Poin Khutbah Jumat: Al-Masih dan Al-Mahdi yang dijanjikan sebagai Hakam (hakim) dan ‘Adl (juru damai yang adil)

  • Keadaan umat Muslim dan perpecahan mereka. Perselisihan kaum Sunni dan Syi’ah.
  • Tujuan didirikannya Jemaat Ahmadiyah.
  • Melewati Tahun Baru Islam. Bulan pertama ialah bulan Muharram.
  • Persatuan Umat Muslim dan cara meraihnya.
  • Kedudukan Luhur Empat Khalifah Rasyidin dalam tulisan berbahasa Arab ‘Sirrul Khilaafah’ (Rahasia Khilafah) oleh Pendiri Jemaat Ahmadiyah. Rujukan dari beberapa buku beliau lainnya.
  • Rincian khusus mengenai keistimewaan Khalifah Abu Bakr radhiyallahu ta’ala ‘anhu.
  • Rincian khusus mengenai keistimewaan Khalifah ‘Umar radhiyallahu ta’ala ‘anhu.
  • Penjelasan umum mengenai keistimewaan tiga Khalifah pertama, yaitu Khalifah Abu Bakr, Khalifah ‘Umar dan Khalifah ‘Utsman radhiyallahu ta’ala ‘anhum.
  • Rincian khusus mengenai keistimewaan Khalifah ‘Ali radhiyallahu ta’ala ‘anhu.
  • Penjelasan umum mengenai keistimewaan empat Khalifah rasyidin, yaitu Khalifah Abu Bakr, Khalifah ‘Umar, Khalifah ‘Utsman dan Khalifah ‘Ali radhiyallahu ta’ala ‘anhum.
  • Peringatan 10 Muharram: Tanggal disyahidkannya Imam Husain radhiyallahu ta’ala ‘anhu, cucu Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam pada zaman kekuasaan Yazid bin Muawiyah bin Abu Sufyan, di Karbala, wilayah Kufah (Iraq) yang berada pada supervisi gubernur Ubaidullah ibnu Ziyad dan para perwira bawahannya (sekitar Oktober 680 Masehi).
  • Penyampaian sebagian rincian pembunuhan Hadhrat Imam Husain (ra) sebagaimana diriwayatkan para periwayat sejarah. Tidak puas membunuh Hadhrat Imam Husain (ra), para penyerang merusak jenazah beliau dengan injakan 10 penunggang kuda. Mereka juga menyerang tenda tempat beliau tinggal, merusaknya dan merampok anggota keluarga beliau. Lebih parah lagi, kepala beliau yang telah dipenggal dibawa ke Kufah lalu dipamerkan sesuai perintah Gubernur Ubaidullah ibnu Ziyad.
  • Pandangan Pendiri Jemaat Ahmadiyah ialah jelas bahwa Yazid seorang pecinta duniawi dan kejam. Dialah yang menyuruh pembunuhan terhadap cucu Nabi (saw). Secara cepat dia juga dicengkram adzab dan demikian pula mereka yang terlibat pembunuhan itu.
  • Menanggapi tuduhan dari kalangan Syi’ah yang menganggap Pendiri Jemaat tidak mengakui keluhuran status Ahlu Bait.

Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 28 Agustus 2020 (Zhuhur 1399 Hijriyah Syamsiyah/09 Muharram 1442 Hijriyah Qamariyah) di Masjid Mubarak, Tilford, UK (United Kingdom of Britain/Britania Raya)

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ. (آمين)

Di zaman ini Allah Ta’ala sesuai dengan janjinya telah mengutus Imam zaman, Al-Masih dan al-Mahdi yang dijanjikan sebagai Hakam (hakim) dan ‘Adl (juru damai yang adil) dalam penghambaan (bawahan) Hadhrat Rasulullah (saw). Dialah Hakim adil yang dengan ajaran Islam hakiki akan menghimpun seluruh orang Islam menjadi Ummatan Wahidah, yang mana dia akan menjauhkan penafsiran-penafsiran yang keliru dan perselisihan-perselisihan dalam hal furu’ berbagai aliran dan firqah lalu dengan cara demikian menjadikan mereka Ummatan Wahidah. Dialah yang akan mendirikan persatuan diantara umat Islam. Alhasil, hari ini kita melihat orang-orang Islam dari setiap firqah yang merenungkan dengan penuh perhatian dan merasakan keprihatinan atas perselisihan diantara berbagai firqah, dengan menggunakan ilmu, akal dan doa lalu mereka bergabung ke dalam Jemaat Hadhrat Masih Mau’ud (as) dan setiap tahunnya ratusan ribu orang bergabung ke dalam Jemaat ini.

Jemaat Ahmadiyah bukanlah Jemaat yang berdiri di atas perbedaan atau perselisihan pandangan dan penafsiran suatu aliran atau firqah, melainkan sebuah Jemaat yang berdiri dengan perantaraan pecinta sejati Hadhrat Rasulullah (saw) di akhir zaman sesuai dengan nubuatan Hadhrat Rasulullah (saw) dan janji Allah Ta’ala. Ini adalah Jemaat yang setelah baiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud (as) akan menghapuskan perselisihan yang terjadi di antara Sunni dan Syiah dan menjadikan mereka Ummatan Wahidah. Kita akan menjadi Ummatan Wahidah dengan cara menjelaskan ajaran Islam yang hakiki kepada orang-orang Islam. Hadhrat Masih Mau’ud (as) telah diutus untuk tugas ini. Demi tugas ini pulalah beliau (as) mendirikan Jemaat ini sesuai perintah Allah Ta’ala. Dalam rangka melaksanakan tugas ini pula Allah Ta’ala berfirman kepada beliau (as) melalui ilham, “Himpunlah kaum Muslimin yang ada di atas muka bumi. على دين واحد ‘alaa diinin waahidin – ‘diatas satu diin (corak ketaatan, pandangan keagamaan).’”[1]

Dengan demikian, dengan menjalin hubungan dengan Khilafat dan berbaiat kepada Khilafat sepeninggal beliau (as), tanggungjawab yang telah Allah Ta’ala serahkan kepada Hadhrat Masih Mau’ud (as) ini, juga menjadi tugas Jemaat yang telah beliau (as) dirikan. Dengan karunia Allah Ta’ala, inilah yang kita terus lakukan sejak 130 tahun yang lalu atau 112 tahun sejak nizam Khilafat dimulai. Sebelum itu Hadhrat Masih Mau’ud (as)-lah yang melaksanakan tugas ini. Kita tidak hanya menyampaikan kepada orang-orang Islam saja mengenai keindahan ajaran Islam berdasarkan Al-Qur’an, Sunnah Nabi, Hadits-hadits Shahih dan penjelasan-penjelasan dari sang Imam, Hakam dan ‘Adl, melainkan juga kepada orang-orang Non-Muslim dan berusaha mengajak mereka bergabung ke dalam Islam. Dengan demikian, Jemaat Al-Masih yang dijanjikan, Hakam dan ‘Adl telah berdiri untuk menghapuskan segala perselisihan; dan meskipun terdapat penentangan-penentangan, gugatan-gugatan hukum, tindakan-tindakan kekerasan dan pelecehan verbal (cacian); namun, hanya pesan perdamaian, keselamatan dan doalah yang kita sampaikan kepada setiap orang.

Tentunya kita tidak akan berhenti dari menyebarkan kebenaran dan menyampaikan perkara-perkara yang hak dan kita terus memberikan pengorbanan-pengorbanan untuk itu. Kita tidak pernah mengawali pertengkaran atau penggunaan pilihan kalimat caci-maki dari pihak kita dan kita tidak akan pernah melakukan hal itu. Jemaat-jemaat Ilahi mengalami penentangan-penentangan dan mereka pun harus menanggung kezaliman, namun pada akhirnya Allah Ta’ala menganugerahkan kesuksesan kepada mereka. Kita terus berdoa – dan sebagaimana saya telah sampaikan – kita pun terus berusaha untuk menyebarkan pesan dari Imam Zaman kepada orang-orang di setiap mazhab dan setiap negara.

Pada saat yang sama, saya juga mengatakan kepada orang-orang Islam secara umum, mereka yang bersungguh-sungguh mencari kebenaran, mereka yang berkeinginan untuk mengentaskan fitnah dan kekacauan ini dan mereka yang mempunyai ilmu pengetahuan dan pemahaman bahwa renungkanlah juga hal ini, bahwa sejak seribu empat ratusan tahun yang lalu, kecuali beberapa puluh tahun awal masa umat Muslim, orang-orang Islam telah dan selalu terjerumus ke dalam perselisihan yang mana itu melemahkan persatuan dan kesatuan mereka.

Saat ini kita tengah menjalani bulan Muharram yang merupakan bulan pertama dalam penanggalan Islam. Pada awal tahun baru kalender Inggris (Gregorian) kita saling mengucapkan selamat satu sama lain, namun sayangnya pada awal tahun baru Islam terjadi pertumpahan darah di sejumlah negara-negara Muslim dikarenakan sektarianisme (pertentangan antar kelompok) ini. Agama yang sejatinya merupakan agama yang memberikan ajaran luhur perdamaian dan keselamatan ini, mengapa pula para penganutnya melakukan kerusuhan dan penumpahan darah di awal tahunnya sendiri. Kita harus merenungkan, kita harus mengubah perilaku kita, kita harus melihat bagaimana caranya kita dapat menjadikan orang-orang Islam ini Ummat Wahidah (umat yang satu) dan menghapuskan kekacauan-kekacauan serta tindakan-tindakan terorisme ini.

Kita harus merenungkan bahwa junjungan kita Hadhrat Khaatamul Anbiyaa Muhammad Mushtofa (saw) telah mengabarkan mengenai zaman kekacauan ini lalu beliau (saw) memberikan juga kabar suka bahwa Khilafat ‘Alaa Minhaajin Nubuwwat akan berdiri. Masalah yang menjadi penyebab terjadinya perselisihan di antara orang-orang Islam dan masalah ini jugalah yang di akhir zaman akan menjadi sarana untuk menjadikan orang-orang Islam Ummat Wahidah. Hal itu ialah melalui berdirinya Khilafat ‘Alaa Minhaajin Nubuwwah yang dengannya kemajuan dan persatuan Umat Islam akan menjadi satu tanda yang cemerlang.

Alhasil, ketika keadaan-keadaan ini memberitahukan bahwa zaman yang tanda-tandanya diketahui dari Al-Qur’an dan Hadits itu sedang terus tergenapi atau telah tergenapi lalu mengapa kita tidak mencari Hakam dan ‘Adl dan pecinta sejati Hadhrat Rasulullah (saw) yang akan menghapuskan perselisihan-perselisihan Sunni-Syi’ah dan berbagai firqah serta aliran, lalu menyatukan kita? Janganlah melakukan taqlid (mengikut secara membuta tuli) kepada mereka yang disebut atau menyebut diri Ulama yang buta dari kebenaran yang mereka sendiri pun tengah tenggelam dan juga berusaha menenggelamkan sejumlah besar orang-orang Islam bersama mereka.

