Keteladanan Para Sahabat Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam (Manusia-Manusia Istimewa, seri 89)

Pembahasan lanjutan seorang Ahlu Badr (Para Sahabat Nabi Muhammad (saw) peserta perang Badr atau ditetapkan oleh Nabi (saw) mengikuti perang Badr) yaitu Hadhrat Abu Ubaidah bin al-Jarrah radhiyAllahu ta’ala ‘anhu.

Dzikr-e-khair dan shalat jenazah gaib untuk tiga Almarhum.

khalifah ahmadiyah, keteladan para sahabat rasulullah

Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 09 Oktober 2020 (Ikha 1399 Hijriyah Syamsiyah/ Shafar 1442 Hijriyah Qamariyah) di Masjid Mubarak, Tilford, UK (United Kingdom of Britain/Britania Raya)

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ. (آمين)

Pada khotbah yang lalu telah saya sampaikan peristiwa-peristiwa yang terkait dengan kehidupan Hadhrat Abu Ubaidah bin al-Jarrah (أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ) radhiyAllahu ta’ala ‘anhu. Pada hari ini pun akan saya sampaikan bagian yang masih tersisa.

Terdapat sebuah pertempuran yang terjadi di sebuah tempat bernama Yarmuk. Alasan kenapa diberi nama Yarmuk adalah bahwa di daerah pinggiran Syam terdapat satu lembah yang bernama Yarmuk. Pada tahun ke-15 Hijriyyah telah terjadi salah satu perang terbesar di Syria yang terjadi di pinggiran sungai Yarmuk di dataran daerah Yarmuk tersebut. Pasukan Romawi berjumlah sekitar 250.000 orang bergerak ke medan perang di bawah pimpinan Vahan. Sedangkan dari pihak Muslim berjumlah sekitar 30.000 pasukan yang diantara mereka terdapat 1.000 (seribu) orang sahabat Nabi Muhammad (saw). Dari jumlah seribu tersebut sekitar 100 orang ialah veteran sahabat Badr.

Setelah saling bermusyawarah, untuk sementara kaum Muslim menarik sebagian pasukan mereka kembali dari Hims (Homs). Ketika meninggalkan Hims, pasukan Muslim mengatakan kepada penduduk Kristen, نحن على ما كان بيننا وبينكم من الصلح لا نرجع عنه إلا أن ترجعوا وإنما رددنا عليكم أموالكم كراهية أن نأخذها ولا نمنع بلادكم ولكنا نتنحى إلى بعض الأرض ونبعث إلى أخواننا فيقدموا علينا ثم نلقى عدونا فإن أظفرنا الله بهم وفينا لكم بعهدكم إلا ألا تطلبوا ذلك “Dikarenakan untuk sementara kami akan menghentikan perlindungan terhadap kalian, maka dari itu, jizyah (pajak perlindungan) yang telah kami tarik dari kalian, akan kami kembalikan lagi kepada kalian, karena kami tidak dapat memenuhi tujuan penarikan pajak ini. Karena itu, akan kami kembalikan lagi kepada kalian.”[1]

Pajak yang dikembalikan saat itu nilainya jutaan. Ketika pajak tersebut dikembalikan, para penduduk Kristen merasa terharu dan menangis dibuatnya setelah mengetahui akhlak pasukan Muslim yang jujur dan adil. Ketika pasukan Muslim beranjak pergi, para penduduk Kristen banyak yang menaiki atap rumah mereka untuk melepas kepergian dan berdoa, “Wahai penguasa Muslim yang penyayang! Semoga Allah Ta’ala mengembalikan kalian ke tempat kami lagi.”[2]

 Disebabkan oleh ditariknya kembali pasukan Muslim dari Hims, pasukan Romawi semakin berani bergerak lebih jauh. Mereka bergerak ke Yarmuk dengan pasukan yang berjumlah besar lalu memasang tenda-tenda untuk memerangi umat Muslim. Namun, hati kecil mereka masih menyimpan rasa takut melihat gejolak keimanan pasukan Muslim sehingga mereka berkeinginan untuk membuat resolusi damai dan berusaha untuk menyusun perjanjian damai bersama.

