Khotbah Idul Adha 2020

khotbah idul adha mirza masroor ahmad

 KHOTBAH ĪDUL AḌḤĀ’

Hadhrat Khalifatul Masih V atba

Hari Jumat tanggal 31 Juli 2020 di Masjid Mubarak, Tilford, UK (United Kingdom of Britain/Britania Raya).

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ. (آمين)

Hari ini adalah ‘Idul Adhha yang dinamakan Īdul qurbān. Dengan segenap kesenangan dan kegembiraan orang-orang Muslim di seluruh dunia merayakannya pada hari ini dan di sebagian tempat dikarenakan perbedaan pembagian waktu, mereka akan merayakannya esok hari.

Sejak permulaan Islam orang-orang Muslim merayakan idul kurban ini sebagai bentuk pelestarian untuk mengenang pengurbanan atau peristiwa tersebut yang terjadi lebih dari 4000 tahun lalu, meskipun berlalunya masa yang panjang urgensi atau pentingnya pengurbanan itu tidak akan dan sama sekali tidak akan pernah berkurang dan kenangannya berada di dalam kalbu seorang beriman. Dalam hal ini, memang banyak sekali orang yang mengenang dan menanti-nanti Id ini serta merayakannya dalam kapasitasnya sebagai kesempatan berbahagia semata, mereka mempersembahkan kurban-kurban binatang sebagai bentuk riya (pamer) dan ungkapan kebahagian mereka semata, namun seorang beriman akan mengambil pelajaran dari pengurbanan itu, mengingat urgensi serta ruh pengurbanan itu, dan seorang beriman itu akan mengingatnya sebagaimana seharusnya dan sebagaimana mestinya.

Peristiwa kurban ini, yang dilakukan oleh seorang bapak dan seorang putra – Hadhrat Ibrahim dan putranya, Hadhrat Ismail ‘alaihimas salaam – ribuan tahun lalu menjadikan hati seorang beriman penuh dengan luapan emosi dan perasaan haru. Setelah beberapa lama, seseorang akan melupakan kesedihan dan kesusahan yang dideritanya setelah lepas dari hal itu dan ia tidak akan mengingat hal yang menyakitkan dan penderitaan yang ia derita dengan disibukan oleh urusan-urusan dunia kembali, tapi Allah Ta’ala telah mencatat peristiwa ini dan demikianlah Dia menegakkan suatu tolok ukur kurban dan pengurbanan yang abadi, kemudian memerintahkan orang-orang beriman untuk menjadikan tolok ukur ini selalu menjadi bagian yang ada di hadapan kedua matanya. Demikianlah Allah Ta’ala telah mengukuhkan peringatan terhadap pengurbanan ini untuk seorang beriman dan seorang Muslim hingga hari Kiamat.

Alangkah luhurnya tolok ukur pengurbanan yang dimana pun kita, ketika hari ini mendengar peristiwa ini dan mempelajarinya, hati kita akan penuh dengan luapan emosi dan rasa haru. Itu bukan hal ringan bahwa ada seseorang di masa sepuhnya (Hadhrat Ibrahim ‘alaihis salaam) dikaruniai seorang putra, ketika ia mencapai usia sembilan puluh atau sekitar itu, Allah Ta’ala memerintahkannya di dalam mimpinya supaya menyembelih putranya ini, lalu ia bersedia untuk mengurbankan putra satu-satunyanya itu sebagai pengamalan secara harfiah terhadap mimpinya tersebut. Indah nian tolok ukur kepatuhan demi rida Allah dan perintah-Nya. Aduhai indahnya maqām luhur yang ditempati Hadhrat Ibrahim ‘alaihis salaam, ketika membaringkan pada pelipis sang putra ini yang bersedia untuk disembelihnya dengan pisau sebagaimana pemahamannya akan perintah Allah Ta’ala.

Tidak bapak saja yang bersedia untuk pengurbanan ini sehingga ia menduduki suatu kedudukan ruhani yang tinggi kedekatan pada Allah Ta’ala, bahkan sang putra juga tunduk pada perintah sekalipun keadaannya masih seorang anak kecil dimana ia mengatakan: “Selagi Allah Ta’ala memberi perintah dengan menyembelih saya, saya bersedia.” Allah Ta’ala mencatat jawaban sang putra ini di dalam Al-Qur’an dimana ia mengatakan: يٰأَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِيْ إِنْ شَاءَ اللهُ مِنَ الصَّابِرِيْنَ “Wahai Bapakku, lakukanlah apa yang diperintahkan, Insyaallah engkau akan mendapati aku dari antara orang-orang yang bersabar.”

Jawaban sang putra ini menjadi model yang ditiru oleh mereka yang mempersembahkan kurban dan pengurbanan-pengurbanan dan mereka mempersembahkan kurban dan pengurbanannya itu dengan muka yang berseri-seri dan mereka mengimani Allah Ta’ala dengan keimanan sempurna, sebagaimana jawaban sang putra ini menjadi pembelajaran bagi para orang muda dikarenakan demikianlah seharusnya jawaban dan tolok ukur mereka yang beriman pada Allah dengan keimanan sempurna dan selalu siap sedia untuk berkurban.

