Riwayat Abu Bakr Ash-Shiddiiq Ra (Seri 38)

Keteladanan Para Sahabat Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam (Manusia-Manusia Istimewa seri 172, Khulafa’ur Rasyidin Seri 04, Hadhrat ‘Abdullah Abu Bakr ibn ‘Utsman Abu Quhafah, radhiyAllahu ta’ala ‘anhu, Seri 38)

  • Hudhur ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz melanjutkan uraian tentang sifat-sifat terpuji Khalifah (Pemimpin Penerus) bermartabat luhur dan Rasyid (lurus) dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, Hadhrat Abu Bakr ibn Abu Quhafah, radhiyAllahu ta’ala ‘anhu. Uraian menyegarkan keimanan perihal keistimewaan luhur beliau (ra). Kerinduan bawaan dalam diri beliau untuk berbuat baik bagi Umat Manusia; Teladan dalam Memberi Makan Orang Miskin; Menutupi Kesalahan Orang Lain; Ketulusan dan ketaatan beliau; Keberanian Hazrat Abu Bakar (ra) yang tak tergoyahkan; Menghapus Kesalahpahaman tentang Perintah Zakat dalam Al-Qur’an; Pengorbanan Hazrat Abu Bakar (ra) yang tak tertandingi demi Islam: pengorbanan harta dan pengorbanan lainnya.
  • Riwayat-riwayat Hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kitab-kitab sejarah mengenai manaqib (keistimewaan) Hadhrat Abu Bakr radhiyAllahu ta’ala ‘anhu.
  • Penjelasan Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad radhiyAllahu ta’ala ‘anhu yang merupakan Mushlih Mau’ud (ra) dan Khalifatul Masih II, mengenai Hadhrat Abu Bakr ash-Shiddiq (ra).
  • Pandangan Pendiri Jemaat Ahmadiyah mengenai manaqib (keistimewaan) Hadhrat Abu Bakr radhiyAllahu ta’ala ‘anhu. Hadhrat Masih Mau’ud (as) dalam menjelaskan sifat-sifat mulia Hadhrat Abu Bakr (ra).
  • Hudhur (atba) menyebutkan lebih lanjut mengenai Hadhrat Abu Bakr (ra) di khotbah mendatang.

Khotbah Jumat Sayyidina Amirul Mu-minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 25 November 2022 (25 Nubuwwah 1401 Hijriyah Syamsiyah/01 Jumadil Awwal tahun ke-1444 Hijriyah Qamariyah) di Masjid Mubarak, Islamabad, Tilford (Surrey), UK (United Kingdom of Britain/Britania Raya).

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم

[بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم* الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يوْم الدِّين * إيَّاكَ نعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ]

(آمين)

Masih berlangsung pembahasan mengenai berbagai aspek biografi Hadhrat Abu Bakr Siddiq. Dalam hal ini, berkenaan dengan pengkhidmatan kemanusiaan yang beliau lakukan, memberi makan kepada orang membutuhkan dan lain-lain, bahkan sebelum menerima Islam, Hadhrat Abu Bakr dianggap sebagai salah seorang terbaik Quraisy dan kesulitan apa pun yang dihadapi orang-orang, mereka biasa meminta bantuan beliau. Di Makkah, beliau sering mengkhidmati tamu dan mengadakan undangan makan secara besar-besaran. Pada masa jahiliyah, Hadhrat Abu Bakr dianggap sebagai salah satu pemimpin suku Quraisy dan termasuk orang-orang elit dan terhormat mereka. di antara orang Quraisy, Hadhrat Abu Bakr dianggap sebagai sosok yang dimuliakan. Beliau dianggap sebagai salah satu orang terbaiknya. Orang-orang biasa datang menemui beliau ketika menghadapi masalah. Di Makkah, beliau memiliki keistimewaan dalam perjamuan dan keramahtamahan.

Kemudian tertulis bahwa Hadhrat Abu Bakr sangat baik kepada orang miskin dan membutuhkan. Di musim dingin beliau biasa membeli selimut dan membagikannya kepada yang membutuhkan. Dalam satu Riwayat, selama satu tahun Hadhrat Abu Bakr membeli seprai wol hangat yaitu selimut yang dari desa-desa dan membagikannya kepada para janda Madinah selama musim dingin.

Terdapat satu riwayat, sebelum menjadi Khalifah, beliau biasa memerah susu kambing dari keluarga yang ditinggalkan. Ketika beliau menjadi khalifah, seorang gadis dari keluarga tersebut berkata bahwa sekarang (setelah menjadi Khalifah) Anda tidak akan memerah susu kambing kami lagi. Mendengar ini, Hadhrat Abu Bakr berkata: “Mengapa tidak? Demi jiwa saya, saya pasti akan memerahnya untukmu, dan saya berharap apa yang telah saya pilih, tidak akan menghentikan saya dari kebiasaan yang saya jalani.” Jadi, beliau tetap memerah susu kambing mereka seperti sebelumnya. Ketika gadis-gadis itu datang bersama kambing mereka, dengan penuh kasih saying beliau bertanya kepada mereka, “Maukah saya buatkan busa susunya atau tidak?”

Jika mereka meminta untuk membuat busanya, maka beliau akan memerah susu dan meletakkan wadah agak jauh sampai berbusa dengan baik. Namun jika mereka mengatakan untuk tidak membuat busa, maka beliau akan memerah dengan cara meletakkan bejana di dekat dada sapi agar tidak berbusa. Beliau terus melakukan pengabdian ini selama enam bulan terus menerus, yaitu selama enam bulan setelah menjadi Khalifah.

Kemudian beliau menetap di Madinah, awalnya beliau memiliki dua rumah, satu rumah beliau berada agak jauh, beliau dulu tinggal agak jauh pada masa Nabi (saw), tetapi Nabi (saw) memberikan satu tempat didekat rumah rumah beliau lalu Abu Bakr membangunnya di sana di dekat Masjid Nabawi. Selain itu, ada juga sebuah rumah, di Madinah ada dua buah rumah, namun dahulu kala di masa Rasulullah (saw), beliau biasa menempati rumah tersebut di pinggiran kota. setelah menjadi Khalifah beliau pindah ke Madinah. Sebelum pindah ke Madinah, beliau terus memenuhi tanggung jawab untuk membantu para gadis tadi.

Hadhrat Umar (ra) biasa merawat seorang wanita tua dan buta yang tinggal di pinggiran Madinah. Beliau biasa mengambilkan air untuknya dan mengerjakan tugasnya. Suatu kali ketika beliau pergi ke rumahnya, beliau menemukan seseorang telah datang lebih dulu sebelum beliau dan telah mengerjakan pekerjaan orang tua itu. Di kemudian hari, beliau pergi ke rumah orang tua itu lebih awal agar orang lain tidak datang lebih dulu. Hadhrat Umar duduk bersembunyi, ternyata beliau melihat Hadhrat Abu Bakr yang datang ke rumah orang tua itu dan saat itu Hadhrat Abu Bakr sudah menjadi Khalifah. Melihat itu Hadhrat Umar berkata, Demi Allah, hanya anda yang dapat melakukan ini. Dengan kata lain, Hanya andalah yang bisa melampaui saya dalam kebaikan ini.

