Keberkahan Pengorbanan Keuangan: Tahrik Jadid Tahun Baru 2021. Meraih Keberkahan dari Pengorbanan Keuangan dan Dimulainya Tahun Tahrik Jadid ke-88

khotbah idul adha mirza masroor ahmad

Khotbah Jumat Sayyidina Amirul Mu-minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 05 November 2021 (05 Nubuwwah 1400 Hijriyah Syamsiyah/29 Rabi’ul Awwal 1443 Hijriyah Qamariyah) di Masjid Mubarak, Islamabad, Tilford, UK (United Kingdom of Britain/Britania Raya).

Salah satu Tanda Jemaat Sejati Allah Ta’ala: membelanjakan harta yang mereka peroleh secara suci di jalan Allah Ta’ala demi meraih ridha Allah Ta’ala; memahami pengorbanan keuangan dan kaitannya dengan misi yang dibawa oleh Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihish shalaatu was salaam; Milikilah Niat yang Benar Saat Melakukan Pengorbanan Keuangan: yang utama ialah keridhaan Allah Ta’ala, manfaat duniawi adalah karunia tambahan; Tujuan Sebenarnya Pengorbanan Keuangan; Tugas Para Pengurus Menghilangkan Keraguan Anggota dengan Sikap dan Tindakan Mereka; sampaikanlah mengenai kemana dana tersebut dibelanjakan; Contoh-Contoh Luar Biasa Meraih Pahala Pengorbanan Harta Tahrik Jadid dari berbagai negara di dunia seperti dari Guinea Conakry, Kanada, Afrika Selatan, Australia, Kazakhstan, UK (Britania), Bharat (India), Burkina Faso, Sierra Leone, Gabon, Yordania, Belize, Zanzibar, Marakesy, Argentina, Liberia, Mali, Benin dan lain-lain; keberkahan mengutip sabda Khalifah dalam kaitannya dengan Ta’lim dan Tarbiyat Jemaat di bidang pengorbanan; Pengumuman tahun baru Tahrik Jadid: periode ke-87 berakhir dan tahun ke-88 dimulai pada tanggal 31 Oktober. Sepuluh posisi teratas negara-negara di dunia adalah [1] Jerman, [2] Inggris Raya, [3] Amerika Serikat, [4] Kanada, [5] Sebuah Negara dari Timur Tengah, [6] India, [7] Australia, [8] Indonesia, [9] Ghana, [10] Sebuah Negara dari Timur Tengah. Peringkat Jemaat lokal dan wilayah dari negara-negara teratas.

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ. (آمين)

Allah Ta’ala telah menjelaskan ciri-ciri orang-orang mukmin di dalam Al-Qur’an, salah satunya adalah mereka membelanjakan harta suci mereka di jalan Allah Ta’ala demi meraih ridha Allah Ta’ala. Di sekian tempat dalam Al-Qur’an, ketika Allah Ta’ala membahas mengenai membelanjakan harta, seringkali menjelaskan bahwa orang-orang beriman adalah mereka yang membelanjakan harta di jalan-Nya. Di tempat lain, Allah Ta’ala menarik perhatian dan membahas mengenai sedekah dan di tempat lain lagi Allah Ta’ala menyampaikan mengenai zakat.

Kemudian, mengenai mereka yang berkorban memberikan harta mereka di jalan Allah Ta’ala, dijelaskan juga mengenai pemanfaatan harta tersebut, yakni bagaimana cara membelanjakannya dan di mana membelanjakannya. Sebagaimana tata cara Jemaat-Jemaat Ilahi bahwa mereka membelanjakan harta di jalan Allah Ta’ala untuk mensucikan harta mereka, untuk meraih karunia Allah Ta’ala serta demi meraih keridhoan Allah Ta’ala, di dalam Jemaat ini juga mata rantai pengorbanan-pengorbanan harta ini terus berlangsung. Para anggota Jemaat juga mengetahui bahwa ini adalah perintah Allah Ta’ala dan mengetahui juga bagaimana pengorbanan yang mereka persembahkan itu kemudian dimanfaatkan.

Misi yang dibawa oleh Hadhrat Masih Mau’ud (as), yaitu menegakkan tauhid Allah Ta’ala di dunia dan mengibarkan bendera Islam dan Hadhrat Rasulullah (saw) di dunia, pekerjaan ini bukan pekerjaan yang biasa. Ini adalah pekerjaan yang sangat luas. Kita harus menyebarkan pesan ini ke seluruh dunia. Alhasil, untuk hal ini diperlukan pembiayaan dan dengan karunia Allah Ta’ala para anggota Jemaat memahami perintah Allah Ta’ala untuk membelanjakan harta mereka di jalan Allah Ta’ala tersebut. Mereka berusaha untuk memenuhi pembiayaan-pembiayaan tersebut.

Para Ahmadi yang tersebar di berbagai negara memperlihatkan contoh-contoh pengorbanan harta yang sedemikian rupa sehingga dengan menyaksikan mereka, orang-orang menjadi lebih yakin dari sebelumnya bahwa sungguh Hadhrat Masih Mau’ud (as) adalah utusan Allah Ta’ala yang dengan perantaraannya ajaran indah Islam akan tersebar di dunia di akhir zaman.

Jika para penentang meninjau secara seksama satu tanda ini dan berlaku adil seraya menyingkirkan kedengkian-kedengkian di hati mereka, maka tanda kebenaran Jemaat ini akan bisa membersihkan hati mereka dari penentangan yang tidak berdasar. Namun, hati mereka lebih keras dari batu. Khususnya mereka yang dinamakan Ulama. Bagaimanapun, urusan mereka adalah dengan Allah Ta’ala. Sebagaimana telah saya sampaikan, ketika para Ahmadi membelanjakan harta mereka di jalan Allah Ta’ala, maka mereka melakukannya dengan pemikiran bahwa mereka harus membantu penyempurnaan misi Hadhrat Masih Mau’ud (as), mereka harus mengibarkan bendera Hadhrat Rasulullah (saw) di dunia.

Memang tidak diragukan lagi, ini adalah janji Allah Ta’ala kepada orang-orang yang beriman, “Apa pun yang kalian belanjakan di jalan Allah Ta’ala, harta apa pun yang kalian belanjakan di jalan Allah Ta’ala, Aku akan mengembalikannya dengan berkali-kali lipat”, namun demikian, kebanyakan para Ahmadi memiliki pemikiran, “Yang menjadi tujuan kami adalah keridhoan Allah Ta’ala semata. Jika mendapatkan keuntungan duniawi, itu adalah karunia tambahan dari Allah Ta’ala.” Pemikiran mereka adalah, “Dengan pengorbanan ini semoga Allah Ta’ala ridho kepada kami dan menjadi sarana kebaikan bagi kehidupan akhirat kami.”

Jemaat Ahmadiyah bukanlah Jemaat para miliarder (orang yang sangat kaya-raya). Ini adalah suatu Jemaat yang kebanyakan anggotanya adalah orang-orang miskin atau kalangan menengah. Namun, meskipun demikian, terdapat satu semangat pengorbanan. Mereka senantiasa berupaya untuk ikut ambil bagian dalam kebangkitan Islam yang kedua dan kemudian pengorbanan-pengorbanan sederhana mereka itu dikabulkan di sisi Allah Ta’ala dan memberikan buah yang setara dengan yang dihasilkan jutaan poundsterling sekalipun. Alhasil, hal yang sesungguhnya adalah pengabulan di sisi Allah.

Jemaat Ahmadiyah dengan karunia Allah Ta’ala memulai pekerjaan ini dengan segenap keterbatasan sumber daya mereka, kemudian Allah Ta’ala mencurahkan keberkatan di dalamnya sehingga orang-orang yang melihat beranggapan mungkin mereka ini membelanjakan jutaan pound untuk pekerjaan ini, namun mereka tidak tahu ini adalah uang orang-orang yang sederhana yang mendapatkan keberkatan dari Allah Ta’ala dan sebagai hasilnya pekerjaan kita yang kecil pun terlihat menjadi besar.

