Riwayat Abu Bakr ash-Shiddiiq ra (Seri 4)

Hudhur ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz menguraikan sifat-sifat terpuji Khalifah (Pemimpin Penerus) bermartabat luhur dan Rasyid (lurus) dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Peranan Hadhrat Abu Bakr radhiyAllahu ta’ala ‘anhu dalam Baiat ‘Aqabah kedua.

Peranan Hadhrat Abu Bakr radhiyAllahu ta’ala ‘anhu dalam Hijrah dari Makkah ke Madinah. Menemani Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kutipan Hadits al-Bukhari perihal rukya (mimpi) Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau akan pindah ke suatu tempat dan awalnya mengira nama tempat itu ialah Yamamah atau Hajar, namun ternyata Yatsrib atau Madinah.

Penjelasan Pendiri Jemaat Ahmadiyah mengenai ijtihad keliru Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ini.

Penjelasan Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) atau Khalifatul Masih II (ra) perihal hijrah.

Penjelasan Kitab-Kitab Sirah dan Hadits perihal hijrah.

Penjelasan Pendiri Jemaat Ahmadiyah mengenai peranan Hadhrat ‘Ali radhiyAllahu ta’ala ‘anhu.

Uraian Hadhrat Mirza Basyir Ahmad (ra) menulis dalam buku Sirat Khatamun Nabiyyiin.

Beragam pendapat mengenai waktu keluarnya Rasulullah (saw) dari kediaman beliau pada saat kejadian hijrah itu. Pendapat berbeda antara sejarawan Muhammad Husain Haikal, Imam al-Baihaqi dan penulis Madarijun Nubuwwat (sejarawan India).

Pendapat berbeda antara Hadhrat Mirza Basyir Ahmad radhiyAllahu ta’ala ‘anhu, Hadhrat Mushlih Mau’ud radhiyAllahu ta’ala ‘anhu dan Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihish shalaatu was salaam.

Doa-doa saat Hijrah.

Peristiwa-peristiwa di Makkah yang dialami orang-orang Muslim yang masih di Makkah setelah kaum Quraisy mengetahui Nabi (saw) telah pergi dari Makkah.

Peranan Hadhrat Abu Bakr radhiyAllahu ta’ala ‘anhu di gua Tsaur.

Kehebatan salah seorang pencari jejak yang dapat menyelidiki jejak Nabi hingga di depan gua Tsaur dan sarannya agar masuk ke dalam gua. Namun, malah dimentahkan pemimpin Quraisy sendiri yang melihat burung merpati di pintu gua, sarang laba-laba dan pohon sehingga mengira tidak mungkin ada orang masuk ke dalam.

Hudhur (atba) akan terus menyebutkan lebih lanjut berbagai kejadian dalam masa Hadhrat Abu Bakr radhiyAllahu ta’ala ‘anhu di khotbah-khotbah mendatang.

Khotbah Jumat Sayyidina Amirul Mu-minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 24 Desember 2021 (24 Fatah 1400 Hijriyah Syamsiyah/20 Jumadil Awwal 1443 Hijriyah Qamariyah) di Masjid Mubarak, Islamabad, Tilford, UK (United Kingdom of Britain/Britania Raya).

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم* الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يوْم الدِّين * إيَّاكَ نعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَآمين .

Melanjutkan pembahasan tentang Hadhrat Abu Bakr Ash-Shiddiq (ra). Dalam pembahasan tentang baiat Aqabah kedua, tertera bahwa di kesempatan Baiat Aqabah kedua, bersama Nabi (saw) ada Hadhrat Abu Bakr (ra), Hadhrat Ali, dan Hadhrat Abbas ‘Paman Nabi (saw)’. Hadhrat Abbas yang saat itu ditugaskan untuk memimpin pengaturan, beliau menempatkan Hadhrat Ali sebagai penjaga di salah satu sisi bukit, dan di sisi lainnya beliau menugaskan Hadhrat Abu Bakr untuk menjaga dan mengawasinya.[1]

Selanjutnya, pada peristiwa Nabi Akram (Nabi Yang Mulia [saw]) berhijrah ke Madinah, tertera juga tentang Hadhrat Abu Bakr Ash-Shiddiq sebagai sahabat yang menemani beliau (saw) sebagai berikut: Tatkala penganiayaan oleh para kafir Makkah terhadap kaum Muslim di Makkah semakin meningkat, pada saat itu diperlihatkan pada Rasulullah (saw) di dalam sebuah mimpi tentang tempat tujuan berhijrah beliau yang diperlihatkan kepada dua orang Muslim, yaitu tanah gersang yang dikelilingi oleh pepohonan kurma, namun tidak disebutkan apa nama tempatnya. Meski demikian, dengan pengamatan geografis dan pemetaan Rasulullah (saw), beliau berijtihad dengan bersabda bahwa tempat itu adalah Hajar atau Yamamah. Hal ini sebagaimana tertera di dalam salah satu riwayat Sahih Bukhari, yang mengenainya beliau (saw) bersabda, رَأَيْتُ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أُهَاجِرُ مِنْ مَكَّةَ إِلَى أَرْضٍ بِهَا نَخْلٌ، فَذَهَبَ وَهَلِي إِلَى أَنَّهَا الْيَمَامَةُ أَوْ هَجَرٌ، فَإِذَا هِيَ الْمَدِينَةُ يَثْرِبُ، وَرَأَيْتُ فِيهَا بَقَرًا وَاللَّهُ خَيْرٌ، فَإِذَا هُمُ الْمُؤْمِنُونَ يَوْمَ أُحُدٍ، وَإِذَا الْخَيْرُ مَا جَاءَ اللَّهُ مِنَ الْخَيْرِ وَثَوَابِ الصِّدْقِ الَّذِي أَتَانَا اللَّهُ بِهِ بَعْدَ يَوْمِ بَدْرٍ yang artinya, “…saat itu pikiran saya tertuju bahwa tempat itu adalah Yamamah atau Hajar, namun setelah saya melihatnya, itu adalah Yatsrib.”[2]

Yamamah pun adalah nama sebuah kota masyhur di Yaman. [3] Hajar adalah nama beberapa perkampungan yang ada di wilayah Arab. Salah satu kota dan daerah di Bahrain pun bernama Hajar.[4] Alhasil, setelah beberapa masa, keadaan menjadi berubah dan kaum Ansar Madinah pun bernasib baik dengan mulai memeluk Islam. Maka dengan isyarat Ilahi, ditampakkan pada beliau bahwa negeri yang dimaksud itu adalah Yatsrib, yang kemudian pun mulai masyhur dengan nama Madinah.

Hadhrat Aqdas Masih Mau’ud (as) dalam menerangkan ijtihad Yang Mulia Nabi (saw) bersabda, “Hadits yang di dalamnya terdapat kata فَذَهَبَ وَهَلِي إِلَى أَنَّهَا الْيَمَامَةُ أَوْ هَجَرٌ، فَإِذَا هِيَ الْمَدِينَةُ يَثْرِبُ secara jelas memperlihatkan bahwa ijtihad yang disampaikan oleh Rasulullah (saw) tentang tempat penyempurnaan nubuatan itu adalah keliru.”[5]

Maka dari itu, Rasulullah (saw) mengizinkan dan membimbing para sahabat dan kaum Muslim yang teraniaya di Makkah untuk berhijrah ke Madinah. Atas hal ini, kaum Muslim Makkah pun mulai berhijrah ke Madinah. Di sisi lain, setelah baiat Aqabah kedua, pergerakan hijrah ini pun semakin besar dan rumah-rumah serta permukiman-permukiman berangsur kosong. Atas keadaan ini, para pemimpin Makkah yang zalim pun semakin menampakkan kebencian mereka; dan dengan gusar dan diliputi kemarahan, mereka mengambil sikap untuk menghalangi orang-orang yang terzalimi itu dari berhijrah, dan mereka melakukan berbagai macam cara untuk menekannya.

Ada seseorang yang dibiarkan berhijrah namun istri dan anaknya ditawan. Ada yang diperas harta kekayaannya dengan alasan, “Itu adalah harta yang kamu dapatkan dari Makkah, dan jika ingin dapat pergi dari Makkah maka berikanlah semua hartamu pada kami.”

Ada yang ditakut-takuti agar ia tidak meninggalkan ibunya dan disuruh untuk menemuinya. Namun di perjalanan ia diikat dan disekap di ruangan sempit.[6]

Meski demikian, Jemaat kaum Muslim yang telah kaya raya dengan khazanah iman, dan sabar serta bersyukur dalam kecintaannya yang tinggi terhadap Islam dengan penuh semangat tinggi berangsur-angsur berhijrah menuju Madinah. Alhasil, tatkala Makkah telah kosong dari mereka, yakni kaum Muslim yang sanggup berhijrah dan pergi ke Medinah, maka saat itu hanya tersisa orang-orang Muslim yang lemah dan tak berdaya, yang mengenai mereka Al-Quran Karim menyebutkan,  إِلَّا الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ لَا يَسْتَطِيعُونَ حِيلَةً وَلَا يَهْتَدُونَ سَبِيلًا “Kecuali orang-orang lemah diantara laki-laki, perempuan, dan anak-anak, yang tidak mampu berupaya dan tidak pula mendapatkan suatu jalan untuk menyelamatkan diri.” (Surah an-Nisa, 4 : 99)

Allah memberi tahu Nabi Muhammad (saw) tentang rencana ini, ketika Dia menyatakan:
يس () وَالْقُرْآنِ الْحَكِيمِ () إِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ () عَلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ () تَنزِيلَ الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ () لِتُنذِرَ قَوْمًا مَّا أُنذِرَ آبَاؤُهُمْ فَهُمْ غَافِلُونَ () لَقَدْ حَقَّ الْقَوْلُ عَلَىٰ أَكْثَرِهِمْ فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ () إِنَّا جَعَلْنَا فِي أَعْنَاقِهِمْ أَغْلَالًا فَهِيَ إِلَى الْأَذْقَانِ فَهُم مُّقْمَحُونَ () وَجَعَلْنَا مِن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ سَدًّا وَمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا فَأَغْشَيْنَاهُمْ فَهُمْ لَا يُبْصِرُونَ () “Ya Sin. Demi Al-Qur’an yang penuh hikmah, sesungguhnya kamu adalah salah seorang dari para Rasul, di jalan yang lurus. Ini adalah wahyu Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang, agar kamu memberi peringatan kepada suatu kaum yang bapak-bapaknya tidak pernah diberi peringatan, sehingga mereka lalai. Sungguh, perkataan itu terbukti benar terhadap kebanyakan dari mereka, karena mereka tidak percaya. Kami telah memasangkan belenggu pada leher mereka sampai ke dagu, sehingga kepala mereka dipaksa ke atas. Dan Kami jadikan penghalang di hadapan mereka dan penghalang di belakang mereka, dan Kami tutupi mereka, sehingga mereka tidak dapat melihat.” (Surah Yaasiin, 36 : 2-10)

Sementara itu, Rasulullah (saw) masih menunggu perintah dari Tuhan untuk hijrah ke Madinah, dan Hadhrat Ali pun masih ada di Makkah. Saat itu pun Hadhrat Abu Bakr Ash-Shiddiq tengah menghadap kepada Rasulullah (saw) agar diizinkan untuk hijrah sehingga beliau (saw) memerintahkan, عَلَى رِسْلِكَ، فَإِنِّي أَرْجُو أَنْ يُؤْذَنَ لِي “Tunggulah, saya berharap bahwa saya pun akan diizinkan”[7], atau dalam satu riwayat lain beliau (saw) bersabda, لَا تَعْجَلْ لَعَلَّ اللَّهَ يَجْعَلُ لَكَ صَاحِبًا “Janganlah Anda tergesa-gesa, karena mungkin saja Allah akan menyediakan seorang teman untuk menemani Anda.”[8]

Atas hal ini Hadhrat Abu Bakr bertanya, وَهَلْ تَرْجُو ذَلِكَ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي؟ “Wahai Rasulullah (saw), ayah dan ibuku berkorban untuk Tuan. Apakah Allah mengizinkan Tuan untuk berhijrah?”[9] (seolah melalui hijrah ini, kesedihan akan berpisah dengan Nabi (saw) akan terobati). Mendengar kabar yang menggembirakan ini, Hadhrat Abu Bakr (ra) kembali dan menunda keinginannya berhijrah. Selain itu, dengan penuh bijaksana beliau membeli dua ekor unta yang lalu beliau persiapkan sebaik-baiknya untuk melakukan perjalanan hijrah.[10]

Dalam menjelaskan peristiwa ini, Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) menjelaskan, “Rasulullah (saw) dan para sahabat beliau mulai bersiap-siap untuk hijrah. Satu demi satu keluarga pun mulai meninggalkan Makkah. Mereka itulah orang-orang yang dengan segenap keberanian menantikan kerajaan Allah Ta’ala. Terkadang hanya di waktu satu malam, satu lorong Makkah telah kosong dan terkunci. Hingga di pagi hari, tatkala para penduduk mendapati lorong tersebut sepi, mereka yang bertanya mengetahui bahwa seluruh penghuni lorong itu telah berhijrah ke Madinah, dan mereka menjadi terheran dengan pengaruh Islam yang telah sedemikian dalamnya masuk ke dalam diri orang-orang Makkah. Pada akhirnya Makkah pun kosong dari kaum Muslim. Hanya beberapa budak saja dan juga Rasulullah (saw) sendiri beserta Hadhrat Abu Bakr dan Hadhrat Ali yang tersisa di Makkah.”[11]

Kemudian, beliau (ra) menjelaskan, ”Dibandingkan dengan kaum lainnya, kaum kafir Makkah secara pembawaan lebih menaruh benci dan permusuhan atas Rasulullah (saw), karena mereka telah melihat bahwa akibat ajaran beliau lah maka tersebar penolakan orang-orang terhadap akidah syirik. Mereka mengetahui bahwa jika beliau terbunuh, maka dengan sendirinya jemaat beliau pun akan menjadi rapuh. Maka dari itu, bukan kepada yang lain, mereka lebih banyak menimpakan kesukaran kepada Rasulullah (saw) dan mengupayakan segenap cara agar beliau meninggalkan penda’waan beliau. Meski menghadapi kesulitan-kesulitan tersebut, beliau (saw) memerintahkan para sahabat beliau untuk berhijrah, sementara itu beliau (saw) tidak berhijrah dari Makkah meskipun menanggung penderitaan dan kesulitan tersebut, karena belum ada izin kepada beliau dari Allah Ta’ala. Maka dari itu, tatkala Hadhrat Abu Bakr bertanya, ‘Dapatkah saya berhijrah?’

