Sebuah catatan harian seputar kepindahan Hazrat Khalifatul Masih V (aba) ke Markaz baru di Islamabad, Tilford, UK

Oleh Abid Khan

sepekan di islamabad, hazrat mirza masroor ahmad

Pendahuluan

Berkat karunia Allah Ta’ala, pada 15 April 2019, Hazrat Khalifatul Masih V, Hazrat Mirza Masroor Ahmad (aba) pindah ke Islamabad setelah melewati 16 tahun yang penuh berkat di kompleks Masjid Fazl, London.

Sejak kepindahan beliau, beberapa orang meminta saya untuk menulis ‘catatan harian’ mengenai peristiwa bersejarah nan penting ini. Namun, sesungguhnya saya bukanlah orang yang seharusnya menuliskan catatan harian ini mengingat saya tidak terlibat dalam kepindahan beliau.

Demi menghormati Khilafat Ahmadiyah, saya tidak pernah berani bertanya kepada Huzur mengenai rencana kepindahan ke Islamabad, bahkan ketika sudah jelas Huzur akan pindah.

Sesekali, terutama beberapa bulan terakhir, Huzur sendiri memberitahu saya tentang perkembangan Markaz baru yang sedang dibangun. Akan tetapi, ada banyak orang lain, yang terlibat secara langsung dalam proses perpindahan yang tentunya lebih tahu dari saya mengenai latar belakang kepindahan ini, dan mungkin dapat menjelaskan hal ini karena keterlibatan langsung mereka dengan Huzur dalam setiap tahap prosesnya.

Terlebih, Al-Hakam telah mempublikasikan sebuah tulisan yang amat menyentuh hati dengan judul ‘A New Markaz’ (Markaz Baru), yang juga mengutip sabda Huzur. Jadi tidak ada yang dapat saya tambahkan mengenai perpindahan itu sendiri.

Akan tetapi, saya merasa beruntung dapat selalu hadir selama beberapa hari terakhir Huzur di Masjid Fazl dan juga selama pekan pertama beliau di Islamabad. Maka saya akan mencoba untuk menarasikan beberapa hal mengenai ini.

Tempat yang Istimewa

Sebagaimana para Muslim Ahmadi lainnya, terutama mereka yang tinggal di London dan sekitarnya, perasaan saya campur aduk karena peralihan Markaz ini. Di satu sisi saya sedih melihat berakhirnya masa Masjid Fazl sebagai kantor pusat Jemaat, sementara di sisi lain, saya sangat gembira melihat kemajuan Jemaat dan karunia-karunia Allah Ta’ala dalam hal perpindahan ke Islamabad.

Masjid Fazl merupakan (dan akan selalu) menjadi tempat yang sangat istimewa. Ribuan Ahmadi memiliki memori tersendiri dengan tempat ini. Memori saya sendiri dimulai sejak masa kecil saya. Ini adalah masjid yang selalu saya datangi saat saya masih anak-anak dari waktu ke waktu. Saya ingat bagaimana perjalanan jauh nan melelahkan dengan mobil dari Hartlepool, dan bagaimana rasa lelah itu berganti menjadi keceriaan ketika melihat senyum penuh kegembiraan Hazrat Khalifatul Masih IV (rh).

Beberapa minggu setelah kewafatan ibu saya pada Desember 1994, Hazrat Khalifatul Masih IV (rh) mengundang saya untuk melewatkan satu pekan bersama beliau di Masjid Fazl selama Ramadhan. Saat itulah rasa duka dan rasa kehilangan yang saya rasakan tersapu oleh cinta kasih seorang Khalifah.

Setiap pagi, saya mendapat kehormatan untuk makan sahur bersama Huzur di kediaman beliau. Saya menghabiskan hari bersama cucu-cucu beliau dan seringkali Huzur bergabung bersama kami dalam beberapa kesempatan dan selalu menanyakan keadaan saya.

Pada awal tahun 2000, setelah kewafatan ayah saya, Masjid Fazl sekali lagi menjadi tempat saya pergi untuk menyembuhkan diri dari rasa duka yang mendalam.