Lihatlah, ketika tanda-tanda yang disebut oleh Al-Qur’an dan Hadits itu telah terpenuhi, siapa yang perlu kita lihat dan kita cari, siapa yang Allah Ta’ala telah tegakkan untuk menjadi sarana kebangkitan Islam yang kedua? Kita para Ahmadi mengatakan bahwa pendiri Jemaat Ahmadiyah, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad Qadiani (as) adalah yang telah diserahi tugas oleh Allah Ta’ala untuk kebangkitan Islam yang kedua, atau melalui perantaraan beliau (as)-lah Allah Ta’ala sedang dan akan membangkitkan Islam untuk yang kedua kalinya, dan akan mengganti pertengkaran dan kekacauan ini dengan perdamaian dan keselamatan.

Maka dari itu, jika pada diri kita terdapat pengertian yang benar, maka kita hendaknya tidak hanya menjadikan Muharram ini bulan untuk menyesalkan atau meluapkan kebencian, kedengkian dan kemarahan kita. Janganlah hanya menjadikan ini sarana untuk mengungkapkan perasaan-perasaan kita, bahkan jadikanlah ini sebagai bulan kecintaan dan kasih sayang satu sama lain. Berjalanlah di atas ajaran yang hakiki ini yang adalah ajaran Islam. Berjalanlah di belakang pembimbing yang kepadanya Allah Ta’ala telah menganugerahkan maqam Hakam dan ‘Adil, barulah kita dapat dikatakan Muslim hakiki dan barulah kita dapat membawa dunia mengikuti kita.

Dalam rangka memberikan nasihat kepada seorang Alim, di satu tempat Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda: “Kedudukan saya bukanlah kedudukan seorang Maulwi (seorang Ulama biasa), melainkan kedudukan saya adalah Sunan-e-Anbiyaa (jalan yang ditempuh para Nabi). Terimalah saya sebagai orang Samawi (mendapat tugas dari Tuhan), maka semua pertengkaran dan perselisihan yang menimpa umat Islam dalam sekejap berakhir.

Arti-arti tentang Al-Qur’an dari dia yang datang sebagai seorang yang diutus Tuhan sebagai Hakam dan ‘Adl ketika ia mengartikan maka itulah arti yang benar. Demikian pula, ketika ia menyatakan suatu hadits sebagai shahih, maka itulah hadits yang shahih. Jika tidak, lihatlah diri kalian sendiri, pertengkaran antara kaum Syiah dan kaum Sunni yang hingga sekarang terjadi, kapankah (bilamanakah) itu akan berakhir?” (Hingga sekarang pun belum berakhir.)

“Jika kaum Syi’ah mengamalkan Tabarra (memburuk-burukkan ketiga Khalifah awal dalam sejarah Islam dan menggunakan bahasa yang keras mengenai mereka), pada sisi lain, ada lagi pihak lain yang mengatakan mengenai Hadhrat Ali Karamallahu wajhah (کرم اللہ وجھہ): بر خلافت دلش بسے مائل لیک ابوبکر شد درمیان حائل ‘Hati beliau sangat cenderung atas kedudukan Khilafat, namun Khilafat Abu Bakr (ra) menghalanginya.’” (Maksudnya, pihak yang tidak setuju dengan Syi’ah mengatakan, ‘Ali pun memiliki keinginan (ambisi) atas kedudukan Khilafat.’)[2]

“Namun saya katakan bahwa mereka tidak akan dapat sampai pada kebenaran sehingga mereka meninggalkan tata cara mereka itu dan berpandangan sesuai dengan apa saya sampaikan. Jika mereka ini tidak yakin, maka sekurang-kurangnya mereka berpikir bahwa pada akhirnya mereka akan mati sewaktu-waktu dan setelah mati tidak mungkin menyelamatkan diri mereka dari kekotoran semacam itu. Ketika dalam pandangan orang-orang yang saleh caci-maki bukanlah hal yang disukai, maka bagaimana ini dapat dianggap sebagai ibadah di hadapan Tuhan yang Maha Suci?”

Demikian juga ketika manusia melakukan perbuatan-perbuatan yang buruk dan kezaliman, maka ibadahnya di hadapan Allah Ta’ala tidak bisa dikatakan sebagai ibadah.

Lebih lanjut beliau (as) bersabda, “Oleh karena itu saya katakan bahwa datanglah kepada saya dan dengarlah supaya kalian melihat kebenaran. Keinginan saya adalah tanggalkan seluruh pakaian itu. Lakukanlah taubat yang hakiki dan jadilah seorang mukmin.” (Tanggalkanlah pakaian akidah-akidah palsu dan keliru tersebut dan lakukanlah taubat hakiki, barulah kalian dapat menjadi orang beriman.) “Kemudian mengenai Imam yang kalian tunggu-tunggu, saya katakan bahwa itu adalah saya. Ambillah buktinya dari saya.”

Jadi, inilah hakikat yang dengannya dapat diperoleh pemahaman benar mengenai agama, “Akhirilah segala pertikaian, pertengkaran dan keegoisan satu sama lain, kemudian hadirlah di hadapan Allah Ta’ala, berdoalah kepada-Nya dan lakukanlah taubat yang hakiki.” Akan tetapi, hal ini baru bisa terjadi ketika mereka membersihkan hati mereka dari segala kekotoran dan bersujud di hadapan Allah Ta’ala, maka Allah Ta’ala akan memberikan petunjuk yang benar.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) di satu tempat bersabda menjelaskan mengenai maqom dan keluhuran para Khalifah Rasyidiin: “Sesungguhnya saya mengetahui bahwa tidak akan ada orang yang dapat menjadi Mukmin (orang beriman) atau Muslim (orang Islam) sebelum menyerap semua corak sifat Hadhrat Abu Bakr, Hadhrat Umar, Hadhrat Usman, dan Hadhrat Ali ridhwanullahi ‘alaihim ajma’iin. Mereka tidak cinta duniawi melainkan mewaqafkan kehidupan mereka di jalan Allah semata.”[3]

Jadi, inilah maqom (status) luhur mereka dalam pandangan Hadhrat Masih Mau’ud (as), bahwa untuk menjadi Mukmin dan Muslim yang hakiki hendaknya menjadikan keempat Khalifah itu sebagai teladan bagi dirinya. Ketika hal ini yang terjadi maka tidak tersisa lagi perdebatan mengenai firqah atau aliran. Maka dari itu, inilah akidah Jemaat Ahmadiyah bahwa beliau semua (keempat Khalifah Rasyidin) adalah teladan bagi kita. Ketika kita memiliki akidah seperti ini, maka bukankah hanya Jemaat Ahmadiyah-lah satu-satunya yang merupakan Jemaat yang mengakhiri perpecahan di antara umat Islam dan menciptakan persatuan di antara mereka?

Keempat Khalifah Rasyidiin mempunyai martabat dan status istimewa dan Hadhrat Masih Mau’ud (as) di berbagai tempat menjelaskan dengan sangat gamblang setiap martabat dan kedudukan mereka. Saya akan menyampaikan beberapa kutipan dari beliau (as) supaya para mubayi’iin baru dan para pemuda dapat memahami apa pandangan kita, apa keyakinan kita dan apa akidah kita. Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda, “Di masa itu (yaitu di awal masa kekhalifahan Hadhrat Abu Bakr), Musailamah membuat orang-orang berkumpul mendukungnya dengan cara memberikan ibaahah (pembolehan dan kebebasan atas berbagai hal) sebagaimana mereka harapkan.” (Ia menyampaikan penafsiran-penafsiran yang keliru dan menyatakan perkara-perkara yang salah sebagai jaiz (diperbolehkan atau dibenarkan), hanya untuk mengumpulkan orang-orang supaya bergabung dengannya.) “Dalam keadaan seperti itu Hadhrat Abu Bakr (ra) terpilih sebagai Khalifah. Seseorang dapat membayangkan begitu besar kesulitan yang akan muncul. Seandainya beliau (ra) tidak memiliki kekuatan hati, dan corak keimanan Hadhrat Nabi (saw) tidak terdapat di dalam imannya, tentulah beliau pun mendapat kesulitan besar dan terguncang. Namun, ash-Shiddiq (ra) itu berada di naungan Nabi (saw).” (Dengan kata lain, beliau (ra) Sahabat dekat Nabi (saw) dan berada di bawah pengaruh Nabi (saw).)

“Pengaruh akhlak Nabi Muhammad (saw) sedemikian rupa membekas atas diri beliau (ra), dan hati beliau (ra) pun telah dipenuhi cahaya keyakinan. Inilah mengapa sebabnya keberanian dan keistimewaan yang beliau perlihatkan sepeninggal Hadhrat Rasulullah (saw) sungguh musykil menemukan bandingannya. Kehidupan beliau (ra) adalah kehidupan Islam. Tidak perlu perdebatan panjang atas perkara ini. Pelajarilah berbagai peristiwa  pada waktu itu dan renungkanlah pengkhidmatan Hadhrat Abu Bakr (ra) terhadap Islam.

Saya katakan dengan sesungguhnya bahwa Hadhrat Abu Bakr ash-Shiddiq (ra) ini merupakan Adam Tsani (Adam yang kedua) bagi Islam. Saya memegang keyakinan bahwa seandainya sepeninggal Hadhrat Nabi (saw) tidak ada wujud Hadhrat Abu Bakr, tentulah tidak akan ada lagi Islam.” Artinya, untuk menyelamatkan dari serangan musuh dan menjaga syariat, Allah Ta’ala menunjuk Hadhrat Abu Bakr ash-Shiddiq (ra) saat itu. Beliau (ra) menganugerahkan kehidupan bagi wujud Islam melalui sarana tarbiyat khusus dan jalinan istimewa yang beliau miliki dengan Rasulullah (saw). Beliau pun telah menggagalkan serangan musuh.

Lebih lanjut beliau (as) menjelaskan, “Jadi, ihsan (jasa kebaikan) yang besar dari beliau adalah menegakkan kembali Islam. Beliau dengan keteguhan iman menegur keras para pemberontak dan menegakkan keamanan. Demikianlah sesuai firman Tuhan dan janji-Nya, ‘Aku akan menegakkan keamanan diatas Khalifah yang benar.’ Nubuatan ini sempurna pada zaman Khilafat Hadhrat ash-Shiddiq (ra). Langit dan bumi memberikan kesaksian atasnya secara amalan. Jadi, pengertian ash-shiddiq adalah seseorang yang didalamnya harus terdapat sifat shiddiq (kebenaran) sampai pada martabat dan kesempurnaan seperti beliau itu.”

