Khuddamul Ahmadiyah Denmark Mendapat Kehormatan ‘Mulaqat Virtual’ dengan Pemimpin Ahmadiyah

mulaqat pertemuan virtual

Pada 14 Agustus 2021, Pemimpin Dunia Jamaah Muslim Ahmadiyah, Khalifah Kelima, Hazrat Mirza Masroor Ahmad mengadakan mulaqat (pertemuan) online virtual dengan anggota Majlis Khuddamul Ahmadiyah dari Denmark.

Huzur memimpin pertemuan ini dari kantor Beliau di Islamabad, Tilford, sementara para anggota Majlis Khuddamul Ahmadiyah bergabung secara virtual dari kompleks Masjid Nusrat Jahan di Kopenhagen.

Setelah acara formal singkat yang dimulai dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, para anggota Majlis Khuddamul Ahmadiyya berkesempatan untuk bertanya kepada Huzur mengenai berbagai persoalan agama dan isu-isu kontemporer.

Cara Mendidik Anak di Lingkungan Non-Muslim

Seorang Khuddam bertanya kepada Huzur tentang cara terbaik dalam mendidik anak di tengah masyarakat non-Muslim.

Hazrat Mirza Masroor Ahmad menjawab:

“Sangat penting bagi orang tua membangun ikatan persahabatan dengan anak-anak mereka. Anak-anak harus nyaman untuk berbagi segala hal dengan kalian mengenai apa pun yang dibahas di sekolah mereka atau di tempat lain.

Ketika anak-anak menanyakan berbagai hal, maka kalian harus menjawab pertanyaan mereka dan menjelaskannya, bukannya menghindar.

Mungkin kadang-kadang kalian merasa malu karena pendidikan dari Pakistan, tetapi kalian harus menanggapi anak-anak sesuai dengan ajaran Islam.

Akan ada beberapa hal ketika kalian perlu memberi tahu anak-anak bahwa meskipun mereka telah telah membahas sesuatu di sekolah, karena usia mereka yang masih muda, mereka tidak boleh menyibukkan diri dengan hal-hal seperti itu sampai mereka sudah besar dan lebih dewasa. Begitu juga kalian tidak boleh membuat mereka seolah-olah telah melakukan kesalahan.”

Hazrat Mirza Masroor Ahmad (aba) melanjutkan:

“Di atas semua itu, kalian harus tegas menanamkan dalam diri anak-anak bahwa mereka adalah Muslim Ahmadi, kalian harus mendidik mereka tentang apa itu Jamaah Muslim Ahmadiyah – yang merupakan Islam sejati – dan menjelaskan kepada mereka mengapa kita menjadi Ahmadi dan apa tujuan dan cita-cita kita.

Saat orang-orang materialistis hanya berupaya memenuhi keinginan materi mereka, tujuan kita jauh lebih besar. Oleh karena itu, sejak kecil, bimbinglah anak-anak tentang perlunya berjuang memenuhi tujuan-tujuan agung ini.”

Perlukah Undang-undang Penistaan Agama?

Peserta lain bertanya kepada Huzur apakah perlu adanya undang-undang penistaan agama di suatu negara untuk menghentikan orang-orang mencaci Al-Qur’an atau tokoh-tokoh Suci.

Hazrat Mirza Masroor Ahmad (aba) menjawab:

“Allah Ta’ala adalah Zat yang telah menegakkan dan melindungi kehormatan dan kemuliaan para Nabi-Nya dan orang-orang suci. Hukum dunia tidak ada bedanya dalam masalah ini… Namun, kita harus mendorong orang-orang tentang apa itu kebebasan sejati. Memiliki kebebasan tidak berarti memperbolehkan Anda untuk mencuri uang dari kantong orang lain. Kebebasan itu bukan berarti Anda boleh membobol rumah orang lain dan menjarah harta benda mereka. Sama sekali tidak. Jadi, untuk membangun perdamaian, setiap warga negara harus menjaga perasaan orang lain. Masyarakat yang di dalamnya menjaga perasaan orang lain, otomatis akan tercipta suasana yang damai. Ketika suasana damai dan persaudaraan terjalin, orang-orang tidak akan mempermainkan perasaan orang lain.”

Terkait:   Pertama Kali Sejak Pembatasan Covid, Muslim Inggris Berkumpul pada Konvensi Islam Terbesar di Inggris

Hazrat Mirza Masroor Ahmad melanjutkan dan bersabda:

“Allah Ta’ala tidak menetapkan hukuman apapun untuk penistaan. Meski demikian Allah Ta’ala berfirman bahwa Anda harus hidup seperti saudara dan menjaga perasaan satu sama lain. Jika setiap masyarakat mengamalkan prinsip dasar ini, maka masalah-masalah lain akan terselesaikan. Masyarakat harus mengakui prinsip dasar bahwa tiap orang jangan hanya berfokus untuk memenuhi hak-hak pribadi, tetapi mereka juga harus memenuhi kewajiban pada orang lain – setiap warga negara harus menyadari hal ini. Inilah ajaran agama yang diberikan kepada kita.”

