Peringatan Hari Khilafat dengan menceritakan kembali riwayat kecintaan, ketulusan dan ketaatan para Ahmadi kepada Hadhrat Khalifatul Masih yang pertama hingga yang kelima.

Kemajuan Jemaat berhubungan secara berbanding lurus dengan sejauh mana mereka menjalin hubungan kecintaan, ketulusan dan ketaatan dengan Khalifahnya.

Kesan-kisah dari berbagai negara.

Kesan dari beberapa Ahmadi yang berpengaruh di pemerintahan.

Pengumuman mengenai 8 channel MTA.

Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 29 Mei 2020 (Hijrah 1399 Hijriyah Syamsiyah/Syawal 1441 Hijriyah Qamariyah) di Masjid Mubarak, Tilford, UK (United Kingdom of Britain/Britania Raya)

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ. (آمين)

Dalam suatu kesempatan Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihish shalaatu was salaam (as) bersabda,

“Saya sangat bersyukur kepada Allah Ta’ala karena Dia menganugerahkan sebuah Jemaat yang tulus dan setia kepada saya. Saya melihat bahwa ketika saya memanggil mereka untuk suatu pekerjaan dan tujuan tertentu maka mereka menyambut seruan saya dengan cepat dan penuh semangat saling berlomba satu dengan lain sesuai dengan kekuatan dan taufik yang mereka miliki dan saya melihat di dalam diri mereka terdapat suatu ketulusan dan keikhlasan.”[1]

Pemandangan ketulusan, keikhlasan, hubungan dan cinta kepada Hadhrat Masih Mau’ud (as) semacam ini memang sudah kita saksikan. Tak terhitung banyaknya kisah-kisah para sahabat Hadhrat Masih Mau’ud (as) berkaitan dengan ini. Di dalam keluarga Ahmadi awal riwayat-riwayat hubungan semacam ini masih berlangsung dan dalam khotbah-khotbah serta pidato-pidato para khalifatul Masih juga kita jumpai. Namun, hubungan yang terjalin dengan Hadhrat Masih Mau’ud (as) yang terus berlangsung dalam keluarga-keluarga awal ini juga terdapat di dalam orang-orang yang baru bergabung dalam Jemaat dan memang hendaknya seperti itu. Tidak hanya sampai di situ saja bahkan sesuai dengan janji Allah Ta’ala kepada Hadhrat Masih Mau’ud (as), setelah beliau pun, hubungan ini terus terjalin seperti itu. Dan hubungan inilah yang merupakan tanda dan jaminan persatuan dan kesatuan Jemaat.

Setelah mendapatkan kabar dari Allah Ta’ala tentang kewafatannya maka beliau (as) memberitahu anggota Jemaat. Bersamaan dengan itu untuk memberikan ketentraman pada Jemaat beliau (as) juga memberi khabar suka yang beliau (as) terima dari Allah Ta’ala tentang berlangsungnya silsilah Khilafat. Sebagaimanan beliau (as) bersabda dalam risalah Al-Wasiyat,

“Maka janganlah kalian bersedih hati karena uraian yang saya terangkan di depan kalian ini. Janganlah hati kalian menjadi kusut karena bagi kalian perlu pula melihat Kudrat yang kedua. Kedatangannya kepada kalian membawa kebaikan karena ia (Kudrat kedua itu) selamanya akan tinggal bersama kalian; dan sampai hari kiamat silsilah (mata rantai) ini tidak akan terputus.

Kudrat Kedua itu tidak dapat datang sebelum saya pergi; akan tetapi bila saya pergi, maka Tuhan akan mengirimkan Kudrat Kedua itu kepadamu, yang akan tinggal bersama kamu selama-lamanya; sebagaimana janji Allah Ta’ala yang tercanum dalam buku saya, Barahin Ahmadiyah. Janji itu bukan untuk saya, melainkan untuk kamu. Seperti firman Tuhan, ‘Aku akan menjadikan Jemaat ini, yaitu mereka yang mengikuti engkau keunggulan diatas golongan-golongan lain sampai kiamat.’”[2]

Dengan demikian, sesuai dengan janji Allah Ta’ala ini setelah kewafatan beliau (as) berlangsunglah nizam Khilafat. Namun hanya sebatas berlangsungnya nizam Khilafat tidak ada artinya selama tidak ada hubungan keikhlasan, kesetiaan, kecintaan dan kasih sayang antara Khalifah dan Jemaatnya. Sementara itu, hubungan ini hanya Allah Ta’ala saja yang dapat menciptakannya. Tidak ada manusia atau upaya manusia yang dapat menciptakan dan menegakkan hubungan ini. Hubungan inilah yang menjadi jaminan kemajuan persatuan dan kesatuan Jemaat. Inilah dalil pertolongan dan dukungan Allah Ta’ala serta kebenaran Jemaat Ahmadiyah.

Hubungan antara anggota Jemaat dengan Khilafat yang di dalamnya termasuk Ahmadi lama, Ahmadi baru, anak muda, anak-anak, laki-laki, perempuan dan para Ahmadi yang tinggal di tempat yang jauh-jauh yang belum pernah melihat Khalifah-e-Waqt; mereka semua adalah orang-orang yang terus maju dan berusaha untuk selalu maju dalam keikhlasan dan kesetiaan. Begitu menerima pesan Khalifah-e-Waqt mereka langsung berusaha mengamalkannya. Mereka memperlihatkan hubungan dan kecintaan mereka pada Khilafat sedimikian rupa sehingga kita terheran-heran menyaksikannya. Semua ini adalah bukti lahiriah sempurnanya janji Allah Ta’ala dan kemajuan Jemaat juga sangat erat kaitannya dengan hal ini.

Sebagaimana yang sudah saya katakan bahwa hubungan antara Jemaat dan Khilafat, begitu pula hubungan antara Khilafat dengan Jemaat adalah bukti pertolongan dan dukungan Allah Ta’ala. Ini semua bukan hanya kata-kata belaka, bahkan ada ratusan ribu kisah dimana anggota Jemaat memperlihatkan (hubungan ini). Jika semua kisah ini dikumpulkan maka akan menjadi buku-buku tebal yang tidak terhingga jumlah jilidnya.

Sekarang saya akan menyampaikan beberapa kisah kecintaan dan perasaan anggota Jemaat terhadap Khalifah-e-Waqt di setiap zaman dan itu juga berlangsung sampai sekarang. Kisah ini bermula dari semenjak kewafatan Hadhrat Masih Mau’ud (as) dan sekarang setelah genap 112 tahun pun masih tetap berlangsung seperti itu. Para penentang beranggapan bahwa setelah kewafatan Hadhrat Masih Mau’ud (as) Jemaat ini akan berakhir. Namun justru jalinan cinta, keikhlasan dan kesetiaan anggota Jemaat terhadap Khilafat terus meningkat. Bagaimana tidak, karena ini sesuai dengan nubuatan-nubuatan Rasulullah saw.

Sekarang saya akan menyampaikan beberapa kisah dan akan saya mulai dengan satu dua kisah di zaman Hadhrat Khalifatul Masih Awwal radhiyAllahu ta’ala ‘anhu. Editor majalah Badr menulis berkaitan dengan masa ketika Hadhrat Khalifatul Masih Awwal ra sakit, “Pada masa itu banyak sekali berdatangan surat-surat kepada beliau ra. Atas surat-surat itu Hadhrat Khalifatul Masih Awwal ra bersabda, ‘Saya berdoa untuk semua yang menulis surat-surat itu.’”

Editor Sahib menulis, “Para pecinta ini menampakkan kecintaannya dengan cara-cara yang menakjubkan.”

Diantaranya saya akan menyampaikan beberapa kutipan surat-surat itu. Hakim Muhammad Husein Sahib Quresyi menulis, “Suatu hari saya bermunajat di haribaan Ilahi. Ya Allah, kebutuhan-kebutuhan Hadhrat Nuh (as) memiliki kedudukan yang khas dan kebutuhan-kebutuhan yang ada sekarang hanya Engkau lah yang tahu. Kabulkanlah permintaan kami dan berilah Imam kami umur seperti Nuh (as).”

