Keteladanan Para Sahabat Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam (Manusia-Manusia Istimewa, seri 79)

Pembahasan seorang Ahlu Badr (Para Sahabat Nabi Muhammad (saw) peserta perang Badr atau ditetapkan oleh Nabi (saw) mengikuti perang Badr). Bahasan lanjutan mengenai Hadhrat Sa’d bin Mu’adz radhiyAllahu ta’ala ‘anhu.

Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 10 Juli 2020 (Wafa 1399 Hijriyah Syamsiyah/Dzulqa’idah 1441 Hijriyah Qamariyah) di Masjid Mubarak, Tilford, UK (United Kingdom of Britain/Britania Raya)

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ. (آمين)

Sebagaimana telah saya sampaikan pada khotbah yang lalu bahwa Rasulullah (saw) mendapatkan perintah Ilahi untuk melakukan penghukuman atas pemberontakan Banu Quraizhah setelah perang Ahzab. Selanjutnya, terjadilah pertempuran dengan mereka lalu setelah melakukan gencatan senjata, Banu Quraizhah menyatakan keinginannya supaya Sa’d yang memberikan keputusan lalu Sa’d-lah yang memutuskan. Dalam menjelaskan mengenai peperangan tersebut Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) di suatu kesempatan menyampaikan, Setelah berlalu 20 hari yaitu setelah perang Ahzab, umat Muslim dapat bernafas lega. Namun, tibalah saatnya untuk memutuskan perihal Banu Quraizhah karena pemberontakan (pengkhianatan) mereka tidak dapat dibiarkan begitu saja. Setelah sampai [ke rumah] Hadhrat RasuluLlah (saw) segera bersabda kepada para sahabat, ‘Jangan beristirahat dulu! Sebelum matahari terbenam kalian harus sampai di benteng Banu Quraizhah.’

Kemudian, beliau mengutus Hadhrat Ali (ra) ke sana untuk menanyakan kenapa Banu Quraizhah telah melanggar perjanjian.

Banu Quraizhah tidak menunjukkan penyesalan atau kecenderungan untuk minta maaf. Sebaliknya, mereka menghina dan mengejek Hadhrat Ali dan anggota-anggota delegasi lainnya serta mulai melemparkan cacian dan makian terhadap Hadhrat RasuluLlah (saw) dan para wanita keluarga beliau. Mereka mengatakan, ‘Kami tidak kenal siapa Muhammad (saw), tidak ada perjanjian antara kami dengan dia.’

Ketika Ali kembali memberi laporan tentang jawaban kaum Yahudi itu, ia menyaksikan Hadhrat RasuluLlah (saw) dan para Sahabat tengah bergerak menuju perbentengan Yahudi itu. Kaum Yahudi tengah mencaci-maki Hadhrat RasuluLlah (saw), istri-istri dan anak-anak beliau. Khawatir kalau-kalau hal itu akan menyakiti hati Hadhrat RasuluLlah (saw), Hadhrat Ali (ra) mengemukakan supaya Hadhrat RasuluLlah (saw) sendiri tidak perlu ikut karena kaum Muslimin sendiri sanggup menghadapi kaum Yahudi itu.

Hadhrat RasuluLlah (saw) mengerti maksud Hadhrat Ali (ra) dan bersabda, ‘Anda menghendaki saya tidak mendengar caci-maki mereka, hai Ali?’

‘Ya, tepat sekali, Ya Rasulullah!’ ujar Hadhrat Ali (ra).

‘Tetapi mengapa?’ Sabda Hadhrat RasuluLlah (saw), ‘Musa adalah Nabi dari sanak-saudara mereka sendiri. Meski demikian, mereka telah menimpakan penderitaan kepada beliau, lebih daripada kepada saya.’

Hadhrat RasuluLlah (saw) terus maju berangkat ke benteng Yahudi. Namun, orang-orang Yahudi menutup pintu sehingga benteng tertutup. Orang Yahudi mengatur pertahanan dan memulai pertempuran. Wanita-wanita mereka pun ikut. Beberapa prajurit Muslim sedang duduk di kaki dinding benteng. Seorang wanita Yahudi yang melihat kesempatan itu menjatuhkan batu ke atas mereka dan menewaskan seorang.[1]

Pengepungan benteng itu terjadi beberapa hari. Akhirnya, kaum Yahudi merasa tidak dapat bertahan lama lagi. Mereka pun mengirimkan seorang pemimpin mereka guna menyampaikan permohonan kepada Hadhrat RasuluLlah (saw) untuk mengutus Abu Lubabah, seorang pemimpin Anshar dari suku Aus yang baik perhubungannya dengan kaum Yahudi. Mereka ingin meminta nasihatnya untuk mencapai suatu penyelesaian.

Hadhrat RasuluLlah (saw) menyuruh Abu Lubabah pergi kepada orang-orang Yahudi yang kemudian mereka menanyakan kepada beliau, ‘Apakah sebaiknya kami menerima keputusan Muhammad (saw) supaya menghentikan pertempuran dan keputusan diserahkan kepadanya?’

Abu Lubabah mengatakan hal itu merupakan syarat mutlak. Tetapi, pada saat itu juga ia mengisyaratkan dengan tangan memotong leher, isyarat kematian dengan pembunuhan.

Hadhrat RasuluLlah (saw) pada waktu itu tidak menyatakan keputusan apa pun kepada siapa juga tentang perkara itu. Tetapi Abu Lubabah yang beranggapan bahwa atas kejahatan itu tak ada balasan lain kecuali ‘hukuman mati’ tanpa disengaja telah membuat gerakan isyarat itu, yang ternyata menjadi malapetaka bagi kaum Yahudi.

Mereka menolak nasihat Abu Lubabah untuk menyerahkan nasib kepada keputusan Hadhrat RasuluLlah (saw). Andai kata mereka menerimanya maka hukuman paling berat yang akan mereka terima ialah pengusiran dari Medinah sebagaimana kabilah-kabilah Yahudi lain sebelumnya. Tetapi, nasib buruk mereka membuat mereka menolak putusan Hadhrat RasuluLlah (saw).

Daripada bersedia menerima keputusan Hadhrat RasuluLlah (saw), mereka lebih suka menerima keputusan Sa’d bin Mu’adz pemimpin sekutu mereka, suku Aus. Mereka bersedia menerima apa pun yang diusulkannya.

Suatu pertengkaran timbul di antara orang-orang Yahudi. Beberapa dari mereka mulai mengatakan bahwa kaum mereka sesungguhnya telah mencabut persetujuan dengan kaum Muslimin. Di pihak lain, sikap dan perilaku kaum Muslimin menunjukkan kebenaran serta kejujuran dan agama mereka pun agama yang benar. Mereka yang beranggapan demikian terus masuk Islam.

Amru bin Su’da (عَمْرُو بْنُ سُعْدَى), salah seorang pemimpin Yahudi, menyesali kaumnya dan berkata, ‘Kalian telah melanggar kepercayaan dan telah mengkhianati janji yang telah kalian berikan. Jalan satu-satunya yang masih terbuka untuk kamu ialah masuk Islam atau membayar jizyah.’

Mereka berkata, ‘Kami tidak mau masuk Islam dan tidak mau membayar jizyah, sebab mati adalah lebih baik daripada membayar jizyah.’

Amru menjawab bahwa dalam keadaan demikian ia cuci tangan, dan sambil berkata demikian ia meninggalkan benteng itu. Ia terlihat oleh Muhammad bin Maslamah (مُحَمّدُ بْنُ مَسْلَمَةَ), panglima pasukan Muslim, yang bertanya siapa dia. Setelah diketahui asal-usulnya, dikatakan kepadanya bahwa ia boleh pergi dengan aman dan Muhammad bin Maslamah sendiri berdoa keras: اللَّهمّ لَا تَحْرِمْنِي إقَالَةَ عَثَرَاتِ الْكِرَامِ ‘Allahumma laa tahrimnii iqaalata ‘atsaraatil kiraam.’ – ‘Ya Tuhan, berilah hamba selalu kekuatan, janganlah hendaknya hamba hilang kesempatan untuk menutupi kesalahan-kesalahan orang-orang yang beradab.’[2]

Artinya, ‘Karena orang ini menyesali perbuatannya dan perbuatan kaumnya maka telah menjadi kewajiban kaum Muslimin memaafkan orang-orang semacam itu. Untuk itu saya tidak menangkapnya dan membiarkannya pergi. Saya berdoa semoga Allah Ta’ala senantiasa memberikan saya taufik untuk selalu mengerjakan amal baik serupa itu.’

