Khotbah Idul Adha 2019

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (أيده الله تعالى بنصره العزيز, ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada tanggal 12 Agustus 2019/Zhuhur 1398 Hijriyyah Syamsiyyah/Dzulhijjah 1440 Hijriyyah Qamariyah di Masjid Baitul Futuh, London

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ. (آمين)


 لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ

Terjemahan ayat ini adalah: “Daging dan darah [hewan kurban] itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang akan sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu supaya kamu mengagungkan Allah karena Dia telah memberi kamu petunjuk. Dan berilah kabar suka kepada orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Surah Al-Hajj, 22:38).

Hari ini kita tengah merayakan Idul Adha yang juga dinamakan ‘Īdul-Qurbān. Hari ini orang-orang Muslim di Makkah dan di berbagai Negara di dunia, tengah dan akan menyembelih ratusan ribu binatang ternak, tetapi Allah mengatakan, “Sesungguhnya penyembelihan hewan-hewan kurban itu sekalipun merupakan bagian dari ibadah dan menyempurnakan perintah Allah Ta‘ala dan tidak diragukan lagi bahwa penyembelihan hewan-hewan ternak ini [yang dilaksanakan] orang-orang Muslim yang berkemampuan sekalipun mereka tidak sedang berhaji dan tidak sedang umrah adalah perkara yang baik. Namun, apabila pengurbanan-pengurbanan kalian bermaksud riya (pamer) supaya dilihat orang-orang dan kosong dari ruh ketakwaan yang mana seorang bertakwa berhiaskan itu, maka persembahan binatang-binatang kurban kalian tidak ada faedahnya.”

Sebab, Allah Ta’ala tidak haus akan darah serta tidak juga merasa lapar sampai-sampai karena itu Dia memerlukan darah dan daging ratusan ribu binatang kurban lalu Dia memberikan kabar suka dengan surga terhadap orang-orang yang memenuhi hajat-Nya ini sebagai kegembiraan atas mereka! Allah sama sekali tidak memerlukan binatang-binatang kurban. Maka dari itu, apabila hati kalian kosong dari ketakwaan, sekali-kali kalian tidak akan meraih ridha Allah Ta’ala sekalipun kalian menyembelih puluhan kurban dan di suatu negeri disembelih ratusan ribu binatang kurban.

Kalian ingatlah selalu bahwa Allah Ta’ala mengatakan, “Pangkalnya itu adalah takwa dan binatang-binatang kurban yang dipersembahkan dengan ruh ketakwaan adalah hal yang diridhai di sisi Allah Ta’ala.”

Ia yang kalbunya semarak dengan ketakwaan sebenarnya tengah berjanji pada Allah dan ketika mempersembahkan pengurbanan lahiriah ini seharusnya ia berjanji kepada-Nya bahwa ia bersedia mempersembahkan pengurbanan di jalan Allah Ta’ala baik dalam keadaan lapang maupun sempit; dan sebagaimana ia berkurban binatang-binatang kurban ini yang merupakan sesuatu hal kecil jika dibandingkan dengan kurban manusia dan ia berkurban dengan sesuatu yang lebih rendah untuk sesuatu yang lebih luhur, demikian pula seharusnya ia berjanji, “Dari pengurbanan ini saya dapat mengambil pelajaran dan akan selalu bersedia untuk setiap pengurbanan demi kepentingan-kepentingan yang luhur dan akan siap sedia untuk mengamalkan hukum-hukum Allah Ta’ala setiap waktu.

Dalam pengurbanan ini saya telah mendapatkan pelajaran, maka sesungguhnya saya berjanji pada Allah Ta’ala akan mengutamakan agama di atas dunia dan akan tetap dalam memberikan kesediaan untuk menepati janji ini di setiap keadaan apa pun dan sekali-kali di dalam perkataan dan perbuatan saya tidak terdapat suatu cela di antara cela-cela duniawi dan juga nafsu.”