Dalam hal ini perlu juga saya sampaikan, ketika Jemaat bertambah banyak, maka tampak orang-orang yang memiliki berbagai macam pola pemikiran, orang-orang yang kurang tarbiyat atau juga para Ahmadi lama yang dikarenakan kurang tarbiyat memiliki pemikiran semacam ini, mereka membincangkannya di rumah-rumah, membicarakannya di hadapan anak-anak sehingga dalam benak anak-anak mulai timbul pertanyaan mengapa dan untuk apa kita membayar candah?

Maka ini menjadi tugas para pengurus yang pertama kali menjauhkan keraguan orang-orang dengan sikap dan amalan mereka. Hendaknya terbangun kepercayaan yang kuat dalam diri orang-orang dan hendaknya mereka mengetahui bahwa candah yang diberikan orang-orang tersebut memiliki pos pemanfaatan tertentu dan dibelanjakan untuk tujuan itu. Kedua, berikanlah pemahaman kepada mereka dengan kasih sayang mengenai pentingnya pengorbanan harta, betapa pentingnya hal ini dalam pandangan Allah Ta’ala dan bagi mereka yang biasa memberikan pengorbanan harta, sebagai imbalannya mereka mendapatkan keridhoan Allah Ta’ala.

Sampaikanlah juga ke mana dibelanjakannya pengorbanan ini. Ini dibelanjakan untuk penyebaran Islam. Dalam jumlah besar ini dibelanjakan untuk menjalankan saluran televisi milik kita, dibelanjakan untuk penyebaran buku-buku, penyebaran Al-Qur’anul Karim, pendidikan anak-anak yang miskin, menyediakan makanan bagi mereka yang kelaparan, pendidikan para Muballigh dan upaya-upaya pertablighan melalui mereka, pembangunan masjid-masjid dan masih banyak lagi pembelanjaan-pembelanjaan Jemaat yang kaitannya dengan hal ini.

Hal ini saya sampaikan bukanlah karena na’udzubillah mulai timbul banyak pertanyaan pada diri orang-orang. Melainkan saya menyampaikannya dengan tujuan bahwa ketika Jemaat berkembang, maka dikarenakan penyebaran ini muncul juga para penyebar keburukan dan orang-orang yang menimbulkan bisikan-bisikan setan. Mereka berusaha untuk menimbulkan fitnah dan menciptakan keraguan-keraguan setani dalam benak orang-orang yang lemah dalam tarbiyat. Dengan karunia Allah Ta’ala para anggota Jemaat memiliki suatu mentalitas kokoh sehingga mereka mengetahui bahwa untuk menjalankan Nizam Jemaat diperlukan pembiayaan-pembiayaan dan ini adalah merupakan perintah Allah Ta’ala untuk membelanjakan di jalan-Nya.

Alhasil, tidak terhitung banyaknya contoh-contoh dalam Jemaat ini di mana orang-orang meskipun mereka sendiri tidak memiliki apa-apa, namun demi keridhoan Allah Ta’ala mereka membelanjakan dengan menempuh suatu dan lain cara dan kemudian bagaimana Allah Ta’ala tidak menyia-nyiakan pengorbanan-pengorbanan yang semacam ini. Bagi mereka Allah Ta’ala berbuat sesuai dengan janji-Nya, وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ ‘Wa yarzuqhu min haitsu laa yahtasib’ – “dan Dia memberikan rezeki kepada mereka dari arah yang mereka tidak sangka-sangka rezeki itu akan datang.”[1]

Dengan demikian, Allah Ta’ala juga memenuhi janji-Nya dan para Ahmadi tidak hanya membaca ini dalam Al-Qur’an, bahkan hari ini pun mereka menyaksikan terpenuhinya janji tersebut. Mereka menuliskan pengalaman-pengalaman mereka ini. Saya juga akan sampaikan contoh-contoh semacam ini. Yang kita dengar ini bukanlah kisah-kisah lama, melainkan hari ini pun Allah Ta’ala memperkuat keimanan orang-orang mukmin dengan pengalaman-pengalaman semacam ini. Kemudian tidak hanya orang-orang yang kepada mereka turun karunia Allah Ta’ala ini dan secara langsung meraih karunia ini yang mendapatkan faedah dan keimanan mereka menjadi kuat, bahkan keimanan orang-orang yang ada di dekat mereka pun menjadi kuat.

Dikarenakan contoh tersebut timbul kesadaran akan pengorbanan harta dalam diri mereka dan mereka juga berusaha untuk meningkat dalam pengorbanan-pengorbanan mereka sehingga menjadi orang-orang yang meraih keridhoan Allah Ta’ala. Sebagaimana telah saya katakan, saya akan sampaikan beberapa contoh bagaimana Allah Ta’ala menganugerahkan karunia-Nya. Mereka menulis surat kepada saya menceritakan mengenai pengorbanan-pengorbanan mereka.

Satu contoh dari Guinea Conakry. Muballigh In Chargenya menulis, “Ketika saya dalam khutbah menyampaikan kepada para anggota Jemaat kisah-kisah menggugah iman berkenaan dengan Tahrik Jadid dan menyampaikan kepada mereka bahwa anda juga harus memperlihatkan teladan-teladan ini, seorang wanita, Maemunah Sahibah menelepon dan menuturkan bahwa beliau tidak mempunyai uang untuk kebutuhan rumah dan suaminya sedang pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan. Setelah shalat Jumat, ayah beliau memberikan uang sebesar 100 ribu Guinea Franc sebagai hadiah. Beliau menuturkan, ‘Saya merasa ragu apakah akan menggunakan uang tersebut untuk membayar candah atau untuk kebutuhan rumah. Kemudian setelah berdoa, saya membayarkan setengahnya, yakni 50 ribu franc untuk candah Tahrik Jadid.’ Beliau menuturkan, ‘Belum berlalu 24 jam, Allah Ta’ala secara mukjizat memberikan kepada saya 300 ribu franc dari sumber yang saya tidak menyangka akan mendapatkan uang tersebut. Saya bersyukur pada Allah Ta’ala karena Dia telah memberikan taufik kepada saya untuk mengambil keputusan yang tepat.’ dan beliau menuturkan, ‘Keimanan saya semakin meningkat.’”

Sadr salah satu Majlis di Kanada menuturkan, “Sekretaris Tahrik Jadid memberikan himbauan untuk pemenuhan anggaran penerimaan Tahrik Jadid. Ketika ditanyakan mengenai jumlah total tunggakan perorangan yang tersisa, nominalnya tidaklah besar, yakni sejumlah 325 Dollar. Saya berpikir bahwa saya akan membayarnya sendiri. Namun, ketika saya memeriksa rekening bank, di sana tidak ada uang, bahkan minus tiga dollar lebih dalam rekening. Namun keesokan harinya ketika saya memeriksa rekening, saya sangat heran, di rekening saya terdapat lebih dari 3.000 dollar.”

Beliau menuturkan, “Ini adalah uang yang telah lama tertunda (pending) dan tidak ada cara untuk mendapatkannya, namun dengan karunia Allah Ta’ala ketika Dia melihat niat baik saya untuk melunasi tunggakan, maka Allah Ta’ala telah menciptakan sarana untuk pembayarannya dan uang yang telah sekian lama tertunda di rekening tersebut dengan cepat bisa didapatkan.”

Kemudian seorang kawan dari Afrika Selatan, Shahin Sahib menuturkan, “Saya membayar candah Tahrik Jadid dan membayarkan sejumlah setengah dari jumlah uang di rekening bank saya untuk itu.”