Ketika Hadhrat RasuluLlah (saw) mengetahui apa yang telah dilakukan oleh Muhammad bin Maslamah, yaitu melepaskan seorang pemimpin Yahudi itu, beliau tidak memarahinya. Bahkan sebaliknya, beliau membenarkan tindakannya itu.”[3]

Kesediaan berdamai dan menerima keputusan Rasulullah (saw), telah diungkapkan hanya oleh orang-orang Yahudi secara perseorangan. Sebagai kaum, mereka tetap bersikepala batu dan tetap menolak keputusan Rasulullah (saw), dan daripada menerima keputusan Rasulullah (saw), mereka malah meminta keputusan Sa’d bin Mu’adz (Bukhari, Tabari & Khamis). Rasulullah (saw) meluluskan tuntutan mereka dan memanggil Sa`d bin Mu’adz, yang sedang berbaring karena luka-luka untuk datang dan mem­beri keputusan atas pelanggaran perjanjian.

Segera setelah kepu­tusan Rasulullah (saw) diumumkan, orang-orang dari suku Aus, yang telah lama bersekutu dengan Banu Quraizhah, berlari menemui Sa’d dan mendesak supaya Sa’d menjatuhkan keputusan yang ringan terhadap Banu Quraizhah. Suku Khazraj, kata mereka, senan­tiasa berusaha menyelamatkan orang-orang Yahudi yang bersekutu dengan mereka. Terpulang kepada Sa’d untuk menyelamatkan kaum Yahudi yang bersekutu dengan sukunya.

Sa’d pergi dengan menunggang kudanya kepada Banu Quraizhah. Orang-orang dari sukunya berlari-lari di kanan-kirinya sambil mendesak untuk tidak menjatuhkan hukuman berat kepada Banu Quraizhah.

Sa’d hanya mengatakan, sebagai jawabannya, ‘Orang yang diserahi tugas mengadili itu memikul beban amanat. Ia harus menjaga amanat itu dengan jujur dan setia. Oleh karena itu, saya akan menjatuh­kan keputusan dengan mempertimbangkan segala sesuatu dan tanpa takut atau berat sebelah,’ katanya.

Ketika Sa’d sampai ke benteng Yahudi itu, dilihatnya Banu Quraizhah berderet-deret di balik dinding benteng, menunggu kedatangannya. Di sisi lain berkum­pul kaum Muslimin yang tengah duduk.

Ketika Sa’d telah mendekat kepada mereka, ia bertanya, “Maukah kamu sekalian menerima keputusanku?” Mereka menjawab “Ya, mau.”

Pertama, Sa’d bertanya kepada kaumnya, ‘Apakah anda semua berjanji, apapun yang saya putuskan nanti, anda akan menerimanya?’

Mereka menjawab, ‘Ya.’

Lalu Sa’d bertanya kepada Banu Quraizhah, ‘Apakah anda semua berjanji, apapun yang saya putuskan nanti, anda akan menerimanya?’

Mereka menjawab, ‘Ya.’

Sa’d mengarah dengan perasaan malu dan menundukkan pandangan ke arah dimana Rasulullah (saw) berada. Artinya, beliau (saw) tidak dapat mengarahkan pandangannya kearah Rasulullah disebabkan segan dan malu, namun beliau (saw) telah diperintahkan untuk memutuskan sehingga harus bertanya. Beliau dengan pandangan tertunduk ke arah Rasulullah (saw) lalu berkata, ‘Apakah anda pun berjanji?’

Rasulullah menjawab. ‘Ya.’

Setelah beliau mengambil janji dari ketiga kelompok, Sa’d mengumumkan keputusan berdasarkan Taurat (Tanakh): ‘Arakian, maka apabila kau menghampiri salah sebuah negeri hendak menyerang akan dia, patutlah kamu berseru kepadanya, suruh dia menyerahkan diri. Maka akan jadi, jikalau diluluskannya menye­rahkan dirinya serta dibukanya pintu gerbangnya akan kamu, maka segala orang yang didapati dalamnya itu hendaklah membayar upeti kepadamu dan memperhambakan dirinya kepadamu. Tetapi jikalau tiada ia berdamai dengan kamu demikian, melainkan ia hendak berperang juga dengan kamu, maka hendaklah kamu mengepungi dia rapat-rapat. Maka jikalau diserahkan Tuhanmu akan dia ke ta­nganmu, hendaklah kamu membunuh segala orang laki-laki yang di dalamnya dengan mata pedang. Tetapi segala orang perempuan dan segala anak-anak dan binatang dan segala harta yang di dalam negeri itu, segala jarahannya hendaklah kamu rampas akan dirimu dan kamu akan pergunakan barang jarahan daripada musuhmu, yang telah dikarunia­kan Tuhanmu kepadamu. Maka demikianlah hendaknya kamu berbuat akan segala negeri, yang terlalu jauh kedudukannya daripada tempatmu, dan yang bukan daripada negeri bangsa-bangsa ini.

Tetapi adapun negeri bangsa-bangsa ini, yang dikaruniakan Tuhanmu kepadamu akan bahagian pusaka, janganlah kamu biarkan hidup apapun yang bernafas: melainkan hendaklah kamu menumpas sama sekali segala orang Hitti, orang Amori, orang Kanani, orang Perizi, orang Hewi dan orang Yebusi, seperti firman Tuhanmu kepadamu. Supaya jangan diajarkannya kamu berbuat segala perkara kebencian, yang telah diperbuat oleh mereka itu akan memberi hormat kepada dewa-dewa­nya, sehingga kamu berdosa kepada Tuhanmu.’ (Kitab Ulangan 20 : 10-18). Ini dikutip dari Taurat. Hadhrat Sa’d membacakannya dan memutuskan berdasarkan itu.

Tampak dari ajaran Taurat tersebut, jika kaum Yahudi menang dan Rasulul­lah (saw) kalah, maka semua orang Muslim — laki-laki, perempuan dan anak-anak — akan dihukum mati. Kami mengetahui dari seja­rah bahwa memang itulah kemauan kaum Yahudi. Sekurang­-kurangnya kaum Yahudi akan membunuh semua pria, menjadikan wanita dan anak-anak sebagai budak dan merampas segala milik kaum Muslimin, semua perlakuan itu ditetapkan dalam Ulangan terhadap tiap-tiap bangsa musuh yang hidup di bagian dunia yang jauh. Sa’d bersahabat dengan Banu Quraizhah. Sukunya bersekutu dengan suku mereka. Ketika diketahuinya bahwa kaum Yahudi menolak keputusan Rasulullah (saw) dan karenanya menolak hu­kuman lebih ringan yang telah ditetapkan terhadap pelanggaran serupa itu dalam agama Islam, ia mengambil keputusan menjatuhkan hukuman kepada kaum Yahudi yang telah ditetapkan oleh Nabi Musa (as) Tanggung jawab terhadap keputusan itu tidak terletak di bahu Rasulullah (saw) atau kaum Muslimin, melainkan pada Nabi Musa (as) dengan ajarannya dan pada kaum Yahudi sendiri yang telah memperlakukan kaum Muslimin begitu kejam. Kepada mereka ditawarkan keputusan yang mengandung unsur kasih. Tetapi daripada mau menerimanya, mereka bersikeras meminta keputusan Sa’d. Sa’d menetapkan menghukum kaum Yahudi sesuai dengan hukum syariat Nabi Musa (as).”

Ketika Sa’d memutuskan sesuai dengan hukum Musa, Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Namun demikian, kaum Kristen sampai hari ini terus mencela Rasulullah (saw) dan mengatakan bahwa beliau sangat kejam terhadap kaum Yahudi tersebut. Andaikata benar beliau kejam terhadap kaum Yahudi itu, mengapa beliau tidak berlaku kejam terhadap kaum-kaum lain atau pada peristiwa-peristiwa lainnya? Banyak sekali ­kejadian, saat musuh Rasulullah (saw) menyerahkan nasibnya kepada kemurahan hati beliau, dan tak pernah permohonan peng­ampunan mereka meleset.

Pada peristiwa ini musuh (yaitu Yahudi Banu Quraizhah) bersikeras supaya orang selain Rasulullah (saw) menjatuhkan keputusan­nya. Orang pilihan mereka sendiri yang bertindak sebagai wasit antara mereka dan kaum Muslimin, bertanya kepada Rasulullah (saw) dan kaum Yahudi di muka umum, apakah mereka semua mau menerima keputusannya. Baru sesudah semua pihak menye­tujuinya, ia mulai mengumumkan keputusannya. Dan apakah ke­putusannya? Tak lain dan tak bukan kecuali mengikuti hukum syariat Nabi Musa (as) terhadap pelanggaran kaum Yahudi. Menga­pa mereka pada waktu itu tidak menerimanya? Bukankah mereka menyebut diri mereka termasuk di antara para pengikut Nabi Musa (as)?

Terkait:   Kisah Sahabat: Mu'adz bin al-Harits, Sosok Pembunuh Abu Jahal

Jika ada sesuatu kekejaman dilakukan, maka hal itu di­lakukan oleh orang-orang Yahudi terhadap orang-orang Yahudi sendiri. Kaum Yahudi menolak menerima keputusan Rasulullah (saw), dan alih-alihnya, telah mendatangkan tuntutan hukum agama mereka sendiri terhadap pelanggaran mereka.

