Bilal Bin Rabah, sahabat rasulullah

Keteladanan Para Sahabat Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam (Manusia-Manusia Istimewa, seri 85)

Pembahasan seorang Ahlu Badr (Para Sahabat Nabi Muhammad (saw) peserta perang Badr atau ditetapkan oleh Nabi (saw) mengikuti perang Badr) yaitu Hadhrat Bilal bin Rabah radhiyAllahu ta’ala ‘anhu.

Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 11 September 2020 (Tabuk 1399 Hijriyah Syamsiyah/23 Muharram 1442 Hijriyah Qamariyah) di Masjid Mubarak, Tilford, UK (United Kingdom of Britain/Britania Raya)

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ. (آمين)

Sahabat yang akan saya sebutkan hari ini adalah Hadhrat Bilal bin Rabah (بِلاَلُ بنُ رَبَاحٍ) radhiyallahu ta’ala ‘anhu. Nama ayah Bilal adalah Rabah dan Hamamah (حَمَامَةُ) nama ibunya. Hadhrat Bilal adalah budak Umayyah bin Khalf. Kuniyah (nama panggilan) Bilal adalah Abu Abdillah (أَبُو عَبْدِ اللهِ), sedangkan dalam beberapa riwayat lain disebutkan bahwa kuniyah beliau ialah Abu Abdir Rahman (أَبُو عَبْدِ الكَرِيْمِ), Abu Abdil Karim (أَبُو عَبْدِ الْكَرِيمِ) dan Abu Amr (أَبُو عَمْرٍو).[1]

Ibu Bilal berasal dari Abyssinia tetapi ayahnya berasal dari Jazirah Arab. Para peneliti telah menulis bahwa beliau berasal dari ras Abyssinian Semitic (Semitik Abessinia), yang berarti bahwa pada zaman kuno, orang-orang bangsa Semit atau beberapa suku Arab bermigrasi (berpindah) dan menetap di Afrika, yang membuat ras (corak keturunan) mereka terlihat seperti bangsa Afrika lainnya tetapi tanda-tanda dan kebiasaan khusus di sana (Afrika) tidak diterapkan di kalangan mereka. Kemudian, beberapa dari mereka dikembalikan ke Arab sebagai budak. Karena warna hitam mereka, orang Arab menganggap mereka sebagai orang Abyssinia (Ethiopia, Afrika).

Menurut sebuah riwayat, Bilal bin Rabah lahir di Makkah dan berasal dari kalangan Muwalladun (الْمُوَلَّدُونَ), yaitu kalangan mereka yang biasa dianggap sebagai orang-orang yang bukan Arab murni.[2] Menurut riwayat lain, ia lahir di Sarrah (السَّرَاةِ). Sarrah terletak dekat dengan Yaman dan Abyssinia, tempat ras (orang-orang keturunan) campuran melimpah. Warna Hadhrat Bilal seperti gelap gandum (hitam kecoklatan). Beliau (ra) memiliki tubuh yang ramping, rambut tebal dan sedikit daging di pipinya.

Hadhrat Bilal bin Rabah (ra) beberapa kali menikah. Beberapa istrinya berasal dari keluarga yang paling mulia dan terhormat di Arab. Salah satu istrinya bernama Halah binti Auf yang merupakan saudara perempuan Hadhrat Abdul Rahman bin Auf. Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam (kesejahteraan dan berkah dari Allah besertanya) juga mengatur pernikahan Bilal dengan seorang wanita dari keluarga Banu Bukair yang bernama Hindun al-Khaulaniyah. Hadhrat Bilal (ra) juga menjalin pernikahan dengan wanita dari keluarga Hadhrat Abu Darda (ra). Namun demikian, beliau tidak memiliki anak seorang pun dari mereka.

Hadhrat Bilal Bilal bin Rabah memiliki seorang saudara laki-laki bernama Khalid (خَالِد) dan seorang saudara perempuan bernama Ghafirah (غفيرة). Nabi (saw) bersabda: بِلَال سَابق الْحَبَشَة “Bilal adalah orang pertama dari kalangan Habsyah (Abyssinia) yang percaya menerima Islam.”[3]

Hadhrat Anas ra meriwayatkan bahwa Rasulullah (saw) bersabda, السُّبَّاقُ أَرْبَعَةٌ: أَنَا سَابِقُ العَرَبِ، وَسَلْمَانُ سَابِقُ الفُرْسِ، وَبِلاَلٌ سَابِقُ الحَبَشَةِ، وَصُهَيْبٌ سَابِقُ الرُّوْمِ “Ada empat orang yang paling dahulu menerima Islam. Saya paling dahulu menerima Islam dari bangsa Arab. Shuhaib paling dahulu menerima Islam dari antara orang Romawi. Salman paling dahulu menerima Islam dari antara orang-orang Parsi. Bilal paling dahulu menerima Islam dari antara orang Habsyah.”[4]

Diriwayatkan berdasarkan otoritas ‘Urwah ibn Zubair (عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ قَالَ:), كَانَ بِلالُ بْنُ رَبَاحٍ مِنَ الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ. وَكَانَ يُعَذَّبُ حِينَ أسلم لِيَرْجِعَ عَنْ دِينِهِ. فَمَا أَعْطَاهُمْ قَطُّ كَلِمَةً مِمَّا يُرِيدُونَ. وَكَانَ الَّذِي يُعَذِّبُهُ أُمَيَّةُ بْنُ خَلَفٍ “Bilal ibn Rabah adalah termasuk golongan Mustadh’afuun (dianggap lemah) dan salah satu dari mereka yang ketika masuk Islam dianiaya supaya berpaling dari agamanya. Namun, beliau tidak pernah mengucapkan sepatah kata pun yang mereka inginkan di depan mereka yang menyiksanya yaitu menyangkal Allah. Umayya bin Khalf biasa menyiksa beliau.”

Ketika Bilal bin Rabah mengimani Nabi (saw), beliau dikenakan berbagai penyiksaan. Ketika orang-orang bertindak keras pada Bilal untuk menyiksanya, Hadhrat Bilal akan selalu mengatakan, أَحَدٌ أَحَدٌ “Ahad! Ahad! (Tuhan Yang Satu)!”

Mereka yang menyiksa akan berkata, قُلْ كَمَا نَقُولُ “Katakan seperti yang kami katakan.”[5]

Menurut riwayat lain, كان شحيحا على دينه وكان يعذب في الله وكان يغرب على دينه فإذا أراد المشركون أن يقاربهم قال: الله الله “Ketika Bilal dianiaya dan orang-orang musyrik bermaksud mengarahkan beliau cenderung kepada mereka, Bilal akan menyebut, ‘Allah! Allah!’”[6]

Menurut sebuah riwayat, ketika Bilal bin Rabah mengimani Islam, Bilal ditangkap oleh tuannya dan dibaringkan di tanah, dan mereka melemparkan batu dan kulit sapi ke arahnya dan berkata, رَبُّكَ اللاتُ وَالْعُزَّى “Tuhanmu adalah Lat dan Uzza!” Akan tetapi, beliau biasa mengucapkan, “Ahad (Yang Esa)! Ahad (Yang Esa)!”

Hadhrat Abu Bakr mendatangi pemilik Hadhrat Bilal dan berkata, علا م تُعَذِّبُونَ هَذَا الإِنْسَانَ؟ “Berapa lama kamu akan terus menyiksa orang ini?” فَاشْتَرَاهُ بِسَبْعِ أَوَاقٍ فَأَعْتَقَهُ. Hadhrat Abu Bakr membeli Bilal dengan harga tujuh Uqiyah dan membebaskannya.[7] Satu Uqiyah adalah empat puluh dirham, berarti tujuh Uqiyah yaitu dua ratus delapan puluh dirham.

Kemudian Abu Bakr memberitahukan kejadian ini kepada Nabi (saw). Beliau bersabda, الشّركَةَ يَا أَبَا بَكْرٍ ‘Wahai Abu Bakr, ikut sertakanlah saya di dalam pembebasannya.’ Hadhrat Abu Bakr bertanya, قَدْ أَعْتَقْتُهُ “Ya Rasulullah, saya telah membebaskannya.”[8]

Hadhrat Abu Bakr telah membeli Hadhrat Bilal dan membebaskannya di jalan Allah dan mengenai pembeliannya, seperti yang disebutkan sebelumnya ialah dua ratus delapan puluh dirham. Menurut beberapa Hadist, اشْتَرَى أَبُو بَكْرٍ بِلالا بِخَمْسِ أَوَاقٍ “Abu Bakr membelinya dengan harga lima Uqiyah emas, yaitu dua ratus dirham.”[9] Beberapa riwayat menyebutkan tujuh Uqiyah emas, yaitu dua ratus delapan puluh dirham. Menurut beberapa riwayat lain ialah ialah sembilan Uqiyah (تسع أواقي), yaitu tiga ratus enam puluh dirham.[10]

Menurut riwayat, ketika Abu Bakr membeli Bilal, Bilal saat itu tengah ditelentangkan di bebatuan. Hadhrat Abu Bakr membelinya seharga lima Uqiyah emas. Orang-orang berkata kepada Abu Bakr, لَوْ أَبَيْتَ إِلاَّ أُوْقِيَّةً لَبِعْنَاكَهُ “Jika Anda setuju untuk membayar hanya satu Uqiyah, yaitu empat puluh dirham, kami akan menjualnya dengan harga satu Uqiyah.” Atas hal ini, Hadhrat Abu Bakr (ra) berkata, لَوْ أَبَيْتُم إِلاَّ مَائَةَ أُوْقِيَّةٍ لأَخَذْتُهُ “Sekalipun kalian bersedia menjualnya seharga 100 (seratus) Uqiyah atau 40.000 dirham, saya akan membelinya seharga seratus Uqiyah.”[11]

Diriwayatkan dari Hadhrat Aisyah bahwa Hadhrat Abu Bakr membebaskan tujuh budak yang disiksa. Di antara mereka adalah Hadhrat Bilal bin Rabah dan Hadhrat Amir bin Fuhairah. (عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ عُمَرَ كَانَ يَقُولُ:) Diriwayatkan dari Hadhrat Jabir bin Abdullah bahwa Hadhrat Umar biasa mengatakan, أَبُو بَكْرٍ سَيِّدُنَا وَأَعْتَقَ سَيِّدَنَا. يَعْنِي بِلالا ‘Abu Bakrin sayyiduna wa a’taqa sayyidana’, ya’ni Bilaalan.’ – “Abu Bakr adalah pemimpin kami dan dia membebaskan pemimpin kami yaitu Bilal.’”[12]

Hadhrat Khalifatul Masih II (ra), mengacu pada penderitaan yang ditimpakan pada Bilal dan pembebasannya oleh Hadhrat Abu Bakr, bersabda, “Budak-budak belian yang menerima Islam datang dari ber­bagai-bagai masyarakat. Bilal orang negro. Suhaib orang Rumawi. Mereka pengikut berbagai agama. Jubair dan Suhaib tadinya orang Kristen. Bilal dan Ammar tadinya penyembah berhala.

