Keselamatan Dunia Terletak pada Keterikatan dengan Khilafat
Khotbah Jumat Sayyidinā Amīrul Mu’minīn, Hazrat Mirza Masroor Ahmad, Khalīfatul Masīḥ al-Khāmis (أيده الله تعالى بنصره العزيز, ayyadahullāhu Ta’ālā binashrihil ‘azīz) pada 30 Mei 2025 di Masjid Mubarak, Islamabad, Tilford (Surrey), UK (United Kingdom of Britain/Britania Raya)
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
أَمَّا بَعْدُ، فَأَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ ١ الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ٢ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ ٣ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ ٤ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ٥ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ ٦
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ ٧
وَاَقْسَمُوْا بِاللّٰهِ جَهْدَ اَيْمَانِهِمْۙ لَا يَبْعَثُ اللّٰهُ مَنْ يَّمُوْتُۗ بَلٰى وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا وَّلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَۙ
قُلۡ اَطِیۡعُوا اللّٰہَ وَاَطِیۡعُوا الرَّسُوۡلَ ۚ فَاِنۡ تَوَلَّوۡا فَاِنَّمَا عَلَیۡہِ مَا حُمِّلَ وَعَلَیۡکُمۡ مَّا حُمِّلۡتُمۡ ؕ وَاِنۡ تُطِیۡعُوۡہُ تَہۡتَدُوۡا ؕ وَمَا عَلَی الرَّسُوۡلِ اِلَّا الۡبَلٰغُ الۡمُبِیۡنُ ﴿۵۵﴾
وَعَدَ اللّٰہُ الَّذِیۡنَ اٰمَنُوۡا مِنۡکُمۡ وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ لَیَسۡتَخۡلِفَنَّہُمۡ فِی الۡاَرۡضِ کَمَا اسۡتَخۡلَفَ الَّذِیۡنَ مِنۡ قَبۡلِہِمۡ ۪ وَلَیُمَکِّنَنَّ لَہُمۡ دِیۡنَہُمُ الَّذِی ارۡتَضٰی لَہُمۡ وَلَیُبَدِّلَنَّہُمۡ مِّنۡۢ بَعۡدِ خَوۡفِہِمۡ اَمۡنًا ؕ یَعۡبُدُوۡنَنِیۡ لَا یُشۡرِکُوۡنَ بِیۡ شَیۡئًا ؕ وَمَنۡ کَفَرَ بَعۡدَ ذٰلِکَ فَاُولٰٓئِکَ ہُمُ الۡفٰسِقُوۡنَ ﴿۵۶﴾
وَاَقِیۡمُوا الصَّلٰوۃَ وَاٰتُوا الزَّکٰوۃَ وَاَطِیۡعُوا الرَّسُوۡلَ لَعَلَّکُمۡ تُرۡحَمُوۡنَ ﴿۵۷﴾
Dengan karunia Allah Taala, telah berlalu 117 tahun sejak nizam Khilafat didirikan dalam Jemaat Ahmadiyah. Sistem ini didirikan pada tahun 1908 dan didirikan sesuai dengan janji-janji Allah Taala dan nubuatan-nubuatan Rasulullah saw..
Jadi, ini merupakan ihsan yang sangat besar dari Allah Taala kepada Jemaat Ahmadiyah bahwa kita adalah bagian dari suatu nizam yang telah dinubuatkan oleh Allah Taala bahwa setelah kedatangan Al-Masih dan Al-Mahdi akan dimulai suatu era yang merupakan era kebangkitan kembali Islam, dan kemudian dalam nizam ini juga akan dimulai era Khilafat yang tentangnya Rasulullah saw. telah menubuatkan dengan sangat jelas. Nubuatan Rasulullah saw. yang disebutkan dalam hadis adalah bahwa beliau saw. bersabda: “Kenabian akan tetap ada di antara kalian selama Allah menghendaki, kemudian Dia akan mengangkatnya. Lalu akan berdiri Khilāfah ‘alā minhājin-nubuwwah. Kemudian ketika Allah berkehendak, Dia akan mengangkat nikmat ini juga. Lalu sesuai dengan takdir-Nya akan berdiri kerajaan yang kejam. Ketika era ini berakhir, maka akan berdiri kerajaan yang lebih zalim lagi selama Allah Taala menghendaki. Kemudian Allah Taala akan mengangkatnya juga. Setelah itu akan berdiri kembali Khilāfah ‘alā minhājin-nubuwwah.” Setelah bersabda demikian, beliau saw. terdiam.
Jadi, inilah nubuatan Rasulullah saw., yang sesuai dengan itu, berkat karunia Allah Taala, setelah diutusnya Hazrat Masih Mau’ud a.s., dimulailah era baru kebangkitan kembali Islam dan setelah wafatnya beliau a.s., era Khilafat juga dimulai. Ayat yang saya bacakan tadi terjemahannya adalah:
Dan mereka bersumpah dengan nama Allah dengan sumpah mereka yang sebenar-benarnya, bahwa jika engkau perintahkan kepada mereka, niscaya mereka akan keluar segera. Katakanlah, “Janganlah bersumpah; apa yang dituntut dari kamu adalah ketaatan kepada yang apa yang benar. Sesungguhnya Allah Mahawaspada atas apa yang kamu kerjakan. (An-Nahl: 39)
Katakanlah, “Taatlah kepada Allah, dan taatlah kepada Rasul ini.” Maka jika kamu berpaling, maka ia bertanggungjawab tentang apa yang dibebankan kepadanya, dan kamu bertanggungjawab tentang apa yang dibebankan kepadamu. Dan jika kamu taat kepadanya, kamu akan mendapat petunjuk. Dan bukanlah kewajiban Rasul melainkan menyampaikan secara jelas.
Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dari antara kamu dan berbuat amal saleh, bahwa Dia pasti akan menjadikan mereka itu khalifah di bumi ini, sebagaimana Dia telah menjadikan khalifah orang-orang yang sebelum mereka; dan Dia pasti akan meneguhkan bagi mereka agama mereka, yang telah Dia ridai bagi mereka; dan pasti Dia akan memberi mereka keamanan dan kedamaian sebagai pengganti sesudah ketakutan mencekam mereka. Mereka akan menyembah Aku, dan mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu dengan Aku. Dan barangsiapa ingkar sesudah itu, mereka itulah orang-orang durhaka.
Dan dirikanlah shalat, dan bayarlah zakat, dan taatlah kepada Rasul itu supaya kamu mendapat rahmat. (An-Nūr: 55-57)
Maka jelas dari ayat-ayat ini bahwa Allah Taala telah berjanji kepada umat Islam bahwa nizam khilafat akan ditegakkan di antara mereka. Masa Khulafaur Rasyidin berlangsung selama 30 tahun.
Namun, janji Allah Taala bukanlah hanya untuk 30 tahun, melainkan ini adalah janji yang lengkap dan penjelasannya juga telah diberikan oleh Rasulullah saw.. Sebagaimana saya telah membaca hadis yang menyatakan bahwa Khilāfah ‘alā minhājin-nubuwwah (kekhilafahan di atas manhaj kenabian) akan ada, kemudian kerajaan, lalu kerajaan yang zalim, kemudian Khilāfah ‘alā minhājin-nubuwwah dan ini akan ditegakkan pada zaman Masih Mau’ud.