Beberapa hari setelah kewafatan ayah saya, seluruh anggota keluarga saya pergi untuk Mulaqat. Dari kakak laki-laki dan kakak perempuan saya, paman-paman, dan bibi-bibi saya pun hadir. Saya duduk di sudut kantor dan berpikir Huzur tidak akan melihat saya. Ternyata beliau melihat saya dan memperhatikan kepedihan dan kepiluan saya. Saya dibuat terkejut dan tertegun ketika Huzur memandang melewati kursi-kursi di hadapan beliau dan mengalihkan perhatian beliau kepada saya, seorang pemuda tujuh belas tahun yang tidak berharga.

Dengan rasa kasih sayang dan cinta, Hazrat Khalifatul Masih IV (rh) berkata:

“Aku mengkhawatirkanmu.”

Huzur lalu memandang ke arah kerabat-kerabat saya dan berkata:

“Alangkah baiknya jika Abid menikah ketika dia masih muda. Dia yang masa depannya belum pasti.”

Sadar bahwa Huzur mengkhawatirkan saya dan akan mendoakan saya, dengan sekejap menghapuskan rasa takut dan keputusasaan dalam diri saya.

Kesedihan dan kepanikan datang kembali pada bulan April 2003, ketika Hazrat Khalifatul Masih IV (rh) meninggal dunia pada tahun 2003 di Masjid Fazl. Saya takut jika hubungan erat yang sudah saya bangun dengan Khilafat akan hilang. Namun berkat karunia Allah, hari-hari yang paling diberkahi, paling terhormat dan momen-momen berharga saya lalui bersama Hazrat Khalifatul Masih V (aba).

Di masjid inilah, Hazrat Khalifatul Masih V (aba) mengatur pernikahan saya. Di masjid inilah tempat beliau menghibur saya di hari-hari paling suram, bahwa Allah Ta’ala akan mengaruniai kami anak.

Dan yang paling penting, inilah masjid tempat beliau menerima pengkhidmatan seorang anak muda yang tidak berpengalaman. Ini adalah Masjid yang selama 12 tahun kemudian, saya belajar dari beliau, merasakan kasih beliau, menyaksikan keagungan Khilafat Ahmadiyah dari waktu ke waktu, memaknai arti hidup dan menyaksikan nilai-nilai kerohanian serta integritas tertinggi setiap harinya dari guru terhebat selama ribuan Mulaqat.

Masjid Fazl adalah tempat perlindungan saya dan jantung kehidupan saya.

Jadi, ketika saya tidak pernah bertanya kepada Huzur tentang kepindahan beliau ke Islamabad karena rasa hormat dan kepatuhan saya, tapi itu juga karena rasa takut saya. Ketakutan akan hal yang tidak-tidak. Bagaimana kehidupan di Islamabad nanti? Apakah akan berbeda, atau akan sama?

Saat orang-orang seperti saya dibutakan pada hal-hal yang dapat mempengaruhi kami secara personal, Hazrat Khalifatul Masih (aba) senantiasa melihat kepentingan kolektif bagi Jemaat.

Hal ini pun muncul dalam Khutbah Jumat Huzur pada tanggal 12 April 2019, ketika beliau mengumumkan kepindahan ke Islamabad beserta pertimbangan-pertimbangannya. Huzur menjelaskan bahwa kepindahan ini harus dilakukan dan merupakan bagian dari takdir Allah Ta’ala.

Pertemuan Terakhir

Pada 14 April 2019, sehari sebelum kepindahan, saya mengirim laporan ke Masjid Fazl pada pagi hari, ketika Huzur mengadakan pertemuan dengan perwakilan senior PBB.

Kantor Huzur sudah dikosongkan. Lemari buku yang sebelumnya terisi penuh, kini sudah kosong. Kantor Private Secretary dipenuhi kotak-kotak kardus, baik yang sudah dikemas maupun yang akan dikemas. Beberapa sudah dikirimkan ke Islamabad.

Pertemuan dengan tamu berjalan baik. Ia menyampaikan kekaguman mengenai jadwal Huzur.

Mengenai hal itu, Huzur tersenyum dan berkata:

“Orang yang memberitahu jadwal saya kepada anda hanya tahu 5 atau 10 persennya saja.”

Di akhir pertemuan, tamu mengajak berfoto dengan Huzur.

Fotografer Jemaat, Omair Aleem, mengambil foto sebagaimana biasanya. Seorang perwakilan MTA juga hadir untuk mengabadikan momen-momen pertemuan terakhir Huzur dengan seorang pejabat atau tamu di Masjid Fazl.