Komandan pasukan Romawi mengutus seorang wakil bernama George (Ejaan Arabnya = Jirjis, جِرْجِيرٌ) pergi kepada lasykar Muslim. Setelah ia sampai di barak pasukan Muslim, saat itu pasukan sedang melaksanakan shalat Magrib. Ketika melihat pasukan Muslim melaksanakan shalat dengan penuh kekhusyuan di hadapan Allah Ta’ala, George sangat terkesan. Setelah itu ia mengajukan beberapa pertanyaan kepada Hadhrat Abu Ubaidah yang diantaranya adalah sebagai berikut, هَلْ قَالَ صَاحِبُكُمْ فِي عِيسَى شَيْئًا وَمَا قَوْلُكُمْ أَنْتُمْ فِيهِ “Bagaimana keyakinan Anda mengenai Hadhrat Isa as?”

Hadhrat Abu Ubaidah membacakan ayat Al Quran berikut: يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لَا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ وَلَا تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ إِلَّا الْحَقَّ ۚ إِنَّمَا الْمَسِيحُ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ رَسُولُ اللَّهِ وَكَلِمَتُهُ أَلْقَاهَا إِلَىٰ مَرْيَمَ وَرُوحٌ مِّنْهُ ۖ فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ۖ وَلَا تَقُولُوا ثَلَاثَةٌ ۚ انتَهُوا خَيْرًا لَّكُمْ ۚ إِنَّمَا اللَّهُ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ سُبْحَانَهُ أَن يَكُونَ لَهُ وَلَدٌ ۘ لَّهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ وَكِيلًا ()  “Hai Ahlikitab! Janganlah kamu melampaui batas dalam urusan agamamu, dan janganlah kamu mengatakan mengenai Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Almasih Isa Ibnu Maryam hanyalah seorang rasul Allah dan penggenapan kalimat-Nya yang diturunkan kepada Maryam, sebagai rahmat dari-Nya. Maka berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan janganlah kamu mengatakan, ‘Tuhan itu tiga.’ Berhentilah, itu akan lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah adalah Tuhan Yang Mahaesa. Mahasuci Dia dari memiliki anak. Kepunyaan-Nya apa pun yang ada di seluruh langit dan apa pun yang ada di bumi. Dan cukuplah Allah sebagai Penjaga.”

Beliau lalu membaca ayat berikutnya: لَّن يَسْتَنكِفَ الْمَسِيحُ أَن يَكُونَ عَبْدًا لِّلَّهِ وَلَا الْمَلَائِكَةُ الْمُقَرَّبُونَ ۚ وَمَن يَسْتَنكِفْ عَنْ عِبَادَتِهِ وَيَسْتَكْبِرْ فَسَيَحْشُرُهُمْ إِلَيْهِ جَمِيعًا () “Almasih sama sekali tidak merasa enggan menjadi hamba bagi Allah, dan tidak juga malaikat yang dekat kepada-Nya…”[3]

Setelah mendengar ajaran Al Quran tersebut, George mengatakan, أَشْهَدُ أَنَّ هَذِهِ صِفَةُ عِيسَى بْنِ مَرْيَمَ وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّكُمْ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَادِقٌ وَأَنَّهُ الَّذِي بَشَّرَنَا بِهِ عِيسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ وَأَنَّكُمْ قَوْمُ صِدْقٍ “Tidak diragukan lagi, demikianlah sifat-sifat Hadhrat Isa Al Masih. Nabi kalian adalah benar.” Setelah itu George masuk Islam.[4]

George yang awalnya datang sebagai utusan pasukan Romawi, setelah itu tidak ingin kembali kepada pasukannya, namun Hadhrat Abu Ubaidah bersabda, إنا إن أرسلنا رسولنا إلى صاحبكم وأنت عندنا ظنوا أنا حبسناك عنهم فنتخوف أن يحبسوا صاحبنا فإن شئت أن تأتيهم الليلة وتكتم إسلامك حتى نبعث إليهم رسولنا غدا وننظر علام ينصرم الأمر بيننا وبينهم فإذا رجع رسولنا إلينا أتيتنا عند ذلك فما أعزك علينا وأرغبنا فيك وأكرمك “Jika Anda tidak mau kembali ke mereka, pasukan Romawi akan menganggap kami telah melakukan pelanggaran janji. Karena itu, Anda harus kembali ke pasukan Romawi. Anda dapat datang lagi kemari bersama dengan duta yang akan berangkat dari pihak Muslim nanti ke pihak Romawi.”[5]

Hadhrat Abu Ubaidah menyeru lasykar Romawi kepada Islam dan menjelaskan kepada mereka perihal persamaan dalam Islam, persaudaraan dan akhlak Islami. Pada hari berikutnya beliau berangkat menemui Hadhrat Khalid Bin Walid, namun tidak membuahkan hasil dan dimulailah persiapan untuk berperang.