Maka dari itu, siapa pun dari kita yang tidak terpengaruh dengan jawaban ini, ia tidak termasuk orang-orang yang bertadabbur. Ada kalanya orang-orang tua sehingga seorang tua yang mencapai usia 90 tahun menampilkan contoh untuk kurban dan pengurbanan, dan ada kalanya anak-anak kecil dan para mudawan sehingga seorang anak kecil menampilkan contoh untuk kurban dan pengurbanan. Tidak diragukan lagi, kalbu kita penuh luapan emosi dan gejolak rasa haru, kebanyakan dari kita banjir dengan linangan air mata ketika mendengar peristiwa-peristiwa dan membaca peristiwa ini, tetapi ini tidaklah cukup, melainkan kita harus berjanji akan selalu siap sedia untuk setiap pengurbanan. Kita harus memeriksa diri kita dari sisi ini juga.

Sesungguhnya kesiapsediaan Hadhrat Ibrahim untuk menyembelih putranya berdasarkan perintah Allah Ta’ala dan tidak hanya bersedia saja, bahkan ia menempatkan putranya di atas tanah dan sudah betul-betul meletakkan pisau pada lehernya, ia memperoleh keutamaan yang lebih lagi, ketika kita melihat Hadhrat Ibrahim ‘alaihis salaam merupakan orang yang berfitrat sangat lembut sampai-sampai hatinya itu merasa kasihan dan iba terhadap para musuh juga dan ia tidak kuasa menimpakan kesulitan pada musuh. Rasa belas kasih hatinya dan kelembutannya telah mencapai bahwa Allah Ta’ala menganggap ini merupakan keistimewaan Hadhrat Ibrahim dan mencatatnya di dalam Al-Qur’an dimana Allah Ta’ala berfirman: إِنَّ إِبْرَاهِيمَ لَأَوَّاهٌ حَلِيمٌ (Sesungguhnya Ibrahim itu seorang yang sangat lembut hatinya dan berpribadi halus) – QS Al-Taubah, 09: 114.

Semestinya ia merasakan pilu dengan putranya, tetapi ia tidak memedulikan kepiluan dan rasa cintanya terhadap putranya, ia mengutamakan keridaan dan kecintaan terhadap-Nya melebihi segala sesuatu. Hal ini yang telah menjadikan Hadhrat Ibrahim sebagai pribadi istimewa daripada yang lain, keistimewaan ini dan tolok ukur ini termasuk kesetiaan atau loyalitas, kecintaan dan pengurbanan demi Allah Ta’ala merupakan sebab atau wasilah di baliknya bahwa orang-orang Muslim ketika berselawat pada Nabi (saw), akan mengingat Hadhrat Ibrahim ‘alaihis salaam juga pastinya hingga hari Kiamat.

Kemudian, sesungguhnya pengurbanan ini bukan dari Hadhrat Ibrahim ‘alaihis salaam saja, bahkan sebagaimana dikabarkan oleh Al-Qur’an Hadhrat Ismail ‘alaihis salaam juga telah bersedia untuk pengurbanan ini dengan segenap kerelaan hati. Kenangan itu tadi sudah berlalu dan tolok ukur pengurbanan ini telah menjadikan Hadhrat Ismail ‘alaihis salaam menjadi istimewa dari yang lainnya. Mengapa ia bersedia untuk pengurbanan ini? Hadhrat Ismail ‘alaihis salaam bersedia untuk berkurban karena memiliki pemahaman khas kecintaan pada Allah Ta’ala. Dikarenakan pemahaman di dalam dirinya tersebut, semangat berikut ini timbul, “Pengurbanan ini untuk sarana kemajuan kita.” Semangat tersebut muncul dalam diri sang bapak dan sang putra.

Ketika kita dikuasai oleh emosi sebagai akibat mendengar peristiwa-peristiwa Hadhrat Ibrahim ‘alaihis salaam dan Ismail ‘alaihis salaam dan mata bercucuran air mata, maka itu karena mendeskripsikan peristiwa-peristiwa ini yang diceritakan pada kita secara emosional. Boleh jadi kalbu kebanyakan dari kita tidak sampai pada substansi dan tolok ukur yang Hadhrat Ibrahim ‘alaihis salaam berhias dengan itu. Pada waktu itu, yang ada dalam benaknya adalah Allah Ta’ala telah memilih dia untuk diri-Nya dan menuntut darinya pengurbanan dan sebagai ganti dari semua itu, ia akan meraih kedekatan Tuhan terkasihnya, tidak terlintas di dalam hati kecilnya suatu pemikiran selain bahwa Allah Ta’ala tengah mendekat padanya.

Kemudian, hal itu tidak terbatas pada pemikiran saja, bahkan setiap Muslim dan setiap orang yang membaca Al-Qur’an dan orang yang mengulang-ulangi bershalawat Ibrāhīmiyyah mengetahui bahwa Allah Ta’ala telah melestarikan kenangan pengurbanan ini dan menjadikannya abadi hingga hari Kiamat dan menjadikannya sejenis pengurbanan berharga, karena Hadhrat Ibrahim ‘alaihis salaam menimbulkan kesadaran akan karunia Allah Ta’ala yang mengungguli perasaan-perasan pilu dan sedih, karena Allah Ta’ala telah memilihnya untuk mempersembahkan pengurbanan dan di dalam benaknya mengurbankan putranya bukan kebajikan darinya dan bukan pula kebajikan dari putranya ketika ia bersedia mempersembahkan pengurbanan di jalan Allah, justru itu merupakan ihsaan (kebaikan) Allah Ta’ala bahwa Dia telah memilihnya dan memilih putranya untuk pengurbanan ini. Maka dari itu, Hadhrat Ibrahim ‘alaihis salaam ketika mempersembahkan pengurbanan itu mengupayakan timbulnya pemikiran, dimana ia menjadikan pemikiran itu mengalahkan dan menguasai pemahaman-pemahamannya bahwa tidak ada misi pengurbanan yang ia persembahkan, melainkan sesungguhnya itu merupakan suatu ihsaan (kebaikan) yang murni dari Allah Ta’ala ketika menjadikannya sebagai ahli untuk persembahan pengurbanan itu.