Setelah berfoto, saya terkejut ketika Huzur meminta saya bergabung dengan mereka untuk berfoto juga. Selama bertahun-tahun sebelumnya, ketika sesi pengambilan foto dengan ratusan tamu dan pejabat saya selalu ada di sana, dan Huzur tidak pernah mengajak saya untuk ikut berfoto. Terpikir oleh saya mungkin Huzur menyadari bahwa momen itu merupakan pertemuan terakhir dengan seorang tamu di Masjid Fazl, sehingga berkat kebaikannya, beliau mengizinkan saya menjadi bagian dari momen bersejarah itu. Saya begitu terharu dan sangat bersyukur.

Markaz Baru

Keberangkatan Huzur dari Masjid Fazl terjadi beberapa saat setelah Shalat Ashar pada 15 April 2019. Bersama dua ribu orang lainnya yang hadir, momen itu terasa begitu mengharukan saat melambaikan tangan kepada Huzur. Meskipun saya tahu saya akan bepergian setiap hari ke Islamabad untuk bertemu beliau.

Segala rasa sedih ketika Huzur meninggalkan Masjid Fazl seketika berganti menjadi rasa bahagia saat saya melihat kompleks Islamabad untuk pertama kalinya. Sangat mengagumkan. Hanya itu yang dapat saya bayangkan, walaupun lebih dari itu.

Masjidnya begitu indah, didesain dengan cantik, dan rumah yang sesuai bagi Khilafat. Kantor baru untuk Private Secretary, Wakalat-e-Tabshir, Wakalat-e-Maal, dan Wakalat-e-Tamil-o-Tanfidh, belum beroperasi sepenuhnya. Tetapi terlihat jelas didesain dengan lebih baik dan lebih kondusif untuk bekerja daripada sebelumnya.

Namun, saya belum melihat satu kantor yang paling saya ingin lihat. Satu-satunya yang membuat saya tertarik. Keinginan untuk bertemu Huzur dan melihat kantor baru beliau adalah hasrat terdalam saya.

Kantor Baru, Rutinitas yang Sama

Selama beberapa tahun, saya mendapat kehormatan untuk memberikan laporan kepada Huzur setiap hari. Dan ketika telah jelas bahwa Huzur akan pindah ke Islamabad, saya berandai-andai apakah saya akan tetap memiliki kesempatan beberkat yang sama.

Secara pribadi, saya tidak memiliki ketertarikan atau pemahaman yang besar tentang syair, tetapi beberapa pekan sebelum kepindahan, saya ingin mengekspresikan perasaan saya kepada Huzur. Maka saya menuliskan beberapa bait syair. Seseorang yang memahami syair tentu akan menganggap syair ini tidak bagus dan amatiran.

Saya tidak mengharapkan balasan apa-apa, tetapi beberapa hari kemudian saya menerima surat dari Huzur yang menyatakan bahwa beliau sudah membaca syair itu.

Walaupun saya tidak menyebutkan rutinitas saya tentang Mulaqat, Huzur menjawab dengan cara yang menggambarkan bagaimana beliau memahami ketakutan yang saya rasakan.

Dengan tangan beberkat beliau sendiri. Huzur menulis:

“Baik saya di Islamabad ataupun di London, rutinitasmu akan tetap sama yaitu melaporkan kepada saya setiap hari.”

Bagaimana pun, ketika saya duduk di luar kantor baru Huzur di Islamabad untuk pertama kalinya, sore hari pada 16 April 2019, saya merasa lebih canggung dari biasanya.

Pada pukul 6.15 petang, Private Secretary, Munir Javed berkata kepada saya bahwa Huzur sudah siap untuk bertemu dengan saya.

Saya mengambil napas panjang dan memasuki pintu kantor beliau. Huzur sedang bekerja di meja beliau, tetapi ketika saya masuk, beliau memandang ke arah saya dan tersenyum. Senyum yang penuh sambutan dan kebaikan.

Huzur terlihat berseri, rapi, dan anggun. Beliau mengenakan shalwar kameez dan sebuah mantel achkan dan telah melepaskan paghri (serban) beliau.

