Keteladanan Para Sahabat Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam (Manusia-Manusia Istimewa, seri 77)

Pembahasan Dua Ahlu Badr. Bahasan lanjutan mengenai Hadhrat ‘Abdurrahman bin ‘Auf radhiyAllahu ta’ala ‘anhu. Bahasan pokok mengenai kekayaan beliau dan pengorbanan harta yang beliau lakukan. Bahasan Baru mengenai Hadhrat Sa’d bin Mu’adz radhiyAllahu ta’ala ‘anhu. Kewafatan beliau (ra) dan dzikr khair beberapa Shahabat.

Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 26 Juni 2020 (Ihsan 1399 Hijriyah Syamsiyah/Dzulqa’idah 1441 Hijriyah Qamariyah) di Masjid Mubarak, Tilford, UK (United Kingdom of Britain/Britania Raya)

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ. (آمين)

Pada khotbah minggu lalu juga telah disampaikan tentang Hadhrat Abdurrahman bin Auf (ra) dan masih ada beberapa bagian yang akan saya sampaikan hari ini. Kedermawanan Hadhrat Abdurrahman bin Auf (ra) sangat terkenal dan beliau juga banyak melakukan pengorbanan harta. Sebagian besar topik yang akan disampaikan hari ini adalah berkaitan dengan itu.

Dalam sebuah riwayat diceritakan, أَوصى عبدُ الرحمن لمن بقي ممن شهد بدرًا، لكل رجل أَربعمائة دينار، وكانوا مائة، فأَخذوها “Hadhrat Abdurrahman bin Auf (ra) berwasiyat bahwa seluruh sahabat yang ikut perang Badr masing-masing akan diberikan 400 dinar dari harta warisan beliau. Dengan demikian wasiyat beliau ini diamalkan dan saat itu ada 100 orang sahabat Badr.”[1]

Ketika Hadhrat RasuluLlah (saw) memerintahkan para sahabat untuk persiapan perang Tabuk, beliau (saw) menghimbau para hartawan untuk mengorbankan harta di jalan Allah Ta’ala dan menyediakan hewan tunggangan dan atas perintah tersebut orang-orang memberikan pengorbanan sesuai dengan kemampuannya masing-masing. وكان أول من جاء بالنفقة أبو بكر الصديق رضي الله تعالى عنه جاء بجميع ماله أربعة آلاف درهم Atas himbauan itu Hadhrat Abu Bakr (ra) yang paling pertama hadir. Pada kesempatan itu Hadhrat Abu Bakr membawa seluruh harta yang ada di rumahnya yang berjumlah 4000 dirham. Hadhrat RasuluLlah (saw) bertanya kepada Hadhrat Abu Bakr, هل أبقيت لأهلك شيئا “Apakah engkau meninggalkan sesuatu untuk keluarga engkau atau tidak?”

Beliau menjawab, أبقيت لهم الله ورسوله “Saya meninggalkan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya untuk mereka (keluarga saya).”

Hadhrat Umar datang dengan membawa setengah dari harta yang ada di rumahnya. Hadhrat RasuluLlah (saw) bertanya kepada Hadhrat Umar, هل أبقيت لأهلك شيئا “Apakah engkau meninggalkan sesuatu untuk keluarga engkau?”

Beliau menjawab, النصف الثاني “Saya meninggalkan separoh (dari hartaku).”

Pada saat itu Hadhrat Abdurrahman Bin ‘Auf memberikan 100 uqiyah. 1 uqiyah setara dengan 40 dirham. Jadi, totalnya 4000 dirham. Maka Nabi (saw) bersabda, كانا خزنتين من خزائن الله في الأرض ينفقان في طاعة الله تعالى ‘kaana khazanataini min khazaa-iniLlahi fil ardhi yunfiqaani fi thaa’atiLlaahi ta’ala.’ – “Keduanya (’Utsman Bin ‘Affan dan ‘Abdurrahman Bin ‘Auf) adalah khazanah diantara khazanah-khazanah Allah Ta’ala di muka bumi ini yang membelanjakan harta demi ridha Allah Ta’ala.”[2]

(أُمُّ بَكْرِ بِنْتُ الْمِسْوَرِ بْنِ مَخْرَمَةَ ، عَنْ أَبِيهَا الْمِسْوَرِ بْنِ مَخْرَمَةَ ، قَالَ :) Hadhrat Ummu Bakr binti Miswar bin Makhramah dari ayahnya meriwayatkan, عَنْ أُمِّ بَكْرٍ أَنَّ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ عَوْفٍ بَاعَ أَرْضًا لَهُ مِنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ بِأَرْبَعِينَ أَلْفَ دِينَارٍ فَقَسَمَ فِي فُقَرَاءِ بَنِي زُهْرَةَ وَفِي ذِي الْحَاجَةِ مِنَ النَّاسِ، وَفِي أُمَّهَاتِ الْمُؤْمِنِينَ “Hadhrat Abdurrahman bin Auf (ra) membeli sebidang tanah seharga 40.000 dinar dari Hadhrat Utsman bin Affan ra. Kemudian beliau (ra) membagi-baginya pada orang-orang miskin di kalangan Banu Zuhrah, orang-orang yang memerlukan di kalangan mana saja dan Ummahaatul mu-minin (para ibu kaum beriman yaitu istri-istri Nabi Muhammad saw).”

Miswar bin Makhramah berkata, فَدَخَلْتُ عَلَى عَائِشَةَ بِنَصِيبِهَا مِنْ ذَلِكَ فَقَالَتْ:  “Ketika saya memberikan kepada Hadhrat Aisyah (ra) bagian beliau dari harga tanah itu maka Hadhrat Aisyah bertanya, مَنْ أرسَلَ بهذا؟  ‘Siapa yang mengirim ini?’

Saya berkata, عبد الرّحمن بن عوف ‘Hadhrat Abdurrahman bin Auf (ra) yang kirim.’

Hadhrat Aisyah berkata, إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:  ‘Rasulullah saw pernah bersabda, لَا يَحْنَأُ عَلَيْكُنَّ بَعْدِي إِلَّا الصَّابِرُونَ “Sepeninggal saya, orang yang akan berbuat baik pada kalian (para istri) adalah orang yang memiliki kesabaran yang sangat tinggi.”’[3]

Kemudian Hadhrat Aisyah (ra) berdoa, سَقَى اللَّهُ ابْنَ عَوْفٍ مِنْ سَلْسَبِيلِ الْجَنَّةِ “Ya Allah! Berilah Abdurrahman bin Auf minuman dari mata air salsabil di surga.’”[4]

Dalam sebuah riwayat diceritakan bahwa Rasulullah saw bersabda, إن الَّذِي يحَافِظُ عَلَى أَزْوَاجِي مِنْ بَعْدِي هُوَ الصَّادِقُ البَّارُّ “Orang yang memperhatikan keluarga saya sepeninggal saya adalah orang yang jujur dan saleh.”[5]

فَكَانَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ يَحُجُّ بِهِنَّ، وَيَجْعَلُ عَلَى هَوَادِجِهِنَّ الطَّيَالِسَةَ وَيُنْزِلُهُنَّ الشِّعْبَ الَّذِي لَيْسَ لَهُ مَنْفَذٌ Dengan demikian Hadhrat Abdurrahman bin Auf (ra) membawa untuk berhaji ummahatul mukminin sekaligus dengan kendaraan untuk mereka masing-masing dan beliau memasangkan haudaj (tandu berpardah) di pelana unta-unta mereka masing-masing. Untuk tempat peristirahatan beliau memilih lembah-lembah yang tidak biasa dilalui orang. [6] Hal demikian supaya ada pardah dan mereka bisa istirahat dengan bebas.

Suatu kali terjadi paceklik di Madinah. Pada masa itu dari negeri Syams datang kafilah ke Madinah dengan 700 unta membawa gandum, tepung dan bahan-bahan makanan yang karenanya terjadi kebisingan di seluruh Madinah. Hadhrat Aisyah bertanya, “Kebisingan apa ini?” Disampaikan pada beliau (ra) bahwa kafilah Hadhrat Abdurrahman bin Auf (ra) datang dengan 700 unta yang membawa gandum, tepung dan bahan-bahan makanan.

Ummul Mukminin Hadhrat Aisyah (ra) bersabda, “Saya mendengar Rasulullah saw bersabda, قَدْ رَأَيْتُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ عَوْفٍ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ حَبْوًا ‘Saya melihat Abdurrahman bin Auf masuk surga dengan sambil merangkak.’

Ketika Hadhrat Abdurrahman (ra) mengetahui hal ini, beliau datang menghadap Hadhrat Aisyah (ra) dan mengatakan, يا أمه إن أشهدك أنها بأحمالها وأحلاسها وأقتابها فِي سَبِيلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ “Wahai Ibu! Saya menjadikan engkau sebagai saksi bahwa semua gandum, bahan makanan, dan semua barang sampai pelana unta sekalipun saya persembahkan di jalan Allah supaya saya bisa masuk surga dengan berjalan.”[7]

Tidak terhitung jumlahnya kisah-kisah kedermawanan Hadhrat Abdurrahman bin Auf (ra) yang dikumpulkan oleh para penyusun sejarah sahabat. Dalam Kitab Usdul Ghabahditulis, وكان كَثِيْر الإنفاق فِي سبيل اللَّه عَزَّ وَجَلَّ أعتق فِي يَوْم واحد ثلاثين عبدًا Hadhrat Abdurrahman bin Auf (ra) adalah orang yang biasa membelanjakan banyak hartanya di jalan Allah. Suatu kali beliau memerdekakan 30 budak dalam satu hari.

