Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, mereka semua berkumpul di tempat mereka berdua di Sahar lalu menetralisir (membersihkan dari permusuhan) di daerah-daerah yang terkait dari orang-orang murtad sehingga orang-orang yang di sekitarnya berdamai dengan mereka semua.

Begitu juga, para Amir itu menulis surat kepada para pemimpin di kalangan pengikut Laqith dan memulainya kepada ketua Banu Judaid. Sebagai jawabannya, para tokoh tersebut menulis surat kepada umat Islam juga. Seperti yang telah disampaikan, sebagai hasilnya mereka memisahkan diri dari Laqith. Setelah itu, terjadi pertempuran antara laskar Laqith dengan pasukan Muslim. Selengkapnya telah saya sampaikan sebelumnya.

Setelah perang tersebut selesai, Ikrimah dan Hudzaifah sepakat dengan pendapat bahwa Hudzaifah tinggal di ‘Umaan untuk menyelasaikan permasalahan dan memberikan kedamaian kepada orang-orang. Hadhrat Ikrimah bersama dengan pasukan muslim dalam jumlah besar bergerak maju untuk mengatasi kaum musyrik yang lainnya. Mereka memulai prosesnya dari Mahrah.

Berkenaan dengan agresi Hadhrat Ikrimah ke kabilah Mahrah tertulis bahwa setelah selesai mengatasi orang orang murtad di ‘Umaan, Ikrimah bersama dengan laskarnya berangkat ke kabilah Mahrah di daerah Najd. Tertulis bahwa mereka meminta bantuan untuk misi ini kepada penduduk ‘Umaan dan orang-orang di sekitar ‘Umaan. Mereka terus bergerak hingga tiba di daerah kabilah Mahrah. Berbagai kabilah bersama mereka hingga Ikrimah menyerang kabilah Mahrah dan daerah daerah pesisirnya.

Untuk menghadapi mereka, orang-orang Mahrah terbagi menjadi dua kelompok. Satu kelompok bertahan di daerah Jairut (جَيْروت) dibawah pimpinan Syikhrit (شِخْريت). Kelompok kedua, dibawah pimpinan seseorang dari Banu Maharib di Najd bernama Mushabbah (المصبَّح أحدُبني محارب). Sebenarnya kesemua orang Mahrah mengikuti pimpinan laskar tersebut (Mushabbah) kecuali Syikhrit dan sekutunya. Kedua pemimpin tersebut satu sama lain saling menentang dan menyeru satu sama lain kepadanya. Setiap orang dari kedua laskar tersebut ingin agar ketuanyalah yang harus meraih keberhasilan. Inilah perkara yang dengan perantaraannya Allah Ta’ala membantu umat Islam dan mengokohkannya dalam menghadapi musuh musuhnya dan melemahkan musuhnya.

Ketika Ikrimah melihat jumlah yang sedikit bersama dengan Syikhrit, mereka menyerunya untuk kembali kepada Islam. Ia sebelumnya adalah muslim, kembalilah kepada Islam dan janganlah berperang melawan muslim. Dengan gerakan awal itulah Syikhrit menerima seruan mereka dengan begitu Allah melemahkan Musabba lalu Ikrimah mengirimkan utusan kepada Mushabbah untuk menyeru kepadanya agar kembali kepada Islam dan menerima serua Islam. Namun jumlah orang banyak yang menyertainya telah menipunya. Disebabkan oleh Syikhrit menerima Islam kerenggangan semakin tercipta antara Mushabbah dan Syikhrit. Ikrimah melancarkan agresi kepadanya dan Syakhriyat pun menyertai Ikrimah keduanya menghadapi Musabba di Najd.

Peperangan yang terjadi lebih sengit dari Daba (دبّا). Allah memberikan kekalahan kepada orang orang murtad pemberontak. Pemimpinnya terbunuh. Pasukan muslim mengejar musuh yang melarikan diri dan banyak sekali dari antara mereka yang dibunuh dan banyak juga yang ditawan. Adapun harta rampasan yang didapatkan oleh pasukan muslim diantaranya adalah unta-unta betina ketrunan terbaik dalam jumlah 2000 ekor.

Hadhrat Ikrimah membagi harta rampasan ke dalam 5 bagian. Memberangkat Syikhrit kepada Abu Bakr beserta seperlima bagian. Selebihnya 4 bagian lagi dibagikan kepada pasukan muslim. Dengan begitu laskar Ikrima lebih tangguh lagi disebabkan oleh kendaraan dan harta kekayaan. Hadhrat Ikrimah mengumpulkan seluruh orang di daerah itu dan kesemuanya menerima Islam. Hadhrat Ikrimah menyampaikan kabar suka tersebut kepada Hadhrat Abu Bakr dengan perantaraan seseorang bernama Shaib.

Kemudian berkenaan dengan agresi yang dilakukan oleh Hadhrat Ikrimah ke Yaman. Hadhrat Abu Bakr Siddiq dalam suratnya telah memberikan instruksi kepada Hadhrat Ikrimah (sebelum ini telah disampaikan) bahwa setelah dari Muhrah berangkatlah ke Yaman. Lakukanlah misi Yaman dan Hadhr Maut ini bersama dengan Hadhrat Muhajir Bin Abu Umayyah. Atasilah orang-orang murtad yang ada di antara ‘Umaan dan Yaman.