Kantor Huzur lebih besar dari sebelumnya. Jauh lebih panjang dan sedikit lebih lebar. Tetapi belum sepenuhnya tertata. Beberapa buku disimpan di belakang Huzur dan rak-rak buku lain masih kosong.

Di sampingnya terdapat lemari kabinet panjang yang menyimpan artefak dan foto-foto yang biasa Huzur pajang di Masjid Fazl. Lantai dari ubin, bukan karpet.

Satu hal yang masih sama – barang-barang di atas meja Huzur. Masih dipenuhi oleh arsip-arsip yang sama yang biasa Huzur kerjakan setiap harinya di Masjid Fazl. Selama proses kepindahan, pekerjaan Huzur tetap tidak ada yang berubah.

Saya berjalan perlahan ke arah meja Huzur karena saya tidak ingin menjatuhkan apapun dan karena saya ingin menyerap setiap detiknya berada di kantor baru Huzur.

Ketika saya duduk di depan meja Huzur, saya disapa kembali dengan senyum indah Huzur dan kata-kata beliau yang memenuhi hati saya dengan kebahagiaan.

Huzur berkata:

“Kamu adalah orang pertama yang bermulaqat dengan saya di kantor ini.”

Ketika saya mendengar kalimat beliau, saya merasa sangat terhormat dan istimewa. Bahagia dan terharu. Saya merasakan getaran dari punggung saya. Momen ini tidak akan pernah saya lupakan.

Selama hidup saya, saya merasa beruntung menjadi orang pertama yang bertemu Khalifatul Masih di kantor beliau di Islamabad, Alhamdulillah.

Mungkin beliau merasakan rasa haru saya, Huzurpun mengganti topik pembicaraan dan menanyakan berapa lama waktu yang saya tempuh untuk datang ke Islamabad. Saya sampaikan kepada beliau saya menempuh waktu satu jam karena ada pengalihan jalan yang membuat perjalanan saya tertunda selama kurang lebih lima belas menit.

Huzur menjawab:

“Itu tidak terlalu lama.”

Dari hati terdalam saya, saya berharap Huzur akan mengasihani saya. Tapi, Huzur justru menjelaskan bahwa satu jam perjalanan bukan suatu masalah bagi seorang Waqf Zindeghi.

Hal itu juga merupakan contoh cara Huzur memberi tarbiyat dan membuat seseorang untuk untuk tetap membumi.

Beberapa saat sebelumnya beliau mengatakan bahwa saya adalah orang pertama yang bertemu beliau di kantor beliau. Namun kemudian beliau menjelaskan bahwa saya tidak seharusnya mengharapkan keistimewaan apapun. Beliau menurunkan saya dari langit kembali ke bumi dalam waktu satu detik!

Saya terus duduk di kantor Huzur dan saya segera menyadari rupanya saya harus berbicara sedikit lebih kencang dan lebih jelas daripada di Masjid Fazl. Kantor beliau lebih besar, langit-langitnya lebih tinggi, dan jarak antara Huzur dan saya sedikit lebih jauh daripada di Masjid Fazl.

Lalu saya menyampaikan mubarak kepada Huzur atas kepindahan beliau dan mengatakan bahwa saya merasakan kantor baru Huzur lebih cocok untuk status Khilafat Ahmadiyah. Saya terutama menyukai keadaan kantor beliau yang betul-betul utuh berbentuk persegi panjang, sedangkan kantor di Masjid Fazl beberapa kali diperluas sehingga bentuknya menjadi tidak teratur.

Kesederhanaan dan kesahaajaan Huzur sedemikian rupa sehingga yang beliau butuhkan hanyalah tempat untuk bekerja, beliau tidak membutuhkan sesuatu yang besar dan mewah.

Bahkan, Huzur tetap terikat dengan lingkungan di kantor beliau sebelumnya.

Huzur berkata:

“Saya sebenarnya lebih suka kantor saya yang lama di Masjid Fazl. Tapi, saya belum selesai mengatur kantor ini dan kemungkinan akan menaruh sofa di sini dan kita akan lihat seperti apa nantinya.”

Setelah momen-momen awal itu, Huzur menginstruksikan saya untuk memberikan arahan harian saya, dan Huzur juga memeriksa Siaran Pers yang sudah saya buat tentang kepindahan ke Islamabad. Dan beliau sendiri yang mengoreksi dan memperbaiki beberapa paragraf dengan pena beliau.

