Riwayat ‘Umar Bin Khattab Ra (Seri 18)

Keteladanan Para Sahabat Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam (Manusia-Manusia Istimewa seri 128, Khulafa’ur Rasyidin Seri 03, Hadhrat ‘Umar ibn al-Khaththab radhiyAllahu ta’ala ‘anhu Seri 18)

Kutipan Pidato dari Hadhrat Khalifatul Masih kedua radhiyAllahu ta’ala ‘anhu perihal tabligh di beberapa daerah di Eropa dan hubungannya dengan sejarah awal Islam bagaimana sambutan kaum Muslimin yang penuh keyakinan atas sabda Khalifah ‘Umar (ra) meski dirasa tidak masuk akal.

Futuuhat (Penaklukan-Penaklukan) di masa Khilafat ‘Umar (ra) khususnya derap langkah penaklukan ke Mesir: ke daerah Farma [kunci kemenangan kaum Muslim diantaranya ialah kesabaran dalam melakukan pengepungan dan kecepatan berlari pasukan Muslim], Pawai barisan pasukan Islam ke Bilbeis, Ummu Dunain (Omdunain), Daerah al-Fayoum, al-Fusthaat (dekat Kairo sekarang), penaklukan Benteng Babilon di Mesir dan dampaknya; penaklukan Iskandariah (Alexandria) dan arti pentingnya. Uraian Jawaban atas Tuduhan Tak Berdasar bahwa Khalifah ‘Umar (ra) pernah memerintahkan pembakaran perpustakaan dan buku-bukunya kala penaklukan Alexandria (Iskandariah) berdasarkan uraian jawaban banyak sarjana Barat, dua Khalifah Ahmadiyah dan seorang ‘Alim Jemaat, Maulana Abdul Karim Sialkoti (ra).

Khotbah Jumat Sayyidina Amirul Mu-minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 01 Oktober 2021 (01 Ikha 1400 Hijriyah Syamsiyah/24 Shafar 1443 Hijriyah Qamariyah) di Masjid Mubarak, Islamabad, Tilford, UK (United Kingdom of Britain/Britania Raya).

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ. (آمين)

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) pada satu kesempatan dalam sebuah pidatonya menjelaskan berkenaan dengan tabligh, pada waktu itu seraya menjelaskan mengenai peristiwa-peristiwa di masa Hadhrat ‘Umar (ra), beliau (ra) bersabda, “Dalam pertempuran-pertempuran yang terjadi setelah kewafatan Hadhrat Rasulullah (saw) seringkali terjadi kaum Muslimin kalah jumlah. Dalam pertempuran Syam jumlah pasukan sangat sedikit. Hadhrat Abu Ubaidah (ra) menulis kepada Hadhrat ‘Umar (ra) bahwa, ‘Jumlah musuh sangat banyak, oleh karena itu mohon upayakan pengiriman pasukan tambahan.’ Hadhrat ‘Umar (ra) melakukan peninjauan, maka beliau merasa tidak mungkin untuk mengerahkan pasukan baru, karena para pemuda dari suku-suku di sekitar Arab telah banyak yang terbunuh atau sebelumnya pun mereka semua telah bergabung dalam pasukan. Beliau mengadakan sebuah pertemuan untuk bermusyawarah dan di dalamnya beliau mengundang orang-orang dari berbagai suku dan menyampaikan perkara ini ke hadapan mereka. Mereka menyampaikan bahwa ada satu suku yang di dalamnya beberapa orang bisa didapati. Hadhrat ‘Umar (ra) memberikan perintah kepada seorang perwira supaya segera mengumpulkan para pemuda dari suku tersebut dan beliau menulis kepada Hadhrat Abu Ubaidah (ra), ‘Saya tengah mengirimkan 6000 pasukan untuk membantu Anda yang dalam beberapa hari akan sampai kepada anda. Sejumlah 3000 orang dari suku-suku anu akan datang kepada Anda dan saya mengirim ‘Amru bin Ma’di Karb yang setara dengan 3000 lainnya.”

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Jika seorang pemuda kita dikirim untuk menghadapi 3000 orang, maka ia akan mengatakan, ‘Betapa ini perkara yang tidak masuk akal. Apakah Khalifah telah kehilangan akal sehatnya?’ Satu orang tidak akan pernah bisa melawan 3000 orang. Namun betapa kokohnya keimanan mereka ini. Ketika Hadhrat Abu Ubaidah (ra) menerima surat dari Hadhrat ‘Umar (ra), setelah membaca surat tersebut beliau berkata kepada para pasukannya, ‘Bersukacitalah kalian! Esok hari ‘Amru bin Ma’di Karb akan datang kepadamu.’

Keesokan harinya para pasukan menyambut ‘Amru bin Ma’di Karb dengan sangat antusias dan mengumandangkan yel-yel. Musuh menyangka bahwa mungkin ratusan ribu pasukan telah datang untuk membantu orang-orang Islam sehingga mereka begitu bersuka cita. Padahal itu hanyalah seorang ‘Amru bin Ma’di Karb. Setelah itu 3000 pasukan tersebut juga tiba dan orang-orang Islam mengalahkan musuh, padahal dalam pertempuran pedang bagaimana mungkin satu orang mampu melawan 3000 orang.”

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Dalam peperangan bersifat lisan, satu orang saja dapat menyampaikan pembicaraannya kepada ribuan orang. Namun mereka sedemikian rupa menganggap penting sabda Khalifah-e-waqt bahwa Hadhrat ‘Umar (ra) telah mengutus ‘Amru bin Ma’di Karb sebagai perwakilan dari 3000 pasukan, maka para pasukan tidak lantas mengajukan keberatan bagaimana mungkin satu orang sendirian bisa melawan 3000 pasukan. Namun mereka menganggapnya setara dengan 3000 pasukan dan dengan gegap gempita menyambutnya. Dikarenakan penyambutan dari orang-orang Islam ini nyali musuh menjadi ciut dan beranggapan bahwa mungkin ratusan ribu pasukan telah datang untuk membantu orang-orang Islam. Oleh karena itu mereka angkat kaki dari medan pertempuran dan setelah mengalami kekalahan mereka melarikan diri.” Beliau (ra) bersabda, “Artinya, kita pun hendaknya menaruh keyakinan yang seperti demikian dalam hati kita.”

Beliau (ra) menyampaikan peristiwa ini dalam konteks mengenai bagaimana hendaknya pertablighan dilakukan di Eropa, Spanyol, Sisilia dan sebagainya.

Sekarang saya akan menyampaikan mengenai penaklukkan Mesir. Di antaranya adalah pertempuran Farma. Farma adalah satu kota yang terkenal di Mesir. Kota ini terletak di sebuah pegunungan di dekat Laut Tengah (Bahirah Ruum) dan anak sungai Pelusium yang merupakan salah satu cabang sungai Nil.

Menurut ‘Alamah Syibli Nu’mani, setelah penaklukkan Baitul Maqdis, atas desakan Hadhrat ‘Amru bin ‘Ash (ra), Hadhrat ‘Umar (ra) menyerahkan 4000 pasukan kepada Hadhrat ‘Amru bin al-’Ashh (ra) dan memberangkatkannya ke Mesir. Namun, di samping itu beliau juga memerintahkan, “Jika surat saya diterima sebelum Anda sampai ke Mesir, kembalilah.” Beliau telah sampai di Arish ketika surat Hadhrat ‘Umar (ra) tiba. Meskipun di dalam surat itu Hadhrat ‘Umar (ra) mencegah untuk maju lebih jauh, namun dikarenakan ini perintah bersyarat, Hadhrat ‘Amru (ra) berkata, “Karena sekarang kita telah sampai di perbatasan Mesir, kita harus melanjutkan dari Arish ke Farma.”[1]

Al-Iktifa adalah sebuah buku yang mengkompilasi peperangan dalam Islam. Di dalamnya tertulis bahwa ketika Hadhrat ‘Amru bin ‘Ash (ra) sampai di satu tempat bernama Rafa’, beliau menerima surat dari Hadhrat ‘Umar (ra). Namun beliau tidak mengambil surat tersebut dari kurir karena takut di dalamnya terdapat perintah untuk kembali sebagaimana telah disampaikan oleh Hadhrat ‘Umar (ra). Hadhrat ‘Amru bin ‘Ash (ra) tetap melanjutkan hingga ke satu desa kecil di antara Rafah dan Arisy. Beliau menanyakan mengenai tempat tersebut. Disampaikan bahwa ini terletak di perbatasan Mesir. Beliau lalu meminta surat tersebut dan membacanya. Di dalam surat itu tertulis, “Bawalah pulang orang-orang Islam yang bersama anda.”

Beliau mengatakan kepada orang-orang yang bersama beliau, “Tidakkah kalian tahu bahwa sekarang kita berada di Mesir.” Mereka mengiyakan.

Beliau (ra) pun berkata, “Amirul Mukminin memerintahkan jika saya menerima surat beliau sebelum saya sampai ke tanah Mesir, saya harus kembali. Saya menerima surat ini setelah masuk ke tanah Mesir. Oleh karena itu, dengan nama Allah mari kita lanjutkan.”

Dalam riwayat lain dikatakan bahwa Hadhrat ‘Amru bin ‘Ash (ra) sedang berada di Palestina dan dengan tanpa izin beliau membawa laskarnya menuju Mesir. Hadhrat ‘Umar (ra) tidak menyukai hal ini lalu Hadhrat ‘Umar (ra) menulis surat kepada beliau. Surat Hadhrat ‘Umar (ra) sampai kepada Hadhrat ‘Amru (ra) ketika beliau berada di dekat Arish. Beliau tidak membaca surat itu hingga beliau sampai di Arish lalu beliau membaca surat itu. Di dalamnya tertulis, “Dari ‘Umar bin Khattab (ra), kepada ‘Amru bin ‘Ash (ra). Ammaa ba’du. Anda telah pergi ke Mesir bersama kawan-kawan Anda dan di sana terdapat orang-orang Romawi dalam jumlah yang sangat besar, sedangkan orang-orang yang bersama Anda berjumlah sedikit. Demi umur saya! Semoga Allah memberkati Anda. Akan lebih baik jika Anda tidak membawa mereka bersama anda. Jadi, jika Anda belum sampai ke Mesir, kembalilah.”[2]

Dalam perjalanan ini sebelum sampai di Farma pasukan Muslim tidak pernah bertemu dengan pasukan Romawi, bahkan di beberapa tempat orang-orang Mesir menyambut mereka, dan pertama kali terjadi konfontrasi adalah di Farma.[3]

Ada beragam riwayat, namun nampaknya yang paling sahih adalah bahwa surat itu diterima beliau setelah sampai di Arisy, perbatasan Mesir. Jika tidak, tidak mungkin membuat alasan, “Kami akan membuka surat itu ketika kami sampai di Mesir.” Bagaimanapun, ketika mereka sampai di Mesir, mereka harus melangkah maju, karena seorang Mukmin pantang mundur.

Mendengar kabar ini, orang-orang Romawi beranggapan bahwa pasukan yang datang bersama dengan Hadhrat ‘Amru (ra) sangat sedikit dan belum sepenuhnya siap. Mereka tidak akan mampu melakukan pengepungan hingga waktu yang lama. Sedangkan jumlah mereka lebih banyak dari pasukan Muslim dan penuh persiapan, mereka akan mengalahkan pasukan Muslim. Orang-orang Romawi berpemikiran seperti itu. Mereka bertahan dalam benteng kota. Di sisi lain, Hadhrat ‘Amru bin al-’Ashh (ra) telah mengetahui kekuatan militer Romawi. Mereka berkali-kali lipat lebih kuat daripada pasukan Muslim dalam hal jumlah dan persenjataan. Oleh karena itu, untuk merebut Farma beliau membuat strategi melakukan serangan secara mendadak dan membuka pintu-pintu benteng kota atau dengan sabar terus melakukan pengepungan hingga persediaan makanan penduduk kota habis dan terpaksa keluar karena lapar. Karena itu, beliau kemudian melakukan pengepungan. Di satu sisi, pengepungan kaum Muslimin semakin ketat, sementara di sisi lain orang-orang Romawi tidak mengendurkan kegigihan mereka. Demikianlah pengepungan berlangsung selama berbulan-bulan.