Dengan demikian, jika Idul Qurban ini tidak menarik perhatian kita pada kewajiban-kewajiban kita, tanggung jawab-tanggung jawab kita dan janji-janji kita, maka tiada lain perumpamaan Id ini hanyalah pesta duniawi semata dan Id ini tidak menjadi sarana untuk menghiasai ketakwaan; Id ini tidak menciptakan pada kita kesadaran pentingnya pengurbanan-pengurbanan; Id ini tidak mengingatkan kita pada tanggung jawab-tanggung jawab kita; Id ini tidak melahirkan pada kita kesadaran akan pemenuhan janji kita.

Apabila pengurbanan kita kosong dari ruh takwa ini maka setiap keadaan seperti mempersembahkan pengurbanan lahiriah, menyembelih kambing, domba atau pun sapi lalu kita memakan dagingnya seperti halnya kita memberi makan pada kerabat dan kenalan-kenalan kita, pada hakikatnya semua ini tidak ada faedahnya. Pengurbanan kita ini akan berfaedah apabila kita menyempurnakan janji kita, kita menyerahkan leher kita di hadapan Allah Ta’ala, kita menunaikan kewajiban-kewajiban ibadah pada Allah Ta’ala, kita menunaikan huqūqul ‘ibaad (kewajiban-kewajiban terhadap hamba-hamba Allah Ta’ala), kita bersyukur pada Allah Ta’ala dalam hal Dia telah menjadikan kita orang-orang Muslim Ahmadi yang telah berjanji pada tangan Imam zaman ini, Masīh Mau‘ud dan Mahdi Ma‘hūd, yang mana kita akan mendahulukan agama di atas duniawi dan setiap saat bersedia mengurbankan jiwa, harta, waktu, kehormatan dan juga mengurbankan anak-anak. Kita akan menyempurnakan janji baiat ini terhadap Khalifah-e-waqt dengan penuh kelapangan hati demi meraih ridha Allah Ta’ala secara kontinyu sebagai konsekuensi kita baiat pada tangan Hadhrat Masih Mau’ud. Siapa yang mengamalkan ini, maka sesungguhnya Allah Ta’ala memberinya kabar suka bahwa Dia akan memasukannya kedalam kelompok orang-orang yang meraih keridhaan-Nya. Jika ruh ini timbul pada kita dan dari diri kita tercipta amalan-amalan yang sesuai itu, maka kita bisa berpengharapan kita sudah termasuk dari antara orang-orang yang diberikan kabar gembira oleh Allah dan orang-orang yang mendapatkan ridha Allah Ta’ala.

Terkait:   Khutbah Idul Adha 2017

Hadhrat Masih Mau’ud (as) menjelaskan topik yang terdapat di dalam ayat ini beserta hikmah dan falsafahnya: “Selama keikhlasan dan ketulusan belum menyertai shalat dan puasa lahiriah, maka di dalamnya tidak terdapat keistimewaan. Para rahib dan orang-orang yang ahli ibadah juga menjalankan mujāhadah-mujāhadah (upaya keras) yang besar. Dapat diperhatikan di banyak kesempatan bahwa sebagian mereka menjadikan lengan-lengannya mengecil dan menciut (dimana mereka menjadikan tangan-tangan mereka selalu dibuat tetap pada posisi tertentu yang mengakibatkan terhentinya sirkulasi darah, maka menciutlah lengan-lengan mereka) dan mereka menderita kekurusan yang sangat dan penderitaan-penderitaan yang sangat, namun kekurusan-kekurusan ini tidak memberikan nur pada mereka dan mereka tidak memperoleh ketenteraman dan ketenangan (maksudnya : mereka itu menjalankan amalan lahiriah tapi tidak mendapatkan keruhanian dan nur yang datang dari Allah) bahkan keadaan batiniah mereka itu buruk.

