بسم اللہ الرحمن الرحیم

Beberapa tema pokok khotbah Jumat ini: Kesyukuran atas keberhasilan Jalsah Salanah; Kegunaan Jalsah sebagai ajang Tarbiyat dan ajang Tabligh (dakwah); Ucapan penghargaan dan terima kasih kepada para panitia; pemikiran Amir Jemaat Jerman untuk mempunyai sendiri ruang Jalsah yang lebih luas demi menyelenggarakan Jalsah mengingat bertambahnya jumlah peserta Jalsah, bukan menyewa gedung seperti sekarang;Jalsah Jerman telah berubah corak menjadi Jalsah Internasional; Kesan-kesan peserta Jalsah Tabligh, sebuah acara khusus dengan peserta bukan Ahmadi dan pidato dari Khalifatul Masih; kesan-kesan terhadap Jalsah secara umum.

 

Khotbah Jumat Sayyidina Amirul Mu’minin, Hazrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (أيده الله تعالى بنصره العزيز, ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 12 Juli 2019 (Wafa 1398 Hijriyah Syamsiyah/1440 Hijriyah Qamariyah) di Masjid Mubarak, Islamabad, Tilford, Surrey, UK (Britania Raya)

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ. (آمين)

 

Beberapa hari lalu dengan karunia Allah Ta’ala,Jalsah Salanah (Annual Convention, Pertemuan Tahunan)Jemaat Jerman telah berakhir disertai limpahan karunia dan keberkatan. Seperti yang telah saya sampaikan pada hari terakhir Jalsah, mereka yang hadir di Jalsah Jerman tahun ini lebih dari 40.000 orang dengan karunia Allah Ta’ala. Kita menyaksikan kemajuan ini setiap tahun. Ini semata-mata karunia Allah yang menurunkan anugerahnya kepada kita melebihi upaya kita. Sembari meningkatkan rasa syukur kepada Allah Ta’ala kita harus terus meningkatkan upaya-upaya kita sehingga karunia dan anugerah-Nya ini terus bertambah.

Sudah barang tentu para tamu Ahmadi yang hadir terkesan dengan suasana Jalsah namun ratusan Muslim non Ahmadi dan orang-orang bukanMuslim yang hadir pada Jalsah Jerman juga kemarin menyatakan bahwa mereka mendapatkan satu suasana yang luar biasa dan berkesan dalam Jalsah.Mereka menyaksikan bagaimana segenap panitia baik yang dewasa maupun anak-anak berkhidmat dengan luar biasa. Bagaimana mereka mampu hidup dalam kumpulan orang yang begitu banyak namun tidak terjadi kekacauan dan pertengkaran. Bagi mereka ini merupakan suatu hal yang menakjubkan. Bahkan, sebagian tamu menyatakan ini merupakan satu mukjizat.Jadi, selain sebagai ajang tarbiyat, Jalsah kitapun merupakan sarana tabligh yang sangat baik. Hal ini menuntut kita untuk terus meningkat dalam memanjatkan rasa syukur dan semoga lingkungan ini jangan hanya sementara saja, melainkan setiap detik kehidupan kita dapat menampilkan ajaran Islam yang indah melalui amalan kita dan semoga setiap saat kita dapat memenuhi tujuan baiat kepada Hazrat Masih Mau’ud (as).

Biasanya setelah Jalsahsaya selalu menyampaikan kesan-kesan para tamu dan hal-hal mengenai Jalsah, pada hari inipun akan saya sampaikan namun sebelum itu saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada segenap panitia baik pria maupun wanita yang terlibat dalam Jalsah tersebut. Mereka telah bekerja siang-malam demi menjadikan Jalsah berhasil dari berbagai segi. Sampai sekarang mereka pun sedang menyelesaikan pengaturan Jalsah.

Seperti yang kita saksikan di sini dan diJemaat-Jemaat besar dan mapan lainnya, para panitia telah mengesampingkan urusan pribadinya untuk mewakafkan setiap detiknya demi untuk mengkhidmati para tamu Hazrat Masih Mau’ud (as) dan pengaturan Jalsah semata. Dengan karunia Allah Ta’ala,Jemaat Jerman merupakan Jemaat yang meningkat dalam ketulusan dan kesetiaan, bahkan dalam beberapa pengorbanan melebihi beberapa Jemaat lainnya. Jikapun ada kekurangan, biasanya disebabkan kelemahan para pengurus dalam menempuh suatu cara atau tidak memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya. Dengan karunia Allah Ta’ala, para anggota Jemaat Jerman sendiri merupakan pribadi-pribadi yang gigih dalam meraih keberhasilan. Mereka siap untuk mengorbankan jiwa, harta dan waktu. Semoga Allah Ta’ala terus meningkatkan keikhlasan dan kesetiaan mereka.

Setelah mengetahui peningkatan jumlah kehadiran peserta, para panitia dan Bpk. Amir Jemaat Jerman berpikiran – sebetulnya pemikiran ini sudah muncul sejak tahun lalu dan sejak beberapa beberapa tahun lalu saya sering katakan kepada mereka, namun tahun ini tampaknya lebih serius lagi mereka pikirkan. Bpk. Amir (Ketua), Amilah (badan eksekutif) Nasional markas dan para pengurus lebih serius lagi memikirkan bagaimana supaya kita memiliki JalsahGah (ruang pertemuan)yang lebih luas.

Pada tahun ini mereka menghadapi masalah parkir dan lain sebagainya yang karenanya timbul masalah lalulintas sehingga para peserta pernah merasakan kesulitan mengikuti acara Jalsah. Tentu saja jika kepadatan bertambah dan ada kekurangan dalam pengaturanakanmenimbulkan ketidaknyamanan seperti itu. Itu suatu hal yang wajar. Sebagian orang menyatakan kekecewaannya karena terlambat menghadiri Jalsah disebabkan persoalan itu. Para panitia terkait gelisah dengan keadaan demikian. Namun, dalam keadaan demikian pun, dengan karunia Allah Ta’ala, berkat sarana yang disediakan oleh MTA (Muslim Television Ahmadiyya) sehingga para peserta tadi dapat menyimak ceramah-ceramah Jalsah atau menyaksikan acara-acaranya melalui gadget. Namun demikian, keadaantersebut menuntut kita untuk menyediakan fasilitas yang lebih luas lagi untuk Jalsah.

Begitu juga, bukannya bebas menentukan sendiri, kita terpaksa menyesuaikan tanggal Jalsah dengan ketersediaan gedung. Tahun inipun pihak pemilik gedung memberikan izin untuk menggunakan gedung Jalsah pada beberapa hari sebelum Jalsah. Semua hal ini menuntut para panitia untuk memiliki tempat sendiri untuk menyelenggarakan Jalsah. Bpk. Amir mengabarkan kepada saya bahwa beliau telah melihat sebuah tempat yang tengah ditempuh untuk dapat memilikinya dan beliau menyukai tempat tersebut. Jika memang tempat itu baik bagi Jemaat dalam pandangan Allah Ta’ala, semoga Allah Ta’ala mengaturdan memberikan kemudahan kepada kita untuk dapat membelinya.Saya berharap, setelah melihat keikhlasan, kesetiaan dan semangat pengorbanan Jemaat Jerman, jika memang menuntut adanya pengorbanan harta untuk itu, insya Allah, merekaakan berkorban harta untuk itu. Semoga Allah Ta’ala meningkatkan taufik-Nya kepada mereka.

Sebagaimana pada hari terakhir Jalsah telah saya katakana, Jalsah Jerman telah berubah corak menjadi Jalsah Internasional dan bagi Jemaat Eropa sejak sebelumnya mudah untuk ikut serta pada Jalsah Jerman dan saat ini beberapa negara lain seperti negara-negara bagian di Rusia dan negara-negara Afrika kali ini merasa lebih mudah untuk datang ke sana dan visa pun dapat diperoleh dengan mudah. Dari sisi itupun,JalsahGah dan pengaturan terkait pada Jalsah Jerman perlu untuk diperluas.

Setelah menyampaikan ucapan terima kasih kepada panitia dan hal-hal terkait Jalsah, sekarang saya ingin menyampaikan kesan kesan para tamu yang hadir di Jalsah yang darinya dapat diketahui, tidak hanya oleh para panitia, bahkan para peserta Jalsah pun telah melakukan tabligh tanpa suara dengan memperlihatkan akhlak baik kepada para tamu bukan Ahmadi. Panitia mengadakan acara khusus juga ketika Jalsah yang diperuntukkan bagi tamu non Ahmadi dan non Muslim yang diadakan pada hari Sabtusiang hari yang diisi dengan penyampaian pidato oleh saya. Saya akan sampaikan bagaimana kesan-kesan mereka. Pada waktu lainnya diadakan juga sesi tabligh oleh para panitia untuk para tamu bukan Ahmadi.

