بسم اللہ الرحمن الرحیم

Khotbah Jumat Sayyidina Amirul Mu’minin, Hazrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (أيده الله تعالى بنصره العزيز, ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 22 Februari 2019 (Tabligh 1398 Hijriyah Syamsiyah/17 Jumadil Akhir 1440 Hijriyah Qamariyah) di Masjid Baitul Futuh, Morden UK (Britania)

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ.

(آمين)

Pada hari-hari ini tengah dilaksanakan peringatan Hari Mushlih Mau’ud di Jemaat-Jemaat, yaitu terkait nubuatan yang Allah Ta’ala kabarkan kepada Hazrat Masih Mau’ud (as) tentang putra yang dijanjikan. Mengenainya Allah Ta’ala telah berfirman bahwa Dia akan memberikan keistimewaan yang khas kepada anak tersebut, ia akan menjadi abdi agama, berumur panjang dan akan melanjutkan misi Hazrat Masih Mau’ud (as). Nubuatan ini diumumkan pada tanggal 20 Februari 1886. Nubuatan tersebut merupakan tanda agung dukungan Allah Ta’ala kepada Hazrat Masih Mau’ud (as) dan kebenaran beliau. Anak itu terlahir pada 12 Januari 1889, sesuai dengan yang dikabarkan. Anak tersebut diberi nama Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad. Ia telah dianugerahi jubah khilafat oleh Allah Ta’ala paska kewafatan Hazrat Khalifatul Masih pertama.

Pada kesempatan kali ini saya akan sampaikan beberapa kisah peri kehidupan Hazrat Mushlih Mau’ud (ra) dan penggenapan nubuatan tersebut pada diri beliau. Namun sebelum itu saya akan sampaikan untaian kalimat yang disampaikan Hazrat Masih Mau’ud (as) sendiri berkenaan dengan pentingnya dan penggenapan nubuatan tersebut. Nubuatan tersebut bukanlah sekedar nubuatan kelahiran seorang anak melainkan nubuatan lahirnya seorang putra agung yang dengan kedatangannya tercipta revolusi ruhani di dunia.

Pada waktu ini saya akan sampaikan jawaban atas keberatan yang dilontarkan para penentang dan itu akan dapat dipahami sepenuhnya dengan membaca dari untaian kalimat beliau sendiri. Beliau bersabda: “Dalam hal ini bukalah mata lebar-lebar dan perhatikanlah bahwa ini bukanlah sekedar suatu nubuatan, melainkan satu Tanda Samawi yang sangat agung, yang di dalamnya Tuhan Maha Mulia lagi Agung menunjukkan kebenaran dan keagungan Nabi kita yang mulia lagi ra’uuf (penuh kesantunan) dan rahiim (penuh kasih dan sayang), Muhammad Musthafa shallallahu ‘alaihi wa ‘alaa aalihi wa sallam.

Pada dasarnya, tanda ini ratusan kali derajatnya dalam hal ketinggian, kesempurnaan dan keutamaan daripada menghidupkan seseorang yang telah mati karena hakekat menghidupkan orang mati ialah memohonkan kepada Janab Ilahi (Allah Ta’ala) agar satu ruh dikembalikan lagi; dan menghidupkan orang mati seperti yang tertulis dalam Bible (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru) terkait Hazrat Isa Al Masih dan para Nabi lainnya yang tentang keotentikannya banyak sekali keberatan yang dilontarkan dan begitu juga berdasarkan dalil aqli dan naqli. Setelah melalui perdebatan, tertulis (diriwayatkan) bahwa mayat tersebut hidup hanya untuk beberapa menit saja lalu memberikan kedukaan pada kerabatnya untuk yang kedua kali dengan kewafatannya lagi. Adapun kedatangannya di dunia ini tidak memberikan manfaat pada dunia tidak juga ia sendiri mendapatkan ketentraman begitu juga kerabatnya tidak mendapatkan kebahagiaan yang hakiki.

Jadi, jika dengan doa Hazrat Isa Al-Masih (as) juga ada ruh yang kembali ke dunia ini, pada hakikatnya kedatangan dan kehilangannya tidak ada bedanya. Jika anggap saja, ruh yang demikian terus bertahan dalam tubuh untuk sekian tahun lamanya, manfaat apa yang dapat diberikan oleh ruh seorang yang rendah dan budak dunia seperti itu?”

Tetapi dalam sebuah tempat beliau (as) bersabda mengenai nubuatan itu, “Jika ruh para Nabi sebelumnya kembali lalu menghidupkan orang-orang mati maka itu hanya untuk sementara dan itu hanya ruh orang biasa saja. Namun, dalam hal ini dengan karunia Allah Ta’ala, ihsan-Nya dan keberkatan Hazrat Khatamul Anbiya (saw), Allah Ta’ala telah mengabulkan doa hamba yang lemah ini dengan menjanjikan untuk mengirim ruh yang sedemikian rupa penuh berkat yang keberkatan lahiriah dan batiniahnya akan menyebar luas di seluruh bumi. Meskipun tanda tersebut tampaknya sama dengan menghidupkan orang yang mati, namun dengan merenungkannya akan diketahui bahwa tanda tersebut ratusan kali lebih baik daripada menghidupkan orang yang mati.

Ruh orang-orang mati kembali dengan doa dan di kesempatan ini juga dimohonkan agar satu ruh dikirimkan [yaitu Mushlih Mau’ud]. Doa yang dipanjatkan untuk anak tersebut yaitu dengan doa dimintakan datangnya sebuah ruh. Namun, antara ruh-ruh itu dan ruh ini ribuan Kos jarak jauhnya [1 kos = 2 mil] (berbeda bagaikan bumi dan langit). Sebagian orang dari kalangan Muslim yang diam-diam murtad merasa tidak senang menyaksikan munculnya mukjizat Hazrat Rasulullah (saw) bahkan mereka menjadi sangat kecewa dan mengeluh [bertanya] mengapa bisa demikian?”[1]

Dalam “Tabligh Risalat”, beliau (ra) telah bersabda, “Sebagaimana Hazrat Masih Mau’ud (as) telah bersabda bahwa ruh yang dimintakan ini bukanlah ruh biasa melainkan telah dimintakan suatu tanda yang sebagai jawabannya, Allah Ta’ala telah mengabarkan kelahiran seorang putra yang memiliki banyak sekali keistimewaan. Telah dikabarkan lahirnya putra agung yang akan berumur panjang, cerdas dan memiliki tingkat pemahaman tinggi, pemilik kemuliaan dan harta kekayaan, bangsa-bangsa akan mendapatkan keberkatan darinya, akan dipenuhi dengan keilmuan lahir dan batin, akan diberikan pemahaman yang dalam perihal firman Allah yakni Al Quran Karim dan dengan anugerah pemahaman tersebut ia akan mendapatkan taufik untuk mengkhidmati Al Quran sehingga akan zahirlah ketinggian martabat firman Allah kepada dunia. Ia akan penjadi penyebab terbebasnya para tahanan dan pada masa kehidupannya akan terjadi kehancuran secara global yang akan memporak-porandakan dunia, dia akan mendapatkan kemasyhuran sampai ke pelosok dunia.”