Beliau (saw) menjawab, عَلَى رِسْلِكَ، فَإِنِّي أَرْجُو أَنْ يُؤْذَنَ لِي ‘Anda tinggallah dulu, saya berharap agar saya pun pun diizinkan.’”[12]

Di Darun-Nadwah, orang-orang kafir berkumpul untuk melakukan kesepakatan rahasia melawan Yang Mulia Rasulullah (saw) yang mengenai hal ini tertera riwayat, “Para pemimpin Makkah saat itu tengah sangat marah dan menghadap kesulitan demi kesulitan, karena kaum Muslim akan keluar dari Makkah dan selamat dari tangan mereka. Maka saat itu mereka berkumpul di Darun Nadwah.”

Allamah Ibnu Ishaq menuturkan, وَلَمَّا رَأَتْ قُرَيْشٌ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ صَارَتْ لَهُ شِيعَةٌ وَأَصْحَابٌ مِنْ غَيْرِهِمْ بِغَيْرِ بَلَدِهِمْ، وَرَأَوْا خُرُوجَ أَصْحَابِهِ مِنْ الْمُهَاجِرِينَ إلَيْهِمْ، عَرَفُوا أَنَّهُمْ قَدْ نَزَلُوا دَارًا، وَأَصَابُوا مِنْهُمْ مَنَعَةً، فَحَذِرُوا خُرُوجَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إلَيْهِمْ، وَعَرَفُوا أَنَّهُمْ قَدْ أَجَمَعَ لِحَرْبِهِمْ. فَاجْتَمَعُوا لَهُ فِي دَارِ النَّدْوَةِ- وَهِيَ دَارُ قُصَيِّ بْنِ كِلَابٍ الَّتِي كَانَتْ قُرَيْشٌ لَا تَقْضِي أَمْرًا إلَّا فِيهَا- يَتَشَاوَرُونَ فِيهَا مَا يَصْنَعُونَ فِي أَمْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، حَيْنَ خَافُوهُ “Tatkala Quraisy melihat bahwa ada suatu jemaat yang bersama Rasulullah (saw), yang tidak ada hubungannya dengan kaum Muslim Makkah dan tidak berasal dari Makkah, lalu Quraisy pun telah melihat bahwa para sahabat beliau (saw) tengah keluar untuk berhijrah menuju jemaat tersebut, maka Quraisy pun akhirnya mengetahui bahwa kaum Muslim tengah mencari tempat yang aman dan mereka telah mendapatkan perlindungan yang sempurna dari orang-orang tersebut yakni penduduk Madinah. Jadi, kaum Quraisy khawatir jangan sampai Rasulullah (saw) pun akan berhijrah menuju tempat tersebut, dan Quraisy telah tahu bahwa mereka tengah bersatu untuk berperang melawan Quraisy. Maka dari itu, mereka pun berkumpul di Darun Nadwah. Ini adalah rumah dari Qusay bin Kilab ‘leluhur Quraisy’, dan keputusan apapun bagi kaum Quraisy akan ditentukan di situ. Kapan pun mereka merasakan keresahan akibat keberadaan beliau, mereka datang bermusyawarah di sana.”[13]

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: لَمَّا أَجَمَعُوا لِذَلِكَ، وَاتَّعَدُوا أَنْ يَدْخُلُوا فِي دَارِ النَّدْوَةِ لِيَتَشَاوَرُوا فِيهَا فِي أَمْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، غَدَوْا فِي الْيَوْمِ الَّذِي اتَّعَدُوا لَهُ، وَكَانَ ذَلِكَ الْيَوْمُ يُسَمَّى يَوْمَ الزَّحْمَةِ، فَاعْتَرَضَهُمْ إبْلِيسُ فِي هَيْئَةِ شَيْخٍ جَلِيلٍ، عَلَيْهِ بَتْلَةٌ، فَوَقَفَ عَلَى بَابِ الدَّارِ، فَلَمَّا رَأَوْهُ وَاقِفًا عَلَى بَابِهَا، قَالُوا: مَنْ الشَّيْخُ؟ قَالَ: شَيْخٌ مِنْ أَهْلِ نَجْدٍ سَمِعَ بِاَلَّذِي اتَّعَدْتُمْ لَهُ، فَحَضَرَ مَعَكُمْ لِيَسْمَعَ مَا تَقُولُونَ، وَعَسَى أَنْ لَا يُعْدِمَكُمْ مِنْهُ رَأْيًا وَنُصْحًا، قَالُوا: أَجَلْ، فَادْخُلْ، فَدَخَلَ مَعَهُمْ، وَقَدْ اجْتَمَعَ فِيهَا أَشْرَافُ قُرَيْشٍ، مِنْ بَنِي عَبْدِ شَمْسٍ: عُتْبَةُ بْنُ رَبِيعَةَ، وَشَيْبَةُ ابْن رَبِيعَةَ، وَأَبُو سُفْيَانَ بْنُ حَرْبٍ. وَمِنْ بَنِي نَوْفَلِ بْنِ عَبْدِ مَنَافٍ: طُعَيْمَةُ بْنُ عَدِيٍّ، وَجُبَيْرُ بْنُ مُطْعَمٍ، وَالْحَارِثُ بْنُ عَامِرِ بْنِ نَوْفَلٍ. وَمِنْ بَنِي عَبْدِ الدَّارِ بْنِ قُصَيٍّ: النَّضْرُ بْنُ الْحَارِثِ بْنِ كِلْدَةَ. وَمِنْ بَنِي أَسَدِ بْنِ عَبْدِ الْعُزَّى: أَبُو الْبَخْتَرِيِّ ابْن هِشَامٍ، وَزَمْعَةُ بْنُ الْأَسْوَدِ بْنِ الْمُطَّلِبِ، وَحَكِيمُ بْنُ حِزَامٍ. وَمِنْ بَنِي مَخْزُومٍ أَبُو جَهْلِ بْنِ هِشَامٍ. وَمِنْ بَنِي سَهْمٍ: نُبَيْهٌ وَمُنَبِّهٌ ابْنَا الْحَجَّاجِ، وَمِنْ بَنِي جُمَحٍ: أُمَيَّةُ بْنُ خَلَفٍ، وَمَنْ كَانَ مَعَهُمْ وَغَيْرُهُمْ مِمَّنْ لَا يُعَدُّ مِنْ قُرَيْشٍ Hadhrat Abdullah bin Abbas menjelaskan, “Tatkala orang-orang itu [Quraisy] berkumpul untuk hal tersebut, dan mereka berjanji untuk melakukan sesuatu, maka mereka masuk ke dalam Darun Nadwah untuk bermusyawarah tentang Rasulullah (saw). Pada hari mereka membuat perjanjian, di hari itulah kaum Muslim pergi dan hari itu disebut sebagai yaumuz zahmah.

Di hadapan mereka tampak iblis dalam rupa seorang berusia tua.” Artinya, ia adalah seorang manusia yang memiliki sifat iblis. “Alhasil, tidak ada yang mengetahui siapa gerangan sosok yang tertutup kain dan berdiri di pintu Darun Nadwah itu. Tatkala orang-orang itu melihatnya berdiri di pintu, maka mereka bertanya, ‘Siapa orang tua ini?’

Orang itu menjawab, ‘Saya orang tua yang berasal dari Najd.’ Ia lalu berkata, ‘Saya telah mendengar hal yang telah kalian janjikan bersama. Saya datang menemui kalian untuk mendengar apa yang kalian katakan. Saya berharap ada kebaikan bagimu dari melakukan hal itu.’

Orang-orang berkata, ‘Baiklah, masuklah.’ Ia pun masuk ke tengah tengah mereka.

Di sana tengah berkumpul banyak petinggi Quraisy yang diantaranya nama yang masyhur adalah Utbah bin Rabiah, Syaibah bin Rabiah, Abu Sufyan bin Harb, Thu’aimah bin Adi. Juga beberapa yang lain seperti Abu Jahl bin Hisyam, dua putra al-Hajjaj dan banyak tokoh lainnya. Ada juga beberapa petinggi lain yang tidak termasuk suku Quraisy.

فَقَالَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ: إنَّ هَذَا الرَّجُلَ قَدْ كَانَ مِنْ أَمْرِهِ مَا قَدْ رَأَيْتُمْ، فَإِنَّا وَاَللَّهِ مَا نَأْمَنُهُ عَلَى الْوُثُوبِ عَلَيْنَا فِيمَنْ قَدْ اتَّبَعَهُ مِنْ غَيْرِنَا، فَأَجْمِعُوا فِيهِ رَأْيًا. قَالَ: فَتَشَاوَرُوا ثُمَّ قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ: احْبِسُوهُ فِي الْحَدِيدِ، وَأَغْلِقُوا عَلَيْهِ بَابًا، ثُمَّ تَرَبَّصُوا بِهِ مَا أَصَابَ أَشْبَاهَهُ مِنْ الشُّعَرَاءِ الَّذِينَ كَانُوا قَبْلَهُ، زُهَيْرًا وَالنَّابِغَةَ، وَمَنْ مَضَى مِنْهُمْ، مِنْ هَذَا الْمَوْتِ، حَتَّى يُصِيبَهُ مَا أَصَابَهُمْ، فَقَالَ الشَّيْخُ النَّجْدِيُّ: لَا وَاَللَّهِ، مَا هَذَا لَكُمْ بِرَأْيٍ. وَاَللَّهِ لَئِنْ حَبَسْتُمُوهُ كَمَا تَقُولُونَ لَيَخْرُجَنَّ أَمْرُهُ مِنْ وَرَاءِ الْبَابِ الَّذِي أَغْلَقْتُمْ دُونَهُ إلَى أَصْحَابِهِ، فَلَأَوْشَكُوا أَنْ يَثِبُوا عَلَيْكُمْ، فَيَنْزِعُوهُ مِنْ أَيْدِيكُمْ، ثُمَّ يُكَاثِرُوكُمْ بِهِ، حَتَّى يَغْلِبُوكُمْ عَلَى أَمْرِكُمْ، مَا هَذَا لَكُمْ بِرَأْيٍ، فَانْظُرُوا فِي غَيْرِهِ، فَتَشَاوَرُوا. Tatkala semua telah berkumpul dan tiba waktu bertukar pendapat, seseorang memberi saran, ‘Muhammad (saw) harus diikat dengan rantai besi dan dikurung rapat, dan biarkan ia menunggu ajalnya seperti halnya dua orang penyair yang juga sepertinya yaitu Zuhair, Nabighah dan para penyair lain yang telah berlalu. Yakni, biarkan ia menghadapi akhir seperti yang telah dialami oleh kedua penyair yakni Zuhair, Nabgah, dan yang lainnya. Yaitu, jalankan rencana ini yakni akhirilah beliau dengan kematian seperti halnya kematian yang menimpa para penyair itu.’

Mendengarnya, orang tua dari Najd berkata, ‘Tidak, Demi Allah, menurut saya, pendapat ini tidak tepat bagi kalian. Demi Allah, jika kalian mengurungnya, maka kabar ini tetap akan menyebar keluar hingga pada para sahabatnya. Dan tidak akan lama lagi tatkala mereka akan memberi tebusannya dan mereka akan mengeluarkan dan membawanya. Lalu dibawah bimbingannya, mereka akan menambah jumlah mereka dan mengalahkan kalian. Oleh karena itu, pikirkanlah jalan yang lain.’

