Riwayat Abu Bakr Ash-Shiddiiq Ra (Seri 24)

khalifah khilafah ahmadiyah

Keteladanan Para Sahabat Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam (Manusia-Manusia Istimewa seri 158, Khulafa’ur Rasyidin Seri 04, Hadhrat ‘Abdullah Abu Bakr ibn ‘Utsman Abu Quhafah, radhiyAllahu ta’ala ‘anhu, Seri 24)

  • Hudhur ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz menguraikan sifat-sifat terpuji Khalifah (Pemimpin Penerus) bermartabat luhur dan Rasyid (lurus) dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, Hadhrat Abu Bakr ibn Abu Quhafah, radhiyAllahu ta’ala ‘anhu.
  • Uraian rinci mengenai kemenangan-kemenangan pasukan Muslim dalam berbagai tugas peperangan di masa Khilafat Hadhrat Abu Bakr ash-Shiddiq (ra) yang telah menugaskan 11 (sebelas) Amir (Komandan) perang beserta ekspedisi perjalanan menuju wilayah tugas yang tengah bergejolak penentangan, pemberontakan dan kemurtadan. Selesainya pembahasan pertama hingga ke-8 ekspedisi militer utusan Hadhrat Abu Bakr (ra) dalam menghadapi kaum Murtadin dan penentang yang melakukan pemberontakan. Rincian bahasan kemenangan pasukan Muslim di wilayah Bahrain dan Yaman.
  • Pembahasan berdasarkan rujukan Kitab-Kitab Sejarah di kalangan umat Islam abad-abad pertama yaitu Tarikh ath-Thabari dan modern (abad 20) yaitu sejarawan Muhammad Husain Haikal.
  • Lanjutan pembahasan khotbah lalu mengenai ekspedisi pasukan kesembilan (ke-9) pimpinan Hadhrat Al-’Alaa ibn al-Hadhrami (ra). Lanjutan pembahasan ekspedisi ke Bahrain. Kaum pemberontak di bawah pimpinan Al-Hatham. Perang berlangsung satu bulan hingga kaum Muslim meraih kemenangan saat menyerang prajurit musuh yang tengah berpesta pora dengan mabuk. Pidato memotivasi Hadhrat Al-’Alaa ibn al-Hadhrami (ra).
  • Pertempuran antara Hadhrat Al-’Alaa ibn al-Hadhrami (ra) bersama pasukannya melawan kaum penentang di Darin. Mukjizat menyeberangi lautan ke sebuah pulau bernama Darin yang biasa dijangkau dengan kapal.
  • Hadhrat Al-’Alaa ibn al-Hadhrami (ra) menjadi Amir di wilayah Hajar dan sekitarnya.
  • Perjalanan menakjubkan Hadhrat Al-’Alaa ibn al-Hadhrami (ra) bersama pasukannya melewati laut.
  • Kutipan penjelasan Hadhrat Khalifatul Masih ke-2 (ra) mengenai mukjizat Nabi Musa yang membuat tanda tongkatnya dimasukkan ke air laut menjelang air laut di pantai itu surut sehingga kaum beliau dapat melewati daratan setelahnya. Tafsir kata beberapa ayat al-Qur’an yang menyebutkan peristiwa itu.
  • Pensyahidan Hadhrat Tsumamah bin Utsal (ra) oleh kalangan anak buah pimpinan kaum Murtadin.
  • Pembahasan ekspedisi militer ke-10 ke Tayhamah di bawah pimpinan Hadhrat Suwaid ibn al-Muqarrin (ra).
  • Hudhur (atba) akan terus menyebutkan lebih lanjut berbagai kejadian dalam masa Hadhrat Abu Bakr radhiyAllahu ta’ala ‘anhu di khotbah-khotbah mendatang.
  • Informasi kewafatan dan shalat Jenazah atas Bpk. Dicku Mussa, Ahmadi yang syahid di Burkina Faso; [2] yang terhormat Bpk. Muhammad Dicku Zakariya yang juga syahid; [3] Yth. Bpk. Muhammad Yusuf Baloch dari Umarkot (Pakistan); [4] Yth. Nn. ‘Azizah Mubarizah Faruk dan [5] Yth. Bpk. Aanzumana Wattara.

Khotbah Jumat Sayyidina Amirul Mu-minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 01 Juli 2022 (Wafa 1401 Hijriyah Syamsiyah/ Dzulhijjah 1443 Hijriyah Qamariyah) di Masjid Mubarak, Islamabad, Tilford, UK (United Kingdom of Britain/Britania Raya).

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم

[بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم* الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يوْم الدِّين * إيَّاكَ نعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ  (آمين)

Telah saya sampaikan mengenai ekspedisi untuk menghadapi orang-orang Murtad dan pemberontak pada masa Hadhrat Abu Bakr Ash-Shiddiq. Ekspedisi kesembilan dalam hal ini adalah Bahrain. Dalam hal ini, rincian lebih lanjut disampaikan tentang penyerangan yang dilakukan oleh Hadhrat Al-’Alaa bin Hadhrami menghadapi pasukan Al-Hatham [pimpinan pemberontak].

Tertulis dalam riwayat bahwa Al-’Alaa mengirim perintah kepada Hadhrat Al-Jaaruud  (الْجَارُودُ بْنُ الْمُعَلَّى الْعَبْدِيُّ) untuk mengajak suku Abdul Qais (عَبْدِ الْقَيْسِ) dan berkemah di daerah yang berdekatan dengan Hajar untuk menghadapi al-Hatham (الْحَطمِ) dan Hadhrat Al-’Alaa datang ke daerah ini dengan pasukannya untuk melawan Al-Hatham.

Semua orang Musyrik kecuali penduduk Darin (دَارِينَ) berkumpul di dekat Al-Hatham. Demikian pula segenap Muslim berkumpul di sekitar Hadhrat Al-’Alaa bin Hadhrami. Kedua belah pihak menggali parit di depan mereka. Mereka akan melintasi parit mereka setiap hari untuk menyerang musuh dan mundur ke belakang parit setelah pertempuran. Ini adalah keadaan perang selama sebulan.

Sementara itu, pada suatu malam kaum Muslim mendengar suara keras dari perkemahan musuh. Hadhrat Al-’Alaa mengatakan, “Adakah seseorang yang membawa kabar tentang kondisi musuh yang sebenarnya?”

Hadhrat Abdullah bin Hadzf (عبد الله بن حذفٍ) berkata, “Saya akan pergi untuk tugas ini.” Setelah memeriksanya, beliau kembali dan memberitahukan, “Musuh kita tengah mabuk dan kemabukan itulah yang mendatangkan malapetaka. Semua kebisingan ini adalah dari tempat musuh tersebut.”

Mendengar hal ini, pasukan Muslim segera menyerang musuh dan menerobos perkemahan mereka lalu membunuh mereka tanpa ampun. Musuh berlari ke parit mereka. Banyak yang jatuh dan mati, banyak juga yang selamat, banyak yang ketakutan, ada juga yang terbunuh atau tertangkap. Pasukan Muslim mengambil alih segala sesuatu di perkemahan mereka dan yang berhasil kabur hanya bisa membawa serta apa yang ada di tubuhnya, namun Abjar (أَبْجَر) lolos.

Ketakutan dan teror yang melanda Al-Hatham membuatnya seolah-olah tidak ada nyawa di tubuhnya. Dia berlari menuju kudanya sementara kaum Muslim berada di tengah-tengah kaum Musyrik. Dalam keputus-asaannya, Al-Hatham sendiri melarikan diri dari kaum Muslim dan mulai menunggangi kudanya. Begitu dia meletakkan kakinya di sanggurdi, sanggurdi itu patah lalu Hadhrat Qais bin Asim (قَيْسُ بْنُ عَاصِمٍ) mengirimnya ke neraka. Setelah menguasai semua tempat tinggal orang-orang musyrik, kaum Muslim keluar dari parit mereka dan mengejar mereka. Hadhrat Qais bin Asim mendekati Abjar tapi kuda Abjar lebih kuat dari kuda Hadhrat Qais. Beliau khawatir bila Abjar akan lepas dari genggamannya. Beliau lalu memukul punggung kuda Abjar dengan tombak yang membuat kuda itu terluka. Namun, tertulis dalam riwayat bahwa Abjar melarikan diri dan dia tidak dapat ditangkap.[1]

Menurut satu riwayat, Hadhrat Qais bin Asim memukul kepala Abjar hingga robek. Setelah itu, Hadhrat Qais memukulnya lagi hingga berdarah-darah.[2]

Di pagi hari, Al-’Alaa membagikan harta rampasan perang di antara para Mujahidin dan juga memberikan pakaian berharga kepada orang-orang yang telah menunjukkan keberanian khusus dalam perang. Diantaranya adalah pakaian yang diberikan kepada Hadhrat Afif bin Mundzir (عَفِيفُ بْنُ الْمُنْذِرِ), Hadhrat Qais bin Asim (قَيْسُ بْنُ عَاصِمٍ) dan Hadhrat Tsumamah bin Utsal (ثُمَامَةُ بْنُ أُثَالٍ). Di antara pakaian yang diberikan kepada Hadhrat Tsumamah adalah jubah Al-Hatham berwarna hitam yang sangat berharga yang selalu dikenakannya dengan penuh rasa bangga.[3]

Keberhasilan misi tersebut dilaporkan kepada Hadhrat Abu Bakr. Hadhrat Al-’Alaa memberitahu Hadhrat Abu Bakr tentang kekalahan pasukan parit dan pembunuhan Al-Hatham yang dilakukan oleh Zaid dan Mu’amar di salah satu suratnya dan menulis lewat surat yang di dalamnya sebagai berikut,
“أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ اللهَ تَبَارَكَ اسْمُهُ سَلَبَ عَدُوَّنَا عُقُولَهُمْ، وَأَذْهَبَ رِيحَهُمْ بِشَرَابٍ أَصَابُوهُ مِنَ النَّهَارِ، فَاقْتَحَمْنَا عَلَيْهِمْ خَنْدَقَهُمْ، فَوَجَدْنَاهُمْ سُكَارَى، فَقَتَلْنَاهُمْ إِلا الشَّرِيدَ، وَقَدْ قَتَلَ اللهُ الْحطمَ”. Amma Ba’du! Allah Tabaaraka wa Ta’ala mencabut pikiran musuh kita. Energi mereka (musuh) telah terkuras oleh minuman keras yang mereka minum di siang hari. Kami menyeberangi parit dan menyergap mereka, kami mendapati mereka dalam keadaan mabuk. Kami membunuh semuanya kecuali beberapa. Allah juga telah menuntaskan Al-Hatham.”[4]

Hajar dan sekitarnya dikuasai oleh Hadhrat Al-’Alaa, tetapi banyak orang Persia lokal tetap menentang pemerintah baru. Mereka sering menyebarkan berita dan menimbulkan kepanikan di kalangan orang-orang bahwa pemerintah Madinah akan digulingkan di Hajar. Mafruq asy-Syaibani (مفروق الشيباني) pergi dengan membawa serta kaumnya, kalangan Taghlab (التغلب) dan Nimr (النمر).

Ketika Hadhrat Abu Bakr (ra) mengetahui hal ini, beliau menulis surat kepada Al-’Alaa, “أَمَّا بَعْدُ، فَإِنْ بَلَغَكَ عَنْ بَنِي شَيْبَانَ بْنِ ثَعْلَبَةَ تَمَامٌ عَلَى مَا بَلَغَكَ، وَخَاضَ فِيهِ الْمُرْجِفُونَ، فَابْعَثْ إِلَيْهِمْ جُنْدًا فَأَوْطِئْهُمْ وَشَرِّدْ بِهِمْ مِنْ خَلْفِهِمْ فَلَمْ يَجْتَمِعُوا” “Jika penyelidikan mengungkapkan benar mengenai kelompok Bani Syaiban bin Tsa’labah – yang pemimpinnya adalah Mafruq bahwa mereka akan menyerang Anda – sedangkan kelompok garis keras tengah menyebarkan berita ini maka kirimlah pasukan untuk mengatasi mereka. Hancurkanlah mereka dan ciptakanlah ketakutan diantara suku-suku di belakang mereka sehingga mereka tidak akan pernah memiliki keberanian untuk mengangkat kepala mereka.”[5]

Berkumpulnya kaum Murtadin di Darin. Beberapa sejarawan telah menulis bahwa pertempuran Darin terjadi pada masa kekhalifahan Hadhrat Abu Bakr, tetapi beberapa sejarawan lainnya menulis bahwa pertempuran Darin terjadi pada masa Hadhrat Umar. Pendek kata, orang-orang murtad berkumpul di sana.[6] Darin (دارِين) adalah sebuah pulau di Teluk Persia beberapa mil dari Bahrain. Sudah ada keluarga Kristen yang tinggal di sana.

Setelah kalah dalam melawan Hadhrat Al-’Alaa, sebagian besar pemberontak yang kalah pergi ke Darin dengan menggunakan perahu dan yang lainnya kembali ke daerah suku mereka masing-masing. Hadhrat Al-’Alaa ibn Hadhrami menulis kepada orang-orang dari suku Bakr ibn Wa’il (بكر بن وائل) yang teguh dalam Islam untuk memerangi mereka dan juga memerintahkan Hadhrat Utaibah ibn Nahas (عتيبة بن النهاس) dan Hadhrat Amir ibn Abdul Aswad (عامر بن عبد الاسود) untuk tetap tinggal di mana pun mereka berada dan menyiagakan penjagaan di setiap jalan untuk menghadapi orang-orang murtad. Beliau juga memerintahkan Hadhrat Musma’ (مسمع) untuk memerangi orang-orang murtad dan memerintahkan Hadhrat Khashfah at-Tamimi (خصفة التميمي) dan Hadhrat Mutsanna bin Haritsah asy-Syaibani untuk memerangi orang-orang murtad.

Mutsanna bin Haritsah berperan besar dalam memadamkan api kemurtadan di Bahrain. Beliau menemani Hadhrat Al-’Alaa bin Hadhrami dengan pasukannya dan bergerak ke utara dari Bahrain. Mereka menguasai Qatif dan Hajar. Beliau melanjutkan misinya hingga mengalahkan tentara Persia dan agen-agennya yang telah membantu orang-orang murtad di Bahrain. Untuk memerangi orang-orang murtad di daerah-daerah yang tetap teguh pada Islam, mereka bergabung dengan Hadhrat Al-’Alaa bin Hadhrami. Mereka terus bergerak ke utara di sepanjang pantai dan ketika Hadhrat Abu Bakr bertanya tentang Hadhrat Mutsanna bin Haritha, Hadhrat Qais bin Asim mengatakan bahwa orang itu bukan orang yang tidak dikenal dan dia adalah Mutsanna bin Haritsah asy-Syaibani. Hadhrat Mutsanna bin Haritsah asy-Syaibani berdiri di persimpangan jalan untuk menghentikan orang-orang murtad dan beberapa orang murtad itu bertobat dan masuk Islam dan diterima. Beberapa menolak untuk bertobat dan bersikeras untuk tetap murtad, mereka dilarang memasuki wilayah mereka. Untuk itu, mereka kembali melalui jalan yang sama dari mana mereka datang hingga tiba di Darin dengan menggunakan perahu. Demikianlah Allah mengumpulkan mereka semua di satu tempat. [7]

Ketika Hadhrat Al-’Alaa masih berada dalam pasukan orang-orang musyrik, beliau menerima balasan surat yang ditulis oleh orang-orang dari kalangan Bakr ibn Wa’il (بَكْرِ بْنِ وَائِلٍ) dan dari itu beliau tahu bahwa mereka akan mematuhi perintah Allah dan akan mendukung agama-Nya. Ketika Hadhrat Al-’Alaa mendapat berita tentang orang-orang ini yaitu mereka adalah Muslim dan tidak memberontak dan tidak akan berperang dan menjadi yakin bahwa setelah kepergian mereka tidak akan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan dengan salah satu orang Bahrain di belakangnya, beliau mengatakan bahwa sekarang segenap Muslim harus bergerak menuju Darin. Beliau pun menyeru mereka untuk maju ke Darin. [8]

Kejadian ini, yang selengkapnya akan saya sampaikan nanti, meskipun tampaknya tidak mungkin yaitu bagaimana mungkin mereka menyeberangi laut. Bisa jadi ada kebenaran di dalam peristiwa itu sampai batas tertentu dan mungkin juga telah ada bagian yang dilebih-lebihkan. Namun demikian, apakah hakekat yang sebenarnya bila hal itu memang benar? Saya akan menjelaskannya di akhir khotbah ini.

Disebutkan [dalam riwayat] bahwa pada waktu itu umat Islam tidak memiliki perahu dan lain sebagainya yang dapat mereka gunakan untuk dapat sampai ke pulau itu. Melihat hal itu, Al-’Alaa ibn Hadhrami berdiri dan mengumpulkan orang-orang lalu berbicara kepada mereka dengan mengatakan, إِنَّ اللَّهَ قَدْ جَمَعَ لَكُمْ أَحْزَابَ الشَّيَاطِينِ وَشَرَدَ الْحَرْبَ فِي هَذَا الْبَحْرِ، وَقَدْ أَرَاكُمْ مِنْ آيَاتِهِ فِي الْبَرِّ لِتَعْتَبِرُوا بها فِي الْبَحْرِ، فَانْهَضُوا إِلَى عَدُوِّكُمْ، ثُمَّ اسْتَعْرِضُوا الْبَحْرَ إِلَيْهِمْ، فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ جَمَعَهُمْ “Allah telah mengumpulkan kelompok setan untuk kalian dan telah mendorong perang ke laut. Dia telah menunjukkan kepadamu tanda-tanda-Nya di darat agar kamu mengambil pelajaran di laut dari tanda-tanda ini. Berjalanlah menuju musuhmu, seberangilah samudera dan bergeraklah ke arahnya, karena Allah telah mengumpulkan mereka untukmu.”