Terkadang sebagian tentara Romawi keluar dan terjadi pertempuran kecil lalu mereka mundur kembali. Dalam pertempuran-pertempuran kecil itu kaum Muslimin selalu unggul. Suatu hari sekelompok pasukan Romawi keluar dari pemukiman untuk bertempur dengan orang-orang Islam. Dalam pertempuran tersebut orang-orang Islam unggul dan orang-orang Romawi melarikan diri ke pemukiman setelah mengalami kekalahan. Orang-orang Islam mengejar mereka dan membuktikan kecepatan mereka dalam berlari sehingga beberapa orang berhasil sampai ke pintu-pintu gerbang sebelum orang-orang Romawi, kemudian membuka pintu gerbang benteng dan membuka jalan untuk kemenangan yang nyata.[4]

Selanjutnya, berkenaan dengan penaklukkan Bilbeis. Setelah penaklukkan Farma, Hadhrat ‘Amru bin ‘Ash (ra) beralih ke Bilbeis, pasukan Romawi menghalangi jalan beliau. Bilbeis merupakan satu kota yang berjarak 3 mil dari Fustat ke arah Syam. Mereka menghalangi jalan supaya orang-orang Islam tidak bisa mencapai benteng Babilon. Babilon adalah nama yang digunakan untuk negeri Mesir dalam istilah kuno. Khususnya lokasi di mana Fustat berada, dulu sebelumnya disebut sebagai Babilon.

Pasukan Romawi ingin bertempur di sini (Bilbeis), namun Hadhrat ‘‘Amru bin ‘Ash (ra) mengatakan kepada mereka, “Janganlah kalian tergesa-gesa sebelum kami menyampaikan perkara kami kepada kalian, supaya besok tidak ada lagi dalih dan alasan.” Kemudian beliau berkata, “Kirimlah oleh kalian Abu Maryam sebagai delegasi ke hadapanku.”

Kemudian mereka menghentikan peperangan dan mengirimkan dua orang delegasi. Kedua orang ini adalah pendeta orang-orang Bilbeis.

Hadhrat ‘‘Amru (ra) mengajukan pilihan antara menerima Islam atau membayar jizyah. Di samping itu, beliau menyampaikan sabda Hadhrat Rasulullah (saw) mengenai penduduk Mesir, إِنَّكُمْ سَتَفْتَحُونَ مِصْرَ وَهِيَ أَرْضٌ يُسَمَّى فِيهَا الْقِيرَاطُ ، فَإِذَا فَتَحْتُمُوهَا فَأَحْسِنُوا إِلَى أَهْلِهَا ، فَإِنَّ لَهُمْ ذِمَّةً وَرَحِمًا أَوْ قَالَ ذِمَّةً وَصِهْرًا “Kalian akan menaklukkan Mesir, suatu negeri yang terkadang dinamakan Al-Qiraath. Apabila kalian telah menaklukkannya, berbuat baiklah terhadap penduduknya, karena mereka memiliki jaminan perlindungan dan hubungan kekerabatan.” Atau beliau (saw) bersabda, “Jaminan perlindungan dan hubungan karena pernikahan.”[5]

Mendengar ini kedua delegasi itu berkata, “Ini adalah hubungan kekerabatan yang sangat jauh, hanya para Nabi yang bisa menepatinya. Izinkan kami pergi, kami akan kembali untuk memberitahu anda.”

Hadhrat ‘Amru bin ‘Ash (ra) berkata, “Orang seperti saya tidak bisa ditipu, saya berikan tenggat waktu tiga hari. Renungkanlah oleh kalian perkara ini.”

Kedua delegasi ini mengatakan, “Berilah kami tenggat waktu tambahan satu hari lagi.”

Beliau lalu memberikan tambahan tenggat waktu tambahan satu hari. Kedua delegasi itu kembali dan menghadap Muqauqis, pemimpin orang-orang Qibti, dan Arthabun, penguasa Mesir perwakilan Romawi, lalu menyampaikan pernyataan orang-orang Islam ke hadapan mereka. Arthabun menolak untuk patuh dan bersikeras untuk berperang lalu pada malam hari ia melancarkan serangan terhadap orang-orang Islam.[6]

Pasukan Arthabun diriwayatkan berjumlah 12 ribu orang. Sejumlah kecil orang-orang Islam syahid dalam pertempuran ini dan 1000 orang pasukan Romawi tewas dan 3000 orang ditawan. Sedangkan Arthabun melarikan diri meninggalkan medan pertempuran. Sebagian mengatakan bahwa ia tewas dalam pertempuran tersebut. Kaum Muslimin mengalahkannya beserta pasukannya hingga ke Iskandariyah. Para sejarawan sepakat bahwa orang-orang Islam tinggal di Bilbeis selama satu bulan. Di masa tersebut terus-menerus terjadi pertempuran dan pada akhirnya kemenangan diraih oleh orang-orang Islam. Namun mereka berbeda pendapat dalam hal perang tersebut berlangsung sengit atau tidak.

Dalam kecamuk pertempuran tersebut terjadi suatu peristiwa yang membuktikan kebijaksanakan dan keluhuran akhlak orang-orang Islam. Peristiwa itu sebagai berikut. Ketika Allah Ta’ala memberikan kemenangan kepada Kaum Muslimin di Bilbeis, pada kesempatan itu putri Muqauqis yang bernama Armanusa tertangkap. Ia adalah putri kesayangan ayahnya. Ayahnya ingin menikahkannya dengan Konstantin, putra Heraklius. Ia tidak senang dengan perjodohan ini sehingga ia bersama pelayannya datang ke Bilbeis untuk jalan-jalan.

Singkatnya, ketika orang-orang Islam menangkapnya, maka Hadhrat ‘Amru bin ‘Ash (ra) mengundang para sahabat ke suatu majlis dan beliau menyampaikan firman Allah Ta’ala berikut, هَلْ جَزَاءُ الإحْسَانِ إِلاَّ الإحْسَانُHal jazaaul ihsaani illal ihsaan” – “Bukankah balasan dari kebajikan ialah juga kebajikan?”[7] Kemudian berdasarkan ayat ini beliau mengatakan, “Muqauqis telah mengirimkan hadiah kepada Nabi kita (saw). Menurut hemat saya, wanita ini beserta wanita-wanita lain yang bersamanya dan para pelayannya, serta harta yang kita dapatkan, semuanya kita kirimkan kepada Muqauqis.”

Semua orang menyetujui pendapat Hadhrat ‘Amru bin ‘Ash (ra). Kemudian, Hadhrat ‘Amru bin ‘Ash (ra) mengirimkan Armanusah putri Muqauqis, perhiasan-perhiasannya, para wanita lain beserta para pelayannya ke hadapan ayahandanya dengan penuh hormat. Dalam perjalanan pulang pelayannya berkata kepada Armanusah, “Kita dikepung oleh orang-orang Arab dari segala penjuru.” Armanusa berkata, “Aku merasa nyawa dan kehormatanku terlindungi di kemah orang-orang Arab, namun aku tidak merasa nyawaku terlindungi di benteng ayahandaku.” Kemudian ketika ia sampai kepada ayahnya, maka ayahnya sangat senang melihat perlakuan orang-orang Islam terhadap putrinya. [8]

Kemudian riwayat berkenaan dengan penaklukkan suatu tempat bernama Ummu Dunain. Setelah penaklukkan Bilbeis, Hadhrat ‘Amru bin ‘Ash (ra) melanjutkan ke perbatasan gurun dan sampai ke dekat desa Ummu Dunain yang terletak di dekat pangkal Teluk Trajan di sungai Nil. Teluk ini dekat dengan Suez menghubungkan Mesir dengan Laut Tengah, di mana sekarang ini terletak Azbakiya, Distrik kota Kairo. Pada zaman itu di sana terletak desa Ummu Dunain yang mana orang-orang Romawi mengelilinginya dengan benteng. Di dekatnya ada tepi sungai nil. Di tepi sungai ini banyak perahu bersandar. Desa ini terletak di utara Babilon yang merupakan benteng terbesar di kota Mesir. Dalam hal ini, Ummu Dunain bisa dikatakan sebagai pos pertahanan pertama dari wilayah kesayangan orang-orang Mesir, yang juga merupakan pusat pemerintahan para Firaun di masa lalu. Kaum Muslimin pergi ke Ummu Dunain dan berkemah di sana.

Orang-orang Romawi mengirimkan prajurit terbaiknya ke Benteng Babilon dan memperkuat benteng Ummu Dunain dan bersiap untuk berperang. Dari informasi yang dibawa oleh para mata-mata, Hadhrat ‘Amru bin ‘Ash (ra) bisa memperkirakan bahwa pasukan beliau tidak cukup untuk menaklukkan benteng Babilon atau mengepungnya. Beliau mengirimkan surat ke Madinah melalui seorang delegasi dan di dalamnya beliau mengemukakan situasi perjalanan ke Mesir, rincian benteng-benteng dan keperluan akan pasukan tambahan untuk menyerang mereka. Di sisi lain beliau mengumumkan kepada pasukan bahwa pasukan bantuan tidak lama lagi akan tiba. Setelah itu beliau melakukan serangan ke Ummu Dunain, mengepungnya dan mencegah pasokan makanan dan barang-barang keperluan pasukan.

Orang-orang Romawi di dalam benteng tidak berusaha untuk keluar karena mereka telah melihat kesudahan Arthabun di Bilbeis dan memahami bahwa berperang melawan orang-orang Arab di medan terbuka akan merugikan mereka. Meskipun demikian, para pasukan Romawi di Ummu Dunain terkadang keluar dan setelah pertempuran kecil yang sia-sia mereka kembali lagi. Ini berlangsung hingga berminggu-minggu.

Sementara itu, didapatkan informasi bahwa pasukan bantuan pertama telah diberangkatkan dari singgasana Khilafat dan tidak lama lagi akan tiba. Kabar ini semakin meningkatkan semangat dan kekuatan orang-orang Islam.

Hadhrat ‘Umar (ra) mengirimkan 4000 pasukan untuk membantu laskar Islam. Hadhrat ‘Umar (ra) menetapkan satu orang Amir bagi setiap seribu orang. Nama-nama para amir tersebut antara lain, Hadhrat Zubair bin ‘Awwam (ra), Hadhrat Miqdad bin al-’Aswad (ra), Hadhrat Ubadah bin Shamit (ra) dan Hadhrat Maslamah bin Mukhallad (ra). Menurut satu riwayat, yang menjadi Amir adalah Kharijah bin Hudzafah, bukan Hadhrat Maslamah bin Mukhallad.

Bersamaan dengan pengiriman bala bantuan ini, Hadhrat ‘Umar (ra) mengirim surat kepada Hadhrat ‘Amru bin al-’Ash (ra), “Kini ada 12.000 prajurit yang bersama Anda. Pasukan ini tidak akan dikalahkan meskipun kurang dari segi jumlah.”[9]

Panglima perang Romawi menyertakan kaum Kristen Qibti (Koptik) dan bergerak untuk melawan kaum Muslim. Terjadi pertempuran yang sengit antara kedua pasukan. Sebagai strategi, Hadhrat ‘Amru bin al-’Ash (ra) membagi pasukannya menjadi 3 bagian. Satu bagian beliau tempatkan di dekat Jabal Ahmar. Bagian kedua beliau tempatkan di dekat Umm Dunain di tepi sungai Nil, sementara bagian yang tersisa beliau bawa untuk berhadapan langsung dengan musuh. Di waktu terjadi pertempuran sengit antara kedua pasukan, pasukan Muslim yang bersembunyi di Jabal Ahmar pun keluar dan menyerang mereka dari belakang yang menyebabkan barisan pasukan musuh menjadi tercerai-berai dan mereka pun melarikan diri ke arah Umm Dunain. Di sana, pasukan kedua Muslim telah bersiap dan berupaya menghentikan mereka. Dengan demikian, pasukan Romawi menjadi tersudut diantara ketiga bagian pasukan Muslim, sehingga musuh pun mengalami kekalahan.