Beliau menuturkan, ”Ini bukanlah jumlah yang besar, namun saya berpemikiran bahwa ini adalah bulan terakhir pembayaran Tahrik Jadid, jika tidak membayar sekarang, maka mungkin tidak mendapatkan kesempatan untuk membayar. Maka saya membayarnya.”

Pada hari tersebut ayahanda beliau datang untuk bertemu dengan beliau. Ayahanda Beliau mengatakan bahwa beliau telah mentransfer sejumlah uang untuk memenuhi keperluan beliau. Shahin Sahib menuturkan bahwa jumlah yang beliau dapatkan dari ayahanda beliau lebih besar 20 kali lipat dari uang yang beliau berikan untuk candah Tahrik Jadid.

Terkait:   Riwayat ‘Umar Bin Khattab Ra (Seri 19)

Beliau pun membayar candah atas uang yang beliau terima dari ayahanda beliau kemudian mengatakan, “Pendapatan saya bertambah dan Allah Ta’ala telah memberikan uang kepada saya dari sumber yang tidak saya duga, kemudian ketika saya membayarkan candahnya, pada sore hari di hari yang sama saya mendapatkan telepon dari bos di tempat kerja saya, ‘Jika kamu mau, kami ingin memberi kamu pekerjaan di Dubai.’”

Singkatnya, beliau mengiyakan dan dengan demikian beliau mendapatkan mata pencaharian yang sangat baik di luar negeri. Beliau menuturkan, “Dua kejadian ini tidak terjadi secara kebetulan, bahkan saya yakin bahwa ini adalah semata-mata karunia yang turun dari Allah Ta’ala karena membayar candah dan memberikan pengorbanan.”

Kemudian seorang kawan dari Australia, beliau adalah seorang Muballigh menulis, “Seorang anggota Jemaat menyampaikan bahwa beliau telah berjanji candah, namun kondisi ekonomi beliau sedang tidak baik. Ketika beliau membayar candah sesuai perjanjian maka di hati beliau merasa yakin, “Allah Ta’ala akan mengembangkannya menjadi seratus kali lipat untuk saya.”

Ini adalah janji Allah Ta’ala. Sebagian orang juga berpikir seperti itu. Beliau membeli sebuah flat yang nilainya tidak diharapkan akan meningkat secara signifikan, namun setelah membayar candah, secara mukjizat keuntungan dari flat ini melebihi seratus kali lipat. Beliau menuturkan, “Atas hal ini saya memiliki keyakinan yang kuat bahwa Allah Ta’ala telah menurunkan karunia-Nya seraya mengabulkan pengorbanan harta ini.”

Kemudian Muballigh Kazakhstan menulis, “Seorang Ahmadi setempat yang Mukhlis, Ali Beyk Sahib, beliau membayarkan sebesar 10.000 tengge – yang merupakan mata uang di sana – untuk Tahrik Jadid dan lain-lain. Setelah itu beliau pergi bekerja. Setelah beberapa hari, salah satu pejabat tinggi perusahaan memanggil beliau dan mengatakan, ‘Perusahaan kita kali ini mendapatkan keuntungan yang sangat besar, oleh karena itu kami memutuskan untuk memberikan bonus sebesar 100 ribu kepada tiga orang karena telah bekerja dengan baik.’” Beliau menuturkan, “Dikarenakan candah ini Allah Ta’ala telah menganugerahkan kepada saya 10 kali lipat dan saya tidak mengharapkan hal ini sebelumnya.”

Kemudian seorang kawan dari Birmingham, UK menuturkan, “Saya baiat bersama keluarga saya pada 2016 dan sebelum baiat kondisi ekonomi cukup buruk dan hutang juga sangat banyak. Setelah kami masuk Jemaat dan mulai membayar candah-candah sesuai kemampuan kami, bahkan terkadang ikut serta dalam gerakan-gerakan pengorbanan melebihi kemampuan kami, maka suatu ketika di masa-masa awal baiat, istri saya ingin membuat stand tabligh di satu acara di sekolah. Saya mengambil cuti dari pekerjaan saya supaya bisa menjaga anak-anak. Karena cuti ini saya kehilangan 100 pound, sedangkan kondisi ekonomi saat itu sedang tidak baik dan uang sejumlah itu sangat besar bagi kami.”

Beliau menuturkan, “Setelah berpikir bahwa demi pekerjaan Allah Ta’ala saya harus berkorban dengan jalan mengambil cuti, lalu saya mengambil cuti.” Namun Allah Ta’ala berkehendak lain.

Beliau menuturkan, “Istri saya pulang ke rumah setelah selesai bekerja, lalu ada telepon dari bos saya mengatakan bahwa, “Kalau bisa, datanglah ke tempat kerja dalam tempo satu jam, karena ada pekerjaan yang mendesak.”

Beliau menuturkan, “Saya segera berangkat. Pada hari itu saya bekerja hanya satu jam dan mendapatkan upah 100 pound yang biasanya merupakan upah untuk satu hari penuh. Sesampainya di rumah saya menceritakannya pada istri saya. Kami berdua belum lama menjadi Ahmadi dan selama beberapa hari kami bergembira dengan nikmat dari Allah Ta’ala ini dan kami bersyukur kepada Allah Ta’ala.”

Wakiilul Maal Tahrik Jadid Qadian menuturkan, “Ada seorang kawan dari Jemaat Ahmadiyah Kerolai, Provinsi Kerala, India yang sangat terpandang. Beliau seorang pebisnis sukses dan memiliki semangat yang luar biasa dalam pembayaran Tahrik Jadid. Setiap tahun beliau mempersembahkan sejumlah besar uang.

Beliau menuturkan, “Tahun ini dikarenakan kondisi pandemi Corona, sumber pendapatan beliau tidak memungkinkan untuk memberikan candah dalam jumlah yang besar. Beliau membayar hishshah amad dan candah-candah lainnya, namun untuk pembayaran Tahrik Jadid beliau tidak memiliki jumlah yang cukup sebagaimana yang biasa beliau bayarkan.”

Beliau menuturkan, “Allah Ta’ala senantiasa memberikannya taufik untuk membayar candah, sekarang meskipun masih belum nampak hal itu akan terpenuhi, namun bagaimana ketawakkalan beliau bahwa Allah Ta’ala pasti akan mengaturnya dan akan membayarnya.”

Beliau menuturkan, “Dua hari sebelum batas waktu, beliau membayarkan 1 juta Rupis, jumlah yang besar, untuk Tahrik Jadid.”

Beliau berkata bahwa di hari Jumat ketika khutbah, bapak Muballigh menekankan pentingnya membayar candah Tahrik Jadid, dan menyampaikan kepada hadirin beberapa peristiwa yang telah lalu yang dikutip dari khotbah saya (Hudhur). Beliau sangat tergerak dan bukannya memberi 1 juta, malahan telah memberi sekitar 1,8 juta Rupis sebagai candah. Setelah itu beliau berharap agar memenangi proyek pemerintah dan berkata, “Jika saya mendapatkannya, saya akan memberi jumlah yang besar lagi untuk Tahrik Jadid.”

Alhasil, di antara orang-orang yang kaya pun, dengan karunia Allah Ta’ala ada golongan di Jemaat ini yang memiliki jiwa pengorbanan. Uang yang mereka dapatkan tidak mereka sembunyikan, tetapi mereka berusaha membelanjakannya di jalan Allah Ta’ala.

Muballigh di Burkina Faso, Habib Sahib menulis, “Ada seorang anggota bernama Sure Saido Sahib. Candahnya masih bersisa 1.800 CFA [Sifa] Franc, sementara periode setahun tinggal 1 minggu lagi. Ia pun berusaha dan membayar 2.000 CFA, jumlah yang lebih besar dari sisanya. Ia menuturkan, ‘Belum berlalu 1 jam sejak saya membayar candah, ada rekan saya yang mengirim 10.000 Franc untuk saya, lalu 1 jam kemudian mengirim lagi 10.000 CFA Franc, kemudian ia menelepon dan berkata, “20.000 CFA Franc ini sebagai hadiah yang saya kirim untuk Anda.”’ Saido Sahib berkata, ‘Rekan saya itu hingga saat ini belum pernah mengirim uang untuk saya dan ini pertama kali bagi saya bahwa saya melunasinya dengan membayar 2.000 Franc, lalu Allah Ta’ala melipatgandakannya dengan memberi 20.000 CFA Franc dalam waktu 2 jam.’” Dengan demikianlah keimanan mereka bertambah.

