Jalsah Salanah Jerman 2019

Khotbah Jumat Sayyidina Amirul Mu’minin, Hazrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (أيده الله تعالى بنصره العزيز, ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 05 Juli 2019 (Wafa 1398 Hijriyah Syamsiyah/ 1440 Hijriyah Qamariyah) di Jerman

أشْهَدُأنْلاإلهإِلاَّاللَّهُوَحْدَهُلاشَرِيكلَهُ،وأشْهَدُأنَّمُحَمَّداًعَبْدُهُوَرَسُولُهُ.

أمابعدفأعوذباللهمنالشيطانالرجيم.

بسْمِاللهالرَّحْمَنالرَّحيم* الْحَمْدُللهرَبِّالْعَالَمينَ* الرَّحْمَنالرَّحيم* مَالكيَوْمالدِّين* إيَّاكَنَعْبُدُوَإيَّاكَنَسْتَعينُ* اهْدنَاالصِّرَاطَالْمُسْتَقيمَ* صِرَاطالَّذِينَأَنْعَمْتَعَلَيْهِمْغَيْرالْمَغْضُوبعَلَيْهمْوَلاالضالِّينَ. (آمين)

Jalsah Salanah ini merupakan salah satu karunia dan nikmat sangat besar dari Allah Ta’ala yang telah kita dapatkan setelah baiat kepada Hazrat Masih Mau’ud (as). Jalsah merupakan ajang bagi kita untuk memperbaiki keruhanian dan keilmuan; demi meraih kedekatan dengan Allah Ta’ala; untuk meningkatkan ketakwaan; untuk memenuhi hak-hak satu sama lain, demi menyucikan hati kita; supaya berusaha untuk dapat memenuhi apa yang Hazrat Masih Mau’ud (as) harapkan dari Jalsah ini; supaya berusaha menghilangkan rasa dendam permusuhan dan ketegangan diantara sesama dan menggantinya dengan perdamaian dan supaya berupaya untuk menjauhkan diri dari perbuatan sia-sia. Hazrat Masih Mau’ud (as) menjelaskan semua hal ini sebagai tujuan dari diselenggarakannya Jalsah.

Sebagian besar Ahmadi merindukan kehadiran Jalsah sepanjang tahun dan seketika memasuki kalender tahun baru kerinduan untuk hadir dalam Jalsah tersebut semakin meningkat. Para Ahmadi Jerman pun yang sudah sekian lama menetap di sini menanti-nanti kehadiran Jalsah. Akan tetapi, yang paling merindukan Jalsah khususnya ialah mereka yang datang dari Pakistan demi mengajukan suaka di sini disebabkan keadaan yang tidak menentu di sana. Mereka tidak dapat menyelenggarakan Jalsah di Pakistan karena terdapat pembatasan sehingga sudah sejak lama ada yang tidak mengenal apa itu Jalsah. Pada saat ini jumlah orang-orang semacam itu semakin meningkat dari ratusan menjadi ribuan. Demikian pula, para peserta Jalsah dari berbagai negeri jumlahnya semakin meningkat dan saat ini jumlah peserta yang hadir dari luar negeri ke Jalsah Jerman pun semakin banyak. Tahun ini beberapa perwakilan dari negeri-negeri Afrika pun hadir di Jalsah Jerman.

Rasa cinta dan rindu untuk hadir dalam Jalsah hendaknya dilandasi tujuan memenuhi apa yang menjadi tujuan terselenggaranya Jalsah. Jika kehadiran dalam Jalsah ini tidak dilandasi pemikiran seperti itu, berarti kerinduan terhadap Jalsah itu sia-sia dan keikutsertaannya dalam Jalsah juga tidak bernilai apa-apa. Jadi, setiap orang yang hadir dalam Jalsah, baik pria maupun wanita, hendaknya memperhatikan, apakah ia tengah berusaha untuk meraih keridhaan Allah Ta’ala? Apakah ia ikut serta dalam Jalsah dengan didasari niat untuk meningkat dalam ketakwaan dan berusaha memenuhi hak satu sama lain dengan menampilkan akhlak mulia? Jika tidak, seperti yang telah saya katakan tadi, kehadirannya dalam Jalsah ini adalah sia-sia dan tidak akan memberikan manfaat.

Memang lingkungan akan berpengaruh namun upaya manusia juga punya andil dalam menerima pengaruh dari lingkungan tersebut. Maka dari itu, kita harus berupaya supaya itu semua dapat diraih dan kita dapat menyerap segenap karunia Allah Ta’ala dan menjadi layak untuk menjadi pewaris doa-doa yang dipanjatkan oleh Hazrat Masih Mau’ud (as) bagi para peserta Jalsah. Hazrat Masih Mau’ud (as) menyatakan kekecewaan atas orang yang hadir dalam Jalsah disertai dengan pemikiran seperti itu namun tidak menyelaraskan amal perbuatannya sesuai dengan itu. Beliau (as) bersabda, “Sama sekali saya tidak memiliki keinginan layaknya orang-orang terkemuka pada masa ini yang mana mereka mengumpulkan para pengikutnya untuk memperlihatkan kebesarannya semata. Alasan saya [menyelenggarakan Jalsah] semata mata untuk mengishlah umat manusia.”