Tahun ini acara tabligh diikuti oleh tamu sebanyak 1179 orang. Tamu warga Jerman diantaranya berjumlah 502 ditambah lagi tamu dari belahan Eropa lainnya sebanyak 341 orang. Selain itu, 157 orang dari negara-negara Arab, 104 orang dari Asia dan 75 orang Afrika. Total yang hadir di acara itu berasal dari 67 negara.

Diantaranya bernama Mr. Hans Oliver, seorang senior pada lawfirm (firma hukum) di Frankfurt yangberarti beliau adalah penduduk tempatanJerman hadir pada acara tabligh dan menyampaikan kesannya setelah menyimak pidato saya, “Pidato Imam JemaatAhmadiyah penuh dengan gelora dan memberikan pengaruh luar biasa bagi saya. Meskipun tampaknya dunia tengah dalam keadaan yang tentram dan kegiatan tiap hari berjalan seperti biasanya, namun beliau mengingatkan kita untuk waspada kemungkinan munculnya ancaman perang. Ini merupakan pokok bahasan penting. Imam JemaatAhmadiyah tidak hanya menyadarkan kita akan ancaman yang dapat timbul dimasa mendatang, bahkan seiring dengan itu mengingatkan dunia untuk waspada.

Begitu pula beliau telah mengaitkan urusan keimigrasian dengan kesejahteraan sosial dan ekonomi negara-negara. Analisa tersebut memang benar. Sebagai praktisi hukum saya ingin menyampaikan point ini kepada kawan kawan dan memberikan keutamaan pada pertingnya dua pihak kesepahaman, karena pada umumnya orang-orang hanya menceritakan sisi negative dari kedatangan para pencari suaka namun mengesampingkan keamanfaatan nya bagi negara dan bangsa terkait padahal itu merupakan sisi yang sangat penting.”

Selanjutnya, Ibu Merina Pulbec, seorang ahli bidang IT pada Lufthansa Airline menuturkan,“Ketika menyimak pidato, saya terus menerus memikirkan para pemuka agama lainpun biasa menyampaikan pidato dan menasihatkan dunia untuk waspada akan bahaya yang mengancam dunia di masa mendatang. Berbicara perihal perdamaian dunia bagi para pemimpin merupakanbahasan yang hangat, namun di dalam pidato Imam JemaatAhmadiyah terdapat satu power (kuasa) yang tidak saya jumpai pada yang lain. Hal kedua yang telah saya amati secara lengkap, tampak rasa simpati mendalam pada pidato beliau. Jika tidak terdapat rasa simpati tersebut, tidak ada orang yang dapat menyampaikan analisa rinci seperti itu.

Imam Jemaat Ahmadiyah menguraikan tidak hanya dari sudut pandang agama saja. Beliau menjelaskan kepemimpinan dunia berdasarkan sudut pandang sosial ekonomi perdamaian dunia berkaitan erat dengan rasa takut kepada Tuhan. Jika kita tidak menempuh langkah-langkah yang mengesampingkan kemanfaatan pribadi, maka kita harus bertanggung jawab atas terciptanya kehancuran mengerikan yang diakibatkan peperangan bom atom. Menurut hemat saya, nasihat itu telah disampaikan dengan begitu lengkap sehingga jika tidak terhalang rasa kebencian, peringatan ini sudah cukup untuk membuat kita merinding. Nasihat ini hendaknya sampai kepada para pembuat kebijakan, karena hal ini perlu diketahui oleh level internasional demi untuk kebaikan umat manusia.”

Selanjutnya, Mr. Clautze dan Mrs. Heidi keduanya suami istri berkebangsaan Jerman. Mereka mengatakan, “Sebelumnyakami merasa sangat khawatir untuk hadir pada acara Jalsah ini padahal saya sudah lama mengenal Jemaat. Akan tetapi, kami masih menyimpan keraguan sebelum hadir dalam Jalsah Salanah karena dilatarbelakangi berita negatif mengenai Islam dan umat Muslim di media. Untuk itu ketika akan berangkat tadi pada hari ini kami merasa khawatir memikirkan bagaimana keramaian di sini. Namun sesampainya di sini kami suami istri merasa rileks dan merasa tengah berada dilingkungan sendiri.”

Sang istri menuturkan, “Saya ingin katakan bahwa saya menyaksikan sendiri PerangDunia kedua (PD II). Begitu juga kemungkinan terjadinya kehancuran dan pemandangan mengerikan telah disampaikan Imam JemaatAhmadiyah. Keprihatinan dan keseriusan yang disampaikan oleh beliau telah sedemikian rupa menyentuh hati orang seperti saya yang telah menyaksikan langsung peperangan dunia kedua. Maka dari itu, kami seratus persen sepakat dengan pidato beliau dan berharap semoga generasi penerus dapat mengetahui dan menyadarinya pada saat ini.”

Sang suami menuturkan, “Imam JemaatAhmadiyah tentunya telah memperingatkan kita akan bahaya tersebut namun ketika menyampaikan,beliau tidak menyebut nama siapapun. Tidak juga ketika berpidato lebih condong kepada satu pihak. Corak nasihat yang beliau sampaikan penuh dengan keprihatinan dan tidak juga dicampuri dengan rasa suka dan tidak suka. Sedikitpun tidak dijumpai adanya kecondongan pribadi dalam pidato beliau dan demikianlah maqam seorang pemimpin organisasi keagamaan. Setelah ini saya akan pulang dengan membawa keyakina bahwa bahwa JemaatAhmadiyah memiliki rasa simpati yang dalam untuk dunia.”

Selanjutnya, Mr. Nobert Wagner, pengacara imigrasi menuturkan,“Meskipun ini bukan keikutsertaan saya yang pertama kali pada Jalsah ini, Sebagai pengacara untuk kasus-kasus para Ahmadi, saya mendapatkan banyak informasi.” (Beliau adalah seorang pengacara untuk kasus suaka para Ahmadi) “namun pidato yang disampaikan Imam Jemaat pada hari ini mengandung sisi dan pokok bahasanbaru bagi saya, walau saya tengah menyampaikan kesan saya, namun pernyataan ini merupakan reaksi instan yang mana dalam pidato tersebut bagi saya terdapat point point penting yang diperlukan berkaitan dengan pekerjaan dan setelah saya kembali nanti saya akan menelaahnya kembali di rumah.

Pandangan yang disampaikan Imam JemaatAhmadiyah pada hari ini berkenaan dengan imigran dan pencari suaka akan menciptakan kesepahaman dan saling menghormati diantara negara tuan rumah dan imigran. Sebagaimana secara khusus dengan bantuan statistikbeliau mengingatkan perlunya tenaga kerja disebabkan meningkatnya jumlah warga negara yang sudah lanjut usia dan pensiunan di Jerman. Dengan begitu para pencari suaka akan mendapatkan status yang baik dan bantuan. Begitu juga rasa hormat kepada para imigran pun semakin meningkat. Namun, ingin saya sampaikan lagi di dalam pidato Imam JemaatAhmadiyah terdapat banyak materi yang akan bermanfaat bagi saya dan bagi para praktisi hukum imigrasi. Dari sisi ini secara duniawi pun akan memberikan manfaat bagi orang-orang.”

Selanjutnya dari Switzerland, seorang wanita bernama Liza menuturkan,“Saya bekerja untuk suatu lembaga dan kami bekerja demi meraih perdamaian. Setelah menyimak pidato hari ini, tampak kepada saya kedamaian dan kedamaian dalam setiap kata yang disampaikan. Di setiap kata yang tampak kepada saya adalah ketabahan dan menghargai kemanusiaan.Jika Anda menyatukan antara perdamaian, ketabahan dan kemanusiaan maka Andaakan dapat membentuk satu masyarakat yang indah.

Apapun yang beliau sampaikan dalam pidatonya, kesemuanya untuk kemanfaatan kami. Yang paling berkesan adalah setelah menjelaskan segala perkara, beliau menyampaikan cara penyelesaiannya dari agama dan menerangkancara penyelesaian dari segala permasalahan itu adalah dengan mengenal Tuhan. Beliau telah membuktikan bahwa agama bukanlah masalah melainkan cara penyelesaian untuk permasalahan.”

Ada seorang gadis Jerman menuturkan,“Saya sangat terkesan mengetahui bahwa dalam pidato tersebut dibahas mengenai permasalahan terkini. Sebelum inipun para politikus telah menyampaikannya namun dalam penyampaian mereka tidak ada bobotnya, perkala yang sepele dan siapapun dapat menyampaikannya. Namun, pidato yang disampaikan oleh imam JemaatAhmadiyah sangatlah berbeda.Beliau menyampaikan berkenaan dengan permasalahan sebenarnya, peperangan nuklir, mengenai perubahan lingkungan, imigrasi, dan inilah permasalahan yang umum dan beliau juga menyampaikan cara penyelesaiannya atas semua masalah itu.