Di Sierra Leone, di sebuah tempat bernama Lunggi. Abdullah Sahib, Mualim wilayah itu menulis: Ada seorang anggota berusia lanjut bernama Pajeng Kain Sahib (پاجینگ کائن), tahun lalu ia berjanji Tahrik Jadid sebesar 25.000 Leone, dan tahun ini ia berjanji 50.000 Leone. Dari segi keuangan ia tengah dilanda kesulitan. Ketika diumumkan untuk melunasi Tahrik Jadid, ia bertanya kepada Muballigh setempat, “Berapa perjanjian saya?”

Ketika Muballigh memberitahukan bahwa jumlahnya adalah 50.000 Leone, ia sangat heran dan berkata, “Bagaimana bisa tertulis demikian? Saya sendiri tidak dapat membayarnya.”

Muballigh itu berkata, “Anda sendirilah yang telah menulisnya.” Alhasil, ia pun terdiam.

Minggu selanjutnya ia berkata saat ada rapat Anshar, “Saya sekarang memiliki 60.000 Leone. Ada 20.000 Leone yang saya tinggalkan di rumah, dan 40.000 Leone ini saya bawa untuk membayar candah Tahrik Jadid. Sekarang saya pun tidak memiliki uang untuk pulang.”

Muballigh pun berkata kepadanya, “Anda telah memberi pengorbanan. Allah Ta’ala sendirilah yang akan mengatur untuk Anda”. Ia pun berjalan kaki ke rumah.

Ia menuturkan, bahwa di perjalanan ia bertemu teman lamanya yang baru ia jumpai setelah sekian lama. Ia pun berbincang lama dengannya. Tatkala temannya kembali pergi, temannya itu mengeluarkan 30.000 Leone dan memberikannya kepada Anshar itu. Lalu Anshar itu menuturkan, “Setelah itu saya pergi menengok seorang wanita yang sedang sakit ke rumahnya dan bertanya perihal kesehatannya. Ketika saya beranjak pergi, ia memberi 10.000 Leone dan berkata, “Gunakan ini sebagai ongkos.”

Muballigh menuturkan, “Allah Ta’ala telah mengembalikan uang yang ia berikan untuk candah dengan cara demikian lalu ia pun melunasi perjanjiannya yang sebesar 50.000.”

Muballigh menuturkan, “Tidak hanya demikian, setelahnya, karunia lain pun turun padanya. Ada seorang teman yang tinggal di luar negeri yang meneleponnya. Ia berkata, ‘Sudah lama saya tidak dapat mengontak Anda. Saat ini saya sedang mengirimkan 400.000 Leone kepada Anda sebagai hadiah.’” Yang diterimanya bukan lagi jumlah yang sama, tetapi bahkan Allah Ta’ala melipatgandakannya hingga 10 kali.

Ia menuturkan, “Dengan ini saya mendapat taufik untuk berkorban dan keimanan saya pun bertambah.”

Kemudian di Guinea Conakry, di wilayah Boke, seorang Muballigh di satu kampung menuturkan, “Telah diselenggarakan pekan Tahrik Jadid dalam rangka mengumpulkan candah Tahrik jadid. Melalui khotbah telah diingatkan dan rumah-rumah pun telah dikunjungi.

Ada seorang Ahmadi yang tulus ikhlas bernama Jibril Sahib, yang bekerja sebagai tukang kayu. Saya mengunjungi rumahnya dan menyampaikan pentingnya membayar candah kepadanya. Ia berkata, ‘Saya telah menyisihkan 20.000 Franc untuk kebutuhan sekarang ini, namun saya menyerahkan semuanya untuk candah, dan selain itu kini kami tidak memiliki apa-apa, tetapi kami berdoa agar Allah Ta’ala menerima pengorbanan kami.’”

Jibril Sahib menuturkan bahwa sejak tiga bulan yang lalu ia telah membuat satu tempat tidur dari kayu untuk dijual, namun tidak ada pembeli yang datang. Beberapa saat setelah membayar candah, ada seorang yang datang untuk membeli tempat tidur itu, dan ia membelinya dengan harga 1.500.000 Franc. Saat itu Jibril Sahib segera menelepon Muballigh dan berkata, “Allah Ta’ala tidak hanya menerima pengorbanan kami, tetapi bahkan melipatgandakannya berkali lipat dan mengembalikannya kepada kami.” Hal ini pun ia sampaikan kepada sahabat-sahabatnya agar iman mereka pun semakin kuat.

Munir Husain Sahib, Muballigh Freetown Sierra Leone menuturkan: Ada seorang Khadim Jemaat bernama Sufi Sungo Sahib. Ia masih menuntut ilmu, seorang pelajar, dan ia tinggal di dalam Masjid di masa pendidikannya. Ketika ia mendengar khutbah saya (mungkin melalui rekaman, atau mendengar khutbah Tahrik Jadid tahun lalu yang di dalamnya saya sampaikan peristiwa-peristiwa pengorbanan harta). Ia menuturkan, “saya mendengarkan seluruh khutbah dengan seksama dan di dalam diri saya lahir semangat dan gejolak, seandainya saya pun dapat ikut ambil bagian di dalam pengorbanan harta ini. Namun kesulitan yang dihadapi adalah bahwa saya seorang pelajar dan tidak bekerja, dan untuk melunasi biaya pendidikan pun sulit bagi saya. Kendati semua kesulitan tersebut, di dalam diri saya telah lahir keinginan yang kuat. Saya menuliskan perjanjian saya kepada sekretaris Tahrik Jadid sebesar 500.000 Leone, yang bagi saya adalah sangat sulit. Setelah itu, saya sangat khawatir untuk pelunasannya, dan siang malam saya mulai berdoa, semoga Allah Ta’ala menyediakan sarana sehingga saya dapat memenuhi perjanjian saya. Maka setelah beberapa hari, ada keluarga saya yang datang dengan membawa putranya dan meminta saya untuk mendaftarkannya ke sekolah Jemaat. Saya berbincang dengan ketua sekolah, dan beliau pun menerima anak tersebut. Orang tua anak tersebut memberikan 100.000 Leone kepada saya dan berkata, “simpanlah, ini akan berguna untuk makan atau lainnya”. Di hari itu ia berkata, “saat itu saya tidak memiliki apapun untuk dimakan, namun saya menyerakan semua uang untuk melunasi perjanjian Tahrik Jadid, sehingga sebagian pun telah terbayar”. Beberapa hari setelahnya, ada panggilan dari nomor asing, “ada satu lowongan kerja, dan akan ada penghasilan untuknya, apakah Anda siap?”. Saya dengan segera mengisi kontrak kerja dan dengan karunia Allah Ta’ala, dari hasil pekerjaan tersebut, saya menerima 1 juta Leone, yang darinya dengan segera saya melunasi perjanjian Tahrik Jadid.

Muballigh In-Charge Gabon menulis bahwa ada satu mubayiin baru bernama Isa Dinda Sahib. Tatkala ia menyampaikan perihal baiatnya, ia menceritakan bahwa sebelum baiat dan membayar candah secara dawam, keadaannya adalah, ia terkadang menganggur hingga 3 atau 4 bulan tanpa mendapat pekerjaan. Namun tatkala ia secara teratur mulai membayar candah, maka kini hampir setiap hari ia mendapat pekerjaan. Ia datang dari tempat yang jauh dan membayar candah secara dawam. Bahkan, jumlah yang ia bayarkan untuk candah adalah seperti besarnya biaya perjalanan yang ia siapkan. Sekarang sudah ada pengaturan sehingga ia dapat mengirimkan candah langsung dari rumahnya, dibandingkan seperti sebelumnya saat ia membelanjakan 2 kali lipat darinya.

