Pembahasan mengenai tiga orang Ahlu Badr (Para Sahabat Nabi Muhammad (saw) peserta perang Badr), launching (peresmian peluncuran) website majalah alfazl dan kewafatan dua Almarhumah.

Lanjutan mengenai Hadhrat Hilal bin Umayyah al-Waqifi al-Anshari, bahasan baru mengenai Hadhrat Murarah bin ar-Rabi’ dan Hadhrat Utbah bin Ghazwan radhiyAllahu ta’ala ‘anhum.

Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 13 Desember 2019 (13 Fatah 1398 Hijriyah Syamsiyah/ 1441 Hijriyah Qamariyah) di Masjid Mubarak, Islamabad, Tilford, UK (United Kingdom of Britain/Britania Raya)

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ. (آمين)

Pada khotbah yang lalu saya telah menjelaskan berkenaan dengan Hadhrat Hilal Bin Umayyah Ra. Didalamnya juga diterangkan perihal perang Tabuk. Hadhrat Hilal termasuk tiga sahabat yang tidak ikut dalam perang tabuk. Sepulang dari perang Tabuk Rasulullah (saw) menzahirkan kekecewaan atas mereka dan juga memberikan hukuman yang membuat ketiganya diliputi kegelisahan yang dalam. Mereka terus menerus istighfar dan taubat ke hadapan Allah Ta’ala, sehingga ratapan ketiga sahabat tersebut diterima oleh Allah Ta’ala, diantaranya adalah Hadhrat Hilal. Berkenaan dengan pengampunan mereka, Allah Ta’ala telah menurunkan ayat Al Quran.

Berkenaan dengan itu diterangkan juga bahwa begitu besar pengorbanan para sahabat untuk mempersiapkan perang tersebut. Sedangkan berkenaan dengan orang-orang munafik, mereka tidak ikut serta dalam perang tersebut dan menyampaikan alasan palsu kepada Rasulullah (saw). Sebagian dari mereka sejak awal telah menolak untuk pergi. Rasulullah (saw) menyerahkan urusan mereka kepada Allah Ta’ala. Terkait hal itu ada beberapa hal tambahan yang ingin saya sampaikan pada lesempatan ini.

Diantara orang-orang yang memilih untuk tidak ikut bersama dengan Rasulullah (saw) salah satunya adalah Jad Bin Qais. Rasul bersabda padanya: apakah kamu tidak mau ikut bersama kami untuk berperang bersama dengan pasukan Persia? Ia menyampaikan alasan, disebabkan karena wanita sehingga bisa menimbulkan fitnah. Yakni para istri, kewajiban dalam berumah tangga, permasalahan, semua itu dapat menjadi ujian. Rasulullah (saw) mengizinkannya. Allah ta’ala menurunkan ayat atas hal itu yang berbunyi: وَمِنْهُم مَّن يَقُولُ ائْذَن لِّي وَلَا تَفْتِنِّي ۚ أَلَا فِي الْفِتْنَةِ سَقَطُوا ۗ وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمُحِيطَةٌ بِالْكَافِرِينَ (49) “Di antara mereka ada orang yang berkata: ‘Berilah saya keizinan (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus dalam fitnah.’ Ketahuilah bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah. Dan sesungguhnya Jahannam itu benar-benar meliputi orang-orang yang kafir.”

Ada seorang yahudi di Madinah yang bernama Suwailam, tinggal di Madinah tepatnya di daerah Jasum, yang disebut juga Bir Jasim. Di Madinah yang mengarah menuju Syam terdapat sumur yang bernama Abul Haitsam Bin Taihan. Air dalam sumur tersebut sangat baik kualitasnya. Rasul pun pernah meminumnya dan menyukainya. Rumah si Yahudi tersebut merupakan tempat berlindung bagi orang-orang munafik. Rasulullah (saw) mendapatkan kabar bahwa orang-orang munafik tengah berkumpul di rumah tersebut.

Mereka tengah mencegah orang-orang supaya tidak berangkat pada perang Tabuk bersama dengan Rasulullah (saw). Rasulullah (saw) mengutus Hadhrat Ammar Bin yasir untuk pergi ke tempat tersebut kemudian tanyakan perihal kebenaran kabar yang telah sampai. Ketika Hadhrat Ammar sampai di tempat mereka untuk mengkonfirmasi kebenaran kabar tadi, orang-orang munafik tadi datang menghadap Rasulullah (saw) dan meminta maaf. Keadaan mereka itu dijelaskan oleh Allah ta’ala sebagai berikut:

 يَحْذَرُ الْمُنَافِقُونَ أَن تُنَزَّلَ عَلَيْهِمْ سُورَةٌ تُنَبِّئُهُم بِمَا فِي قُلُوبِهِمْ ۚ قُلِ اسْتَهْزِئُوا إِنَّ اللَّهَ مُخْرِجٌ مَّا تَحْذَرُونَ (64)
وَلَئِن سَأَلْتَهُمْ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلْعَبُ ۚ قُلْ أَبِاللَّهِ وَآيَاتِهِ وَرَسُولِهِ كُنتُمْ تَسْتَهْزِئُونَ (65)
لَا تَعْتَذِرُوا قَدْ كَفَرْتُم بَعْدَ إِيمَانِكُمْ ۚ إِن نَّعْفُ عَن طَائِفَةٍ مِّنكُمْ نُعَذِّبْ طَائِفَةً بِأَنَّهُمْ كَانُوا مُجْرِمِينَ (66)

  1. Orang-orang yang munafik itu takut akan diturunkan terhadap mereka sesuatu surat yang menerangkan apa yang tersembunyi dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka: “Teruskanlah ejekan-ejekanmu (terhadap Allah dan rasul-Nya)”. Sesungguhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takuti itu.
  2. Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja”. Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?”
  3. Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.

Seperti itulah keadaannya yakni sebelum pergi telah direncanakan untuk tidak pergi. Rasulullah (saw) menyerahkan urusan ini kepada Allah Ta’ala. Setelah rasul kembali dari perang Tabuk dan telah sampai di dekat Madinah, Rasul bersabda: Kalian telah meninggalkan di Madinah orang-orang yang menyertai kalian di setiap perjalanan dan lembah.