Di belakang lasykar Muslim terdapat para wanita yang bertugas memberikan air minum kepada pasukan, merawat pasukan yang terluka dan memberikan semangat kepada para pejuang. Diantara para wanita yang hadir adalah Hadhrat Asma Binti Abu Bakr, Hadhrat Hind Binti Utbah, istri Hadhrat Abu Sufyan yang baiat pada saat Fath Makkah dan hadir juga Hadhrat Ummu Aban dan selainnya

Sebelum peperangan dimulai, Hadhrat Abu Ubaidah bersabda kepada para wanita itu, خذن بأيديكن أعمدة البيوت والخيام وأجعلن الحجارة بين ايديكن وحرضن المؤمنين على القتال فإن كان الأمر لنا والظفر فكن على ما أنتن عليه وأن رأيتن أحدا من المسلمين منهزما فاضربن وجهه بأعمدتكن واحصبنه بحجارتكن وارفعن إليه أولادكن وقلن له قاتل عن أهلك وعن دين الإسلام. “Wahai para Mujahidah (pejuang wanita)! Ambillah kayu penyangga kemah lalu genggam di tangan, penuhilah wadah-wadah dengan kerikil dan semangatilah para pejuang Muslim untuk berperang. Katakan kepada mereka, ‘Pada hari ini adalah pertarungan kalian, janganlah kalian mundur.’” Hadhrat Abu Ubaidah selanjutnya bersabda, “Jika kalian melihat pasukan Muslim berhasil, tetaplah di tempat kalian. Jika kalian melihat salah seorang pasukan Muslim mundur, pukullah wajah mereka dengan kayu dan hujanilah mereka dengan kerikil supaya mereka bergerak maju ke medan perang. Angkatlah anak kalian sambil mengatakan kepada para suami kalian, ‘Pergilah kalian ke medan perang! Berikanlah nyawa kalian demi keluarga dan Islam!’”[6]

Setelah itu Hadhrat Abu Ubaidah bersabda kepada para pejuang pria, عباد اللَّه انصروا اللَّه ينصركم ويثبت أقدامكم. “Para hamba Allah! Berderap majulah untuk menolong Allah maka Dia akan menolongmu dan akan memberikan keteguhan langkah padamu.”[7]

يا عباد اللَّه اصبروا فإن الصبر منجاة من الكفر ومرضاة للرب ومدحضة للعار . ولا تتركوا مصافكم ولا تخطوا إليهم خطوة ، ولا تبدءوهم بالقتال ، وأشرعوا الرماح واستتروا بالدرق ، والزموا الصمت ، إلا من ذكر اللَّه عَزَّ وَجَلَّ فِي أنفسكم ، حتى آمركم إن شاء اللَّه “Wahai para hamba Allah! Bersabarlah, karena kesabaranlah yang akan menjadi sarana untuk mendapatkan najat (keselamatan) dari kekufuran, penarik ridha Tuhan dan membasuh segala noda kehinaan. Janganlah kalian meninggalkan barisan dan janganlah mendahului peperangan. Genggamlah dengan erat dan angkatlah senjata tombak kalian. Amankan tameng kalian. Wajibkanlah bagi kalian untuk diam kecuali kalian basahi lidah dengan dzikr Ilahi supaya Allah Ta’ala menyempurnakan kehendak-Nya.”[8] Mereka diperintahkan untuk tidak mendahului peperangan, namun jika datang serangan, jangan mundur.

Saat ini di depan lasykar musuh terdapat salib yang terbuat dari emas dan kilauan senjata mereka menyilaukan mata. Pasukan musuh mengenakan pakaian besi dari kepala sampai kaki. Mereka mengenakan rantai pada kaki supaya tidak melarikan diri dari medan perang, yakni hanya memiliki dua pilihan yakin membunuh musuh atau terbunuh. Pendeta tengah membacakan sabda-sabda dari Injil untuk menyemangati pasukan musuh. Lasykar kafir berderap maju layaknya ombak di samudera. Jumlah pasukan musuh 250.000 sedangkan pasukan Muslim 30.000 lalu dimulailah perang.