Mereka semua menjawab, نَفْعَلُ وَلا نَهَابُ وَاللَّهِ بَعْدَ الدَّهْنَاءِ هَوْلا مَا بَقِينَا “Demi Tuhan! Kami akan mengalami hal yang sama dan setelah melihat mukjizat di Lembah Dahna kami tidak akan takut pada orang-orang ini selama kami masih hidup.” Riwayat ini tertulis dalam Ath-Thabari. [9]

Mukjizat di mana unta-unta mereka yang melarikan diri telah saya uraikan bahwa unta-unta yang melarikan diri telah kembali kepada kaum Muslim dan mata air mengalir. Mereka merujuk pada mukjizat yang telah mereka lihat. Mereka mengatakan, “Begitu pun kami akan melihat mukjizat berjalan diatas air laut.”

Hadhrat Al-’Alaa dan semua Muslim datang ke pantai dari tempat ini. Hadhrat Al-’Alaa dan segenap Muslim berjalan dari tempat itu hingga tiba di tepi laut. Hadhrat Al-’Alaa dan kawan kawan berdoa kepada Tuhan, “يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ  يا کَرِيمُ يَا حَلِيْمُ يا اَحَدُ يَا صَمَدُ يَاحَیُّ  يَا مُحْیِ الْمَوْتِ يا حَیُّ یَا قَيوْمُ  لَااِلٰه إلا اَنْتَ يارَبَّنَا ‘Yaa Arhamar Raahimiin! Yaa Kariimu! Yaa Haliimu! Yaa Ahadu! Yaa Shamadu! Yaa Hayyu! Yaa Muhyil maut! Yaa Hayyu! Yaa Qayyumu! Laa ilaaha illa Anta yaa Rabbaanaa.’ – “Wahai Yang Maha Penyayang di antara yang semua penyayang! Wahai Yang Maha Pemurah! Wahai Yang Maha Penyantun! Wahai Yang Maha Esa! Wahai Yang Maha Kaya! Wahai Yang Maha Hidup! Wahai Yang Menghidupkan yang selainnya! Wahai Yang menghidupkan yang mati! Wahai Yang menganugerahkan kehidupan dan Yang menghidupkan makhluk-makhluk lain, wahai Yang memelihara dan memelihara makhluk-makhluk lain. Tidak ada yang patut disembah selain Engkau, Tuhan kami.”

Namun, diriwayatkan bahwa Hadhrat Al-’Alaa meminta semua anggota laskar untuk menjalankan kuda mereka di laut sambil berdoa demikian. Kemudian segenap Muslim, mengikuti komando Hadhrat Al-’Alaa ibn Hadhrami, di belakang beliau dengan mengendarai kuda, keledai, unta dan bagal mereka dan mengendarainya di permukaan laut dan kemudian bagaimana Qudrat Tuhan, sehingga mereka dapat melintasi teluk tanpa kehilangan apapun. Rasanya tengah berjalan diatas pasir lembut yang ditaburi air sehingga kaki unta tidak tenggelam dan tidak ada satu pun kaum Muslimin yang hilang di laut. Bahkan, disebutkan [dalam riwayat] bahwa mereka [hanya] kehilangan satu tempat air minum kecil, yang kemudian ditemukan oleh Hadhrat Thalhah. Alhasil telah dijelaskan tentang perjalanan dari tepi pantai hingga sampai di Darin yang dapat ditempuh melalui perjalanan kapal laut selama 1 hari 1 malam. Namun, kafilah ini menempuh jarak tersebut dalam waktu kurang dari 1 hari. Sebagian hal ini telah dijelaskan seperti tertera di dalam Tarikh Ath-Thabari. [10]

Namun demikian, para penulis di masa ini pun menulis penjelasannya sebagai berikut (yakni terkait peristiwa penyeberangan lautan), “Mungkin saat itu tengah terjadi peristiwa pasang di teluk Persia atau mungkin riwayat-riwayat tersebut telah dilebih-lebihkan dan pada hakikatnya saat itu kaum Muslim mendapatkan perahu-perahu dari penduduk setempat yang kemudian mereka pergunakan untuk menyeberangi laut. Tetapi, gambaran ini [yang ditulis penulis modern diatas] secara rinci tidak didapatkan di dalam riwayat mana pun. Banyak yang menuliskan riwayat yang di dalamnya tertera bahwa mereka telah menyeberanginya, namun tidak diragukan lagi bahwa kaum Muslim saat itu pun tiba di Darin.”[11] Bagaimana mereka tiba, hanya Allah yang lebih mengetahui.

Selanjutnya tentang mukjizat-mukjizat, Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) di dalam tafsirnya beliau telah memberi satu tuntunan mendasar. Hadhrat Mushlih Mau’ud dalam menafsirkan kejadian terbelahnya lautan pada peristiwa hijrahnya Hadhrat Musa (as), beliau menjelaskan bahwa ini adalah peristiwa yang tertera di dalam Al-Quran Syarif. Beliau (ra) bersabda, “Menurut penjelasan Al-Quran Karim, peristiwa yang terjadi adalah sebagai berikut. Pada saat itu Bani Israil tengah pergi menuju Tanah Suci, tetapi laskar Firaun telah tiba di belakang mereka. Melihatnya, kaum Bani Israil pun menjadi gelisah. Mereka berpikir bahwa inilah waktunya mereka akan tertangkap. Namun, Allah Ta’ala menurunkan ketenangan kepada mereka melalui Hadhrat Musa dan berfirman kepada Hadhrat Musa, ‘Pukulkanlah tongkat engkau di lautan’, dan hasilnya adalah muncullah satu jalan di lautan yang darinya mereka bergerak maju.[12] Di kedua sisi mereka terdapat air laksana gunung padang pasir yakni tampak tinggi pada mereka. Laskar Firaun mengejar mereka, tetapi air kembali semula saat Bani Israil tiba dengan selamat, sementara pasukan mesir tenggelam.

Beliau menulis, “Untuk memahami peristiwa ini, hendaknya diingat bahwa menurut ajaran Al-Quran Karim, seluruh mukjizat adalah berasal dari Allah Ta’ala, dan di dalamnya tidak ada peran serta campur tangan manusia. Jadi, peristiwa Hadhrat Musa mengangkat tongkat dan memukulkannya di lautan hanyalah sebagai satu tanda, dan ini bukan berarti tongkat Hadhrat Musa memiliki peran dalam terbelahnya lautan itu.

Demikian pula, hal ini pun hendaknya diingat bahwa dari kata Al-Quran Karim sama sekali tidak terbukti bahwa saat itu lautan menjadi terbelah dua lalu Hadhrat Musa melewati dari antara kedua belah lautan itu. Akan tetapi, berkenaan degan peristiwa ini telah digunakan dua kata berbeda di dalam Al-Quran Karim yaitu فرَقنا dan انفلق [faraqnaa dan infalaqa] yang maknanya adalah ‘terpisah’. [13] Jadi, menurut kata-kata di dalam Al-Quran Karim, peristiwa yang terjadi sebenarnya secara rinci adalah pada waktu Bani Israil akan melewatinya, saat itu lautan telah terpisah, yang maksudnya air lautan menjadi surut sehingga terlihat daratan. Dengan perantaraan inilah kaum Bani Israil melewatinya dan hal inilah yang kerap terjadi di daerah pesisir pantai. Maka dari itu, dalam sejarah kehidupan Napoleon tertera bahwa tatkala ia menyerang Mesir, saat itu ia pun bersama sebagian pasukannya tengah melalui pesisir laut Merah di waktu surut dan saat mereka tengah melewatinya, tibalah waktu air laut pasang sehingga dengan susah payah mereka menghindarinya.

Mukjizat di dalam peristiwa ini yakni peristiwa Hadhrat Musa adalah Allah Ta’ala telah menjadikan kaum Bani Israil tiba di pesisir lautan pada saat surutnya permukaan air laut. Selanjutnya, ketika Hadhrat Musa mengangkat tangannya, saat itulah atas perintah Allah Ta’ala air laut pun mulai menyusut, tetapi tatkala laskar Firaun memasuki lautan, saat itu timbul hambatan-hambatan yang tidak biasa di jalan yang mereka lalui sehingga pasukan mereka hanya dapat mengejar Bani Israil dengan kecepatan yang sangat rendah dan mereka masih ada di lautan tatkala pasang air laut tiba dan musuh pun tenggelam.

Pasang surut air laut adalah peristiwa yang biasa terjadi, yaitu dalam satu waktu saja air laut dapat menjauh dari pesisir pantai, dan di waktu yang lain ia kembali mengisi daratan. Peristiwa terbelahnya lautan memiliki kaitan dengan keadaan pasang surut air laut ini. Hadhrat Musa (as) melewati lautan di waktu surut dimana permukaan air laut saat itu telah turun.

Setelah itu Firaun pun tiba. Karena mereka bergerak sekurang-kurangnya pada waktu 1 hari setelah Hadhrat Musa dalam keadaan kepayahan. Pada saat mereka baru tiba di lautan, saat itu Hadhrat Musa (as) telah melewati sebagian besar bagian kering lautan itu. Firaun yang telah melihat mereka melewatinya, dengan segera menggerakkan kereta kudanya, akan tetapi pasir lautan telah menjadi sedemikian basah sehingga menyulitkan pergerakan kereta kudanya sehingga ia pun terjebak di dalamnya dan memakan waktu lama sehingga pasang air laut pun tiba dan air mulai meninggi. Kini kedua pilihan menjadi sulit baginya. Ia tidak sanggup untuk maju maupun mundur. Pada akhirnya, air laut pun telah berada di tengah-tengah mereka dan ia pun tenggelam di lautan bersama banyak sekali teman-temannya. Karena saat itu adalah waktu air laut pasang, dan air laut bergerak maju ke pesisir pantai, maka air itu pun membawa jasad-jasad mereka hingga daratan.” [14]

Alhasil, tentang bagaimana kaum Muslim tiba di Darin, sebagaimana yang telah saya jelaskan, ada kemungkinan telah terjadi peristiwa pasang surut air laut seperti tersebut. Setiba di Darin, terjadi perang antara kaum Muslim dengan orang-orang murtad dan pemberontak. Pertempuran berlangsung sangat sengit dan semua mereka terbunuh. Artinya, para pemberontak telah tewas dan tidak tersisa seorang pun dari mereka sebagai pembawa berita. Kaum Muslim menjadikan para keluarga mereka baik perempuan dan laki-laki sebagai hamba sahaya dan mengambil alih harta mereka. Setiap prajurit berkuda dan infantri menerima 6.000 dan 2.000 dirham sebagai harta ghanimah. Waktu satu hari penuh telah dipergunakan kaum Muslim semenjak dari pesisir pantai hingga sampai di sana lalu berperang melawan mereka. Setelah usai dari perang, kaum Muslim pun kembali pulang.

Terkait peristiwa kesyahidan Hadhrat Tsumamah bin Utsal, tertera bahwa Hadhrat ‘Ala bin Hadhrami menggerakkan segenap pasukan Muslim untuk pulang kecuali beberapa orang yang memilih untuk tinggal di sana. Hadhrat Tsumamah bin Utsal pun termasuk diantara mereka yang pulang. Abdullah bin Hazf menuturkan, أَقْفَلَ الْعَلاءُ بْنُ الْحَضْرَمِيِّ النَّاسَ، فَرَجَعَ النَّاسُ إِلا مَنْ أَحَبَّ الْمُقَامِ، فَقَفَلْنَا وَقَفَلَ ثُمَامَةُ بْنُ أُثَالٍ، حَتَّى إِذَا كُنَّا عَلَى مَاءٍ لِبَنِي قَيْسِ بْنِ ثَعْلَبَةَ، فَرَأَوْا ثُمَامَةَ، وَرَأَوْا خَمِيصَةَ الْحَطمِ عَلَيْهِ فدَسُّوا لَهُ رَجُلا، وَقَالُوا: سَلْهُ كَيْفَ صَارَتْ لَهُ؟ وَعَنِ الْحطمِ: أَهُوَ قَتَلَهُ أَوْ غَيْرُهُ؟ فَأَتَاهُ، فَسَأَلَهُ عَنْهَا، فَقَالَ: نُفِّلْتُهَا قَالَ: أَأَنْتَ قَتَلْتَ الْحطمَ؟ قَالَ: لا، وَلَوَدِدْتُ أَنِّي كُنْتُ قَتَلْتُهُ، قَالَ: فَمَا بَالُ هَذِهِ الْخَمِيصَةِ مَعَكَ؟ قَالَ: أَلَمْ أُخْبِرْكَ! فَرَجَعَ إِلَيْهِمْ فَأَخْبَرَهُمْ، فَتَجَمَّعُوا لَهُ، ثُمَّ أَتَوْهُ، فَقَالَ: مَا لَكُمْ؟ قَالُوا: أَنْتَ قَاتِلُ الحطمَ؟ قَالَ: كَذَبْتُمْ، لَسْتُ بِقَاتِلِهِ وَلَكِنِّي نُفِّلْتُهَا، قَالُوا: هَلْ يُنَفَّلُ إِلا الْقَاتِلُ! قَالَ: إِنَّهَا لَمْ تَكُنْ عَلَيْهِ، إِنَّمَا وُجِدَتْ فِي رَحْلِهِ، قَالُوا: كَذَبْتَ فَأَصَابُوهُ أي قتلوه “Saat itu kami tengah bermukim di satu mata air milik Banu Qais bin Tsa’labah. Pandangan orang-orang lalu tertuju pada Hadhrat Tsumamah dan mereka melihat beliau mengenakan jubah milik Al-Hatham. Ini adalah jubah Al-Hatham yang diambil setelah kematiannya sebagai harta ghanimah (rampasan perang) lalu diberikan kepada Hadhrat Tsumamah. Mereka yakni orang-orang kabilah tersebut mengirim seseorang untuk bertanya kepada Hadhrat Tsumamah perihal dari manakah beliau mendapatkan jubah ini dan pertanyaan tentang Al-Hatham yaitu apakah beliau yang telah membunuhnya.” Al-Hatham adalah pemimpin mereka.

“Orang itu lalu datang dan bertanya kepada Hadhrat Tsumamah tentang jubah tersebut. Beliau menjawab, ‘Ini saya dapatkan sebagai harta ghanimah.’

Orang itu berkata, ‘Kamu telah membunuh Al-Hatham!’

Hadhrat Tsumamah menjawab, ‘Tidak, meski saya memang memiliki keinginan untuk membunuhnya.’

Orang itu berkata, ‘Dari manakah jubah ini datang padamu?’

Hadhrat Tsumamah berkata, ‘Saya telah menjawabnya kepadamu bahwa ini saya dapatkan sebagai harta ghanimah.’

Maka orang-orang kabilah itu kembali dan menceritakan semua percakapan tersebut kepada teman-temannya. Mereka semua lalu mendatangi Hadhrat Tsumamah dan mengepung beliau. Mereka berkata bahwa beliau adalah pembunuh Al-Hatham.

Hadhrat Tsumamah berkata, ‘Kalian salah. Saya tidak membunuhnya. Adapun jubah ini adalah bagian yang saya terima dari harta ganimah.’

Mereka berkata, ‘Bagian itu hanya bisa didapatkan oleh pembunuhnya.’

Hadhrat Tsumamah berkata, ‘Saat itu jubah ini tidak ada di tubuhnya, tetapi ada di tunggangan dan barang miliknya.’ Orang-orang itu berkata, ‘Kamu berdusta’, lalu mereka mensyahidkan beliau.”[15]

Mengenai ekspedisi kesepuluh, tertera bahwa ini adalah pergerakan di bawah Hadhrat Suwaid bin Muqarrin untuk menghadapi orang-orang murtad dan pemberontak. Hadhrat Abu Bakr (ra) menyerahkan satu bendera kepada Hadhrat Suwaid bin Muqarrin dan memerintahkannya untuk pergi ke Tihamah di wilayah Yaman.[16]

Di dalam Lughat (kamus bahasa) arti Tihamah (تهامة) ialah sangat panas atau udara yang tidak berhembus. Di dalam kamus pun salah satu maknanya adalah dataran rendah.[17]

Di arah barat dan selatan Yaman, yaitu di pesisir Laut Merah, terdapat suatu daerah yang meliputi dataran rendah yang dinamakan Tihamah. Banyak dataran rendah di daerah tersebut. Meski demikian, terdapat juga gugusan pegunungan di sana. Batas wilayah utara Tihamah berada sampai dekat dengan Makkah, dan [gugusan pegunungan] ini membentang hingga 350 mil dan berakhir di daerah selatan Yaman yaitu di ibukota San’a. Tihamah adalah satu bagian wilayah di Yaman yang di dalamnya terdapat banyak sekali desa dan permukiman.[18] Ini adalah sekilas tentang Tihamah.

Mengenai Hadhrat Suwaid bin Muqarrin (سُوَيْدُ بْنُ مُقَرِّنِ بْنِ عَائِذِ بْنِ مَنْجَا بْنِ نَصْرِ بْنِ كَعْبٍ الْمُزَنِيُّ أَخُو النُّعْمَانِ), ayah Hadhrat Suwaid bernama Muqarrin bin ‘Aa-idz. Ia berasal dari Kabilah Muzainah. Sebutan beliau adalah Abu ‘Adi. Abu ‘Amr pun merupakan salah satu sebutan beliau. Beliau memeluk Islam pada tahun 5 Hijriah. Beliau ikut serta bersama Rasulullah (saw) di Perang Khandaq. Setelah itu, beliau senantiasa ikut bersama Rasulullah (saw) di seluruh pertempuran. Beliau adalah saudara Hadhrat Nu’man bin Muqarrin, yang telah mempersembahkan jasa yang luar biasa pada berbagai kemenangan dalam penaklukan Persia.[19]

Di dalam buku-buku sejarah, tidak tertera rincian mengenai kepergian Hadhrat Suwaid ke Tihamah dan upaya yang beliau lakukan di sana dalam menghadapi kaum murtad. Meski demikian, di dalam buku-buku sejarah dijelaskan tentang bagaimana kemurtadan dan pemberontakan penduduk Tihamah yaitu: Pada Tahun 10 Hijriah setelah Hujjatul Wida, Nabi yang mulia (saw) mengangkat para ‘Aamil (pengumpul zakat) di Yaman. Saat itu Rasulullah (saw) membagi Yaman menjadi 7 bagian. Untuk Tihamah, beliau (saw) mengangkat Tahir bin Abu Halah sebagai Amil. Di Tihamah, selain golongan Arab awam, saat itu terdapat juga dua kabilah utama. Pertama, Kabilah Ak lalu Kabilah Asy’ar.[20]

Terkait:   Riwayat Abu Bakr Ash-Shiddiiq Ra (Seri 13)

Di dalam Tarikh Ath-Thabari tertera: Pertama, Hadhrat ‘Attab bin Usaid dan Hadhrat ‘Utsman bin Abul ‘Ash menulis kepada Hadhrat Abu Bakr bahwa orang-orang murtad di wilayah mereka telah menyerang kaum Muslim. Orang-orang tersebut tidak hanya telah murtad, tetapi sebagaimana telah saya jelaskan, orang-orang itu pun telah kerap menyerang kaum Muslim dan seperti itulah keadaan di tempat ini.