Sahabat bertanya: Wahai Rasul! Ketika mereka di Madinah, bagaimana mereka bisa menyertai?

Beliau bersabda: Memang mereka di Madinah, namun mereka terhalang oleh suatu penyakit ataupun kesulitan lainnya dan alasan mereka jaiz. Padahal mereka berkeinginan untuk ikut serta, untuk itu Allah Ta’ala menyertakan mereka beserta kalian.

Dalam perjalanan pulang dari Tabuk, [di sebuah pemberhentian] Rasulullah (saw) bersabda: إِنِّي مُسْرِعٌ فَمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ فَلْيُسْرِعْ مَعِيَ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَمْكُثْ “Saya akan segera berangkat, siapa diantara kalian yang ingin ikut saya silahkan, namun jika ingin berhenti sejenak silahkan.”

فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏”‏ إِنِّي مُسْرِعٌ فَمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ فَلْيُسْرِعْ مَعِيَ وَمَنْ شَاءَ فَلْيَمْكُثْ ‏”‏ ‏.‏ فَخَرَجْنَا حَتَّى أَشْرَفْنَا عَلَى الْمَدِينَةِ فَقَالَ ‏”‏ هَذِهِ طَابَةُ وَهَذَا أُحُدٌ وَهُوَ جَبَلٌ يُحِبُّنَا وَنُحِبُّهُ ‏”‏ ‏.‏ ثُمَّ قَالَ ‏”‏ إِنَّ خَيْرَ دُورِ الأَنْصَارِ دَارُ بَنِي النَّجَّارِ ثُمَّ دَارُ بَنِي عَبْدِ الأَشْهَلِ ثُمَّ دَارُ بَنِي عَبْدِ الْحَارِثِ بْنِ الْخَزْرَجِ ثُمَّ دَارُ بَنِي سَاعِدَةَ وَفِي كُلِّ دُورِ الأَنْصَارِ خَيْرٌ ‏”‏ ‏.‏

فَلَحِقَنَا سَعْدُ بْنُ عُبَادَةَ فَقَالَ أَبُو أُسَيْدٍ أَلَمْ تَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم خَيَّرَ دُورَ الأَنْصَارِ فَجَعَلَنَا آخِرًا ‏.‏ فَأَدْرَكَ سَعْدٌ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ خَيَّرْتَ دُورَ الأَنْصَارِ فَجَعَلْتَنَا آخِرًا ‏.‏ فَقَالَ ‏”‏ أَوَلَيْسَ بِحَسْبِكُمْ أَنْ تَكُونُوا مِنَ الْخِيَارِ ‏”‏ ‏.‏

Perawi menuturkan: فَخَرَجْنَا حَتَّى أَشْرَفْنَا عَلَى الْمَدِينَةِ فَقَالَ “Lalu kami berangkat sampai Madinah Nampak kepada kami. Rasulullah (saw) bersabda: هَذِهِ طَابَةُ وَهَذَا أُحُدٌ وَهُوَ جَبَلٌ يُحِبُّنَا وَنُحِبُّهُ ‏ ‘Ini adalah ta’bah, suci dan menyenangkan dan ini adalah Uhud, gunung yang mencintai kita dan kita pun mencintainya.’

Rasulullah (saw) lalu bersabda, إِنَّ خَيْرَ دُورِ الأَنْصَارِ دَارُ بَنِي النَّجَّارِ ثُمَّ دَارُ بَنِي عَبْدِ الأَشْهَلِ ثُمَّ دَارُ بَنِي عَبْدِ الْحَارِثِ بْنِ الْخَزْرَجِ ثُمَّ دَارُ بَنِي سَاعِدَةَ وَفِي كُلِّ دُورِ الأَنْصَارِ خَيْرٌ “Diantara seluruh kabilah Anshar yang terbaik adalah keluarga Banu Najjar lalu Banu Abdul Asyhal, lalu Banu Harits Bin Khazraj lalu Banu Sa’idah dan di dalam keluarga-keluarga Anshar hanya ada kebaikan dan kebaikan.”[1] Rasulullah (saw) menyatakan baik semua rumah kaum anshar.

فَلَحِقَنَا سَعْدُ بْنُ عُبَادَةَ فَقَالَ أَبُو أُسَيْدٍ Saat itu Hadhrat Saad Bin Ubadah datang menemui kami. Abu Usaid mengatakan: أَلَمْ تَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم خَيَّرَ دُورَ الأَنْصَارِ فَجَعَلَنَا آخِرًا ‏ Tahukah kamu bahwa Rasulullah (saw) memberikan keutamaan kepada rumah-rumah kaum anshar sedangkan kita di akhir. فَأَدْرَكَ سَعْدٌ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ Lalu Hadhrat Saad hadir di hadapan Rasulullah (saw) dan bertanya: يَا رَسُولَ اللَّهِ خَيَّرْتَ دُورَ الأَنْصَارِ فَجَعَلْتَنَا آخِرًا Wahai Rasulullah (saw)! Tuan telah menyebutkan keutamaan rumah-rumah anshar, sedangkan kami diletakan diakhir. Rasulullah (saw) bersabda: أَوَلَيْسَ بِحَسْبِكُمْ أَنْ تَكُونُوا مِنَ الْخِيَارِ ‘Tidakkah cukup bagi kalian bahwa kalian termasuk diantara orang-orang yang baik?’” (Riwayat Sahih Muslim)[2]

Ketika Rasulullah (saw) kembali menuju Madinah dari perang Tabuk disambut oleh penduduk Madinah yakni pria, wanita, anak-anak di suatu tempat di luar Madinah yang bernama Tsaniyatul Wida. Tsaniyatul Wida merupakan tempat yang tidak jauh dari Madinah. Tempat tersebut biasa digunakan untuk melepas penduduk Madinah yang akan berangkat ke Mekah, karena itu dinamakan dengan Tsaniyatul Wida.