ثُمَّ قَالَ قَائِلٌ مِنْهُمْ: نُخْرِجُهُ مِنْ بَيْنِ أَظْهُرِنَا، فَنَنْفِيهِ مِنْ بِلَادِنَا، فَإِذَا أخرج عنّا فو الله مَا نُبَالِي أَيْنَ ذَهَبَ، وَلَا حَيْثُ وَقَعَ، إذَا غَابَ عَنَّا وَفَرَغْنَا مِنْهُ، فَأَصْلَحْنَا أَمْرَنَا وَأَلْفَتْنَا كَمَا كَانَتْ. فَقَالَ الشَّيْخُ النَّجْدِيُّ: لَا وَاَللَّهِ، مَا هَذَا لَكُمْ بِرَأْيٍ، أَلَمْ تَرَوْا حُسْنَ حَدِيثِهِ، وَحَلَاوَةَ مَنْطِقِهِ، وَغَلَبَتِهِ عَلَى قُلُوبِ الرِّجَالِ بِمَا يَأْتِي بِهِ، وَاَللَّهِ لَوْ فَعَلْتُمْ ذَلِكَ مَا أَمِنْتُمْ أَنْ يَحِلَّ عَلَى حَيٍّ مِنْ الْعَرَبِ، فَيَغْلِبَ عَلَيْهِمْ بِذَلِكَ مِنْ قَوْلِهِ وَحَدِيثِهِ حَتَّى يُتَابِعُوهُ عَلَيْهِ، ثُمَّ يَسِيرُ بِهِمْ إلَيْكُمْ حَتَّى يَطَأَكُمْ بِهِمْ فِي بِلَادِكُمْ، فَيَأْخُذَ أَمْرَكُمْ مِنْ أَيْدِيكُمْ، ثُمَّ يَفْعَلَ بِكَمْ مَا أَرَادَ، دَبِّرُوا فِيهِ رَأْيًا غَيْرَ هَذَا. Maka seseorang memberi pendapat, ‘Singkirkanlah ia dari antara kita, dan usirlah dia, sehingga tidak akan ada lagi urusan kita dengannya, semua terserah dengannya. Jika ia pergi dari kita, dan kita pun akan terbebas darinya, maka keadaan kita akan membaik, dan keadaan kita akan menjadi seperti sedia kala.’

Atas hal ini, orang tua dari Najd berkata, ‘Tidak, demi Allah, usul ini pun tidak tepat. Apakah kalian semua tidak mengetahui betapa indah dan manisnya hal-hal yang ia katakan, dan betapa ia telah memenangkan hati orang-orang dengan apa yang ia bawa. Demi Allah, jika kalian melakukan ini, kalian tetap tidak akan merasa damai, karena ia pasti akan datang pada suatu kabilah Arab dan ia akan menaklukkannya dengan perkataan-perkataannya sehingga orang-orang pun akan mengikutinya. Lalu mereka bersama-sama akan datang menuju kalian dan akan menundukkanmu di kotamu sendiri, dan akan mengambil urusan-urusanmu dari tanganmu, dan mereka akan memperlakukanmu sekehendak hati mereka. Oleh karena itu pikirkanlah cara lain.’

Terkait:   Keteladanan Para Sahabat Rasulullah (Seri 64): Abdullah bin Rawahah

 قَالَ: فَقَالَ أَبُو جَهْلِ بْنُ هِشَامٍ: وَاَللَّهِ إنَّ لِي فِيهِ لَرَأْيًا مَا أَرَاكُمْ وَقَعْتُمْ عَلَيْهِ بَعْدُ، قَالُوا: وَمَا هُوَ يَا أَبَا الْحَكَمِ؟ قَالَ: أَرَى أَنْ نَأْخُذَ نْ كُلِّ قَبِيلَةٍ فَتًى شَابًّا جَلِيدًا نَسِيبًا وَسِيطًا فِينَا، ثُمَّ نُعْطِي كُلَّ فَتًى مِنْهُمْ سَيْفًا صَارِمًا، ثُمَّ يَعْمِدُوا إلَيْهِ، فَيَضْرِبُوهُ بِهَا ضَرْبَةَ رَجُلٍ وَاحِدٍ، فَيَقْتُلُوهُ، فَنَسْتَرِيحَ مِنْهُ. فَإِنَّهُمْ إذَا فَعَلُوا ذَلِكَ تَفَرَّقَ دَمُهُ فِي الْقَبَائِلِ جَمِيعًا، فَلَمْ يَقْدِرْ بَنُو عَبْدِ مَنَافٍ عَلَى حَرْبِ قَوْمِهِمْ جَمِيعًا، فَرَضُوا مِنَّا بِالْعَقْلِ، فَعَقَلْنَاهُ لَهُمْ. قَالَ: فَقَالَ الشَّيْخُ النَّجْدِيُّ: الْقَوْلُ مَا قَالَ الرَّجُلُ، هَذَا الرَّأْيُ الَّذِي لَا رَأْيَ غَيْرُهُ، فَتَفَرَّقَ الْقَوْمُ عَلَى ذَلِكَ وَهُمْ مُجْمِعُونَ لَهُ. Atas hal ini, Abu Jahl berkata, ‘Usul saya adalah, hendaknya dipilih dari setiap kabilah seorang pemuda yang perkasa dan berpengaruh, lalu diberikan kepada setiap mereka pedang terhunus yang tajam, lalu perintahkan mereka untuk menghadapinya yakni Muhammad (saw) lalu seranglah ia dan bunuhlah ia. Karena dengan cara inilah kita akan mendapat ketenangan. Dengan membunuh seperti ini, maka darahnya akan terbagi pada seluruh kabilah, dan Banu Abdu Manaf tidak akan sanggup berperang dengan seluruh kabilah. Sehingga mereka pun akan bersedia menerima diyat ‘tebusan’. Dan kita akan membayar diyatnya.’

Mendengar ini, orang tua dari Najd itu berkata, ‘Pendapat yang sebenarnya hanya dari orang ini, yang lain adalah sia-sia belaka.’ Alhasil, mereka semua menyepakatinya dan meninggalkan tempat itu.” [14]

Di sisi lain, Allah Ta’ala memberitahukan kepada Rasulullah (saw) akan segenap rencana tersebut sebagaimana firman-Nya: وَاِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لِيُثْبِتُوْكَ اَوْ يَقْتُلُوْكَ اَوْ يُخْرِجُوْكَۗ وَيَمْكُرُوْنَ وَيَمْكُرُ اللّٰهُ ۗوَاللّٰهُ خَيْرُ الْمَاكِرِيْنَ “Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan tipu daya terhadapmu (Muhammad) untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka membuat tipu daya dan Allah membuat rencana [untuk menggagalkan tipu daya itu]. Allah adalah sebaik-baik pembuat rencana.” (Surah al-Anfal, 8:31)

Bersamaan dengan itu, Hadhrat Rasulullah (saw) diizinkan untuk hijrah melalui Jibril.[15]

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda, “Kaum Kuffar Makkah telah berencana untuk membunuh Rasulullah (saw), namun Allah Ta’ala mengabarkan rencana jahat tersebut kepada Nabi suci-Nya lalu Allah Ta’ala memerintahkan beliau untuk hijrah dari Makkah ke Madinah kemudian memberikan kabar suka akan kembali dengan membawa kemenangan dan pertolongan. Cobaan dari sisi Allah tersebut terjadi pada hari Rabu, di siang hari yang sangat panas.”

Setelah mendapatkan izin untuk hijrah, Hadhrat Rasulullah (saw) dengan penuh kehati-hatian pergi ke rumah Hadhrat Abu Bakr di siang hari yaitu pada saat dimana penduduk Makkah biasanya tengah berada di rumah masing-masing dan tidak saling mengunjungi satu sama lain. Kehati-hatian lebih lanjut adalah karena siang itu cuaca sangat panas sehingga beliau menutupi bagian wajah kepala dan bagian tubuh lainnya dengan kain.

Ketika beliau tiba di dekat rumah Hadhrat Abu Bakr (ra), seseorang – yang menurut ath-Thabrani dan penulis Fathul Bari adalah Hadhrat Asma – memberitahukan kepada Hadhrat Abu Bakr (ra) bahwa tampaknya yang datang adalah Nabi Akram (Nabi yang paling mulia) (saw).

Abu Bakr berkata, فِدًا لَهُ بِأَبِي وَأُمِّي، وَاللَّهِ إِنْ جَاءَ بِهِ فِي هَذِهِ السَّاعَةِ إِلاَّ لأَمْرٍ  “Aku persembahkan kedua orang tuaku demi beliau. Demi Tuhan! Nabi (saw) datang ke rumah kita pada saat saat seperti ini, pasti ada alasan yang khas.”[16]

Hadhrat Abu Bakr segara keluar dengan penuh kesigapan.

Ketika Hadhrat Rasulullah (saw) masuk, dalam ruangan terdapat Hadhrat Aisyah dan Hadhrat Asma. Hadhrat Rasulullah (saw) bersabda kepada Hadhrat Abu Bakr (ra), أَخْرِجْ مَنْ عِنْدَكَ “Tolong mintakan orang yang ada di sini untuk keluar dulu.”

Kemudian Hadhrat Abu Bakr berkata, يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّمَا هُمَا ابْنَتَاىَ “Ya Rasulullah (saw)! Yang ada saat ini hanya kedua putri saya ini, tidak ada yang lainnya.”[17]

Dalam Riwayat lain dikatakan, إِنَّمَا هُمْ أَهْلُكَ بِأَبِي أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ “Wahai Rasulullah (saw)! Yang ada saat ini adalah keluarga Anda sendiri, tidak ada yang lain.”[18]

Hadhrat Rasulullah (saw) pun bersabda, أَشَعَرْتَ أَنَّهُ قَدْ أُذِنَ لِي فِي الْخُرُوجِ “Abu Bakr (ra)! Saya telah mendapatkan izin untuk hijrah.”

Hadhrat Abu Bakr spontan berkata, الصُّحْبَةَ يَا رَسُولَ اللَّهِ “Wahai Rasulullah (saw)! Apakah saya akan pergi menyertai tuan?”

Rasulullah (saw) bersabda, الصُّحْبَةَ “Ya, menyertai.”(Riwayat Bukhari)[19]

Hadhrat Abu Bakr (ra) pun menangis karena bahagia. Hadhrat Aisyah meriwayatkan, فو الله مَا شَعُرْتُ قَطُّ قَبْلَ ذَلِكَ الْيَوْمِ أَنَّ أَحَدًا يَبْكِي مِنْ الْفَرَحِ، حَتَّى رَأَيْتُ أَبَا بَكْرٍ يَبْكِي يَوْمئِذٍ “Pada hari itu saya baru mengetahui ada orang yang menangis karena bahagia.”[20]

Setelah itu di sana dipersiapkan seluruh rencana jihad. Hadhrat Abu Bakr bertanya, “Wahai Rasulullah (saw)! Untuk tujuan inilah saya telah membeli dua unta betina. Salah satunya silahkan tuan ambil.”

Rasul bersabda, “Saya akan membelinya.”

Setelah Rasulullah (saw) bersikeras akan membelinya, tidak ada cara lain lagi bagi Hadhrat Abu Bakr selain menjualnya 400 dirham karena beliau membeli dua unta tersebut senilai 800 dirham. Satu unta tersebut dibeli oleh Rasulullah (saw) atau berdasarkan riwayat lain beliau membeli unta tersebut senilai 800 dirham.[21]

Selanjutnya, diputuskan bahwa tujuan pertama adalah Gua Tsaur dan akan tinggal selama 3 hari di dalamnya. Diputuskan juga untuk mengajak serta seorang ahli yang mengetahui persis semua jalan yang dikenal maupun tidak di ke empat penjuru Makkah. Untuk tujuan itu telah berbicara kepada Abdullah Bin Uraiqith. Meskipun ia seorang musyrik namun baik hati, bertanggung jawab dan jujur. Penulis riwayat hidup menulis berkenaan dengan orang itu bahwa ia belum masuk Islam hingga berdasarkan satu riwayat di kemudian hari baiat masuk Islam.

Alhasil, tiga unta diserahkan padanya dan diputuskan agar ia pergi ke Gua Tsaur tepat tiga hari kemudian pada waktu subuh. Hadhrat Abdullah Bin Abu Bakr (ra), seorang pemuda yang cerdas ditugaskan untuk untuk berkeliling setiap hari ke tempat-tempat berkumpulnya orang-orang di Makkah lalu mencari informasi apa yang tengah berlangsung dan malam harinya pergi ke Gua Tsaur untuk melaporkan semua penemuannya. Adapun budak Hadhrat Abu Bakr yang cerdas dan bertanggung jawab bernama Aamir Bin Fuhairah ditugaskan untuk memberi makan kambing kambingnya di sekitar Gua Tsaur lalu memerah susu segar pada malam hari untuk beliau berdua. Setelah menetapkan waktu keberangkatan dari Makkah, Hadhrat Rasulullah (saw) segera pulang dari rumah Hadhrat Abu Bakr menuju kediaman beliau sendiri. Sesampainya di rumah beliau (saw), beliau (saw) menginformasikan rencana hijrah kepada Hadhrat Ali lalu memberikan tugas yang menuntut keberanian untuk tidur pada malam itu diatas tempat tidur beberkat Rasulullah (saw) dengan menutupkan selimut (cadar) Hadhrami berwarna hijau atau dalam riwayat lain dikatakan berwarna merah yang biasa digunakan oleh Rasulullah (saw) sendiri. Dengan meyakinkan sang khadim pemberani dan setia itu akan pertolongan Allah Ta’ala, beliau (saw) bersabda, “Jangan khawatir, tidur saja di tempat tidur saya dengan tenang, musuh bahkan tidak akan dapat mengacaukan rambutmu.”[22]

Begitu juga karena Rasulullah (saw) memikirkan amanat amanat yang dititipkan kepada beliau oleh penduduk Makkah dan merasa bertanggung jawab untuk itu, untuk itu beliau bersabda, “Kamu nanti menyusul saya setelah terlebih dulu mengembalikan amanat-amanat (barang-barang titipan) ini kepada pemiliknya.” Maksudnya, beliau bersabda kepada Hadhrat Ali supaya datang menyusul ke Madinah setelah terlebih dulu mengembalikan amanat-amanat ini kepada orang-orang lalu tetaplah di Makkah hingga tiga hari untuk mengembalikan seluruh amanat Rasulullah (saw) kepada orang-orang. Setelah itu menemui beliau (saw) di Quba.