Maka dari itu, Hadhrat ‘Attab bin Usaid mengutus saudaranya yaitu Hadhrat Khalid bin Usaid untuk menanggulangi warga Tihamah. Satu golongan besar Banu Mudlij, dan berbagai kelompok dari Banu Khuza’ah (خُزَاعہ) dan Kinanah (کِنَانَہ), keluarga besar Banu Mudlij (بنومُدْلِج) dan Banu Syanuq (بنو شَنُوق), mereka semua telah murtad dan bersatu di bawah pimpinan Jundub bin Salma (جُنْدُبْ بن سُلْمٰی). Kemudian terjadi pertempuran antara kedua pasukan, dan Hadhrat Khalid bin Usaid mampu mengalahkan dan mencerai-beraikan mereka serta banyak musuh yang terbunuh dan yang paling banyak terbunuh adalah orang-orang dari Banu Syunub. Setelah peristiwa ini, jumlah mereka menjadi sangat sedikit. Peristiwa ini telah menjadikan wilayah Hadhrat ‘Attab ini bersih dan suci dari fitnah kemurtadan, dan Jundub pun melarikan diri. Beberapa masa kemudian ia kembali menerima Islam. [21]

Di dalam satu riwayat tertera bahwa setelah kewafatan Nabi yang mulia (saw), kabilah al-Akk dan al-Asy’ar-lah yang paling banyak melakukan pemberontakan di wilayah Tihamah. Rinciannya sebagai berikut: tatkala berita kewafatan Nabi yang mulia (saw) sampai pada mereka, berkumpullah beberapa orang diantara mereka dan beberapa orang Kabilah Khazam pun bergabung dengan mereka. Mereka berkemah di pesisir pantai di tempat bernama A’lab. Mereka bertemu satu pasukan yang saat itu tidak memiliki pemimpin. A’lab adalah daerah Kabilah Ak yang terletak diantara pesisir dan Makkah.

Hadhrat Tahir bin Abu Halah (الطاهر بن أبي هالة) memberitakan hal ini kepada Hadhrat Abu Bakr, dan ia sendiri pergi bergerak untuk mengatasi mereka. Ia pun menuliskan kepada Hadhrat Abu Bakr perihal keberangkatannya. Bersama Hadhrat Tahir terdapat Masruq al-Akki dan di dalam Kabilah Ak terdapat beberapa orang yang tidak murtad; hingga mereka pun bertemu dengan [pasukan musuh] di A’lab. Setelah terjadi pertempuran sengit dengan mereka di sana, Allah Ta’ala lantas memberi kekalahan kepada segenap musuh. Pasukan Muslim telah banyak sekali menghabisi mereka hingga bau mereka yang terbunuh pun tersebar di sepanjang jalan, dan kaum Muslim pun meraih kemenangan yang luar biasa.

Dalam menyebutkan tentang kejadian-kejadian kemurtadan di Tihamah, seorang penulis menyampaikan bahwa yang paling terdepan dalam menanggulangi kemurtadan di Tihamah adalah Tahir bin Abi Halah, yang mana beliau merupakan Wali yang diangkat oleh Rasulullah (saw) untuk wilayah Tihamah, yang merupakan negeri bagi kabilah al-Akk dan al-Asy’ari.

Kemudian Hadhrat Abu Bakr memberi perintah kepada Ukasyah bin Tsaur supaya mereka tinggal di Tihamah dan mengumpulkan segenap penduduk di sana lalu menunggu perintah Hadhrat Abu Bakr selanjutnya. Di masa kewafatan Nabi yang mulia (saw), Hadhrat Ukkasyah diangkat sebagai ‘Amil untuk dua wilayah di Hadramaut yaitu Sakasik (السكاسك) dan Sakun (السكون).

Sementara itu, untuk kabilah Bajilah, Hadhrat Abu Bakr mengirim Jarir bin Abdullah al-Bajali (جرير بن عبد الله البجلي) agar kembali ke sana dan memerintahkan kepadanya untuk membawa kaum Muslim sukunya yang tetap teguh dalam keimanan supaya bersama-sama memerangi mereka yang telah murtad dari Islam. Ia juga diperintahkan untuk pergi ke kabilah Khasy’am (خَثْعَم) dan memerangi orang-orang murtad di sana. Hadhrat Jarir pun bergerak menuju ekspedisi yang diamanatkan kepadanya dan ia pun menjalankan apa yang telah diperintahkan oleh Hadhrat Ash-Shiddiq Akbar [Abu Bakr] (ra). Hanya segelintir orang yang keluar untuk menghadapi beliau. Beliau lalu bertempur melawan mereka dan mencerai-beraikan mereka.[22]

Ini adalah tentang ekspedisi-ekspedisi [Muslim], dan Insya Allah, mengenai ekspedisi ke-11 akan disampaikan kemudian.

Sekarang saya ingin menyampaikan riwayat beberapa almarhum. Di antaranya adalah dua pemuda kita yang berasal dari Burkina Faso. Pada sore hari tanggal 11 Juni para teroris melakukan serangan di sebuah kampung di Daerah Dori dan menewaskan banyak orang. Dua khadim kita yang sedang bekerja di toko mereka juga syahid dalam peristiwa tersebut. Terjadi penembakkan dan mereka syahid di tempat. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun.

Salah satu di antaranya bernama Dicku Zakariya. Beliau berusia 32 tahun. Beliau mendapatkan taufik berkhidmat sebagai Qaid Wilayah Khuddamul Ahmadiyah di Dori. Beliau juga pergi ke Madrasatul Hifz Ghana untuk menghafal Al-Qur’an. Setelah menyelesaikan hafalannya beliau pulang kembali. Beliau selalu hadir untuk tugas-tugas Jemaat. Beliau mengucapkan labbaik (siap) terhadap setiap tugas dan mendedikasikan dirinya. Beliau disiplin dalam shalat lima waktu. Beliau juga dawam melaksanakan shalat tahajjud dan nafal-nafal. Beliau juga dawam dalam membayar candah. Jika ada pemasukkan lain selain pendapatan bulanan, beliau segera membayarkan candahnya. Beliau memiliki kecintaan yang sejati terhadap Jemaat dan Khilafat. Beliau menyimak Khutbah Jumat secara rutin. Beliau biasa menyaksikan program-program lainnya di MTA dengan penuh antusias.

Mubaligh Lokal di sana menulis bahwa pada pertemuan terakhirnya dengan beliau, almarhum mengungkapkan keinginan yang kuat untuk dapat berjumpa dengan Khalifah. Pak Mu’allim menulis bahwa beliau adalah sosok Khadim teladan. Beliau meninggalkan seorang istri, dua putri dan satu putra.

Syahid yang kedua adalah Bpk. Dicku Mussa (ڈیکو موسیٰ). Beliau berusia 34 tahun. Saat itu beliau adalah Qaid Majlis Khuddamul Ahmadiyah di Seytenga. Beliau menjadi yang terdepan berpartisipasi dalam setiap program-program Jemaat. Beliau juga berupaya mengajak orang lain. Beliau dawam dalam shalat dan candah. Di Jemaat beliau tidak ada masjid lalu beliau berupaya secara lokal untuk membuat sebuah surau dan melaksanakan shalat secara rutin di sana. Beliau juga menulis surat secara rutin kepada saya. Jika ada tamu dari pusat yang melakukan kunjungan, beliau biasa menjamu mereka.

Beliau meninggalkan dua istri dan tiga putri. Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan maghfiroh dan rahmat-Nya kepada beliau dan meninggikan derajat beliau.

Amir Jemaat di sana menulis berkenaan dengan kedua syuhada, “Kedua Khuddam ini adalah saudara dari Mubaligh Lokal kita, Dicku Amadou Bourema Sahib yang saat ini menjadi In Charge (kepala) Radio Ahmadiyah Dori. Ahmadiyah masuk ke dalam keluarga mereka melalui ayahanda mereka, Ibrahim Bonti Sahib. Beliau adalah seorang Da’i Ilallah yang sangat mukhlis dan penuh semangat. Beliau juga pernah menjabat sebagai Zaim Anshorullah Wilayah Dori. Beliau telah wafat pada 2011.”

Kemudian Bpk. Amir juga menulis permohonan doa bahwa sejak tahun 2015, Burkina Faso telah menjadi lokasi serangan teroris dan ada banyak kehancuran terjadi di bagian utara negara tersebut. Lebih dari dua juta orang telah mengungsi.

Semoga Allah menciptakan kondisi perdamaian bagi mereka. Kondisi ekonomi dan politik dunia yang terjadi sekarang meningkatkan peluang terorisme. Semoga Allah Ta’ala merahmati umat manusia dan memberi mereka kebijaksanaan.

Jenazah kedua adalah Muhammad Yusuf Baloch Sahib ibnu (putra) Noor Khan Sahib Basti Sadiqpur dari Umarpur District Sindh. Beliau juga wafat beberapa hari yang lalu. إنا لله وإنا إليه راجعون Innaa lillahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Pada awalnya beliau adalah penduduk Baluchistan, berasal dari Dera Ghazi Khan. Beliau lahir di sana. Ahmadiyah masuk ke dalam keluarga beliau pada tahun 1934 melalui Hadhrat Maulana Ghulam Rasul Rajiki Sahib (ra).

Setelah pendirian Pakistan, mereka bermigrasi ke tanah milik Tahrik Jadid di Sadiqpur Umerkot. Beliau juga tinggal di Rabwah selama sekitar enam tahun dan menjabat sebagai khadim masjid di kelompoknya. Dengan karunia Allah Ta’ala, beliau seorang mushi.

Beliau meninggalkan istri, tujuh putra dan empat putri. Salah satu putra beliau, Shabbir Ahmad Sahib adalah seorang muballigh yang saat ini bertugas di Pantai Gading dan tidak dapat menghadiri pemakaman ayahnya karena berada di lapangan. Dua orang cucu almarhum juga merupakan muballigh.

Putra beliau, Shabbir Sahib menulis, “Beliau memiliki banyak keutamaan. Kami sejak kecil melihat beliau disiplin dalam melaksanakan shalat tahajud. Beliau biasa menilawatkan Al-Qur’an dengan suara keras setelah Subuh setiap hari. Beliau sangat mencintai Khilafat.” Shabbir Sahib menuturkan, “Setiap kali saya pulang, beliau memanggil saya dan mengatakan, ‘Selalu ingatlah dua perkataan saya, yaitu hendaknya selalu setia kepada Khilafat dan tunaikanlah hak waqaf.’”

Shabbir Sahib menuturkan, “Almarhum seorang yang sangat mengkhidmati tamu. Ketika berjalan-jalan, beliau biasa mengundang orang-orang datang ke rumah beliau. Banyak orang non-Ahmadi dan Hindu juga datang untuk berbela sungkawa dan mengenang beliau dengan kata-kata yang sangat baik dan juga menyatakan, ‘Ayah kami telah meninggal’, karena beliau sering membantu orang miskin.”

Jenazah ketiga yang adalah saudari Mubarizah Farooq, seorang Waqifah Nou yang merupakan putri Farooq Ahmad Sahib. Beliau juga meninggal baru-baru ini. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Ketika beliau berusia sebelas tahun, beliau memegang kabel listrik bertegangan tinggi, yang menyebabkannya lumpuh dan kedua lengannya harus diamputasi. Tetapi bahkan dalam kondisi seperti itu pun beliau tidak patah semangat. Beliau tetap melanjutkan pendidikannya. Pertama beliau berlatih menulis dengan pena di mulutnya. Kemudian beliau berlatih menulis dengan pena pada kedua sikutnya dan dalam beberapa bulan dengan cara ini beliau mulai dapat menulis dengan tulisan yang sangat bagus. Beliau juga melanjutkan pendidikannya.

Beberapa waktu kemudian keluarganya pindah ke Rabwah. Beliau juga melanjutkan pendidikannya di sini. Beliau lulus BA pada 2013 dengan nilai yang bagis. Beliau juga meraih gelar MA dalam bahasa Arab dari Ta’limul Islam College. Beliau juga berkhidmat di Tahir Heart Institute untuk beberapa lama sebagai Waqf-e-nou. Beliau mempelajari Al-Qur’an dengan pengucapan yang benar dan terjemahan tiap kata dan selalu mendapat nilai 100. Beliau juga mengikuti kelas terjemahan Al-Qur’an di kelompok.

Selain kedua orang tua, beliau meninggalkan dua saudara laki-laki dan dua saudara perempuan. Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan maghfiroh dan rahmat-Nya dan memberikan kesabaran dan ketabahan kepada kedua orang tuanya.

Jenazah berikutnya adalah yang terhormat Bpk. Aanzomana Wattara (آنزومانا واترا), seorang Mu’allim di Pantai Gading. Beliau berasal dari daerah Masadago. Beliau juga wafat beberapa hari yang lalu. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Missionary In Charge di sana menulis bahwa almarhum adalah sosok yang sederhana, disiplin dalam shalat dan puasa, rendah hati, rajin berdoa dan saleh. Beliau rajin melaksanakan ibadah-ibadah nafal dan melaksanakan puasa nafal senin-kamis dengan dawam. Beliau banyak mendapatkan pengabulan doa. Beliau sangat mencintai Khilafat. Beliau seorang mubaligh yang terbaik.

Pada 1997 beliau menerima Ahmadiyah melalui mimpi. Beliau melihat dalam mimpi bahwa ada seseorang berada di hutan dan dari sana ia pergi ke satu tempat bernama Desa Nasian. Ia membuat jalan untuk pergi ke sana dengan sebuah pedang seraya membaca kalimat toyyibah dengan suara keras. Beliau menuturkan, “Setelah melihat mimpi tersebut, suatu hari saya mengetahui seorang Muballigh Jemaat, Umar Mu’adz Sahib datang ke Nasian untuk bertabligh. Saya lalu pergi ke sana dan berbaiat setelah mendengarkan pesan Jemaat. Ini adalah pesan yang untuk menerimanya Allah Ta’ala telah memberitahukan kepada saya melalui mimpi. Saya harus berusaha untuk pergi ke kampung tersebut, di mana saya akan menemukan agama.” Singkatnya, beberapa lama setelah menerima Ahmadiyah, beliau mewaqafkan diri secara resmi sebagai Mu’allim Jemaat dan memulai pengkhidmatan pada Jemaat.

Ketika pada 2002 perang saudara pecah di negara tersebut, markaz tidak dapat menjalin kontak dengan tempat beliau bertugas. Pak Mu’allim tetap menjalin kontak dengan desa-desa dan Jemaat-Jemaat sekitar dan dalam segala kondisi tetap melanjutkan tugas ta’lim dan tarbiyat bagi para anggota Jemaat dan tetap berkomunikasi dengan pusat. Demikian juga beliau membangun masjid di lingkungan rumah beliau dan dari sana beliau melaksanakan tugas ta’lim dan tarbiyat bagi para anggota Jemaat. Demikian juga beliau secara rutin mengikuti setiap program Jemaat di tingkat nasional dengan sebelumnya menempuh perjalanan yang jauh.

Pada 1998 beliau mendapatkan kesempatan untuk hadir dalam Jalsah Salanah UK. Beliau mendapat kehormatan berjumpa dengan Hadhrat Khalifatul Masih IV (rh) dan bermulaqat dengan Hudhur (rh) pada program berbahasa Prancis di MTA [The French Mulaqat]. Beliau mendapatkan kesempatan untuk hadir di dalamnya dan beliau sangat senang dengan mulaqat tersebut dan seringkali menceritakan kepada orang-orang bahwa, “Mulaqat ini adalah bagian yang sangat indah dari kehidupan saya. Saya tidak bisa menggambarkannya.”

Ketika saya (Hudhur) melakukan kunjungan ke Burkina Faso pada 2004, beliau bertemu dengan saya dan mengatakan, “Saya bisa bertemu dengan Hudhur dalam hidup ini karena saya mendapatkan satu kehidupan baru. Dan dikarenakan kunjungan Hudhur ini Allah Ta’ala telah menurunkan karunia-Nya kepada saya dan saya mendapatkan keberkatan ini.”

Beliau menceritakan, “Dua bulan lalu saya sakit parah, hingga para anggota keluarga beranggapan bahwa mungkin ini adalah saat terakhir saya.”

Beliau menuturkan bahwa beliau melihat dalam mimpi, saya (Hudhur) mengusap kepada beliau. Beliau mengatakan, “Dalam mimpi itu juga saya merasakan bahwa seluruh penyakit telah meninggalkan tubuh saya. Ketika saya bangun, penyakit benar-benar telah meninggalkan tubuh saya dan saya telah sehat.” Bagaimanapun, ketika saya melakukan kunjungan ke sana, beliau mengatakan, “Sekarang mohon sempurnakanlah secara nyata apa yang saya lihat dalam mimpi.” Beliau lalu menyodorkan kepalanya untuk diusap dan beliau sangat senang.