Para sejarawan Sirat berpendapat bahwa ketika Rasulullah (saw) hijrah dari Mekah ke Madinah melalui Qaba. Pada arah tersebut terdapat tempat yang bernama Tsaniyatul Wida. Hadhrat Aisyah meriwayatkan: Di tempat tersebut anak-anak Madinah menyambut rasul sambil melantunkan kalimat:

طلع البدر علينا
Thala‘a al-badru ‘alaynā
Wahai bulan purnama yang terbit kepada kita

من ثنيات الوداع
Min tsanīyāti al-wadā‘
Dari lembah Wadā‘.
وجب الشكر علينا
Wajab al-syukru ‘alaynā
Dan wajiblah kita mengucap syukur
kepada Allah

ما دعى لله داع
Mā da‘ā lillāhi dā‘
atas apa yang diserukan penyeru kepada Allah.[3]

Beberapa pensyarah Hadits seperti Allamah Ibnu Hajar Asqalani, pentasyrih Bukhari, berpendapat bahwa Sangat mungkin sekali jika syair yang dimaksudkan dalam riwayat yang disampaikan oleh Hadhrat aisyah berkaitan dengan kepulangan Rasulullah (saw) dari perang tabuk, karena pada saat itu penduduk Madinah menyambut Rasulullah (saw) di Tsaniyatul Wida. Sebagaimana orang yang datang dari arah Syam biasanya disambut ditempat tersebut. Ketika penduduk Madinah mengetahui kabar kepulangan Rasul dari perang Tabuk, dengan penuh antusias mereka berangkat dari Madinah ke tempat tersebut untuk menyambut Rasulullah (saw), sebagaimana diriwayatkan oleh Hadhrat Shaib Bin Yazid, saya ingat bahwa sayapun ikut serta berangkat bersama dengan anak anak lainnya untuk menyambut Rasululah (saw) ke Tsaniyatul Wida.

Imam Baihaqi juga menyatakan bahwa anak-anak melantunkan syair tersebut ketika menyambut Rasul sepulang dari perang tabuk.

Alhasil, kedua jenis pendapat tersebut disampaikan oleh para sejarawan dan penulis Sirah. Yakni sebagian berpendapat bahwa syair itu dilantunkan ketika menyambut Rasulullah (saw) saat hijrah ke Madinah, sedangkan sebagiannya berpendapat ketika menyambut Rasul sepulang dari perang Tabuk.

Merupakan Sunnah Rasulullah (saw) yakni ketika kembali dari suatu perjalanan pulang ke Madinah, pertama beliau pergi ke Mesjid lalu mendirikan shalat dua rakaat. Sebagaimana sepulang dari perang Tabuk, beliau masuk ke Madinah ketika waktu matahari sepenggalah (dhuha), lalu Rasul melaskanakan shalat dua rakaat di Mesjid.

Setelah shalat – yaitu shalat nafal dua rakaat – beliau (saw) duduk di masjid untuk mulaqat dengan orang-orang. Saat itu orang-orang yang sengaja tidak ikut perang datang menemui Rasul. Jumlah mereka sekitar 80 orang. Rasul pun mengetahui hakikat bahwa mereka hanya beralasan palsu, meskipun demikian beliau menerima keterangan lahiriah mereka dan memaafkan mereka lalu mengambil baiat mereka dan beristighfar untuk mereka. Seperti yang telah dijelaskan secara lengkap sebelumnya bahwa ketiga sahabat yang disebutkan diatas tidak menyampaikan alasan dusta, karena itu mereka bersabar mengahadapi kekecewaan Rasulullah (saw) untuk sekian masa. Mereka meratap dan taubat di hadapan Allah Ta’ala lalu Allah Ta’ala mengumumkan melalui AlQuran bahwa Dia telah menerima taubat mereka.

Sahabat berikutnya adalah Hadhrat Murarah Bin ar-Rabi al-‘Amri (مُرَارةُ بن الربيع الأنصاري الأوسيّ). Ayahanda beliau bernama Rabi Bin Adi dalam riwayat lain disebutkan Rabiah juga. Beliau berasal dari Anshar kabilah Aus keluarga Banu Amru Bin Auf. Berdasarkan riwayat lain berasal dari Ittihad Kabilah Qadhaah Banu Amru Bin Auf. Qadhaah merupakan kabilah terkenal di Arab yang berjarak 10 mil dari Madinah tepatnya setelah Wadiul Qura, menghuni sebelah barat Madain salih. Beliau mendapatkan kehormatan untuk ikut serta pada perang Badr.

Dalam kitab Bukhari dan kitab peri kehidupan sahabat dijumpai keterangan perihal keikut sertaan beliau pada perang Badr, sementara Ibnu Hisyam tidak mencantumkan nama beliau dalam daftar nama sahabat Badr. Beliau termasuk kedalam tiga sahabat yang tidak dapat ikut serta pada perang tabuk dan telah dijelaskan sebelumnya dan berkenaan dengannya juga Allah ta’ala telah menurunkan ayat Al Quran yang berbunyi: وَعَلَى الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُوا حَتَّىٰ إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنْفُسُهُمْ وَظَنُّوا أَنْ لَا مَلْجَأَ مِنَ اللَّهِ إِلَّا إِلَيْهِ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُوا ۚ إِنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allâh, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allâh menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allâh-lah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

Sebagaimana telah disampaikan sebelumnya bahwa ketiga sahabat yang tidak ikut perang itu berasal dari kaum Anshar, berkenaan dengan itu tidak ada keterangan lain mengenai Hadhrat Murarah, yang ada keterangan lengkap mengenai Hadhrat Kaab Bin malik dan telah saya sampaikan dalam menjelaskan perihal Hadhrat Hilal pada khutbah lalu, untuk itu tidak perlu disampaikan lagi pada kesempatan ini.