Jika suatu kekejaman telah dijalankan, maka kekejaman itu telah dilakukan oleh Nabi Musa (as) yang telah menetapkan hukuman itu terhadap musuh-yang-ditundukkan dan mencantumkan hukuman itu dalam Kitabnya atas Perintah Tuhan. Penulis-penulis Kristen selayaknya tidak menghamburkan kemarahan kepada Rasulullah (saw). Mereka harus mengutuk Nabi Musa (as) yang telah menetapkan hukuman kejam itu atau mengutuk Tuhan Nabi Musa (as) yang memerintahkan beliau berbuat demikian.

Perang Khandak (Perang Parit atau nama lainnya Perang Ahzab, perang melawan Persekutuan) telah usai. Rasulullah (saw) menyatakan, ‘Sejak hari ini ke depan kaum Musyrikin tidak akan menyerang lagi kaum Muslimin; malahan sebaliknya, kaum Muslimin mulai hari itu akan menyerang kaum Musyrikin.’ Itulah yang terjadi.

Dalam Perang Khandak perse­kutuan Arab sedikit pun tidak menderita kerugian besar. Mereka hanya kehilangan beberapa orang. Dalam masa kurang dari satu tahun mereka dapat datang kembali dan menyerang Medinah dengan persiapan yang lebih baik lagi. Alih-alih suatu pasukan yang terdiri atas dua puluh ribu perajurit, mereka dapat menyusun serangan baru dengan pasukan yang terdiri atas empat puluh, atau bahkan lima puluh ribu prajurit. Suatu angkatan perang se­besar seratus atau seratus lima puluh perajurit bukan di luar jangkauan kemampuan mereka.

Tetapi, sekarang dalam masa dua puluh satu tahun, musuh Islam telah banting-tulang berusaha melenyapkan Islam dan kaum Muslimin. Kegagalan rencana­-rencana mereka secara terus-menerus telah menggoyahkan keper­cayaan kepada diri mereka sendiri. Mereka mulai khawatir dan was-was, kalau-kalau apa yang diajarkan oleh Rasulullah (saw) itu benar, dan bahwa berhala-berhala dan dewa-dewa mereka itu palsu, dan bahwa Sang Maha Pencipta adalah Tuhan Yang Maha gaib, yang diajarkan oleh Rasulullah (saw) itu. Kekhawatiran bahwa Rasulullah (saw) itu benar dan mereka salah mulai merasuk dan meresap ke dalam diri mereka.

Kendati demikian, tanda-­tanda kekhawatiran itu tak nampak dari luar. Pada lahirnya, kaum Musyrikin nampaknya tetap seperti biasa. Mereka pergi kepada berhala-berhala mereka dan mendoa kepada berhala-berhala seperti sediakala. Tetapi, semangatnya telah remuk redam. Pada lahirnya mereka menjalani kehidupan musyrik dan kafir; di dalam batin mereka tampak menggemakan semboyan Islam, ‘La ilaaha Illallah – tidak ada Tuhan kecuali Allah’.” [4]

(عَنْ سَعْدٍ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا أُمَامَةَ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ) Hadhrat Abu Said Khudri ra meriwayatkan, نَزَلَ أَهْلُ قُرَيْظَةَ عَلَى حُكْمِ سَعْدِ بْنِ مُعَاذٍ فَأَرْسَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى سَعْدٍ فَأَتَى عَلَى حِمَارٍ فَلَمَّا دَنَا مِنْ الْمَسْجِدِ قَالَ لِلْأَنْصَارِ “Beberapa orang keluar dari benteng dengan syarat menerima keputusan Hadhrat Sa’d Bin Muadz. Hadhrat Rasulullah (saw) memanggil Hadhrat Sa’d. Hadhrat Sa’d pun datang dengan mengendarai keledai. Ketika tiba di dekat masjid, Rasulullah (saw) bersabda kepada kaum Anshar, قُومُوا إِلَى سَيِّدِكُمْ أَوْ خَيْرِكُمْ ‘Bangkitlah kalian untuk menyambut orang yang terbaik diantara kalian.’ atau bersabda, ‘Bangkitlah kalian untuk menyambut pemimpin kalian.’ Rasul bersabda, ‘Sa’d! Mereka berharap Anda yang memutuskan.’

Hadhrat Sa’d berkata: تَقْتُلُ مُقَاتِلَتَهُمْ وَتَسْبِي ذَرَارِيَّهُمْ ‘Saya akan putuskan berkenaan dengan mereka yaitu orang yang berperang diantara mereka harus dihukum mati dan keluarganya akan ditawan.’

Beliau (saw) bersabda: قَضَيْتَ بِحُكْمِ اللَّهِ ‘Anda telah memutuskannya sesuai dengan hukum Ilahi.’ Atau bersabda: بِحُكْمِ الْمَلِكِ ‘Anda telah memberikan keputusan raja, yaitu seperti keputusan raja.’” (Riwayat Bukhari)[5]

Beberapa hal tambahan dijelaskan secara lengkap oleh Hadhrat Mirza Bashir Ahmad, beberapa diantaranya saya sampaikan di sini, beliau menulis berkenaan dengan Banu Quraizhah: “Pada akhirnya, setelah dilakukan pengepungan selama lebih kurang 20 hari, orang-orang Yahudi yang bernasib sial itu setuju untuk keluar dari benteng dengan syarat jika diputuskan oleh seseorang yang meskipun orang itu adalah sekutunya, namun disebabkan pelanggaran yang dilakukan oleh orang-orang Yahudi sehingga orang itu tidak menaruh kasihan lagi di dalam hatinya atas mereka. Meskipun orang tersebut (Hadhrat Sa’d bin Mu’adz) merupakan perwujudan keadilan, namun di dalam hatinya tidak memiliki kasih sayang seperti yang dimiliki sosok Rahmatan lil ‘aalamiin (yaitu Nabi Muhammad (saw)).

Rinciannya adalah sebegai berikut, kabilah Aus merupakan sekutu lama Banu Quraizhah dan pada zaman itu pemimpin kabilah itu adalah Sa’d Bin Muadz. Sa’d terluka pada perang Khandaq dan tengah dirawat di halaman masjid. Dengan pertimbangan adanya persekutuan lama, Banu Quraizhah mengatakan, ‘Kami akan menerima keputusan Sa’d Bin Muadz. Kami akan menuruti apa pun keputusan yang ia berikan perihal kami.’[6]

Namun, di kalangan orang-orang Yahudi ada juga orang-orang yang – seperti telah dijelaskan sebelumnya – tidak mendukung keputusan kaumnya ini dan mengakui bahwa mereka telah melakukan kejahatan. Mereka telah mengakui kebenaran Islam di dalam hatinya. Orang yang berpandangan seperti itu diterangkan oleh sejarah jumlahnya sekitar tiga orang. Dengan senang hati mereka menerima Islam lalu menjadi orang yang siap mengkhidmati Rasulullah (saw).[7]

Ada lagi orang keempat yang meskipun tidak menjadi Muslim, namun ia merasa malu disebabkan pembangkangan yang dilakukan oleh kaumnya sehingga ketika Banu Quraizhah memutuskan untuk memerangi Rasulullah (saw), ia mengatakan, ‘Kaumku telah mengkhianati Muhammad (saw). Aku tidak mungkin ikut campur dalam pembangkangan ini.’ Orang itu lalu pergi meninggalkan Madinah.[8]

Namun, kebanyakan dari kaumnya tetap pada pendiriannya sampai akhir dan bersikeras untuk menjadikan Sa’d sebagai perantara mereka. Rasulullah (saw) pun menyetujui kemauan mereka seperti yang telah disampaikan tadi. Setelah itu Rasulullah (saw) memerintahkan beberapa Sahabat Anshar untuk membawa Sa’d. Sa’d pun datang. Di perjalanan ada beberapa orang dari kabilahnya memohon kepada Sa’d berkali-kali dengan mengatakan, ‘Banu Quraizhah adalah sekutu kita. Sebagaimana Khazraj telah berlaku lembut dan memberikan perhatian kepada Banu Qainuqa, kamu pun hendaknya memberikan keringanan kepada Banu Quraizhah. Janganlah memberikan hukuman yang keras.’

Awalnya Sa’d mendengarkan perkataan mereka dengan sabar, namun ketika mereka berkali-kali mendesak, Sa’d berkata, ‘Inilah saatnya Sa’d dalam urusan ini harus menegakkan keadilan dan tidak memperdulikan cercaan siapapun.’ Mendengar jawaban Sa’d seperti itu, mereka bungkam.[9]

Alhasil, ketika Sa’d sampai di dekat Rasulullah (saw), beliau (saw) bersabda kepada para Shahabat, قُومُوا إِلَى سَيِّدِكُمْ أَوْ خَيْرِكُمْ ‘Bangkitlah kalian untuk pemimpin kalian dan bantulah beliau untuk turun dari kendaraannya.’