Bilal bin Rabah dibaringkan di atas pasir yang panas membara oleh majikan pemiliknya, ditimbuni batu dan para pemuda disuruh menari-nari di atas dadanya. Majikan Bilal yang keturunan Habsyi itu ialah Umayyah bin Khalf, seorang pemuka Makkah. Umayah menganiayanya demikian rupa di musim panas dan pada terik siang hari membawa Bilal keluar Makkah di padang pasir kemudian memaksanya menanggalkan pakaiannya, meletakkan batu-batu besar di dadanya yang dibaringkan seraya mengatakan supaya Bilal meninggalkan kepercayaan kepada Allah dan Rasulullah untuk memuja berhala-berhala Mekkah yang bernama Lat dan Uzza. Bilal hanya me­ngatakan, ’Ahad, Ahad!’ (Tuhan itu Tunggal). Meluap-luap di dalam kemarahan karena mendengar ini berkali-kali dari Hadhrat Bilal, Umayyah menyerahkan Bilal kepada para pemuda berandalan, menyuruh mereka mengikat tali pada lehernya dan menghela dia melalui kota di atas batu-batu tajam. Badan Bilal berlumur darah tetapi terus jua menggumam­kan kata, ’Ahad, Ahad!’.

Beberapa waktu kemudian, ketika kaum Muslimin te­lah berhijrah ke Medinah dan dapat hidup dengan tenang dan da­pat beribadah dengan agak aman dan damai, Rasulullah s.a.w. me­nunjuk Bilal sebagai muadzdzin (orang yang menyerukan panggilan untuk Shalat). Sebagai orang dari Afrika, Bilal yang seharusnya dalam adzan meng­ucapkan, اشھد ان لا الہ الا اللہ (asyhadu al laa ilaaha illallah – aku menyaksikan tiada yang patut disembah selain Allah) malahan melafalkan, اسھد ان لا الہ الا اللہ (ashadu al laa ilaaha illallah). Beberapa kaum di Madinah yang tidak mengenali Bilal, tertawa mendengar pelafalan yang tidak sempurna dari Bilal, namun Rasulullah (saw) menyesalkan mereka dan menerangkan, ‘Anda sekalian (orang-orang Arab Madinah) menertawakan adzan Bilal padahal Tuhan mendengar adzan Bilal sembari tersenyum. Anda hanya melihat dia tidak dapat mengucapkan lafal ‘syin’ sehingga dia melafalkannya ‘sin’, tetapi apa yang ada (apa artinya) pelafalan huruf ‘syin’ dan ‘sin’ tatkala Tuhan Maha Mengetahui bahwa ketika dia dibaringkan di pasir panas dengan punggungnya lalu orang-orang yang zalim itu biasa menginjak-injak dadanya dengan sepatu mereka lalu mereka biasa bertanya, “Apakah pelajaran ini telah kau pahami atau belum?”

Pelafalan (pengucapan) yang cacat (rusak) dari beliau (Hadhrat Bilal) yang seperti itu tidak menghentikan beliau untuk tetap mengumumkan keesaan Tuhan, ’Ahad, Ahad!’ (Tuhan itu Tunggal). Kesetiaan Bilal, keteguhan iman Bilal dan kekuatan hati Bilal telah memberikan pembuktiannya. Maka dari itu, pengucapan Bilal yang ashadu (اسھد) lebih-lebih berharga daripada pengucapan asyhadu (اشھد) banyak orang lainnya.’

Ketika Hadhrat Abu Bakr (ra) ketika melihat kekejaman penyiksaan terhadap Bilal oleh majikannya, maka beliau membayar uang tebusan Bilal kepada majikannya untuk membebaskannya. Begitu pula banyak lagi budak lain yang mana Hadhrat Abu Bakr (ra) mendapatkan taufik (kesemptan) mengusahakan pembebasan mereka dengan harta beliau pribadi. Hadhrat Bilal termasuk as-saabiqunal awwwaluun (pemeluk Islam zaman awal). Beliau memberitahukan keislamannya kepada orang-orang tatkala hanya tujuh orang saja yang mendapat taufik mengumumkan keislamannya.” [13]

Diriwayatkan oleh Hadhrat Abdullah Bin Mas’ud (ra), كَانَ أَوَّلَ مَنْ أَظْهَرَ إِسْلاَمَهُ سَبْعَةٌ رَسُولُ اللَّهِ ـ صلى الله عليه وسلم ـ وَأَبُو بَكْرٍ وَعَمَّارٌ وَأُمُّهُ سُمَيَّةُ وَصُهَيْبٌ وَبِلاَلٌ وَالْمِقْدَادُ “ “Orang-orang yang paling pertama menampakkan telah masuk Islam ada tujuh orang: Hadhrat Rasulullah (saw), Hadhrat Abu Bakr, Hadhrat Ammar, ibu Ammar yang bernama Hadhrat Sumayyah, Hadhrat Shuhaib, Hadhrat Bilal bin Rabah dan Hadhrat Miqdad. فَأَمَّا رَسُولُ اللَّهِ ـ صلى الله عليه وسلم ـ فَمَنَعَهُ اللَّهُ بِعَمِّهِ أَبِي طَالِبٍ وَأَمَّا أَبُو بَكْرٍ فَمَنَعَهُ اللَّهُ بِقَوْمِهِ Allah Ta’ala melindungi Hadhrat Rasulullah (saw) dengan perantaraan paman beliau, Abu Thalib, sedangkan Abu Bakr dengan perantaraan kaum beliau.”

Seperti yang telah saya nyatakan dalam khotbah-khotbah sebelumnya, Nabi (saw) juga tidak aman dari penganiayaan orang-orang yang memusuhinya. Begitu pula kaum (asal keluarga besar) Hadhrat Abu Bakr (ra) pun tidak mampu menyelamatkan Hadhrat Abu Bakr (ra) dari penindasan. Keduanya dipaksa menanggung kekejaman yang ekstrim. Pada awalnya [saat di Makkah] ada sedikit kelonggaran tetapi kemudian ada kesulitan besar di periode selanjutnya.

Walau bagaimanapun ini adalah pernyataan narator (periwayat Hadits tadi) yang mengatakan bahwa sedikit banyak ada seseorang yang memberikan pembelaan terhadap kedua orang tersebut. Sementara itu, وَأَمَّا سَائِرُهُمْ فَأَخَذَهُمُ الْمُشْرِكُونَ وَأَلْبَسُوهُمْ أَدْرَاعَ الْحَدِيدِ وَصَهَرُوهُمْ فِي الشَّمْسِ فَمَا مِنْهُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلاَّ وَقَدْ وَاتَاهُمْ عَلَى مَا أَرَادُوا إِلاَّ بِلاَلاً فَإِنَّهُ قَدْ هَانَتْ عَلَيْهِ نَفْسُهُ فِي اللَّهِ وَهَانَ عَلَى قَوْمِهِ فَأَخَذُوهُ فَأَعْطَوْهُ الْوِلْدَانَ فَجَعَلُوا يَطُوفُونَ بِهِ فِي شِعَابِ مَكَّةَ وَهُوَ يَقُولُ أَحَدٌ أَحَدٌ ‏.‏  “Selain beliau berdua (Nabi (saw) dan Abu Bakr), orang-orang Muslim lainnya yang lemah atau diperbudak ditangkap oleh kaum musyrik lalu dipakaikan pakaian besi dan dijemur di bawah terik matahari. Diantara mereka tidak ada yang tidak mengiyakan apa yang mereka (kuffar) inginkan kecuali Bilal karena Bilal memang sudah pasrahkan kehidupannya yang dianggapnya tidak berharga di jalan Allah. Beliau juga sudah tidak dianggap di kaumnya. Mereka (kaum Quraisy) menangkap Bilal dan ia diserahkan pada para pemuda Quraisy. Mereka mengarak (menghela) Bilal (ra) di gang-gang Makkah, namun beliau terus mengatakan, ‘Ahad’ ‘Ahad’ –“Yang Esa, Yang Esa.”[14] Ini riwayat Ibn Majah.

Pada satu kesempatan Hadhrat Khalifatul Masih II (ats-Tsaani) radhiyallahu ta’ala ‘anhu bersabda mengenai status Hadhat Bilal (ra) sebagai yang awal dalam menerima Islam, “Hadhrat Khabbab (ra) termasuk yang awal dalam menerima Islam dan terdapat perbedaan pendapat mengenai apakah beliau (ra) atau Hadhrat Bilal (ra) yang lebih dulu masuk Islam. Nabi (saw) suatu kalipernah bersabda, حُرٌّ وَعَبْدٌ ‘hurrun wa ‘abdun’ – ‘Seorang merdeka dan seorang budak yang  pertama mengimani saya.’[15] Sebagian orang percaya bahwa sabda beliau (saw) ini menunjuk pada Hadhrat Abu Bakr (ra) dan Hadhrat Bilal (ra) sedangkan sebagian kalangan beranggapan sabda ini merujuk pada Hadhrat Abu Bakr (ra) dan Hadhrat Khabbab (ra).

Berkenaan dengan penderitaan yang dialami Hadhrat Bilal, Hadhrat Mirza Bashir Ahmad (ra) menulis di dalam buku Sirat Khatamun Nabiyyin: “Bilal Bin Ribah adalah seorang hamba sahaya milik Umayyah Bin Khalf. Pada siang hari, ketika panas tengah terik, Umayyah biasa membawa Hadhrat Bilal keluar dan menjemurnya dilapangan berbatu panas dengan menelantangkan beliau dengan badan terbuka. Setelah meletakkan batu di atas dada beliau, Umayyah berkata, ‘Sembahlah berhala Lata dan Uzza, tinggalkanlah Muhammad Bin Abdullah, jika tidak aku akan membunuhmu dengan menyiksa terus seperti ini.’

Bilal tidak paham banyak Bahasa Arab. Beliau hanya berucap ’Ahad, Ahad!’ yakni Allah Maha Tunggal, Allah Maha Tunggal.

Setelah mendengar jawaban seperti itu, Umayyah semakin naik pitam. Lalu mengikatkan tali di leher beliau dan menyerahkannya kepada para pemuda nakal untuk diseret di gang-gang Makkah yang berbatu sehingga membuat badan beliau berlumuran darah. Namun selain ucapan ’Ahad! Ahad!’, tidak ada kata lain yang beliau ucapkan. Setelah melihat penganiayaan ini, Hadhrat Abu Bakr membeli beliau dengan harga yang tinggi lalu membebaskannya.”

Setelah Hadhrat Bilal bin Rabah hijrah ke Madinah, beliau tinggal di rumah Hadhrat Sa’d Bin Khaitsmah. Rasulullah (saw) menjalinkan persaudaraan antara Hadhrat Bilal dengan Hadhrat Ubaidah Bin Harits. Sementara dalam riwayat lain dikatakan dengan Hadhrat Abu Ruwaihah Khaitsmi.

Ketika Rasulullah tiba di Madinah, para sahabat mulai berjatuhan sakit. Diantaranya adalah Hadhrat Abu Bakr, Hadhrat Bilal, Hadhrat Amir Bin Fuhairah. Hadhrat Aisyah ra meriwayatkan, ketika Rasulullah tiba di Madinah, Hadhrat Abu Bakr dan Hadhrat Bilal terjangkit demam. Ketika demam, Hadhrat Abu Bakr melantunkan syair yang artinya,

كُلُّ امْرِئٍ مُصَبَّحٌ فِي أَهْلِهِ وَالْمَوْتُ أَدْنَى مِنْ شِرَاكِ نَعْلِهِ

‘Kullu mri-in mushabbahun fii ahlihi wal mautu adnaa min syiraaki na’lihi.’

Ketika setiap orang bangun pagi, ia mendapat ucapan selamat pagi di kalangan keluarganya padahal kematian lebih dekat daripada tali sandalnya.”