Suatu waktu Hadhrat Umar (ra) membutuhkan uang dan beliau mengirim pesan kepada Hadhrat Abdurrahman bin Auf (ra) guna meminjam uang. Hadhrat Abdurrahman bin Auf (ra) berkata, أتستسلفني وعندك بيت المال، الا تأخذ منه ثم تردّه؟  “Wahai Amirul Mukminin! Kenapa Anda meminjam kepada saya. Anda kan bisa meminjamnya dari Baitul Maal. Atau bisa pada Utsman dan orang yang mampu lainnya?”

Hadhrat Umar (ra) bersabda, إني أتخوف أن يصيبني قدري، فتقول أنت وأصحابك: اتركوا هذا لأمير المؤمنين. حتى يؤخذ من ميزاني يوم القيامة، ولكني أتسلّفها منك لما أعلم من شحّك فإذا مت جئت فاستوفيتها من ميراثي “Saya melakukannya karena mungkin saja jika saya meminjam dari Baitul Maal, saya lupa mengembalikannya ke sana atau kalau saya meminjam dari orang lain maka mungkin saja karena dia memandang kedudukan saya atau karena sebab lain dia tidak menagih hutangnya dan saya pun lupa. Tapi, saya meminjam kepada Anda karena Anda pasti akan menagih hutang kepada saya.”[8]

Hal ini menjukkan antara beliau berdua (Hadhrat Abdurrahman bin Auf (ra) dan Hadhrat Umar ra) terjalin hubungan tanpa sungkan. Jika beliau (ra) (Hadhrat umar ra) membutuhkan maka beliau biasa meminjam pada Hadhrat Abdurrahman bin Auf ra, yakni beliau bisa meminjam.

Putra Hadhrat Abdurrahman bin Auf (ra) bernama Ibrahim meriwayatkan dari ayahnya bahwa Rasulullah saw bersabda, يَا ابْنَ عَوْفٍ، إِنَّكَ مِنَ الْأَغْنِيَاءِ، وَلَنْ تَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلَّا زَحْفًا، فَأَقْرِضِ اللَّهَ يُطْلِقْ لَكَ قَدَمَيْكَ “Wahai putra Auf! Kamu akan masuk surga dengan merangkak karena kamu kaya. Oleh karena itu belanjakanlah hartamu di jalan Allah supaya kamu bisa masuk surga sambil berjalan.”

Ini mirip dengan riwayat Hadhrat Aisyah (ra) tadi. Maka Hadhrat Abdurrahman bin Auf (ra) bertanya, وَمَا الَّذِي أُقْرِضُ اللَّهَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ “Wahai Rasulullah saw! Apa yang harus saya belanjakan di jalan Allah?”

Rasulullah saw bersabda, تبْدأ بما أمسيتَ فيه “Belanjakanlah apapun yang kamu punya.”

Beliau (ra) bertanya, أَمِنْ كُلِّهِ أَجْمَعَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ “Apakah semuanya?”

Rasulullah saw bersabda, نعم “Iya.”

فَخَرَجَ ابْنُ عَوْفٍ وَهُوَ يَهُمُّ بِذَلِكَ ، فَأَرْسَلَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : إِنَّ جِبْرِيلَ قَالَ : Dengan demikian Hadhrat Abdurrahman bin Auf (ra) keluar dengan tekad kuat akan mempersembahkan seluruh hartanya di jalan Allah. Beberapa saat kemudian Rasulullah saw memanggil beliau dan bersabda, “Jibril berkata, maksudnya, setelah kamu pergi, Jibril datang dan berkata, مُرِ ابْنَ عَوْفٍ فَلْيُضِفِ الضَّيْفَ ، وَلْيُطْعِمِ الْمِسْكِينَ ، وَلْيُعْطِ السَّائِلَ ، وَيَبْدَأْ بِمَنْ يَعُولُ ، فَإِنَّهُ إِذَا فَعَلَ ذَلِكَ كَانَ تَزْكِيَةَ مَا هُوَ فِيهِ ‘Sampaikan pada putra ‘Auf agar dia mengkhidmati tamu, memberi makan orang miskin, memberi orang yang minta-minta dan dahulukan membelanjakan harta pada keluarga dibanding orang lain. Kalau dia melakukan itu maka hartanya akan suci.’”[9] Hal itu artinya, “dengan harta yang suci yang sudah dibelanjakan di jalan Allah Taala, kamu tidak akan masuk surga dengan merangkak lagi melainkan dengan berjalan. Inilah kesimpulannya.”

تَصَدَّقَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِشَطْرِ مَالِهِ أَرْبَعَةِ آلَافٍ ، ثُمَّ تَصَدَّقَ بِأَرْبَعِينَ أَلْفًا ، ثُمَّ تَصَدَّقَ بِأَرْبَعِينَ أَلْفَ دِينَارٍ ، ثُمَّ حَمَلَ عَلَى خَمْسِمِائَةِ فَرَسٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ، ثُمَّ حَمَلَ عَلَى أَلِفٍ وَخَمْسِمِائَةِ رَاحِلَةٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ، وَكَانَ عَامَّةُ مَالِهِ مِنَ التِّجَارَةِ Suatu kali pernah beliau memberikan separoh harta beliau – yakni saat itu berjumlah 4.000 dirham – di jalan Allah Taala. Kemudian pada kesempatan lain beliau mendermakan 40.000 dirham. Selanjutnya, beliau menyumbangkan 40.000 dinar di jalan Allah Taala. Suatu kali beliau mewakafkan 500 kuda di jalan Allah. Kemudian beliau beliau mempersembahkan 500 unta di jalan Allah.[10]

Putra Hadhrat Abdurrahman bin Auf (ra) yang bernama Abu Salamah (أبو سلَمةَ بنُ عبدِ الرَّحمنِ بنِ عَوفٍ) meriwayatkan, أَنَّ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ عَوْفٍ، أَوْصَى بِحَدِيقَةٍ لأُمَّهَاتِ الْمُؤْمِنِينَ بِيعَتْ بِأَرْبَعِمِائَةِ أَلْفٍ “Ayah kami mewasiyatkan sebuah kebun untuk Ummahaatul Mukminin. Harga kebun itu 400.000 dirham.”[11]

أوصى عبد الرّحمن بن عوف في السبيل بخمسين ألف دينار Hadhrat Abdurrahman bin Auf (ra) mewasiyatkan 50.000 dinar untuk diberikan di jalan Allah. تَرَكَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ أَلْفَ بَعِيرٍ وَثَلاثَةَ آلافِ شَاةٍ بِالْبَقِيعِ وَمِائَةَ فَرَسٍ تَرْعَى بِالْبَقِيعِ. وَكَانَ يَزْرَعُ بِالْجُرُفِ عَلَى عِشْرِينَ نَاضِحًا. وَكَانَ يُدْخِلُ قُوتَ أَهْلِهِ مِنْ ذَلِكَ سَنَةً Harta peninggalan beliau terdiri dari 1000 unta, 3.000 kambing dan 100 kuda. Semuanya dipelihara di Baqi’. Di Juruf – yang berada 3 mil di arah utara Madinah yang di situ ada harta (properti) Hadhrat Umar – beliau (Hadhrat Abdurrahman bin Auf ra) bercocok tanam di lahan yang dibajak dengan 20 unta dan dari situlah kebutuhan gandum keluarga beliau selama setahun dipenuhi.[12]

Dalam sebuah riwayat diceritakan, إنَّ عَبدَ الرَّحمنِ بنَ عَوفٍ تُوُفِّيَ ، وكانَ فيما تَرَكَ ذَهَبٌ ؛ قُطِّعَ بِالفُؤوسِ حَتّى مَجِلَت أيدِي الرِّجالِ مِنهُ “Hadhrat Abdurrahman bin Auf (ra) saat wafat meninggalkan warisan emas sedemikian rupa yang untuk membaginya harus dipotong-potong dengan kapak sampai-sampai tangan orang-orang kapalan karena memotongnya.”[13]

Hadhrat Abdurrahman bin Auf (ra) wafat pada 31 hijriyah. Menurut sebagian orang pada 32 hijri. Beliau berumur 72 tahun. Menurut sebagian orang 78 tahun. Beliau dimakamkan di jannatul Baqi’. Hadhrat Utsman (ra) mengimami shalat jenazah beliau. Menurut salah satu riwayat lain, Hadhrat Zubair bin Awwam (ra) yang mengimami shalat jenazah beliau.