Terkait:   Keteladanan Para Sahabat Nabi Muhammad (shallaLlahu ‘alaihi wa sallam) (Manusia-Manusia Istimewa seri 46)

Beliau menekankan supaya manusia kembali kepada Tuhan. Telah disampaikan dengan jelas oleh beliau bahwa peperangan yang terjadi pada saat ini tidak ada kaitannya dengan agama. Beliaujuga menjelaskan perihal perpolitikan. Beliau juga mengatakan bahwa Negara-negara yang tangguh memanfaatkan negaranegara yang lemah. Terkadang manfaat itu diraih secara terang terangan maupun sembunyi sembunyi dan memaksa mereka untuk mempertahankan keberlangsungan manfaat itu bagi negara-negara yang kuat.”(Dari sisi ini mahasiswa ini memiliki analisa yang sangat baik, artinya mereka menyimak dengan seksama dan merenungkannya)

Selanjutnya, seorang pendeta Kristen bernamaAndreas Viceroad menuturkan, “Saya sangat terkesan dengan Jalsah Salanah ini, dengan wajah-wajah ramah, dengan suasana yang bernuansa akhlak mulia ini dan dengan persatuan dan kecintaan ini. Pidato yang disampaikan Imam JemaatAhmadiyah membuat saya sangat takjub. Sebelum ini saya tidak menyadari bahayaancaman perang nuklir. Saya pun berpendapat bahwa kita dapat maju hanya dengan menaruh perhatian pada nilai-nilai sosial dan perdamaian serta bergandengan tangan untuk mencari perdamaian. Untuk tujuan tersebut kita memerlukan satu lingkungan masyarakat yang kokoh yang didalamnya kita dapat menegakkan suasana toleransi ditengah beragam keyakinan. Dialog antar agama pun merupakan bagian penting diantaranya.”

Ada juga kesan-kesan terhadap Jalsah secara umum. Telah saya dapatkan contohnya diantara sekian banyak. Saya juga akan sampaikan perihal kesan umumini saat ini.

Perwakilan dari Macedonia berjumlah 70orang termasuk 8 wartawan, 2 jurnalis TVlokal dan 6 TV nasional atau berasal dari news agencies lainnya. Sebagian dari mereka mewawancarai saya. Selain prosesi Jalsah, mereka juga mengambil interview para peserta Jalsah setelah soal jawab. Selain wartawan, di dlam perwakilan tersebut terdapat 15 teman-teman Kristiani, 23 Muslim non Ahmadi dan juga 24 Ahmadi. Diantara tamu-tamu non Ahmadi, lima orang menyatakan baiat pada saat Jalsah setelah menyaksikan seluruh program Jalsah dan sebelumnya tengah ditablighi juga.

Seorang wanita dari Masedonia bernama AlexandraAndweeno hadir di Jalsah. Saya sampaikan di sini karena penyampaiannya menarik. Beliau menuturkan dengan gaya syair dan falsafah, “Bagaimana keadaan suatu rumah tangga tanpa adanya keluarga, Bagaimana keadaan kemanusiaan tanpa adanya akhlak, Manusia tidak ada hakikatnya tanpa agama dan akidah, bagaimana keadaan kemanusiaan tanpa adanya rasa cinta. Kesucian ruh manusia hanya dapat diraih dengan hidup damai dan menyebarkan kedamaian. Begitu juga kesucian ruh tersembunyi dibalik solidaritas dan hidup saling menghormati.

Perlu bagi manusia untuk meyakini Tuhan dan memperbaiki masa depan dunia. Ini merupakan cara yang dengannya kita dapat melindungi kemanusiaan; dan JemaatAhmadiyah tengah melakukan semua ini. Para Ahmadi menyebarkan kedamaian, mengajarkan perdamaian dan menegakkan akhlak luhur supaya umat manusia dapat mengamalkan semua hal ini. Ahmadiyah tengah mengumpulkan manusia di satu tempat dan menimbulkan rasa cinta kepada ibadah. Ahmadiyah berkehendak supaya manusia meningkat dalam keruhanian, tercipta persatuan didalamnya dan mendekat kepada Tuhan.

Tahun ini saya melihat banyak sekali orang yang baik. Mereka memperlakukan kami dengan penuh hormat dan wajah ramah. Mereka yakin dengan akhlak mulia kehidupan baik dapat terwujud. Dengan gejolak rasa syukur saya bersaksi bahwa saya telah menyaksikan orang-orang yang yakin kepada Tuhan dan keimanan mereka sangat kokoh. Saya berharap Anda terus melanjutkan upaya baik, rasa cinta dan perhatian yang lebih banyak lagi. Akan tiba masanya ketika orang-orang mengetahui apa tujuan dan nilai kehidupan.”

Ini adalah kesan dari mereka yang bukanAhmadi. Hendaknya kesan-kesan ini mengarahkan kita,semoga kenyataannya kita dapat mengenali tujuan hidup dan  meraihnya. Ada seorang wartawan TV dari Macedonia, Mr. Zoranco Zorenski menuturkan,“Saya hadir di Jalsah ini untuk yang kedua kalinya. Ini merupakan satu kehormatan bagi saya. Pengaturan Jalsah sangat luar biasa, menurut hemat saya, pengaturan Jalsah tahun ini lebih baik dari tahun lalu. Saya sangat terkesan dengan pidato Anda (Huzur) karena setiap untaian kata mengandung pelajaran bagi kemanusiaan. Ini merupakan pesan global yakni love for all hatred for none. Beriman kepada Tuhan dan membantu segenap manusia merupakan suatu pekerjaan yang dapat menjauhkan perbedaan diantara manusia. JemaatAhmadiyah mengajarkan hal hal yang positif kepada manusia.”

Berkenaan dengan temu media dengan saya (Huzur), beliau mengatakan, “Imam JemaatAhmadiyah telah memberikan jawaban atas pertanyaan dari para wartawan, beliau menyampaikan perihal penghormatan mendasar bagi kemanusiaan. Saya juga adalah wartawan, saya akan berusaha untuk mewawancarai Anda suatu hari nanti. Anda menyampaikan nasihat yang baik, saya harap orang terus bertambah yang masuk kedalam JemaatAhmadiyah yang akan bekerja untuk kemaslahatan umat manusia. Tengah tampak kepada dunia bahwa Islam, insya Allah, akan menyebar dengan perantaraan Ahmadiyah.”

Selanjutnya, Mr. Biomansko menuturkan, “Setelah memasuki ke kedalamam, saya dapat memahami pesan JemaatAhmadiyah. Sebagai wartawan saya telah meneliti ajaran serupa yang dijumpai dalam berbagai agama. Prinsip agama adalah mencintai Tuhan dan berpondasi pada kecintaan kepada umat manusia. Ini merupakan pesan yang sangat penting untuk masa ini. Dalam kecintaan ini terdapat cara penyelesaian bagi berbagai permasalahan yang menggelisahkan dunia pada masa ini.

Masalah besar Eropa saat ini adalah meningkatnya kekuatan politikus sayap kanan. Cara penyelesaiannya hanya mungkin dengan dialog antara kultur berbagai agama dengan peradaban. Jika kita mencari Tuhan, kita akan mengetahui bahwa diantara kita tidak banyak perbedaan. Seberapa jauh kita dari Tuhan, sejauh itu pulalah kita terjauh dari kemanusiaan dan umat manusia. Era kebendaan tengah menggerogoti kehidupan ruhani dan hubungan antar sesama. Untuk itu kita harus melindungi keluarga dan kawan kawan kita dan juga hubungan kita.”

Selanjutnya, Bpk. Johnny Jeepo menuturkan,“Saya hadir di Jalsah ini bersama dengan keluarga. Jalsah sangat sukses dan ini merupakan pengalaman yang luar biasa. Ketika saya mendengar pesan Ahmadiyah untuk pertama kalinya di Masedonia, saya menyadari bahwa pesan Ahmadiyah berperan memberikan bimbingan positif kepada manusia. Keluarga saya telah terlebih dulu menerima pesan ini lalu membimbing saya. Saya ucapkan terima kasih kepada Anda atas pengaturanny sehingga saya dapat hadir di Jalsah.”

Selanjutnya, Ibu Taniyah menuturkan,“Ini adalah kali pertama saya hadir di Jalsah ini. Segala sesuatu baru bagi saya dan sangat baik. Segenap pengaturan sangat baik dari berbagai sisi. Khususnya sikap para panitia sukarelawan sangat ramah. Mereka berkhidmat dengan senyuman dan memperlihatkan akhlak yang mulia.”