Pada permulaan perang, pasukan Romawi unggul sehingga berhasil menekan pasukan Muslim. Pihak musuh secara diam diam menandai keberadaan para sahabat Rasulullah diantara pasukan Muslim lalu memposisikan beberapa pemanah di atas bukit dan memerintahkan secara khusus untuk mengincar para sahabat Rasul dengan panahnya. Mereka tahu bahwa jika para tokoh Muslim berhasil dibunuh, maka dengan sendirinya hati pasukan yang lainnya akan merasa ciut dan meninggalkan medan perang. Akibatnya, banyak diantara sahabat yang syahid terbunuh dan banyak juga yang kehilangan pandangan karenanya.

Melihat keadaan demikian Ikrimah putra Abu Jahl yang telah baiat pada saat Fatah Mekah dan ketika Fatah Mekah memohon kepada Rasulullah dengan berkata: Mohon doakan semoga Allah Ta’ala memberikan kepada saya taufik untuk dapat menebus kesalahan kesalahan yang terdahulu. Lalu Hadhrat Ikrimah mengajak beberapa kawannya menghadap Hadhrat Abu Ubaidah dan berkata, “Para sahabat telah memberikan pengkhidmatan yang besar, mohon berikan kesempatan kepada generasi berikutnya seperti kami untuk meraih pahala, kami siap untuk menembus jantung lasykar musuh dan membunuh para komandan musuh.”

Hadhrat Abu Ubaidah bersabda, “Itu sangat beresiko dan bisa mengancam nyawa para pemuda yang melancarkan serangan nantinya.”

Ikrimah berkata, “Memang benar, namun selain itu tidak ada pilihan lagi, apakah tuan menghendaki kami para pemuda selamat namun para sahabat banyak yang terbunuh?” (Luapan gejolak keimanan yang membara dalam diri Hadhrat Ikrimah untuk mengorbankan jiwa demi Allah Ta’ala).

Berkali-kali Hadhrat Ikrimah memohon kepada Hadhrat Ubaidah supaya diizinkan untuk melancarkan serangan ke jantung pertahanan musuh dengan membawa 400 pasukan Muslim. Atas desakan itu pada akhirnya Hadhrat Abu Ubaidah mengizinkan mereka.

Hadhrat Ikrimah dan kawan-kawan menembus bagian tengah lasykar musuh dan berhasil mengalahkannya. Namun dalam gempuran tersebut banyak diantara para pemuda yang syahid. Pasukan Muslim menggiring pasukan Romawi ke arah parit-parit yang telah dibuat oleh pasukan romawi. Karena pasukan Romawi kakinya terikat satu sama lain dengan rantai supaya tidak melarikan diri sehingga mereka saling berjatuhan ke dalam parit. Jika satu terjatuh maka akan menyeret 10 lainnya ke dalam parit. 80.000 pasukan musuh ketika mundur tertekan, mati tenggelam di sungai Yarmuk. Pasukan Muslim berhasil membunuh 100.000 pasukan Romawi di medan Perang. Sementara yang gugur di pihak Muslim adalah sekitar 3000 pasukan. Seperti itulah perang Yarmuk.

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) menjelaskan berkenaan dengan peristiwa tersebut dengan bersabda, “Setelah perang selesai, pasukan Muslim mencari Ikrimah dan kawan-kawannya secara khusus. Apa yang terlihat, diantara mereka 12 orang terluka parah, termasuk Ikrimah. Ada seorang prajurit yang datang menghampiri pasukan yang terluka itu. Melihat kondisi Ikrimah yang luka parah, prajurit itu berkata, ‘Wahai Ikrimah, saya membawa air, silahkan kamu minum darinya.’

Ikrimah mengarahkan pandangan ke arah lain dan melihat ada putra Hadhrat Abbas yang tengah tergeletak dalam kondisi terluka parah juga. Ikrimah berkata kepada prajurit yang membawa air itu, ‘Bagaimana mungkin saya tega membiarkan beliau gugur disebabkan oleh kehausan – anak keturunan dari orang-orang yang dahulu selalu menolong Hadhrat Rasulullah (saw) padahal saya dulunya adalah penentang keras Rasulullah (saw) – sementara saya masih hidup karena meminum air.’ (Ini merupakan gambaran gejolak baru kecintaan yang timbul diantara mereka satu sama lain)

Hadhrat Ikrimah berkata, ‘Silahkan terlebih dahulu berikan air ini kepada Hadhrat Fadhl Bin Abbas, jika nanti air masih tersisa, silahkan bawa lagi ke sini.’