Terkait:   Riwayat ‘Utsman bin ‘Affan radhiyAllahu ta’ala ‘anhu (Seri-2)

Kemenangan-kemenangan lainnya: Terkait hal ini, pada berbagai tempat tertera bahwa setelah kemenangan di Umm Dunain, Hadhrat ‘Amru bin al-’Ash (ra) pertama meraih kemenangan di wilayah Fayum, dimana pemimpin di daerah tersebut terbunuh di dalam pertempuran lalu kaum Muslim berhadapan dengan pasukan Romawi di Ainusy Syams.

Sebelum ini, ada 8.000 prajurit Muslim yang datang dibawah pimpinan Hadhrat Zubair bin Awwam (ra) sebagai bala bantuan kepada Hadhrat ‘Amru bin al-’Ash (ra), yang di dalamnya pun terdapat Hadhrat Ubadah bin Samit (ra), Hadhrat Miqdad bin al-’Ashwad (ra) dan Maslamah bin Mukhallad (ra). Di pertempuran ini pun kaum Muslim meraih kemenangan. Setelah ini, kaum Muslim mendapatkan kemenangan di seluruh wilayah Fayum. Satu bagian pasukan Muslim telah meraih kemenangan di dua kota di wilayah Manufiyah yaitu Itsrib dan Manuf.

Mengenai pertempuran di Benteng Babilon atau kemenangan di Fustat, tertera bahwa setelah kemenangan di Umm Dunain, Hadhrat ‘Amru bin al-’Ash (ra) bergerak menuju Benteng Babilon dan beliau mengepungnya dengan dahsyat. Sekarang daerah tersebut bernama Fustat. Sebab penamaannya adalah, di dalam Bahasa Arab, kemah disebut dengan Fustat. Setelah menaklukkan benteng, tatkala Hadhrat ‘Amru bin al-’Ash (ra) memerintahkan untuk kembali dari sana, secara kebetulan ada satu merpati yang membuat sarang di kemah Hadhrat ‘Amru bin al-’Ash (ra). Tatkala beliau memandangnya, beliau memerintahkan agar membiarkan kemah beliau di sana. Kemudian, saat Hadhrat ‘Amru kembali dari Iskandariyah, beliau membuka permukiman di dekat kemah tersebut sehingga kota itu pun menjadi masyhur dengan nama Fustat.[10]

Perkiraan jumlah pasukan [Romawi] yang menjaga benteng tersebut adalah antara 5.000 hingga 6.000 (lima ribu hingga enam ribu) dan mereka bersenjata penuh. Hadhrat ‘Amru pun mulai mengepung Benteng Babilon. Ini adalah benteng yang sangat kokoh setelah Iskandariyah, dan dibangun secara permanen, dan di segala penjuru dikelilingi oleh sungai Nil. Karena benteng ini terletak di sungai Nil, dan perahu-perahu besar dapat ditambatkan di gerbang benteng ini sehingga ini adalah tempat yang sangat tepat untuk kebutuhan-kebutuhan kerajaan.

Saat itu bangsa Arab tidak memiliki persenjataan-persenjataan yang dibutuhkan untuk menyerang benteng yang kokoh tersebut. Mereka tidak siap untuk hal tersebut. Adapun Hadhrat ‘Amru semenjak sebelumnya telah melakukan persiapan-persiapan untuk mengepungnya. Muqauqis yang merupakan pemimpin Mesir saat itu, telah tiba di benteng sebelum Hadhrat ‘Amru bin al-’Ash dan ia tengah mempersiapkan pertempuran.

Hadhrat Zubair (ra) menunggangi kuda lalu mengelilingi parit di keempat penjurunya dan beliau menempatkan prajurit infantri dan berkuda dalam jumlah cukup di mana saja tempat yang dibutuhkan. Pengepungan ini berlangsung terus-menerus hingga 7 bulan lamanya tanpa ada yang kalah maupun pemenang. Saat itu terkadang prajurit Romawi keluar dari benteng dan bertempur, namun lantas kembali lagi.

Di masa itu Muqauqis terus mengirimkan utusan-utusannya kepada Hadhrat ‘Amru bin al-’Ash (ra) untuk mencari kesepakatan damai ataupun untuk menakut-nakuti. Hadhrat ‘Amru bin al-’Ash (ra) mengutus Hadhrat Ubadah bin Samit (ra) dan menetapkan hanya tiga syarat yaitu berdamai, yakni terimalah Islam, berilah jizyah, atau akan ada pertempuran. Beliau menyampaikan bahwa tidak akan ada perdamaian selain pada ketiga hal itu.

Muqauqis setuju untuk memberi jizyah, dan dalam hal ini ia menghadap sendiri kepada Heraklius untuk meminta izin membayar jizyah namun Heraklius menolaknya, bahkan Heraklius sangat marah kepada Muqauqis dan menghukumnya dengan mengasingkan Muqauqis dari negerinya sendiri.[11]

Ketika penaklukan Benteng Babilon ini tampak akan memakan waktu lama, maka Hadhrat Zubair bin Awwam (ra) berkata, “Kini saya akan pergi mempersembahkan jiwa saya di jalan Allah. Saya berharap semoga melalui ini Allah Ta’ala menganugerahkan kemenangan kepada kaum Muslim.” Seraya berkata demikian, beliau menggenggam pedang terhunus, menaiki tangga dan tiba di atas dinding benteng.[12]

Beberapa sahabat lainnya pun menemani beliau dan tiba diatas benteng lalu memekikkan seruan yang lalu diikuti oleh segenap pasukan sehingga ketakutan menyebar di seluruh benteng. Kaum Kristen beranggapan bahwa pasukan Muslim telah menyusup ke dalam benteng. Mereka menjadi gentar dan berlari menyelamatkan diri. Hadhrat Zubair (ra) lalu menuruni dinding benteng dan membuka gerbang benteng sehingga segenap pasukan pun masuk. Kaum Muslim terus bertempur hingga menaklukkan benteng. Hadhrat ‘Amru bin al-’Ash (ra) memberi perlindungan kepada mereka dengan syarat bahwa para tentara Romawi harus keluar dengan membawa serta perbekalan mereka dalam beberapa hari, dan [penghuni benteng] tidak diperkenankan menyentuh perbendaharaan serta peralatan perang yang ada di dalam Benteng Babilon, karena merupakan harta ghanimah kaum Muslim. Setelah itu, Hadhrat ‘Amru bin al-’Ash merubuhkan gapura-gapura besar dan dinding-dinding kokoh benteng Babilon. Setelah penaklukkan Benteng Babilon, pasukan Islam meraih kemenangan-kemenangan di berbagai daerah dan benteng di Mesir, diantaranya yang utama adalah Tarnut, Naqius, Sultes, Karyun, dan lain sebagainya.

Mengenai bagaimana terjadinya penaklukkan Iskandariyah (Alexandria atau Aleksandria), tertulis, “Setelah kemenangan di Fustat, Hadhrat ‘Umar pun menyetujui untuk menaklukkan Iskandariyah. Terjadi satu pertempuran sengit dengan tentara Romawi di tempat bernama Karyun yang berada diantara Iskandariyah dan Fustat, yang lalu dimenangi oleh kaum Muslim. Setelah ini, pasukan romawi tidak lagi bergerak maju ke Iskandariyah.

Saat itu Muqauqis ingin berdamai dan memberi jizyah, namun bangsa Romawi menekannya sehingga menyebabkan Muqauqis harus menyampaikan pesan ke Hadhrat ‘Amru bin al-’Ash (ra) bahwa ia bersama bangsa Qibti (Koptik) dan kaumnya tidak ikut campur dalam peperangan tersebut dan memohon agar kaum Muslim tidak menimpakan kesulitan kepadanya. Sebenarnya kaum Qibti tidak ikut campur di peperangan ini, bahkan mereka berpihak pada pasukan Islam sehingga jalan bagi umat Islam pun menjadi mudah dan jembatan pun dapat diperbaiki. Di masa pengepungan Iskandariyah pun orang-orang Qibti terus memenuhi kebutuhan pangan kepada kaum Muslim.

Kedudukan penting Iskandariyah dapat diketahui dari hal tatkala kaum Muslim telah berhasil memenangi Iskandariyah, kota itu berperan sebagai ibukota. Ia dianggap sebagai kota terbesar kedua di dalam kekaisaran Romawi Bizantium setelah Konstantinopel. Selain itu, ia berperan sebagai kota perdagangan internasional pertama. Kekaisaran Bizantium sangat memaklumi bahwa seandainya kota tersebut ditaklukkan oleh kaum Muslim, akibat yang akan ditimbulkan sangat berbahaya. Di dalam kekhawatiran seperti ini, Heraklius bahkan mengatakan, “Jika bangsa Arab menaklukkan Iskandariyah, bangsa Romawi akan hancur.”[13] Untuk bertempur melawan pasukan Muslim, Heraklius sendirilah yang mempersiapkannya, namun di tengah upayanya itu ia meninggal dunia, dan putranya, Konstantin, menjadi kaisar. Iskandariyah, dari kekokohan bentengnya, keluasan kotanya dan banyaknya tentara yang menjaganya, menjadikannya memiliki kedudukan tertentu dari segi pertahanan. Pengepungan Iskandariyah berlangsung hingga 9 bulan.

Hadhrat ‘Umar (ra) merasa cemas dan menuliskan surat bahwa mungkin mereka telah tinggal dan tengah bersenang-senang di sana, karena untuk kemenangan hendaknya tidak menunggu waktu lama. Di dalam surat ini Hadhrat ‘Umar pun bersabda agar menyampaikan ceramah jihad di hadapan umat Muslim lalu bertempur melawan mereka.

Setelah memperdengarkan isi surat dari Hadhrat ‘Umar (ra) ini, Hadhrat ‘Amru bin al-’Ash (ra) memanggil Hadhrat Ubadah bin Samit (ra) dan menyerahkan panji perang kepadanya. Kaum Muslim bertempur dengan sangat dahsyat dan berhasil menaklukkan kota. Di waktu itulah Hadhrat ‘Amru memberangkatkan satu utusan menuju Madinah dan berkata kepadanya, “Pergilah secepat yang Anda bisa dan sampaikanlah berita gembira ini ke hadapan Amirul Mukminin.” Utusan itu lantas menunggangi unta dan melalui berbagai tempat hingga akhirnya tiba di kota Madinah.

Karena saat itu waktu siang dan beranggapan ini adalah waktu istirahat, maka sebelum ia menghadap ke mahkamah Khilafat, ia pergi menuju Masjid Nabawi. Secara kebetulan khadimah (pembantu perempuan) Hadhrat ‘Umar (ra) keluar dari sana dan bertanya, “Siapa Anda dan datang dari mana?”

Utusan itu menjawab, “Saya datang dari Iskandariyah.” Saat itu pula khadimah tersebut menyampaikan kepada Hadhrat ‘Umar dan kembali lagi seraya berkata, “Ayo kemari, Hadhrat Amirul Mukminin memanggil Anda.”

Hadhrat ‘Umar tanpa menunggu lama segera beranjak menemuinya dan mengambil selendangnya, lalu seketika utusan itu pun tiba. Mendengar berita kemenangan, Hadhrat ‘Umar (ra) lantas jatuh bersujud diatas tanah dan memanjatkan syukur.[14]

Beliau berdiri dan menuju ke Masjid lalu memerintahkan seruan “ashshalatul jaami’ah”. Mendengarnya segenap penduduk Madinah berdatangan. Utusan itu lalu menyampaikan rincian peristiwa kemenangan ke hadapan segenap orang. Setelah itu utusan tersebut pergi bersama Hadhrat ‘Umar (ra) ke rumah beliau dan beliau menyuguhkan hidangan kepadanya. Hadhrat ‘Umar (ra) bertanya kepada utusan itu, “Kenapa Anda tidak langsung datang menemui saya?”

Ia berkata, “Saya berpikir Hudhur tengah beristirahat.”