Selanjutnya, seorang mahasiswa dari Bulgaria menuturkan,“Di sini orang-orang sangat ramah yang karenanya saya berada di sini saat ini. Saya menyimak prosesi baiat sebagai pengunjung. Saya tidak dapat menggambarkan keharuan saya dengan untaian kata kata. Berkumpulnya orang-orang dalam Jalsah ini merupakan hal yang luar basa.”

Selanjutnya, perwakilan dari Bulgaria berjumlah 49 orang yang mana 15 orang diantaranya adalah Ahmadi dan 34 orang non Ahmadi. Terdapat juga saudara-saudara dari Kristen. Salah satu diantaranya bernama Ibu Julia yang menuturkan, “Saya sangat terharu setelah memikirkan saya juga hadir dalam JalsahJemaatAhmadiyah ini bersama dengan ribuan orang lainnya. Memang saya seorang Kristen, namun saya sangat menyukai pidato Imam JemaatAhmadiyah. Doa beliau sangat menyentuh hati. Saya juga menyukai tilawat dan terjemah yang dilantunkan. Yang patut dipuji adalah beliau membagikan penghargaan kepada para pelajar yang berprestasi dengan tangan beliau sendiri lalu mendoakannya, semoga doa beliau terkabul.”

Seorang tamu wanita dari Bulgaria, Ibu Kesma Almira menuturkan, “Saya telah mendapatkan kesempatan untuk hadir yang ketiga kalinya pada Jalsah Jerman ini. Setiap tahun saya selalu dapat mempelajari hal hal yang baru. Saya menyimak pidato pidato dengan seksama karena saya adalah seorang psikolog dan phisioterapist. Saya dapat memberikan cara penyelesaian yang baik bagi permasalahan yang dihadapi pasien dengan perantaraan ajaran JemaatAhmadiyah yang disampaikan dalam ceramah ceramah. Bagi diri saya sendiri pun saya kumpulkan nasihat-nasihat yang bermanfaat dan akan saya bawa pulang.”

Seorang wanita Kristen dari Bulgaria Ibu Ivanka menuturkan, “Ini kali pertama saya dapat hadir di Jalsah Jerman ini. Setelah melihat segala sesuatu,saya merasa heran dengan kenyataan, khususnya saya sangat terkesan dengan anak-anak yang bertugas memberikan air minum kepada kami.”

Seorang wanita, Ibu Gelia menuturkan, “Saya ikut serta selama tiga hari pada Jalsah salanah Jerman. Saya sangat terkesan dengan pengkhidmatan tamu dan pengaturan pada Jalsah Salanah. Saya sangat terkesan dengan orang-orang yang berakhlak dan beriaradah baik yang saya jumpai selama Jalsah.”

Tahun ini datang perwakilan dari Hungaria yang berjumlah 8 tamu dan 11 non Ahmadi.Ny. Saun Saobin yang berasal dari bangsa Rumania menuturkan, “Kami telah mendirikan satu lembaga untuk kemaslahatan kaum kami dan untuk memberikan pertolongan legal kepada mereka. Lembaga tersebut memiliki 16 ribu lebih anggota. Ini adalah kali pertama saya hadir di Jalsah. Saya biasa bertemu dengan beragam orang karena tuntutan pekerjaan. Saya biasa menghadiri berbagai acara. Saya hadir juga pada acara-acara orang Yahudi, umat Muslim dan Kristen, namun, rasa cinta, saling menghormati, solidaritas yang saya dapati pada Jalsah ini, tidak pernah saya jumpai semisalnya dalam hidup saya ditempat lain.

Saya berterima kasih kepada JemaatAhmadiyah karena telah memberikan kesempatan kepada saya untuk datang sendiri kesini dan melihat moto ‘love for allhatred for none’ tengah diamalkan di sini. Ini merupakan pengalaman abadi bagi saya, tidak dapat saya lupakan. Saya sangat terharu setelah hadir di Jalsah. Telah timbul kebencian dikalangan penduduk Negara kami terhadap umat Muslimdisebabkan permasalahan yang ditimbulkan para imigran Muslim, namun kami terus menyuarakan untuk membela umat Muslim; bahkan nanti akan menyuarakan lagi lebih gencar dari sebelumnya bahwa apa yang digambarkan oleh media mengenai Islam adalah keliru.”

Selanjutnya, Ibu Wafa Hasan Syarmani dari Yaman. Beliau hijrah beserta dengan putra dan ibunya ke Hungaria. Beliau menuturkan, “Saya ikut serta juga pada Jalsah tahun ini maupun tahun lalu. Ketika berada di Jalsah Gah kaum Ibu pada tahun lalu, saya merasa nyaman. Begitupun tahun ini saya menyimak seluruh program Jalsah di Jalsah Gah kaum ibu. Bagi saya Jalsah ini penuh dengan nuansa ruhani dan keharuan.”

Selanjutnya, seorang tamu, Bpk. Besen Jozi, pada hari terakhir Jalsah menyatakan baiat masuk Jemaat. Beliau menuturkan, “Atas hal ini saya sangat bersyukur ke hadirat Allah Ta’ala. Penyebab baiatnya saya kedalam Jemaatialah pada beberapa tahun lalu saya dapat mulaqat dengan Huzur. Sejak saat itu beliau selalu ikut serta hadir pada Jalsah Jerman.”

Selanjutnya, seorang Ahmadi, Bpk. Bekum Betsi menuturkan, “Saya baiat pada tahun 2004 danlulus dengan hasil yang baik dalam bidang jurnalisme. Karena itu, saya mendapatkan medali penghargaan pada Jalsah 2016. Setelah itu saya bekerja di Albania sebagai wartawan pada surat kabar-surat kabar online. Pada tahun lalu ketika saya mengajukan cuti untuk hadir di Jalsah salanah, tidak mendapatkan izin. Karena itu saya menyatakan keluar dari pekerjaan, karena tidak mau absen dari Jalsah salanah. Pada hari itu juga Allah ta’ala memberikan saya pekerjaan di perusahaan media lainnya. Saya mengajukan syarat kepada perusahaan supaya saya diizinkan hadir pada Jalsah salanah jerman tahun ini. Saya akan memulai pekerjaan sepulangnya dari sana, dan syarat itu disetujui oleh perusahaan. Begitu juga tahun inipun saya baru bekerja selama 4 bulan di surat kabar online. Berdasarkan peraturan perusahaan cuti tidak akan diberikan sebelum masa kerja minimal 6 bulan.

Meskipun demikian saya tetap mengajukan cuti untuk hadir di Jalsah dan memang tidak dikabulkan. Lalu saya menyatakan keluar dari pekerjaan dan ternyata pada hari itu juga saya mendapatkan tawaran kerja dari tiga perusahaan lainnya. Saya menerima salah satunya dengan memberikan syarat kepada perusahaan bahwa saya akan memulai pekerjaan setelah menghadiri Jalsah Salanah Jerman dan disetujui.”

(Seperti itulah keimanan dan contoh hakiki dari mendahulukan agama diatas dunia yang dilakukan oleh mubayyin baru.)

Selanjutnya saudara Ahmadi bernama Bpk. Gizamunachi yang sebelumnya adalah seorang yang tidak beragama. Beberapa tahun yang lalu beliau mengenal Jemaat. Beliau merasa bahwa dalil yang diberikan oleh Jemaat mengenai agama dan khususnya Islam sangat masuk akal dan beliau menyukainya. Sebelum itu, disebabkan kisah-kisah yang diceritakan oleh para Maulwi (Ulama), beliau merasa bosan dengan agama. Beberapa tahun yang lalu beliau baiat dan saat ini secara perlahan mulai menerapkan ajaran Islam. Beliau menuturkan, “Jalsah salanah sangat istimewa bagi saya. Pengaturan Jalsah dan penerimaan tamu seperti biasanya sangat luar biasa. Saya sangat terkesan dengan pidato yang disampaikan oleh Huzur di Jalsah gah lajnah dan pidato penutupanJalsah dan kita kaum pria hendaknya senantiasa mengingat nasihat tersebut.