Setelah Hadhrat Sa’d turun dari kendaraannya, Hadhrat Sa’d menghampiri Rasulullah, lalu Rasul bersabda padanya, هَؤُلَاءِ نَزَلُوا عَلَى حُكْمِكَ ‘Sa’d! Banu Quraizhah meminta supaya kamu yang memutuskan, dan apapun keputusan yang kamu berikan, mereka akan patuh.’[10]

Setelah itu, Sa’d mengarahkan pandangan kepada anggota kabilahnya (Kabilah Aus) dan berkata, ‘Dengan meyakini Allah Ta’ala Maha Menyaksikan, apakah kalian berjanji bahwa Anda sekalian bersedia mengamalkan keputusan yang saya berikan mengenai Banu Quraizhah nanti?’

Kabilahnya berkata, ‘Ya, kami berjanji.’”

Sudah saya sampaikan tadi hal yang sama rujukan dari Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra).

“Kemudian Sa’d membuat gestur tubuh menujukan kearah dimana Rasulullah berada, mengatakan, ‘Apakah orang terhormat yang tengah duduk di sebelah sini, juga berjanji untuk mengamalkan keputusan yang saya berikan nanti?’

Hadhrat Rasulullah (saw) bersabda, ‘Saya berjanji.’[11]

Setelah perjanjian tersebut, Sa’d mengumumkan keputusannya yang berbunyi, ‘Orang-orang yang berperang dari antara Banu Quraizhah akan dihukum mati; para wanita dan anak-anak mereka akan ditawan dan harta kekayaan mereka akan dibagikan di kalangan umat Islam.’

Setelah mendengarkan keputusan tersebut, Rasulullah (saw) secara spontan bersabda, ‘Keputusanmu ini merupakan ketetapan Ilahi.’ Dalam kata lain, itu keputusan yang tidak dapat dielakkan lagi. Maksud ucapan beliau (saw) adalah keputusan yang diumumkan berkenaan dengan Banu Quraizhah sedemikian rupa tampak dengan jelas adanya andil kekuatan Tuhan yang bekerja. Karena itu, sifat penyayang Rasulullah (saw) tidak dapat menghentikan hasilnya.

Memang benar, Banu Quraizhah meminta dipanggilkan Abu Lubabah untuk memberikan musyawarah kepada mereka dan kemudian keluar dari mulut Abu Lubabah suatu ucapan yang sama sekali tidak berdasar. Akibatnya, Banu Quraizhah menolak menerima Rasulullah (saw) hakim mereka; dan dengan adanya pemikiran mereka bahwa kabilah Aus adalah sekutu mereka yang mana mereka harapkan akan memberikan keringanan kepada mereka lalu mereka menetapkan Sa’d Bin Muadz pemimpin Aus sebagai pemberi keputusan atas mereka. Lebih jauh lagi, sedemikian teguhnya Sa’d dalam memutuskan secara adil dan setara yang sama sekali perasaan berat sebelah dan rasa perhubungan hilang dari dari hati beliau. Lebih lanjut lagi, sebelum Sa’d mengumumkan keputusannya, beliau (ra) telah mengambil janji dari Rasulullah (saw) bahwa Rasulullah akan mengamalkan apapun keputusannya nanti. Semua hal ini tidaklah mungkin suatu kebetulan. Tentunya terdapat campur tangan taqdir Ilahi yang bekerja. Ini merupakan keputusan Allah Ta’ala, bukan Sa’d.

Hadhrat Mirza Bashir Ahmad ra menulis, “Disebabkan Banu Quraizhah melakukan pelanggaran perjanjian, pembangkangan, pemberontakan dan menciptakan kekisruhan dan pembunuhan, datanglah keputusan dari Allah Ta’ala bahwa orang-orang yang berperang diantara mereka dihilangkan dari dunia ini. Dalam hal ini, perintah Ilahi yang diberikan kepada kepada Rasulullah (saw) berkenaan dengan perang tersebut memperlihatkan bahwa ini merupakan keputusan Ilahi. Namun, Allah Ta’ala tidak menghendaki jika keputusan ini diberikan melalui Rasulullah (saw). Karena itu, Dia sama sekali memisahkan Rasulullah (saw) dari campur tangan ghaib ini. Sa’d-lah yang mengumumkan keputusan tersebut. Lebih lanjut lagi, keputusan Sa’d pun diberikan dalam corak Rasulullah (saw) sama sekali tidak bisa ikut andil di dalamnya karena beliau (saw) telah berjanji bahwa beliau akan mengikuti keputusan ini. Selain itu, dikarenakan dampak dari keputusan ini tidak hanya kepada pribadi Rasulullah (saw) saja bahkan kepada segenap umat Muslim sehingga beliau (saw) tidak menganggap diri beliau berhak untuk merubah keputusan, sekalipun beliau sangat cenderung untuk mengampuni dan memaafkan. Inilah andil Tuhan yang pengaruh kekuatannya menjadikan keluar ucapan dari lisan Rasulullah (saw) secara serta-merta, لَقَدْ حَكَمْتَ فِيهِمْ بِحُكْمِ اللَّهِ ‘Laqad hakamta fiihim bihukmillaahi.’ – ‘Wahai Sa’d! Keputusanmu ini tampaknya merupakan takdir Ilahi yang mana tidak ada seorang pun yang mampu merubahnya.’[12]

Setelah mengucapkan ini beliau (saw) beranjak dari situ dan pulang ke kota. Saat itu hati beliau sangat tersiksa oleh pemikiran bahwa sebuah kaum yang beliau (saw) sangat inginkan untuk beriman malah kehilangan kesempatan beriman dan menjadi sasaran azab kemurkaan Allah Ta’ala disebabkan kejahatan-kejahatan mereka sendiri.

Kurang lebih pada kesempatan ini beliau bersabda dengan kata-kata penuh menyesalkan, لَوْ آمَنَ بِي عَشَرَةٌ مِنْ الْيَهُودِ لآمَنَ بِي الْيَهُودُ ‘Andaikata ada 10 orang saja dari antara umat Yahudi – maksudnya 10 orang terhormat dan berpengaruh dari antara mereka – beriman maka saya dapat berharap kepada Allah Taala bahwa seluruh kaum ini akan beriman dan selamat dari azab-Nya.’[13]

Ketika Nabi Muhammad (saw) hendak beranjak dari situ, beliau memerintahkan untuk memisahkan antara laki-laki, wanita dan anak-anak Banu Quraizhah. Dengan demikian kedua grup ini (laki-laki dengan wanita dan anak-anak) dipisah-pisah lalu dibawa ke Madinah dan di kota Madinah mereka dikumpulkan di dua tempat terpisah. Kemudian atas perintah Rasulullah (saw) para sahabat yang beberapa diantara mereka mungkin juga sedang kelaparan menyediakan begitu banyak buah-buahan untuk makanan Banu Quraizhah. Ditulis bahwa orang-orang Yahudi sepanjang malam sibuk makan buah.[14]

Di hari berikutnya, di waktu pagi hari, keputusan Hadhrat Sa’d bin Mu’adz (ra) dilangsungkan. Rasulullah (saw) menetapkan beberapa orang yang fit dan mampu untuk melaksanakan tugas ini dan beliau (saw) sendiri juga hadir di dekat tempat eksekusi itu.[15]

Hal demikian supaya kalau dalam pelaksanaan keputusan itu ada suatu hal yang memerlukan petunjuk beliau (saw) maka beliau (saw) bisa langsung memberi petunjuk. Selain itu, jika ada permohonan ampunan dari seorang mujrim (orang yang bersalah yang hendak dieksekusi itu, pent) maka Rasulullah (saw) segera dapat memberikan keputusannya. Meskipun keputusan Hadhrat Sa’d bin Muaz (ra) tidak bisa disampaikan gugatannya dalam bentuk pengadilan kepada Rasulullah (saw), namun sebagai seorang Raja atau Kepala Pemerintahan, beliau (saw) bisa saja mendengarkan permohonan ampunan atas seseorang berdasarkan alasan tertentu.

Sebagai bentuk kasih sayang beliau (saw), beliau (saw) memerintahkan untuk mengesekusi para terpidana mati secara terpisah. Artinya, ketika seorang narapidana dieksekusi narapidana lainnya tidak berada di situ. Dengan demikian para narapidana dibawa secara terpisah satu per satu dan sesuai dengan keputusan Hadhrat Sa’d (ra) mereka dieksekusi.[16]

Berkaitan dengan peristiwa Banu Quraizhah berbagai sejarawan non Muslim menyampaikan berbagai kritikan terhadap Rasulullah (saw) dengan cara yang sangat tidak terpuji. Disebabkan eksekusi mati sekitar 400 orang yahudi mereka menampilkan wujud Rasulullah (saw) – naudzubillahsebagai seorang pemimpin yang kejam dan haus darah.”

Terkait:   Jalsah Salanah Jerman 2019

Namun, seorang peneliti kita meneliti bahwa jumlah sebenarnya yang dieksekusi adalah sekitar 16 atau 17 orang. Tapi bagaimanapun juga, ini adalah masalah yang masih perlu dan bisa diteliti lagi. Sebagian ada yang menulis 100 orang, sebagian menulis 400 orang, sebagian menulis banyak, sebagian menulis 1000 orang dan sebagian menulis 900 orang.