Sahabat berikutnya adalah Hadhrat Utbah bin Ghazwan (عتبة بن غزوان ابن جابر بن وهيب). Beliau dipanggil Abu Abdillah (أبو عبد الله) dan Abu Ghazwan (أبو غزوان المازني). Beliau adalah pendukung kabilah Banu Naufal Bin Abd Manaf. Ayah beliau bernama Ghazwan Bin Jabir. Beliau menikahi Ardah Binti Harits. Hadhrat Utbah sendiri meriwayatkan bahwa saya adalah yang ketujuh diantara orang-orang yang memeluk Islam pada masa awal di tangan Rasulullah (saw).

Ibnu Atsir berpendapat bahwa ketika Hadhrat Utbah hijrah ke Habsyah, saat itu usia beliau 40 tahun. Sementara menurut Ibnu Saad beliau berusia 40 tahun pada saat hijrah ke Madinah. Ketika kembali dari Habsyah ke Mekah, pada saat Rasulullah (saw) masih berada di mekah, beliau Ra hijrah dari Mekah ke Madinah bersama dengan Hadhrat Miqdad. Keduanya memeluk Islam pada masa awal. Kisah hijrah ke Madinah mereka sebagai berikut, yakni mereka berdua bergabung dengan pasukan Musyrik dengan tujuan supaya dapat bergabung dengan pasukan muslim nantinya.

Rasulullah (saw) mengirim lasykar muslim ke Tsaniyatul Mar’ah dibawah komando Hadhrat Ubaidah Bin Harits berjarak sekitar 55 km dari kota rabikh di sebelah timur laut. Sedangkan dari Madinah berjarak sekitar 200 km. Sedangkan pasukan Quraisy dikomandoi oleh Ikrimah Bin Abu Jahal. Namun tidak terjadi pertempuran antara dua pihak pasukan tersebut, kecuali sebuah panah yang dilontarkan oleh Hadhrat Sa’ad Bin abi Waqqas Ra dan itu merupakan panah pertama yang dilontarkan dijalan Allah. Pada saat itu Utbah Bin Ghazwan dan Hadhrat Miqdad melarikan diri dari pasukan Quraisy lalu bergabung dengan pasukan muslim.

Hadhrat Mirza Bashir Ahmad dalam kitab Sirat Khataman Nabiyyin menjelaskan berkenaan dengan awal mula jihad dengan pedang yang dilakukan oleh Rasulullah (saw) sebagai bentuk pembelaan diri, beliau bersabda: Izin untuk melakukan jihad dengan pedang pertama kali turun ayat Al Quran pada 12 Shafr 2 hijri. Yakni isyarah Tuhan atas pengumuman perang untuk pembelaan diri yang dilakukan ketika hijrah, pengumuman resminya disampaikan pada Shafr 2 hijri, setelah Rasulullah (saw) selesai dari proses awal mendirikan Madinah dengan demikian dimulailah jihad. Diketahui dari sejarah bahwa untuk melindungi umat muslim dari kejahatan kaum kuffar, Hadhrat Rasulullah (saw) menempuh empat upaya yang mana merupakan bukti kedalaman beliau dalam politik dan pandangan jauh beliau dalam strategi perang.

Upaya-upaya itu diantaranya: Pertama, beliau sendiri melakukan safar untuk menempuh perjanjian damai dengan kabilah-kabilah di sekitar supaya daerah daerah di sekitar Madinah terlindung dari resiko bahaya. Dalam hal ini secara khusus beliau memperhatikan kabilah kabilah yang menghuni disekitar jalan menuju Syam (Suriah dsk) dari Quraisy karena sebagaimana dapat dipahami oleh setiap orang bahwa inilah kabilah-kabilah yang dapat dimintai bantuan yang banyak oleh Quraisy dalam menghadapi umat muslim dan permusuhan mereka dapat menimbulkan mara bahaya besar bagi umat muslim.

Kedua, langkah kedua yang Rasulullah (saw) tempuh yakni mulai mengutus kelompok-kelompok kecil ke berbagai arah dari Madinah untuk mencari kabar supaya dapat mengetahui rencana dan gerakan Quraisy selanjutnya dan supaya Quraisy pun faham bahwa umat muslim pun tidak buta akan informasi yang dengannya Madinah dapat terjaga dari serangan dadakan.

Langkah ketiga yang ditempuh yakni tujuan dari diutusnya kelompok kelompok kecil itu juga adalah supaya umat muslim yang lemah dan miskin yang berada di Mekah mendapatkan ksempatan untuk berjumpa dengan umat muslim Madinah, karena masih banyak orang di Mekah yang dalam hatinya sudah muslim namun dikarenakan kezaliman bangsa Quraisy sehingga tidak dapat menzahirkan keislamannya secara terang terangan dan tidak juga memiliki kemampuan untuk hijrah karena miskin, karena Quraisy mencegah orang-orang seperti itu untuk hijrah. Dalam Al Quran Allah Ta’ala berfirman:

 وَمَا لَكُمْ لَا تُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الرِّجَالِ وَالنِّسَاءِ وَالْوِلْدَانِ الَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَخْرِجْنَا مِنْ هَٰذِهِ الْقَرْيَةِ الظَّالِمِ أَهْلُهَا وَاجْعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ وَلِيًّا وَاجْعَل لَّنَا مِن لَّدُنكَ نَصِيرًا ()

Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!”

Alhasil, dengan mengirimkan grup grup ini salah satu tujuannya adalah supaya orang-orang lemah tersebut mendapatkan kebebasan dari kaum yang zalim itu. Yakni supaya mereka bergabung dulu dengan kafilah Quraisy dan ketika dekat dengan Madinah dapat melarikan diri menuju grup-grup Muslim. Sebagaimana Hadhrat Mirza Bashir Ahmad menulis:

Terbukti dari sejarah bahwa grup pertama yang diutus oleh Rasulullah (saw) dibawah komando Ubaidah Bin Al Harits dan telah berhadapan dengan pasukan yang dikomandoi oleh Ikrimah Bin Abu Jahal. Dua orang diantara mereka melarikan dari dari pasukannya lalu bergabung dengan pasukan muslim. Sebagaimana diriwayatkan bahwa ketika pasukan muslim berhadap hadapan dengan pasukan Quraisy dua orang yang bernama Miqdad Bin Amru dan Utbah Bin Ghazwan yang notabene merupakan pendukung Banu Zuhrah dan Banu Naufal, melarikan diri dari pasukan musyrik lalu bergabung dengan pasukan muslim. Kedua orang itu adalah muslim.