Memang mereka menjalankan mujāhadah-mujāhadah fisik yang tidak punya keterkaitan dengan batin (maksudnya : hubungan mujāhadah-mujāhadah duniawi mereka yang bersifat lahiriah dengan ruhaninya menjadi lemah) – dan tidak memberikan pengaruh pada keruhanian mereka, karena itulah Allah Ta’ala berfirman di dalam Al-Qur’an, لَنْ یَّنَالَ اللّٰہَ لُحُوۡمُہَا وَلَا دِمَآؤُہَا وَلٰکِنۡ یَّنَالُہُ التَّقۡوٰی مِنۡکُمۡ  “Daging dan darah [hewan kurban] itu sekali-kali tidak akan sampai pada Allah, tetapi yang akan sampai pada-Nya adalah ketakwaanmu….”

Beliau (as) bersabda, “Pada hakikatnya Allah Ta’ala tidak memandang kulit, melainkan Dia menyukai isi.” Beliau (as) bersabda, “Sekarang pertanyaanya, jika daging dan darah tidak sampai, melainkan takwa yang sampai, maka kemudian apa perlunya berkurban? Dan demikian juga jika shalat dan puasa adalah kaitannya dengan ruh, lantas apa perlunya (gerakan-gerakan dalam shalat yang kita lakukan secara) lahiriah?” (maksudnya bisa saja kita beribadah itu dengan ruh dan tidak perlu gerakan-gerakan lahiriah di dalam shalat. Demikian pula apa maksud mencegah makan dan minum dari pagi hingga petang dalam kondisi puasa? Dimana yang terpenting adalah cukuplah dengan ketetapan hati dan berterimanya hati dengan rasa lapar dan penderitaan yang diderita seorang fakir dan seseorang yang lapar).

Beliau (as) bersabda, “Jawabannya adalah, (sikap-sikap tubuh ini) merupakan suatu hal yang mutlak bahwa siapa yang meninggalkan pengkhidmatan dengan tubuh, maka ruh tidak akan menuruti mereka dan di dalamnya tidak akan bisa tercipta penghambaan dan ubudiyyat yang merupakan tujuan sebenarnya.” (maksudnya, apabila gerakan-gerakan lahiriah tidak timbul dan tubuh tidak menanggung penderitaan maka ibadah seperti ini tidak akan berdampak pada jiwa atau ruh. Maka dari itu, beragam keadaan-keadaan lahiriah di dalam shalat untuk menciptakan kerendahan hati dan kekhusyukan di dalam shalat yaitu untuk mengekspresikan bahwa ruh-ruh juga merapikan posisi tangan-tangan, ruh-ruh akan ruku dan sujud seperti halnya tubuh dan ini merupakan maksud ibadah).

Beliau (as) bersabda, “Mereka yang hanya melakukannya secara jasmani saja dan tidak menyertakan ruh di dalamnya, mereka ini pun terjerumus dalam kekeliruan yang berbahaya. (maksudnya : mereka melakukan gerakan-gerakan lahiriah dalam shalat sementara ruh tidak melakukan shalat manakala mereka tidak mengetahui apa yang mereka ucapkan atau tidak memahami ibadah yang dilaksanakannya, dan apabila mereka mempersembahkan kurban, lalu mereka tidak tahu mengapa mereka berkurban, apabila mereka berpuasa akan tetapi mereka tidak mengetahui untuk apa mereka berpuasa dan apa maksud mereka dari melaksanakan itu) “… dan para Yogi adalah termasuk jenis yang seperti ini.” (yang mana mereka hanya melaksanakan ibadah-ibadah lahiriah dengan tubuh mereka semata)

Beliau (as) bersabda, “Allah Ta’ala telah menetapkan hubungan timbal balik antara ruh dan tubuh. Tubuh akan memberikan efek atau pengaruh pada ruh. Ringkasnya, sesungguhnya dua rangkaian ruhani dan jasmani akan berjalan seiring sejalan.”