Hadhrat Masih Mau’ud (as) menjelaskan perihal sifat-sifat dan maqom Hadhrat Umar (ra), “Sadarkah Anda betapa derajat Hadhrat Umar (ra) ini sedemikian mulia di kalangan para sahabat? Hal demikian sehingga beberapa kali ayat-ayat Quran Syarif turun sesuai dengan cetusan pikiran beliau ketika itu. Hadits ini menjelaskan mengenai beliau ra, ‘Bahkan, setan pun lari dari bayangan Hadhrat Umar.’ Hadits lain meriwayatkan, ‘Jika ada lagi nabi sesudahku, itulah Umar, putra al-Khaththaab.’ Hadits ketiga meriwayatkan, ‘Sesungguhnya di dalam kaum terdahulu terdapat para Muhaddats, maka bila ada Muhaddats diantara umatku ini, tentulah Umar putra al-Khaththab orangnya.’”[4]

 Selanjutnya, beliau (as) bersabda dalam menjelaskan mengenai Hadhrat Abu Bakr, Hadhrat Umar dan Hadhrat Usman radhiyallahu ‘anhum secara keseluruhan, وأَظْهَرَ عليَّ رَبِّي أن الصِدّيقَ والفاروقَ وعثمانَ، كانوا من أهلِ الصِّلاحِ والإيمانِ، وكانوا من الذين آثرَهُمُ اللهُ وخُصُّوا بِمَواهبِ الرحمنِ، وشَهِدَ على مزاياهُمْ كثيرٌ من ذوي العِرفانِ. تركوا الأوطانَ لمرضاةِ حضرةِ الكِبرياءِ، ودخلُوا وَطِيسَ كلِّ حربٍ وما بالَوا حَرَّ ظهيرةِ الصَّيفِ وبردِ ليلِ الشِّتاءِ، بلْ ماسُوا في سبلِ الدينِ كَفِتْيَةِ مُتَرَعْرِعِينَ، وما مالوا إلى قريبٍ ولا غريبٍ، وتركوا الكُلَّ للهِ ربِّ العالمينَ. وَإِنَّ لهم نشرًا في أعمالِهِمْ، ونفحاتٍ في أفعالِهِمْ، وَكُلُّهَا تُرْشَدُ إلى روضاتِ درجاتِهِمْ وجناتِ حسناتِهِمْ. وَنَسيمُهُمْ يُخبرُ عن سرِّهِمْ بِفَوْحَاتِهَا، وأنوارِهم تَظهرُ عَلينَا بإِناراتِهَا. فَاسْتَدِلُّوا بِتأرُّجِ عَرْفِهِمْ على تَبَلُّجِ عُرْفِهِمْ.” ‘Wa azh-hara ‘alayya Rabbii anash-Shiddiiqa wal Faaruuqa wa ‘Utsmaana, kaanuu min ahlish shilaahi wal iimaan, wa kaanuu minal ladziina aatsarahumulloohu wa khushshuu bi mawaahibir Rahmaan, wa syahida ‘alaa mazaayaahum katsiirum min dzawil ‘irfaan. Tarakul authaana li mardhati Hadhratil Kibriyaa-i, wa dakhaluu wathiisa kulli harbin wa maa baaluu harra zhahiiratish shaifi wa bardi lailisy syitaa-i, bal maasuu fii subulid diini kafityati mutara’ri’iin, wa maa maaluu ilaa qariibin wa laa ghariibin, wa tarakul kulla lillaahi Rabbil ‘aalamiin. Wa inna lahum nasyran fii a’maalihim, wa nafahaatin fii af’aalihim, wa kulluhaa tarsyudu ilaa raudhaati darajaatihim wa jannaati hasanaatihim. Wa nasiimuhum yukhbiru ‘an sirrihim bi fawhaatihaa, wa anwaarihim tazhharu ‘alaina bi inaaratihaa. Fastadilluu bita-arruji ‘arfihim ‘alaa taballuji ‘urfihim.’

“Dan Tuhan saya telah memperlihatkan kepada saya bahwa sesungguhnya Hadhrat Abu Bakr Ash-Shiddiq, Hadhrat Umar Al-Faruq dan Hadhrat ‘Utsman radhiyAllahu Ta’ala ‘anhum adalah orang-orang saleh lagi beriman. Mereka itu termasuk orang-orang yang diutamakan secara khusus oleh Allah Yang Maha pengasih dengan berbagai karunia-Nya. Banyak arif billah telah menjadi saksi akan keistimewaan-keistimewaan mereka itu. Mereka [Hadhrat Abu Bakr, Umar dan Utsman] telah sering meninggalkan negeri mereka sendiri demi mencari ridha Hadhrat al-Kibriyaa-i (Yang Maha Agung). Mereka senantiasa bergabung dalam setiap panasnya peperangan pada zamannya. Panas teriknya tengah hari di musim panas dan dinginnya malam pada musim dingin tidak mereka pedulikan. Mereka terus berjuang di jalan agama laksana barisan para pemuda yang tangkas dan gagah. Mereka tidak condong kepada orang-orang yang dekat di sekitar mereka dan tidak pula kepada orang-orang yang jauh, mereka telah meninggalkan segala sesuatu demi Allah, Tuhan sekalian alam.

Banyaknya amal-amal perbuatan baik dan anugerah-anugerah mereka yang terkandung dengan aroma wangi; kesemuanya itu menunjukkan akan raudhaat (taman-taman) ketinggian derajat mereka dan jannaat (kebun-kebun) kebaikan mereka.

Demikian pula, hembusan dan kencangnya angin yang dengan keharumannya menyebar mengungkapkan tentang mutu terdalam mereka (para sahabat ra) dan cahaya-cahaya mereka telah menampakkan kepada kita dengan terang-terangnya.”[5]

Referensi yang saya ambil ini banyak dari buku berbahasa Arab [karya Pendiri Jemaat Ahmadiyah], Sirrul Khilafah (Rahasia Khilafah). Penerjemah kedalam bahasa Arab [dari khotbah Jumat ini] saat siaran langsung ini mungkin tidak akan dapat menerjemahkan dengan kualitas seperti ini. Tetapi, ketika dilakukan siaran pengulangan nantinya, silahkan terjemahkan dengan merujuk langsung dari rujukan buku aslinya.

Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda mengenai keistimewaan Hadhrat Ali radhiyAllahu ta’ala ‘anhu, كان تقيًّا نقيًّا مِن الذين هُمْ أَحَبُّ الناسِ إلى الرحمن، ومِن نَخَبِ الجيلِ وساداتِ الزمانِ. أَسَدُ اللهِ الغالبُ وَفَتىَ اللهِ الحنّانُ، نديُّ الكفِّ طيبُ الجنانِ. وكان شُجَاعًا وحيدًا لا يُزايلُ مركزُهُ في الميدانِ ولو قَابَلَهُ فوجٌ من أهل العُدوانِ. أَنفدَ العُمرُ بِعَيشٍ أنكدَ وبلغَ النهايةُ في زهادةِ نوعِ الإنسانِ. وكان أولُ الرجالِ في إِعطاءِ النَّشبِ وإِماطةِ الشجبِ وتفقُّدِ اليتامَى والمساكينِ والجيرانِ. وكان يجلّي أنواعُ بِسالةٍ في معاركَ وكان مظهرُ العجائبِ في هيجاءِ السيفِ والسنانِ. ومع ذلك كان عذبُ البيانِ فصيحُ اللِّسانِ. وكان يُدخلُ بيانَهُ في جذرِ القلوبِ ويَجْلُو بِهَ صدأُ الأَذهانِ، ويَجْلِي مطلعُهُ بِنورِ البرهانِ. وكان قادرًا على أنواعِ الأسلوبِ، ومَنْ نَاضَلَهُ فيها فَاعْتَذِرْ إليه اعتذارَ المغلوبِ. وكان كاملا في كل خيرٍ وفي طُرُقِ البلاغةِ والفصاحةِ، وَمَنْ أَنْكَرَ كمالَهُ فقد سَلَكَ مَسْلَكَ الوقاحةِ.”

‘Kaana – radhiyallahu ‘anhu – taqiyyan naqiyyan minal ladziina hum ahabbun naasi ilar Rahmaan, wa min nakhabil jaili wa saadaatiz zamaan. Asadulloohil ghaalibu wa fatalloohil Hannaan, nudiyyul kaffi thayibul jinaan. Wa kaana syujaa’an wahiidan laa yuzaayilu markazuhu fil maidaani walau qaabalahu faujun min ahlil ‘udwaan. Anfadal ‘umru bi’aisyin ankada wa balaghan nihaayatu fii zahaadati nau’il insaan. Wa kaana awwalur rijaali fii i’thaa’in nasyabi wa imaathatisy syajabi wa tafaqqudil yataama wal masaakiini wal jiiraan. Wa kaana yujalli anwaa’u bisaalatin fii ma’aarika wa kaana mazh-harul ‘ajaaibi fii hijaa-is saifi was sinaan. Wa ma’a dzaalika kaana ‘adzbul bayaani fashiihul lisaan. Wa kaana yudkhilu bayaanahu fii jadzril quluubi wa yajluubiha shad-ul adzhaan, wa yajli mathla’uhu bi nuuril burhaan. Wa kaana qaadiran ‘alaa anwaa’il usluub, wa man naadhalahu fiihaa fa’tadzir ilaihi i’tidzaaral maghluub. Wa kaana kaamilan fii kulli khairin wa fii thuruqil balaaghati wal fashaahah, wa man ankara kamaalahu faqad salaka maslakal wiqaahah.’

“Beliau (‘Ali radhiyaLlahu ta’ala ‘anhu) adalah seorang taqiyy (yang sangat bertakwa) dan naqiyy (sangat suci batinnya) serta termasuk dari antara orang-orang yang sangat dicintai Allah Yang Maha Rahman. Beliau adalah seorang pilihan Allah dan termasuk pembesar pada masanya. Beliau adalah singa Tuhan Yang Maha Tinggi dan seorang pemuda dari Tuhan Yang Maha Baik. Beliau sangat dermawan dan memiliki hati yang bersih. Beliau adalah seorang gagah berani yang tidak pernah lari dari medan peperangan bahkan ketika balatentara musuh menyerang beliau.

Beliau menjalani hidup dalam keadaan zuhd (hidup bersahaja) dan mencapai kedudukan yang tinggi dalam hal kesederhanaan yang tidak dicapai orang-orang lain di masanya. Beliau mengorbankan harta dan terdepan dalam meringankan kesusahan dan kesedihan, dan beliau sangat perhatian dalam hal menolong anak yatim, orang miskin dan para tetangga.

Beliau menampilkan keberanian yang langka pada saat berbagai ekspedisi (gerakan militer), dan trampil memakai pedang serta tombak di peperangan. Tambahan pula (disamping itu), beliau pun seorang pembicara yang indah [berirama] lagi juru pidato yang fasih.

Ucapan beliau memiliki pengaruh yang mendalam bagi para pendengarnya yang dengan kata-katanya beliau menghilangkan karat-karat kalbu serta menerangi hati-hati dengan cahaya pertimbangan [argumentatif, berakal sehat].