Terdapat satu Riwayat dari Musa bin Ismail bahwa Mu’tamar meriwayatkan dari ayahnya dan berkata bahwa Abu Utsman meriwayatkan kepada kami bahwa Hadhrat Abd al-Rahman bin Abi Bakr (ra) mengatakan kepadanya, أَنَّ أَصْحَابَ، الصُّفَّةِ كَانُوا أُنَاسًا فُقَرَاءَ، وَأَنَّ النَّبِيَّ ـ صلى الله عليه وسلم قَالَ مَرَّةً  ” مَنْ كَانَ عِنْدَهُ طَعَامُ اثْنَيْنِ فَلْيَذْهَبْ بِثَالِثٍ، وَمَنْ كَانَ عِنْدَهُ طَعَامُ أَرْبَعَةٍ فَلْيَذْهَبْ بِخَامِسٍ أَوْ سَادِسٍ “. أَوْ كَمَا قَالَ، وَأَنَّ أَبَا بَكْرٍ جَاءَ بِثَلاَثَةٍ وَانْطَلَقَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم بِعَشَرَةٍ، وَأَبُو بَكْرٍ وَثَلاَثَةً، قَالَ فَهْوَ أَنَا وَأَبِي وَأُمِّي ـ وَلاَ أَدْرِي هَلْ قَالَ امْرَأَتِي وَخَادِمِي ـ بَيْنَ بَيْتِنَا وَبَيْنَ بَيْتِ أَبِي بَكْرٍ، وَأَنَّ أَبَا بَكْرٍ تَعَشَّى عِنْدَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم ثُمَّ لَبِثَ حَتَّى صَلَّى الْعِشَاءَ، ثُمَّ رَجَعَ فَلَبِثَ حَتَّى تَعَشَّى رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَجَاءَ بَعْدَ مَا مَضَى مِنَ اللَّيْلِ مَا شَاءَ اللَّهُ، قَالَتْ لَهُ امْرَأَتُهُ مَا حَبَسَكَ عَنْ أَضْيَافِكَ أَوْ ضَيْفِكَ. قَالَ أَوَ عَشَّيْتِهِمْ قَالَتْ أَبَوْا حَتَّى تَجِيءَ، قَدْ عَرَضُوا عَلَيْهِمْ فَغَلَبُوهُمْ، فَذَهَبْتُ فَاخْتَبَأْتُ، فَقَالَ يَا غُنْثَرُ. فَجَدَّعَ وَسَبَّ وَقَالَ كُلُوا وَقَالَ لاَ أَطْعَمُهُ أَبَدًا. قَالَ وَايْمُ اللَّهِ مَا كُنَّا نَأْخُذُ مِنَ اللُّقْمَةِ إِلاَّ رَبَا مِنْ أَسْفَلِهَا أَكْثَرُ مِنْهَا حَتَّى شَبِعُوا، وَصَارَتْ أَكْثَرَ مِمَّا كَانَتْ قَبْلُ، فَنَظَرَ أَبُو بَكْرٍ فَإِذَا شَىْءٌ أَوْ أَكْثَرُ قَالَ لاِمْرَأَتِهِ يَا أُخْتَ بَنِي فِرَاسٍ. قَالَتْ لاَ وَقُرَّةِ عَيْنِي لَهْىَ الآنَ أَكْثَرُ مِمَّا قَبْلُ بِثَلاَثِ مَرَّاتٍ. فَأَكَلَ مِنْهَا أَبُو بَكْرٍ، وَقَالَ إِنَّمَا كَانَ الشَّيْطَانُ ـ يَعْنِي يَمِينَهُ ـ ثُمَّ أَكَلَ مِنْهَا لُقْمَةً، ثُمَّ حَمَلَهَا إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَصْبَحَتْ عِنْدَهُ. وَكَانَ بَيْنَنَا وَبَيْنَ قَوْمٍ عَهْدٌ، فَمَضَى الأَجَلُ، فَتَفَرَّقْنَا اثْنَا عَشَرَ رَجُلاً مَعَ كُلِّ رَجُلٍ مِنْهُمْ أُنَاسٌ. اللَّهُ أَعْلَمُ كَمْ مَعَ كُلِّ رَجُلٍ، غَيْرَ أَنَّهُ بَعَثَ مَعَهُمْ، قَالَ أَكَلُوا مِنْهَا أَجْمَعُونَ. أَوْ كَمَا قَالَ. وَغَيْرُهُ يَقُولُ فَعَرَفْنَا مِنْ الْعِرَافَةِ “Orang-orang Suffah (mereka yang tinggal di beranda Masjid) adalah orang-orang yang memerlukan (miskin) dan suatu hari Nabi (saw) bersabda, ‘Siapa yang memiliki makanan untuk dua orang harus mengajak orang yang ketiga dan siapa yang memiliki makanan untuk empat orang, ia harus mengajak orang yang kelima atau keenam’, atau berbicara senada seperti itu. Artinya, orang-orang miskin harus dibawa ke rumah dan diberi makan. Hadhrat Abu Bakr membawa tiga orang dan Nabi (saw) membawa sepuluh orang. Hadhrat Abu Bakr bersama tiga orang lainnya berada di rumah.” Hadhrat Abdur Rahman mengatakan, “Itu ialah saya, ayah saya dan ibu saya.” Perawi selanjutnya mengatakan, “Saya tidak tahu apakah Abdur Rahman juga mengatakan, ’Istri saya atau pelayan saya juga karena rumah kami dan rumah Hadhrat Abu Bakr menyatu.’

Hadhrat Abu Bakr makan malam di rumah Nabi lalu tetap berada di sana hingga salat Isya, lalu kembali [ke rumah Nabi (saw)].” Artinya, beliau bawa para tamu pulang ke rumah beliau tetapi kemudian beliau kembali ke tempat semula lalu bersama Nabi (saw) di rumah Nabi (saw) dan makan di sana. Diriwayatkan, “Beliau tinggal di sana begitu lama sehingga makan malam dengan Rasulullah (saw) lalu pulang setelah larut malam sebanyak yang dikehendaki Allah.

Istri beliau bertanya kepada beliau, ‘Apa yang menghalangi Anda dari tamu Anda atau tamu tersebut?’ artinya, mengapa terlambat datang.

Hadhrat Abu Bakr berkata, ‘Apakah kamu tidak memberi mereka makan?’

Istri beliau berkata, tamu menolak untuk makan sebelum anda datang. Para tamu berkata kami tidak akan makan sebelum Abu Bakr datang. Istri beliau berkata, ‘Saya telah menyajikan makanan, tetapi para tamu menolak untuk makan.’”

Hadhrat Abd al-Rahman mengatakan, “Saya pergi dan bersembunyi agar tidak dimarahi oleh Hadhrat Abu Bakr karena saya tidak memberi makan para tamu.

Hadhrat Abu Bakr berkata kepada putranya, ‘Hai bodoh dan sangat lamban.’

Hadhrat Abu Bakr menyuruh para tamu untuk makan dan Hadhrat Abu Bakr sendiri bersumpah, ‘Saya tidak akan makan.’”

Hadhrat Abd al-Rahman mengatakan, “Demi Allah, apapun suapan yang kami ambil, maka pada bagian bawahnya akan bertambah banyak. Mereka makan sangat banyak hingga kenyang dan makanan menjadi lebih banyak dari sebelumnya. Para tamu diberi makan. Para tamu terus makan, tetapi mereka mengatakan bahwa makanannya tetap sama dan bahkan semakin bertambah dan semua orang makan sampai kenyang.

Ketika Hadhrat Abu Bakr melihat bahwa makanannya tetap sama, bahkan semakin bertambah, lalu beliau berkata kepada istri, ‘Apa ini, wahai saudara perempuan Bani Firas?’

Istrinya berkata, ‘Aku bersumpah demi sejuknya mataku, sekarang makanan tiga kali lebih banyak dari sebelumnya.’ Artinya, makanan telah bertambah begitu banyak.

Hadhrat Abu Bakr juga menyantapnya dan berkata, ‘Itu hanyalah dari Setan’, maksudnya, atas godaannya telah bersumpah untuk tidak memakannya. Awalnya beliau bersumpah bahwa beliau tidak akan makan namun ketika melihat makanan semakin bertambah jumlahnya, lalu beliau mengatakan, ‘Setanlah yang telah membuat saya bersumpah, makanan ini penuh berkat dan saya akan memakannya juga.’

Kemudian Hadhrat Abu Bakr makan sesuap dari itu. Setelah itu, beliau mengangkat makanan dan membawanya kepada Nabi (saw) dan beliau berada di rumah beliau (saw) sampai pagi. Makanan tetap di sana sampai pagi.

Dikatakan bahwa ada perjanjian antara kami dan kaum itu dan perjanjian itu telah berakhir batas waktunya. Kami menjadikan dua belas orang secara terpisah dan dan masing-masing dari mereka didampingi oleh beberapa orang. Dikatakan bahwa Allah lebih tahu berapa banyak orang yang menyertai, tetapi yang pasti adalah Nabi (saw) mengirim orang-orang ini bersama beberapa orang lainnya, yakni jumlahnya signifikan. Hadhrat Abdul Rahman mengatakan bahwa mereka semua makan dari makanan ini atau mengatakan sesuatu seperti itu.”[1] Alhasil kali itu Allah Ta’ala telah memberikan keberkatan itu pada hidangan Hadhrat Abu Bakr.

Hadhrat Abd al-Rahman bin Abu Bakr meriwayatkan, قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم  ” هَلْ مِنْكُمْ أَحَدٌ أَطْعَمَ الْيَوْمَ مِسْكِينًا ” . فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ رضى الله عنه – دَخَلْتُ الْمَسْجِدَ فَإِذَا أَنَا بِسَائِلٍ يَسْأَلُ فَوَجَدْتُ كِسْرَةَ خُبْزٍ فِي يَدِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ فَأَخَذْتُهَا مِنْهُ فَدَفَعْتُهَا إِلَيْهِ “Rasulullah (saw) bersabda, ‘Apakah ada di antara kalian yang memberi makan orang miskin hari ini?’

Hadhrat Abu Bakr berkata, ‘Saya memasuki masjid dan seorang pengemis meminta sesuatu. Saya melihat sepotong roti di tangan anak saya, Abdul Rahman. Saya mengambilnya dan memberikannya kepada pengemis itu. Pengemis meminta sesuatu, saat itu anak saya memiliki roti di tangannya, lalu saya mengambilnya dan kemudian memberikannya kepada si pengemis.’”[2]

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Putra Hadhrat Abu Bakr, Abd al-Rahman juga layak menjadi khalifah dan orang-orang bahkan mengatakan bahwa sifatnya lebih lembut dari Hadhrat Umar dan kualitasnyapun tidak kalah darinya. Beliau seharusnya menjadi khalifah setelah Abu Bakr, tetapi Hadhrat Abu Bakr memilih Hadhrat Umar sebagai khalifah meskipun terdapat perbedaan sifat antara Hadhrat Abu Bakr dan Hadhrat Umar. Jadi, Hadhrat Abu Bakr tidak memperoleh keuntungan pribadi apa pun dari kekhalifahan, tetapi beliau menganggap pengkhidmatan kemanusiaan sebagai suatu kemuliaan.”