Terkait:   Khotbah Idul Fitri 2021

Dengan demikian, ketika kita berkomitmen bahwa kita bersedia untuk mempersembahkan segala pengurbanan, seharusnya kita mengupayakan untuk menjadikan pemikiran tersebut menguasai seluruh akal dan hati kita bahwa pengurbanan kita itu tidak ada artinya. Melainkan, itu merupakan ihsaan (karunia) Allah Ta’ala bahwa ketika Dia telah menerima pengurbanan dari kita dan kita akan meraih qurb-Nya sebagai buah pengurbanan itu; pada hakikatnya, pengurbanan-pengurbanan kita tidak ada artinya dibandingkan pengurbanan yang Hadhrat Ibrahim ‘alaihis salaam dan Hadhrat Ismail ‘alaihis salaam persembahkan.

Setiap kali kita beramal – walaupun sedikit – untuk menunaikan janji kita mendahulukan agama di atas duniawi, Allah Ta’ala memberikan kehormatan pada kita dengan segala sesuatu yang tidak terbilang dan tidak terkira, dan inilah yang telah dialami oleh kebanyakan Ahmadi. Banyak sekali surat datang pada saya mengenai hal ini, para penulisnya mengatakan bahwa betapa Allah Ta’ala memberikan kehormatan pada pengurbanan mereka yang sederhana dengan pengabulan yang mana mereka mempersembahkan pengurbanan harta sebagai contohnya dan dalam tempo beberapa jam saja mereka mendapatkan ganjarannya. Dalam hal ini banyak lagi contoh-contoh seperti ini.

Karena itu, seharusnya emosi ini tidaklah bersifat temporer (sementara), melainkan akan selalu demikian. Janganlah kalian merasa cukup hanya dengan meraih karunia-karunia dan pemberian-pemberian Allah Ta’ala sekali saja, bahkan seharusnya ada keinginan selalu mendapatkan kedekatan Allah dan mengupayakan itu selalu menjadi bagian dari kehidupan kalian, barulah kita dapat mengatakan bahwa kita tengah berupaya untuk melaksanakan janji yang kita ikrarkan. Kemudian upaya ini akan tetap menulari generasi-generasi yang akan datang, maka efek-efeknya itu akan tampak pada mereka, lalu keinginan untuk meraih qurb Allah Ta’ala sekalipun dalam ancaman dan cobaan, akan tetap ada. Istri dan anak-anak juga memahami bahwa meraih keridaan Allah Ta’ala dan qurb-Nya adalah tujuan kehidupan mereka. Maka untuk menciptakan suasana-suasana ini di rumah-rumah, perlu sekali doa dan amal.

Sesungguhnya kesediaan Hadhrat Ibrahim ‘alaihis salaam untuk menekankan pisau pada leher putranya adalah emosi yang sangat luar biasa, dan Allah menghargai emosi itu dan menerimanya, kemudian untuk mencegah Hadhrat Ibrahim dari amaliah mengeratkan pisau pada leher putranya, Dia berfirman: قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ ( …. engkau telah membenarkan rukya itu, sesungguhnya demikianlah Kami membalas orang-orang muhsin – QS Al-Shaffāt, 37: 106) maksudnya, “Sesungguhnya Kami memberikan balasan terhadap orang-orang yang berbuat kebajikan dari sisi Kami, dan balasan itu adalah Kami menganugerahkan bagi engkau dan putra engkau suatu kedudukan yang tinggi dalam qurb (kedekatan dengan) Kami.”

Tetapi, mata rantai pengurbanan-pengurbanan itu tidak akan terhenti setelah maqām kedekatan ini, bahkan dimulailah suatu silsilah baru untuk meningkatkan pengurbanan-pengurbanan, supaya keduanya melihat, dikarenakan oleh pengurbanan itu pemandangan-pemandangan qurb Allah Ta’ala menjadi bertambah; dan bukan supaya mereka berdua ini saja yang melihat itu, bahkan istri Hadhrat Ibrahim ‘alaihis salaam, yakni ibunda Hadhrat Ismail ‘alaihis salaam juga dihimpunkan pada daftar ini. Yang demikian adalah supaya menjadi contoh bagi orang-orang bahwa kebaikan-kebaikan itu seharusnya tidak terbatas pada diri mereka saja, bahkan pengaruhnya itu harus terlihat pada istri-istri mereka juga. Dengan adanya andil perempuan itu pada pengurbanan ini, Allah Ta’ala menjadikannya sebagai contoh bagi kaum wanita bahwa perempuan salehah itu bertawakal dan patuh, meraih kedekatan-Nya dan Allah Ta’ala tidak akan menelantarkannya.