Sekarang kita saksikan pada zaman Hazrat Mushlih Mau’ud (ra) telah terjadi kehancuran yang sifatnya global (mendunia) dalam corak peperangan, telah terjadi dua peperangan yang sifatnya global dan terjadi juga dalam corak bencana. Berkenaan dengan meraih kemasyhuran, beliau pada masa hidupnya telah menyebarkan misi pertablighan dan menyampaikan pesan Islam sampai ke berbagai negara yang dengannya mendapatkan kemasyhuran sampai ke pelosok dunia. Bahkan berkenaan dengan nubuatan tersebut kita saksikan bahwa mata rantai ini masih terus berlangsung sampai saat ini.

Sekarang saya akan saya sampaikan berkenaan dengan peri kehidupan Hazrat Mushlih Mau’ud (ra). Berkenaan dengan pendidikan formal yang beliau dapatkan. Setelah mempelajari nazhirah (membaca) Al-Quran, beliau belajar di sekolah resmi dan mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan pendidikan duniawi seperti biasanya. Beliau mendapatkan bantuan pelajaran Bahasa Urdu dan Inggris dari para pengajar yang datang ke rumah beliau. Dalam hal ini Hazrat Peer Manzoor Ahmad Sahib (ra) mengajarkan Bahasa Urdu kepada beliau sekian lama. Diantara para pengajar yang ditetapkan untuk mengajar beliau keagamaan di rumah diantaranya adalah Peer Manzoor Muhammad Sahib yang mengajarkan Bahasa Urdu kepada beliau.

Kemudian, Maulwi Syer Ali Sahib (ra) mengajar beliau Bahasa Inggris selama beberapa waktu namun bagaimana kondisi dan suasana beliau ketika mendapatkan pengajaran tersebut, dalam hal ini Hazrat Khalifatul Masih keempat telah menulis buku Sawanih Fazl e Umar yang sangat menarik yang beliau dengarkan langsung dari ucapan Hazrat Sahibzada Mirza Mahmood Ahmad sendiri.

Beliau (ra) bersabda, “Orang yang paling banyak berbuat ihsan (banyak berjasa) kepada saya dalam bidang pendidikan adalah Hazrat Khalifatul Masih yang pertama. Beliau juga adalah seorang tabib dan memahami bahwa kesehatan tidak mengizinkan saya untuk dapat membaca buku dengan lama. Dalam hal itu cara yang digunakan Hazrat Khalifah Awwal untuk mengajar saya adalah beliau mendudukan saya di dekat beliau lalu bersabda, ‘Mia! Saya akan bacakan, kamu cukup dengarkan saja.’

Penyebabnya, semenjak kecil saya mengalami trachoma pada mata sehingga saya menderita sakit pada mata sampai tiga empat tahun lamanya dan sedemikian rupa parahnya sehingga dokter pernah memvonis bahwa saya akan kehilangan penglihatan karenanya. Mengetahui demikian Hazrat Masih Mau’ud (as) mulai mendoakan secara khusus untuk kesehatan saya dan bersamaan dengan itu juga berpuasa. Saya tidak ingat lagi berapa banyak puasa yang beliau lakukan untuk itu, tampaknya tiga atau tujuh hari beliau berpuasa untuk itu. Ketika beliau akan berbuka puasa pada puasa yang terakhir dan beliau memasukkan makanan untuk berbuka puasa seketika itu juga saya membuka mata dan saya katakan bahwa saya sudah mulai dapat melihat.

Namun akibat dari penyakit yang berlangsung lama itu, satu mata saya kehilangan penglihatannya yakni mata sebelah kiri. Saya dapat melihat jalan namun tidak dapat membaca tulisan. Jika ada pria yang saya kenali tengah duduk pada jarak beberapa feet (kaki), saya dapat mengenalinya. Namun jika orangnya tidak saya kenali, maka wajahnya tidak akan tampak jelas pada saya. Hanya mata kanan saya yang dapat melihat, namun itupun terkena penyakit trachoma dan sedemikian rupa parahnya sehingga seringkali saya terjaga di malam hari.

Hazrat Masih Mau’ud (as) bersabda kepada para pengajar saya, ‘Biarkan dia belajar sekehendaknya, seberapa lama ia ingin belajar. Jika tidak ingin belajar, jangan dipaksakan karena kesehatannya tidak memungkinkan baginya untuk belajar banyak.’

Berkali kali Hazrat Masih Mau’ud (as) hanya menegaskan kepada saya supaya saya mempelajari terjemahan Al-Quran dan kitab Bukhari dari Hazrat Khalifah Awwal. Selain itu beliau (as) juga bersabda untuk mempelajari ilmu ketabiban karena ilmu tersebut merupakan keahlian keluarga kami.”

Beliau (ra) menuturkan: “Master Faqirullah Sahib (Tn. Guru Faqirullah) adalah guru matematika kami di sekolah. Untuk menerangkan, beliau biasa menjawab pertanyaan (memecahkan soal) dengan menulis di papan tulis.. Namun karena ada masalah dengan penglihatan saya, saya tidak bisa membacanya. Papan tulis terasa terlihat begitu jauh sehingga mata saya tidak bisa melihat dan juga saya tidak bisa mempertahankan atau tetap terus melihatnya lama-lama. Jadi, karena hal itu saya pikir tak ada faedahnya untuk duduk di kelas. Jika saya ingin saya akan pergi dan kadang-kadang saya tidak pergi dari kelas.