Terkait:   Riwayat Umar bin Khattab (Seri 12)

Di Yordania ada seorang wanita bernama Fajr Sahibah. Ia menuturkan, “Sudah 21 tahun saya menerima Jemaat. Semenjak saya menjadi Ahmadi, saya melihat bahwa kapan pun saya berniat untuk membayar candah, Allah Ta’ala pasti akan menolong secara gaib dan menyiapkan sarana untuk membayarnya. Terkadang, jumlah yang diterima adalah sebanyak jumlah yang diniatkan untuk membayar candah” (inilah keberkatan dari Jemaat). Ia menuturkan, “Saya lulusan insinyur. Apa saja pekerjaan yang datang ke rumah, itulah yang saya lakukan. Kebiasaan saya adalah, dalam membayar candah, saya tidak mengambil dari suami saya, karena sebagian besar keadaannya pun sulit sehingga saya memberi candah dari pendapatan saya sendiri. Tahun ini saya berpikir bahwa saya telah melunasi candah Tahrik Jadid, tetapi sebenarnya saya telah lupa. Ketika saya telah diingatkan, ternyata saya belum membayar 1 dinar pun. Saya berpikir, bagaimana bisa saya melunasi candah. Namun ada seorang pelajar perempuan yang datang menemui saya dan meminta saya agar memberi les untuknya. Dengan karunia Allah Ta’ala, ternyata candah pun dapat dipenuhi dari uang bayaran les serta masih akan tersisa darinya.”

Di Burkina Faso, dari Jemaat Buku Bagalah, Ketua Jemaat di sana menuturkan, “Ada beberapa kawan saya yang bukan Ahmadi yang tengah datang. Mereka berkata, ‘Kami merasa heran melihat perkembangan panen Anda sekalian, karena kami melihat bahwa Anda telah memberi waktu yang sangat banyak untuk pembanguna sekolah Jemaat, sementara di belakang tidak ada yang mengurus ladang Anda. Meski demikian, panen Anda lebih baik dari kami. Sebaliknya, kami mengerahkan seluruh waktu kami untuk ladang kami, namun tetap saja tanaman kami tidak lebih baik dibandingkan tanaman Anda.’”

Atas hal ini, Ketua Jemaat menyampaikan kepada mereka, “Kami semua melakukan wikari amal ini demi Allah Ta’ala dan Jemaat. Berapa banyak waktu yang kami berikan untuk pembangunan sekolah, sebanyak itu pula kami berdoa, ‘Ya Allah, Engkaulah yang menjaga tanaman kami, karena kami telah bertawakkal kepada Engkau.’ Maka dari itu Allah Ta’ala mendengar doa-doa kami dan hasil panen kami pun baik serta kini kami pun telah membayar candah sesuai dengannya.”

Betapa anak-anak pun memiliki jiwa pengorbanan. Ini adalah anak-anak yang berasal dari negara-negara miskin, namun mereka memiliki gejolak yang bahkan tidak didapat pada anak-anak yang terpelajar di negara-negara maju. Peristiwanya adalah, Muballigh Husain Yusuf Sahib dari wilayah Zanzibar menuturkan, “Satu hari, anak-anak tengah bermain di luar masjid, dan ada seorang tua yang lewat di sana. Ia merasa senang dan memberikan 1.400 Shilling kepada anak-anak untuk membeli permen. Anak-anak itu membawa uang itu dan pergi ke toko seorang Ahmadi untuk menukarkannya dengan uang kecil. Semua anak menukarkannya dengan uang kecil dan datang ke Masjid. Bukannya membeli permen, mereka menukarkan uang mereka dengan uang kecil dan masing-masing menyisihkan 100 shilling untuk membayar candah, dan dengan gembira mereka menyimpan kuitansi candah mereka masing-masing. Tatkala pemilik toko Ahmadi itu mengetahui bahwa anak-anak tersebut menukarkan uang mereka dengan uang kecil untuk membayar candah, maka ia pun menjadi sangat terheran-heran.”

Anak-anak inilah yang Insya Allah akan menjadi pondasi kuat Jemaat kelak.

Kemudian terkait pengorbanan dari anak-anak ini, ada lagi satu pemandangan yang ajaib. Ini pun dari Tanzania. Mu’allim di Samue menulis, “Ada 3 anak yang tengah belajar di kelas 4. Mereka dawam mengikuti kelas talim dan tarbiyat di masjid. Keadaan keluarga dari ketiga anak tersebut pun miskin. Mereka tidak memiliki pendapatan tetap. Semenjak bulan lalu, mereka saling berlomba dalam membayar candah Tahrik Jadid. Setiap mereka masing-masing membawa uang candah mereka dan berusaha supaya berapa pun uang yang ada pada mereka, mereka berikan untuk candah. Demikianlah, ada yang memberi 500, 400, dan 700 Shilling, yaitu mereka memberi apapun yang ada pada mereka. Kemudian tatkala satu kali saya bertanya kepada mereka, ‘Dari mana Anda telah mendapatkan uang untuk candah Tahrik Jadid ini?’, seseorang dari mereka menjawab bahwa ia membantu ibunya mengumpulkan kayu-kayu di hutan, dan uang saku yang ia dapatkan ia sisihkan untuk membayar Tahrik Jadid. Ia berkata, ‘Semenjak saya mulai membayar candah, saya selalu mendapatkan pembeli kayu dengan segera dan tidak pernah merugi.’ Anak kedua mengatakan bahwa ia pun menyisihkan dari uang sakunya untuk membayar candah. Anak ketiga mengatakan bahwa dari pohon-pohon di dekat rumahnya yang berbuah, kadang-kadang ketika buah untuk konsumsi rumah tersebut berlebih, ia menjualnya dan uang yang didapat ia berikan untuk candah. Ketiga anak tersebut pun menyampaikan keberkatan-keberkatan candah; yaitu bagaimana dengan membayar candah, mereka merasakan ketenangan di dalam kehidupan mereka.”

Semoga Allah Ta’ala semakin menambah keimanan dan keikhlasan anak-anak tersebut. Inilah iman yang darinya anak-anak kita pun meraih kelezatan.

Muballigh In-Charge Belize menulis – Ini juga adalah contoh dari anak yang berasal dari belahan dunia yang lain. Keduanya ada di bagian bumi yang saling berjauhan, tapi pikirkanlah, bagaimana bisa mereka sama – “Di Belize, seorang anak berusia 14 tahun, di waktu pembangunan Masjid, ia menyerahkan semua tabungannya untuk masjid. Dia pun telah memberikan contoh yang tinggi untuk pengorbanan Tahrik Jadid. Anak itu sangat miskin, dan berasal dari keluarga miskin. Dengan sulit, ayahnya berupaya memenuhi kebutuhan keluarganya. Ketika Muballigh itu menyampaikan pentingnya Tahrik Jadid, anak itu pun memberikan 1 Dollar dan berkata, ‘Ini dari keluarga saya’, dan Muballigh itu pun sangat gembira karena dari segi keuangan pengorbanan demikian pun adalah hal yang sangat besar bagi mereka. Tetapi Danial (nama anak tersebut) menuturkan, ‘Janganlah memasukkan nama saya di dalamnya. Saya memberikannya atas nama keluarga saya. Saya akan memberi bagian saya nanti.’ Maka keesokan harinya anak itu memberi 10 Dollar dan berkata, ‘Saya yakin bahwa Allah pasti akan memberkati keluarga kami.’” Dan dengan ini ia memberikan bagian candahnya.