Maka kita melihat bahwa seluruh keluarga tersebut [ayah, ibu dan juga putra] telah siap untuk suatu pengurbanan yang lebih besar sampai-sampai telah rela dan menyiapkan pisau untuk penyembelihan. Allah Ta’ala berfirman kepada ketiga suami, istri dan anak tersebut bahwa menyiapkan pisau untuk penyembelihan adalah pengurbanan yang bersifat temporer artinya merupakan mengurbankan perasaan dan emosi sekali waktu saja, namun pengurbanan yang dipohonkan dari mereka bertiga ini berlandaskan pada hijrah, terasingkan dan kekhawatiran secara berkelanjutan. Ringkasnya, pengurbanan mereka bertiga ini sudah dimintakan dan mereka menerimanya. Maka bertolaklah Hadhrat Ibrahim dengan Hadhrat Hajrah dan Hadhrat Ismail ‘alaihis salaam dan sampai ke suatu tempat yang di sana tidak terdapat suatu tempat menetap hingga bermil-mil jauhnya, bahkan tempat tersebut tidak memiliki apa-apa, tidak ada air maupun rerumputan, tidak memiliki jenis makanan apa pun, maka Hadhrat Ibrahim ‘alaihis salaam meninggalkan istri dan putranya di tempat itu beserta sekantung air dan sekantung kurma saja.[1] Beliau tahun bahwa sekantung kurma tersebut akan habis dan sekantung air itu pun akan habis. Hadhrat Ibrahim ‘alaihis salaam tidak mengetahui bagaimana putra dan istrinya akan menjalani hidup ketika air yang terdapat di dalam kantong air dan kurma yang ada di dalam wadah itu habis nantinya, itu dikarenakan setelah itu tidak tersedia air dan sesuatu yang akan dapat dimakan bagi mereka berdua.

Namun, Allah Ta’ala-lah yang telah memerintahkan padanya dengan pengurbanan tersebut sehingga ia melakukannya demi mencari rida Allah Ta’ala. Betapapun keadaannya, Hadhrat Ibrahim ‘alaihis salaam meninggalkan istri dan putranya di tempat itu disertai dengan air dan makanan yang terbatas tanpa mengabari istrinya bahwa istrinya itu akan menetap dengan putranya di tempat ini. Hadhrat Hajrah merasa tertekan bahwa perpisahan itu tidak sementara bahkan berkelanjutan, dan mereka berdua untuk terus-menerus menetap di tempat ini, maka ia berjalan di belakang Hadhrat Ibrahim dan bertanya kepadanya: “Ke manakah engkau akan pergi setelah meninggalkan kami di sini?”

Keadaan ini dengan gaya bahasa yang indah dan menakjubkan telah dideskripsikan oleh Hadhrat Mushlih Mau’ud radhiyAllahu ta’ala ‘anhu (ra), sabdanya: “Keadaan rasa iba di waktu itu menguasai Hadhrat Ibrahim ‘alaihis salaam disebabkan perasaan alami yang mana kalbunya yakni kalbu Hadhrat Ibrahim ‘alaihis salaam penuh dengan rasa itu. Ia tengah dipenuhi dengan perasaan yang tengah terguncang karena keadaan beliau ‘alaihis salaam yang أَوَّاهٌ مُنِيبٌ ‘sangat lembut hati dan berserah diri’ (Surah Hud ayat 76), ia tidak mampu berucap sepatah kata pun karena rasa iba yang menguasainya. Maka bertanyalah Hadhrat Hajrah sekali lagi: ‘Ke manakah engkau akan pergi setelah meninggalkan kami di sini?’

Hadhrat Ibrahim karena keadaan perasaannya, tidak kuasa memberikan jawaban pertanyaan berulang-ulang kali dari Hadhrat Hajrah, bahkan betapapun bagi seseorang yang sangat lembut hati seperti Hadhrat Ibrahim ‘alaihis salaam karena nampak baginya pada kenyataannya mereka berdua akan menghadapi situasi-situasi sulit di tempat gersang. Dari satu sisi, rasa cinta terhadap putra dan istrinya menguasainya sesuai dengan keadaan manusiawinya, di samping itu ia adalah seorang yang sangat lembut hati fitrahnya, dan hal itu yang mencegahnya dari memberi jawaban karena ia khawatir sekiranya menjawab, bisa jadi emosinya yang tertahan itu akan meluap-luap dan selanjutnya hal itu berdampak pada kerisauan yang lebih banyak pada Hadhrat Hajrah; di sisi lain ia juga memikirkan apabila perasaannya meluap, boleh jadi akan mengantarkan berkurangnya tolok ukur pengurbanan yang mana ia dan istri serta putranya persembahkan untuk mencari rida Allah Ta’ala dan pengurbanan yang mana mereka akan meraih qurb Allah Ta’ala sebagai buah dari itu sehingga Hadhrat Ibrahim ‘alaihis salaam tetap diam tidak berucap kata. Karena itu, ketika Hadhrat Hajrah bertanya padanya: “Apakah Allah memerintahkan ini pada engkau?”

Hadhrat Ibrahim tidak berucap suatu kata pun, namun, beliau mengangkat tangannya ke arah langit karena dikuasai oleh luapan perasaannya. Ketika Hadhrat Hajrah melihat isyarah ini, ia berkata dengan penuh ketawakalan: “Kalaulah demikian, Dia tidak akan menyia-nyiakan kita. Pergilah ke mana engkau mau!”[2]

Sekarang kalian perhatikan : menerima dengan rela hati terhadap perintah ini, secara lahiriah tidak memungkinkan mereka berdua memperoleh air setelah air dari kantong air habis; atau mendapatkan kurma setelah kurma yang ada dalam wadah habis; atau menemukan macam-macam makanan lainnya di tanah yang tidak berpenghuni serta tandus yang merupakan suatu lembah yang tidak memiliki tumbuh-tumbuhan sebagaimana mustahil di tempat yang kosong dari semua itu mereka berdua menemukan ada seseorang yang menghilangkan gangguan dari mereka; atau ada seseorang datang sekurang-kurangnnya bersimpati pada mereka; atau tiba-tiba mereka melihat ada seseorang di tempat berpadang pasir itu karena tidak mungkin bagi seorang pun akan datang ke sana.