Hadhrat ‘Umar (ra) bersabda, “Kenapa Anda beranggapan demikian mengenai saya? Jika saya tidur di siang hari, siapakah yang akan memikul amanat Khilafat ini?”[15]

Dengan terjadinya penaklukkan Iskandariyah, seluruh Mesir pun menjadi takluk. Banyak sekali yang ditawan dari berbagai pertempuran yang terjadi. Terkait semua tawanan ini, Hadhrat ‘Umar (ra) memerintahkan kepada Hadhrat ‘Amru (ra) melalui surat, “Panggillah semuanya dan sampaikan bahwa mereka dapat memilih apakah menjadi Muslim atau tetap pada agama mereka. Jika mereka memeluk Islam, maka mereka akan mendapatkan segenap hak seperti halnya yang didapat oleh orang Muslim. Jika tidak, mereka harus memberi jizyah (yaitu yang diambil dari segenap warga dzimmi).”

Tatkala sabda Hadhrat ‘Umar (ra) ini dibacakan di hadapan para tawanan, maka banyak sekali tawanan yang menerima Islam dan banyak juga yang tetap pada agama mereka. Jika ada menyatakan memeluk Islam, kaum Muslim lantas menyerukan Allahu Akbar; dan apabila ada yang tetap pada agama Kristen, maka segenap kaum Kristen menyerukan selamat kepadanya, dan kaum Muslim pun menjadi bersedih.

Terkait peristiwa pembakaran perpustakaan Iskandariyah, para orientalis menyampaikan dengan sangat berlebihan. Apakah hakikat yang terjadi sebenarnya?

Akibat penaklukan Iskandariyah ini, para penentang terutama para penulis Kristen menyampaikan satu keberatan, bahwa Hadhrat ‘Umar (ra) telah memerintahkan untuk membakar satu perpustakaan yang sangat besar di Iskandariyah. Melalui keberatan ini, mereka seolah tengah berupaya menyebarkan pengaruh bahwa betapa kaum Muslim na’udzubillah sangat menentang ilmu pengetahuan dan akal sehingga perpustakaan yang sedemikian besar di Iskandariyah pun telah ia bakar, bahkan apinya tidak kunjung padam hingga 6 bulan.

Keberatan ini baik dari segi akal maupun riwayat sama sekali adalah hal yang dibuat-buat semata, karena kepada kaum yang Tuhan dan Rasul mereka (saw) telah bersabda, طلبُ العِلمِ فريضةٌ على كلِّ مسلمٍ ‘thalabul ‘ilmi faridhatun ‘ala kulli Muslimin’ yang artinya ‘menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap Muslim’, dan yang kepada mereka telah diperintahkan اطلُبوا العِلمَ ولو بالصِّينِ ‘uthlubul ‘ilma walau bish shiin’ yang artinya ‘tuntutlah ilmu meskipun harus ke negeri Tiongkok’, dan Al-Quran suci yang di dalam banyak ayat dan perintahnya telah memerintahkan kepada mereka untuk menggunakan ilmu, akal, bertafakur dan bertadabur, maka keberatan yang dialamatkan kepada mereka bahwa mereka membakar perpustakaan adalah bertentangan dengan akal dan asas-asas dirayat [mata rantai penceritaan sesuatu berita].[16]

Selain itu banyak sekali para peneliti – yang diantaranya pun ada pemeluk Kristen dan bangsa Eropa – dimana mereka menolak tuduhan tersebut, dan membuktikan bahwa kisah pembakaran perpustakaan Iskandariyah oleh kaum Muslim hanyalah suatu kisah yang dibuat-buat semata.

Oleh karena itu seorang ilmuwan dari Mesir, bernama Muhammad Ridha (محمد رضا), di dalam bukunya mengenai Sirah (biografi) ’Umar al-Faruq (عمر بن الخطاب الفاروق), terkait peristiwa ini ia menuliskan, “Tuduhan pembakaran di perpustakaan Iskandariyah bersumber dari apa yang tertulis oleh Abul Faraj Malati (أبو الفرج الملطي). Ia menuliskan peristiwa ini di dalam satu buku sejarah yaitu Mukhtasar ad-Duwal (تاريخ مختصر الدول). Sejarawan Abu al-Faraj ini lahir di tahun 1226 Masehi dan meninggal di tahun 1286 Masehi.[17] Ia menulis, ‘Pada waktu kemenangan, seorang pendeta Qibti (Koptik) bernama Yohana An-Nahwi (يوحنا النحوي) [Joannes Philoponus, Yahya sang ahli bahasa] – yang di antara orang Muslim terkenal dengan nama Yahya an-Nahwi, ia beragama Kristen dan berasal dari golongan Ya’qubiyah (Yacobite), dan selanjutnya ia bertaubat (berhenti) dari akidah trinitas Kristen – ia meminta buku-buku hikmah yang tersimpan di khazanah negara kepada Hadhrat ‘Amru bin al-’Ash. Hadhrat ‘Amru bin al-’Ash menjawab, “Setelah Hadhrat ‘Umar memberikan izin, barulah saya dapat menyampaikan jawabannya.”’” (Ini sungguh merupakan satu kisah palsu, namun saya tetap menyampaikan ini untuk menyanggah keberatan tersebut).

“’Hadhrat ‘Umar (ra) menulis surat balasan, “Mengenai buku-buku yang telah Anda sebutkan, jika kandungannya bersesuaian dengan Kitab Allah Ta’ala maka apapun yang ada di dalam Kitab Allah Ta’ala, hal itu sudah cukup bagi kita, dan kita tidak memerlukan lagi buku-buku Hikmah tersebut. Apabila kandungan buku-buku Hikmah tersebut bertentangan dengan Kitab Allah Ta’ala, maka kita tidak memerlukan buku-buku tersebut. Oleh karena itu, buanglah saja buku-buku tersebut.”

Hadhrat ‘Amru bin al-’Ash lantas memilih buku-buku tersebut dan membakar semuanya di dalam tempat pembakaran, dan dengan demikian semua buku tersebut musnah dalam waktu 6 bulan.’[18]

Riwayat ini tidak terdapat baik di dalam Tarikh ath-Thabari, Ibnu Atsir, al-Ya’qubi, al-Kindi, Ibni Abdul Hakam, al-Baladuri dan juga Ibnu Khaldun. Hanya Abul Faraj-lah yang pada pertengahan abad ke-13 Masehi, atau di awal abad ke-7 Hijriyyah menuliskannya tanpa menyebutkan sumber [rujukan atau referensi sanad]nya.

Professor Butler melakukan penelitian terkait Yohana An-Nahwi, dan menulis bahwa ia tidak hidup pada tahun 642 Masehi (tahun dimana terjadi kebakaran di perpustakaan tersebut). Ensiklopedia Britannica menyebutkan, bahwa Yohana An-Nahwi hidup sejak akhir abad ke-5 hingga awal abad ke-6.[19] Diketahui bahwa Mesir telah ditaklukkan di awal abad ke-7. Atas dasar ini, Professor Butler telah mengatakan secara benar, bahwa ia [Yohana] telah wafat di waktu tersebut.” [20] (Jadi, terkait sosok yang disebutkan di sini, ia justru telah wafat jauh sebelumnya dari peristiwa yang tengah dibahas walaupun dengan corak yang salah ini [yaitu pembakaran perpustakaan]).

Dr. Hasan Ibrahim Hasan (الدكتور حسن إبراهيم حسن) menuliskan di dalam risalahnya, Tarikh Amru bin al-Ash (تاريخ عمرو بن العاص), “Berdasarkan sanad dari Professor Ismail, di waktu itu, perpustakaan Iskandariyah sudah tidak ada lagi; karena saat itu, sebagian besar dari perpustakaan tersebut telah dibakar oleh laskar Julius Caesar tanpa suatu maksud dan alasan tertentu. Bagian keduanya [sisanya] pun telah musnah seperti itu juga di masa tersebut. Adapun peristiwa kedua ini terjadi di abad ke-4 Masehi atas perintah Pendeta (Bishop) Theofilus.”[21]

Professor Butler menulis, “Cerita dari Abul Faraj ini dari segi sejarah sama sekali tidak mendasar dan menjadi bahan tertawaan. Jika ia memang dibakar, ia dapat dibakar dalam cukup satu waktu saja. Apabila ia dibakar dalam waktu enam (6) bulan lamanya, maka banyak dari benda bersejarah itu yang dapat dicuri [masih bisa diselamatkan atau dipindahkan]. Pada bangsa Arab tidak masyhur bahwa mereka kerap menghancurkan sesuatu.” [22]

Gibbon menulis, “Ajaran-ajaran Islam bertentangan dengan riwayat seperti itu. Yaitu, Islam mengajarkan tidak boleh membakar kitab-kitab kaum Yahudi dan Kristen yang didapat dari perang; dan terkait buku-buku filsafat, syair-syair dan buku-buku keilmuan lainnya selain buku agama, Islam menetapkan bahwa mengambil manfaat darinya adalah diperbolehkan.”[23]

Kaum Muslim yang kepada mereka telah diperintahkan untuk tidak mengganggu gereja-gereja beserta benda-benda mereka di wilayah yang telah ditaklukkan, dan bahkan mengizinkan kebebasan beragama kepada kaum dzimmi, maka akal sehat apakah yang dapat menerima bahwa Hadhrat Amirul Mukminin memerintahkan untuk membakar perpustakaan Iskandariyah?

Hadhrat Khalifatul Masih pertama (ra) dalam bukunya berjudul Tasdiiq Barahin Ahmadiyah (تصدیق براہین احمدیہ) menyinggung keberatan tersebut dan menjawabnya, beliau bersabda, “Para penentang Islam mengatakan bahwa atas permintaan seorang tabib dan ahli kebijaksanaan bernama Filoponus (Joannes Philoponus atau Yahya an-Nahwi) kepada ‘Amru yang merupakan komandan pasukan Muslim sehingga ‘Amru menanyakan kepada Amirul Mu-minin ‘Umar, Khalifah kedua, berkenaan dengan perpustakaan tersebut. Sang Khalifah menulis, ‘Bakarlah segera!’

Area itu terus panas karena api selama 6 bulan.”

Beliau (ra), “Ini pendapat orang. Keberatan ini sebagai hasil dari ketidaktahuan para pendeta, di dalamnya tidak ada kebenaran.” Hadhrat Khalifah Awwal (ra) bersabda, “Silahkan hadirin renungkan! Pertama, jika perbuatan demikian [membakar buku-buku agama atau golongan lain] terdapat dalam kebiasaan orang-orang Islam, maka Khalifah ‘Umar (ra) pada masa kekhalifahannya pasti akan membakar buku-buku yang disucikan oleh orang-orang Yahudi dan Kristen, karena kedua agama tersebut adalah lawan bicara pertama Islam yang disebut sebagai Ahli Kitab. Selanjutnya Islam berkuasa penuh atas orang-orang Majusi namun sejarah tidak menyebutkan bahwa Islam telah membakar kitab-kitab mereka. Jika perbuatan tersebut merupakan noda Islam atau khalifah Islam, maka penyebab perbuatan tersebut pastinya selalu ada dalam Islam dan tidak ada larangan dalam Islam untuk melakukannya.

Kedua, jika membakar buku-buku keagamaan identik dengan perbuatan penguasa-penguasa Islam dan umatnya, maka tidak mungkin di kalangan umat Islam akan ada terjemahan dalam Bahasa Arab dari filsafat, pertabiban dan keilmuan Yunani.

Ketiga, jika orang-orang Islam berupaya untuk membakar buku-buku, sudah barang tentu penulis buku Takdzib Barahin Ahmadiyah (Pengingkaran terhadap buku Barahin Ahmadiyah) akan memberikan permisalan (peristiwa pembakaran) dari negerinya sendiri, bukannya jauh-jauh menyebrangi samudera mencari contoh ke Iskandariyah. Buku apa yang telah dibakar di Hindustan ini?

Keempat, Islam telah memerintah lebih dari 700 tahun di Hindustan namun selama masa itu tidak terdengar sedikit pun selentingan peristiwa pembakaran terhadap kitab-kitab seperti Bhagawata, Ramayana, Gita, Mahabharata, Lingga Purana dan Markandeya serta kitab-kitab terkenal yang sampai saat ini diyakini sebagai kitab agama dan Pustaka suci. Melainkan yang terjadi adalah penerjemahan sebagian kitab-kitab tersebut [di masa kekuasaan penguasa Muslim].[24] Sungguh mengherankan, bagaimana orang-orang Hindu itu meyakini bahwa umat Islam telah membakar Pustaka-Pustaka yang disucikan itu. Silahkan renungkan dengan adil.”