Maka hal ini harus diingat oleh kita para Ahmadi bahwa dengan menerima Hazrat Masih Mau’ud a.s., kita telah membuat perjanjian untuk mengamalkan perintah-perintah Allah Taala dan salah satu syarat perjanjian ini adalah bahwa kita akan selalu terikat dengan khilafat. Ke arah inilah Allah Taala telah mengarahkan perhatian kita, bahkan memberikan nasihat, dan mengenai hal ini terdapat sabda Rasulullah saw. Maka selama kita tetap terikat dengan khilafat, kita akan terus mewarisi karunia-karunia Allah Taala, namun untuk ini pun ada syarat-syaratnya sebagaimana yang difirmankan Allah Taala dalam ayat-ayat tersebut. Maka memenuhi syarat-syarat ini juga penting bagi kita.
Sebelum menjelaskan hal-hal tersebut, saya akan membacakan pernyataan Hazrat Masih Mau’ud a.s. mengenai keberlangsungan khilafat. Beliau a.s. bersabda dalam risalah Al-Wasiyyat:
Allah Taala menampakkan dua macam kodrat. Pertama, Dia menunjukkan tangan Kodrat-Nya melalui para nabi sendiri. Kedua, pada masa ketika setelah kewafatan seorang nabi muncul kesulitan-kesulitan dan musuh-musuh tengah berusaha sekuat tenaga sehingga menyangka bahwa kini segala urusan telah kacau balau dan mereka yakin bahwa sekarang jemaat ini akan hancur, dan anggota jemaat sendiri pun jatuh dalam keraguan dan patah semangat, dan banyak yang orang-orang malang memilih jalan kemurtadan, maka Allah Taala untuk kedua kalinya menampakkan kodrat-Nya yang dahsyat dan menopang kembali jemaat yang hampir jatuh itu. Maka mereka yang bersabar hingga akhir akan menyaksikan mukjizat Allah Taala ini, sebagaimana yang terjadi pada masa Hazrat Abu Bakar Siddiq r.a., ketika kewafatan Rasulullah saw. dianggap sebagai kewafatan yang tidak tepat pada waktunya, sehingga banyak orang Arab pedalaman pun yang lugu pun menjadi murtad. Yaitu orang-orang yang buta huruf dan bodoh yang tinggal di kampung-kampung menjadi murtad. Para sahabat pun menjadi seperti orang gila karena diliputi kesedihan. Kemudian Allah Taala mengangkat Hazrat Abu Bakar Siddiq r.a. dan sekali lagi menunjukkan contoh Kodrat kekuasaan-Nya, serta menyelamatkan Islam yang hampir hancur itu, dan memenuhi janji-Nya yang Dia firmankan:
وَلَیُمَکِّنَنَّ لَہُمۡ دِیۡنَہُمُ الَّذِی ارۡتَضٰی لَہُمۡ وَلَیُبَدِّلَنَّہُمۡ مِّنۡۢ بَعۡدِ خَوۡفِہِمۡ اَمۡنًا
Dan Dia pasti akan meneguhkan bagi mereka agama mereka yang telah Dia ridai bagi mereka. Dan pasti Dia akan memberi mereka keamanan dan kedamaian sebagai pengganti sesudah ketakutan mencekam mereka.
Yakni, setelah ketakutan, Kami akan mengokohkan kaki mereka kembali. Hal yang sama terjadi pada masa Nabi Musa a.s., ketika Nabi Musa a.s. wafat di jalan menuju Mesir dan Kanaan sebelum membawa Bani Israil ke tempat tujuan yang dijanjikan, dan kewafatannya menimbulkan kedukaan besar di kalangan Bani Israil.”
Kemudian Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda: “Wahai Sahabatku yang tercinta, karena sejak dahulu sunatullah adalah bahwa Allah Taala menunjukkan dua kodrat untuk menghancurkan dua kegembiraan palsu para penentang, maka sekarang tidak mungkin Allah Taala meninggalkan sunatullah-Nya yang sudah ada sejak lama. Oleh karena itu, janganlah kalian bersedih atas perkataanku yang telah kusampaikan kepadamu. Janganlah hatimu gelisah, karena bagimu perlu juga melihat kodrat yang kedua, dan kedatangannya adalah lebih baik bagimu karena ia bersifat kekal.” Di sini pun Hazrat Masih Mau’ud a.s. telah menunjukkan adanya suatu kodrat yang kekal sesuai dengan hadis tersebut, yang rangkaiannya tidak akan terputus hingga hari kiamat.
Kemudian Beliau a.s. bersabda: “Dan kodrat kedua tidak dapat datang selama aku belum pergi. Tetapi ketika aku telah pergi, maka Allah akan mengirimkan kodrat kedua itu untukmu, yang akan senantiasa tinggal bersamamu, sebagaimana janji Allah dalam Barahin-e-Ahmadiyya, dan janji itu bukan berkaitan dengan diriku, melainkan berkaitan denganmu. Sebagaimana Allah Taala berfirman, “Aku akan memberikan kemenangan kepada jemaat ini yang merupakan pengikutmu atas orang-orang lain hingga hari kiamat”, maka sudah pasti bahwa hari perpisahan denganku itu akan datang kepadamu, agar setelah itu datang hari yang merupakan hari janji yang abadi. Tuhan kita adalah Tuhan yang benar dalam janji-janji-Nya, setia, dan jujur. Dia akan memperlihatkan kepadamu segala sesuatu yang telah Dia janjikan. Meskipun itu adalah hari-hari terakhir dunia dan banyak bala bencana yang akan turun saat waktunya tiba, namun dunia ini harus tetap ada sampai semua hal yang telah diberitahukan oleh Allah itu terpenuhi. Aku telah zahir dari Allah dalam wujud kodrat Tuhan, dan aku adalah suatu perwujudan kodrat Tuhan yang berjasad, dan setelahku akan ada beberapa wujud lain yang akan menjadi perwujudan kodrat kedua. Maka dari itu berkumpullah kalian dan berdoalah dalam menantikan kodrat kedua dari Allah, dan hendaklah setiap jemaat orang-orang saleh di setiap negeri berkumpul dan terus berdoa agar kodrat kedua turun dari langit dan memperlihatkan kepadamu bahwa Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Kuasa.”
Sekarang, di sini Hazrat Masih Mau’ud a.s. juga bersabda bahwa berkumpullah dan teruslah berdoa dalam menantikan kodrat kedua, dan hendaknya jamaah orang-orang saleh di setiap negeri berkumpul dan berdoa.