Terdapat riwayat dari kaum Sufi, Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) mengatakan, “Wallahu A’lam sejauh mana kebenarannya. Diceritakan, setelah kewafatan Hadhrat Abu Bakr, Hadhrat Umar bertanya kepada pelayan Hadhrat Abu Bakr, ‘Amalan baik apa yang biasa dilakukan oleh Hadhrat Abu Bakr, supaya saya dapat menirunya juga.’

Diantara sekian amalan baik, sang pelayan menyebutkan satu amalan baik, ia  menceritakan bahwa setiap hari Hadhrat Abu Bakr biasa pergi ke suatu tempat dengan membawa roti dan makanan. Sesampainya ditempat itu, beliau memerintahkan saya untuk menunggu diluar sedangkan beliau masuk. Entahlah untuk tujuan apa beliau masuk. Lalu Hadhrat Umar pergi dengan pelayan tersebut ke tempat yang disebutkan. Setelah saya masuk, apa yang saya lihat, ternyata kami melihat seorang pria buta lumpuh yang tidak memiliki tangan dan kaki sedang duduk di sebuah gua.

Hadhrat Umar menaruh sepotong makanan di mulut orang lumpuh tersebut, lalu orang tua itu menangis dan berkata, Semoga Allah merahmati Abu Bakr, betapa baiknya dia.

Terkait:   Makna Sejati dari Tobat dan Istighfar

Hadhrat Umar berkata, ‘Kakek. Bagaimana Anda tahu bahwa Abu Bakr telah meninggal?

Sang kakek mengatakan bahwa saya tidak memiliki gigi. Itu sebabnya sebelum memasukkannya ke mulut saya, beliau biasa mengunyahnya terselbih dahulu. Hari ini, ketika saya merasakan makanan keras di mulut saya, saya mengira bukan Abu Bakr yang memberikan makanan ini, tetapi orang lain, dan setelah mengetahui adanya kekosongan, saya meyakini bahwa  Abu Bakr telah tiada.”

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Apa yang diperoleh Hadhrat Abu Bakr dari kekuasaan? Beliau tidak mendapatkan apa-apa dari kekhalifahan atau kekuasaan yang beliau dapatkan. Apakah beliau menganggap harta kekayaan pemerintah sebagai milik pribadinya? Tidak mungkin. Barang-barang yang diterima oleh kerabat beliau itu semua merupakan pemberian dari harta pribadi beliau sendiri.”[3]

Satu-satunya perbedaan yang beliau miliki adalah pengkhidmatan yang beliau lakukan.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda, “Ini adalah dua bagian syariat yakni hak Allah dan hak hamba. Tedapat dua hal yakni Hak Allah dan hak para hamba.”

Beliau (as) bersabda, “Perhatikanlah Nabi (saw) betapa beliau melewati seluruh usianya untuk mengkhidmati kemanusiaan. Lihatlah keadaan Hadhrat Ali yang begitu banyaknya tambalan pada baju beliau, sehingga tidak ada ruang tersisa. Hadhrat Abu Bakr telah memikul tangung jawab untuk selalu memberi manisan kepada seorang tua. Renungkanlah betapa berat komitmen tersebut.

Ketika Hadhrat Abu Bakr meninggal, orang tua itu berkata, ‘Hari ini Abu Bakr meninggal.’

Tetangganya berkata, ‘Apakah Anda menerima ilham atau wahyu?’

Dia mengatakan: ‘Tidak, sebabnya Abu Bakr tidak membawa manisan hari ini, dari itu diketahui bahwa dia telah meninggal.’ Artinya seumur hidup beliau tidak mungkin tidak mengirimkan manisan dalam keadaan bagaimanapun. Lihatlah berapa banyak pengkhidmatan yang dilakukan. Setiap orang seyogyanya melakukan pengkhiamatan seperti ini.”

Bagaimana standar beliau dalam menutupi kelemahan orang lain. Berkenaan dengan terdapat riwayat. Hadhrat Abu Bakr pernah bersabda, لَوْ أَخَذْتُ سَارِقًا لَأَحْبَبْتُ أَنْ يَسْتُرَهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ “Jika saya menangkap seorang pencuri, keinginan terbesar saya adalah agar Tuhan menutupi kejahatannya.”[4]

Tentang keberanian dan jiwa patriot beliau tertulis bahwa Hadhrat Abu Bakr merupakan perwujudan dari sifat pemberani. Beliau rela mengambil risiko besar demi Islam atau karena kecintaan beliau terhadap wujud Nabi Suci (saw). Dalam kehidupan Makkah, ketika melihat bahaya atau ancaman terhadap pribadi Nabi Muhammad (saw), beliau akan berdiri di depannya sebagai tembok untuk melindungi dan mendukungnya. Ketika terjadi pemboikotan dan pengepungan di Shaab Abi Thalib selama tiga tahun, beliau tetap di sana dengan tabah. Kemudian, selama hijrah, beliau mendapat kehormatan untuk menyertai Nabi (saw) meskipun nyawa terancam.

Dalam semua perang yang terjadi, Hadhrat Abu Bakr tidak hanya berpartisipasi di dalamnya, tetapi juga menjalankan tugas melindungi Rasulullah (saw). Berkenaan dengan keberanian dan jiwa patriot  Hadhrat Abu Bakr, Hadhrat Ali pernah bertanya kepada orang-orang, “Siapakah orang yang paling pemberani?”

Orang-orang menjawab, “Itu adalah Anda, wahai Amirul Mukminin.”

Hadhrat Ali berkata. “Sejauh yang saya ketahui, siapa pun yang bertarung dengan saya, saya melakukan keadilan kepadanya, yaitu membunuhnya, tetapi yang paling pemberani adalah Hadhrat Abu Bakr.

Kami mendirikan tenda untuk Rasulullah (saw) pada hari Badar, lalu kami berkata: Siapa yang akan tinggal bersama Rasulullah (saw) supaya tidak ada orang musyrik yang dapat menjangkau beliau? Demi Allah, tidak ada yang datang mendekati Rasulullah, kecuali Hadhrat Abu Bakr, yang menghunus pedangnya dan berdiri di dekat Rasulullah (saw). Dengan kata lain, tidak ada orang musyrik yang akan mencapai Rasulullah (saw), tetapi terlebih dulu dia akan menghadapi Hadhrat Abu Bakr. Jadi beliau adalah orang yang paling berani.”[5]

Begitu juga pada perang Uhud pun, ketika menyebar kabar burung syahidnya Rasulullah, yang paling pertama adalah Abu Bakr yang menerobos keramaian untuk segera sampai di dekat Rasulullah.  Diriwayatkan bahwa saat itu di sisi Hudhur (saw) hanya ada 11 sahabat beliau, yang mana diantaranya adalah Hadhrat Abu Bakr, Hadhrat Sa’ad, Hadhrat Talha, Hadhrat Zubair, dan juga Hadhrat Abu Dujana.[6] Di pertempuran Uhud, Hadhrat Abu Bakr pun adalah salah satu diantara beberapa sahabat yang rela melindungi Rasulullah (saw) saat berada di lembah.

Di pertempuran Khandaq, Hadhrat Abu Bakr ada bersama-sama dengan Rasulullah (saw); dan saat penggalian parit, beliau pun termasuk diantara mereka yang mengangkat tanah dan membuangnya dengan kain.

Pada peristiwa Perdamaian Hudaibiyah, beliau termasuk diantara para sahabat yang tidak segan untuk mengorbankan jiwa; namun contoh keberanian keimanan, keteguhan, firasat, ketaatan, dan kecintaan yang mendalam kepada Rasulullah (saw) yang telah diperlihatkan oleh Hadhrat Abu Bakr tidak akan sanggup dilupakan oleh Hadhrat Umar di sepanjang kehidupan beliau.

Hadhrat Abu Bakr pun ikut serta di pertempuran Taif; demikian pula putra beliau yakni Abdullah bin Abu Bakr pun ikut serta. Putra Hadhrat Abu Bakr yang berusia muda itu telah disyahidkan di pertempuran tersebut. Kemudian tatkala Rasulullah (saw) bergerak menuju pertempuran Tabuk bersama 30.000 prajurit Muslim, saat itu beliau mengangkat beberapa panglima untuk memimpin pasukan-pasukan Muslim. Saat itu pasukan yang paling besar diserahkan kepada Hadhrat Abu Bakr. 

Hadhrat Salamah bin Akwa’ menerangkan, غَزَوْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم سَبْعَ غَزَوَاتٍ وَخَرَجْتُ فِيمَا يَبْعَثُ مِنَ الْبُعُوثِ تِسْعَ غَزَوَاتٍ مَرَّةً عَلَيْنَا أَبُو بَكْرٍ وَمَرَّةً عَلَيْنَا أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ “Saya telah ikut serta dalam 7 pertempuran bersama-sama Yang Mulia Nabi (saw); lalu dari antara berbagai ekspedisi pertempuran yang diberangkatkan oleh Rasulullah (saw), saya mendapat kesempatan untuk ikut dalam 9 pertempuran diantaranya. Ada saatnya Hadhrat Abu Bakr memimpin pasukan kami, dan ada saatnya dipimpin oleh Hadhrat Usama bin Zaid.”[7]

Lalu setelah kewafatan Rasulullah (saw), tatkala seluruh Arab seakan menjadi murtad, maka keberanian, keteguhan dan tindakan yang diperlihatkan oleh Hadhrat Abu Bakr sungguh tiada bandingannya. Terkait hal ini telah dirinci sebelumnya. Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) menerangkan: “Suatu saat orang-orang kafir mengalungkan tali ke leher Rasulullah (saw) lalu mereka menariknya dengan keras. Tatkala Hadhrat Abu Bakr mengetahuinya, beliau segera berlari dan menyingkirkan orang-orang kafir itu dan bersabda, “Wahai manusia, kalian tidak takut kepada Tuhan dan kalian memukul serta menganiaya wujud ini hanya karena ia menyatakan bahwa Allah adalah Tuhanku. Beliau tidaklah meminta harta benda dari kalian. Maka dari itu mengapa kalian memaksanya?” 