Beliau adalah seorang orator terkemuka dan orang-orang yang ahli dalam hal ini lalu datang kepada beliau untuk menandingi beliau maka akan gugur, terkuasai dan kalah [oleh kefasihan kemampuan orasi atau pembicaraan beliau]. Setiap sifat kebaikan beliau selalu terdepan dan pandai dalam fashaahat dan balaaghat (berbahasa dengan sempurna dan fasih tanpa cacat). Orang yang menolak terhadap keunggulannya ini sama dengan menampilkan cara yang tidak tahu malu.”[6]

Selanjutnya, Hadhrat Masih Mau’ud as bersabda mengenai maqom (kedudukan) dan Khilafat Hadhrat Ali (ra), ولا شك أن عليّا كان نُجعةَ الرُوّاد وقدوة الأجواد، وحجة الله على العباد، وخيرَ الناس من أهل الزمان، ونورَ الله لإنارة البلدان، ولكن أيام خلافته ما كان زمن الأمن والأمان، بل زمان صراصر الفتن والعدوان. وكان الناس يختلفون في خلافته وخلافة ابن أبي سفيان، وكانوا ينتظرون إليهما كحيران، وبعضهم حسبوهما كفَرْقَدَي سماءٍ وكزَنْدَينِ في وِعاءٍ. والحق أن الحق كان مع المرتضى، ومَن قاتَلَه في وقته فبغى وطغى”. ‘wa laa syakka an ‘Aliyyan kaana nuj’atar ruwwaadi wa qudwatal ajwaadi, wa hujatullahi ‘alal ‘ibaadi, wa khairan naasi min ahliz zamaani, wa nuurallahi li-inaaratil buldaani, wa lakin ayyaamu khilaafatihi maa kaana zamanul amni wal amaani, bal zamaanu sharashirul fitan wal ‘udwaani. Wa kaanan naasu yakhtalifuuna fi khilaafatihi wa khilaafati bni Abi Sufyaani, wa kaanuu yantazhiruuna ilaihaa ka-hiiraani, wa ba’dhuhum hasabuuhuma ka-farqadai samaa-in wa ka-zandaini fi wi’aa-in. Wal haqqu anal haqqa kaana ma’al Murtadha, wa man qaatalahu fi waqtihi fa-bagha wa thagha.’ – “Tidak diragukan lagi, sesungguhnya Hadhrat Ali (ra) adalah sebuah harapan bagi para pencari kebenaran dan teladan tidak tertandingi bagi para dermawan. Beliau adalah bukti adanya Allah atas hamba-hamba-Nya dan sebaik-baik teladan pada zamannya. Beliau adalah cahaya Allah yang telah menyinari berbagai negeri.

Akan tetapi, masa kekhalifahan beliau (ra) bukanlah masa yang aman dan damai, melainkan pada masa beliau itu sebuah masa badai fitnah dan permusuhan. Sementara itu, orang-orang (kaum Muslimin) ketika itu berselisih pula tentang kekhalifahan beliau (ra) dan kekhalifahan ibnu Abi Sufyan (putra Abu Sufyan, maksudnya Mu’awiyyah) yang mengenai hal itu mereka layaknya orang-orang yang bingung melihat kepada keduanya. Sebagian orang menganggap keduanya seperti dua bintang di langit yang bernama Farqad [dua bintang cemerlang Ursa Minor] dan menganggap keduanya berimbang. Namun, pada hakikatnya, kebenaran itu berada di pihak Al-Murtadha [Hadhrat Ali]. Siapa yang berperang melawan beliau (ra) pada waktu kehidupannya maka mereka ialah pemberontak dan pelampaui batas.”

Selanjutnya dalam menjelaskan berkenaan dengan keempat Khalifah Rasyidin, penjagaan Islam dan Al Quran dan juga maqam dalam memenuhi amanah tersebut, Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda: “Akidah ini adalah sangat penting bahwa Hadhrat Shiddiiq Akbar [Abu Bakr] radhiyallahu ta’ala ‘anhu, Hadhrat Faruqi Umar radhiyallahu ta’ala ‘anhu, Hadhrat Dzun Nuurain [‘Utsman] radhiyallahu ta’ala ‘anhu dan Hadhrat Ali al-Murtadha radhiyallahu ta’ala ‘anhu, semuanya secara fakta dan peristiwa adalah amiin (terpercaya) dalam hal menjaga agama dan memiliki keimanan yang lurus dengan sesungguh-sungguhnya. Hadhrat Abu Bakr radhiyallahu ta’ala ‘anhu adalah Adam Tsani (Adam kedua) bagi Islam dan demikian pula Hadhrat Umar dan Hadhrat ‘Utsman radhiyallahu ta’ala ‘anhuma, seandainya keduanya tidak tepercaya dalam agama, maka kini sangat sulit bagi kita untuk menyampaikan bahwa setiap ayat Alqur’an Syarif adalah berasal dari Allah Ta’ala.” [7]

Hadhrat Masih Mau’ud (as) menjelaskan perihal keempat Khalifah, واللهِ إنهم رجالٌ قاموا في مواطنِ المماتِ لنصرةِ خيرِ الكائناتِ، وتركوا للهِ آباءَهمْ وأبناءَهمْ ومَزَّقُوهمْ بالمُرْهَفَاتِ، وحارَبُوا اْلأَحِبَّاءَ فَقَطَعُوا الرؤوسَ، وأَعْطُوا للهِ النَّفَائِسَ والنفوسَ، وكانوا مع ذلك باكينَ لِقلةِ الأعمالِ ومتندمينَ. وما تَمَضْمَضَتْ مُقَلِّتُهُمْ بِنَومِ الراحةِ، إلا قليلٌ من حقوقِ النفسِ للاستراحةِ، وما كانوا مُتَنَعِّمِينَ. فكيف تَظُنُّونَ أَنَّهُمْ كانوا يَظْلِمُونَ وَيَغْصِبُونَ، ولا يعدلونَ ويجُورونَ؟ وقدْ ثَبَتَ أنهم خَرجُوا من الأهواءِ، وسقطُوا في حَضْرَةِ الكِبْرِيَاءِ، وكانوا قومًا فانينَ.” ‘Wallahi innahum rijaalun qaamuu fi mawaathinil mamaati li nushrati khairil kaa-inaati wa tarakuu lillaahi aabaa-ahum wa abnaa-ahum wa mazaquuhum bil marhiqaati wa harabul ahibbaa-a faqatha’uur ru-uusa, wa u’thuu lillaahin nafaa-isi wan nufuus, wa kaanuu ma’a dzaalika baakiina liqalatil a’maali wa mutanadimiin. Wa maa tamdhamadhat muqlituhum bi naumir raahah, illa qaliilum min huquuqin nafsi lil istiraahah, wa maa kaanu mutana’’imiin. Fa kaifa tazhunnuuna annahum kaanuu yazhlimuuna wa yaghshibuun, wa laa ya’diluuna wa yajuuruun? Wa qad tsabata annahum kharajuu minal ahwaa-i, wa saqathuu fii Hadhratil Kibriyaa-i, wa kaanuu qauman faaniin.’ – “Demi Allah, sesungguhnya mereka [para Khalifah mulia, Hadhrat Abu Bakr, Hadhrat Umar, Hadhrat Utsman dan Hadhrat Ali ridhwaanulloohi ‘alaihim ajma’iin] adalah para lelaki perkasa yang demi membantu Khairul Kaa-inaat (Sebaik-baik makhluk, Hadhrat Muhammad Rasulullah saw) telah tetap bersedia bertahan di medan-medan perang menatap kematian. Demi Allah Ta’ala mereka telah bersedia meninggalkan bapak-bapak dan anak-anak mereka. Bahkan, telah bersedia memutuskan hubungan dengan mereka dan memerangi dengan pedang. Mereka telah berperang melawan orang-orang yang mereka cintai [rekan sejawat atau keluarga mereka yang memerangi Nabi (saw) dan para sahabat], dan memenggal kepala-kepala [para musuh dalam perang].

Mereka telah mengabaikan kesenangan pribadi, memberikan pengorbanan harta dan jiwa di jalan Allah. Walaupun demikian, mereka pun banyak menangis dan menyesal karena merasa amal mereka masih sedikit. (Mereka tidak merasa bangga dengan amalan yang telah mereka lakukan) Mereka tidak mau memejamkan mata untuk beristirahat kecuali sedikit sekedar memberi hak kepada mata-mata mereka beristirahat (Mereka tidak pernah tidur puas). Mereka itu bukanlah orang-orang yang gandrung dengan kesenangan duniawi. Maka, bagaimana mungkin kalian dapat berprasangka bahwa mereka telah berbuat zalim, merampas hak milik orang lain, tidak berlaku adil dan terus berbuat aniaya?

Telah pasti dan terbukti, bahwa mereka benar-benar telah terkeluar dari hawa nafsu duniawi, mereka selalu tersungkur di hadapan singgasana Ilahi, mereka adalah kaum yang fana (fana fillaah: figur-figur yang telah melebur dalam kehendak Allah).” [8]

Jadi, inilah pengetahuan yang benar yang telah Hadhrat Masih Mau’ud (as) berikan kepada kita berkenaan dengan keempat Khalifah tersebut. Seorang Muslim dapat disebut Muslim yang benar hanya bila mengenali maqam (status) dan kehormatan para wujud suci tersebut (Empat Khalifah lurus itu), dan dengan mengentaskan perselisihan satu sama lain [di kalangan Muslim], maka ia menjadi bagian dari umat yang satu. Jika tidak demikian, perselisihan dan pertengkaran internal kita tidak akan memberikan manfaat kepada Islam sama sekali. Pihak yang memusuhi Islam pasti akan mengambil manfaat dari keadaan ini dan memang sedang mereka lakukan sebagaimana saat ini kita tengah saksikan. Jadi, jika ada pengkhidmatan yang dapat dilakukan bagi Islam pada zaman ini dan jika berhasrat untuk menjaga Islam, hal itu dapat dilakukan dengan bergabung dengan sang Jariyullah (Hadhrat Masih Mau’ud (as)). Beliau telah diutus oleh Allah Ta’ala untuk tugas tersebut pada zaman ini.

Seperti yang telah saya katakan bahwa saat ini kita tengah memasuki bulan Muharram. Esok lusa bertepatan dengan tanggal 10 Muharram (Asyura) yang mana para pengikut Syi’ah memperlihatkan perasaannya untuk mengenang syahidnya Hadhrat Husain (ra).[9] Tentu saja pensyahidan beliau merupakan perbuatan yang sangat kejam. Tidak diragukan lagi, ketika para pengikut Syi’ah memperlihatkan perasaannya pada hari-hari ini atau bahkan dalam hari-hari lainnya ketika mereka memperlihatkan perasaan mereka berkenaan dengan Hadhrat Husain dan Hadhrat Ali, maka di kalangan mereka terdapat anggapan terkait Hadhrat Masih Mau’ud (as) dan Jemaat beliau bahwa beliau (as) atau Jemaat beliau (as) tidak mengenali maqam (status) yang sebenarnya dari para Ahlu Bait (keluarga) Nabi Muhammad (saw). Jemaat Ahmadiyah selalu berusaha untuk menjauhkan kesalahpahaman tersebut. Apa yang telah disabdakan oleh Hadhrat Masih Mau’ud (as) berkenaan dengan Hadhrat Ali dan yang saya bacakan pada hari ini, seseorang dapat memahami dengan jelas bagaimana maqam dan kehormatan Hadhrat Ali (ra) dalam pandangan Hadhrat Masih Mau’ud (as). Namun, bersamaan dengan itu kita pun meyakini bahwa ketiga Khalifah yang lainnya pun berada diatas kebenaran.