Upaya keempat yang beliau tempuh adalah beliau mencegah kafilah dagang Quraisy yang datang dari Mekah menuju Syam melewati madinah, karena masalahnya adalah kemana pun mereka berlalu, mereka menyalakan api permusuhan dengan memprovokasi orang-orang untuk menentang umat Muslim sehingga dengan tertanamnya benih permusuhan terhadap islam di sekitar Madinah, dapat menimbulkan resiko berbahaya bagi umat Islam. Kedua, kafilah tersebut selalunya dilengkapi dengan senjata sehingga setiap orang dapat memahami bahwa lewatnya kafilah seperti itu di dekat Madinah dalam keadaan demikian tidaklah kosong dari bahaya. Ketiga, mata pencaharian bangsa Quraisy yang utama adalah perdagangan. Dalam keadaan demikian, untuk menaklukan Quraisy, untuk menghentikan perbuatan zalimnya dan untuk memaksa mereka berdamai, cara yang paling meyakinkan dan tepat adalah cara demikian yakni jalan perdagangannya dihentikan.

Sebagaimana sejarah menjadi saksi bahwa hal yang memaksa bangsa Quraisy untuk condong kepada perdamaian, mencegah kafilah dagang mereka memberikan andil yang sangat banyak. Itu merupakan upaya yang sangat cerdas dan bijak yang membawa hasil pada waktunya. Terlebih, keuntungan yang didapatkan dari kafilah dagang itu digunakan untuk upaya menghancurkan Islam, bahkan sebagian kafilah secara khusus diutus untuk tujuan tersebut yakni keuntungan yang didapatkan dibelanjakan sepenuhnya untuk menghancurkan Islam. Dalam keadaan demikian setiap orang dapat memahami bahwa mencegah kafilah-kafilah dagang tersebut pada zatnya sama sekali merupakan upaya yang jaiz dan wajar.

Pada Sariyah (ekspedisi) Ubaidah Bin Harits dimana Hadhrat Utbah melarikan dari pasukan Quraisy lalu bergabung dengan pasukan muslim selengkapnya dijelaskan sebagai berikut yang mana sebagiannya telah saya sampaikan pada khutbah yang lalu, namun akan saya sampaikan secara singkat, “Setelah Hadhrat Rasulullah (saw) kembali dari perang Waddan (غَزْوَةِ وَدَّانَ) pada awal bulan Rabi’ul Awwal, beliau mengutus pasukan Muhajirin yang terdiri dari 60-70 pasukan berkuda dibawah komando kerabat beliau bernama Ubaidah ibn Harits bin al-Muthalib (عُبَيْدَةَ بْنَ الْحَارِثِ بْنِ الْمُطَّلِبِ بْنِ عَبْدِ مَنَافِ بْنِ قُصَيٍّ). Tujuan langkah itu pun adalah untuk menghadapi serangan Quraisy Mekah. Setelah Ubaidah ibn Harits dan pasukannya menempuh perjalanan dan sampai di sebuah tempat bernama Tsaniyatul Marah (ثَنِيَّةِ الْمُرَّةِ) lalu berhenti di sana. Mereka melihat 200 pasukan muda Quraisy dengan senjata lengkap di bawah komando Ikrimah ibn Abu Jahl.

Kedua pasukan saling berhadapan dan saling melontarkan anak panah, namun pasukan musyrik ketakutan beranggapan bahwa di belakang masih ada pasukan Muslim yang bersembunyi yang akan datang membantu. Pasukan Musyrik lalu mundur, namun pasukan Muslim tidak mengejarnya. Walhasil, dari antara pasukan musyrik, ada dua orang bernama Miqdad ibn Amru dan Utbah ibn Ghazwan yang melarikan diri dari pasukan yang dikomandoi oleh Ikrimah ibn Abu Jahl itu lalu bergabung dengan pasukan Muslim. Mereka bergabung dengan pasukan Quraisy untuk tujuan tersebut yakni ketika mendapatkan kesempatan bergabung dengan pasukan Muslim, akan bergabung dengan Muslim karena hatinya sudah Muslim. Akan tetapi, disebabkan kelemahan diri dan takut kepada orang Quraisy, mereka tidak dapat berhijrah.

Mungkin saja kejadian tersebut membuat Quraisy marah dan menganggap hal tersebut sebagai kesialan (pertanda buruk) sehingga memutuskan untuk mundur. Tidak tertulis dalam sejarah bahwa lasykar Quraisy ini datang ke arah tempat itu dengan tujuan khusus. Mereka tidak terlihat sebagai kafilah dagang karena mereka menyusun diri bak pasukan bersenjata lengkap yang menampakkan diri (berpura-pura) sebagai kafilah dagang dan berkaitan dengan itu Ibnu Ishaq (ابن إسحاق) menyebutnya dengan istilah ‘jam’an azhima’ (جَمْعًا عَظِيمًا) atau lasykar besar.[4] Namun yang pasti adalah niat mereka tidak baik.

Mereka datang untuk menyerang sehingga umat Muslim pun melontarkan panah dan tampaknya juga lontaran anak panah pertama dari pihak kafir. Dengan karunia Allah Ta’ala setelah melihat pasukan Muslim siaga dan melihat dua orang pasukannya bergabung dengan Muslim, akhirnya pasukan kafir putus asa lalu mundur. Manfaat yang didapatkan oleh pasukan Muslim adalah dua orang Muslim terhindar dari kezaliman Quraisy.”[5]

Dalam Kitab ath-Thabaqatul Kubra dikatakan bahwa ketika Hadhrat Utbah Bin ghazwan dan bekas budak beliau bernama Khabab hijrah dari Mekah ke Madinah, maka di daerah Qaba beliau tinggal dirumah Hadhrat Abdullah Bin Salma Ajlani dan ketika Hadhrat Utbah sampai di Madinah, tinggal di rumah Hadhrat Abbad bin Bisyr. Rasulullah (saw) telah menjalinkan persaudaraan antara beliau dengan Hadhrat Abu Dujanah. Masih ada hal lain berkenaan dengan Hadhrat Utbah Bin Ghazwan, insya Allah akan saya sampaikan nanti.