Setelah pertemuan resmi ini selesai, Huzur mengizinkan saya untuk tetap berada di kantor beliau selama beberapa waktu.

Saat itu saya menanyakan satu pertanyaan yang saya simpan dalam hati sejak malam sebelum Huzur meninggalkan Masjid Fazl.

Saya bertanya:

“Huzur, apakah Huzur merasakan haru ketika meninggalkan Masjid Fazl kemarin?”

Huzur menjawab:

“Bukanlah cara saya untuk terlalu larut dalam perasaan. Kemanapun saya pergi saya atur dengan cepat. Ini selalu menjadi cara saya. Maka, saya hanya membutuhkan satu jam untuk mengatur kembali rutinitas baru saya di Islamabad dan ketika saya tidur di malam hari saya dapat tidur dengan nyenyak tanpa masalah.”

Dengan indahnya Huzur menambahkan:

“Tapi, tidak diragukan saya memiliki keterikatan yang erat dengan Masjid Fazl dan banyak sekali kenangan, sebab saya tinggal di sana selama 15 atau 16 tahun dan menyaksikan keberkatan Allah Ta’ala setiap hari. Jadi ketika saya pergi, tentunya perasaan kedekatan itu ada di sana dan akan selalu tersimpan di hati saya.”

Lalu Huzur bertanya kepada saya mengenai berapa banyak orang yang melaksanakan Shalat Subuh di Masjid Fazl pagi itu. Saya mengirimkan pesan singkat ke pengurus lokal di Masjid Mazl untuk mencari tahu, dan ia menjawab masjid pada waktu itu hampir penuh. Huzur senang sekali mendengar hal itu, meskipun minggu selanjutnya, Huzur diberitahu bahwa jumlah orang yang Shalat Subuh di Masjid sedikit berkurang.

Selanjutnya, Huzur meminta saya melihat ke luar jendela kantor beliau dan mengamati pemandangan dari sana.

Huzur juga meminta saya melihat ruangan tepat di belakang kantor beliau, yang masih belum dilengkapi furnitur. Tapi, ketika sudah lengkap, ruangan itu akan digunakan untuk pertemuan-pertemuan dengan pejabat-pejabat dan beberapa tamu. Sama seperti ruangan yang berdekatan dengan kantor beliau di Masjid Fazl.

Segera setelah mulaqat saya berakhir dan saya meninggalkan kantor Huzur, perasaan saya mengatakan bahwa Huzur bahagia dan senang di Islamabad.

Saya juga terkesima bagaimana dalam waktu 24 jam, pusat dunia sekarang berada di sebuah desa kecil di pedesaan Surrey.

Keberkatan Allah Ta’ala

Hari berikutnya saya kembali Mulaqat pada sore hari. Setelah saya memberikan laporan, Huzur bertanya apakah saya sudah melihat perumahan baru yang dibangun di Islamabad. Saya mengatakan bahwa saya baru melihatnya dari luar saja.

Setelah itu Huzur berkata:

“Jika kamu memiliki hubungan baik dengan Hafiz Ijaz (Pengajar Jamiah Ahmadiyah) kamu bisa memintanya untuk menunjukkan rumahnya kepadamu.”

Huzur juga memberitahu saya bagaimana gedung serba guna yang besar itu dibangun sedemian rupa sehingga atapnya ditutupi material hijau. Sehingga keseluruhan kesan hijau di dalam dan sekitar Islamabad tidak berubah.

Sayangnya, Huzur menyebutkan bahwa beliau menyadari beberapa Muslim Ahmadi menyatakan pandangan mereka bahwa pengembangan Islamabad terlalu mahal bahkan berlebihan. Tentu saja hal ini menyebabkan Huzur sakit dan sedih.

Huzur berkata:

“Apakah orang-orang seperti itu tidak menyadari bahwa tidak ada pertimbangan atau skema khusus yang dibuat dalam proyek Islamabad ini? Semua ini dibangun sepenuhnya karena Keberkatan Allah Taala semata! Tidak ada proyek lain di Jemaat, di seluruh dunia, yang tertunda atau dibatasi karena proyek ini. Contohnya, di Mali baru-baru ini telah dibangun masjid yang sangat indah.”