Bagaimana Allah Berkomunikasi dengan Manusia?

Khadim lainnya bertanya kepada Huzur bagaimana Allah Ta’ala berkomunikasi dengan orang yang dicintai-Nya, terutama dengan khalifah yang dipilih oleh Allah.

Hazrat Mirza Masroor Ahmad menjelaskan:

“Allah Ta’ala memiliki banyak cara untuk berbicara kepada manusia. Hazrat Masih Mau’ud as telah menjelaskan hal ini dengan sangat rinci. Jika Anda membaca buku ‘Haqiqatul Wahi’ [Falsafah Wahyu Ilahi], Anda akan mengetahui bagaimana Allah Ta’ala melakukannya.

Kadang Allah menyampaikan sesuatu melalui mimpi, di lain kesempatan Dia menerangkan sesuatu melalui kasyaf dan terkadang sebuah pemahaman tertanam di dalam hati seseorang dan persoalannya tervisualisasikan di depan orang tersebut di dalam hati mereka. Sebagian orang diterangkan tentang suatu hal melalui wahyu. Jadi, terdapat berbagai cara dan apa pun yang menurut Allah paling tepat bagi seseorang [Dia akan lakukan sesuai itu].”

Hazrat Mirza Masroor Ahmad lebih lanjut bersabda:

“Allah Ta’ala juga yang mewujudkan hasil perbuatan, karena Dialah yang memberi petunjuk. Terkadang, tanpa sepengetahuan seseorang, ia dibimbing dan ia tidak memahaminya. Ketika ia berdoa, tiba-tiba sebuah jalan terbuka dan ketika ia menapaki jalan itu, ia mulai melihat kesuksesan dan ia kemudian sadar bahwa ini sebenarnya kehendak dan keinginan Allah Ta’ala. Jadi, dengan cara ini, ada berbagai sarana komunikasi.”

Cara Terbaik Menyebarkan Pesan Islam Ahmadiyah

Seorang Khadim yang telah masuk Jamaah Muslim Ahmadiyah bertanya kepada Huzur apa metode terbaik untuk menyampaikan pesan Ahmadiyah.

Hazrat Mirza Masroor Ahmad menjawab:

“Anda tidak bisa memaksa siapa pun (untuk bergabung dengan Jamaah Muslim Ahmadiyah). Bahkan Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi (Shallallahu ‘alaihi wasallam) bahwa meskipun engkau harus menyampaikan pesan Islam, tetapi engkau tidak dapat memaksakan ajaran Islam kepada orang lain dan engkau tidak dapat memaksa siapa pun untuk mengikuti engkau.

Terkait:   Dialog Muslim Menyambut Ramadhan: Meneguhkan Persaudaraan Muslim, Keindonesiaan, dan Kemanusiaan

Inilah sebabnya mengapa Allah Ta’ala berfirman, ‘Tidak ada paksaan dalam agama. Sesungguhnya jalan benar telah nyata bedanya dengan kesesatan. Meskipun jalan yang benar telah nyata perbedaannya dengan kesesatan, kalian tidak dapat memaksa orang lain. Anda hanya menyampaikan pesan dan jika orang lain menerima, maka hal itu baik dan bagus. Jika mereka tidak menerima, maka doakanlah mereka semoga Allah memberi petunjuk kepada mereka.”

Huzur memberikan sebuah contoh Hazrat Abu Huraira (ra), sahabat Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam). Ibunda beliau adalah seorang non-Muslim dan ia mulai melecehkan Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) secara lisan. Hazrat Abu Hurairah ra meminta Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) untuk mendoakan ibunda beliau dan hasil doa itu, hati ibunya tiba-tiba berubah dan akhirnya masuk Islam.

Jika Allah Maha Penyayang, Mengapa Banyak yang Sakit?

Peserta lain bertanya kepada Huzur bagaimana Allah dikatakan ‘Pemurah’ dan ‘Penyayang’ manakala anak-anak kecil terlahir dengan penyakit atau ada orang yang menderita penyakit kesehatan mental, seperti skizofrenia.

Hazrat Mirza Masroor Ahmad bersabda:

“Sebuah penyakit muncul karena beberapa alasan; apakah itu karena sebab-sebab fisik setelah anak dilahirkan atau sebelum dilahirkan. Terkadang suatu penyakit muncul disebabkan karena lingkungan dan keadaan sekitarnya. Jadi ada hukum alam yang bekerja. Jika Anda masuk ke daerah yang penuh malaria dan Anda digigit nyamuk malaria, maka Anda akan tertular malaria, kecuali jika Anda menggunakan obat antimalaria. Bahkan kadang-kadang meski sudah minum obat, tetap saja masih bisa tertular malaria. Jadi, haruskah kita bertanya, ‘Mengapa anak-anak menderita malaria meskipun sesungguhnya mereka tidak membahayakan siapa pun?’”

