بسم اللہ الرحمن الرحیم

(Pembahasan Sahabat peserta perang Badr, Hazrat Zaid bin Haritsah radhiyAllahu ta’ala ‘anhu)

Asal-usul dan riwayat singkat para Sahabat berdasarkan data dari Kitab-Kitab Tafsir, Hadits, Sirah (biografi) dan Tarikh (Sejarah).

Dakwah Nabi Muhammad (saw) ke negeri Thaif didampingi Hazrat Zaid (ra).

Penentangan dan doa Nabi (saw). Keistimewaan Muth’im bin Adiyy bin Naufal bin Abdu Manaf, tokoh kafir Quraisy yang melindungi Nabi (saw) saat memasuki Makkah dari Tha’if.

Riwayat Hazrat Ummu Ayman, ibu asuh Nabi Muhammad (saw). Keringanan mengucap salam untuk Hazrat Ummu Ayman yang kurang fasih dalam berbicara.

Pernikahan dan Perceraian Hazrat Zaid bin Haritsah (ra) dengan Hazrat Zainab binti Jahsy (ra).

Perjanjian Hudaibiyah; pertentangan pendapat diantara keluarga Nabi (saw) mengenai siapa yang berhak mengasuh putri Hazrat Hamzah dan keputusan Nabi (saw)

Hikmah pernikahan Nabi dengan Hazrat Zainab (ra) diantaranya ialah menikahi wanita yang telah pernah dicerai tidak akan dianggap sebagai aib dalam Islam.

Khotbah Jumat Sayyidina Amirul Mu’minin, Hazrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (أيده الله تعالى بنصره العزيز, ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 14 Juni 2019 (Ihsan 1398 Hijriyah Syamsiyah/10 Syawal 1440 Hijriyah Qamariyah) di Masjid Baitul Futuh, Morden, London, UK (Britania)

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ. (آمين)

Pada Khotbah Jumat lalu saya tengah membahas berkenaan dengan riwayat hidup Hazrat Zaid bin Haritsah (زَيْدَ بْنَ حَارِثَةَ). Di dalamnya dijelaskan pula perihal perjalanan ke kota Taif yang mana beliau ikut serta bersama dengan Rasulullah (saw) dalam perjalanan tersebut.

Saya akan jelaskan lebih lanjut perihal perjalanan Rasulullah (saw) ke Thaif yang saya ambil dari buku Sirat Khataman Nabiyyin karya Hazrat Mirza Bashir Ahmad Ra: “Setelah keluar dari Syi’ib Abi Thalib (lembah Abu Thalib) Hazrat RasuluLlah (saw) menempuh perjalanan ke Thaif. Setelah boikot mereda dan Rasulullah (saw) mendapatkan kebebasan sampai batas tertentu untuk bergerak, beliau bermaksud untuk berangkat ke Thaif guna menyeru penduduk di sana kepada Islam.[1] Thaif merupakan daerah yang masyhur yang terletak di sebelah tenggara dan berjarak 40 mil dari Makkah dan pada masa itu berpenduduk Banu Tsaqif. Jika kita kesampingkan dulu keistimewaan Kabah, seolah-olah Thaif ini merupakan tempat yang selevel dengan Makkah dari sisi kota. Kota tersebut dihuni banyak pembesar dan hartawan. Penduduk Makkah sendiri mengakui keistimewaan ini. Sebagaimana terdapat ucapan penduduk Makkah yang Allah ta’ala kutip dalam Al Quran, وَقَالُوا لَوْلَا نُزِّلَ هَٰذَا الْقُرْآنُ عَلَىٰ رَجُلٍ مِّنَ الْقَرْيَتَيْنِ عَظِيمٍ (31)  “Mengapa Al-Qur’an ini tidak diturunkan kepada orang besar dari kedua kota itu?” Az-Zukhruf (43:32)

Walhasil, pada bulan syawal 10 Nabawi Hazrat RasuluLlah (saw) berangkat ke Thaif.[2] Di beberapa riwayat disebutkan beliau (saw) berangkat sendiri. [3] Pada beberapa riwayat lainnya disebutkan beliau (saw) bersama dengan Zaid Bin Haritsah.[4] Beliau tinggal selama 10 hari di sana dan menemui para pembesar kota satu per satu. Namun nasib kota tersebut seperti halnya Makkah yang mana saat itu tidak ditakdirkan untuk menerima. Kesemuanya menolak bahkan mengolok-olok. Pada akhirnya, beliau (saw) menemui seorang pemimpin tertinggi Thaif yang bernama Abdul Yalil dan dalam hadits bernama Ibnu Abdul Yalil lalu menyampaikan tabligh Islam kepadanya. Namun orang itu menolak secara terang-terangan bahkan berkata dengan nada olok olok: “Jika memang anda benar, maka saya tidak akan berani untuk berbincang dengan anda dan jika anda pendusta, berarti perbincangan ini tidak ada manfaatnya.”[5]

Ia juga berfikir jangan sampai para pemuda kota terkesan dengan tabligh RasuluLlah (saw). Lalu ia berkata kepada rasul: Lebih baik anda meninggalkan kota ini, karena tidak ada orang yang mendengarkan penjelasan anda. Kemudian orang lancang itu memerintahkan para berandalan di kota itu untuk mengejar beliau.

Ketika RasuluLlah (saw) meninggalkan kota tersebut, para berandalan itu membuntuti Rasulullah (saw) sambil meneriakkan sesuatu dan mulai melempari RasuluLlah (saw) yang menyebabkan darah mengucur dari tubuh Rasul. Sementara pada riwayat sebelumnya dikatakan beliau (saw) disertai oleh Hazrat Zaid yang berusaha untuk menahan batu-batu dan akhirnya mengenai kepada Zaid juga. Mereka menghujani Rasulullah (saw) dan mengolok olok Rasulullah (saw) sepanjang 3 mil. Lalu Rasulullah (saw) berlindung dalam sebuah kebun yang berjarak 3 mil dari thaif milik pemuka Makkah, Utbah Bin rabiah. Sementara orang-orang zalim itu kelelahan dan kembali pulang. Dalam kebun itu dibawah naungan beliau berdoa kepada Allah ta’ala, اللّهُمّ إلَيْك أَشْكُو ضَعْفَ قُوّتِي، وَقِلّةَ حِيلَتِي، وَهَوَانِي عَلَى النّاسِ يَا أَرْحَمَ الرّاحِمِينَ أَنْتَ رَبّ الْمُسْتَضْعَفِينَ وَأَنْتَ رَبّي، إلَى مَنْ تَكِلُنِي؟ إلَى بَعِيدٍ يَتَجَهّمُنِي؟ أَمْ إلَى عَدُوّ مَلّكْتَهُ أَمْرِي؟ إنْ لَمْ يَكُنْ بِك عَلَيّ غَضَبٌ فَلَا أُبَالِي، وَلَكِنّ عَافِيَتَك هِيَ أَوْسَعُ لِي، أَعُوذُ بِنُورِ وَجْهِك الّذِي أَشْرَقَتْ لَهُ الظّلُمَاتُ وَصَلُحَ عَلَيْهِ أَمْرُ الدّنْيَا وَالْآخِرَةِ مِنْ أَنْ تُنْزِلَ بِي غَضَبَك، أَوْ يَحِلّ عَلَيّ سُخْطُكَ لَك الْعُتْبَى حَتّى تَرْضَى، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوّةَ إلّا بِك.Allaahumma ilaika asykuu dha’fi wa quwwatii wa qillatu hiilatii wa hawaanii alannaasi Allaahumma yaa arhamar raahimiin anta rabbul mustadhafiina wa anta rabbi, wa ila man takilni? Ila ba’iidin yatajahhamuni? Am ila ‘aduwwim malaktahu amri? In lam yakun bika ‘alayya ghadhabun falaa ubaali, wa lakin ‘afiyataka hiya ausa’u li, a’udzu bi nuuri wajhikalladzi asyraqat lahuzh zhulumaatu wa shaluha ‘alaihi amrud dunya wal akhirati min an tunzila bi ghadhabaka, au yahilla ‘alayya sukhthika lakal ‘utba hatta tardha wa haula walaa quwwata illa bik.’ – ‘Ya Allah! Hamba keluhkan kepada Engkau, ketidakberdayaan hamba, kurangnya upaya hamba dan ketidakmampuan hamba dalam menghadapi orang-orang. Wahai Engkau Yang Paling Penyayang dari antara para penyayang, Engkaulah pelindung bagi orang-orang yang lemah dan tak berdaya, Engkaulah Tuhan hamba. Kepada siapakah Engkau tinggalkan hamba? Kepada orang-orang berjarak jauh yang menerima hamba dengan keramahan? Ataukah kepada para musuh yang Engkau berikan mereka kekuatan? Selama Engkau tidak murka kepada hamba, tidak hamba pedulikan apa pun yang hamba hadapi. Hamba, walau bagaimana pun, lebih berbahagia dengan kasih Engkau. Hamba memohon perlindungan dalam sinar wajah Engkau Yang menjauhkan kegelapan dan menjadikan manusia sebagai pewaris kebaikan dunia dan akhirat serta berada di tempat yang tepat dan bukan sasaran murka Engkau. Kepada Engkau hamba mengadu hingga hamba memperoleh ridha Engkau. Segala sesuatu tanpa daya bila tidak mendapat dukungan Engkau.” [6]

Utbah dan Syaibah (asal dari keluarga Umayyah bin Abdusy Syams di Makkah) pada saat itu tengah berada di kebun tersebut. Ketika mereka melihat keadaan RasuluLlah (saw) seperti itu, disebabkan oleh kekerabatan atau solidaritas kaum atau karena alasan apapun, mereka menyuruh hamba sahaya Kristen bernama ‘Addaas untuk memberikan buah anggur kepada RasuluLlah (saw).