Pada kewafatan Hadhrat Abdurrahman bin Auf ra, Hadhrat Sa’d bin Malik (سعدَ بن مالك) berdiri di dekat dipan tempat Hadhrat Abdurrahman bin Auf (ra) disemayamkan dan berkata, واجبلاه yang artinya “Sayang sekali kita kehilangan seorang yang memiliki kepribadian seperti gunung.”

Terkait:   Kisah Sahabat: Mu'adz bin al-Harits, Sosok Pembunuh Abu Jahal

Hadhrat Ali (ra) bersabda, اذْهَبِ ابْنِ عَوْفٍ فَقَدْ أَدْرَكْتَ صَفْوَهَا ، وَسَبَقْتَ رَنْقَهَا “Putra Auf telah pergi dari dunia ini dalam keadaan telah meminum air yang bersih (suci) di dunia ini dan meninggalkan air yang kotor.” Atau dengan kata lain, “Ibnu Auf telah mendapati masa yang baik dan pergi sebelum datangnya masa buruk.”[14]

Hadhrat Abdurrahman bin Auf (ra) meninggalkan 3 istri. Setiap istri mendapat warisan 1/8 bagian dari total harta beliau yang mana masing-masing mendapatkan 80 ribu dirham. Di riwayat lain tertulis bahwa beliau memiliki 4 istri dan setiap istri mendapatkan 80 ribu dirham.

Sekarang sahabat selanjutnya adalah Hadhrat Sa’d bin Mu’adz (سَعْد بن مُعَاذ بن النُّعْمَان) radhiyAllahu ta’ala ‘anhu. Hadhrat Sa’d bin Mu’adz (ra) berasal dari kaum Anshar salah satu kabilah Aus, ranting Banu Abdul Asyhal dan beliau adalah pemimpin kabilah. Ayahanda beliau bernama Mu’adz bin Nu’man dan ibunda beliau bernama Kabsyah binti Rafi’ (كبشة بنت رافع بن معاوية بن عبيد بن الأبجر). Ibunda beliau adalah sahabiyah Rasulullah saw.[15]

Hadhrat Sa’d bin Mu’adz dipanggil Abu Amru al-Anshari (أَبو عمرو الأَنصاري). Istri beliau bernama Hindun binti Simaak (هند بنت سماك بن عتيك) yang juga merupakan sahabiyah.[16] Anak-anak Hadhrat Sa’d bin Mu’adz (ra) yang terlahir dari Hadhrat Hindun adalah Amru dan Abdullah.

Hadhrat Sa’d bin Mu’adz (ra) dan Hadhrat Usaid bin Hudhair (أسيد بن الحضير) (ra) menerima Islam di tangan Hadhrat Mush’ab bin Umair ra. Hadhrat Mush’ab bin Umair datang ke Madinah sebelum 70 sahabah baiat pada baiat Aqabah kedua. Sesuai dengan petunjuk Rasulullah saw beliau (ra) dikirim ke Madinah untuk menyeru orang pada Islam dan mengajarkan mereka Quran.

Ketika Hadhrat Sa’d bin Mu’adz (ra) menerima Islam maka beliau berkata pada Banu Abdul Asyhal, كَلَامُ رِجَالِكُمْ وَنِسَائِكُمْ عَلَيَّ حَرَامٌ حَتَّى تُسْلِمُوا “Haram bagiku berbicara pada laki-laki dan perempuan diantara kalian sebelum kalian menerima Islam.” Dengan demikian seluruh anggota kabilah itu menerima Islam. Dari antara kaum Anshar Banu Abdul Asyhal adalah kabilah pertama yang seluruh anggotanya baik laki-laki maupun perempuan menerima Islam.

Hadhrat Sa’d bin Mu’adz (ra) membawa Hadhrat Mush’ab bin Umair (ra) dan Hadhrat As’ad bin Zararah ke rumahnya. Mereka berdua menyampaikan tabligh kepada orang-orang supaya masuk Islam di rumah Hadhrat Sa’d bin Mu’adz ra. Hadhrat Sa’d bin Mu’adz (ra) dan Hadhrat As’ad bin Zararah adalah sepupu dari jalur ibu (ibu mereka adik-kakak).[17] Hadhrat Sa’d bin Mu’adz (ra) dan Hadhrat Usaid bin Hudhair menghancurkan berhala-berhala Banu Asyhal. Mereka satu keluarga, oleh sebab itulah mereka menghancurkan berhala-berhala mereka setelah semua kabilah masuk Islam. Rasulullah saw menjalin persaudaraan (muwakhat) antara Hadhrat Sa’d bin Mu’adz (ra) dan Hadhrat Sa’ad in Abi Waqqash ra. Menurut riwayat lain beliau ber-muwakhat dengan Hadhrat Abu Ubaidah bin Jarrah ra.[18]

Berkaitan dengan peristiwa masuk islamnya Hadhrat Sa’d bin Mu’adz ra, Hadhrat Mirza Basyir Ahmad (ra) menulis dalam Sirat Khaataman Nabiyyin, “Setelah Baiat Aqabah ula (yang pertama), ketika meninggalkan Makkah, 12 muallaf itu memohon supaya dikirimkan seorang muallim bersama mereka yang akan mengajarkan Islam kepada mereka dan menyampaikan tabligh Islam kepada saudara-saudara yang masih musyrik. Nabi (saw) pun mengutus Mush’ab bin Umair, seorang pemuda yang sangat berdedikasi dari kabilah Abdud Daar. Pada masa itu para Da’i (Muballigh) Islam disebut dengan nama Qari (jamaknya Qurra) atau Muqri karena kebanyakan tugas mereka adalah memperdengarkan Al-Quran. Hal itu kewajiban terpenting mereka dan merupakan cara terbaik dalam bertabligh. Mush’ab kemudian pergi ke Yatsrib (Madinah). Di Yatsrib beliau dikenal dengan sebutan Muqri.

Sesampainya di Madinah, Hadhrat Mush’ab bin Umair (ra) tinggal di rumah As’ad bin Zurarah yang merupakan Muslim pertama di Madinah dan memang beliau seorang sahabat yang sangat setia dan berpengaruh. Beliau menjadikan rumah tersebut sebagai pusat pertablighan dan sibuk dalam mengemban tanggung jawabnya. Karena di Madinah umat Islam dapat hidup bersama dan lebih damai sehingga atas usulan As’ad bin Zurarah, Nabi (saw) memerintahkan Mush’ab bin Umair untuk memimpin shalat Jumat. Dengan demikian dimulailah kehidupan umat Muslim yang berjamaah.

Dengan karunia Allah Ta’ala dalam jangan waktu yang singkat, Islam mulai dikenal di kalangan penduduk sehingga kabilah Aus dan Khazraj masuk Islam dengan pesatnya. Dalam beberapa kejadian ada juga suatu kabilah yang baiat masuk Islam secara keseluruhan dalam satu hari sebagaimana kabilah banu Asyhal yang baiat secara serempak. Kabilah Banu Asyhal merupakan bagian khusus dari kabilah Aus yang merupakan golongan Anshar yang terkenal. Kabilah ini dipimpin oleh Sa’d bin Mu’adz yang tidak hanya pemimpin tertinggi kabilah Banu Abdul Asyhal, bahkan pemimpin kabilah Aus juga.

Ketika Islam menyebar di Madinah, Sa’d bin Mu’adz kecewa dan ingin menghentikannya. (Sebelum baiat masuk Islam, Sa’d bin Mu’adz adalah seorang penentang keras Islam) namun ia memiliki ikatan kekerabatan yang dekat dengan dengan As’ad bin Zurarah yakni saudara sepupu. As’ad sudah baiat masuk Islam sehingga membuat Sa’d bin Mu’adz sendiri secara langsung tertahan untuk ikut campur supaya tidak terjadi ketidaknyamanan. Karena itu, beliau katakan kepada kerabat lainnya Usaid bin Al-Hudhair, ‘Saya merasa enggan untuk berhadapan dan berbicara langsung dengan As’ad bin Zurarah’, karena ia sudah masuk Islam dan menyertai Mush’ab untuk bertabligh, ‘Tetapi, kamu (Usaid) saja yang menghentikan Mush’ab’, bukannya menghentikan As’ad bin Zurarah, mereka berkeputusan untuk menghentikan saja Mush’ab agar, ‘tidak menyebarkan kesesatan di kalangan orang-orang kita. Katakan juga pada Asad bahwa cara-cara yang ditempuhnya ini tidak benar.’

Usaid merupakan salah satu pemuka pada kabilah Abdul Asyhal, ayahnya pun pernah memimpin kabilah Aus pada perang Bu’ats dan setelah Sa’d bin Muadz, Usaid bin Hudair memiliki pengaruh besar dalam kabilahnya. Atas perintah Sa’d ia pergi menemui Mush’ab bin Umair dan As’ad bin Zurarah. Dengan nada marah ia berkata kepada Mush’ab, ‘Kenapa kamu menyesatkan orang-orangku dari agamanya?! Hentikanlah ini, jika tidak, akibatnya tidak akan baik.’

Sebelum Mush’ab menjawab, As’ad berkata dengan suara pelan kepada Mush’ab, ‘Orang ini seorang pemimpin yang sangat berpengaruh di kabilahnya, berbicaralah dengan sopan dan lembut padanya.’