Pada saat beliau a.s. menyampaikan sabda ini, Jemaat Ahmadiyah hanya ada di India atau Hindustan, dan mungkin ada segelintir orang di luar negeri. Namun, beliau a.s. juga memberikan nubuatan ini dalam satu corak bahwa di setiap negara mereka akan terus berdoa, seolah-olah di masa depan akan datang suatu zaman ketika Jemaat Ahmadiyah akan tersebar ke seluruh dunia. Maka saat ini kita menyaksikan zaman ketika Jemaat Ahmadiyah telah tersebar di seluruh dunia, dan di mana-mana kita melihat hubungan kesetiaan dan kecintaan terhadap Khilafat, yang hal ini juga ada pada diri mereka yang tinggal di negara-negara yang jauh. Dalam pemilihan Khalifah Kelima pun, Anda telah melihat bagaimana para Ahmadi yang tersebar di seluruh dunia berkumpul bersama dan berjanji untuk tetap menjalin hubungan erat dengan nizam Khilafat dan melakukan baiat. Bai’at ini, insyaallah, akan terus berlanjut di masa depan, orang-orang akan terus melakukannya, dan sesuai dengan itu, Allah Taala akan terus menganugerahi kita dengan karunia-Nya, karena ini adalah janji Allah Taala. Ini adalah nubuatan Rasulullah saw.. Ini juga merupakan pesan kabar gembira dari Hazrat Masih Mau’ud a.s. kepada kita setelah menerima kabar dari Allah Taala. Oleh karena itu, kita harus tetap menjalin hubungan erat dengan Khilafat dan siap untuk setiap pengorbanan demi menegakkan Nizam Khilafat. Jika kita terus melakukan hal ini, maka hingga hari kiamat kita akan tetap terikat dengan Khilafat, generasi-generasi kita akan tetap terikat, dan kita akan terus menerima keberkatannya.
Beberapa orang berpikir bahwa mungkin Khilafat dalam Jemaat Ahmadiyah juga akan berubah menjadi kerajaan. Akan tetapi, telah ada janji ini dari Allah Taala, serta nubuatan Rasulullah saw., dan hadis yang telah saya sampaikan menyatakan hal yang sama. Demikian pula Hazrat Masih Mau’ud a.s. juga telah menyatakan bahwa Kekhalifahan Jemaat Ahmadiyah, insyaallah, akan tetap menjadi Khilafah rohani dan rangkaian khilafah ini akan berlanjut hingga hari kiamat, dan tidak akan ada masa di mana dikatakan bahwa mungkin ada suatu kerajaan yang muncul. Beberapa orang yang suka menimbulkan fitnah mulai mengatakan bahwa kerajaan telah muncul dalam Jemaat Ahmadiyah. Ini tidak akan pernah terjadi. Ini adalah janji Allah Taala. Insyaallah, khilafat rohani akan selalu tegak. Allah Taala telah berjanji bahwa khilafat akan berdiri tegak di antara kalian seperti halnya khilafat yang telah berdiri di antara orang-orang yang telah berlalu, dan khilafat itu bukanlah khilafat kerajaan melainkan khilafat rohani yang Allah Taala telah berikan contohnya. Dalam Al-Qur’an, disebutkan sejarah para nabi, darinya kita mengetahui bahwa ada nizam khilafat yang Allah Taala turunkan secara langsung. Namun ada suatu nizam lain yang Allah Taala ciptakan yang dimulai dari masa Khulafaur Rasyidin dan terus berlanjut hingga sekarang.
Suatu kali Hazrat Mirza Bashir Ahmad r.a. juga menulis sebuah artikel tentang topik ini. Beliau berpendapat bahwa mungkin akan datang suatu masa di mana sistem kerajaan akan muncul. Ketika Hazrat Muslih Mau’ud r.a. mengetahui hal ini, beliau dengan sangat tegas menolaknya dan membantahnya. Beliau bersabda bahwa sistem kerajaan tidak akan pernah muncul dalam Jemaat Ahmadiyah selama kerohanian dan ketakwaan masih ada, insyaallah, dan ini akan terus ada. Allah Taala telah berjanji kepada Hazrat Masih Mau’ud a.s., sebagaimana yang beliau as. sendiri sabdakan bahwa selama janji-janji itu belum terpenuhi, tidak akan ada suatu sistem dalam Jemaat Ahmadiyah yang dapat membahayakan atau merugikan khilafat beliau. Hazrat Mirza Bashir Ahmad r.a. memiliki pemahaman yang mendalam tentang kedudukan khilafat dan terikat dengan khilafat dengan kesetiaan yang sempurna. Oleh karena itu, tidak perlu ditanya lagi bahwa apakah setelah itu beliau masih memiliki pendapat sendiri. Bahkan, beliau sering mengatakan bahwa jika dalam suatu masalah beliau memiliki pendapat dan Khalifatul Masih memutuskan sebaliknya atau memiliki pendapat yang berbeda, maka tidak akan pernah terlintas dalam pikiran beliau bahwa beliau pernah memiliki pendapat itu. Inilah kesetiaan yang merupakan kesetiaan yang sempurna.
Bagaimanapun, dari sudut pandang ini juga, kita harus memiliki keyakinan penuh pada janji-janji Allah Taala bahwa nizam khilafat yang ada ini, dengan karunia Allah Taala, adalah nizam yang didirikan sesuai dengan kehendak Allah Taala dan akan terus berjalan sesuai dengan itu, dan tidak akan ada suatu corak kerajaan duniawi yang akan masuk ke dalamnya. Khalifatul Masih adalah wujud yang bangun di malam hari dan mendoakan segenap anggota Jemaat dalam salat-salatnya. Apakah ada raja yang melakukan hal seperti ini?.
Jadi, jika kita mengingat hal ini dan melakukan amalan sesuai dengannya, barulah kita bisa berhasil. Allah Taala telah berjanji bahwa ini akan diberikan kepada mereka yang menaati Allah dan Rasul-Nya. Jadi selama di antara kita ada orang-orang yang terus menaati perintah Allah dan Rasul-Nya, kita akan terus mendapatkan bagian dari janji ini. Mereka juga akan terus mendapatkan bagian, jika tidak, maka orang-orang seperti itu akan terpisah. Akan tetapi janji Ilahi Insyaallah tidak akan pernah gagal. Allah Taala telah berfirman:
وَاِنْ ﺗُﻄِﯿﻌُﻮهُ ﺗَﮭْﺘَﺪُوْا
yakni jika kalian menaati-Nya, kalian akan meraih petunjuk, dan akan terus mendapat petunjuk. Kemudian Allah Taala berfirman:
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
yakni Allah Taala telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan mengerjakan amal saleh. Standar iman dan amal saleh telah dijelaskan di ayat yang pertama. Letakkan simbol ketaatan sempurna di leher kalian, barulah seorang akan disebut mukmin sejati, barulah akan timbul perhatian untuk melakukan amal-amal saleh dan akan timbul perhatian untuk terus meningkat di dalamnya. Maka ketika standar ini tercapai, kita akan terus mendapatkan karunia dari nikmat khilafat. Jadi, Allah Taala telah memberikan nasihat ini kepada kita demi keberlangsungan khilafat dan untuk mendapatkan keberkatan darinya, bahwa mereka yang akan menjalin hubungan erat dengan khilafat ini haruslah menaati Allah dan Rasul-Nya dan bertindak sesuai dengan perintah-perintah-Nya.