Dalam mengamalkan instruksi Hadhrat Abu Bakr Siddiq tersebut, Hadhrat Ikrimah berangkat dari Muhrah lalu melakukan agresi ke Yaman hingga tiba di Abyan (أَبْيَنَ). Abyan merupakan satu kampung di Yaman. Bersama mereka terdapat satu laskar besar yang di dalamnya juga termasuk banyak sekali orang-orang dari kabilah Muhrah dan kabilah-kabilah lainnya.

Hadhrat Ikrimah menetapkan Yaman Selatan sebagai tempat tinggalnya dan di sana sibuk dalam mengatasi kabilah-kabilah Nakha dan Himyar sehingga tidak sempat untuk bergerak ke Yaman utara. Setelah menangkap buronan kabilah Nakha, beliau mengumpulkan orang-orang dari kabilah itu lalu bertanya kepada mereka, “Apa pendapat kalian berkenaan dengan Islam?”

Mereka menjawab, “Pada zaman Jahiliyah pun kami adalah orang yang agamis, kami memiliki ketertarikan dengan agama. Kami orang Arab tidak saling menyerang satu sama lain, lantas bagaimana keadaan kami ketika kami masuk kedalam agama yang keutamaannya telah kami kenali dan kecintaan padanya telah merasuk kedalam kalbu kami yakni kecintaan kepada Islam.”

Ketika Hadhrat Ikrimah menyelidiki perihal mereka yakni apakah mereka menyatakan itu dari hati mereka atau hanya semata-mata untuk menyelamatkan diri saja, ternyata memang benar seperti apa yang mereka katakan. Mereka memberikan keterangan yang benar sesuai hakikat. Masyarakatnya teguh dalam Islam, namun yang murtad dari antara mereka telah melarikan diri.

Seperti itulah Hadhrat Ikrimah menetapkan kabilah-kabilah Himyar (حميرَ) dan Nakha (النخعَ) bebas dari tuduhan murtad dan tetap tinggal di sana untuk menyatukan mereka.

Dengan tinggalnya Hadhrat Ikrimah di Abyan, hal itu memberikan pengaruh yang dalam kepada sisa-sia pengikut al-Aswad al-Ansi selebihnya yang dipimpin oleh Qais Bin Maqsyuh (قيس بن المكشوح) dan Amru Bin Ma’dikarb (عمرو بن معديكرب). Setelah Qais melarikan diri dari Shan’a (صنعاء), ia terus berkeliling di seputar Shan’a dan Najran sementara Amru Bin Ma’di Karb telah bergabung dengan kelompok Aswad Ansi yang berada di Lahj (لحج). Namun, ketika Hadhrat Ikrimah tiba di Abyan, Qais bergabung dengan Amru Bin Ma’di Karb bersatu memerangi beliau (Hadhrat Ikrimah). Namun seketika itu terjadi pertentangan diantara mereka sehingga menyebabkan keduanya berpisah. Dengan demikian, kedatangan Hadhrat Ikrimah dari arah timur telah berperan penting dalam mengatasi sisa-sisa kelompok Murtad yang berada di Lahj.

Kabilah Kindah tinggal di daerah Hadhramaut berdekatan dengan Yaman. Amil (pemungut zakat utusan pusat) di daerah tersebut adalah Ziyad Bin Labid (زياد بن لبيد). Beliau bersikap keras perihal zakat sehingga menimbulkan pemberontakan untuk menentang mereka. Karena itu, Hadhrat Ikrimah dan Hadhrat Muhajir Bin Abu Umayyah keduanya tiba untuk membantu beliau. Selengkapnya akan dijelaskan pada topik Hadhrat Muhajir Bin Abu Umayyah.

Setelah selesai dalam misinya dalam mengentaskan para murtaddin, Hadhrat Ikrimah mulai melakukan persiapan untuk kembali ke Madinah. Beliau disertai oleh putri Numan bin Jun yang telah beliau nikahi di medan perang. Meskipun beliau tahu disebabkan oleh menikahi putri Ummi Tamim dan Mujaah, Hadhrat Abu Bakr Siddiq (ra) menegur keras Hadhrat Khalid bin Walid. Berkenaan dengan itu telah dijelaskan selengkapnya pada khotbah sebelumnya. Namun meskipun demikian Hadhrat Ikrimah tetap menikahinya.

Atas hal itu banyak diantara pasukan Hadhrat Ikrimah yang memisahkan diri dari beliau. Lalu disampaikanlah hal tersebut kepada Hadhrat Muhajir, namun beliau pun tidak dapat memberikan keputusan. Kemudian semua hal itu dikabarkan ke hadapan Hadhrat Abu Bakr Siddiq untuk meminta pendapat beliau.

Hadhrat Abu Bakr Siddiq menulis, “Dengan menikahinya, Ikrimah tidaklah melakukan sesuatu yang tidak pantas.”