Beliau memiliki jalinan kesetiaan yang sempurna dengan Khilafat dan menyampaikan kepada orang-orang bahwa, “Kehidupan yang saya dapatkan ini adalah berkat saya mengkhidmati agama dan sekarang saya akan melewati hidup saya dalam tugas ini”, dan beliau telah menunaikan janjinya tersebut.

Beliau mencapai usia 94 tahun dan hingga akhir hayatnya beliau masih aktif dan sehat. Meskipun sudah berusia lanjut, beliau sering mengunjungi Jemaat-jemaat terdekat. Beliau juga bertemu saya untuk kedua kalinya pada tahun 2008. Ketika saya pergi ke Ghana, beliau datang ke sana dan hadir dalam Jalsah Jubilee di Ghana. Beliau sangat senang.

Muballigh Bandoko Syahid Sahib menuturkan, “beliau memiliki jalinan kecintaan yang kuat dengan para muballigh Pakistani. Beliau menunjukkan kerendahan hati ketika bertemu dengan mereka. Beliau bersikap sangat hormat dan selalu menjadi yang terdepan dalam pengorbanan harta. Beliau membayar candah secara dawam.” Beliau menuturkan, “Ketika saya berkunjung ke kampung beliau pada akhir Januari tahun ini, Pak Mu’allim menyampaikan kepada saya bahwa beliau akan pergi tahun ini. Saya bertanya apakah anda akan melakukan perjalanan ke suatu tempat? Beliau menjawab, “Tidak, saya akan meninggalkan dunia ini karena saya sangat bahagia tahun ini.” Kemudian beliau mengatakan, “Saya bekerja untuk Allah Ta’ala sepanjang hidup saya dan sekarang saya yakin kepada Allah Ta’ala bahwa saya akan pergi kepada-Nya untuk mendapatkan gaji saya.”

Seminggu sebelum kewafatannya, beliau memberi tahu keluarga bahwa, “Saya memiliki kontrak satu minggu lagi dengan Allah Ta’ala.” Jumat berikutnya, seminggu kemudian, di pagi hari beliau bangun seperti biasa, berwudhu untuk shalat tahajud dan baru saja selesai berwudhu. Setelah selesai berwudhu, di tempat itu lah beliau bertemu dengan Sang Khaliq-nya yang hakiki. Beliau merasa pusing lalu terjatuh di sana. Jadi, terdapat orang-orang yang tinggal di daerah terpencil yang penuh ketulusan, keikhlasan dan kesetiaan yang telah dianugerahkan Allah Ta’ala kepada Hadhrat Masih Mau’ud (as), yang menyebarkan pesan Islam di dunia. Semoga Allah Ta’ala senantiasa menganugerahkan para pengkhidmat yang tanpa pamrih seperti ini kepada Jemaat ini.

Beliau meninggalkan 5 putra dan 6 putri. Dengan karunia Allah Ta’ala semuanya teguh di dalam Jemaat. Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan kepada mereka ketabahan dan mereka menjadi orang-orang yang mengikuti jejak langkah ayah mereka. Setelah shalat Jumat saya akan memimpin shalat jenazah gaib mereka semua.[23]

Khotbah II

الْحَمْدُ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا – مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ – وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ – عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ – أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُاللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Keteladanan Para Sahabat Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam (Manusia-Manusia Istimewa seri 158, Khulafa’ur Rasyidin Seri 04, Hadhrat ‘Abdullah Abu Bakr ibn ‘Utsman Abu Quhafah, radhiyAllahu ta’ala ‘anhu, Seri 24)

Hudhur ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz menguraikan sifat-sifat terpuji Khalifah (Pemimpin Penerus) bermartabat luhur dan Rasyid (lurus) dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, Hadhrat Abu Bakr ibn Abu Quhafah, radhiyAllahu ta’ala ‘anhu.

Uraian rinci mengenai kemenangan-kemenangan pasukan Muslim dalam berbagai tugas peperangan di masa Khilafat Hadhrat Abu Bakr ash-Shiddiq (ra) yang telah menugaskan 11 (sebelas) Amir (Komandan) perang beserta ekspedisi perjalanan menuju wilayah tugas yang tengah bergejolak penentangan, pemberontakan dan kemurtadan. Selesainya pembahasan pertama hingga ke-8 ekspedisi militer utusan Hadhrat Abu Bakr (ra) dalam menghadapi kaum Murtadin dan penentang yang melakukan pemberontakan. Rincian bahasan kemenangan pasukan Muslim di wilayah Bahrain dan Yaman.

Pembahasan berdasarkan rujukan Kitab-Kitab Sejarah di kalangan umat Islam abad-abad pertama yaitu Tarikh ath-Thabari dan modern (abad 20) yaitu sejarawan Muhammad Husain Haikal.

Lanjutan pembahasan khotbah lalu mengenai ekspedisi pasukan kesembilan (ke-9) pimpinan Hadhrat Al-’Alaa ibn al-Hadhrami (ra). Lanjutan pembahasan ekspedisi ke Bahrain. Kaum pemberontak di bawah pimpinan Al-Hatham. Perang berlangsung satu bulan hingga kaum Muslim meraih kemenangan saat menyerang prajurit musuh yang tengah berpesta pora dengan mabuk. Pidato memotivasi Hadhrat Al-’Alaa ibn al-Hadhrami (ra).

Pertempuran antara Hadhrat Al-’Alaa ibn al-Hadhrami (ra) bersama pasukannya melawan kaum penentang di Darin. Mukjizat menyeberangi lautan ke sebuah pulau bernama Darin yang biasa dijangkau dengan kapal.

Hadhrat Al-’Alaa ibn al-Hadhrami (ra) menjadi Amir di wilayah Hajar dan sekitarnya.

Perjalanan menakjubkan Hadhrat Al-’Alaa ibn al-Hadhrami (ra) bersama pasukannya melewati laut.

Kutipan penjelasan Hadhrat Khalifatul Masih ke-2 (ra) mengenai mukjizat Nabi Musa yang membuat tanda tongkatnya dimasukkan ke air laut menjelang air laut di pantai itu surut sehingga kaum beliau dapat melewati daratan setelahnya. Tafsir kata beberapa ayat al-Qur’an yang menyebutkan peristiwa itu.

Pensyahidan Hadhrat Tsumamah bin Utsal (ra) oleh kalangan anak buah pimpinan kaum Murtadin.

Pembahasan ekspedisi militer ke-10 ke Tayhamah di bawah pimpinan Hadhrat Suwaid ibn al-Muqarrin (ra).

Hudhur (atba) akan terus menyebutkan lebih lanjut berbagai kejadian dalam masa Hadhrat Abu Bakr radhiyAllahu ta’ala ‘anhu di khotbah-khotbah mendatang.

Informasi kewafatan dan shalat Jenazah atas Bpk. Dicku Mussa, Ahmadi yang syahid di Burkina Faso; [2] yang terhormat Bpk. Muhammad Dicku Zakariya yang juga syahid; [3] Yth. Bpk. Muhammad Yusuf Baloch dari Umarkot (Pakistan); [4] Yth. Nn. ‘Azizah Mubarizah Faruk dan [5] Yth. Bpk. Aanzumana Wattara.

Khotbah Jumat Sayyidina Amirul Mu-minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 01 Juli 2022 (Wafa 1401 Hijriyah Syamsiyah/ Dzulhijjah 1443 Hijriyah Qamariyah) di Masjid Mubarak, Islamabad, Tilford, UK (United Kingdom of Britain/Britania Raya).

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم

[بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم* الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يوْم الدِّين * إيَّاكَ نعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ]

(آمين)

Telah saya sampaikan mengenai ekspedisi untuk menghadapi orang-orang Murtad dan pemberontak pada masa Hadhrat Abu Bakr Ash-Shiddiq. Ekspedisi kesembilan dalam hal ini adalah Bahrain. Dalam hal ini, rincian lebih lanjut disampaikan tentang penyerangan yang dilakukan oleh Hadhrat Al-’Alaa bin Hadhrami menghadapi pasukan Al-Hatham [pimpinan pemberontak].

Tertulis dalam riwayat bahwa Al-’Alaa mengirim perintah kepada Hadhrat Al-Jaaruud  (الْجَارُودُ بْنُ الْمُعَلَّى الْعَبْدِيُّ) untuk mengajak suku Abdul Qais (عَبْدِ الْقَيْسِ) dan berkemah di daerah yang berdekatan dengan Hajar untuk menghadapi al-Hatham (الْحَطمِ) dan Hadhrat Al-’Alaa datang ke daerah ini dengan pasukannya untuk melawan Al-Hatham.

Semua orang Musyrik kecuali penduduk Darin (دَارِينَ) berkumpul di dekat Al-Hatham. Demikian pula segenap Muslim berkumpul di sekitar Hadhrat Al-’Alaa bin Hadhrami. Kedua belah pihak menggali parit di depan mereka. Mereka akan melintasi parit mereka setiap hari untuk menyerang musuh dan mundur ke belakang parit setelah pertempuran. Ini adalah keadaan perang selama sebulan.

Sementara itu, pada suatu malam kaum Muslim mendengar suara keras dari perkemahan musuh. Hadhrat Al-’Alaa mengatakan, “Adakah seseorang yang membawa kabar tentang kondisi musuh yang sebenarnya?”

Hadhrat Abdullah bin Hadzf (عبد الله بن حذفٍ) berkata, “Saya akan pergi untuk tugas ini.” Setelah memeriksanya, beliau kembali dan memberitahukan, “Musuh kita tengah mabuk dan kemabukan itulah yang mendatangkan malapetaka. Semua kebisingan ini adalah dari tempat musuh tersebut.”

Mendengar hal ini, pasukan Muslim segera menyerang musuh dan menerobos perkemahan mereka lalu membunuh mereka tanpa ampun. Musuh berlari ke parit mereka. Banyak yang jatuh dan mati, banyak juga yang selamat, banyak yang ketakutan, ada juga yang terbunuh atau tertangkap. Pasukan Muslim mengambil alih segala sesuatu di perkemahan mereka dan yang berhasil kabur hanya bisa membawa serta apa yang ada di tubuhnya, namun Abjar (أَبْجَر) lolos.

Ketakutan dan teror yang melanda Al-Hatham membuatnya seolah-olah tidak ada nyawa di tubuhnya. Dia berlari menuju kudanya sementara kaum Muslim berada di tengah-tengah kaum Musyrik. Dalam keputus-asaannya, Al-Hatham sendiri melarikan diri dari kaum Muslim dan mulai menunggangi kudanya. Begitu dia meletakkan kakinya di sanggurdi, sanggurdi itu patah lalu Hadhrat Qais bin Asim (قَيْسُ بْنُ عَاصِمٍ) mengirimnya ke neraka. Setelah menguasai semua tempat tinggal orang-orang musyrik, kaum Muslim keluar dari parit mereka dan mengejar mereka. Hadhrat Qais bin Asim mendekati Abjar tapi kuda Abjar lebih kuat dari kuda Hadhrat Qais. Beliau khawatir bila Abjar akan lepas dari genggamannya. Beliau lalu memukul punggung kuda Abjar dengan tombak yang membuat kuda itu terluka. Namun, tertulis dalam riwayat bahwa Abjar melarikan diri dan dia tidak dapat ditangkap.[24]

Menurut satu riwayat, Hadhrat Qais bin Asim memukul kepala Abjar hingga robek. Setelah itu, Hadhrat Qais memukulnya lagi hingga berdarah-darah.[25]

Di pagi hari, Al-’Alaa membagikan harta rampasan perang di antara para Mujahidin dan juga memberikan pakaian berharga kepada orang-orang yang telah menunjukkan keberanian khusus dalam perang. Diantaranya adalah pakaian yang diberikan kepada Hadhrat Afif bin Mundzir (عَفِيفُ بْنُ الْمُنْذِرِ), Hadhrat Qais bin Asim (قَيْسُ بْنُ عَاصِمٍ) dan Hadhrat Tsumamah bin Utsal (ثُمَامَةُ بْنُ أُثَالٍ). Di antara pakaian yang diberikan kepada Hadhrat Tsumamah adalah jubah Al-Hatham berwarna hitam yang sangat berharga yang selalu dikenakannya dengan penuh rasa bangga.[26]

Keberhasilan misi tersebut dilaporkan kepada Hadhrat Abu Bakr. Hadhrat Al-’Alaa memberitahu Hadhrat Abu Bakr tentang kekalahan pasukan parit dan pembunuhan Al-Hatham yang dilakukan oleh Zaid dan Mu’amar di salah satu suratnya dan menulis lewat surat yang di dalamnya sebagai berikut,
“أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ اللهَ تَبَارَكَ اسْمُهُ سَلَبَ عَدُوَّنَا عُقُولَهُمْ، وَأَذْهَبَ رِيحَهُمْ بِشَرَابٍ أَصَابُوهُ مِنَ النَّهَارِ، فَاقْتَحَمْنَا عَلَيْهِمْ خَنْدَقَهُمْ، فَوَجَدْنَاهُمْ سُكَارَى، فَقَتَلْنَاهُمْ إِلا الشَّرِيدَ، وَقَدْ قَتَلَ اللهُ الْحطمَ”. Amma Ba’du! Allah Tabaaraka wa Ta’ala mencabut pikiran musuh kita. Energi mereka (musuh) telah terkuras oleh minuman keras yang mereka minum di siang hari. Kami menyeberangi parit dan menyergap mereka, kami mendapati mereka dalam keadaan mabuk. Kami membunuh semuanya kecuali beberapa. Allah juga telah menuntaskan Al-Hatham.”[27]

Hajar dan sekitarnya dikuasai oleh Hadhrat Al-’Alaa, tetapi banyak orang Persia lokal tetap menentang pemerintah baru. Mereka sering menyebarkan berita dan menimbulkan kepanikan di kalangan orang-orang bahwa pemerintah Madinah akan digulingkan di Hajar. Mafruq asy-Syaibani (مفروق الشيباني) pergi dengan membawa serta kaumnya, kalangan Taghlab (التغلب) dan Nimr (النمر).

Ketika Hadhrat Abu Bakr (ra) mengetahui hal ini, beliau menulis surat kepada Al-’Alaa, “أَمَّا بَعْدُ، فَإِنْ بَلَغَكَ عَنْ بَنِي شَيْبَانَ بْنِ ثَعْلَبَةَ تَمَامٌ عَلَى مَا بَلَغَكَ، وَخَاضَ فِيهِ الْمُرْجِفُونَ، فَابْعَثْ إِلَيْهِمْ جُنْدًا فَأَوْطِئْهُمْ وَشَرِّدْ بِهِمْ مِنْ خَلْفِهِمْ فَلَمْ يَجْتَمِعُوا” “Jika penyelidikan mengungkapkan benar mengenai kelompok Bani Syaiban bin Tsa’labah – yang pemimpinnya adalah Mafruq bahwa mereka akan menyerang Anda – sedangkan kelompok garis keras tengah menyebarkan berita ini maka kirimlah pasukan untuk mengatasi mereka. Hancurkanlah mereka dan ciptakanlah ketakutan diantara suku-suku di belakang mereka sehingga mereka tidak akan pernah memiliki keberanian untuk mengangkat kepala mereka.”[28]

Berkumpulnya kaum Murtadin di Darin. Beberapa sejarawan telah menulis bahwa pertempuran Darin terjadi pada masa kekhalifahan Hadhrat Abu Bakr, tetapi beberapa sejarawan lainnya menulis bahwa pertempuran Darin terjadi pada masa Hadhrat Umar. Pendek kata, orang-orang murtad berkumpul di sana.[29] Darin (دارِين) adalah sebuah pulau di Teluk Persia beberapa mil dari Bahrain. Sudah ada keluarga Kristen yang tinggal di sana.

Setelah kalah dalam melawan Hadhrat Al-’Alaa, sebagian besar pemberontak yang kalah pergi ke Darin dengan menggunakan perahu dan yang lainnya kembali ke daerah suku mereka masing-masing. Hadhrat Al-’Alaa ibn Hadhrami menulis kepada orang-orang dari suku Bakr ibn Wa’il (بكر بن وائل) yang teguh dalam Islam untuk memerangi mereka dan juga memerintahkan Hadhrat Utaibah ibn Nahas (عتيبة بن النهاس) dan Hadhrat Amir ibn Abdul Aswad (عامر بن عبد الاسود) untuk tetap tinggal di mana pun mereka berada dan menyiagakan penjagaan di setiap jalan untuk menghadapi orang-orang murtad. Beliau juga memerintahkan Hadhrat Musma’ (مسمع) untuk memerangi orang-orang murtad dan memerintahkan Hadhrat Khashfah at-Tamimi (خصفة التميمي) dan Hadhrat Mutsanna bin Haritsah asy-Syaibani untuk memerangi orang-orang murtad.