Prajurit yang membawa air itu pergi menuju Hadhrat Fadhl Bin Abbas (الفَضْلُ بنُ العَبَّاسِ بنِ عَبْدِ المُطَّلِبِ), namun Hadhrat Fadhal pun menolaknya dan meminta supaya air itu diberikan kepada sahabat lain yang terluka dengan berkata, ‘Orang itu lebih memerlukan air daripada saya.’

Prajurit tersebut kemudian pergi kepada orang yang ketiga namun jawaban yang diterima sama seperti sebelumnya dan tidak ada yang mau meminumnya. Setelah sampai pada orang yang terakhir, ia telah wafat lalu kembali lagi pada orang-orang sebelumnya sampai pada yang pertama yakni Ikrimah, namun semuanya ditemukan sudah wafat.”

Penduduk Syam merupakan pengikut beragam agama. Ada perbedaan dalam Bahasa mereka begitu juga dalam silsilah keturunan. Hadhrat Abu Ubaidah menegakkan persamaan dan keadilan diantara mereka, menciptakan kedamaian dan ketentraman. Setiap orang diberikan kebebasan untuk beragama dan menegakkan ruh Islami bahwa kalian semua adalah anak keturunan Adam dan saling bersaudara. Sebagai manusia tidak ada perbedaan diantara kita. (Terkadang dilontarkan tuduhan keliru kepada Islam yang mengatakan bahwa orang-orang baiat masuk Islam karena dipaksa).

Hadhrat Abu Ubaidah memberikan kebebasan beragama kepada bangsa Romawi, diadakan taaruf antar sesama kabilah, menegakkan kedamaian. Berkat upaya Hadhrat Abu Ubaidah jugalah banyak dari antara orang Arab yang tinggal di Syam yang sebelumnya adalah penganut Kristen masuk kedalam pangkuan Islam. Mereka baiat dengan tabligh bukan dengan paksaan. Selain itu banyak juga yang baiat setelah melihat teladan baik para Muslim. Seperti yang telah disampaikan tadi, ada juga orang Kristen Romawi yang baiat setelah melihat akhlak mulia Hadhrat Abu Ubaidah.

Hadhrat Abu Bakr wafat beberapa hari sebelum kemenangan perang Yarmuk. Setelah itu Hadhrat Umar terpilih sebagai khalifah berikutnya. Hadhrat Umar menyerahkan tugas untuk mengawasi negeri Syam dan memimpin pasukan kepada Hadhrat Abu Ubaidah. Ketika Hadhrat Abu Ubaidah menerima surat penugasan tersebut, saat itu peperangan tengah berlangsung dahsyat sehingga Hadhrat Abu Ubaidah tidak mengungkapkannya kepada Hadhrat Khalid (ra).

Ketika Hadhrat Khalid Bin Walid mengetahui hal itu, karena hingga saat itu beliau adalah komandan tertinggi seluruh pasukan, beliau bertanya kepada Hadhrat Abu Ubaidah, فما منعك أن تأتينا به؟ atau يَرْحَمُكَ اللهُ! مَا دَعَاكَ إِلَى أَنْ لاَ تُعْلِمَنِي؟ “Kenapa Anda menyembunyikan kenyataan perihal surat penugasan dari Hadhrat Umar (ra)?”

Hadhrat Abu Ubaidah menjawab, كان فتح فتحه الله على يديك، فكرهت أن أنغصكه “Saya menyembunyikannya karena saat itu kita tengah menghadapi musuh dan saya tidak ingin membuat Anda merasa tertekan dan kecewa.”[9]

Setelah umat Muslim mendapatkan kemenangan dan lasykar Hadhrat Khalid tengah bersiap kembali ke Iraq, Hadhrat Abu Ubaidah menahan kepergian Hadhrat Khalid untuk beberapa waktu. Ketika Hadhrat Khalid (ra) akan pergi, Hadhrat Khalid (ra) berkata kepada orang-orang, بَعَثَ عَلَيْكُمْ أَمِينَ هَذِهِ الْأُمَّةِ ، سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : أَمِينُ هَذِهِ الْأُمَّةِ أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ “Kalian seharusnya merasa bahagia karena orang yang terpercaya dalam umat ini menjadi pemimpin kalian yakni Hadhrat Abu Ubaidah.”