Kemudian seseorang menulis berdasarkan riwayat Muhamad Hasan Sahib Punjabi Madras, “Setelah mendapatkan kabar sehatnya Hadhrat Khalifatul Masih Awwal ra saya begitu bahagia yang kadarnya hanya diketahui oleh Tuhan Yang Maha Pemurah Lagi Penyayang.”[3]

Kemudian sang Editor menulis, “Cinta itu adalah suatu yang menakjubkan. Saudara kita Miya Muhammad Bakhsy Sahib yang tengah berdagang di Australia menulis dalam sebuah suratnya, ‘Di dalam menulis headline (halaman muka) berkaitan dengan Hadhrat Khalifatul Masih Awwal ra dalam surat kabar Qadian (Badr, pent) hendaknya bukan sabda-sabda Hadhrat Khalifatul Masih Awwal ra saja yang dimuat melainkan dalam headline itu hendaknya ada kata-kata yang menginformasikan kesehatan beliau ra. Karena ketika membuka Badr mata kita langsung tertuju pada headline. Sedangkan yang kita inginkan adalah dalam headline itu hendaknya dimuat kata-kata yang memberikan ketentraman hati sebelum membaca isi yang ada di dalamnya.’”

Maka atas keikhlasan saudara kita ini Editor Sahib menulis, ”Kami melihat keikhlasan saudara kami ini dengan pandangan hormat dan sesuai dengan keinginannya kali ini kami akan menulis headline.”[4]

Selanjutnya, Hadhrat Abu Abdullah Sahib (ra) penduduk Kheoh Bajwa. Beliau adalah sahabat Hadhrat Masih Mau’ud (as). Suatu ketika tengah duduk bersama dengan Hadhrat Khalifah pertama. Beliau berkata kepada Hadhrat Khalifatul Masih pertama, “Mohon berikan saya nasihat.”

Hudhur Ra bersabda, “Yang saya pahami, tidak ada perkara yang belum anda lakukan. Sekarang yang tersisa adalah menghapal Al Quran.”

Mendengar sabda Khalifah Awwal tersebut, pada usia sekitar 65 tahun beliau mulai menghafal Al Quran lalu menjadi Hafiz Quran pada usia tersebut. Bagaimana gejolak beliau, untuk mengamalkan perintah Khalifatul Masih.[5]

Ketika gerakan Syudhi (upaya organisasi Hindu menghindukan orang-orang Islam di India) gencar pada masa Hadhrat Khalifatul Masih Tsani radhiyAllahu ta’ala ‘anhu, melihat keadaan demikian hati beliau (ra) gelisah. Pada tahun itu juga di tanggal 9 Maret 1923 dalam khotbahnya di depan Jemaat, Hudhur menggerakkan para Ahmadi untuk berangkat dengan biaya pribadi ke daerah Malkana dan daerah-daerah lainnya untuk merangkul kembali orang-orang yang murtad dengan perantaraan Da’wat Ilallaah. Para Ahmadi spontan menyatakan labbaik atas gerakan tersebut. Para Ahmadi dari kalangan terpelajar, pegawai negeri, guru, bisnisman alhasil mereka dari berbagai kalangan melakukan tabligh di daerah daerah tersebut. Sebagai buah dari usaha mereka, ribuan ruh menyatakan kembali bahwa Tuhan itu Esa (Laa ilaaha illallaah).

Ada seorang tukang bangunan yang sudah tua, Qari Naimuddin Sahib Banggali memohon izin dalam majlis Hudhur Ra untuk menyampaikan, “Meskipun putra saya Maulwi Zillur Rahman dan Muthiur Rahman mahasiswa BA class tidak mengatakan apa-apa kepada saya, namun saya dapat memperkirakan, program waqf zindegi yang dicanangkan oleh Hudhur untuk bertabligh di Rajputanah dan persyaratan yang diberikan untuk tinggal di sana, mungkin terpikir oleh putra saya, jika mempersembahkan diri ke hadapan Hudhur untuk program ini, bapaknya yang sudah tua ini akan menderita. Namun saya sampaikan langsung di hadapan Hudhur dengan menjadikan Allah sebagai saksi bahwa sedikit pun saya tidak keberatan dengan kepergian mereka dan kesulitan yang akan mereka hadapi di sana.

Saya katakan sejujurnya, jika dua putra saya ini harus terbunuh ketika melakukan tugas ini, saya tidak akan meneteskan air mata walau sedikit, bahkan saya akan bersyukur kepada Allah Ta’ala. Tidak hanya kedua anak saya saja, jika putra saya yang ketiga pun Mahbubur Rahman harus terbunuh dalam tugas agama ini, atau sekalipun jika saya punya 10 anak dan kesebuanya terbunuh di jalan ini, saya tidak akan berduka karenanya. Atas hal itu, Hudhur dan para Ahmadi mengucapkan Jazakallah.”[6]

Ketika Hadhrat Khalifatul Masih Kedua mengadakan lawatan ke Eropa pada tahun 1924, perpisahan sementara (dari Khalifah) itu telah membuat para Ahmadi gelisah. Dari kisah ini dapat kita perkirakan. Babu Sirajuddin Sahib, kepala Stasiun menulis: “Junjunganku! Kita sedang dipisahkan jarak karena terpaksa, andai saja saya menjadi debu di kaki Hudhur, supaya tidak harus menanggung derita perpisahan ini.

Junjunganku! Sejak empat tahun saya tidak berkunjung ke Darul aman, namun hati merasa tenteram, karena kapanpun timbul keinginan, saya dapat mencium kaki Hudhur, namun saat in sulit walaupun sehari. Semoga Allah Yang Maha Suci segera mengembalikan Hudhur dengan selamat, sukses dan mendapatkan pertolongan. Kecintaan ini ciptaan siapa?”[7]

Hadhrat Khalifatul Masih kedua (ra) bersabda: “Ada seorang pemuda dari daerah Sargodha yang setelah mengetahui gerakan yang saya canangkan pada tahun lalu berangkat ke Afghanistan tanpa paspor. Beliau mengatakan, ‘Ini adalah perintah Khalifah, terdapat satu jalinan dan penting untuk mengamalkannya.’ Pemerintah Afghanistan menangkapnya dan memasukkannya ke penjara. Dipenjara ia mulai menablighi para narapidana dan petugas penjara dan juga mengabarkan kepada para Ahmadi di sana. Akhirnya para pejabat sel (penjara) melaporkan bahwa orang ini terus melebarkan pengaruhnya di penjara juga sehingga para Mullah memfatwakan supaya Ahmadi tersebut dibunuh namun pimpinan di sana mengatakan bahwa orang ini dibawah kekuasaan Inggris, kita tidak bisa membunuhnya. Akhirnya pemerintah memulangkannya ke Hindustan dengan perlindungan.

Pemuda tersebut pulang setelah berbulan-bulan. Begitu beraninya pemuda ini, saya katakan padanya, ‘Kamu telah melakukan kekeliruan. Masih banyak negeri lainnya yang bisa kamu tuju dan dapat bertabligh di sana tanpa harus dipenjara.’

Pemuda tersebut langsung menjawab, ‘Sekarang Hudhur beritahu saya, negeri mana lagi yang bisa saya tuju.’

Ibu si pemuda tersebut masih hidup, namun pemuda itu siap untuk pergi tanpa harus bersua terlebih dulu dengan ibunya, namun atas perintah saya si pemuda itu pergi menjumpai ibunya.”

Hadhrat Khalifah kedua bersabda: “Seandainya pemuda-pemuda lainnya memiliki keberanian seperti pemuda Punjabi yang pergi ke Afghanistan tadi, maka dalam waktu singkat saja akan terjadi revolusi di dunia.”[8]

Ada seorang Ahmadi dari Suriah bernama Muhammad Asy Syawa Sahib, ketika Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) berkunjung ke Syria, beliau mendapatkan kehormatan untuk ikut serta ke Libanon bersama dengan Hudhur. Beliau seorang pengacara yang baik yang memiliki jalinan yang sangat erat dengan Khilafat. Seorang pengacara selalu berkeinginan supaya segala sesuatu disertai dalil. Namun ketika dikatakan kepada beliau bahwa ini adalah perintah Khalifah, beliau berkata: “Cukup, sudah final. Ketika ada perintah Khalifah, selesailah permasalahan. Inilah keputusannya.” Demikianlah jalinan mereka dengan Khilafat.[9]

Terkait:   Bagaimana Khalifah Ahmadiyah dipilih?