Terkait:   Keteladanan Para Sahabat Nabi Muhammad (shallaLlahu ‘alaihi wa sallam) (Manusia-Manusia Istimewa seri 46)

Namun, dikarenakan rasa belas kasih Hadhrat Ibrahim ‘alaihis salaam telah membuat perubahan pada Hadhrat Hajrah juga, maka wanita yang amanah itu pada saat itu juga mencapai puncak keutamaan qurb Allah Ta’ala. Dengan tanpa rasa gentar ia mengatakan, “Apabila ini adalah pertintah Allah Ta’ala, saya tidak akan memedulikan sesuatu apa pun”. Tidak diragukan lagi ketika Tuhannya Arasy mendengar kata-kata Hadhrat Hajrah: “Apabila ini adalah apa yang Allah perintahkan, sekali-kali Dia tidak akan menyia-nyiakan kita selamanya, maka mudah-mudahan Allah Ta’ala juga berfirman memberikan jawaban: ‘Aku sama sekali tidak akan menyia-nyiakan putramu.’”

Tampaklah dari peristiwa-peristiwa yang ditemui ini bahwa Allah Ta’ala berbuat sesuai yang diinginkan darinya, Allah Ta’ala tidak semata-mata memelihara mereka berdua dari kesia-siaan, justru dengan perantaraan merekalah Dia membangkitkan suatu kaum yang padanya ada seorang Nabi yang agung martabatnya sebagai Khātamul Anbiyā’, Muhammad Muṣṭafā’ shallallahu ‘alaihi wa sallam (صلی اللہ علیہ وسلم) yang diutus untuk seluruh alam. Dialah raja keruhanian untuk seluruh alam, tidaklah mungkin sampai pada Allah Ta’ala melainkan dengan wasilah (perantaraan) beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hadhrat Hajrah ‘alaihas salaam dan Hadhrat Ismail ‘alaihis salaam berlepas diri dari dunia demi wajah Allah Ta’ala. Maka Allah Ta’ala menjadikan seluruh dunia di bawah kaki keturunan Hadhrat Ismail ‘alaihis salaam dengan perantaraan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Sekarang ini ratusan ribu orang berhaji dan berumrah, maka mereka pada kesempatan itu mengenang kembali Hadhrat Hajrah juga. Allah Ta’ala menganugerahi pengurbanan Hadhrat Hajrah dengan kedudukan yang agung dan kehormatan yang agung, maka ia dan putranya memutuskan hubungannya dengan duniawi dengan bertawakal pada Allah Ta’ala mencari rida-Nya dan sekarang dunia terpaksa menghubungkan jalinannya dengan mereka untuk meraih Allah Ta’ala.

Pengurbanan mereka ini tidaklah ringan, keimanan mereka yang mengatakan, “Sesungguhnya dia yang beramal demi Allah Ta’ala, tidak akan pernah Dia sia-siakan” adalah tidaklah mudah.Kemudian sesungguhnya Allah Ta’ala menyediakan sarana-sarana untuk mewujudkan keinginan-keinginan dan ketawakalan mereka hingga hari Kiamat dan memberikan kenikmatan pada mereka. Maka sesungguhnya hari ini mengingatkan kita akan ketawakalan keluarga ini terhadap Allah Ta’ala dan tolok ukur-tolok ukur pengurbanan mereka yang tinggi demi wajah Allah Ta’ala. Tapi di samping itu seyogianya kita memperhatikan, apakah hanya cukup dengan menyebutkan peristiwa-peristiwa pengurbanan ini, menyebutkan ketawakalan keluarga ini dan mengingat pengurbanan ini saja? Sekali-kali tidak! Bahkan kita seyogianya ketika memperingati ini akan menjadikan kesetiaan Hadhrat Ibrahim dan pengurbanannya sebagai contoh yang kita akan tiru, dan seyogianya kita menjadikan pengurbanan Hadhrat Hajrah sebagai tujuan kita.

Seyogianya setiap Ibu memikirkan apa yang seharusnya pada keadaan itu untuk mewujudkan tolok ukur dari pengurbanan ini. Sampai pada saya beberapa orang kaum perempuan mereka mengatakan bahwa mereka terpaksa diam ketika mengulangi bagian ini dari janji Lajnah Imāillāh, “Saya bersedia mengurbankan anak-anak saya” karena mereka tidak bersedia untuk itu. Tidak mungkin pemikiran seperti ini akan terbetik di dalam benak, jika seseorang itu bertawakal pada Allah dan tujuannya adalah meraih keridaan Allah dan di hadapannya ada keinginan meraih kedekatan Allah di atas setiap keinginan.