Rasulullah (saw) mengambil pemberiannya dan bertanya kepada ‘Addaas, وَمِنْ أَهْلِ أَيّ الْبِلَادِ أَنْتَ يَا عَدّاسُ وَمَا دِينُك؟ ”Anda dari mana? Agama apa yang Anda anut?”[7]

Ia menjawab, نَصْرَانِيّ، وَأَنَا رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ نِينَوَى ”Saya berasal dari Nenawa (Nineveh, Iraq) dan saya beragama Kristen.”

فَقَالَ رَسُولُ اللّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ مِنْ قَرْيَةِ الرّجُلِ الصّالِحِ يُونُسَ بْنِ مَتّى Rasulullah (saw) bertanya, ”Apakah Nenawa yang Anda maksud itu adalah tempat asalnya seorang hamba Tuhan nan saleh bernama Yunus bin Matta (Jonah son of Matthew)?”

‘Addaas menjawab, وَمَا يُدْرِيك مَا يُونُسُ بْنُ مَتّى؟  ”Bagaimana Anda dapat mengetahui perihal Yunus?”

Rasulullah (saw) bersabda, ذَاكَ أَخِي، كَانَ نَبِيّا وَأَنَا نَبِيّ “Ia saudara saya karena ia adalah seorang Nabi dan saya pun seorang nabi Allah.”

Rasulullah (saw) bertabligh kepadanya dan hamba sahaya tersebut terkesan. Dengan penuh keikhlasan orang itu melangkah maju dan mencium tangan Rasul.

Utbah dan syaibah pun melihat pemandangan itu dari kejauhan. ‘Addaas lalu kembali kepada mereka berdua. Mereka bertanya kepada ‘Addaas, وَيْحَك يَا عَدّاسُ لَا، يَصْرِفَنّك عَنْ دِينِك، فَإِنّ دِينَك خَيْرٌ مِنْ دِينِهِ “Apa yang telah terjadi denganmu? Kenapa mencium tangan orang itu? Orang itu akan menghancurkan agamamu padahal agamamu lebih baik dari agamanya.” [8]

Setelah itu Rasulullah (saw) beristirahat sebentar dalam kebun itu lalu berangkat ke Nakhlah yang berjarak satu manzil dari Makkah dan tinggal beberapa hari di sana.[9] Kemudian, meninggalkan Nakhlah menuju bukit Hira.

Pada lahiriahnya perjalanan ke Thaif menuai kegagalan sehingga ada kekhawatiran penduduk Makkah semakin berani. Karena itu, beliau mengirim pesan kepada Muth’im Bin Adi, ”Saya ingin memasuki Makkah, apakah anda bisa membantu saya?”

Muth’im seorang kafir tulen namun memiliki hati mulia. Menurutnya, sikap menolak untuk memberikan perlindungan dalam keadaan seperti itu adalah bertentangan dengan fitrat baik mereka. Alhasil, keistimewaan tersebut pun dimiliki penduduk Arab pada zaman jahiliyah. Muth’im lalu mengajak anak-anaknya dan kerabat untuk berdiri di dekat Kabah dengan dilengkapi senjata dan mengirim pesan kepada Rasulullah (saw) untuk datang dan mereka memberikan jaminan perlindungan.

Rasulullah (saw) tiba dan tawaf di Kabah lalu masuk ke rumah dengan pengawalan Muth’im dan kerabatnya. Dalam perjalanan ketika Abu Jahl melihat Muth’im dalam keadaan demikian, ia berkata dengan heran, “Apakah kamu hanya memberi perlindungan kepada Muhammad ataukah sudah menjadi pengikutnya?”

Muth’im menjawab, “Saya hanya memberi perlindungan, tidak menjadi pengikutnya.” Lalu Abu Jahl berkata, “Baiklah, tidak apa kalau begitu.” Muth’im wafat dalam keadaan tidak beriman dan perbuatannya itu merupakan satu kebaikan.[10]

Ketika Hazrat Zaid hijrah ke Madinah, beliau tinggal di rumah Hazrat Kultsum Bin Hadam dan sebagian berpendapat beliau tinggal di rumah Hazrat Saad Bin Khaitsmah. Hazrat RasuluLlah (saw) menjalinkan persaudaraan antara beliau dengan Hazrat Usaid Bin Hudhair. Sebagian lagi berpendapat dengan Hazrat Hamzah. Inilah sebabnya ketika perang Uhud berwasiyat untuk Hazrat Zaid.

Berkenaan dengan itu Hazrat Mirza Bashir Ahmad menulis dalam kitab Sirat Khataman Nabiyyiin, “Beberapa waktu setelah sampai di Madinah, Hazrat RasuluLlah (saw) memberikan uang beberapa rupiah lalu mengutusnya pergi ke Makkah. Beberapa hari kemudian Hazrat Zaid bin Haritsah datang kembali ke Madinah dengan membawa serta keluarga beliau. Beliau juga disertai Abdullah bin Abi Bakr yang membawa keluarga Hazrat Abu Bakr ke Madinah.”[11]

(عَنْ الْبَرَاءِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ) Hazrat Bara Ra meriwayatkan, لَمَّا اعْتَمَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي ذِي الْقَعْدَةِ فَأَبَى أَهْلُ مَكَّةَ أَنْ يَدَعُوهُ يَدْخُلُ مَكَّةَ حَتَّى قَاضَاهُمْ عَلَى أَنْ يُقِيمَ بِهَا ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ فَلَمَّا كَتَبُوا الْكِتَابَ كَتَبُوا “Ketika Rasulullah (saw) bermaksud untuk umrah pada bulan Dzul Qa’dah, penduduk Makkah tidak mengizinkan Rasulullah (saw) untuk masuk Makkah. Pada akhirnya Rasulullah (saw) membuat perjanjian damai dengan mereka dengan syarat beliau (saw) akan umrah tahun depan dan berada di Makkah untuk tiga hari saja. Lalu dituliskan perjanjian damai tadi dengan syarat syarat demikian: هَذَا مَا قَاضَى عَلَيْهِ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ ‘Ini adalah perjanjian antara Muhammad Rasul Allah…’

قَالُوا لَا نُقِرُّ لَكَ بِهَذَا لَوْ نَعْلَمُ أَنَّكَ رَسُولُ اللَّهِ مَا مَنَعْنَاكَ شَيْئًا وَلَكِنْ أَنْتَ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ Utusan Makkah mengatakan, ‘Jika kami meyakini anda sebagai Rasul Allah, kami tidak akan pernah menghalangi anda. Kami meyakini anda sebagai Muhammad bin (putra) Abdullah.’

فَقَالَ أَنَا رَسُولُ اللَّهِ وَأَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ ثُمَّ قَالَ لِعَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ امْحُ رَسُولَ اللَّهِ Rasulullah (saw) bersabda, ‘Saya adalah Rasul Allah dan juga Muhammad bin Abdullah.’

Rasulullah (saw) bersabda kepada Hazrat Ali (ra), ‘Hapuskanlah kata Rasul Allah.’

قَالَ عَلِيٌّ لَا وَاللَّهِ لَا أَمْحُوكَ أَبَدًا Hazrat Ali berkata, ‘Demi Tuhan, sekali-kali saya tidak akan pernah menghapus julukan dari Tuhan kepada tuan “Rasul Allah”.’

فَأَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْكِتَابَ وَلَيْسَ يُحْسِنُ يَكْتُبُ فَكَتَبَ هَذَا مَا قَاضَى عَلَيْهِ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ Rasulullah (saw) mengambil lembar perjanjian darinya. RasuluLlah (saw) tidak dapat menulis dengan baik lalu beliau (saw) menulis: ‘Inilah persyaratan yang disetujui oleh Muhammad bin Abdullah sebagai berikut: لَا يُدْخِلُ مَكَّةَ السِّلَاحَ إِلَّا السَّيْفَ فِي الْقِرَابِ وَأَنْ لَا يَخْرُجَ مِنْ أَهْلِهَا بِأَحَدٍ إِنْ أَرَادَ أَنْ يَتْبَعَهُ وَأَنْ لَا يَمْنَعَ مِنْ أَصْحَابِهِ أَحَدًا إِنْ أَرَادَ أَنْ يُقِيمَ بِهَا

Tidak akan membawa senjata ke Makkah kecuali pedang-pedang yang berada di dalam sarungnya

Tidak akan mengajak serta penduduk Makkah, meskipun ada yang ingin ikut bersama

Tidak akan melarang sahabat jika ada yang ingin menetap di Makkah.’

فَلَمَّا دَخَلَهَا وَمَضَى الْأَجَلُ أَتَوْا عَلِيًّا فَقَالُوا قُلْ لِصَاحِبِكَ اخْرُجْ عَنَّا فَقَدْ مَضَى الْأَجَلُ فَخَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ Sesuai dengan perjanjian tersebut, pada tahun berikutnya Rasulullah (saw) memasuki Makkah dan setelah berakhir masa tiga hari, perwakilan Quraisy datang menemui Hazrat Ali dan berkata, ‘Katakan kepada kawan anda yakni Muhammad (saw) untuk segera meninggalkan Makkah karena batas waktu yang ditetapkan telah berakhir.’

Terkait:   Keteladanan Para Sahabat Nabi Muhammad shallAllahu ‘alaihi wasallam (Manusia-Manusia Istimewa, seri 35)

Rasulullah (saw) lalu pergi meninggalkan Makkah.[12]

فَتَبِعَتْهُ ابْنَةُ حَمْزَةَ تُنَادِي يَا عَمِّ يَا عَمِّ Pada saat itu putri Hazrat Hamzah, – bernama Umarah, dalam riwayat lain bernama Umamah dan Ammatullah -, mengikuti RasuluLlah (saw) dan berkata, ‘Wahai paman, wahai paman!’