Terkait:   Keteladanan Sahabat Rasulullah: Thalhah bin Ubaidullah

Mutsanna bin Haritsah berperan besar dalam memadamkan api kemurtadan di Bahrain. Beliau menemani Hadhrat Al-’Alaa bin Hadhrami dengan pasukannya dan bergerak ke utara dari Bahrain. Mereka menguasai Qatif dan Hajar. Beliau melanjutkan misinya hingga mengalahkan tentara Persia dan agen-agennya yang telah membantu orang-orang murtad di Bahrain. Untuk memerangi orang-orang murtad di daerah-daerah yang tetap teguh pada Islam, mereka bergabung dengan Hadhrat Al-’Alaa bin Hadhrami. Mereka terus bergerak ke utara di sepanjang pantai dan ketika Hadhrat Abu Bakr bertanya tentang Hadhrat Mutsanna bin Haritha, Hadhrat Qais bin Asim mengatakan bahwa orang itu bukan orang yang tidak dikenal dan dia adalah Mutsanna bin Haritsah asy-Syaibani. Hadhrat Mutsanna bin Haritsah asy-Syaibani berdiri di persimpangan jalan untuk menghentikan orang-orang murtad dan beberapa orang murtad itu bertobat dan masuk Islam dan diterima. Beberapa menolak untuk bertobat dan bersikeras untuk tetap murtad, mereka dilarang memasuki wilayah mereka. Untuk itu, mereka kembali melalui jalan yang sama dari mana mereka datang hingga tiba di Darin dengan menggunakan perahu. Demikianlah Allah mengumpulkan mereka semua di satu tempat. [30]

Ketika Hadhrat Al-’Alaa masih berada dalam pasukan orang-orang musyrik, beliau menerima balasan surat yang ditulis oleh orang-orang dari kalangan Bakr ibn Wa’il (بَكْرِ بْنِ وَائِلٍ) dan dari itu beliau tahu bahwa mereka akan mematuhi perintah Allah dan akan mendukung agama-Nya. Ketika Hadhrat Al-’Alaa mendapat berita tentang orang-orang ini yaitu mereka adalah Muslim dan tidak memberontak dan tidak akan berperang dan menjadi yakin bahwa setelah kepergian mereka tidak akan terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan dengan salah satu orang Bahrain di belakangnya, beliau mengatakan bahwa sekarang segenap Muslim harus bergerak menuju Darin. Beliau pun menyeru mereka untuk maju ke Darin. [31]

Kejadian ini, yang selengkapnya akan saya sampaikan nanti, meskipun tampaknya tidak mungkin yaitu bagaimana mungkin mereka menyeberangi laut. Bisa jadi ada kebenaran di dalam peristiwa itu sampai batas tertentu dan mungkin juga telah ada bagian yang dilebih-lebihkan. Namun demikian, apakah hakekat yang sebenarnya bila hal itu memang benar? Saya akan menjelaskannya di akhir khotbah ini.

Disebutkan [dalam riwayat] bahwa pada waktu itu umat Islam tidak memiliki perahu dan lain sebagainya yang dapat mereka gunakan untuk dapat sampai ke pulau itu. Melihat hal itu, Al-’Alaa ibn Hadhrami berdiri dan mengumpulkan orang-orang lalu berbicara kepada mereka dengan mengatakan, إِنَّ اللَّهَ قَدْ جَمَعَ لَكُمْ أَحْزَابَ الشَّيَاطِينِ وَشَرَدَ الْحَرْبَ فِي هَذَا الْبَحْرِ، وَقَدْ أَرَاكُمْ مِنْ آيَاتِهِ فِي الْبَرِّ لِتَعْتَبِرُوا بها فِي الْبَحْرِ، فَانْهَضُوا إِلَى عَدُوِّكُمْ، ثُمَّ اسْتَعْرِضُوا الْبَحْرَ إِلَيْهِمْ، فَإِنَّ اللَّهَ قَدْ جَمَعَهُمْ “Allah telah mengumpulkan kelompok setan untuk kalian dan telah mendorong perang ke laut. Dia telah menunjukkan kepadamu tanda-tanda-Nya di darat agar kamu mengambil pelajaran di laut dari tanda-tanda ini. Berjalanlah menuju musuhmu, seberangilah samudera dan bergeraklah ke arahnya, karena Allah telah mengumpulkan mereka untukmu.”

Mereka semua menjawab, نَفْعَلُ وَلا نَهَابُ وَاللَّهِ بَعْدَ الدَّهْنَاءِ هَوْلا مَا بَقِينَا “Demi Tuhan! Kami akan mengalami hal yang sama dan setelah melihat mukjizat di Lembah Dahna kami tidak akan takut pada orang-orang ini selama kami masih hidup.” Riwayat ini tertulis dalam Ath-Thabari. [32]

Mukjizat di mana unta-unta mereka yang melarikan diri telah saya uraikan bahwa unta-unta yang melarikan diri telah kembali kepada kaum Muslim dan mata air mengalir. Mereka merujuk pada mukjizat yang telah mereka lihat. Mereka mengatakan, “Begitu pun kami akan melihat mukjizat berjalan diatas air laut.”

Hadhrat Al-’Alaa dan semua Muslim datang ke pantai dari tempat ini. Hadhrat Al-’Alaa dan segenap Muslim berjalan dari tempat itu hingga tiba di tepi laut. Hadhrat Al-’Alaa dan kawan kawan berdoa kepada Tuhan, “يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ  يا کَرِيمُ يَا حَلِيْمُ يا اَحَدُ يَا صَمَدُ يَاحَیُّ  يَا مُحْیِ الْمَوْتِ يا حَیُّ یَا قَيوْمُ  لَااِلٰه إلا اَنْتَ يارَبَّنَا ‘Yaa Arhamar Raahimiin! Yaa Kariimu! Yaa Haliimu! Yaa Ahadu! Yaa Shamadu! Yaa Hayyu! Yaa Muhyil maut! Yaa Hayyu! Yaa Qayyumu! Laa ilaaha illa Anta yaa Rabbaanaa.’ – “Wahai Yang Maha Penyayang di antara yang semua penyayang! Wahai Yang Maha Pemurah! Wahai Yang Maha Penyantun! Wahai Yang Maha Esa! Wahai Yang Maha Kaya! Wahai Yang Maha Hidup! Wahai Yang Menghidupkan yang selainnya! Wahai Yang menghidupkan yang mati! Wahai Yang menganugerahkan kehidupan dan Yang menghidupkan makhluk-makhluk lain, wahai Yang memelihara dan memelihara makhluk-makhluk lain. Tidak ada yang patut disembah selain Engkau, Tuhan kami.”

Namun, diriwayatkan bahwa Hadhrat Al-’Alaa meminta semua anggota laskar untuk menjalankan kuda mereka di laut sambil berdoa demikian. Kemudian segenap Muslim, mengikuti komando Hadhrat Al-’Alaa ibn Hadhrami, di belakang beliau dengan mengendarai kuda, keledai, unta dan bagal mereka dan mengendarainya di permukaan laut dan kemudian bagaimana Qudrat Tuhan, sehingga mereka dapat melintasi teluk tanpa kehilangan apapun. Rasanya tengah berjalan diatas pasir lembut yang ditaburi air sehingga kaki unta tidak tenggelam dan tidak ada satu pun kaum Muslimin yang hilang di laut. Bahkan, disebutkan [dalam riwayat] bahwa mereka [hanya] kehilangan satu tempat air minum kecil, yang kemudian ditemukan oleh Hadhrat Thalhah. Alhasil telah dijelaskan tentang perjalanan dari tepi pantai hingga sampai di Darin yang dapat ditempuh melalui perjalanan kapal laut selama 1 hari 1 malam. Namun, kafilah ini menempuh jarak tersebut dalam waktu kurang dari 1 hari. Sebagian hal ini telah dijelaskan seperti tertera di dalam Tarikh Ath-Thabari. [33]

Namun demikian, para penulis di masa ini pun menulis penjelasannya sebagai berikut (yakni terkait peristiwa penyeberangan lautan), “Mungkin saat itu tengah terjadi peristiwa pasang di teluk Persia atau mungkin riwayat-riwayat tersebut telah dilebih-lebihkan dan pada hakikatnya saat itu kaum Muslim mendapatkan perahu-perahu dari penduduk setempat yang kemudian mereka pergunakan untuk menyeberangi laut. Tetapi, gambaran ini [yang ditulis penulis modern diatas] secara rinci tidak didapatkan di dalam riwayat mana pun. Banyak yang menuliskan riwayat yang di dalamnya tertera bahwa mereka telah menyeberanginya, namun tidak diragukan lagi bahwa kaum Muslim saat itu pun tiba di Darin.”[34] Bagaimana mereka tiba, hanya Allah yang lebih mengetahui.

Selanjutnya tentang mukjizat-mukjizat, Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) di dalam tafsirnya beliau telah memberi satu tuntunan mendasar. Hadhrat Mushlih Mau’ud dalam menafsirkan kejadian terbelahnya lautan pada peristiwa hijrahnya Hadhrat Musa (as), beliau menjelaskan bahwa ini adalah peristiwa yang tertera di dalam Al-Quran Syarif. Beliau (ra) bersabda, “Menurut penjelasan Al-Quran Karim, peristiwa yang terjadi adalah sebagai berikut. Pada saat itu Bani Israil tengah pergi menuju Tanah Suci, tetapi laskar Firaun telah tiba di belakang mereka. Melihatnya, kaum Bani Israil pun menjadi gelisah. Mereka berpikir bahwa inilah waktunya mereka akan tertangkap. Namun, Allah Ta’ala menurunkan ketenangan kepada mereka melalui Hadhrat Musa dan berfirman kepada Hadhrat Musa, ‘Pukulkanlah tongkat engkau di lautan’, dan hasilnya adalah muncullah satu jalan di lautan yang darinya mereka bergerak maju.[35] Di kedua sisi mereka terdapat air laksana gunung padang pasir yakni tampak tinggi pada mereka. Laskar Firaun mengejar mereka, tetapi air kembali semula saat Bani Israil tiba dengan selamat, sementara pasukan mesir tenggelam.

Beliau menulis, “Untuk memahami peristiwa ini, hendaknya diingat bahwa menurut ajaran Al-Quran Karim, seluruh mukjizat adalah berasal dari Allah Ta’ala, dan di dalamnya tidak ada peran serta campur tangan manusia. Jadi, peristiwa Hadhrat Musa mengangkat tongkat dan memukulkannya di lautan hanyalah sebagai satu tanda, dan ini bukan berarti tongkat Hadhrat Musa memiliki peran dalam terbelahnya lautan itu.

Demikian pula, hal ini pun hendaknya diingat bahwa dari kata Al-Quran Karim sama sekali tidak terbukti bahwa saat itu lautan menjadi terbelah dua lalu Hadhrat Musa melewati dari antara kedua belah lautan itu. Akan tetapi, berkenaan degan peristiwa ini telah digunakan dua kata berbeda di dalam Al-Quran Karim yaitu فرَقنا dan انفلق [faraqnaa dan infalaqa] yang maknanya adalah ‘terpisah’. [36] Jadi, menurut kata-kata di dalam Al-Quran Karim, peristiwa yang terjadi sebenarnya secara rinci adalah pada waktu Bani Israil akan melewatinya, saat itu lautan telah terpisah, yang maksudnya air lautan menjadi surut sehingga terlihat daratan. Dengan perantaraan inilah kaum Bani Israil melewatinya dan hal inilah yang kerap terjadi di daerah pesisir pantai. Maka dari itu, dalam sejarah kehidupan Napoleon tertera bahwa tatkala ia menyerang Mesir, saat itu ia pun bersama sebagian pasukannya tengah melalui pesisir laut Merah di waktu surut dan saat mereka tengah melewatinya, tibalah waktu air laut pasang sehingga dengan susah payah mereka menghindarinya.

Mukjizat di dalam peristiwa ini yakni peristiwa Hadhrat Musa adalah Allah Ta’ala telah menjadikan kaum Bani Israil tiba di pesisir lautan pada saat surutnya permukaan air laut. Selanjutnya, ketika Hadhrat Musa mengangkat tangannya, saat itulah atas perintah Allah Ta’ala air laut pun mulai menyusut, tetapi tatkala laskar Firaun memasuki lautan, saat itu timbul hambatan-hambatan yang tidak biasa di jalan yang mereka lalui sehingga pasukan mereka hanya dapat mengejar Bani Israil dengan kecepatan yang sangat rendah dan mereka masih ada di lautan tatkala pasang air laut tiba dan musuh pun tenggelam.

Pasang surut air laut adalah peristiwa yang biasa terjadi, yaitu dalam satu waktu saja air laut dapat menjauh dari pesisir pantai, dan di waktu yang lain ia kembali mengisi daratan. Peristiwa terbelahnya lautan memiliki kaitan dengan keadaan pasang surut air laut ini. Hadhrat Musa (as) melewati lautan di waktu surut dimana permukaan air laut saat itu telah turun.

Setelah itu Firaun pun tiba. Karena mereka bergerak sekurang-kurangnya pada waktu 1 hari setelah Hadhrat Musa dalam keadaan kepayahan. Pada saat mereka baru tiba di lautan, saat itu Hadhrat Musa (as) telah melewati sebagian besar bagian kering lautan itu. Firaun yang telah melihat mereka melewatinya, dengan segera menggerakkan kereta kudanya, akan tetapi pasir lautan telah menjadi sedemikian basah sehingga menyulitkan pergerakan kereta kudanya sehingga ia pun terjebak di dalamnya dan memakan waktu lama sehingga pasang air laut pun tiba dan air mulai meninggi. Kini kedua pilihan menjadi sulit baginya. Ia tidak sanggup untuk maju maupun mundur. Pada akhirnya, air laut pun telah berada di tengah-tengah mereka dan ia pun tenggelam di lautan bersama banyak sekali teman-temannya. Karena saat itu adalah waktu air laut pasang, dan air laut bergerak maju ke pesisir pantai, maka air itu pun membawa jasad-jasad mereka hingga daratan.” [37]

Alhasil, tentang bagaimana kaum Muslim tiba di Darin, sebagaimana yang telah saya jelaskan, ada kemungkinan telah terjadi peristiwa pasang surut air laut seperti tersebut. Setiba di Darin, terjadi perang antara kaum Muslim dengan orang-orang murtad dan pemberontak. Pertempuran berlangsung sangat sengit dan semua mereka terbunuh. Artinya, para pemberontak telah tewas dan tidak tersisa seorang pun dari mereka sebagai pembawa berita. Kaum Muslim menjadikan para keluarga mereka baik perempuan dan laki-laki sebagai hamba sahaya dan mengambil alih harta mereka. Setiap prajurit berkuda dan infantri menerima 6.000 dan 2.000 dirham sebagai harta ghanimah. Waktu satu hari penuh telah dipergunakan kaum Muslim semenjak dari pesisir pantai hingga sampai di sana lalu berperang melawan mereka. Setelah usai dari perang, kaum Muslim pun kembali pulang.

Terkait peristiwa kesyahidan Hadhrat Tsumamah bin Utsal, tertera bahwa Hadhrat ‘Ala bin Hadhrami menggerakkan segenap pasukan Muslim untuk pulang kecuali beberapa orang yang memilih untuk tinggal di sana. Hadhrat Tsumamah bin Utsal pun termasuk diantara mereka yang pulang. Abdullah bin Hazf menuturkan, أَقْفَلَ الْعَلاءُ بْنُ الْحَضْرَمِيِّ النَّاسَ، فَرَجَعَ النَّاسُ إِلا مَنْ أَحَبَّ الْمُقَامِ، فَقَفَلْنَا وَقَفَلَ ثُمَامَةُ بْنُ أُثَالٍ، حَتَّى إِذَا كُنَّا عَلَى مَاءٍ لِبَنِي قَيْسِ بْنِ ثَعْلَبَةَ، فَرَأَوْا ثُمَامَةَ، وَرَأَوْا خَمِيصَةَ الْحَطمِ عَلَيْهِ فدَسُّوا لَهُ رَجُلا، وَقَالُوا: سَلْهُ كَيْفَ صَارَتْ لَهُ؟ وَعَنِ الْحطمِ: أَهُوَ قَتَلَهُ أَوْ غَيْرُهُ؟ فَأَتَاهُ، فَسَأَلَهُ عَنْهَا، فَقَالَ: نُفِّلْتُهَا قَالَ: أَأَنْتَ قَتَلْتَ الْحطمَ؟ قَالَ: لا، وَلَوَدِدْتُ أَنِّي كُنْتُ قَتَلْتُهُ، قَالَ: فَمَا بَالُ هَذِهِ الْخَمِيصَةِ مَعَكَ؟ قَالَ: أَلَمْ أُخْبِرْكَ! فَرَجَعَ إِلَيْهِمْ فَأَخْبَرَهُمْ، فَتَجَمَّعُوا لَهُ، ثُمَّ أَتَوْهُ، فَقَالَ: مَا لَكُمْ؟ قَالُوا: أَنْتَ قَاتِلُ الحطمَ؟ قَالَ: كَذَبْتُمْ، لَسْتُ بِقَاتِلِهِ وَلَكِنِّي نُفِّلْتُهَا، قَالُوا: هَلْ يُنَفَّلُ إِلا الْقَاتِلُ! قَالَ: إِنَّهَا لَمْ تَكُنْ عَلَيْهِ، إِنَّمَا وُجِدَتْ فِي رَحْلِهِ، قَالُوا: كَذَبْتَ فَأَصَابُوهُ أي قتلوه “Saat itu kami tengah bermukim di satu mata air milik Banu Qais bin Tsa’labah. Pandangan orang-orang lalu tertuju pada Hadhrat Tsumamah dan mereka melihat beliau mengenakan jubah milik Al-Hatham. Ini adalah jubah Al-Hatham yang diambil setelah kematiannya sebagai harta ghanimah (rampasan perang) lalu diberikan kepada Hadhrat Tsumamah. Mereka yakni orang-orang kabilah tersebut mengirim seseorang untuk bertanya kepada Hadhrat Tsumamah perihal dari manakah beliau mendapatkan jubah ini dan pertanyaan tentang Al-Hatham yaitu apakah beliau yang telah membunuhnya.” Al-Hatham adalah pemimpin mereka.

“Orang itu lalu datang dan bertanya kepada Hadhrat Tsumamah tentang jubah tersebut. Beliau menjawab, ‘Ini saya dapatkan sebagai harta ghanimah.’

Orang itu berkata, ‘Kamu telah membunuh Al-Hatham!’

Hadhrat Tsumamah menjawab, ‘Tidak, meski saya memang memiliki keinginan untuk membunuhnya.’

Orang itu berkata, ‘Dari manakah jubah ini datang padamu?’

Hadhrat Tsumamah berkata, ‘Saya telah menjawabnya kepadamu bahwa ini saya dapatkan sebagai harta ghanimah.’

Maka orang-orang kabilah itu kembali dan menceritakan semua percakapan tersebut kepada teman-temannya. Mereka semua lalu mendatangi Hadhrat Tsumamah dan mengepung beliau. Mereka berkata bahwa beliau adalah pembunuh Al-Hatham.

Hadhrat Tsumamah berkata, ‘Kalian salah. Saya tidak membunuhnya. Adapun jubah ini adalah bagian yang saya terima dari harta ganimah.’