Akhirnya orang-orang yang berkeberatan dapat menerimanya. Latar belakang kekecewaan Sebagian orang adalah Numan Bin Jun suatu ketika hadir ke hadapan Rasulullah dan menyampaikan permohonan dengan mengatakan: Mohon kiranya Hudhur menerima untuk menikahi putri saya, namun Rasulullah menolaknya lalu mengirimkan wanita itu pulang bersama ayahnya.

Terkait:   Keteladanan Para Sahabat Nabi Muhammad shallAllahu ‘alaihi wasallam (Manusia-Manusia Istimewa, seri 36)

Sebagaimana Rasulullah (saw) telah menolak wanita itu sehingga sebagian laskar Hadhrat Ikrimah pun beranggapan agar Ikrimah mengikuti teladan Rasulullah dengan tidak menikahi wanita itu. Namun Hadhrat Abu Bakr tidak membenarkan alasan tersebut. Hadhrat Abu Bakr bersabda: Ini sama sekali keliru. Lalu beliau (ra) mensahkan pernikahan Hadhrat Ikrimah.

Hadhrat Ikrimah kembali ke Madinah bersama dengan istrinya. Akhirnya sebagian laskar yang sebelumnya kecewa dengan Hadhrat Ikrimah dan memisahkan diri, bergabung lagi dengan beliau.

Keterangan singkat Berkenaan dengan Asma Binti Numan Bin Jun adalah bahwa wanita yang dinikahi oleh Hadhrat Ikrimah terdapat Riwayat dalam Bukhari dan beberapa kitab Hadits lainnya bahwa wanita tersebut pernah menikah dengan Rasulullah saw, namun sebelum dilakukan rukhstanah, wanita tersebut melakukan suatu perbuatan yang menyebabkan Rasulullah memulangkannya kepada kabilahnya. Berkenaan dengan nama dan kisahnya terdapat benyak beda pendapat. Sebagian berpendapat bahwa wanita itu menikah dengan Hadhrat Muhajir Bin Umayyah Bin Abi Umayyah.

Dalam menjelaskan kisah rinci peristiwa tersebut, Hadhrat Mushlih Mau’ud radhiyAllahu ta’ala ‘anhu (ra) bersabda, “Ketika Arab telah dikuasai umat Muslim dan Islam mulai menyebar, ada seorang perempuan dari kabilah Kindah (كِندة) yang bernama Asma (أسماء) atau Umaimah (أميمة) yang disebut juga dengan sebutan laqab (julukan) Juniah (الجونية) atau Bintul Jun (بنت الجوْن). Saudara perempuan itu bernama Luqman (لقمان) datang ke hadapan Rasulullah (saw) sebagai perwakilan kaumnya. Pada kesempatan itu ia menyampaikan keinginannya untuk menikahkan saudarinya kepada Rasulullah (saw) dan menyampaikan permohonan tersebut secara langsung kepada Rasulullah (saw), ‘Saudari saya yang sebelumnya menikah dengan kerabat, sekarang menjanda, dia sangat cantik dan sesuai, mohon Hudhur (yang mulia) berkenan menikahinya.’

Karena Rasul Karim (Rasul yang mulia saw) sangat mendukung persatuan antar kabilah, beliau menerima tawaran itu dan bersabda, ‘Saya akan menikahinya dengan mahar senilai perak 12.5 Uqiyah.’

Dia mengatakan, يا رسول الله لا تقصر بها في المهر ‘Wahai Rasulullah (saw)! Kami adalah keluarga terpandang dan kaya raya. Mahar tersebut kurang.’

Beliau bersabda, ما أصدقت أحدا من نسائي ولا أصدقت أحدا من بناتي فوق هذا ‘Saya tidak pernah membayar mahar untuk istri saya manapun atau untuk diberikan kepada putri saya melebihi dari jumlah tersebut.’

Setelah menyampaikan persetujuannya, dia mengatakan, “Baiklah.” Lalu dilakukan pernikahan.

Dia (kerabat pengantin perempuan) memohon Rasulullah mengutus seseorang untuk menjemput pengantin perempuan. Beliau (saw) mengutus Abu Usaid untuk tugas tersebut, lalu pergi. Juniah memanggilnya untuk masuk ke dalam rumah, Abu Usaid menjawab, أن نساء النبي صلى الله عليه وسلم لا يراهن أحد من الرجال “Telah turun perintah hijab atas para istri Rasul.” [3]

Abu Usaid meminta petunjuk dan perintah-perintah lainnya dari Nabi (saw) dan beliau (saw) memberitahukannya. Kemudian, Abu Usaid mempersilakan perempuan tersebut duduk di atas kendaraan dan berangkat ke Madinah. Selanjutnya, beliau menurunkannya di suatu rumah yang dikelilingi pohon kurma. Kerabat perempuan itu pun menyertakan seorang pelayan perempuan.

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) menulis, “Demikian pula di negeri kita pada zaman dulu biasanya orang-orang kaya mengirimkan pelayan perempuan untuk menyertainya, supaya pengantin perempuan jangan ada kesulitan apa-apa. Pada masa ini sudah tidak lagi. Karena perempuan yang dinikahi Rasulullah ini atau yang ditawarkan oleh saudara pengantin perempuan itu untuk dinikahi Rasulullah dan kemudian setelah dinikahkan, perempuan tersebut menjadi terkenal. Ia cantik sekali dan biasanya para perempuan suka sekali melihat pengantin perempuan.