Kemudian beberapa sahabat menuturkan, “Di masa kami, sosok yang dianggap paling pemberani adalah Hadhrat Abu Bakr, karena para musuh pun mengakui: Jika kami membunuh Muhammad Rasulullah (saw), maka Islam pasti akan menjadi musnah, namun kami melihat bahwa Abu Bakr senantiasa ada berdiri di dekat Rasulullah (saw) supaya siapa saja yang hendak menyerang beliau,  ia akan segera bergerak melindungi beliau.” Demikianlah tatkala terjadi pertempuran yang sengit antara kaum Muslim melawan kaum kafir, saat itu para sahabat saling berunding diantara mereka dan bersepakat untuk menyiapkan satu kemah untuk Rasulullah (saw), lalu mereka menyampaikan kepada Rasulullah (saw), “Wahai Rasulullah, mohon Hudhur tinggal di kemah ini dan berdoalah untuk kemenangan kami. Sementara kami yang akan melawan para musuh.”

Mereka berkata, ‘Wahai Rasulullah, kami meyakinkan Anda bahwa di dalam diri kami terdapat keikhlasan, namun mereka yang duduk di Madinah, mereka pun ada yang memiliki keikhlasan dan kesetiaan lebih dari kami. Mereka tidak tahu bahwa kita akan bertempur dengan kaum kafir; jika tahu, mereka pun pasti ikut serta dalam pertempuran ini. (yaitu, mereka memang tidak tahu akan adanya perang Badar. Jika tahu, mereka pun akan ikut). Wahai Rasulullah, jika di perang ini na’uzubillah kami akan mengalami kekalahan, ketahuilah bahwa kami telah mengikat seekor unta cepat di dekat Anda, dan kami telah meminta Abu Bakr untuk siaga di dekat Anda. Kami tidak dapat menemukan lagi siapa yang lebih pemberani darinya diantara kami. Wahai Rasulullah, saat itu segeralah menunggangi unta itu bersama Abu Bakr dan bergeraklah menuju Madinah, lalu berangkatkanlah satu pasukan baru dari Madinah, yang mana mereka adalah lebih mukhlis dan setia dari kami untuk menghadapi kaum kafir.’”

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Renungkanlah peristiwa ini! Betapa Hadhrat Abu Bakr merupakan insan yang sangat tinggi dalam pengorbanan.”[8]

Kemudian dalam satu kesempatan Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Di satu peristiwa, ada beberapa orang yang bertanya kepada para sahabat, ‘Di zaman Rasulullah (saw), siapakah sosok yang paling pemberani di antara para sahabat?’ Seperti halnya di masa kini banyak pertanyaan terkait Syiah dan Sunni, demikian pula di masa itu pun, bagi siapa saja yang memiliki suatu perhubungan, maka orang-orang akan sering memujinya. Tatkala pertanyaan ini ditujukan ke golongan sahabat, mereka lalu menjawab bahwa yang paling pemberani diantara kami adalah yang senantiasa berdiri di dekat Rasulullah (saw). Ungkapan ini hanya akan dapat dipahami oleh mereka yang paham akan perang, sementara orang lain tidak akan dapat memahaminya.” (yakni, siapa saja yang benar-benar paham akan peperangan dan dapat menggambarkan bahaya-bahaya yang ada di dalamnya, mereka itulah yang tahu akan keberanian, yakni berdiri di tempat yang paling berbahaya). 

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Intinya adalah, musuh senantiasa menghendaki untuk membunuh pimpinan tertinggi dari suatu kaum atau negeri, supaya dengan terbunuhnya sosok itu maka segenap perselisihan akan lenyap. Maka dari itu, dimana saja sosok itu berada di suatu pertempuran, musuh pasti akan menyerangnya dengan penuh kekuatan. Apapun yang menjadi pusat sesuatu, maka itulah yang akan menjadi sasaran utama dari musuhnya. Dan di tempat seperti ini, yang ditugaskan di sana (yaitu untuk melindunginya, untuk melindungi pusat dari segalanya itu), hanya orang yang paling pemberani lah yang akan ditugaskan di sana. Lalu para sahabat berkata, ‘Di sisi Anda (saw), hanya Hadhrat Abu Bakr lah yang sering berdiri di dekat Anda, dan menurut kami, sosok inilah yang sungguh paling pemberani.’” 

Kemudian Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) di satu tempat dalam menjelaskan tafsir dari ayat kedua surah Bani Israil, beliau bersabda: “Hal ini pun patut direnungkan bahwa dari kata أَسْرَى بعَبْدِه – asra bi-‘abdihi – Dia menjalankan hamba-Nya – tampak  jelas bahwa yang menjalankan adalah Wujud yang berbeda dan ia berjalan tidak atas kehendaknya sendiri. Demikian juga peristiwa hijrah, beliau (saw) keluar di waktu malam, dan beliau keluar bukanlah atas kehendak sendiri, tetapi beliau keluar dalam keadaan terpaksa yaitu tatkala kaum kafir telah mengepung kediaman beliau untuk tujuan membunuh beliau. Alhasil tidaklah ada kehendak beliau (saw) di dalam perjalanan ini, tetapi bahkan kehendak Allah Ta’ala lah yang telah menjadikan beliau melaksanakannya.” Artinya, Wujud yang menggerakkan beliau, yang membuat beliau keluar rumah dan Wujud yang memerintahkan beliau pergi untuk berhijrah adalah Allah Ta’ala dan karena kehendak dari-Nya itu, beliau lalu terpaksa meninggalkan [Makkah].

Kemudian, Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Sebagaimana di dalam ru’ya Jibril ada menemani beliau dalam perjalanan menuju Baitul Maqdis, demikian pula Abu Bakr pun ada bersama beliau. Dengan demikian, beliau adalah yang mengikuti Rasulullah, sementara Jibril adalah wujud yang bekerja dengan mengikuti perintah Allah Ta’ala dan Jibril adalah bermakna pahlawan Allah Ta’ala. Hadhrat Abu Bakr pun adalah hamba Allah Ta’ala yang istimewa, dan beliau merupakan sosok pahlawan yang tanpa gentar demi agama.”

Kemudian Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) di satu tempat lain bersabda: “Jadi hakikatnya adalah, dengan beriman kepada Kalam Allah Ta’ala, hendaknya tidak akan dapat muncul keputus-asaan dalam hati manusia. Jika ada suatu keimanan yang sempurna kepada Allah Ta’ala, tidak mungkin akan datang keputus-asaan di dalam hati. Keadaan yang menimpa Rasulullah (saw), contohnya di Gua Tsur, dalam saat seperti itu apakah tersisa suatu harapan?

Rasulullah (saw) di kegelapan malam meninggalkan kediaman beliau dan tiba di Gua Tsur. Ini adalah gua yang memiliki mulut gua yang lebar, dan setiap orang dapat dengan mudah menengadahkan wajahnya untuk melihat isinya dan untuk masuk ke dalamnya. Hanya satu sahabat yang menemani beliau, dan keduanya adalah tanpa senjata dan kekuatan untuk melawan.

Orang-orang Makkah bersenjata mengejar beliau dan mereka tiba di Guat Tsur. Diantara mereka ada yang bersikeras untuk satu kali saja lebih melihat ke dalam  supaya jika beliau ada maka mereka akan dapat menangkapnya. Musuh telah melihat dengan sedemikian rupa dekat hingga Hadhrat Abu Bakr (ra) menangis dan ia berkata, ‘Wahai Rasulullah, musuh telah tiba di kepala kita.’

Beliau saat itu bersabda dengan sangat teguh, ‘Laa tahzan innallaaha ma’ana. Abu Bakr, mengapa Anda takut? Tuhan ada bersama kita.’

Lihatlah, betapa sangat gentingnya keadaan yang beliau hadapi pada saat itu, dimana setelah peristiwa itu, tidak ada lagi upaya pembunuhan atau penangkapan kepada Rasulullah (saw) yang dapat menyamai ini. Meski dalam keadaan demikian,  yakni musuh yang sangat kuat, mereka bersama dengan tentara, mereka pun menyandang senjata, sementara Rasulullah (saw) sama sekali tidak bersenjata, beliau hanya duduk di gua itu bersama seorang sahabat beliau. Beliau saat itu tidak memiliki senjata, tidak memiliki pemerintahan, dan tidak memiliki massa yang banyak.