Ketika kalian berjanji akan mengutamakan agama daripada dunia, maka janji ini mengarahkan perhatian kita pada ketawakalan pada Allah semata. Ketika kalian mengikrarkan janji ini, seharusnya setiap pria Ahmadi, wanita Ahmadi, pemuda pemudi Ahmadi maupun anak-anak Ahmadi menyempurnakannya. Maka ketika seorang insan berupaya untuk ber-taqarrub ilallāh, maka sesungguhnya Allah Ta’ala tidak akan menyia-nyiakannya, bahkan akan memuliakannya. Ketika para laki-laki Ahmadi meningkatkan tolok ukur-tolok ukur mereka pada tolok ukur Hadhrat Ibrahim ‘alaihis salaam, maka tolok ukur-tolok ukur keruhanian itu akan menulari pula pada kaum perempuan dan anak-anaknya juga. Oleh karena itu, setiap orang dalam hal ini memperhatikan perlunya para laki-laki meningkatkan tolok ukur pemikiran dan pengurbanan-pengurbanan mereka, apabila kaum laki-laki menghendaki tolok ukur ketawakalan pada Allah Ta’ala dan tolok ukur pengurbanan pada kaum perempuan dan anak-anak mereka, maka kaum lelaki harus mengedepankan teladannya bagi mereka.

Janganlah pernah terbetik di benak kalian bahwa Allah telah menyebut contoh-contoh ini supaya dengan perantaraan itu kita menciptakan gambaran-gambaran sederhana pada kita saja atau supaya memeliharanya sebagai sebuah kisah. Sekali-kali tidak! Bahkan, di dalam contoh-contoh ini terkandung suatu teladan bagi kita ketika setiap kaum laki-laki mengupayakan mengamalkan keteladanan Ibrahimi dan seiring dengan itu berusaha meningkatkan tolok ukur kesetiaannya, dan ketika setiap seorang wanita bersedia berteladan dengan teladan Hadhrat Hajrah dan setiap pemuda bersedia untuk menjadikan perbuatan Hadhrat Ismail ‘alaihis salaam sebagai teladan baginya, maka sebagai buahnya hujan karunia-karunia Allah akan turun pada kalian dan kalian meraih pemahaman pengurbanan hakiki dan kedekatan Allah dan kalian menikmati kedekatan-Nya juga.

Di zaman yang mana kita telah beriman pada khādim sejati Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam supaya kita ambil bagian dalam kebangkitan Islam yang kedua, yang Allah menamainya juga dengan nama Ibrahim, maka Allah di dalam wahyu di berbagai tempat ber-mukhātabah dengannya dengan nama Ibrahim.[3]

Maka apabila kita beriman kepada Ibrahim ini untuk meraih kemajuan ruhani dan memenangkan Islam di dunia, mengibarkan bendera Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di dunia, maka setiap orang dari antara kita harus berupaya supaya menjadi Ismail dan setiap perempuan menjadi Hadhrat Hajrah. Dan apabila kita siap sedia untuk mempersembahkan pengurbanan-pengurbanan demi agama dan untuk kemajuan Islam, maka Allah Ta’ala akan membukakan bagi kita banyak jalan yang baru, dan kita akan turut serta di dalam mewujudkan janji-janji yang telah Allah janjikan terhadap pecinta sejati Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Apabila setiap orang dari kita memenuhi janjinya dengan mendahulukan agama di atas dunia, pada hakikatnya kita akan dapat menciptakan perubahan di dunia. Apabila kita memulai hidup dengan mengamalkan ajaran-ajaran Islam, maka dengan segenap upaya kita menciptakan perubahan di dunia. Apabila kita dapat membawa dunia di bawah panji Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka kita dapat saja melakukan pembalasan yang terindah untuk pengurbanan-pengurbanan para syuhada yang terbunuh sebagai akibat keimanan mereka dengan Ibrahim zaman. Pembalasan tersebut adalah untuk membuat mereka yang menentang kembali pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (صلی اللہ علیہ وسلم).

Allah Ta’ala dengan perantaraan Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihish shalaatu was salaam (علیہ الصلوٰة والسلام) telah mendirikan Jemaat ini supaya membuat dunia kembali mendapatkan semua keberkatan-keberkatan yang telah ditakdirkan bagi para pengikut sejati dan orang-orang beriman sejati kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Untuk hal itulah, para awwalun (pendahulu) telah mempersembahkan pengurbanan-pengurbanan dan mereka telah mengurbankan diri mereka.

Kita juga berjanji bahwa kita mengurbankan harta benda kita, jiwa raga dan waktu kita, karena itu kita senantiasa tetap bersedia mempersembahkan pengurbanan-pengurbanan dengan kita menempatkan janji ini di dalam acuan. Kita mesti mempersembahkan pengurbanan-pengurbanan itu sebagaimana banyak orang terdahulu mempersembahkannya, karena tanpa pengurbanan-pengurbanan sekali-kali, revolusi (perubahan cepat dan mendasar) ini tidak akan terjadi.

Dari titik tolak ini saya ingin menarik perhatian para ibu yang sebenarnya bungkam ketika diminta jawaban pernyataan ini dalam janji LI. Dalam hal ini para ibu mempersembahkan putra-putri mereka dalam program waqf-e-Nou, dan ketika mereka menjadi besar, beberapa orang tua mengemukakan dalih (alasan), “Keadaan-keadaan perekonomian kami tidak baik. Apabila anak-anak kami berkhidmat untuk Jemaat, tunjangan (gaji) kecil tidak mencukupi bagi mereka, karena itulah kami berharap Anda (Hudhur) memberi toleransi kepada anak-anak kami dengan bergabung pada pekerjaan duniawi.”