Tibalah masa Khalifah ketiga. Ada seorang wanita Ahmadi penduduk Amerika, Sister (Sdri) Naimah Lateef. Sedemikian dalamnya jalinan rasa kecintaan beliau kepada Khilafat, beliau mengutamakan selalu ketaatan kepada Khalifah. Ketika Khalifah ketiga melakukan lawatan ke Amerika, setelah mendengar pidato Khalifah mengenai keutamaan pardah di sebuah Universitas, saat itu juga beliau mengenakan hijab. Pada saat itu beliau adalah satu-satunya wanita di daerah dimana beliau tinggal yang tampak mengenakan pardah Islami.[10]

Terdapat keinginan yang dalam untuk mengamalkan perintah Khalifah dan beliau ingin menguatkan jalinan bahwa saya telah baiat dan harus memenuhi hukum-hukum juga.

Nazir Ahmad Sahib Sanwal menceritakan satu kejadian, ada seorang Ahmadi Mukhlis Yth Meher Mukhtar Ahmad Sahib Ahmad dari Bagarsarganah. Dalam keadaan tahun 1974, para penentang mengganggu kehidupan beliau. Disebankan beliau seorang dai yang bersemangat sehingga kerabat beliau menentang keras dan memboikot beliau. Keimanan beliau semakin kokoh karenanya dan semakin memperluas cakupan tabligh beliau. Para penentang pun semakin gencar dalam penentangannya. Untuk tujuan pendidikan anak anak dan ingin membesarkan anank di lingkungan yang baik, beliau menjual tanah ladangnya lalu menyewa tanah di Rabwah dengan sistem kontrak untuk ditanami. Ketika berjumpa dengan Khalifah ketiga beliau mengabarkan bahwa beliau telah menjual tanahnya di Bagarsarganah dan menyewa tanah di dekat Rabwah untuk ditanami.

Namun Hudhur tidak setuju dengan langkah yang beliau tempuh itu dan bersabda, “Seharusnya anda tidak meninggalkan daerah anda.”

Mendengar nasihat Hudhur tersebut, beliau langsung mengamalkannya dengan meminta kembali uang sewa tanah, namun pemilik tanah menolaknya. Akhirnya beliau pulang ke kampung halaman tanpa menerima uang kontrak tanah dan hasil panen lalu berusaha untuk membeli kembali tanahnya yang sudah beliau jual dengan harga yang lebih mahal. Kemudian beliau menghadap Hudhur ketiga dan menyampaikan bahwa perintah Hudhur telah dilaksanakan. Hudhur pun memperlihatkan kebahagiaannya atas hal itu begitu juga Meher Shab sangat bahagia karenanya.[11]

Hadhrat Khalifatul Masih ketiga (rha) bersabda dalam satu khotbah beliau:Saya berkunjung ke Afrika pada tahun 1970. Muballigh kita telah membuat acara di suatu daerah yang mana memberikan kesulitan besar bagi saya, karena setelah menempuh perjalanan sejauh 100 mil dan sesampainya di sana saya tidak dapat berjabatan tangan dengan para Ahmadi di sana. Menyulitkan bukan karena harus menempuh perjalanan sejauh 100 mil, melainkan acara yang dibuat sedemikian singkat sehingga tidak bisa bersalaman sekalipun dengan anggota.

Saat itu saya harus menyampaikan pidato pada sebuah acara yang dihadiri oleh penganut Kristen dari luar negeri. Saya sampaikan pidato dan membuka acara Tanya jawab juga. Acara tersebut cukup memakan waktu lama kemudian seorang Muballih mengumumkan bahwa tidak ada acara berjabatan tangan dengan Hudhur. Pertama, para Ahmadi belum pernah bertatap muka dengan Khalifah Jemaat Ahmadiyah seumur hidup mereka dan entah kapan lagi mereka akan mendapatkan kesempatan serupa. Sehingga meskipun disampaikan pengumuman demikian, mereka tetap menyerobot untuk berjabatan tangan.”

Hadhrat Khalifatul Masih Ketiga rahimahullahu ta’ala bersabda: “Para Ahmadi mendorong Sekretaris pribadi dan rombongan saya sehingga tidak tahu entah kemana perginya lalu mulailah mereka menyalami saya. Memang berjabatan tangan telah dimulai, namun bukanlah bersalaman seperti biasa melainkan setiap orang memegang tangan saya dan tidak mau melepaskannya. Mereka memandangi wajah saya dan tidak mau melepaskan tangan saya sementara yang berikutnya tengah menunggu. Akhirnya yang menunggu pun tidak sabar lagi dan ini cara salaman seperti ini terulang puluhan kali yaitu orang yang datang berikutnya memegangi lengan orang yang masih bersalaman dengan saya dengan satu tangannya, sementara tangannya yang kedua memegangi lengan saya lalu menghentak orang itu supaya terlepas dari tangan yang sebelumnya kemudian orang tersebut menyalami saya. Ia pun tidak mau melepaskan tangan saya sehingga orang berikutnya terpaksa melakukan hal yang sama. Dengan sulit kami (Hudhur III dan rombongan) berhasil meninggalkan tempat itu.”

Hadhrat Khalifatul Masih Ketiga bersabda untuk menyampaikan kepada non Ahmadi, karena internal Jemaat sudah memahami bagaimana jalinan Khilafat dengan para Ahmadi, “Perlu saya sampaikan kepada orang lain bahwa saya tidaklah sedemikian bodoh dengan menganggap itu disebabkan oleh suatu keistimewaan saya sehingga timbul kecintaan seperti itu dalam diri orang-orang yang tinggal di suatu tempat yang berjarak 5 atau 6 ribu mil, yang mana mereka tidak pernah melihat saya sebelumnya, hanya demi mengetahui keadaan saya, namun sedemikian rupa berdesak-desakkan untuk dapat bersalaman dengan saya. Kecintaan ini merupakan ciptaan Allah.”[12]

Kita memasuki zaman Hadhrat Khalifatul Masih Ar-Rabi rahimahuLlahu ta’ala. Beliau menceritakan, revolusi agung yang terjadi di Afrika, timbul berkat pengorbanan para waqifin terdahulu. Revolusi mengagumkan yang terjadi saat ini begitu luar biasa yang mana hal itu tidak dapat dibayangkan oleh Jemaat di sana pun, betapa mengehrankannya perubahan yang tercipta di sana.

Beberapa orang Ahmadi yang berpengalaman dan berpengaruh di pemerintahan menceritakan kepada saya, “Kami sendiri saat itu tidak tahu bahwa sedemikian rupa kaum kami telah meningkat dalam kecintaan dan dukungan kepada Jemaat Ahmadiyah dan begitu siap untuk disampaikan tabligh di sana.”

Sebagaimana ada seseorang yang tidak sesuai jika disebut namanya begitu juga nama negerinya, bercerita, “Saya sendiri tidak paham sedikit pun apa yang tengah terjadi. Tidak terbayangkan sedikit pun sebelumnya oleh saya kaum kami akan mendapatkan taufik untuk memberikan pengkhidmatan kepada Khalifah Ahmadiyah dan mendapatkan kesempatan untuk memperlihatkan kecintaan yang sedemikian rupa. Tidak terpikirkan oleh saya sebelumnya.

Apa yang saya lihat di sini, hal itu terjadi juga pada para kepala negara dan itupun dalam pandangan duniawi. Saya tidak pernah melihat perlakuan seperti itu kepada yang lainnya selain itu da inipun tidak ada campur tangan upaya Jemaat kami. Apapun yang terjadi, terjadi secara ghaib dan terjadi secara mengagumkan. Semua ini merupakan ciptaan Allah Ta’ala.”[13]

Selanjutnya Hadhrat Khalifatul Masih ArRabi’ (rha) bersabda berkenaan dengan Pakistan:Di Pakistan telah muncul beberapa kerusakan (akhlak) misalnya menggunakan video kaset secara keliru. Saya telah menyampaikan dalam khotbah bahwa timbul kecenderungan pada beberapa kebiasaan buruk yang dengannya akhlak kaum akan rusak, kedamaian dalam rumah tangga dapat hilang, kesetiaan suami istri akan pudar sehingga dapat tercipta kerenggangan diantara mereka, sekali kali jangan biarkan kecenderungan ini ada.