Ketika kekhusyukan terlahir pada ruh, pada tubuh juga akan tercipta kekhusyukan juga. (artinya: ketika kalbu seseorang itu tawaduk (rendah hati), pengaruhnya juga akan berimbas pada ruh juga dan tubuh juga akan menjadi tawaduk), karena itulah ketika ketawadukan dan kerendahan hati tercipta di dalam ruh sudah otomatis pengaruh-pengaruhnya juga akan muncul di dalam tubuh. Seperti itulah, ketika suatu pengaruh yang khas memengaruhi tubuh, ruh juga akan mendapatkan pengaruhnya.”[1]

Oleh karena itulah, ruh itu akan mendapatkan pengaruh dari gerakan-gerakan lahiriah, maka pengurbanan-pengurbanan lahiriah itu sesungguhnya untuk menggerakkan ruh-ruh kita dan memberikan pemahaman pada kita bahwa sebagaimana sesuatu yang kecil ini disembelih demi kalian, seperti itu pulalah tabiat seorang mukmin sejati bahwa ia akan bersedia mempersembahkan setiap pengurbanan untuk mengamalkan hukum-hukum Allah Ta’ala. Seharusnya kalian membuat tubuh-tubuh kalian siap sedia untuk dikurbankan sebagaimana ruh-ruh kalian dan kalian tingkatkan standar ketakwaan kalian.

Seperti itulah perhatian Hadhrat Masih Mau’ud (as) untuk meraih standar tinggi ketakwaan: “Bertakwalah kalian pada Allah seakan-akan kalian hampir-hampir mengalami kematian pada jalan-Nya. Sebagaimana kalian menyembelih binatang-binatang kurban dengan tangan kalian sendiri, seperti itu pula kalian menyembelih jiwa-jiwa kalian di jalan Allah. Setiap kali ketakwaan itu lebih rendah dari tingkatan ini, hal itu merupakan kerugian.”[2]

Inilah maqam yang harus kita upayakan untuk meraihnya. Hazrat Ibrahim, Ismail dan Hājar ‘alaihimussalām meraih standar ini dan mereka mempersembahkan pengurbanan yang untuk mengingat pengurbanan tersebut, pada hari ini orang-orang Muslim di berbagai negeri di dunia dimana pun mereka berada berkumpul bersama dan memperingatinya. Keluarga ini tidak membiarkan bagi seorang Muslim mana pun, apa pun jenis kelaminnya dan berapa pun umurnya, suatu alasan yang akan menghalangi tanpa meraih standar tertinggi ketakwaan dan pengurbanan karena baik laki-laki, perempuan maupun anak-anak juga mempersembahkan pengurbanan.

Terkait:   Khutbah Idul Adha 2017

Penyembelihan dengan pisau adalah pengurbanan yang paling kecil dibandingkan dengan seorang perempuan (Siti Hajar) yang telah berani menanggung resiko pergi ke suatu tempat yang tidak ada air dan tanaman dengan sekantung kurma dan satu cerek air dan ia menjalani kehidupan di sana semata-mata demi ridha Allah Ta’ala. Perempuan ini begitu mencintai puteranya ketimbang dirinya, namun ia bersedia mempersembahkan pengurbanan ini karena ia memiliki keyakinan terhadap Allah Ta’ala akan pengurbanan dan menyandarkan pengurbanan itu pada Allah Ta’ala bahwa Dia tidak akan menyia-nyiakan pengurbanan apa pun di jalan-Nya dan sesungguhnya Allah Ta’ala memberikan kabar suka mengenai itu.