Mush’ab lalu berbicara kepada Usaid dengan penuh santun, ‘Anda tidak perlu marah, silahkan tuan duduk sejenak dan mohon dengarkan dulu penjelasan kami dengan kepala dingin setelah itu silahkan tuan menyampaikan pendapatnya nanti.’

Usaid (yang berfitrat baik) menganggap ucapannya benar lalu duduk. Mush’ab lalu memperdengarkan Al-Qur’an kepadanya dan menjelaskan ajaran Islam dengan penuh simpatik. Hal itu sedemikian rupa berkesan bagi Usaid sehingga saat itu juga ia menyatakan baiat masuk Islam.

Usaid berkata, ‘Ada lagi seseorang yang jika ia beriman maka semua penduduk kabilah kami akan ikut baiat semuanya, tunggu saja, akan saya ajak kemari orang itu.’

Usaid pun beranjak pergi dan mengutus Sa’d bin Muadz kepada Mush’ab bin Umair dan As’ad bin Zurarah dengan suatu alasan.

Datanglah Sa’d bin Muadz lalu berkata kepada As’ad bin Zurarah dengan nada marah, ‘Coba lihat As’ad! Kamu menyalahgunakan kekerabatan, tidaklah benar saat ini saya diam karena ada ikatan kekerabatan, namun jangan salahgunakan kekerabatan ini.’

Mendengar itu Mush’ab mendinginkannya lagi dengan lembut seperti sebelumnya. Ia berkata, ‘Silahkan Anda duduk sekejap. Mohon dengarkan dulu penjelasan saya. Jika dari penyampaian saya nanti ada yang harus dibantah silahkan sampaikan.’

Sa’d berkata, ‘Baiklah ada benarnya juga.’

Beliau lalu menyandarkan senjatanya. Seperti sebelumnya, Mush’ab menilawatkan Al-Qur’an lalu menjelaskan prinsip Islami dengan cara yang menarik.

Tidak lama setelah berlangsung pembicaraan Sa’d bin Mu’adz yakin. Seperti yang disunnahkan beliau lalu membasuh tubuh dan membaca kalimah syahadat. Kemudian, kedua orang itu (Sa’d bin Mu’adz dan Usaid bin Hudhair) bersama-sama pergi menemui kabilahnya. Mereka bertanya dengan gaya orang Arab kepada penduduknya: ‘Wahai Bani Abdul Asyhal, apa yang kalian ketahui mengenai diriku?’

Semuanya serempak mengatakan, ‘Anda adalah pemimpin kami dan keturunan pemimpin kami. Kami yakin sepenuhnya pada apa yang anda katakan.’

Sa’d berkata: ‘Kalian tidak memiliki hubungan apa-apa denganku sebelum kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.’

Setelah itu Sa’d menjelaskan prinsip Islam kepada mereka. Belum saja masuk waktu sore, semua penduduk kabilahnya baiat masuk Islam. Sa’d dan Usaid (ra) menghancurkan patung berhala dengan tangan mereka sendiri.

Sa’d bin Muadz dan Usaid bin Hudhair yang pada saat itu telah baiat termasuk sahabat terkemuka, terlebih di kalangan Anshar, tidak diragukan lagi beliau-beliau memiliki maqam yang tinggi.”

Hadhrat Mirza Bashir Ahmad Sahib (ra) lebih lanjut menulis, “Secara khusus Sa’d bin Muadz memiliki kedudukan tinggi di kalangan Anshar Madinah sebagaimana yang didapatkan oleh Hadhrat Abu Bakr di kalangan Muhajirin Makkah. Pemuda ini sangat mukhlis, sangat setia dan rela berkorban bagi pendiri Islam dan pecinta beliau (saw). Dikarenakan beliau merupakan pemimpin tertinggi dalam kabilahnya, beliau juga sangat cerdas. Dalam Islam beliau mendapatkan maqam (kedudukan) khusus seperti itu yang bahkan tidak diperoleh mereka yang tergolong sahabat yang sangat istimewa.”

Hadhrat Mirza Bashir Ahmad menulis: “Tidak diragukan lagi kata-kata yang keluar dari Nabi Muhammad (saw) atas kewafatan Hadhrat Sa’d bin Mu’adz pada masa muda ialah, اهْتَزَّ عَرْشُ الرَّحْمَنِ لِمَوْتِ سَعْدِ بْنِ مُعَاذٍ ‘Kewafatan Sa’d bin Mu’adz telah menggetarkan arasy Sang Maha Rahman’[19], berdasarkan suatu kebenaran yang dalam.

Alhasil, Islam menyebar dengan pesatnya di kalangan kabilah Aus dan Khazraj. Orang-orang Yahudi melihat keadaan tersebut dengan pandangan yang penuh kecemasan. Dalam hati mereka mengatakan, ‘Entahlah apa yang akan terjadi nanti.’”

Hadhrat Mirza Bashir Ahmad menulis lebih lanjut dalam Sirat Khatamun Nabiyyin, “Belum lama waktu berlalu sejak tibanya Rasulullah di Madinah, Abdullah Bin Ubay Bin Salul pemimpin kabilah Khazraj dan kawan-kawan musyriknya menerima surat dari Quraisy Makkah yang mengatakan, ‘Kalian lepaskanlah perlindungan kalian kepada Muhammad (saw). Jika tidak, kalian tidak akan selamat.’

Surat tersebut berisi sebagai berikut, إِنَّكُمْ آوَيْتُمْ صَاحِبَنَا وَإِنَّا نُقْسِمُ بِاللَّهِ لَتُقَاتِلُنَّهُ أَوْ لَتُخْرِجُنَّهُ أَوْ لَنَسِيرَنَّ إِلَيْكُمْ بِأَجْمَعِنَا حَتَّى نَقْتُلَ مُقَاتِلَتَكُمْ وَنَسْتَبِيحَ نِسَاءَكُمْ ‘Kalian telah memberikan perlindungan kepada pria kami. Kami bersumpah, jika kalian tidak melepaskan perlindungan kepada Muhammad dan tidak bertempur dengannya, sekurang-kurangnya kalian harus mengusirnya dari kota kalian. Jika tidak, lasykar kami akan menggempur kalian. Kami akan membunuh semua pria kalian dan menawan para wanita kalian dan memanfaatkannya.’[20]

Ketika surat tersebut sampai di Madinah, Abdullah Bin Ubay Bin Salul dan kawan-kawannya yang sejak sebelumnya sudah memendam permusuhan kepada Islam dan Rasulullah (saw) bersiap untuk berperang melawan Rasulullah (saw). Ketika Rasulullah (saw) mengetahui kabar tersebut, beliau (saw) segera menemui orang-orang itu lalu menasihati Abdullah Bin Ubay Bin Salul dan kawan-kawannya, لَقَدْ بَلَغَ وَعِيدُ قُرَيْشٍ مِنْكُمُ الْمَبَالِغَ مَا كَانَتْ تَكِيدُكُمْ بِأَكْثَرَ مِمَّا تُرِيدُونَ أَنْ تَكِيدُوا بِهِ أَنْفُسَكُمْ تُرِيدُونَ أَنْ تُقَاتِلُوا أَبْنَاءَكُمْ وَإِخْوَانَكُمْ ‘Jika kalian berperang dengan kami maka kalian akan mengalami kerugian sendiri karena kalian akan berperang melawan saudara saudara kalian sendiri.’[21] Hal itu artinya, ‘Orang-orang yang masuk Islam ini berasal dari kabilah kamu juga sehingga jika kalian berperang dengan kami maka merekalah yang akan menghadapi kalian yakni dari kabilah Aus dan Khazraj. Dengan demikian, berperang melawan saya artinya kalian berperang dengan saudara, anak dan bapak-bapak kalian sendiri.’

Abdullah dan kawan kawannya yang masih ingat dengan baik bagaimana kehancuran yang menimpa paska perang Bu’ats yaitu mereka pernah saling bertempur satu sama lain dan mengalami kehancuran yang parah karenanya. Mereka paham bahwa hal itu sama saja dengan bertempur dengan sesama. Akhirnya mereka menghentikan rencananya.

Ketika Quraisy gagal dari upaya tersebut, setelah berlalu beberapa masa mereka mengirimkan surat serupa kepada Yahudi Madinah. Sebenarnya tujuan dari Kuffar Makkah adalah bagaimanapun caranya untuk dapat menghancurkan Islam sampai ke akar-akarnya. Karena sudah sedemikian rupa menderita sehingga umat Islam hijrah ke Habsyah dari Makkah, yakni hijrah yang pertama. Namun Quraisy pun tetap membuntuti umat Islam yang hijrah. Alhasil, Kuffar Quraisy selalu berusaha sejak permulaan dan berupaya sekuat tenaga supaya Najasyi raja Habsyah menyerahkan umat Islam yang teraniaya dan tidak berdaya itu kepada mereka. Kemudian, setelah Rasul hijrah dari Makkah ke Madinah, Quraisy tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk dapat menangkap Rasulullah. Dalam setiap kesempatan mereka berupaya untuk sebisa mungkin dapat menghancurkan Rasulullah atau Islam.