Kemudian setelah itu berdatangan surat dari Pakistan yang membuat hati saya bersujud di hadapan Allah Ta’ala dan terjadi berkali kali yakni mereka yang sebelumnya terjerumus dalam beberapa kebiasaan buruk, menulis surat dengan terus terang mengatakan, ‘Kami telah terjerumus dalam perbuatan yang salah, namun berkat ihsan Allah Ta’ala dan ikatan dengan Jemaat Hadhrat Masih Mau’ud (as) dan juga setelah secara langsung suara Hudhur sampai ke telinga kami, kami langsung menghancurkan berhala berhala palsu ini dan membuangnya dari hati kami.’”

Dalam Jemaat ini terdapat fitrat untuk menyuarakan labbaik atas anjuran kebaikan, ini merupakan ruh hakiki dari kebaikan. Tidak ada pendusta yang dapat menciptakan ruh kebenaran ini.[14]

Sekarang kita memasuki era saya. Lawatan dua hari saya lakukan ke Nigeria pada tahun 2004 yang mana sebelumnya tidak ada rencana tersebut. Secara kebetulan dan keadaan memaksa saya untuk pergi karena penerbangan didapatkan dari sana. Namun sesampainya di sana saya menyadari bahwa kedatangan saya ke sana sangat penting. Jika tidak, merupakan kekeliruan besar. Beberapa waktu sebelumnya telah diadakan Jalsah Jemaat Nigeria dan orang-orang ikut serta dalam jalsah tersebut dalam jumlah yang besar. Saya tidak menyangka orang-orang berdatangan dari tempat yang jauh setelah mengetahui kedatangan saya, namun mereka datang hanya untuk bertemu saya selama dua jam dan sekitar 30 ribu pria wanita berkumpul di sana. Keikhlasan dan kesetiaan yang kami saksikan dalam diri mereka sangat mengagumkan.

Jalinan ketulusan dan kecintaan dengan Khilafat tidak dapat diungkapkan. Mereka yang sebelumnya tidak pernah berjumpa dengan Khalifah-e-Waqt, ketika berjumpa secara langsung, tampak penampakkan yang mengherankan. Ketika berdoa sebelum kepulangan sebagian pria dan wanita begitu terharu dan menangis. Hal ini benar-benar mengagumkan. Hanya Allah Ta’ala-lah yang dapat menciptakan jalinan kecintaan seperti ini dan karena Allah Ta’ala-lah ini dapat terjadi.

Para Maulwi (Ulama) mengatakan bahwa mereka telah menutup misi dakwah Jemaat di suatu negeri di Afrika dan kata mereka, “Di suatu negeri sudah ada perjanjian dengan kami bahwa misi Jemaat akan tutup, telah melakukan ini dan itu.” Mereka mengaku telah melakukan ini dan itu.

Namun coba tanyakan kepada mereka, ketulusan dan jalinan cinta yang ditampilkan oleh para Ahmadi, wajah wajah yang ditayangkan oleh MTA kepada dunia saat ini dan kami sendiri telah menyaksikan langsung di sana, apa semua ini? Apakah ini buah dari penutupan misi? Alhasil, para Maulwi memang hanya bisa berkata-kata besar namun hal-hal ini menguatkan keimanan kita dan menyebabkan bertambahnya keimanan.[15]

Ketika saya melakukan lawatan ke Ghana pada tahun 2008, dengan karunia Allah Ta’ala, Jemaat di sana membeli tanah yang luasnya sekitar 500 acre. Di tempat tersebut sering dilakukan jalsah dan kebanyakan para pria dan wanita telah tiba di sana sebelum saya sampai. Di tempat tersebut sebelumnya merupakan peternakan ayam. Tempat itu dirombak oleh Jemaat untuk dibuatkan beberapa tempat tinggal untuk jalsah yang dipasang pintu dan jendela seperti barak. Namun tetap masih kekurangan tempat. Meskipun demikian para peserta jalsah tidak mengeluhkan keadaan tersebut. Banyak peserta jalsah yang berasal dari kalangan berkecukupan, pengusaha, guru sekolah dan juga profesi lainnya. Jika mereka tidak mendapat tempat, mereka memasang tikar di luar dan tidur dengan tenang. Pertama memang terdapat kesabaran dalam diri penduduk Ghana namun pada hari itu mereka tampilkan kesabaran secara khas.

Ada yang bertanya kepada beberapa orang diantara mereka yang terpaksa tidur di luar barak: “Anda pastinya merasa kesulitan dengan keadaan ini.”

Mereka menjawab: “Kami datang kemari untuk menyimak acara jalsah dan jalsah kali ini dihadiri oleh Khalifah. Apalah artinya kesulitan sementara untuk dua hari saja, kami bahagia Karena Allah Ta’ala memberikan taufik kepada kita untuk dapat mengikuti jalsah ini.”

Orang-orang dari Burkina Faso pun hadir di sana begitu juga dari negara-negara tetangga lainnya. Saya baru mengetahui bahwa rombongan yang datang dari Burkinafaso adalah yang terbanyak, berjumlah sekitar 3000 orang. Mereka tidak mendapatkan makanan, begitu juga 300 khudam berangkat ke jalsah dengan mengendarai sepeda menempuh perjalanan sejauh 1600 km.

Saya (Hudhur V atba) katakan kepada Muballig di sana, sampaikan mohon maaf kepada mereka karena tidak mendapatkan makanan, dan berikan perhatian khusus di masa yang akan datang.

Ketika para tamu tadi menerima ucapan maaf dari panitia, mereka menjawab, “Kami telah meraih apa yang menjadi tujuan kami datang ke sini, tidaklah mengapa, karena hari-hari pun kita makan di rumah. Mereka yang notabene dari kalangan sederhana, tentu sederhana juga makanan yang mereka konsumsi di rumahnya. Sedangkan hidangan ruhani yang kami dapatkan disini, tidak setiap hari kami dapatkan.”

Jemaat Burkina Faso bukanlah Jemaat yang sangat lama. Saya rasa ketika saya berkunjung saat itu umur Jemaat di sana sekitar 10 atau 15 tahun saja. Namun, ketulusan dan kesetiaan mereka terus meningkat. Begitu sederhananya mereka sehingga sebagian orang diantara mereka tampaknya mereka mengenakan satu pakaian saja ketika hadir di sana karena mungkin hanya itu yang mereka miliki. Sehingga dengan pakaian itulah mereka melewati tiga hari atau bahkan seminggu di sana begitu juga untuk perjalanan. Mereka menabung untuk dapat ke jalsah karena ini merupakan Jalsah Khilafat jubili dan dihadiri oleh Khalifah-e-Waqt, untuk itu mereka pastikan untuk bisa datang. Jadi, selain Allah Ta’ala siapa yang dapat menciptakan kecintaan seperti itu.

Begitupun para khudam yang datang dengan mengendarai sepeda, keikhlasan mereka dapat diperkirakan dari kegigihan mereka menempuh perjalanan selama 7 hari dan singgah memasang kemah di berbagai tempat. Dalam rombongan mereka pun terdapat pria yang sudah berusia 50 dan 60 tahun. Ada juga dua anak yang masih berusia 13 dan 14 tahun.

Ketika Sadr Khuddamul Ahmadiyah ditanya oleh seseorang perihal sulitnya perjalanan yang ditempuh. Bpk. Sadr menjawab, Umat Muslim pada masa awal telah memberikan pengorbanan yang sangat besar demi Islam. Kami pun berkeinginan supaya khuddam kami pun bersedia untuk melakukan berbagai pengorbanan dan kamipun berkeinginan untuk membuat satu program dalam rangka seabad Khilafat yang darinya lahir jalinan ketulusan dan kecintaan kita kepada Khilafat. Untuk dapat kami sampaikan kepada Khalifah bahwa kami bersedia untuk berkorban dan menerima setiap tantangan.”

Terkait:   Berkah Khilafah

Ketika mereka akan berangkat, seorang wartawan TV mewawancarai mereka, “Anda akan mulai menempuh perjalanan dengan menggunakan sepeda yang sangat sederhana – tidak seperti sepeda yang ada di Eropa sini -. Sepeda biasa dengan keadaan yang kurang baik. Betapa sulitnya perjalanan yang akan kalian tempuh.”