Beliau (saw), meskipun melihat musuh yang berjumlah banyak di dekat beliau, beliau tetap bersabda, ‘Laa tahzan Innallaaha ma’ana’, yakni mengapa Anda berkata bahwa musuh kita adalah kuat? Apakah mereka lebih kuat dari Tuhan? Tatkala Tuhan ada bersama kita, maka apa lagi alasan kita untuk menjadi gelisah? [Sesungguhnya] kegelisahan Hadhrat Abu Bakr pun bukan untuk diri beliau, tetapi untuk diri Rasulullah (saw).”

Terkait:   Riwayat Abu Bakr Ash-Shiddiiq Ra (Seri 25)

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda: “Ada sebagian orang Syiah yang mengangkat peristiwa ini dan mereka berkata bahwa Abu Bakr (na’udzubillah) tidak beriman dan ia takut untuk menyerahkan jiwanya. Sesungguhnya dalam rujukan sejarah pun dengan jelas tertera bahwa ketika Rasulullah (saw) bersabda laa tahzan innallaaha ma’ana, saat itu Hadhrat Abu Bakr berkata, ‘Wahai Rasulullah, saya tidaklah menghawatirkan jiwa saya sendir karena Jika terbunuh, maka yang mati hanyalah satu orang. Saya hanya takut akan [keadaan] Hudhur, karena jika Anda yang mengalami malapetaka, maka kebenaran akan sirna dari dunia.’”[9]

Lalu di satu tempat, Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Hal ini tidaklah dikhususkan bagi para nabi. Di setiap zaman bahkan terdapat juga orang-orang dimana ia melakukan sesuatu yang mana orang lain tidak sanggup melakukannya. Contohnya adalah Hadhrat Abu Bakr (ra). Di masa itu mengenai Hadhrat Abu Bakr, tidak ada seorang pun yang dapat mengatakan bahwa suatu saat nanti beliau akan memimpin kaum beliau. Mereka saat itu umumnya beranggapan bahwa beliau memiliki tabiat yang lemah dan hati yang lunak.

Lihatlah berbagai pertempuran di masa Rasulullah (saw). Beliau (saw) tidak pernah menjadikan Hadhrat Abu Bakr sebagai panglima dalam perang besar manapun. Memang ada beberapa pertempuran skala kecil dimana beliau diangkat sebagai pemimpinnya, tetapi dalam perang-perang yang besar Rasulullah (saw) senantiasa mengangkat orang-orang lain sebagai panglima.

Demikian pula di dalam pekerjaan-pekerjaan yang lain pun beliau tidak diangkat sebagai pimpinannya. Kemudian dalam hal pengajaran Al-Quran Karim ataupun tugas Qadi, Rasulullah tidak membebankannya kepada Hadhrat Abu Bakr.

Meski demikian Rasulullah (saw) mengetahui bahwa tatkala tiba waktu untuk Abu Bakr, pekerjaan yang akan dilaksanakan Abu Bakr tidak akan dapat dilakukan oleh yang lainnya. Maka dari itu, tatkala Rasulullah (saw) wafat, lalu muncul perselisihan di dalam umat Muslim bahwa siapakah yang akan menjadi khalifah, saat itu tidaklah terpikir dalam benak Hadhrat Abu Bakr bahwa beliau akan menjadi khalifah. Beliau memahami bahwa Hadhrat Umar dan yang lainnya lah yang ahli dalam hal ini.

Tatkala golongan Ansar bersemangat dan mereka menghendaki agar khilafat berasal dari mereka, karena mereka berpikir, ‘Kamilah yang telah melakukan pengorbanan demi Islam sehingga kini golongan Ansar yakni kamilah yang berhak menjadi khalifah.’

Sementara itu kaum Muhajir berkata: ‘Khalifah adalah dari kami.’

Dengan demikian, setelah kewafatan Rasulullah (saw), terjadi suatu perselisihan yang besar. Pada akhirnya, perselisihan ini berakhir pada pernyataan golongan Ansar bahwa akan ada satu khalifah dari golongan muhajirin dan ada satu khalifah dari Ansar. Untuk menjauhkan pertikaian ini, diadakanlah satu pertemuan.

Hadhrat Umar bersabda, ‘Saat itu saya berpikir bahwa Hadhrat Abu Bakr sungguh sosok yang sangat baik dan suci, tetapi memahami beban ini [beban memahami dan memahamkan] bukanlah pekerjaannya. Ini adalah tugas yang sangat sulit bagi beliau.’ Hadhrat Umar bersabda, ‘Jika ada orang yang dapat mengemban beban ini, maka ia adalah saya. Ini adalah pekerjaan yang butuh kekuatan, bukan kelembutan dan kasih sayang. Hadhrat Abu Bakr adalah sosok yang menampakkan kelembutan dan cinta kasih.’ Alhasil beliau bersabda, ‘Saya merenung hingga akhirnya sampai pada menampakkan dalil-dalil yang membuktikan bahwa Khalifah hendaknya berasal dari Quraisy, dan anggapan bahwa satu khalifah berasal dari Anshar dan satu lagi berasal dari Muhajirin, pemikiran ini sama sekali salah.’ Hadhrat Umar bersabda, ‘Saya telah banyak merenungkan dalil-dalil dan pergi ke majlis yang diadakan untuk mengakhiri perselisihan-perselisihan tersebut. Hadhrat Abu Bakr pun saat itu ada bersama saya. Saya berkeinginan untuk berpidato dan meyakinkan segenap orang dengan berbagai dalil yang telah saya pikirkan sebelumnya. Saya menganggap Hadhrat Abu Bakr bukan sosok yang memiliki kewibawaan dan kebesaran sehingga beliau dapat berbicara di majlis ini.

Hadhrat Umar bersabda: ‘Namun saat itu saya baru saja hendak berdiri, sementara Hadhrat Abu Bakr dengan marah  mengangkat tangan beliau dan berkata kepada saya, “Duduklah.” Lalu beliau berdiri sendiri dan memulai pidato beliau.’

Hadhrat Umar bersabda, ‘Demi Tuhan, dalil-dalil apa saja yang telah saya pikirkan, keseluruhannya telah dijelaskan oleh Hadhrat Abu Bakr.’ Kemudian beliau menjelaskan berbagai dalil-dalil yang lainnya. Beliau terus menjelaskannya hingga segenap kalbu golongan Ansar pun menjadi tenang, dan mereka pun menerima pendapat kaum Muhajirin tentang khilafat. 

Jadi, inilah Abu Bakr yang mengenainya Hadhrat Umar sendiri menerangkan bahwa suatu saat beliau pernah merobek pakaian Hadhrat Abu Bakr di pasar akibat suatu perselisihan dan beliau siap untuk memukulnya. Abu Bakr inilah yang dengannya Rasulullah (saw) sering bersabda, ‘Hati Hadhrat Abu Bakr sangatlah halus.’ Namun, tatkala waktu kewafatan Rasulullah (saw) telah mendekat, maka sebelum wafat Rasulullah (saw) bersabda kepada Hadhrat Aisyah, ‘Hati saya berulang kali menghendaki agar saya menyampaikan kepada segenap orang bahwa jadikanlah ia yakni Abu Bakr sebagai Khalifah sepeninggalku, namun lantas saya mengurungkan diri karena hati saya mengetahui bahwa setelah kewafatan saya, Allah Ta’ala dan hamba-hamba-Nya yang beriman akan memilih tiada lain selain Abu Bakr sebagai Khalifah.’ Alhasil demikainlah yang terjadi dan beliau telah dipilih menjadi Khalifah.

Hadhrat Abu Bakr adalah sosok yang berhati lembut. Tabiat beliau adalah sedemikian halusnya dimana satu saat di pasar, Hadhrat Umar telah maju dan hendak memukul beliau. Hadhrat Umar lalu merobek pakaiannya.

Meski demikian, Hadhrat Abu Bakr inilah yang sifat halus beliau tampak pada peristiwa berikut: suatu saat Hadhrat Umar mendatangi Hadhrat Abu Bakr dan beliau memohon kepada beliau, ‘Segenap bangsa Arab telah menentang. Hanya di Madinah, Makkah, dan satu desa kecil sajalah yang di dalamnya dilaksanakan shalat berjamaah. Orang-orang [Muslim] lainnya memang melaksanakannya, tetapi diantara mereka telah lahir perpecahan besar dimana seseorang enggan untuk shalat di belakang orang yang lainnya. Perselisihan yang ada telah sedemikian besar hingga mereka tidak siap lagi untuk mendengar satu sama lain. Orang-orang Arab yang jahil, yang mana mereka baru 5 atau 6 bulan saja menerima Islam, mereka meminta agar dibebaskan untuk membayar zakat. Orang-orang ini tidak memahami masalah zakat.’

Hadhrat Umar (ra) mengatakan, ‘Jika satu hingga dua tahun mereka dimaafkan dari zakat, maka apa salahnya?’ Seolah-olah Hadhrat Umar (ra) yang setiap saat selalu berdiri dengan pedang di tangan dan ketika ada permasalahan-permasalahan sepele sekalipun biasa mengatakan, ‘Ya Rasulullah (saw)! Jika ada perintah, aku akan penggal kepalanya’, beliau begitu segan dengan mereka. Beliau begitu ketakutan sehingga datang kepada Hadhrat Abu Bakr (ra) dan memohon kepada beliau supaya hendaknya memaafkan zakat bagi orang-orang jahil tersebut untuk beberapa waktu dan memberikan pemahaman kepada mereka secara perlahan-lahan.