فَتَنَاوَلَهَا عَلِيٌّ فَأَخَذَ بِيَدِهَا وَقَالَ لِفَاطِمَةَ عَلَيْهَا السَّلَام دُونَكِ ابْنَةَ عَمِّكِ حَمَلَتْهَا Hazrat Ali datang menghampiri dan memegang tangannya dan berkata kepada Hazrat Fatimah ‘alaihas salaam, “Bawalah putri pamanmu ini!’

Lalu mereka menaikkannya ke kendaraan.

فَاخْتَصَمَ فِيهَا عَلِيٌّ وَزَيْدٌ وَجَعْفَرٌ Kemudian, Hazrat Ali, Hazrat Zaid dan Hazrat Ja’far bin Abu Thalib mulai berselisih mengenai putri Hazrat Hamzah.

قَالَ عَلِيٌّ أَنَا أَخَذْتُهَا وَهِيَ بِنْتُ عَمِّي Hazrat Ali mengatakan, ‘Saya sudah membawanya karena ia putri paman saya.’

وَقَالَ جَعْفَرٌ ابْنَةُ عَمِّي وَخَالَتُهَا تَحْتِي Lalu Hazrat Ja’far berkata, ‘Dia adalah putri paman saya dan bibinya, Asma Binti Umais adalah istri saya.’

وَقَالَ زَيْدٌ ابْنَةُ أَخِي Lalu Hazrat Zaid berkata, ‘Dia adalah putri saudara saya.’ Hal itu karena Rasulullah (saw) telah menjalinkan persaudaraan antara Hazrat Zaid dan Hazrat Hamzah.

فَقَضَى بِهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِخَالَتِهَا وَقَالَ Lalu Rasulullah (saw) memutuskan mengenai hal tersebut bahwa anak itu akan tinggal bersama dengan bibinya karena Hazrat Ja’far tinggal bersamanya. Rasulullah (saw) bersabda: الْخَالَةُ بِمَنْزِلَةِ الْأُمِّ ‘Khalah (saudara perempuan ibu) berkedudukan sebagai ibu.’

وَقَالَ لِعَلِيٍّ أَنْتَ مِنِّي وَأَنَا مِنْكَ Beliau (saw) berkata kepada Hazrat Ali, ‘Anda adalah milik saya dan saya adalah milik Anda.’

وَقَالَ لِجَعْفَرٍ أَشْبَهْتَ خَلْقِي وَخُلُقِي Beliau (saw) bersabda kepada Hazrat Ja’far, ‘Anda memiliki wajah dan sifat mirip dengan saya.’ وَقَالَ لِزَيْدٍ أَنْتَ أَخُونَا وَمَوْلَانَا Beliau (saw) bersabda kepada Hazrat Zaid, “Anda adalah saudara dan kawan kami.”

وَقَالَ عَلِيٌّ أَلَا تَتَزَوَّجُ بِنْتَ حَمْزَةَ قَالَ إِنَّهَا ابْنَةُ أَخِي مِنْ الرَّضَاعَةِ Hazrat Ali berkata, “Dapatkah Anda menikahi putri Hamzah?”

Rasulullah (saw) menjawab, “[Tidak!] karena dia putri saudara sepersusuan saya dan saya adalah paman anak ini.’”

Dikutip dari riwayat Bukhari dan as-Siratul Halabiyah.[13]

Hazrat Zaid Bin Haritsah menikahi Hazrat Ummu Ayman. Hazrat Ummu Ayman bernama asli Barkah, beliau mendapat sebutan Ummu Ayman karena putra beliau bernama Ayman. Beliau berasal dari Habsyah dan merupakan pelayan Hazrat Abdullah ayahanda RasuluLlah (saw). Setelah Hazrat Abdullah wafat, beliau tinggal bersama Hazrat Aminah. Setelah Rasulullah (saw) berusia 6 tahun, Hazrat Aminah membawa Rasulullah (saw) ke Madinah untuk menemui kerabat dari pihak ayah dan saat itu ditemani oleh pelayan beliau, Ummu Ayman. Sepulang dari Madinah, ketika sampai di daerah Abwa yang berjarak 5 mil dari masjid Nabawi, Hazrat Aminah wafat. Hazrat Ummu Ayman membawa Rasulullah (saw) ke Makkah diatas dua unta yang dikendarai dari Makkah.

Sebelum pendakwaan kenabian RasuluLlah (saw), Hazrat Ummu Ayman menikah dengan Ubaid Bin Zaid di Makkah, ia adalah seorang hamba sahaya keturunan Afrika juga. Dari pernikahan tersebut terlahir seorang putra yang bernama Ayman. Hazrat Ayman mendapatkan kemuliaan mati syahid dalam peperangan Hunain. Setelah suami Ummu Ayman wafat, beliau dinikahkan dengan Hazrat Zaid. Dalam riwayat dikatakan bahwa Hazrat Ummu Ayman memperlakukan RasuluLlah (saw) dengan penuh kasih sayang dan memperhatikan beliau.

Rasulullah (saw) bersabda,  مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَتَزَوَّجَ امْرَأَةً مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ، فَلْيَتَزَوَّجْ أُمَّ أَيْمَنَ ” ، “Siapa yang ingin menikahi wanita penghuni surga dan berbahagia, nikahilah Ummu Ayman.” فَتَزَوَّجَهَا زَيْدٌ ، فَوَلَدَتْ لَهُ أُسَامَةَ . Hazrat Zaid Bin Haritsah lalu menikahi Hazrat Ummu Ayman dan darinya terlahir Hazrat Usamah.[14]

Hazrat Ummu Ayman hijrah ke Habsyah bersama umat muslim lainnya dan setelahnya kembali ke Madinah lalu ikut serta dalam perang Uhud. Dalam perang tersebut Hazrat Ayman biasa memberikan minum pada pasukan dan merawat yang terluka. Beliau pun mendapatkan taufik untuk ikut pada perang Khaibar.[15]

Ketika Hazrat Umar disyahidkan pada 23 Hijriyah (644), Hazrat Ummu Ayman banyak menangis. Orang-orang bertanya, “Kenapa engkau menangis?”

Beliau menjawab, اليَوْمَ وَهَى الإِسْلاَمُ “Dengan syahidnya Hazrat Umar, Islam menjadi lemah.”[16]

Hazrat Ummu Ayman wafat pada masa awal kekhalifahan Hazrat Usman.

Berikut adalah tulisan Hazrat Mirza Bashir Ahmad berkenaan dengan pernikahan Hazrat Zaid dengan Hazrat Ummu Ayman yang beliau rujuk dari berbagai referensi. Singkatnya sebagai berikut, Ummu Ayman adalah seorang pelayan yang kepemilikannya beralih kepada RasuluLlah (saw) paska kewafatan ayah beliau. Setelah dewasa, Rasulullah (saw) memerdekakan Ummu Ayman dan memperlakukan beliau dengan penuh kebaikan. Di kemudian hari Hazrat Ummu Ayman menikah dengan hamba sahaya Rasulullah (saw) yang dimerdekakakn bernama Hazrat Zaid Ra. Dari perut beliau terlahir Usamah Bin Zaid .[17]

Usamah Bin Zaid dijuluki Al Hub Ibnu Al Hub yakni anak tercinta dari sang kekasih.

 كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآَلِهِ وَسَلَّمَ ، يَقُولُ لأُمِّ أَيْمَنَ : ” يَا أُمَّهْ ” Ketika melihat Hazrat Ummu Ayman, Hazrat RasuluLlah (saw) selalu bersabda, ‘Ya ummah!’ – “Wahai ibu!”

Ketika Rasulullah (saw) melihat Hazrat Ummu Ayman, beliau selalu bersabda, هَذِهِ بَقِيَّةُ أَهْلِ بَيْتِي ‘Hadzihi baqiiyyatu ahli baiti – inilah yang tersisa dari Ahli Bait (keluarga) saya.’[18]

Berdasarkan riwayat lain, Hazrat RasuluLlah (saw) biasa bersabda,  أُمُّ أَيْمَنَ أُمِّي بَعْدَ أُمِّي  “Ummu Ayman ummii ba’da ummii – Ummu Ayman adalah ibu saya setelah ibu kandung saya.”[19] RasuluLlah (saw) pun biasa berkunjung ke rumah beliau untuk bertemu.

Hazrat Anas Bin Malik meriwayatkan (عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ), لَمَّا قَدِمَ الْمُهَاجِرُونَ مِنْ مَكَّةَ الْمَدِينَةَ قَدِمُوا وَلَيْسَ بِأَيْدِيهِمْ شَىْءٌ وَكَانَ الأَنْصَارُ أَهْلَ الأَرْضِ وَالْعَقَارِ فَقَاسَمَهُمُ الأَنْصَارُ عَلَى أَنْ أَعْطَوْهُمْ أَنْصَافَ ثِمَارِ أَمْوَالِهِمْ كُلَّ عَامٍ وَيَكْفُونَهُمُ الْعَمَلَ وَالْمَئُونَةَ “Ketika para Muhajir (pengungsi) dari Makkah tiba di Madinah, mereka tanpa bekal harta sesuatu pun di tangan mereka sedangkan kaum Anshar adalah pemilik harta dan tuan tanah, maka orang-orang Anshar berjanji kepada mereka akan membagikan hasil kebun dan biji-bijian dari hasil kebun mereka setiap tahunnya, namun pengelolaan ladangnya akan dilakukan oleh Anshar sendiri, tidak akan membiarkan Muhajirin mengurus kebun mereka.”