Beliau menjelaskan tujuan mengumpulkan orang-orang [dalam Jalsah] bukanlah untuk memperlihatkan kebesaran dan kehebatan, sebagaimana para Gaddi Nashin (pemuka agama pada masa itu) mengumpulkan orang-orang dalam sebuah acara. Tujuan dari penyelenggaraan Jalsah ini semata mata untuk mengishlah umat manusia, sehingga dapat memenuhi hak Allah Ta’ala dan hak- hak satu sama lain. Beliau tidak hanya menyesalkan orang-orang yang tidak melakukan ishlah (perbaikan) dirinya, bahkan beliau juga mengekpresikan kekecewaannya. Apalah artinya jumlah kehadiran sebanyak 30.000, 35.000 ataupun 40.000 jika setelah baiat kepada Hazrat Masih Mau’ud (as), hati masih dipenuhi kecintaan kepada duniawi; jika kecintaan kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya tidak lebih unggul dari kecintaan kepada duniawi; jika kita tidak tidak mengarungi kehidupan sesuai dengan hukum-hukum Ilahi dan Rasul-Nya; dan begitu juga jika selama tiga hari ini yang ada di benak kita hanya duniawi semata. Jadi, kita hendaknya merenungkan hal tersebut.

Beberapa bulan lalu, bulan Ramadhan baru saja berlalu dari kita yang merupakan ajang untuk perbaikan dan kemajuan ruhani. Setiap mu-min (orang beriman) mendapatkan kesempatan untuk melakukan ibadah, puasa dan dzikr Ilahi secara pribadi di bulan itu. Saat ini kita tengah ditempa selama tiga hari (Jalsah) yang mana selain merupakan ajang untuk meningkatkan ruhani dan keilmuan, kita pun mendapatkan kesempatan untuk dapat beribadah dan berdzikr Ilahi. Suasana Jalsah merupakan kesempatan baik mempraktekan itu semua secara menyeluruh. Semua orang berkumpul di sini untuk fokus kepada ibadah, melaksanakan nafal-nafal, tahajjud dan melakukan dzikr dengan bahasanya masing-masing di dalam hati. Namun, corak berjamaah akan terwujud jika itu dilakukan semua orang yang hadir di sini. Jika kita tidak memanfaatkan suasana ini, sungguh sayang sekali. Dengan demikian, alangkah besar tanggung jawab yang diletakkan oleh Hazrat Masih Mau’ud (as) di pundak kita. Beliau menaruh harapan besar dari para pengikut beliau dan ini bukanlah perkara kecil.

Keuntungan hakiki dari suasana [Jalsah] ini dapat diraih jika kecintaan duniawi menjadi dingin dibandingkan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya. Merupakan perkara besar jika kita hidup di dunia ini namun kecintaan kepada dunia tidak memiliki tempat prioritas di atas kecintaan kepada Allah dan rasul-Nya dan inilah yang menjadikan seseorang sebagai mukmin hakiki. Setelah mengikuti Jalsah selama tiga hari ini, kita pun harus kembali pada rutinitas pekerjaan, namun tarbiyat yang kita dapat dan keikutsertaan kita dalam Jalsah akan bermanfaat jika meskipun kita sibuk dalam pekerjaan duniawi, urusan agama tetap menjadi prioritas utama. Selama tiga hari ini secara khusus kita harus mendinginkan kecintaan kita kepada dunia.

Di dalam Jalsah ini juga disediakan fasilitas bazar, kios-kios dan diperjualbelikan juga barang-barang. Meskipun demikian, para peserta Jalsah maupun penjual barang hendaknya memperhatikan bahwa mengunjungi dan berbelanja di bazar dan upaya untuk meraup keuntungan darinya merupakan perkara duniawi, untuk itu berhati hatilah. Pembeli maupun penjual dan para peserta Jalsah secara khusus hendaknya menyimak acara Jalsah dengan fokus, setelah itu kedua fihak berhak dan diizinkan untuk mengunjungi bazar dalam waktu jeda yang telah disediakan dan berusahaah untuk memenuhi hak bazar.

