Keteladanan Para Sahabat Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam (Manusia-Manusia Istimewa, seri 73)

Pembahasan mengenai seorang Ahlu Badr (Para Sahabat Nabi Muhammad (saw) peserta perang Badr atau dianggap oleh Nabi (saw) mengikuti perang Badr), Hadhrat Khabbaab bin al-Aratt radhiyAllahu ta’ala ‘anhu.

Penjelasan Kitab Tarikh (Sejarah) bernama Usdul Ghaabah mengenai penentangan kaum Quraisy di masa awal dan Komentar Hadhrat Khalifatul Masih V atba.

Uraian Hadhrat Mirza Bashir Ahmad (ra) tentang peranan Khabbaab sebagai penyeru dakwah Islam kepada keluarga Quraisy lainnya.

Penjelasan Hadhrat Khalifatul Masih II (ra) mengenai peranan beliau dan para Muslim awal lainnya.

Dzikr-e-Khair dari Khalifah ‘Ali bin Abu Thalib (ra) saat pulang ke Kuffah dan mendapati Hadhrat Khabbaab (ra) telah dikubur. Doa Khalifah ‘Ali (ra) kepada beliau di dekat kuburan beliau.

Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 08 Mei 2020 (Hijrah 1399 Hijriyah Syamsiyah/Ramadhan 1441 Hijriyah Qamariyah) di Masjid Mubarak, Tilford, UK (United Kingdom of Britain/Britania Raya)

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ. (آمين)

Pada hari ini saya akan menyampaikan kisah seorang sahabat Badar bernama Hadhrat Khabbaab Bin Aratt (خَبَّابُ بْنُ الأَرَتِّ بْنِ جَنْدَلَةَ بْنِ سَعْدِ بْنِ خُزَيْمَةَ بْنِ كَعْبٍ) radhiyAllahu ta’ala ‘anhu. Beliau berasal dari Kabilah Banu Sa’d Bin Zaid. Ayahanda beliau bernama al-Aratt Bin Jandalah. Beliau dipanggil Abu Abdullah.

Sebagian berpendapat Abu Muhammad. Sebagian lagi menyebutnya Abu Yahya.

Pada zaman jahiliyah beliau dijadikan budak belian lalu dijual di Makkah. Beliau adalah budak belian miliki Utbah Bin Ghazwan. Sebagian berpendapat bahwa beliau adalah budak belian milik Ummi Anmar Khazaiyah. Beliau pendukung Banu Zuhrah.

Beliau termasuk diantara sahabat yang baiat Islam di masa awal pada urutan keenam. Beliau juga termasuk awal yang menampakkan keislamannya yang sebagai akibatnya beliau mengalami penganiayaan yang kejam. Beliau baiat sebelum Rasul memasuki Darul Arqam untuk berdakwah.

Mujahid mengatakan, para sahabat yang paling dahulu menyatakan labbaik pada penda’waan Hadhrat Rasulullah (saw) lalu memperlihatkan keislamannya adalah Hadhrat Abu Bakar, Hadhrat Khabbaab, Hadhrat Suhaib, Hadhrat Bilal, Hadhrat Ammar, Hadhrat Sumayyah ibunda Hadhrat Ammar.

Lebih lanjut Mujahid mengatakan, “Allah Ta’ala telah melindungi Rasulullah dengan perantaraan paman beliau, Abu Thalib sedangkan Abu Bakar dilindungi oleh kaumnya.”

Tampaknya penulis ini menulis menurut perspektifnya. Mungkin tidak terlintas di benaknya bahwa meskipun seperti yang ia tuliskan paman beliau, Hadhrat Abu Thalib melindungi beliau, namun Rasulullah (saw) sendiri tidak aman dari tangan-tangan zalim kaum Musyrik Makkah begitu juga Hadhrat Abu Bakar, sejarah menjadi saksi bahwa beliau pun dijadikan berbagai sasaran aniaya, bahkan Hadhrat Abu Thalib juga.

Selanjutnya penulis [Usdul Ghaabah, yaitu Ibnu al-Atsir] mengatakan, “Hadhrat Abu Bakr dan Rasulullah keduanya terlindungi, namun umat Muslim lainnya dipakaikan pakaian besi lalu dijemur dibawah terik matahari yang ekstrim dan seberapa yang Allah Ta’ala kehendaki mereka bersabar dari panasnya besi dan matahari. Sya’bi mengatakan bahwa Hadhrat Khabbaab telah menampilkan kesabaran yang luar biasa, beliau menolak ancaman kaum Kuffar untuk berpaling dari Islam sehingga mereka meletakkan batu yang panas yang menyebabkan terkelupasnya kulit punggung beliau.” Semua riwayat ini dari Usdul Ghaabah.[1]

Dalam menjelaskan satu kisah Hadhrat Khabbaab yang terjadi pada saat baiatnya Hadhrat Umar, Hadhrat Mirza Bashir Ahmad menulis dalam buku Sirat Khatamun Nabiyyin sebagai berikut: “Hanya beberapa hari setelah baiatnya Hadhrat Hamzah (ra), Allah Ta’ala berikan kesempatan lagi kepada umat Muslim untuk berbahagia dengan baiatnya Hadhrat Umar yang pada saat itu merupaka penentang keras Islam. Kisah baiatnya beliau pun sangat menarik.”

Pastinya banyak diantara kita yang sudah mendengar dan membaca kisah baiatnya beliau, namun kisah lengkap yang beliau tulis ini akan saya sampaikan karena penting berkenaan dengan sejarah beliau.

“Sifat keras sangat dominan dalam tabiat Hadhrat Umar, namun kebencian terhadap Islam telah membuat beliau semakin lebih garang lagi. Sebagaimana sebelum baiat, beliau sering menyiksa umat Muslim yang miskin dan lemah disebabkan karena baiatnya mereka. Namun setelah lelah menyiksa mereka dan mengetahui kecilnya harapan mereka akan kembali murtad, akhirnya terpikir oleh Hadhrat Umar, kenapa tidak lantas menghabisi penyebab kekacauan ini yakni yang ia maksud adalah Hadhrat Rasulullah (saw). Setelah berpikiran begitu, ia keluar rumah dengan membawa pedang untuk mencari Rasulullah Saw.

Melihat beliau membawa pedang telanjang, seseorang bertanya kepada beliau: ‘Umar! Hendak pergi kemana?’

Umar menjawab, ‘Saya mau menghabisi Muhammad (Saw).’

Orang itu berkata, ‘Apakah setelah membunuh Muhammad kamu akan selamat dari Banu Abdu Manaf (Keluarga besar asal Nabi)? Sebelum itu kamu cari tahu dulu perihal keluargamu sendiri, karena saudari dan adik iparmu telah masuk Islam.’

Mendengar itu, Hadhrat Umar langsung berbalik lalu pergi menuju rumah saudarinya. Setelah sampai didekat rumah adiknya, dari dalam rumahnya terdengar tilawat Al-Qur’an yang tengah di lantunkan oleh Hadhrat Khabbaab Bin Al Arat dengan merdu.

Mendengar itu Umar semakin naik pitam. Ia segera masuk ke rumah saudarinya. Seketika mendengar teriakan Umar, Hadhrat Khabbaab langsung bersembunyi dan saudari beliau, Fatimah bint al-Khaththab langsung menyembunyikan naskah-naskah Al Quran.