“Bagaimanapun juga kalaupun jumlahnya 400 orang maka tetap saja kritikan yang dilayangkan pada Islam dan Pendiri Islam ini merupakan kritikan yang berdasarkan pada ta’ashshub (sentimen) keagamaan. Banyak sekali sejarawan yang mendapatkan pendidikan barat yang tidak bisa dipisahkan dari kritikan semcam ini dan mereka pun melayangkan tuduhan ini (kepada Islam dan pendiri Islam).”

Hadhrat Mirza Basyir Ahmad ra menulis, “Untuk menjawab kritikan ini hal pertama yang harus diingat adalah, keputusan atas Banu Quraizhah yang dianggap keputusan yang kejam adalah keputusan Hadhrat Sa’d bin Muaz (ra). Itu sama sekali bukan keputusan Rasulullah (saw). Ketika ini bukan keputusan Rasulullah (saw) maka dari itu beliau tidak dapat dikritik dalam hal ini. Kedua, berdasarkan keadaan saat itu keputusan ini sama sekali tidak salah dan zalim. Ketiga, Rasulullah (saw) sendiri terikat oleh janji yang diambil dari beliau (saw) sebelum pengumuman keputusan Sa’d sehingga bagaimanapun juga beliau mengamalkannya sesuai dengan janji itu. Keempat, para mujrim (narapidana) itu sendiri menerima keputusan itu dan tidak berkeberatan atas keputusan itu; dan mereka menganggapnya sebagai takdir Ilahi. Dengan begitu beliau (saw) tidak perlu melakukan intervensi dalam hal ini tanpa sebab.[17]

Setelah keputusan Sa’d diumumkan, hubungan Rasulullah (saw) dengan masalah ini hanya sebatas sebagai pemangku pemerintahan yang menjalankan keputusan itu dengan cara terbaik di bawah pengawasan pemerintahannya; dan sudah disampaikan bahwa beliau (saw) melaksanakannya dengan cara yang dapat dianggap sebagai teladan terbaik pemberi kerahiman dan kasih sayang. Artinya, selama para orang-orang itu ditahan (dipenjara) sebelum dieksekusi, Rasulullah (saw) mengatur penyediaan tempat dan makanan terbaik untuk mereka. Kemudian ketika datang waktunya pelaksanaan keputusan Sa’d maka beliau (saw) melaksanakannya dengan cara sedemikian rupa supaya orang yang akan dieksekusi mengalami rasa sakit sedikit mungkin. Pertama, dengan mempertimbangkan perasaan para narapidana mati tersebut, beliau (saw) memerintahkan supaya mereka tidak melihat kawan senasib mereka yang lain dieksekusi. Bahkan, dari kitab-kitab sejarah diketahui bahwa setiap narapidana mati yang diperintahkan untuk dibawa ke tempat eksekusi, mereka sendiri tidak tahu menuju kemana sebelum mereka benar-benar sampai di tempat eksekusi.[18]

Selain dari itu, Nabi Muhammad (saw) segera mengabulkan setiap permohonan ampunan dari setiap narapidana (penjahat) yang disampaikan pada beliau (saw). Bukan hanya nyawa saja yang diampuni, bahkan beliau memerintahkan untuk mengembalikan kepada orang-orang yang diampuni itu istri, anak-anak dan harta mereka. Seluruh harta benda mereka dikembalikan. Teladan apa lagi yang lebih dari itu dalam hal kerahiman dan kasih sayang terhadap seorang penjahat?

Dengan demikian, berkaitan dengan peristiwa Banu Quraizhah sama sekali tidak ada kritikan yang bisa ditujukan pada Rasulullah (saw). Bahkan, peristiwa ini adalah bukti nyata akhlak mulia, sistem pemerintahan yang baik dan kerahiman serta kasih sayang murni beliau (saw). Tidak diragukan keputusan Sa’d adalah sebuah keputusan yang keras dan karenanya fitrat manusia merasa sakit. Namun pertanyaannya adalah, apakah ada jalan lain yang bisa dipilih selain itu?

Keputusan Sa’d – berkaitan dengan Banu Quraizhah sebagaimana yang sudah disampaikan adalah keputusan yang sangat keras – namun ini adalah keterpaksaan yang dituntut oleh keadaan saat itu dan ini adalah akibat mutlak keadaan saat itu yang tidak ada cara lain selain itu. Atas alasan itulah sehingga Margoliouth yang sebenarnya sama sekali bukan pribadi bersahabat terhadap Islam terpaksa mengakui bahwa keputusan Sa’d adalah keterpaksaan yang dituntut oleh keadaan saat itu dan tidak ada cara lain selain itu. Dia menulis, ‘Penyerangan besar-besaran terhadap umat Muslim yang dilakukan lasykar persekutuan pada perang Ahzab yang tentang itu Muhammad mengklaim bahwa penyerangan mereka digagalkan secara ajaib ini merupakan hasil dari hasutan orang-orang Yahudi Banu Nadhir, atau sekurang-kurangnya dapat diartikan ini diyakini adalah hasil dari usaha-usaha mereka. Banu Nadhir adalah (kabilah Yahudi) yang hanya diusir (dari Madinah) oleh Muhammad (saw). Sekarang pertanyaannya, apakah Muhammad (saw) harus mengusir Banu Quraizhah juga sehingga akan menambah jumlah dan kekuatan para penghasut dan orang-orang yang berusaha menentang beliau? Di sisi lain, kaum yang terang-terangan membantu orang-orang yang menyerang (Islam) juga tidak bisa dibiarkan tinggal di Madinah. Mengusir mereka juga tidak aman dan membiarkan mereka hidup di Madinah juga tidak kalah berbahayanya. Jadi, tidak ada cara lain selain mereka memang harus mati.’ Inilah yang ditulis oleh Margoliouth.[19]

Pendeknya, keputusan Sa’d adalah keputusan yang tepat dan benar-benar sesuai dengan dasar-dasar keadilan. Tambahan dari itu, Rasulullah (saw) disebabkan perjanjiannya tidak dapat menunjukan kerahimannya dalam keputusan ini kecuali dalam kaitannya dengan perseorangan dimana beberapa orang yang memohon ampunan maka beliau berusaha semampunya (untuk mengampuninya). Beliau (saw) tidak bisa memberikan keputusan secara umum. Namun diketahui bahwa umat Yahudi merasa malu disebabkan mereka menolak untuk menjadikan Rasulullah (saw) sebagai hakim sehingga mereka tidak sanggup memohon ampunan pada Rasulullah (saw). Hanya beberapa orang dari mereka saja yang melakukannya. Tanpa adanya pengajuan banding, beliau (saw) tidak bisa memberikan pengampunan karena seorang pemberontak yang tidak mengungkapkan penyesalan atas kejahatannya, maka melepaskannya begitu saja secara politik dapat menimbulkan konsekuensi-konsekuensi yang berbahaya.

Satu hal lagi yang mesti diingat, perjanjian yang dilakukan di masa awal antara Hadhrat Rasulullah (saw) dan orang-orang Yahudi, salah satu persyaratannya adalah jika timbul suatu perkara yang perlu diputuskan berkenaan dengan orang-orang Yahudi maka pengambilan keputusannya akan dilakukan berdasarkan syariat agama mereka, yakni sesuai syariat Yahudi. Karena itu, diketahui dari sejarah bahwa berdasarkan perjanjian ini Hadhrat Rasululllah (saw) selalu memberikan keputusan berkenaan dengan orang-orang Yahudi berdasarkan syariat Musawi. Sekarang, jika kita meninjau Taurat, maka kita dapati di sana bahwa hukuman untuk kejahatan semacam itu yang dilakukan oleh Banu Quraizhah adalah persis seperti apa yang diputuskan oleh Sa’d bin Mu’adz terhadap Banu Quraizhah.”[20]

Demikianlah mengenai perkara Banu Quraizhah yang sejauh kaitannya dengan Hadhrat Sa’d bin Mu’adz cukup sampai di sini. Penyampaian riwayat Hadhrat Sa’d bin Mu’adz masih sedikit tersisa yang insya Allah akan saya sampaikan pada kesempatan yang akan datang.