Selanjutnya seorang tamu dari Albania bernama Elir Swanci yang tinggal di Jerman, menuturkan, “Bagi para AhmadiMuslim, Jalsah salanah merupakan perkumpulan agung keruhanian. Didalamnya selain para Ahmadi, ikut serta juga orang-orang yang berasal dari berbagai latar belakang agama dan bangsa dalam jumlah besar. Dalam Jalsah ini selain dapat mengenal ajaran Islam yang mendasar, mereka juga mendapatkan kesempatan untuk menyaksikan praktek nyata ajaran indah tersebut dengan perantaraan nizam Khilafat yang berdiri dalam JemaatAhmadiyah. Selama tiga hari Jalsah pada Jalsah gah kaum ibu dan bapak diadakan berbagai acara dan disampaikan juga ajaran Islam yang indah dalam menghadapi perubahan dan tantangan zaman. Sebagai AhmadiMuslim saya selalu menunggu kehadiran Jalsah ruhani ini dengan penuh kecintaan karena di sini tampak ruh persaudaraan yang hakiki yang tidak mungkin dapat digambarkan dengan kata kata. Kecintaan yang tulus dan suci zahir dari segenap anggota Jemaat. Setelah hadir di Jalsah ini saya merasa tengah berada di surge dan merasa sebagai manusia yang paling beruntung di dunia ini. Saya menunggu-nunggu kehadiran Jalsa berikutnya dengan penuh kerinduan.”

Terkait:   Keteladanan Para Sahabat Nabi Muhammad (shallaLlahu ‘alaihi wa sallam) (Manusia-Manusia Istimewa seri 45)

Selanjutnya, perwakilan dari Georgia yang berjumlah 85 orang. Diantara negara-negara yang datang dari Rusia, grup ini adalah yang paling banyak. Beliau seorang ketua lembaga kesejahteraan. Tn. Beso menuturkan, “Saya mendapatkan kesempatan untuk berbicara banyak dengan para peserta lainnya. Ketika berbicara saya berusaha untuk merenungkan, bagaimana Jemaat ini begitu memperhatikan solidaritas dalam beragama. Untuk tujuan itu saya berbincang dengan dua Ahmadi dan ketika berbincang saya katakan padanya bahwa saya bukan Muslim, saya seorang Kristen. Saya mengira sikap mereka akan berubah, namun saya sangat heran, sebagaimana sebelumnya para Ahmadi ini bersikap mulia, demikian pula setelah mengetahui saya Kristen pun mereka tetap memperlihatkan sikap yang sama, mereka tidak memperlihatkan rasa antipati apapun.” (Seperti itulah terkadang non Ahmadiberusaha untuk menguji kita para Ahmadi).

Diantara perwakilan dari Georgia ada seorang mahasiswi pendidikan agama bernama Nn. Nanoka ikut serta dalam Jalsah. Beliau menuturkan kesannya perihal prosesi baiat, acara baiat dipenuhi dengan gejolak perasaan haru, “Dengannya saya mendapatkan kesempatan untuk menyaksikan persatuan agama dan dapat mengetahui bagaimana manusia dari berbagai latar belakang warna dan bangsa yang berbeda dapat berkumpul dengan damai. Saya tengah menempuh pendidikan agama dan ini merupakan kali pertama saya hadir di Jalsah. Saya yakin bahwa Jalsah ini merupakan cara terbaik untuk meraih perdamaian.”

Selanjutnya, ada seorang wanita Nana Kardyani menuturkan, “Saya bukan Muslimah, bukan juga Kristen, namun setelah menghadiri Jalsah ini saya melihat diri saya condong kepada Islam. Saya terpaksa berpikir untuk memutuskan berkenaan dengan agama saya sendiri.”

Selanjutnya, seorang mahasiswa universitas dari Georgia bernama Bpk. Georgio, beliau adalah keponakan dari seorang imam, menuturkan, “Identitas saya Muslim namun setelah hadir dalam Jalsah ini dan melihat bagaimana kecintaan Imam JemaatAhmadiyah, saya akan menelaah lebih lanjut berkenaan denganJemaatAhmadiyah.”

Selanjutnya, ada satu perwakilan dari Kosovo yang berjumlah 45 orang yang 30 orang diantaranya adalah Ahmadi dan 15 non Ahmadi. Salah seorang yang benama Mr Shep Zikarji Sahib ikut serta hadir dalam Jalsah untuk kedua kalinya. Beliau menuturkan, “Ketika mendapatkan kabar untuk hadir dalam Jalsah saya sangat bahagia, namun ketika mengetahui besaran biaya untuk perjalanan ke Jalsah, sayapun menjadi kebingungan, namun perjumpaan dengan khalifah dan ikut serta dalam Jalsah merupakan hasrat besar saya. Untuk itu saya menjual sapi sehingga dapat memenuhi biaya transport ke Jalsah.” (Seperti itulah para mubayyiin baru berusaha dan berkorban untuk dapat hadir dalam Jalsah) Dengan membacanya mengingatkan kita pada pengorbanan para Ahmadidimasa awal.

Salah seorang perwakilan dari Kosovo Mr Sekendar Arslani Sahib, dosen Bahasa dan literature Albania. Beliau mendapat karunia untuk baiat pada tahun ini. Beliau menuturkan, “Saya tidak menemukan kelemahan dalam pengaturan Jalsah ini setelah saya mencari-carinya. Standar ceramah-ceramah sangatlah berbobot. Saya sangat terkesan dengan pidato Imam JemaatAhmadiyah. Baiat merupakan satu kenikmatan yang harus kita semua muliakan karena bersatunya diatas satu tangan dalam suasana ini merupakan kunci keberhasilan.”

Tiga orang wanita dari Malta hadir dalam Jalsah dan mereka mengikuti acara di Jalsah Gah kaum Ibu. Beliau menuturkan, “Kami sangat diperhatikan, seringkali kami ditawarkan segala kemudahan di Jalsah gah. Di jalsa gah kaum ibu kami merasakan suatu suasana kekeluargaan layaknya kami sudah saling mengenal sejak berabad abad lamanya, padahal kami baru pertama kali berjumpa satu sama lain. Di Jalsah gah kaum ibu kami merasakan kemudahan yang lebih dan kami telah merasakan lingkungan dikedua jalsa gah yakni kaum ibu dan bapak. Kami pun mendapatkan kesempatan untuk memahami hikmah dan falsafah yang dalam dan benarberkenaan dengan pemisahan antara pria dan wanita dalam ajaran Islam. Dengan pengalaman sendiri, kami dapat mengatakan bahwa ajaran Islam penuh dengan hikmah yang sangat dalam. Kaum wanita merasa lebih tenteram dan mudah berada di tempat terpisah. Mereka mendapatkan kesempatan luas untuk melakukan pengaturan sendiri dan menampilkan kemampuannya.”

Walhasil, mereka yang bukanAhmadi pun sudah mulai mengakui bahwa pada hakikatnya pemisahan antara kaum ibu dan bapak dan adanya pengaturan untuk itu adalah perlu. Namun disisi lain ada beberapa lajnah muda kita yang justru berpemikiran, ‘mengapa tidak disatukan saja antara pria dan wanita’,‘Tidak ada kebebasan’justru hal ini harus menjadi bahan renungan bagi mereka.

Ada seorang tamu wanita dari Malta yang baru saja menikah menuturkan, “Saya sangat terkesan dengan pidato yang disampaikan oleh Imam JemaatAhmadiyah. Anda menekankan kaum pria dan wanita untuk memenuhi tanggung jawabnya masing masing. Permasalan terus timbul dalam rumah tangga dan dalam hal ini nasihat beliau akan terbukti bermanfaat untuk selama lamanya.

Ajaran islam perihal kesucian sebelum memasuki jenjang pernikahan merupakan ajaran yang penuh hikmah dan lengkap.Ini adalah hal yang sangat penting Beliau juga menekankan kepada kita untuk menempuh kesucian ruhani jasmani, ketakwaan dan kesucian. Jika saya mendapatkan kesempatan untuk hadir lagi di Jalsah, saya akan melewati sepanjang Jalsah di gah kaum Ibu, karena suasana yang saya rasakan disana sangat penuh dengan ruhani.”

Seorang tamu dari Kirgistan menuturkan,“Hadir dalam Jalsah dapat membangkitkan kesadaran secara luar biasa. Sebelum baiat masuk Ahmadiyah saya tidak pernah menangis, namun saya dapat menangissetelah hadir di sini dan di Qadian. Sara merasa telah timbul satu perubahan dan kelembutan dalam kalbu. Setiap orang yang baiat dengan perantaraannya terjadi satu peningkatan dalam keimanan saya. Sebelum baiat saya adalah seorang maulwi. Setelah menelaah buku JemaatAhmadiyah, segala hal berkenaan dengan dajjal, Masih Mau’ud (as) dan lain lain dalam Al Quran, saya dapat mengethui hakikatnya. Setelah baiat saya merasakan curahan air dingin mengucur ketubuh dan sekarang saya sudah menjadi Muslim yang hakiki.”