Hadhrat Umar masuk lalu berkata dengan suara keras, ‘Saya dengar kalian telah berpaling dari agama kalian?’

Setelah mengatakan itu Hadhrat Umar langsung menyerang suami saudarinya, Said Bin Zaid. Melihat itu Fatimah berusaha menyelamatkan suaminya, namun Fatimah pun terluka karenanya. Namun dengan penuh keberanian Fatimah mengatakan, ‘Ya Umar! Kami telah masuk islam, apapun yang ingin kamu lakukan, lakukanlah, kami tidak akan meninggalkan Islam.’

Hadhrat Umar berperangai keras, namun di balik tembok kerasnya itu terdapat seberkas rasa cinta dan kelembutan yang terkadang memperlihatkan coraknya. Setelah mendengar ucapan saudarinya yang penuh keberanian itu, Hadhrat Umar mengarahkan pandangan kepada saudarinya yang berlumuran darah. Pemandangan tersebut memberikan pengaruh yang khas pada Umar. Setelah sesaat diam, beliau berkata kepada saudari beliau, ‘Perlihatkan padaku kalam yang tengah kalian baca tadi.’

Fatimah berkata, ‘Saya tidak akan memperlihatkannya, karena kamu akan menghancurkannya.’

Umar menjawab, ‘Tidak! Tidak! Perlihatkanlah. Aku pasti akan kembalikan.’

Fatimah berkata, ‘Namun kamu dalam keadaan najis, sedangkan Al Quran harus disentuh dalam keadaan suci. Kalau begitu kamu mandi dulu, lalu akan aku perlihatkan.’”

Hadhrat Mirza Bashir Ahmad menulis, “Mungkin tujuan beliau juga adalah supaya emosi Umar menurun sehingga akan mampu untuk merenungkan dengan hati yang dingin. Ketika Umar selesai dari mandi, Fatimah mengeluarkan naskah Al-Quran dan meletakkannya di hadapan Umar. Umar memegang dan melihatnya ternyata itu adalah ayat ayat permulaan surat Taha. Hadhrat umar mulai membacanya dengan hati yang penuh dengan ru’b.

Setiap untaian kata merasuk kedalam fitrat beliau yang baik dan tengah menampilkan pengaruhnya. Ketika membaca sampai pada ayat, إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِذِكْرِي () إِنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ أَكَادُ أُخْفِيهَا لِتُجْزَىٰ كُلُّ نَفْسٍ بِمَا تَسْعَىٰ () “Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. Segungguhnya hari kiamat itu akan datang Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan.” Ketika Hadhrat Umar membaca ayat tersebut seolah olah mata beliau terbuka sehingga fitrat yang tertidur tadi bangun sadarkan diri lalu spontan mengatakan, ‘Betapa menakjubkan dan sucinya firman ini.’

Setelah mendengar ucapan demikian, Hadhrat Khabbaab menampakan diri lalu memanjatkan puji syukur dan berkata, ‘Ini merupakan buah dari doa Rasulullah (saw) karena demi Tuhan kemarin saya dengar beliau memanjatkan doa, “Ya Allah berikan salah satu diantara Umar Bin al-Khaththab atau Umar Bin Hisyam yakni Abu Jahl kepada Islam.”’

Saat itu sungguh sulit bagi Hadhrat Umar untuk tetap tinggal di sana setelah membaca ayat tersebut dan setelah mengenal maqom (kedudukan) Hadhrat Rasulullah Saw. Beliau berkata kepada Khabbaab, ‘Beritahukan sekarang juga padaku alamat Muhammad Saw.’

Dalam keadaan bahagia sedemikian rupa sehingga beliau lupa untuk memasukkan pedang ke dalam sarungnya dan tetap memegangnya. Pada masa itu Hadhrat Rasulullah (saw) biasa tinggal di Darul Arqam. Khabbaab memberitahukan alamat Darul Arqam kepada Hadhrat Umar. Umar berangkat dan sesampaikan di depan pintu lalu mengetuknya keras. Setelah mengintip melalui lubang pintu dan melihat Umar tengah memegang pedang didepan pintu, para Sahabat pun enggan membukakan pintu.

Namun Rasulullah (saw) bersabda: ‘Buka pintu!’

Hadhrat Hamza yang saat itu tengah berada di sana pun berkata: ‘Buka saja pintunya. Jika ia datang dengan membawa iradah baik, itu lebih baik baginya. Namun jika tidak, demi Tuhan, aku akan tebas lehernya dengan pedangnya sendiri.’

Dibukalah pintu. Umar masuk dengan membawa pedang terhunus. Setelah melihatnya, Rasulullah (saw) maju lalu memegang kain bagian bawah baju Hadhrat Umar lalu menghentaknya dan bersabda: ‘Dengan iradah apa kamu datang kemari, wahai Umar? Demi Tuhan, aku melihat kamu tidaklah diciptakan untuk azab Tuhan.’

Umar berkata: ‘Saya datang ke sini untuk masuk Islam.’

Mendengar ucapan demikian, Baginda Nabi (saw) sangat bahagia lalu mengucapkan Allahu Akbar. Para sahabat pun meneriakkan Allahu akbar begitu kerasnya sehingga menggema di perbukitan Makkah.”[2]

(عَنْ خَبَّابِ بْنِ الْأَرَتِّ قَالَ :) Hadhrat Khabbaab meriwayatkan, شَكَوْنَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَهْوَ مُتَوَسِّدٌ بُرْدَةً لَهُ فِي ظِلِّ الْكَعْبَةِ، قُلْنَا لَهُ أَلاَ تَسْتَنْصِرُ لَنَا أَلاَ تَدْعُو اللَّهَ لَنَا “Saya pernah menyampaikan keluhan penderitaan yang saya alami kepada Rasulullah (saw) dan saat itu beliau tengah berbaring di depan Ka’bah. Kami memohon kepada beliau, ‘Apakah tuan tidak akan memohon pertolongan bagi kami, apakah tuan tidak akan berdoa kepada Allah ta’ala untuk kami dalam penderitaan ini?’