Sekarang saya akan menyampaikan riwayat beberapa orang almarhum yang wafat beberapa hari yang lalu dan insya Allah setelah shalat Jum’at saya akan memimpin shalat jenazah gaib mereka. Yang pertama adalah yang terhormat Ibu Hajiah Ruqayah Khalid, Sadr Lajnah Imaillah Ghana. Beliau wafat pada 30 Juni di usia 65 tahun. Innaa lillahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Beliau pernah menderita kanker rahim, setelah itu beliau sembuh dan Allah Ta’ala memberikan kesehatan kepada beliau, namun pada bulan Mei tahun ini kesehatan beliau mulai menurun lagi. Secara tiba-tiba beliau terserang untuk kedua kalinya. Setelah beberapa waktu dirawat di rumah sakit beliau wafat pada tanggal 30 Juni. Ibu Hajiah Ruqayah Khalid lahir pada tahun 1955 di kota Wa, Ghana Selatan di satu keluarga Ahmadi. Ayah beliau Almarhum Bapak Al-Haj Khalid adalah seorang Imam di sebuah kampung di dekat Wa di mana sebagian besar penduduknya menyembah berhala. Beliau bertabligh kepada orang-orang penyembah berhala itu dan mendirikan Jemaat. Masa kecil Almarhumah dilalui di Wa. Beliau seorang yang santun dan berprinsip. Dari sisi profesi Almarhumah seorang guru dan beliau adalah teladan di lingkungan profesional beliau maupun di Jemaat.

Setelah pensiun dari pekerjaannya Almarhumah berkhidmat sebagai Kepala Sekolah di Bustaan-e-Ahmad International School. Beliau memiliki suatu ketertarikan yang khas terhadap ta’lim dan tarbiyat anak-anak. Beliau menanggung biaya pendidikan begitu banyak anak-anak dan menjalankan masa kepemimpinan beliau sebagai sebagai Sadr dengan sangat baik meskipun tengah sakit. Hingga kewafatannya beliau menjalankan tugas sebagai Sadr Lajnah Ghana. Beliau membuat berbagai program. Meskipun adanya pembatasan-pembatasan dikarenakan wabah Covid belakangan ini, beliau tetap menjalankan program Tarbiyat melalui internet dan sebagainya dan terus menjalankan tugas tarbiyat bagi para Lajnah. Beliau disiplin dalam shalat, melakukan kebaikan-kebaikan dengan senang hati, rajin tahajud, seorang wanita yang dawam membayar candah. Almarhum juga seorang mushiah. Beliau memiliki jalinan yang kuat dengan Khilafat. Beliau meninggalkan dua putra dan satu putri serta 4 orang cucu. Semoga Allah Ta’ala memperlakukan beliau dengan kasih sayang dan maghfiroh-Nya dan meninggikan derajat beliau, dan menganugerahkan taufik kepada anak keturunan beliau untuk dapat meneruskan kebaikan-kebaikan beliau.

Jenazah kedua yang riwayatnya ingin saya sampaikan adalah yang terhormat Ibu Shafiah Begum, istri yang terhormat Almarhum Bapak Syekh Mubarak Ahmad, Saabiq (pensiunan) Mubaligh Afrika, Inggris dan Amerika. Beliau wafat pada 27 Juni di usia 93 tahun. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Beliau lahir dari pasangan Hadhrat Qadhi Abdussalam Bhatti dan yang terhormat Ibu Mubarikah Begum pada Oktober 1926. Almarhumah adalah cucu dari sahabat Hadhrat Masih Mau’ud (as), Hadhrat Qadhi Abdurrahim dan cicit dari Hadhrat Qadhi Dhia’uddin.

Beliau memiliki banyak sifat istimewa, rajin berdoa, seorang wanita yang suci. Beliau memiliki jalinan kecintaan yang tulus dengan Khilafat yang jarang ditemui. Beliau menumbuhkan jalinan ini pada anak-anak beliau bahkan cucu-cucu beliau. Demikianlah hendaknya hal seperti itu terus dilanjutkan.

Almarhumah adalah seorang Mushiah. Pernikahan beliau dengan Bapak Syekh Mubarak Ahmad adalah yang kedua yang darinya lahir seorang putri dan dari suami yang sebelumnya pun beliau memperoleh keturunan. Suami beliau dari pernikahan sebelumnya bernama Bapak Nasir Ahmad Bhatti. Almarhumah dengan setia menyertai Bapak Syekh Mubarak berkhidmat di berbagai negara. Almarhumah meninggalkan 2 putri kandung beliau dan 3 orang putra, juga seorang putri dari istri pertama Bapak Syekh Mubarak.

Seorang putra beliau, Bapak Fahim Ahmad Bhatti berkhidmat di sini di kantor Private Secretary sebagai sukarelawan. Seorang cucu Almarhumah, Bapak Shabur Bhatti adalah seorang Mubaligh yang bertugas di Wakalat Tabshir UK. Seorang cucu lainnya, Ahmad Fawad Bhatti adalah seorang Waqaf Zindegi yang mendapatkan taufik berkhidmat sebagai guru di Ahmadiyah College, Kano. Seorang cucu lainnya, Khaliq Bhatti juga setelah menyelesaikan pendidikannya lalu mewaqafkan diri dan tengah berkhidmat di Abdu Region. Seorang cucu Almarhum lainnya, Nabil Bhatti yang dua tahun lalu sakit keras dan hampir meninggal, Almarhum banyak berdoa untuknya dan Allah Ta’ala kemudian memberitahukan kepada beliau mengenai kesembuhan anak tersebut dan Allah Ta’ala memberikan kesembuhan padanya. Namun saat ini Tuan Nabil Bhatti masih mengalami beberapa kesulitan kecil disebabkan penyakit tersebut, semoga Allah Ta’ala memberikan kesembuhan yang sempurna kepada beliau dan doa-doa yang dipanjatkan oleh Ibu Shafiyah Begum dikabulkan Allah Ta’ala. Cucu beliau ini pun juga seorang waqaf. Semoga Allah Ta’ala juga menjadikannya sosok yang bermanfaat bagi Jemaat dan menjadikan beliau serta anak keturunan beliau pengkhidmat agama.

Putri beliau, Ibu Faridah Syekh menuturkan, “Ibu kami sangat mencintai Hadhrat Masih Mau’ud (as). Setiap saat selalu mengatakan sambil menunjuk ke foto Hadhrat Masih Mau’ud (as) bahwa dikarenakan beliau (as) kita semua mendapatkan semuanya dan semua keberkatan-keberkatan adalah milik beliau (as). Kemudian Almarhumah juga memiliki hubungan yang istimewa dengan para Lajnah Afrika dan Amerika. Almarhumah sangat memperhatikan mereka. Hampir setiap hari selalu ada saja diantara mereka yang datang dan mereka tidak segan-segan datang ke rumah, mengobrol dengan beliau di dapur seolah mereka adalah bagian dari keluarga.”

Demikian juga putri sulung beliau, Ibu Naimah Shabir mengatakan, “Almarhumah adalah seorang yang penuh kasih sayang, seorang yang sangat sabar, beliau seorang wanita yang peduli dengan orang lain. Beliau menanamkan kecintaan terhadap khilafat dalam hati kami. Beliau selalu menasihatkan kami untuk menulis surat secara dawam. Beliau selalu mendoakan putra-putri beliau dengan doa-doa Hadhrat Masih Mau’ud (as) dan sangat memperhatikan orang-orang miskin serta anak-anak yatim. Beliau secara rutin membayar candah dan bersedekah. Hadhrat Khalifatul Masih Ats-Tsalits (rh) dengan kasih sayang yang istimewa menikahkan beliau dengan Bapak Syekh Mubarak Ahmad. Bapak Syekh Mubarak Ahmad adalah seorang Mubaligh dan istri pertama beliau telah wafat dan suami Almarhumah pun telah wafat. Pada saat perjodohan Hadhrat Khalifatul Masih Ats-Tsalits (rh) mengatakan kepada Bapak Syekh Mubarak, ‘Saya merasa senang dengan suatu tugas Jemaat yang telah anda laksanakan dan saya ingin memberikan anda sebuah hadiah.’ Bapak Syekh pun menghargai hadiah tersebut dan hadiah tersebut adalah dalam bentuk Ibu Shafiah Begum. Bapak Syekh sangat menghargai ini dan sangat menyayangi anak-anak Almarhumah dari suami yang pertama yang wafat ketika Almarhumah masih di usia muda.”

Terkait:   Abu Talhah: Keteladanan Para Sahabat Rasulullah (shallal-Laahu ‘alaihi wasallam)

Putra beliau yang paling besar, Bapak Shamim Bhatti juga teman sekelas saya di Sekolah dan College dan saya melihat Bapak Syekh sangat menyayangi anak-anak Almarhumah tersebut dan memberikan hak mereka, namun Ibu Shafiah Begum juga menyertai Bapak Syekh di lapangan pengkhidmatan sebagaimana ini merupakan tugas istri dari seorang Waqif Zindegi. Sangat sedikit istri-istri Mubalighin yang menunaikan kewajibannya sebagaimana Almarhumah menunaikan kewajibannya. Almarhumah mengkhidmati tamu dengan tulus dan tidak pernah mengeluh dan demikian juga beliau banyak berdoa untuk para anggota Jemaat. Almarhumah bersikap sangat baik terhadap keluarga para Mubalighin yang bekerja di bawah Bapak Syekh. Setelah menjadi Khalifah, hubungan saya lebih erat lagi dengan Almarhumah dan saya pun mengenal beliau. Saya melihat Almarhumah adalah seorang yang mencintai Khilafat dan jarang ditemui orang-orang yang mencintai Khilafat sebagaimana beliau. Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat Almarhumah dan senantiasa menjaga anak keturunan Almarhumah untuk tetap setia terhadap Jemaat dan Khilafat.