Suatu ketika Master Faqirullah Sahib mengadukan perihal saya kepada Hazrat Masih Mau’ud (as), mengatakan: “Mia Mahmood tidak belajar apa apa di sekolah, kadang datang ke sekolah, kadang juga tidak”

Terkait:   Keteladanan Para Sahabat Nabi Muhammad shallAllahu ‘alaihi wasallam (Manusia-Manusia Istimewa, seri 32)

Saya ingat beliau menulis kepada Hazrat Masih Mau’ud (as) untuk mengadukan perihal saya sehingga hal itu membuat saya bersembunyi karena khawatir bagaimana akan marahnya Hazrat Masih Mau’ud (as). Tetapi, ketika Hazrat Masih Mau’ud (as) membaca pengaduan tersebut, beliau bersabda, ‘Saya ucapkan terima kasih atas perhatian anda yang begitu besar pada anak ini. Setelah mendengarkan apa yang tuan sampaikan saya merasa senang bahwa anak ini terkadang masih masuk ke sekolah. Menurut saya ini sudah baik kali dia kadang mau sekolah, padahal kesehatannya sangat tidak memungkinkannya untuk belajar.’

Sambil tersenyum Hazrat Masih Mau’ud (as) bersabda, ‘Kita mengajarkan matematika pada anak ini bukanlah untuk berjualan gandum dan kacang-kacangan di warung. Tidaklah mengapa sekalipun ia bisa atau tidak menguasai matematika.’

Lalu beliau (as) bersabda, ‘Seperti kita tahu bahwa Rasulullah (saw) dan para sahabat pun tidak mempelajari ilmu tersebut. Jika anak ini mau pergi ke sekolah, itu sudah baik untuknya, jika pun tidak, tidak usah dipaksakan.’

Mendengar hal itu, Master sahib kembali pulang. Lalu saya mengambil manfaat dari kelembutan Hazrat Masih Mau’ud (as) tersebut untuk tidak masuk sekolah. Terkadang dalam satu bulan saya sekolah beberapa hari saja. Walhasil, demikianlah pendidikan yang saya lalui dan sebenarnya saya terpaksa, karena selain masalah pada mata, pada masa kecil saya juga mengalami masalah pada jatung, sehingga saya diberi air rebusan kacang dal dan saag (sayuran sejenis sawi) untuk mengobati jantung dan juga limpa yang membesar, sehingga saya mendapatkan pijatan pada tapak kaki red yodium merkuri begitu juga pada bagian leher di pijat-pijat karena terdapat benjolan yakni berpenyakit amandel.

Walhasil, penyakit trachoma pada mata, jantung bermasalah, lalu limpa membesar seiring dengan itu saya pun sering terjangkit demam sampai enam bulan tidak turun. Berkenaan dengan pendidikan saya, para sesepuh mengatakan bahwa seberapa yang ia sanggup, biarkanlah sebisanya, jangan dipaksakan. Dari kondisi demikian setiap orang dapat memperkirakan bagaimana kemampuan saya untuk belajar.”

“Satu ketika kakek kami, Hazrat Mir Nasir Nawab Sahib (ra) memberikan tes Bahasa Urdu. Saat ini pun tulisan saya sangat buruk, namun pada masa itu begitu buruknya tulisan saya sehingga tidak terbaca, apa yang telah saya tulis. Kakek saya berusaha keras untuk membaca apa yang saya tulis, namun akhirnya tidak dapat. Tulisan kebanyakan anak saya lebih baik dari tulisan saya. Tulisan saya hanya mirip seperti tulisan putri saya Ammatur Rashid sehingga kami menetapkan hadiah sebesar satu rupees untuk tulisannya, jika Ammatur Rashid sendiri dapat membaca apa yang ia tulis maka ia akan mendapatkan hadiah satu rupees. Seperti itulah tulisan saya, yakni terkadang saya sendiri pun tidak dapat membaca tulisan saya sendiri.

Singkat kata, ketika kakek saya membaca hasil ujian saya, dengan marah beliau berkata: tulisan ini seperti tanduk yang bengkok. Kakek saya bertabiat keras. Dalam kondisi kesal, Hazrat Meer Sahib langsung menemui Hazrat Masih Mau’ud (as). Saya pun kebetulan saat itu tengah berada di rumah. Sejak semula kami sudah ketakutan dengan tabiat beliau yang pemarah. Ketika beliau mengadukannya kepada Hazrat Masih Mau’ud (as), saya semakin ketakutan, entahlah apa yang akan terjadi.

Datanglah kakek saya Meer Sahib lalu berkata kepada Hazrat Masih Mau’ud (as), ‘Anda tidak memberikan perhatian sedikitpun pada pendidikan anak ini, saya sudah mengetes Bahasa urdunya, silahkan baca sendiri, buruk sekali tulisannya, tidak ada yang akan bisa membacanya.’ Dalam kondisi marah seperti beliau mengatakan kepada Hazrat Masih Mau’ud (as), ‘Anda benar benar tidak peduli sehingga umurnya sia sia saja.’

Dalam kondisi Meer Sahib emosi seperti itu, Hazrat Masih Mau’ud (as) bersabda, ‘Coba panggil Maulwi Nuruddin Sahib!’”

Hazrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Ketika Hazrat Masih Mau’ud (as) mendapat kesulitan, beliau biasanya memanggil Hazrat Khalifah pertama (ra). Hazrat Khalifah yang pertama sangat mencintai saya. Datanglah beliau, seperti biasa beliau menundukan kepala dan berdiri di satu sisi.

Hazrat Masih Mau’ud as mengatakan, ‘Maulwi Sahib, saya memanggil Anda karena Mir Sahib telah mengatakan tulisan Mahmud tidak dapat dibaca. Keinginan saya adalah kita harus mengujinya.’ Sembari mengatakan ini, Hazrat Masih Mau’ud as mengambil sebuah pena. Setelah menulis dua atau tiga kalimat; beliau as memberikan tulisan itu kepada saya dan meminta saya untuk menyalinnya. Ini adalah pemeriksaan yang Hazrat Masih Mau’ud as ambil. Saya memberikan perhatian besar dan mulai menyalin apa yang diberikan kepada saya. Pertama-tama, tulisan yang disalin tidak terlalu panjang. Kedua, saya hanya harus menyalin dan menyalin jauh lebih mudah, karena tulisan yang akan disalin terlihat jelas di depan dan selain itu, saya lakukan penyalinan dengan sangat lambat.

Ketika Hazrat Masih Mau’ud as melihat tulisan saya, beliau berkata, ‘Tadinya saya sangat khawatir setelah mendengar pengaduan Meer Sahib, ternyata tulisannya mirip dengan tulisan saya.’

Adapun Hazrat Khalifah pertama langsung memuji dengan bersabda, ‘Huzur! Meer Sahib telah terbawa emosi tadi, padahal tulisan anak ini bagus sekali.’