Terkait:   Keteladanan Para Sahabat Nabi Muhammad (shallaLlahu ‘alaihi wa sallam) (Manusia-Manusia Istimewa seri 44)

Apa hak bazar itu? Itu ialah ketika saling bertemu biasakanlah untuk mengucapkan salam satu sama lain, sibukkan diri dengan berdzikr Ilahi, setelah mencari sesuatu barang, jangan sampai memadati kios kios lalu berdesak desakkan di sana. Para penjual hendaknya menjual barangnya dengan keuntungan yang wajar, janganlah meraup keuntungan yang tidak wajar ketika mengetahui keterpaksaan seseorang. Seperti yang telah saya katakan, biasakanlah berdzikr Ilahi begitupun para penjual. Jika kita menempuh corak lahiriah ini maka keadaan kalbu kita pun akan mengalami perubahan, ketakwaan akan tercipta dalam diri kita, kecintaan kepada Allah Ta’ala akan timbul.

Demi menciptakan kebaikan-kebaikan dan ketakwaan dalam diri kita, Hazrat Masih Mau’ud (as) bersabda lebih lanjut,

“Allah Ta’ala ingin mendirikan Jemaat ini dengan tujuan untuk menghidupkan kembali makrifat hakiki yang telah hilang dari dunia ini dan juga ketakwaan dan kesucian yang tidak ditemukan lagi di zaman ini.”

Dalam menasihatkan kepada kita untuk meninggikan standar ketakwaan, lebih lanjut beliau (as) bersabda,

“Wahai kalian yang menggolongkan diri sebagai Jemaat saya! Kalian akan terhitung sebagai Jemaat saya di langit, jika kalian melangkah diatas jalan takwa dengan sesungguh sungguhnya.”

Kemudian dalam rangka menjelaskan berkenaan dengan cara untuk menimbulkan rasa cinta dan keagungan Allah Ta’ala didalam diri, beliau (as) bersabda,

“Tanam dan tumbuhkanlah kemuliaan Tuhan di dalam hati. Tauhid hendaknya tidak hanya diucapkan dengan lidah saja melainkan dengan amal perbuatan juga supaya Allah pun menampakkan kelembutan dan ihsannya kepada kalian.

Inilah ibadah-ibadah yang senantiasa harus kita jaga setiap saat yakni bagaimana kita dapat menciptakan ketakwaan hakiki. Takwa bukanlah hanya dengan mengamalkan satu kebaikan saja. Bahkan, di satu kesempatan Hazrat Masih Mau’ud (as) bersabda,

“Ketakwaan sejati adalah dengan menempuh seluruh jenis kebaikan dan juga melaksanakan segenap hak Allah Ta’ala dan hamba-hamba-Nya.”

Dari sisi ini jika kita mengevaluasi diri maka akan tampak kepada kita keadaan kita sendiri. Sebagian orang jejak rekamnya baik dalam melaksanakan tugas Jemaat, namun ketika di rumah, anak istrinya merasa tidak nyaman dengan sikapnya. Sebaliknya ada juga yang melaksanakan tanggung jawab dalam rumah tangga, namun lemah dalam hal ibadah dan pemenuhan hak-hak Allah. Saya mendapatkan keluhan-keluhan seperti itu. Ada juga yang terlihat rajin beribadah, namun dalam kehidupan sehari-hari tidak memenuhi hak haknya satu sama lain. Ada juga yang melakukan kebaikan namun untuk tujuan pamer, ia lupa bahwa Tuhan mengetahui niatan kita dan menyaksikan kita setiap saat.

Hazrat Masih Mau’ud (as) bersabda,

“Perlu bagi kita untuk memperbaiki keadaan amalan kita dari berbagai sisi supaya tergolong sebagai Jemaat saya, meraih kecintaan Allah Ta’ala, menjadi pewaris karunia-karunia-Nya dan meraih kecintaan dan ihsan-Nya.”

Begitupun tujuan diadakannya Jalsah adalah supaya timbul perhatian untuk mengamalkan berbagai kebaikan. Para penceramah Jalsah pun menekankan hal itu dalam pidatonya. Kita dihimpun dalam suatu lingkungan dan mendapat pencerahan agar peraihan ridha Tuhan selalu menjadi fokus dalam setiap amalan kita. Untuk meraih tujuan tersebut, dalam satu kesempatan Hazrat Masih Mau’ud (as) bersabda,

“Ingatlah, Hamba Allah Ta’ala yang kamil adalah mereka yang menjadi penggenapan firman, رِجَالٌۙلَّاتُلۡہِیۡہِمۡتِجَارَۃٌوَّلَابَیۡعٌعَنۡذِکۡرِاللّٰہِوَاِقَامِالصَّلٰوۃِوَاِیۡتَآءِالزَّکٰوۃِ۪ۙیَخَافُوۡنَیَوۡمًاتَتَقَلَّبُفِیۡہِالۡقُلُوۡبُوَالۡاَبۡصَارُ ‘rijaalun laa tulhiihim tijaaratun walaa bai’un ‘an dzikrillaah..’ artinya, ‘Mereka tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari berdzikr Ilahi.’