Sekarang mari kita lihat di kalangan umat Islam. Sejarah memberitahu kita, dan sesuai dengan hadits Rasulullah saw., kita melihat bahwa khilafat sejati, yaitu Khilafat Rasyidah, tetap berdiri di tengah umat Islam selama mereka terus meletakkan simbol ketaatan di leher mereka. Ketika mereka keluar dari ketaatan, mereka juga luput dari karunia khilafat. Maka dari itu, hal ini harus selalu diingat bahwa jika seseorang ingin mendapatkan keberkatan dengan bergabung di dalam Jemaat Ahmadiyah, maka menjadi kewajiban setiap Ahmadi untuk menjalin hubungan erat dengan khilafat, dan menjadi kewajiban setiap ahmadi untuk menaati khilafat dengan sempurna, mengamalkan perintah-perintah Khalifatul Masih, dan memiliki hubungan kesetiaan dengannya. Hanya dengan demikian ia akan mendapat petunjuk dan akan terus mendapatkan keberkatan yang Allah Taala telah tetapkan sebagai keharusan bagi orang yang secara hakiki beriman dan menjalin hubungan erat dengan khilafat.
Nizam khilafat dari Allah Taala ini adalah suatu sistem di mana Allah Taala sendiri yang membolak-balikkan hati manusia. Inilah dukungan dan pertolongan Ilahi, dan kita telah senantiasa melihatnya di setiap masa kekhilafatan. Ketika Khalifatul Masih I, Hazrat Maulana Nuruddin r.a., diangkat pada kedudukan khalifah, beliau juga mendapat dukungan khas dari Allah Taala dan orang-orang berbaiat kepada beliau. Di masa Hazrat Khalifatul Masih II r.a. pun kita melihat bahwa meskipun ada fitnah dan kekacauan, dukungan Allah Taala menyertai beliau dan dukungan ini memenuhi janji-janji Hazrat Masih Mau’ud as., sehingga kemudian Jemaat Ahmadiyah pun bersatu di bawah satu tangan dan orang-orang yang menentang sistem khilafat atau menentang keberlangsungan khilafat pun menjadi terpisah dan mereka tidak lagi memiliki nilai apa pun. Lalu di masa Khilafat Ketiga pun kita melihat bagaimana segenap orang bersatu di bawah satu tangan. Kemudian di masa Khilafat Keempat kita melihat bagaimana semua orang bersatu dan tidak ada suatu kejahatan apa pun yang dapat mencerai-beraikan mereka. Dan di masa Khilafat Kelima pun, sebagaimana telah saya jelaskan beberapa kali sebelumnya bahwa bagaimana semua orang pun telah bersatu. Ini adalah suatu contoh yang tidak ada bandingannya, di mana orang-orang dari negara-negara yang jauh berkumpul dan menunjukkan hubungan kesetiaan yang juga tidak ada bandingannya.
Sekarang lihatlah di dunia saat ini bahwa hanya Jemaat Ahmadiyahlah yang saling terjalin dalam satu sistem, dan dengan karunia Allah Taala, karena tetap terikat dengan Jemaat dan Khilafat, mereka mendapatkan banyak karunia dari Allah Taala. Memang benar bahwa musuh-musuh sedang melancarkan berbagai kezaliman yang tak terhitung jumlahnya terhadap Jemaat Ahmadiyah, terutama di Pakistan dan beberapa negara lainnya, tetapi dengan karunia Allah Taala, semua tetap teguh dalam keimanan mereka dan tetap yakin bahwa kesulitan-kesulitan ini tidak akan dapat menjauhkan kita dari keyakinan kita. Sebagai gantinya, Allah Taala mencurahkan hujan karunia-Nya yang tidak ada bandingannya kepada kita dan keturunan kita. Lihatlah di Pakistan, meskipun ada kesulitan yang menimpa Jemaat di tahun 1974, Jemaat terus berkembang dan menyebar ke seluruh dunia. Pada tahun 1984, undang-undang yang disahkan untuk menentang Jemaat tidak menimbulkan hambatan apa pun dalam kemajuan Jemaat. Meskipun Khalifah saat itu terpaksa meninggalkan markaz Jemaat di Rabwah Pakistan, hal ini tidak menghambat kemajuan Jemaat. Sebaliknya, dengan keluar dari sana, kita menyaksikan curahan hujan karunia Allah Taala dalam suatu era baru yang gemilang di bawah naungan Khilafat. Dan selama masa Khilafat Keempat, kita menyaksikan bagaimana Jemaat terus berkembang.
Demikian pula sekarang, kita melihat Jemaat terus melangkah di jalan kemajuan, meskipun musuh telah melakukan kezaliman yang luar biasa. Saat ini kita menyaksikan, terutama setelah tahun 2010, ketika para penentang menyerang masjid-masjid kita secara besar-besaran dan mensyahidkan para Ahmadi, sejak saat itu syahid-syahid terus berguguran dari waktu ke waktu, kadang banyak kadang sedikit. Selama masa Khilafat Kelima, tak terhitung jumlah syahid yang telah jatuh. Namun, meskipun demikian, Allah Taala tidak membiarkan keimanan para Ahmadi menjadi goyah. Ini semata karunia Allah bahwa keimanan para Ahmadi semakin meningkat, dan bukan hanya mereka tetap teguh dalam keimanan mereka, tetapi mereka juga semakin kuat dalam keimanan mereka. Memang benar, beberapa orang memiliki iman yang lemah dan mungkin ada yang mundur, tetapi mayoritas tetap teguh dalam keimanan mereka dan Allah Taala terus memberkati mereka. Allah Taala memberkati mereka dengan berbagai cara. Mereka mendapatkan kesempatan untuk keluar, dan seiring dengan ini Allah Taala pun memberkati mereka dengan kemajuan duniawi. Demikian pula, kita melihat di dunia ini bahwa Jemaat Ahmadiyah terus menyebar secara luas di berbagai negara. Ini adalah janji Allah Taala dengan Khilafat, yang hasilnya terlihat hari ini bahwa kita telah mendirikan nizam Jemaat Ahmadiyah di 213 atau 214 negeri, dan dengan karunia Allah Taala, tengah terbentuk sebuah jemaat yang terdiri dari orang-orang yang mukhlis. Bahkan para Ahmadi yang tinggal di tempat-tempat yang terpencil pun memiliki hubungan yang luar biasa dengan Khilafat.
Saya telah menyampaikan sebelumnya dan terus menyebutkan banyak kejadian tentang bagaimana orang-orang dari daerah terpencil di Afrika, para penduduk desa, mereka memiliki hubungan dengan Khilafat, mereka tetap teguh dalam keimanan mereka meskipun mengalami kehilangan. Sekarang di Burkina Faso, di tempat bernama Dori, di mana delapan atau sembilan Ahmadi telah disyahidkan, mereka tetap teguh dalam keimanan mereka dan telah mengorbankan nyawa mereka.