Mereka berkata, ‘Bagian itu hanya bisa didapatkan oleh pembunuhnya.’

Hadhrat Tsumamah berkata, ‘Saat itu jubah ini tidak ada di tubuhnya, tetapi ada di tunggangan dan barang miliknya.’ Orang-orang itu berkata, ‘Kamu berdusta’, lalu mereka mensyahidkan beliau.”[38]

Mengenai ekspedisi kesepuluh, tertera bahwa ini adalah pergerakan di bawah Hadhrat Suwaid bin Muqarrin untuk menghadapi orang-orang murtad dan pemberontak. Hadhrat Abu Bakr (ra) menyerahkan satu bendera kepada Hadhrat Suwaid bin Muqarrin dan memerintahkannya untuk pergi ke Tihamah di wilayah Yaman.[39]

Di dalam Lughat (kamus bahasa) arti Tihamah (تهامة) ialah sangat panas atau udara yang tidak berhembus. Di dalam kamus pun salah satu maknanya adalah dataran rendah.[40]

Di arah barat dan selatan Yaman, yaitu di pesisir Laut Merah, terdapat suatu daerah yang meliputi dataran rendah yang dinamakan Tihamah. Banyak dataran rendah di daerah tersebut. Meski demikian, terdapat juga gugusan pegunungan di sana. Batas wilayah utara Tihamah berada sampai dekat dengan Makkah, dan [gugusan pegunungan] ini membentang hingga 350 mil dan berakhir di daerah selatan Yaman yaitu di ibukota San’a. Tihamah adalah satu bagian wilayah di Yaman yang di dalamnya terdapat banyak sekali desa dan permukiman.[41] Ini adalah sekilas tentang Tihamah.

Mengenai Hadhrat Suwaid bin Muqarrin (سُوَيْدُ بْنُ مُقَرِّنِ بْنِ عَائِذِ بْنِ مَنْجَا بْنِ نَصْرِ بْنِ كَعْبٍ الْمُزَنِيُّ أَخُو النُّعْمَانِ), ayah Hadhrat Suwaid bernama Muqarrin bin ‘Aa-idz. Ia berasal dari Kabilah Muzainah. Sebutan beliau adalah Abu ‘Adi. Abu ‘Amr pun merupakan salah satu sebutan beliau. Beliau memeluk Islam pada tahun 5 Hijriah. Beliau ikut serta bersama Rasulullah (saw) di Perang Khandaq. Setelah itu, beliau senantiasa ikut bersama Rasulullah (saw) di seluruh pertempuran. Beliau adalah saudara Hadhrat Nu’man bin Muqarrin, yang telah mempersembahkan jasa yang luar biasa pada berbagai kemenangan dalam penaklukan Persia.[42]

Di dalam buku-buku sejarah, tidak tertera rincian mengenai kepergian Hadhrat Suwaid ke Tihamah dan upaya yang beliau lakukan di sana dalam menghadapi kaum murtad. Meski demikian, di dalam buku-buku sejarah dijelaskan tentang bagaimana kemurtadan dan pemberontakan penduduk Tihamah yaitu: Pada Tahun 10 Hijriah setelah Hujjatul Wida, Nabi yang mulia (saw) mengangkat para ‘Aamil (pengumpul zakat) di Yaman. Saat itu Rasulullah (saw) membagi Yaman menjadi 7 bagian. Untuk Tihamah, beliau (saw) mengangkat Tahir bin Abu Halah sebagai Amil. Di Tihamah, selain golongan Arab awam, saat itu terdapat juga dua kabilah utama. Pertama, Kabilah Ak lalu Kabilah Asy’ar.[43]

Di dalam Tarikh Ath-Thabari tertera: Pertama, Hadhrat ‘Attab bin Usaid dan Hadhrat ‘Utsman bin Abul ‘Ash menulis kepada Hadhrat Abu Bakr bahwa orang-orang murtad di wilayah mereka telah menyerang kaum Muslim. Orang-orang tersebut tidak hanya telah murtad, tetapi sebagaimana telah saya jelaskan, orang-orang itu pun telah kerap menyerang kaum Muslim dan seperti itulah keadaan di tempat ini.

Maka dari itu, Hadhrat ‘Attab bin Usaid mengutus saudaranya yaitu Hadhrat Khalid bin Usaid untuk menanggulangi warga Tihamah. Satu golongan besar Banu Mudlij, dan berbagai kelompok dari Banu Khuza’ah (خُزَاعہ) dan Kinanah (کِنَانَہ), keluarga besar Banu Mudlij (بنومُدْلِج) dan Banu Syanuq (بنو شَنُوق), mereka semua telah murtad dan bersatu di bawah pimpinan Jundub bin Salma (جُنْدُبْ بن سُلْمٰی). Kemudian terjadi pertempuran antara kedua pasukan, dan Hadhrat Khalid bin Usaid mampu mengalahkan dan mencerai-beraikan mereka serta banyak musuh yang terbunuh dan yang paling banyak terbunuh adalah orang-orang dari Banu Syunub. Setelah peristiwa ini, jumlah mereka menjadi sangat sedikit. Peristiwa ini telah menjadikan wilayah Hadhrat ‘Attab ini bersih dan suci dari fitnah kemurtadan, dan Jundub pun melarikan diri. Beberapa masa kemudian ia kembali menerima Islam. [44]

Di dalam satu riwayat tertera bahwa setelah kewafatan Nabi yang mulia (saw), kabilah al-Akk dan al-Asy’ar-lah yang paling banyak melakukan pemberontakan di wilayah Tihamah. Rinciannya sebagai berikut: tatkala berita kewafatan Nabi yang mulia (saw) sampai pada mereka, berkumpullah beberapa orang diantara mereka dan beberapa orang Kabilah Khazam pun bergabung dengan mereka. Mereka berkemah di pesisir pantai di tempat bernama A’lab. Mereka bertemu satu pasukan yang saat itu tidak memiliki pemimpin. A’lab adalah daerah Kabilah Ak yang terletak diantara pesisir dan Makkah.

Hadhrat Tahir bin Abu Halah (الطاهر بن أبي هالة) memberitakan hal ini kepada Hadhrat Abu Bakr, dan ia sendiri pergi bergerak untuk mengatasi mereka. Ia pun menuliskan kepada Hadhrat Abu Bakr perihal keberangkatannya. Bersama Hadhrat Tahir terdapat Masruq al-Akki dan di dalam Kabilah Ak terdapat beberapa orang yang tidak murtad; hingga mereka pun bertemu dengan [pasukan musuh] di A’lab. Setelah terjadi pertempuran sengit dengan mereka di sana, Allah Ta’ala lantas memberi kekalahan kepada segenap musuh. Pasukan Muslim telah banyak sekali menghabisi mereka hingga bau mereka yang terbunuh pun tersebar di sepanjang jalan, dan kaum Muslim pun meraih kemenangan yang luar biasa.

Dalam menyebutkan tentang kejadian-kejadian kemurtadan di Tihamah, seorang penulis menyampaikan bahwa yang paling terdepan dalam menanggulangi kemurtadan di Tihamah adalah Tahir bin Abi Halah, yang mana beliau merupakan Wali yang diangkat oleh Rasulullah (saw) untuk wilayah Tihamah, yang merupakan negeri bagi kabilah al-Akk dan al-Asy’ari.

Kemudian Hadhrat Abu Bakr memberi perintah kepada Ukasyah bin Tsaur supaya mereka tinggal di Tihamah dan mengumpulkan segenap penduduk di sana lalu menunggu perintah Hadhrat Abu Bakr selanjutnya. Di masa kewafatan Nabi yang mulia (saw), Hadhrat Ukkasyah diangkat sebagai ‘Amil untuk dua wilayah di Hadramaut yaitu Sakasik (السكاسك) dan Sakun (السكون).

Sementara itu, untuk kabilah Bajilah, Hadhrat Abu Bakr mengirim Jarir bin Abdullah al-Bajali (جرير بن عبد الله البجلي) agar kembali ke sana dan memerintahkan kepadanya untuk membawa kaum Muslim sukunya yang tetap teguh dalam keimanan supaya bersama-sama memerangi mereka yang telah murtad dari Islam. Ia juga diperintahkan untuk pergi ke kabilah Khasy’am (خَثْعَم) dan memerangi orang-orang murtad di sana. Hadhrat Jarir pun bergerak menuju ekspedisi yang diamanatkan kepadanya dan ia pun menjalankan apa yang telah diperintahkan oleh Hadhrat Ash-Shiddiq Akbar [Abu Bakr] (ra). Hanya segelintir orang yang keluar untuk menghadapi beliau. Beliau lalu bertempur melawan mereka dan mencerai-beraikan mereka.[45]

Ini adalah tentang ekspedisi-ekspedisi [Muslim], dan Insya Allah, mengenai ekspedisi ke-11 akan disampaikan kemudian.

Sekarang saya ingin menyampaikan riwayat beberapa almarhum. Di antaranya adalah dua pemuda kita yang berasal dari Burkina Faso. Pada sore hari tanggal 11 Juni para teroris melakukan serangan di sebuah kampung di Daerah Dori dan menewaskan banyak orang. Dua khadim kita yang sedang bekerja di toko mereka juga syahid dalam peristiwa tersebut. Terjadi penembakkan dan mereka syahid di tempat. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun.

Salah satu di antaranya bernama Dicku Zakariya. Beliau berusia 32 tahun. Beliau mendapatkan taufik berkhidmat sebagai Qaid Wilayah Khuddamul Ahmadiyah di Dori. Beliau juga pergi ke Madrasatul Hifz Ghana untuk menghafal Al-Qur’an. Setelah menyelesaikan hafalannya beliau pulang kembali. Beliau selalu hadir untuk tugas-tugas Jemaat. Beliau mengucapkan labbaik (siap) terhadap setiap tugas dan mendedikasikan dirinya. Beliau disiplin dalam shalat lima waktu. Beliau juga dawam melaksanakan shalat tahajjud dan nafal-nafal. Beliau juga dawam dalam membayar candah. Jika ada pemasukkan lain selain pendapatan bulanan, beliau segera membayarkan candahnya. Beliau memiliki kecintaan yang sejati terhadap Jemaat dan Khilafat. Beliau menyimak Khutbah Jumat secara rutin. Beliau biasa menyaksikan program-program lainnya di MTA dengan penuh antusias.

Mubaligh Lokal di sana menulis bahwa pada pertemuan terakhirnya dengan beliau, almarhum mengungkapkan keinginan yang kuat untuk dapat berjumpa dengan Khalifah. Pak Mu’allim menulis bahwa beliau adalah sosok Khadim teladan. Beliau meninggalkan seorang istri, dua putri dan satu putra.

Syahid yang kedua adalah Bpk. Dicku Mussa (ڈیکو موسیٰ). Beliau berusia 34 tahun. Saat itu beliau adalah Qaid Majlis Khuddamul Ahmadiyah di Seytenga. Beliau menjadi yang terdepan berpartisipasi dalam setiap program-program Jemaat. Beliau juga berupaya mengajak orang lain. Beliau dawam dalam shalat dan candah. Di Jemaat beliau tidak ada masjid lalu beliau berupaya secara lokal untuk membuat sebuah surau dan melaksanakan shalat secara rutin di sana. Beliau juga menulis surat secara rutin kepada saya. Jika ada tamu dari pusat yang melakukan kunjungan, beliau biasa menjamu mereka.

Beliau meninggalkan dua istri dan tiga putri. Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan maghfiroh dan rahmat-Nya kepada beliau dan meninggikan derajat beliau.

Amir Jemaat di sana menulis berkenaan dengan kedua syuhada, “Kedua Khuddam ini adalah saudara dari Mubaligh Lokal kita, Dicku Amadou Bourema Sahib yang saat ini menjadi In Charge (kepala) Radio Ahmadiyah Dori. Ahmadiyah masuk ke dalam keluarga mereka melalui ayahanda mereka, Ibrahim Bonti Sahib. Beliau adalah seorang Da’i Ilallah yang sangat mukhlis dan penuh semangat. Beliau juga pernah menjabat sebagai Zaim Anshorullah Wilayah Dori. Beliau telah wafat pada 2011.”

Kemudian Bpk. Amir juga menulis permohonan doa bahwa sejak tahun 2015, Burkina Faso telah menjadi lokasi serangan teroris dan ada banyak kehancuran terjadi di bagian utara negara tersebut. Lebih dari dua juta orang telah mengungsi.

Semoga Allah menciptakan kondisi perdamaian bagi mereka. Kondisi ekonomi dan politik dunia yang terjadi sekarang meningkatkan peluang terorisme. Semoga Allah Ta’ala merahmati umat manusia dan memberi mereka kebijaksanaan.

Jenazah kedua adalah Muhammad Yusuf Baloch Sahib ibnu (putra) Noor Khan Sahib Basti Sadiqpur dari Umarpur District Sindh. Beliau juga wafat beberapa hari yang lalu. إنا لله وإنا إليه راجعون Innaa lillahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Pada awalnya beliau adalah penduduk Baluchistan, berasal dari Dera Ghazi Khan. Beliau lahir di sana. Ahmadiyah masuk ke dalam keluarga beliau pada tahun 1934 melalui Hadhrat Maulana Ghulam Rasul Rajiki Sahib (ra).

Setelah pendirian Pakistan, mereka bermigrasi ke tanah milik Tahrik Jadid di Sadiqpur Umerkot. Beliau juga tinggal di Rabwah selama sekitar enam tahun dan menjabat sebagai khadim masjid di kelompoknya. Dengan karunia Allah Ta’ala, beliau seorang mushi.

Beliau meninggalkan istri, tujuh putra dan empat putri. Salah satu putra beliau, Shabbir Ahmad Sahib adalah seorang muballigh yang saat ini bertugas di Pantai Gading dan tidak dapat menghadiri pemakaman ayahnya karena berada di lapangan. Dua orang cucu almarhum juga merupakan muballigh.

Putra beliau, Shabbir Sahib menulis, “Beliau memiliki banyak keutamaan. Kami sejak kecil melihat beliau disiplin dalam melaksanakan shalat tahajud. Beliau biasa menilawatkan Al-Qur’an dengan suara keras setelah Subuh setiap hari. Beliau sangat mencintai Khilafat.” Shabbir Sahib menuturkan, “Setiap kali saya pulang, beliau memanggil saya dan mengatakan, ‘Selalu ingatlah dua perkataan saya, yaitu hendaknya selalu setia kepada Khilafat dan tunaikanlah hak waqaf.’”

Shabbir Sahib menuturkan, “Almarhum seorang yang sangat mengkhidmati tamu. Ketika berjalan-jalan, beliau biasa mengundang orang-orang datang ke rumah beliau. Banyak orang non-Ahmadi dan Hindu juga datang untuk berbela sungkawa dan mengenang beliau dengan kata-kata yang sangat baik dan juga menyatakan, ‘Ayah kami telah meninggal’, karena beliau sering membantu orang miskin.”

Jenazah ketiga yang adalah saudari Mubarizah Farooq, seorang Waqifah Nou yang merupakan putri Farooq Ahmad Sahib. Beliau juga meninggal baru-baru ini. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Ketika beliau berusia sebelas tahun, beliau memegang kabel listrik bertegangan tinggi, yang menyebabkannya lumpuh dan kedua lengannya harus diamputasi. Tetapi bahkan dalam kondisi seperti itu pun beliau tidak patah semangat. Beliau tetap melanjutkan pendidikannya. Pertama beliau berlatih menulis dengan pena di mulutnya. Kemudian beliau berlatih menulis dengan pena pada kedua sikutnya dan dalam beberapa bulan dengan cara ini beliau mulai dapat menulis dengan tulisan yang sangat bagus. Beliau juga melanjutkan pendidikannya.

Beberapa waktu kemudian keluarganya pindah ke Rabwah. Beliau juga melanjutkan pendidikannya di sini. Beliau lulus BA pada 2013 dengan nilai yang bagis. Beliau juga meraih gelar MA dalam bahasa Arab dari Ta’limul Islam College. Beliau juga berkhidmat di Tahir Heart Institute untuk beberapa lama sebagai Waqf-e-nou. Beliau mempelajari Al-Qur’an dengan pengucapan yang benar dan terjemahan tiap kata dan selalu mendapat nilai 100. Beliau juga mengikuti kelas terjemahan Al-Qur’an di kelompok.

Terkait:   Riwayat Abu Bakr Ash-Shiddiiq Ra (Seri 21)

Selain kedua orang tua, beliau meninggalkan dua saudara laki-laki dan dua saudara perempuan. Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan maghfiroh dan rahmat-Nya dan memberikan kesabaran dan ketabahan kepada kedua orang tuanya.

Jenazah berikutnya adalah yang terhormat Bpk. Aanzomana Wattara (آنزومانا واترا), seorang Mu’allim di Pantai Gading. Beliau berasal dari daerah Masadago. Beliau juga wafat beberapa hari yang lalu. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Missionary In Charge di sana menulis bahwa almarhum adalah sosok yang sederhana, disiplin dalam shalat dan puasa, rendah hati, rajin berdoa dan saleh. Beliau rajin melaksanakan ibadah-ibadah nafal dan melaksanakan puasa nafal senin-kamis dengan dawam. Beliau banyak mendapatkan pengabulan doa. Beliau sangat mencintai Khilafat. Beliau seorang mubaligh yang terbaik.

Pada 1997 beliau menerima Ahmadiyah melalui mimpi. Beliau melihat dalam mimpi bahwa ada seseorang berada di hutan dan dari sana ia pergi ke satu tempat bernama Desa Nasian. Ia membuat jalan untuk pergi ke sana dengan sebuah pedang seraya membaca kalimat toyyibah dengan suara keras. Beliau menuturkan, “Setelah melihat mimpi tersebut, suatu hari saya mengetahui seorang Muballigh Jemaat, Umar Mu’adz Sahib datang ke Nasian untuk bertabligh. Saya lalu pergi ke sana dan berbaiat setelah mendengarkan pesan Jemaat. Ini adalah pesan yang untuk menerimanya Allah Ta’ala telah memberitahukan kepada saya melalui mimpi. Saya harus berusaha untuk pergi ke kampung tersebut, di mana saya akan menemukan agama.” Singkatnya, beberapa lama setelah menerima Ahmadiyah, beliau mewaqafkan diri secara resmi sebagai Mu’allim Jemaat dan memulai pengkhidmatan pada Jemaat.