Ketika kalbu menciptakan jalinan kecintaan sejati dengan Allah Ta’ala maka tidak akan terpisah darinya. Dengan cara itu dapat difahami sebagaimana jika anak seseorang sakit, kemanapun orang tuanya pergi untuk suatu urusan atau kesibukan lainnya, hatinya tetap akan selalu tertuju atau khawatir dengan anaknya yang tengah sakit itu. Siapa saja yang menciptakan jalinan sejati dan kecintaan dengan Allah Ta’ala, dalam keadaan bagaimanapun tidak akan melupakan Allah Ta’ala.”

Demikianlah keadaan yang Hazrat Masih Mau’ud (as) harapkan dari kita dan kita berkumpul di sini untuk berusaha menciptakan keadaan tersebut. Setiap kita hendaknya berupaya dan berdoa kepada Allah Ta’ala supaya kita menjadi orang-orang yang dapat meraih keadaan tersebut. Jika kita dapat menciptakan keadaan tersebut dan berupaya untuk itu maka Allah Ta’ala pun akan mengingat kita sebagimana Dia telah berfirman: (فَاذْكُرُونِيأَذْكُرْكُمْوَاشْكُرُواْلِيوَلاَتَكْفُرُونِ) [البقرة: 152]. “Ingatlah Aku maka Aku akan mengingat kalian…” (Surah al-Baqarah, 2:153)1

Jadi, betapa beruntungnya orang-orang yang diingat Allah Ta’ala, Allah Ta’ala mengingat mereka secara terhormat. Dengan hanya tidak melupakan-Nya ketika sibuk, Allah Ta’ala sedemikian rupa mencurahkan anugerah kepada kita. Khususnya pada hari-hari Jalsah ini secara khusus hendaknya kita berupaya untuk mengingat Allah Ta’ala dengan dzikr hakiki sehingga Allah Ta’ala akan mengingat kita dan menjadikan kita sebagai pemilik karunia-karunia-Nya.

Walhasil, pada hari-hari Jalsah ini, para peserta Jalsah maupun panitia, berusahalah untuk membasahi bibir dengan dzikr Ilahi dan jadilah sebagai peraih Qurb Ilahi. Ketika Allah Ta’ala mengingat kita, tidak ada lagi perkara lain yang lebih baik bagi kita. Maka dari itu, kita harus berusaha untuk meraihnya dengan begitu kita akan tergolong kedalam Jemaat beliau (as) sesuai dengan sabda Hazrat Masih Mau’ud (as). Sabda Hazrat Masih Mau’ud (as) berikut hendaknya menjadi perenungan bagi kita, “Kalian akan tergolong sebagai Jemaat saya di Langit, jika kalian melangkah di jalan takwa dengan sesungguhnya.”

Setelah baiat, diantara kita masih banyak yang dihujat oleh kerabat. Diantara Anda banyak yang hijrah kemari karena menghadapi permusuhan dari para penentang karena status Ahmadi. Undang-undang menerbitkan berbagai pelarangan kepada kita dalam hal kebebasan berkeyakinan. Namun, meskipun dihadapkan pada penderitaan tersebut, para Ahmadi di Pakistan atau di negara negara lain tetap bertabah begitu diantara anda sekalian.

Namun disebabkan kelemahan dalam amal perbuatan, kita tidak tergolong Jemaat Hazrat Masih Mau’ud (as) dan juga tidak tergolong sebagai orang yang beruntung yang berkenaan dengannya Allah Ta’ala menyatakan bahwa itu merupakan jual beli yang merugikan. Walhasil, pada hari hari Jalsah ini, kita hendaknya banyak banyak berdoa. Kita hendaknya berdoa supaya kita tidak tergolong kedalam kelompok orang-orang yang tidak diridhai oleh Allah Ta’ala, melainkan semoga tergolong sebagai orang diingat oleh Allah ta’ala, yang menjalin ikatan sejati dengan Allah Ta’ala dan menghapus kegelapan yang menyelimuti hati.

Selama Jalsah ini, dalam keadaan senggang di malam hari seiring dengan mengingat Allah Ta’ala, berdoa dan berjanjilah, “Ya Tuhan! Dengan niat baik kami ikut serta dalam Jalsah yang didirikan oleh Al-Masih Engkau yang tentunya mendapatkan dukungan khas dan dalam pengetahuan Engkau. Kami ikut serta dalam Jalsah ini demi untuk meraih keridhaan Engkau; supaya meningkat dalam dzikr pada Engkau dan untuk meraih Engkau. Semoga kami dapat mengambil faedah dari seluruh keberkatan-keberkatan yang telah Engkau letakkan di dalam Jalsah, dan ciptakanlah di dalam diri kami perubahan-perubahan suci sebagaimana yang Engkau kehendaki yang untuk menegakkannya Engkau telah mengutus pecinta sejati Hazrat Rasulullah (saw) di zaman ini, sehingga kami termasuk ke dalam orang-orang yang baiat kepada beliau (as) dalam corak yang sebenar-benarnya.”