Namun Hadhrat Abu Bakr (ra) yang sedemikian rupa berhati lembut sehingga Hadhrat Umar (ra) pernah mengatakan, ‘Suatu kali saya telah siap untuk memukulnya dan merobek bajunya di pasar’, beliau pada saat itu menatap Hadhrat umar (ra) dengan sangat marah. Yakni, ketika Hadhrat Umar (ra) mengatakan, ‘Janganlah mengatakan apa pun kepada mereka [para penolak zakat]. Janganlah memungut zakat dari orang-orang yang memberontak itu selama dua tahun, kita akan pergi untuk memberikan pemahaman kepada mereka.’

Ketika Hadhrat Umar (ra) mengatakan hal tersebut, maka Hadhrat Abu Bakr (ra) menatap Hadhrat Umar (ra) dengan sangat marah dan mengatakan, ‘Umar (ra)! Engkau menuntut sesuatu hal yang tidak dilakukan oleh Allah dan Rasul-Nya.’

Hadhrat Umar (ra) berkata, ‘Memang hal ini benar, tetapi mereka adalah orang-orang yang belum dewasa dalam pemikiran. Laskar musuh telah sampai di dinding-dinding Madinah. Apakah hal ini akan baik, bahwa mereka terus melangkah maju lalu menimbulkan anarkisme, atau akan lebih baik jika selama satu hingga dua tahun mereka dimaafkan dari zakat. Pilihannya adalah, antara terjadi anarkisme (kerusuhan tanpa ada pihak pemerintah) atau dilakukan rekonsiliasi (perdamaian) dengan satu dan lain cara.’

Hadhrat Abu Bakr (ra) bersabda, ‘Demi Allah! Jika musuh menyusup ke Madinah dan memenggal orang-orang Islam di lorong-lorongnya dan anjing-anjing menyeret mayat-mayat para wanita, aku tetap tidak akan membebaskan mereka dari zakat. Demi Allah! Jika di zaman Rasulullah (saw) mereka memberikan sepotong tali sebagai zakat, maka pasti aku juga akan memungut itu dari mereka.’ Kemudian beliau bersabda, ‘Wahai Umar (ra)! Jika kalian semua takut, maka pergilah. Aku akan berperang dengan mereka sendirian dan aku tidak akan berhenti hingga mereka jera dari kejahatan mereka.’ Lalu terjadilah peperangan dan beliau meraih kemenangan. Yakni, Hadhrat Abu Bakr (ra) meraih kemenangan dan menaklukkan kembali seluruh Arab sebelum kewafatannya. Apa yang Hadhrat Abu Bakr (ra) lakukan dalam hidupnya, bagian tersebut tidak ada orang lain yang dapat melakukannya.”[10]

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Para pemimpin Makkah mendapatkan hormat dan takzim yang sedemikian rupa di antara orang-orang, sehingga orang-orang merasa takut berbicara di hadapan mereka dan ihsan-ihsan mereka begitu banyak kepada orang-orang, sehingga seseorang bahkan tidak mampu untuk mengangkat pandangan di hadapan mereka. Kehormatan mereka ini nampak pada kesempatan perjanjian Hudaibiyah. Seorang pemimpin yang diutus oleh orang-orang Makkah untuk berbincang dengan Rasulullah (saw), berbicara sambil memegang janggut berberkat Rasulullah (saw). Melihat hal ini, seorang sahabat memukulkan gagang pedangnya dengan keras ke tangan orang tersebut dan mengatakan, ‘Jangan sentuhkan tangan kotormu pada janggut berberkat Rasulullah (saw).’ Dia mengangkat pandangannya untuk melihat siapa yang telah memukul tangannya dengan gagang pedang. Karena sahabat itu memakai topi baja, maka hanya mata dan lehernya saja yang terlihat. Setelah beberapa saat dia memandang dengan seksama, kemudian dia mengatakan, “Apakah kamu si fulan?” Sahabat tersebut menjawab, “Ya!.” Dia mengatakan, “Apakah kamu tidak tahu, aku telah menyelamatkan keluargamu dari musibah tertentu pada kesempatan tertentu, dan pada kesempatan tertentu aku melakukan kebaikan tertentu kepadamu. Apakah kamu berani berbicara di hadapanku?”

Seraya mengisahkan peristiwa ini Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Jika kita melihat di masa sekarang ini, sikap melupakan kebaikan telah begitu umum di dalam diri orang-orang. Jika melakukan kebaikan pada seseorang di sore hari, maka pada pagi harinya dia telah lupa dan mengatakan, ‘Apakah sekarang aku harus menjadi budaknya seumur hidup? Jika dia telah melakukan kebaikan kepadaku, lantas mengapa?’ Jangankan menjadi budak seumur hidup, menghargai kebaikan sampai satu malam pun ia tidak sanggup. Namun dalam diri orang-orang Arab sedemikian rupa didapati rasa berterimakasih dalam derajat yang sempurna. Keadaannya ketika itu sedang sangat genting, namun ketika pemimpin Makkah tadi menyebutkan kebaikan-kebaikannya, sahabat tersebut menundukkan pandangannya dan mundur dengan merasa malu. Beliau begitu menghargai kebaikan.

Atas hal itu, kemudian pemimpin Makkah tersebut memulai perbincangan dengan Rasulullah (saw) dan berkata, ‘Aku adalah bapak orang-orang Arab. Aku memohon kepadamu untuk menghormati bangsamu. Lihatlah orang-orang di sekelilingmu ini, mereka akan segera melarikan diri ketika musibah datang dan pada akhirnya kaummu akan datang. Jadi, mengapa kamu merendahkan kaummu sendiri? Aku adalah bapak orang-orang Arab.’ Orang tersebut berulang kali mengatakan hal ini kepada Rasulullah (saw), “Aku adalah bapak orang-orang Arab. Ikutilah perkataanku dan sebagaimana yang aku katakan dan pulanglah tanpa melaksanakan umroh.”

Pada kesempatan itu, ia bersikeras pada perkataannya dan memegang janggut Rasulullah (saw) demi membuat beliau (saw) menurutinya. Dan meskipun ia memegang janggut Rasulullah (saw) dalam corak permohonan dan ia mengatakannya dengan sangat memohon serta dengan tujuan supaya beliau (saw) menuruti perkataannya, namun dikarenakan di dalamnya didapati juga sisi penghinaan sehingga para sahabat tidak bisa menahan diri terhadapnya dan ketika orang itu memegang janggut Rasulullah (saw), seketika seseorang memukul tangannya dengan sangat keras dan berkata, ‘Jangan sentuhkan tangan kotormu pada janggut berberkat Rasulullah (saw).’

Orang itu kemudian mengangkat pandangannya dan memandang dengan seksama siapakah orang yang telah menghentikannya. Akhirnya ia mengenalinya lalu menundukkan pandangannya. Ketika orang yang datang sebagai utusan orang-orang kafir tersebut mengenalinya, ia lalu menundukkan pandangannya. Ketika dilihatnya, ternyata itu adalah Hadhrat Abu Bakr (ra), dan ia berkata, “Abu Bakr! Aku mengetahui bahwa aku tidak memiliki ihsan atasmu. Kamu adalah seseorang yang aku tidak pernah berbuat suatu ihsan kepadanya.” 

Alhasil, mereka adalah kaum yang sedemikian rupa banyak berbuat ihsan kepada orang lain, sehingga selain kepada Hadhrat Abu Bakr (ra), sedemikian banyak para Anshor dan Muhajir yang hadir di sana, seorang pemimpin tersebut sedikit banyak pernah berbuat ihsan kepada mereka semua, dan selain Hadhrat Abu Bakr (ra) tidak ada orang lain yang berani untuk mencegah tangannya. Beliau adalah satu-satunya orang yang pemimpin Makkah tersebut tidak memiliki ihsan terhadapnya.” 

Kemudian di satu tempat Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda: “Zakat adalah sesuatu yang sedemikian rupa wajib sehingga siapa yang tidak memberikannya, ia telah keluar dari Islam. Setelah wafatnya Hadhrat Rasulullah (saw), di masa Hadhrat Abu Bakr (ra), ketika sebagian orang yang menolak untuk membayar zakat dan mengatakan, ‘Ayat berikut, خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ [artinya, “Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (Surah at-Taubah, 9:103] Di dalamnya adalah perintah kepada Rasulullah (saw) yang dapat beliau (saw) ambil. Namun sekarang, ketika beliau (saw) sudah tidak ada, lantas siapa yang bisa mengambil zakatnya?’

Orang-orang bodoh ini tidak memahami wakil Rasulullah (saw)-lah yang akan mengambilnya. Namun, mereka mengatakan dengan bodohnya, ‘Kami tidak akan memberikan zakat.’

Di satu sisi orang-orang ingkar dari membayar zakat dan di sisi lain terjadi kerusuhan. Kurang lebih seluruh Arab menjadi murtad dan beberapa pendakwa palsu kenabian bangkit. Tampak seolah-olah, na’uudzubillah, Islam akan hancur. Di masa yang rawan tersebut para sahabat mengatakan kepada Hadhrat Abu Bakr (ra), ‘Untuk saat ini, mohon bersikap lemah lembutlah kepada orang-orang yang mengingkari zakat.’