Pada saat ini saya ingin menyampaikan pengumuman bahwa kita telah membuat website harian Al Fazl dan saya akan umumkan selengkapnya. Saya juga akan memimpin shalat jenazah untuk dua almarhum nanti setelah jumat sebelumnya saya akan sampaikan berkenaan dengan beliau beliau.

Bertepatan dengan 106 tahun berdirinya surat kabar Al-Fazl, dari London telah dimulai edisi Al-Fazl online. 106 tahun yang lalu, pada tanggal 18 Juni 1913 Hadhrat Muslih Mau’ud (ra) telah memulai harian Al-Fazl ini dengan izin dan iringan doa dari Hadhrat Khalifatul Masih Awwal (ra). Setelah berdirinya Pakistan, untuk beberapa lama Al-Fazl diterbitkan dari Lahore, kemudian di masa kepemimpinan Hadhrat Muslih Mau’ud (ra) Al-Fazl mulai terbit dari Rabwah. Harian lawas Al-Fazl yang berbahasa Urdu ini edisi online pertamanya terbit dari London mulai tanggal 13 Desember 2019. Hari ini insya Allah Ta’ala akan mulai diterbitkan yang bisa diakses dengan mudah di setiap tempat di seluruh dunia melalui internet. Website-nya alfazlonline.org telah siap dan edisi pertamanya juga tersedia di sana. Tim IT Markaz kita di sini telah sangat bekerja keras untuk hal ini. Di dalamnya terdapat banyak sekali berkenaan dengan keutamaan dan faedah harian Al-Fazl, akan dimuat juga ayat-ayat Al-Quran, Hadits-hadits Nabi (saw) dan juga kutipan-kutipan sabda Hadhrat Masih Mau’ud (as). Begitu juga makalah-makalah yang ditulis oleh para penulis Ahmadi dan makalah-makalah penting lainnya juga akan ditampilkan. Demikian juga syair-syair dari para penyair Ahmadi.

Surat kabar ini selain dalam bentuk website, terdapat juga di twitter dan telah dibuat juga aplikasi android. Begitu pun dengan perantaraan sosial media. Karena sekarang telah mulai terbit secara harian, para anggota yang memahami bahasa Urdu hendaknya mengambil manfaat dan demikian juga para penulis dan penyair pun hendaknya memberikan bantuannya untuk ini, sehingga di dalamnya dapat diterbitkan makalah-makalah yang berkualitas dan ilmiah. Dalam website ini tersedia juga edisi dalam bentuk PDF yang selain bisa dibaca secara online bisa didownload juga, bagi yang ingin membacanya dalam bentuk print-out bisa juga membacanya. Walhasil, Insya Allah hari ini akan mulai diluncurkan. Demikian juga, pada hari senin akan diterbitkan di dalamnya teks lengkap Khutbah Jum’ah dan akan dimuat juga ringkasan khutbah terbaru. Insya Allah peresmiannya akan dilakukan setelah Jum’at.

Saya akan menyampaikan riwayat dua almarhum yang akan saya pimpin shalat jenazahnya, insya Allah. Diantaranya yang pertama yang terhormat Ny. Sayyidah Tanwirul Islam, istri yang terhormat Almarhum Tn. Mirza Hafiz Ahmad. Beliau wafat pada tanggal 7 Desember di usia 91 tahun. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Dengan karunia Allah Ta’ala beliau seorang mushi’ah. Silsilah keluarga beliau sebagai berikut, ayah beliau bernama Mir Abdussalam. Beliau adalah cicit dari sahabat lama Hadhrat Masih Mau’ud (as) yang mukhlis, Hadhrat Mir Hisamuddin (ra). Beliau adalah cucu dari Hadhrat Said Mir Hamid Syah dan menantu dari Hadhrat Khalifatul Masih Ats-Tsani (ra).

Hadhrat Mir Hisamuddin adalah seorang sahabat yang masyhur. Beliau lahir di Sialkot pada tahun 1839 dan seorang dokter yang sangat terkenal di Sialkot.

Ketika Hadhrat Masih Mau’ud (as) bermukim di Sialkot, Tn. Hakim menjalankan klinik dan apotek. Pada zaman itu tempat tinggal Hadhrat Masih Mau’ud (as) adalah di salah satu bagian dari rumah beliau. Pada tahun 1877 Hadhrat Masih Mau’ud (as) datang ke Sialkot, maka beliau (as) datang ke rumah Tn. Hakim untuk memenuhi undangan suatu acara.

Dikarenakan masa muda yang suci dan penuh teladan dari Hadhrat Masih Mau’ud (as), sehingga ketika Hadhrat Masih Mau’ud (as) mendakwakan diri, maka orang-orang yang berfitrat baik dan suci serta memiliki cahaya firasat dan pemahaman, mereka menerima Hadhrat Masih Mau’ud (as) dan keluarga ini termasuk diantara orang-orang yang menerima beliau (as) dengan keikhlasan dan kesetiaan.

Pada tanggal 29 Desember 1890 Tn. Mir Hisamuddin baiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud (as). Berdasarkan register baiat, beliau berada di nomor 213 dan istri beliau Ny. Ferozah Begum yang baiat pada 7 Februari 1892 berada di nomor 246. Hadhrat Masih Mau’ud (as) menyebutkan beliau dalam buku-bukunya. Dalam buku Izaalah Auham, Asmaani Feshlah, Ainah Kamaalaati Islaam, Tuhfah Qaisariyah, Sirajun Munir, Kitaabul Bariyyah, Haqiiqatul Wahyi dan Malfuzat Jilid V, Hadhrat Masih Mau’ud (as) menyebutkan mengenai orang-orang yang mukhlis yang ikut serta dalam Jalsah Salanah, membayar candah, ikut serta dalam Jalsah Diamond Jubilee dan mengenai Jema’at yang penuh kedamaian.