وَكَانَتْ أُمُّ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ وَهْىَ تُدْعَى أُمَّ سُلَيْمٍ – وَكَانَتْ أُمَّ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي طَلْحَةَ كَانَ أَخًا لأَنَسٍ لأُمِّهِ – وَكَانَتْ أَعْطَتْ أُمُّ أَنَسٍ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عِذَاقًا لَهَا فَأَعْطَاهَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أُمَّ أَيْمَنَ مَوْلاَتَهُ أُمَّ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ ‏.‏ Ibunda Hazrat Anas bernama Hazrat Ummi Sulaim yang juga merupakan ibunda Hazrat Abdullah Bin Abi Talhah. Ibunda Hazrat Anas pernah memberikan pohon-pohon kurma kepada RasuluLlah (saw) dan Hazrat RasuluLlah (saw) memberikan pohon tersebut kepada Hazrat Ummu Ayman, ibunda Hazrat Usamah Bin Zaid.

قَالَ ابْنُ شِهَابٍ فَأَخْبَرَنِي أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم لَمَّا فَرَغَ مِنْ قِتَالِ أَهْلِ خَيْبَرَ وَانْصَرَفَ إِلَى الْمَدِينَةِ رَدَّ الْمُهَاجِرُونَ إِلَى الأَنْصَارِ مَنَائِحَهُمُ الَّتِي كَانُوا مَنَحُوهُمْ مِنْ ثِمَارِهِمْ – قَالَ – فَرَدَّ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِلَى أُمِّي عِذَاقَهَا وَأَعْطَى رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أُمَّ أَيْمَنَ مَكَانَهُنَّ مِنْ حَائِطِهِ ‏.‏ Ibnu Syihab mengatakan: Hazrat Anas Bin Malik memberitahukan saya bahwa ketika RasuluLlah (saw) selesai dari peperangan Khaibar dan kembali ke Madinah, para Muhajirin mengembalikan pemberian kaum Anshar tersebut yakni pohon-pohon berbuah yang mereka berikan kepada mereka dari kebunnya. Saat itu mereka mendapatkan harta kekayaan dan lain-lain dari upaya sendiri. Hazrat RasuluLlah (saw) pun mengembalikan pohon kurma yang telah diberikan oleh ibunda Hazrat Anas. Sebagai gantinya RasuluLlah (saw) memberikan Ummu Ayman beberapa pohon dari kebun beliau sendiri.[20]

Riwayat selengkapnya dari Bukhari sebagai berikut: Hazrat Anas meriwayatkan (حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ ، عَنْ نَبِيِّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ), أَنَّ الرَّجُلَ كَانَ يُجْعَلُ لَهُ مِنْ مَالِهِ النَّخَلاتُ أَوْ كَمَا شَاءَ اللَّهُ ، حَتَّى فُتِحَتْ قُرَيْظَةُ وَالنَّضِيرُ فَجَعَلَ يُرَدُّ بَعْدَ ذَلِكَ “Beberapa sahabat telah mengkhususkan beberapa pohon kurma teruntuk RasuluLlah (saw). Ketika RasuluLlah (saw) menaklukkan Quraidhah dan Nadhir, lalu Rasulullah (saw) tidak membutuhkannya lagi.”

Hazrat Anas mengatakan, وَإِنَّ أَهْلِي أَمَرَتْنِي أَنْ آتِيَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَسْأَلَهُ الَّذِي كَانَ أَهْلُهُ أَعْطَوْهُ أَوْ بَعْضَهُ ، وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَعْطَاهُ أُمَّ أَيْمَنَ ، أَوْ كَمَا شَاءَ اللَّهُ “Keluarga saya mengatakan kepada saya untuk menjumpai RasuluLlah (saw) agar meminta kembali pohon kurma yang pernah diberikan kepada Rasul, karena RasuluLlah (saw) sudah tidak membutuhkannya lagi. Karena RasuluLlah (saw) telah menghadiahkan pohon-pohon tersebut kepada Hazrat Ummu Ayman.”

Hazrat Anas berkata: قَالَتْ : فَسَأَلْتُ النَّبِيَّ فَأَعْطَانِيهِنَّ , فَجَاءَتْ أُمُّ أَيْمَنَ فَجَعَلَتِ الثَّوْبَ فِي عُنُقِي ، وَجَعَلَتْ تَقُولُ Mendengar kabar tersebut Hazrat Ummu Ayman datang dan mengikat leherku dengan kain lalu berkata, كَلا وَالَّذِي لا إِلَهَ إِلا هُوَ لا يُعْطِيكَهُنَّ وَقَدْ أَعْطَانِيهِنَّ , أَوْ كَمَا قَالَتْ ‘Sekali kali saya tidak akan memberikan pohon tersebut, demi Dzat yang tiada sembahan lain selainnya, kamu tidak akan mendapatkan lagi pohon-pohon tersebut, karena Rasulullah (saw) telah memberikannya padaku (atau mengatakan seperti itu).

فَقَالَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ” لَكِ كَذَا “ Hazrat RasuluLlah (saw) bersabda kepada Ummu Ayman, ‘Tidak apa apa, kembalikan saja, anda akan saya berikan sebanyak itu juga dari tempat lain.’

وَتَقُولُ : كَلا وَاللَّهِ أَوْ كَالَّذِي قَالَتْ Ummu Ayman berkata, ‘Demi Tuhan! Tidak akan saya kembalikan.’

Hazrat Anas mengatakan, وَيَقُولُ لَكِ كَذَا الَّذِي أَعْطَاهَا ، حَسِبَتْ أَنَّهُ قَالَ : عَشْرَةَ أَمْثَالِهِ أَوْ قَرِيبًا مِنْ عَشْرَةِ أَمْثَالِهِ ، أَوْ كَمَا قَالَ .  “Pada akhirnya RasuluLlah (saw) berjanji akan menggantinya dengan kira-kira 10 kali lipat dari itu atau kata kata seperti itu, baru setelah itu Ummu Ayman mau mengembalikannya.[21]

Di dalam satu riwayat disebutkan, لَمَّا هَاجَرَتْ أُمُّ أَيْمَنَ أَمْسَتْ بِالْمُنْصَرَفِ دُونَ الرَّوْحَاءِ ، فَعَطِشَتْ وَلَيْسَ مَعَهَا مَاءٌ وَهِيَ صَائِمَةٌ ، فَجَهَدَهَا الْعَطَشُ ، Hazrat Ummu Ayman hijrah ke Madinah dengan berjalan kaki sehingga sangat kehausan. – Beliau adalah seorang wanita suci dan memiliki jalinan yang khas dengan Allah Ta’ala. – Alhasil, saat itu beliau tidak ada air.  Terik matahari sangat menyengat. فَدُلِّيَ عَلَيْهَا مِنَ السَّمَاءِ دَلْوٌ مِنْ مَاءٍ بِرِشَاءٍ أَبْيَضَ ، فَأَخَذَتْهُ فَشَرِبَتْ مِنْهُ حَتَّى رَوِيَتْ ، فَكَانَتْ تَقُولُ Beliau mendengar suatu suara dari atas kepala beliau, lalu apa yang beliau lihat, sebuah benda menyerupai tetabuhan di langit yang tertunduk dan darinya menetes tetesan putih air lalu beliau meminumnya sampai kenyang. Setelah itu beliau sering mengatakan, مَا أَصَابَنِي بَعْدَ ذَلِكَ عَطَشٌ ، وَلَقَدْ تَعَرَّضْتُ لِلْعَطَشِ بِالصَّوْمِ فِي الْهَوَاجِرِ ، فَمَا عَطِشْتُ بَعْدَ تِلْكَ الشَّرْبَةِ ، وَإِنْ كُنْتُ لأَصُومُ فِي الْيَوْمِ الْحَارِّ فَمَا أَعْطَشُ  “Setelah kejadian itu saya tidak pernah merasakan haus lagi. Sekalipun merasa haus dalam keadaan puasa, namun tetap saja tidak sampai berlebihan.”[22]

Dalam hal ini disampaikan juga kisah sahabat wanita, supaya kita dapat mengenal maqam luhur para wanita itu, untuk itu saya sampaikan juga di sini yakni para sahabat wanita yang ada kaitannya dengan para sahabat Badr.

Hazrat Ummu Ayman agak cadel. Ketika berjumpa dengan seseorang, beliau biasa mengucapkan سلام لا عليكم ‘salamun laa ‘alaikum – salam tidak atas kalian’ padahal seharusnya mengucapkan سلام الله عليكم ‘Salamullah alaikum – keselamatan dari Allah atas kalian’ (Pada zaman itu orang-orang biasa mengucapkan Salamullah alaikum) Kemudian Rasulullah (saw) mengizinkan beliau mengucapkan سلام عليكم salamun alaikum atau السلام عليكم Assalaamu ‘alaikum dan itu yang terbiasa saat ini.[23]

Hazrat Aisyah menceritakan (وعن عائشة رضي الله تعالى عنها), شرب رسول الله صلى الله عليه وسلم يوما وأم أيمن عنده فقالت Suatu hari RasuluLlah (saw) minum air, saat itu Hazrat Ummu Ayman tengah berada bersama beliau. Beliau berkata, يا رسول الله اسقني ‘Ya RasuluLlah (saw)! Mohon berikan saya juga air.’ Hazrat Aisyah berkata, ألرسول الله صلى الله عليه وسلم تقولين هذا ‘Kenapa kamu meminta RasuluLlah (saw) ambilkan air untukmu?’

Lalu Hazrat Ummu Ayman berkata, ما خدمته أكثر ‘Tidakkah saya banyak mengkhidmati RasuluLlah (saw)?’