Jenazah selanjutnya adalah yang terhormat Bapak Ali Ahmad, seorang pensiunan Mu’allim Waqfi Jadid. Beliau wafat pada tanggal 18 Juni di usia 86 tahun. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Ayahanda Almarhum, Hadhrat Mia Allah Datah adalah seorang sahabat Hadhrat Masih Mau’ud (as) yang mana pada tahun 1903 ketika Hadhrat Masih Mau’ud (as) melakukan perjalanan ke Jhelum beliau berjalan kaki sejauh 10-12 Mil dari kampungnya dan mendapatkan taufik berkhidmat di tangan Hadhrat Masih Mau’ud (as).

Pada tahun 1965 Almarhum mewaqafkan diri. Dari tahun 1967 hingga 2008 kurang lebih selama 41 tahun Almarhum melakukan pengkhidmatan di berbagai Jemaat di Sindh dan Punjab. Beliau mengajarkan Al-Qur’an kepada ribuan anak laki-laki dan perempuan, serta pria maupun wanita dewasa. Dengan perantaraan upaya pertablighan dan doa-doa beliau puluhan orang yang berfitrat baik mendapatkan karunia bergabung ke dalam Jemaat Ahmadiyah. Almarhum adalah seorang Mushi.

Di antara yang ditinggalkan selain istri beliau antara lain dua orang putri dan tiga orang putra. Salah seorang putra beliau, Bapak Abdul Hadi Tariq adalah seorang Muballigh di Ghana dan tengah mendapatkan taufik berkhidmat sebagai dosen di Jamiah Ahmadiyah Internasional di sana selama 7 tahun. Dikarenakan kondisi sekarang ini beliau tidak bisa ikut serta dalam pengurusan dan pemakaman jenazah ayah beliau. Dua orang menantu Almarhum juga mubaligh dan tiga orang cucu Almarhum hafiz Qur’an.

Bapak Maghfur Ahmad Munib seorang waqif zindegi dan mubaligh yang saat ini ditugaskan di Markaz menuturkan, “Yang terhormat Maulwi Sahib tidak diragukan adalah teladan bagi para Murabbi dan Mu’allim. Beliau seorang yang tidak banyak bicara, selalu merundukkan pandangan, sederhana, rajin berdoa, rendah hati dan ramah kepada setiap orang. Almarhum adalah seorang tentara bagi Khilafat Ahmadiyah, ketika ada seseorang yang marah sekalipun beliau akan menasihatinya dengan sikap simpatik, sifat qana’ah beliau sangat menonjol. Hari ini, anak-anak laki-laki dan perempuan yang pernah menjadi murid Maulwi Sahib telah menjadi dewasa, namun kenangan akan keindahan akhlak dan kecintaan Almarhum tidak akan terhapus dari ingatan mereka.”

Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat Almarhum dan memberikan taufik kepada anak keturunan Almarhum untuk dapat meneruskan kebaikan-kebaikan Almarhum.

Jenazah selanjutnya, yang terhormat Ibu Rafiqa Bibi, istri dari Bapak Bashir Ahmad Dogar dari Aidhipur, Distrik Narowal yang wafat pada 22 Mei. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Ahmadiyah masuk ke dalam keluarga Almarhumah melalui kakek Almarhumah, Hadhrat Mulk Sardar Khan Numbardar yang merupakan seorang sahabat. Putra Almarhum, Bapak Riyadh Ahmad menuturkan, “Sejak usia saya mulai tumbuh kesadaran, saya melihat beliau adalah seorang yang rajin shalat dan suci. Almarhum disiplin dalam shalat dan puasa. Beliau hafal banyak surat-surat. Pagi hari sambil memerah susu beliau biasa menilawatkan surah Taghabun. Beliau melaksanakan shalat lima waktu dengan penuh perhatian. Setiap waktu shalat beliau selalu mengajak satu atau dua orang cucunya untuk ikut shalat sehingga timbul kesenangan akan shalat pada diri anak-anak. Setelah shalat cukup lama beliau duduk bertasbih. Demikian juga beliau biasa meninggikan suara ketika tiawat dan di seluruh rumah terdengar suara tilawat beliau. Beliau hapal begitu banyak surah dalam Al-Qur’an. Beliau sangat mencintai Khilafat dan sangat yakin dengan doa-doa Khalifah-e-Waqt. Dengan bangga beliau selalu memberitahukan kepada orang-orang bahwa putra saya juga adalah seorang Mubaligh, cucu saya juga mubaligh. Dan meskipun beliau sangat merindukan putra-putranya namun beliau selalu mengatakan bahwa merupakan karunia Allah yang sangat besar atas diri saya bahwa Dia telah menyebarkan anak cucu saya ke pelosok-pelosok dunia.”

Di antara yang ditinggalkan antara lain empat orang putra dan satu orang putri serta cucu-cucu. Seorang putra beliau, Bapak Riyadh Ahmad Dogar mendapatkan taufik untuk mengkhidmati Jemaat di Tanzania dan beliau pun dikarenakan kondisi yang terjadi akhir-akhir ini serta dikarenakan kesibukan di medan tugas tidak bisa ikut serta dalam pengurusan dan pemakaman jenazah Almarhumah. Semoga Allah Ta’ala memberikan kepada beliau kesabaran dan ketabahan. Seorang cucu beliau Adil Ahmad Dogar mendapatkan taufik berkhidmat di Pakistan sebagai Mubaligh. Seorang cucu lainnya, Ayyaz Ahmad Dogar adalah mahasiswa Darjah Khamisah di Jamiah Ahmadiyah Internasional, Ghana.

Demikian juga pada hari ini saya akan menyertakan di shalat jenazah para Almarhum yang saya sebutkan pada khotbah-khotbah yang lalu namun belum dilaksanakan shalat jenazahnya dikarenakan kondisi yang terjadi. Di antara mereka adalah Bapak Nasir Sa’id, Bapak Ghulam Mushtofa, Bapak Dokter Naqiyuddin dari Islamabad, Bapak Zulfikar, Mubaligh Indonesia. Semoga Allah Ta’ala memperlakukan mereka semua dengan kasih sayang dan maghfiroh-Nya.

Khotbah II

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ – وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ!

 إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ –

أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Penerjemah: Mln. Mahmud Ahmad Wardi, Syahid (London, UK), Mln. Muhammad Hasyim dan Mln. Saifullah Mubarak Ahmad (Qadian, Bharat/India). Editor: Dildaar Ahmad Dartono. Rujukan pembanding: Website www.islamahmadiyya.net


[1][1] Muslim yang syahid ini bernama Khallad hal mana pernah disampaikan dalam Khotbah Jumat oleh Hadhrat Khalifatul Masih II (ra).

[2] Sirah an-Nabawiyah karya Ibn Hisyam dan Tafsir ath-Thabari (تفسير الطبري), Surah al-Ahzaab (سورة الأحزاب); as-Sunan al-Kubra karya al-Baihaqi (السنن الكبير للبيهقي), Kitab tentang Jizyah (كِتَابُ الْجِزْيَةِ ), Kumpulan bab tentang syarat-syarat yang Imam letakkan terkait ahludz dzimmah dan bagaimana bila perjanjian dilanggar (جِمَاعُ أَبْوَابِ الشَّرَائِطِ الَّتِي يَأْخُذُهَا الْإِمَامُ عَلَى أَهْلِ الذِّمَّةِ , وَمَا يَكُونُ مِنْهُمْ نَقْضًا لِلْعَهْدِ), bab jika pejanji melanggar janji (بَابُ نَقْضِ أَهْلٍ الْعَهْدَ أَوْ بَعْضِهِمُ الْعَهْدَ).

[3] Debacah Tafsirul Qur’an (Pengantar Mempelajari Al-Qur’an), Anwarul ‘Uluum jilid 20, 282-284.

[4] Debacah Tafsirul Qur’an (Pengantar Mempelajari Al-Qur’an), Anwarul ‘Uluum jilid 20.

[5] Ṣaḥīḥul-Bukhārī, Kitābul-Maghāzī, Bābu Marja‘in-Nabiyyisa Minal-Aḥzābi (بَاب مَرْجِعِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْأَحْزَابِ وَمَخْرَجِهِ إِلَى بَنِي قُرَيْظَةَ وَمُحَاصَرَتِهِ إِيَّاهُمْ), Ḥadīth No. 4121.