Hazrat Khalifah pertama selalu bersabda kepada saya, ‘Mia! Kesehatanmu tidak mengizinkanmu untuk belajar sendiri, datanglah kepada saya, saya akan ajari kamu dan kamu dengarkan saja.’

Sebagaimana beliau pertama mengajarkan Al Quran lalu hadist Bukhari. Beliau tidaklah mengajarkan secara perlahan, melainkan cara yang beliau gunakan adalah beliau terus membaca Al Quran dan seiring itu menerjemahkannya. Jika ada point yang penting, beliau beritahukan, jika tidak beliau terus baca dengan cepat. Beliau membacakan seluruh Al-Qur’an untuk saya dalam waktu tiga bulan. Setelah itu terhenti.

Setelah wafatnya Hazrat Masih Mau’ud as, Hazrat Khalifatul Masih I (ra) mengatakan kepada saya bahwa saya harus menyelesaikan pembelajaran Kitab Hadis Al-Bukhari dari beliau. Hazrat Masih Mau’ud as biasa memberitahu saya untuk mempelajari terjemahan Al-Quran dan Al-Bukhari dari beliau. Saya telah memulai belajar kedua Kitab ini dari Hazrat Khalifatul Masih I (ra) selama masa kehidupan Hazrat Masih Mau’ud as dan meskipun terkadang saya absen (tidak pergi) kepada beliau (ra) untuk belajar. Saya juga sudah mulai mempelajari ketabiban (pengobatan) dari beliau sejak masa Hazrat Masih Mau’ud as. ”[2]

“Saya (Hazrat Khalifatul Masih II ra) dan Meer Ishaq sahib memulai pelajaran ketabiban di hari yang sama. Meer Sahib memiliki cerita lucu yang sangat dikenal di keluarga kami yaitu setelah belajar pada hari pertama, Ishaq sahib mengatakan kepada ibunya, ‘Amma Jaan lekas bangunkan saya esok pagi, karena Maulwi Nuruddin sahib biasa terlambat datang ke klinik. Saya akan lebih dulu pergi ke klinik untuk memberikan resep kepada para pasien.’ Padahal kami baru mendapatkan pelajaran ketabiban satu hari saja.”

Walhasil, saya belajar ilmu ketabiban dari beliau dan juga tafsir Quran. Tafsir Al-Qur’an beliau ajarkan dalam dua bulan. Beliau mendudukan saya di dekat beliau lalu memperdengarkan terjemahnya terkadang setengah atau terkadang satu juz. Dan beliau pun menyampaikan tafsir ayat tertentu. Begitu juga beliau ajarkan Bukhari selama dua, tiga bulan. Suatu kali pada bulan Ramadhan, beliau menyampaikan daras tiga puluh juz dan saya pun ikut menyimak didalamnya. Saya pun sempat belajar beberapa artikel Bahasa Arab dari beliau. Walhasil, seperti itulah kondisi pendidikan saya, namun ketika saya menyelesaikan pendidikan pada masa itu, Allah Ta’ala memperlihatkan rukya kepada saya yang menurut beliau berkaitan dengan kemajuan.

Walhasil, kita saksikan sendiri pidato-pidato beliau, bagaimana kondisi keilmuan beliau, bagaimana beliau menuntut ilmu, namun pidato-pidato beliau, khutbah, karya tulis dan tafsir Al Quran yang beliau tulis memberikan kesaksian bahwa Allah Ta’ala telah mengajar beliau, dan tentu ini merupakan bukti besar dan kebenaran nubuatan. Jalsah pertama yang diselenggarakan pada masa kehidupan Hazrat Masih Mau’ud (as) tahun 1906, pada jalsah tersebut beliau (ra) menyampaikan pidato di hadapan publik untuk yang pertama kali.

Sahabat besar Hazrat Masih Mau’ud (as) dan juga seorang penyair handal yang bernama Hazrat Qazi Muhammad Zuhuruddin Akmal Sahib (ra) mengungkapkan berkenaan dengan kesan para pendengar terhadap ilmu dan makrifat yang terkandung dalam pidato tersebut dan kualitasnya dapat kita perkirakan, “Bintang bercahaya dari buruj nubuwwat, mutiara berkilauan dari langit kerasulan, Mahmud Sallamahullaahu al wadood berdiri untuk menyampaikan pidato bertemakan Syirik dan saya menyimak pidato beliau dengan perhatian yang khas. Betapa dahsyatnya, kefasihan bak air bah yang menerjang deras, pada umur yang masih sangat belia seperti itu kematangan fikiran yang tidak kurang dari mukjizat, menurut hemat saya inipun merupakan satu tanda kebenaran Huzur As. Dari itu jelaslah bahwa mutiara tarbiyat Masihiyyat telah sampai pada derajat kesempurnaan, beliau telah menyampaikan pembahasan dengan gaya yang menakjubkan berkenaan dengan kesempurnaan ruhani.”

Pada zaman itu kecintaan dan semangat beliau pada agama dan pertumbuhan otak dan keruhanian memberitahukan bahwa beliau lah yang akan menjadi penggenapan kalimat nubuatan yang berbunyi “Akan segera tumbuh berkembang”. Sebagaimana Hazrat Masih Mau’ud (as) juga merasakan semangat keagamaan ini dalam hal ini Hazrat Masih Mau’ud (as) pernah bersabda: Sedemikian rupa gejolak kecintaan untuk mengkhidmati agama tampak dalam diri Mia Mahmud sehingga terkadang saya mendoakannya secara khusus. Itu adalah ucapan Hazrat Masih Mau’ud (as). Tentunya doa ini dipanjatkan dengan harapan semoga Allah Ta’ala menjadikannya sebagai putra yang telah dikabarkan sebelumnya dan semoga mencurahkan hujan karunia kepadaNya dengan sederas derasnya dan semoga segenap abar suka tergenapi padanya.

Riwayat hidup Hazrat Mushlih Mau’ud (ra) [yaitu kitab Sawaneh Fadhl Umar] yang ditulis Hazrat Mirza Tahir Ahmad Sahib (Hazrat Khalifatul Masih IV rha), di dalamnya tertulis, “Paska kewafatan Hazrat Mushlih Mau’ud (ra), pada permulaan kekhalifahan pertama, Hazrat Sahibzada berusia 19 tahun. Pada masa kewafatan Hazrat Khalifatul Masih Awwal beliau sudah memasuki usia 26 tahun. Pada usia muda seperti itu akan saya sampaikan beberapa contoh corak pidato dan karya tulis beliau. Pemikiran beliau sudah sedemikian rupa matang seperti seorang pemikir besar. Untaian kalimat beliau bercampur antara pengaruh, daya tarik, ketulusan dan kelembutan. Sabda beliau tidak dibuat-buat begitu juga karya tulis beliau. Pidato beliau mengalir secara alami. Karya tulis beliau merupakan aliran sungai yang fasih dan mudah difahami. Keduanya dipenuhi dengan air ilmu dan irfan Al Quran dan memenuhi kalbu dan otak dalam satu waktu.”