Lalu RasuluLlah (saw) bersabda, صدقت ‘Memang benar apa yang ia katakan.’ فسقاها Kemudian, Rasulullah (saw) memberinya minum.”[24]

Hazrat Anas meriwayatkan (عن أنس ), “أن أم أيمن بكت حين مات النبي صلى الله عليه وسلم . قيل لها :   Ketika Nabi (saw) wafat, Hazrat Ummu Ayman terus menangis.

Ada yang bertanya kepada beliau, أتبكين ؟  ‘Kenapa Anda sedemikian rupa menangis?’

Terkait:   Pentingnya Ibadah Jumat, Hubungannya dengan Dua Hari Raya dan Ramadhan

Beliau menjawab, والله ، لقد علمت أنه سيموت ؛ ولكني إنما أبكي على الوحي إذ انقطع عنا من السماء .  ‘Saya pun tahu RasuluLlah (saw) pasti akan wafat, namun saya menangis karena kita akan luput dari wahyu. Artinya, terlepas dari kesedihan atas wafatnya Rasul, seiring dengan itu firman Allah yang senantiasa turun waktu demi waktu, saat ini mata rantai itu telah terhenti, karena itulah saya menangis.’”[25]

Hazrat Anas bin Malik meriwayatkan (عَنْ أَنَسٍ قَالَ ), قَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِي اللَّهُ عَنْهُ بَعْدَ وَفَاةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِعُمَرَ  “Paska kewafatan Hazrat RasuluLlah (saw), Hazrat Abu Bakar berkata kepada Hazrat Umar, انْطَلِقْ بِنَا إِلَى أُمِّ أَيْمَنَ نَزُورُهَا كَمَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزُورُهَا  ‘Mari kita pergi ke rumah Ummu Ayman untuk menjumpai beliau, seperti halnya RasuluLlah (saw) biasa sering mengunjungi beliau.’

فَلَمَّا انْتَهَيْنَا إِلَيْهَا بَكَتْ فَقَالَا لَهَا  Ketika kami sampai di rumah beliau, kami dapati beliau tengah menangis. Lalu kedua orang itu bertanya,
مَا يُبْكِيكِ مَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ لِرَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  ‘Kenapa Anda menangis? Apapun yang ada pada Allah, itulah yang lebih baik bagi Rasul-Nya.’

Hazrat Ummu Ayman berkata, مَا أَبْكِي أَنْ لَا أَكُونَ أَعْلَمُ أَنَّ مَا عِنْدَ اللَّهِ خَيْرٌ لِرَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَكِنْ أَبْكِي أَنَّ الْوَحْيَ قَدِ انْقَطَعَ مِنَ السَّمَاءِ  ‘Saya menangis bukan karena tidak mengetahui hal itu, (beliau memiliki maqam yang luhur dalam kebaikan). Saya menangis karena saat ini turunnya wahyu dari langit telah terhenti.’ فَهَيَّجَتْهُمَا عَلَى الْبُكَاءِ فَجَعَلَا يَبْكِيَانِ مَعَهَا Jawaban tersebut membuat kedua orang itu menangis sehingga mereka bertiga menangis bersama-sama.”[26]

Warna kulit Hazrat Usamah dan Hazrat Zaid sangat berbeda. Ibu Usamah berasal dari Afrika sedangkan ayahnya Usamah (Hazrat Zaid) berasal dari negeri lain sehingga warna kulit antara keduanya sangat berbeda. Warna kulit Hazrat Usama lebih dominan dari ibunya yang karenanya orang-orang meragukan silsilah keturunan Hazrat Usamah. Mereka mengatakan bahwa usama bukanlah putra dari Hazrat Zaid. Orang-orang munafik pun melontarkan keberatan.[27]

Hazrat Aisyah meriwayatkan, “Pada suatu hari RasuluLlah (saw) datang ke rumah saya dengan wajah ceria. Beliau (saw) bersabda, ألم ترى أن مجززا المدجلى قد دخل على فرأى أسامة وزيدا عليهما قطيفة قد غطيا رءوسهما وقد بدت أقدامهما فقال إن هذه الأقدام بعضها من بعض ‘Wahai Aisyah! Baru saja Mujazzaz Mudliji datang menemui saya. Ia telah melihat Usamah dan Zaid dalam keadaan terbungkus satu kain karena panas atau hujan. Keduanya menutupkan seheli kain. Kepala keduanya tertutup kain itu dan wajah pun tidak tampak. Yang terlihat adalah kaki keduanya. Ia (Mujazzaz Mudliji) berkata, “Sesungguhnya kaki ini berasal dari satu sama lain yakni kedua kaki itu memiliki kesamaan.”’ Mendengar hal itu, RasuluLlah (saw) sangat bahagia.[28]

Maksudnya, tuduhan yang dilontarkan kepada usama telah terbantahkan pada hari ini karena yang mengungkapkan itu adalah seorang Physiognomist yakni pakar yang mampu mengetahui karakter seseorang dari raut tubuh dan apa apa yang diampaikan olehnya menjadi satu keputusan final bagi bangsa arab pada zaman itu. Meskipun tidak ada masalah, namun telah ditemukan bukti duniawi untuk membungkam mulut orang-orang munafiq itu dan RasuluLlah (saw) sangat bahagia mendengar hal itu.

Hazrat Zaid adalah hamba sahaya dan juga anak angkat RasuluLlah (saw). Beliau juga pernah menikahkan Hazrat Zaid dengan hazrat Zainab. Namun rumah tangganya tidak berlangsung lama dan akhirnya Hazrat Zaid menceraikan Hazrat Zainab. Pernikahan ini berlangsung selama satu tahun atau lebih sedikit dari itu. Setelah perceraian itu, hazrat RasuluLlah (saw) sendiri yang menikahi Hazrat Zainab Binti Jahasy.

Berikut adalah keterangan selengkapnya yang tertulis dalam buku Sirat Khataman Nabiyyin dengan bersumber dari berbagai rujukan: “Pada tahun kelima hijrah, beberapa masa sebelum perang bani Mustaliq yang terjadi pada bulan Syaban 5 Hijriyah, Hazrat RasuluLlah (saw) menikahi Hazrat Zainab Binti Jahsy.[29] Hazrat Zainab adalah putri bibi RasuluLlah (saw) dari pihak ayah, Umaimah binti Abdul Muththalib. Meskipun Hazrat Zainab memiliki ketakwaan dan kesalehan yang tinggi namun dalam fitrat beliau dijumpai rasa kebanggaan akan kebesaran status keluarga sampai batas tertentu.

Sebaliknya dari itu, fitrat RasuluLlah (saw) sama sekali bersih dari perasaan seperti itu. Meskipun RasuluLlah (saw) sangat menghargai keadaan keluarga dalam sudut pandang kemasyarakatan, namun beliau berkeyakinan tolok ukur hakiki kemuliaan terletak pada ketakwaan diri dan kesucian sebagaimana difirmankan dalam Al Quran; يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ “…inna akramakum indallaahi atqaakum – “…sesungguhnya yang paling mulia diantara kalian adalah yang paling bertakwa.” Al-Ḥujurāt (49:14)

RasuluLlah (saw) tanpa ada rasa segan menyampaikan usulan untuk menikahkan kerabatnya ini, Zainab Binti Jahasy dengan Zaid Bin Haritsah, seorang hamba sahaya yang telah beliau bebaskan dan juga anak angkat beliau. Pada awalnya Zainab menolaknya karena melihat latar belakang kebesaran keluarganya, namun setelah melihat keinginan kuat RasuluLlah (saw), akhirnya ia setuju.[30] Lalu menikahlah keduanya atas usulan RasuluLlah (saw).

Meskipun Zainab berusaha untuk mengkondisikan hidupnya, namun secara pribadi zaid tetap merasa masih tersembunyi dalam diri Zainab perasaannya sebagai anak dari keluarga terpandang dan kerabat dekat RasuluLlah (saw) sedangkan Hazrat Zaid hanya seorang hamba sahaya yang dimerdekakan sehingga tidaklah sekufu (seimbang). Di sisi lain, di dalam diri Zaid sendiri ada perasaan rendah atau kecil dibanding Zainab. Perasaan-perasaan itu hari demi hari semakin dominan dan menimbulkan ketidakserasian rumah tangga lalu terjadilah ketidakharmonisan antara suami istri. Ketika keadaan tersebut semakin meningkat, lalu Zaid Bin haritsah menghadap RasuluLlah (saw) dan meminta izin kepada Rasulullah (saw) untuk menceraikan Zainab dengan mengeluhkan perlakuan Zainab.[31] Di dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau mengeluhkan Zainab mengucapkan kata-kata keras yang membuat beliau ingin menceraikannya.[32]

Sudah barang tentu Rasulullah (saw) merasa terpukul mendengar kabar tersebut, namun Rasulullah (saw) melarang zaid untuk menceraikan istrinya. Rasulullah (saw) masih merasa ada kekurangan dalam upaya Zaid untuk melanggengkan rumah tangga. Rasulullah (saw)lalu menasihati Hazrat Zaid untuk menempuh ketakwaan kepada Allah dan berusahalah untuk menjalaninya dengan dasar ketakwaan itu sebagaimana dalam Al-Qur-dan terdapat ucapan beliau tersebut أَمْسِكْ عَلَيْكَ زَوْجَكَ وَاتَّقِ اللَّهَ  Wahai zaid janganlah ceraikan istrimu dan tempuhlah ketakwaan kepada Allah. Al-Aḥzāb (33:38) [33]

Alasan dari nasihat beliau ini, pertama pada prinsipnya RasuluLlah (saw) tidak menyukai talaq sebagaimana dalam satu kesempatan beliau pernah bersabda, أبغض الحلال إلى الله عزوجل الطلاق ‘abghadhul halaali ilallaahi ‘azza wa jalla ath-thalaaq.’ – “Diantara segala yang halal, talaq adalah yang paling tidak disukai oleh Allah ta’ala.”[34] Untuk itu Islam mengizinkan talaq sebagai solusi terakhir.