Hadhrat Abu Ubaidah bersabda, سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : خَالِدٌ سَيْفٌ مِنْ سُيُوفِ اللَّهِ ، وَنِعْمَ فَتَى الْعَشِيرَةِ “Saya pernah mendengar Rasulullah (saw) bersabda bahwa Khalid Bin Walid merupakan satu diantara pedang Allah.”[10]

Demikianlah suasana penuh kecintaan dan saling menghormati diantara dua komandan ketika akan saling berpisah. Seperti itulah ketakwaan orang-orang mukmin, mereka tidak gandrung dengan popularitas, tidak juga dengan jabatan dan kedudukan. Kedambaan dan tujuan mereka semata-mata demi meraih keridhaan Allah Ta’ala dan mendirikan kedaulatan Allah Ta’ala di dunia ini. Dengan demikian, mereka merupakan teladan bagi kita semua. Pada Ahmadi dan juga pengurus hendaknya menaruh perhatian akan hal ini.

Fath Baitul Muqaddas (Penaklukan al-Quds atau Yerussalem). Peristiwa ini pun berkaitan dengan Hadhrat Abu Ubaidah (ra). Lasykar Islam dibawah pimpinan Hadhrat Amru Bin al-‘Ash (ra) bergerak ke Palestina. Setelah pasukan beliau menaklukan kota-kota di Palestina dan mengepung Baitul Muqaddas, lasykar Abu Ubaidah pun bergabung dengan lasykar Amru Bin As. Setelah tidak tahan terkepung di balik tembok, lalu pihak Kristen menawarkan damai. Namun mereka mengajukan syarat supaya Hadhrat Umar sendiri yang datang untuk membuat perjanjian. Hadhrat Abu Ubaidah menyampaikan usulan kaum Kristen tersebut kepada Hadhrat Umar.

Hadhrat Umar (ra) menetapkan Hadhrat Ali (ra) sebagai Amir Maqami (pimpinan di ibukota Madinah) yang akan menggantikan beliau untuk sementara lalu Hadhrat Umar (ra) berangkat pada bulan Rabiul Awwal 16 Hijriah dari Madinah menuju Jabiyah, sebuah kampung di pinggiran Damaskus. Di sana para pemimpin menyambut beliau.

Hadhrat Umar bersabda, أين أخي؟ “Dimana saudara saya?”

Orang-orang bertanya, من؟  “Wahai Amirul Mukminin, siapa yang tuan maksud?”

Beliau bersabda, أبو عبيدة ”Abu Ubaidah.”

Dikatakan, يأتيك الآن  “Beliau (Abu Ubaidah) akan segera sampai.”

فجاء على ناقة مخطومة بحبل، فسلم عليه وسأله، ثم قال للناس: انصرفوا عنا، فسار معه حتى أتى منزله، فنزل عليها، فلم ير في بيته إلا سيفه وترسه ورحله، فقال له عمر بن الخطاب: Tidak lama kemudian Hadhrat Abu Ubaidah datang dengan mengendarai unta lalu menyampaikan salam dan menanyakan kabar.

Hadhrat Umar meminta yang lainnya supaya meninggalkan tempat lalu beliau pergi menuju tempat tinggal Hadhrat Abu Ubaidah. Sesampainya di rumah beliau, Hadhrat Umar melihat yang ada hanya sebuah pedang, tameng, tikar dan sebuah mangkuk. Hadhrat Umar bersabda, لو اتخذت متاعاً أو شيئاً “Wahai Abu Ubaidah! Kenapa Anda tidak mengadakan fasilitas kebutuhan lainnya? Seharusnya ada lagi barang-barang keperluan lainnya.”[11]

Hadhrat Abu Ubaidah berkata, يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ ، يَكْفِيكَ مِنَ الدُّنْيَا مَا بَلَّغَكَ الْمَقِيلَ “Barang-barang tersebut mencondongkan kita kepada kesenangan duniawi.”[12] Maknanya, “Bisa saja saya menyediakan berbagai fasilitas tersebut namun dengan adanya semua itu, saya akan terlena dengan semua kemudahan itu. Karena itu, saya tidak ingin menyediakan semua sarana kemudahan itu.”