Terkait:   Keteladanan Para Sahabat Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam (Manusia-Manusia Istimewa, seri 57)

Dengan demikian, ketika kita melewati hari-hari ini dengan berdoa kepada Allah Ta’ala, membaca shalawat dan beristighfar serta menjalani hari-hari kita murni semata-mata demi Allah Ta’ala maka kualitas ibadah-ibadah kita pun akan tinggi. Dan dikarenakan hubungan kita dengan Allah Ta’ala, kita pun akan memenuhi hak makhluk Allah Ta’ala.Hazrat Masih Mau’ud (as) juga menjelaskan salah satu tujuan Jalsah Salanah adalah supaya kecintaan dan keakraban diantara para anggota Jemaat dapat meningkat. Jadi, di satu sisi, dengan datangnya orang-orang yang baru, disebabkan persaudaran Ahmadiyah ini maka hubungan kecintaan dan keakraban dapat terjalin. Di sisi lain, juga penting bahwa persaudaraan yang lama pun semakin meningkat dalam kecintaan. Allah Ta’ala memberikan anugerah yang tidak terhingga kepada orang yang mencintai saudaranya semata-mata karena Allah Ta’ala. Oleh karena itu, jadikanlah hari-hari ini sebagai sarana untuk menjauhkan permusuhan satu sama lain. Janganlah orang-orang yang bermusuhan itu setelah datang ke sini, lalu ketika mereka saling berhadapan, maka rasa permusuhan itu menimbulkan kemarahan, dan kebencian serta kedengkian satu sama lain semakin meningkat, dan dikarenakan hal ini suasana Jalsah menjadi rusak, dan alih-alih menjadi pewaris karunia-karunia Allah Ta’ala, justru malah menjadi penyebab laknat dan kemurkaan Allah Ta’ala.

Hazrat Masih Mau’ud (as) juga menggolongkan Jalsah Salanah ke dalam Sya’aairullah. Siapa yang mencederai kesucian Sya’aairullah, ia akan mendapatkan kemurkaan Allah Ta’ala. Walhasil, ini adalah suatu keadaan yang sangat mengerikan. Mereka yang memiliki rasa permusuhan, hendaknya segera mengulurkan tangan untuk berdamai satu sama lain dan bukannya terkurung dalam keegoisan dan terbakar dalam api kedengkian, sekarang ciptakanlah suatu suasana yang rukun dan damai yang indah.

Senantiasa kedepankanlah sabda Hazrat Rasulullah (saw) berikut ini, “‏ الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ، ‏”‘al-Muslimu man salimal Muslimuuna min lisaanihi wa yadihi “Seorang Muslim adalah seorang yang lidah dan tangannya membuat selamat (membuat damai, tidak menyakiti) bagi orang-orang Muslim lainnya.”2 Kita harus mengintrospeksi diri apakah sabda beliau (saw) ini telah menggambarkan keadaan diri kita? Apakah amalan kita sesuai dengan ini? Apakah kita bisa menyatakan bahwa kita telah mengamalkan hal ini seratus persen? Jika setiap orang menjawab, “Iya benar!”, maka tidak akan ada perkara yang masuk ke Dewan Qadha (pengadilan internal) kita, dan tidak perlu pergi ke pengadilan-pengadilan negeri untuk penyelesaian masalah-masalah hak.

Saya terpaksa sampaikan dengan sangat menyesal bahwa sebagian orang yang datang ke Jalsah ini, dikarenakan kebencian dan permusuhan yang diakibatkan perkara-perkara sepele, di hari-hari Jalsah dan di lingkungan Jalsah ini pun terjadilah perkelahian-perkelahian. Terkadang sampai harus memanggil Polisi. Apakah ini keagungan seorang Mukmin (beriman)? Apakah ini amalan orang-orang yang bergabung ke dalam Jemaat Hazrat Masih Mau’ud (as)? Tentu saja bukan. Orang-orang seperti ini, baik dikeluarkan dari nizam Jemaat ataupun tidak, dalam pandangan Allah Ta’ala telah keluar dari Jemaat dan sesuai dengan sabda Hazrat Masih Mau’ud (as), “Di Langit mereka bukanlah termasuk ke dalam Jemaatku.”