Perwakilan mereka menjawab: “Meskipun sepeda kami kurang baik, namun keimanan dan tekad kami sangat kuat, kami menempuh perjalanan ini sebagai rasa syukur atas nimat Khilafat.”

Saluran TV Nasional tersebut ketika menayangkan berita tersebut mengawali dengan topik utama sebagai berikut: “Perjalanan yang ditempuh dari Waga ke Akra demi Allah Ta’ala untuk menghadiri Perayaan Seabad Khilafat. Waga merupakan ibu kota Burkina Faso sedangkan Akra merupakan ibukota Ghana. Meskipun sepedanya sederhana, namun keimanan sangatlah kuat.” Demikianlah topik utama berita tersebut.

Para Ahmadi tersebut bukanlah Ahmadi keturunan, bukan juga keturunan sahabat, melainkan orang-orang yang berasal dari daerah yang jaraknya ribuan mil dimana untuk menuju ke sana melalui jalan yang belum permanen dan kadang tidak ada jalan juga. Tidak ada listrik dan air. Namun mereka beberapa tahun lalu baiat dan telah menampilkan teladan yang luar biasa dalam kesetiaan dan kecintaan. Di beberapa tempat, kemiskinan telah membuat keadaan mereka buruk namun setelah baiat kedalam Jemaat hamba sejati Hadhrat Rasululah Saw, timbul keikhlasan dalam diri mereka, sehingga kapan pun dihadapkan pada urusan agama, tekad mereka sangat kokoh layaknya benteng dan bersedia untuk memberikan berbagai pengorbanan, hati mereka dipenuhi oleh kecintaaan. Untuk itu kita harus senantiasa berdoa, semoga Allah Ta’ala meningkatkan keikhlasan dan kesetiaan mereka dan meningkatkan ketulusan dan kesetiaan kita semua.

Ada seorang Ahmadi Burkina Faso bernama Bpk. Isa mengatakan, “Saya baiat pada tahun 2005. Namun hari ini saya baru menyadari, setelah berlalu tiga tahun, bagaimana saya saat ini, betapa beruntungnya saya atas apa yang telah saya dapatkan. Kebahagiaan saya hari ini tidak bisa saya ucapkan, karena pada hari ini saya melihat dan mulaqat dengan Khalifah. Wujud rasa cinta kepada Khilafat bagi sebagian orang terkadang tampak dari air mata mereka, saat itupun air mata mereka mengalir.”

Inilah keikhlasan dan kesetiaan yang ada di Jemaat yang baru berdiri.[16]

Tahun lalu ada orang yang berusaha untuk menciptakan fitnah dan kekacauan. Karena termakan oleh kesalahpahaman sehingga beberapa Ahmadi yang tulus yang kebanyakan adalah pemuda, terhasut oleh orang itu sehingga jadi berulah aneh. Meskipun masih menganggap diri sebagai Ahmadi namun memisahkan diri dari Nizam. Saya mengutus seorang muballigh dari Mali ke sana yang juga merupakan penduduk lokal di sana bernama Bpk. Muadz. Beliau berangkat ke daerah itu dan menasihati para pemuda itu. Dijelaskan kepada mereka, “Di satu sisi kalian mengatakan bahwa kalian masih terjalin dengan Khilafat, namun di sisi lain merasa telah terpisah dari nizam. Perbuatan seperti ini tidaklah benar.”

Setelah itu semuanya menulis surat permohonan maaf dan mengatakan, “Disebabkan oleh kesalahpahaman kami dan disebabkan oleh kurangnya tarbiyat, kami telah terhasut. Ikatan kesetiaan kami dengan Khilafat terjalin dengan kuat, tidak terpikir oleh kami untuk meninggalkan Khilafat.”

Dengan karunia Allah Ta’ala mereka menjadi bagian dari nizam Jemaat lagi. Bersikap keras kepala disebabkan oleh kurangnya tarbiyat. Ketika disadarkan, langsung mengakui kekeliruan mereka dan menyatakan adanya jalinan kesetiaan yang kuat dengan Khilafat. Mereka mengatakan, “Ketika kami memisahkan diri saat itu, kami tetap tidak terpisah dari Khilafat, kami memisahkan diri dari beberapa pengurus.”

Seperti itulah standar kesetiaan dan ketulusan mereka. Begitu pula para Ahmadi yang datang dari Gambia, dari Ivory Coast (Pantai Gading) dan juga dari negeri negeri lainnya. Setiap mereka meningkat dalam kesetiaan dan ketulusan dalam dalam corak masing masing.

Ketika Jalsah di Ghana, sebelumnya telah saya sampaikan juga bahwa jaraknya ckup jauh dari jalsa gah ke tempat penginapan. Jalan pun berkelok-kelok sehingga terhitung berjarak lebih dari 1 km. Pria wanita berdiri sambil menggendong anaknya dan menyalamkan anaknya (kepada saya). Tampak penampakan kecintaan dari mereka. Jumlah kaum ibu sekitar 50 ribu pada kesempatan jalsah seabad Khilafat dan semuanya memperlihatkan jalinan kecintaan dan kesetiaan kepada Khilafat. Kecintaan mereka tampak jelas terlihat dari mata mereka, sikap mereka dan wajah mereka. Mereka pun menjaga shalatnya selama jalsah, apakah itu shalat fardhu maupun tahajjud ikut serta dengan dawam.

Ketika saya berangkat ke Nigeria untuk yang kedua kalinya dari Benin. Yang pertama berkenaan dengan kisah ke Bai Rodia. Dalam perjalanan kami berhenti di suatu tempat, ini terjadi sekitar tahun 2004. Pada awalnya tidak ada program ke sana, namun mendapat kabar bahwa di tempat ini dibangun masjid baru dan orang-orang pun telah berkumpul di sana. Mereka semua yakni pria wanita anak anak berkeinginan untuk bertemu dan bersalaman. Para wanita berkeinginan untuk dapat memandang dari dekat. Disebabkan kurangnya waktu sehingga tidak mungkin untuk dapat bersalaman. Namun mereka mendesak untuk dapat dapat bersalaman. Dalam keramaian tersebut, karena berdesak-desakan ada seorang dari antara rombongan kami yang mengatakan kepada seorang wanita, “Mundurlah kalian!” Namun wanita tersebut menghampiri dan marah, nampaknya dalam emosi tersebut ia akan membuang orang yang mengatakan mundur itu, mengatakan, “Siapa kamu yang berani beraninya menjadi penghalang antara aku dengan Khalifah.”

Seperti itulah gejolak rasa cinta mereka. Tidak lama kemudian saya minta mereka untuk diam dan duduk. Seketika para Ahmadi yang jumlahnya ratusan itu diam dan duduk. Demikianlah jalinan yang dalam mereka dengan Khilafat.[17]

Penduduk dunia beranggapan bahwa penduduk Amerika hanya memikirkan materi melulu dan tidak memiliki jalinan dengan agama. Hadhrat Khalifatul Masih ketiga menceritakan satu kisah bagaimana beliau menerima surat yang berisi kabar kemungkinan terjadinya ancaman bahaya. Ketika kabar tersebut sampai keluar, ada dua Ahmadi pakar di bidang keamanan datang dan berjaga semalaman di luar. Alhasil, dalam diri para Ahmadi Amerika pun terdapat ketulusan yang besar.

Begitu juga, kapan pun saya berkunjung ke sana, para Ahmadi mereka selalu memperlihatkan ketulusan dan kesetiaan. Ketika datang rombongan juga dari Amerika kemari memperlihatkan hal tersebut dan bagaimana tampak ketulusan dan kecintaan mereka kepada Khilafat. Secara otomatis mereka membantah anggapan orang Amerika melulu memikirkan materi.

Para pemuda yang bertugas berjaga menghabiskan waktunya untuk menemani saya secara terus menerus, menemani saya dalam safar. Sebagian dari mereka menghentikan usaha dan pekerjaannya untuk itu dan tidak memperdulikan hal itu. Ada juga yang mengabarkan bahwa baru saja saya mendapat pekerjaan dan tidak mendapatkan cuti untuk hadir di jalsah dan mulaqat dengan saya maka kami tinggalkan pekerjaan tersebut.[18]

Begitu juga para Ahmadi di Kanada memperlihatkan sikap yang sama. Apakah pemuda, anak anak, wanita di dunia ini baik itu di Amerika, Kanada Eropa, di setiap tempat memperlihatkan teladan keikhlasan dan kesetiaan. Dan keikhlasan serta kesetiaan seperti ini tidak bisa diciptakan oleh upaya manusia.