Ketika demam Hadhrat Bilal turun, beliau melantunkan syair dengan suara tinggi sambil menangis, yang artinya,

أَلاَ لَيْتَ شِعْرِي هَلْ أَبِيْتَنَّ لَيْلَةً … بِوَادٍ وَحَوْلِي إِذْخِرٌ وَجَلِيْلُ
وَهَلْ أَرِدَنْ يَوْماً مِيَاهَ مَجَنَّةٍ

“Seandainya diri ini masih sempat melewati suatu malam di lembah Mekah

Dan di sekelilingku terhampar rumput Makkah idzkhir dan Jalil.

Akankah setelah sampai Majanah suatu hari nanti akan kuminum airnya?

Majnah adalah suatu tempat terletak beberapa mil dari Makkah dekat Muruz Zahraan. Pada zaman Jahiliyah terdapat satu tempat keramaian terkenal di Arab setelah Ukaz di Muruz Zahraan. Biasanya penduduk Arab setelah Ukaz pindah ke Majnah dan tinggal di sana selama 20 hari.

Dalam syairnya beliau mengatakan, وَهَلْ يَبْدُوَنَّ لِي شَامَةٌ وَطَفِيْلُ “Akankah kuminum air di sana. Akankah di depanku bukit Syamah dan Thafil?” [16]

Thafil juga merupakan bukit di Makkah yang jaraknya 10 mil dari Makkah. Di dekatnya terdapat satu bukit lagi yang disebut dengan nama Syamah.

Hadhrat Bilal bin Rabah mengatakan, اللَّهُمَّ الْعَنْ شَيْبَةَ بْنَ رَبِيعَةَ، وَعُتْبَةَ بْنَ رَبِيعَةَ، وَأُمَيَّةَ بْنَ خَلَفٍ، كَمَا أَخْرَجُونَا مِنْ أَرْضِنَا إِلَى أَرْضِ الْوَبَاءِ. “Ya Allah! Semoga laknat turun kepada Utbah Bin Rabiah, Syaibah Bin Rabiah dan Umayyah Bin Khalf karena mereka telah mengusir kami dari tanah air kami ke daerah yang dipenuhi wabah.”

Mendengar kata-kata Abu Bakr dan Bilal bin Rabah, setelah itu Rasulullah (saw) berdoa, اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِينَةَ كَحُبِّنَا مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ، اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي صَاعِنَا، وَفِي مُدِّنَا، وَصَحِّحْهَا لَنَا وَانْقُلْ حُمَّاهَا إِلَى الْجُحْفَةِ “Allahumma habbib ilainal madinata kama habbabta makkata aw asyadda, wa shahih-ha wa barik lana fi sha‘iha wa muddiha wa hawwil hummaha ilal juhfah. Artinya, “Ya Allah, berikanlah kecintaan kepada kami terhadap Kota Madinah sebagaimana Engkau memberikan kepada kami kecintaan terhadap Mekah, atau bahkan lebih dari Mekah. Jadikanlah Madinah bagi kami sebagai kota yang sehat, dan berikanlah keberkahan pada takaran sha’ dan takaran mudd kami, serta pindahkan penyakitnya ke Juhfah.”[17] Juhfah adalah kota lainnya ke arah Mekah.

Hadhrat Aisyah mengatakan, وَقَدِمْنَا الْمَدِينَةَ، وَهْىَ أَوْبَأُ أَرْضِ اللَّهِ‏.‏ قَالَتْ فَكَانَ بُطْحَانُ يَجْرِي نَجْلاً‏.‏ تَعْنِي مَاءً آجِنًا‏. “Saat kami tiba di Madinah, Madinah merupakan tempat yang paling banyak wabahnya diantara tanah Allah Ta’ala.” Beliau berkata, “Di lembah Buthhaan sedikit air yang mengalir. Airnya pun tidak enak dan berbau.”[18] Buthhan merupakan sebuah nama lembah Madinah. (Bukhari)

Ketika para Ahmadi hijrah [ke Pakistan] dari Qadian (India), saat itu Hadhrat Muslih Mau’ud (ra) menyampaikan nasihat khusus kepada para Ahmadi dengan merujuk pada kisah Hadhrat Bilal bin Rabah saat hijrah Madinah. Beliau (ra) bersabda, “Janganlah kita bersedih dengan hijrah ini.

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda kepada Jemaat pada saat itu dengan mengaitkan pada peristiwa Hijrah ke Madinah dan menyebutkan perintah Nabi Muhammad (saw): Saya tidak mengenal orang lain. Saya tidak dapat mengatakan sesuatu kepada para non Ahmadi yang ikut hijrah juga. Namun saya katakan kepada para Ahmadi, hilangkanlah pemikiran bahwa kalian telah kehilangan segalanya dalam hijrah ini. Hadhrat Rasulullah (saw) saat itu juga menyesalkan para Muhajirin yang telah meratapi keadaannya karena telah meninggalkan tanah air dan harta kekayaan pada saat hijrah Madinah. Saat itu Madinah bernama Yatsrib. Wabah demam Malaria tengah menjangkit di sana. Para Muhajirin pun terkena dampaknya. Mereka pun terkena demam.

Di sisi lain, mereka juga bersedih karena meninggalkan tanah air dan harta kekayaan di Makkah. Diantara mereka ada yang menangis dan menjerit karenanya, ‘Aduh Makkah! Aduh Makkah!’

Pada suatu hari Hadhrat Bilal bin Rabah pun terjangkit demam, beliau membuat syair dan melantunkannya. Rasulullah (saw) melihatnya dan memperlihatkan kekecewaan beliau (saw) lalu bersabda, ‘Apakah kalian ke sini untuk berbuat demikian?’ Dalam kata lain, ‘Kalian telah berhijrah. Tidak ada alasan untuk menangisi hal ini.’”

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda dalam rangka menasihati para Ahmadi yang telah hijrah dari Hindustan ke Pakistan, “Saya katakan kepada kalian: berbahagialah, jangan berpikiran telah kehilangan apa? Yang harus kalian perhatikan adalah, demi siapa kita kehilangan semua ini? Jika itu demi Allah Ta’ala dan untuk kemajuan Islam maka berbahagialah. Dalam kesempatan apapun jangan menampakkan wajah sedih, melainkan harus tampak wajah ceria.”

Kita para Ahmadi memiliki pemikiran seperti ini, Khalifah pada masa itu menasihatkan demikian kepada kita bahwa hijrah kita adalah demi Allah Ta’ala dan untuk mengkhidmati Islam. Namun, pada masa ini mereka yang dulunya menentang berdirinya negara Pakistan, justru mengklaim telah mendirikan pondasi Pakistan dan dengan kedustaan dan tipuannya meluputkan para Ahmadi dari hak mendasar sebagai warga negara, padahal para Ahmadi telah memberikan banyak pengorbanan demi negeri ini. Untuk tujuan kejayaan dan mengkhidmati agamalah kita berhijrah, justru parlemen Pakistan melarang kita untuk menisbahkan diri kepada agama tersebut demi tujuan politik mereka. Bagaimanapun kita tidaklah membutuhkan piagam apapun dari mereka, namun kita tentunya menyesalkan karena mereka yang mengklaim sebagai pembela negara ini telah berbuat zalim kepada para Ahmadi bahkan tidak hanya para Ahmadi, namun Pakistan juga menjadi sasaran kezalimannya sampai saat ini. Mereka menjadi noda bagi negeri ini di mata dunia, menjadi penghalang bagi kemajuannya. Seandainya tidak ada mereka, maka negeri ini sudah sedemikian rupa maju. Mereka memakan negeri ini, menggerogoti seperti rayap.

Namun meskipun demikian, tugas kita sebagai Ahmadi Pakistani, khususnya yang hidup di Pakistan, berusaha sekuat tenaga dengan segenap kemampuan untuk memajukan negeri dan berdoalah semoga Allah Ta’ala membersihkan negeri ini dari orang-orang zalim ini. Saya telah singgung hal tersebut karena berkaitan tadi.

Saya akan kembali kepada topik semula yakni kisah Hadhrat Bilal ra. Dalam kitab ath-Thabaqat al-Kubra tertulis, Hadhrat Bilal ikut serta dalam perang Badar, Uhud, Khandaq dan seluruh peperangan lainnya bersama dengan Rasulullah saw. Pada perang Badar, Hadhrat Bilal telah membunuh Umayyah Bin Khalf, seorang musuh besar Islam yang selalu menyiksa Hadhrat Bilal setelah baiat masuk Islam.

Berkenaan dengan pembunuhan Umayyah telah dijelaskan dalam kitab Bukhari yang mana pernah saya sampaikan sebelumnya pada topik Hadhrat Khubaib Bin Asaf. Selengkapnya akan saya sampaikan juga saat ini karena berkaitan secara langsung dengan Hadhrat Bilal. Hadhrat Abdurrahman Bin Auf meriwayatkan, كَاتَبْتُ أُمَيَّةَ بْنَ خَلَفٍ كِتَابًا بِأَنْ يَحْفَظَنِي فِي صَاغِيَتِي بِمَكَّةَ، وَأَحْفَظَهُ فِي صَاغِيَتِهِ بِالْمَدِينَةِ، فَلَمَّا ذَكَرْتُ الرَّحْمَنَ قَالَ لاَ أَعْرِفُ الرَّحْمَنَ، كَاتِبْنِي بِاسْمِكَ الَّذِي كَانَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ‏.‏ فَكَاتَبْتُهُ عَبْدُ عَمْرٍو “Saya pernah menulis surat kepada Umayyah Bin Khalf supaya menjaga harta saya dan anak-anak saya di Makkah dan sebaliknya saya akan menjaga hartanya yang ada di Madinah.”

Hadhrat Abdurrahman Bin Auf merupakan kawan lama Umayyah. Umayyah juga ikut serta pada perang Badar bersama pasukan Kuffar. Hadhrat Abdurrahman Bin Auf pun mengetahui keikut sertaan Umayyah pada perang Badar. Disebabkan oleh pertemanan lama tersebut, beliau ingin berbuat baik kepada Umayyah. Setelah perang, pada malam hari beliau ingin menyelamatkan Umayyah, beliau meriwayatkan, فَلَمَّا كَانَ فِي يَوْمِ بَدْرٍ خَرَجْتُ إِلَى جَبَلٍ لأُحْرِزَهُ حِينَ نَامَ النَّاسُ فَأَبْصَرَهُ بِلاَلٌ فَخَرَجَ حَتَّى وَقَفَ عَلَى مَجْلِسٍ مِنَ الأَنْصَارِ فَقَالَ أُمَيَّةُ بْنُ خَلَفٍ، لاَ نَجَوْتُ إِنْ نَجَا أُمَيَّةُ‏.‏  Ketika perang Badar dan saat itu orang-orang sudah tidur, saya pergi ke arah bukit untuk melindunginya (Umayyah). Tiba-tiba Bilal melihat Umayyah di sana. Bilal lalu pergi dan berdiri di tengah-tengah orang Anshar dan berkata, ‘Saya melihat Umayyah Bin Khalf, jika dia selamat dari tangan saya maka saya yang tidak akan selamat.’