Kedua, sebagaimana diriwayatkan oleh putra Hazrat Imam Husain (Ra) bernama Hazrat Imam Zainul Abidin Ali bin Husain dan imam Zuhri menetapkan riwayat tersebut kuat yakni karena RasuluLlah (saw) sejak semula telah menerima wahyu bahwa pada akhirnya Zaid Bin haritsah akan menceraikan Zainab dan setelah itu Zainab akan dinikahi oleh rasul. Maka dari itu, dalam hal ini ingin bersikap sama sekali tidak terkait dan tidak berpihak kepada salah satu meskipun memiliki ikatan pribadi dan beliau berusaha sedapat mungkin tidak ada campur tangan beliau sama sekali dalam perceraian keduanya.[35]

Selama masih ada celah untuk melakukan damai, berusahalah untuk damai dan melanjutkan hubungan rumah tangga. Berdasarkan pemikiran tersebut, RasuluLlah (saw) memberikan nasihat kepada Zaid dengan penuh harapan untuk tidak menceraikan Zainab dan berusaha untuk menjalani rumah tangga dengan ketakwaan. RasuluLlah (saw) pun merasa khawatir yakni jika paska perceraian Zaid lalu Zainab menikah dengan Rasul, jangan sampai muncul keberatan dari orang-orang bahwa beliau telah menikahi perempuan yang telah diceraikan oleh anak angkatnya, sehingga timbul satu corak ujian. Sebagaimana dalam Al Quran Allah ta’ala berfirman, وَتُخْفِي فِي نَفْسِكَ مَا اللَّهُ مُبْدِيهِ وَتَخْشَى النَّاسَ وَاللَّهُ أَحَقُّ أَنْ تَخْشَاهُ ۖ “…sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti.”

Walhasil, RasuluLlah (saw) melarang Zaid untuk mentalaq lalu menasihatkannya untuk bertakwa kepada Allah dan mendengar nasihat tersebut Zaid terdiam dan kembali pulang. Namun menyatunya dua tabiat yang tidak cocok adalah sulit. Telah terjadi ketidakk harmonisan dan permasalahan tidak menemukan solusi sehingga setelah sekian lama akhirnya zaid menceraikannya. Setelah masa iddah Zainab berakhir, turun wahyu kepada RasuluLlah (saw) yang memerintahkan Rasulullah (saw) untuk menikahi zainab.[36]

Hikmah dibalik perintah tersebut selain dari mengobati kesedihan Hazrat Zainab juga menikahi wanita yang telah dicerai tidak akan dianggap sebagai aib dalam Islam. Hikmah lainnya lagi adalah karena Hazrat Zaid adalah anak angkat Rasulullah (saw) dan disebut sebut sebagai putra beliau untuk itu jika RasuluLlah (saw) menikahi mantan istri anak angkat, akan menimbulkan dampak di kalangan umat islam bahwa status anak angkat bukanlah anak kandung dan tidak juga kepadanya berlaku hukum anak kandung. Sehingga tradisi jahiliyah tersebut akan sama sekali hilang di kalangan Arab untuk masa yang akan datang. Sebagaimana Al Quran menyampaikan jejak rekam yang paling sahih dalam sejarah islam dengan berfirman, Surah al-Ahzaab ayat 38. وَإِذْ تَقُولُ لِلَّذِي أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِ وَأَنْعَمْتَ عَلَيْهِ أَمْسِكْ عَلَيْكَ زَوْجَكَ وَاتَّقِ اللَّهَ وَتُخْفِي فِي نَفْسِكَ مَا اللَّهُ مُبْدِيهِ وَتَخْشَى النَّاسَ وَاللَّهُ أَحَقُّ أَن تَخْشَاهُ ۖ فَلَمَّا قَضَىٰ زَيْدٌ مِّنْهَا وَطَرًا زَوَّجْنَاكَهَا لِكَيْ لَا يَكُونَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ حَرَجٌ فِي أَزْوَاجِ أَدْعِيَائِهِمْ إِذَا قَضَوْا مِنْهُنَّ وَطَرًا ۚ وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ مَفْعُولًا Maka tatkala Zaid menyempurnakan keinginan bercerai dari istri-nya Kami menikahkannya dengan engkau, supaya tidak akan ada keberatan bagi orang-orang beriman untuk menikahi bekas istri anak-anak angkat mereka, apabila mereka telah menyempurnakan keinginannya mengenai istri-istri mereka. Dan keputusan Allah pasti akan terlaksana.” (Al-Ahzāb (33:38))

Walhasil, setelah turunnya wahyu Allah yang di dalamnya sama sekali tidak ada campur tangan hasrat atau pemikiran RasuluLlah (saw), RasuluLlah (saw) memutuskan untuk menikahi Zainab lalu kepada Zaid juga lah beliau meminta untuk mengirimkan pesan lamaran.[37] Setelah ada persetujuan dari Hazrat Zainab, Saudara Zainab, Abu Ahmad Bin Jahsy bertindak sebagai wali lalu menikahkan Zainab kepada RasuluLlah (saw) dengan mahar sebesar 400 dirham.[38] Dengan demikian tradisi keliru di tanah Arab yang sudah mengakar pada masa itu telah dicabut dan dihilangkan dalam Islam berkat teladan pribadi RasuluLlah (saw).

Dalam hal ini perlu juga saya (Hazrat Mirza Basyir Ahmad) sampaikan bahwa para sejarawan dan muhadditsin pada umumnya beranggapan, karena berkenaan dengan pernikahan Zainab telah turun wahyu Ilahi dan pernikahan ini terjadi atas perintah Tuhan yang khas, untuk itu upacara pernikahan tidak dilakukan. Namun pendapat seperti itu tidaklah benar. Memang benar, pernikahan ini dilakukan atas perintah Tuhan dan bisa dikatakan bahwa pernikahan ini dilakukan di langit, namun disebabkan oleh itu tidak lantas tata cara syariat dapat dibebaskan begitu saja, karena itupun merupakan ketetapan Tuhan.

Sebagaimana riwayat Ibnu Hisyam yang menjelaskan berkenaan dengan prosesi pernikahan menerangkan dengan jelas dan di dalamnya tidak ada peluang untuk timbulnya keraguan. Begitu juga riwayat yang menerangkan Hazrat Zainab sering membanggakan diri di hadapan para istri Rasulullah (saw) yang lainnya dengan mengatakan, زَوَّجَكُنَّ أَهَالِيكُنَّ، وَزَوَّجَنِي اللَّهُ تَعَالَى مِنْ فَوْقِ سَبْعِ سَمَوَاتٍ‏ ‘Pernikahan anda semua dilakukan oleh para wali di bumi ini, sedangkan pernikahanku dilakukan di langit.’[39]

Tidaklah benar jika dari riwayat itu disimpulkan bahwa prosesi pernikahan Hazrat Zainab tidak dilakukan. Sebab, meskipun dilakukan prosesi nikah, tetap saja rasa bangga beliau tersebut tetap ada yakni pernikahan beliau telah dilakukan di langit atas perintah yang khas dari Allah ta’ala. Namun lain halnya dengan pernikahan para istri Rasulullah (saw) yang lainnya yang melalui tahapan prosesi pernikahan secara lahiriah.

Dalam riwayat lain dikatakan bahwa RasuluLlah (saw) pergi menjumpai Zainab tanpa izin, lalu dari itu disimpulkan bahwa prosesi pernikahan beliau tidak dilakukan. Akan tetapi, jika direnungkan fakta tersebut tidak berkaitan dengan dilaksanakan atau tidaknya prosesi pernikahan. Jika hal itu diartikan bahwa RasuluLlah (saw) pergi ke rumah Zainab tanpa izin, maka itu keliru dan bertentangan dengan kenyataan karena di dalam riwayat Bukhari sangat jelas diriwayatkan bahwa Hazrat Zainab dari rumahnya datang ke rumah RasuluLlah (saw) setelah dilakukan Rukhstanah terlebih dahulu, bukan RasuluLlah (saw) yang pergi ke rumah Zainab.[40]

Jika dari riwayat itu disimpulkan ketika Hazrat Zainab datang ke rumah Rasulullah (saw) setelah Rukhstanah lalu setelah itu Rasulullah (saw) berkunjung ke rumah Zainab tanpa izin khusus terlebih dahulu maka itu bukanlah suatu perbuatan yang melanggar hukum, karena jika Hazrat Zainab telah lebih dulu datang ke rumah RasuluLlah (saw) sebagai istri, maka sudah seyogyanya Rasulullah (saw) pun melakukan kunjungan juga ke rumah sang istri. Dengan demikian, riwayat yang menerangkan berkenaan kedatangan Rasulullah (saw) ke rumah Zainab tanpa izin tidak ada kaitannya dengan apakah prosesi pernikahan beliau dilakukan atau tidak. Yang benar adalah sebagaimana yang dijelaskan dalam riwayat Ibnu Hisyam[41], bahwa meskipun terdapat perintah Tuhan, namun prosesi pernikahan beliau telah dilakukan secara resmi. Akal kita mengatakan sudah seharusnya hal itu terjadi karena pertama, dalam kaidah umum, tidak ada alasan pengecualian. Kedua, tujuan pernikahan tersebut adalah untuk mematahkan tradisi buruk dan dampaknya yang sudah mendarah daging yaitu tidak diperbolehkan menikahi mantan istri anak angkat. Dengan memperhatikan latar belakang tujuan tersebut alangkah perlunya untuk mengumumkan pernikahan tersebut secara besar-besaran dan disaksikan khalayak umum supaya dunia menjadi tahu bahwa tradisi yang keliru tadi telah dihilangkan pada hari itu.”[42]

Terkait:   Keteladanan Para Sahabat Nabi Muhammad (shallaLlahu ‘alaihi wa sallam) (Manusia-Manusia Istimewa seri 41)

Dalam hal ini saya telah menjelaskan berkenaan dengan riwayat hidup Hazrat Zainab dan pernikahan RasuluLlah (saw) secara rinci supaya kita dapat mengetahui dan menjawab segala keberatan yang dilontarkan berkenaan dengan pernikahan beliau. Masih banyak yang ingin saya sampaikan berkenaan dengan itu dan Hazrat Zaid, untuk itu akan saya lanjutkan pada khutbah yang akan datang.