Beberapa tahun yang lalu saya menyampaikan satu khotbah di Jerman yang di dalamnya menjelaskan mengenai tema ketaatan dan kesetiaan terhadap Khilafat. Namun ini bukan hanya untuk orang-orang Jerman saja, ini ditujukan untuk setiap orang dan hendaknya seperti itu. Akan tetapi dikarenakan keadaan di sana, saya memberikan beberapa permisalan dari orang-orang Jerman.

Bagaimana pun, para Ahmadi di seluruh dunia memperlihatkan reaksinya atas khotbah ini dan dengan segera memperlihatkan ketaatan dan kesetiaan yang sempurna kepada Khilafat. Orang-orang Jerman pun secara khusus mengungkapkan bahwa di Jerman sebagian pengurus di antara kami biasa menafsirkan dan mentakwilkan beberapa petunjuk dan insya Allah di masa yang akan datang ini tidak akan terjadi lagi. Semoga Allah Ta’ala meneguhkan mereka dalam hal ini dan demikian juga setiap negara-negara lainnya di dunia.[19]

Bapak Qasim dari Yordania [sebuah kerajaan Arab dipimpin keturunan Banu Hasyim dan tetangga Saudi Arabia] menulis, “Dalil kebenaran Hadhrat Masih Mau’ud (as) yang paling indah dan agung adalah, Allah Ta’ala telah menciptakan kecintaan dan ketaatan kepada Khilafat di hati saya. Ketika saya memutuskan untuk baiat beberapa tahun yang lalu, dalam hati saya terlintas pemikiran, apakah Jemaat hingga saat ini memang betul-betul berada di atas kebenaran dan apakah melenceng dari tujuan Hadhrat Masih Mau’ud ataukah tidak? Waktu itu saya belum mengetahui mengenai Khilafat.

Kemudian Allah Ta’ala memperlihatkan kepada saya dalam mimpi bahwa Khalifatul Masih menyebarkan perdamaian dan keamanan serta memberikan keputusan di antara orang-orang yang berselisih. Saya meletakkan tangan saya di atas tangan anda (Hudhur) – beliau menuliskan ini dalam surat kepada saya (Hudhur) – dan mencium cincin, maka pada saat itu saya merasakan kecintaan dan kasih sayang anda dan dalam hati saya timbul kecintaan yang luar biasa kepada anda yang dari hari ke hari terus semakin meningkat. Saya ingin memperbaharui baiat saya dan saya merasa muak dengan setiap orang yang keluar dari ketaatan kepada Anda.”[20]

Kemudian di Bulgaria, di sana para penentang kita tidak meninggalkan celah dalam penentangan. Sekarang, Jemaat telah kembali teregistrasi (terdaftar secara resmi) setelah sekian lama, sebelumnya registrasi tersebut sempat dibatalkan. Mufti Bulgaria dengan kelicikannya memerintahkan anggota-anggota Jemaat di sana untuk keluar dari Jemaat, namun dengan karunia Allah Ta’ala semua Ahmadi tidak hanya teguh dalam keimanannya melainkan juga memperlihatkan contoh keikhlasan yang lebih daripada sebelumnya dan membuktikan hubungan kesetiaan mereka dengan Khilafat Ahmadiyah.

Ada seorang wanita, ia didatangi oleh tiga orang dan diminta untuk keluar dari Jemaat dan bergabung dengan mereka. Mereka mengatakan, “Kami akan membantu kamu.”

Wanita bersifat pejuang ini dengan tegas mengatakan, “Ahmadiyah adalah benar dan saya telah bertemu dengan Khalifah saya dan yang paling utama Allah Ta’ala telah memperlihatkan 3-4 mimpi kepada saya yang mengatakan bahwa Jemaat ini benar. Oleh karena itu sekarang tidak ada lagi persoalan untuk meninggalkannya.”[21]

Mubaligh in Charge Benin menulis, “Pada Jalsah Mubayi’in baru, seorang mubayi’ baru yang bernama Bapak Razaq mewakili yang lainnya mengatakan, ‘Dalam nizam duniawi ketika seseorang mempunyai masalah maka ia datang kepada kepala suku. Jika tidak bisa diselesaikan, ia akan datang kepada pejabat yang lebih tinggi lagi, kemudian ia akan datang kepada walikota, kemudian kepada menteri, lalu kepada perdana menteri, dan ia pun tidak tahu apakah keluhannya akan didengar atau kah tidak dan permasalahannya itu akan selesai ataukah tidak. Namun nizam Jemaat Ahmadiyah ini sempurna. Jemaat Ahmadiyah memiliki Khilafat yang memahami bahasa semua orang dan mengayomi setiap ras dan warna kulit. Ini lah keberkatan Khilafat Ahmadiyah sehingga kita bisa mempelajari Al-Qur’an dan pada hari ini Islam yang dibawa oleh Hadhrat Rasulullah (saw) telah sampai kepada kita.’”

Ibu Laila dari Prancis mengatakan, “Saya baiat pada tahun 2017. Setiap pagi saya membaca surat anda yang telah merubah kehidupan saya. Saya berdoa dalam setiap shalat saya untuk perlindungan, dukungan dan pertolongan bagi anda. Gejolak semangat untuk berdoa pun Allah Ta’ala yang menciptakan. Setelah baiat saya telah menjadi manusia yang baru.”

Mubaligh di wilayah San, Mali (Afrika) menulis, “Seorang anggota di Jemaat kami, Bapak Abdurrahman Coulibaly wafat. Beberapa waktu sebelumnya beliau mengumpulkan anak-anaknya dan memberikan wasiyat, ‘Seandainya saya masih muda dan bisa berjalan, maka saya akan pergi untuk missi Jemaat dan tugas apa pun yang diberikan oleh Jemaat, saya akan melaksanakannya.’

Beliau juga menasihatkan kepada anak-anaknya bahwa, ‘Candah saya tertunggak dua bulan, sedangkan usia tidak ada yang tahu, namun candah itu harus dibayar supaya saya tidak meninggalkan dunia ini dalam keadaan sebagai orang yang berhutang.’ Yang ketiga beliau mewasiyatkan kepada anak-anaknya supaya senantiasa setia terhadap Khilafat dan tidak mengkhianati Khilafat, serta senantiasa dawam membayar candah.”

Tn. Amir Gambia menulis, “Ada seorang wanita bernama Ibu Rahmat Jalo. Beliau telah mengambil baiat. Ketika dijelaskan kepada beliau mengenai pengorbanan harta di jalan Allah, beliau pada waktu itu membayar candah sebesar 100 Dilasi. Beliau mempunyai sebuah toko kecil. Beliau membayar candah melebihi keadaan beliau dan mengatakan, ‘Saya hanya menginginkan kecintaan Allah Ta’ala dan Khalifah-e-waqt. Inilah hubungan dan kecintaan yang karenanya saya memberikan candah ini dan saya berkorban demi Allah Ta’ala.’

Seorang kawan dari Tajikistan, Bapak Izzat Iman mengatakan, “Ketika istri saya berusia 72 tahun, ia menderita sakit keras. Pada mulanya selama beberapa tahun ia sakit dikarenakan penyakit jantung dan tekanan pikiran, namun dikarenakan penyakit tersebut kesehatannya menjadi sangat lemah dan dikarenakan ucapan-ucapan Dokter timbul keputusasaan dalam keluarga kami. Saya pernah bermulaqat dengan Khalifatul Masih, dikarenakan jalinan ini saya merasa yakin bahwa jika Khalifah berdoa maka pasti Allah Ta’ala akan mengabulkan.

Terkait:   Peristiwa-Peristiwa Bersejarah Khilafah Ahmadiyah

Singkatnya ketika saya menulis surat permohonan doa kepada Khalifah, bersama dengan doa saya juga mendapatkan obat-obatan Homeopathy. Istri saya telah sembuh dan pada waktu saya menulis surat tersebut usia istri saya 79 tahun dan berkeinginan juga untuk menunaikan haji. Dan berkat hubungan dengan Khilafat dan doa-doa, Allah Ta’ala telah memanjangkan usianya.”