Kedua, para perempuan yang berada di kampung sekitar ingin sekali melihat pengantin perempuan itu. Para perempuan Madinah datang untuk melihat sang pengantin perempuan. Pengantin perempuan tersebut sangat dikenal dengan kecantikannya. Berdasarkan penuturan pengantin perempuan tersebut, ada seorang perempuan lain yang telah mengajarkan terlebih dahulu supaya pada hari pertama pernikahan harus membuat pria tunduk, ‘Apabila Rasulullah menghampirimu nanti katakan pada beliau, “Aku memohon perlindungan kepada Tuhan dari Anda.” Dengan begitu Rasulullah akan semakin tertarik dan tunduk kepadamu.’

Atas hal itu Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) menulis, “Jika memang ide tersebut bukan buatan si pengantin perempuan, tidaklah mengherankan kalau ada orang munafik atau melalui seseorang dari kerabatnya yang membuat si pengantin yang merupakan istri Nabi melakukan keburukan tersebut. Walhasil, ketika Rasulullah mendapatkan kabar kedatangan sang pengantin, beliau beranjak ke rumah yang telah ditetapkan bagi perempuan tersebut. Tertulis dalam Hadits-Hadits ketika Rasulullah menghampiri sang pengantin perempuan, beliau bersabda, هَبِي نَفْسَكِ لِي “Hibahkanlah jiwa engkau bagi saya.”

Dia menjawab, هَلْ تَهَبُ الْمَلِكَةُ نَفْسَهَا لِلسُّوقَةِ ‘Apakah seorang Ratu menyerahkan dirinya kepada orang biasa?’

Abu Usaid mengatakan, ‘Mendengar hal itu Rasulullah (saw) meletakkan tangan beliau padanya untuk menentramkan, karena mungkin perempuan tersebut merasa takut karena asing. Baru saja Rasul meletakkan tangan beliau, dia mengatakan sesuatu ucapan yang tidak etis dan tidak elok yaitu, أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْكَ “Saya memohon perlindungan kepada Allah dari Anda.”

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Karena seorang Nabi sangat hormat jika jika mendengar kata Tuhan diucapkan dan langsung mengingat keagungan-Nya, mendengar ucapan tersebut beliau (saw) langsung mengatakan, قَدْ عُذْتِ بِمَعَاذٍ ‘Engkau telah menjadikan Dzat yang agung sebagai perantara dan memohon perlindungan-Nya yang merupakan Maha Pelindung. Untuk itu saya kabulkan permohonanmu.’

Lalu Rasulullah segera keluar ruangan dan bersabda, يَا أَبَا أُسَيْدٍ اكْسُهَا رَازِقِيَّتَيْنِ وَأَلْحِقْهَا بِأَهْلِهَا “Wahai Abu Usaid! Berikan kepadanya dua kain cadar dan kembalikan ia kepada keluarganya.”[4]

Setelah itu beliau (saw) memerintahkan untuk selain menyerahkan maharnya Rasul juga memberikan dua kain cadar sebagai ihsan, supaya perintah Al Quran Karim, وَلَا تَنسَوُا الْفَضْلَ بَيْنَكُمْ ۚ walaa tansawul fadhla bainakum yang artinya janganlah melupakan untuk berlaku baik satu sama lain (Surah Al-Baqarah, 2:238), sesuai dengan ayat tersebut Rasul memberikan hal lebih sebagai ihsaan (kedermawanan).

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) menulis, “Perempuan itu ditalaq (dicerai) sebelum terjadi hubungan badan. Nabi (saw) memerintahkan untuk memulangkannya. Abu Usaid jugalah yang diperintah untuk mengantarkannya pulang. Hal tersebut sangat mengecewakan penduduk kabilahnya sehingga mereka memarahi perempuan itu, namun perempuan tersebut tetap menjawab, ‘Ini adalah kesialan saya.’ Terkadang dia mengatakan, ‘Saya telah dicelakakan dan disuruh, “Ketika Rasul menghampirimu, kamu menyingkirlah dan perlihatkan rasa tidak suka, dengan seperti itu ru’b (kekuatan sugestif) kamu akan menundukkan beliau.”’ Entahlah apakah hal itu penyebabnya atau ada hal lain. Pada intinya, perempuan itu menampakkan rasa tidak suka dan Rasulullah (Saw) meninggalkannya dan mengirimkannya pulang.”[5]

Ini pun telah saya jelaskan sebelumnya dalam membahas salah satu sahabah yakni Hadhrat Usaid.

Alhasil, Hadhrat Ikrimah kembali dari Kindah Hadramaut melalui jalan Yaman dan Mekkah. Tatkala beliau tiba di Madinah, Hadhrat Abu Bakr memerintahkan kepadanya agar berangkat untuk menolong Khalid bin Sa’id. Hadhrat Ikrimah memulangkan pasukannya yang telah ikut serta bersamanya di dalam pertempuran melawan kemurtadan.