Huzur juga mengatakan tentang sebuah komentar di media sosial seorang Ahmadi dari Rawalpindi yang saya tunjukkan kepada beliau sebelumnya, dimana ia menanggapi orang-orang yang berkeberatan dengan proyek Islamabad. Ahmadi tersebut menuliskan bahwa ketika seseorang telah menyatakan Bai’at, suka atau tidak suka ia harus sejalan dengan Khalifa-Waqt dan inilah definisi Jemaat yang bersatu.

Huzur berkata:

“Komentar itu merupakan gambaran Ahmadi sejati.”

Kepindahan yang Ditakdirkan

Pada Kamis, 18 April 2019, saya masuk ke kantor Huzur dan memberitahukan beliau bahwa saya sudah mengunjungi rumah Hafiz Ijaz di Islamabad, yang mana keluarganya mendapat kehormatan menjadi penghuni-penghuni pertama kompleks Islamabad.

Huzur senang mendengarnya dan menyampaikan beberapa detil tambahan mengenai rumah-rumah yang sedang dibangun untuk para Waqifin yang tinggal di Islamabad.

Huzur mengatakan:

“Insya Allah, ketika semua rumah sudah siap, kompleks ini akan dipenuhi oleh anggota Jemaat. Masih ada beberapa pekerjaan yang harus dilakukan di masjid dan beberapa bangunan lain. Ketika sudah selesai kita juga akan membuat taman kecil untuk anak-anak supaya mereka bisa datang dan bermain.”

Setiap detil kompleks sudah dibangun dan didesain dengan petunjuk Huzur. Cara Huzur mendeskripsikan Islamabad terlihat dan terasa seperti surga di atas bumi.

Mulaqat saya pada hari itu, selebihnya merupakan hal yang memalukan bagi saya.

Sebelumnya, saya telah menyerahkan persetujuan laporan video yang disiapkan MTA News tentang kepindahan Huzur ke Islamabad. Tapi, selama Mulaqat, Huzur menegaskan bahwa beliau tidak mengharapkan laporan yang biasa saja. Khususnya, Huzur menekankan bahwa pesan dan pola laporannya dapat memberikan informasi yang salah.

Huzur mengatakan:

“Dalam laporan itu, Anda telah mengabaikan fakta bahwa kepindahan ke Islamabad adalah sesuatu yang Hazrat Khalifatul Masih IV (rh) harapkan sendiri, dan ini bukanlah konsep baru yang saya kembangkan sendiri untuk era sekarang. Justru kepindahan ini ditakdirkan sejak tanah di Islamabad dibeli. Ini merupakan manifestasi bagaimana institusi Khilafat Ahmadiyah terus memenuhi misi Masih Mau’ud (as). Jika sesuatu tidak selesai dalam satu periode Khilafat, Allah Ta’ala memenuhinya di periode selanjutnya. Seperti yang saya sampaikan dalam khutbah saya, semuanya sudah ditentukan waktunya.”

Saya merasa malu dan hancur. Tapi, saya juga menyaksikan kasih sayang dan kebaikan Huzur. Setelah menjelaskan kelemahan laporan saya, Huzur memberi petunjuk dengan penuh kasih sayang bagaimana memperbaikinya dan mendikte bagian-bagian naskahnya.

Setelah mulaqat selesai dan saya akan meninggalkan kantor beliau, Huzur berkata:

“Pada masa Hazrat Muslih Mau’ud (ra), Sadr Majlis Khuddamul Ahmadiyah adalah Hazrat Mirza Nasir Ahmad (rh) dan, setahun kemudian, setelah menghadiri hari pertama Jalsa Salana, Hazrat Muslih Mau’ud (ra) merasakan dan memandang bahwa tidak ada ruang lagi untuk menampung semua peserta yang hadir, dan beliau menyebutkan ini pada hari pertama Jalsah”

Huzur menceritakan apa yang terjadi setelah itu dengan berkata:

“Mendengar komentar Hazrat Muslih Mau’ud (ra), Hazrat Mirza Nasir Ahmad (rh), sebagai Sadr Khuddam, mengumpulkan para Khuddam dan mereka bekerja sepanjang malam untuk memperluas Jalsa Gah dan menyediakan fasilitas yang dibutuhkan. Keesokan paginya ketika beliau melihat adanya perubahan, Hazrat Muslih Mau’ud (ra) sangat senang.”