[6] As-Sīratun-Nabawiyyah, By Abū Muḥammad ‘Abdul-Mālik bin Hishām, p. 634, Ghazwatu Banī Quraiẓata Fī Sanati Khamsin, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (2001); Tārīkhur-Rusuli Wal-Mulūk (Tārīkhuṭ-Ṭabarī), By Abū Ja‘far Muḥammad bin Jarīr Aṭ-Ṭabarī, Volume 3, pp. 107-108, Thumma Kānatis-Sanatul-Khāmisatu Minal-Hijrati/Ghazwatu Banī Quraiẓah, Dārul-Fikr, Beirut, Lebanon, Second Edition (2002); Aṭ-Ṭabaqātul-Kubrā, By Muḥammad bin Sa‘d, Volume 2, p. 287, Ghazwatu Rasūlillāhisa Ilā Banī Quraiẓah, Dāru Iḥyā’it-Turāthil-‘Arabī, Beirut, Lebanon, First Edition (1996); Ṣaḥīḥul-Bukhārī, Kitābul-Maghāzī, Bābu Marja‘in-Nabiyyisa Minal-Aḥzābi, Ḥadīth No. 4122.

[7] As-Sīratun-Nabawiyyah, By Abū Muḥammad ‘Abdul-Mālik bin Hishām, p. 635, Ghazwatu Banī Quraiẓata Fī Sanati Khamsin, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (2001); Ṣaḥīḥul-Bukhārī, Kitābul-Maghāzī, Bābu Ḥadīthi Banin-Naḍīr, Ḥadīth No. 4028.

4028 – حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ نَصْرٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ عَنْ مُوسَى بْنِ عُقْبَةَ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ حَارَبَتْ النَّضِيرُ وَقُرَيْظَةُ فَأَجْلَى بَنِي النَّضِيرِ وَأَقَرَّ قُرَيْظَةَ وَمَنَّ عَلَيْهِمْ حَتَّى حَارَبَتْ قُرَيْظَةُ فَقَتَلَ رِجَالَهُمْ وَقَسَمَ نِسَاءَهُمْ وَأَوْلَادَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بَيْنَ الْمُسْلِمِينَ إِلَّا بَعْضَهُمْ لَحِقُوا بِالنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَآمَنَهُمْ وَأَسْلَمُوا وَأَجْلَى يَهُودَ الْمَدِينَةِ كُلَّهُمْ بَنِي قَيْنُقَاعَ وَهُمْ رَهْطُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَلَامٍ وَيَهُودَ بَنِي حَارِثَةَ وَكُلَّ يَهُودِ الْمَدِينَةِ

[8] Tārīkhur-Rusuli Wal-Mulūk (Tārīkhuṭ-Ṭabarī), By Abū Ja‘far Muḥammad bin Jarīr Aṭ-Ṭabarī, Volume 3, p. 107, Thumma Kānatis-Sanatul-Khāmisatu Minal-Hijrati / Ghazwatu Banī Quraiẓah, Dārul-Fikr, Beirut, Lebanon, Second Edition (2002).

[9] Tārīkhur-Rusuli Wal-Mulūk (Tārīkhuṭ-Ṭabarī), By Abū Ja‘far Muḥammad bin Jarīr Aṭ-Ṭabarī, Volume 3, p. 108, Thumma Kānatis-Sanatul-Khāmisatu Minal-Hijrati / Ghazwatu Banī Quraiẓah, Dārul-Fikr, Beirut, Lebanon, Second Edition (2002).

[10] Ṣaḥīḥul-Bukhārī, Kitābul-Maghāzī, Bābu Marja‘in-Nabiyyisa Minal-Aḥzābi (بَاب مَرْجِعِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْأَحْزَابِ وَمَخْرَجِهِ إِلَى بَنِي قُرَيْظَةَ وَمُحَاصَرَتِهِ إِيَّاهُمْ), Ḥadīth No. 4121.

[11] As-Sīratun-Nabawiyyah, By Abū Muḥammad ‘Abdul-Mālik bin Hishām, p. 636, Ghazwatu Banī Quraiẓata Fī Sanati Khamsin, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (2001); Tārīkhur-Rusuli Wal-Mulūk (Tārīkhuṭ-Ṭabarī), By Abū Ja‘far Muḥammad bin Jarīr Aṭ-Ṭabarī, Volume 3, p. 108, Thumma Kānatis-Sanatul-Khāmisatu Minal-Hijrati / Ghazwatu Banī Quraiẓah, Dārul-Fikr, Beirut, Lebanon, Second Edition (2002); Kitābul-Kharāj, By Qāḍī Abū Yūsuf Ya‘qūb bin Ibrāhīm, p. 218, Faṣlun Fī Qitāli Ahlish-Shirki, Printed by Baulāq (1302 A.H.). Historians write that when Sa‘d ra was seeking this promise from the Holy Prophet sa, out of respect, he did not have the courage to look up to the Holy Prophet sa or inquire of him directly.

[12] Ṣaḥīḥul-Bukhārī, Kitābul-Maghāzī, Bābu Marja‘in-Nabiyyisa Minal-Aḥzābi, Ḥadīth No. 4121; Ṣaḥīḥu Muslim, Kitābul-Jihād Was-Siyar (كتاب الجهاد والسير), Bābu Jawāzi Qitāli Man Naqaḍal-‘Ahda (باب جواز قتال من نقض العهد وجواز إنزال أهل الحصن على حكم حاكم عدل أهل للحكم), Ḥadīth No. 4597.

[13] Ṣaḥīḥul-Bukhārī, Kitābu Manāqibi Anṣār, Bābu Ityānil-Yahūdin-Nabiyyi sa Ḥīna Qadimal-Madīnah (بَاب إِتْيَانِ الْيَهُودِ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ قَدِمَ الْمَدِينَةَ { هَادُوا } صَارُوا يَهُودًا وَأَمَّا قَوْلُهُ { هُدْنَا } تُبْنَا هَائِدٌ تَائِبٌ), Ḥadīth No. 3941.

[14] Sharḥul-‘Allāmatiz-Zarqānī ‘Alal-Mawāhibil-Ladunniyyah, By Allāmah Shihābuddīn Al-Qusṭalānī, Volume 3, p. 86, Ghazwatu Banī Quraiẓah, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (1996).

[15] Sharḥul-‘Allāmatiz-Zarqānī ‘Alal-Mawāhibil-Ladunniyyah, By Allāmah Shihābuddīn Al-Qusṭalānī, Volume 3, pp. 86-87, Ghazwatu Banī Quraiẓah, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (1996).

[16] As-Sīratun-Nabawiyyah, By Abū Muḥammad ‘Abdul-Mālik bin Hishām, p. 637, Ghazwatu Banī Quraiẓata Fī Sanati Khamsin, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (2001); Aṭ-Ṭabaqātul-Kubrā, By Muḥammad bin Sa‘d, Volume 2, p. 287, Ghazwatu Rasūlillāhi sa Ilā Banī Quraiẓah, Dāru Iḥyā’it-Turāthil-‘Arabī, Beirut, Lebanon, First Edition (1996); Tārīkhur-Rusuli Wal-Mulūk (Tārīkhuṭ-Ṭabarī), By Abū Ja‘far Muḥammad bin Jarīr Aṭ-Ṭabarī, Volume 3, p. 109, Thumma Kānatis-Sanatul-Khāmisatu Minal-Hijrati / Ghazwatu Banī Quraiẓah, Dārul-Fikr, Beirut, Lebanon, Second Edition (2002)

[17] Salah satu yang mengucapkan demikian ialah Ḥuyayy bin Akhṭab, pemimpin Quraizhah.

[18] Tārīkhur-Rusuli Wal-Mulūk (Tārīkhuṭ-Ṭabarī), By Abū Ja‘far Muḥammad bin Jarīr Aṭ-Ṭabarī, Volume 3, pp. 108-109, Thumma Kānatis-Sanatul-Khāmisatu Minal-Hijrati / Ghazwatu Banī Quraiẓah, Dārul-Fikr, Beirut, Lebanon, Second Edition (2002); As-Sīratun-Nabawiyyah, By Abū Muḥammad ‘Abdul-Mālik bin Hishām, pp. 636-637, Ghazwatu Banī Quraiẓata Fī Sanati Khamsin, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (2001).

[19] Mohammed and The Rise of Islām, By David Samuel Margoliouth, The Destruction of the Jews, p. 333, G. P. Putnam’s Sons, New York & London, The Knickerbocker Press, Third Edition (1905): “The great invasion, which Mohammed declared to have been miraculously frustrated, was due or believed to be due, to the propaganda of members of the Banu Nadir, whom the Prophet had been satisfied with banishing. Should he banish the Kuraizah, he would thereby be setting free a fresh set of propagandists. On the other hand, those who had taken part openly with the invaders of Medinah could not very well be permitted to remain there. To banish them was unsafe; to permit them to remain was yet more dangerous. Hence they must die.”

[20] Sirat Khataman Nabiyyin oleh Hadhrat Mirza Bashir Ahmad, M. A. (ra),  Treachery of the Banū Quraiẓah and the

End of the Jews in Madīnah, Laws of Marriage and Divorce, Ghazwah of Banū Quraiẓah – Dhu Qa‘dah 5 A.H. (March/April 627 A.D.)