Kedatangan Nabi Isa, Secara Fisik atau Rohani?

Oleh Qasim Rashid

Kedatangan Nabi Isa, secara fisik atau rohani

Permasalahan kedatangan Almasih merupakan sebuah misteri yang membuat penasaran banyak orang selama berabad-abad. Paus Innocentius III memprediksi kembalinya Kristus dan hari kiamat pada tahun 1284. William Miller berusaha menebaknya pada Oktober 1844. Alexander Dowie meluncurkan kampanyenya pada pergantian abad 20. Edgar Whisenant ikut memprediksinya pada September 1988. Sebagian orang juga menempatkan Nostradamus serta Sir Isaac Newton dalam daftar orang-orang yang memprediksi datangnya kiamat.

Selanjutnya ada Harold Camping, seorang teolog Kristen gadungan yang bersumpah ‘tanpa keraguan’ bahwa tanggal 21 Mei 2011 akan menjadi hari untuk menyambut kedatangan kembali Kristus – dan terjadinya hari kiamat. Camping sebelumnya juga pernah keliru pada 1994, tetapi ada masalah yang jauh lebih penting yang luput dari perhatian orang-orang.

Umat Islam pada umumnya percaya bahwa Nabi Isa telah naik ke langit, dan mereka menunggu kedatatangannya guna menyelamatkan umat Islam dan menghancurkan musuh-musuh Islam. Orang-orang Kristen pun memiliki kepercayaan yang sama, hanya saja Yesus akan menyelamatkan orang-orang Kristen. Orang-orang Yahudi meyakini bahwa turunnya Elia (Ilyas as) dari langit akan menjadi penyambut datangnya Almasih dan kemenangan bagi Umat yang Terpilih. Agama-agama lainnya juga memiliki pandangan yang serupa, tetapi terlepas dari agama apapun, masing-masing mengklaim bahwa mereka sendirilah yang paling benar serta menawarkan jaminan keselamatan pribadi setelah kembalinya Sang Almasih.

Tetapi di sepanjang sejarah, dari semua orang yang dianggap telah naik ke langit, berapa banyak yang benar-benar telah turun kembali untuk memberi tahu kita tentang pengalamannya itu?

Terkait:   Perjanjian Para Nabi

Pertanyaan ini mengarahkan kita pada pelajaran yang penting. Saat penganut setiap agama besar meyakini klaim yang sama persis tentang kenaikan ke langit, tetapi tidak ada satupun yang mampu memberikan sedikit saja bukti paling dasar, apalagi substantif, mengenai bukti akan turunnya.

Maka dari sini terbentang banyak permasalahan.

Pertama, jika Almasih akan turun dari langit untuk membawa perdamaian serta pengampunan dalam sekejap, maka Tuhan seharusnya sudah mengirimnya sejak enam ribu tahun yang lalu untuk menghindari semua pertumpahan darah.

Namun supaya kita tidak dituduh mempertanyakan kehendak Tuhan, mari kita beranjak ke pembahasan selanjutnya.

Kedua, apa yang membuat satu kisah tentang dugaan kenaikan ke langit (dengan diharapkan turun kembali) lebih bisa dipercaya daripada yang lain? Keyakinan tersebut tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan kisah-kisah Yunani kuno yang meyakini bahwa dewa-dewa mereka turun ke bumi dan berjalan di antara mereka. Faktanya, secara historis, orang-orang Yunani kuno memiliki lebih banyak klaim daripada orang-orang Kristen atau Muslim (atau bahkan Yahudi) perihal sosok turunnya orang yang ditunggu-tunggu dari langit karena kaum Yunani kuno telah mencetuskan pemikiran tersebut sebelum agama-agama Ibrahim.