Terkait:   Keteladanan Para Sahabat Rasulullah (saw) -Muhammad bin Maslamah ra

Ketika mereka mengetahui bahwa Rasulullah dan para sahabat telah tiba di Madinah dan Islam menyebar di Madinah dengan pesatnya, mereka membuat rencana dengan menulis surat kepada penduduk Madinah menghasut untuk berperang melawan Rasulullah dan menghancurkan Islam atau untuk melepaskan perlindungan mereka kepada Rasulullah dan mengusir Rasul dari Madinah.

 Dari surat tersebut tergambar bagamana tradisi Arab pada masa itu dimana dalam peperagan mereka menghabisi kaum pria dan menahan wanitanya dan memanfaatkanya untuk diri mereka. Lebih dari itu makar mereka berkenaan dengan Islam lebih berbahaya lagi karena hukuman yang mereka ancamkan bagi pihak yang melindungi umat Muslim pun sudah seperti itu dan mengancam akan menghabisi kaum pria dan menawan para wanitanya, terlebih kekejaman yang akan mereka timpakan kepada umat Muslim, tentunya lebih kejam lagi dari itu. Pendek kata, surat dari Quraisy itu bukanlah akibat dari gejolak amarah yang sementara melainkan sudah bertekad sepenuhnya untuk tidak membiarkan umat Muslim dapat duduk dengan tenang dan akan menghapuskan nama Islam dari dunia ini.”

Hal demikian sebagaimana Hadhrat Mirza Bashir Ahmad menulis suatu kejadian di dalam buku beliau, “Kejadian-kejadian bersejarah yang terjadi setelahnya memberitahukan bagaimana rencana dan tekad kaum Quraisy Makkah untuk melakukan penumpahan darah umat Muslim. Rincian kisahnya terdapat dalam Shahih al-Bukhari bahwa selang beberapa masa setelah hijrah, Sa’d Bin Muadz yang merupakan pemimpin tertinggi kabilah Aus dan sudah baiat masuk Islam pergi ke Makkah untuk melaksanakan Umrah. Hadhrat Sa’d menginap di rumah Umayyah seorang pemuka Makkah dan juga sahabat lama pada zaman jahiliyah. Karena beliau mengetahui penduduk Makkah pasti akan mengganggu beliau di sana jika beliau melakukan umrah sendiri maka supaya terhindar dari keributan, Hadhrat Sa’d mengatakan kepada Umayyah, ‘Saya ingin Umrah di Ka’bah, kamu tentukanlah waktu supaya saya dapat umrah sendiri dengan tenang dan ikutlah bersama saya. Setelah selesai umrah nanti saya akan kembali ke kampung halaman.’

Pada siang harinya Umayyah Bin Khalf mengajak Sa’d ke Kabah ketika pada umumnya orang-orang sedang beristirahat di rumahnya masing-masing. Namun kebetulan Abu Jahl datang pada saat itu dan ketika pandangannya tertuju kepada Hadhrat Sa’d, amarah bergejolak dalam diri Abu Jahl. Namun ia berusaha menahan amarahnya lalu bertanya kepada Umayyah, ‘Wahai Abu Shafwan! Siapa orang yang bersamamu ini?’

Umayyah berkata, ‘Dia adalah Sa’d Bin Muadz pemimpin kabilah Aus.’

Saat itu Abu Jahl naik pitam dan berkata kepada Hadhrat Sa’d, ‘Apakah kalian beranggapan setelah murtad dan memberikan perlindungan kepada Muhammad Saw (Nauzubillah), kalian akan dapat bertawaf dengan aman? Apakah kalian beranggapan bahwa kalian mampu untuk melindungi dan menolong Muhammad Saw? Demi Tuhan! Jika saat ini Abu Shafwan Umayyah bin Khalf tidak menyertaimu, kamu pasti tidak akan dapat pulang dengan selamat.’

Hadhrat Sa’d terhindar dari kerusuhan saat itu, namun dalam urat nadi beliau mengalir darah pemimpin dan dalam hati beliau dipenuhi dengan gejolak semangat keimanan. Hadhrat Sa’d berbicara dengan suara lantang, “Demi Tuhan! Jika kamu menghalangiku dari Ka’bah, ingatlah, kamu tidak akan dapat memasuki jalan menuju Syam dengan aman, karena kami-lah yang menjaga jalan tersebut dan dapat melakukan banyak hal untuk menghadapimu.”

Melihat Hadhrat Sa’d menimpali ucapan Abu Jahl, Umayyah berkata, ‘Sa’d janganlah bersuara tinggi seperti itu ketika berbicara kepada Abul Hakam karena dia adalah pemimpin lembah ini.’

Sa’d menjawab, ‘Biarkan Umayyah! Kamu tidak perlu ikut campur. Demi Tuhan! Saya tidak lupa dengan nubutan Rasulullah (saw) bahwa kamu akan terbunuh di tangan orang Muslim.’

Mendengar kabar tersebut Umayyah sangat ketakutan dan sepulangnya ke rumah, ia mengabarkan ucapan Sa’d tadi kepada istrinya. Ia berkata, ‘Demi Tuhan! Saya tidak akan pergi dari Makkah untuk melawan umat Islam.’”[22]

Umayyah merasa yakin dengan ucapan Rasulullah dan memang ucapan Muhammad selalu tergenapi. Begitupun mengenaiku juga akan tergenapi. Namun catatan taqdir memang akan tergenapi. Pada hari Badr, Umayyah terpaksa berangkat dari Makkah. Di sanalah ia mati di tangan umat Islam dan sampai pada hukumannya. Umayyah ini adalah orang yang dulu selalu menyiksa Hadhrat Bilal karena telah masuk Islam.”[23]

Dalam riwayat Sahih Bukhari dijelaskan sebagai berikut, Hadhrat Abdullah Bin Mas’ud meriwayatkan, “Hadhrat Sa’d bin Mu’adz berangkat dari Madinah untuk melaksanakan Umrah di Makkah. Beliau menginap di rumah kawan lamanya, Umayyah bin Khalf. Begitu juga ketika Umayyah hendak melakukan perjalanan ke Syam dan melewati kota Madinah, dia pun singgah di rumah Sa’d.

Hadhrat Sa’d pun ketika umrah berpikir untuk menginap di rumah Umayyah supaya dapat Umrah dengan aman. Ketika Hadhrat Sa’d menyampaikan keinginannya untuk umrah, Umayyah berkata, ‘Tunggulah! Nanti ketika sudah siang dan orang orang tengah beristirahat di rumahnya, silahkan kamu tawaf nanti.’

Ketika Hadhrat Sa’d tengah tawaf, ternyata datang Abu Jahl. Abu Jahl bertanya, ‘Siapa orang ini?’

Hadhrat Sa’d berkata, أَنَا سَعْدٌ ‘Saya Sa’d.’ (beliau menjawab sendiri)

Abu Jahl berkata, تَطُوفُ بِالْكَعْبَةِ آمِنًا، وَقَدْ آوَيْتُمْ مُحَمَّدًا وَأَصْحَابَهُ ‘Apakah kamu akan tawaf di Kabah dengan aman, padahal kamu telah memberikan perlindungan kepada Muhammad.’

Hadhrat Sa’d berkata, نَعَمْ ‘Ya.’

فَتَلاَحَيَا بَيْنَهُمَا Keduanya lalu saling berselisih.

Umayyah berkata kepada Hadhrat Sa’d, لاَ تَرْفَعْ صَوْتَكَ عَلَى أَبِي الْحَكَمِ، فَإِنَّهُ سَيِّدُ أَهْلِ الْوَادِي ‘Janganlah kamu meninggikan suaramu di depan Abul Hakam, karena ia adalah pemimpin lembah.’

Hadhrat Sa’d berkata, وَاللَّهِ لَئِنْ مَنَعْتَنِي أَنْ أَطُوفَ بِالْبَيْتِ لأَقْطَعَنَّ مَتْجَرَكَ بِالشَّأْمِ ‘Demi Tuhan! Jika kamu melarangku dari tawaf di Baitullah maka aku pun akan menghentikan perdagangan kamu di negeri Syam.’

Mendengar hal itu, Umayyah terus berkata kepada Hadhrat Sa’d, لاَ تَرْفَعْ صَوْتَكَ ‘Jangan tinggikan suaramu di depannya.’

Hadhrat Sa’d sedang emosi dan berkata, دَعْنَا عَنْكَ، فَإِنِّي سَمِعْتُ مُحَمَّدًا صلى الله عليه وسلم يَزْعُمُ أَنَّهُ قَاتِلُكَ ‘Biarkan kami, saya pernah mendengar Rasulullah (saw) berkata bahwa dia (Abu Jahl)-lah yang akan menyebabkan kamu terbunuh.’ Yakni Abu Jahl akan menjadi perantara terbunuhnya Umayyah.

Umayyah bertanya, إِيَّاىَ ‘Saya?’

Hadhrat Sa’d berkata, نَعَمْ ‘Ya!’

Mendengar itu Umayyah berkata, وَاللَّهِ مَا يَكْذِبُ مُحَمَّدٌ إِذَا حَدَّثَ ‘Demi Tuhan! Jika Muhammad mengatakan sesuatu, tidak pernah dusta.’