Tentang bagaimana Allah Ta’ala melahirkan gejolak pengorbanan di dalam hati mereka yang baru bergabung di Jemaat, dan bagaimana Allah memberkati mereka, di Maroko ada seorang Ahmadi bernama Nuruddin yang berkata, “Setelah baiat di tahun 2017, saya mulai ikut di dalam pengorbanan harta. Saat itu pendapatan saya sangat kecil.”

Satu hari ia mendengarkan khutbah saya di dalam website Jemaat, yaitu tentang pengorbanan-pengorbanan para sahabat Hadhrat Masih Mau’ud (as) dan para ahmadi lainnya.

Beberapa hari selanjutnya ia berkata, “Dengan itu telah timbul satu semangat di dalam hati saya, dan beberapa hari kemudian saya berkata kepada Ketua Jemaat Maroko bahwa saya ingin bergabung ke dalam nizam Wasiyat. Beliau lalu menyampaikan berbagai syarat dan kewajibannya yang dengan itu semangat saya pun semakin bertambah dan saya pun berwasiyat. Kemudian beberapa bulan selanjutnya keadaan saya menjadi semakin baik dan saya mendapat pekerjaan dengan penghasilan yang bagus di suatu perusahaan, sekarang saya menjabat sebagai manager dalam perusahaan tersebut. Hanya dalam jangka waktu tiga tahun gaji saya bertambah tiga kali lipat. Kepercayaan perusahaan kepada saya sedemikian rupa meningkat, sehingga ketika saya akan pergi ke kota lain dari ibukota Marakisy, manager berkata kepada saya, ‘Jika ada Ahmadi lain yang memiliki dedikasi seperti kamu dan ia membutuhkan pekerjaan, hubungi saya.’

Setelah mendengar hal itu saya menjadi terharu dan meneteskan air mata. Kemudian saya berbicara dengan seorang kawan Ahmadi yang ada di kota saya dan ia pun mendapatkan pekerjaan terssebut. Ahmadi itupun diangkat sebagai manager. Disebabkan oleh membayar candah, saya mendapatkan tekanan dari keluarga dan terpaksa menghadapi olok-olokan karib kerabat juga, namun saya bersyukur karena berkat pengorbanan harta saya tidak pernah mengalami kesulitan ekonomi.”

Muballig di Perth, Australia menulis, “Ada seorang Khadim Jemaat yang belum melunasi candah Tahrik Jadid tahun ini. Ketika Khadim tersebut dihimbau, ia mengatakan bahwa ia belum mendapatkan pekerjaan karena covid sehingga sedang kesulitan ekonomi. Namun beberapa hari kemudian, ketika berjumpa lagi Khadim itu berkata, ‘Saya telah menjual beberapa barang di rumah untuk melunasi candah, beberapa hari setelah itu, saya mendapatkan 4 kontrak dan bersamaan dengan itu saya pun mendapatkan satu pekerjaan baru yang kesemua biayanya telah dibayar oleh perusahaan dan gaji yang ditawarkan pun lebih besar dari pekerjaan sebelumnya. Ini merupakan karunia Allah Ta’ala yang mana saya telah melunasi candah dengan menjual barang barang di rumah sehingga Allah ta’ala segera membalasnya.’”

Sekretaris Tahrik Jadid sebuah kota di Australia selatan menuturkan, “Ada seorang Ahmadi tulus yang masih memiliki tunggakan Tahrik Jadid. Ketika dihimbau, beliau mengatakan, ‘Saya tengah dalam proses menjual rumah, jika rumah terjual nanti, saya akan lunasi Tahrik Jadid.’

Dua hari kemudian, beliau menerima telepon yang mana si penelepon mengabarkan bahwa dengan karunia Allah Ta’ala tidak disangka-sangka rumah saya terjual dengan harga yang menguntungkan dan beliau yakin bahwa ini terjadi berkat janji untuk melunasi candah lalu beliau membayar candah Tahrik Jadid sebesar 6 kali lipat dari janji yang dituliskan.”

Ketika Allah Ta’ala menganugerahkan keuntungan duniawi, perhatian seorang Ahmadi tertuju pada fakta bahwa ia mendapatkan itu bukan karena kehebatannya, melainkan sebagai buah dari pengorbanan. Ini merupakan satu pemikiran Ahmadi yang tidak mungkin dimiliki oleh yang lainnya.

Muballigh Argentina menulis, “Saya telah menulis sebuah artikel untuk menarik perhatian orang orang terhadap pengorbanan harta.”

Dalam artikel tersebut beliau mengutip khotbah saya (Huzur) yang mengatakan, “Himbaulah para Mubayyin baru bahwa pengorbanan harta merupakan kewajiban yang ditetapkan oleh agama. Sampaikan kepada para Mubayyin bahwa tabligh Ahmadiyah yang sampai kepada anda disebabkan oleh pengorbanan harta Tahrik Jadid yang dibayarkan oleh para Ahmadi. Untuk itu, Anda pun (para Mubayyin) dihimbau untuk ambil bagian dalam pengorbanan harta tersebut supaya anda dapat menata kehidupan dengan baik dan menjadi perantara untuk menyampaikan tabligh ini.” Kutipan sabda tersebut dikutip dari Khutbah saya lalu diterbitkan.

“Ketika artikel ini dikirimkan kepada para anggota Jemaat, seorang Khadim Jemaat bernama Anas Azkil menghubungi saya (Muballigh Argentina) dan mengatakan bahwa beliau ingin datang ke rumah misi untuk melunasi candah Tahrik Jadid. Meskipun cuaca sangat panas, beliau datang ke rumah misi dengan menaiki bis setelah pulang sekolah yang ditempuh lebih dari satu jam. Beliau memberikan uang 1000 peso Argentina untuk Tahrik Jadid.

Saya sangat takjub, karena kondisi ekonomi beliau saat itu tidaklah baik dan status beliau adalah seorang siswa sekolah dan juga tidak memiliki sarana untuk mendapatkan penghasilan yang cukup. Kondisi finansial keluarga pun tidak begitu baik. Katanya pada hari itu, disebabkan oleh kurangnya uang sehingga beliau belum makan siang.

Ketika ditanya, beliau mengatakan, ‘Kutipan sabda Khalifah telah sedemikian rupa memberikan kesan sangat besar di dalam hati saya yakni para mubayiin baru hendaknya ambil bagian dalam pengorbanan Tahrik Jadid ini, karena tabligh Ahmadiyah sampai kepada para mubayyin dengan perantaraan Tahrik Jadid. Di satu sisi, saya membaca kutipan sabda Hudhur tersebut, di sisi lain, saya pada hari itu juga menelaah ayat Al Quran yang mana Allah Ta’ala berfirman janganlah menganggap orang orang yang mati syahid dan pengorbanannya mati, melainkan mereka hidup untuk selama lamanya.’

Beliau mengatakan, ‘Setelah membaca itu, timbul satu keinginan mendalam dalam diri saya, seandainya saya dapat melakukan pengorbanan seperti itu yang manfaat dan buahnya akan senantiasa hidup bahkan setelah saya mati. Keluarga saya yang masih non Muslim memberikan hadiah kepada saya berupa uang pada hari ulang tahun saya, lalu berapa pun yang masih tersisa dari uang itu ke semuanya saya persembahkan untuk Tahrik Jadid supaya berkat uang tersebut tabligh Ahmadiyah dapat sampai kepada orang lain, sebagaimana telah sampai kepada saya.’”

Inilah revolusi yang timbul di dalam diri orang orang setelah masuk Jemaat, baik Ahmadi baru maupun lama. Ketika mendengar bagaimana Jemaat Ahmadiyah membelanjakan uang (dari hasil candah), dibelanjakan untuk keperluan apa saja, itu memberikan kesan yang sangat mendalam. Bagi Jemaat yang kurang memberikan perhatian akan hal ini, berikanlah perhatian yang khusus, sampaikanlah maksud dan tujuannya dan juga keutamaannya, dengan begitu perolehan candah bisa meningkat.