Hadhrat Abu Bakr lalu menyiapkan pasukan lain sebagai gantinya. Ia memulangkannya karena keadaan mereka yang telah letih dari suatu pertempuran yang cukup besar. Hadhrat Abu Bakr lalu menyiapkan pasukan baru dan memerintahkan mereka untuk bergerak di bawah bendera Ikrimah menuju ke Syam. Mengenai jasa-jasa istimewa yang telah diperlihatkan Hadhrat Ikrimah di Syam dimana beliau bertempur dengan penuh keberanian hingga meneguk cawan kesyahidan, secara rinci Insya Allah akan dijelaskan di bagian pergerakan pasukan Islam ke Syam.

Kemudian ekspedisi pasukan Islam yang kelima adalah melawan kelompok murtad yang memberontak Hadhrat Syurahbil bin Hasanah (شرحبيل بن حسنة). Hadhrat Abu Bakr mengutus Ikrimah ke daerah Yamamah untuk melawan Musailamah, Setelahnya beliau pun memberangkatkan Hadhrat Syurahbil menuju ke Syam. Secara ringkas mengenai Hadhrat Syurahbil bin Hasanah, Ayah Hadhrat Syurahbil bin Hasnah bernama Abdullah bin Mutha’ (عبد الله بن المطاع) dan ibu beliau bernama Hasanah. Sebagian ada yang menyebut beliau dengan Kindi dan dengan Tamimi. Ayah Syurahbil telah wafat saat beliau masih kanak-kanak dan Hasanah ini adalah nama Ibu beliau sehingga beliau disebut Syurahbil bin Hasanah.

Hadhrat Syurahbil termasuk diantara para pemeluk Islam masa awal. Beliau pergi hijrah ke Habsyah bersama saudara beliau. Setelah kembali dari Habsyah, saat di Madinah beliau tinggal di kediaman Banu Zuraiq. Beliau adalah salah satu panglima perang di masa Khilafat Rasyidah yang masyhur. Beliau wafat pada tahun 18 Hijriah di usia 67 tahun akibat wabah Amwas.

Alhasil, sebagaimana telah disampaikan bahwa Hadhrat Ikrimah tidak mengindahkan perintah dari Hadhrat Abu Bakr untuk tidak menyerang sebelum Hadhrat Syurahbil tiba dan beliau secara tergesa-gesa menyerang Musailamah sebelum Hadhrat Syurahbil tiba, dengan harapan agar mahkota kemenangan menjadi miliknya. Namun Musailamah justru memukul mundur mereka, dan tatkala Hadhrat Ikrimah menyampaikan kegagalan ini kepada Hadhrat Abu Bakr – dimana hal ini telah dibahas sebelumnya – Hadhrat Abu Bakr mengirim surat peringatan kepada beliau dan bersabda, “Janganlah kembali ke Madinah dengan membawa noda kekalahan ini, jangan sampai keputus-asaan menyebar di kalangan segenap orang.” Kemudian, Hadhrat Abu Bakr memerintahkan beliau untuk menuju ke ‘Umaan.

Saat itu, Hadhrat Syurahbil bin Hasanah masih ada di perjalanan tatkala ia mendengar berita kekalahan Hadhrat Ikrimah. Hadhrat Syurahbil menghentikan pergerakan beliau dan mengirim surat kepada Hadhrat Abu Bakr untuk petunjuk selanjutnya. Hadhrat Abu Bakr menyampaikan kepadanya untuk menunggu dimanapun ia berada.

Hadhrat Abu Bakr menulis kepada Syurahbil, “Bermukimlah Anda di dekat Yamamah sampai Anda menerima perintah saya selanjutnya. Jangan terlebih dahulu menghadapi Musailamah yang untuk melawannya Anda telah dikirim.”

Selanjutnya, tatkala Hadhrat Abu Bakr Siddiq telah mengutus Hadhrat Khalid bin Walid untuk melakukan pergerakan ke Yamamah, Hadhrat Abu Bakr lalu memerintahkan Hadhrat Syurahbil bin Hasanah, “Tatkala Khalid bin Walid bertemu dengan Anda, hingga Anda pun mengakhiri pertempuran di Yamamah dengan sebaik-baiknya, setelah itu bergeraklah menuju kabilah Qudha’ah, dan carilah berita tentang para pemberontak di Qudha’ah bersama-sama Hadhrat Amru bin al-‘Ash, yakni mereka yang menolak menerima Islam dan bersiap-siaplah untuk menghadapi mereka.” Mereka itu tidak hanya mengingkari, tetapi bahkan juga memusuhi.

Qudha’ah juga merupakan satu kabilah Arab yang masyhur dan terletak sejauh 10 manzil dari Madinah melampaui Wadiul Qura, dan berada di arah barat Madain Salih. Alhasil, sesuai perintah Hadhrat Abu Bakr Siddiq (ra), Hadhrat Syurahbil terus bertahan bersama pasukan beliau.