Terkait:   Riwayat ‘Umar Bin Al-Khaththab (5)

Dalam menjawab keberatan tersebut, Hadhrat Maulana Abdul Karim Sahib (ra) menulis sebuah catatan yang mana tercantum dalam buku Tashdiq Barahin Ahmadiyah. Beliau menulis, “Meskipun tuduhan tersebut telah dilontarkan kepada umat Islam padahal sampai saat itu kejadian tersebut belum diselidiki dan fakta sebenarnya masih belum jelas namun diantara para cendekiawan yang bertabiat adil dan condong dengan kebenaran, sedikit sekali yang melontarkan tuduhan tersebut kepada umat Islam. Penyebab adanya tuduhan ini kebanyakan adalah fanatisme atau ketidaktahuan, bahkan sejak semula, dimana para pelontar keberatan ini tidak memiliki bukti yakni dua sejarawan yang meriwayatkan kejadian tersebut notabene lahir 580 tahun setelah berlalu kejadian itu.[25]

Sint Karaiy yang telah menulis banyak sekali buku dalam penyelidikannya terhadap perpustakaan Iskandariyah sama sekali mendustakan riwayat tersebut dan ternyata kitab-kitab tersebut terbakar pada peperangan Yulius Kaesar sebagaimana Plutarch telah menulis Riwayat hidup Yulius Kaesar, ‘Karena khawatir akan beralih ke tangan musuh, Kaisar Yulius telah membakar kapal-kapalnya dan apinya membesar hingga menghanguskan perpustakaan besar Iskandariyah yang masyhur.’”[26]

Dalam buku karyanya berjudul Dictionary of Dates relating to all ages, dimana Haydn mencantumkan riwayat keliru tersebut, di dalamnya ia menulis catatan berikut sebagai hasil dari penelitiannya, “Kisah ini sama sekali meragukan. Ucapan Hadhrat ‘Umar yang mengatakan, ‘Jika buku-buku ini bertentangan dengan Kitab Tuhan, maka harus dibakar’, tidak diakui oleh umat Islam. Sebagian orang menghubungkan ucapan semacam itu kepada Theofilus, Bishop Iskandariyah yang terjadi pada tahun 391 Masehi. Sebagian lagi mengaitkan ucapan itu dengan Kardinal Ximenes (baca: Jimenez) pada tahun 1500.” [27]

Dia kemudian menulis, “Doktor kita yang terkenal, sang pemuda Doktor Leitner (Dr. Gottlieb Wilhelm Leitner) dalam kitabnya Sininul Islam (Sinin-i-Islam) meniru Riwayat palsu tersebut dan sayangnya diketahui bahwa Tuan Doktor telah terkecoh dalam penelitiannya.”

John William Draper dalam buku yang masyhur telah mengutip ucapan tersebut dari para periwayat palsu namun di kemudian hari ia mengakui kekeliruan ucapan tersebut. Ia menulis, “Pada hakikatnya buku-buku tersebut telah terbakar pada peperangan Julius Caesar (Yulius Kaesar).”[28] Sekarang dapat dikatakan secara yakin ucapan tersebut sama sekali tidak berdasar dan hanya dongeng.

Adapun kejadian yang sebenarnya patut disesalkan adalah Kardinal fanatik bernama Ximenes telah memerintahkan pembakaran 80 ribu buah buku berbahasa Arab di lapangan Garnada.”

Ketika Spanyol dirampas dari umat Islam mereka membakar 80 ribu buah buku dari perpustakaan Garnatah yang dikuasai oleh orang-orang Kristen. Inilah sebenarnya yang patut ditangisi, bukan melontarkan tuduhan kepada Islam.

Silahkan baca buku berjudul “History of the Conflict between religion and science” – “Sejarah Pertentangan antara agama dan ilmu pengetahuan”, didalamnya tertulis rujukan tersebut. Demikianlah tuduhan pembakaran perpustakaan yang dilontarkan kepada Islam.

Berkenaan dengan penaklukan Barqah, Tarabulus (Tripoli, Libya sekarang) dan lain-lain, setelah Amru Bin al-’Ash menaklukan Mesir dan tegaknya kedamaian keamanan di sana, beliau bergerak ke sebelah barat supaya dari sana tidak tersisa lagi resiko bahaya untuk daerahdaerah taklukan. Karena di Barqah ada tentara Romawi yang berada dibalik benteng dan ketika mendapatkan kesempatan, dengan memprovokasi orang-orang, mereka dapat menyerang umat Islam di Mesir. Daerah yang berada di antara Iskandariyah dan Marakish disebut dengan Barqah. Di daerah tersebut terdapat banyak kota dan kampung. Karena itu, pada tahun 22 Hijriah, Amru Bin al-’Ash bergerak ke Barqah dengan membawa pasukan. Jalan yang menuju Barqah dari Iskandariyah sangat hijau, subur dan rindang sehingga dalam perjalanan kesana beliau tidak terpaksa harus menghadapi serangan musuh. Setelah sampai di sana, orang-orang bersedia untuk damai dengan membayar jizyah. Setelah itu warga Barqah dengan sendirinya pergi ke Gubernur Mesir dan mengumpulkan Kharaj (pajak), sehingga dari pihak Muslim tidak perlu lagi untuk pergi kepada mereka. Mereka adalah orang-orang yang paling sederhana di Maghrib (Barat), tidak ada kekisruhan di sana.

Ketika Amru Bin al-’Ash keluar dari sana, beliau pergi menuju Tarabulus (Tripoli, Libya sekarang) yang merupakan kota yang memiliki benteng yang aman dan kokoh. Di dalamnya dihuni pasukan Romawi dalam jumlah yang sangat banyak. Setelah mendapatkan kabar kedatangan pasukan Muslim, ia menutup gerbang benteng dan terpaksa bertahan dari kepungan pasukan Muslim. Pengepungan tersebut berlangsung hinggal 1 bulan. Namun pasukan Muslim tidak mendapatkan keberhasilan seperti yang diharapkan. Pada bagian belakang Tarabulus mengalir lautan yang terhubung dengan kota dan diantara laut dan kota tidak terdapat benteng pelindung. Satu kelompok Muslim mengetahui rahasia ini lalu memasuki kota dari arah belakang dari arah lautan. Mereka meneriakkan takbir dengan keras dan sekarang tidak ada jalan lain selain dari berlindung dengan memajukan perahu-perahunya ke depan pasukan. Seketika pasukan musuh melarikan diri ke belakang dan Amru Bin al-’Ash menyerangnya dari arah belakang. Kebanyakan mereka ditawan, kecuali mereka yang berhasil kabur turun dari perahunya. Barang-barang dan aset yang ada di kota dikuasai oleh Pasukan Muslim sebagai harta ghanimah.

Setelah Amru Bin al-’Ash berhasil menguasai Tarabulus, beliau menyebarkan pasukannya di sekitarnya. Beliau bermaksud untuk bergerak ke arah Tunis dan Afrika setelah menyelesaikan penaklukan-penaklukan di Barat. Untuk misi tersebut beliau menulis kepada Hadhrat ‘Umar (ra), namun Hadhrat ‘Umar (ra) masih enggan untuk mengutus pasukan Islam ke misi yang baru dan khususnya dalam keadaan di mana disebabkan oleh penaklukan dari Syam hingga ke Tarabulus, pihak daerah-daerah taklukan masih belum tenang benar sehingga Hadhrat ‘Umar (ra) memerintahkan laskar Islam untuk tetap tinggal di Tarabulus.

 Pada masa kekhalifahan Hadhrat ‘Umar al-Faruq (ra) jangkauan pemerintahan Islam mulai menyentuh perbatasan perbatasan daerah-daerah yang sangat jauh. Pemerintahan Islam muncul pada peta dunia dalam bentuk satu nagara internasional dengan jangkauan dari mulai sungai Jehun dan sungai Sindh di timur hingga gurun-gurun di Afrika di sebelah barat. Juga dari mulai pegunungan Asia kecil dan Armenia di utara hingga Bahrul Kahil dan Nobah di selatan. Nobah merupakan daerah di sebelah selatan Mesir yang sangat luas yang didalamnya hidup berbagai bangsa, agama, golongan, kebudayaan dan peradaban yakni daerah daerah yang terdapat di Mesir yang berada dibawah kekuasaan pemerintahan Islam semuanya mengarungi kehidupan yang damai dan tenteram dalam naungan Islam yang berperikeadilan dan penuh kasih sayang. Adalah agama Islam yang meskipun menghadapi banyak sekali penentangan di dunia ini namun memberikan hak sepenuhnya terhadap para penentang dalam hal akidah, ibadah dan kebudayaan dan memperlakukan mereka dengan penuh hormat.

Bagaimana corak ibadah pasukan Muslim pada saat peperangan, dalam menjelaskan hal tersebut Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Segala sesuatu di dunia ini mengalami kemajuan tahap demi tahap. Pekerjaan-pekerjaan besar pun tidaklah berhasil seketika melainkan perlahan. Pada zaman Rasulullah (saw) pun tidak semua pasukan Muslim melakukan shalat tahajjud, secara perlahan ditanamkan kebiasaan dalam diri mereka hingga tiba masanya pada zaman Hadhrat ‘Umar (ra) dimana pada saat peperangan pasukan Muslim melaksanakannya. Terbukti bahwa Rasulullah (saw) pun terkadang meninggalkan shalat tahajjud. Mungkin saja Rasululah (saw) pada saat perang bangun untuk melaksanakan tahajjud, namun terbukti bahwa terkadang beliau tidak bangun. Namun, terbukti pada zaman Hadhrat ‘Umar (ra) yang mana pada saat perang pun pasukan Muslim tetap melaksanakan tahajjud hingga suatu ketika Heraclius bermaksud untuk melakukan serangan berdarah di malam hari, terjadilah perdebatan diantara mereka, akhirnya diputuskan untuk tidak menyerang di malam hari karena menyerang pasukan Muslim di malam hari tidak ada manfaatnya. Hal itu karena pasukan Muslim tidak tidur di malam hari, bahkan melakukan tahajjud. Ini pun merupakan tanda kemajuan yang tidak diperoleh pada masa awal Islam. Pada masa awal Islam, Rasulullah (saw) merasa perlu untuk menggencarkan dan mendorong bertahajjud namun pada masa setelah itu orang-orang yang tadinya lemah pun perlahan menjadi terbiasa bertahajjud.”

Dalam menjelaskan berkenaan peperangan yang terjadi pada zaman Khulafa-ur-Rasyidin, Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) ra bersabda, “Islam tidak hanya memerintahkan untuk menghadapi peperangan bahkan Islam pun memerintahkan untuk bertahan dari suatu keaniayaan [bersabar menerima keaniayaan] demi kemaslahatan. Maka dari itu, ketika terdapat izin dari Allah Ta’ala bahwa jika ada yang menamparmu, silahkan balas dengan tamparan lagi. Pada saat itu Dia pun mengatakan, jika membalas kamu anggap bertentangan dengan maslahat (kemanfaatan), maka diamlah dan jangan membalas tamparan dengan tamparan. Jadi, dalil yang pada umumnya disampaikan untuk membela tuduhan musuh yang dilontarkan kepada Hadhrat Abu Bakr (ra), Hadhrat ‘Umar (ra), Hadhrat ‘Utsman (ra) dari itu dapat diketahui bahwa Hadhrat Abu Bakr  (ra) tidaklah bersikap zalim, melainkan Kaisarlah yang berbuat zalim, Hadhrat ‘Umar (ra) tidaklah bersikap zalim, melainkan Kisra-lah yang berbuat zalim, Hadhrat ‘Utsman (ra) tidaklah bersikap zalim, melainkan suku-suku yang tinggal di Afghanistan dan Bukhara serta penduduk Kurdi dan lain-lainlah yang berbuat zalim.