Terkait:   Riwayat ‘Umar Bin Al-Khaththab (8)

Selanjutnya kisah dari Liberia, seorang Muallim setempat bernama Murtadha sahib. Beliau tengah melakukan kunjungan ke tempat yang mayoritas adalah Ahmadi baru yang baiat dari Kristen. Beliau tiba pada waktu siang yang mana kebanyakan dari antara mereka tengah berada di ladang masing-masing untuk bertani. Bapak Muallim mengatakan kepada Ahmadi yang ada, ‘Malam ini saya akan menginap di sini dan tidak akan pulang sebelum 100 persen Ahmadi di sini ambil bagian dalam gerakan yang beberkat ini.’

Ketika semua orang Kembali ke rumah di malam hari, beliau mengumpulkan anggota dan menyampaikan latar belakang Tahrik Jadid dan keutamaannya dan menghimbau semua orang untuk ambil bagian dalam gerakan ini. Dengan karunia Allah Ta’ala semua orang bahkan para wanita juga ikut dalam gerakan ini dengan penuh antusias.

Ketika Bapak Muallim akan pulang pada keesokan paginya ada yang mengatakan bahwa ada seorang Ahmadi bernama Alfonso yang berada diarea sawahnya sejak 2 bulan yang lalu dan belum ikut serta dalam Gerakan ini. Namun anda tidak bisa pergi menemuinya karena pertama tanah ladangnya sangat jauh kedua jalanpun banyak rintangan karena sering hujan.

Pak Muallim mengatakan, ‘Saya akan pergi menemuinya juga, saya berharap supaya seluruh angota Jemaat anda ikut serta dalam Gerakan ini seratus persen.’

Para Ahmadi lainnya berusaha agar Pak Muallim tidak usah pergi ke sana, namun Pak Mualim tetap bersemangat untuk pergi. Akhirnya beberapa Ahmadi ikut serta menyertai. Setelah menempuh jalan kaki selama dua setengah jam dan rombongan sampai di tempat Alfonsi sahib, Alfonsi terheran-heran dan bercampur Bahagia. Beliau langsung saja membayar candah Tahrik Jadid. Anak istri Alfonsi Sahib tinggal bersama beliau di tempat itu.

Saat itu istri beliau masih belum Ahmadi. Setelah melihat semua pemandangan itu, istri Alfonso Sahib mengatakan, saya sangat terkesan dengan pengkhidmatan Jemaat Ahmadiyah, untuk itu sejak hari ini saya akan masuk Jemaat ahmadiyah dan anak anak saya pun akan menjadi bagian dari Jemaat ini.”

Demikianlah disebabkan oleh keberkatan candah, satu keluarga mendapatkan taufik untuk baiat. Setelah baiat bagaimana orang-orang menjadi faham bahwa betapa pentingnya pengorbanan harta.

Ada seorang Muballigh di Mali menulis, “Ada seorang Ahmadi di satu Jemaat bernama Sidu Sahib. Suatu hari beliau berkunjung ke rumah misi Ahmadiyah Keta. Beliau memberikan pengorbanan candah Tahrik Jadid dan berkata, ‘Tahun berjalan Tahrik Jadid akan segera berakhir, sejak beberapa hari lalu saya gelisah dan berdoa, “Ya Tuhan berikanlah saya taufik untuk dapat melunasi perjanjian Tahrik Jadid.” Pada hari ini Allah Ta’ala memberikan taufik kepada saya, untuk itu saya datang.’

Satu kaki beliau lumpuh. Ketika dikatakan kepada beliau, ‘Kenapa anda repot repot datang kemari? Anda kabari saja kami, lalu kami akan datang menemui anda.’

Beliau menjawab dengan penuh semangat, ‘Saya telah beriman kepada Imam Mahdi dan meskipun saya memiliki kekurangan fisik, namun merasa lebih baik dari orang yang sehat dan dengan karunia Allah ta’ala, saya menaruh rasa cinta kepada agama sehingga mungkin saja dengan datang berjalan kaki kemari dalam kondisi seperti ini demi kebaikan agama Allah Ta’ala akan diterima di sisi Allah Ta’ala sehingga menjadi sarana untuk pengampunan atas dosa dosa saya.’”

Muballigh Benin menulis, seorang Muallim setempat bernama Motowaya menuturkan, “Saya berkunjung ke seorang Mubayyin baru di Jemaat wilayahnya, ketua Jemaat di sana Ismail Sahib mengatakan, ‘Kami sejak awal sudah Muslim dan (sebelum kami baiat) setiap tahunnya kami biasa memberikan pengorbanan harta atau memberikannya kepada Imam kami dengan niat berkorban di jalan Allah. Ini merupakan tahun pertama kami baiat masuk Jemaat dan untuk pertama kalinya kami memberikan pengorbanan harta dalam Jemaat Ahmadiyah. Sebelum baiat, apapun yang diberikan kepada imam (ghair), beliau berkuasa sepenuhnya, namun ketika kami bertanya kepada Muballig Ahmadiyah berkenaan dengan pembelanjaan uang dari hasil pengorbanan harta, beliau menjawab bahwa pengorbanan harta yang diterima dibelanjakan untuk tujuan agung.

Sebelumnya kami tidak memahami hal itu. Jemaat tidak menyia-nyiakan uang walaupun jumlahnya kecil, bahkan membelanjakan uang yang jumlahnya tidak seberapa itu untuk berbagai misi kemasalahatan baik dalam skala kecil maupun besar dan juga untuk penyebaran Islam. Walaupun seseorang mengorbankan satu franc saja untuk candah, ia akan mendapatkan ganjaran terbaik. Untuk itu dengan memahami falsafah pengorbanan ini, kami memberikan candah Tahrik Jadid dan setelah itu kami merasa bahwa tahun ini kami tidak mengalami kesulitan ekonomi di rumah rumah kami. Bahkan dana yang biasa kami keluarkan untuk kesehatan kami dan anak-anak, tahun ini kami terhindar dari itu. Kehadiran dalam shalat-shalat lebih baik dari sebelumnya dan Allah Ta’ala melindungi kami. Dengan karunia Allah Ta’ala setelah pengorbanan harta kali ini, kami merasakan ketentraman dan ketenangan kalbu yakni pengorbanan kami tidak akan sia-sia.’”

Orang-orang tertentu mengatakan, “Orang-orang yang hidup di pelosok Afrika adalah buta huruf dan tidak punya naluri, padahal begitu matang dan luhurnya pemikiran mereka sehingga hal itu tidak muncul di benak orang-orang yang terpelajar sekalipun. Bagaimana setelah dijelaskan kepada mereka, mereka dapat memahami dengan jelas keutamaan pengorbanan harta.”

Inilah revolusi-revolusi yang timbul dalam diri orang-orang setelah baiat. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada setiap kita untuk berkorban guna tersebarnya Islam dan melakukan pengorbanan dari harta yang diperoleh dengan cara yang bersih. Semoga pengorbanan ini diterima Allah dan semoga Allah Ta’ala ridha kepada kita.

Sekarang saya akan mengumumkan dimulainya Tahun Baru Tahrik Jadid dan menyampaikan beberapa rincian. Dengan karunia Allah Ta’ala tahun ke-87 berakhir pada tanggal 31 Oktober dan tahun ke-88 dimulai [November 2021-Oktober 2022]. Alhamdulillah, Jemaat Ahmadiyah mendapatkan taufik untuk berkorban harta sebesar £ 15.300.000 (lima belas juta tiga ratus ribu Poundsterling), meningkat sebesar £ 842.000 (delapan ratus empat puluh dua ribu Poundsterling) dari tahun sebelumnya.[2]

Dari semua Jemaat di seluruh dunia, tahun ini, Jerman berada di urutan pertama.