فَخَرَجَ مَعَهُ فَرِيقٌ مِنَ الأَنْصَارِ فِي آثَارِنَا، فَلَمَّا خَشِيتُ أَنْ يَلْحَقُونَا خَلَّفْتُ لَهُمُ ابْنَهُ، لأَشْغَلَهُمْ فَقَتَلُوهُ ثُمَّ أَبَوْا حَتَّى يَتْبَعُونَا، وَكَانَ رَجُلاً ثَقِيلاً، فَلَمَّا أَدْرَكُونَا قُلْتُ لَهُ ابْرُكْ‏.‏ فَبَرَكَ، فَأَلْقَيْتُ عَلَيْهِ نَفْسِي لأَمْنَعَهُ، فَتَخَلَّلُوهُ بِالسُّيُوفِ مِنْ تَحْتِي، حَتَّى قَتَلُوهُ، وَأَصَابَ أَحَدُهُمْ رِجْلِي بِسَيْفِهِ Bilal bersama dengan beberapa orang Anshar datang untuk mengepung kami (Hadhrat Abdurrahman dan Umayyah Bin Khalf). Kami khawatir mereka akan menemukan kami. Karena itu, saya tinggalkan putra Umayyah di sana supaya mereka sibuk bertarung dengan putranya dan kami bisa terus pergi. Namun pasukan Muslim berhasil membunuh putranya. Mereka juga tidak membiarkan upaya saya berhasil dan dapat mengejar kami. Karena Umayyah berbadan besar sehingga ia tidak dapat bergerak dengan gesit. Akhirnya, ketika pasukan Muslim mendapati kami, saya katakan kepada Umayyah, ‘Duduklah!’ Ia pun duduk. Saya berusaha menyelamatkan Umayyah, pasukan Muslim menusukkan pedang-pedangnya ke bagian bawah saya dan membunuh Umayyah. Disebabkan oleh salah satu pedang mereka juga, kaki saya terluka.”[19]

Dalam riwayat lain dikisahkan sebagai berikut yang akan saya sampaikan. Hadhrat Abdur Rahman Bin Auf meriwayatkan, “Saat itu saya tengah mengajak Umayyah dan anaknya, tiba-tiba Bilal melihat Umayyah bersama saya. Umayyah adalah orang yang selalu menyiksa Hadhrat Bilal ketika di Makkah supaya Bilal meninggalkan Islam.

Karena itulah, ketika pandangan Hadhrat Bilal tertuju pada Umayyah, Hadhrat Bilal berkata, رَأْسُ الكفر اميه ابن خَلَفٍ، لا نَجَوْتُ إِنْ نَجَا ‘Umayyah Bin Khalf pemimpin kaum kuffar ada di sini! Jika dia selamat dariku, maka aku tidak akan selamat.’”

Hadhrat Abdurrahman Bin Auf berkata: “Wahai Bilal! Mereka berdua adalah tawanan saya. Bilal berkali-kali mengatakan yang sama dan saya pun mengatakan hal yang sama bahwa mereka adalah tawanan saya.

Hadhrat Bilal kemudian berkata dengan suara keras, يَا أَنْصَارَ اللَّهِ، رَأْسُ الكفر اميه ابن خَلَفٍ، لا نَجَوْتُ إِنْ نَجَا ‘Wahai Ansharullah! Umayyah Bin Khalf pemimpin kaum kuffar ada di sini! Jika dia selamat dariku, maka aku tidak akan selamat.’ Beliau berkali-kali mengatakan itu.

Hadhrat Abdurrahman berkata, “Setelah mendengar ucapan Bilal tersebut, orang-orang Anshar mengepung kami dari berbagai arah. Hadhrat Bilal mengangkat pedang dan menentang putra Umayyah sampai jatuh. Saat itu Umayyah berteriak kencang yang mana belum pernah saya dengar jeritan seperti itu sebelumnya. Setelah itu orang-orang mulai menebaskan pedangnya kepada keduanya sehingga keduanya mati.”[20]

Dalam satu riwayat dikatakan, Hadhrat Bilal pernah menjadi sekretaris atau bendahara Rasulullah. Ada seorang yang bertanya kepada Hadhrat Ibnu Abbas (ra): شَهِدْتَ الْخُرُوجَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم “Apakah anda pun pernah ikut dalam suatu safar bersama dengan Rasulullah?”

Beliau menjawab, نَعَمْ، وَلَوْلاَ مَكَانِي مِنْهُ مَا شَهِدْتُهُ “Jika saya tidak memiliki hubungan dengan Rasulullah (saw) maka saya tidak ikut serta.” Maksudnya adalah, disebabkan oleh hubungan kekerabatan sehingga beliau mendapatkan kesempatan untuk ikut dalam safar tersebut. Selanjutnya Hadhrat Ibnu Abbas berkata: أَتَى الْعَلَمَ الَّذِي عِنْدَ دَارِ كَثِيرِ بْنِ الصَّلْتِ، ثُمَّ خَطَبَ ثُمَّ أَتَى النِّسَاءَ فَوَعَظَهُنَّ وَذَكَّرَهُنَّ وَأَمَرَهُنَّ أَنْ يَتَصَدَّقْنَ فَجَعَلَتِ الْمَرْأَةُ تُهْوِي بِيَدِهَا إِلَى حَلْقِهَا تُلْقِي فِي ثَوْبِ بِلاَلٍ، ثُمَّ أَتَى هُوَ وَبِلاَلٌ الْبَيْتَ‏ “Rasulullah (saw) datang ke dekat tanda yang dekat dengan rumah Hadhrat Katsir Bin Salt. Rasul berbicara kepada sahabat lalu datang kepada kaum wanita dan memberikan nasihat kepada mereka. Rasulullah (saw) menganjurkan para wanita untuk bersedekah. Para wanita lalu menurunkan tangan-tangan mereka, membuka perhiasan cincinnya dan memasukkannya kedalam kain Hadhrat Bilal.”

Riwayat tersebut disampaikan oleh Hadhrat Ibnu Abbas. Setelah itu Rasulullah dan Hadhrat Bilal masuk ke rumah.[21]

Hadhrat Anas Bin Malik meriwayatkan, Rasulullah Saw bersabda kepada saya, لَقَدْ أُوذِيتُ فِي اللَّهِ وَمَا يُؤْذَى أَحَدٌ وَلَقَدْ أُخِفْتُ فِي اللَّهِ وَمَا يُخَافُ أَحَدٌ وَلَقَدْ أَتَتْ عَلَىَّ ثَالِثَةٌ وَمَا لِيَ وَلِبِلاَلٍ طَعَامٌ يَأْكُلُهُ ذُو كَبِدٍ إِلاَّ مَا وَارَى إِبِطُ بِلاَلٍ “Saya pernah sedemikian rupa dianiaya karena Allah Ta’ala yang mana orang lain tidak mungkin mendapatkan yang serupa. Saya pernah diteror (diancam) sedemikian rupa sehingga tidak mungkin orang lain mendapatkan yang serupa. Malam ketiga datang pada saya tatkala saya dan Bilal tidak memperoleh makanan yang layak dimakan oleh makhluk hidup kecuali sekian banyak makanan seukuran yang dapat disembunyikan dibalik ketiak Bilal.”[22] Maksudnya, makanannya sangat sedikit.

Hadhrat Bilal juga mendapatkan kehormatan untuk menjadi muadzin pertama. Hadhrat Bilal menjadi muadzin selama kehidupan Rasulullah baik dalam safar maupun muqim. Beliau adalah orang pertama dalam Islam yang mengumandangkan adzan.

 (عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زَيْدٍ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ) Muhammad Bin Abdullah Bin Zaid meriwayatkan dari ayahnya, كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ـ صلى الله عليه وسلم ـ قَدْ هَمَّ بِالْبُوقِ وَأَمَرَ بِالنَّاقُوسِ فَنُحِتَ “Rasulullah (saw) pernah berpikir untuk menyeru orang-orang kepada shalat dengan cara meniupkan terompet untuk kemudian beliau (saw) memerintahkan untuk membunyikan lonceng lalu itu telah dibuat.”[23]

Berdasarkan riwayat dari Hadits Bukhari para sahabat telah menyarankan untuk penggunaan lonceng dan terompet.

فَأُرِيَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ زَيْدٍ فِي الْمَنَامِ قَالَ “Selanjutnya, diperlihatkan mimpi kepada Hadhrat Abdullah Bin Zaid. Beliau berkata: رَأَيْتُ رَجُلاً عَلَيْهِ ثَوْبَانِ أَخْضَرَانِ يَحْمِلُ نَاقُوسًا فَقُلْتُ لَهُ ‘Dalam mimpi saya melihat seorang pria yang mengenakan kain berwarna hijau, pria tersebut tengah mengangkat lonceng, saya berkata kepada orang itu: يَا عَبْدَ اللَّهِ تَبِيعُ النَّاقُوسَ “Wahai hamba Allah! Apakah kamu akan menjual lonceng ini?”

Ia menjawab, وَمَا تَصْنَعُ بِهِ ‘Apa yang akan buat dengan ini?

أُنَادِي بِهِ إِلَى الصَّلاَةِ Saya akan menggunakannya untuk menyeru orang untuk shalat.

Ia berkata, أَفَلاَ أَدُلُّكَ عَلَى خَيْرٍ مِنْ ذَلِكَ ‘Maukah aku beritahukan padamu yang lebih baik dari ini?

Saya katakan: وَمَا هُوَ apa itu?

Ia menjawab: ‘Ucapkanlah [kalimat adzan],

اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ

Allaahu Akbar, Allaahu Akbar. Allaahu Akbar, Allaahu Akbar.

 أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ

Asyhadu allaa illaaha illallaah. Asyhadu allaa illaaha illallaah.

 أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ

Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah. Asyhadu anna Muhammadar rasuulullah.

حَىَّ عَلَى الصَّلاَةِ حَىَّ عَلَى الصَّلاَةِ

Hayya ‘alash shalaah. Hayya ‘alash shalaah.

حَىَّ عَلَى الْفَلاَحِ حَىَّ عَلَى الْفَلاَحِ ‏.‏

Hayya ‘alal falaah. Hayya ‘alal falaah.

 اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ

Allaahu Akbar, Allaahu Akbar.

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ

Laa ilaaha illallaah.

Perawi mengatakan: فَخَرَجَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ زَيْدٍ حَتَّى أَتَى رَسُولَ اللَّهِ ـ صلى الله عليه وسلم ـ فَأَخْبَرَهُ بِمَا رَأَى ‏.‏ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ رَأَيْتُ رَجُلاً عَلَيْهِ ثَوْبَانِ أَخْضَرَانِ يَحْمِلُ نَاقُوسًا ‏.‏ فَقَصَّ عَلَيْهِ الْخَبَرَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ـ صلى الله عليه وسلم ـ ‏ Hadhrat Abdullah bin Zaid berangkat menemui Rasulullah dan menjelaskan mimpi yang ia lihat. Beliau berkata: Wahai Rasulullah! Saya melihat seorang pria dalam mimpi yang mengenakan kain berwarna hijau, pria tersebut tengah mengangkat lonceng lalu ia menceritakan selengkapnya.

Rasululah bersabda kepada para sahabat: إِنَّ صَاحِبَكُمْ قَدْ رَأَى رُؤْيَا فَاخْرُجْ مَعَ بِلاَلٍ إِلَى الْمَسْجِدِ فَأَلْقِهَا عَلَيْهِ وَلْيُنَادِ بِلاَلٌ فَإِنَّهُ أَنْدَى صَوْتًا مِنْكَ Kawan kalian telah melihat mimpi lalu Rasulullah memerintahkan Hadhrat Abdullah Bin Zaid untuk megajak Hadhrat Bilal pergi ke masjid dan mengajarkan kalimat tersbut kepada Hadhrat Bilal. Lalu suarakan oleh Bilal kalimat tersebut karena suara Bilal lebih tinggi dari suaramu.