Singkat kata, ketika Rasulullah (saw) keluar dari kediaman beliau, para pemuda pemberani pilihan Kuffar Makkah yang seolah-olah dari mata mereka menetes darah, tengah berjaga dengan penuh sigap persis diluar kediaman Rasulullah (saw) sambil memegang pedang, mereka menunggu tiba saatnya malam pekat untuk menyergap dan membunuh Rasulullah (saw). Adapun Abu Jahl yang sepertinya kepala gembong mengatakan dengan penuh ketakabburan dan nada olok-olok, إنَّ مُحَمَّدًا يَزْعُمُ أَنَّكُمْ إنْ تَابَعْتُمُوهُ عَلَى أَمْرِهِ، كُنْتُمْ مُلُوكَ الْعَرَبِ وَالْعَجَمِ، ثُمَّ بُعِثْتُمْ مِنْ بَعْدِ مَوْتِكُمْ، فَجُعِلَتْ لَكُمْ جِنَانٌ كَجِنَانِ الْأُرْدُنِّ، وَإِنْ لَمْ تَفْعَلُوا كَانَ لَهُ فِيكُمْ ذَبْحٌ، ثُمَّ بُعِثْتُمْ مِنْ بَعْدِ مَوْتِكُمْ، ثُمَّ جُعِلَتْ لَكُمْ نَارٌ تُحْرَقُونَ فِيهَا “Muhammad mengatakan, ‘Jika kalian mengikutiku dalam urusan ini, maka kalian akan menjadi raja bagi bangsa Arab dan juga bukan Arab lalu ketika dibangkitkan setelah kematian nanti, bagi kalian akan dibuatkan taman-taman seperti taman-taman di Urdun, namun jika kalian tidak melakukan demikian, akan terjadi peperangan diantara kalian.’”

Rasulullah (saw) keluar dari kediaman sambil membaca surat Yaasiin, يس () وَالْقُرْآنِ الْحَكِيمِ () إِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِينَ () عَلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ () تَنزِيلَ الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ () لِتُنذِرَ قَوْمًا مَّا أُنذِرَ آبَاؤُهُمْ فَهُمْ غَافِلُونَ () لَقَدْ حَقَّ الْقَوْلُ عَلَىٰ أَكْثَرِهِمْ فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ () إِنَّا جَعَلْنَا فِي أَعْنَاقِهِمْ أَغْلَالًا فَهِيَ إِلَى الْأَذْقَانِ فَهُم مُّقْمَحُونَ () وَجَعَلْنَا مِن بَيْنِ أَيْدِيهِمْ سَدًّا وَمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا فَأَغْشَيْنَاهُمْ فَهُمْ لَا يُبْصِرُونَ () “Yaa Siin (Wahai pemimpin yang bijak) Demi Al-Qur’an yang penuh hikmah Sesungguhnya engkau salah seorang dari rasul-rasul, Pada jalan yang lurus Inilah wahyu yang diturunkan oleh Yang Mahaperkasa, Maha Penyayang. Agar engkau memberi peringatan kepada suatu kaum yang bapak-bapaknya belum pernah diberi peringatan maka mereka itu menjadi lalai. Sesungguhnya perkataan ini telah terbukti benar atas kebanyakan mereka, sebab mereka tidak beriman. Sesungguhnya Kami telah memasangkan belenggu di leher mereka sampai dagu sehingga mereka tertengadah. Dan Kami telah meletakkan suatu rintangan di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan Kami telah menutupi mereka, sehingga mereka tidak dapat melihat.”

Beliau keluar melewati para pengepung dengan penuh tenang, namun kuasa Ilahi telah membuat kepergian beliau tidak disadari oleh mereka. Padahal mereka selang beberapa saat mengintip dari luar dan merasa yakin bahwa Rasulullah (saw) masih terbaring diatas tempat tidur.[23]

Berkenaan dengan kisah tersebut Hadhrat Mirza Basyir Ahmad menulis dalam buku Sirat Khatamun Nabiyyiin sebagai berikut, “Pada malam yang gelap itu, kaum Quraisy kejam yang berasal dari berbagai kabilah berkumpul di sekitar rumah Rasulullah (saw) dengan niatan jahat untuk mengepung. Mereka menunggu tiba saatnya pagi atau menunggu saatnya Rasulullah (saw) keluar rumah lalu berencana untuk menyerang dan membunuh beliau.

Saat itu Rasulullah (saw) menyimpan banyak barang amanat (titipan) dari orang-orang kuffar juga. Karena kebanyakan orang biasa, meskipun menentang terhadap Rasulullah (saw), tapi mempercayakan amanatnya kepada Rasulullah (saw) disebabkan kejujuran beliau dalam menjaga amanat.[24] Rasulullah (saw) menjelaskan perhitungan amanat-amanat tersebut kepada Hadhrat ‘Ali dan menegaskan untuk jangan meninggalkan Makkah sebelum mengembalikan amanat-amanat tersebut kepada pemiliknya. Rasulullah (saw) kemudian bersabda kepada beliau, ‘Berbaringlah di tempat tidurku!’

Beliau (saw) lalu meyakinkan Hadhrat ‘Ali (ra) bahwa beliau (Hadhrat ‘Ali (ra)) dengan karunia-Nya tidak akan mengalami musibah berarti. Hadhrat ‘Ali (ra) pun berbaring dan Rasulullah (saw) menutupkan kain beliau yang berwarna merah keatas tubuh Hadhrat ‘Ali (ra).

Kemudian dengan menyebut nama Allah, Rasulullah (saw) keluar rumah. Saat itu orang-orang yang sedang mengepung berada di depan pintu rumah beliau, namun mereka tidak mengira Rasulullah (saw) akan meninggalkan rumah pada awal subuh. Saat itu mereka tengah lalai sehingga Rasulullah (saw) dapat keluar dari rumah dengan melewati para pengepung dan mereka tidak menyadari itu.

Hadhrat Rasulullah (saw) melewati gang-gang Makkah dengan diam-diam namun gerak cepat dan dalam waktu yang tidak lama beliau (saw) berhasil keluar dari area berpenduduk menempuh jalan menuju gua Tsaur. Beliau telah mengatur rencana tersebut bersama Hadhrat Abu Bakr (ra) sehingga beliau berdua berjumpa di jalan.

 Gua Tsaur dikenang sebagai situs suci disebabkan kejadian tersebut. Gua tersebut terletak ke arah selatan dari Makkah. Dalam kata lain, ke arah lain dari Madinah sejarak 3 mil dan terletak di sebuah tempat tandus dan terabaikan di sebuah perbukitan yang cukup tinggi. Jalan yang menuju ke tempat itu pun sukup sulit. Gua itu bukan di jalan ke arah Madinah, tapi ke arah yang berlawanan. Sesampainya di sana awalnya Hadhrat Abu Bakr (ra) masuk ke dalam gua lalu membersihkannya kemudian disusul oleh Rasulullah (saw).

Di sisi lain, orang-orang Quraisy yang tengah mengepung rumah Rasulullah (saw) selang beberapa waktu mereka mengintip ke rumah Rasulullah (saw) dan tampak kepada mereka ada seseorang yang sedang berbaring di tempat tidur dan hal itu membuat mereka tenang. Ketika tiba pagi mereka mengetahui bahwa ternyata orang yang mereka cari sudah lepas dari tangan mereka, kemudia mereka berpencar kesana-kemari. Mereka melakukan pencarian di rumah rumah para sahabat di Makkah, namun tidak ditemukan. Dalam keadaan murka tersebut mereka menyeret Hadhrat ‘Ali (ra) dan memukulinya.”[25]

Dalam menjelaskan hal itu Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda, “Ketika Hadhrat Rasulullah (saw) secara tiba-tiba akan meninggalkan kota tua beliau dan para penentang mengepung kediaman beberkat beliau yang berencana membunuh beliau, pada saat itu seorang saudara tercinta yang wujudnya telah dibalut dengan kecintaan dan iman, atas isyarah Nabi bersedia mempertaruhkan nyawa dengan berbaring diatas tempat tidur Hadhrat Rasulullah (saw) sambil menutupi wajah, dengan tujuan agar para mata mata musuh tidak mencurigai kepergian Rasulullah (saw), sehingga mereka akan terus berjaga untuk membunuh dengan menganggap orang yang diatas Tempat tidur itu adalah Rasulullah (saw) sebagaimana sebuah Syair (sajak) Bahasa Farsi,

کس بہر کسے سر ندہد جاں نفشاند
عشق است کہ ایں کار بہ صد صدق کناند

‘Kis behre kise sar nadhd jaan nafsyaand

Isyq ast keh iin kar beh shad shidq kinand

yang artinya: Tidak ada orang yang bersedia memberikan kepalanya dan mengorbankan jiwanya, kecintaanlah yang dapat membuat manusia dapat melakukannya dengan tulus.”[26]

Berkenaan dengan waktu keluarnya Rasulullah (saw) dari kediaman beliau pada saat kejadian itu, terdapat beragam pendapat. Sebagian berpendapat itu terjadi pada awal malam. Sebagian lagi mengatakan tengah malam. Sebagian lagi mengatakan pada bagian akhir malam. Alhasil, berkenaan dengan waktu keluarnya Rasulullah (saw) dari kediaman beliau terdapat beragam Riwayat. Akan saya sampaikan selengkapnya. Terdapat dalam satu riwayat, beliau keluar meninggalkan kediaman pada sepertiga akhir malam sebagaimana Muhammad Husain Haikal menulis, “Pada sepertiga akhir malam Hadhrat Muhammad (saw) berangkat ke rumah Hadhrat Abu Bakr pada saat orang-orang musyrik itu lengah. Dari sana beliau berdua berangkat menuju Gua Tsaur di sebelah selatan melalui pintu belakang rumah.”[27]

Dalam satu riwayat lainnya tertulis bahwa beliau (saw) keluar pada tengah malam sebagaimana dalam kitab Dalailun Nubuwwah tertulis Hadhrat Abu Bakr (ra) berangkat menuju Gua Hira pada tengah malam.[28]

Dalam Kitab Madarijun Nubuwwat tertulis, “Ketika Hudhur Akram (Baginda yang mulia [saw]) berencana untuk hijrah pada waktu subuh maka pada waktu sorenya bersabda kepada Hadhrat Ali Karramallahu wajhah, ‘Pada malam ini, kamu tidurlah di sini supaya orang-orang musyrik diliputi keraguan dan tidak mengetahui hakikat sesungguhnya.’”[29]

Hadhrat Mirza Basyir Ahmad (ra) menulis, Nabi yang mulia (saw) berangkat dari rumah pada awal malam. Selengkapnya menulis, “Para pengepung tengah berada didepan pintu rumah beliau. Namun karena mereka tidak mengira bahwa Rasulullah (saw) akan keluar pada awal malam, sehingga mereka semua begitu lengah sehingga beliau dapat keluar melewati mereka dengan tenang dan mereka tidak dapat mengetahuinya. Hadhrat Rasulullah (saw) dengan cepat melewati gang-gang Makkah dan secara diam-diam serta dalam waktu yang singkat dapat keluar dari pemukiman penduduk lalu menempuh jalan menuju Gua Tsaur. Seluruh rencana telah dibicarakan dengan Hadhrat Abu Bakr (ra) dan mereka bergabung di perjalanan.”[30]

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda dengan mengutip riwayat-riwayat, “Ketika orang-orang Makkah sedang berkumpul di depan rumah beliau (saw) untuk membunuh beliau (saw), beliau (saw) dalam kegelapan malam sedang pergi keluar dari rumah beliau (saw) dengan niat untuk berhijrah. Orang-orang Makkah pasti merasa ragu bahwa Hadhrat Rasulullah (saw) juga mungkin telah mendengar niatan mereka, namun meskipun demikian, ketika beliau (saw) lewat di hadapan mereka, mereka menyangka itu adalah orang lain. Bukannya menyerang beliau (saw), mereka malah berkumpul dan bersembunyi dari beliau (saw) supaya niatan mereka tidak diketahui oleh beliau (saw). Pada siang hari sebelum malam tersebut Hadhrat Abu Bakr (ra) juga telah diberi tahu untuk berhijrah bersama beliau (saw). Alhasil, beliau juga bergabung dengan Hadhrat Rasulullah (saw) dan tak lama mereka berdua bersama-sama telah berangkat dari Makkah.”[31]

Menurut Hadhrat Aqdas Masih Mau’ud (as), yang mulia Nabi (saw) keluar dari rumah pada waktu pagi. Beliau (as) bersabda, “Ketika Hadhrat Rasulullah (saw) pergi, tidak ada seorang penentang pun yang melihat, padahal ketika itu pagi hari dan semua penentang sedang mengepung rumah Hadhrat Rasulullah (saw). Maka Allah Ta’ala – sebagaimana disebutkan dalam surah Yaasiin – telah menutup mata semua orang-orang bengis itu dan Hadhrat Rasulullah (saw) pergi dengan mengabaikan mereka.”[32]

Bagaimanapun terdapat beragam riwayat, namun kesimpulannya adalah bahwa orang-orang kafir tidak mengetahui.