Kemudian ada seorang tamu dari Tajikistan, Tn. Abdussattar mengatakan, “Saya sebelumnya telah mendengar tuduhan mengenai orang-orang Ahmadi bahwa mereka bukan Islam dan menghalalkan minuman keras. Sebelum ikut serta dalam Jalsah saya melihat Mesjid Subhan milik orang Jemaat yang ada Jerman dan melaksanakan shalat di sana, maka saya menjadi tahu bahwa ternyata mereka adalah Muslim serta mengamalkan rukun Islam yang 5 perkara. Setelah hadir dalam Jalsah saya menjadi tahu bahwa mereka mengimani Imam Mahdi dan sama sekali tidak meminum minuman keras, dan mereka mengamalkan perintah-perintah Al-Quran Karim. Setelah ikut serta di dalam Jalsah ini saya mendapatkan banyak keterangan mengenai JemaatAhmadiyah dan saya pada dasarnya menganggap Anda semua sebagai Muslim. Rukun-rukun agama dan rukun-rukun Islam orang-orang Ahmadi adalah sama seperti halnya Muslim lainnya. Setelah sebelumnya melaksanakan haji, ini kedua kalinya saya melihat orang-orang Islam dalam jumlah yang begitu banyak.

Delegasi yang berasal dari Lithuania berjumlah 58 orang yang diantara mereka 40 orang bukanAhmadi dan 12 orang Ahmadi. Salah seorang diantaranya, Tn. Petrus Januliene mengemukakan pendapatnya, “Sebelum datang ke Jalsah saya mempunyai gambaran yang kurang baik mengenai Islam, akan tetapi setelah turut serta dalam Jalsah perasaan saya mengenai Islam menjadi teguh. Di dalam Jalsah saya merasakan bahwa orang-orang Islam sangat serius dengan akidah mereka, bahkan saya ingin katakan mereka jauh lebih serius dibandingkan orang-orang Kristen.

Kemudian, seorang wanita dari Lithuania, Ny. Munifah mengatakan, “Sebelum ikut serta dalam Jalsah saya memiliki keraguan mengenai Islam, karena sebagian orang Islam begitu cepat marah dan menjadikan agama-agama lainnya sasaran intoleransi, akan tetapi setelah ikut serta dalam Jalsah, saya merasa bahwa para Ahmadi adalah orang-orang yang menghormati pendapat dan agama orang lain, dan menyebarluaskan perdamaian serta kecintaan kepada seluruh umat manusia.

Kemudian ada seorang pimpinan sebuah firma hukum dari Lithuania, Tn. Sharon mengatakan, “Jalsah Salanah sangatlah penting karena di dalamnya dapat diketahui ajaran Islam yang penuh kedamaian, dan persepsi-persepsi yang keliru mengenai Islam menjadi hilang sirna.

Seorang kawan dari Siria yang baiat pada bulan Januari 2019 menceritakan mengenai kisah baiatnya, “Ayah saya baiat pada tahun 2008, kemudian seorang saudara laki-laki saya juga baiat, tetapi saya sudah tiga kali ikut Jalsah dan merasa heran melihat orang-orang menangis dengan terharu, dan saya menertawakan mengapa orang-orang ini menangis, namun saya tetap menjadi penentang dan tidak baiat. Kemudian saya berdoa kepada Allah Ta’ala bahwa, jika memang Jemaat ini benar maka Allah Ta’ala sendiri yang akan membimbing saya. Kemudian saya melihat di dalam mimpi suatu acara semacam mulaqat, orang-orang duduk di sana. Saya duduk di shaf pertama. Semua orang bergembira. Lalu Huzur datang dan saya spontan menangis. Kemudian Huzur memanggil saya, bertanya kepada saya dengan penuh kasih sayang dan menyuruh saya duduk di dekat beliau. Saya lalu terbangun, maka saya merasa telah berlapang dada untuk baiat. Lalu saya baiat.” Beliau sendiri juga menceritakan ini kepada saya dengan penuh keharuan, demikian juga saat mulaqat. Belakangan juga, ketika saya melihat ke arah beliau, beliau sangat terharu.

Seorang pemuda yang datang dari Belgia, Douwes Loic Balen mengatakan, “Saya baiat beberapa bulan yang lalu. Ini pertama kalinya saya ikut serta dalam Jalsah. Setelah ikut serta dalam Jalsah ini saya merasa takjub dengan suasana persaudaraan yang sangat indah, yang sebelumnya saya hanya mendengarnya saja, sekarang saya melihat gambarannya yang hakiki, dan saya sangat beruntung mampu turut serta dalam lingkungan rohani ini.

Seorang tamu dari Senegal, seorang komisioner di sana, beliau menceritakan mulaqat (perjumpaann)nya dengan saya, “Setelah mulaqat, saya sangat senang dan saya sangat terkesan dengan pidato Anda mengenai cinta dan tauhid. Jika saya tidak melihat Jalsah dan tidak bertemu dengan Anda maka saya merasakan suatu penyesalan besar dalam hidup saya, dan sekarang saya merasa misi kehidupan saya telah sempurna.”

Kemudian beliau mengambil sebuah perahu. Beliau meletakkannya di pangkuan beliau dan duduk. Ketika saya tanya, beliau menjawab, “Ini adalah hadiah yang kami bawa untuk Anda dan perahu ini adalah perahu perdamaian, perahu ‘cinta untuk semua, tidak ada kebencian bagi siapapun’. Sekarang siapapun yang naik di dalamnya, ia akan selamat. Dan ini adalah perahu Ahmadiyah. Dan makna lain dari pemberian hadiah berupa perahu ini juga adalah mata pencaharian di negara kami bergantung kepada perahu ini, yakni banyak nelayan di sana. Oleh karena itu, doakanlah secara khusus untuk negara kami.”

Kemudian bersama beliau ada seorang tamu lagi, seorang Direktur Departemen Kesehatan di sana. Beliau juga berterimakasih kepada saya mengenai rumah sakit, dan mengatakan bahwa dengan datang ke sini beliau melihat banyak hal mengenai Islam. Kemudian beliau mengatakan, “Saya telah melihat banyak sekali negara-negara di dunia, saya pun telah melihat pertemuan-pertemuan keagamaan dan politik, namun sampai hari ini saya belum pernah melihat nizam dan gambaran hakiki Islam yang seperti ini. Saya tidak pernah melihat ketaatan sebagaimana yang saya lihat di dalam diri orang-orang yang hadir di sini. Saya tidak pernah melihat kecintaan kepada Khalifah yang seperti ini. Saya mampu katakan dengan seyakin-yakinnya bahwa di mana pun di dunia ini, tidak ada orang-orang yang mencintai pemimpin politik atau keagamaan mereka sebagaimana kecintaan orang-orang Ahmadi kepada Khalifah mereka yang saya lihat di sini, dan saya mengakui kebenaran ini.”

Kemudian seorang Dokter, Tn. Mojao mengatakan, “Kami menerima kebenaran ini dengan sepenuh hati kami. Kami melihatnya bahwa ini adalah sebuah kebenaran yang tidak akan ada yang mampu menolaknya, dan sejak hari ini hati kami bersama Anda. Apa yang kami lihat dan dengar dari Anda, kami merasakannya dan akan berusaha mengamalkannya.”

Delegasi dari Bosnia berjumlah sebanyak 74 orang. Seorang pendiri NGO (Non Government organization, LSM=Lembaga Swadaya Masyarakat) setempat, Tn. Yasmin Sapachit mengatakan, “Kecintaan Anda kepada Islam dan pendiri Islam serta penyebaran dari kecintaan ini tampak dalam pidato Anda yang penuh dengan kecintaan. Nasihat berkenaan dengan Sirah (biografi) Rasulullah (saw) sangat menyentuh hati, dan memang itu lah yang diamalkan oleh Rasulullah (saw).”

Kemudian beliau mengatakan, “Saya berdoa kepada Allah Ta’ala semoga Jalsah selanjutnya lebih baik lagi dan semoga Jalsah ini menjadi sarana terciptanya kekuatan dan persatuan umat Muhammadiyah.”

Kemudian Ny. Yamina Josyvesy mengatakan, “Dengan hadir di Jalsah ini saya merasa bahwa suasana Jalsah mempunyai kekuatan dan pengaruh yang meniupkan ruh kehidupan kepada orang-orang yang mati secara rohani.”

Kemudian Ny. Almak Keremish mengatakan, “Saya mengambil manfaat dari acara ini dan berterimakasih kepada JemaatAhmadiyah yang telah mengundang saya untuk ikut serta di dalam Jalsah yang agung ini. Pengkhidmatan terhadap tamu dan seluruh sistem pengaturan Jalsah secara menakjubkan telah memberikan kesan kepada saya, dan khususnya di akhir pekan ini saya lewat di antara orang-orang yang di wajah mereka selalu tersenyum.”

Pada saat prosesi baiat dilaksanakan, terdapat sebanyak 37 orang yang berasal dari 16 negara mendapatkan taufik untuk baiat yang diantara mereka berasal dari Albania, Serbia, Belanda, Jerman, Rumania, Kosovo, Belgia, Siria, Turki, Uzbekistan, Libanon, Senegal, Ghana, Gambia dan Guinea Conakry.