Hadhrat Abdullah bin Zaid berkata: فَخَرَجْتُ مَعَ بِلاَلٍ إِلَى الْمَسْجِدِ فَجَعَلْتُ أُلْقِيهَا عَلَيْهِ وَهُوَ يُنَادِي بِهَا ‏.‏ قَالَ فَسَمِعَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ بِالصَّوْتِ فَخَرَجَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَاللَّهِ لَقَدْ رَأَيْتُ مِثْلَ الَّذِي رَأَى “Saya pergi ke masjid bersama Bilal dan mengajarkan kalimat tersebut kepada Hadhrat Bilal dan Bilal mengumandangkannya dengan suara tinggi. Hadhrat Umar Bin Khatab mendengar suara tersebut lalu keluar dan berkata, ‘Wahai Rasulullah! Demi Tuhan, itu jugalah yang saya lihat dalam mimpi saya, seperti yang beliau lihat.’”[24]

Dalam menjelaskan hal itu Hadhrat Mirza Bashir Ahmad menulis: “Ketika seruan atau azan dan lain-lain untuk shalat belum dibuat, para sahabat biasanya memperkirakan waktu shalat lalu berkumpul untuk shalat dengan sendirinya. Tetapi, cara itu masih belum memuaskan. Hal ini semakin menjadi bahan pemikiran paska rampungnya pembangunan masjid Nabawi: bagaimana supaya umat Islam dapat dikumpulkan tepat waktu?

Seorang sahabat mengutarakan pendapat tentang lonceng seperti orang-orang Nasrani. Seseorang mengemukakan usulan terompet besar seperti cara Yahudi. Seseorang mengatakan lain pula. Namun, Hadhrat Umar (ra) memberi saran supaya seseorang ditetapkan untuk senantiasa mengumumkan pada waktu shalat bahwa sudah waktunya shalat. Rasulullah (saw) menyukai pendapat tersebut (pendapat Hadhrat Umar (ra) sebelum cara azan dimulai). Beliau (saw) memerintahkan Hadhrat Bilal supaya dia senantiasa menunaikannya.[25]

Oleh karena itu, setelah itu, ketika waktu shalat sudah tiba, Bilal bin Rabah senantiasa mengumandangkan dengan suara lantang, ‘ash-shalatu jaami’ lalu orang-orang berkumpul. Bahkan, jika ingin mengumpulkan orang-orang Islam di masjid untuk suatu keperluan selain shalat, dikumandangkan juga cara yang sama. Diumumkan demikian.

Setelah beberapa lama, seorang sahabat, Hadhrat Abdullah bin Zaid Al-Anshari diajari lafaz-lafaz azan dalam mimpi. Setelah itu beliau menjumpai Rasulullah (saw) dan menceritakan mimpi tersebut serta menyampaikan bahwa beliau mendengar seseorang menyerukan ini sebagai azan dalam mimpi. Beliau (saw) bersabda, إِنَّهَا لَرُؤْيَا حَقٍّ إِنْ شَاءَ اللَّهُ تَعَالَى ‘Mimpi ini berasal dari Tuhan’, dan beliau (saw) memerintahkan Abdullah supaya mengajarkan lafaz-lafaz ini kepada Bilal.[26]

Kebetulan sekali ketika Bilal mengumandangkan azan pertama kali dalam lafaz-lafaz tersebut, Hadhrat Umar (ra) mendengarnya dan dengan terburu-buru segera hadir di hadapan beliau (saw) dan mengutarakan, يَا نَبِيَّ اللَّهِ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ لَقَدْ رَأَيْتُ مِثْلَ مَا رَأَى ‘Wahai Rasulullah (saw)! Lafaz-lafaz yang Bilal kumandangkan sekarang, nyatanya lafaz-lafaz ini juga saya lihat dalam mimpi.’[27]

Tertera dalam sebuah riwayat bahwa ketika Rasulullah (saw) mendengar lafaz-lafaz azan, beliau bersabda, سبقك بذل الوح ‘Sebelumnya telah turun wahyu sesuai dengan itu.’”[28]

Alhasil, seperti itulah adzan yang kita kenal sekarang bermula. Sedemikian rupa beberkat dan menariknya cara-cara tersebut, sehingga tidak mungkin ada cara lainnya yang dapat menandinginya. Seolah-olah setiap hari, lima kali dalam sehari di setiap kota, desa di dunia Islam berkumandang tinggi suara tauhid risalah Rasulullah dari masjid. Dengan begitu intisari ajaran Islam disampaikan dengan sangat indah dan dalam kalimat yang jami’ (menyeluruh) kepada orang-orang.

(حَدَّثَنِي مُوسَى بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ بْنِ الْحَارِثِ التَّيْمِيُّ عَنْ أَبِيهِ قَالَ:) Musa Bin Muhammad meriwayatkan dari ayahnya, كَانَ بِلالٌ إِذَا فَرَغَ مِنَ الأَذَانِ فَأَرَادَ أَنْ يُعْلِمَ النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنَّهُ قَدْ أَذَّنَ وَقَفَ عَلَى الْبَابِ وَقَالَ: حَيَّ عَلَى الصَّلاةِ. حَيَّ عَلَى الْفَلاحِ. الصَّلاةَ يَا رَسُولَ اللَّهِ.  “Ketika Hadhrat Bilal selesai adzan dan ingin memberitahukan kepada Rasulullah (saw), beliau (ra) berdiri di pintu rumah Rasulullah (saw) lalu mengatakan, ‘Hayya ‘alash shalaah! Hayya ‘alal falaah! Ash-shalaah, yaa Rasulallah’ – ‘Silahkan datang untuk mendirikan shalat. Silahkan datang untuk mendapatkan kemenangan dan kesuksesan. Shalat, wahai Rasulullah.’

فَإِذَا خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – فَرَآهُ بِلالٌ ابْتَدَأَ فِي الإِقَامَةِ Ketika Rasulullah pergi untuk shalat dan Hadhrat Bilal melihat beliau (saw), mulailah Hadhrat Bilal mengucapkan iqamat.”[29] Penceritaan ini tidaklah jelas. Sebab, iqamat akan diucapkan ketika Imam tiba di tempat shalat. Mungkin riwayat tersebut tidak diterjemahkan dengan benar atau tidak diriwayatkan dengan baik.

Namun cara yang sebenarnya adalah, ketika imam telah tiba di mihrab, baru dikumandangkan iqamat. Di dalam Sunan Ibnu Majah, diriwayatkan oleh Hadhrat Bilal, أَنَّهُ أَتَى النَّبِيَّ ـ صلى الله عليه وسلم ـ يُؤْذِنُهُ بِصَلاَةِ الْفَجْرِ فَقِيلَ هُوَ نَائِمٌ ‏.‏ “Suatu kali beliau datang ke hadapan Rasulullah (saw) untuk mengabarkan shalat subuh. Ketika dikatakan kepada Hadhrat Bilal bahwa Rasulullah tertidur maka Hadhrat Bilal berkata, الصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ الصَّلاَةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ ‘Ash-shalaatu khairum minan naum! Ash-shalaatu khairum minan naum! – ‘Shalat lebih baik daripada tidur!’ ‘Shalat lebih baik daripada tidur!’. فَأُقِرَّتْ فِي تَأْذِينِ الْفَجْرِ فَثَبَتَ الأَمْرُ عَلَى ذَلِكَ ‏ Kemudian, pada azan subuh ditambahkan kalimat tersebut dan cara inilah yang dilakukan.[30]

Dalam riwayat lainnya disebutkan, عَنْ بِلَالٍ ، أَنَّهُ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُؤْذِنُهُ بِالصُّبْحِ فَوَجَدَهُ رَاقِدًا ، فَقَالَ : الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ مَرَّتَيْنِ ، قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَا أَحْسَنَ هَذَا يَا بِلَالُ اجْعَلْهُ فِي أَذَانِكَ  Rasulullah saw bersabda: “Wahai Bilal! Betapa indah kalimat tersebut, masukkanlah ia ke dalam azan subuh.”[31]

كَانَ لِرَسُولِ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ثَلاثَةُ مؤذنين: بلال وأبو محذورة وعمرو ابن أُمِّ مَكْتُومٍ. فَإِذَا غَابَ بِلالٌ أَذَّنَ أَبُو مَحْذُورَةَ. وَإِذَا غَابَ أَبُو مَحْذُورَةَ أَذَّنَ عَمْرُو ابن أم مكتوم. “Rasulullah (saw) memiliki tiga muadzin: Hadhrat Bilal, Abu Mahdzurah dan Amru Bin Ummi Maktum.”[32]

Masih ada riwayat Hadhrat Bilal yang masih tersisa, insya Allah akan disampaikan lain waktu.

Saat ini saya akan sampaikan zikr-e-khair (kenangan baik) untuk beberapa almarhum dan akan akan dilakukan shalat jenazah ghaib juga untuk mereka. Untuk itu, riwayat selebihnya akan saya sampaikan nanti insya Allah. Pertama, Sdr Rauf Bin Maqsood junior dari Belgia. Almarhum adalah mahasiswa Jamiah Ahmadiyah UK. Wafat pada tanggal 4 September, Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raajiuwn. Almarhum berasal dari jemaat Hasald Belgia. Beliau mendaftar ke jamiah UK pada tahun 2018 setelah lulus secondary school.

Almarhum dicintai oleh dosen dan juga mahasiswa disebabkan oleh tabiatnya penuh dengan ketulusan, semangat khidmat khalq dan juga adat kerja keras. Beberapa waktu lalu beliau terjangkit tumor otak, sakit selama 6, 7 bulan. Beliau melawan penyakit dengan penuh kesabaran dan keberanian. Sehingga akhirnya pergi menemui Sang Kekasih Sejati.

Jemaat masuk kekeluarga beliau melalui kakek sekitar tahun 1950. Kakek beliau memiliki pengaruh kuat di masyarakat, sehingga penentang merasa segan untuk melakukan penentanga, namun sepeninggal kakek beliau, keluarga beliau mulai menghadapi penentangan. Kakek buyut Almarhum dari garis ibu, Abdul Ali Sahib dan istrinya baiat di tangan Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra).

Selain orang tua, almarhum meningalkan tiga saudari dan dua saudara. Ayah beliau bernama Humayun Maqsood Sahib, ibunda beliau Muhsinah Begum sahibah. Saudari almarhum, Nishat (18 tahun), Salih (14), Tatsniyah Anizah (9), Fatih Maqsood (7) dan Jannatus Samiah (4).

Amir Sahib Belgia menulis, “Saya mendapatkan kesempatan untuk mengenal almarhum sejak kecil dan mendapati beliau sebagai anak yang luar biasa. Kapan pun saya pergi ke Jemaat tempat almarhum, selalu mendapati beliau lekat dengan masjid dan berakhlak baik. Setelah kewafatan, telah dibuatkan pengaturan selama dua hari di Alkan untuk menyambut kedatangan orang-orang yang akan berbela sungkawa. Banyak sekali tamu jemaat yang hadir saat itu dan beliau mendapati banyak tamu yang menangis. Kesemuanya menceritakan kisah kisah mengenai almarhum.

Pada masa awal sakit, dokter mengabarkan kepada almarhum bahwa beliau mengalami kanker otak yang dapat membahayakan kehidupan. Meskipun demikian, tidak pernah tampak rasa putus asa di wajah beliau dan tidak patah semangat. Ketika bertemu, dokter mengatakan, ‘Ketika almarhum mampu berbicara, saya sering bercakap dengan beliau, saya mendapat almarhum sebagai pemuda yang luar biasa dan memiliki otak yang cerdas.’

Dokter juga mengatakan, ‘Meskipun menghadapi penyakit yang sangat menyakitkan, namun almarhum tidak pernah mengeluh. Padahal dalam keadaan demikian, biasanya pasien mudah emosi, namun beliau sangat tegar dan menampilkan kesabaran.’”