فَرَجَعَ إِلَى امْرَأَتِهِ، فَقَالَ Umayyah lalu pulang ke rumahnya dan berkata kepada istrinya, أَمَا ذَكَرْتَ مَا قَالَ لَكَ أَخُوكَ الْيَثْرِبِي ‘Tahukah kamu apa yang dikatakan oleh sauadaraku dari Yatsrib (Madinah) itu padaku?’

Istrinya berkata, ‘Apa yang ia katakan?’

Umayyah berkata, ‘Dia pernah mendengar dari Muhammad Saw bahwa Abu Jahl lah yang akan menyadi penyebab terbunuhku.’

Istrinya berkata, فَوَاللَّهِ مَا يَكْذِبُ مُحَمَّدٌ ‘Demi Tuhan! Muhammad tidak pernah meleset ucapannya.’

Hadhrat Abdullah Bin Mas’ud meriwayatkan, “Ketika Umayyah akan berangkat ke Badr dan ada orang yang datang meminta bantuan, istri Umayyah kepada Umayyah, ‘Tidakkah kamu ingat dengan ucapan saudaramu dari Yatsrib (Madinah) padamu?’

Umayyah ingin untuk tidak pergi ke Badr. Namun Abu Jahl berkata pada Umayyah, إِنَّكَ مِنْ أَشْرَافِ الْوَادِي، فَسِرْ يَوْمًا أَوْ يَوْمَيْنِ، فَسَارَ مَعَهُمْ فَقَتَلَهُ اللَّهُ ‘Kamu adalah salah seorang pemimpin lembah ini, berangkatlah walaupun untuk satu dua hari.’

Umayyah pun pergi untuk satu dua hari saja dan akhirnya Allah Ta’ala telah membuatnya terbunuh.”[24]

Dalam riwayat lainnya berkenaan dengan keikutsertaan dan terbunuhnya Umayyah dalam perang Badr. Hadhrat Sa’d berkata, يَا أُمَيَّةُ فَوَاللَّهِ لَقَدْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّهُمْ قَاتِلُوكَ ‘Wahai Umayyah! Demi Tuhan, aku pernah mendengar Rasulullah (saw) mengatakan bahwa mereka – yaitu para sahabat – akan membunuhmu.’

Umayyah bertanya, بِمَكَّةَ ‘Di Makkah?’

Hadhrat Sa’d berkata, لاَ أَدْرِي ‘Saya tidak tahu.’

فَفَزِعَ لِذَلِكَ أُمَيَّةُ فَزَعًا شَدِيدًا، فَلَمَّا رَجَعَ أُمَيَّةُ إِلَى أَهْلِهِ قَالَ Mendengar hal itu Umayyah sangat ketakutan. Sesampainya di rumah, ia mengatakan kepada istrinya, Safiyah atau Karimah Binti Muammar, يَا أُمَّ صَفْوَانَ، أَلَمْ تَرَىْ مَا قَالَ لِي سَعْدٌ ‘Wahai Ummu Shafwan! Engkau telah mendengar perkataan Sa’d berkenaan denganku?’

Istrinya berkata, وَمَا قَالَ لَكَ ‘Kenapa? Apa yang dikatakannya?’

Umayyah berkata, زَعَمَ أَنَّ مُحَمَّدًا أَخْبَرَهُمْ أَنَّهُمْ قَاتِلِيَّ ‘Ia mendengar Muhammad pernah berkata padanya bahwa mereka akan membunuhku.’

Saya (Umayyah) bertanya, ‘Di Makkah?’

Sa’d menjawab, ‘Tidak tahu.’

Umayyah berkata, وَاللَّهِ لاَ أَخْرُجُ مِنْ مَكَّةَ ‘Demi Tuhan, sekali-kali saya tidak akan pergi dari Makkah.’

Umayyah sudah begitu ketakutan. فَلَمَّا كَانَ يَوْمَ بَدْرٍ اسْتَنْفَرَ أَبُو جَهْلٍ النَّاسَ قَالَ أَدْرِكُوا عِيرَكُمْ‏.‏ فَكَرِهَ أُمَيَّةُ أَنْ يَخْرُجَ Ketika terjadi perang Badr, Abu Jahl memerintahkan orang-orang untuk pergi berperang ke Badr. Berkata juga kepada Umayyah, ‘Pergilah kamu untuk menyelamatkan kafilahmu.’ Umayyah enggan untuk pergi. Setelah Umayyah menolak untuk pergi kepada utusan yang dikirim oleh Abu Jahl lalu Abu Jahl menemuinya langsung dan berkata, يَا أَبَا صَفْوَانَ، إِنَّكَ مَتَى مَا يَرَاكَ النَّاسُ قَدْ تَخَلَّفْتَ وَأَنْتَ سَيِّدُ أَهْلِ الْوَادِي تَخَلَّفُوا مَعَكَ ‘Wahai Abu Shafwan, ketika orang-orang melihatmu nanti bahwa kamu tidak ikut perang, padahal kamu adalah pemimpin lembah maka merekapun akan ikut-ikutan untuk tidak berangkat sepertimu.’ Abu Jahl menasihatinya.

Akhirnya, Umayyah mengatakan, أَمَّا إِذْ غَلَبْتَنِي، فَوَاللَّهِ لأَشْتَرِيَنَّ أَجْوَدَ بَعِيرٍ بِمَكَّةَ ‘Jika kamu tetap memaksa, demi Tuhan, saya akan membeli unta yang bagus di Makkah.’

Umayyah berkata pada istrinya, يَا أُمَّ صَفْوَانَ جَهِّزِينِي ‘Ummu Shafwan! Siapkan perlengkapanku.’

Istrinya berkata, يَا أَبَا صَفْوَانَ وَقَدْ نَسِيتَ مَا قَالَ لَكَ أَخُوكَ الْيَثْرِبِيُّ ‘Apakah kamu lupa apa yang dikatakan oleh saudaramu dari Yatsrib itu?’

Ia menjawab, لاَ، مَا أُرِيدُ أَنْ أَجُوزَ مَعَهُمْ إِلاَّ قَرِيبًا ‘Saya tidak lupa. Saya ingin pergi tidak terlalu jauh dengan mereka lalu pulang lagi. Setelah itu saya tidak akan pergi lagi.’

Ketika Umayyah pergi, dimanapun ia berhenti, ia mengikat lutut untanya. Ia terus berhati hati sampai akhirnya Allah membinasakannya di Badr.”[25]

Berkenaan dengan pembunuhan Umayyah bin Khalf pernah saya sampaikan sebelumnya pada khotbah yang lalu dalam topik Hadhrat Abdurrahman Bin Auf. Hadhrat Bilal memanggil orang-orang Anshar untuk membunuhnya disebabkan oleh kezaliman yang selalu dilakukan Umayyah kepada Hadhrat Bilal waktu di Makkah.

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Berkenaan dengan seorang pemimpin Madinah bernama Sa’d Bin Muadz, beliau adalah pemimpin kabilah Aus. Beliau pergi ke Makkah untuk tawaf di Baitullah. Ketika Abu Jahl melihatnya, ia mengatakan kepada Hadhrat Sa’d dengan penuh emosi, ‘Apakah kalian berpikiran bahwa setelah memberi pelindungan kepada orang yang telah murtad bernama Muhammad, lantas kalian akan dapat bertawaf dengan aman di Kabah? Dan kalian beranggapan bahwa kalian mampu untuk melindungi dan menolongnya? Demi Tuhan! Jika saat ini kamu tidak disertai oleh Abu Shafwan, maka kamu tidak akan dapat pulang ke rumahmu dengan selamat.’

Sa’d Bin Muadz berkata, ‘Demi Tuhan! Jika kamu menghalangiku untuk tawaf maka ingatlah kamu pun tidak akan dapat memasuki jalan menuju Syam dengan aman.’”

Hadhrat Sa’d Bin Muadz ikut serta pada perang Badr, Uhud dan Khandaq bersama dengan Rasulullah Saw. Pada perang Badr, bendera Aus dipegang oleh Hadhrat Sa’d Bin Muadz.

Pada saat perang Badr, pernyataan gejolak rasa cinta dan kesetiaan Hadhrat Sa’d Bin Muadz kepada Rasulullah (saw) tampak dari peristiwa berikut yakni ketika beliau memberikan gagasan kepada Hadhrat Rasulullah (saw) yang mana ditulis oleh Hadhrat Mirza Bashir Ahmad dalam buku Sirat Khataman Nabiyyin sebagai berikut: “Ketika umat Muslim melewati salah satu sisi Wadi Shafra (Shafra ialah nama sebuah lembah yang terletak diantara Badr dan Madinah, dimana beliau Saw telah membagikan secara adil harta rampasan perang Badr kepada umat muslim. Di lembah tersebut dijumpai banyak pohon kurma dan ladang. Jarak antara Safra dengan Badr adalah satu marhalah), mereka sampai di Zafran – satu nama tempat yang berjarak hanya satu persinggahan lagi dari Badar – maka Nabi (saw) menerima kabar bahwa satu pasukan perang yang besar tengah datang dari Makkah untuk melindungi kafilah. Mereka melakukan itu karena curiga jangan-jangan penduduk Madinah akan menyerang kafilah dagang mereka.