Terkait:   Makna Meraih Ampunan di Bulan Ramadhan

Beliau (saw) bersabda, كَانَ الرَّجُلُ فِيمَنْ قَبْلَكُمْ يُحْفَرُ لَهُ فِي الأَرْضِ فَيُجْعَلُ فِيهِ، فَيُجَاءُ بِالْمِنْشَارِ، فَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ فَيُشَقُّ بِاثْنَتَيْنِ، وَمَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ، وَيُمْشَطُ بِأَمْشَاطِ الْحَدِيدِ، مَا دُونَ لَحْمِهِ مِنْ عَظْمٍ أَوْ عَصَبٍ، وَمَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ، وَاللَّهِ لَيُتِمَّنَّ هَذَا الأَمْرَ حَتَّى يَسِيرَ الرَّاكِبُ مِنْ صَنْعَاءَ إِلَى حَضْرَمَوْتَ، لاَ يَخَافُ إِلاَّ اللَّهَ أَوِ الذِّئْبَ عَلَى غَنَمِهِ، وَلَكِنَّكُمْ تَسْتَعْجِلُونَ ‘Dahulu sebelum kalian, ada seorang yang disiksa, tubuhnya dikubur kecuali leher ke atas. Lalu diambil sebuah gergaji untuk menggergaji kepalanya, tetapi siksaan demikian itu tidak sedikit pun dapat memalingkannya dari agamanya. Ada pula yang disikat antara daging dan tulang-tulangnya dengan sikat besi, juga tidak dapat menggoyahkan keimanannya. Sesungguhnya, Allah akan menyempurnakan hal tersebut sehingga setiap pengembara yang pergi dari Shana’a ke Hadramaut tiada takut kecuali pada Allah Ta’ala.’ (jarak antara kedua kota tersebut adalah 216 mil) atau kalian hanya takut serigala menerkam kambing-kambing kalian. Namun kalian tergesa-gesa, semua ini memerlukan kesabaran.” (Bukhari)[3]

Dalam riwayat lain dikisahkan, Hadhrat Khabbaab meriwayatkan (عَنْ خَبَّابِ بْنِ الْأَرَتِّ قَالَ :), أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ مَضْطَجِعٌ تَحْتَ شَجَرَةٍ ، مُتَوَسِّدٌ رِدَاءَهُ تَحْتَ رَأْسِهِ “Saya datang ke hadapan Rasulullah (saw), beliau saat itu tengah berbaring dibawah pohon, beliau meletakkan tangan di bawah kepala. Saya memohon: أَلَا تَدْعُو عَلَى هَؤُلَاءِ الْقَوْمِ الَّذِينَ قَدْ خَشِينَا أَنْ يَرُدُّونَا عَنْ دِينِنَا ؟ Wahai Rasulullah (saw)! Apakah tuan tidak akan mendoakan kami untuk menentang kaum yang mengenainya kami khawatir mereka akan memalingkan kami dari agama kami. فَصَرَفَ وَجْهَهُ ، حَتَّى فَعَلَ ذَلِكَ ثَلَاثًا ، كُلُّ ذَلِكَ أَقُولُ لَهُ ، ثُمَّ جَلَسَ فِي الثَّالِثَةِ فَقَالَ :  Rasulullah (saw) memalingkan wajah dari saya sebanyak tiga kali. Setelah saya menyampaikan hal itu untuk kali yang ketiga, Rasulullah (saw) bangkit dan duduk lalu bersabda: أَيُّهَا النَّاسُ ، اتَّقُوا وَاصْبِرُوا ، فَوَاللَّهِ إِنْ كَانَ الرَّجُلُ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ قَبْلَكُمْ لَيُوضَعُ الْمِنْشَارُ عَلَى رَأْسِهِ فَيَشُقُّ بِاثْنَيْنِ ، لَا يَرْتَدُّ عَنْ دِينِهِ فَاتَّقُوا اللَّهَ وَاصْبِرُوا ، فَإِنَّ اللَّهَ فَاتِحٌ وَصَانِعٌ لَكُمْ ‘Wahai manusia! Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah. Demi Tuhan, sebelum kamu telah berlalu hamba-hamba beriman yang kepalanya digergaji sampai terbelah dua namun mereka tidak berpaling dari agama mereka. Bertakwalah kepada Allah, Allah Ta’ala akan membuka jalan bagimu dan membantumu.’[4]

Hadhrat Khabbaab meriwayatkan, كُنْتُ رَجُلاً قَيْنًا، وَكَانَ لِي عَلَى الْعَاصِي بْنِ وَائِلٍ دَيْنٌ فَأَتَيْتُهُ أَتَقَاضَاهُ، فَقَالَ لِي “Al-Ash bin Wail mempunyai hutang kepada saya sehingga saya datang kepadanya untuk menagihnya. Akan tetapi ia tidak mau membayarnya sampai berkata, لاَ أَقْضِيكَ حَتَّى تَكْفُرَ بِمُحَمَّدٍ‏ ‘Sebelum kamu meninggalkan agama Muhammad, tidak akan saya lunasi.’

Hadhrat Khabbaab berkata, لَنْ أَكْفُرَ بِهِ حَتَّى تَمُوتَ ثُمَّ تُبْعَثَ‏ ‘Saya sekali-kali tidak akan meninggalkan agama Muhammad, sehingga engkau mati lalu dihidupkan lagi. Artinya, ‘Mustahil saya meninggalkannya.’

Ia berkata: kepadaku: وَإِنِّي لَمَبْعُوثٌ مِنْ بَعْدِ الْمَوْتِ فَسَوْفَ أَقْضِيكَ إِذَا رَجَعْتُ إِلَى مَالٍ وَوَلَدٍ ‘Jika engkau jadi ke akhirat, makasaya mempunyai harta dan anak di sana, dan aya bayar nanti utangku dari harta itu disana. Saat ini saya tidak mau melunasinya.’

Maka turunlah firman Allah, أَفَرَأَيْتَ الَّذِي كَفَرَ بِآيَاتِنَا وَقَالَ لَأُوتَيَنَّ مَالًا وَوَلَدًا () أَطَّلَعَ الْغَيْبَ أَمِ اتَّخَذَ عِندَ الرَّحْمَٰنِ عَهْدًا () كَلَّا ۚ سَنَكْتُبُ مَا يَقُولُ وَنَمُدُّ لَهُ مِنَ الْعَذَابِ مَدًّا () وَنَرِثُهُ مَا يَقُولُ وَيَأْتِينَا فَرْدًا () ‘Maka apakah kamu telah melihat orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami dan ia mengatakan: “Pasti aku akan diberi harta dan anak”. Adakah ia melihat yang ghaib atau ia telah membuat perjanjian di sisi Tuhan Yang Maha Pemurah? Sekali-kali tidak, Kami akan menulis apa yang ia katakan, dan benar-benar Kami akan memperpanjang azab untuknya, dan Kami akan mewarisi apa yang ia katakan itu, dan ia akan datang kepada Kami dengan seorang diri.’”[5]

Hadhrat Khabbaab bin Aratt ra adalah seorang pandai besi dan banyak membikin berbagai pedang. Hadhrat Rasulullah (saw) sangat menyayangi beliau dan biasa mengunjunginya dalam rangka mengikat tali silaturrahmi. Majikannya, [seorang perempuan bernama Ummu Anmar] demi mengetahui hal ini langsung mengambil besi panas dan meletakkan sebatang besi panas diatas kepala beliau. Hadhrat Khabbaab ra menceritakan hal itu saat berada hadapan Nabi Karim (saw) [yang mengunjunginya]. Beliau (saw) mendoakan: اللهم انصر خبابا ’Allahummanshur Khabbaaban’ “Yaa Allah tolonglah Khabbaab!” Sebagai akibatnya, majikannya, mempunyai semacam penyakit [selalu merasa panas] dan melolong seperti anjing dan ketika datang kepada para tabib, para tabib itu berkata, “Kepala perempuan ini harus disentuh dengan besi yang panas menyala.” Perempuan ini meminta kepada Hadhrat Khabbaab untuk meletakkan besi panas diatas kepalanya, Hadhrat Khabbaab berkata, “Kemudian saya meletakkan besi panas diatas kepalanya.” [6]

Abu Layla al-Kindi meriwayatkan, Hadhrat Khabbaab datang menemui Hadhrat Umar. Hadhrat Umar berkata: Mendekatlah, karena selain Ammar bin yasir tidak ada lagi yang lebih layak darimu atas majlis ini. Hadhrat Khabbaab mulai memperlihatkan bekas luka di punggung karena disiksa kaum musyrik dahulu. (Tabaqatul Kubra)

Dalam riwayat lain berkenaan dengan memperlihatkan bekas luka, selengkapnya sebagai berikut: Syabi meriwayatkan, Hadhrat Khabbaab datang kepada Hadhrat Umar. Hadhrat Umar mempersilahkan beliau duduk dalam majlisnya dan bersabda: Di muka bumi ini tidak ada orang yang lebih layak berada dalam majlis ini kecuali satu orang.