Amir sahib mengatakan, “Almarhum memiliki kecintaan dan ketaatan yang seutuhnya kepada Khilafat. Senyuman selalu menghiasi wajah beliau. Beliau menghormati dan bersikap rendah hati kepada setiap orang, baik tua maupun muda.”

Muballigh Hasil menulis, “Sebelum divonis sakit, saya meminta beliau untuk mengisi kelas athfal online, beliau mengisi kelas dengan dawam. Sampai sampai ketika beliau masuk RS karena penyakit tersebut, meskipun sakit beliau tetap mengisi kelas online di RS. Sampai sampai terkadang ketika mengajar online, beliau pingsan. Setelah sadarkan diri beliau mulai lagi kelas. Beliau tidak mengatakan bahwa beliau sedang menderita, sehingga tidak bisa mengisi pelajaran.

Para athfal pun mengatakan, ‘Jika masih merasa lemah, tidak perlu mengajar dulu.’

Namun almarhum selalu menjawab, ‘Ketika saya kembali lagi ke Jamiah nanti, apa yang harus saya katakan kepada Khalifah nanti, yakni pengkhidmatan apa yang telah saya lakukan selama cuti?’ Ada kecintaan, semangat dan kegigihan.”

Kemudian seorang Muballigh lainnya menulis, “Pada tahun 2010 Almarhum melakukan waqaf arzi untuk satu minggu. Pada waktu itu ayah Almarhum membawa Almarhum untuk tinggal bersama saya karena Almarhum akan masuk Jamiah dan saya diminta untuk memberikan training (pelatihan) kepada Almarhum.

Pada waktu itu pun saya melihat Almarhum selain melaksanakan shalat lima waktu juga terbiasa bangun di pagi hari untuk melaksanakan shalat tahajud. Ketika Masjid Alken sedang dibangun atau direnovasi, pada waktu itu Almarhum secara rutin ikut ambil bagian dalam wiqari amal, dan Sekretaris Jaidad mengatakan bahwa beliau melakukan pekerjaan-pekerjaan yang sulit dan berat, seperti mengangkat batu, mengangkut kerikil dan sebagainya, dan Almarhum melakukannya dengan senang hati. Dan salah satu keistimewaan dalam diri Almarhum adalah mendahului salam kepada setiap orang.”

Ibunda Almarhum menuturkan, “Almarhum selalu mendahulukan kepentingan orang lain dari dirinya sendiri. Biasanya Almarhum membawa makanan ke sekolah dan memakannya di sana. Suatu hari Almarhum pulang ke rumah dan meminta makanan kepada saya, saya katakan, ‘Kamu kan tadi sudah membawa makanan?’

Almarhum menjawab, ‘Ada seorang anak yang tidak membawa makanan, jadi saya memberikan makanan saya kepadanya dan mengatakan kepadanya kalau saya akan makan nanti sepulang ke rumah.’

Demikian juga Almarhum sangat memperhatikan teman-temannya dan selalu mengatakan kepada mereka, ‘Saya selalu memikirkan masa depan kalian, pilihlah teman yang berakhlak baik dan berusahalah untuk memperbaiki masa depan kalian.’

Almarhum biasa bertugas di Ijtima-ijtima dan Jalsah-jalsah dengan bersemangat, bahkan atasannya mengatakan, ‘Suatu kali saya bertugas di bagian security. Saya memberikan kepada kepada Almarhum makan malam, Almarhum mengatakan, “Berikan kepada teman saya dulu.”’

Meskipun masih muda Almarhum sering bertanya kepada para orang tua yang anak-anak mereka tergabung dalam waqfenou dan menasihatkan, ‘Berusahalah supaya anak anda masuk ke Jamiah.’”

Kedua orang tua Almarhum dengan penuh ketabahan menjalani masa sakit Almarhum. Ketika para Dokter mengungkapkan rasa pesimis dan tidak ada harapan, ibunda Almarhum dengan penuh ketabahan mengatakan, “Kami telah mewaqafkanmu di jalan Allah Ta’ala. Sekarang kemana pun kamu pergi, itu adalah tempat yang baik”.

Ibunda Almarhum selalu menasihatkan supaya Almarhum ridho dengan ketetapan Allah Ta’ala dan Almarhum sendiri ridho dengan ketetapan Allah Ta’ala.

Kemudian Almarhum juga memasang foto yang diambil bersama saya (Hudhur) di depan tempat tidurnya di rumah sakit, yang mana ini seringkali menjadi sarana tabligh. Dokter menanyakan, “Kamu tergabung dalam komunitas apa?”

Dikatakan kepada mereka, “Kami adalah anggota Jemaat Ahmadiyah dan kami meyakini bahwa Almasih telah datang.” Seperti itu lah pertablighan berlangsung.

Bapak Amir mengatakan, “Kamu memang sedang sakit, tetapi meskipun demikian menjadi sarana tabligh”, dan Almarhum sangat senang dengan hal ini.

Kemudian Sadr Khudamul Ahmadiyah Belgia menuturkan, “Almarhum sangat mencintai Khilafat. Pada acara kelas athfal dan waqfenou saya meminta mereka untuk menulis surat kepada Khalifah, lalu Almarhum datang kepada saya dan mengatakan, ‘Pak Mubaligh! Saya tidak bisa menulis surat dalam bahasa Urdu. Mohon tuliskan untuk saya, lalu saya akan menyalinnya.’

Saya katakan kepadanya, ‘Anak yang lain menulis dalam bahasa Belanda, kamu juga tulislah.’ Ini adalah peristiwa sebelum Almarhum masuk Jamiah. Lalu Almarhum menjawab, ‘Saya ingin surat saya sampai secara langsung kepada Khalifa-e-waqt dan Hudhur mendoakan saya.’

Janji yang diucapkan Almarhum sambil berdiri bahwa aku akan senantiasa siap sedia setiap untuk mengorbankan jiwa, harta, waktu dan kehormatanku, Almarhum telah memenuhi janji tersebut hingga hembusan nafas terakhirnya. Almarhum memiliki banyak kawan Non-Ahmadi dan saya melihat sendiri mereka menangis tersedu-sedu. Dan ketika saya bertanya kepada salah seorang temannya mengenai sosok yang tercinta Rauf bin Maqshud, sambil menangis ia mengatakan, ‘Sekarang teman kami yang tercinta dan sangat perhatian telah berpisah dengan kami. Tidak banyak orang yang begitu simpatik seperti Almarhum.’

Kemudian Almarhum sangat gemar bertabligh. Terkadang orang-orang merasa ragu untuk mengumumkan bahwa Al-Masih telah datang, namun Almarhum dengan semangat mengajak orang-orang dan memberikan kepada mereka literatur-literatur tabligh dan membawa tamu-tamu dalam setiap pertemuan tabligh untuk ditablighi.”

Sebelum lulus Jamiah pun Almarhum telah menjadi Murabbi dan Muballigh yang hebat. Allah Ta’ala sendiri yang Maha Tahu hikmah dari keputusan-keputusan-Nya. Terkadang, orang-orang yang terbaik dipanggil lebih cepat menghadap-Nya. Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan maghfiroh dan rahmat-Nya bagi Almarhum dan meninggikan derajat Almarhum, serta menganugerahkan kesabaran dan ketabahan kepada kedua orang tua Almarhum.

Jenazah yang kedua, Zafar Iqbal Qureshi Sahib yang merupakan mantan Naib Amir Daerah Islamabad. Almarhum wafat pada 3 September di usia 87 tahun. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Beliau berasal dari keluarga yang mukhlis dan kakek beliau, Bapak Ubaidullah Qureshi adalah seorang sahabat Hadhrat Masih Mau’ud (as) yang baiat pada tahun 1904. Istri Almarhum, Ibu Amatul Hamid, kakeknya adalah Hadhrat Khalifah Nuruddin, juga adalah seorang sahabat Hadhrat Masih Mau’ud (as). Ini adalah Khalifah Nuruddin yang berbeda. Khalifah Nuruddin adalah nama beliau. Ini bukan Khalifatul Masih Awwal. Hadhrat Masih Mau’ud (as) dalam buku beliau yang fenomenal “Tuhfah Golerwiyyah” menyebutkan secara khusus pengkhidmatan beliau dalam penelitian mengenai keberadaan kuburan Nabi Isa (as) yang terletak di Mahallah Khanyaar, Srinagar, Kashmir.

Bapak Zafar Iqbal Qureshi mendapatkan pendidikan tingkat pertamanya di Amritsar, kemudian ketika terjadi partisi antara India dan Pakistan, pada waktu itu beliau datang ke Pindi dan menyelesaikan matriknya di sana. Kemudian mendapatkan gelar dari Engineering University, lalu bekerja di pemerintahan. Kemudian beliau meraih gelar MSC dari Yunani. Setelah itu beliau menjabat sebagai Chief Engineer di kantor pelayanan pemerintah di Taxila. Pada tahun 94 beliau pensiun dari jabatan Chief Engineer. Setelah itu beliau pindah ke Islamabad dan di sana beliau berkhidmat dalam berbagai jabatan di Jemaat, dan pada tahun 1988 beliau dijadikan Naib Amir. Pada waktu itu beliau pun menjadi Amir Qaim Muqam pada periode yang berbeda-beda, dan hingga 2019 beliau telah berkhidmat sebagai Naib Amir lebih dari 21 tahun. Meskipun sedang sakit dan berbagai halangan karena sudah berusia lanjut Almarhum dengan dawam pergi ke masjid dan mengerjakan tugas hariannya.

Almarhum seorang yang tidak banyak bicara, seorang yang memiliki gagasan yang cemerlang dan cukup berpengalaman dalam bidang administrasi. Almarhum seseorang yang bekerja dengan serius dan penuh kehati-hatian, sangat berhati-hati dengan uang Jemaat dan seorang yang sangat sensitif. Ketika saya (Hudhur) sebagai Nazir ‘Alaa, waktu itu saya (Hudhur) melihat dari dekat Amarhum maa syaa Allah bekerja dengan ketulusan dan kerendahan hati dan taat sepenuhnya kepada atasan beliau yang meskipun secara usia jauh lebih muda dari beliau.

Selain istri beliau, Ibu Amatul Hamid Zafar, beliau meninggalkan 4orang putri, Ammatur Rashid Shaibah, Dokter Shadaf Zafar Sahibah, Saziyah Choudry Sahibah dan Aisyah Thariq Sahibah, satu orang tinggal di Kanada, yang lainnya di Lahore.

Seorang putri beliau, Aisyah Zafar menuturkan, “Semasa kecil ketika saya mulai masuk sekolah, sebelum ujian tahunan Almarhum menuliskan surat permohonan doa untuk saya kepada Khalifah. Kemudian ketika mendapatkan ranking, kembali mengirimkan surat, dan ketika balasannya datang Almarhum membacakannya. Ketika saya sudah besar, Almarhum menasihatkan saya untuk menulis surat sendiri dan membuatkan kerangka suratnya dan dengan cara demikian Almarhum menguatkan semangat kecintaan dan ketaatan kepada Khilafat di dalam hati saya. Semoga Allah Ta’ala memberikan rahmat dan maghfiroh-Nya kepada Almarhum dan meninggikan derajat Almarhum, serta memberikan kesabaran dan ketentraman kepada yang ditinggalkan.

Jenazah selanjutnya, Anribel Kabine Kawajakata Sahib dari Senegal yang wafat pada 24 Agustus di usia 85 tahun. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Almarhum seorang yang pemberani, tulus, mencintai khilafat, memiliki ghairat kecintaan kepada Jemaat, semangat dalam berkhidmat dan memberikan pengorbanan dan ramah terhadap tamu. Ini beberapa keistimewaan beliau yang menonjol.