Siti Hājar mengetahui hal itu sehingga ia berkata pada suaminya, “Apabila engkau meninggalkan kami demi Allah Ta’ala, kita tidak akan mempedulikan sesuatu pun, engkau bisa kembali karena Allah Ta’ala tidak akan pernah menyia-nyiakan kita.” Maka dari itu, pengurbanan demi wajah Allah Ta’ala itu selamanya tidak akan pernah menjadi sia-sia, justru seorang yang berkurban akan mendapatkan kabar-kabar gembira dari Allah Ta’ala dan Allah akan meliputi seorang bertakwa dengan keridhaan-Nya. Mereka telah menyaksikan nikmat-nikmat ini dan ribuan para wali dan ribuan orang telah melihatnya, bahkan setiap orang yang berkurban demi wajah Allah Ta’ala, ia telah meraih keridhaan Allah Ta’ala dan kesusahan dan keperihannya berganti dengan kebahagiaan. Perempuan ini merasa ridha mengurbankan dirinya dan anaknya dengan maksud meraih keridhaan Allah Ta’ala. Kemudian Allah Ta’ala memuliakannya yang mana Allah Ta’ala memperingati pengurbanan ini hingga hari Kiamat. Lebih dari pada itu, Dia menjadikan dari keturunannya seorang Nabi Agung yang dengan quwwat qudsiyyahnya menciptakan Jamaah mukminin (Jemaat orang-orang beriman) yang setiap anggota Jamaat orang-orang mukmin itu, baik laki-laki, perempuan, maupun anak-anak akan mencapai mutu tertinggi ketakwaan dan mempersembahkan dan mempersembahkan pengurbanan-pengurbanan yang sulit didapatkan tara bandingannya di dunia.

Pada saat-saat ini saya tengah menyampaikan riwayat para Sahabat Badar dalam khotbah-khotbah dan secara tidak langsung saya tengah mengemukakan penyampaian beberapa peristiwa-peristiwa yang berkenaan dengan para perempuan, anak-anak dan standar tinggi pengurbanan mereka. Sesungguhya standar pengurbanan–pengurbanan mereka dan model-model derajat-derajat mereka yang tinggi dalam ketakwaan yang layak dicatat dengan menggunakan tinta emas. Sesungguhnya amalan-amalan mereka itu adalah uswah hasanah bagi kita sesuai perintah Nabi (saw).

Tatkala kita mengimani Masih Mau’ud dan Imam Mahdi (as) pada zaman ini, maka kita harus mengintrospeksi diri kita dan merenungkan hal-hal: Apakah kita tengah berusaha dengan sungguh-sungguh untuk meraih setiap kebaikan ataukah tidak? Kemudian, apakah tolok ukur kebaikan-kebaikan kita menjadi representasi (perwakilan) tolok ukur-tolok ukur kebaikan-kebaikan mereka ini ataukah paling tidak apakah kita berusaha untuk sampai pada tolok ukur yang diraih para Sahabat Nabi ((saw))? Kita mengaku, kita adalah Jamaahnya orang-orang akharin, maka kita semestinya memperlihatkan contoh-contoh yang layak.

Dengan karunia Allah Ta’ala dalam hal ini ada sekelompok orang-orang di antara kita yang tengah mengupayakan “keadaan” ini di dalam diri mereka, yaitu “keadaan” mengamalkan hukum-hukum Allah Ta’ala dan berjalan di atas jalan-jalan ketakwaan serta mengutamakan agama di atas dunia. Namun, kecenderungan terhadap dunia telah menjadikan sekelompok orang dari antara kita juga – meskipun janji mereka akan mengutamakan agama di atas dunia – tidak mengalami kemajuan ketakwaan yang diharapkan, yaitu “keadaan” orang yang menempuh jalan-jalan ketakwaan secara hakiki.

Apakah “keadaan” tersebut? Saya menyampaikan pada kalian sebuah atau dua buah kutipan dari kalam Masih Mau’ud (as) tentang “keadaan” ini dan mengenai tolok ukurnya. Beliau (as) bersabda: “Seorang insan itu harus memelihara poin-poin halus ketakwaan.” (maksudnya: selalu menempatkan di hadapan kedua matanya perkara-perkara halus yang berkenaan dengan ketakwaan. Beliau (as) bersabda:) “Perihal penjagaan-penjagaan kalian terhadap hakikat-hakikat halus ketakwaan ini menyembunyikan keselamatan. Jika seorang insan tidak memelihara perkara-perkara yang kecil, itu secara perlahan akan membawanya untuk melakukan dosa-dosa besar.” (karena insan menyangka itu adalah hal-hal kecil, meskipun itu akan menggiringnya pada melakukan dosa-dosa besar dan menjauhkannya dari jalan agama. Beliau bersabda:) ”Semestinya pencapaian-pencapaian derajat tertinggi ketakwaan ada di hadapan kedua mata kalian. Untuk tujuan ini harus menjaga hakikat-hakikat halus ketakwaan.”[3]