Pada akhirnya, apakah manfaatnya kedatangan secara fisik dari langit dan kehancuran dunia secara fisik? Apakah pesan Tuhan begitu lemahnya sehingga Dia hanya dapat menegakkan Kebenaran-Nya melalui pilihan pembaiatan paksa atau kehancuran? Sungguh hal itu bukan sifat Tuhan. Tetapi apapun yang terjadi “Marilah kita bernalar bersama” (Yesaya 1:18), atau “Aku sendiri akan memberi kepadamu ‘kata-kata dan kebijaksanaan‘ itu, sehingga tak seorang pun dari musuh-musuhmu dapat melawan atau menyangkal apa yang kalian katakan” (Lukas 21:15), atau “Panggilah kepada jalan Tuhan engkau dengan bijaksana dan nasihat yang baik, dan bertukar-pikiranlah dengan mereka, dengan cara yang sebaik-baiknya.” (Q.S. 16:126)?

Terkait:   Kedatangan Almasih Kedua Kali di Akhir Zaman (Tinjauan Alkitab)

Disinilah inti dari misteri ini.

Mengapa orang-orang yang beriman tidak mempertimbangkan kemungkinan bahwa kedatangan Almasih bukanlah turun secara harfiah dari langit dan tidak akan membawa pesan kehancuran dunia dalam arti harfiah juga?

Tetapi sebaliknya, bagaimana jika Almasih datang untuk menyatukan semua agama di bawah satu panji perdamaian dengan semangat cinta, bukan pembaiatan paksa? Bagaimana jika ia datang untuk menghidupkan kembali keimanan dengan berlandaskan pesan-pesan yang rasional – bukan dengan kekerasan? Dan bagaimana jika ia datang untuk menegakkan kebenaran melalui logika – bukan dogma? Mungkin karena tugas tersebut terdengar sangat tidak menakutkan, sehingga lebih mudah untuk percaya pada dengan cara turun dari langit secara fisik? Sungguh ironis.

Kita tidak perlu memaksakan untuk menunggu turunnya secara fisik. Ini adalah konsep yang juga telah ditolak oleh Nabi Isa ketika ia menjelaskan bahwa Yohanes Pembaptis merupakan sosok yang telah menggenapi kedatangan Elia secara rohani. Bahkan Al-Qur’an juga menjelaskan

“Dan ingatlah ketika Isa ibnu Maryam berkata, “Hai, Bani Israil, sesungguhnya aku Rasul Allah kepadamu membenarkan apa yang ada sebelumku yaitu Taurat, dan memberi kabar suka tentang seorang rasul yang datang sesudahku namanya Ahmad.” Maka tatkala ia datang kepada mereka dengan bukti-bukti jelas, mereka berkata, “Ini adalah sihir yang nyata.” (QS 61:7)

Namun misteri tersebut tidaklah berhenti di sini. Sekarang, Mirza Ghulam Ahmad yang tampil ke muka.

Terkait:   Kesalahpahaman tentang Kedatangan Almasih Akhir Zaman

Mirza Ghulam Ahmad dengan tegas menolak keyakinan tentang seorang yang turun dari langit secara fisik, dan beliau menyatakan diri sebagai Almasih Kedua yang dinanti-nantikan yang kedatangannya telah dinubuatkan oleh semua agama besar. Pesan Mirza Ghulam Ahmad tidak mendukung kehancuran dunia melainkan sebuah reformasi damai bagi umat manusia melalui cinta kasih, pesan-pesan yang rasional, serta logika. Di dalam lebih dari 80 buku dan ribuan risalah beliau terdapat ‘kata-kata dan kebijaksanaan‘ seperti telah dijanjikan oleh Almasih pertama untuk diberikan sebagai bukti kebenarannya.

Marilah menuju nasihat yang baik ini, Anda dapat meraih’ kata-kata dan kebijaksanaan’ dari Mirza Ghulam Ahmad melalui ujung jari Anda sehingga kita dapat bernalar bersama. Dan ketika Anda mempelajari pendakwahan Mirza Ghulam Ahmad sebagai Almasih, Anda mungkin hanya bisa mengucapkan dua kata yang tak terhitung nilainya.
Misteri terpecahkan.

Sumber: Alislam.org – Where is Jesus? the Case of the Missing Messiah
Penerjemah: Irfan Adiatama