Terkait:   Keteladanan Para Sahabat Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam (Manusia-Manusia Istimewa, seri 20)  

Seorang Alim besar Hazrat Maulwi Syer Ali Sahib (ra) menulis mengenai pidato pertama Hazrat Mushlih Mau’ud (ra) pada usia 19 tahun paska kewafatan Hazrat Masih Mau’ud (as), “Ada satu lagi kisah yang ingin saya sampaikan dalam topik ini yakni pidato pertama Huzur (ra) yakni pada zaman Hazrat Khalifah pertama. Pidato pertama Hazrat Khalifatul Masih kedua yang beliau sampaikan pada kesempatan Jalsah Salanah pertama paska kewafatan Hazrat Masih Mau’ud (as). Jalsah tersebut diselenggarakan di halaman Madrasah Ahmadiyah. Saat itu Hazrat Khalifatul Masih I (ra) hadir di panggung di sebelah kanan Hazrat Mushlih Mauud. Posisi panggung menghadap kearah selatan. Berkenaan dengan pidato tersebut ada dua hal yang perlu disampaikan.

Pertama, yang mengherankan adalah pada saat itu suara, gaya dan nada dan cara beliau menyampaikan pidato memiliki kesamaan yang luar biasa dengan suara dan gaya pidato Hazrat Masih Mau’ud (as). Ingatan kepada Hazrat Masih Mau’ud (as) segar kembali di dalam kalbu para pendengar yang mana saat itu Hazrat Masih Mau’ud (as) belum lama meninggalkan kami (wafat). Banyak sekali hadirin mencucurkan air mata disebabkan suara Hazrat Masih Mau’ud (as) layaknya suara orang yang sampai dengan perantaraan gramopohe dari tempat lain. Saya adalah salah seorang yang mencucurkan air mata itu. Jika dibenarkan mengatakan ruh seorang manusia merasuk kepada orang lain, maka kami dapat mengatakan pada saat itu ruh Hazrat Masih Mau’ud (as) tengah turun ke dalam diri beliau dan seolah-lah dalam hal itu beliau (as) mengumumkan, ‘Inilah putraku tercinta yang dianugerahkan sebagai tanda rahmat yang berkenaan dengannya dikatakan, “Dalam keindahan dan kebaikannya akan menyamaimu [Masih Mau’ud].”

Point kedua yang perlu disampaikan berkenaan pidato tersebut adalah ketika pidato selesai, Hazrat Khalifatul Masih pertama yang mana sepanjang umurnya beliau lalui dengan merenungkan Al-Quran dan Al-Quran merupakan asupan bagi ruhnya, bersabda, ‘Mia Mahmud banyak sekali menyampaikan tafsir ayat yang merupakan hal baru bagi saya.’”

Maulwi Syer Ali Sahib menulis, “Ini merupakan pidato pertama beliau yang beliau sampaikan di hadapan Jemaat. Dalam pidato tersebut beliau menyampaikan makrifat Al Quran yakni menjelaskan makrifat paska kewafatan Hazrat Masih Mau’ud (as) yang mengenainya wujud yang menguasai ilmu Al Quran seperti Hazrat Khalifatul Masih I (ra), mengakui bahwa bagi beliau pun ini merupakan marifat baru. Lantas siapakan yang mengajarkan marifat tersebut kepada sang pemuda? Siapakah yang menganugerahkan hikmat dan ilmu tersebut kepada beliau pada masa muda tersebut?

Dialah yang telah berfirman di dalam Al Quran berkenaan dengan Hazrat Yusuf (as): وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ Terjemahannya, ‘Dan tatkala dia cukup dewasa Kami berikan kepadanya hikmah dan ilmu. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.’

Mia Mahmud tidak hanya mengajarkan kedalaman ilmu dan hikmah yang biasa saja, bahkan menjelaskan makrifat Al Quran yang belum disentuh orang lain. Berkenaan dengan Al-Quran, Allah Taala berfirman: لَّا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ ‘Laa yamassuhuu illal muthahharuun.’ – ‘Tidak ada yang dapat menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan.’

Jadi, setelah keluar dari berkhalwat pada masa muda lalu menjelaskan makrifat AL Quran yang baru dan halus kepada orang-orang merupakan kesaksian yang jelas bahwa beliau melewati masa mudanya dengan tarbiyat yang khas dari Allah Ta’ala dan sejak muda pun beliau sudah tergolong orang-orang yang disucikan.”

Seorang wartawan ghair Ahmadi menulis kesaksian berkenaan dengan pribadi beliau. Tentang itu tertulis bahwa pada tahun 1913 ada seorang wartawan ghair Ahmadi bernama Muhammad Aslam Sahib datang dari Amritsar ke Qadian. Ia tinggal beberapa hari di Qadian. Setelah mempelajari Jemaat dari dekat, ia menyampaikan kesannya secara detail dengan menulis mengenai Hazrat Mushlih Mau’ud (ra), “Setelah berjumpa dengan Sahibzada Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad, kami merasa sangat bahagia. Akhlak beliau sangat mulia, sederhana. Selain berperangai mulia, beliau adalah seorang yang sangat menguasai permasalahan dan bertadabbur (perenungan dan penelaaahan).

Selain permasalahan lainnya, kami pun berdialog mengenai masa depan Hindustan. Dalam hal ini gagasan-gagasan yang diberikan beliau berdasarkan peristiwa bangsa-bangsa di dunia sebelumnya, merupakan satu sudut pandang perenungan yang luar biasa. Ini terjadi sebelum beliau menjadi khalifah pada tahun 1913, yakni pada zaman kekhalifahan Hazrat Khalifah pertama.”

Lalu wartawan itu menulis, “Beliau dengan segala ketulusannya menyampaikan keinginannya kepada saya supaya saya sekurang-kurangnya tinggal selama satu minggu di Qadian. Meskipun saya tidak mampu untuk memenuhi harapan beliau, namun saya sangat berterima kasih atas perhatian dan persembahan kasih sayang dan kecintaan yang sangat berharga dai beliau. Saya akan selalu mengingat kezuhdan, ketakwaan, keluasan wawasan, kesederhanaan beliau.”