Oleh karena itu tiliklah diri masing-masing, perbuatan-perbuatan seperti itu janganlah ada di dalam diri kita. Orang-orang seperti ini hendaknya mengeluarkan kotoran-kotoran tersebut dari hati mereka dan untuk meraih ridha Allah Ta’ala ambillah jalan memaafkan dan perdamaian. Katakanlah kepada dunia bahwa setelah baiat kepada Hazrat Masih Mau’ud (as), telah terjadi perubahan revolusioner dalam keadaan rohani dan akhlak kami. Demikian juga para pengurus dan mereka yang bertugas di Jalsah ini, di hari-hari ini pun secara khusus perhatikanlah bahwa hendaknya standar akhlak mereka haruslah sangat tinggi. Mereka, yakni para panitia yang di hari-hari biasa memiliki permusuhan dengan seseorang, maka di lingkungan Jalsah ini hendaknya mengambil inisiatif lebih dahulu untuk merubahnya menjadi perdamaian dan ketulusan, bukannya malah melakukan balas dendam.

Setiap orang yang datang di Jalsah adalah tamu dan menjadi tugas dari setiap pengurus dan panitia untuk menjauhkan setiap permusuhan pribadi dan menunjukkan semangat yang tinggi dan keramahan dalam penerimaan tamu. Ini adalah tanggung jawab khusus bagi para pengurus, bahwa hendaknya di dalam diri mereka memiliki banyak kesabaran. Walhasil, para pengurus hendaknya dalam segala keadaan memahami diri mereka sebagai khadim, dan para anggota Jemaat serta orang-orang yang hadir dalam Jalsah hendaknya memahami para pengurus sebagai perwakilan dari nizam Jemaat, barulah dalam suasana ketegangan dan perkelahian-perkelahian itu bisa timbul perbaikan. Permusuhan antara satu sama lain bisa hilang.

Dengan sangat menyesal terpaksa juga saya katakan bahwa di sini beberapa pengurus Jemaat tidak mengindahkan kedudukan mereka. Saya tidak sedang membicarakan dalam konteks suasana Jalsah, dalam keadaan umum pun bukannya menganggap tugas-tugas Jemaat dan pengkhidmatan agama sebagai karunia Allah Ta’ala, mereka menganggap itu seperti halnya jabatan duniawi yang karenanya mereka harus diberi imbalan.

Walhasil, jika orang-orang seperti ini datang ke Jalsah, hendaknya mereka berusaha untuk meningkat dalam ibadah, dzikr Ilahi dan kerendahan hati. Jika dalam pandangan mereka telah dijatuhkan keputusan yang keliru mengenai diri mereka, maka mereka harus tetap menempuh jalan-jalan kerendahan hati. Dan setelah menempuh jalan-jalan kerendahan hati, tunduklah di hadapan Allah Ta’ala dan janganlah menyimpan rasa ketidak-sukaan terhadap Nizam Jemaat. Jika diambil keputusan yang keliru, maka Allah Ta’ala Maha Mengetahui segala sesuatu. Dia Maha Tahu. Dia mengetahui yang gaib maupun yang tampak. Jika tunduk dengan penuh kerendahan hati di hadapan-Nya maka Dia akan mengabulkan doa-doa dan mengeluarkan mereka dari kesulitan-kesulitan.

Hendaknya selalu ingat, bahwa yang terpenting bukanlah kedudukan itu, yang terpenting adalah menunaikan kewajiban-kewajiban bai’atnya, baik itu ia pengurus maupun anggota. Hendaknya ia berusaha untuk menunaikan kewajiban-kewajiban ini.

Seraya memberikan nasihat mengenai pemenuhan kewajiban-kewajiban bai’at Hazrat Masih Mau’ud (as) bersabda:

“Wahai Jemaat saya! Allah Ta’ala bersama kalian. Dia Yang Maha Kuasa dan Maha Mulia telah menyiapkan kalian semua untuk perjalanan akhirat sebagaimana para sahabat Rasulullah (saw) telah disiapkan. Ingatlah! Dunia adalah hal yang kecil. Terkutuklah kehidupan yang hanya untuk dunia. Jika ada orang yang seperti itu di dalam Jemaat saya, tidak ada gunanya dia memasukkan dirinya ke dalam Jemaat saya karena dia layaknya dahan kering yang tidak menghasilkan buah.”

Kemudian beliau (as) bersabda,

“Wahai orang-orang yang beruntung! Masuklah kalian dengan sekuat tenaga ke dalam ajaran yang telah diberikan kepadaku untuk keselamatan kalian. Camkanlah oleh kalian bahwa Tuhan itu Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan janganlah menyekutukan Dia dengan suatu apa pun, tidak di bumi, tidak di langit. Tuhan tidak melarang kalian menggunakan sarana-sarana duniawi, akan tetapi barangsiapa yang meninggalkan Tuhan dan hanya bertumpu pada sarana-sarana duniawi, ia telah berlaku syirk (menyekutukan Tuhan).”