Keturunan dan anak-anak mereka tetap teguh dalam keimanan dan berkata, “Kami beriman kepada Hazrat Masih Mau’ud a.s. dengan cara yang sama seperti halnya para syuhada kami beriman dan mengorbankan nyawa mereka, dan kami juga siap untuk berkorban. Kami siap untuk setiap pengorbanan demi Khilafat dan untuk menegakkan nizam Khilafat.” Mereka mengirimkan pesan-pesan penuh kecintaan kepada saya yang begitu menakjubkan. Orang-orang yang tinggal di tempat yang jauh ini, yang kadang-kadang kita anggap tuna aksara, juga memiliki semangat keimanan yang sedemikian rupa sehingga kata-kata mereka, semangat mereka, kecintaan mereka, dan kasih sayang mereka terhadap Khilafat adalah sesuatu yang tak dapat terlukiskan dan tak tertandingi. Jadi, ini adalah karunia Allah Taala bahwa demi keberlangsungan Nizam Khilafat Ahmadiyah yang abadi ini, yang Allah Taala telah janjikan akan berlangsung selamanya, Tuhan terus mengisi hati segenap Ahmadi dengan keimanan.
Saya pernah pergi ke sebuah negara di Afrika. Ada seorang pria yang cacat, yang lengannya tidak berfungsi dengan baik, memberi salam kepada saya dan memeluk saya dengan begitu erat sehingga terasa seolah-olah tangan saya terikat dalam pelukannya. Ia menunjukkan kasih sayang yang begitu besar sehingga saya terkejut betapa besar kecintannya, padahal kami belum pernah bertemu sebelumnya. Ini hanyalah kecintaan terhadap Khilafat. Melihat hal ini, orang-orang sekitar mulai berlinang air mata. Ia belum pernah bertemu sebelumnya, tidak ada hubungan apa pun, namun memeluk dan menangis sedemikian rupa, dan sangat mengherankan bagaimana Allah Taala telah menanamkan kecintaan terhadap Khilafat dalam hati mereka. Mereka berjanji, “Kami siap untuk setiap pengorbanan demi menegakkan Khilafat Ahmadiyah. Ini bukan hanya janji kami, tetapi kami akan membuktikannya dengan tindakan nyata.”
Setiap tahun, tak terhingga orang-orang yang menulis surat kepada saya, dan banyak sekali surat-surat yang isinya mengungkapkan rasa kecintaan mereka, mulai dari anak-anak kecil hingga para wanita, pemuda, dan orang tua. Pemandangan kasih sayang seperti itu membuat orang takjub bagaimana Allah Taala telah menanamkan kecintaan terhadap Khilafat, Jemaat, dan Hazrat Masih Mau’ud a.s. dalam hati mereka, dan betapa besar rasa perih di hati mereka demi kemajuan Islam. Inilah hal yang telah Allah Taala tegakkan melalui Khilafat Ahmadiyah, dan untuk menjaganya tetap berlanjut, Allah Taala berfirman kepada kita, jika kalian tetap teguh diatasnya, jika kalian tetap teguh dalam kebaikan dan menjaga amal perbuatan kita tetap baik, maka kita akan terus mendapatkan keberkatan darinya. Allah Taala juga berfirman dalam ayat-ayat ini bahwa mereka yang maju dalam keimanan adalah mereka yang tidak pernah melakukan syirik. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk selalu menghindari segala bentuk syirik.
Beberapa hari yang lalu, saya menyampaikan pidato di Majlis Syura Inggris. Di dalamnya saya juga menyampaikan hal yang sama. Saya menerangkan dengan mengutip berbagai rujukan dari sabda Hazrat Muslih Mau’ud r.a. bahwa jika kita memiliki sifat keakuan, jika kita memiliki ketakaburan – baik itu dalam diri seorang pengurus atau anggota mana pun, bukan hanya ditujukan kepada pengurus, tetapi juga setiap Ahmadi – maka ada unsur syirik dalam diri kita. Jadi, jika kita ingin benar-benar mendapatkan manfaat dari Khilafat dan benar-benar menjadi pewaris karunia Allah Taala, maka kita harus membebaskan diri kita dari segala jenis syirik, keakuan, dan ketakaburan. Kita harus mensucikan diri kita dari hal-hal tersebut. Hanya dengan cara inilah para pengurus dan para pengkhidmat dapat menjadi wujud yang bermanfaat dan berguna bagi Jemaat ; yaitu ketika sifat keakuan mereka lenyap, ketika ketakaburan mereka sudah tidak ada, dan ketika mereka bekerja semata-mata lillāh, demi meraih keridhaan Allah Taala.
Kemudian Allah Taala berfirman bahwa mereka ini adalah orang-orang yang mendirikan salat dan menunaikan zakat. Lalu Dia berfirman bahwa mereka adalah orang-orang yang menaati Allah Taala dan Rasul-Nya dengan ketaatan yang sempurna, dan mereka adalah orang-orang yang Allah Taala akan menyayangi mereka. Maka sekarang, untuk memperoleh manfaat dari rangkaian karunia yang telah Allah Taala mulai melalui Hazrat Masih Mau’ud a.s., yaitu rangkaian karunia Khilafat, setiap Ahmadi harus mengingat perintah Allah Taala ini bahwa janji-Nya untuk melanjutkan karunia Khilafat atau untuk memperoleh manfaat dari Khilafat adalah bagi mereka yang menaati dengan ketaatan yang sempurna. Selalu ingatlah untuk beribadah kepada Allah Taala, karena orang-orang yang menaati Allah Taala dengan sempurna adalah mereka yang selalu mengingat Allah Taala dan beribadah kepada-Nya, dan untuk beribadah, seperti yang kita ketahui, Allah Taala telah berulang kali memerintahkan kita untuk mendirikan salat. Maka mendirikan shalat adalah hal yang sangat penting. Untuk itu, setiap Ahmadi yang menganggap bahwa ia menjalin hubungan erat dengan Khilafat, atau yang ingin menjalin hubungan erat dengannya, dan ingin memperoleh keberkatan darinya, harus mengingat bahwa kita harus memberikan perhatian penuh pada penegakan shalat.
Hazrat Muslih Mau’ud r.a., dalam menjelaskan tentang mendirikan salat, di suatu tempat dengan sangat indah bersabda, “Bagian terbaik dari salat adalah salat Jumat, di mana imam menyampaikan khotbah dan memberikan nasihat, dan sosok Khalifah pada masa itu, dengan memperhatikan keadaan dunia, memberikan nasihat dengan mempertimbangkan kebutuhan berbagai bangsa di dunia yang muncul dari waktu ke waktu, yang darinya timbul persatuan dan kesatuan jemaat. Sosok khalifah itu menetapkan kiblat yang sama bagi semua orang.”
Hari ini kita melihat gambaran sebenarnya dari hal ini di hadapan kita. Saat ini, melalui MTA, Allah Taala telah menciptakan suatu sistem di mana khotbah Khalifah dapat didengar dan disaksikan di setiap negara, setiap wilayah, setiap kota, dan setiap desa di dunia. Bukan hanya itu, apa yang disampaikan oleh Khalifatul Masih tidak hanya ditujukan kepada orang-orang yang duduk di hadapannya, tetapi saya menerima banyak surat dari Afrika, Turki, negara-negara Rusia, yang mengatakan bahwa apa yang saya sampaikan tampaknya sesuai dengan keadaan mereka dan mendengarkannya membuat mereka terdorong untuk melakukan perbaikan diri, dan mereka merasakan bahwa Nizam Khilafat benar-benar merupakan sistem yang telah menyatukan mereka menjadi satu kesatuan.