Meski demikian, Musailamah menyerang pasukan beliau. Terkait peristiwa ini, salah seorang penulis [yaitu Husain Haekal dari Mesir – editor] menuturkan, “Tatkala Hadhrat Khalid bin Walid masih dalam perjalanan menuju Yamamah, pasukan Musailamah menyerang pasukan Hadhrat Syurahbil [saat itu terlebih dahulu sudah di Yamamah atau di dekatnya] sehingga memukul mundur beliau. Beberapa sejarawan menulis bahwa Hadhrat Syurahbil pun telah melakukan kesalahan seperti halnya telah dilakukan sebelumnya oleh Hadhrat Ikrimah, yakni ia maju dengan harapan mendapat kedudukan sebagai yang telah mengalahkan Musailamah, namun ia pun mendapat kekalahan dan terpaksa bergerak mundur. Tetapi, kemungkinan yang terjadi bukanlah demikian, melainkan pasukan Yamamah (pimpinan Musailamah) sendirilah yang berpikir jika Hadhrat Syurahbil bersatu dengan Hadhrat Khalid maka ini akan merugikan mereka sehingga pasukan Musailamah pun menyerang pasukan Hadhrat Syurahbil dan berhasil mengalahkan serta memukul mundur mereka. [Mungkin] terjadi suatu [pertempuran] diantara kedua belah pihak, faktanya, Hadhrat Syurahbil membawa pasukan beliau untuk mundur.

Terkait:   Riwayat Abu Bakr Ash-Shiddiiq Ra (Seri 15)

Tatkala beliau tiba dan bertemu Hadhrat Khalid bin Walid, dan menyampaikan semua keadaan yang terjadi, Hadhrat Khalid pun mengecam dan memarahinya. Hadhrat Khalid saat itu beranggapan jika kekuatan penuh untuk menghadapi musuh belum diraih, pertempuran sama sekali harus dihindari sampai kekuatan yang dibutuhkan itu belum terpenuhi. Jangan sampai karena tidak adanya kekuatan yang dimiliki, lantas mengobarkan pertempuran melawan musuh yang akibatnya adalah terpaksa menelan kekalahan dan hal ini akan memperkuat semangat pasukan musuh.”[6]

Alhasil, Hadhrat Syurahbil kemudian terus ikut serta bersama Hadhrat Khalid bin Walid di dalam pertempuran. Hadhrat Khalid bin Walid mengangkat Hadhrat Syurahbil sebagai panglima di ‘Muqaddimatul Jaisy’ yakni panglima bagi pasukan bagian depan. Untuk pasukan bagian kanan dan kiri, beliau mengangkat Zaid bin Khattab dan Abu Huzaifah bin ‘Utbah bin Rabi’ah.

Setelah selesai dari pergerakan di Yamamah, sesuai dengan perintah Hadhrat Abu Bakr Siddiq, Hadhrat Syurahbil lalu bertemu dengan Hadhrat ‘Amru ibn al-’Ash untuk mencari berita tentang para pemberontak dari Banu Qudha’ah. Alhasil tertera bahwa Hadhrat Syurahbil dan Hadhrat ‘Amru ibn al-’Ash menyerang para pemberontak dan orang-orang murtad Banu Qudha’ah. Hadhrat ‘Amru ibn al-’Ash melakukan penyerangan pada kabilah Sa’d dan Balq, sementara Hadhrat Syurahbil pada Kabilah Qalb dan kabilah-kabilah lain yang ada dibawahnya.

Ekspedisi keenam adalah pertempuran yang dilakukan Hadhrat ‘Amru ibn al-’Ash menghadapi orang-orang murtad dan pemberontak. Sebelumnya Hadhrat Abu Bakr telah memberikan satu bendera kepada Hadhrat ‘Amru ibn al-’Ash, dan memerintahkan beliau untuk menghadapi 3 kabilah yakni Qudha’ah, Wadi’ah, dan Harits. Qudha’ah pun merupakan salah satu Kabilah masyhur Arab yang terletak sejauh 10 manzil setelah Wadiul Qura dan berada di sebelah barat Madain Salih.

Secara singkat mengenai Hadhrat ‘Amru ibn al-’Ash (عمرو بن العاص) sebagai berikut: nama beliau ‘Amru, sebutan beliau adalah Abu Abdullah (أَبُو عَبْد اللَّه), atau menurut sebagian riwayat, beliau disebut Abu Muhammad (أَبُو مُحَمَّد). Nama Ayah beliau adalah al-‘Ash bin Wail (العاص بن وائل). Nama ibu beliau adalah Nabigah binti Harmalah (النابغة بنت حرملة). Menurut satu riwayat, nama asli ibu beliau adalah Salma. Nabigah (النابغة) adalah sebutan beliau.[7]

Hadhrat ‘Amru ibn al-’Ash memeluk Islam pada 8 Hijriah, yaitu 6 bulan sebelum peristiwa Fatah Mekkah. Pada tahun 8 Hijriah, Rasulullah (saw) mengangkat beliau sebagai ‘Amil [pemimpin pengumpulan zakat] di ‘Umaan, dan beliau mengemban amanat ini hingga kewafatan Rasulullah (saw). Setelah itu, beliau ikut serta dalam kemenangan-kemenangan Islam di Syam, dan beliau menjabat sebagai hubernur di wilayah Palestina di masa kekhilafahan Hadhrat Umar.