Walhasil, Ny. Sayyidah Tanwirul Islam adalah salah seorang keturunan beliau. Beliau lahir di Sialkot pada tahun 1928 dan pada tahun 1948 beliau menikah dengan Tn. Mirza Hafiz Ahmad dan dengan demikian beliau adalah menantu dari Hadhrat Khalifatul Masih Ats-Tsani (ra). Dari tahun 1956 hingga 2008 selama 48 tahun pada waktu yang berbeda-beda beliau mendapatkan taufik berkhidmat sebagai Sekretaris Lajnah Pusat Bidang Pameran. Demikian juga beliau berkhidmat di bidang-bidang lainnya. Beliau memiliki hubungan yang penuh kasih sayang dengan Hadhrat Khalifatul Masih Ats-Tsani (ra). Beliau sangat memperhatikan shalat tahajud, bahkan asisten rumah tangga beliau mengatakan bahwa di malam ketika beliau wafat, di malam itu sekitar pukul 03.00 beliau melaksanakan tahajud, kemudian tidur dan dalam keadaan seperti itu lah beliau wafat.

Puteri beliau mengatakan, “Beliau menceritakan kepada saya, ‘Ketika saya menikah dan menjadi menantu Hadhrat Khalifatul Masih Ats-Tsani (ra), dalam keluarga tersebut Hadhrat Khalifatul Ats-Tsani dan Hadhrat Ummu Nasir sangat menghormati dan menyayangi saya, sehingga saya betul-betul lupa dengan rumah sendiri. Beliau banyak hafal sabda-sabda Hadhrat Khalifatul Masih Ats-tsani (ra) dan ingatan beliau sangat baik.”

Semoga Allah Ta’ala memberikan rahmat dan ampunan-Nya kepada beliau dan meninggikan derajat beliau.

Jenazah yang kedua, Ny. Sister Hajah Shakurah Nuriyah dari Amerika yang wafat pada 1 Desember. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Beliau lahir pada tahun 1927. Beliau melewati masa kecil beliau di Washington DC. Pada tahun 1960-an beliau menjadi guru sejarah di SMA. Kemudian beliau meraih MA (Magister) di bidang sejarah dunia. Setelah pensiun beliau berkeinginan untuk menjadi Misionaris Protestan, namun ketika beliau mengetahui bahwa Hadhrat Isa (as) bukanlah putera Tuhan, maka beliau memutuskan mengambil jalan lain dan pada tahun 1968 beliau secara resmi meninggalkan gereja. Setelah melakukan perjalanan ke Amerika, Meksiko dan Kanada, beliau pergi ke banyak Universitas di Afrika untuk penelitian. Kemudian beliau juga melakukan perjalanan ke Eropa.

Beliau terus mencari pemecahan atas pertanyaan-pertanyaan dan permasalahan-permasalahan keagamaan yang muncul di benak beliau. Ketika pulang ke Washington DC, maka terjadilah perkenalan beliau dengan agama Islam. Secara kebetulan di bandara beliau bertemu dengan putera seorang temannya yang beberapa waktu sebelumnya telah menerima Ahmadiyah. Pada waktu itu Mukaram Mir Muhammad Ahmad Nasir bersama dengan Mukaram Mubashir Sahib ada di airport untuk bertemu dengan beliau. Akhirnya di sana mereka saling mengenal. Mereka mengenalkan Islam kepada beliau dan ini terus berlanjut, hingga perlahan-lahan beliau menjadi condong kepada Islam dan akidah yang selama ini beliau cari beliau dapati dalam Islam.

Pada tahun 1979 beliau dalam mimpi melihat Al-Quran dan kalimat syahadat. Setelah itu beliau menjadi yakin bahwa Islam dan Ahmadiyah-lah agama yang hakiki. Lalu beliau baiat. Setelah baiat, beliau mengkhidmati Jema’at pada berbagai jabatan. Tidak hanya ikut serta dalam berbagai program Jema’at Amerika, bahkan beliau juga banyak memberikan peranannya. Pada tahun 1986 beliau terpilih sebagai Sadr Lokal Washington DC dan beliau berkhidmat selama lima tahun. Bersamaan dengan itu beliau juga mendapatkan taufik berkhidmat sebagai Naib Sadr Nasional. Selain itu beliau juga mendapatkan taufik untuk berkhidmat pada beberapa bidang kepengurusan.

Pada tahun 1995 beliau mendapatkan taufik berhaji. Atas petunjuk dan bimbingan Hadhrat Khalifatul Masih Al-Rabi’ (rh) beliau termasuk ke dalam tim yang menyiapkan indeks setebal 118 halaman untuk lima jilid tafsir Al-Quran Karim dan beliau sangat berperan besar dalam penyusunan indeks ini. Beliau juga menulis makalah-makalah dengan berbagai tema dalam majalah-majalah dan pertemuan-pertemuan Jema’at. Dari tahun 1997 hingga 1998 setiap hari minggu beliau menyelenggarakan kelas untuk para athfal. Beliau juga berkhidmat memberikan konseling pada kegiatan kemping musim panas untuk anak-anak Nashirat. Untuk beberapa tahun beliau juga berkhidmat di Komite Nasional Ahmadiyah untuk Hak Asasi Manusia, yang dengan perantaraannya beliau dengan penuh dedikasi menyiapkan dokumen-dokumen yang sangat lengkap mengenai tindakan-tindakan penindasan pemerintah Pakistan terhadap para Ahmadi.

Mukaram Shamshad Nashir Sahib, mubaligh di sana menulis, “Dari semua pekerjaan beliau yang paling beliau sukai adalah bertabligh. Dan beliau selalu mendahulukan kegiatan-kegiatan tabligh beliau atas pekerjaan-pekerjaan lainnya. Beliau berkhidmat sebagai Sekretaris Tabligh Nasional Lajnah hingga beberapa tahun. Beliau bertabligh melalui program-program radio dan televisi juga. Beliau juga berperan dalam penyelenggaraan berbagai program pertablighan di universitas-universitas dan gereja-gereja. Beliau juga secara rutin membuat program-program untuk membagikan literatur-literatur Jema’at kepada orang-orang dari berbagai latar belakang etnis.