Bagaimana standar ibadah beliau ketika masih muda yang tentang hal itu Hazrat Mufti Muhammad Sadiq Sahib yang bertugas sebagai pengajar beliau ketika kecil, menzahirkan kesan-kesannya dalam untaian kata, bersabda, “Dikarenakan saya telah baiat di tangan Hazrat Masih Mau’ud (as) pada akhir tahun 1890 maka sejak saat itu sering berkunjung. Saya menyaksikan sendiri pribadi Hazrat Ulul ‘Azmi Mirza Bashiruddin Mahmud Ahmad sejak beliau kecil. Bagaimana adab sopan santun, kemuliaan dan kejujuran dan kecenderungan beliau kepada agama. Sejak kecil beliau memiliki kecintaan untuk mengkhidmati agama, beliau sering melaksanakan shalat bersama dengan Hazrat Masih Mau’ud (as) di masjid Jami’ dan mendengarkan khotbah.

Suatu hari saya ingat ketika usia beliau mendekati 10 tahun beliau berdiri bersama Hazrat Masih Mau’ud (as) di Mesjid Aqsa dan bersujud disertai rintihan tangis. Sejak kecil fitrat beliau memiliki jalinan kecintaan yang khas kepada Allah dan Rasul-Nya.”

Terdapat satu waqi’ah (peristiwa) lagi berkenaan dengan ratapan tangis beliau dalam shalat dan lamanya sujud beliau ketika shalat. Hal itu membuat orang dewasa takjub meskipun pada lahiriahnya orang-orang dewasa mengetahui anak seusia itu tidak ada kedukaan yang mendalam atau tidak ada hal yang patut dikhawatirkan, hal itu membuat orang-orang dewasa takjub melihat ratapan tangis beliau dalam shalat dan timbul pertanyaan dalam benak orang yang menyaksikan, apa yang terjadi dengan anak ini sehingga bangun diam-diam di malam hari lalu meratap di hadapan Tuhannya dan membasahi tempat shalat dengan air matanya yang ma’sum (terjaga dari dosa).

Hazrat Mirza Tahir Ahmad Sahib RahimaLlahu ta’ala (رحمہ اللہ تعالیٰ) menulis dalam Sawanih Fadhl Umar (riwayat hidup Hazrat Mushlih Mau’ud (ra)) sebagai berikut, “Timbul keheranan dalam diri Syeikh Ghulam Ahmad Sahib Waiz (ra). Beliau seorang Mubayyi baru yang baiat di tangan Hazrat Masih Mau’ud (as) dan sedemikian rupa meningkat dalam keikhlasan dan keimanan sehingga terhitung sebagai sahabat yang ahli ibadah, zuhud, ahli kasyaf dan ilham. Beliau sering berkata, ‘Suatu ketika saya berniat untuk melewatkan malam di masjid Mubarak sendiri memanjatkan doa apapun yang ingin disampaikan kepada sang Maha Pelindung, ketika saya sampai di masjid Mubarak, apa yang saya lihat?

Ada seseorang yang tengah bersujud dan memanjatkan doa dengan penuh ratapan yang mana disebabkan karena ratapannya itu, sayapun tidak dapat shalat dan doa orang tersebut begitu berkesan pada diri saya sehingga saya pun larut dalam doa dan memohon kepada Allah Ta’ala, ‘Ya Tuhan! Apapun doa yang dipanjatkan oleh orang ini kabulkanlah.’

Saya berdiri menunggu sampai kelelahan diliputi rasa penasaran siapa gerangan orang yang sedang sujud ini. Saya tidak dapat mengatakan sejak kapan orang ini datang sebelum saya?

Namun, ketika orang tersebut bangkit dari sujudnya, apa yang saya lihat, ternyata orang itu adalah Hazrat Mia Mahmud Ahmad Sahib. Saya ucapkan Assalamualaikum dan menyalami beliau dan bertanya, ‘Mia! Apa yang tuan minta kepada Allah Ta’ala pada hari ini?’

Beliau bersabda, ‘Saya memohon, “Ya Tuhan! Hidupkanlah Islam dan perlihatkanlah itu di hadapan mata saya.”’

Lalu beliau masuk ke dalam rumah.

Betapa dalamnya hasrat keinginan beliau untuk menyaksikan saat kemenangan Islam tiba yang bergejolak di dalam dada beliau ketika beliau masih muda dan pada masa muda jugalah sudah memberikan buahnya yakni Allah Ta’ala menganugerahkan jubah khilafat kepada beliau ketika beliau masih muda.”

Hazrat Sahibzada Mirza Mahmud Ahmad Sahib dalam kitab Tasyhidzul Azhan (تشحیذ الاذھان) menyampaikan sebuah doa yang beliau tulis pada tahun 1909. Beliau menulis sebuah makalah. Setelah menjelaskan berkenaan dengan keberkatan Ramadhan, dalam makalah tersebut beliau menulis, “Ketika saya tengah mencari sebuah makalah di meja kerja saya untuk Risalah Tasyhizul Azhan, saya menemukan selembar kertas di dalamnya tertulis sebuah doa yang pernah saya tulis pada Ramadhan yang lalu.

Setelah membaca lagi doa tersebut timbul gerakan di dalam hati saya untuk menarik perhatian hadirin, entahlah doa siapa yang akan didengar dan kapan turunnya karunia Allah Ta’ala kepada jemaat kita dalam corak yang khas. Saya tuliskan doa tersebut di sini untuk menyatakan rintihan hati supaya semoga timbul semangat di dalam kalbu orang-orang yang berfitrat baik sehingga mereka memanjatkan doa kepada Allah bagi dirinya sendiri dan bagi jemaat Ahmadiyah yang merupakan tujuan saya yang hakiki.

Doanya sebagai berikut:

اے میرے مالک میرے قادر خدا میرے پیارے مولیٰ میرے رہنمااے خالق ارض و سماء اے متصرف آب و ہوا۔ اے وہ خدا جس نے آدم سے لے کر حضرت عیسیٰ تک لاکھوں ہادیوں اور کروڑوں رہنماؤں کو دنیا کی ہدایت کے لئے بھیجا

Wahai Tuhanku yang Maha Memiliki dan Maha Kuasa, Pelindungku, Pembimbingku, Wahai pencipta langit dan bumi! Wahai Dzat yang meliputi air dan udara! Wahai Tuhan yang telah mengutus ratusan ribu emberi petunjuk, puluhan juta muallim dari semenjak Hazrat Adam hingga Hazrat Isa As sebagai petunjuk bagi dunia.