Almarhum menjamu para tamu Jemaat dengan sangat istimewa, selalu menginginkan dan mengupayakan bahwa selama para tamu Jemaat ada di daerahnya, beliaulah yang mengkhidmatinya. Jika para tamu terkadang makan di luar, maka Almarhum akan marah, “Mengapa saya tidak diberikan kesempatan (untuk mengkhidmati tamu).” Almarhum selalu mengosongkan kamarnya untuk para tamu dan menyediakan segala fasilitas.

Almarhum ikut serta dalam pemilihan dari Partai Sosialis dan hingga 18 tahun menjadi anggota parlemen nasional. Almarhum seorang Ahmadi yang mukhlis dan setia. Ketika Jemaat belum terdaftar, properti-properti Jemaat tercatat atas nama beliau.

Missionary in Charge menulis, “Ketika pada 2012 saya datang ke Senegal dan setelah itu Jemaat terdaftar, maka Almarhum mengatakan, ‘Hidup tidak ada yang tahu, sekarang segera anda alih namakan amanat properti ini menjadi atas nama Jemaat.’ Dan ketika kesulitan datang, Almarhum selalu berdiri di barisan terdepan untuk membela.

Almarhum seorang yang bekerja lebih banyak dari seorang mubaligh. Almarhum dalam waktu yang lama berkhidmat sebagai ketua Jemaat Ahmadiyah di Daerah Tambakanda. Almarhum mendapatkan taufik berkhidmat di Amilah Pusat sebagai Sekretaris Umur Kharajiah.

Sebelum wafat, Almarhum mempersembahkan lahan seluas 3 acre kepada Jemaat untuk sekolah. Demikian juga Almarhum memberikan 3 acre lahan untuk Rumah Misi Daerah dan sebelum wafat Almarhum menyerahkan dokumen-dokumen 6 acre lahan kepada Muballigh. Almarhum mengatakan, ‘Ini adalah amanat Jemaat, jagalah ini.’ Kemudian beliau mengatakan, ‘Saya akan pergi Guinea Conakry, saya tidak tahu apakah akan kembali lagi atau tidak.’”

Almarhum juga sering datang ke Jalsah di sini (UK). Sejak masa Khalifatul Masih Al-Rabi’ r.h beberapa kali beliau datang ke Jalsah. Terakhir kali beliau ikut serta pada Jalsah 2019 dan bertemu juga dengan saya. Almarhum mengatakan kepada Amir Muqami di sana bahwa, “Tidak ada yang tahu umur seseorang. Keinginan saya adalah duduk di hadapan Khalifah supaya bisa melihat Khalifah sebanyak mungkin.” Belakangan dalam mulaqat Almarhum mengatakan, “Tujuan saya telah tercapai.”

Maulana Munawwar Khursyid Sahib menuturkan, “Almarhum adalah sosok politikus dan eksekutif yang sangat disukai di Senegal. Almarhum berasal dari kota ternama Tanbakonda dan dari keluarga politikus. Pada dasarnya beliau dari departemen pendidikan, belakangan beliau masuk ke dunia politik. Pada tahun 1995 pesan Jemaat sampai kepada Almarhum melalui Anribel Jagjin, Deputy Speaker National Assembly. Kemudian dengan segera Allah Ta’ala membukakan pintu hati beliau, yang mana setelah itu Almarhum baiat dan bergabung ke dalam Ahmadiyah dengan hati yang terbuka dan lapang dada.

Di Senegal orang yang baiat di masa-masa awal kebanyakan adalah para buruh atau pemilik tanah yang memberikan pengorbanan harta sesuai dengan kemampuannya. Ketika Almarhum baiat, dengan karunia Allah Ta’ala mendapatkan taufik untuk memberikan pengorbanan harta dengan ketulusan. Almarhum seseorang yang pemberani. Seseorang yang gila tabligh. Almarhum bertabligh kepada setiap orang yang ditemui, hingga kepada kepala negara pun Almarhum mendapatkan taufik untuk memperkenalkan Jemaat.

Pergaulan almarhum sangat luas. Almarhum selalu berusaha menyampaikan pesan Jemaat kepada setiap orang yang ditemui. Setiap saat di mobil Almarhum selalu tersedia literatur Jemaat dan formulir baiat.”

Semoga Allah Ta’ala memberikan rahmat dan ampunan-Nya kepada Almarhum dan meninggikan derajat Almarhum, serta meneruskan keikhlasan dan kesetiaan ini pada anak keturunan Almarhum, dan anak keturunan Almarhum yang belum Ahmadi, semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada mereka untuk dapat menerima Ahmadiyah.

Jenazah selanjutnya yang terhormat Mubasyir Lathif Sahib, advokat di mahkamah agung yang akhir-akhir ini tinggal di Kanada, sebelumnya di Lahore. Almarhum wafat pada 5 Mei di usia 85 tahun. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Almarhum sangat mencintai Allah Ta’ala, Rasul-Nya (saw), Hadhrat Masih Mau’ud (as) dan Khilafat Ahmadiyah. Kakek Almarhum, yang terhormat Bapak Syekh Mehr Ali adalah sahabat dekat Hadhrat Masih Mau’ud (as) Hadhrat Masih Mau’ud (as) melakukan tirakat di rumah beliau di Hosyarpur, yang pada masa itu Allah Ta’ala memberikan nubuatan agung mengenai Muslih Mau’ud kepada beliau (as) .

Bapak Mubashir Latif menjabat sebagai Ketua Jemaat Faisl Town Lahore hingga 17 tahun. Almarhum tergabung dalam tim pengacara Jemaat di Pakistan dan Almarhum bangga atas hal ini. Almarhum mendapatkan kesempatan untuk mengkhidmati dan membantu banyak para tahanan. Almarhum adalah salah satu dari tiga orang pengacara yang pada 1974 mendapatkan kesempatan sebagai perwakilan dari Jemaat. Beliau menjalankan tugasnya mengajar di Punjab University hingga 46 tahun. Almarhum mengajar di Fakultas Hukum. Ketika terjadi penyerangan di Mesjid Model Town Lahore Almarhum berada di sana. Dengan karunia Allah Ta’ala Almarhum selamat, namun adik laki-laki Almarhum Bapak Na’im Sajid syahid pada peristiwa tersebut. Setelah itu Almarhum pindah ke Kanada. Almarhum disiplin dalam puasa dan shalat, sangat disiplin dalam tahajud, sangat mencintai Al-Qur’an. Dengan karunia Allah Almarhum seorang Mushi. Di antara yang ditinggalkan selain istri, juga 6 orang putri dan cukup banyak cucu dan cicit.

Bapak Malik Thahir Amir Jemaat Lahore menulis, “Yang terhormat Barrister Mubashir Latif adalah seorang pengacara yang handal dan terpelajar. Almarhum meraih gelar hukumnya di sini pada masa tersebut dan sangat dihormati di pengadilan. Dalam rangkaian kasus-kasus Jemaat setelah tahun 1984, ketika dibuat kasus terhadap para pemuda Ahmadi berkenaan dengan kalimah tayyibah, sidang pengadilan mereka berlangsung di pengadilan magistrat (pejabat pengadilan rendah). Meskipun Bapak Mubashir tidak tampil di pengadilan-pengadilan di bawah pengadilan tinggi, namun demi kepentingan Jemaat Almarhum tampil di hadapan magistrat dan Almarhum memberikan pengkhidmatannya dengan tanpa pamrih di kasus-kasus Jemaat. Beliau banyak memberikan masukan-masukan yang luar biasa dalam masalah hukum. Banyak magistrat dan hakim yang merupakan murid beliau, namun beliau tidak malu tampil di hadapan mereka. Pada umumnya pengacara mahkamah agung dan pengadilan tinggi tidak tampil di pengadilan magistrat.”

Bapak Mubarak Tahir mengatakan, “Rangkaian pengkhidmatan Jemaat oleh Bapak Mubashir Latif dimulai sejak 1974. Almarhum juga membantu pengacara bukan Ahmadi, Bapak Ijaz Husein Battalwi di Samdani Comission. Ketika kasus-kasus yang melanggar undang-undang ordonansi 1984 diajukan tuntutan hukumnya di pengadilan syariat, Bapak Mubashir Latif pun ikut serta dalam panelnya. Di bawah hukum yang adil seharusnya kasus-kasus itu tidak terjadi, namun Almarhum beserta kawan-kawannya menyiapkan seluruh kasus tersebut dengan penuh kerja keras.”

Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan kepada Almarhum maghfiroh dan rahmat-Nya, meninggikan derajat Almarhum dan memberikan taufik kepada anak keturunan Almarhum untuk dapat meneruskan kebaikan-kebaikan Almarhum serta diberikan ketentraman. Setelah shalat Jumat insya Allah akan dilaksanakan juga shalat jenazah mereka semua.

Khotbah II

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ – وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ!

 إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ –

أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Penerjemah: Mln. Mahmud Ahmad Wardi Syahid (London, UK), Mln. Muhammad Hasyim (Indonesia) dan Mln. Dildaar Ahmad Dartono.


[1] Siyaar A’lamin Nubala karya adz-Dzahabi.

[2] Kata al-Muwalladun (keturunan campuran beberapa ras) juga disebutkan dalam Hadits dari kitab Sunan Ibni Maajah, Kitab al-Muqaddimah (كتاب المقدمة), nomor 56: عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ، قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ـ صلى الله عليه وسلم ـ يَقُولُ ‏ “‏ لَمْ يَزَلْ أَمْرُ بَنِي إِسْرَائِيلَ مُعْتَدِلاً حَتَّى نَشَأَ فِيهِمُ الْمُوَلَّدُونَ أَبْنَاءُ سَبَايَا الأُمَمِ فَقَالُوا بِالرَّأْىِ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا ‏”‏ ‏.‏ Dari [Abdullah bin ‘Amru bin Al ‘Ash] ia berkata; Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Urusan bani Isra`il (keturunan Nabi Yaqub/Israel dan pengikut Nabi Musa as) masih tetap kuat dan kokoh hingga muncul keturunan-keturunan yang lahir dari para tawanan (campuran orang Israil dengan bukan Israil). Mereka berpendapat mengenai agama Israil dengan menggunakan logika mereka sendiri sehingga mereka sesat dan menyesatkan.”

[3] Al-Suyūṭī (wafat 1505 CE) dalam kitabnya, Isʿāf al-mubaṭṭaʾ fī-rijāl al-Muwaṭṭaʾ (السيوطي – إسعاف المبطأ في رجال الموطأ).

[4] Siyaar A’lamin Nubala karya adz-Dzahabi. Hilyatul Auliya, bahasan mengenai Salman orang Persia: السُّبَّاقُ أَرْبَعٌ : أَنَا سَابِقُ الْعَرَبِ ، وَصُهَيْبٌ سَابِقُ الرُّومِ ، وَسَلْمَانُ سَابِقُ الْفُرْسِ ، وَبِلَالٌ سَابِقُ الْحَبَشَةِ.

[5] Ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibnu Sa’d.

[6] Muʿjam al-Ṣaḥāba karya al-Baghawi (البغوي – معجم الصحابة): أنا عطاء الخراساني قال كنت عند ابن المسيب فذكر بلالا فقال:. Al-Baghawi wafat pada 1122 Masehi.

[7] Ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibnu Sa’d.

[8] Siyaar A’lamin Nubala karya adz-Dzahabi. satu Uqiyah = 31, 7 gram emas.

[9] Ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibnu Sa’d.

[10] Usdul Ghaabah.