Saat ini akan saya sampaikan dengan rujukan dari tulisan dan sabda Hadhrat Masih Mau’ud (as), bagaimana maqam keluarga Rasulullah (saw) dalam pandangan beliau dan apa nasihat yang beliau berikan kepada Jemaat beliau dalam hal ini. Di dalam buku Sirrul Khilafah, Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda mengenai Hadhrat Ali dan keluarganya: وكان يندُبُ إلى مُواساةِ المضطَرِّ، ويأمُر بإطعامِ القانعِ والمـُعْترِّ، وكان من عباد الله المقرَّبين. ومع ذلك كان من السابقين في ارتضاعِ كأسِ الفرقان، وأُعطِيَ له فَهْمٌ عجيبٌ لإدراكِ دقائقِ القرآن.”Wa kaana yandubu ilaa muwaaasaatil mudhtharr, wa ya’muru bi ith’aamil qaani’i wal mu’tarr, wa kaana min ‘ibaadallahil muqarrabiin. Wa ma’a dzaalika minas saabiqiina fii irtidhaa’i ka-sil Furqaan, wa u’thiya lahu fahmun ‘ajiibun li idraaki daqaa-iqil Qur’aan.’ – “Beliau gemar menganjurkan untuk menghilangkan kesedihan orang-orang yang tidak berdaya dan juga menginstruksikan untuk memberi makan kepada mereka yang patut untuk diberi namun menahan diri (orang miskin) maupun kepada mereka yang meminta dengan mendesak-desak (faqir). Beliau termasuk hamba-hamba yang dekat dengan Allah Ta’ala. Dan disamping itu, beliau termasuk yang unggul dan terdepan dalam hal meminum ‘susu dari gelas (sumber mata air)’ al-Furqaan (pemahaman yang mendalam tentang Al-Quran). Beliau meraih pemahaman yang ajaib dalam memahami kehalusan Al-Quran.” [10]

Selanjutnya, Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda, وإني رأيته وأنا يقظان لا في المنام، فأعطاني تفسير كتاب الله العلام، وقال: هذا تفسيري، والآن أُولِيتَ فَهُنّيتَ بما أُوتِيتَ.  “Saya pernah berjumpa dengannya (Hadhrat ‘Ali) dalam kasyaf yakni dalam keadaan terjaga, bukan tidur. Dalam keadaan demikian, Hadhrat Ali memberikan saya sebuah Kitab tafsir terhadap Kitab Tuhan yang Maha Ghaib dan bersabda, ‘Ini adalah tafsir saya dan sekarang ini saya berikan kepada Anda.  Selamat! Karena Anda telah diberikan anugerah ini.’

فبسّطتُ يدي وأخذت التفسير، وشكرت الله المعطي القدير. ووجدتُه ذا خَلْقٍ قويم وخُلقٍ صميم، ومتواضعا منكسرا ومتهلّلاً منوّرا. Saya lalu menjulurkan tangan dan menerima Kitab tafsirnya. Saya pun bersyukur kepada Allah Ta’ala Yang Maha Pemilik Kekuasaan dan Maha Menganugerahkan. Saya mendapatinya sebagai seorang berperawakan seimbang, berbudi pekerti lurus, sopan santun, rendah hati, berseri-seri dan bercahaya.

وأقول حلفًا إنه لاقاني حُبًّا وأُلْفًا، وأُلقي في روعي أنه يعرفني وعقيدتي، ويعلم ما أخالف الشيعة في مسلكي ومشربي، ولكن ما شمخ بأنفه عُنفًا، وما نأى بجانبه أنفًا، بل وافاني وصافاني كالمحبين المخلصين، وأظهر المحبة كالمصافين الصادقين. Saya bersumpah: Sesungguhnya Hadhrat ‘Ali (ra) menjumpai saya dengan penuh kecintaan dan keramahan. Dilekatkan dalam benak saya bahwa beliau mengenali saya dan mengetahui akidah saya. Beliau juga mengetahui hal-hal yang saya berbeda pandangan dengan kaum Syi’ah dalam akidah dan keyakinan. Namun, beliau tidak memperlihatkan suatu ketidaksukaan atau ketidaksetujuan. Tidak juga beliau berpaling dari saya. Justru beliau menemui saya dan mencintai saya layaknya kekasih yang tulus dan mengungkapkan kecintaannya itu bagaikan seorang sahabat yang sejati dan tulus.

وكان معه الحسين بل الحسنينِ وسيد الرسل خاتم النبيين، وكانت معهم فتاة جميلة صالحة جليلة مباركة مطهّرة معظّمة مُوَقرة باهرة السفور ظاهرة النور، ووجدتها ممتلئة من الحزن ولكن كانت كاتمة، وأُلقي في روعي أنها الزهراء فاطمة. Beliau (Hadhrat ‘Ali ra) ditemani oleh Hadhrat Husain, bahkan Hadhrat Hasan dan Hadhrat Husain serta Sayyidur Rusul, Khātaman Nabiyyīn (saw). Beserta mereka seorang wanita muda yang cantik, berderajat tinggi kesalehannya, terhormat, diberkati, suci, agung dan dimuliakan. Mutu tinggi batiniah dan lahiriah beliau mengandung cahaya ruhani. Saya mendapati beliau (ra) tengah penuh dengan kesedihan tapi selalu beliau sembunyikan. Disampaikan kedalam hati saya bahwa beliau (ra) adalah Fāthimah Az-Zahrā’.

فجاءتني وأنا مضطجع فقعدت ووضعت رأسي على فخذها وتلطفت، ورأيتُ أنها لبعض أحزاني تحزن وتضجر وتتحنن وتقلق كأمّهات عند مصائب البنين.  Saya tengah berbaring ketika Hadhrat Fatimah (ra) mendekati saya lalu beliau duduk di dekat saya. Beliau meletakkan kepala saya di atas paha beliau dan memperlihatkan kasih sayang. Saya melihat beliau merasa sedih dan cemas disebabkan oleh berbagai permasalahan yang tengah saya alami. Beliau merasa iba dan risau laksana para ibu yang gelisah atas penderitaan anaknya.” [11]

Hadhrat Masih Mau’ud (as) dalam hal ini bersabda bahwa [di dalam kasyaf itu] Hadhrat Fathimah (ra) bersikap baik kepada beliau dan mencemaskan keadaan beliau layaknya seorang ibu ketika anaknya tengah dalam kesulitan. Para Maulwi (Ulama) yang berpikiran kotor terus melontarkan keberatan kepada Hadhrat Masih Mau’ud (as) terkait tulisan ini dengan mengatakan, “Pendiri Ahmadiyah berkata, ‘Hadhrat Fatimah meletakkan kepalaku di atas pahanya.’”

Sebenarnya yang Hadhrat Masih Mau’ud (as) sabdakan di kalimat ini dalam konteks (latar belakang) pernyataan kecintaan seorang ibu kepada anaknya. Namun, apa yang dapat seseorang jelaskan kepada orang-orang yang sudah berotak kotor (tidak senonoh) itu. Umat Muslim yang awam, setelah mendengar ucapan para maulwi itu, beranggapan bahwa Hadhrat Masih Mau’ud (as) telah lancang kepada Hadhrat Fatimah (ra). Na’udzubillah. Hadhrat Masih Mau’ud (as) telah mengklarifikasi hal itu lebih lanjut dengan bersabda, “Betapa pengasihnya Hadhrat Fathimah (ra) kepada saya sebagaimana seorang ibu bersikap pengasih kepada anaknya.”

Lebih lanjut Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda, فعُلّمتُ أني نزلتُ منها بمنـزلة الابن في عُلَق الدين، وخطر في قلبي أن حزنها إشارة إلى ما سأرى ظلما من القوم وأهل الوطن المعادين. “Saya lalu diberi tahu bahwasanya hubungan saya dengan beliau (Hadhrat Fathimah) ialah dalam pandangan Hadhrat Fathimah status saya seperti salah seorang anaknya secara ruhani. Terbetik di dalam benak saya bahwa kesedihan beliau merupakan isyarat pada suatu kezaliman yang akan saya alami dari bangsa saya sendiri, penduduk negeri ini dan pihak-pihak yang memusuhi.”

Artinya, Hadhrat Fatimah bersedih setelah mengetahui bahwa anaknya akan terpaksa mengalami kezaliman ini. ثم جاءني الحسنان، وكانا يبديان المحبة كالإخوان، ووافياني كالمواسين. وكان هذا كشفًا من كشوف اليقظة، وقد مضت عليه بُرْهة من سنين. “Kemudian, datanglah Hadhrat Hasan (ra) dan Husain (ra) mendekat. Keduanya memperlihatkan rasa cinta layaknya saudara dan mendatangiku bak dua orang pelipur lara. Itu berupa suatu kasyaf dalam keadaan terjaga dan suatu momen yang sudah berlalu.” [12]

Kemudian beliau as bersabda, وَلِي مُناسبةٌ لطيفةٌ بِعَلِيٍّ والحسينِ، ولا يَعْلمُ سرُّهَا إلا رَبُّ المشرقينِ والمغربينِ. وإني أُحِبُّ عليًا وابناه، وأُعَادِي مَنْ عَاداهُ، ومع ذلك لستُ مِنَ الجائرينَ المتعسفينَ. وما كان لي أَنْ أعرضَ عما كشفَ اللهُ عليَّ، وما كنتُ من المعتدينَ.”  ‘Wa lii munaasibatun lathiifatun bi ‘Aliyyin wal Husain, wa laa ya’lamu sirruhaa illa Rabbul masyriqaini wal maghribain. Wa inni uhibbu ‘Aliyyan wa bnaahu, wa u’aadii man ‘aadaahu, wa ma’a dzaalika lastu minal jaa-iriinal muta’asifiin. Wa maa kaana lii an a’radha ‘ammaa kasyifallahu ‘alayya, wa maa kuntu minal mu’tadiin.’ – “Dan saya memiliki hubungan yang halus (cocok, compatible) dengan Ali dan al-Husain dan tidak ada yang mengetahui rahasia ini kecuali Allah, Rabb (Tuhan Pemilik) dua arah di timur dan dua arah di barat, dan sesungguhnya saya menyintai Ali dan kedua putranya (Hasan ra dan Husain ra). Karena itu, siapa yang memusuhi beliau, saya pun memusuhinya. Bersamaan dengan itu, saya bukan termasuk orang-orang yang zalim dan berbuat tanpa pemikiran (aniaya). Saya tidak mungkin memalingkan muka dari apa-apa yang telah Allah bukakan kepada saya dan saya bukan termasuk orang-orang yang melampaui batas.” [13]

Selanjutnya, dalam satu kesempatan Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda, “Di dalam qasidah ini, saya menulis berkaitan dengan Imam Husain ra, atau menjelaskan dalam kaitannya dengan Hadhrat ‘Isa ‘alaihissalam yang mana ini bukan buatan manusia. Khabits (kotorlah) dia yang dari dirinya menggunakan bahasa kecaman kepada orang-orang yang kamil (sempurna) dan saleh. Saya berkeyakinan, bila ada manusia yang menggunakan kata-kata buruk kepada Husain atau Isa atau orang suci mana pun, satu malam saja ia tidak akan hidup dan ancaman, ‘Siapa yang memusuhi wali-Ku, tentu Sahabatnya (Tuhan) akan mencengkeramnya’ akan berlaku kepadanya. Selamatlah ia yang memahami urusan-urusan langit dan menaruh perhatian kepada amalan-amalan berdasarkan hikmat Tuhan.” [14]

            Hadits yang beliau rujuk diatas adalah, “ إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ‘man ‘aada lii waliyyan faqad adzantuhu bil harb’ – “Siapa yang berupaya memusuhi wali-Ku, niscaya Aku umumkan perang terhadapnya.”[15]

Ketika seseorang mengungkapkan kecintaannya dalam majlis pribadi, tidak ada orang lain di dalamnya, maka pernyataan kasih sayang tersebut merupakan suara kalbunya. Adapun wujud suci yang kepadanya Allah Ta’ala memberikan maqam yang terkemuka, setiap ucapannya merupakan suara hati. Namun para pelontar keberatan hendaknya paham bagaimana pernyataan rasa cinta yang beliau lantunkan ketika berada di dalam rumah. Beliau as tidak hanya menyampaikan pengungkapan kecintaan kepada Hadhrat Husain atau ahli bait itu dalam bentuk tulisan, sabda atau dalam suatu majlis, bahkan dalam lingkungan rumah tangga pun ketika duduk-duduk bersama anak-anak beliau ungkapkan rasa cinta itu.