Jadi, anggapan bahwa apa yang disampaikan hanyalah untuk orang-orang yang berpola pikir Pakistan atau untuk beberapa orang di Eropa, ini tidaklah benar, melainkan saya mengetahui dari surat-surat bahwa di setiap sudut dunia, di setiap negara, ada peristiwa-peristiwa yang memiliki kesamaan, dan karena itu orang-orang mendapat kesempatan untuk melakukan islah diri. Saat ini saya sedang membahas sejarah Islam. Saya sedang menyampaikan hal-hal tentang kisah kehidupan Hazrat Rasulullah saw. dan di dalamnya juga terdapat banyak hal yang merupakan nasihat bagi kita, dan orang-orang pun mendapatkan manfaat besar darinya. Dengan ini, mereka juga dapat mempelajari tentang sejarah Islam, mempelajari tentang dasar-dasar Islam, dan dengan ini mereka juga mempelajari tentang kehidupan para sahabat. Dalam konteks ini juga mereka mempelajari tentang uswah hasanah Nabi Muhammad saw. dalam berbagai keadaan. Ada juga beberapa hal yang bermanfaat bagi perbaikan diri mereka sendiri dan mereka mendapat manfaat darinya, dan orang-orang juga mengungkapkan hal ini.
Jadi, khilafat inilah sarana yang telah Allah Taala ciptakan di tengah-tengah kita, yang melaluinya telah tercipta kesatuan dalam Jemaat Ahmadiyah, dan setiap Ahmadi yang tinggal di 215 negeri di dunia saling terhubung dengan nizam ini sebagai satu kesatuan, dan berusaha untuk mengadakan perbaikan diri. Allah Taala juga telah memerintahkan untuk membayar zakat, ini juga sangat penting untuk penyucian harta. Hal ini diperlukan untuk mensucikan harta, dan di dalamnya juga termasuk pengorbanan-pengorbanan harta lainnya. Saat ini, kita melihat bahwa hanya melalui Jemaat Ahmadiyahlah sistem keuangan ini berjalan, dan dalam ketaatan kepada Khalifatul Masih, kebutuhan anggota Jemaat dan Jemaat-jemaat di dunia terpenuhi melalui pemberian candah. Jika ada kekurangan di satu negara, maka kekurangan itu dipenuhi melalui negara lain. Di Afrika, meskipun para Ahmadi melakukan pengorbanan yang besar, namun keadaan mereka adalah sedemikian rupa sehingga pengeluaran mereka jauh lebih besar daripada penerimaan mereka. Oleh karena itu, uang harus dikirim ke sana dari negara-negara luar, dan melalui inilah maka sistem sekolah, rumah sakit, rumah misi, dan masjid di sana bisa berjalan. Orang-orang di sana juga sangat bersyukur bagaimana Allah Taala telah memberi mereka taufik untuk mengambil manfaat dengan menempatkan mereka dalam satu nizam. Para penentang pun sampai ke negara-negara itu, dan di beberapa tempat mereka mengatakan, “Tinggalkan Qadianiyah, tinggalkan Mirzaiyah atau Ahmadiyah. Orang-orang ini tidak bertindak sesuai ajaran Islam”. Namun para Ahmadi memberi jawaban kepada mereka, “Sampai sekarang kalian belum mengajarkan apa-apa kepada kami.” Ini jawaban kepada orang-orang non-Ahmadi yang datang kepada mereka, “Sekarang Jemaat Ahmadiyah telah datang. Mereka telah membangun masjid di kampung-kampung, desa-desa dan kota-kota kami. Mereka juga memperhatikan pendidikan kami. Mereka menyediakan fasilitas sekolah untuk kami. Mereka juga membangun rumah sakit untuk kami. Mereka mengajarkan agama kepada kami. Mereka mengajarkan Al-Qur’an kepada kami. Mereka mengajarkan terjemahan Al-Qur’an kepada kami. Kalian belum melakukan apa-apa sampai sekarang, dan hari ini kalian datang menentang mereka dan mengatakan bahwa mereka bukan Muslim. Jika mereka bukan Muslim, maka tidak ada seorang pun di dunia ini yang Muslim.” Inilah jawaban dari para mubai’in baru.
Jadi ini juga merupakan Nizam Khilafat yang tengah berjalan, yang melaluinya Allah Taala telah menumbuhkan semangat pengorbanan harta dalam hati segenap orang, dan melalui candah-candah dan zakat, kemudian melalui Nizam Khilafat, penggunaan yang tepat dan sebenarnya sedang dilakukan. Orang-orang miskin juga sedang diperhatikan, kebutuhan orang-orang yang membutuhkan juga dipenuhi, dan pekerjaan penyebaran Islam juga sedang dilakukan.
Bagaimanapun, seperti yang telah saya katakan sebelumnya, ada beberapa kondisi yang menyebabkan beberapa kesulitan muncul di beberapa tempat. Ada Bangladesh, beberapa negara Arab, negara-negara di Afrika, Pakistan, dan beberapa tempat lainnya. Di Palestina juga akhir-akhir ini, di sana ada beberapa orang Ahmadi, mereka berada dalam kesulitan besar. Secara umum, bahkan seluruh bangsa Palestina sedang menghadapi kesulitan dan mereka sedang mengalami kezaliman yang sangat kejam dan biadab. Semoga Allah Taala juga membebaskan mereka dari kezaliman yang sedang dilakukan terhadap orang-orang Palestina. Upaya para penindas adalah untuk melakukan genosida terhadap mereka secara total, dan mereka sedang melakukannya. Semoga Allah Taala menurunkan kasih sayang-Nya. Bagaimanapun juga, para Ahmadi, meskipun menyaksikan semua kesulitan ini, tetap bersyukur kepada Allah Taala bahwa mereka memiliki Nizam Khilafat yang memberikan mereka ketentraman dan juga berusaha memenuhi kebutuhan mereka.
Di dunia, kita melihat, seperti yang telah dinubuatkan oleh Hazrat Masih Mau’ud a.s., bahwa banyak peristiwa akan terjadi. Beberapa adalah bencana alam, sementara yang lain disebabkan oleh kesalahan manusia sendiri dan ego mereka. Dunia terjebak dalam kekacauan dan kerusuhan, yang menyebabkan peperangan dan kekacauan. Jika orang-orang ini masih tidak mengarahkan perhatian mereka kepada Allah Taala, maka kehancuran akan menimpa dunia, sebagaimana telah dinubuatkan berkali-kali oleh Hazrat Masih Mau’ud a.s..
Jadi, kewajiban mereka yang menjalin hubungan dengan Nizam Khilafat adalah untuk memberikan perhatian terhadap hal ini bahwa kita juga harus menyelamatkan dunia dari kehancuran. Ketika kita berjanji untuk menyelamatkan dunia dari kehancuran, maka kita juga akan berusaha untuk itu, dan usaha tersebut adalah melakukan segala upaya untuk membawa dunia kepada Allah Taala dan menggunakan semua sumber daya dan kemampuan kita semaksimal mungkin untuk menyampaikan pesan, serta selalu siap mengorbankan jiwa, harta, dan waktu untuk tujuan ini. Demikian pula, kita harus meningkatkan hubungan kita sendiri dengan Allah Taala sedemikian rupa sehingga karunia khas Allah Taala turun kepada setiap Ahmadi, dan karena karunia-karunia ini, kita menjadi orang yang mencapai kedekatan dengan Allah Taala. Ketika kita mencapai kedekatan, maka kita tidak hanya akan menyelamatkan dunia, tetapi juga akan menyelamatkan anak keturunan kita dan diri kita sendiri dari bencana. Karena bencana dan kehancuran ini terus mengambil corak yang semakin serius, dan di masa depan entah corak seperti apa yang akan terjadi yang bahkan tidak bisa dibayangkan oleh manusia.