Di masa kekhilafatan Hadhrat Usman, beliau (Hadhrat ‘Amru ibn al-‘Ash) dimakzulkan (dipecat atau diberhentikan) dari kepala pemerintahan di Mesir dan kemudian menjalani kehidupan menyendiri di Palestina.

Amir Muawiyah mengangkat beliau kembali sebagai Amir (kepala daerah) di Mesir dan beliau ada di kedudukan ini hingga kewafatan beliau. Dikatakan bahwa Hadhrat Amru wafat pada tahun 43 Hijriah. Sebagian lain berpendapat pada 47 Hijriah. Ada lagi yang berpendapat pada 48 dan 51 Hijriah. Meski demikian, secara umum pendapat tahun 43 Hijriah dianggap sebagai yang benar.

Hadhrat ‘Amru ibn al-’Ash merupakan sosok yang memiliki lisan indah dan ahli pidato yang ulung. Beliau adalah perencana handal, ahli politik, dan sosok pemimpin. Rasulullah (saw) kerap mempercayakan beliau dalam perencanaan-perencanaan kemiliteran. Beliau sekeluarga yakni ‘Amru ibn al-’Ash, putra beliau yaitu Abdullah, dan Ummu Abdullah digambarkan sebagai keluarga ideal.

Seorang penulis menyatakan bahwa Hadhrat Abu Bakr, saat beliau menyiapkan 11 bendera [Islam], salah satu bendera beliau peruntukkan bagi Hadhrat ‘Amru ibn al-’Ash. Hadhrat Abu Bakr memberi amanat kepada beliau untuk memerangi orang-orang Qudha’ah, karena di masa kehidupan Rasulullah (saw) beliau pun telah berperang untuk menghadapi Kabilah Qudha’ah di Perang Dzatus Salasil, dan beliau telah sangat menguasai semua keadaan kabilah tersebut beserta segenap jalan-jalannya.

Rasulullah (saw) pernah menugasi Hadhrat ‘Amru ibn al-’Ash pada bulan Dzulhijjah tahun 8 Hijriah untuk menyampaikan surat tabligh kepada dua pemimpin ‘Umaan yaitu Jaifar dan ‘Abbaad dua putra al-Julundi. Pengutusan beliau ini sangat berhasil dan penduduk ‘Umaan memeluk Islam melalui tangan Hadhrat ‘Amru ibn al-’Ash. Sebagai bentuk rasa gembira, Rasulullah (saw) mengangkat beliau sebagai pemimpin untuk mengumpulkan zakat. Beliau lalu tinggal di ‘Umaan, dan dari sanalah beliau mendapat surat dari Hadhrat Abu Bakr (ra) tentang kewafatan Rasulullah (saw).

Setelah kewafatan Rasulullah (saw), mayoritas kabilah Arab menjadi murtad. Untuk menanggulanginya, Hadhrat Abu Bakr memanggil Hadhrat ‘Amru ibn al-’Ash dari ‘Umaan. Untuk memenuhinya, beliau pun meninggalkan ‘Umaan menuju Madinah. Tatkala Hadhrat Abu Bakr mengangkat 11 pemimpin untuk menanggulangi fitnah kemurtadan, saat itulah Hadhrat Abu Bakr Siddiq memerintahkan kepada Hadhrat Syurahbil bin Hasanah bahwa tatkala ia telah selesai dari pertempuran di Yamamah, hendaklah ia bergerak menuju kabilah Qudha’ah, dan mencari kabar terkait pemberontak-pemberontak di Qudha’ah bersama Hadhrat ‘Amru ibn al-’Ash, yaitu mereka yang ingkar menerima Islam, dan agar mereka [berdua] bersiap-siap untuk menghadapinya. Maka dari itu keduanya yakni Hadhrat ‘Amru ibn al-’Ash dan Hadhrat Syurahbil memulai rencana untuk menghadapi para pemberontak Banu Qudha’ah dan mulai menyelidiki mereka.

Mengenai rincian peristiwa ini, seorang penulis menyatakan, “Banu Qudha’ah (بنو قضاعة) tidaklah menerima Islam sesuai keinginan hati mereka. Mereka hanya menerima Islam seperti halnya kabilah-kabilah lain yaitu karena takut atau karena tamak harta dan kedudukan sehingga hati mereka pada dasarnya kosong dari kecintaan kepada Islam. Oleh karena itu, setelah kewafatan Rasulullah (saw), di saat mereka merasakan kelemahan di dalam kaum muslim, maka saat itulah mereka menolak memberi zakat.

Setelah mendapat amanat dari singgasana Khilafat, Hadhrat ‘Amru ibn al-’Ash segera bergerak bersama pasukan beliau melalui jalan kedatangan beliau semula dari Judzam (جذام). Setiba di sana, beliau melihat Banu Qudha’ah telah sepenuhnya siap untuk melakukan perang. Pertempuran pun dimulai. Pertempuran sengit pun terjadi. Seperti sebelumnya, saat ini pun kabilah Qudha’ah harus menelan kekalahan. Hadhrat ‘Amru ibn al-’Ash lalu mengambil zakat dari mereka dan kembali mengajak mereka memeluk Islam, lalu beliau kembali ke Madinah dengan membawa kemenangan dan keberhasilan.”