Hadhrat Mirza Bashir Ahmad ra putra Hadhrat Masih Mau’ud as meriwayatkan, “Disebabkan oleh rasa cinta kepada Hadhrat Rasulullah (saw), Hadhrat Masih Mau’ud (as) sangat mencintai ahli bait (keluarga) beliau (saw) dan para sahabat beliau (saw). Suatu waktu di bulan Muharram, Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihissalam sedang merebahkan diri di sebuah carpai [ranjang terbuat dari kayu dan tali khas anak benua India, bisa menjadi tempat duduk dan berbaring]. Beliau as lalu memanggil saudari kami, Mubarakah Begum Sallamaha (semoga Allah menganugerahinya kesejahteraan) dan saudara kami, Almarhum Mubarak Ahmad, yang dari antara kami bersaudara ialah yang terkecil. Beliau bersabda, “Marilah kemari, anak-anak, Ayah akan menceritakan sebuah peristiwa di bulan Muharram.” Kemudian dengan penuh keharuan, beliau memperdengarkan (menceritakan) mengenai peristiwa-peristiwa seputar kesyahidan Hadhrat Imam Husain (ra).

Seraya menceritakan peristiwa-peristiwa tersebut, mata beliau berlinangan dengan air mata yang mengalir deras. Jari-jemari tangan beliau berkali-kali mengusap (menyeka) mata beliau yang berair. Setelah selesai menceritakan kisah menyedihkan ini, beliau bersabda dengan sangat penuh kedukaan, یزید پلید نے یہ ظلم ہمارے نبی کریم کے نواسے پر کروایا مگر خدا نے بھی ان ظالموں کو بہت جلد اپنے عذاب میں پکڑ لیا۔Yazid peleed ne yeh zhulm hamare Nabi Karim shallallahu ‘alaihi wa sallam ke nawaaze par karwaaya. Magar, Khuda ne bhi un zhaalimong ko bahut jald apne ‘adzaab me paker liya. – ‘Yazid si kotor itu menjadi aktor di balik perbuatan zalim terhadap cucu Nabi kita yang mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam. Namun demikian, Tuhan juga telah dengan sangat cepat mencengkeramkan adzab-Nya kepada orang-orang zalim itu.’

Saat Hadhrat Masih Mau’ud (as) menceritakan itu sungguh keadaan beliau penuh pilu. Tampak beliau dipenuhi penderitaan berat ketika menggambarkan peristiwa pensyahidan mengerikan atas buah hati junjungan beliau (saw) dan ini semua disebabkan oleh rasa cinta yang dalam kepada sang Rasul suci (saw).”[16]

Berkaitan dengan ini Nawab Mubarakah Begum Sahibah sendiri dalam sebuah kesempatan meriwayatkan yang masih tentang peristiwa ini, “Suatu kali Hadhrat Masih Mau’ud (as) ada sedang berbaring di Carpai (dipan). Saya dan Mubarak membawa kasyfah (bulus atau kura-kura) yang ingin kami perlihatkan kepada beliau (as). Beliau as bersabda, ‘Mari sini!’ – apa yang kami bawa tadi beliau tidak perhatikan – lalu beliau bersabda, ‘Ayah akan menceritakan kisah Muharam pada kalian.’ Kami lalu duduk dekat beliau as. Saat itu 10 hari pertama bulan Muharam. Beliau mulai menceritakan kisah syahidnya Hadhrat Imam Husain as. Beliau bersabda, ‘Beliau (Imam Husain ra) adalah cucu Nabi kita, Nabi yang mulia (saw). Orang-orang munafik dengan kejam mensyahidkan beliau yang dalam keadaan haus dan lapar di padang Karbala.’”

Kemudian beliau (Nawab Mubarakah Begum Sahibah ra) melanjutkan penjelasan Hadhrat Masih Mau’ud (as), “Beliau (as) bersabda, ‘Hari itu langit berwarna merah. Hari itu langit berwarna merah. Dalam waktu 40 hari kemurkaan Allah Ta’ala mencengkram para pembunuh yang zalim itu. Ada yang mati karena kusta. Ada yang mendapat azab ini dan ada yang mendapat azab itu.’

Bilamana saja beliau (as) menyebut tentang Yazid, beliau menyebutnya Yazid Palid (Yazid yang kotor). Cukup panjang narasi yang beliau as ceritakan. Pada saat beliau bercerita keadaan beliau sedemikian rupa penuh haru. Air mata beliau mengalir, yang beliau hapus dengan jari telunjuk beliau.”

Ketika seseorang mendengar kisah kezaliman ini maka bulu romanya (bulu kuduk) akan berdiri. Riwayat-riwayat menyebutkan ketika pasukan Imam Husain dikalahkan [dibunuh habis] oleh musuh, beliau (Hadhrat Imam Husain ra) mengarahkan kuda yang ditungganginya ke arah Furat [Sungai Euphrat].[17] Orang-orang memblokade (menutup dengan barisan prajurit pada) jalan yang akan beliau lalui, dan beliau tidak diberi jalan untuk mencapai sungai itu. Seseorang memanah beliau yang mengenai bagian atas dagu beliau sehingga menyebabkan luka yang sangat dalam. Kemudian orang-orang itu terus menyerang beliau dan mensyahidkan beliau.

Mengenai keadaan pertempuran beliau, perawi menceritakan, “Sebelum beliau (Hadhrat Husain) syahid saya mendengar beliau bersabda, أعَلى قَتلي تَحاثّونَ ، أما وَاللّهِ لا تَقتُلونَ بَعدي عَبدا مِن عِبادِ اللّهِ، اللّهُ أسخَطَ عَلَيكُم لِقَتلِهِ مِنّي! وَايمُ اللّهِ ، إنّي لَأَرجو أن يُكرِمَنِي اللّهُ بِهَوانِكُم ، ثُمَّ يَنتَقِمَ لي مِنكُم مِن حَيثُ لا تَشعُرونَ .  ‘Demi Allah! Setelah aku, siapapun dari antara para pencinta Allah Ta’ala yang kalian bunuh, kemurkaan Allah Ta’ala terhadap kalian tidak akan lebih keras seperti kalian membunuhku. Demi Allah! Aku harap Allah Ta’ala akan menimpakan kehinaan atas kalian dan Dia akan memberi kemuliaan kepadaku. Allah akan membalas atas kejahatan kalian terhadapku sehingga kalian akan merasa heran.’”[18]

Setelah Hadhrat Husain ra disyahidkan bagaimana perbuatan yang dilakukan oleh para penyerang? Mereka mulai mengadakan penjarahan dan perampokan terhadap kemah Hadhrat Imam Husain (ra) tempat anggota keluarga beliau (ra) berada. Bahkan, mereka merampas kain-kain cadar penutup kepala kaum perempuannya.

Setelah Hadhrat Husain (ra) disyahidkan dan jasad beliau (ra) terbaring [di tanah medan peperangan], pemimpin kaum penyerang memanggil orang-orangnya dan berkata, “Siapa yang ingin melindas tubuhnya dengan kuda-kuda mereka?”[19]

Mendengar seruan itu, datanglah sepuluh orang penunggang kuda lalu dengan kejamnya menginjak-injak tubuh Hadhrat Imam Husain (ra) dengan kaki-kaki kuda mereka sehingga dada dan punggung jasad beliau ra menjadi remuk-redam dan pecah-belah.

Menurut sebuah riwayat, di tubuh beliau ada 33 luka akibat tusukan tombak dan 43 luka pedang ditambah luka-luka akibat serangan anak-anak panah. Kemudian kepala beliau dipotong lalu dibawa ke Gubernur. Kemudian, potongan kepala Hadhrat Imam Husain ra itu dipancangkan (dipamerkan) oleh Gubernur itu diatas tanah kota Kufah. Ini adalah puncak dari kekejaman. Bahkan, musuh paling buruk sekalipun tidak akan melakukan hal ini. [20]

Secara ringkas telah saya sampaikan beberapa saja dari peristiwa tersebut. Namun, ketika Hadhrat Masih Mau’ud (as) menceritakan kisah ini air mata beliau berjatuhan karena kesedihan. Dengan demikian, bagaimana mungkin dapat dikatakan bahwa – naudzubillah – Hadhrat Masih Mau’ud (as) tidak mencintai keluarga Nabi Muhammad (saw) atau tidak menghargai mereka. Bahkan, dalam satu kesempatan beliau as menasehati jemaat beliau dengan keras, “Hendaknya jelas bagi kalian, saya mengetahui dari sebuah kartu pos seseorang bahwa sebagian orang tuna ilmu (naadaan admi atau bodoh) yang menganggap diri mereka anggota Jemaat saya  – na’udzubillahdengan mulut mereka sendiri berkaitan dengan Hadhrat Imam Husain (ra) menyebut-nyebut, ‘Hadhrat Imam Husain ra pemberontak karena tidak baiat kepada Khalifah-e-Waqt, Yazid, sedangkan Yazid ada di pihak yang benar.’”

Beliau as bersabda, “لعنة الله على الكاذبينLa’natullahi ‘alal kaadzibiin – ‘Laknat Allah atas para pendusta’. Tidak saya duga dari Jemaat saya ada yang mengeluarkan kata-kata kotor seperti ini tentang seorang suci. Namun bersamaan dengan itu juga terlintas dalam benak saya bahwa karena orang-orang Syi’ah dalam perkumpulan-perkumpulan mereka juga menjadikan saya sebagai sasaran yang di dalam hal itu mereka telah berbicara buruk kepada umat Muslim lainnya, maka dari itu tidak heran juga jika seorang yang bodoh lagi tidak beradab menjawab kata-kata bodoh mereka dengan kata-kata bodoh lagi sebagaimana sebagian Muslim jahil menjawab caci-maki orang Kristen terhadap Rasulullah (saw) dengan kata-kata yang keras tentang Hadhrat Isa (as).