Pada kesempatan itu, terjadi juga satu peristiwa yang menguatkan keimanan dan sebelum ini pun telah saya sampaikan. Yakni peristiwa adzannya Hadhrat Bilal. Hadhrat Bilal bertekad untuk tidak mengumandangkan adzan paska kewafatan Rasulullah (saw). Suatu hari tiba waktu shalat lalu orang-orang memohon kepada Hadhrat Umar agar memerintahkan Hadhrat Bilal untuk mengumandangkan adzan. Hadhrat Bilal mengumandangkan adzan atas permintaan Hadhrat Umar dan itu membuat semua orang yang mendengarnya menangis. Orang yang paling banyak menangis diantara orang-orang saat itu adalah Hadhrat Umar karena adza tersebut mengingatkan beliau akan zaman Rasulullah (saw).

Berkenaan dengan upaya pengambil-alihan kembali Syam (Syria dan sekitarnya) oleh bangsa Romawi tertulis bahwa pada tahun ke-17 Hijriyah bangsa Romawi melakukan upaya terakhir untuk mengambil kembali Syam dari kekuasaan Muslim. Orang-orang Kristen, orang-orang Iran, orang-orang Badui, orang-orang Kurdi yang tinggal di Syam sebelah utara, orang-orang Al-Jazirah, orang-orang Iraq utara dan Armenia pergi menghadap Heraklius (Kaisar Romawi Bizantium yang berpusat di Konstantinopel) dan meminta bantuan kepadanya untuk menghadapi pasukan Muslim. Dia mengirimkan bantuan sejumlah 30.000 pasukan. Meskipun sampai saat itu sebagian besar Al-Jazirah sudah ditaklukan oleh Hadhrat Sa’d Bin Abi Waqqash namun penduduk Baduinya masih belum dapat ditaklukan. Lebih-lebih lagi kekuatan laut bangsa Romawi masih tetap ada dan kuat. Dia (Kaisar Romawi) menganggap kesempatan tersebut sebagai peluang emas lalu melancarkan serangan dengan mengirim sejumlah besar pasukan angkatan laut. Satu lasykar besar Badui telah mengepung Hims (kota besar yang telah dikuasai Muslim saat itu) dan beberapa kota di Syam utara melakukan pemberontakan terhadap penguasa Muslim.

Hadhrat Abu Ubaidah (ra) menulis surat kepada Hadhrat Umar (ra) untuk meminta bantuan. Hadhrat Umar (ra) segera memerintahkan Hadhrat Sa’d Bin Abi Waqqash (ra) untuk mengirimkan pasukan bantuan dari arah Kufah (Iraq). Hadhrat Sa’d memberangkatkan pasukan di bawah pimpinan Qa’qa’ bin Amru dari Kufah. Meskipun demikian, jumlah pasukan musuh dan pasukan Muslim terdapat jarak perbedaan yang besar [pasukan Muslim tetap kalah jumlah].

Hadhrat Abu Ubaidah memberikan pidato yang bersemangat kepada para tentara dan bersabda, أيها الناس إن هذا يوم له ما بعده أما من حي منكم فإنه يصفوا له ملكه وقراره وأما من مات منكم فإنها الشهادة فأحسنوا بالله الظن ولا يكرهن إليكم الموت أمر اقترفه أحدكم دون الشرك توبوا إلى الله وتعرضوا للشهادة فإني أشهد وليس أوان الكذب أني سمعت رسول الله {صلى الله عليه وسلم} يقول من مات لا يشرك بالله شيئا دخل الجنة “Wahai orang-orang Muslim! Orang yang tetap teguh hari ini dan jika dia bertahan, dia akan mendapatkan negara dan kekayaan. Jika dia terbunuh, dia akan mendapatkan kekayaan syahid dan saya bersaksi bahwa Rasulullah (saw) pernah bersabda, ‘Siapa pun yang mati sementara dia bukan seorang Musyrik, dia pasti akan masuk surga.’”[13]

Ketika terjadi perang antara kedua kelompok itu [kaum Muslim dan pasukan Romawi], dalam waktu singkat pasukan Romawi kehilangan pijakan dalam menghadapi kaum Muslimin. Mereka melarikan diri hingga mencapai kota Masisah yang berbukit-buki dan berlembah di sepanjang 10 mil di Marj al-Dibaj, wilayah perbatasan Suriah. Mereka melarikan diri ke sana dan tidak pernah lagi Kaisar (Raja Romawi) memiliki keberanian untuk maju ke Syam (Suriah dan negeri-negeri sekitarnya).