Seorang kawan, Mr. Labino yang merupakan principal(kepala sekolah) di sebuah High School(sekolah menengah) di Kosovo mengatakan, “Jalsah Salanah telah menciptakan suatu kesan yang khas bagi saya dan khususnya ketika Huzur memerintahkan untuk duduk maka kumpulan orang yang begitu banyak itu seketika duduk. Pemandangan seperti ini tidak mampu dilihat dimanapun di dunia ini. Setelah saya ikut serta dalam Jalsah, saya katakan bahwa Jalsah ini seharusnya janganlah tiga hari, bahkan seharusnya 30 hari. Tadinya saya tidak berkeinginan untuk baiat, akan tetapi saya begitu terkesan dengan semua hal ini. Pada saat baiat diri saya begitu terkesan sehingga dengan sendirinya tangan saya terangkat dan mulai mengikuti kalimat-kalimat dalam baiat, dan sekarang saya telah baiat, tidak hanya secara lahiriah saja melainkan secara hakikat.”

Terkait:   Khotbah Idul Fithri

Kemudian dari Azerbaijan, Tn. Aghasaf mengatakan, “Saya sama sekali tidak pernah berpikiran dapat melihat ketinggian-ketinggian rohani yang seperti ini. Seorang mubaligh, Bpk. Mahmud telah menjelaskan kepada saya mengenai Jemaat dan akidah-akidahnya. Saya menganggap semua itu dusta dan mengada-ada. Saya langsung mengingkarinya setelah mendengarnya. Akan tetapi saya tidak tahu, bagaimana begitu cepatnya kekuatan kebenaran ini menarik saya ke arahnya. Kebenaran Jemaat dan dalil-dalil yang dikemukakannya secara meyakinkan begitu kuat.

Pemandangan yang sebelumnya hanya saya lihat lewat video-video, setelah datang ke sini saya berkesempatan menyaksikannya secara langsung. Di dalam Jalsah saya mendapatkan kesempatan bertemu dengan banyak orang. Tetapi, saya merasakan kegembiraan yang sama setiap kali bertemu dengan setiap orang. Inilah dalil meyakinkan bahwa ini benar-benar sebuah Jemaat.

Allah Ta’ala telah memberikan saya karunia untuk berbaiat di tangan Huzur langsung. Ketika pertama kali diberitahukan kepada saya mengenai hal ini, saya merasa ragu. Saya bertanya hingga empat-lima kali, apakah benar saya akan berbaiat dengan meletakkan tangan langsung di atas tangan Khalifah? Saya berlinang air mata dan bersamaan dengan itu saya merasa khawatir apakah saya layak untuk itu. Kemudian saya mulai membaca shalawat dan istighfar. Hingga tiba pelaksanaan baiat saya tidak mampu makan apa-apa dan tidak tidak juga mampu melakukan apa-apa. Alhamdulillah kesempatan baiat pun tiba. Allah Ta’ala menganugerahkan kepada saya kekuatan dan memberikan saya kesempatan rohani ini, sehingga setelah baiat saya bersujud dan bersyukur kepada Dzat yang telah memberikan kepada hamba yang lemah dan berdosa ini taufik untuk berbaiat di tangan Huzur.

Setelah Jalsah saya mendapatkan informasi bahwa akan ada kesempatan untuk mulaqat juga. Sepanjang hari saya memikirkan beberapa pertanyaan, namun ketika mulaqat terjadi saya lupa akan semua pertanyaan-pertanyaan itu dan hanya ingat satu pertanyaan yang paling saya pikirkan yaitu, apakah standar kerohanian ini akan tetap tegak setelah saya pulang ke negara saya nanti?

Menjawab hal ini Huzur bersabda, ‘Bacalah secara dawam doa“Ihdinash shiroothol mustaqiim, shirootol ladziina an’amta ‘alaihim” yang ada dalam surah Al-Fatihah dan juga istighfar. Saya berjanji setelah pulang dari sini hingga Jalsah yang akan datang akan selalu mengamalkan nasihat ini, dan di Jalsah yang akan datang saya akan memberitahukan bahwa saya mengamalkan nasihat ini.’”

Semoga Allah Ta’ala meningkatkan keikhlasan dan kesetiaan beliau.

Di dalam rombongan delegasi dari Kosovo ada seseorang yang untuk pertama kalinya ikut Jalsah. Beliau mengatakan, “Saya tidak mampu menjelaskan perasaan saya dengan kata-kata. Sejak kapan saya mempunyai keinginan untuk bertemu dengan wujud yang memikirkan seluruh dunia dan yang dengan bertemu dengannya semua permasalahan-permasalahan dan kesusahan-kesusahan saya teratasi. Keikutsertaan saya dalam Jalsah adalah rencana Tuhan dan setelah baiat saya merasa seolah-olah saya dekat dengan Allah Ta’ala.”

Kemudian, Tn. Aplom dari Albania mengatakan, “Saya berbaiat di tangan Huzur dan mendapatkan karunia masuk ke dalam Jemaat. Saya sangat bersyukur kepada Allah Ta’ala karena Dia telah memberikan saya taufik untuk masuk ke dalam Ahmadiyah. Saya sangat bersyukur kepada Allah Ta’ala karena setahun sebelumnya saya kosong dari keimanan, dan di tahun ini Allah Ta’ala menganugerahkan khazanah keimanan. Saya dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkungan yang betul-betul tidak beragama, akan tetapi Allah Ta’ala telah memperindah diri saya dengan keimanan melalui perantaraan kehadiran dalam Jalsah dan mulaqat dengan Huzur.”

Dokter Mahmud Muhammad mengatakan, “Dua tahun yang lalu, ketika untuk pertama kalinya saya datang ke Jalsah, saya merasa heran dan bagi saya ini merupakan hal yang sama sekali baru bahwa para Ahmadi mengatakan Imam Mahdi dan Al-Masih telah datang, sedangkan kami belum mengetahui hal tersebut. Terlintas beberapa pertanyaan di benak saya bahwa kami telah membaca dan mempelajari bahwa Imam Mahdi akan berasal dari orang Arab dan namanya adalah Muhammad Bin Abdullah. Apakah Jemaat ini bersifat kerohanian ataukah politik? Demikian juga beberapa pertanyaan lainnya terlintas di benak saya. Untuk mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut saya datang ke Jalsah di tahun berikutnya dan berbincang dengan saudara-saudara Ahmadi mengenai berbagai macam tema.

Setelah selesai Jalsah, komunikasi saya dengan para Ahmadi terus berlanjut dan perlahan-lahan saya mendapatkan jawaban atas semua pertanyaan saya, dan saya merasa yakin hanya para Ahmadi-lah yang di dalam diri mereka memiliki semua sifat seorang Muslimhakiki.

Saya terkesan dengan kecintaan dan kasih sayang para anggota Jemaat dan berkeinginan untuk baiat. Kecintaan yang didapati dalam diri para anggota Jemaat, jika Allah Ta’ala tidak menanam benihnya di dalam hati mereka maka kecintaan ini tidak akan pernah tumbuh. Merupakan karunia Allah Ta’ala saya mendapatkan kesempatan baiat di tangan Khalifah dan mengikuti kalimat-kalimat baiat. Perasaan pada saat itu tidak mampu dijelaskan dengan kata-kata. Saya beruntung mendapatkan taufiq baiat di tangan Khalifah. Jika baiat ini berlangsung selama lima jam pun saya tidak akan merasa bosan dan tidak juga merasakan berlalunya waktu.”

Di dalam rombongan delegasi dari Kosovo ada seorang kawan yang untuk pertama kalinya ikut serta dan seluruh keluarganya yang berjumlah lima orang mendapatkan karunia baiat. Beliau mengatakan, “Awalnya saya merasa takut untuk baiat. Bagaimanakah baiat itu? Tubuh saya menggigil karena takut, akan tetapi kemudian setelah baiat saya merasa tenang dan merasa seperti semuanya sudah normal kembali.”

Bpk. Kamal Ulwan, seorang dari Libanon mengatakan, “Saya mempunyai sebuah restoran yang mana seorang teman Ahmadi biasa datang ke restoran tersebut. Suatu hari ia mengatakan kepada saya, ‘Saya ingin memberitahu Anda suatu hal bahwa Imam Mahdi sudah datang dan telah wafat juga.’ Setelah ia pergi saya berpikir, siapa orang ini? Kemudian beberapa waktu kemudian teman Ahmadi itu datang lagi untuk kedua kalinya dan kembali mengatakan bahwa Imam Mahdi sudah datang.