Hadhrat Khabbaab bertanya: Wahai Amirul Muminin, siapakah orang itu?

Hadhrat Umar bersabda: Bilal.

Hadhrat Khabbaab berkata: Wahai amirul Mukminin! Dia tidaklah lebih layak dari saya, karena ketika Bilal sedang dalam genggaman orang-orang musyrik, ada saja yang menolongnya, yang dengan perantaraannya Allah Ta’ala selalu menyelamatkannya. Namun tidak ada yang melindungi saya saat itu. Suatu hari saya melihat keadaan diri sendiri yakni mereka menangkapku lalu menyalakan api dan memasukanku kedalam api tersebut. Pernah juga aku dilemparkan keatas bara api oleh seseorang lalu orang itu meletakkan kakinya diatas dadaku. Pinggangkulah yang menyelamatkanku dari bumi yang panas yakni yang mendinginkannya.

Beliau lalu menyingkapkan kain dari punggung maka Nampak putih seperti vitiligo penyakit hilangnya warna kulit. Yakni ketika diterlentangkan diatas arang panas, tidak ada yang memadamkan bara tersebut selain dari kulit tubuh dan lemak yang melepuh sehingga memadamkannya.

Dalam riwayat lain, Syabi mengatakan, Hadhrat Umar pernah menanyakan kepada Hadhrat Khabbaab perihal penderitaan yang dialami di tangan orang-orang musyrik.

Beliau menjawab, “Wahai Amirul Mukminin! Lihatlah punggung saya.”

Ketika Hadhrat Umar melihatnya, bersabda, “Saya tidak pernah melihat punggung seseorang yang seperti ini.”

Hadhrat Khabbaab berkata, “Mereka menyalakan api lalu menyeret saya ke atasnya, sehingga bara api itu padam dengan lemak pinggang saya.”

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) menjelaskan perihal Hadhrat Khabbaab sebagai berikut, “Perlu diingat bahwa yang paling menderita setelah beriman kepada Rasulullah (saw) adalah kalangan hamba sahaya. Sebagaimana Khabbaab Bin Al-Aratt adalah seorang hamba sahaya, seorang pandai besi, beliau beriman kepada Rasulullah pada masa awal sekali. Orang-orang sering menyiksanya sehingga membaringkan beliau diatas bara api lalu meletakkan batu diatas dada beliau supaya beliau tidak dapat menggerakkan pinggangnya.

Upah kerja yang diperoleh oleh beliau dipinjam oleh orang lain dan orang itu tidak mau melunasinya ketika ditagih. Meskipun mendapatkan kerugian jiwa dan harta, namun beliau tidak pernah ragu walaupun sesaat dan tetap teguh dalam keimanannya. Bekas luka dipunggung beliau terus ada sampai akhir hayat. Sebagaimana pada masa kekhalifahan Hadhrat Umar, ketika beliau menceritakan penderitaan yang pernah dialaminya, beliau diperintahkan untuk memperlihatkan punggungnya. Ketika beliau menyingkapkan kain dari punggungnya, tampak noda putih seperti noda penyakit hilangnya warna kulit.”

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) pernah bersabda, “Suatu ketika punggung seorang Muslim awal terbuka lalu kawan-kawan beliau melihat kulit punggungnya tidak seperti kulit manusia, melainkan seperti kulit hewan. Para sahabat kaget dan bertanya, ‘Penyakit apa yang menjangkiti anda?’

Hadhrat Khabbaab tertawa dan bersabda, ‘Ini bukan penyakit melainkan kenangan ketika orang-orang Makkah menyeret kami para mualaf di gang-gang, diatas batu-batu yang keras dan kasar lalu menyiksa kami terus-menerus sehingga kulit punggung saya seperti ini.’

Para Muslim awal kebanyakan dari kalangan orang-orang miskin dan hamba sahaya. Penderitaan yang mereka lalui telah kita dengar kaitanya dengan Hadhrat Khabbaab. Terkadang beliau dibaringkan diatas bara api. Kadang diseret diatas batu kasar. Mereka bertahan dari penderitaan itu.”

Namun setelah Islam mengalami kemajuan, bagaimana Allah Ta’ala mencurahkan anugerahnya atas mereka dan memberikan kemuliaan duniawi juga, mengenai itu Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Pada zaman kekhalifahannya, Hadhrat Umar berkunjung ke Makkah [dari Madinah]. Datanglah para pemuka Makkah yang berasal dari keluarga terpandang untuk menemui beliau. Mereka berpikiran, ‘Hadhrat Umar sangat mengenal dengan baik keluarga kami sehingga setelah beliau (ra) sendiri menjadi raja di Makkah ini, beliau pasti akan memberikan penghormatan yang dalam kepada keluarga kami supaya kami akan dapat meraih kembali kehormatan keluarga yang telah hilang.’

Alhasil, datanglah para pemuka itu dan berbincang dengan Hadhrat Umar. Ketika berbincang seperti itu, datanglah Hadhrat Bilal, tidak lama kemudian disusul oleh Hadhrat Khabbaab, demikianlah berturut-turut para Muslim awal hamba sahaya berdatangan silih berganti. Mereka dahulu pernah menjadi hamba sahaya milik para pembesar ini atau leluhurnya. Mereka biasa mendapatkan siksaan dari mereka ketika menjadi hamba sahaya pada masa itu.

Hadhrat Umar menyambut dengan takzim setiap mereka (mantan budak) dan meminta para pembesar itu untuk mundur ke belakang guna memberikan tempat duduk di depan kepada para mantan budak ini. Karena terus terdesak mundur, akhirnya mereka sampai di dekat pintu.

Di zaman itu tidak ada gedung-gedung yang besar. Mungkin itu adalah sebuah ruangan kecil dan dikarenakan tidak bisa menampung semua orang di dalamnya maka para pemimpin tersebut terpaksa terus bergeser ke belakang hingga duduk di tempat menyimpan sepatu-sepatu. Ketika para pemimpin Makkah itu telah sampai ke tempat penyimpanan sepatu dan mereka melihat dengan mata sendiri bagaimana satu per satu para budak itu datang dan supaya para budak tersebut duduk di depan, para pemimpin tersebut diperintahkan untuk mundur ke belakang, maka hati mereka sangat terluka.”