Namun tidak ditemukan dalil, kenapa Hadhrat Abu Bakr  (ra) tidak memaafkan mereka, kenapa Hadhrat ‘Umar  (ra) tidak memaafkan mereka, kenapa Hadhrat ‘Utsman  (ra) tidak memaafkan mereka? Ketika berangkat untuk berperang, mereka bisa saja mengatakan kepada Kaisar bahwa pasukan Anda telah melakukan suatu pelanggaran, jika pemerintahanmu meminta maaf kepada kami perihal itu, maka kami akan maafkan. Namun jika tidak meminta maaf, kami akan memerangimu.

Mereka (tiga Khalifah awal yang memimpin umat Islam perang dengan bangsa non Islam) tidak mengatakan di depan Kaisar Romawi, ‘Pada suatu waktu kamu atau pasukanmu telah melakukan kezaliman, karena Islam mengajarkan untuk memaafkan musuh sehingga jika kamu meminta maaf, kami bersedia untuk memaafkan.’ Bukannya mengatakan demikian, justru ketika musuh berbuat zalim, kaum Muslim langsung membalasnya, kemudian pasukan Muslim menghadapi mereka dan melanjutkan peperangan.

Ketika pasukan Kisra menyerang perbatasan Iraq, setelah itu secara politik, benar-benar dibenarkan untuk terjadi peperangan antara para sahabat dan Kisra, namun secara akhlak bisa saja Hadhrat ‘Umar  (ra) mengatakan kepada Kisra, ‘Mungkin saja Anda tidak memerintahkan pasukan untuk menyerang, melainkan pasukan sendirilah yang melancarkan serangan sehingga kami bersedia untuk melupakan serangan ini dengan syarat Anda meminta maaf kepada kami dan menyesali perbuatan yang telah dilakukan.’

Begitu juga pada zamannya, Hadhrat ‘Utsman (ra) tidak mengatakan kepada musuh, ‘Kalian telah berbuat zalim, namun karena agama kami mengajarkan untuk memaafkan kezaliman sehingga kami memaafkan kalian.’ Bukannya mengatakan demikian, Hadhrat ‘Utsman membalas kezaliman itu dengan mengirimkan pasukan untuk menghadapi musuh. Beliau bertempur dan terus menghadapi mereka. Apa penyebab hal itu?”

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda: “Jika kita renungkan, kita dapat mengetahui penyebabnya tiada lain yaitu Hadhrat Abu Bakr (ra) mengetahui bahwa ketika bahaya eksternal (dari luar) berkurang, maka kekisruhan internal (di dalam) akan mulai terjadi. Beliau memahami bahwa bukan Kaisar yang menyerang, melainkan Tuhanlah yang menyerang supaya dengan perantaraan musibah dan kesusahan tersebut, umat Muslim dapat memusatkan perhatian pada ishlaah (perbaikan) diri dan menciptakan kehidupan dan revolusi baru. Hadhrat ‘Umar  (ra) paham bahwa bukan Kisra yang menyerang, melainkan Tuhanlah yang menyerang supaya jangan sampai umat Muslim larut didunia karena kemalasan dan kelalaian melainkan agar setiap saat terjaga dan waspada. Hadhrat ‘Utsman (ra) memahami bahwa bukan beberapa suku yang menyerang, melainkan Tuhanlah yang menyerang supaya umat Islam waspada dan dalam diri mereka terlahir ruh dan kehidupan baru.”

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) menjelaskan hal tersebut dalam satu khotbah beliau. Selaras dengan itu Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) menyampaikan nasihat kepada Jemaat, “Musibah datang sehingga kita terpaksa melewati kesulitan-kesulitan supaya kita meningkat dalam keruhanian. Jika pada hari ini kita ingin mengingat prinsip tersebut, maka ingatlah bahwa musibah dan segala kesulitan seharusnya mendekatkan kita kepada Allah Ta’ala dan inilah yang menjadi sarana untuk mendapatkan kemenangan. Jika kita malah merasa takut, tertinggal dan tidak menaruh perhatian pada ishlaah (perbaikan diri), maka kemajuan tidak akan mungkin diraih. Memang, ketika kita mengalami kemajuan dan musibah berakhir tetap saja kita harus tetap terjalin dengan Allah Ta’ala. Namun, pada saat ini khususnya pusat perhatian harus lebih tertuju kepada Allah Ta’ala dan menaruh perhatian pada kemajuan ruhani dan perbaikan ruhani.”

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) menulis, “Jika kita tidak memahami hal itu berarti tidak paham apapun dan inilah hal yang harus dipahami oleh setiap Ahmadi pada masa ini.”

     Khotbah II

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Penerjemah: Mln. Mahmud Ahmad Wardi, Syahid (London-UK), Mln. Hasyim dan Mln. Fazli ‘Umar Faruq. Editor: Dildaar Ahmad Dartono. Sumber referensi: www.alislam.org (website resmi Jemaat Ahmadiyah Internasional bahasa Inggris dan Urdu) dan www.Islamahmadiyya.net (website resmi Jemaat Ahmadiyah Internasional bahasa Arab).


[1] al-Faruq oleh Syibli Nu’mani bahasa Urdu (ماخوذ ازالفاروق از شبلی نعمانی ادارہ اسلامیات 2004ء).

[2] Tercantum juga dalam Al-Iktifa’ bima Tadhammanahu min Maghazi Rasulillah wa Ats-Tsalatsah Al-Khulafa’ (الاكتفاء، بما تضمنه من مغازي رسول الله والثلاثة الخلفاء) karya Abu Ar-Rabi’ Sulaiman bin Musa Al-Kala’i Al-Andalusi (لأبي الربيع سليمان بن موسى الكلاعي الأندلسي (565-634هـ)): من عمر بن الخطاب إلى عمرو بن العاص، أما بعد، فإنك سرت إلى مصر بمن معك، و بها جموع الروم، و إنما معك نفر يسير، و لعمرى لو كانوا ثكل أمك ما سرت بهم، فإن لم تكن بلغت مصر فارجع . Tercantum juga dalam Futuh Mishr (فتوح مصر وأخبارها وفتح إفريقية والمغرب والأندلس) karya ‘Abdur Rahman bin ‘Abdul Hakam al-Qurasyi al-Mishri (عبد الرحمن بن عبد الحكم/القرشي المصري)

[3] Fashlul Khithab fi Sirah Amiril Mu-minin ‘Umar ibnil Khaththab, syakhshiyatuhu wa ‘ashruhu karya Ali Muhammad Muhammad Ash Shalabi (فصل الخطاب في سيرة امير المؤمنين عمر بن الخطاب شخصيته وعصره بقلم علي محمد محمد الصلابي), bahasan kedua: penaklukan Mesir dan Libya (المبحث الثاني: فتوحات مصر وليبيا), pertama, perjalanan ke Mesir (اولا: مسير الفتح الاسلامي لمصر), Penaklukan Farma (فتح الفرما). Nama yang sering tertulis di buku dan media adalahAli Muhammad Ash Shalabi, Ali Ash Shalabi,Ali Sallaby, Ali Salabi, atau Muhammad Ash Shalabi. Dalam ejaan Bahasa Inggris, biasa ditulis Ali Salaby. Tokoh pergerakan dan ulama Islam ini dilahirkan di Benghazi, Libya pada tahun 1963 Masehi. Benghazi adalah kota kedua terbesar di Libya setelah Tripoli. Sekarang ia tinggal di Qatar.

[4] Fashlul Khithab fi Sirah Amiril Mu-minin ‘Umar ibnil Khaththab, syakhshiyatuhu wa ‘ashruhu karya Ali Muhammad Muhammad Ash Shalabi (فصل الخطاب في سيرة امير المؤمنين عمر بن الخطاب شخصيته وعصره بقلم علي محمد محمد الصلابي) bahasan kedua: penaklukan Mesir dan Libya (المبحث الثاني: فتوحات مصر وليبيا), pertama, perjalanan ke Mesir (اولا: مسير الفتح الاسلامي لمصر), Penaklukan Farma (فتح الفرما).

[5] Fashlul Khithab fi Sirah Amiril Mu-minin ‘Umar ibnil Khaththab, syakhshiyatuhu wa ‘ashruhu karya Ali Muhammad Muhammad Ash Shalabi (فصل الخطاب في سيرة امير المؤمنين عمر بن الخطاب شخصيته وعصره بقلم علي محمد محمد الصلابي) bahasan kedua: penaklukan Mesir dan Libya (المبحث الثاني: فتوحات مصر وليبيا), pertama, perjalanan ke Mesir (اولا: مسير الفتح الاسلامي لمصر), Penaklukan Belbeis (فتح بلبيس). Muslim (صحيح مسلم), Kitab Fadhailish Shahabah (كتاب فضائل الصحابة), bab Washiyyatin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bi-ahli Mishr (باب وصية النبي صلى الله عليه وسلم بأهل مصر) , nomor 4743. Syarh an-Nawawi ‘ala Muslim (شرح النووي على مسلم), Kitab Fadhailish Shahabah (كتاب فضائل الصحابة رضي الله تعالى عنهم), bab Washiyyatin Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bi-ahli Mishr (باب وصية النبي صلى الله عليه وسلم بأهل مصر): [ ص: 76 ] قوله صلى الله عليه وسلم : ( ستفتحون أرضا يذكر فيها القيراط ، فاستوصوا بأهلها خيرا ; فإن لهم ذمة ورحما ، فإذا رأيت رجلين يقتتلان في موضع لبنة فاخرج منها قال : فمر بربيعة وعبد الرحمن ابني شرحبيل بن حسنة يتنازعان في موضع لبنة ، فخرج منها ) وفي رواية : ( ستفتحون مصر ، وهي أرض يسمى فيها القيراط وفيها : فإن لهم ذمة ورحما أو قال : ذمة وصهرا ) قال العلماء : القيراط جزء من أجزاء الدينار والدرهم وغيرهما ، وكان أهل مصر يكثرون من استعماله والتكلم به . وأما الذمة فهي الحرمة والحق ، وهي هنا بمعنى الذمام . وأما الرحم فلكون هاجر أم إسماعيل منهم ، وأما الصهر فلكون مارية أم إبراهيم منهم . Pengertian, “karena mereka memiliki jaminan perlindungan dan hubungan kekerabatan” ialah karena Siti Hajar, leluhur bangsa Quraisy berasal dari Mesir. Atau beliau (saw) bersabda, “Jaminan perlindungan dan hubungan karena pernikahan” ialah karena Mariyah al-Qibtiyah, salah seorang istri Nabi Muhammad (saw) berasal dari Mesir.

[6] Fashlul Khithab fi Sirah Amiril Mu-minin ‘Umar ibnil Khaththab, syakhshiyatuhu wa ‘ashruhu karya Ali Muhammad Muhammad Ash Shalabi (فصل الخطاب في سيرة امير المؤمنين عمر بن الخطاب شخصيته وعصره بقلم علي محمد محمد الصلابي) bahasan kedua: penaklukan Mesir dan Libya (المبحث الثاني: فتوحات مصر وليبيا), pertama, perjalanan ke Mesir (اولا: مسير الفتح الاسلامي لمصر), Penaklukan Belbeis (فتح بلبيس):
وعند بلبيس برز الرُّوم في قوة كبيرة قاصدين صد عمرو عن التوجه نحو حصن بابليون، وأرادوا منازلة المسلمين، فقال لهم عمرو -رضي الله عنه- لا تعجلونا حتَّى نعذر إليكم، وليبرز إلي أبو مريم، وأبو مريام، وعندئذ كفُّوا عن القتال، وخرج إليه الرجلان، فدعاهما إلى الإِسلام، أو الجزية، وأخبرهما بوصية النبي صلى الله عليه وسلم بأهل مصر، بسبب هاجر أم إسماعيل. روى مسلم في صحيحه أنَّ رسول الله (صلى الله عليه وسلم) قال “إنّكم ستفتحون مصر، وهي أرض يُسمى فيها القيراط، فإذا فتحتموها؛ فأحسنوا إلى أهلها، فإنّ لهم ذمّة، ورحما؛ أو قال ذمّةً، وصهرا”. فقال قرابة بعيدة لا يصل مثلها إلا الأنبياء، أمِّنّا حتى نرجع إليك. فقال عمرو مثلي لا يُخدع، ولكني أؤجّلكما ثلاثا لتنظرا، فقالا زدنا، فزادهما يوما، فرجعا إلى المقوقس عظيم القبط، وأرطبون الوالي من قِبل الروم، فأخبراهما خبر المسلمين، فأمّا أرطبون فأبى، وعزم على الحرب، وبيَّت المسلمين، فهزموه هو وجنده إلى الإسكندرية.