Walau bagaimana pun, melalui isytihar (selebaran) ini saya memberitahukan kepada para anggota Jemaat bahwa kita meyakini Yazid adalah seorang bertabiat kotor, ulat dunia (pecinta duniawi), zalim (kejam) dan pada dirinya tidak ada tanda-tanda bagi seseorang yang dapat dikatakan mu’min (beriman). Untuk menjadi seorang beriman bukanlah perkara mudah. Mengenai orang seperti itu Allah Ta’ala berfirman, قَالَتِ الۡاَعۡرَابُ اٰمَنَّا ؕ قُلۡ لَّمۡ تُؤۡمِنُوۡا وَ لٰکِنۡ قُوۡلُوۡۤا اَسۡلَمۡنَا وَ لَمَّا یَدۡخُلِ الۡاِیۡمَانُ فِیۡ قُلُوۡبِکُمۡ ؕ وَ اِنۡ تُطِیۡعُوا اللّٰہَ وَ رَسُوۡلَہٗ لَا یَلِتۡکُمۡ مِّنۡ اَعۡمَالِکُمۡ شَیۡئًا ؕ اِنَّ اللّٰہَ غَفُوۡرٌ رَّحِیۡمٌ ﴿﴾  ‘Orang-orang Arab gurun berkata, “Kami telah beriman.” Katakanlah, “Kamu belum sungguh-sungguh beriman; akan tetapi hendaknya kamu berkata, ‘Kami telah tunduk patuh’; karena iman sejati belum masuk ke dalam kalbu kamu.”’ (Surah Al-Hujaraat)

Orang mu’min (beriman) adalah mereka yang amal perbuatan mereka memberi kesaksian bahwa di dalam hatinya ada tertulis iman, dan ia mendahulukan kepentingan Allah Ta’ala dan keridhaan-Nya diatas setiap kepentingan pribadinya, dan ia berusaha melangkahkan kakinya diatas jalan takwa kendati pun susah dan sempit demi meraih keridhaan Allah Ta’ala, dan ia terbenam dalam lautan kecintaan-Nya, dan ia singkirkan sejauh-jauhnya setiap benda seperti patung berhala yang menjadi penghalang antara dirinya dengan Tuhan, apakah berupa keadaan akhlak atau perbuatan fasik atau kemalasan dan kelalaian. Tetapi, Yazid yang bernasib malang itu bagaimana dapat memperolehnya. Kecintaan terhadap duniawi telah membutakannya.

Namun, Imam Husain ra adalah thahir dan muthahhar (suci dan tersucikan) dan tanpa ragu beliau adalah salah seorang manusia terpilih yang Tuhan sendiri telah menyucikannya melalui tangan-Nya, dan Dia telah menjadikannya hamba pilihan-Nya yang Dia cintai, dan tanpa ragu beliau salah seorang pemimpin ahli surga, dan jika satu dzarrah (sangat sedikit) saja menyimpan rasa benci dalam hati kepadanya akan mengakibatkan hilangnya iman.

Ketakwaan, kecintaan kepada Tuhan, kesabaran, istiqamah (teguh pendirian) dan zuhd (kesederhanaan), serta ibadah dari Sang Imam ini bagi kita merupakan uswah hasanah (teladan yang baik), dan kita adalah orang-orang yang mengikuti petunjuk yang diterima Imam mashum (suci terjaga dari dosa) ini. Rusaklah hati orang yang memusuhinya dan berjayalah hati yang menaruh kecintaan kepadanya serta menampakkannya dalam corak amal perbuatan. Iman beliau, akhlak beliau, keberanian beliau, ketakwaan dan istiqamah beliau serta kecintaan beliau kepada Tuhan; gambaran semuanya itu telah terlukis secara sempurna dalam diri beliau, laksana gambaran seorang yang tampan atau cantik terlihat di sebuah cermin yang jernih.

Orang seperti ini tersembunyi dari mata dunia. Siapa yang dapat mengetahui martabat sejati orang seperti ini, selain mereka yang dari kalangannya. Mata orang duniawi tidak akan dapat mengenalnya sebab beliau sangat jauh dari dunia. Itulah yang menyebabkan kesyahidan Husain (ra) sebab beliau tidak dikenali martabat sejatinya oleh mereka. Pernahkah dunia telah menyintai orang-orang suci dan saleh pada zaman kehidupannya sehingga kita harapkan mereka memperlihatkan juga kecintaan kepada Husain (ra)?

Ringkasnya, merendahkan Husain ialah perkara yang membuat seseorang masuk ke dalam tingkat ekstrim kemalangan dan ketiadaan iman, dan siapa yang menghina Husain (ra) atau siapa pun wali yang termasuk dari a-immah (para imam) yang muthahharin (tersucikan) atau sekalipun secara halus menggunakan kata-katanya maka ia menyia-nyiakan imannya. Sebab, Allah Yang Jalla Sya’nuhu (Gagah Perkasa) menjadi musuh orang-orang seperti itu, yang memusuhi hamba pilihan dan orang-orang yang dicintai-Nya.”[21]

Jadi, setelah mendengar semua ini, bagaimana seseorang dapat mengatakan bahwa Hadhrat Masih Mau’ud (as) tidak mencintai Aali Muhammad (keluarga Muhammad saw)? Tidak ada yang bisa menyamai kecintaan beliau terhadap Aali Muhammad (saw) dan ini juga beliau (as) sampaikan.

Sejauh mana kaum Syiah sampai pada batas ghulluw (melampaui batas),Hadhrat Masih Mau’ud (as) juga menjelaskan hakekat yang sebenarnya. Bilamana saja kaum Sunni (Ahlus Sunnah) melakukan kesalahan, Hadhrat Masih Mau’ud (as) juga menasehati supaya melakukan ishlah (memperbaiki diri). Inilah pekerjaan seorang Hakam dan ‘Adl. Allah Ta’ala mengutus beliau as untuk Tabligh (menyampaikan) dan menyebarkan ajaran hakiki Islam.

Namun meskipun demikian, kedua firqah besar ini [yaitu Ahlus Sunnah dan Syi’ah] tetap saja mengatakan hal-hal buruk terhadap para Ahmadi. Kita juga dijadikan sasaran kezaliman. Tapi meskipun demikian, kita meneruskan pekerjaan ini dengan sabar dan istiqomah; yaitu pekerjaan yang dibebankan pada kita yang untuk itu kita baiat pada Hadhrat Masih Mau’ud (as) bahwa kita akan menyebarkan Islam hakiki ke seluruh dunia dan menjadikan uswah (keteladanan) yang diperlihatkan Hadhrat Imam Husain (ra) sebagai pedoman.

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) dalam sebuah syairnya bersabda:

وہ تم کو حسین بناتے ہیں اور آپ یزیدی بنتے ہیں
یہ کیا ہی سستا سودا ہے دشمن کو تیر چلانے دو

‘Woh tum ko Husain banate heei’ aor aap Yazidi bante heei’

Yeh kiya hii sastah sauda he, dushman ko teer chalaney do’.

Mereka menjadikan kalian Husaini (seperti Husain), sedangkan mereka sendiri menjadi Yazidi (seperti Yazid)

Betapa ini jual beli yang murah, biarkanlah musuh meluncurkan anak-anak panahnya[22]

Jadi, pengorbanan-pengorbanan kita insyaa Allah tidak akan sia-sia. Dalam satu kesempatan Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda, “Memang saya memiliki persamaan dengan Husain, tapi kali ini hasilnya akan berbeda tidak seperti dulu. Karena Allah Ta’ala telah menakdirkan bahwa saya akan memperoleh keberhasilan. Kali ini kemenangan akan diperoleh oleh orang-orang yang memiliki sifat-sifat Husain.”

Dalam kata lain, insyaa Allah kemenangan ini akan mewujud secara lahiriah juga. Musuh akan kalah dan gagal.

Jadi untuk itu saat ini seharusnya kita lebih menekankan lagi pada doa-doa khususnya pada bulan Muharram ini dan senantiasa seterusnya. Apalagi saat ini ketika mereka yang memusuhi kita sedang pada puncaknya dalam menentang dan mengerahkan segala kekuatannya, khususnya di Pakistan dan juga di tempat lain, hendaknya kita banyak-banyaklah berdoa dan membaca shalawat. Semakin banyak kita tunduk di hadapan Allah Ta’ala, maka semakin cepat Allah Ta’ala menganugerahkan kita kemenangan dan keberhasilan.

Selama hari-hari ini secara khusus doakan jugalah umat Muslim lainnya dikarenakan berbagai golongan Muslim telah bertekad saling bunuh antara satu terhadap yang lain. Khususnya dalam hari-hari ini ketika 10 Muharam tiba maka sejarah masa lalu sampai saat ini membuktikan bahwa ada saja serangan yang terjadi di petilasan-petilasan suci Imam-Imam tertentu dan tempat-tempat ziarah lainnya atau perkumpulan orang-orang Syiah di berbagai tempat lainnya juga sehingga banyak orang yang disyahidkan. Mereka disyahidkan atas nama agama.

Semoga Allah Ta’ala memberi mereka akal dan semoga sekurang-kurangnya tahun ini kita tidak mendengar kabar dari negara mana pun bahwa umat Muslim telah membunuh umat Muslim lainnya. Semoga umat Muslim segera mengenali kebenaran bahwa kemenangan Islam yang sudah ditakdirkan Allah Ta’ala itu telah ditakdirkan akan diperoleh melalui Hadhrat Masih Mau’ud (as). Semoga mereka memahami bahwa sekarang keberhasilan baru dapat diaraih jika kita baiat pada Imam Zaman, yaitu Hadhrat Masih Mau’ud (as). Semoga Allah Ta’ala memberi mereka taufik.

Khotbah II

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ!

 إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ

أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Penerjemah: Mln. Mahmud Ahmad Wardi, Syahid (London, UK), Mln. Muhammad Hasyim (Indonesia) dan Mln. Saifullah Mubarak Ahmad (Qadian, Bharat/India). Editor: Dildaar Ahmad Dartono.


[1] Tadzkirah, halaman 490, edisi cehaaram (IV), 2004 (“بدر” 24/11/1905، ص2).

[2] Kaum Syi’ah ialah segolongan umat Muslim yang berpandangan yang berhak dan tepat menjadi pemimpin umat Islam ialah dari keluarga Rasulullah (saw) dan keturunannya. Mereka hanya mengakui Khalifah ‘Ali (ra) yang merupakan sepupu dan menantu Nabi (saw) sebagai Imam yang nanti diteruskan keturunannya. Dalam rangka menegaskan Imamah ‘Ali (ra), mereka mengkritik dan menggunakan bahasa yang keras terhadap Khilafah Hadhrat Abu Bakr (ra), Hadhrat ‘Umar (ra) dan Hadhrat ‘Utsman (ra). Kaum Ahlus Sunnah dan beberapa golongan lain tidak mengharuskan seorang Khalifah keturunan Nabi Muhammad (saw) dan mengakui para Khalifah Rasyidin yang empat. Ketika kritikan dan pilihan bahasa yang tajam dan keras dipakai, mereka yang bukan Syi’ah balik membalas menggunakan kritikan yang tajam kepada Hadhrat ‘Ali (ra).