اے وہ علی و کبیر جس نے آنحضرت صلی اللہ علیہ وسلم جیسا عظیم الشان رسول مبعوث کیا اے وہ رحمان جس نے مسیح سا رہنما آنحضرت صلی اللہ علیہ وسلم کے غلاموں میں پیدا کیا۔

Wahai Yang Maha Luhur dan Maha Besar yang telah mengutus rasul agung seperti Hazrat Rasulullah Saw. Wahai Yang Maha Rahman yang telah menciptakan pembimbing seperti Al-Masih diantara hamba Hazrat Rasulullah Saw.

Terkait:   Keteladanan Para Sahabat Nabi Muhammad shallAllahu ‘alaihi wasallam (Manusia-Manusia Istimewa, seri 31)

اے نور کے پیدا کرنے والے اے ظلمات کے مٹانے والے تیرے حضور میں ہاں صرف تیرے ہی حضور میں مجھ سا ذلیل بندہ جھکتا اور عاجزی کرتا ہے کہ میری صدا سن اور قبول کر کیونکہ تیرے ہی وعدوں نے مجھے جرأت دلائی ہے کہ میں تیرے آگے کچھ عرض کرنے کی جرأت کروں۔

Wahai yang menciptakan cahaya dan penghapus kegelapan, di hadirat Engkau. Iya di hadirat Engkaulah hamba yang hina seperti ini tertunduk dan merendahkan diri, dengarlah dan kabulkan jeritan hamba karena janji Engkaulah yang memberikan keberanian pada hamba untuk memohon kehadirat Engkau.

میں کچھ نہ تھا تو نے مجھے بنایا میں عدم میں تھا تو مجھے وجود میں لایا۔ میری پرورش کے لئے اربع عناصر بنائے اور میرے خبر گیری کے لئے انسان کو پیدا کیا۔ جب میں اپنی ضروریات کو بیان تک نہ کر سکتا تھا تو نے مجھ پر وہ انسان مقرر کئے جو میری فکر خود کرتے تھے پھر میری ترقی دی اور میرے رزق کو وسیع کیا۔

Hamba tidak ada artinya sebelum ini lalu Engkau menjadikan hamba. Dahulu hamba tidak ada sekarang engkau memberikan hamba wujud. Engkau telah memberikan penolong untuk menjaga hamba dan menciptakan insan untuk merawat hamba. Ketika hamba tidak dapat mengeluhkan hajat keperluan hamba, Engkau telah menugaskan insan bagi hamba yang akan memikirkan hamba, memberikan kemajuan pada hamba dan melapangkan rezeki hamba.

اے میری جان ہاں اے میری جان تو نے آدم کو میرا باپ بننے کا حکم دیا اور حوا کو میری ماں مقرر کیا اور اپنے غلاموں میں سے ایک غلام کو جو تیرے حضور عزت سے دیکھا جاتا تھا اس لئے مقرر کیا کہ وہ مجھ سے ناسمجھ اور نادان اور کم فہم کے لئے تیرے دربار میں سفارش کرے اور تیرے رحم کو میرے لئے حاصل کرے۔

Wahai belahan jiwa! Wahai belahan jiwa hamba! Engkau telah memerintahkan Adam untuk menjadi bapak hamba dan menetapkan Hawwa sebagai ibu hamba. Diantara hamba-hamba, Engkau telah menetapkan seorang hamba yang dipandang hormat oleh Engkau supaya memberikan syafaat di hadapan Engkau bagi hamba yang tidak paham, bodoh dan kurang ilmu ini serta meraih kasih sayang-Mu untukku.

میں گناہگار تھا تو تو نے ستاری سے کام لیا میں خطا کار تھا تو نے غفاری سے کام لیا ہر ایک تکلیف اور دکھ میں میرا ساتھ دیا۔

Ketika hamba berdosa lalu Engkau menutupi kelemahan hamba. Ketika hamba bersalah, Engkau mengampuni hamba. Engkau menemani hamba dalam segala penderitaan dan duka.

جب کبھی مجھ پر مصیبت پڑی تو نے میری مدد کی اور جب کبھی میں گمراہ ہونے لگا تو نے میرا ہاتھ پکڑ لیا باوجود میری شرارتوں کے تو نے چشم پوشی کی اور باوجود میرے دور جانے کے تو میرے قریب ہوا۔

Ketika hamba ditimpa musibah, Engkau menolong hamba. Ketika hamba hampir tersesat, Engkau genggam tangan hamba. Meskipun hamba melakukan banyak kealpaan, Engkau menutupinya. Meskipun hamba beranjak jauh, Engkau mendekat.

میں تیرے نام سے غافل تھا مگر تو نے مجھے یاد رکھا ان موقعوں پر جہاں والدین اور عزیز و اقربا اور دوست و غمگسار مدد سے قاصر ہوتے ہیں تو نے اپنی قدرت کا ہاتھ دکھایا اورمیری مدد کی میں غمگین ہوا تو تو نے مجھے خوش کیا میں افسردہ دل ہوا تو تو نے مجھے شگفتہ کیا میں رؤیا تو تو نے مجھے ہنسایا۔

Ketika hamba lalai dari nama Engkau, Engkau mengingatku. Ketika orang tua, kerabat dan sahabat tidak mampu menolong hamba, Engkau memperlihatkan tangan kuasa-Mu dan menolong hamba. Ketika hamba berduka, engkau membahagiakan hamba, Engkau menjadi penglipur lara hati hamba. Ketika hamba menangis, Engkau membuat hamba tertawa.

کوئی ہو گا جو فراق میں تڑپتا ہو مجھے تو تو نے خود ہی چہرہ دکھایا۔ تو نے مجھ سے وعدے کئے اور پورے کئے اور کبھی نہیں ہوا کہ تجھ سے اپنے اقراروں کے پورا کرنے میں کوتاہی ہوئی ہو۔ میں نے بھی تجھ سے وعدے کئے اور توڑے مگر تو نے اس کا کچھ خیال نہیں کیا۔

Ketika hamba meratap dalam penantian, Engkau sendiri memperlihatkan wajah Engkau pada hamba. Jika Engkau berjanji pada hamba, Engkau penuhi dan tidak pernah Engkau lalai dalam memnuhi janji. Hamba pun telah berjanji pada Engkau dan hamba langgar, namun Engkau tidak memperdulikannya sedikitpun.