Huzur melanjutkan:

“Semangat seperti ini harus dimiliki oleh para karyawan MTA dan Waqifin dalam berkhidmat, sekarang dan selamanya. Jangan pernah seorangpun yang telah mendedikasikan hidup mereka untuk melayani Islam berpikir bahwa mereka selesai bekerja pukul 8 malam, sebaliknya mereka tidak boleh istirahat sampai pekerjaan selesai sebagaimana mestinya.”

Kata-kata Huzur sangat memotivasi dan menginspirasi.

Saya meninggalkan Mulaqat dengan memendam kesedihan bahwa kami belumlah mencapai standar yang diharapkan oleh Khalifah-Waqt walaupun sekarang timbul sebuah keyakinan bahwa kami akan dapat membuat laporan yang lebih baik, karena Huzur telah memberikan arahan dan petunjuk yang mendalam kepada kami.

Saat duduk di mobil, saya tulis kembali naskah laporan berita dan selanjutnya tim MTA bekerja hingga dini hari membuat laporan yang sesuai dengan petunjuk Huzur.

Alhamdulillah, keesokan harinya, Huzur mengatakan kepada saya bahwa beliau sudah melihat laporan yang sudah direvisi dan sudah jauh lebih baik. Meski demikian, Huzur juga memastikan kami tetap rendah hati.

Huzur mengatakan:

“Revisi laporan beritamu jauh lebih baik daripada draft sebelumnya. Namun, saya tidak berpikir ini akan sepopuler artikel di Al-Hakam yang diterbitkan sebelumnya hari ini, yang mana dalam artikel tersebut disebutkan warisan Masjid Fazl dan alasan-alasan pindah ke tempat ini.”

Mengenai ini, saya menjawab:

“Benar sekali Huzur, artikel Al-Hakam lebih baik karena berisi kutipan-kutipan Huzur sendiri mengenai kepindahan Markaz. Tidak ada yang dapat menyamai kata-kata perkataan dari Khalifa-Waqt.”

Perjalanan Menuju dan Dari London

Pada Jumat 19 April 2019, Huzur meninggalkan kompleks Islamabad untuk pertama kalinya sejak kepindahan beliau. Huzur melakukan perjalanan ke Baitul Futuh untuk memimpin Shalat Jumat.

Setelah Shalat Jumat, Huzur segera kembali ke Islamabad.

Setelah Ashar, saya bermulaqat dengan Huzur dan bertanya kepada beliau bagaimana perjalanan beliau menuju dan dari Baitul Futuh.

Huzur menjawab:

“Dalam perjalanan menuju Baitul Futuh ada kemacetan dari arah London. Sebab sedang libur panjang Paskah, mungkin banyak orang yang pergi berlibur. Alhamdulillah perjalanan menuju London umumnya lancar, sehingga kami datang tepat waktu dan khutbah dimulai pada waktunya. Dalam perjalanan kembali ke Islamabad, jalanan juga lancar dan kami datang sangat cepat sehingga saya makan siang di waktu yang sama seperti biasanya saya makan siang pada hari Jumat di Masjid Fazl.”

Huzur tersenyum dan berkata:

“Sebetulnya, dalam perjalanan kembali, saya tertidur di mobil ketika mendengarkan Nazm dan saya terbangun ketika akan sampai Islamabad.”

Saya senang mendengar Huzur memiliki waktu lebih untuk beristirahat selamat perjalanan setelah Shalat Jumat. Alhamdulillah.

Selanjutnya, Huzur menceritakan bagaimana kantor baru beliau masih belum sepenuhnya lengkap.

Huzur berkata:

“Meskipun staf saya telah bekerja sangat baik dalam mengatur rak buku, tetapi itu belum sepenuhnya sesuai dengan yang saya harapkan. Maka, saya mengatur ulang dan sekarang barang-barang sudah pada tempatnya. Untuk beberapa bagian lain di kantor, saya akan atur sedikit demi sedikit ketika saya ada sedikit waktu.”

Momen Mengharukan

Alhamdulillah, saya melewatkan pekan ini bertemu Huzur dan menyaksikan bagaimana rutinitas kerja beliau tidak berubah sama sekali.