Keadaan ekonomi di Pakistan masih buruk, namun para anggota Jemaat terus menambah pengorbanan mereka. Doakan juga untuk mereka. Selain masalah perekonomian negara, mereka masih terjebak dalam banyak kesulitan lain saat ini. Setiap hari tampaknya ada saja gugatan yang dilontarkan terhadap para Ahmadi, kasus pengadilan diajukan terhadap mereka dan pemerintah melakukan segala upaya untuk menekan dan mengganggu mereka. Semoga Allah Ta’ala menghilangkan semua kegelisahan mereka dan memberikan taufik kepada mereka untuk melakukan semua aktivitas mereka dengan bebas sehingga dapat mengadakan berbagai ijtema dan jalsah, dan juga secara terbuka dapat mempersembahkan pengorbanan mereka sendiri. Mereka tentu saja tidak akan mengungkapkan pengorbanan mereka sendiri tetapi kami dapat menyebutkannya, namun karena batasan tertentu, kita tidak mungkin untuk menyebutkan beberapa pengorbanan mereka.

Namun, untuk negara-negara lain yang berkorban, saya telah menyebutkan bahwa Jerman menempati urutan pertama, diikuti oleh Inggris, kemudian Amerika di urutan ketiga, Kanada di urutan keempat, sebuah negara Timur Tengah di urutan kelima, India di urutan keenam, Australia di urutan ketujuh. Indonesia di urutan kedelapan, Ghana di urutan kesembilan, dan sebuah negara Timur Tengah lainnya di posisi kesepuluh.

Dari keseluruhan kontribusi negara-negara Afrika, Ghana menempati posisi pertama, disusul Nigeria, Burkina Faso, Tanzania, dan Sierra Leone. Saya telah menyebutkan sebelumnya bahwa Sierra Leone dapat ditingkatkan dan terlepas dari kenyataan memang ada peluang untuk diupayakan perbaikan, namun mereka tidak memberikan perhatian sebagaimana mestinya. Jika orang-orang diberitahu dengan cara yang benar, mereka pada dasarnya merupakan orang-orang yang giat berkorban, sebagaimana kisah kisah yang telah saya sampaikan. Peringkat selanjutnya, diikuti oleh Gambia, Benin, Uganda, Kenya dan kemudian Liberia. Dari sisi peningkatan jumlah peserta, Nigeria menempati posisi pertama, kemudian Gambia, Senegal, Ghana, Tanzania, Guinea Conakry, Malawi, Uganda, Guinea Bissau, Kongo Kinshasa, Burkina Faso, dan kemudian Kongo Brazzaville.

Adapun peningkatan jumlah peserta di Jemaat yang lebih besar di luar Afrika, Jerman pada urutan pertama, kemudian Inggris, Belanda, Bangladesh kemudian Mauritius. Dengan karunia Allah Ta’ala candah dari anggota Daftar Awal masih tetap dibayarkan.

Sepuluh Jemaat pertama di Jerman adalah sebagai berikut: Rödermark pertama, diikuti oleh Neuss, Mahdi-Abad, Cologne, Rodgau, Nieda, Flörsheim, Pinneberg, Frankenthal dan Osnabrück. Peringkat Keamiran setempat di Jerman adalah sebagai berikut: Hamburg, Frankfurt, Gross-Gerau, Dietzenbach, Wiesbaden, Mörfelden, Riedstadt, Mannheim, Darmstadt, Russelheim.

Di Pakistan, dalam hal kontribusi Tahrik Jadid yang diterima, Jemaat Lahore berada di peringkat pertama, diikuti oleh Rabwah lalu Karachi kemudian Islamabad. Di tingkatan distrik (kecamatan), Islamabad adalah yang pertama, kemudian distrik Gujranwala, distrik Sialkot, distrik Umerkot, distrik Multan, distrik Toba Tek Singh, distrik Mirpur Khas, distrik Attock, distrik Mirpur Azad Kashmir dan distrik Dera Ghazi Khan. Posisi Imarat (keamiran) setempat dalam kontribusi tertinggi adalah sebagai berikut: Imarat Defence Lahore, Imarat Gulshan Abad Karachi, Imarat Azizabad Karachi, Imarat Township Lahore, Imarat Model Town Lahore, Imarat Mughalpura Lahore, Imarat Dehli Gate Lahore, Imarat Clifton Karachi, kota Bahawalnagar, dan kota Hafizabad.

Posisi lima teratas di Inggris tingkat wilayah (regional) adalah sebagai berikut: wilayah Masjid Baitul Futuh, wilayah Masjid Fazl di peringkat kedua, diikuti oleh wilayah Islamabad, wilayah Midlands dan wilayah Baitul Ehsan. dalam keseluruhan penerimaan, sepuluh posisi teratas kategori Jemaat besar di Inggris adalah sebagai berikut: Farnham, Islamabad, South Cheam, Masjid Fazl, Worcester Park, Birmingham South, Walsall, Aldershot, Gillingham dan Tilford.

Posisi Jemaat di Amerika Serikat dalam hal kontribusi, adalah sebagai berikut: Maryland, Los Angeles, Detroit, Silicon Valley, Chicago, Seattle, Virginia Tengah, Oshkosh, Atlanta, Georgia, Virginia Selatan, Houston, York dan kemudian Boston.

Dalam hal penerimaan total, posisi Imarat setempat di Kanada adalah sebagai berikut: Vaughan, Peace Village dan Calgary sejajar, kemudian Vancouver, Toronto West, dan kemudian Toronto.

Sepuluh Jemaat teratas di India untuk penerimaan total adalah: Qadian adalah yang pertama, Coimbatore, Hyderabad, Karalwai, Pathapiriyam, Calcutta, Bangalore, Kerang, Calicut dan Melapalayam. Sepuluh provinsi teratas dalam hal pengorbanan yang dilakukan, adalah sebagai berikut: Kerala adalah yang pertama, diikuti oleh Tamil Nadu, Jammu Kashmir, Karnataka, Telangana, Odissa, Punjab, Bengal, Delhi, Lakshti.

Sepuluh Jemaat teratas Australia adalah sebagai berikut: Melbourne Long Warren, Castle Hill, Marsden Park, Melbourne Berwick, Adelaide South, Penrith, Perth, ACT Canberra, Parramatta dan Adelaide West. Ini adalah Jemaat di Australia.

Semoga Allah Ta’ala memberikan berkah yang tidak terhitung jumlahnya kepada semua orang yang berkorban dan memberkati kekayaan mereka.

Khotbah II


الْحَمْدُ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا – مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ – وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ – عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ – أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Penerjemah: Mln. Mahmud Ahmad Wardi, Syahid (London-UK), Mln. Hasyim dan Mln. Fazli ‘Umar Faruq. Editor: Dildaar Ahmad Dartono. Sumber referensi: www.alislam.org (website resmi Jemaat Ahmadiyah Internasional bahasa Inggris dan Urdu) dan www.Islamahmadiyya.net (website resmi Jemaat Ahmadiyah Internasional bahasa Arab).


[1] Surah ath-Thalaq, 65:4, dengan bismillahir rahmanir rahim sebagai ayat pertama.

[2] 15.300.000 GBP (lima belas juta tiga ratus ribu Poundsterling Inggris) setara sekitar 294.615.294.744 IDR (dua ratus sembilan puluh empat miliar enam ratus lima belas juta dua ratus sembilan puluh empat ribu tujuh ratus empat puluh empat rupiah). 842.000 GBP (delapan ratus empat puluh dua ribu Poundsterling Inggris) setara sekitar 16.210.435.009 (enam belas miliar dua ratus sepuluh juta empat ratus tiga puluh lima ribu sembilan rupiah).

Leave a Reply

Begin typing your search above and press return to search.