Kemudian terdapat beragam riwayat juga mengenai ke arah mana yang mulia Nabi (saw) pergi setelah keluar dari rumah. Dari satu riwayat didapati kesan bahwa Hadhrat Rasulullah (saw) keluar dari rumah beliau (saw) dan Hadhrat Abu Bakr (ra) juga keluar dari rumahnya lalu keduanya bergabung di suatu tempat di perjalanan, kemudian berjalan menuju ke Gua Hira.[33]

Terkait:   Riwayat Umar bin Khattab (Seri 12)

Terdapat dalam satu riwayat bahwa yang mulia Nabi (saw) keluar dari rumah menuju ke Gua Hira dan tidak berapa lama Hadhrat Abu Bakr (ra) sampai di rumah beliau (saw), maka Hadhrat Ali (ra) berkata kepada beliau, “Beliau (saw) telah pergi dan sedang menuju ke Gua Tsaur. Oleh karena itu anda juga pergilah mengikuti beliau (saw).” Maka Hadhrat Abu Bakr pergi mengikuti yang mulia Nabi (saw).[34]

Bagaimanapun, riwayat ini nampak sangat lemah. Darinya terdapat kesan bahwa seolah-olah yang mulia Nabi (saw) sedang menunggu Hadhrat Abu Bakr (ra) dan beliau (ra) terlambat, dan Hadhrat Abu Bakr (ra) juga tidak mengetahui ke mana Hadhrat Rasulullah (saw) pergi dan sekarang Hadhrat Ali (ra) yang memberitahukan semuanya.

Hijrah yang merupakan suatu perjalanan rahasia yang sangat penting dan Hadhrat Abu Bakr (ra) yang merupakan seorang yang sangat cerdas dan bertanggungjawab tidak mungkin melakukan keteledoran seperti ini. Oleh karena itu dibandingkan riwayat ini, riwayat lain yang paling banyak terdapat dalam buku-buku tampak lebih tepat dan dapat dipercaya, karena berdasarkan riwayat tersebut Hadhrat Rasulullah (saw) setelah keluar dari rumah beliau (saw), langsung menuju ke rumah Hadhrat Abu Bakr (ra) dan dari sana beliau (saw) bersama Hadhrat Abu Bakr (ra) berangkat menuju Gua Tsaur.[35]

Pada kesempatan itu kedua putri Hadhrat Abu Bakr (ra) yang pemberani, Hadhrat Aisyah (ra) dan Hadhrat Asma (ra) dengan cepat-cepat menyiapkan makanan untuk perjalanan yang di dalamnya juga terdapat daging kambing bakar. Dalam situasi yang genting dan tergesa-gesa, Hadhrat Asma (ra) tidak menemukan kulit yang digunakan untuk mengikat wadah makanan. Maka Hadhrat Asma (ra) membuka nithaaq, yakni ikat pinggang beliau dan membaginya menjadi dua bagian lalu mengikat makanan. Satu bagian beliau gunakan untuk mengikat rantang makanan dan satunya lagi untuk mengikat mulut mazkisyah (kantung dari kulit binatang untuk isi air).[36]

Hadhrat Rasulullah (saw) memperhatikan momen tersebut dengan seksama. Beliau (saw) bersabda, أبدلك اللَّه بنطاقك هَذَا نطاقين فِي الجنة، فقيل لَهَا ذات النطاقين “Wahai Asma! Sebagai ganti dari nithaaq-mu ini, Allah akan memberikan kepadamu dua nithaaq di surga, yakni kain ikat pinggang.” Dikarenakan sabda Hadhrat Rasulullah (saw) ini di kemudian hari Hadhrat Asma (ra) dijuluki Dzatun Nithaaqain.[37]

Dalam perjalanan hijrah ini yang mulia Nabi (saw) sambil berjalan mewiridkan ayat berikut ini, وَقُل رَّبِّ أَدْخِلْنِى مُدْخَلَ صِدْقٍۢ وَأَخْرِجْنِى مُخْرَجَ صِدْقٍۢ وَٱجْعَل لِّى مِن لَّدُنكَ سُلْطَٰنًا نَّصِيرًا “Dan katakanlah, ‘Ya Tuhan-ku! Masukkanlah aku sedemikian rupa sehingga aku masuk dengan kebenaran dan keluarkanlah aku sedemikian rupa, sehingga aku keluar dengan kebenaran dan anugerahkanlah kepadaku dari sisi Engkau penolong yang kuat.’” (Surah al-Isra atau Bani Israil, ayat 81)[38]

Demikian juga dalam riwayat terdapat doa berikut, اَلْحَمْدُ لِلّٰہِ الَّذِیْ خَلَقَنِیْ وَلَمْ أَکُ شَیْئًا، اَللّٰھُمَّ أَعِنِّیْ عَلٰی ھَوْلِ الدُّنْیَا، وَبَوَائِقِ الدَّھْرِ، وَمَصَائِبِ اللَّیَالِی وَالْأَیَّامِ۔ اَللّٰھُمَّ اصْحَبْنِیْ فِیْ سَفَرِیْ، وَاخْلُفْنِیْ فِیْ أَھْلِیْ، وَبَارِکْ لِیْ فِیْمَا رَزَقْتَنِیْ، وَلَکَ فَذَلِّلْنِیْ، وَعَلٰى صَالِحِ خَلْقِیْ فَقَوِّمْنِیْ، وَإِلٰی رَبِّیْ فَحَبِّبْنِیْ، وَإِلَى النَّاسِ فَلَا تَکِلْنِیْ۔ أَنْتَ رَبُّ الْمُسْتَضْعَفِیْنَ وَأَنْتَ رَبِّیْ، أَعُوْذُ بِوَجْھِکَ الْکَرِیْمِ الَّذِیْ أَشْرَقَتْ لَہُ السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ، وَکُشِفَتْ بِہِ الظُّلُمَاتُ، وَصَلُحَ عَلَیْہِ أَمْرُالاَوَّلِیْن وَالآخَرِیْنَ، أَنْ یَّحِلَّ بِیْ غَضَبُکَ، أَوْ یَنْزِلَ عَلَیَّ سُخْطُکَ، أَعُوْذُ بِکَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِکَ، وَفُجَاءَۃِ نِقْمَتِکَ، وَتَحَوُّلِ عَاقِبَتِکَ وَجَمِیْعِ سُخْطِکَ۔ لَکَ الْعُتْبٰى خَیْرَ مَا اسْتَطَعْتُ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّۃَ إِلَّا بِکَ۔ Alhamdu liLlaahi khalaqtani walam aku syai-a, Allahumma a’innii ‘alaa haulid dunyaa, wabawaa-iqid dahri, wa mashaa-ibil layaali wal ayyaami. Allahumma ash-habnii fi safari, wakhlufnii fii ahlii, wa baarik lii fiimaa razaqtani, wa laka fadzlalnii, wa ‘alaa shaalihi khalqii faqawwimnii, wa ilaa Rabbii fahabbibnii, wa ilan naasi falaa takilnii. Anta Rabbul mustadh’afiina wa Anta Rabbii, a’uudzu bi-wajhikal kariimi lladzii asyraqat lahus samaawaatu wal ardhu, wa kusyifat bihizh zhulumaatu, wa shaluha ‘alaihil amrul awwaliina wal aakhariina, ay yuhilla bii ghadhabuka, au yanzila ‘alayyaa sukhtuka, a’uudzu bika min zawaali ni’matika, wa fujaa-ati niqmatika, watahawwuli ‘aaqibatika wa jamii’i sukhthika. Lakal ‘utbaa khaira mastatha’tu, walaa haula walaa quwwata illa bika. “Segala puji bagi Allah yang telah menciptakanku sementara aku sebelum itu tidak ada. Ya Allah! Tolonglah aku atas ketakutan dunia dan bencana-bencana zaman serta musibah-musibah malam dan siang. Ya Allah! Temanilah aku dalam perjalananku. Gantikanlah aku dalam menjaga keluargaku dan dan berkahilah aku dalam segala yang Engkau anugerahkan. Jadikanlah aku hanya tunduk kepada Engkau. Tetapkanlah aku pada penciptaanku yang baik. Jadikan aku selalu kecintaan Engkau dan jangan serahkan aku pada manusia. Wahai Tuhan bagi orang-orang yang lemah! Engkaulah Tuhan-ku. Aku berlindung dengan wajah Engkau Yang Maha Mulia Yang menyinari langit dan bumi, menyingkap kegelapan-kegelapan serta menjadikan baik perkara orang-orang terdahulu dan orang-orang setelahnya, supaya kemarahan Engkau tidak mengenaiku dan kemurkaan Engkau tidak turun kepadaku. Aku berlindung kepada Engkau dari hilangnya nikmat Engkau, dari datangnya siksa Engkau secara tiba-tiba, dari berubahnya keputusan terakhir Engkau mengenai diriku…”[39]  Di dalam Syarh [Kitab komentar karya] Zurqani, pada kalimat تحوّل عاقبتك tahawwuli ‘aaqibaatika yang artinya “[Aku berlindung kepada Engkau] dari berubahnya keputusan terakhir engkau mengenai diriku” ada kalimat تحول عافيتك tahawwuli ‘aafiyatika yang artinya “[Aku berlindung kepada Engkau] dari selalu mendambakan kenyamanan yang telah Engkau anugerahkan.”

[wa jamii’i sukhthika. Lakal ‘utbaa khaira mastatha’tu, walaa haula walaa quwwata illa bika.] “dan dari segala jenis kemarahan Engkau. Hanya dengan perkenan engkau-lah semua kebaikan bisa kulakukan. Tiada daya untuk terhindar dari dosa dan tiada kekuatan untuk melakukan kebaikan kecuali atas perkenan Engkau.”[40]

Ketika lewat di belakang Ka’bah, yang mulia Nabi (saw) menghadapkan wajah berberkat beliau (saw) ke arah Makkah dan berbicara ditujukan kepada kota tersebut, أَنْتِ أَحَبُّ بِلاَدِ اللهِ إلى اللهِ، وأَنْتِ أَحَبُّ بِلاَدِ اللهِ إليَّ، فَلَوْ أَنَّ المُشْرِكينَ لَمْ يُخْرِجُوني لَمْ أَخْرُجْ مِنْكِ “Demi Tuhan, wahai Makkah! Engkau adalah yang paling aku cintai dari antara bumi Allah dan engkau jua yang Allah cintai dari antara bumi Allah. Jika pendudukmu tidak mengusirku secara paksa, takkan pernah aku pergi.”[41]

Imam Baihaqi menulis, dalam perjalanan ke Gua Tsaur, Hadhrat Abu Bakr (ra) terkadang berjalan di hadapan Hadhrat Rasulullah (saw), terkadang di kanan beliau (saw) dan terkadang di kiri. Yang mulia Nabi (saw) bertanya mengapa beliau melakukan ini. Maka beliau menjawab, “Ya Rasulullah (saw)! Saya berpemikiran, jangan-jangan ada yang datang dari arah depan sehingga saya berjalan di hadapan anda, dan ketika saya khawatir ada yang menyerang dari belakang maka saya ke belakang anda. Terkadang di sebelah kiri dan sebelah kanan, supaya anda terjaga dari segala arah.”[42]

Berdasarkan satu riwayat, sesampainya di Gua Tsaur, dalam perjalanan di perbukitan tersebut kaki penuh berkat yang mulia Nabi (saw) terluka.[43] Menurut satu riwayat kaki beliau (saw) terluka karena tersandung sebuah batu di perjalanan.[44]

Ketika sampai di Gua Tsaur, Hadhrat Abu Bakr (ra) berkata kepada Rasulullah (saw), “Anda tunggulah di sini, biarkan saya yang masuk ke dalam terlebih dahulu, supaya saya membersihkan gua ini dan jika ada sesuatu yang berbahaya, maka akan berhadapan dengan saya.” Kemudian beliau masuk dan membersihkan gua tersebut. Beliau menutup lubang, celah dan sebagainya dengan pakaian beliau. Kemudian beliau meminta Rasulullah (saw) masuk. Diriwayatkan bahwa yang mulia Nabi (saw) berbaring dengan meletakkan kepala beliau (saw) di paha Hadhrat Abu Bakr (ra) dan ada sebuah lubang yang tidak tertutup kain atau saat itu tidak terlihat, Hadhrat Abu Bakr (ra) meletakkan kakinya di atasnya.