Untuk menciptakan keimanan dan keyakinan, Allah Ta’ala telah memperlihatkan pemandangan ini sehingga memberitahukan bahwa apa yang disabdakan oleh Hadhrat Masih Mau’ud (as) bahwa beliau berasal dari Allah Ta’ala adalah benar.

Mengenai kecintaan seorang anak Ahmadi kepada Khilafat, Bapak Tahir Nadim menulis, “Ketika melakukan perjalanan ke Turki, saya berkesempatan singgah di rumah seorang kawan Ahmadi. Ketika sedang duduk anaknya yang berusia 3-4 tahun datang. Setelah mengucapkan salam ia membisikkan ke telinga saya, ‘Saya ingin mengirim surat kepada Hudhur, apakah anda bersedia membawakannya.”

Saya menjawab, “Ok! Kenapa tidak. Saya akan membawakannya.” Lalu anak itu menulis dua baris di atas kertas dan memberikan kepada saya. Saya bertanya kepadanya, “Apa yang kamu tulis di surat itu?”

Ia menjawab, “Saya menulis bahwa saya mencintai Hudhur.” Saya lalu membawa surat tersebut ke sini dan balasannya pun dikirim dari Hudhur. Ketika anak tersebut mendapatkan balasannya, menurut cerita ayahnya, ia dan seluruh keluarganya merasa sangat senang.”

Demikian juga Mubaligh in Charge Makedonia menulis satu contoh lagi mengenai anak-anak. “Beberapa waktu yang lalu ketika melakukan kunjungan ke Bosnia, saya berkenalan dengan seorang kawan Pakistani. Terjadilah perbincangan tabligh. Kemudian berlanjut dengan pertemuan-pertemuan. Ia mengatakan bahwa beberapa waktu yang lalu di Airport Dubai ia bertemu dengan satu keluarga Ahmadi. Seorang anak mereka yang berusia 3-4 tahun mengatakan, ‘Kita semua harus shalat dan harus berkata jujur.’

Ketika saya tahu bahwa keluarga ini adalah keluarga Ahmadi, saya bertanya kepada anak perempuan tadi, ‘Apa keinginan yang paling besar dalam hidupmu?’

Ia menjawab, ‘Saya ingin bertemu dengan Hudhur di London.’

Kawan tersebut mengatakan, ‘Hal ini sangat berkesan bagi saya bahwa anak yang sekecil itu keinginan terbesarnya adalah bermulaqat dengan Khalifah.’”

Demikian juga belakangan ini ada sebuah game anak-anak. Ketika saya melarang memainkan game tersebut karena terkadang itu menimbulkan perilaku-perilaku yang keliru, pada awalnya para orang tua merasa gelisah bagaimana mereka bisa melarang anak-anak mereka. Namun kebanyakan orang tua menulis kepada saya, “Setelah mendengarkan khotbah anda anak-anak itu datang dan mengatakan sendiri kepada kami bahwa karena telah ada larangan dari Khalifah-e-waqt untuk memainkannya, maka kami tidak akan memainkannya lagi.” Dan sampai sekarang pun banyak surat datang kepada saya menanyakan apakah boleh memainkan permainan game ini untuk sekian lama. Artinya ada suatu kesadaran di dalam diri mereka bahwa dikarenakan jalinan dengan Khalifah-e-waqt maka kami tidak akan menipu, dan kami akan melaksanakan apa-apa yang dikehendaki Khalifah-e-waqt untuk kebaikan kami.”

Mubaligh Honduras (Amerika tengah) menulis, “Seorang penduduk lokal Ahmadi didera berbagai macam permasalahan. Melihat keadaannya tersebut saya mengatakan kepadanya, tulislah surat permohonan doa kepada Khalifah-e-waqt untuk kegelisahan-kegelisahan anda. Ketika telah menulis surat ia sering mengatakan bahwa, permasalahan-permasalahannya mulai terselesaikan dengan sendirinya. Dengan surat tersebut ia mendapatkan suatu kekuatan gaib dan keyakinan serta kepercayaan terhadap Khilafat semakin kuat.”

Bapak Affari dari Maroko (Afrika Utara) menuturkan, “Allah Ta’ala telah menerangi hati dan kehidupan saya dengan rahmat dan keberkatan. Saya bersyukur kepada Allah Ta’ala karena Dia telah memberikan saya hidayah. Setelah melihat anda saya merasa mabuk oleh kecintaan. Suatu perasaan yang unik. Saya tidak pernah duduk bersama anda, tidak pernah berbincang secara langsung dengan anda. Ini sungguh kekuatan Allah Ta’ala dan kecintaan yang sejati. Semoga Allah Ta’ala mendukung dan menolong anda.”

Kemudian Ibu Iman dari Yaman [negara tetangga Saudi Arabia] menuturkan, “Saya mencintai Hudhur lebih dari diri saya sendiri, anak-anak saya, suami saya dan semua orang lainnya. Saya mendapatkan ketentraman dan kesenangan hati melalui ini dan saya berharap semoga situasi akan membaik, Insya Allah. Pengutusan Hadhrat Masih Mau’ud (as) dan berdirinya Khilafat setelah beliau as. bertujuan untuk memperbaiki kerusakan dan supaya timbul harapan di hati orang-orang. Keadaan saya adalah sebagaimana yang disabdakan oleh Hadhrat Rasulullah (saw), ‘Ya Allah! Jika Engkau tidak murka kepada kami maka kami tidak khawatir dengan hal-hal yang lainnya.’ Saya berdoa kepada Allah Ta’ala semoga saya termasuk di antara orang-orang yang anda mencinta mereka dan anda senang dengan mereka, suami mereka dan anak keturunan mereka.”

Kemudian Bapak Taufiq dari Tunisia (Afrika Utara) menulis, “Kami mencintai anda (Khalifatul Masih). Kami naik di atas bahtera anda dan mendapatkan tarbiyat di dalamnya, dan kami makan-minum dari sumber mata air Hadhrat Aqdas Masih Mau’ud (as). Kami teguh di atas janji kami. Tanpa menjalin hubungan dengan anda tidak mungkin terjadi perbaikan pada diri kami. Kami tidak menginginkan dunia. Kami hanya berharap mengenai diri kami dikatakan bahwa si pulan telah sukses berkat mengikuti Jemaat yang penuh berkat ini. Saya memohon doa, semoga mendapatkan taufik untuk dapat teguh pada janji baiat dan beramal sesuai dengan itu dan saya memohon doa untuk persatuan umat Islam.”

Inilah beberapa contoh yang menjelaskan bahwa Allah Ta’ala-lah yang telah menciptakan hubungan keikhlasan dan kesetiaan dalam hati orang-orang dan tidak ada kekuatan duniawi yang bisa merenggutnya. Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda, “Kalian akan melihat terpenuhinya janji-janji Allah Ta’ala. Semoga sebagian besar dari kita mendapatkan taufik untuk dapat melihat terpenuhinya janji-janji tersebut.

Sekarang saya juga ingin menyampaikan sebuah pengumuman berkenaan dengan MTA. Ini juga adalah janji Allah Ta’ala mengenai tersebar luasnya pesan-pesan Hadhrat Masih Mau’ud (as) di dunia. Sejak 27 Mei bertepatan dengan hari Khilafat telah dimulai satu pengaturan baru channel ini. Saya akan menyampaikan rinciannya. Pada awalnya di beberapa tempat khususnya di Amerika ada sedikit kesulitan, namun semoga sekarang telah teratasi. Namun, mengenai sistem yang baru dimulai ini saya ingin sampaikan bahwa berdasarkan kawasan-kawasan yang berbeda MTA telah dibagi menjadi 8 channel.

Channel MTA1 secara umum diperuntukkan bagi para pemirsa di UK dan beberapa kawasan di Eropa. Bahasa utama channel ini adalah bahasa Inggris dan Urdu. Di Channel ini ditayangkan program-program berbahasa Inggris dan Urdu serta program dalam bahasa lain yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Urdu. Program live dan rekaman terbaru saya pun akan disiarkan di seluruh channel lainnya sebagai MTA1 World.