[3] Lecture Ludhianah, Ruhani Khazaain jilid 20 halaman 294: “إنني أعلمُ أن المرءَ لا يُصبحُ مؤمنًا ومسلمًا ما لا يَصْطَبِغُ بِصِبْغَةِ أَبِي بكرٍ وعمرَ وعثمانَ وعليَّ رضوانَ اللهِ عليهم أجمعين. فلم يكونوا يحبون الدنيا بل كانوا قد وقفوا حياتهم في سبيل الله ” ‘Innanii a’lamu anal mar-a laa yushbihu mu-minan wa musliman maa laa yashthabaghu bi shibghati Abi Bakrin wa ‘Umara wa ‘Utsmaana wa ‘Aliyyin ridhwaanullaahu ‘alaihim ajma’iin. Fa lam yakuunuu yuhibbuunad dunyaa bal kaanuu qad waqafuu hayaatahum fii sabiilillaah’

[4] Izaalah Auham, Ruhani Khazaain jilid 3 halaman 219. Hadits ini, إن الشيطان يهرب من ظل عمر ‘innasy syaithaana yahrubu min zhilli ‘Umar’ – “Bahkan setan pun lari dari bayangan Hadhrat Umar.” Hadits, لَوْ كَانَ بَعْدِي نَبِيٌّ لَكَانَ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ ‘Lau kaana ba’dii nabiyyun lakaana ‘Umara bn al-Khaththaab’ – “Jika ada lagi nabi sesudahku, itulah Umar, putra al-Khaththaab.” Hadits ketiga meriwayatkan,إِنَّهُ قَدْ كَانَ فِيمَا مَضَى قَبْلَكُمْ مِنَ الْأُمَمِ مُحَدَّثُونَ وَإِنَّهُ إِنْ كَانَ فِي أُمَّتِي هَذِهِ مِنْهُمْ فَإِنَّهُ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ ‘innahu qad kaana fiimaa madha qablakum minal umami muhaddatsuuna wa innahu in kaana fii umatii haadzihi minhum fa innahu ‘Umar ubnul Khaththaabi’ – Hadits pertama tercantum dalam karya al-Haitsami, Majma az-Zawaid, 9/51 dan Fadhail Shahabah karya al-Imam Ahmad; hadits ke-2 terdapat dalam Tirmidzi dalam Sunan-nya 5/619 no 3686, Ahmad dalam Fadhail Shahabah no 519 dan no 694; hadits ke-3 diriwayatkan Muslim dan Bukhari.

[5] Sirrul Khilaafah , Ruhani Khazaain jilid 8 halaman 326

[6] Sirrul Khilaafah , Ruhani Khazaain jilid 8 halaman 358.

[7] Maktuubaat Ahmad (surat-surat Ahmad) jilid 2 halaman 151, maktuub (surat) nomor 2 untuk Hadhrat Nawab Muhammad Ali Khan, cetakan Rabwah

[8] Sirrul Khilaafah (سر الخلافة), Ruhani Khazaain jilid 8 halaman 328.

[9] Kelahiran Imam Hasan (ra): tahun ke-3 Hijriyyah; Kelahiran Imam Husain (ra): tahun ke-4 Hijriyyah; Kewafatan Nabi Muhammad (saw) di umur 63 tahun menurut kalender Hijriyyah (setara dengan Masehi lahir 570 atau 571 – wafat 632); kewafatan istri Hadhrat ‘Ali (ra), Siti Fathimah (ra) putri Rasulullah (saw), ibu Imam Hasan dan Imam Husain: enam bulan setelah wafat Nabi Muhammad (saw); Masa Khilafat Hadhrat Abu Bakr (ra) s.d. Khilafat ‘Utsman (ra) 11 Hijriyyah s.d. 36 Hijriyyah (632-656); kelahiran Yazid bin Muawiyah di zaman Khilafat ‘Utsman (ra); zaman Khilafat Hadhrat ‘Ali (ra) hingga kesyahidan: 656-660; zaman keamiran Imam Hasan (ra) atas wilayah Kufah dan bagian timur wilayah Muslim hingga perjanjian damai dengan Muawiyah, penyerahan kekuasaan kepada Muawiyah dan Muawiyah menjadi Amir dengan beberapa syarat: 661; kekuasaan penuh Amir Muawiyah atas seluruh wilayah umat Islam hingga meninggalnya: 661-680; kekuasaan atas wilayah Syams sebelum itu: dimulai sekitar 638, (berkuasa lebih dari 40 tahun, berumur 75 lebih saat meninggal); kewafatan Imam Hasan (ra): 50 Hijriyyah (sekitar 669 atau 670), berusia 46 tahun; zaman kekuasaan Yazid (berumur 30-an saat naik tahta): 680-684. Pensyahidan Imam Husain: tanggal 10, bulan Muharram tahun ke-61 Hijriyyah (sekitar Oktober tahun 680 Masehi) berusia sekitar 57 tahun.

[10] Sirrul Khilaafah (سر الخلافة), Ruhani Khazaain jilid 8 halaman 358.

[11] Sirrul Khilaafah, Ruhani Khazaain jilid 8.

[12] Sirrul Khilaafah, Ruhani Khazaain jilid 8.

[13] Sirrul Khilaafah, Ruhani Khazaain jilid 8 halaman 359.

[14] I’jaaz Ahmadi (Zhamimah Nuzuul al-Masih), Ruhani Khazain j. 19, h. 149

[15] Shahih al-Bukhari Kitab ar-Riqaaq, Bab at-Tawadhu (Kerendahan Hati): عَنْ عَطَاءٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏”‏ إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِي بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا، وَإِنْ سَأَلَنِي لأُعْطِيَنَّهُ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لأُعِيذَنَّهُ، وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَىْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِي عَنْ نَفْسِ الْمُؤْمِنِ، يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ ‏”‏‏. Dari Atha, dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah berfirman, ‘Siapa yang berupaya memusuhi wali-Ku, niscaya Aku umumkan perang terhadapnya.’…”

[16] Riwayat Hadhrat Sayyidah Nawaab Mubarakah Begum, putri Hadhrat Masih Mau’ud as dalam ‘Sirat Tayyibah’ karya Hadhrat Mirza Basyir Ahmad, h. 36-37

[17] Beliau (ra) bukan melarikan diri tetapi berusaha ke sungai Eufrat mengambil air untuk diminum karena beliau dan rombongan beliau kehausan.

[18] Tarikh ath-Thabari: أما وَاللّهِ أن لَو قَد قَتَلتُموني لَقَد ألقَى اللّهُ بَأسَكُم بَينَكُم ، وسَفِكَ دِماءَكُم ، ثُمَّ لا يَرضى لَكُم حَتّى يُضاعِفَ لَكُمُ العَذابَ الأَليمَ . – “Demi Allah! Jika kalian membunuhku, Allah Ta’ala akan menciptakan suasana perang di tengah-tengah kalian dan darah kalian akan tumpah. Allah Ta’ala tidak akan ridha sebelum Dia melipatgandakan azab-Nya yang sangat pedih diatas kalian.” Tercantum juga dalam Bihaarul Anwar (بحار الأنوار – العلامة المجلسي – ج ٤٥ – الصفحة ٥٢).

[19] Para komandan perang di pihak Ubaidullah ibnu Ziyaad, gubernur bawahan Yazid bin Muawiyah ialah Umar bin Sa’d bin Abi Waqqash (yang menyerukan digilasnya jenazah Husain), Syimr dzil Jausyan dan lain-lain. Dalam beberapa riwayat, Umar bin Sa’d diceritakan pernah bersikap durhaka terhadap ayahnya, Hadhrat Sa’d bin Abi Waqqash seperti menganiaya pembantu ayahnya hingga meninggal. Di zaman Khalifah ‘Ali (ra), ia yang baru bertamu ke ayahnya segera berpaling pergi dari ayahnya tanpa pamit dan tidak mau dijamu makan-minum ketika ayahnya menolak permintaannya agar memanfaatkan perselisihan Hadhrat Ali dan Amir Mu’awiyyah demi kedudukan politik keluarga.

[20] Tarikh ath-Thabari, jilid VI, h. 243-250, Khilaafat Yazid bin Muawiyah, Darul Fikr, Beirut, 2002 dan Akbar Syah Khan Najib Abadi, dalam ‘Tarikh Islam’, halaman 51 s.d. 78, Nafees Academy, Karachi, edisi 1998: قَالَ حميد بن مسلم: لما دخل عُبَيْد اللَّهِ القصر ودخل الناس، نودي: الصَّلاة جامعة! فاجتمع الناس فِي المسجد الأعظم، فصعد الْمِنْبَر ابن زياد فَقَالَ: الحمد لِلَّهِ الَّذِي أظهر الحق وأهله، ونصر أَمِير الْمُؤْمِنِينَ يَزِيد بن مُعَاوِيَة وحزبه، وقتل الكذاب ابن الكذاب، الْحُسَيْن بن علي وشيعته  Teks Arab dari Tarikh ath-Thabari tersebut menyebut beberapa hal: 1. Seruan untuk shalat Jamaah di masjid besar Kufah; 2. Orang-orang banyak berkumpul di sana; 3. Pidato dari sang gubernur Kufah, Ubaidullah ibnu Ziyad memuji Allah karena telah memenangkannya dan telah membunuh al-Kadzdzaab putra al-Kadzdzaab (pendusta putra pendusta, na’udzu billah, itu sebutan dia untuk Husain bin Ali); قَالَ أَبُو مخنف: ثُمَّ إن عُبَيْد اللَّهِ بن زياد نصب رأس الْحُسَيْن بالكوفة، فجعل يدار بِهِ فِي الْكُوفَة، ثُمَّ دعا زحر بن قيس فسرح مَعَهُ برأس الْحُسَيْن ورءوس أَصْحَابه إِلَى يَزِيد بن مُعَاوِيَة، وَكَانَ مع زحر أَبُو بردة بن عوف الأَزْدِيّ وطارق بن أبي ظبيان الأَزْدِيّ، فخرجوا حَتَّى قدموا بِهَا الشام عَلَى يَزِيد بن مُعَاوِيَة. 4. dipancangkannya kepala Husain di kota Kufah; 5. Pengiriman kepala beliau dan para sahabat beliau kepada Yazid di Damaskus. Tercantum juga dalam Maqtal al-Husain (مقتل الحسين (ع) – أبو مخنف الأزدي – الصفحة ٢٠٦) karya Abu Mukhnif al-Azdi.

[21] Majmu’ah Isytihaarat jilid III halaman 544-546, selebaran 270, Rabwah

[22] Kalaam-e-Mahmud, Majmu’ah Manzhuum Kalaam Hadhrat Khalifatul Masih ats-Tsaani ra, nazm ke-94, halaman 218