Ini bukanlah dari laporan Tn. Shamshad, melainkan dari sumber yang lainnya. Yang ditulis oleh Tn. Shamshad adalah sebagai berikut, “Ny. Sister Shakurah Nuriyah sangat disiplin dalam berpardah. Setiap waktu beliau mengenakan burqah ala Pakistani. Burqah beliau tidak menghalangi beliau dari aktifitas apa pun. Dikarenakan tugas Jema’at terkadang beliau harus bertemu dengan para anggota kongres pusat di gedung pemerintahan dan di sana pun beliau tetap memakai burqah dan melakukan tugas beliau dengan sangat baik. Beliau sangat membantu para mubaligh dalam kegiatan-kegiatan pertablighan.”

Tn. Shamshad mengatakan, “Ketika saya baru datang ke sini, beliau duduk bersama saya dan menceritakan sejarah Amerika, dan memberikan bantuan dalam tugas saya.” Kemudian beliau menulis, “Beliau sangat menghormati Khilafat dan memiliki jalinan yang mendalam.”

Ketika saya datang ke Amerika pada 2018 lalu, meskipun dalam keadaan sakit dan memakai kursi roda beliau tetap datang untuk mulaqat dengan susah payah. Beliau begitu dawam menyimak khutbah. Ketika belum ada MTA dan Khutbah dikirim melalui kaset, beliau sangat membantu dalam penterjemahan khutbah ke dalam bahasa Inggris. Beliau sangat dawam dalam shalat berjama’ah.

Tn. Shamshad berkata, “Saya selalu melihat beliau di masjid dan beliau selalu hadir dalam shalat berjama’ah secara rutin di masjid.”

Semoga Allah Ta’ala memberikan ampunan dan rahmat-Nya kepada beliau, meninggikan derajat beliau dan menganugerahkan kepada Jema’at ini sosok-sosok lainnya yang penuh dengan semangat pengkhidmatan dan keikhlasan serta kecintaan.

 

 Khotbah II

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ

وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ

 وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ!

 إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ

يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ

أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

 

Penerjemah        : Mln. Mahmud Ahmad Wardi, Syahid (London, UK) dan Mln. Hashim; Editor: Dildaar Ahmad Dartono. Sumber rujukan: https://www.islamahmadiyya.net (bahasa Arab)

[1] Mu’jam al-Kabir karya ath-Thabrani (المعجم الكبير للطبراني); dalam Riwayat Shahih al-Bukhari, Kitab Manaqib Anshar (كتاب مناقب الأنصار) no. 3791

[2] Shahih Muslim, (كتاب الفضائل), (باب فِي مُعْجِزَاتِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم)

[3] Lanjutannya ialah sebagai berikut:

أيها المبعوث فينا
Ayyuha al-mab‘ūtsu fīnā
Wahai engkau yang dibesarkan di kalangan kami

جئت بالأمر المطاع
Ji’ta bil-amri al-muthā‘>
Datang dengan seruan untuk dipatuhi

جئت شرفت المدينة
Ji’ta syaraft al-madīnah
Anda telah membawa kemuliaan kepada kota ini

مرحبا يا خير داع
Mar
aban yā khayra dā‘
Selamat datang penyeru terbaik ke jalan Allah

[4] Sirah an-nabawiyah karya Ibn Hisyam (السيرة النبوية لابن هشام), (مَا وَقَعَ بَيْنَ الْكُفَّارِ وَإِصَابَةُ سَعْدٍ), (سَرِيَّةُ عُبَيْدَةَ بْنِ الْحَارِثِ وَهِيَ أَوَّلُ رَايَةٍ عَقَدَهَا عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ).

[5] Seerat Khatam-un-Nabiyyin, Hazrat Mirza Basyir Ahmad(ra), pp. 328-329. Perang Abwa (غزوة الأبواء) atau Perang Waddan (غزوة وَدّان) adalah perang pertama Rasulullah saw melawan kaum Musyrikin yang terjadi pada bulan Shafar tahun 2 H. Dalam perang tersebut kaum Muslimin berhadapan kaum Quraisy yang semula didukung oleh kabilah Dhamrah. Kabilah Dhamrah yang mengetahui keberadaan Nabi Muhammad saw di Madinah bermaksud mengadakan perdamaian. Nabi Muhammad saw pun di tengah perjalanan di daerah Abwa melakukan perjanjian damai dengan mereka. Abwa adalah nama sebuah desa besar di dekat Waddan yang terletak antara Mekah dan Madinah. Aminah binti Wahab ibu Nabi Muhammad saw dimakamkan di daerah ini. Perang ini dikenal juga dengan nama perang Waddan, yaitu perang pertama Nabi Muhammad saw dengan kaum Musyrikin pada tahun 2 H, sebagian sejarahwan meyakini perang ini terjadi pada bulan Shafar. Pendapat lain menyebutkan perang Abwa terjadi pada bulan ke-12 Nabi Muhammad saw menetap di Madinah.Nabi Muhammad saw mengangkat Sa’ad bin ‘Ubadah untuk menjadi wakilnya di Madinah ketika ia bersama 60 sahabat dari kaum Muhajirin keluar dari kota Madinah menuju ke kawasan Abwa untuk menghadapi ancaman dari kaum Quraisy. Di tempat tersebut menetap sejumlah kabilah diantaranya Bani Dhamrah bin Kananah. Dalam perang ini, tidak seorangpun kaum Anshar yang ikut serta.Pada perang ini, panji pasukan berada di tangan Hamzah bin Abdul Muththalib. Ketika tiba di Abwa, Nabi Muhammad saw tidak melihat sedikitpun tanda-tanda keberadaan Quraisy. Sejumlah pembesar dari kabilah Dhamrah mendatangi tempat Rasulullah saw untuk mengadakan perjanjian damai yang ditandatangani oleh Mukhassyi bin ‘Amr al-Dhamri. http://id.wikishia.net/view/Perang_Abwa