Selanjutnya MTA2 Europe, channel ini diperuntukkan bagi pemirsa di Eropa dan Timur Tengah. Di channel ini akan disiarkan program-program berbahasa Urdu, Inggris, Turki, Prancis, Spanyol, Jerman, Belanda, Rusia dan Parsi. Di channel ini saat ini ditayangkan program-program dalam berbagai bahasa dengan durasi masing-masing dua jam. Program-program dalam bahasa yang disebutkan tadi akan terus diperbanyak.

Kemudian MTA 3 Al-Arabiyya. Channel ini akan terus berjalan sebagaimana halnya sekarang ini. Bahasa utama di channel ini adalah bahasa Arab.

MTA 4 Africa, Channel ini diperuntukkan bagi para pemirsa di negara-negara Afrika Timur dan Afrika Barat. Bahasa utama dari channel ini adalah Inggris, Prancis, Swahili dan program-program dalam bahasa-bahasa tersebut akan disiarkan di channel ini.

MTA 5 Africa, Channel ini diperuntukkan bagi para pemirsa di negara-negara Afrika Barat. Bahasa utama dari Channel ini adalah bahasa Inggris. Selain itu juga akan disiarkan program-program berbahasa Kreol, Hausa, Chuhi dan Yoruba.

MTA 6 Asia, Channel ini akan ada di Asiasat, diperuntukkan bagi para pemirsa di negara-negara Asia Timur Jauh, Indonesia, Jepang, Australia, Selandia Baru, Rusia, dsb. Bahasa-bahasa utama dari Channel ini adalah bahasa Urdu, Inggris dan Indonesia. Di channel ini akan disiarkan program berbahasa Urdu, Inggris, Bengali, Pashto, Sindhi, Saraiki, Parsi, Indonesia dan Rusia. Sebelumnya pun telah berjalan seperti ini, namun sekarang ada sedikit pembagian. Demikian pula dengan perhitungan waktu akan didapati program-program yang berkaitan dengan negara-negara tersebut.

Kemudian MTA7 Asia, ini adalah Channel HD yang akan tayang di Dish. Ini diperuntukkan bagi para pemirsa di India, Pakistan, Bangladesh, Srilanka, Nepal dan sekitarnya. Bahasa di Channel ini adalah Urdu, Bengali dan Hindi. Selain itu akan disiarkan juga di Channel ini program berbahasa Tamil dan Malayalam.

MTA8 Amerika, Channel ini diperuntukkan bagi pemirsa di benua Amerika Utara yang mencakup Amerika Serikat, Kanada dan lain-lain. Sebelumnya pun Channel ini telah berjalan. Terdapat sedikit perubahan pada pengaturannya. Pada dasarnya semua Channel ini akan berjalan sebagaimana sebelumnya. Channel yang dinamakan MTA 8 Amerika ini diperuntukkan bagi pemirsa di Amerika, Amerika Utara dan Kanada. Bahasa di Channel ini adalah bahasa Inggris dan Urdu. Selain itu, akan disiarkan juga program berbahasa Prancis dan Spanyol.

Program-program live MTA berikut ini akan disiarkan di berbagai channel: Raah-e-Huda, Al-Hiwar-ul-Mubasyar, Program Bangla akan disiarkan di semua Channel MTA dengan terjemahan dalam bahasa utama masing-masing Channel. Kemudian ada Journal Islamiya Swistein – ini adalah kata dalam bahasa Jerman – akan disiarkan di MTA2 Europe. Horizon d’Islam akan disiarkan di MTA1, MTA2 Europe, MTA 4 Africa dan MTA 5 Africa, bersama dengan bahasa utamanya Prancis akan disertakan juga terjemahannya. Dan demikian juga program-program seperti Intikhab-e-Sukhn, dsb. akan disiarkan di MTA1, MTA2 Europe, MTA6 Asia dan MTA7 Asia. Singkatnya, telah dilakukan perubahan penomoran Channel dan mungkin dalam settingan secara umum tidak ada perubahan dan berjalan sebagaimana biasanya. Demikian juga diberikan penamaan pada Channel-channel tersebut sesuai dengan penomorannya.

Singkatnya, sistem yang telah dibuat ini, semoga Allah Ta’ala memberikan keberkatan di dalamnya dan menganugerahkan taufik kepada MTA untuk menyampaikan pesan Islam yang hakiki kepada dunia lebih daripada sebelumnya.      

Khotbah II

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ

وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ –

 وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ!

 إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ

يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ –

أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

 Penerjemah: Mln. Mahmud Ahmad Wardi, Syahid (London, UK) dan Mln. Saifullah Mubarak Ahmad (Qadian, Bharat/India). Editor: Dildaar Ahmad Dartono.


[1] Malfuzhat jilid 1 h. 336 (ملفوظات جلد 1 صفحہ 336).

[2] Al-Wasiyat, Ruhani Khazain jilid 20 hal. 305-306 (رسالہ الوصیت، روحانی خزائن جلد 20 صفحہ 305-306)

[3] Al-Badr 16 Februari 1911 (البدر، مورخہ 16 فروری 1911ء صفحہ 2جلد 10 شمارہ 16)

[4] Al-Badr 6 April 1911 (البدر، مورخہ 6 اپریل 1911ء صفحہ 1جلد 10 شمارہ 22، 23)

[5] Al-Fadhl Qadian 4 April 1947 (روزنامہ الفضل 8 دسمبر 2010ء صفحہ 4 بحوالہ الفضل قادیان 19 اپریل 1947ء)

[6] Al-Fadhl 15 Maret 1923 h. 11 (الفضل 15 مارچ 1923ءصفحہ11)

[7] Sawaneh Fadhl Umar jilid 5 h. 475 (سوانح فضل عمر جلد 5 صفحہ 475)

[8] Tarikh Ahmadiyyat jilid 8 h. 44 ((تاریخ احمدیت جلد 8 صفحہ 44)

[9] Khuthbaat Masroor jilid 7 h. 503 pada Khotbah Jumat 23 Oktober 2009  (خطبہ جمعہ بیان فرمودہ مؤرخہ 23 اکتوبر 2009ء خطبات مسرور جلد 7 صفحہ 503 – 504)

[10] Khuthbaat Masroor jilid 12 h. 605 pada Khotbah Jumat 03 Oktober 2014 (خطبات مسرور جلد 12 صفحہ 605 خطبہ جمعہ فرمودہ 03 اکتوبر 2014ء)

[11] Harian Al-Fadhl 10 Mei 2010 h. 5 (روزنامہ الفضل 10 مئی 2010ء صفحہ 5)

[12] Khuthbaat Nashir jilid syasyam h. 547-548 (خطبات ناصر جلد ششم صفحہ 547تا 548 خطبہ فرمودہ 22 اکتوبر 1976ء)

[13] Khuthbaat Tahir jilid 7 h. 134-135 (خطبات طاہر جلد7صفحہ134-135)

[14] Khuthbaat Tahir jilid 11 h. 920 ((خطبات طاہر جلد11صفحہ920)

[15] Khuthbaat Masroor jilid dom h. 254-253 (خطبات مسرور جلد دوم صفحہ253تا 254)

[16] Khuthbaat Masroor jilid syasyam h. 181-186 (خطبات مسرور جلد ششم صفحہ 181 تا 186)

[17] Khuthbaat Masroor jilid syasyam h. 191-192 (خطبات مسرور جلد ششم صفحہ 191 تا 192)

[18] Khuthbaat Masroor jilid 10 h. 424 (خطبات مسرور جلد 10صفحہ 424)

[19] Khuthbaat Masroor jilid 12 h. 369 (خطبات مسرور جلد 12صفحہ 369)

[20] Pidato Jalsah Salanah UK 2017 (جلسہ سالانہ برطانیہ 2017ء سے دوسرے روز بعد دوپہرکا خطاب، الفضل انٹرنیشنل 6؍ اپریل 2018ء صفحہ 15)

[21] Pidato penutupan Jalsah Jerman 30 Juni 2013 (ماخوذ از اختتامی خطاب جلسہ سالانہ جرمنی 30 جون 2013ء۔ الفضل انٹرنیشنل جلد 20 شمارہ 44مورخہ یکم نومبر 2013ء صفحہ 14)