Terkait:   Kisah Sahabat: Mu'adz bin al-Harits, Sosok Pembunuh Abu Jahal

Hadhrat Muslih Mau’ud (ra) menulis, “Allah Ta’ala pun pada waktu itu telah menciptakan suatu sarana yang membuat orang-orang Islam yang dulunya budak itu datang bergiliran satu per satu ke Majlis Khalifah Umar. Jika para pemimpin itu hanya sekali saja mundur ke belakang maka mereka tidak akan merasa sakit hati, namun dikarenakan mereka harus berulang kali menyingkir ke belakang, mereka menjadi tidak tahan akan hal ini dan bangkit lalu pergi keluar.

Setelah di luar mereka saling mengeluh satu sama lain, ‘Lihatlah! Begitu terhinanya kita pada hari ini. Setiap satu orang budak masuk kita disuruh untuk menyingkir ke belakang, hingga kita sampai di tempat penyimpanan sepatu.’

Seorang pemuda diantara mereka berkata mengenai hal ini, ‘Siapa yang salah dalam hal ini? Apakah ini salah Umar (ra) atau para leluhur kita? Jika kalian merenungkan maka akan diketahui bahwa dalam hal ini Hadhrat Umar (ra) tidaklah bersalah apa-apa. Ini adalah kesalahan para pendahulu kita yang pada hari ini kita mendapatkan hukumannya. Karena ketika Tuhan mengutus seorang Rasul-Nya, para pendahulu kita melakukan penentangan, namun para budak ini menerima Rasul-Nya tersebut dan mereka menanggung segala macam penderitaan dengan senang hati. Oleh karena itu, jika pada hari ini kita terhina dalam majlis maka dalam hal ini bukanlah salah Umar (ra), ini adalah kesalahan kita sendiri.’

Mendengar perkataan ini yang lainnya mengatakan, ‘Kami mengakui bahwa ini adalah akibat kesalahan para pendahulu kita. Namun adakah suatu cara untuk menghapuskan noda kehinaan ini ataukah tidak?’

Mereka semua berpendapat, ‘Kita sama sekali tidak mengerti mengenai hal ini, ayo kita tanyakan kepada Hadhrat Umar (ra) apa solusinya?’

Mereka datang kepada Hadhrat Umar (ra) dan mengatakan, ‘Apa yang terjadi pada kami hari ini, anda mengetahuinya dengan baik dan kami pun mengetahui dengan baik.’

Hadhrat Umar (ra) bersabda, ‘Mohon maaf, saya terpaksa melakukannya. Karena mereka ini adalah orang-orang yang dihormati dalam majlis Rasulullah (saw). Mungkin mereka dulunya adalah budak kalian, namun dalam majlis Rasulullah (saw) mereka adalah orang-orang yang terhormat. Oleh karena itu, menjadi kewajiban saya juga untuk menghormati mereka.’

Mereka mengatakan, ‘Kami tahu ini adalah akibat dari kesalahan kami, namun apakah ada cara untuk menghapuskan kehinaan ini?’”

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Kita tidak bisa membayangkan dan sulit untuk membayangkannya di masa sekarang ini bagaimana orang-orang yang merupakan para pemimpin Makkah ini dulunya mereka begitu berpengaruh.

Akan tetapi, Hadhrat Umar (ra) sangat mengetahui dengan baik keadaan keluarga mereka. Hadhrat Umar (ra) lahir dan besar di Makkah sehingga mengetahui bahwa leluhur para pemuda tersebut begitu terhormat. Beliau (ra) mengetahui tidak ada seorang pun yang berani untuk sekedar menatap mata mereka sekali pun, dan beliau mengetahui mereka begitu ditakuti dan disegani. Ketika mereka menyampaikan hal ini, satu per satu peristiwa-peristiwa tersebut terbayang di hadapan Hadhrat Umar dan beliau diliputi rasa haru. Begitu terharunya beliau hingga tidak bisa berkata-kata. Beliau hanya mengangkat tangan dan menunjuk ke arah utara. Hal itu maksudnya adalah, ‘Di utara yaitu di Syam (Suriah dan sekitarnya) tengah berlangsung beberapa peperangan umat Islam, jika kalian ikut serta dalam peperangan tersebut maka mungkin itu akan menjadi kaffarah bagi kalian.’

Kemudian putra-putra para pemimpin Makkah itu beranjak dari sana dan bergegas pergi untuk ikut serta dalam peperangan-peperangan tersebut.”

Hadhrat Muslih Mau’ud (ra) menulis, “Sejarah menjelaskan bahwa tidak ada seorang pun diantara mereka yang pulang dalam keadaan hidup, mereka syahid di tempat tersebut dan dengan cara itulah mereka menghapuskan noda kehinaan dari nama keluarga mereka.

Kesimpulannya adalah pengorbanan-pengorbanan harus dilakukan. Mereka yang sejak di masa-masa awal telah melakukan pengorbanan-pengorbanan, mereka telah mendapatkan kehormatan. Mereka yang datang belakangan dan ingin menghapuskan noda kehinaan merekan maka hanya dengan pengorbanan-pengorbanan jugalah itu bisa dihapuskan.”

Ketika Hadhrat Khabbaab dan Hadhrat Miqdad Bin Amru hijrah ke Madinah, keduanya tinggal di rumah Hadhrat Kultsum Bin Al-Hadam (ra) dan hingga kewafatan Hadhrat Kultsum (ra) mereka menetap di rumah beliau. Kewafatan Hadhrat Kultsum (ra) terjadi beberapa waktu sebelum Hadhrat Rasulullah (saw) berangkat ke Badar. Kemudian mereka pergi kepada Hadhrat Sa’ad Bin Ubadah (ra), hingga pada tahun ke-5 Hijirah Banu Quraizah ditaklukkan.

Hadhrat Rasulullah (saw) mempersaudarakan Hadhrat Khabbab (ra) dengan Hadhrat Tamim yang merupakan budak Hadhrat Khirasy bin Shammah Al-Anshari (خِرَاشُ بنُ الصمَّة) radhiyAllahu ta’ala ‘anhu yang telah dimerdekakan. Berdasarkan riwayat lain Hadhrat Khabbab (ra) dipersaudarakan dengan Hadhrat Jabar Bin ‘Atiq (ra). Menurut Allamah Ibnu Abdul Bari riwayat yang pertama lebih shahih.

Hadhrat Khabbab (ra) ikut serta bersama Rasulullah (saw) dalam perang Badar, Uhud, serta berbagai peperangan lainnya.

(عن أبي خالد شيخ من أصحاب عبد الله قال) Abu Khalid meriwayatkan, بينما نحن في المسجد إذ جاء خباب بن الأرت فجلس فسكت فقال له القوم ان أصحابك قد اجتمعوا إليك لتحدثهم أو لتأمرهم  “Suatu hari kami sedang duduk di mesjid ketika Hadhrat Khabbab (ra) datang lalu duduk terdiam. Orang-orang berkata kepada beliau, ‘Teman-teman anda telah berkumpul di sekeliling anda supaya anda menyampaikan sesuatu kepada mereka atau sampaikanlah beberapa perintah kepada mereka.’

Hadhrat Khabbab (ra) berkata, بم آمرهم ولعلي آمرهم بما لست فاعلا ‘Perintah apa yang harus saya sampaikan kepada mereka. Saya takut menyampaikan suatu perintah yang saya sendiri tidak mengamalkannya.’”[7] Inilah standar ketakwaan dan rasa takut kepada Allah yang dimiliki oleh para sahabat (ra).

(عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ خَبَّابِ بْنِ الأَرَتِّ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ) Abdullah Bin Khabbaab bin al-Aratt meriwayatkan dari ayahnya, صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم صَلاَةً فَأَطَالَهَا قَالُوا “Suatu kali Rasulullah (saw) mengimami shalat dan begitu memanjangkan shalat tersebut. Orang-orang bertanya, يَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّيْتَ صَلاَةً لَمْ تَكُنْ تُصَلِّيهَا “Ya Rasulullah! Anda telah mengimami shalat yang begitu lama yang sebelumnya tidak pernah Anda lakukan seperti ini.”

Beliau (saw) bersabda, أَجَلْ إِنَّهَا صَلاَةُ رَغْبَةٍ وَرَهْبَةٍ إِنِّي سَأَلْتُ اللَّهَ فِيهَا ثَلاَثًا فَأَعْطَانِي اثْنَتَيْنِ وَمَنَعَنِي وَاحِدَةً  “Ini adalah shalat kecintaan dan rasa takut. Dalam shalat tersebut saya memohon tiga hal kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala memberikan dua hal dan mencegah satu hal. سَأَلْتُهُ أَنْ لاَ يُهْلِكَ أُمَّتِي بِسَنَةٍ فَأَعْطَانِيهَا Saya memohon kepada Allah Ta’ala supaya Dia tidak membinasakan umat saya dengan paceklik (panas dan kering berkepanjangan), yang mana Allah Ta’ala mengabulkan doa saya ini. وَسَأَلْتُهُ أَنْ لاَ يُسَلِّطَ عَلَيْهِمْ عَدُوًّا مِنْ غَيْرِهِمْ فَأَعْطَانِيهَا Saya memohon kepada Allah Ta’ala supaya umat saya tidak ditaklukkan oleh musuh yang berhadapan dengan mereka yang mana Allah Ta’ala telah menganugerahkan kepada saya hal ini.”

Dalam kedudukan sebagai umat hari ini pun umat tetap berdiri tegak dan jika pun ada yang menaklukkan maka itu dalam kedudukan sebagai pemerintahan. Dengan karunia Allah Ta’ala dalam kedudukan sebagai umat, umat Hadhrat Rasulullah (saw) tetap berdiri tegak.

Kemudian beliau (saw) bersabda, وَسَأَلْتُهُ أَنْ لاَ يُذِيقَ بَعْضَهُمْ بَأْسَ بَعْضٍ فَمَنَعَنِيهَا “Kemudian saya memohon kepada Allah Ta’ala supaya umat saya tidak berperang satu sama lain. Allah Ta’ala tidak menganugerahkan hal ini kepadaku.”[8] Dan inilah yang terjadi sekarang, sektarianisme dan fatwa-fatwa kafir terus berlangsung.

(عَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ قَالَ) Diriwayatkan dari Thariq, عَادَتْ خَبَّابًا بَقَايَا مِنْ أَصْحَابِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا : “Sekelompok sahabat Rasulullah (saw) menjenguk Hadhrat Khabbab (ra). Mereka berkata, أَبْشِرْ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ  تَرِدُ عَلَى إِخْوَانِكَ الْحَوْضَ “Wahai Abu Abdullah! Bersuka citalah bahwasanya kamu pergi ke telaga Kautsar menemui saudara-saudaramu.”

Hadhrat Khabbab (ra) mengatakan, وَعَلَيْهَا رِجَالٌ إِنَّكُمْ ذَكَرْتُمْ لِي أَقْوَامًا ، وَسَمَّيْتُمْ لِي إِخْوَانًا مَضَوْا لَمْ يَنَالُوا مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا ، وَإِنَّا بَقِينَا بَعْدَهُمْ حَتَّى نِلْنَا مِنَ الدُّنْيَا مَا نَخَافُ أَنْ يَكُونَ ثَوَابُنَا لِتِلْكَ الْأَعْمَالِ “Kalian membicarakan di hadapanku saudara-saudara kita yang telah berlalu dan mereka belum mendapatkan sedikit pun dari ganjaran mereka, sedangkan kita tetap hidup sepeninggal mereka hingga kita mendapatkan sesuatu dari dunia ini. Mengenai hal ini aku takut, mungkin ini adalah ganjaran dari amalan-amalan yang telah kita lakukan di masa lampau yang kita dapatkan di dunia ini juga.”[9]

Hadhrat Khabbab (ra) menderita sakit parah dalam waktu yang lama.

Haritsah Bin Mudharrib (حَارِثَةَ بْنِ مُضَرِّبٍ) meriwayatkan, دَخَلْتُ عَلَى خَبَّابِ بْنِ الْأَرَتِّ أَعُودُهُ وَقَدِ اكْتَوَى سَبْعَ كَيَّاتٍ “Saya datang untuk menjenguk Hadhrat Khabbab (ra). Beliau ditempeli besi panas di tujuh tempat untuk tujuan pengobatan. Saya mendengar beliau berkata, لَوْلَا أَنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلّى الله عليه وسلم يَقُولُ: «لَا يَنْبَغِي لِأَحَدٍ أَنْ يَتَمَنَّى الْمَوْتَ» ، لَأَلْفَانِي قَدْ تَمَنَّيْتُهُ ‘Andai saja saya tidak pernah mendengar Rasulullah (saw) bersabda, “Tidak diperbolehkan bagi seseorang mengharapkan kematian”, maka saya akan mengharapkannya.’”[10] Hal ini dikarenakan begitu luar biasanya penderitaan beliau.

وَقَدْ أُتِيَ بِكَفَنِهِ قَبَاطِيُّ، فَبَكَى ثُمَّ قَالَ Selembar kain kafan beliau lalu dibawakan yang merupakan kain qabathi, suatu kain halus atau mewah buatan Mesir. Beliau lalu menangis. Kemudian beliau berkata, لَكِنَّ حَمْزَةَ عَمِّ النَّبِيِّ صلّى الله عليه وسلم كُفِّنَ فِي بُرْدَةٍ، فَإِذَا مُدَّتْ عَلَى قَدَمَيْهِ قَلَصَتْ عَنْ رَأْسِهِ، وَإِذَا مُدَّتْ عَلَى رَأْسِهِ قَلَصَتْ عَنْ قَدَمَيْهِ، حَتَّى جُعِلَ عَلَيْهِ إِذْخِرٌ “Sungguh, Hadhrat Hamzah (ra) [paman Nabi (saw) yang syahid di perang Uhud] tidak mendapatkan kain kafan melainkan kain burdah (kain selimut), jika digunakan menutupi kepala maka kakinya akan tersingkap,dan jika digunakan untuk menutupi kaki maka kepalanya akan tersingkap, sehingga kepalanya yg ditutup sementara kakinya ditutupi dengan rerumputan idzhir sesuai petunjuk dari Nabi saw.”[11]

Terkait:   Keteladanan Para Sahabat Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam (Manusia-Manusia Istimewa, seri 57)