Dari satu sisi mereka telah berjanji dengan pengurbanan dan mempersembahkan putra-putranya dari pihak mereka sendiri; sementara dari sisi lain mereka menyerahkan anak-anak mereka dengan tangan mereka sendiri pada duniawi. Contoh daripada itu adalah beberapa putra-putra Wāqifīn Nou yang telah menjadi Dokter dan yang telah menjadi Insinyur lalu mengatakan, “Sekarang kami menemui kesulitan bila berkhidmat di dalam Jemaat. Kami tidak dapat hidup dengan uang sedikit. Perkenankanlah kami dengan pekerjaan duniawi [maksudnya di luar lembaga Jemaat dan bukan program Jemaat].”

Terkait:   Keteladanan Para Sahabat Nabi Muhammad (shallaLlahu ‘alaihi wa sallam) (Manusia-Manusia Istimewa seri 42)

Saya katakan pada mereka, ketika mengambil janji teguh mengutamakan agama di atas dunia, berarti kalian berkomitmen bahwa kalian akan siap berkorban. Allah Ta’ala memberikan taufik kepada para Ibu bapak sang anak (Waqf-e-Nau) untuk mempersembahkan anak-anak mereka sebelum kelahiran anak-anak mereka. Maka, alasan-alasan ini tidak punya arti apa-apa. Melainkan, penting sekali menyempurnakan janji ini, apabilaallowance (tunjangan) atau pendapatan kecil, Allah akan memberkatinya.

Para Wāqifīn Nau muda harus maju mempersembahkan diri mereka supaya mereka menjadi Muballigh dan Murabbi. Sebagaimana para dokter, para insinyur dan para guru yang demi mengkhidmati Jemaat dalam bidang pengobatan atau arsitektur atau dalam bidang pendidikan, mereka mempersembahkan pengurbanan dan meningkatkan tolok ukur-tolok ukur pengurbanan-pengurbanan.

Tidak hanya cukup dengan mendengar dari mendengar cerita-cerita dan kejadian-kejadian yang masa lalu saja, dan mereka tidak merasa senang dengan lahirnya kesadaran di hadapan mereka karena pengaruh mendengar kejadian-kejadian yang lalu-lalu, maka itu dibaca supaya diikuti dan diteladani. Tidak penting bagi kita penguasaan-penguasaan duniawi, tidak pula pemerintahan-pemerintahan dunia, tidak ada kaitan kita dengan sistem-sistem pemerintahan dan sumber daya-sumber daya dan kekuatan-kekuatannya, dan seyogianya hal itu demikian adanya. Maka apabila dalam hal ini ada tujuan, itu adalah bagaimana kita menegakkan kebenaran Islam dan memenangkannya di dunia; dan bagaimana kita menghimpun dunia di bawah bendera Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan bagaimana kita menegakkan hukum-hukum Allah Yang Maha Esa di dunia, bagaimana kita menjadikan sifat kemanusiaan yang lupa dan melenceng untuk tunduk pada Allah Ta’ala, bagaimana kita menjadikan orang-orang menunaikan hak satu sama lain. Inilah maksud didirikannya Jemaat kita. Ini tujuan setiap Ahmadi terutama para wāqifīn Nou, karena itulah mereka harus mewakafkan diri mereka untuk studi di Jamiah Ahmadiyah dan mayoritas menjadi Muballigh dan Murabbi untuk menyiarkan pesan Islam di seluruh dunia dalam waktu yang sesegera mungkin.

Maka, inilah hal-hal yang sebagaimana saya sebutkan adalah tujuan didirikannya Jemaat ini dan untuk memenuhinya kita harus mempersembahkan pengurbanan-pengurbanan dan ini apa yang disampaikan oleh Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihis salaam berulang-ulang kali, karena mewujudkan hal-hal ini menuntut pengurbanan-pengurbanan. Perubahan-perubahan itu tidak melulu dengan hanya membaca peristiwa-peristiwa pengurbanan-pengurbanan yang telah lalu, karenanya semestinya setiap perempuan Ahmadi menjadi Hadhrat Hajrah dan setiap pemuda Ahmadi menjadi Hadhrat Ismail, dan semestinya setiap Ahmadi yang awalnya berasal dari setiap Negara, millah (kepercayaan) dan keturunan, pada saatnya dapat menciptakan persatuan di dunia. Ketika kita menunaikan pengurbanan bersama untuk meraih tujuan ini, kita dapat mewujudkan tujuan ini dengan membangun rumah Allah dan itu adalah menciptakan ketunggalan Allah yang untuk maksud itu Hadhrat Ibrahim ‘alaihis salaam, Hadhrat Hajrah dan Hadhrat Ismail ‘alaihis salaam mempersembahkan pengurbanan-pengurbanan dan Baitullah muncul pertama-tama sebagai Tanda keesaan Allah, dan ketika demikian kita dapat mewujudkan tujuan pengutusan Ibrahim zaman ini dan Khādim sejati Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan itu adalah menghimpun dunia pada satu agama.

Kita berdoa pada Allah Ta’ala supaya di dalamnya menciptakan ruh pengurbanan hakiki dan supaya kita senantiasa mendahulukan agama di atas duniawi dan supaya Dia memperlihatkan pada kita pada ‘Idul Adhha mendatang kedudukan-kedudukan baru kemajuan Islam dan kita akan mempersembahkan pengurbanan-pengurbanan yang makbul yang limpahan-limpahan dan keberkatan-keberkatannya melimpahi kita di dunia dan akhirat. Amin.