Terkait:   Riwayat Abu Bakr Ash-Shiddiiq Ra (Seri 19)

[7] Surah Ar-Rahman, 55:61 dengan bismillahir rahmanir rahim sebagai ayat pertama.

[8] Fashlul Khithab fi Sirah Amiril Mu-minin ‘Umar ibnil Khaththab, syakhshiyatuhu wa ‘ashruhu karya Ali Muhammad Muhammad Ash Shalabi (فصل الخطاب في سيرة امير المؤمنين عمر بن الخطاب شخصيته وعصره بقلم علي محمد محمد الصلابي) bahasan kedua: penaklukan Mesir dan Libya (المبحث الثاني: فتوحات مصر وليبيا), pertama, perjalanan ke Mesir (اولا: مسير الفتح الاسلامي لمصر), Penaklukan Belbeis (فتح بلبيس).

[9] Husnul Muhadharah fi Tarikh Mishr wal Qahirah (حسن المحاضرة في تاريخ مصر والقاهرة), penaklukan Mesir di masa Khilafat ‘Umar (ذكر فتح مصر في خلافة عمر بن الخطاب رضي الله عنه): فلما أبطأ عليه الفتح، كتب إلى عمر بن الخطاب يستمده، فأمده عمر بأربعة آلاف رجل، على كل ألف رجل منهم رجل، وكتب إليه: إني قد أمددتك بأربعة آلاف رجل على كل ألف رجل منهم رجل مقام الألف: الزبير بن العوام، والمقداد بن الأسود، وعبادة بن الصامت، ومسلمة بن مخلد. واعلم أن معك اثني عشر ألفًا، ولا يغلب اثنا عشر ألفًا من قلة .

[10] al-Faruq oleh Syibli Nu’mani bahasa Urdu (ماخوذ ازالفاروق از شبلی نعمانی ادارہ اسلامیات 2004ء).

[11] Fashlul Khithab fi Sirah Amiril Mu-minin ‘Umar ibnil Khaththab, syakhshiyatuhu wa ‘ashruhu karya Ali Muhammad Muhammad Ash Shalabi (فصل الخطاب في سيرة امير المؤمنين عمر بن الخطاب شخصيته وعصره بقلم علي محمد محمد الصلابي). tercantum juga dalam Mausu’ah ‘Abaqiratil Islam fil ‘Ilmi wal Fikri wal Adab wa Qiyadah (موسوعة عباقرة الإسلام في العلم والفكر والأدب والقيادة) “Kumpulan Kejeniusan Islam dalam hal keilmuan, pemikiran, sastra dan kepemimpinan”.

[12] Tercantum juga dalam Al-Iktifa’ bima Tadhammanahu min Maghazi Rasulillah wa Ats-Tsalatsah Al-Khulafa’ (الاكتفاء، بما تضمنه من مغازي رسول الله والثلاثة الخلفاء) karya Abu Ar-Rabi’ Sulaiman bin Musa Al-Kala’i Al-Andalusi (لأبي الربيع سليمان بن موسى الكلاعي الأندلسي (565-634هـ)): و لما أبطأ الفتح على عمرو بن العاص قال الزبير: إنى أهب نفسى لله و أرجو أن يفتح الله بذلك على المسلمين، فوضع سلما إلى جانب الحصن ثم صعد، و أمرهم إذا سمعوا تكبيره أن يجيبوه جميعا، فما شعروا إلا و الزبير على رأس الحصن يكبر معه السيف، و تحامل الناس على السلم حتى نهاهم عمرو خوفا من أن ينكسر. و لما اقتحم الزبير و تبعه من تبعه و كبر، و كبر من معه و أجابهم المسلمون من خارج، لم يشك أهل الحصن أن العرب قد اقتحموه جميعا، فهربوا، و عمد الزبير و أصحابه إلى باب الحصن ففتحوه، و اقتحمه المسلمون، فلما خاف المقوقس على نفسه و من معه سأل عمرو بن العاص الصلح و دعاه إليه، على أن يفرض للعرب على القبط دينارين دينارين على كل رجل منهم، فأجابه عمرو إلى ذلك. .

[13] Kitāb futūḥ Miṣr wa-aẖbā̄ruhā (فتوح مصر وأخبارها – القرشي المصري – الصفحة ١٥٩) penulis buku ini ialah Abī al-Qasam ʿAbd al-Raḥmān ibn ʿAbd Allāh ibn ʿAbd al-Ḥ̣akam ibn Aʿyan al-Quršī al-Miṣrī (ابي القسم عبد الرحمن بن عبد الله بن عبد الحكم ابن اعين القرشي المصري) yang hidup pada 798-871 Masehi (wafat 257 Hijriyyah): وكان ملك الروم يقول لئن ظهرت العرب على الإسكندرية إن ذلك انقطاع ملك الروم وهلاكهم لأنه ليس للروم كنائس أعظم من كنائس الإسكندرية وإنما كان عيد عند الروم حين غلبت العرب على الشأم بالإسكندرية فقال الملك لئن غلبوا على الإسكندرية لقد هلكت الروم وانقطع ملكها فأمر بجهازه ومصلحته لخروجه إلى الإسكندرية حتى يباشر قتالها بنفسه إعظاما لها وأمر أن لا يتخلف عنه أحد من الروم وقال ما بقي للروم بعد الإسكندرية حرمة فلما فرغ من جهازه صرعه الله فأماته وكفى الله المسلمين مؤنته وكان موته في سنة تسع عشرة فكسر الله بموته شوكة الروم فرجع جمع كثير ممن كان قد توجه إلى الإسكندرية . Hal serupa tercantum dalam Nihayatul Arab fi Fununil Adab (نهاية الأرب في فنون الأدب) karya an-Nuwairi (النويري) .

[14] Tercantum juga dalam Al-Iktifa’ bima Tadhammanahu min Maghazi Rasulillah wa Ats-Tsalatsah Al-Khulafa’ (الاكتفاء، بما تضمنه من مغازي رسول الله والثلاثة الخلفاء) karya Abu Ar-Rabi’ Sulaiman bin Musa Al-Kala’i Al-Andalusi (لأبي الربيع سليمان بن موسى الكلاعي الأندلسي (565-634هـ)): و بعث عمرو بن العاص، معاوية بن حديج وافدا إلى عمر بن الخطاب يبشره بالفتح، فقال له معاوية: أ لا تكتب معى؟ فقال له عمرو: ما أصنع بالكتاب، أ لست رجلا عربيا تبلغ الرسالة و ما رأيت و حضرته؟ فلما قدم على عمر أخبره بفتح الإسكندرية، فخر عمر ساجدا و قال: الحمد لله. . Menurut Kitab ini nama kurir yang diutus Hadhrat ‘Amru bin al-‘Ash ialah Muawiyah bin Hudaij.

[15] Al-Mawa’izh wal i’tibar (المواعظ والاعتبار) karya al-Maqrizi (المقريزي): وقال معاوية بن خديج: بعثني عمرو بن العاص إلى عمر رضي الله عنه بفتح الإسكندرية، فقدمت المدينة في الظهيرة، فأنخت راحلتي بباب المسجد ثم دخلت المسجد، فبينا أنا قاعد فيه إذ خرجت جارية من منزل عمر بن الخطاب رضي الله عنه، فرأتني شاحبا علي ثياب السفر، فأتتني، وقالت: من أنت؟ فقلت: أنا معاوية بن خديج، رسول عمرو بن العاص، فانصرفت عني، ثم أقبلت تشد أسمع حفيف إزارها على ساقها، حتى دنت مني، ثم قالت: قم فأجب أمير المؤمنين يدعوك، فتبعتها، فلما دخلت فإذا بعمر يتناول رداءه بإحدى يديه، ويشد إزاره بالأخرى، فقال: ما عندك؟ فقلت: خير يا أمير المؤمنين، فتح الله الإسكندرية فخرج معي إلى المسجد، فقال للمؤذن: أذن في الناس: الصلاة جامعة، فاجتمع الناس، ثم قال لي: قم فأخبر أصحابك، فقمت فأخبرتهم ثم صلى ودخل منزله، واستقبل القبلة، فدعا بدعوات، ثم جلس، فقال: يا جارية هل من طعام. فأتت بخبز وزيت، فقال: كل، فأكلت حياء، ثم قال: كل، فإن المسافر يحب الطعام فلو كنت آكلا لأكلت معك، فأصبت على حياء، ثم قال: يا جارية هل من تمر؟ فأتت بتمر في طبق، فقال: كل، فأكلت على حياء، ثم قال: ماذا قلت يا معاوية حين أتيت المسجد؟ قال: قلت: أمير المؤمنين قائل، قال: بئس ما قلت، أو بئس ما ظننت لئن نمت النهار لأضيعن الرعية، ولئن نمت الليل لأضيعن نفسي، فكيف بالنوم مع هذين يا معاوية. .

[16] Hadits طلبُ العِلمِ فريضةٌ على كلِّ مسلمٍ, tercantum dalam karya as-Suyuthi yaitu al-Jami’ush Shaghir (الجامع الصغير). Hadits اطلُبوا العِلمَ ولو بالصِّينِ, tercantum dalam al-Majruhin karya Ibnu Hibban (الراوي : أنس بن مالك | المحدث : ابن حبان | المصدر : المجروحين). Hadits اطلُبُوا العِلْمَ ولَوْ بالصينِ ، فإِنَّ طلَبَ العِلْمِ فريضةٌ على كُلِّ مسلِمٍ , tercantum dalam karya as-Suyuthi yaitu al-Jami’ush Shaghir (الراوي : أنس بن مالك | المحدث : السيوطي | المصدر : الجامع الصغير) dan karya al-‘Ajluni dalam Kasyful Khafa (الراوي : أنس بن مالك | المحدث : العجلوني | المصدر : كشف الخفاء)

[17] Gregorius Abu al-Faraj ibn Harun al-Malthi (غريغوريوس (واسمه في الولادة يوحنا) ابن أهرون (أو هارون) بن توما الملطي، أبو الفرج المعروف بابن العبري (المتوفى: 685هـ)), dikenal dengan nama Ibn al-Abri (dalam bahasa Syriac atau Lessana Suryaya/Suryani yang merupakan Aramaik timur: ܒܪ ܥܒܪܝܐBar-Hebraeu”), di Europa dikenal nama Latinnya “Bar-Hebraeus”. Dia seorang Teolog Kristen Syriak, Filosof dan Cendekiawan. Dia lahir pada 623 AH (After Hijriyyah) atau 1226 AD (anno domini, setelah Masehi) di kota Malatya. Julukannya ialah Ibn al-Hebri karena kakek dan ayahnya datang dari desa (Hebre) berada dekat sungai Euphrates River. Sebagian orang percaya ia adalah Yahudi asalnya, namun ia menolak tuduhan ini.