Ketika pada 2002 perang saudara pecah di negara tersebut, markaz tidak dapat menjalin kontak dengan tempat beliau bertugas. Pak Mu’allim tetap menjalin kontak dengan desa-desa dan Jemaat-Jemaat sekitar dan dalam segala kondisi tetap melanjutkan tugas ta’lim dan tarbiyat bagi para anggota Jemaat dan tetap berkomunikasi dengan pusat. Demikian juga beliau membangun masjid di lingkungan rumah beliau dan dari sana beliau melaksanakan tugas ta’lim dan tarbiyat bagi para anggota Jemaat. Demikian juga beliau secara rutin mengikuti setiap program Jemaat di tingkat nasional dengan sebelumnya menempuh perjalanan yang jauh.

Pada 1998 beliau mendapatkan kesempatan untuk hadir dalam Jalsah Salanah UK. Beliau mendapat kehormatan berjumpa dengan Hadhrat Khalifatul Masih IV (rh) dan bermulaqat dengan Hudhur (rh) pada program berbahasa Prancis di MTA [The French Mulaqat]. Beliau mendapatkan kesempatan untuk hadir di dalamnya dan beliau sangat senang dengan mulaqat tersebut dan seringkali menceritakan kepada orang-orang bahwa, “Mulaqat ini adalah bagian yang sangat indah dari kehidupan saya. Saya tidak bisa menggambarkannya.”

Ketika saya (Hudhur) melakukan kunjungan ke Burkina Faso pada 2004, beliau bertemu dengan saya dan mengatakan, “Saya bisa bertemu dengan Hudhur dalam hidup ini karena saya mendapatkan satu kehidupan baru. Dan dikarenakan kunjungan Hudhur ini Allah Ta’ala telah menurunkan karunia-Nya kepada saya dan saya mendapatkan keberkatan ini.”

Beliau menceritakan, “Dua bulan lalu saya sakit parah, hingga para anggota keluarga beranggapan bahwa mungkin ini adalah saat terakhir saya.”

Beliau menuturkan bahwa beliau melihat dalam mimpi, saya (Hudhur) mengusap kepada beliau. Beliau mengatakan, “Dalam mimpi itu juga saya merasakan bahwa seluruh penyakit telah meninggalkan tubuh saya. Ketika saya bangun, penyakit benar-benar telah meninggalkan tubuh saya dan saya telah sehat.” Bagaimanapun, ketika saya melakukan kunjungan ke sana, beliau mengatakan, “Sekarang mohon sempurnakanlah secara nyata apa yang saya lihat dalam mimpi.” Beliau lalu menyodorkan kepalanya untuk diusap dan beliau sangat senang.

Beliau memiliki jalinan kesetiaan yang sempurna dengan Khilafat dan menyampaikan kepada orang-orang bahwa, “Kehidupan yang saya dapatkan ini adalah berkat saya mengkhidmati agama dan sekarang saya akan melewati hidup saya dalam tugas ini”, dan beliau telah menunaikan janjinya tersebut.

Beliau mencapai usia 94 tahun dan hingga akhir hayatnya beliau masih aktif dan sehat. Meskipun sudah berusia lanjut, beliau sering mengunjungi Jemaat-jemaat terdekat. Beliau juga bertemu saya untuk kedua kalinya pada tahun 2008. Ketika saya pergi ke Ghana, beliau datang ke sana dan hadir dalam Jalsah Jubilee di Ghana. Beliau sangat senang.

Muballigh Bandoko Syahid Sahib menuturkan, “beliau memiliki jalinan kecintaan yang kuat dengan para muballigh Pakistani. Beliau menunjukkan kerendahan hati ketika bertemu dengan mereka. Beliau bersikap sangat hormat dan selalu menjadi yang terdepan dalam pengorbanan harta. Beliau membayar candah secara dawam.” Beliau menuturkan, “Ketika saya berkunjung ke kampung beliau pada akhir Januari tahun ini, Pak Mu’allim menyampaikan kepada saya bahwa beliau akan pergi tahun ini. Saya bertanya apakah anda akan melakukan perjalanan ke suatu tempat? Beliau menjawab, “Tidak, saya akan meninggalkan dunia ini karena saya sangat bahagia tahun ini.” Kemudian beliau mengatakan, “Saya bekerja untuk Allah Ta’ala sepanjang hidup saya dan sekarang saya yakin kepada Allah Ta’ala bahwa saya akan pergi kepada-Nya untuk mendapatkan gaji saya.”

Seminggu sebelum kewafatannya, beliau memberi tahu keluarga bahwa, “Saya memiliki kontrak satu minggu lagi dengan Allah Ta’ala.” Jumat berikutnya, seminggu kemudian, di pagi hari beliau bangun seperti biasa, berwudhu untuk shalat tahajud dan baru saja selesai berwudhu. Setelah selesai berwudhu, di tempat itu lah beliau bertemu dengan Sang Khaliq-nya yang hakiki. Beliau merasa pusing lalu terjatuh di sana. Jadi, terdapat orang-orang yang tinggal di daerah terpencil yang penuh ketulusan, keikhlasan dan kesetiaan yang telah dianugerahkan Allah Ta’ala kepada Hadhrat Masih Mau’ud (as), yang menyebarkan pesan Islam di dunia. Semoga Allah Ta’ala senantiasa menganugerahkan para pengkhidmat yang tanpa pamrih seperti ini kepada Jemaat ini.

Beliau meninggalkan 5 putra dan 6 putri. Dengan karunia Allah Ta’ala semuanya teguh di dalam Jemaat. Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan kepada mereka ketabahan dan mereka menjadi orang-orang yang mengikuti jejak langkah ayah mereka. Setelah shalat Jumat saya akan memimpin shalat jenazah gaib mereka semua.[46]

Khotbah II

الْحَمْدُ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا – مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ – وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ – عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ – أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُاللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ


[1] Tarikh ath-Thabari (كتاب تاريخ الطبري = تاريخ الرسل والملوك، وصلة تاريخ الطبري) karya Abu Ja’far ath-Thabari (الطبري، أبو جعفر), juz ketiga (الجزء الثالث), tahun ke-11 (سنه احدى عشره), peristiwa-peristiwa yang terjadi di tahun ke-11 setelah kewafatan Rasulullah (saw) (حوادث السنة الحادية العشرة بعد وفاة رسول الله), kabar tentang kemurtadan penduduk Oman, Mahrah dan Yaman (ذكر الخبر عن رده اهل عمان ومهره واليمن).

[2] Tarikh ath-Thabari (تاریخ الطبری جلد2 صفحہ288-289مطبوعہ دار الکتب العلمیۃ لبنان2012ء); al-Kaamil fit Taarikh (الکامل فی التاریخ جلد 2 صفحہ 227 مطبوعہ دار الکتب العلمیۃ بیروت لبنان 2003ء); Kitab ar-Riddah karya al-Waqidi (کتاب الردۃ للواقدی صفحہ 163، دارالغرب الاسلامی 1990ء).

[3] Tarikh ath-Thabari (طبری جلد 2صفحہ289 مطبوعہ دار الکتب العلمیۃ لبنان2012ء).

[4] Tarikh ath-Thabari (تاریخ الطبری جلد2 صفحہ290-291مطبوعہ دار الکتب العلمیۃ لبنان2012ء).

[5] Tarikh ath-Thabari (كتاب تاريخ الطبري = تاريخ الرسل والملوك، وصلة تاريخ الطبري) karya Abu Ja’far ath-Thabari (الطبري، أبو جعفر), juz ketiga (الجزء الثالث), tahun ke-11 (سنه احدى عشره), peristiwa-peristiwa yang terjadi di tahun ke-11 setelah kewafatan Rasulullah (saw) (حوادث السنة الحادية العشرة بعد وفاة رسول الله), kabar tentang kemurtadan penduduk Oman, Mahrah dan Yaman (ذكر الخبر عن رده اهل عمان ومهره واليمن), terbitan Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Lebanon, 2012 (تاریخ الطبری جلد 2صفحہ 291 مطبوعہ دار الکتب العلمیۃ لبنان2012ء). (حضرت ابوبکرؓ کے سرکاری خطوط صفحہ 49 ادارہ اسلامیات لاہور)

[6] Tarikh ath-Thabari (تاریخ الطبری جلد 2 صفحہ 285 مطبوعہ دار الکتب العلمیۃ لبنان2012ء); Futuuhul Buldaan (فتوح البلدان صفحہ117 مؤسسۃ المعاف بیروت1987ء).

[7] Tarikh ath-Thabari (كتاب تاريخ الطبري = تاريخ الرسل والملوك، وصلة تاريخ الطبري) karya Abu Ja’far ath-Thabari (الطبري، أبو جعفر), juz ketiga (الجزء الثالث), tahun ke-11 (سنه احدى عشره), peristiwa-peristiwa yang terjadi di tahun ke-11 setelah kewafatan Rasulullah (saw) (حوادث السنة الحادية العشرة بعد وفاة رسول الله), kabar tentang kemurtadan penduduk Oman, Mahrah dan Yaman (ذكر الخبر عن رده اهل عمان ومهره واليمن).

[8] Tarikh ath-Thabari (كتاب تاريخ الطبري = تاريخ الرسل والملوك، وصلة تاريخ الطبري) karya Abu Ja’far ath-Thabari (الطبري، أبو جعفر), juz ketiga (الجزء الثالث), tahun ke-11 (سنه احدى عشره), peristiwa-peristiwa yang terjadi di tahun ke-11 setelah kewafatan Rasulullah (saw) (حوادث السنة الحادية العشرة بعد وفاة رسول الله), kabar tentang kemurtadan penduduk Oman, Mahrah dan Yaman (ذكر الخبر عن رده اهل عمان ومهره واليمن).

[9] Tarikh ath-Thabari (كتاب تاريخ الطبري = تاريخ الرسل والملوك، وصلة تاريخ الطبري) karya Abu Ja’far ath-Thabari (الطبري، أبو جعفر), juz ketiga (الجزء الثالث), tahun ke-11 (سنه احدى عشره), peristiwa-peristiwa yang terjadi di tahun ke-11 setelah kewafatan Rasulullah (saw) (حوادث السنة الحادية العشرة بعد وفاة رسول الله), kabar tentang kemurtadan penduduk Oman, Mahrah dan Yaman (ذكر الخبر عن رده اهل عمان ومهره واليمن).

[10] Tarikh ath-Thabari (كتاب تاريخ الطبري = تاريخ الرسل والملوك، وصلة تاريخ الطبري) karya Abu Ja’far ath-Thabari (الطبري، أبو جعفر), juz ketiga (الجزء الثالث), tahun ke-11 (سنه احدى عشره), peristiwa-peristiwa yang terjadi di tahun ke-11 setelah kewafatan Rasulullah (saw) (حوادث السنة الحادية العشرة بعد وفاة رسول الله), kabar tentang kemurtadan penduduk Oman, Mahrah dan Yaman (ذكر الخبر عن رده اهل عمان ومهره واليمن). (تاریخ الطبری جلد2 صفحہ289 دار الکتب العلمیۃ بیروت 2012ء); (سیدنا حضرت ابوبکر صدیقؓ شخصیت اور کارنامے از علی محمد صلابی صفحہ 344-345، مکتبہ الفرقان ضلع مظفر گڑھ پاکستان); (حضرت ابوبکر صدیقؓ از محمد حسین ہیکل صفحہ 241-242 اسلامی کتب خانہ لاہور).

[11] Doktor Muhammad Husain Haikal (محمد حسين هيكل ،الدكتور) dalam karyanya Ash-Shiddiq Abu Bakr (الصديق أبو بكر – رضي الله عنه) yang terjemahan Urdunya ialah Hadhrat Sayyidina Abu Bakr Shiddiq terbitan Book Corner Show Room, Jehlum, Pakistan (حضرت سیدنا ابو بکر صدیق ؓ از محمد حسین ہیکل مترجم مطبوعہ بک کارنر شو روم جہلم) atau terbitan Islami Kutub Khanah, Lahore, Pakistan (حضرت ابوبکرصدیقؓ ازمحمدحسین ہیکل ،اردوترجمہ صفحہ 242 اسلامی کتب خانہ لاہور) dan Kitab Huruubur Riddah (حروب الردة) karya Ahmad Sa’d al-‘Asy (أحمد سعد العش).

[12] QS. Asy-Syu’ara’: 26:64: فَاَوْحَيْنَآ اِلٰى مُوْسٰٓى اَنِ اضْرِبْ بِّعَصَاكَ الْبَحْرَ ۗ فَانْفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيْمِ ۚ  . Terjemahan Indonesia: “Lalu Kami wahyukan kepada Musa, ‘Pukullah laut itu dengan tongkatmu. Maka terbelahlah lautan itu, dan setiap belahan seperti gunung yang besar.

Dalam metode penomoran ayat-ayat Al-Qur’an Karim, sesuai dengan standar penomoran ayat-ayat Al-Qur’an Karim yang digunakan oleh Jemaat Ahmadiyah, bismillahirrahmaanirrahiim sebagai ayat pertama terletak pada permulaan setiap Surah kecuali Surah at-Taubah.

[13] QS. Asy-Syu’ara’, 26:64: فَاَوْحَيْنَآ اِلٰى مُوْسٰٓى اَنِ اضْرِبْ بِّعَصَاكَ الْبَحْرَ ۗ فَانْفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيْمِ ۚ  . Terjemahan Indonesia: “Lalu Kami wahyukan kepada Musa, ‘Pukullah laut itu dengan tongkatmu. Maka terbelahlah lautan itu, dan setiap belahan seperti gunung yang besar.
Surat Al-Baqarah Ayat 5
1 (2:51): وَاِذْ فَرَقْنَا بِكُمُ الْبَحْرَ فَاَنْجَيْنٰكُمْ وَاَغْرَقْنَآ اٰلَ فِرْعَوْنَ وَاَنْتُمْ تَنْظُرُوْنَ . “Dan (ingatlah) ketika Kami membelah laut untukmu, sehingga kamu dapat Kami selamatkan dan Kami tenggelamkan (Fir‘aun dan) pengikut-pengikut Fir‘aun, sedang kamu menyaksikan.

[14] Tafsir Kabir (ماخوذ از تفسیر کبیر جلد1صفحہ419تا 422) karya Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad (حضرت مرزا بشیرالدین محمود احمد، المصلح موعود خلیفۃ المسیح الثانیؓ), jilid awwal (جلد اوّل۔ سورة فاتحہ و سورة بقرة رکوع ۱ تا ۹) pada link https://www.alislam.org/quran/view/?page=418&region=T1.

[15] Tarikh ath-Thabari (كتاب تاريخ الطبري = تاريخ الرسل والملوك، وصلة تاريخ الطبري) karya Muhammad ibnu Jarir Abu Ja’far ath-Thabari (الطبري، أبو جعفر), juz ketiga (الجزء الثالث), tahun ke-11 (سنه احدى عشره), peristiwa-peristiwa yang terjadi di tahun ke-11 setelah kewafatan Rasulullah (saw) (حوادث السنة الحادية العشرة بعد وفاة رسول الله), kabar tentang kemurtadan penduduk Oman, Mahrah dan Yaman (ذكر الخبر عن رده اهل عمان ومهره واليمن), Vol. 2 [Beirut, Lebanon: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2012], p. 289-290 (تاریخ الطبری جلد2 صفحہ289 تا290 دار الکتب العلمیۃ بیروت 2012ء).

[16] Muhammad ibnu Jarir ath-Thabari, Tarikh ath-Thabari, Vol. 2 [Beirut, Lebanon: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2012], p. 257 (تاریخ الطبری جلد2 صفحہ 257مطبوعہ دار الکتب العلمیۃ لبنان2012ء).

[17] Kamus bahasa Arab Lisanul ‘Arab pada kata tahama (لسان العرب زیر مادہ :تہم)

[18] Hadhrat Abu Bakr ke Sarkari khuthuuth – Surat-Surat administrasi pemerintahan Hadhrat Abu Bakr, penerbit Nadwatul Mushannifiin, Delhi-India (حضرت ابوبکرؓ کے سرکاری خطوط صفحہ3349، ندوۃ المصنفین دہلی) atau penerbit Idarah Islamiyaat, Anarkali, Lahore-Pakistan (ا صفحہ 40-41 ادارہ اسلامیات، انارکلی، لاہور، پاکستان، مئی ۱۹۷۸ء) penulis bernama Khursheed Ahmad Fariq (ڈاکٹر خورشید احمد فارِق),yang dalam versi lain tertulis Khursyid Ahmad Faruqi (خورشید احمد فاروقی) atau Khursheed Ahmad Farooqi. Beliau adalah pengajar adab-arabi (sastra Arab) Universitas Dehli, India. Peranan dan kepeloporan Prof. Khursheed Ahmad Fariq di departeman bahasa Arab Universitas Delhi, India membuat Universitas Delhi membuat acara khusus mengenang beliau setelah beliau meninggal yaitu “Prof. Khursheed Ahmad Fariq Memorial Lecture” atau Kuliah Kenangan tentang Prof. Khursheed Ahmad Fariq sejak 2008. https://www.indcareer.com/university-delhi/Departments/department-arabic.

[19] Usdul Ghaabah jilid 2 h. 600, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2008 (اسدالغابہ جلد 2صفحہ 600 دارالکتب العلمیۃ بیروت 2008ء); ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibnu Sa’d jilid 6 halaaman 97, jilid 1 halaman 222, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah Beirut-Lebanon, 1990 (ماخوذ از طبقات الکبریٰ جلد 6 صفحہ 97 ، جلد اول صفحہ 222 مطبوعہ دار الکتب العلمیۃ بیروت 1990ء).