Karena kabar tersebut sudah bukan rahasia lagi, Rasulullah (saw) mengumpulkan para sahabat dan mengabarkan hal tersebut. Rasul meminta musyawarah dari mereka. Beberapa sahabat mengatakan, ‘Wahai Rasul! Dengan menimbang sarana lahiriah lebih baik kita hadapi kafilah dagang yang datang nanti, kita akan lihat apa niat mereka sebenarnya apakah merupakan kafilah dagang atau ada motif lain. Kita akan melihat kondisi kafilah apakah niat mereka untuk berperang, jika iya, maka akan kita hadapi karena kafilah tidaklah besar. Namun tidak terfikir oleh kami jika dalam bentuk lasykar besar karena jika lasykar besar datang untuk berperang, kita masih belum siap sepenuhnya untuk menghadapi mereka.’

Terkait:   Tujuan Kedatangan Al-Masih yang dijanjikan

Namun Rasulullah (saw) tidak menyukai usulan tersebut. Di sisi lain setelah mendengar usulan sebelum tersebut, para sahabat terkemuka bangkit dan menyampaikan ceramah yang mencerminkan pengorbanan yang tinggi. Mereka satu demi satu mengatakan, ‘Harta dan jiwa kami adalah milik Allah Taala, kami siap dalam setiap medan pengkhidmatan.’

Al-Miqdaad bin Aswad yang memiliki nama lain Al-Miqdaad bin Amru berkata: أَبْشِرْ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَوَاللَّهِ لَا نَقُولُ لَكَ كَمَا قَالَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ لِمُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ : اذْهَبْ أَنْتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلَا إِنَّا هَاهُنَا قَاعِدُونَ ، وَلَكِنْ وَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ لَنَكُونَنَّ مِنْ بَيْنِ يَدَيْكَ ، وَمِنْ خَلْفِكَ ، وَعَنْ يَمِينِكَ ، وَعَنْ شِمَالِكَ ، أَوْ يَفْتَحُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَكَ ‘Wahai Rasulullah! Kami tidaklah seperti sahabat nabi Musa yang mengatakan kepada Hadhrat Musa: “Pergilah engkau dan Tuhan engkau berperang, kami akan duduk di sini.” Melainkan kami akan mengatakan, “Kemanapun tuan berkehendak, silahkan, kami akan berperang menyertai tuan di sebelah kiri-kanan dan di depan dan di belakang tuan.”’[26]

Setelah mendengar ucapan seperti itu wajah penuh berkat Rasulullah (saw) penuh bahagia, namun pada kesempatan itu pun beliau menunggu respon dari kalangan Anshar. Beliau ingin supaya anshar pun berbicara karena beliau beranggapan mungkin anshar menganggap bahwa berdasarkan baiat Aqabah kewajiban mereka hanya jika ada serangan ke Madinah, mereka harus menghadapinya sehingga meskipun telah disampaikan ceramah yang melambangkan jiwa rela berkorban yang disampaikan oleh kalangan Muhajirin, Rasulullah (saw) bersabda, ‘Baiklah, berikan saya masukan, apa yang harus dilakukan.’

Sa’d bin Muadz adalah seorang pemimpin kabilah Aus. Beliau memahami keinginan Rasul lalu berbicara mewakili Anshar, ‘Wahai Rasul! Mungkin tuan menanyakan pendapat kami. فَقَدْ آمَنَّا بِكَ وَصَدَّقْنَاكَ ، وَشَهِدْنَا أَنَّ مَا جِئْتَ بِهِ هُوَ الْحَقُّ ، وَأَعْطَيْنَاكَ عَلَى ذَلِكَ عُهُودَنَا وَمَوَاثِيقَنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَة، Wahai Rasulullah, kami telah beriman kepada Anda, kami percaya dan mengakui bahwa apa yang Anda bawa itu adalah hal yang benar, dan telah kami berikan pula ikrar dan janji-janji kami bahwa kami senantiasa mendengarkan kata-kata Anda dan menaatinya.’

فَامْضِ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، لِمَا أَرَدْتَ ، فَوَالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ ، إِنِ اسْتَعْرَضْتَ بِنَا هَذَا الْبَحْرَ فَخُضْتَهُ لَخُضْنَاهُ مَعَكَ ، مَا تَخَلَّفَ مِنَّا رَجُلٌ وَاحِدٌ ، ‘Maka, laksanakanlah terus ya Rasulullah apa yang Anda inginkan; kami akan selalu bersama Anda dan demi Allah yang telah mengutus Anda dengan membawa kebenaran, seandainya Anda terpaksa menghadapkan kami dengan lautan ini lalu Anda menyuruh kami menceburkan diri ke dalamnya, pastilah kami akan mencebur, tidak seorang pun dari kami yang akan mundur..’

وَمَا نَكْرَهُ أَنْ تَلْقَى بِنَا عَدُوَّنَا غَدًا . إِنَّا لَصُبُرٌ عِنْدَ الْحَرْبِ، صُدْقٌ عِنْدَ اللِّقَاءِ، لَعَلَّ اللَّهَ يُرِيكَ مِنَّا مَا تَقَرُّ بِهِ عَيْنُكَ، فَسِرْ بِنَا عَلَى بَرَكَةِ اللَّهِ ‘Dan kami tidak keberatan untuk menghadapi musuh esok pagi. Sungguh kami tabah dalam pertempuran dan teguh menghadapi perjuangan. Kami yakin betul bahwa Allah akan perlihatkan kepada Anda tindakan dari kami yang membuat mata Anda takjub. Perintahkanlah kami, wahai Rasul Allah! Niscaya kami akan pergi ke tempat mana pun Anda pergi.’[27]

Setelah mendengarkan ceramah tersebut Rasulullah (saw) sangat bahagia dan bersabda, سِيرُوا وَأَبْشِرُوا، فَإِنّ اللّهَ تَعَالَى قَدْ وَعَدَنِي إحْدَى الطّائِفَتَيْنِ وَاَللّهِ لَكَأَنّي الْآنَ أَنْظُرُ إلَى مَصَارِعِ الْقَوْمِSiiruu wa absyiruu fainnallaaha qad wa’adanii ihdath thaaifataini wallaahi laka-annii anzhur ilaa mashaari’il qoumi.’ Artinya, ‘Berderap majulah dengan menyebut nama Allah dan berbahagialah karena Allah ta’ala telah berjanji padaku bahwa Dia pasti akan memberikan kemenangan kepada kita diatas satu kelompok diantara dua kelompok kuffar yakni antara lasykar perang dan kafilah dagang. Demi Tuhan! Saat ini seolah olah saya tengah menyaksikan tempat para musuh akan mati berguguran, dan seperti itulah yang terjadi.’”[28]

Kisah ini masih berlanjut selebihnya insya Allah akan saya sampaikan pada kesempatan yang akan datang.

Khotbah II

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ

وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ

 وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ!

 إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ

يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ

أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

 Penerjemah: Mln. Mahmud Ahmad Wardi, Syahid (London, UK) dan Mln. Saifullah Mubarak Ahmad (Qadian, Bharat/India). Editor: Dildaar Ahmad Dartono. Rujukan pembanding: Website www.islamahmadiyya.net


[1] Usdul Ghaabah.

[2] As-Sirah al-Halabiyyah (السيرة الحلبية – الحلبي – ج ٢ – الصفحة ٤٢٩) atau Insanul ‘Uyuun fi Sirah al-Amin al-Ma-mun (إنسان العيون في سيرة الأمين المأمون). Buku ini karya Ali bin Ibrahim bin Ahmad al-Halabi, Abu al-Faraj, Nuruddin bin Burhanuddin al-Halabi (علي بن إبراهيم بن أحمد الحلبي، أبو الفرج، نور الدين ابن برهان الدين). Beliau seorang Sejarawan dan Adib (Sastrawan). Asal dari Halb (Aleppo, Suriah) dan wafat di Mesir pada 1044 Hijriyah.

[3] Fadhailush Shahaabah (Keutamaan para Sahabat Nabi saw) karya Ibnu Hanbal (فضائل الصحابة لابن حنبل), bahasan mengenai keutamaan Hadhrat Abdurrahman bin Auf (ra) (فَضَائِلُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ).

[4] Hilyatul Auliya

[5] Abul Hasan Nuruddin bin Abdul Hadi As-Sindi (أبو الحسن نور الدين محمد بن عبد الهادي التتوي السندي) dalam karyanya Hasyiah as-Sindi ala Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal (حاشية مسند الإمام أحمد بن حنبل) atau catatan kaki komentar dari as-Sindi terhadap Kitab Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal, bahasan (مسند العشرة المبشرين بالجنة وغيرهم) bagian mengenai (مسند عبد الرحمن بن عوف رضي الله تعالى عنه وأرضاه). Imam as-Sindi ialah seorang berasal dari Sindh (sekarang wilayah Pakistan) yang kemudian hijrah ke Madinah hingga wafatnya pada 1138 Hijriyyah (1726 M). Diantara gurunya ialah Sayyid Barzanji dan Mulla Ibrahim al-Kurani. Beliau banyak memberikan hasyiyah pada beberapa kitab, seperti Hasyiah as-Sindi ala Musnad al-Imam Ahmad bin Hanbal, Hasyiyah as-Sindi ala Shahih al-Bukhari, Hasyiyah alal fath al-Qadir, Hasyiyah alal Baidhawi, dan juga memiliki syarah atas kitab al-Adzkar li al-Nawawi. Banyak yang berguru kepada beliau, salah satunya as-Syeikh Muhammad Hayat as-Sindi.