Terdapat dalam riwayat bahwa seekor kalajengking atau ular menyengat dari lubang tersebut, namun Hadhrat Abu Bakr (ra) karena khawatir jika bergerak akan mengganggu ketenangan Hadhrat Rasulullah (saw), maka Hadhrat Abu Bakr tidak bergerak hingga ketika yang mulia Nabi (saw) membuka mata, beliau melihat rona wajah Hadhrat Abu Bakr (ra) berubah dan bertanya, “Apa yang terjadi? “. Beliau menceritakan semuanya. Hadhrat Rasulullah (saw) menempelkan air liur beliau (saw) sehingga kaki Hadhrat Abu Bakr (ra) menjadi sedemikian rupa, layaknya tidak terjadi apapun.[45]

Sementara itu orang-orang Quraish Makkah yang mengepung Hadhrat Rasulullah (saw), ada yang melihat seseorang lalu bertanya kepada orang itu, “Mengapa kamu berdiri di sini.” Orang itu berkata, “Aku melihat Muhammad (saw) melewati gang-gang.” Maka mereka menertawakan orang itu seraya berkata, “Muhammad ada di dalam di atas tempat tidurnya dan kami terus-menerus mengawasinya.” Kemudian malam tiba, dan sesuai dengan rencana yang telah mereka sepakati, ketika mereka dalam sekejap masuk ke dalam dan menarik kain selimut untuk melihat siapa yang sedang tertidur, apa yang mereka lihat? Ternyata itu adalah Hadhrat Ali (ra).

Mereka bertanya kepada beliau, “Di mana Muhammad (saw)?”. Beliau menjawab, “Saya tidak tahu”. Atas hal itu mereka mencaci maki beliau dan memukuli beliau. Setelah menahan beliau beberapa lama, kemudian mereka melepaskan beliau.

Singkatnya, berdasarkan riwayat tersebut, setelah mereka dalam keadaan marah mencaci maki dan memukuli Hadhrat Ali (ra), kemudian mereka beranjak pulang dari sana dan mulai mencari Hadhrat Rasulullah (saw) di gang-gang Makkah dan di rumah-rumah.[46]

Ketika itu mereka juga mendatangi rumah Hadhrat Abu Bakr (ra). Mereka bertemu dengan Hadhrat Asma (ra). Abu Jahl maju dan bertanya, “Mana ayahmu Abu Bakr (ra)? “

Beliau menjawab, “Saya tidak tahu beliau di mana.” Atas hal itu, Abu Jahl yang jahat mengangkat tangannya dan menampar wajah Hadhrat Asma (ra) dengan keras sehingga anting beliau patah dan jatuh.[47] Semua orang itu pulang kembali dalam keadaan marah.[48]

Setelah gagal melakukan pencarian di Makkah, mereka memberangkatkan para ahli pencari jejak ke semua penjuru Makkah. Pemimpin Makkah, Umayah bin Khalf, ia sendiri membawa seorang pencari jejak ulung dan pergi ke satu arah bersama kawan-kawannya dan tidak diragukan lagi bahwa pencari jejak atau penyelidik ini adalah seorang yang sangat ahli. Keahlian si pencari jejak ini sangat patut dipuji, karena dialah satu-satunya penjelajah yang berhasil menelusuri jejak kaki Nabi (saw) hingga sampai di mulut Gua Tsaur. Ia mengatakan, “Jejak kaki Muhammad (saw) berakhir di sini. Ia tidak pergi lebih jauh dari ini.” Sejarawan ‘Allamah Baladari meriwayatkan bahwa nama pencari jejak tersebut adalah ‘Alqamah bin Qarash [كُرْزُ بْنُ عَلْقَمَةَ الْخُزَاعِيُّ, Kurz bin Alqamah] dan menulis bahwa pada peristiwa Fatah Makkah ia menerima Islam.[49]

Orang-orang ini berdiri di mulut Gua Tsaur sambil berbincang-bincang, dan kedua orang yang hijrah itu tidak hanya bersembunyi tepat di dalam Gua tersebut dan mendengar percakapan mereka, bahkan Hadhrat Abu Bakr (ra) meriwayatkan, “Saya juga melihat kaki mereka dan demi Allah! Jika salah satu dari mereka mengintip ke dalam maka kami akan tertangkap.” Namun di momen berbahaya dan sulit ini mereka tidak hanya berdua, melainkan yang ketiga bersama mereka adalah Tuhan yang dalam cengkeraman kekuasaan-Nya lah bumi dan langit dan yang Maha Kuasa.[50]

Sebelum mereka datang, Dia dengan kekuasaan-Nya yang ajaib telah menumbuhkan sebatang pohon di sana. Dia telah mengirim seekor laba-laba untuk menenun jaring di mulut gua dan mengirim sepasang merpati untuk membuat sarang dan bertelur di sana. Ini terdapat dalam riwayat.[51]

Kemudian, mengenai bagaimana Allah Ta’ala telah memberikan ketentraman kepada Hadhrat Rasulullah (saw) atau beliau (saw) atas perintah Allah Ta’ala telah menenangkan Hadhrat Abu Bakr (ra), insya Allah akan disampaikan pada kesempatan yang akan datang.[52]

Khotbah II

الْحَمْدُ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَامَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُوَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُعِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَأُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُاللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ


[1] As-Sirah al-Halabiyah (السيرة الحلبية = إنسان العيون في سيرة الأمين المأمون) (السیرۃ الحلبیۃ جلد 2 صفحہ 21 باب عرض رسول اللّٰہﷺ نفسہ علی القبائل…… دارالکتب العلمیۃ بیروت 2002ء) bahasan (عرض رسول الله صلى الله عليه وسلم نفسه على القبائل من العرب أن يحموه ويناصروه على ما جاء به من الحق): أقول: وهذا لا يخالف ما جاء أنه كان معه أيضا أبو بكر وعليّ لأن العباس أوقف عليا على فم الشعب عينا له، وأوقف أبا بكر على فم الطريق الآخر عينا، فلم يكن معه عندهم إلا العباس والله أعلم . (المُعجِزَةُ الخَالِدَةُ: الإعجاز العلمي في القرآن الكريم براهين ساطعة وأدلة قاطعة) karya Ash-Shalabi (د. علي محمد الصَّلاَّبي) dan (السيرة النبوية عرض وقائع وتحليل أحداث :دروس وعبر) karya Ash-Shalabi (د. علي محمد الصَّلاَّبي) pada bahasan (دروس التخطيط والتنظيم من بيعة العقبة الثانية) terbitan (مركز الكتاب الاكاديمي): ضربة السرية التامة على موعد ومكان الاجتماع, بحيث لم يعلم به سوى العباس بن عبد المطلب الذي جاء مع النبي – صلى الله عليه وسلم – ليتوثق له, وعلي بن أبي طالب الذي كان عيناً للمسلمين على فم الشعب, وأبو بكر الذي كان على فم الطريق وهو الآخر عيناً للمسلمين, أما من عداهم من المسلمين وغيرهم فلم يكن يعلم عن الأمر شيئاً, وقد أمر جماعة المبايعين أن لا يرفعوا الصوت وأن لا يطيلوا في الكلام, حذراً من وجود عين تسمع صوتهم, أو يحبس حركتهم .

[2] Shahih al-Bukhari, Kitab tentang mimpi (كتاب الرؤيا), bab mimpi Nabi (باب رُؤْيَا النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم). Shahih al-Bukhari, Kitab tentang Manaqib kaum Anshar bab tanda-tanda kenabian dalam Islam, nomor 3622 (صحیح البخاری کتاب المناقب باب علامات النبوۃ فی الاسلام روایت نمبر3622); Sunan Ibn Majah 3921, Book 35, Kitab Ta’birur Ru-ya (كتاب تعبير الرؤيا), bab (باب تَعْبِيرِ الرُّؤْيَا), Hadith 29.

[3] Farhank Sirah, halaman 321, Zewar Akademi PT Kashmiri Urdu Bazar, Karachi-Pakistan, 2003 (فرہنگ سیرت صفحہ 321زوار اکیڈمی پبلی کیشنز اردو بازار کراچی 2003ء)

[4] Mu’jamul Buldan, Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut (معجم البلدان جلد 5 صفحہ 452زیر ’’ہجر‘‘ دار الکتب العلمیۃ بیروت)

[5] Izalah Auham (ازالۂ اوہام، روحانی خزائن جلد 3 صفحہ 472)

[6] Subulul Huda war Rasyaad (ماخوذ از سبل الھدیٰ والرشاد جلد3 صفحہ224 تا 227 ،جماع ابواب الھجرۃ الی المدینۃ…. دارالکتب العلمیۃ بیروت 1993ء)

[7] Sahih al-Bukhari 5807 (كتاب اللباس), (باب التَّقَنُّعِ)

[8] Syarh al-‘Allamah az-Zurqani ‘alal Mawahibil Laduniyyah (شرح العلامة الزرقاني على المواهب اللدنية بالمنح المحمدية 1-12 ج2) karya Abu ‘Abdullah Muhammad bin ‘Abdul Baqi az-Zurqani (أبي عبد الله محمد بن عبد الباقي/الزرقاني). (البداية والنهاية/الجزء الثالث/باب هجرة رسول الله صلى الله عليه وسلم بنفسه الكريمة من مكة إلى المدينة ومعه أبو بكر الصديق رضي الله عنه). (1) انظر سيرة ابن هشام (2/ 94) – الطبقات الكبرى لابن سعد (1/ 109)

[9] Tarikh al-Khamis (تاريخ الخميس في أحوال أنفس نفيس 1-3 ج1) karya (حسين بن محمد بن الحسن الديار بكري ،الإمام). Al-Bidayah wan Nihayah (نام کتاب : البدايه والنهايه – ط الفكر نویسنده : ابن كثير    جلد : 3  صفحه : 184)

[10] al-Khalifah al-awwal Abu Bakr ash-Shiddiq karya Ash-Shalabi (ماخوذ از صحیح البخاری کتاب الکفالۃ باب جوار ابی بکر فی عھد النبیﷺ و عقدہ حدیث 2297), (الخلیفۃ الاول ابوبکر الصدیق از صلابی صفحہ45 دار المعرفۃ بیروت 2006ء)

[11] Debacah Tafsirul Qur’an – Pengantar Mempelajari Al-Qur’an (دیباچہ تفسیر القرآن انوارالعلوم جلد20 صفحہ 222)

[12] Siratun Nabi, Anwarul ‘Ulum jilid 1, halaman 489 (سیرة النبیﷺ، انوارالعلوم جلد1 صفحہ 489)

[13] as-Sirah an-Nabawiyah karya Ibnu Hisyam (السيرة النبوية لابن هشام), Hijrah Rasul (هِجْرَةُ الرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ), rapat para pimpinan Quraisy (اجْتِمَاعُ الْمَلَأِ مِنْ قُرَيْشٍ، وَتَشَاوُرُهُمْ فِي أَمْرِ الرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ).

[14] as-Sirah an-Nabawiyah karya Ibnu Hisyam (السيرة النبوية لابن هشام), Hijrah Rasul (هِجْرَةُ الرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ), rapat para pimpinan Quraisy (اجْتِمَاعُ الْمَلَأِ مِنْ قُرَيْشٍ، وَتَشَاوُرُهُمْ فِي أَمْرِ الرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ), halaman 340-342, terbitan Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut, 2001 (صفحہ 340تا 342 ، ذکر ھجرۃ الرسول، مطبوعہ دارالکتب العلمیۃ بیروت 2001ء).

[15] Subulul Huda war Rasyaad (سبل الھدیٰ والرشاد جلد3 صفحہ232 ،فی سبب ہجرۃ النبی ﷺ………دارالکتب العلمیۃ بیروت 1993ء)

[16] Sahih al-Bukhari 5807, Kitab pakaian (كتاب اللباس), bab at-Taqannu (باب التَّقَنُّعِ). Tercantum juga dalam Hadaiqul Anwar wa muthali’ul asrari fi Siratin Nabiyyil Mukhtar (اسم الکتاب : حدائق الأنوار و مطالع الأسرار في سيرة النبي المختار المؤلف : الحضرمي‌، محمد بن بحر    الجزء : 1  صفحة : 209)

[17] Sahih al-Bukhari 2138, Kitabul Buyu’ atau Sales and Trade – penjualan dan pembelian (كتاب البيوع), pembahasan bila seseorang membeli barang atau binatang namun tidak sampai diambil dan tetap berada di penjual (باب إِذَا اشْتَرَى مَتَاعًا أَوْ دَابَّةً فَوَضَعَهُ عِنْدَ الْبَائِع، أَوْ مَاتَ قَبْلَ أَنْ يُقْبَضَ)

[18] (كتاب اللؤلؤ المكنون في سيرة النبي المأمون), (موسى بن راشد العازمي), bahasan (من الهجرة إلى دخول الرسول -صلى الله عليه وسلم- المدينة  ), (اجتماع قريش في دار الندوة وائتمارها على قتل النبي -صلى الله عليه وسلم). Tarikh al-Hijrah an-Nabawiyah (تاريخ الهجرة النبوية وبدء الإسلام), Mahmud ‘Ali al-Babawalwi (محمود علي الببلاوي ،العلامة الشيخ)

[19] Sahih al-Bukhari 2138, Kitabul Buyu’ atau Sales and Trade – penjualan dan pembelian (كتاب البيوع), pembahasan bila seseorang membeli barang atau binatang namun tidak sampai diambil dan tetap berada di penjual (باب إِذَا اشْتَرَى مَتَاعًا أَوْ دَابَّةً فَوَضَعَهُ عِنْدَ الْبَائِع، أَوْ مَاتَ قَبْلَ أَنْ يُقْبَضَ); Shahih al-Bukhari 3661 (صحيح البخاري), Kitab Keutamaan para Sahabat Nabi (كتاب فضائل أصحاب النبى صلى الله عليه وسلم), bab sabda Nabi lau kuntu muttakhidzan khalilan (باب قَوْلِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم ” لَوْ كُنْتُ مُتَّخِذًا خَلِيلاً ” قَالَهُ أَبُو سَعِيدٍ); Fathul Bari (فتح الباری بشرح صحیح البخاری جلد7 صفحہ277 دار الریان للتراث القاھرۃ 1986ء).