Dalam hal ini penting sekali memfokuskan hal ini. Sabda beliau (as) sangatlah jelas bahwa jika kita berleha-leha, tidak memerhatikan hal-hal tersebut dan terbesit dalam benak kita bahwa ini adalah kesalahan kecil serta hal itu tidak menjadi perkara yang merisaukannya atau kita kukuh dengan hal tersebut maka hal-hal ini akan menjadi serius dan menjadi kesalahan-kesalahan dan perbuatan dosa-dosa.

Dalam hal ini sebagian orang yang meninggalkan satu di antara shalat-shalat hariannya dan sebagian mereka ini mengatakan: “Kami melaksanakan semua shalat meskipun hanya satu shalat terkadang terluput dari kami.” Hendaknya mereka itu tahu bahwa kadangkala mereka tinggalkan satu shalat akan membuat perhatian terhadap shalat-shalat yang lainnya pun akan hilang. Sesungguhnya posisi terjepit dalam hal-hal laghaw kecil akan mengantarkan pada menjauhnya pelakunya dari agama. Oleh karenanya kita menghendaki pelaksanaan janji mendahulukan agama di atas dunia adalah sebagai hakikat, maka kita semestinya menyelamatkan diri kita dari setiap hal laghaw.

Terkait:   Khutbah Idul Adha 2017

Kemudian beliau (as) menyebutkan tentang “Takwa”, beliau bersabda, “Sesungguhnya penjelasan perintah-perintah, larangan-larangan dan hukum-hukum Allah yang disebutkan di dalam Al-Qur’an adalah dari awal hingga Akhir Al-Qur’an…” (maksudnya : di dalam Al-Qur’an terdapat penjelasan hal-hal yang harus dijalankan oleh insan dan perkara-perkara yang mesti dijauhi), “… di dalamnya disebutkan ratusan cabang dari berbagai macam perintah. Dan saya utarakan secara ringkas bahwa Allah Ta’ala sama sekali tidak memperkenankan kekacauan di bumi. Dia Yang menciptakan makhluk tidak menghendaki manusia melakukan kekacauan di muka bumi. Sesungguhnya Allah Ta’ala menginginkan tersiarnya wahdah (kesatuan) di dunia. Adapun orang yang mengganggu saudaranya tanpa haq, berdusta atau pun berkhianat maka ia adalah musuh kesatuan. Oleh karena itu, selama masih ada pemikiran-pemikiran jahat ini dari kalbu, kesatuan sejati tidak akan tersiar. Saya katakan, inilah pokok-pokok halus ketakwaan, maka orang yang merupakan musuh kesatuan bagaimana mungkin ketakwaan itu ada dalam kalbunya? Jika demikian, ini adalah suatu tingkatan tadabbur dan kekhawatiran yang kuat, maka seseorang yang mengganggu saudaranya, ia adalah musuh kesatuan; apabila seseorang berkhianat, maka ia adalah musuh kesatuan. Apabila pemikiran-pemikiran jahat timbul di dalam kalbu seseorang, maka ia jauh dari ketakwaan.”

Oleh karena itu, kita harus mengupayakan dengan sungguh-sungguh untuk menghindari pemikiran-pemikiran semacam ini, barulah saat itu kita bisa menegakkan kesatuan, barulah kita bisa menyempurnakan janji yang kita ikrarkan dengan Masih Mau’ud (as).

Kita berdoa kepada Allah Ta’ala supaya memberi taufik pada kita supaya berjalan pada jalan-jalan ketakwaan sejati. Semoga kita diberikan kekuasaan memahami Idul Adha dengan pemahaman ini dan pengertian yang hakiki akan pengurbanan-pengurbanan. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik pada kita untuk menyucikan jiwa kita dari setiap kotoran dan noda dan kita akan meraih keridhaan Allah Ta’ala dengan memahami jalan-jalan ketakwaan yang paling halus dan kita menjadi orang-orang diberikan kabar suka oleh Allah Ta’ala.