وَلَقَدْ رَأَيْتُنِي مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلّى الله عليه وسلم مَا أَمْلِكُ دِينَارًا وَلَا دِرْهَم Saya melihat diri saya sendiri bersama Rasulullah (saw) dalam keadaan tidak mempunyai satu dinar pun, tidak juga dirham.” Artinya, tidak mempunyai apa-apa. وَإِنَّ فِي نَاحِيَةِ بَيْتِي فِي تَابُوتِي لَأَرْبَعِينَ أَلْفٍ وَافٍ، وَلَقَدْ خَشِيتُ أَنْ تَكُونَ قَدْ عُجِّلَتْ لَنَا طَيِّبَاتُنَا فِي حَيَاتِنَا الدُّنْيَا “Bagaimana keadaan saya sekarang? Sekarang di sudut rumah saya di dalam kotak ada 40.000 dirham. Allah Ta’ala menganugerahi saya dengan begitu banyak sekali harta sehingga saya takut sekal jangan-jangan Allah Ta’ala hanya mengganjar amal perbuatan saya di dunia ini saja, sementara di akhirat nanti saya kehilangan ganjaran itu sama sekali.”[12]

Hadhrat Khabbaab bin Aratt meriwayatkan, هَاجَرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبْتَغِي وَجْهَ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فَوَجَبَ أَجْرُنَا عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَمِنَّا مَنْ مَضَى لَمْ يَأْكُلْ مِنْ أَجْرِهِ شَيْئًا مِنْهُمْ مُصْعَبُ بْنُ عُمَيْرٍ قُتِلَ يَوْمَ أُحُدٍ فَلَمْ نَجِدْ شَيْئًا نُكَفِّنُهُ فِيهِ إِلَّا نَمِرَةً كُنَّا إِذَا غَطَّيْنَا بِهَا رَأْسَهُ خَرَجَتْ رِجْلَاهُ وَإِذَا غَطَّيْنَا رِجْلَيْهِ خَرَجَ رَأْسُهُ فَأَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ نُغَطِّيَ بِهَا رَأْسَهُ وَنَجْعَلَ عَلَى رِجْلَيْهِ إِذْخِرًا وَمِنَّا مَنْ أَيْنَعَتْ لَهُ ثَمَرَتُهُ فَهُوَ يَهْدِبُهَا يَعْنِي يَجْتَنِيهَا ‘Kami berhijrah meninggalkan negeri bersama dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam karena kami mengharapkan keridhaan Allah Ta’ala dan ganjaran atas kami telah ditanggung oleh Allah Ta’ala. Diantara kami ada juga yang telah meninggal dan tidak menikmati sedikit pun dari ganjaran mereka [yang berupa harta duniawi] seperti Hadhrat Mush’ab bin Umair. Hadhrat Mush’ab syahid pada saat perang Uhud dan kami hanya mendapatkan satu kain (yaitu namirah, sejenis kain selendang yang bersulam sutera) yang kami gunakan untuk mengkafani. Jika kain tersebut kami tutupkan pada kepala maka terbukalah kakinya, sementara jika ditutupkan kakinya terbukalah kepalanya. Rasulullah (saw) kemudian menyuruh kami agar kain tersebut ditutupkan pada kepalanya, sementara kedua kakinya ditutup dengan dedaunan (rerumputan) ‘Idzkhir’. Diantara kami juga ada juga yang buahnya telah matang dan mereka memetik (menikmati) buah tersebut.’[13]

Zaid Bin Wahb (زيد بن وهب) meriwayatkan, سرنا مع علي حين رجع من صفين حتى إذا كان عند باب الكوفة إذا نحن بقبور سبعة عن أيماننا “Kami bersama Hadhrat Ali (ra) ketika beliau pulang dari perang Shiffiin. Ketika beliau sampai di gerbang kota Kuffah, beliau melihat ada tujuh kuburan di sebelah kanan kami.

Hadhrat Ali (ra) bertanya, ما هذه القبور ‘Kuburan siapakah ini?’

Orang-orang menjawab, يا أمير المؤمنين: إن خباب بن الأرت توفي بعد مخرجك إلى صفين، فأوصى أن يُدفن في ظاهر الكوفة ‘Wahai Amiirul Mu’miniin! Setelah anda berangkat ke Shiffiin Hadhrat Khubbab (ra) telah wafat. Beliau berwasiyat supaya dimakamkan di luar Kuffah.’

 وكان الناس انما يدفنون موتاهم في أفنيتهم وعلى أبواب دورهم فلما رأوا خبابا أوصى أن يدفن بالظهر دفن الناس Di sana terdapat kebiasaan orang-orang memakamkan jenazah-jenazah mereka di halaman atau di dekat pintu rumah mereka, namun ketika orang-orang mengetahui bahwa Hadhrat Khabbaab (ra) mewasiyatkan supaya dimakamkan di luar Kuffah maka mereka melakukannya seperti itu.

Hadhrat Ali (ra) bersabda, رَحِمَ اللَّهُ خَبَّابًا ، لَقَدْ أَسْلَمَ رَاغِبًا ، وَهَاجَرَ طَائِعًا ، وَعَاشَ مُجَاهِدًا ، وَابْتُلِيَ فِي جِسْمِهِ أَحْوَالا ، وَلَنْ يُضَيِّعَ اللَّهُ أَجْرَ مَنْ أَحْسَنَ عَمَلا ” ‘RahimaLlahu Khabbaaban; laqad aslama raaghiban, wa hajara thaa-i’an; wa ‘aasya mujaahidan; wabtuliya fi jismihi ahwaalan; wa lay yudhayyi’aLlahu ajra man ahsana ‘amalan.’ – “Semoga Allah Ta’ala merahmati Khabbab. Ia menerima Islam dengan senang hati. Ia juga ikut hijrah ke Madinah dengan ketaatan. Kemudian ia menjalankan hidupnya sebagai seorang Mujahid. Ia melewati ujian begitu berat, dan menampilkan contoh penuh kesabaran dan ketabahan. (beliau menderita sakit jasmani yang sangat lama) Allah Ta’ala tidak akan menyia-nyiakan pahala bagi orang yang terbaik dalam amal perbuatannya.”[14]

ثُمَّ دَنَا مِنَ الْقُبُورِ فَقَالَ:  Hadhrat Ali (ra) mendekat ke pekuburan tersebut dan bersabda, السَّلَامُ عَلَيْكُمْ يَا أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُسْلِمِينَ، أَنْتُمْ لَنَا سَلَفٌ فَارِطٌ، وَنَحْنُ لَكُمْ تَبَعٌ عَمَّا قَلِيلٍ لَاحِقٌ “Semoga keselamatan tercurah atas kalian, wahai para penghuni kubur dari golongan orang-orang beriman dan orang-orang Islam. Kalian telah mendahului kami dan tidak lama lagi kami akan menyusul untuk bertemu dengan kalian. اللهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلَهُمْ، وَتَجَاوَزْ بِعَفْوِكَ عَنَّا وَعَنْهُمْ  ‘Allahummaghfir lana wa lahum, wa tajaawaz bi’afwika ‘anna wan ‘anhum’ – ‘Ya Allah! Ampunilah kami dan mereka, maafkanlah kami dan mereka dengan permaafan Engkau.’ طُوبَى لِمَنْ ذَكَرَ الْمِعَادَ وَعَمِلَ لِلْحِسَابِ وَقَنَعَ بِالْكَفَافِ، وَرَضِيَ عَنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ ‘Thuuba liman dzakaral ma’aadi wa ‘amila lil hisaabi wa qana’a bil kafaafi wa radhiya ‘anillaahi ‘azza wa jalla’ – ‘Kabar suka bagi mereka yang mengingat akhirat dan beramal untuk hari penghisaban, dan mereka berqana’ah (merasa tidak serakah) dengan barang-barang yang memenuhi kebutuhan mereka dan mereka ridha terhadap ketetapan Allah Taala.’”[15]

Inilah doa yang dipanjatkan oleh Hadhrat Ali (ra) di sana. Hadhrat Khabbab wafat pada 37 Hijriah di usia 73 tahun.