[11] Siyaar A’lamin Nubala karya adz-Dzahabi.

[12] Ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibnu Sa’d.

[13] Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad (ra) dalam buku Debacah Tafsirul Qur’aan (Pengantar Mempelajari Al-Qur’an).

[14] Sunan Ibni Maajah, Kitab tentang Sunnah. Musnad Ahmad ibn Hanbal (مسند أحمد بن حنبل), Musnad Abdullah ibn Mas’ud, hadits 3832, ‘Alamul Kutub, Beirut, 1998. Usdul Ghaabah oleh ibnu Al-Atsir.

[15] Siyaar A’lamin Nubala karya adz-Dzahabi. Diriwayatkan juga oleh Imam Muslim rahimahullah dalam Shahîhnya dalam Shalâtul Musâfirîn bâb Islâmi ‘Amr bin ‘Abasah no. 832. Dalam riwayat tersebut, ‘Amr bin Abasah as-Sulami Radhiyallahu anhu mengatakan, “Saat aku di masa Jahiliyah, aku menganggap bahwa orang-orang berada dalam kesesatan dan mereka tidaklah berada di atas sesuatu yang baik. Mereka menyembah berhala-berhala. Lalu aku mendengar seseorang di Makkah menyampaikan berita-berita. Maka, aku kendarai tunggangi tungganganku hingga aku dapat sampai kepadanya. Ternyata Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tengah bersembunyi akibat perlakuan kasar kaumnya kepadanya. Aku berjalan pelan hingga akhirnya dapat menemui Beliau di Makkah. Lalu aku berkata kepada Beliau, مَا أَنْتَ؟  ‘Siapakah engkau?’ Beliau menjawab, أَنَا نَبِيٌّ ‘Aku seorang nabi’. Aku bertanya, وَمَا نَبِيٌّ؟  ‘Apakah nabi itu?’. Beliau menjawab, أَرْسَلَنِي اللهُ ‘(Orang) yang diutus oleh Allah)’. Aku bertanya, وَبِأَيِّ شَيْءٍ أَرْسَلَكَ ‘Dengan misi apa engkau diutus-Nya?’ Beliau menjawab, أَرْسَلَنِي بِصِلَةِ الْأَرْحَامِ، وَكَسْرِ الْأَوْثَانِ، وَأَنْ يُوَحَّدَ اللهُ لَا يُشْرَكُ بِهِ شَيْءٌ ‘Aku diutus untuk memerintahkan silaturahmi dan menghancurkan patung-patung, dan agar Allâh ditauhidkan, tidak disekutukan dengan apapun’. Aku bertanya, فَمَنْ مَعَكَ عَلَى هَذَا؟  ‘Siapakah orang yang bersama di atas keyakinan ini?’. Beliau menjawab, حُرٌّ، وَعَبْدٌ ‘Seorang yang merdeka dan satu hamba sahaya’. وَمَعَهُ يَوْمَئِذٍ أَبُو بَكْرٍ، وَبِلَالٌ مِمَّنْ آمَنَ بِهِ Waktu itu, Abu Bakr Radhiyallahu anhu dan Bilal Radhiyallahu anhu yang bersama Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka, aku berkata, ‘Sesungguhnya aku mengikutimu’. Setelah bertemu dengan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan mengungkapkan keislamannya, ‘Amr bin ‘Abasah Radhiyallahu anhu mendapat pesan khusus dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menandakan sayang Beliau kepadanya . Beliau menasehati, ‘Sesungguhnya engkau berat untuk bersama kami hari ini. Tidakkah kamu lihat keadaanku dan keadaan orang-orang?. Akan tetapi, pulanglah kamu ke keluargamu. Apabila engkau telah mendengar aku menang, datanglah kepadaku’. Maka, ‘Amr bin “Abasah Radhiyallahu anhu pulang terlebih dahulu ke keluarganya, sampai Allâh Azza wa Jalla memenangkan Rasul-Nya dan wali-wali-Nya. ‘Amr bin ‘Abasah Radhiyallahu anhu tetap berada di perkampungannya bersama keluarga. Namun, ia selalu mencari-cari tahu berita. Ia mengatakan, ‘Aku bertanya-tanya orang-orang ketika Beliau sudah pergi ke Madinah’. Sampai akhirnya, ada sejumlah orang dari Yatsrib (Madinah) datang. Aku bertanya kepada mereka, ‘Apa yang dilakukan orang lelaki yang datang (berhijrah) ke Madinah?’. Mereka menjawab, ‘Orang-orang bergegas kepadanya. Kaumnya sendiri dahulu ingin menghabisinya. Tapi, mereka tidak berdaya untuk melakukannya’. Maka, aku pergi ke Madinah dan aku temui Beliau. Lalu aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah engkau mengenaliku?’. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Ya, engkau yang menemuiku dahulu di Makkah, bukan?’. Referensi: https://almanhaj.or.id/8324-amr-bin-abasah-as-sulami-radhiyallahu-anhu-sang-pencari-al-haq.html

[16] Ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibnu Sa’d.

[17] Al-Adab Al-Mufrad Lil Bukhari, bab Maa Yaquulu Lil Maridh (bab tentang apa yang hendaknya dibicarakan dengan orang sakit)

[18] Shahih al-Bukhari, Kitab keutamaan Madinah (كتاب فضائل المدينة).

[19] Shahih al-Bukhari, Kitab al-Wakaalah (كتاب الوكالة), (باب إِذَا وَكَّلَ الْمُسْلِمُ حَرْبِيًّا فِي دَارِ الْحَرْبِ أَوْ فِي دَارِ الإِسْلاَمِ، جَازَ)

[20] Tarikh ath-Thabari. ‘Abdu ‘Amru artinya hamba ‘Amru.

[21] Shahih al-Bukhari, Kitab tentang adzan (كتاب الأذان), bab wudhunya anak-anak (باب وُضُوءِ الصِّبْيَانِ). Pada saat peristiwa yang diceritakan oleh Abdullah ibn Abbas, Abdullah ibnu Abbas masih anak-anak atau remaja.

[22] Sunan Ibni Maajah, Kitab al-Muqaddimah (كتاب المقدمة).

[23] Sunan Ibni Maajah, Kitab Adzan dan sunnahnya (كتاب الأذان والسنة فيها), bab awal mula adzan (باب بَدْءِ الأَذَانِ).

[24] Sunan Ibni Maajah, Kitab Adzan dan sunnahnya (كتاب الأذان والسنة فيها), bab awal mula adzan (باب بَدْءِ الأَذَانِ): قَالَ أَبُو عُبَيْدٍ فَأَخْبَرَنِي أَبُو بَكْرٍ الْحَكَمِيُّ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ زَيْدٍ الأَنْصَارِيَّ قَالَ فِي ذَلِكَ أَحْمَدُ اللَّهَ ذَا الْجَلاَلِ وَذَا الإِكْرَامِ حَمْدًا عَلَى الأَذَانِ كَثِيرًا إِذْ أَتَانِي بِهِ الْبَشِيرُ مِنَ اللَّهِ فَأَكْرِمْ بِهِ لَدَىَّ بَشِيرًا فِي لَيَالٍ وَالَى بِهِنَّ ثَلاَثٍ كُلَّمَا جَاءَ زَادَنِي تَوْقِيرًا.

[25] Shahih al-Bukhari, Kitab waktu-waktu shalat (كِتَاب مَوَاقِيتِ الصَّلَاةِ بَاب مَوَاقِيتِ الصَّلَاةِ وَفَضْلِهَا وَقَوْلِهِ{إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا}مُوَقَّتًا وَقَّتَهُ عَلَيْهِمْ); bab awal mula panggilan adzan (بَدْءُ الْأَذَانِ); 604 – حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ قَالَ أَخْبَرَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ قَالَ أَخْبَرَنِي نَافِعٌ أَنَّ ابْنَ عُمَرَ كَانَ يَقُولُ كَانَ الْمُسْلِمُونَ حِينَ قَدِمُوا الْمَدِينَةَ يَجْتَمِعُونَ فَيَتَحَيَّنُونَ الصَّلَاةَ لَيْسَ يُنَادَى لَهَا فَتَكَلَّمُوا يَوْمًا فِي ذَلِكَ فَقَالَ بَعْضُهُمْ اتَّخِذُوا نَاقُوسًا مِثْلَ نَاقُوسِ النَّصَارَى وَقَالَ بَعْضُهُمْ بَلْ بُوقًا مِثْلَ قَرْنِ الْيَهُودِ فَقَالَ عُمَرُ أَوَلَا تَبْعَثُونَ رَجُلًا يُنَادِي بِالصَّلَاةِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا بِلَالُ قُمْ فَنَادِ بِالصَّلَاةِ

[26] As-Sunan al-Kabir karya al-Baihaqi (السنن الكبير للبيهقي), Kitab tentang shalat (كِتَابُ الصَّلَاةِ), Himpunan bab adzan dan iqamah (ذِكْرُ جُمَّاعِ أَبْوَابِ الْأَذَانِ وَالْإِقَامَةِ), awal mula adzan (بَابُ بَدْءِ الْأَذَانِ).

[27] ‘Umdatul Qari karya Badruddin Ayni (عمدة القاري – العيني – ج ٥ – الصفحة ١٠٩); tercantum juga di dalam The Life of Mahomet, By Sir William Muir, Chapter VIII (The Mosque), how used, p. 186, Published by Smith, Elder & Co. London (1878).

[28] Sirat Khatamun-Nabiyyin, Hadhrat Mirza Bashir Ahmad(ra), pp. 271-272); Hadits tentang Nabi (saw) juga diajari adzan dalam wahyu tercantum dalam Syarh atau uraian atas kitab al-Mawaahib al-Laduniyyah karya al-Qasthalani oleh Muhammad Abdul Baqi Az-Zurqani (شرح العلامة الزرقاني على المواهب اللدنية بالمنح المحمدية) bahasan (تابع المقصد الأول في تشريف الله تعالى له عليه الصلاة والسلام), bab (باب بدء الأذان), Vol. 2, p. 201, Darul Kutub al-Ilmiyyah, Beirut, 1996. Tercantum juga dalam Kitab I’anatuth Thalibin (إعانة الطالبين – البكري الدمياطي – ج ١ – الصفحة ٢٦٦):ويؤيده رواية عبد الرازق وأبي داود في المراسيل، من طريق عبيد بن عمير الليثي، أحد كبار التابعين، أن عمر لما رأى الاذان جاء ليخبر النبي (ص فوجد الوحي قد ورد بذلك، فما راعه إلا أذان بلال، فقال له النبي (ص): سبقك بذلك الوحي.. Ini adalah kitab Fiqh karangan Al-‘Allamah Asy-Syekh Al-Imam Abi Bakr Ibnu As-Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyatiy Asy-Syafi’i, yang merupakan syarah dari kitab Fathul Mu’in, Kitab ini sangat masyhur di kalangan masyarakat Indonesia dan juga salah satu kitab yang menjadi rujukan pengikut madzhab Syafi’iyyah dalam ilmu Fiqh di seluruh dunia.

[29] Ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibnu Sa’d.

[30] Sunan Ibni Maajah, Kitab Adzan dan sunnahnya (كتاب الأذان والسنة فيها), bab sunnah dalam adzan (باب السُّنَّةِ فِي الأَذَانِ).

[31] Al-Mu’jam al-Kabir karya ath-Thabrani (المعجم الكبير للطبراني), bab ba (بَابُ الْبَاءِ ), bahasan Bilal (بِلَالُ بْنُ رَبَاحٍ مُؤَذِّنُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ).

[32] Ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibnu Sa’d.