Hazrat Mirza Masroor Ahmad lebih lanjut bersabda:

“Demikian pula, terdapat penyakit yang terkait kesehatan mental seperti skizofrenia atau depresi yang terjadi karena sebab-sebab tertentu. Dengan karunia-Nya, dalam kondisi seperti itu, jika mereka melalukan suatu perbuatan yang salah maka Allah tidak akan menghukum dosa-dosa mereka… Allah ta’ala berfirman bahwa banyak ganjaran Allah akan dianugerahkan di kehidupan yang akan datang. Ketika ganjaran pahala diberikan di akhirat, maka siapa yang tahu bahwa orang yang kita kita anggap tidak baik di dunia ini, kemudian ia berada dalam kondisi yang lebih baik daripada kita di akhirat, kendatipun kita biasa menjalankan shalat. Maka inilah Karunia, Kasih Sayang, dan ampunan dari Allah Ta’ala.”

Mengapa Media Sering Memburukkan Islam dan Pentingnya Menjalin Hubungan dengan Media

Peserta lain bertanya kepada kepada Huzur (aba) mengapa media terus menerus menyerang Islam dan menyajikannya secara negatif.

Hazrat Mirza Masroor Ahmad menjelaskan bahwa media tidak mengetahui ajaran Islam yang benar sehingga ketika mereka melihat tindakan salah satu organisasi teroris dan ekstremis, mereka anggap itu sebagai gambaran Islam, padahal hal itu sangat keliru. Huzur mengatakan bahwa orang-orang yang bekerja di media perlu dihubungi supaya mereka mendapatkan informasi yang benar tentang Islam.

Terkait:   SIARAN PERS: Vaksin dan Moderasi Beragama Kunci Indonesia Keluar dari Pandemi

Hazrat Mirza Masroor Ahmad bersabda:

“Di zaman sekarang ini, adalah tugas dari para pengikut Jemaat Hadhrat Masih Mau’ud (as) supaya mereka memberi tahu dunia bagaimana gambaran Islam yang benar. Jadi ini adalah tanggung jawab dan tugas kalian. Mengapa kalian tidak menyampaikan pesan Islam yang benar kepada setiap orang di negara kalian dan menyampaikan pesan ini kepada orang-orang yang bekerja di media dan mengapa tidak menulis kolom di surat kabar?”

Huzur melanjutkan dengan mengatakan bahwa Majelis Khuddamul Ahmadiyah harus menjangkau media dan menulis artikel dan surat kepada berbagai editor yang diterbitkan dalam bentuk berita untuk memperbaiki citra Islam. Huzur bersabda, “jangan biarkan kesempatan terlepas dari tanganmu” untuk memberitahu orang-orang tentang pesan damai Islam.

Hazrat Mirza Masroor Ahmad bersabda:

“Jadi sampaikanlah pesan Islam yang hakiki kepada media supaya mereka tidak lagi mengkritik atau melontarkan tuduhan palsu. Jalinlah hubungan dengan media dan terangkanlah kepada mereka. Kalian harus terjalin erat dengan mereka, undanglah mereka ke acara-acara kalian dan kembangkan hubungan sehingga mereka bersedia mempublikasikan tulisan kalian. Maka dengan itu mereka akan melihat sendiri kebenaran. Jika tidak demikian, ketika sebuah media yang hanya melihat tindakan keliru umat Islam tertentu, maka tentu saja mereka akan memberitahukan kepada orang-orang tentang hal itu. Tentu saja, ketika kita menerangkan kepada mereka tentang ajaran Islam yang benar, mereka akan mengakui kesalahan mereka (dalam liputan-liputan sebelumnya). Banyak yang berbicara seperti itu dan kemudian mereka membuat tulisan yang mendukung Islam.”

Terakhir, Huzur mendorong Majlis Khuddamul Ahmadiyya dari Denmark untuk menjadi teladan dari Majlis Khuddamul Ahmadiyya dan membawa pesan Jemaat Muslim Ahmadiyah kepada setiap orang Denmark di tahun-tahun mendatang.

Hazrat Mirza Masroor Ahmad bersabda:

“Majelis Khuddamul Ahmadiyah Denmark harus mencoba menjadi role model bagi cabang-cabang Majlis Khuddamul Ahmadiyah lainnya di seluruh dunia. Kedua, kalian harus menyebarkan literatur tentang Islam dalam jumlah besar di Denmark. Jika populasi negara kalian lima juta maka setiap tahun kalian harus mendistribusikan 250.000 – 500.000 selebaran setiap tahun. Jika Majlis Ansarullah juga ikut menyebarkan 250.000 dan Lajnah Imaillah 200.000 atau 250.000 maka hampir satu juta orang dalam setahun dapat dicapai, sehingga dalam 6 tahun kalian dapat menginformasikan seluruh penduduk Denmark tentang ajaran Islam yang benar. Sejauh ini, bahkan 5% orang pun tidak tahu apa itu Jamaah Muslim Ahmadiyah.”

Sumber: Alislam.org

Leave a Reply

Begin typing your search above and press return to search.
Select Your Style

You can choose the color for yourself in the theme settings, сolors are shown for an example.