Khotbah II

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ

وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ –

 وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ!

 إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ

يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ –

أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

 Penerjemah: Mln. Mahmud Ahmad Wardi, Syahid (London, UK) dan Mln. Muhammad Hasyim. Editor: Dildaar Ahmad Dartono.


[1] Usdul Ghaabah

[2] As-Sīratun-Nabawiyyah, By Abū Muḥammad ‘Abdul-Malik bin Hishām, p. 253, Bābu Islāmi ‘Umar bin Al-Khaṭṭāb ra, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (2001); Ar-Rauḍul-Anf, By Imām Abul-Qāsim ‘Abdur-Raḥmān Suhailī, Volume 2, pp. 120-124, Bābu Dhikri Islāmi ‘Umar bin Al-Khaṭṭāb ra, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (2001); Sharḥul-‘Allāmatiz-Zarqānī ‘alal-Mawāhibil-Ladunniyyah, By Muḥammad bin ‘Abdul-Bāqī Az-Zarqānī, Volume 2, p. 8, Bābu Islāmil-Fārūq, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (1996); Terkait keislaman Hadhrat Umar (ra), ada berbagai riwayat, namun dalam hal ini, kita hanya mengambil riwayat yang terkenal dari para ahli Sirah (biografi). (Author/penulis Sirat Khataman Nabiyyin: Hadhrat Mirza Bashir Ahmad ra)

[3] Shahih al-Bukhari, Kitab tentang Manaqib atau keutamaan Nabi (saw) dan para Sahabat (كتاب المناقب), Hadith 3655

[4] Ash-Shabr wats Tsawaab ‘alaihi (الصبر و الثواب عليه) atau Kesabaran dan Pahalanya karya Ibnu Abid Dunya (ابن أبي الدنيا). Ibnu Abid Dunya nama lengkapnya Abdullah bin Muhammad bin Ubaid bin Sufyan bin Qais al-Qurasyiy al-Umawi (208-281 H/821-894 M). Beliau lahir di Baghdad dari kalangan Mawali (vassal, bawahan) keluarga Banu Umayyah. Guru-guru beliau diantaranya Imam Muslim, Imam Bukhari, Imam Ahmad bin Hanbal, Abu Hatim dan Abu Dawud. Murid-murid beliau diantaranya Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Majah. Beliau menulis hingga 200 buku.

[5] Shahih al-Bukhari, Kitab tentang Tafsir.

[6] Usdul Ghabah, Jilid. Awwal, Khabab bin Al-Arth, hal. 675, Darul Fikir, Beirut 2003.

[7] Usdul Ghabah fi ma’rifatish shaahabah, Khabab bin al-Art, Darul Fikr, Beirut, 2003

[8] Jami’ at-Tirmidzi atau Sunan At-Tirmidzi (سنن الترمذي – الترمذي – ج ٣ – الصفحة ٣١٩), Kitab tentang fitnah-fitnah (كتاب الفتن عن رسول الله صلى الله عليه وسلم), bab tiga permintaan Nabi (saw) kepada Allah Ta’ala untuk umat beliau (باب مَا جَاءَ فِي سُؤَالِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم ثَلاَثًا فِي أُمَّتِهِ); Sunan Ibnu Maajah, (كتاب الفتن), bab diantara fitnah (باب مَا يَكُونُ مِنَ الْفِتَنِ). Tercantum juga dalam Kitab Tafsir Ibnu Katsir, Tadzkirah karya al-Qurthubi, Mashaabihus Sunnah, Usdul Ghaabah.

[9] Musnad al-Humaidi (مسند الحميدي), bahasan mengenai Hadits-Hadits Khabbaab bin al-Aratt (أَحَادِيثُ خَبَّابِ بْنِ الْأَرَتِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ). Nama lengkap al-Humaid yang wafat di Makkah pada 834 ialah (الحميدي عبد الله بن الزبير بن عيسى بن عبيد الله بن أسامة بن عبد الله بن حميد ابن زهير بن الحارث بن أسد بن عبد العزى وقيل جده هو عيسى بن عبد الله بن الزبير بن عبيد الله بن حميد الإمام الحافظ الفقيه شيخ الحرم أبو بكر القرشي الأسدي الحميدي المكي صاحب المسند). Guru-guru beliau ialah Sufyan bin Uyainah, Imam Asy-Syafi’i dan Fudhail bin Iyadh. Murid-murid beliau diantaranya ialah Imam al-Bukhari dan Abu Hatim ar-Razi.

[10] Ath-Thabaqaat al-Kubra, Ibn Sa’ad, Khabab bin al-Art, Darul Ihya wat turats al-‘Arabi, Beirut, 1996. (الطبقات الكبرى – المؤلف : ابن سعد    الجزء : 3  صفحة : 166)

[11] Musnad Ahmad No.25961

[12] Ath-Thabaqaat al-Kubra, Ibn Sa’ad, Khabab bin al-Art, Darul Ihya wat turats al-‘Arabi, Beirut, 1996. (الطبقات الكبرى – المؤلف : ابن سعد    الجزء : 3  صفحة : 166)

[13] Hadits Ahmad Nomor 20149 (مسند احمد – الإمام احمد بن حنبل – ج ٥ – الصفحة ١٠٩)

[14] Usdul Ghabah fi ma’rifatish shaahabah, Khabab bin al-Art, Darul Fikr, Beirut, 2003; Dalam Kitab Ma’rifatush Shahaabah karya Abu Na’im (معرفة الصحابة لأبي نعيم) (» حَرْفُ الأَلِفِ » مَنِ اسْمُهُ أَنَسٌ » وَأَنَسُ بْنُ ظُهَيْرٍ الأَنْصَارِيُّ).  Tercantum juga dalam  Majma’ al-Zawaid wa Manba’ al-Fawaid karya Nuruddin ‘Ali bin Abi Bakr al-Haitsami no. 15632, Tercantum juga dalam Ziaarah dan Tawasul karya Saib Abdul Hamid (الزيارة والتوسل – صائب عبد الحميد – الصفحة ٦٤)

[15] Al-Mu’jam al-Kabir karya ath-Thabrani. Tercantum juga dalam Ma’rifatush Shahaabah dan Mir-aatuz Zamaan fi Tawaarikhi a’yaan atau cermin zaman dalam sejarah (المعجم الكبير، للطبراني: 4/ 56. وينظر: معرفة الصحابة: 2/ 908، وينظر: مرآة الزمان في تواريخ الأعيان: 6/ 304.)