Berbeda tempat tetapi misi Masih Mau’ud (as) terus berlanjut sebagaimana akan selalu seperti itu, Insya Allah.

Ada suatu waktu ketika Qadian tidak dikenal dunia. Ada suatu waktu ketika Rabwah hanyalah lahan tandus semata. Ada suatu masa ketika Southfields adalah bagian London yang tidak dikenal.

Kini mereka dikenal oleh orang-orang dari seluruh bangsa dan nama mereka akan selalu menghiasi sejarah dunia. Hal yang sama sekarang berlaku bagi Tilford di Surrey.

Saat ini pusat kehidupan saya dan Jemaat adalah Islamabad, ini adalah pernyataan yang Huzur sampaikan kepada saya beberapa pekan lalu di Masjid Fazl yang senantiasa terbayang dan bergaung di pikiran saya.

Menjelang sore di satu hari bulan Maret, Huzur kembali ke Masjid Fazl setelah melakukan inspeksi di Islamabad.

Dengan ramah Huzur menunjukkan kepada saya beberapa foto dan video lahan di Islamabad. Saya terkagum dengan tingkat detil, skala dan keindahan beberapa bangunan.

Setelah menunjukkan foto kepada saya, Huzur mengatakan sesuatu yang membuat hati saya penuh rasa haru. Kata-kata yang juga membuat saya takut. Di atas semua itu, perkataan itu meliputi seluruh hati saya dengan cinta kepada Huzur.

Dengan kerendah-hatian dan kesahajaan Huzur berkata mengenai Islamabad:

“Setidaknya saat ini, Khalifah berikutnya, yang datang setelah saya pergi, akan memiliki fasilitas yang lebih baik dan akan memandang bahwa saya telah meninggalkan sesuatu untuk mereka dan untuk Jemaat.”

Bahkan sekarang, beberapa minggu setelahnya, saya tidak bisa mengendalikan rasa haru saya saat mengingat momen itu. Saya tidak pernah berani memikirkan saat-saat itu di masa depan. Hati saya tidak akan mengizinkannya. Pikiran sayang menolak memikirkannya.

Akan tetapi, pada waktu itu, saya ingin mengatakan kepada Huzur bahwa saya yakin Khalifah yang akan datang, akan senantiasa mengingat Huzur, tidak hanya pada kepindahan beberkat ke Islamabad tapi tetapi juga mengingat bahwa Huzur telah mengorbankan segenap jiwa raganya untuk Jemaat.

Mereka akan mencintai dan menghormati Huzur dengan sepenuh hatinya, sebagaimana Huzur sendiri mencintai dan menghormati para pendahulu Huzur dan selalu taat kepada harapan dan kehendak mereka.

Tentu saja, kepindahan ke Islamabad sendiri berasal dari ketaatan Huzur kepada Hazrat Khalifatul Masih IV (rh) yang berkeinginan untuk mengubah Islamabad menjadi Markaz.

Saya tetap terdiam dan hanya berdoa dalam hati semoga Allah Taala menganugerahkan umur yang panjang, kesehatan dan kesejahteraan kepada Imam kita tercinta.

Sungguh suatu momen singkat yang akan selalu terukir dalam ingatan saya selama sisa hidup saya.

Dengan Rahmat Allah, dan berkat kasih dan kebaikan Huzur, saya juga diberi ruang kerja di kantor Tabshir di Islamabad, sebagai tambahan tugas utama di kantor Pers dan Media di London. Jadi, sore dan malam hari saya memiliki kesempatan yang penuh berkah untuk bekerja di kompleks Islamabad dekat Huzur tercinta dan tetap di sini sampai shalat malam.

Semoga Allah Ta’ala memberi taufik kepada saya selalu tetap dalam pengkhidmatan kepada Khilafat.

Semoga kepindahan ke Islamabad senantiasa dipenuhi dengan keberkatan dalam segala hal dan semoga kita semua selalu menyaksikan kemajuan Jemaat kita secara berkesinambungan di bawah kepemimpinan Hazrat Khalifatul Masih V(aba) yang penuh berkah. Ameen.

Komentar dan saran hubungi: abid.khan@pressahmadiyya.com

Penterjemah: Taufik Khalid Ahmad