 

 

 

 

 

 

 

 

Khotbah II

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ

وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ

وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ!

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ

يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ

أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

 

Penerjemah     : Mln. Mahmud Ahmad Wardi, Syahid (London, UK); Editor: Dildaar Ahmad Dartono (Indonesia).

Rujukan komparasi pemeriksaan naskah: www.Islamahmadiyya.net (bahasa Arab)

 

[1] Syi’bi Abu Thalib ialah lembah tempat tinggal umat Muslim, Banu Hasyim dan Banu Muththalib pada 7 s.d. 10 Bi’tsah (kenabian) setelah perjanjian boikot para pimpinan Quraisy, kecuali Muth’am bin Adiyy. Mereka sepakat untuk tidak menjalin komunikasi dan perdagangan dengan umat Muslim, Banu (klan, keluarga besar) Hasyim dan Banu Muththalib.  Boikot ini dilakukan Quraisy karena Banu Hasyim dan Banu Muththalib tidak mau menyerahkan Nabi Muhammad (saw) untuk mereka bunuh. Dibawah pimpinan Abu Thalib bin Abdul Muththalib bin Hasyim, Banu Hasyim dan Banu Muththalib baik yang Muslim atau belum – kecuali Abu Lahab bin Abdul Muththalib – kompak melindungi Nabi Muhammad (saw). Boikot ini menyebabkan kesulitan dalam memperoleh bahan makanan. Beberapa waktu setelah boikot berakhir, wafatlah Khadijah, istri Nabi (saw). Disusul kemudian dengan wafatnya Abu Thalib. Hazrat Mirza Basyir Ahmad dalam buku Sirah Khataman Nabiyyin menyebutkan kesehatan Khadijah menurun disebabkan boikot ini.

[2] Ath-Thabaqatul-Kubrā, By Muhammad bin Sa‘d, Volume 1, p. 102, Dhikru Sababi Khurūji Rasūlillāhisa ilath-Tā’if, Dārul-Ihyā’it-Turāthil-‘Arabī, Beirut, Lebanon, First Edition (1996)

[3] As-Sīratun-Nabawiyyah, By Abū Muhammad ‘Abdul-Malik bin Hishām, p. 300, Bābu Sa‘yur-Rasūli ilā Thaqīfin Yathlubun-Nushrah, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (2001); Tārīkhuth-Thabarī, By Abū Ja‘far Muhammad bin Al-Jarīr Thabarī, Volume 2, p. 241, Bābu Dhikril-Khabri ‘ammā kāna min Amri Nabiyyillāhisa ‘inda Ibtidā’illāhi Ta‘ālā……, Dārul-Fikr, Beirut, Lebanon, Second Edition (2002)

[4] Ath-Thabaqatul-Kubrā, Volume 1, p. 102, By Ibni Sa‘d, Dhikru Sababi Khurūji Rasūlillāhisa ilath-Thā’if, Dārul-Ihyā’it-Turāthil-‘Arabī, Beirut, Lebanon, First Edition (1996)

[5] Nama Ibnu ‘Abdi Yālīl disebutkan Hadits merujuk pada Shahih Bukhārī, Kitābu Bad’il-Khalq, Bābu Idhā Qāla Ahadukum Āmīn, Hadits No. 3231

[6] As-Sīratun-Nabawiyyah, By Abū Muhammad ‘Abdul-Malik bin Hishām (السيرة النبوية لابن هشام), pp. 301-302, Bābu Sa‘yur-Rasūli ilā Thaqīfin Yathlubun-Nushrah ( سعي الرسول إلى ثقيف يطلب النصرة), ( توجهه صلى الله عليه وسلم إلى ربه بالشكوى), Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (2001); Tārīkhuth-Thabarī, By Abū Ja‘far Muhammad bin Al-Jarīr Thabarī, Volume 2, pp. 241-242, Bābu Dhikril-Khabri ‘ammā kāna min Amri Nabiyyillāhisa ‘inda Ibtidā’illāhi Ta‘ālā……, Dārul-Fikr, Beirut, Lebanon, Second Edition (2002)

[7] Nabi (saw) menyebut nama Allah sebelum makan. ‘Addas heran dan berkata bahwa hal itu tidak dilakukan penduduk negeri Arab saat itu.

[8] As-Sīratun-Nabawiyyah, By Abū Muhammad ‘Abdul-Malik bin Hishām (السيرة النبوية لابن هشام), pp. 301-302, Bābu Sa‘yur-Rasūli ilā Thaqīfin Yathlubun-Nushrah ( سعي الرسول إلى ثقيف يطلب النصرة), (قِصّةُ عَدّاسٍ النّصْرَانِيّ مَعَهُ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ), Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (2001); Tārīkhuth-Thabarī, By Abū Ja‘far Muhammad bin Al-Jarīr Thabarī, Volume 2, pp. 241-242, Bābu Dhikril-Khabri ‘ammā kāna min Amri Nabiyyillāhisa ‘inda Ibtidā’illāhi Ta‘ālā……, Dārul-Fikr, Beirut, Lebanon, Second Edition (2002)

[9] Satu Manzil sekira 19 mil atau 25 kilometer. (Sirah Khataman Nabiyyin)

[10] Shahih al-Bukhari, Kitābu Bad’il-Khalq, Bābu Idhā Qāla Aḥadukum Āmīn, Ḥadīth No. 3231; Sirah Khataman Nabiyyin (The Life and Character of the Holy Prophet saw),  vol. 1, Journey to Tā’if

[11] Sirah Khataman Nabiyyin (The Life and Character of the Holy Prophet saw) vol. 2, Residence at the Home of Abū Ayyūb

[12] Shahih al-Bukhari, Kitābul-Maghāzī, Bāb ‘Umratil-Qadhā’i (بَاب عُمْرَةِ الْقَضَاءِ ذَكَرَهُ أَنَسٌ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ), Hadīth 4251

[13] Shahih al-Bukhari, Kitābul-Maghāzī, Bābu ‘Umratil-Qadhā’i, Hadīth No. 4251; Shahih al-Bukhari, Kitab Perdamaian (كتاب الصلح), bab bagaimana menulis kalimat rekonsiliasi (بَابُ كَيْفَ يُكْتَبُ هَذَا مَا صَالَحَ فُلاَنُ بْنُ فُلاَنٍ. وَفُلاَنُ بْنُ فُلاَنٍ وَإِنْ لَمْ يَنْسُبْهُ إِلَى قَبِيلَتِهِ، أَوْ نَسَبِهِ). Dari kejadian ini, para ulama menyimpulkan bahwa khalah (saudara perempuan ibu) harus didahulukan dalam pengasuhan dari semua kerabat sesudah kedua ibu bapak.

[14] Ansabul Asyraf karya al-Baladzuri ( أنساب الأشراف للبلاذري ), (ذكر موالي رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ), (زيد الحب).

[15] Ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibn Sa’d ( الطبقات الكبرى لابن سعد ), ( طَبَقَاتُ الْكُوفِيِّينَ ), (تَسْمِيَةُ النِّسَاءِ الْمُسْلِمَاتِ الْمُبَايِعَاتِ), ( أُمُّ أَيْمَنَ): قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ عُمَرَ : وَقَدْ حَضَرَتْ أُمُّ أَيْمَنَ أُحُدًا ، وَكَانَتْ تَسْقِي الْمَاءَ ، وَتُدَاوِي الْجَرْحَى ، وَشَهِدَتْ خَيْبَرَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

[16] Siyaar A’lamin Nubala (سير أعلام النبلاء).

[17] Sirah Khataman Nabiyyin (The Life and Character of the Holy Prophet saw), Guardianship of ‘Abdul-Muṭṭalib (perlindungan Abdul Muththalib)

[18] Al-Mustadrak ‘alash Shahihain (المستدرك على الصحيحين), (كِتَابُ مَعْرِفَةِ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ), ( ذِكْرُ بَنَاتِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ عَمَّاتِ رَسُولِ ), ( ذِكْرُ أُمِّ أَيْمَنَ مَوْلاةِ ); Ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibn Sa’d ( الطبقات الكبرى لابن سعد ), ( طَبَقَاتُ الْكُوفِيِّينَ ), (تَسْمِيَةُ النِّسَاءِ الْمُسْلِمَاتِ الْمُبَايِعَاتِ), ( أُمُّ أَيْمَنَ). Al-Ihtijaaj (الاحتجاج – الشيخ الطبرسي – ج ١ – الصفحة ١٢١)

[19] (السفر الثاني من تاريخ ابن أبي خيثمة), ( تَسْمِيَةُ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ ), ( مَنْ رَوَى عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ).