“Telah sejak dahulu kala Tuhan berfirman bahwa tidak ada keselamatan tanpa kesucian hati. Walhasil sucikanlah hati kalian dan jauhilah kedengkian dan kemarahan hawa nafsu. Di dalam nafsu amarah terdapat banyak kekotoran, namun yang paling banyak adalah kotoran ketakaburan. Jika sifat takabur tidak ada, maka tidak ada seorang pun yang kafir. Walhasil, jadikanlah hatimu bersahaja. Bersimpatilah terhadap umat manusia secara umum. Kalian menasihati mereka untuk membawa mereka ke surga, jika kalian menyakiti mereka di dunia yang fana ini, lantas bagaimana nasihat kalian itu bisa benar.”

“Tunaikanlah kewajiban-kewajiban terhadap Allah Ta’ala dengan hati yang merasa takut bahwa kalian akan dimintai pertanggung jawaban darinya. Perbanyaklah doa dalam shalat-shalat sehingga Tuhan menarikmu ke arah-Nya dan membersihkan hatimu, karena manusia lemah. Setiap keburukan yang hilang, hanya dengan kekuatan Allah Ta’ala-lah keburukan itu hilang, dan selama manusia belum mendapatkan kekuatan dari Allah Ta’ala, maka ia tidak akan mampu menjauhkan suatu keburukan. Islam bukanlah hanya mengucapkan kalimah secara fomalitas, bahkan hakikat Islam adalah, ruh kalian tersungkur di singgasana Allah Ta’ala dan dalam segala segi mengutamakan Allah Ta’ala dan perintah-perintah-Nya di atas dunia kalian.”

Jadi, inilah standar yang setiap kita harus berusaha untuk mencapainya, baik itu para pengurus, karyawan maupun anggota Jemaat. Hazrat Masih Mau’ud (as) menyatakan kita yang telah bai’at kepada beliau (as) sebagai orang-orang yang beruntung. Kita telah mendapatkan karunia Allah Ta’ala dan bergabung ke dalam Jemaat Hazrat Masih Mau’ud (as) Anda sekalian yang duduk di hadapan saya adalah dari antara mereka yang dalam pandangan Allah Ta’ala beruntung mendapatkan karunia ini dan diberikan taufik untuk mengimani Hazrat Masih Mau’ud (as) Ini adalah langkah awal, bukan akhir/puncak. Untuk mencapai puncaknya adalah perlu untuk mengamalkan ajaran yang diberikan kepada beliau (as)

Terkait:   Keteladanan Para Sahabat Nabi Muhammad (shallaLlahu ‘alaihi wa sallam) (Manusia-Manusia Istimewa seri 45)

Sebagaimana telah disampaikan sebelumnya bahwa bisnis dan pekerjaan-pekerjaan duniawi pun harus kita kerjakan dengan tidak melupakan dzikr kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala tidak pernah melarang perdagangan duniawi, bahkan ini adalah keharusan. Bahkan Allah Ta’ala melarang manusia menjadi rahib, memutuskan diri dari dunia, atau menjalani kehidupan yang terputus dari dunia. Allah Ta’ala lah yang menjadikan manusia tinggal di dunia, akan tetapi ini adalah penting bahwa Allah Ta’ala telah melarang manusia untuk mendahulukan dunia di atas agama. Dalam segala keadaan agama harus didahulukan.

Setiap Ahmadi hendaknya senantiasa ingat bahwa di belakang wajah setiap Ahmadi ada wajah Ahmadiyah, wajah Hazrat Masih Mau’ud (as) dan wajah Islam. Walhasil, menjadi tanggung jawab setiap Ahmadi untuk menjaga wajah-wajah itu, dan bagi mereka yang diberikan taufik dan kesempatan oleh Allah Ta’ala untuk mengkhidmati agama, tanggung jawab mereka lebih besar lagi, yakni hendaknya mereka menunaikan tanggung jawab itu dan senantiasa mengedepankan sabda Hazrat Masih Mau’ud (as) ini bahwa setelah kita menyatakan baiat kita hendaknya janganlah kemudian merusak nama baik.

Walhasil hendaknya kita selalu mengedepankan sabda beliau (as) ini. janganlah ada yang beranggapan bahwa ini hanyalah untuk para pengurus sedangkan yang lainnya terbebas dari tanggung jawab. Hazrat Masih Mau’ud (as) menyampaikan ini kepada setiap orang yang telah bergabung dalam bai’at beliau (as) Oleh karena itu janganlah ada pertentangan dalam perkataan dan perbuatan kita, jika tidak maka pernyataan baiat kita hanyalah omong kosong belaka dan ikut serta dalam Jalsah ini hanyalah keduniawian.