[6] Mukhtashar Tarikh Dimasyq Ibnu Asakir (مختصر تاريخ دمشق لابن عساكر) karya Muhammad bin Mukarram bin Ali Jamaluddin Ibnu Manzhur al-Anshaari (محمد بن مكرم بن على، أبو الفضل، جمال الدين ابن منظور الانصاري الرويفعى الإفريقى (المتوفى: 711هـ)).

[7] Usdul Ghabah fi ma’rifatish shaahabah, Abdurrahman bin Auf, Darul Fikr, Beirut, 2003; Kanzul ‘Ummal, Kitab al-Fadhail, bab keutamaan shahabat, keutamaan Abdurrahman bin Auf ra, no. 36676, riwayat Anas. Di dalam Musnad Imam Ahmad Ibnu Hanbal (مسند أحمد ابن حنبل), bahasan mengenai Hadits ‘Aisyah (ra) (حَدِيثُ السَّيِّدَةِ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا), nomor 24299 disebutkan, إِنْ اسْتَطَعْتُ لَأَدْخُلَنَّهَا قَائِمًا “Supaya saya memasukinya sambil berjalan tegak.”

[8] ‘Uyuunul Akhbar (عيون الأخبار) atau Berita-Berita Pilihan karya Abu Abdullah Muhammad bin Muslim bin Qutaibah ad-Dinawari (أبو عبد الله محمد بن مسلم بن قتيبة الدينورِي) yang wafat pada276 Hijriyyah atau 889 M.

[9] Mukhtashar Tarikh Dimasyq Ibnu Asakir (مختصر تاريخ دمشق لابن عساكر) karya Muhammad bin Mukarram bin Ali Jamaluddin Ibnu Manzhur al-Anshaari (محمد بن مكرم بن على، أبو الفضل، جمال الدين ابن منظور الانصاري الرويفعى الإفريقى (المتوفى: 711هـ)).

[10] Hilyatul Auliya dan Usdul Ghaabah. Sebagai catatan, dinar ialah mata uang emas sedangkan dirham ialah mata uang perak. Dinar menjadi nama mata uang Romawi sedangkan Persia mengadopsi Dirham. Dirham Persia berasal dari Drachma Yunani yang menjadi populer setelah Alexander the Great menguasai sebagian besar Timur Tengah sekitar lebih dari 300 tahun sebelum Nabi Isa ‘alaihis salaam. 1 dinar = 10 s.d. 12 dirham. 1 Dirham setara sekitar harga seekor ayam. Harga 1 unta = 100 domba atau 16 kambing. Seekor unta yang Nabi (saw) beli dari Hadhrat Abu Bakr (ra) dihargai 400 dirham. Namun, riwayat Hadits lainnya menyebut harga unta lemah Jabir yang dia jual kepada Nabi (saw) ialah 40 dirham. Riwayat lain menyebut Hadhrat Ali (ra) menjual unta seharga 300 dirham. Harga unta standar sekitar 10 dinar atau 100 dirham. Unta merah yang dikenal kendaraan berkelas dihargai puluhan dinar bahkan lebih dari 100 dinar. Kuda bisa dikatakan sangat sedikit dimiliki umat Muslim bahkan hingga akhir masa Nabi (saw) hidup. Pengembangan peternakan kuda secara massif terjadi di masa Khilafat dan kerajaan. Harga maksimal penjualan seekor kuda paling berkelas pada masa Khilafat ialah 20.000 dirham atau 2000 dinar. Upah Fathimah putri Nabi (saw) memintal bulu 6 dirham. Kain pelana dan bejana minuman yang dijual Nabi (saw) dihargai 2 dirham. Sebuah baju Aisyah yang dikagumi kebagusannya oleh wanita Madinah dihargai 5 dirham. Maskawin Nabi (saw) kepada Khadijah ialah 20 unta atau 8.000 dirham. Sedangkan kepada 8 istri beliau (saw) masing-masing ialah 400 dirham. Harga baju zirah Ali yang dijual untuk maskawin kepada Fathimah ditaksir sekitar 480 dirham. Shahih al-Bukhari menyebut pada zaman Nabi (saw) seekor kambing dihargai antara 1 sampai 2 dinar atau 10 dirham lebih.

[11] Jami’ at-Tirmidzi, Kitab tentang Manaqib (كتاب المناقب عن رسول الله صلى الله عليه وسلم). Kitab (نزهة المجالس ومنتخب النفائس) karya (الصفوري). Tercantum juga dalam Kitab (المحلى بالآثار في شرح المجلى بالاختصار).

[12] Ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibn Sa’d.

[13] Mausu’ah Imam Ali (موسوعة الإمام عليّ بن أبي طالب (ع) في الكتاب و السُّنَّة و التّاريخ الجزء : 2 صفحة : 140) karya Syaikh Muhammad (المؤلف : المحمدي الري شهري، الشيخ محمد ).

[14] Ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibn Sa’d.

[15] Kabsyah binti Rafi bin Muawiyah bin Ubaid bin Abjar bersaudari dengan Ibu As’ad bin Zurarah, yaitu Su’da atau Fari’ah binti Rafi bin Muawiyah bin Ubaid bin Abjar (الفُريعة، بنت رافع بن معاوية بن عبيد بن الأبجر).

[16] Hindun binti Simaak bin Atik (هند بنت سماك بن عتيك) ialah bibi jalur ayah dari Usaid bin Hudhair bin Simaak bin Atik.

[17] Istilahnya dalam bahasa Arab putra bibi dari jalur saudari ibu atau ibnu khalah (ابني خالة). Bahasa Arab membedakan penamaan saudara atau saudari ibu (khal dan khalah) dengan saudara atau saudari ayah (‘amm dan ‘ammah).

[18] Ath-Thabaqaat al-Kubra karya Muhammad Ibnu Sa’d.

[19] Ṣaḥīḥ Bukhārī, Kitābu Manāqibil-Anṣār, Bābu Manāqibi Sa‘d bin Mu‘ādh ra (بَاب مَنَاقِبُ سَعْدِ بْنِ مُعَاذٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ), Ḥadīth No. 3803: عَنْ جَابِرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ

[20] Sunanu Abī Dāwūd, Kitābul-Kharāji Wal-Imārah (كتاب الخراج والإمارة والفىء), Bābu Fī Khabarin-Naḍīr (باب في خبر النضير), Ḥadīth No. 3004.

[21] Sunanu Abī Dāwūd, Kitābul-Kharāji Wal-Imārah (كتاب الخراج والإمارة والفىء), Bābu Fī Khabarin-Naḍīr (باب في خبر النضير), Ḥadīth No. 3004.

[22] Shahih al-Bukhari, Kitab al-Maghazi (كِتَاب الْمَغَازِي), Bābu Dzikrin-Nabiyyi saw May Yuqtalu Bi-Badrin (بَاب ذِكْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ يُقْتَلُ بِبَدْرٍ), Ḥadīth No. 3950.

[23] Sirah Khataman Nabiyyin oleh Hadhrat Mirza Bashir Ahmad.

[24] Shahih al-Bukhari (صحيح البخاري), Kitab tentang Manaqib (كتاب المناقب)

[25] Shahih al-Bukhari, Kitab al-Maghazi (كِتَاب الْمَغَازِي), Bābu Dzikrin-Nabiyyi saw May Yuqtalu Bi-Badrin (بَاب ذِكْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ يُقْتَلُ بِبَدْرٍ), Ḥadīth No. 3950.

[26] Hilyatul Auliya wa Thabaqatul Ashfiya (حلية الأولياء وطبقات الأصفياء ), Al-Miqdaad bin Aswad (الْمِقْدَادُ بْنُ الْأَسْوَدِ).

[27] Sirah an-Nabawiyah karya Ibnu Hisyam (السيرة النبوية (ابن هشام)), h. 421, bab ghazwah Badr al-kubra (غزوة بدر الكبرى), bab pembuktian keaslian kaum Anshar (استيثاق الرسول صلى الله عليه وسلم من أمر الأنصار) Darul Kutubil ‘Ilmiyah, Beirut, 2001.

[28] Sirah an-Nabawiyah karya Ibnu Hisyam (السيرة النبوية (ابن هشام)), h. 421, bab ghazwah Badr al-kubra (غزوة بدر الكبرى), bab pembuktian keaslian kaum Anshar (استيثاق الرسول صلى الله عليه وسلم من أمر الأنصار) Darul Kutubil ‘Ilmiyah, Beirut, 2001.