Suatu hari ia menjelaskan beberapa hal yang diantaranya adalah mengenai dajjal dan kewafatan Nabi Isa (as). Hati saya tertarik dan tergerak untuk mendapatkan informasi lebih lanjut mengenai Jemaat. Kemudian dia memberikan saya undangan untuk datang ke Jalsah yang saya terima dengan senang hati.

Di dalam Jalsah, hal pertama yang menjadi dalil kebenaran Jemaat bagi saya adalah begitu banyaknya jumlah yang hadir dan pengaturannya yang sangat baik. Pada saat Jalsah berlangsung seorang teman memberitahukan kepada saya bahwa ini adalah Khalifatul Muslimin. Kemudian saya mengajukan berbagai pertanyaan kepada para Ahmadi yang mereka jawab dengan penuh kasih sayang. Hati saya merasa puas perihal kebenaran Ahmadiyah. Saya berpikir bahwa apakah saya mampu hidup sampai tahun depan ataukah tidak, oleh karena itu saya harus baiat. Maka saya baiat. Demikian juga dua mimpi saya pun menjadi penyebab saya baiat.Dengan karunia Allah Ta’ala seorang anak laki-laki saya telah baiat dan saya menginginkan anak-anak saya yang lainnya pun menjadi Ahmadi.

Sekarang saya biasa menyimak Hiwaarul Mubaasyar(percakapan langsung, sebuah acara berbahasa Arab) dan Khotbah Jumat Khalifatul Masih dengan seksama. Dalam pandangan saya 10 syarat baiat dari Hadhrat Masih Mau’ud (as) bukan hanya sekedar beberapa syarat-syarat saja, melainkan pedoman dalam beramal yang berasal dari Allah Ta’ala. Sebelum baiat saya terus berdoa, ‘Ya Allah! Berikanlah saya taufik untuk melihat Imam Mahdi.’

Saya menyesali kehidupan di masa lalu yang saya lalui tanpa Jemaat. Oleh karena itu, saya dari hati yang terdalam menghormati setiap Ahmadi, karena mereka ini sedang terus mengkhidmati agama Muhammad Mushtofa (saw). Sekarang saya tidak terlalu memikirkan anak-istri dan pekerjaan saya, bahkan yang senantiasa saya pikirkan adalah, saya harus punya sekian banyak uang supaya saya mampu belanjakan untuk kemajuan Jemaat dan saya mampu mengkhidmati Jemaat, serta Allah Ta’ala mengabulkan keinginan saya ini.”

Kemudian, seseorang bernamaBpk. Fuad mengatakan, “Sebelum mengenal Jemaat, saya merenungkan keagungan Allah Ta’ala dan melihat keadaan umat Islam yang dari hari ke hari semakin memburuk, dan kapan keadaan mereka ini akan membaik. Kemudian ketika saya datang ke Jerman, dengan melihat teman-teman Arab lainnya di Eropa saya berpikir apakah dengan orang-orang ini Islam akan tersebar di Eropa, sebagaimana terdapat di dalam hadits bahwa di akhir zaman Islam akan tersebar di Eropa.

Pada masa itu saya bertemu dengan seorang kawan Ahmadi, Maher Al-Mani, dan ia mulai memberitahukan perihal Jemaat. Pada awalnya saya menentangnya. Tetapi, setelah membaca buku-buku Jemaat, saya berkeinginan untuk pergi ke Jalsah. Saya melihat Jalsah dan berpikir, orang sebanyak ini bagaimana mereka telah bersatu di satu tangan dan saling menyayangi satu sama lain.

Di dalam tahajud saya banyak berdoa, ‘Ya Allah! Jika Jemaat ini benar maka berikanlah saya taufik untuk baiat di Jalsah ini (yakni Jalsah di tahun 2018).’ Walhasil, di Jalsah tersebut hati saya mendapatkan ketentraman. Saya lalu baiat, tetapi istri saya menolak untuk baiat. Saya menasihatinya untuk membaca buku-buku Jemaat dan beristikharah mohon petunjuk kepada Allah Ta’ala. Selama 3 bulan istri saya beristikharah dan ia melihat di dalam mimpi, orang-orang berkumpul. Di tengah-tengah mereka ada seekor merpati putih. Istri saya bertanya, ‘Merpati apa ini?’

Lalu salah seorang dari antara mereka menjawab, ‘Merpati ini datang ke wilayah yang suci untuk menyebarkan Islam.’ Mimpi ini telah membukakan hati istri saya dan ia ikut serta dalam Jalsah 2019 ini dan baiat. Saya sangat senang Allah Ta’ala telah memberikan taufik kepada seluruh keluarga saya untuk baiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud (as) dan sekarang saya akan bertabligh kepada semua sanak kerabat saya.”

Seorang tamu yang berasal dari Austria, Ny. Samir mengatakan, “Saya baiat pada tanggal 7 Juli pada kesempatan Jalsah Jerman. Saya memohon didoakan oleh Huzur semoga baiat saya diberikan keberkatan, dan jangan sampai ada suatu kesalahan saya yang merusak janji baiat ini. Semoga saya mampu menciptakan perubahan-perubahan suci yang Hadhrat Masih Mau’ud (as) jelaskan di dalam buku beliau,Filsafat Ajaran Islam.

Saya bersama keluarga saya telah menjadi Ahmadi sejak 2011 tetapi saya tidak mengisi formulirbaiat. Saya menganggap diri saya sudah Ahmadi. Sekarang umur saya menginjak 18 tahun. Sejak 2011 saya menyimpan formulir baiat saya supaya saya mampu memberikannya sendiri dan mampu baiat langsung di tangan Huzur. Di tahun ini keinginan saya terpenuhi.”

Sekarang ia bertabligh kepada para tamu bahkan hingga sebelum mengisi formulir baiat. Inilah contoh bagaimana Allah Ta’ala juga membukakan hati para pemuda dan pemudi kearah Ahmadiyyah.

Seorang wanita muda berkebangsaan Kurdi menjelaskan kesan-kesannya, “Ibu saya sebelumnya telah menerima Jemaat namun saya belum siap pada saat itu untuk baiat bersamanya. Sekarang saya sudah sejak beberapa bulan yang lalu merasa berlapang dada untukbaiat karena saya melihat kecintaan para Ahmadiantara satu terhadap lainnya dan hari ini dengan mendengarkan pidato Huzur, semua kesedihan saya menjadi hilang. Pada tahun yang lalu pun saya datang di Jalsah namun belum tercipta keadaan yang seperti sekarang ini. Ibu saya sangat bahagia, karena beliau sangat ingin sekali saya baiat.”

Seorang perwakilan dari Georgia yang mana seorang pengajar di sebuah Universitas di sanamenyaksikan prosesi baiat meski beliaubukan Ahmadi. Beliau mengatakan bahwa beliau sangat terkesan dengan prosesi baiat yang beliau lihat dan ini adalah merupakan mukjizat. Berkali-kali beliau mengatakan, “Ini adalah mukjizat. Ini adalah mukjizat.” Beliau mengatakan, “Kecintaan satu sama lain di dalam Jemaat ini sangat dalam. Saya menyaksikan wajah Anda semua selalu tersenyum.”

Semoga Allah Ta’ala senantiasa menganugerahkan keikhlasan, kesetiaan, keyakinan dan keimanan kepada orang-orang yang baiat tersebut dan menjadikan kita semua sebagai peraih keberkatan-keberkatan Jalsah dan menjadi pewaris doa-doa Hazrat Masih Mau’ud (as)

Dengan perantaraan media, pada tahun ini 13 media di Jerman meliput Jalsah, baik channel TV maupun website-website. Selain itu, media-media online Italia, China dan Slovakia juga memberitakan. Menurut perkiraan mereka, pesan ini sampai kepada 22.600.000 orang.

Melalui Review of Religion juga terus dilangsungkan program-program hingga satu minggu yang dengan perantaraannya pesan ini sampai kepada satu juta orang.

Kemudian melalui sosial media juga. Melalui MTA Afrika di Afrika pun juga ditayangkan program-program Jalsah. TV Nasional Ghana juga menayangkan mengenai Jalsah Salanah Jerman, demikian juga TV Nasional Gambia, Rwanda, Sierra Leone dan Uganda.

Dengan karunia Allah Ta’ala melalui Jalsah ini telah disampaikan pengenalan mengenai Jemaat ini dengan begitu luasnya. Semoga Allah Ta’ala memberikan keberkatan dari berbagai sisi. Aamiin.

 

 

 

Khotbah II

 

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ

وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ

وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ!

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ

يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ

أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

 

Penerjemah     : Mln. Mahmud Ahmad Wardi, Syahid (London, UK) dan Mln. Hashim (Indonesia);

Editor: Dildaar Ahmad Dartono (Indonesia).

Rujukan perbandingan pemeriksaan naskah: www.IslamAhmadiyya.net (bahasa Arab)