Terkait:   Riwayat Abu Bakr Ash-Shiddiiq Ra (Seri 19)

Hadhrat Umar (ra) yang dikenal sangat pemberani mengatakan, ‘Meskipun aku sangat pemberani, namun tidak seberani Hadhrat Abu Bakr (ra), karena aku pun saat itu meminta beliau untuk bersikap lembut terhadap mereka. Pertama-tama kalahkanlah orang-orang kafir, barulah kita akan mengislah mereka.’

Akan tetapi Hadhrat Abu Bakr (ra) berkata, ‘Apalah kedudukan Ibnu Quhafah sehingga merubah perintah yang diberikan oleh Rasulullah (saw). Aku akan memerangi mereka selama mereka belum membayar zakat sepenuhnya, dan jika seutas tali pengikat unta yang biasa mereka berikan kepada Hadhrat Rasulullah (saw) tidak mereka berikan, maka artinya mereka belum membayar.’

Pada saat itu para sahabat mengetahui, betapa pemberaninya Khalifah yang dijadikan oleh Allah Ta’ala. Akhirnya Hadhrat Abu Bakr (ra) mengalahkan mereka dan pergi setelah memungut zakat dari mereka.”

Berkenaan dengan pengorbanan harta, terdapat riwayat mengenai Hadhrat Abu Bakr (ra). Seorang penulis menulis, “Ketika Hadhrat Abu Bakr Shiddiq (ra) masuk Islam, beliau memiliki 40 ribu dirham, dan jelaslah bahwa barang dagangan serta harta benda beliau terpisah jumlah tersebut. Bahkan menurut sebuah riwayat, beliau memiliki 1 juta dirham. Di Makkah, beliau menginfakkan ribuan dirham untuk membantu kaum Muslimin secara umum dan menyantuni orang-orang Islam yang miskin. Meskipun demikian, ketika hijrah, beliau membawa 5 ribu dirham. Menurut sebuah riwayat, beliau menabung semua uang tersebut untuk keperluan Rasulullah (saw) dan membawanya pada saat hijrah ke Madinah. Dengan uang tersebut, selain untuk keperluan selama perjalanan hijrah, setelah hijrah beliau membiayai perjalanan beberapa orang dari keluarga Hadhrat Rasulullah (saw) dan membeli beberapa lahan di Madinah untuk umat Islam.

Hadhrat Ibnu Abbas (ra) menuturkan, خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَرَضِهِ الَّذِي مَاتَ فِيهِ عَاصِبًا رَأْسَهُ بِخِرْقَةٍ فَجَلَسَ عَلَى الْمِنْبَرِ فَحَمِدَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَأَثْنَى عَلَيْهِ ، ثُمَّ قَالَ : إِنَّهُ لَيْسَ أَحَدٌ مِنَ النَّاسِ أَمَنَّ عَلَيَّ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ مِنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ أَبِي قُحَافَةَ “Pada saat sakitnya yang terakhir menjelang kewafatan, Rasulullah (saw) pergi ke luar dan kepala beliau (saw) diikat dengan sebuah kain. Beliau (saw) naik ke atas mimbar dan menyampaikan puji sanjung kepada Allah Ta’ala dan bersabda, ‘Tidak ada seorang pun dari antara manusia yang melebihi Abu Bakr bin Abu Quhafah dalam hal berbuat baik kepadaku, baik dengan jiwanya maupun hartanya…’[11]

Hadhrat Abu Hurairah (ra) meriwayatkan, قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ـ صلى الله عليه وسلم ـ  ” مَا نَفَعَنِي مَالٌ قَطُّ مَا نَفَعَنِي مَالُ أَبِي بَكْرٍ ” . قَالَ فَبَكَى أَبُو بَكْرٍ وَقَالَ هَلْ أَنَا وَمَالِي إِلاَّ لَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ “Rasulullah (saw) bersabda, ‘Tidak ada harta yang memberikan manfaat kepada saya seperti halnya manfaat yang telah diberikan oleh harta Abu Bakr (ra) kepada saya.’” Perawi mengatakan, “Mendengar hal ini Hadhrat Abu Bakr (ra) menangis dan berkata, ‘Ya Rasulullah (saw)! Diri saya dan harta saya hanyalah untuk anda, wahai Rasul Allah (saw).’”[12]

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) menjelaskan: “Hadhrat Umar (ra) meriwayatkan mengenai suatu kesempatan jihad, ‘Saya berpikir bahwa Hadhrat Abu Bakr (ra) selalu mengungguli saya. Hari ini saya akan mengungguli beliau. Setelah berpikir seperti itu, saya pergi ke rumah dan mengambil setengah dari harta saya, lalu pergi membawanya untuk diberikan ke hadapan Hadhrat Rasulullah (saw). Masa itu adalah masa yang sangat sulit bagi Islam, namun Hadhrat Abu Bakr (ra) datang membawa seluruh hartanya.”

Di satu tempat, Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Hadhrat Abu Bakr (ra) membawa seluruh propertinya, bahkan hingga selimut dan tempat tidur pun beliau bawa dan beliau mempersembahkan seluruh harta kepada Rasulullah (saw). Rasulullah (saw) bertanya, ‘Abu Bakr (ra)! Apa yang engkau tinggalkan di rumah?’

Beliau menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya.’ Hadhrat Umar (ra) bersabda, ‘Mendengar ini, saya merasa sangat malu dan berpikir bahwa hari ini saya telah mengerahkan seluruh upaya untuk mengungguli Hadhrat Abu Bakr (ra), namun hari ini pun Abu Bakr (ra) mengungguli saya.’”

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Mungkin saja ada yang mengatakan bahwa ketika Hadhrat Abu Bakr (ra) membawa seluruh hartanya kemudian apa yang beliau tinggalkan untuk keluarga beliau?” Berkenaan dengan hal ini hendaknya diingat bahwa yang dimaksud adalah seluruh perlengkapan rumah. Beliau adalah seorang pedagang dan beliau tidak membawa harta kekayaan yang diinvestasikan dalam perdagangan dan tidak juga beliau datang setelah menjual rumah, melainkan membawa perlengkapan-perlengkapan rumah. Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Dari peristiwa ini tampak dua kesempurnaan Hadhrat Abu Bakr (ra). Yang pertama adalah, beliau yang terdepan dalam pengorbanan, dan yang kedua adalah, meskipun beliau membawa seluruh hartanya, beliau tetap menjadi yang pertama sampai, dan mereka yang memberikan sedikit tengah menimbang-nimbang berapa yang akan disisakan di rumah dan berapa yang akan dibawa. Namun, meskipun demikian, tidak didapati riwayat yang menyebutkan bahwa beliau mengajukan keberatan terhadap yang lain. Beliau datang membawa semuanya, namun beliau tidak mengajukan keberatan bahwa, “Lihatlah saya telah datang membawa harta, tapi yang lain tidak ada yang datang.”

Ketika melakukan pengorbanan, Hadhrat Abu Bakr (ra) memahami, “Saat ini saya adalah seorang hamba Allah Ta’ala yang taat dan saya tidak berbuat suatu ihsan kepada Allah Ta’ala, melainkan ini adalah ihsan-Nya bahwa Dia telah memberikan saya taufik.”

Alhasil, dalam pembahasan tema ini, Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) menjelaskan, “Orang-orang yang melakukan pengorbanan harta hendaknya melihat pada dirinya. Hendaknya jangan seperti orang-orang munafik yang mereka sendiri pun tidak membayar candah dan jika memberikan pun sedikit lalu mengajukan keberatan kepada orang lain, ‘Lihatlah! Si Fulan memberikan sedikit dan si Fulan memberikan sekian.’”

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda: “Para sahabat adalah suatu Jemaat suci yang mana Al-Quran dipenuhi dengan pujian terhadap mereka. Apakah anda sekalian juga seperti itu? Ketika Tuhan berfirman bahwa bersama Hadhrat Al-Masih (as) juga akan ada orang-orang yang berjalan beriringan dengan para sahabat, maka para sahabat adalah mereka yang memberikan harta mereka dan tanah air mereka di jalan kebenaran, dan meninggalkan segalanya.

Anda pasti sudah sering mendengar mengenai Hadhrat Shiddiq Akbar (ra). Suatu kali, ketika diperintahkan untuk memberikan harta di jalan Allah Ta’ala, maka beliau datang dengan membawa seluruh barang di rumah. Ketika Rasulullah (saw) menanyakan, “Apa yang anda tinggalkan di rumah?” Beliau menjawab, “Saya meninggalkan Allah dan Rasul-Nya di rumah.” Beliau adalah seorang pemimpin Makkah, dan dengan memakai selimut, beliau mengenakan pakaian seperti orang-orang miskin. Pahamilah bahwa mereka ini telah syahid di jalan Allah Ta’ala. Untuk mereka tertulis, “Surga berada di bawah naungan pedang-pedang.”[13]

Kemudian Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda: “Lihatlah keadaan para sahabat. Ketika tiba masa ujian, segala sesuatu yang mereka miliki diberikan di jalan Allah Ta’ala. Hadhrat Abu Bakr Shiddiq (ra) menjadi yang pertama datang dengan mengenakan selimut. Kemudian ganjaran apa yang Allah Ta’ala berikan atas selimut itu.” Yakni, beliau membawa semuanya dan hanya mengenakan satu selimut untuk menutupi diri beliau. “Apa ganjaran yang Allah Ta’ala telah berikan, yakni beliaulah yang pertama menjadi Khalifah. Jadi, inilah kualitas yang sejati.” Yakni, menjadi yang paling awal melakukannya. Beliau (as) bersabda, “Harta yang dapat berguna untuk dikaruniai kebaikan dan kelezatan rohani adalah harta yang dibelanjakan di jalan Tuhan.”[14]

Insya Allah riwayat yang tersisa akan disampaikan pada kesempatan mendatang.[15]

Khotbah II

الْحَمْدُ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا –

 مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ –

 وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ –

 عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ –

 أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُاللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ


[1] Sahih al-Bukhari 3581 Virtues and Merits of the Prophet (pbuh) and his Companions (كتاب المناقب) bab: tanda-tanda kenabian dalam Islam – Chapter: The signs of Prophethood in Islam (باب عَلاَمَاتِ النُّبُوَّةِ فِي الإِسْلاَمِ).