Dan sekarang kita akan berdoa bersama dan kalian harus mengingat di dalam doa, para tahanan yang tengah menghadapi kesulitan-kesulitan pemenjaraan dan penangkapan demi Ahmadiyah semata. Mereka berada di dalam penjara-penjara itu demi agama dan tengah berada pada posisi-posisi yang sulit untuk melakukan ibadah terutama di Pakistan; dan untuk mereka yang tengah menghadapi setiap kesulitan ini dengan rela hati dan dari antara mereka ada seorang perempuan yang tengah menghadapi penderitaan penjara dan mendapatkan tuduhan palsu, kepadanya dikenakan pasal-pasal yang sangat serius dan itu dikarenakan ia beriman kepada Imam zaman ini ‘alaihis salaam.

Ingat pula di dalam doa-doa kalian bagi keluarga-keluarga para syuhada juga, lalu doakan bagi para wāqifīn zindegi, para Muballighh dan para Mu’allim lokal mudah-mudahan mereka memenuhi janji waqaf mereka dengan ruh pengurbanan. Di kebanyakan Negara, di Afrika juga di sana ada Mu’allim-Mu’allim lokal yang melakukan pekerjaan-pekerjaan penting, semoga Allah Ta’ala memberikan taufik dan kekuatan pada mereka dikarenakan mereka melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang baik sekalipun mereka mendapatkan pendidikan sedikit dan pengetahuan yang sedikit di kelas Mu’allimin lokal. Semoga Allah Ta’ala memberkati pekerjaan-pekerjaan mereka, keikhlasan, kesetiaan dan keruhanian mereka dan mereka memenuhi janji wakaf dengan keikhlasan demi Allah Ta’ala.

Doakanlah mereka yang tengah diliputi oleh kesusahan-kesusahan, semoga Allah Ta’ala mengangkat problem-problem mereka dan menghilangkan sebab-sebab kegelisahan dari mereka. Berdoalah pada Allah Ta’ala supaya terpelihara dari kejahatan para ulama yang mementingkan diri sendiri, yang menghasut dan menganjurkan kejahatan, terutama di Pakistan dan di beberapa Negara Afrika juga. Berdoalah untuk terpeliharanya orang-orang yang tidak bersalah dari kejahatan setiap orang yang berkuasa namun jahat.

Di dalam Id ini, di sana ada kegaduhan-kegaduhan di Pakistan – setiap tahun, namun di tahun ini sangat banyak orang Ahmadi yang apabila berkurban dan mempersembahkan kurban dalam kesempatan Id, segera akan diterapkan eksekusi-eksekusi melawan mereka dan mereka akan mendapatkan sanksi [dari pemerintahan]. Kita berdoa pada Allah Ta’ala mudah-mudahan memelihara setiap Ahmadi dari kejahatan-kejahatan seperti ini, kita harus banyak-banyak berdoa supaya kita dapat mewujudkan misi dan tujuan diutusnya Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihis salaam, dan apakah tujuan dari pengutusan Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihish shalaatu was salaam?

Sesungguhnya tujuannya itu adalah mengibarkan bendera Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di seluruh dunia dan di dunia itu terdapat suatu pekerjaan. Adapun penentangan, maka itu tidak terbatas di Pakistan saja, bahkan beberapa ulama pergi dari Luar dan mereka memprovokasi orang-orang setempat yang ada di sana terciptalah penentangan. Akan tetapi, para Ahmadi di sana, mereka teguh di dalam keimanannya dengan kuat dengan karunia Allah Ta’ala dan mereka tidak memedulikan penentangan apapun. Bahkan mereka diancam dibunuh, namun seiring dengan itu mereka teguh dalam keimanannya. Demikianlah, tengah terjadi upaya penguasaan terhadap beberapa masjid kita di Afrika, kita berdoa pada Allah Ta’ala supaya menyediakan sebab-sebab supaya kita dapat meminta kembali mesjid-mesjid kita yang diupayakan oleh musuh untuk dikuasai tanpa hak.

Pendek kata, seyogianya secara umum kita berdoa supaya kita semua menjadi pewaris karunia-karunia dan rahmat Allah Ta’ala.

Hari ini juga Khotbah Jumat akan dilaksanakan pada waktunya, Insyaallah. Sekarang marilah kita berdoa dan sebelum doa saya menghaturkan Selamat Id, Selamat Hari Raya untuk semua Jemaat di dunia. Sekarang kita doa bersama. Maaf…. kita akan melakukan doa bersama adalah setelah Khotbah kedua.

Khotbah II

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Doa bersama

Penerjemah: Mln. Abkari Munwana. Editor: Dildaar Ahmad Dartono.

Rujukan awal: https://www.Islamahmadiyya.net dan bisatahmadi (bahasa Arab)

Rujukan pembanding: https://www.alfazl.com/2020/11/26/24812/ (bahasa Urdu)


[1] Hajrah (هاجره) ialah pelafalan lain dari Hajar (هاجر). Kedua nama ini dipakai di dunia Islam untuk istri Nabi Ibrahim ‘alaihis salam. Hajrah biasanya dipakai oleh orang-orang Muslim Asia selatan, India-pakistan. Orang-orang Arab dan Indonesia lebih akrab dengan nama Hajar untuk istri Nabi Ibrahim (as).

[2] Khuthbaat-e-Mahmud, jilid 2, halaman 219-220, Khotbah Idul Adha tanggal 11 Februari 1938 (ماخوذ از خطباتِ محمود جلد 2 صفحہ 219-220 خطبہ عید الاضحی بیان فرمودہ 11 فروری 1938ء)

[3] Tadzkirah halaman 82 jilid keempat (تذکرہ صفحہ 82 ایڈیشن چہارم))

Leave a Reply

Begin typing your search above and press return to search.