Mengenai ekspedisi lainnya Insya Allah akan disampaikan selanjutnya.[8]

Khotbah II

الْحَمْدُ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا – مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ – وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ – عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ – أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُاللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ


[1] Al-Iktifa. Kitab as-Sirah an-Nabawiyah wat Tarikh al-Islami (كتاب السيرة النبوية والتاريخ الإسلامي) karya ‘Abdusy Syafi Muhammad ‘Abdul Lathif (عبد الشافى محمد عبد اللطيف) bahasan ke-5 (البحث الخامس الإدارة في عهد النبي صلى الله عليه وسلم  ), keislaman penduduk ‘Umman (إسلام اهل عمان), penerbit Darus Salaam (دار السلام). Tercantum juga dalam Tarikh ‘Amru ibn al-‘Aash (تاريخ عمرو بن العاص – دكتر حسن إبراهيم حسن – الصفحة ٥٧). Al-Islam wat Tathawwurus Siyasi (الإسلام والتطور السياسى) karya Muhammad ‘Aadil ‘Abdul ‘Aziz (محمد عادل عبد العزيز). SurahYaasiin, 36:71: لِّيُنذِرَ مَن كَانَ حَيًّا وَيَحِقَّ الْقَوْلُ عَلَى الْكَافِرِينَ – “agar dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya) dan agar pasti ketetapan (azab) terhadap orang-orang kafir.”

[2] Al-Kaamil fit Taarikh (الكامل في التاريخ – ابن الأثير – ج ٢ – الصفحة ٢٣٢); Fathul Baari (فتح الباري شرح صحيح البخاري » كتاب المغازي » باب قصة عمان والبحرين)

[3] Al-Ishabah (الإصابة في تمييز الصحابة) Al-Ishabah fi tamyizish shahabah, Nu-man ibn Abil Jun, terbitan Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut, 1995.

[4] Shahih al-Bukhari, Kitab perceraian (كتاب الطلاق), no. 5255, bab (باب مَنْ طَلَّقَ وَهَلْ يُوَاجِهُ الرَّجُلُ امْرَأَتَهُ بِالطَّلاَقِ).

[5] Tafsir Kabir jilid 2, h. 533-535, Tafsir Surah al-Baqarah ayat 228.

[6] Muhammad Husain Haikal dalam karyanya Ash-Shiddiq Abu Bakr (الصديق أبو بكر) yang terjemahan urdunya ialah Hadhrat Abu Bakr Shiddiq (حضرت ابوبکرصدیق اکبرؓ از محمد حسین ہیکل مترجم شیخ محمد احمد پانی پتی، علم و عرفان پبلشرز لاہور2004ء). Terjemahan bahasa Indonesianya ialah Abu Bakr as-Siddiq Yang Lembut Hati Sebuah Biografi Dan Studi Analisis tentang Permulaan Sejarah Islam Sepeninggal Nabi oleh Muhammad Husain Haekal Diterjemahkan dari bahasa Arab oleh Ali Audah, bab Melindungi golongan lemah dengan hartanya. Judul asli As-Siddiq Abu Bakr, cetakan ke-8, oleh Dr. Muhammad Husain Haekal, Ph.D., Penerbit Dar al-Maaref, 119 Corniche, Cairo, Egypt, dan atas persetujuan ahli waris, Dr. Ahmad Muhammad Husain Haekal, kepada penerjemah ke dalam bahasa Indonesia. Diterjemahkan oleh Ali Audah. Cetakan pertama, 1995. Cetakan kedua, 2001. Cetakan ketiga, 2003. Diterbitkan oleh PT. Pustako Utera AntarNusa, Kalimalang-Pondok Kelapa, Jakarta 13450.

[7] Kitab Al-Isti’aab fi Ma’rifatil Ash-haab (الاستيعاب في معرفة الأصحاب) karya Abu Umar Yusuf al-Qurthubi (أبو عمر يوسف بن عبد الله بن محمد بن عبد البر بن عاصم النمري القرطبي) atau dikenal dengan Ibnu ‘Abdul Barr (أبي عمر يوسف بن عبد الله/ابن عبد البر القرطبي), wafat pada 463 Hijriyyah/1071 Masehi (المتوفى: 463هـ).

[8] Sumber referensi: www.alislam.org (website resmi Jemaat Ahmadiyah Internasional bahasa Inggris dan Urdu) dan www.Islamahmadiyya.net (website resmi Jemaat Ahmadiyah Internasional bahasa Arab). Penerjemah: Mln. Mahmud Ahmad Wardi, Syahid (London-UK), Mln. Hasyim dan Mln. Fazli ‘Umar Faruq. Editor: Dildaar Ahmad Dartono.

Leave a Reply

Begin typing your search above and press return to search.
Select Your Style

You can choose the color for yourself in the theme settings, сolors are shown for an example.