Jadi, selalu ingatlah bahwa kelangsungan dunia sekarang bergantung pada hubungan dengan Khilafat Ahmadiyah. Khilafat Ahmadiyah adalah kelanjutan dari sistem ini dan kelanjutan dari janji yang telah Allah Taala berikan kepada Rasulullah saw. dan yang telah dinubuatkan oleh beliau saw., dan akan terus berlanjut dengan perantaraan Hazrat Masih Mau’ud a.s.. Jadi, Khilafat Ahmadiyah adalah mata rantai yang menghubungkan kepada Allah Taala dan merupakan mata rantai untuk menegakkan Nizam-Nya. Setiap Ahmadi harus berusaha untuk ini, dan ketika kita melakukannya, maka Allah Taala akan menjadikan kita orang-orang yang mewarisi karunia-Nya, dan karunia-karunia itu akan sedemikian rupa sehingga tidak ada yang lain di dunia yang bisa menerima karunia seperti itu.
Sekarang saya akan menyampaikan sebuah kutipan dari Hazrat Masih Mau’ud a.s. di akhir. Beliau a.s. bersabda:
“Janganlah berpikir bahwa Allah Taala akan menyia-nyiakan kalian. kalian adalah benih yang ditanam oleh tangan Allah di bumi. Allah Taala berfirman bahwa benih ini akan tumbuh dan berkembang, dan cabang-cabangnya akan menyebar ke segala arah, dan akan menjadi pohon yang besar. Maka berbahagialah orang yang beriman kepada firman Allah. Berbahagialah orang yang beriman kepada firman Allah dan tidak takut pada cobaan-cobaan yang datang di pertengahan jalan, karena datangnya cobaan-cobaan itu juga penting agar Allah menguji kalian untuk melihat siapa yang benar dalam pengakuan baiatnya dan siapa yang dusta. Barangsiapa yang tergelincir karena suatu cobaan, ia tidak akan merugikan Allah sedikit pun, dan kemalangan akan membawanya ke neraka. Seandainya ia tidak dilahirkan, itu lebih baik baginya. Namun orang-orang yang bersabar hingga akhir, dan guncangan berbagai musibah menimpa mereka, dan badai malapetaka melanda mereka, dan bangsa-bangsa menertawakan dan mengejek mereka, dan dunia memperlakukan mereka dengan kebencian yang keras, merekalah yang pada akhirnya akan menang, dan pintu-pintu keberkahan akan dibukakan bagi mereka.”
“Tuhan telah berfirman kepadaku supaya aku mengumumkan kepada jemaatku bahwa orang-orang yang beriman dengan keimanan yang tidak tercampur dengan keduniawian, dan keimanan yang tidak ternoda oleh kemunafikan atau sikap pengecut, dan keimanan yang tidak kekurangan dalam ketaatan pada tingkat apa pun, orang-orang seperti itulah yang disukai oleh Tuhan, dan Tuhan berfirman bahwa merekalah yang langkahnya adalah langkah penuh ketulusan.”
Maka, sebagaimana yang telah saya katakan, adalah karunia Allah Taala bahwa di setiap sudut dunia, di setiap negara, Allah Taala telah menyediakan orang-orang seperti itu untuk Jemaat Ahmadiyah, Hazrat Masih Mau’ud a.s. dan Khilafat Ahmadiyah, yang terus meningkatkan standar pengorbanan mereka, dan kita menyaksikan janji-janji yang Allah Taala berikan kepada Hazrat Masih Mau’ud a.s. terus terpenuhi.
Hazrat Masih Mau’ud a.s. telah bersabda, “Allah Taala telah berjanji kepadaku bahwa dunia ini tidak akan berakhir sampai Allah Taala memenuhi semua janji-Nya kepadaku, sebagian di masa hidupku dan sebagian setelahku,” yaitu sebagian di masa hidup Hazrat Masih Mau’ud a.s. dan sebagian setelahnya. Sampai hari ini kita melihat bahwa Allah Taala terus memenuhi janji-janji itu, dan mereka yang tetap terikat dengan Nizam Khilafat juga menyaksikannya dan insyaallah akan terus menyaksikannya di masa depan.
Maka, tugas kita masing-masing adalah untuk menjadi orang-orang yang menanamkan keagungan Allah dalam hati kita sendiri, dalam hati orang-orang di dunia, dan dalam hati anak keturunan kita, agar kita dapat mengambil bagian dari kabar gembira yang telah disampaikan kepada kita oleh Hazrat Masih Mau’ud a.s. setelah menerima kabar dari Allah Taala, dan untuk mendapatkan manfaat dari janji karunia Allah Taala. Kita harus menjadi orang-orang yang secara amalan menunjukkan ketauhidan Allah Taala. Kita harus memiliki simpati yang tulus terhadap umat manusia dan menjadi orang-orang yang membersihkan hati dari kebencian dan kedengkian. Hendaknya kita menjadi orang-orang yang melangkah di setiap jalan kebaikan. Hendaknya kita menjadi orang-orang yang menjaga keimanan kita. Hendaknya kita menjadi teladan ketaatan yang sempurna dan terus meningkat dalam keimanan agar langkah-langkah kita dihitung sebagai langkah-langkah yang tulus di sisi Allah Taala dan agar kita menjadi orang-orang yang memperoleh karunia dari janji-janji-Nya.
Semoga Allah Taala memberi kita taufik agar setiap individu di antara kita siap untuk melakukan segala pengorbanan demi menegakkan Khilafat Ahmadiyah, dan agar kita memenuhi janji yang kita buat pada berbagai kesempatan, sebagaimana juga janji badan-badan yang biasa diucapkan oleh para anggotanya. Semoga Allah Taala mewujudkan suatu masa dalam kehidupan kita ketika kita melihat bendera keesaan Allah Taala berkibar di mana-mana di dunia, dan orang-orang berbondong-bondong datang dalam penghambaan kepada Hazrat Rasulullah saw., serta berusaha untuk menjadi hamba-hamba Allah Taala yang taat sempurna. Ketika hal ini terjadi, maka saat itu akan menjadi hari kebahagiaan bagi kita. Itulah hari yang akan menjadi hari yang penuh berkah bagi kita ketika kita akan berkata bahwa kita sedang menikmati berkat-berkat dari janji Allah Taala tentang Khilafat. Hari-hari inilah yang akan menyelamatkan dunia dari kehancuran. Semoga Allah Taala memberi kita taufik untuk memperbaiki diri kita sendiri dan juga memberi kita taufik untuk menyampaikan pesan Allah Taala ke seluruh dunia.