Terkait:   Riwayat Abu Bakr ash-Shiddiiq ra (Seri 1)

[20] as-Sirah an-Nabawiyah karya Ibnu Hisyam, halaman 343, Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut, 2001 (السیرۃ النبویۃ لابن ہشام صفحہ 343، ذکر ہجرۃ الرسول، مطبوعہ دارالکتب العلمیۃ بیروت 2001ء), bahasan Hijrah (حَدِيثُ هِجْرَتِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إلَى الْمَدِينَةِ), (هِجْرَةُ الرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ).

[21] Shahih al-Bukhari (صحیح بخاری کتاب مناقب الانصار بَابُ هِجْرَةِ النَّبِيِّﷺ وَأَصْحَابِهِ إِلَى المَدِينَةِ، روایت نمبر 3905); ath-Thabaqaat al-Kubra (الطبقات الکبریٰ لابن سعد جلد1 صفحہ 382، ذکر ابل رسول اللّٰہﷺ مطبوعہ دارالکتب العلمیۃ بیروت 2012ء). syarh az-Zurqani ‘alal Mawahibil Laduniyah (شرح الزرقانی علی المواھب اللدنیۃ جزء 2 صفحہ 105،106۔ دار الکتب العلمیۃ بیروت 1996ء).

[22] as-Sirah an-Nabawiyah karya Ibnu Hisyam (السيرة النبوية لابن هشام), Hijrah Rasul (هِجْرَةُ الرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ), keluarnya Nabi dari rumah dan ‘Ali tidur di tempat tidur beliau (خُرُوجُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاسْتِخْلَافُهُ عَلِيًّا عَلَى فِرَاشِهِ): فَأَتَى جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السِّلَامُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: لَا تَبِتْ هَذِهِ اللَّيْلَةَ عَلَى فِرَاشِكَ الَّذِي كُنْتَ تَبِيتُ عَلَيْهِ. قَالَ: فَلَمَّا كَانَتْ عَتَمَةٌ مِنْ اللَّيْلِ اجْتَمَعُوا عَلَى بَابِهِ يَرْصُدُونَهُ مَتَى يَنَامُ، فَيَثِبُونَ عَلَيْهِ، فَلَمَّا رَأَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَكَانَهُمْ، قَالَ لِعَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ: “نَمْ عَلَى فِرَاشِي وَتَسَجَّ بِبُرْدِي هَذَا الْحَضْرَمِيِّ الْأَخْضَرِ، فَنَمْ فِيهِ، فَإِنَّهُ لَنْ يَخْلُصَ إلَيْكَ شَيْءٌ تَكْرَهُهُ مِنْهُمْ“، وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَنَامُ فِي بُرْدِهِ ذَلِكَ إذَا نَامَ .

[23] as-Sirah an-Nabawiyah karya Ibnu Hisyam (السيرة النبوية لابن هشام), Hijrah Rasul (هِجْرَةُ الرَّسُولِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ), keluarnya Nabi dari rumah dan ‘Ali tidur di tempat tidur beliau (خُرُوجُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاسْتِخْلَافُهُ عَلِيًّا عَلَى فِرَاشِهِ), halaman 342-348, Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, 2001 (السیرۃ النبویۃ لابن ہشام صفحہ342، 348، باب ھجرۃ الرسول ﷺ، دار الکتب العلمیۃ 2001ء); Muhammad Rasul Allah walladziina ma’ahu (محمد رسول اللّٰہ والذین معہ جلد 3صفحہ74 باب الہجرۃ، مطبوعہ مکتبہ مصر); ath-Thabaqaat al-Kubra (الطبقات الکبری لابن سعد جلد1 صفحہ 176دار الکتب العلمیۃ بیروت 2012ء)

[24] Tārīkhuṭ-Ṭabarī, By Abū Ja‘far Muḥammad bin Al-Jarīr Ṭabarī, Volume 2, p. 255, Bābu Dhikril-Khabri ‘ammā kāna min Amri Nabiyyillāhisa ‘inda Ibtidā’illāhi Ta‘ālā……, Dārul-Fikr, Beirut, Lebanon, Second Edition (2002); * As-Sīratun-Nabawiyyah, By Abū Muḥammad ‘Abdul-Malik bin Hishām, p. 343, Bābu Hijratir-Rasūl, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (2001).

[25] Sirat Khataman Nabiyyin (سیرت خاتم النبیین ؐ از حضرت مرزا بشیر احمد صاحب صفحہ 236-237)

[26] Surmah Casyam Ariyah, Ruhani Khazain, jilid 2, halaman 65, baqiyah hasyiyah (سرمہ چشم آریہ، روحانی خزائن جلد 2 صفحہ 64-65حاشیہ) terjemahan bahasa Arab dari syair Farsi diatas adalah sbb: لا أحد يقدّم رأسه للقطع ولا يضحي بنفسه في سبيل أحد هكذا، وإنما العشق والحب هو الذي يدفع المرء للموت بكل شوق وإخلاص.

[27] Kitab Hayatu Muhammad (كتاب حياة محمد صلى الله عليه وآله وسلم) karya Muhammad Husain Haikal (هيكل، محمد حسين), bahasan Hijrah (الأمر بالهجرة) (حیاۃ محمداز محمد حسین ہیکل صفحہ223-224 الفصل العاشر ’ھجرۃ الرسول‘ الطبعۃ الرابع عشرۃ دارالمعارف): وجعل هؤلاء الفتية من قريش ينظرون من فرجة إلى مكان نوم النبيّ، فيرون في الفراش رجلا فتطمئن نفوسهم إلى أنه لم يفرّ. فلما كان الثلث الأخير من الليل خرج محمد في غفلة منهم إلى دار أبي بكر وخرج الرّجلان من خوخة في ظهرها، وانطلقا جنوبا إلى غار ثور؛ فاتجاههما نحو اليمن لم يكن مما يرد بالبال . Tercantum juga dalam buku Ash-Shiddiq Abu Bakr (الصديق أبو بكر – رضي الله عنه) karya Muhammad Husain Haikal (هيكل، محمد حسين): فلمّا كان الثلث الأخير من الليل خرج في غفلة من فتية قريش إلى دار أبي بكر، فإذا هو يقظ ينتظره، وخرج الرجلان من خوخة في ظهر الدار وانطلقا جنوبا .

[28] Dalailun Nubuwwah (دلائل النبوة – ج2 – الحافظ أبي نعيم الأصبهاني), pasal ke-17 (لفصل السّابع عشر و مما ظهر من الآيات في مخرجه إلى المدينة و في طريقه (صلى اللّه عليه و سلم)), nomor 232 (دلائل النبوۃ للبیھقی جلد2 صفحہ466،465 باب مکر المشرکین برسول اللّٰہﷺ۔۔۔ مطبوعہ دارالکتب العلمیۃ بیروت2002ء): حدثنا فاروق الخطابي ثنا زياد بن الخليل ثنا إبراهيم بن المنذر قال ثنا محمد بن فليح عن موسى بن عقبة: عن ابن شهاب قال: فخرج رسول اللّه (صلى اللّه عليه و سلم) و أبو بكر من جوف الليل قبل الغار- غار ثور- و هو الغار الذي ذكره اللّه عز و جل في القرآن .

[29] Madarijun Nabuwwat (مدارج النبوت مترجم مکمل 2 جلدیں) karya ‘Abdul Haqq Muhaddats Dehlawi. Rujukan dimaksud berada pada jilid ke-2 (جلد دوم), bab keempat (باب چہارم), bahasan keputusan Hijrah dan permulaan kejadian (قضیہ ہجرت اور ابتدائی واقعات), halaman 83 (مدارج النبوۃ از شیخ عبدالحق محدث دہلوی اردو ترجمہ غلام معین الدین نعیمی جلد2 صفحہ 83 مطبوعہ شبیر برادرز اردو بازار لاہور). Buku ini aslinya ditulis dalam bahasa Persia. Buku ini diterjemahkan ke dalam bahasa Urdu oleh Mufti Ghulam Mu’inuddin Na’imi (حضرت شیخ عبدالحق محدث دہلوی / مترجم مفتی غلام معین الدین نعیمی علیہ الرحمہ). Penulis buku ini bernama lengkap Syaikh Abul Majd ‘Abdul Haqq bin Saifuddin ad-Dehlawi al-Bukhari (شیخ ابو المجد عبد الحق بن سیف الدین دہلوی بخاری) Beliau lahir di Dehli pada 958/1551 dan wafat pada 1052/1642. Beliau mengalami zaman kerajaan Islam sebelum Mughal dan awal-awal kaum Mughal berkuasa.

[30] Sirat Khataman Nabiyyin oleh Hadhrat Mirza Basyir Ahmad, 237 (سیرت خاتم النبیین ؐ از حضرت مرزا بشیر احمد صاحبؓ صفحہ 237)

[31] Debacah Tafsirul Qur’an – Pengantar Mempelajari Al-Qur’an (دیباچہ تفسیر القرآن، انوارالعلوم جلد20 صفحہ222-223)

[32] Surmah Casyam Ariyah, Ruhani Khazain, jilid 2, halaman 66 (سرمہ چشم آریہ، روحانی خزائن جلد 2 صفحہ66حاشیہ)

[33] Tarikh ath-Thabari (ماخوذ از تاریخ طبری جلد اول صفحہ 568 ، تاریخ ما قبل الھجرۃ مطبوعہ دارالکتب العلمیۃ بیروت 1987ء)

[34] as-Sirah an-Halbiyah, Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, 2008 (السیرۃ الحلبیہ جزء2 صفحہ47 باب عرض رسول اللہﷺ نفسہ۔۔۔ دارالکتب العلمیۃ بیروت2008ء)

[35] as-Sirah an-Nabawiyah karya Ibnu Hisyam (السیرۃ النبویۃ لابن ہشام صفحہ 343 ، ھجرۃ الرسولؐ، مطبوعہ دارالکتب العلمیۃ بیروت 2001ء)

[36] Shahih al-Bukhari, Kitabul Jihad was sair, bab membawa bekal dalam perjalanan (صحیح البخاری کتاب الجھاد والسیر باب حمل الزاد فی السفر۔۔۔ روایت نمبر2979); syarh az-Zurqani ‘alal Mawahibil Laduniyah (شرح الزرقانی علی المواھب اللدنیۃ جزء 2 صفحہ 107 دار الکتب العلمیۃ بیروت 1996ء).

[37] al-Isti’aab (الاستيعاب – ابن عبد البر – ج ٤ – الصفحة ١٧٨٢). Tercantum juga dalam Subulul Huda war Rasyaad (سبل الھدیٰ والرشاد جلد3 صفحہ 239 ،جماع ابواب الھجرۃ الی المدینۃ…. دارالکتب العلمیۃ بیروت 1993ء).

[38] al-Khalifah al-awwal Abu Bakr ash-Shiddiq karya Doktor ‘Ali Muhammad ash-Shalabi, terbitan Darul Ma’rifah, Beirut, 2006 (الخلیفۃ الاول ابوبکر الصدیق للدکتور علی محمد الصلابی صفحہ 47دار المعرفہ بیروت2006ء)

[39] Falaah as-Saail karya Sayyid Ibnu ath-Thawus (فلاح السائل – السيد ابن طاووس – الصفحة ١٨٩); Majmu’ah Ahzab wa Aurad asy-Syaikh al-Akbar Ibnu ‘Arabi (مجموعة أحزاب وأوراد الشيخ الأكبر ابن عربي) karya Dhiyauddin al-Kamsyakhani al-Majdi (ضياء الدين أحمد بن مصطفى/الكمشخانوي المجددي)

[40] Subulul Huda war Rasyaad (سبل الھدیٰ والرشاد جلد3 صفحہ 243 ، فی ہجرۃ رسول اللّٰہ ﷺ …… دارالکتب العلمیۃ بیروت 1993ء); Kitab syarh az-Zurqani ‘alal Mawahibil Laduniyyah bin Minah al-Muhammadiyah (كتاب شرح الزرقاني على المواهب اللدنية بالمنح المحمدية) karya (الزرقاني، محمد بن عبد الباقي), jilid ke-dua (المجلد الثاني تابع المقصد الأول في تشريف الله تعالى له عليه الصلاة والسلام باب هجرة المصطفى وأصحابه إلى المدينة), terbitan Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut, 1996 (شرح زرقانی جلد 2 صفحہ 110 دار الکتب العلمیۃ بیروت 1996ء): وكان من قوله -صلى الله عليه وسلم- أيضا لما خرج مهاجرا: . وكان من قوله -صلى الله عليه وسلم- أيضا لما خرج مهاجرا: “الحمد لله الذي خلقني ولم أك شيئا، اللهم أعني على هول الدنيا وبوائق الدهر ومصائب الليالي والأيام، اللهم أصحبني في سفري واخلفني في أهلي وبارك لي فيما رزقتني، ولك فذللني، وعلى صالح خلقي فقومني، وإليك رب فحببني، وإلى الناس فلا تكلني، أنت رب المستضعفين وأنت ربي، أعوذ بوجهك الكريم الذي أشرقت له السماوات والأرض وكشفت به الظلمات وصلح عليه أمر الأولين والآخرين أن يحل بي غضبك أو ينزل علي سخطك، أعوذ بك من زوال نعمتك وفجأة نقمتك وتحول عافيتك وجميع سخطك، لك العتبى عندي حيثما استطعت، ولا حول ولا قوة إلا بك” .