Saya akan menyampaikan salah satu doa Hazrat Masih Mau’ud (as) yang memperlihatkan kepedihan hati beliau (as) terhadap para pengikut beliau (as). Beliau (as) bersabda, “Saya berdoa, dan selama di dalam diri saya masih ada nafas kehidupan, saya akan terus berdoa, dan doa itu adalah, semoga Allah Ta’ala memurnikan hati para anggota Jemaat saya dan membentangkan tangan rahmat-Nya, memalingkan hati mereka ke arah-Nya dan mengangkat segala macam keburukan dan kedengkian dari hati mereka, dan menganugerahkan kecintaan sejati satu sama lain, dan saya memiliki keyakinan bahwa doa ini suatu saat akan terkabul dan Tuhan tidak akan menyia-nyiakan doa-doa saya.”

Kita harus berdoa kepada Allah Ta’ala supaya doa beliau (as) ini terpenuhi atas diri kita, terpenuhi juga pada anak keturunan kita dan sampai hari kiamat anak keturunan kita juga mengambil faedah dari doa ini. Untuk pengabulan doa Hazrat Masih Mau’ud (as) ini kita pun harus berusaha secara amalan. Kita harus berusaha merubah keadaan diri kita dan berdoa dengan hati yang perih. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada kita untuk melaksanakan itu.

Pada bagian selanjutnya dari doa ini pun beliau (as) memanjatkan doa yang mana kita harus berdoa supaya doa beliau (as) ini tidak terkabul atas diri kita, beliau (as) bersabda,

“Ya, saya pun berdoa, ‘[Ya Allah!], jika ada seseorang dalam Jemaat hamba yang dalam pandangan dan iradah Engkau bernasib malang, tidak ditaqdirkan baginya untuk meraih kesucian sejati dan juga rasa takut kepada Engkau, maka wahai Tuhan Yang Maha Kuasa! Jauhkanlah ia dari Jemaat hamba sebagaimana ia dijauhkan dari sisi Engkau, dan gantikanlah tempatnya dengan yang lain. Gantikanlah tempatnya dengan yang lain yang berhati lembut dan yang dalam jiwanya mengharapkan Engkau.’”

Semoga Allah Ta’ala menyelamatkan kita dari keadaan dijauhkan dari Allah Ta’ala dan para malaikat-Nya, senantiasa menyelamatkan keimanan kita, bahkan terus meningkatkannya dan semoga kita meraih seluruh doa-doa yang beliau (as) panjatkan untuk para pengikut beliau (as)

Kita pun harus terus berdoa untuk keberkatan-keberkatan Jalsah dan terlindung dari segala macam kejahatan. Lebih berhati-hatilah di hari-hari ini. Perhatikanlah kanan-kiri. Semoga Allah Ta’ala menyelamatkan kita dari segala kejahatan orang-orang yang jahat dan kedengkian orang-orang yang dengki.

Khotbah II

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ

وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

مَنْيَهْدِهِاللهُفَلَامُضِلَّلَهُوَمَنْيُضْلِلْهُفَلَاهَادِيَلَهُ

وَنَشْهَدُأَنْلَاإِلٰهَإِلَّااللهُوَنَشْهَدُأَنَّمُحَمَّدًاعَبْدُهُوَرَسُوْلُهُ

عِبَادَاللهِ! رَحِمَكُمُاللهُ!

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ

يَعِظُكُمْلَعَلَّكُمْتَذكَّرُوْنَ

أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Penerjemah : Mln. Mahmud Ahmad Wardi, Syahid (London, UK) dan Mln. Hashim (Indonesia);

Editor: Dildaar Ahmad Dartono (Indonesia).

Rujukan komparasi pemeriksaan naskah: www.IslamAhmadiyya.net (bahasa Arab)

1 Ibnu Rajab al-Hambali (ابن رجب الحنبلي) dalam (جامع العلوم والحكم), (الحديث التاسع عشر احفظ الله يحفظك احفظ الله تجده تجاهك إذا سألت فاسأل الله) dan al-Mushannaf ibn Syaibah (المصنف لابن أبي شيبة ج 22 – فهارس الآيات القرآنية أطراف الأحاديث) menyebutkan qaul (kalimat) Sahabat adh-Dhahhak ibn Qais (ra), اذْكُرُوا اللَّهَ فِي الرَّخَاءِ يَذْكُرْكُمْ فِي الشِّدَّةِ ‘Udzkurullaaha fir rakhaa-i yadzkurukum fisy syiddah’ (ingatlah Allah pada masa kemakmuran maka Dia akan mengingat kalian pada masa kalian dalam kesukaran.); Ibn Abid Dunya dalam (الفرج بعد الشدة لابن أبي الدنيا) mengutip perkataan Abud Darda, اذْكُرِ اللَّهَ فِي السَّرَّاءِ يَذْكُرْكَ فِي الضَّرَّاءِ ‘Udzkurillaaha fis sarraa-i yadzkurukum fidh dharraa-i’ (ingatlah Allah pada masa kesenangan maka Dia akan mengingat kalian pada masa kalian dalam kesusahan)

2 Shahih al-Bukhari, kitab tentang keimanan, bab IV, no. 10.