[18] Tarikh mukhtasar al-duwal, Volume 1 by Gregorius Abu al-Farag Bar Hebraeus (وجاء في تاريخ مختصر الدول لأبي الفرج الملطي المتوفى 684 ص 180 من طبعة بوك في اوكسونيا سنة 1663 م), bahasan jenis negara ke-9 tentang Raja-Raja Yunani Kristen hingga Raja-Raja Arab, ‘Umar bin al-Khaththab (الدولة التاسعة المنتقلة من ملوك اليونانيين المتنصرين إلى ملوك العرب المسلمين (عمر بن الخطاب)), buku terbitan tahun 1663: وعاش ( يحيى الغراما طيقي ) إلى أن فتح عمرو بن العاص مدينة الاسكندرية ودخل على عمرو وقد عرف موضعه من العلوم فأكرمه عمرو وسمع من ألفاظه الفلسفية التي لم تكن للعرب بها أنسة ما هاله ففتن به وكان عمرو عاقلا حسن الاستماع صحيح الفكر فلازمه وكان لا يفارقه ثم قال له يحيى يوما : إنك قد أحطت بحواصل الاسكندرية وختمت على كل الأصناف الموجودة بها ، فمالك به انتفاع فلا نعارضك فيه ، وما لا انتفاع لك به فنحن أولى به . فقال له عمرو : ما الذي تحتاج إليه ؟ قال : كتب الحكمة التي في الخزائن الملوكية . فقال عمرو : هذا ما لا يمكنني أن آمر فيه إلا بعد استئذان أمير المؤمنين عمر بن الخطاب . فكتب إلى عمر وعرفه قول يحيى فورد عليه كتاب عمر يقول فيه : وأما الكتب التي ذكرتها فإن كان فيها ما وافق كتاب الله ؟ ففي كتاب الله عنه غنى ، وإن كان فيها ما يخالف كتاب الله ؟ فلا حاجة إليه فتقدم بإعدامها . فشرع عمرو بن العاص في تفريقها على حمامات الاسكندرية وإحراقها في مواقدها فاستنفدت في مدة ستة أشهر . Buku ini berisi bahasan 10 jenis negara dan raja-raja. Bahasan Raja-Raja Bani Israil mencakup tiga bab, lalu Kaldani (bangsa Kaldea), Persia, Yunani Politheis, bangsa Franka (Eropa barat), Yunani Kristen, raja-raja Arab Muslim dan ke-10 ialah Raja-raja Mongol. Nabi Muhammad (saw) terdapat di pasal/pembahasan pertama dari bab ke-9.

[19] John Philoponus (Filoponus). Fakta-fakta bahwa dia dikenal juga dengan nama Joannes Philoponus • John the Grammarian • Joannes Grammaticus; hidup pada tahun 501 – 600 Masehi; Subjects Of Study: Aristotle. https://www.britannica.com/facts/John-Philoponus

John Philoponus, a Christian philosopher, scientist, and theologian who lived approximately from 490 to 570 CE, is also known as John the Grammarian or John of Alexandria. https://plato.stanford.edu/entries/philoponus/

[20] ‘Umar bin al-Khaththab al-Faruq (الفاروق عمر بن الخطاب: ثاني الخلفاء الراشدين) karya Muhammad Ridha (محمد رضا). Muhammad Ridha wafat pada 1950. Meskipun sama-sama hidup dan berkarya di Mesir, beliau beda orang dengna Muhammad Rasyid Ridha (1865-1935). Muhammad Ridha adalah kepala perpustakaan Universitas Kairo dan juga Pengajar. Judul buku karya beliau lebih dari 8 buah yang diantaranya ialah “Muhammad Rasul Allah”.

[21] Tarikh Amru bin al-’Ash karya Dr. Hasan Ibrahim Hasan (تاريخ عمرو بن العاص – دكتر حسن إبراهيم حسن – الصفحة ١٧٠): حيث اعتقد أيضا إن هذه المكتبة قد دمرت في حريق يوليوس المذكور، والأستاذ إسماعيل رأفت بك حيث قال: وقلنا أيضا، إنه في هذا الوقت (أي وقت فتح الإسكندرية) لم تكن دار كتب الإسكندرية موجودة وإن قسما كبيرا من قسميها أحرقته جنود (يوليوس قيصر) من غير قصد سنة 47 ق. م . Pendeta (Bishop) Theofilus (385-412) adalah seorang Patriak (Pemuka agama Kristen) di zaman Romawi telah menjadikan agama Kristen sebagai agama negara. Aleksandria di Mesir ialah kota penting kedua bagi Romawi setelah ibukota Konstantinopel. Karena Kristen telah menjadi agama negara dan dibuat aturan penguasaan publik, agama-agama seperti paganisme, filsafat Stoik dan lain-lain dikenakan pembatasan, bahkan pelarangan dan penghancuran termasuk tempat pemujaan mereka dan naskah-naskah mereka yang tersimpan di lingkungan yang dulunya termasuk Perpustakaan besar Aleksandria. Theofilus mempunyai keponakan bernama Cyril yang menggantikannya dan di zamannya-lah tokoh filsafat terkemuka non Kristen, Hypatia meninggal dibunuh.

[22] Alfred Joshua Butler (1850-1936) dalam karyanya “The Arab conquest of Egypt and the last thirty years of the Roman dominion (Penaklukan Mesir oleh bangsa Arab dan tiga puluh tahun terakhir penjajahan Romawi”, Oxford, Clarendon Press, 1902. Subject Headings (Tema Besar): Mesir-Sejarah-dari tahun 30 SM – 640 dan Mesir-Sejarah-dari tahun 640 – 1882: One must pronounce that Abu Faraj’s story is a mere fable, totally destitute of historical foundation…The tale, as it stands, is ridiculous. Tokoh Eropa lain yang sependapat ialah Victor Chauvin pada 1911 (Le Livre dans le monde arabe); Paul Casanova (L’incendie de la bibliothèque d’Alexandrie par les Arabes) dan Eugenio Griffini “Fī sabīl al-haqq waxt-taxrīkh: al-haqīqa fī harīq maktabat al-Iskandariyya,” Al-Ahram, January 21, 1925. Summarized in Furlani, “Sull’incendio della biblioteca di Alessandria,” 205–212. https://discover-the-truth.com/2017/08/04/the-myth-of-umar-ibn-al-khattab-burning-the-library-of-alexandria/

[23] The Alexandrian Library by Edward Gibbon (1737–1794), from ‘The History of the Decline and Fall of the Roman Empire’: “The rigid sentence of Omar is repugnant to the sound and orthodox precept of the Mahometan casuists: they expressly declare that the religious books of the Jews and Christians which are acquired by the right of war should never be committed to the flames; and that the works of profane science, historians or poets, physicians or philosophers, may be lawfully applied to the use of the faithful.”

[24] Raja Akbar dari kerajaan Mughal memerintahkan para juru tulisnya – banyak Muslimnya juga – untuk menerjemahkan beberapa Kitab Hindu ke dalam bahasa Persia. Bahasa Persia saat itu adalah bahasa istana kerajaan dan bahasa kaum intelektual. Pada 1574, Akbar memulai Maktab Khanah (rumah penulisan dan karya penerjemahan) di ibukota barunya di Fatehpur Sikri. Ia memerintahkan penerjemahan buku berbahasa Sansekerta Rajatarangini (sungai raja-raja), Ramayana dan Mahabharata. Pada tahun 1580, selesai penerjemahan Mahabharata menjadi Razm Namah (Kitab Peperangan). Pada 1575, sebagian Atharwa Weda juga diterjemahkan meski tidak berhasil. Simhasana-dvatrimsika (cerita tentang tahta atau singgasana raja) berhasil diterjemahkan. Karya lainnya ialah Bhaskara karya Lilavati (astronomi), Pañcatantra (Five Tales atau lima cerita), Nal-Daman, sebuah sajak bait dua tentang kisah cinta Nala dan Damayanti. Upaniṣad juga diterjemahkan ke dalam bahasa Persia oleh atau di bawah pimpinan Raja Mughal lainnya, Dārā Shikoh, selesai pada 1657. Raja Jahangir juga memerintahkan penerjemahan Yogavasistha (Vasishtha tentang Yoga). Raja Shah Jahan juga mendukung penerjemahan ke dalam bahasa Hindi atas naskah-naskah Sanskrit, seperti Simhasanbattisi karya Sundar Das.

[25] Dua sejarawan yang menyebut-nyebut peristiwa tersebut ialah ‘Abdul Latif al-Baghdadi (1162-1231) dan ‘Alī ibn Yūsuf al-Qifṭī atau Ali Ibn Yusuf Koptik (علي بن يوسف القفطي), lengkapnya Jamāl al-Dīn Abū al-Ḥasan ‘Alī ibn Yūsuf ibn Ibrāhīm ibn ‘Abd al-Wahid al-Shaybāni (جمال الدين أبو الحسن علي بن يوسف بن ٳبراهي بن عبد الواحد الشيباني) hidup pada 1172-1248. Buku al-Qifti yang terkenal ialah Kitāb Ikhbār al-‘Ulamā’ bi Akhbār al-Ḥukamā (إخبار العلماء بأخبار الحكماء). Gregorius Abu al-Faraj ibn Harun al-Malthi Ibnu al-‘Abri mengutip riwayat ini dari Ibnu al-Qifthi. Jadi, penulis Kristen mendapatkannya dari narasi penulis Islam sendiri. Kedua penulis Muslim tersebut mengalami masa Salahuddin al-Ayyubi (1138-1193) dan pengagum dan keluarga pejabatnya. Motif pembuatan riwayat tersebut diuraikan oleh Paul Casanova, yaitu, demi mencari pembenaran atas usaha dinasti Ayyubi untuk menguasai perpustakaan Dinasti Syi’ah Fathimiyah serta menjual buku-bukunya.

[26] Ada juga John dari Nikiou (delta Nil di Mesir), seorang pemuka agama Kristen yang sezaman dengan peristiwa penaklukan Mesir. Ia banyak menulis tentang hal ini tapi tidak menyebut soal perpustakaan Aleksandria. Lusius Mestrius Plutarkhos, atau dikenal dengan sebutan Plutarkhos (bahasa Latin: Lucius Mestrius Plutarchus, bahasa Yunani: Μέστριος Πλούταρχος; c. 46 – 120 adalah sejarawan, pembuat biografi, pembuat esai Romawi berkebangsaan Yunani. Sebagai penulis biografi, Plutarch menulis biografi para pemimpin Romawi, di antaranya Fabius, Alexander Agung, Julius Caesar, Anthony, dan Marcellu.

[27] Haydn’s dictionary of dates relating to all ages and nations: for universal reference by Haydn, Joseph Timothy, hidup pada tahun 1786 atau 1787 hingga 1856; Vincent, Benjamin, 1818-1899: ALEXANDRIA (Egypt), the walls whereof were six miles in circuit, was built by Alexander the Great, 332 B.C., who was buried here, 322. It became the residence of the Greek sovereigns of Egypt, the Ptolemies. Alexandria captured by Chosroes II. of Persia, 616 ; and by Amrou, the general of the caliph Omar, who ordered the library to be burnt, * whereby the baths were supplied with fuel for six months Dec. 22, 640. The celebrated saying of Omar “That if the books agreed with the book of God, they were useless; if they disagreed, they were pernicious” is denied by Mahometans. It is also attributed to Theophilus, archbishop of Alexandria (390), and to cardinal Ximenes (1500).

[28] History of the Conflict Between Religion and Science oleh John William Draper, 103-104, New York, D. Apleton and Company, 1875. Dinasti Ptolemaik adalah dinasti bercorak Yunani Kuno yang menguasai Mesir kira-kira selama 305 SM-30 SM. Dinasti Ptolemaik didirikan oleh salah seorang jenderal dari pasukan Aleksander Agung, Ptolemaios I. Karena Aleksander Agung tidak memiliki pewaris tahta, maka setelah kematiannya pada tahun 323 SM para jenderalnya membagi daerah kekuasaannya di antara mereka.

Pada tahun 305 SM, setelah menguasai Mesir, Ptolemaios mengangkat dirinya sebagai Raja Ptolemaios I atas Mesir. Keturunannya menguasai Mesir hingga jatuh ke tangan bangsa Romawi pada tahun 30 SM oleh Kaisar Augustus (Oktavianus Augustus).

Salah satu keturunan Ptolemaios yang terkenal adalah Cleopatra VII, sang ratu terakhir sebelum Mesir jatuh ke tangan bangsa Romawi. Yulius Caesar dari Romawi pada tahun 48 SM berperang melawan pasukan Mesir dibawah pimpinan keturunan Ptolomeus di kota Aleksandria (Iskandariah) yang letaknya di dekat pelabuhan.

Leave a Reply

Begin typing your search above and press return to search.
Select Your Style

You can choose the color for yourself in the theme settings, сolors are shown for an example.