[41] Ath-Thabari dalam Tafsirnya; Ibn Katsir dalam Tafsirnya dan Al-Qurthubi dalam Tafsirnya (رواه الطبري في (تفسيره)، (26/ 48)؛ وابن كثير في (تفسيره)، (4/ 176). وصححه القرطبي في (تفسيره)، (16/ 235).); Muhammad Rasulullah walladziina ma’ahu karya ‘Abdul Hamid Jaudah as-Sahar, penerbit Mesir (محمد رسول اللّٰہ والذین معہ لعبدالحمید جودۃ السحار جلد3 صفحۃ59،الھجرۃ، مکتبۃ مصر).

[42] Subulul Huda war Rasyaad, jilid 3, halaman 240, bab keempat mengenai Hijrah, Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut (Lebanon), 1993 (سبل الھدیٰ والرشاد جلد3 صفحہ 240 ، الباب الرابع فی ہجرۃ رسول اللّٰہ ﷺ …… دارالکتب العلمیۃ بیروت 1993ء). Tercantum dalam Dalailun Nubuwwah karya al-Baihaqi (دلائل النبوة للبيهقي), (باب خروج النبي صلى الله عليه وسلم مع صاحبه أبي بكر الصديق رضي الله عنه إلى الغار وما ظهر في ذلك من الآثار): عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه في قصة ذكرها قال : فقال عمر : والله لليلة من أبي بكر ويوم خير من عمر عمر ، هل لك أن أحدثك بليلته ويومه ؟ قال : قلت نعم ، يا أمير المؤمنين قال : أما ليلته فلما خرج رسول الله صلى الله عليه وسلم هاربا من أهل مكة خرج ليلا فتبعه أبو بكر ، فجعل يمشي مرة أمامه ، ومرة خلفه ، ومرة عن يمينه ، ومرة عن يساره ، فقال له رسول الله صلى الله عليه وسلم : « ما هذا يا أبا بكر ؟ ما أعرف هذا من فعلك ؟ » قال : يا رسول الله ، أذكر الرصد فأكون أمامك ، وأذكر الطلب فأكون خلفك ، ومرة عن يمينك ومرة عن يسارك ، لا آمن عليك قال : فمشى رسول الله صلى الله عليه وسلم ليلته على أطراف أصابعه حتى حفيت رجلاه ، فلما رآه أبو بكر رضي الله عنه أنها قد حفيت حمله على كاهله ، وجعل يشتد (1) به حتى أتى به فم الغار ، فأنزله ، ثم قال : والذي بعثك بالحق لا تدخله حتى أدخله ، فإن كان فيه شيء نزل بي قبلك ، فدخل فلم ير شيئا ، فحمله فأدخله ، وكان في الغار خرق فيه حيات وأفاع ، فخشي أبو بكر أن يخرج منهن شيء يؤذي رسول الله صلى الله عليه وسلم فألقمه قدمه فجعلن يضربنه ويلسعنه : الحيات والأفاعي ، وجعلت دموعه تنحدر ورسول الله صلى الله عليه وسلم يقول له : « يا أبا بكر لا تحزن ، إن الله معنا » ، فأنزل الله سكينته وطمأنينته لأبي بكر ، فهذه ليلته .. Tercantum juga dalam al-Mustadrak (المستدرك على الصحيحين), (كتاب الهجرة), (ذكر عمر فضائل أبي بكر رضي الله عنهما), nomor 4327: ثنا محمد بن سيرين قال : ذكر رجال على عهد عمر رضي الله عنه ، فكأنهم فضلوا عمر على أبي بكر رضي الله عنهما قال : فبلغ ذلك عمر رضي الله عنه ، فقال : والله لليلة من أبي بكر خير من آل عمر ، وليوم من أبي بكر خير من آل عمر ، لقد خرج رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم لينطلق إلى الغار ومعه أبو بكر ، فجعل يمشي ساعة بين يديه ، وساعة خلفه حتى فطن له رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم ، فقال : ” يا أبا بكر ، ما لك تمشي ساعة بين يدي وساعة خلفي ؟ ”  . Tercantum juga dalam Ihya ‘Ulumiddin karya Imam al-Ghazali (إحياء علوم الدين – مكتبه كرياطه فوترا – سماراغ – اندونيسيا – 2); ar-Riyadh an-Nadhirah (كتاب الرياض النضرة في مناقب العشرة) karya Muhibb ath-Thabari (الطبري، محب الدين), jilid awwal, bagian kedua bahasan manaqib Khalifah Rasulullah Abu Bakr, bagian kesembilan tentang hijrah (المجلد الأول القسم الثاني: في مناقب الأفراد الباب الأول: في مناقب خليفة رسول الله أبي بكر الصديق الفصل الثامن: في هجرته مع النبي صلى الله عليه وسلم وخدمته له فيها);

[43] Muhammad Rasul Allah walladzina ma’ahu (محمد رسول اللّٰہ والذین معہ لعبدالحمید جودۃ السحار جلد3 صفحہ59،الھجرۃ، مکتبۃ مصر)

[44] Tarikh ath-Thabari (تاریخ طبری جلد اول صفحہ 568 ، تاریخ ما قبل الھجرۃ مطبوعہ دارالکتب العلمیۃ بیروت 1987ء)

[45] Syarh az-Zurqani (شرح الزرقانی جلد 2 صفحہ 121باب ھجرۃ المصطفیٰ و اصحابہ الی المدینۃ۔ دار الکتب العلمیة بیروت 1996ء)

[46] Tarikh al-Khamis (تاریخ الخمیس جلد2 صفحہ10 ذکر خروجہﷺ مع ابی بکر من مکۃ۔۔۔ مطبوعہ دارالکتب العلمیۃ بیروت 2009ء)

[47] Anis as-Sari (أنيس الساري 1-11 – 3). Imta’ul Asma (إمتاع الأسماع – ج 5). Tercantum juga dalam ar-Riyadh an-Nadhirah (الرياض النضرة في مناقب العشرة – ج 1).  Tercantum juga dalam al-Mu’jam al-Kabir (المعجم الكبير), Musnad an-Nisa (مسند النساء), bab alif (باب الألف), mereka yang bernama asma (من اسمه أسماء), bahasan Asma binti Abi Bakr (أسماء بنت أبي بكر الصديق) . Tercantum juga dalam Tarikh Madinah Dimasyq (تاريخ مدينة دمشق – ج 69 – أسماء – عمرة): تقول (رضي الله عنها) : ((لَمّا خَرَجَ رَسُولُ اللّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ وَأَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ أَتَانَا نَفَرٌ مِنْ قُرَيْشٍ ، فِيهِمْ أَبُو جَهْلِ بْنِ هِشَامٍ ، فَوَقَفُوا عَلَى بَابِ أَبِي بَكْرٍ فَخَرَجْتُ إلَيْهِمْ فَقَالُوا : أَيْنَ أَبُوك يَا بِنْتَ أَبِي بَكْرٍ ؟ قَالَتْ قُلْت : لَا أَدْرِي وَاَللّهِ أَيْنَ أَبِي ؟ قَالَتْ فَرَفَعَ أَبُو جَهْلٍ يَدَهُ وَكَانَ فَاحِشًا خَبِيثًا ، فَلَطَمَ خَدّي لَطْمَةً طُرِحَ مِنْهَا قُرْطِي .

[48] as-Sirah an-Nabawiyah karya Ibnu Hisyam (السیرۃ النبویۃ لابن ہشام صفحہ 344 ، ذکر ھجرۃ الرسول، مطبوعہ دارالکتب العلمیۃ بیروت 2001ء)

[49] Abul Hasan al-Baladuri (أبوالحسن البلاذري) dalam kitabnya Futuhul Buldaan (فتوح البلدان), (أمر السيول بمكة): قال الكلبي ، هذا كرز بن علقمة بن هلال بن جربية بن عبدنهم بن حليل ابن حبشية الخزاعي ، وهو الذي قفا اثر النبي صلى‌الله‌عليه‌وسلم حين انتهى إلى الغاز الذي استخفى فيه وأبو بكر الصديق معه حين أراد الهجرة إلى المدينة فرأى عليه نسج العنكبوت ورأى دونه قدم رسول الله صلى‌الله‌عليه‌وسلم فعرفها ، فقال ، هذه قدم محمد صلى‌الله‌عليه‌وسلم وههنا انقطع الأثر . Tercantum juga dalam Kitab Mir-aatuz Zamaan (مرآة الزمان في تاريخ الأعيان وبذيله (ذيل مرآة الزمان) 1-22 ج2) karya Yusuf bin Qiz Aughili Sibth ibnu al-Jauzi (يوسف بن قز أوغلي/سبط ابن الجوزي). (الإصابة في تمييز الصحابة) : كُرْزُ بن عَلْقَمَةَ بن هِلالِ بن جُرَيبَةَ بن عَبْد نُهْم بن حُلَيل بن حُبَشِيَّة ابن سَلول بن كعب بن عمرو بن ربيعة، وهو لُحيّ، الخزاعي الكعبي . Ibn al-Athīr (d. 1233 CE) – Usd al-ghāba fī maʿrifat al-ṣaḥāba – ابن الأثير – أسد الغابة : كُرْزُ بْنُ عَلْقَمَةَ الْخُزَاعِيُّ، قَالَ: وهذا كرز هُوَ الَّذِي قفا أثر النَّبِيّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ليلة الغار، فلما رَأَى عَلَيْهِ نسج العنكبوت، قَالَ: ههنا انقطع الأثر، وهو الَّذِي قَالَ حين نظر إِلَى قدم النَّبِيّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: هَذَا القدم من تلك القدم التي في المقام . Akbar Shah Najeebabadi, The History of Islam (Volume One), Darussalam Int’l Publisher dan Distributions, 2000, Hal. 141-142. Baca selanjutnya: https://ganaislamika.com/gua-tsaur/

[50] Shahih al-Bukhari (ماخوذ از صحیح البخاری کتاب فضائل اصحاب النبیﷺ باب مناقب المھاجرین و فضلھم روایت نمبر3653); Subulul Huda (سبل الہدیٰ والرشاد جلد3 صفحہ241 فی ہجرۃ رسول اللّٰہ ……… دارلکتب العلمیۃ 1993). Tarikh Madinah Dimasyq (تاريخ مدينة دمشق – ج 30 – أبو بكر الصديق خليفة رسول الله صلى الله عليه وسلم); Riyad as-Salihin, Introduction (كتاب المقدمات), bab yaqin dan tawakkal (باب اليقين والتوكل), Hadith 81.

[51] al-Mawaahib al-Laduniyyah karya al-Qasthalani. (المواھب اللدنیہ لعلامہ قسطلانی جلد1 صفحہ292-293 مطبوعہ المکتب الاسلامی بیروت 2004ء). Hadits Riwayat al- Baihaqi dalam Dalail an-Nubuwwah, Thabarani dalam al-Mu’jam al-Kabir, al-Bazzar dalam Musnad. Abu Mush’ab al-Makki berkata: أَدْرَكْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ. وَزَيْدَ بْنَ أَرْقَمَ. وَالْمُغِيرَةَ بْنَ شُعْبَةَ، فَسَمِعْتُهُمْ يَتَحَدَّثُونَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “أَمَرَ اللَّهُ شَجَرَةً لَيْلَةَ الْغَارِ فَنَبَتَتْ فِي وَجْهِي، وَأَمَرَ اللَّهُ الْعَنْكَبُوتَ فَنَسَجَتْ فَسَتَرَنِي، وَأَمَرَ اللَّهُ حَمَامَتَيْنِ وَحْشِيَّتَيْنِ فَوَقَفَتَا بِفَمِ الْغَارِ “Aku bertemu Anas bin Malik, Zaid bin Arqam, dan Mughirah bin Tsu’bah, aku mendengar dari mereka yang bercerita bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: ‘Allah memerintahkan pohon di malam saat berada di gua, maka pohon tersebut tumbuh dihadapanku. Dan Allah juga memerintahkan laba-laba dan kemudian ia menyulam (jaring) dan menutupiku. Dan Allah juga memerintahkan 2 ekor merpati yang gesit dan berhenti di mulut gua.'” http://islaamoderat.blogspot.com/2016/03/kisah-laba-laba-dan-burung-merpati.html

[52] Penerjemah: Mln. Mahmud Ahmad Wardi, Syahid (London-UK), Mln. Hasyim dan Mln. Fazli ‘Umar Faruq. Editor: Dildaar Ahmad Dartono. Referensi: www.alislam.org (website resmi Jemaat Ahmadiyah Internasional bahasa Inggris dan Urdu) dan www.Islamahmadiyya.net (website resmi Jemaat Ahmadiyah Internasional bahasa Arab). Majalah al-Fazl (الفضل انٹرنیشنل 14؍جنوری2022ءصفحہ5-9): https://www.alfazl.com/2022/01/09/39531/

Leave a Reply

Begin typing your search above and press return to search.
Select Your Style

You can choose the color for yourself in the theme settings, сolors are shown for an example.