[20] Khursheed Ahmad Fariq dalam karyanya Hadhrat Abu Bakr ke Sarkari khuthuuth – Surat-Surat administrasi pemerintahan Hadhrat Abu Bakr,  halaman 41penerbit Idarah Islamiyaat, Anarkali, Lahore-Pakistan (حضرت ابوبکرؓ کےسرکاری خطوط صفحہ 41 ادارہ اسلامیات لاہور).

[21] Abu Ja’far Muhammad ibnu Jarir ath-Thabari dalam karyanya Tarikh ath-Thabari (تاریخ الطبری جلد2 صفحہ294 مطبوعہ دار الکتب العلمیۃ لبنان2012ء); Tarikh al-Kaamil (الکامل فی التاریخ جلد2صفحہ230 دار الکتب العلمیۃ لبنان).

[22] Abu Ja’far Muhammad ibnu Jarir ath-Thabari dalam karyanya Tarikh ath-Thabari (تاریخ الطبری جلد2 صفحہ294-295مطبوعہ دار الکتب العلمیۃ لبنان2012ء); Ibnu al-Atsir dalam karyanya al-Kaamil fit Taarikh (الکامل فی التاریخ جلد2صفحہ230 دار الکتب العلمیۃ لبنان); Doktor ‘Ali Muhammad Muhammad ash-Shalabi (عَلي محمد محمد الصَّلاَّبي) dalam karyanya Al-Insyirahu wa Raf’udh Dhayyiq fi Sirati Abi Bakr ash-Shiddiq syakhshiyatuhu wa ‘ashruhu (نام کتاب : الانشراحُ وَرَفعُ الضِّيق في سِيرة أبي بَكْر الصِّديق شخصيته وَعَصره نویسنده : الصلابي، علي محمد), penerbit Darut Tauzi’ wa Nasyr, Kairo-Mesir (دار التوزيع والنشر الإسلامية، القاهرة – مصر), tahun 1423 Hijriyyah atau 2002 (عام النشر: 1423 هـ – 2002 م), versi terjemahan Urdu terbitan Maktabah al-Furqan, Muzhaffaragah, Pakistan dengan judul Sayyiduna Abu Bakr Siddiq (ra) (سیدنا ابو بکر صدیقؓ شخصیت و کارنامے از ڈاکٹر علی محمدصلابی مترجم صفحہ303مکتبہ الفرقان مظفرگڑھ پاکستان); Mu’jamul Buldaan (معجم البلدان جلد1 صفحہ 263).

[23] Sumber referensi: Al-Fadhl International https://www.alfazl.com/2022/07/17/51360/; www.alislam.org (website resmi Jemaat Ahmadiyah Internasional bahasa Inggris dan Urdu) dan www.Islamahmadiyya.net (website resmi Jemaat Ahmadiyah Internasional bahasa Arab). Penerjemah: Mln. Mahmud Ahmad Wardi, Syahid (London-UK), Mln. Hasyim dan Mln. Fazli Umar Faruq. Editor: Dildaar Ahmad Dartono.

[24] Tarikh ath-Thabari (كتاب تاريخ الطبري = تاريخ الرسل والملوك، وصلة تاريخ الطبري) karya Abu Ja’far ath-Thabari (الطبري، أبو جعفر), juz ketiga (الجزء الثالث), tahun ke-11 (سنه احدى عشره), peristiwa-peristiwa yang terjadi di tahun ke-11 setelah kewafatan Rasulullah (saw) (حوادث السنة الحادية العشرة بعد وفاة رسول الله), kabar tentang kemurtadan penduduk Oman, Mahrah dan Yaman (ذكر الخبر عن رده اهل عمان ومهره واليمن).

[25] Tarikh ath-Thabari (تاریخ الطبری جلد2 صفحہ288-289مطبوعہ دار الکتب العلمیۃ لبنان2012ء); al-Kaamil fit Taarikh (الکامل فی التاریخ جلد 2 صفحہ 227 مطبوعہ دار الکتب العلمیۃ بیروت لبنان 2003ء); Kitab ar-Riddah karya al-Waqidi (کتاب الردۃ للواقدی صفحہ 163، دارالغرب الاسلامی 1990ء).

[26] Tarikh ath-Thabari (طبری جلد 2صفحہ289 مطبوعہ دار الکتب العلمیۃ لبنان2012ء).

[27] Tarikh ath-Thabari (تاریخ الطبری جلد2 صفحہ290-291مطبوعہ دار الکتب العلمیۃ لبنان2012ء).

[28] Tarikh ath-Thabari (كتاب تاريخ الطبري = تاريخ الرسل والملوك، وصلة تاريخ الطبري) karya Abu Ja’far ath-Thabari (الطبري، أبو جعفر), juz ketiga (الجزء الثالث), tahun ke-11 (سنه احدى عشره), peristiwa-peristiwa yang terjadi di tahun ke-11 setelah kewafatan Rasulullah (saw) (حوادث السنة الحادية العشرة بعد وفاة رسول الله), kabar tentang kemurtadan penduduk Oman, Mahrah dan Yaman (ذكر الخبر عن رده اهل عمان ومهره واليمن), terbitan Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Lebanon, 2012 (تاریخ الطبری جلد 2صفحہ 291 مطبوعہ دار الکتب العلمیۃ لبنان2012ء). (حضرت ابوبکرؓ کے سرکاری خطوط صفحہ 49 ادارہ اسلامیات لاہور)

[29] Tarikh ath-Thabari (تاریخ الطبری جلد 2 صفحہ 285 مطبوعہ دار الکتب العلمیۃ لبنان2012ء); Futuuhul Buldaan (فتوح البلدان صفحہ117 مؤسسۃ المعاف بیروت1987ء).

[30] Tarikh ath-Thabari (كتاب تاريخ الطبري = تاريخ الرسل والملوك، وصلة تاريخ الطبري) karya Abu Ja’far ath-Thabari (الطبري، أبو جعفر), juz ketiga (الجزء الثالث), tahun ke-11 (سنه احدى عشره), peristiwa-peristiwa yang terjadi di tahun ke-11 setelah kewafatan Rasulullah (saw) (حوادث السنة الحادية العشرة بعد وفاة رسول الله), kabar tentang kemurtadan penduduk Oman, Mahrah dan Yaman (ذكر الخبر عن رده اهل عمان ومهره واليمن).

[31] Tarikh ath-Thabari (كتاب تاريخ الطبري = تاريخ الرسل والملوك، وصلة تاريخ الطبري) karya Abu Ja’far ath-Thabari (الطبري، أبو جعفر), juz ketiga (الجزء الثالث), tahun ke-11 (سنه احدى عشره), peristiwa-peristiwa yang terjadi di tahun ke-11 setelah kewafatan Rasulullah (saw) (حوادث السنة الحادية العشرة بعد وفاة رسول الله), kabar tentang kemurtadan penduduk Oman, Mahrah dan Yaman (ذكر الخبر عن رده اهل عمان ومهره واليمن).

[32] Tarikh ath-Thabari (كتاب تاريخ الطبري = تاريخ الرسل والملوك، وصلة تاريخ الطبري) karya Abu Ja’far ath-Thabari (الطبري، أبو جعفر), juz ketiga (الجزء الثالث), tahun ke-11 (سنه احدى عشره), peristiwa-peristiwa yang terjadi di tahun ke-11 setelah kewafatan Rasulullah (saw) (حوادث السنة الحادية العشرة بعد وفاة رسول الله), kabar tentang kemurtadan penduduk Oman, Mahrah dan Yaman (ذكر الخبر عن رده اهل عمان ومهره واليمن).

[33] Tarikh ath-Thabari (كتاب تاريخ الطبري = تاريخ الرسل والملوك، وصلة تاريخ الطبري) karya Abu Ja’far ath-Thabari (الطبري، أبو جعفر), juz ketiga (الجزء الثالث), tahun ke-11 (سنه احدى عشره), peristiwa-peristiwa yang terjadi di tahun ke-11 setelah kewafatan Rasulullah (saw) (حوادث السنة الحادية العشرة بعد وفاة رسول الله), kabar tentang kemurtadan penduduk Oman, Mahrah dan Yaman (ذكر الخبر عن رده اهل عمان ومهره واليمن). (تاریخ الطبری جلد2 صفحہ289 دار الکتب العلمیۃ بیروت 2012ء); (سیدنا حضرت ابوبکر صدیقؓ شخصیت اور کارنامے از علی محمد صلابی صفحہ 344-345، مکتبہ الفرقان ضلع مظفر گڑھ پاکستان); (حضرت ابوبکر صدیقؓ از محمد حسین ہیکل صفحہ 241-242 اسلامی کتب خانہ لاہور).

[34] Doktor Muhammad Husain Haikal (محمد حسين هيكل ،الدكتور) dalam karyanya Ash-Shiddiq Abu Bakr (الصديق أبو بكر – رضي الله عنه) yang terjemahan Urdunya ialah Hadhrat Sayyidina Abu Bakr Shiddiq terbitan Book Corner Show Room, Jehlum, Pakistan (حضرت سیدنا ابو بکر صدیق ؓ از محمد حسین ہیکل مترجم مطبوعہ بک کارنر شو روم جہلم) atau terbitan Islami Kutub Khanah, Lahore, Pakistan (حضرت ابوبکرصدیقؓ ازمحمدحسین ہیکل ،اردوترجمہ صفحہ 242 اسلامی کتب خانہ لاہور) dan Kitab Huruubur Riddah (حروب الردة) karya Ahmad Sa’d al-‘Asy (أحمد سعد العش).

[35] QS. Asy-Syu’ara’: 26:64: فَاَوْحَيْنَآ اِلٰى مُوْسٰٓى اَنِ اضْرِبْ بِّعَصَاكَ الْبَحْرَ ۗ فَانْفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيْمِ ۚ  . Terjemahan Indonesia: “Lalu Kami wahyukan kepada Musa, ‘Pukullah laut itu dengan tongkatmu. Maka terbelahlah lautan itu, dan setiap belahan seperti gunung yang besar.

Dalam metode penomoran ayat-ayat Al-Qur’an Karim, sesuai dengan standar penomoran ayat-ayat Al-Qur’an Karim yang digunakan oleh Jemaat Ahmadiyah, bismillahirrahmaanirrahiim sebagai ayat pertama terletak pada permulaan setiap Surah kecuali Surah at-Taubah.

[36] QS. Asy-Syu’ara’, 26:64: فَاَوْحَيْنَآ اِلٰى مُوْسٰٓى اَنِ اضْرِبْ بِّعَصَاكَ الْبَحْرَ ۗ فَانْفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ الْعَظِيْمِ ۚ  . Terjemahan Indonesia: “Lalu Kami wahyukan kepada Musa, ‘Pukullah laut itu dengan tongkatmu. Maka terbelahlah lautan itu, dan setiap belahan seperti gunung yang besar.
Surat Al-Baqarah Ayat 5
1 (2:51): وَاِذْ فَرَقْنَا بِكُمُ الْبَحْرَ فَاَنْجَيْنٰكُمْ وَاَغْرَقْنَآ اٰلَ فِرْعَوْنَ وَاَنْتُمْ تَنْظُرُوْنَ . “Dan (ingatlah) ketika Kami membelah laut untukmu, sehingga kamu dapat Kami selamatkan dan Kami tenggelamkan (Fir‘aun dan) pengikut-pengikut Fir‘aun, sedang kamu menyaksikan.

[37] Tafsir Kabir (ماخوذ از تفسیر کبیر جلد1صفحہ419تا 422) karya Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad (حضرت مرزا بشیرالدین محمود احمد، المصلح موعود خلیفۃ المسیح الثانیؓ), jilid awwal (جلد اوّل۔ سورة فاتحہ و سورة بقرة رکوع ۱ تا ۹) pada link https://www.alislam.org/quran/view/?page=418&region=T1.

[38] Tarikh ath-Thabari (كتاب تاريخ الطبري = تاريخ الرسل والملوك، وصلة تاريخ الطبري) karya Muhammad ibnu Jarir Abu Ja’far ath-Thabari (الطبري، أبو جعفر), juz ketiga (الجزء الثالث), tahun ke-11 (سنه احدى عشره), peristiwa-peristiwa yang terjadi di tahun ke-11 setelah kewafatan Rasulullah (saw) (حوادث السنة الحادية العشرة بعد وفاة رسول الله), kabar tentang kemurtadan penduduk Oman, Mahrah dan Yaman (ذكر الخبر عن رده اهل عمان ومهره واليمن), Vol. 2 [Beirut, Lebanon: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2012], p. 289-290 (تاریخ الطبری جلد2 صفحہ289 تا290 دار الکتب العلمیۃ بیروت 2012ء).

[39] Muhammad ibnu Jarir ath-Thabari, Tarikh ath-Thabari, Vol. 2 [Beirut, Lebanon: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2012], p. 257 (تاریخ الطبری جلد2 صفحہ 257مطبوعہ دار الکتب العلمیۃ لبنان2012ء).

[40] Kamus bahasa Arab Lisanul ‘Arab pada kata tahama (لسان العرب زیر مادہ :تہم)

[41] Hadhrat Abu Bakr ke Sarkari khuthuuth – Surat-Surat administrasi pemerintahan Hadhrat Abu Bakr, penerbit Nadwatul Mushannifiin, Delhi-India (حضرت ابوبکرؓ کے سرکاری خطوط صفحہ3349، ندوۃ المصنفین دہلی) atau penerbit Idarah Islamiyaat, Anarkali, Lahore-Pakistan (ا صفحہ 40-41 ادارہ اسلامیات، انارکلی، لاہور، پاکستان، مئی ۱۹۷۸ء) penulis bernama Khursheed Ahmad Fariq (ڈاکٹر خورشید احمد فارِق),yang dalam versi lain tertulis Khursyid Ahmad Faruqi (خورشید احمد فاروقی) atau Khursheed Ahmad Farooqi. Beliau adalah pengajar adab-arabi (sastra Arab) Universitas Dehli, India. Peranan dan kepeloporan Prof. Khursheed Ahmad Fariq di departeman bahasa Arab Universitas Delhi, India membuat Universitas Delhi membuat acara khusus mengenang beliau setelah beliau meninggal yaitu “Prof. Khursheed Ahmad Fariq Memorial Lecture” atau Kuliah Kenangan tentang Prof. Khursheed Ahmad Fariq sejak 2008. https://www.indcareer.com/university-delhi/Departments/department-arabic.

[42] Usdul Ghaabah jilid 2 h. 600, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2008 (اسدالغابہ جلد 2صفحہ 600 دارالکتب العلمیۃ بیروت 2008ء); ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibnu Sa’d jilid 6 halaaman 97, jilid 1 halaman 222, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah Beirut-Lebanon, 1990 (ماخوذ از طبقات الکبریٰ جلد 6 صفحہ 97 ، جلد اول صفحہ 222 مطبوعہ دار الکتب العلمیۃ بیروت 1990ء).

[43] Khursheed Ahmad Fariq dalam karyanya Hadhrat Abu Bakr ke Sarkari khuthuuth – Surat-Surat administrasi pemerintahan Hadhrat Abu Bakr,  halaman 41penerbit Idarah Islamiyaat, Anarkali, Lahore-Pakistan (حضرت ابوبکرؓ کےسرکاری خطوط صفحہ 41 ادارہ اسلامیات لاہور).

[44] Abu Ja’far Muhammad ibnu Jarir ath-Thabari dalam karyanya Tarikh ath-Thabari (تاریخ الطبری جلد2 صفحہ294 مطبوعہ دار الکتب العلمیۃ لبنان2012ء); Tarikh al-Kaamil (الکامل فی التاریخ جلد2صفحہ230 دار الکتب العلمیۃ لبنان).

[45] Abu Ja’far Muhammad ibnu Jarir ath-Thabari dalam karyanya Tarikh ath-Thabari (تاریخ الطبری جلد2 صفحہ294-295مطبوعہ دار الکتب العلمیۃ لبنان2012ء); Ibnu al-Atsir dalam karyanya al-Kaamil fit Taarikh (الکامل فی التاریخ جلد2صفحہ230 دار الکتب العلمیۃ لبنان); Doktor ‘Ali Muhammad Muhammad ash-Shalabi (عَلي محمد محمد الصَّلاَّبي) dalam karyanya Al-Insyirahu wa Raf’udh Dhayyiq fi Sirati Abi Bakr ash-Shiddiq syakhshiyatuhu wa ‘ashruhu (نام کتاب : الانشراحُ وَرَفعُ الضِّيق في سِيرة أبي بَكْر الصِّديق شخصيته وَعَصره نویسنده : الصلابي، علي محمد), penerbit Darut Tauzi’ wa Nasyr, Kairo-Mesir (دار التوزيع والنشر الإسلامية، القاهرة – مصر), tahun 1423 Hijriyyah atau 2002 (عام النشر: 1423 هـ – 2002 م), versi terjemahan Urdu terbitan Maktabah al-Furqan, Muzhaffaragah, Pakistan dengan judul Sayyiduna Abu Bakr Siddiq (ra) (سیدنا ابو بکر صدیقؓ شخصیت و کارنامے از ڈاکٹر علی محمدصلابی مترجم صفحہ303مکتبہ الفرقان مظفرگڑھ پاکستان); Mu’jamul Buldaan (معجم البلدان جلد1 صفحہ 263).

[46] Sumber referensi: Al-Fadhl International https://www.alfazl.com/2022/07/17/51360/; www.alislam.org (website resmi Jemaat Ahmadiyah Internasional bahasa Inggris dan Urdu) dan www.Islamahmadiyya.net (website resmi Jemaat Ahmadiyah Internasional bahasa Arab). Penerjemah: Mln. Mahmud Ahmad Wardi, Syahid (London-UK), Mln. Hasyim dan Mln. Fazli Umar Faruq. Editor: Dildaar Ahmad Dartono.

Leave a Reply

Begin typing your search above and press return to search.
Select Your Style

You can choose the color for yourself in the theme settings, сolors are shown for an example.