[2] Sunan Abi Dawud 1670, Kitab Al-Zakat (كتاب الزكاة) Chapter: Begging In The Mosques – bab mengemis di Masjid-Masjid (باب الْمَسْأَلَةِ فِي الْمَسَاجِدِ).

[3] Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad, al-Mushlih Mau’ud Khalifatul Masih kedua (ra) (حضرت مرزا بشیرالدین محمود احمد، المصلح موعود خلیفۃ المسیح الثانیؓ) Khuthbaat-e-Mahmud jilid 17 halaman 494-485 (خطب محمود، مجلد 17، ص494-495) khotbah Jumat tahun 1939 (خطبات جمعہ ۱۹۳۶ء) tanggal 31 Juli (31-Jul .. ہم کس حد تک دُنیوی عزت کے طالب ہوسکتے ہیں۔ قربانیاں اور مصائب وہ کھڑکیاں ہیں جن میں سے ہم اپنے محبوب کو جھانک سکتے ہیں)

https://www.alislam.org/urdu/book/%d8%ae%d8%b7%d8%a8%d8%a7%d8%aa-%d9%85%d8%ad%d9%85%d9%88%d8%af/%d8%ac%d9%84%d8%af-17/

https://www.alislam.org/urdu/sermon/FST19360731-UR.pdf

[4] Ath-Thabaqaat al-Kubra (الطبقات الكبرى – محمد بن سعد – ج ٥ – الصفحة ١٣) (زييد بن الصلت ابن معدي كرب); Mushannaf ‘Abdur Razzaaq ash-Shan’ani (المصنف – عبد الرزاق الصنعاني – ج ١٠ – الصفحة ٢٢٧), Kitab al-Luqthah, bab menutupi sesama Muslim (مصنّف عبد الرزاق كتاب اللقطة باب ستر المسلم حديث رقم 18261): عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ , قَالَ : قَالَ أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ : لَوْ لَمْ أَجِدْ لِلسَّارِقِ , وَالزَّانِي , وَشارِبِ الْخَمْرِ إِلَّا ثَوْبِي , لَأَحْبَبْتُ أَنْ أَسْتُرَهُ عَلَيْهِ . (مصنّف بن أبي شيبة كِتَابُ الْحُدُودِ السَّتْرُ عَلَى السَّارِقِ), 27534: عَنْ زُبَيْدِ بْنِ الصَّلْتِ ، قَالَ : سَمِعْتُ أَبَا بَكْرٍ الصِّدِّيقَ ، يَقُولُ : لَوْ أَخَذْتُ شَارِبًا لَأَحْبَبْتُ أَنْ يَسْتُرَهُ اللَّهُ ، وَلَوْ أَخَذْتُ سَارِقًا لَأَحْبَبْتُ أَنْ يَسْتُرَهُ اللَّهُ . (مكارم الأخلاق للخرائطي باب ما يستحب للمرء من ستر عورة أخيه المسلم وما له حديث رقم 395)

[5] As-Sirah al-Halbiyyah (السيرة الحلبية = إنسان العيون في سيرة الأمين المأمون) (غزوة بدر الكبرى): عن علي رضي الله تعالى عنه أنه قال لجمع من الصحابة، أخبروني عن أشجع الناس؟ قالوا أنت؛ قال: أشجع الناس أبو بكر، لما كان يوم بدر جعلنا لرسول الله صلى الله عليه وسلم عريشا . Kitab Jami’ul Ahadits (كتاب جامع الأحاديث) bahasan dari Musnad ke-10 (مسند العشرة مسند على بن أبى طالب) karya Imam as-Suyuthi (الجلال السيوطي): عن محمد بن عقيل قال: خطبنا على بن أبى طالب فقال أيها الناس أخبرونى من أشجع الناس قالوا أنت يا أمير المؤمنين قال أما إنى ما بارزت أحدا إلا انتصفت منه ولكن أخبرونى بأشجع الناس قالوا لا نعلم فمن قال أبو بكر إنه لما كان يوم بدر جعلنا لرسول الله – صلى الله عليه وسلم – عريشا .

[6] Hasan bin Muhammad al-Masyaath dalam karyanya Inaratid Daji fi Maghazi khairil wara (حسن بن محمد المشاط ، إنارة الدجى في مغازي خير الورى صلى الله عليه وآله وسلم (الطبعة 2)، جدة:دار المنهاج، صفحة 274 – 277. بتصرّف), bahasan para Sahabat yang melindungi Nabi saat kepungan (دفاع الصحابة عن النبي).

[7] Sahih Muslim 1815a The Book of Jihad and Expeditions (كتاب الجهاد والسير) Chapter: The number of campaigns of the Prophet (saws) (باب عَدَدِ غَزَوَاتِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم); Sahih al-Bukhari 4270, Military Expeditions led by the Prophet (pbuh) (Al-Maghaazi) (كتاب المغازى) Chapter: The dispatch of Usama bin Zaid to Al-Huraqat (باب بَعْثُ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أُسَامَةَ).

[8] Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad, al-Mushlih Mau’ud Khalifatul Masih kedua (ra) (حضرت مرزا بشیرالدین محمود احمد، المصلح موعود خلیفۃ المسیح الثانیؓ) Khuthbaat-e-Mahmud jilid 39 halaman 219-221 (خطب محمود، مجلد39، ص219-221).

[9] Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad, al-Mushlih Mau’ud Khalifatul Masih kedua (ra) (حضرت مرزا بشیرالدین محمود احمد، المصلح موعود خلیفۃ المسیح الثانیؓ) Khuthbaat-e-Mahmud jilid 28 halaman 416-417 (خطب محمود مجلد 28، ص416-417).

[10] Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad, al-Mushlih Mau’ud Khalifatul Masih kedua (ra) (حضرت مرزا بشیرالدین محمود احمد، المصلح موعود خلیفۃ المسیح الثانیؓ) Khuthbaat-e-Mahmud jilid 30 (خطب محمود مجلد 30)

[11]  Sahih al-Bukhari, Prayers (Salat) (كتاب الصلاة) Chapter: Al-Khaukhah (a small door) and a path in the mosque (باب الْخَوْخَةِ وَالْمَمَرِّ فِي الْمَسْجِدِ). Musykilul Aatsar karya ath-Thahawi (مُشكِل الآثار للطحاوي مشكل الآثارللطحاوي باب بيان مشكل حديث النبي صلى الله عليه وسلم : حديث رقم 835)

[12] Sunan Ibn Majah 94, (كتاب المقدمة), Chapter: The Virtue of Abu Bakr Siddiq (ra) (باب فَضْلِ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ رضى الله عنه).

[13] Malfuzhat jilid 1, halaman 42, edisi 1985, terbitan UK (ملفوظات جلد 1صفحہ 42، 43۔ ایڈیشن 1985ء مطبوعہ انگلستان); edisi 1984 pada halaman 43 https://www.alislam.org/urdu/pdf/Malfuzat-v1-1984.pdf: صحابہؓ کی تو وہ پاک جماعت تھی جس کی تعریف میں قرآن شریف بھرا پڑا ہے۔ کیا آپ لوگ ایسے ہیں؟ . Edisi 2016 pada halaman 37: https://www.alislam.org/urdu/pdf/Malfoozat-new-v1.pdf .

[14] Malfuuzhaat jilid I, 29 Januari 1898 (۲۹ جنوری۱۸۹۸؁ء), bahasan rizq-e-ibtila (rezeki sebagai ujian) dan rizq-e-ishthifa (rezeki sebagai karunia pilihan) (رزق ابتلا اور رزق اصطفاء): صحابہؓ کی حالت دیکھو!جب امتحان کا وقت آیا ،تو جو کچھ کسی کے پاس تھا،اللہ تعالیٰ کی راہ میں دے دیا۔حضرت ابو بکر صدیقؓ سب سے اول کمبل پہن کر آگئے .

[15] Referensi: https://islamahmadiyya.net/cat.asp?id=116 (website resmi Ahmadiyah dalam bahasa Arab)

Penerjemah: Mln. Mahmud Ahmad Wardi, Syahid (London-UK), Mln. Hasyim dan Mln. Fazli ‘Umar Faruq. Editor: Dildaar Ahmad Dartono.

Leave a Reply

Begin typing your search above and press return to search.
Select Your Style

You can choose the color for yourself in the theme settings, сolors are shown for an example.