[20] Shahih al-Bukhari (كتاب الجهاد والسير), Kitab jihad dan perjalanan, bab (باب رَدِّ الْمُهَاجِرِينَ إِلَى الأَنْصَارِ مَنَائِحَهُمْ مِنَ الشَّجَرِ وَالثَّمَرِ حِينَ اسْتَغْنَوْا عَنْهَا بِالْفُتُوحِ).

[21] Shahih al-Bukhari (كتاب الجهاد والسير), Kitab jihad dan perjalanan, bab (باب رَدِّ الْمُهَاجِرِينَ إِلَى الأَنْصَارِ مَنَائِحَهُمْ مِنَ الشَّجَرِ وَالثَّمَرِ حِينَ اسْتَغْنَوْا عَنْهَا بِالْفُتُوحِ).

[22] Ath-Thabaqaat.

[23] As-Sirah al-Halabiyyah atau Insanul ‘Uyuun fi Sirah al-Amin al-Ma-mun (إنسان العيون في سيرة الأمين المأمون) artinya Laporan Pandangan Mata atas Sejarah Hidup dia yang Tepercaya lagi Dipercayai, yaitu Nabi (saw) karya Ali bin Ibrahim bin Ahmad al-Halabi, Abu al-Faraj, Nuruddin bin Burhanuddin al-Halabi (علي بن إبراهيم بن أحمد الحلبي، أبو الفرج، نور الدين ابن برهان الدين). Beliau seorang Sejarawan dan Adib (Sastrawan). Beliau asal dari Halb (Aleppo-Suriah sekarang) dan wafat di Mesir pada 1044 Hijriyah; tercantum juga di dalam Kitab Shuwar min Hayatish Shahabiyyaat atau gambaran kehidupan para Sahabat Nabi (saw) (صور من حياة الصحابيات) dan di dalam Kitab (مواكب ربيع في مولد الشفيع صلى الله عليه وسلم) karya (الحلواني/شهاب الدين أحمد بن أحمد). Di dalam Kitab Siyar A’lamin Nubala disebutkan riwayat dari Abu Ja’far al-Baqir bahwa Ummu Ayman mendapat keringanan dibolehkan hanya mengucapkan, ‘as-Salaam’. وقال أبو جعفر الباقر : دخلت أم أيمن على النبي صلى الله عليه وسلم ، فقالت : سلام لا عليكم ، فرخص لها أن تقول : السلام . 

[24] As-Sirah al-Halabiyyah

[25] Siyaar A’lamin Nubala.

[26] Shahih Muslim, Kitab Fadhail ash-Shahabah

[27] As-Sirah al-Halabiyyah: Warna kulit Hazrat Usamah kehitaman dan ayahnya yaitu Hazrat Zaid putih kemerahan. وذكر بعض المؤرخين أن بركة هذه من سبى الحبشة أصحاب الفيل وكانت سوداء أي لونها أسود ولهذا خرج ابنها أسامة في السواد أي وكان أبوه زيد أبيض ومن ثم كانالمنافقون يطعنون في نسب أسامة ويقولون هذا ليس هو ابن زيد وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم يتشوش من ذلك وقد روى الشيخان

[28] As-Sirah al-Halabiyyah

[29] Shahihul-Bukhārī, Kitābut-Tafsīr, Tafsīru Sūratin-Nūr, Bābu Lau Lā Idh Sami‘tumūhu, Hadits No. 4750

[30] Sharhul-‘Allāmatiz-Zarqānī ‘Alal-Mawāhibil-Ladunniyyah, By Allāmah Shihābuddīn Al-Qusthalānī, Volume 4, p. 410, Zainab bint Jahsh Ummul-Mu’minīn, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (1996)

* Ath-Thabaqatul-Kubrā, By Muhammad bin Sa‘d, Volume 8, p. 295, Zainab bint Jahsh, Dāru Ihyait-Turāthil-‘Arabī, Beirut, Lebanon, First Edition (1996)

[31] Shahihul-Bukhārī, Kitābut-Tauhīd, Bābu Wa Kāna ‘Arshuhū ‘Alal-Mā’i, Hadits No. 7420

[32] Fathul-Bārī Sharhu Shahīhil-Bukhari, By Al-Imam Ahmad bin Hajar Al-‘Asqalānī, Volume 8, p. 672, Kitābut-Tafsīr, Tafsīru Sūratil-Ahzāb, Bābu Wa Tukhfī Fī Nafsika Mallāhu, Hadits No. 4787, Qadīmī Kutub Khānah, Ārām Bāgh, Karachi

[33] Shahihul-Bukhārī, Kitābut-Tauhīd, Bābu Wa Kāna ‘Arshuhū ‘Alal-Mā’i, Hadits No. 7420, Lubābun-Nuqūli Fī Asbābin-Nuzūl, Imām Jalāluddīn As-Suyūtī, p. 191, Sūratul-Ahzāb, Under Verse 37, Dārul-Kitābul-‘Arabiyy, Beirut, Lebanon (2003); Jami` at-Tirmidhi, Kitab Tafsirul Qur’an (كتاب تفسير القرآن عن رسول الله صلى الله عليه وسلم).

[34] Sunanu Abī Dāwūd, Kitābuth-Thalāq, Bābu Fī Karāhiyyatith-Thalāq, Hadits No. 2178

[35] * Sharhul-‘Allāmatiz-Zarqānī ‘Alal-Mawāhibil-Ladunniyyah, By Allāmah Shihābuddīn Al-Qusthalānī, Volume 4, p. 410, Zainab bint Jahsh Ummul-Mu’minīn, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (1996); * Fathul-Bārī Sharhu Shahīhil-Bukhari, By Al-Imam Ahmad bin Hajar Al-‘Asqalānī, Volume 8, p. 672, Kitābut-Tafsīr, Tafsīru Sūratil-Ahzzāb, Bābu Wa Tukhfī Fī Nafsika Mallāhu, Hadits No. 4787, Qadīmī Kutub Khānah, Ārām Bāgh, Karachi; Tafsir al-Qur’an (تفسير القرآن) karya al-Qurthubi (محمد بن أحمد الأنصاري القرطبي); (اللباب في علوم الكتاب – ج 15 – الشعراء – الأحزاب); (الفتوحات الإلهية بتوضيح تفسير الجلالين للدقائق الخفية 1-8 ج6) karya (سليمان بن عمر بن منصور العجيلي/الجمل). وروي عن علي بن الحسين زين العابدين: أن النبي صلى الله عليه وسلم كان قد أوحى الله تعالى إليه أن زيدا يطلق زينب ، وأنه يتزوجها بتزويج الله إياها ، فلما تشكى زيد للنبي صلى الله عليه وسلم خلق زينب ، وأنها لا تطيعه ، وأعلمه أنه يريد طلاقها ، قال له رسول الله صلى الله عليه وسلم على جهة الأدب والوصية : اتق الله في قولك وأمسك عليك زوجك وهو يعلم أنه سيفارقها ويتزوجها ، وهذا هو الذي أخفى في نفسه ، ولم يرد أن يأمره بالطلاق لما علم أنه سيتزوجها ، وخشي رسول الله صلى الله عليه وسلم أن يلحقه قول من الناس في أن يتزوج زينب بعد زيد ، وهو مولاه ، وقد أمره بطلاقها ، فعاتبه الله تعالى على هذا القدر من أن خشي الناس في شيء قد أباحه الله له ، بأن قال : أمسك مع علمه بأنه يطلق . وأعلمه أن الله أحق بالخشية ، أي في كل حال .

[36] Shahih Muslim, Kitābun-Nikāh, Bābu Ziwāji Zainab bint Jahsh….., Hadits No. 3502

[37] Shahih Muslim, Kitābun-Nikāh, Bābu Ziwāji Zainab bint Jahsh….., Hadits No. 3502

[38] As-Sīratun-Nabawiyyah, By Abū Muhammad ‘Abdul-Mālik bin Hishām, p. 891, Dhikru Azwājihī Ummahātil-Mu’minīn….., Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (2001)

وتزوج رسول الله صلى الله عليه وسلم زينب بنت جحش بن رئاب الأسدية. زوجه إياها أخوها أبو أحمد بن جحش، وأصدقها رسول الله صلى الله عليه وسلم أربع مائة درهم وكانت قبله عند زيد بن حارثة، مولى رسول الله صلى الله عليه وسلم ففيها أنزل الله تبارك وتعالى: {فَلَمَّا قَضَى زَيْدٌ مِنْهَا وَطَراً زَوَّجْنَاكَهَا} [الأحزاب:37]

[39] Shahih al-Bukhari, Kitab at-Tauhid (كتاب التوحيد), bab (بَابُ: {وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ}، {وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ}).

[40] Shahihul-Bukhārī, Kitābut-Tafsīr, Tafsīru Sūratil-Ahzāb, Bābu Qaulihī Lā Tadkhulū Buyūtan-Nabiyyisa….., Hadīth No. 4791-4792; عَنْ أَنَسٍ، قَالَ جَاءَ زَيْدُ بْنُ حَارِثَةَ يَشْكُو فَجَعَلَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ ‏”‏ اتَّقِ اللَّهَ، وَأَمْسِكْ عَلَيْكَ زَوْجَكَ ‏”‏‏.‏ قَالَتْ عَائِشَةُ لَوْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَاتِمًا شَيْئًا لَكَتَمَ هَذِهِ‏.‏ قَالَ فَكَانَتْ زَيْنَبُ تَفْخَرُ عَلَى أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم

[41] As-Sīratun-Nabawiyyah, By Abū Muhammad ‘Abdul-Mālik bin Hishām, p. 891, Dhikru Azwājihī Ummahātil-Mu’minīn….., Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (2001)

[42] Sirah Khataman Nabiyyin (The Life and Character of the Holy Prophet saw) Vol. 2, Marriage of Zainab bint Jahash ra