Setelah salat, saya juga akan memimpin dua salat jenazah. Yang pertama adalah untuk Yang Terhormat Kolonel Dokter Pir Muhammad Munir Sahib. Beliau juga menjabat sebagai administrator Rumah Sakit Fazl-e-Umar Rabwah. Beliau wafat beberapa hari yang lalu pada usia 85 tahun. Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn. Dengan karunia Allah Taala, beliau adalah seorang musi. Pada tahun 1963, Dokter Sahib sendiri melakukan baiat dan bergabung dengan Jemaat. Setelah itu, pada tahun 1967, beliau berwasiat dan bergabung dengan nizam wasiat. Pada tahun 1991, setelah melihat amalan beliau, orang tua beliau juga mendapat taufik untuk baiat.
Kolonel Pir Muhammad Munir Sahib juga mendapat taufik untuk berkhidmat sebagai Naib Amir Distrik Multan setelah pensiun dari pekerjaannya. Pada tahun 2004, beliau pindah ke Rabwah dan kemudian melakukan Waqf-e-Zindegi setelah pensiun. Beliau ditugaskan di Rumah Sakit Fazl-e-Umar sebagai dokter umum dan memberikan pelayanan. Kemudian setelah beberapa waktu, beliau diangkat menjadi administrator Rumah Sakit Fazl-e-Umar. Dalam jabatan ini pun beliau melaksanakan tugas-tugasnya dengan penuh keikhlasan, kerja keras, dan kasih sayang selama kurun waktu 12 tahun. Pada tahun 2017, karena keadaan kesehatannya yang lemah, beliau dibebastugaskan dari jabatan administrator, tetapi beliau tetap berkhidmat di rumah sakit sebagai dokter dan bekerja di departemen THT. Pengkhidmatan beliau untuk Jemaat sebagai Waqaf Zindegi juga berlangsung selama 19 tahun.
Istri beliau, Ny. Amatul Malik, yang merupakan cucu perempuan dari Yang Terhormat Dokter Mir Muhammad Ismail Sahib, mengatakan, “Beliau adalah seorang ayah yang sangat penyayang, suami yang baik hati, dan menjaga hubungan kekeluargaan dengan seluruh keluarga. Beliau memiliki hubungan yang sangat erat dengan Jemaat dan Khilafat, dan selalu berusaha untuk memenuhi waqafnya dengan penuh kejujuran.”
Beliau mengatakan, “Saya telah menemani beliau selama 60 tahun. Beliau memiliki karakter yang sangat lembut dan sangat perhatian terhadap semua orang. Beliau selalu memperhatikan orang tua saya, saudara-saudara saya, dan orang tua beliau sendiri dengan setara. Kemanusiaan adalah hal yang paling utama bagi beliau. Ketika beliau pulang terlambat dari tugas dan saya bertanya, beliau selalu menjawab, ‘Pekerjaan orang lain berkaitan dengan berkas-berkas, mereka bisa menghentikannya kapan saja, tetapi pekerjaan saya berhubungan dengan manusia. Saya berurusan dengan mereka dan memperhatikan kebutuhan mereka adalah kewajiban saya.’ Suatu hari, beliau pulang sangat terlambat. Ketika saya bertanya mengapa, beliau menjawab bahwa ada seorang petugas kebersihan, bukan petugas rumah sakit, tetapi petugas kebersihan biasa, yang tengah menjalani operasi dan tidak ada yang merawatnya. Jadi beliau duduk di sampingnya untuk merawatnya. Beliau rajin melaksanakan salat Tahajud, puasa, salat wajib, dan salat-salat nafal. Beliau berpuasa secara teratur dan selalu berpuasa setiap hari Kamis.”
Seperti yang telah saya katakan sebelumnya, orang tua beliau melakukan baiat pada tahun 1991 setelah melihat amalan beliau. Ibunya biasa mengatakan, “Kami mengira Ahmadiyah, na’ūżubillāh, tidak mengakui Rasulullah saw. dan hanya mengakui Mirza Sahib [Hazrat Masih Mau’ud a.s.]. Saya tidak menyukai hal ini, tetapi ketika saya melihat bahwa anak saya juga melaksanakan tahajud dan taat dalam salat, saya berpikir bahwa Ahmadiyah tidak mungkin salah.” Dengan demikian, amalan beliau sendiri menjadi penyebab bergabungnya orang tua beliau ke dalam Jemaat. Karena beliau melakukan baiat setelah melakukan penelitian sendiri, beliau menjadi Ahmadi yang penuh pengamalan. Beliau memiliki hubungan cinta dan kesetiaan yang besar terhadap Khilafat. Beliau selalu menjalin ikatan dengan Khilafat dan selalu menulis surat kepada Khalifatul Masih di saat-saat yang sulit dan menasihatkan hal ini juga kepada anak-anak beliau. Beliau tidak memiliki keinginan untuk jabatan apa pun dalam pengkhidmatan, bahkan beliau menulis kepada saya, “Di mana pun Anda menempatkan saya, dalam pengkhidmatan apa pun, saya siap.”
Beliau meninggalkan antara lain istri dan tiga putra serta cucu-cucu.
Semoga Allah Taala menganugerahkan ampunan dan rahmat-Nya kepada beliau.
Jenazah yang kedua adalah Yang Terhormat Ny. Salimah Zahid, yang merupakan istri dari Tn. Sami’ullah Zahid, seorang mubalig Jemaat yang saat ini bertugas di Kanada. Beliau telah wafat beberapa hari yang lalu. Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn. Almarhumah adalah seorang musiah. Di antara yang ditinggalkan, selain suami, termasuk satu putri dan tiga putra. Salah satu putranya, Ata’ul Momin Zahid Sahib, adalah seorang mubalig dan dosen di Jamiah Ahmadiyah UK.
Zahid Sahib menulis, “Tanpa melebih-lebihkan, ibu beliau (yakni ibu almarhumah yang saya sebutkan) mengajarkan Al-Quran kepada 60-70 anak. Setelah kewafatan ibunya, almarhumah juga melanjutkan pekerjaan ini dan terus mengajarkan Al-Quran. Bahkan, banyak orang golongan Ahli-Hadits dan Ahlus-Sunnah/sunni yang secara terbuka mengakui bahwa anak-anak mereka telah diajarkan Al-Quran oleh beliau.”
Beliau menulis bahwa almarhumah adalah sosok wanita yang baik, sederhana, setia, dan senang berkhidmat. Beliau selalu mengkhidmati orang lain dan mengutamakan orang-orang yang membutuhkan daripada dirinya sendiri. Putra beliau, Ata’ul Momin Zahid Sahib, mengatakan bahwa bahkan dalam keadaan sulit, almarhumah lebih memilih untuk membantu orang-orang yang membutuhkan daripada membelanjakan untuk dirinya sendiri. Semoga Allah Taala menganugerahkan kepada beliau ampunan dan rahmat-Nya.1
Khotbah II:
اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَّهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ – وَنَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ -عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ أُذكُرُوْ االلهَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
1 Penerjemah: Mln. Mahmud Ahmad Wardi, Shd., Mln. Fazli Umar Faruq, Shd., dan Mln. Muhammad Hasyim. Editor: Mln. Muhammad Hasyim