میں نہیں دیکھتا کہ مجھ سے زیادہ گنہگار کوئی اور بھی ہو اور میں نہیں جانتا کہ مجھ سے زیادہ مہربان تو کسی اور گنہگار پر بھی ہوا ہو۔ تیرے جیسا شفیق وہم و گمان میں بھی نہیں آ سکتا۔ اللہ تعالیٰ کو فرماتے ہیں تیرے جیسا شفیق وہم و گمان میں بھی نہیں آ سکتا جب میں تیرے حضور میں آ کر گڑگڑایا اور زاری کی تو نے میری آواز سنی اور قبول کی۔

Hamba tidak melihat ada yang lebih berdosa dari pada hamba dan tidak tahu apakah Engkau mengasihi pendosa lain yang lebih dari hamba. Tidak dapat terbayangkan oleh hamba apakah ada Penyayang yang seperti Engkau. Ketika hamba hadir di hadirat Engkau dengan ratapan dan rintihan, Engkau mendengarkan ratapan hamba dan mengabulkannya.

میں نہیں جانتا کہ تو نے کبھی میری اضطرار کی دعا ردّ کی ہو پس اے میرے خدا میں نہایت درد دل سے اور سچی تڑپ کے ساتھ تیرے حضور میں گرتا اور سجدہ کرتا ہوں اور عرض کرتا ہوں کہ میری دعا کو سن اور میری پکار کو پہنچ۔ اے میرے قدوس خدا میری قوم ہلاک ہو رہی ہے اسے ہلاکت سے بچا۔ اگر وہ احمدی کہلاتے ہیں تو مجھے ان سے کیا تعلق جب تک ان کے دل اور سینے صاف نہ ہوں اور وہ تیری محبت میں سرشار نہ ہوں مجھے ان سے کیا غرض۔

Hamba tidak tahu apakah Engkau pernah menolak rintihan doa hamba sehingga duhai Tuhan hamba, hamba tersungkur sujud di haribaan Engkau dengan hati merintih pilu dan disertai ratapan yang sebenar-benarnya, dan memohon dengarkanlah doa dan jeritan hamba. Wahai Tuhan hamba Yang Maha Qudus, kaum hamba tengah tengah mengalami kebinasaan. Selamatanlah mereka dari kehancuran. Jika mereka mengaku Ahmadi, tidak ada kaitan hamba dengan mereka sebelum kalbu dan dadanya bersih; dan jika mereka tidak larut dalam kecintaan Engkau, tidak ada urusan antara hamba dengan mereka.

سو اے میرے رب اپنی صفات رحمانیت اور رحمیت کو جوش میں لا اور ان کو پاک کر دے۔ صحابہ کا سا جوش و خروش ان میں پیدا ہو اور وہ تیرے دین کے لئے بیقرار ہو جائیں ان کے اعمال ان کے اقوال سے زیادہ عمدہ اور صاف ہوں وہ تیرے پیارے چہرے پر قربان ہوں اور نبی کریم پر فدا ہوں تیرے مسیح کی دعائیں ان کے حق میں قبول ہوں اور اس کی پاک اور سچی تعلیم ان کے دلوں میں گھر کر جائے۔

Duhai Tuhanku pancarkanlah sifat rahmaniyyat dan rahimiyyat Engkau dan sucikanlah mereka, supaya timbul gejolak semangat di dalam diri mereka seperti yang dimiliki para Sahabat Nabi (saw) dan mereka bersemangat demi agama Engkau. Semoga amal perbuatan mereka lebih baik dan suci dari ucapan mereka, dan rela berkorban demi wajah Engkau yang indah dan mereka fana demi Nabi yang mulia (saw). Kabulkanlah doa Al-Masih Engkau atas mereka dan semoga ajarannya yang suci dan hakiki meresap di hati mereka.

اے میرے خدا میری قوم کو تمام ابتلاؤں اور دکھوں سے بچا اور قسم قسم کی مصیبتوں سے انہیں محفوظ رکھ ان میں بڑے بڑے بزرگ پیدا کر یہ ایک قوم ہو جائے جو تو نے پسند کر لی ہو اور یہ ایک گروہ ہو جس کو تو اپنے لئے مخصوص کر لے۔ شیطان کے تسلط سے محفوظ رہیں اور ہمیشہ ملائکہ کا نزول ان پر ہوتا رہے اس قوم کو دین و دنیا میں مبارک کر۔ آمین ثم آمین یا رب العالمین۔

Duhai Tuhanku! Selamatkanlah kaum hamba dari segenap ibtila (musibah) dan penderitaan. Jagalah mereka dari berbagai jenis musibah. Ciptakanlah orang-orang suci di kalangan mereka. Jadikanlah mereka sebuah kaum yang Engkau cintai dan jadikanlah mereka kelompok yang Engkau istimewakan bagi Engkau. Selamatkanlah mereka dari cengkraman syaitan, turunkanlah senantiasa malaikat atas mereka. Berkatilah kaum ini di dunia dan akhirat. آمین ثم آمین یا رب العالمین Amin Tsumma Amin ya Rabbal Aalamiin.”

Seperti yang telah saya katakan, doa ini ditulis pada tahun 1909 ketika beliau berusia 20 tahun. Pada usia itu di dalam kalbu beliau terdapat satu rintihan bagi agama dan bangsa. Semoga Allah Ta’ala mencurahkan ribuan rahmat atas beliau yang telah menghadap Allah Ta’ala setelah berkhidmat siang malam untuk menyebarkan agama Rasulullah dan memenuhi maksud orang yang menjadi hamba sejati, Masih Mau’ud (as) dan Mahdi Ma’hud beliau (saw); dan juga setelah memenuhi janjinya, semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada kita untuk memahami doa beliau yang penuh rintihan dan memenuhi maksud dan tujuan sebagai seorang Ahmadi.

Khotbah II

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ

وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ –

وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ!

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ

يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ –

أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Penerjemah                : Mln. Mahmud Ahmad Wardi, Syahid (London, UK).

Editor: Dildaar Ahmad Dartono (Indonesia).

[1] Isytihar Wajibul isyhar 22 Maret 1886, Majmu’ah Isytiharat, jilid 1, halaman 99 sampai 100, Mathbu’ah Rabwah. Halaman 114- 115, Mathbu’ah London

[2] Al-Mau’ud Anwarul Ulum, jilid 17, h. 565-569