Kalian harus ingat di dalam doa-doa kalian hari ini yang merupakan hari Idul Adha, yaitu mereka yang mengurbankan diri mereka untuk Jemaat. Semoga Allah Ta’ala mengangkat derajat mereka dan memberikan taufik pada generasi penerusnya untuk senantiasa berpegang teguh dengan Jamaah Masih Mau’ud (as). Kemakbulan doa-doa syuhada dan orang-orang yang mempersembahkan pengorbanan-pengurbanan terdapat pada kebenaran mereka dan pada kebenaran (kejujuran) anak-anak dan generasi penerus mereka.

Berdoalah juga untuk diangkatnya derajat-derajat para Mubaligh awwalin yang telah mempersembahkan pengurbanan-pengurbanan berat. Mereka pergi ke negeri-negeri yang jauh dan menyampaikan dakwah Islam pada bangsa-bangsa yang tengah tenggelam di dalam kegelapan. Oleh karena itu, kita berdoa pada Allah Ta’ala supaya meneguhkan anak-anak para mubaligh ini dan juga para generasi penerusnya senantiasa berada dalam keimanan, keyakinan, keikhlasan dan kesetiaan.

Demikian juga, kalian ingatlah di dalam doa-doa kalian untuk mereka yang memberikan pengurbanan-pengurbanan di zaman yang serba tersedia ini dan mereka menabligkan dakwah Islam, mengkhidmati Islam denga menyucikan jiwa mereka dari cela-cela diri, maka doakanlah juga supaya Allah Ta’ala menerima pengurbanan-pengurbanan mereka.

Kemudian doakan para tahanan di jalan Allah supaya mereka dibebaskan dengan segera dari penahanan. Doakanlah mereka yang selalu mempersembahkan pengurbanan-pengurbanan dari semenjak rentang masa yang lama di Pakistan supaya Allah Ta’ala merahmati mereka dan membebaskan mereka dari kesewenang-wenangan ini. Berdoalah pada Allah Ta’ala supaya memberikan kemudahan pada kita dan merahmati kita, meningkatkan keimanan dan keyakinan kita semua dan kita menyaksikan kesaksian-kesaksian yang mengemukakan Ahmadiyah itu merupakan Islam sejati lebih daripada sebelum-sebelumnya, maka kita akan merayakan kegembiraan Id hakiki.

Perbanyaklah doa-doa ini dan upayakanlah dengan sungguh-sungguh untuk meningkatkan keimanan. Berupayalah kalian dengan sungguh-sungguh untuk memerhatikan Saudara-saudara kalian. Maka pelajaran ini yang tengah kami ajarkan pada Idul Adha. Kita berdoa pada Allah Ta’ala semoga memberikan taufik pada kita semua untuk mengamalkannya.

Khotbah II 

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلاَ هَادِيَ لَهُ ‑ وَنَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ – عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ أُذكُرُوْااللهَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Kemudian Hudhur atba setelah Khotbah kedua mengatakan: “Marilah kita berdoa bersama.”

“Aamiin.”

Setelah doa bersama, Hudhur (atba) bersabda, “Semoga Allah memberi keberkatan Id pada kalian semua dan untuk para Ahmadi di seluruh dunia. Wassalamu ’alaikum wa rahmatullah.”

Diterjemahkan oleh : Abkari Munwana; editor: Dildaar Ahmad; sumber referensi: www.islamahmadiyya.net (bahasa Arab)


[1] Al-Hakam, Jilid 7 Nomor 8, 28 Februari 1903.

[2] Casyma-e-Ma’rifat hal.91 bagian catatan kaki.

[3] Al-Hakam Nomor 39, Jilid 9, Edisi : 10 November 1905 h.5.