Wabah Amwaas. Amwaas (Emmaus) ini juga nama sebuah tempat. Ada sebuah lembah enam mil dari Ramallah dalam perjalanan ke Yerusalem. Ada tertulis dalam buku sejarah bahwa hal itu disebut wabah Amwaas karena di sinilah penyakit itu bermula. Penyakit ini telah menyebabkan kematian yang tidak terhitung jumlahnya di Suriah. Menurut beberapa orang, itu menyebabkan sekitar 25.000 kematian.[14] Ini dijelaskan dalam riwayat Bukhari. Hadhrat Abdullah Bin Abbas meriwayatkan, أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ، خَرَجَ إِلَى الشَّامِ حَتَّى إِذَا كَانَ بِسَرْغَ لَقِيَهُ أُمَرَاءُ الأَجْنَادِ أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ وَأَصْحَابُهُ فَأَخْبَرُوهُ أَنَّ الْوَبَأَ قَدْ وَقَعَ بِأَرْضِ الشَّامِ “Suatu ketika Khalifah Umar bin Khaththab sampai di Sargha [dalam perjalanan menuju Syam].”

Sargha ialah pemukiman di lembah Tabuk di daerah perbatasan Suriah dan Hijaz, yang berjarak tiga belas malam dari Madinah. Di dalam Kitab-Kitab Tarikh lama tertulis bahwa jarak 13 malam perjalanan artinya sekitar seribu mil jauhnya.

“Saat itu beliau (ra) berjumpa dengan para Amir (Komandan) tentara yaitu Hadhrat Abu Ubaidah Bin Al-Jarrah dan kawan-kawannya. Para komandan perang itu menyampaikan berita kepada Khalifah bahwa di Syam telah pecah (menyebar) wabah penyakit thaun. Hadhrat Umar berkata, ادْعُ لِي الْمُهَاجِرِينَ الأَوَّلِينَ ‘Panggilkanlah kalangan Muhajirin awal untuk bermusyawarah!’

فَدَعَاهُمْ فَاسْتَشَارَهُمْ وَأَخْبَرَهُمْ أَنَّ الْوَبَأَ قَدْ وَقَعَ بِالشَّامِ فَاخْتَلَفُوا فَقَالَ بَعْضُهُمْ قَدْ خَرَجْتَ لأَمْرٍ وَلاَ نَرَى أَنْ تَرْجِعَ عَنْهُ ‏.‏ وَقَالَ بَعْضُهُمْ مَعَكَ بَقِيَّةُ النَّاسِ وَأَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَلاَ نَرَى أَنْ تُقْدِمَهُمْ عَلَى هَذَا الْوَبَإِ ‏ Mereka dipanggil dan bermusyawarah. Namun ada perbedaan pendapat diantara mereka. Satu perwakilan Muhajirin berpendapat, ‘Kita hendaknya jangan mundur.’ Artinya, tetap melanjutkan perjalanan. Perwakilan lain mempertimbangkan, ‘Anda membawa rombongan yang di dalamnya terdapat para sahabat Rasulullah (saw). Tidak tepat membawa mereka dalam wabah ini.’ Hadhrat Umar tidak meminta dipanggilkan lagi kaum Muhajiri. Tidak juga menyuruh mereka kembali.

Hadhrat Umar mengutus kaum Muhajirin untuk memanggil kaum Anshar, namun seperti halnya Muhajirin, terjadi beda pendapat di kalangan Anshar. Hadhrat Umar mengutus para Anshar dan bersabda, ادْعُ لِي مَنْ كَانَ هَا هُنَا مِنْ مَشْيَخَةِ قُرَيْشٍ مِنْ مُهَاجِرَةِ الْفَتْحِ ‘Panggillah para sesepuh dari kalangan Quraisy yang pada saat Fath Makkah menerima Islam dan berhijrah (pindah) ke Madinah.’

Mereka memberikan musyawarah dengan suara bulat bahwa rombongan sebaiknya kembali karena di tempat tujuan wabah tengah menjangkit. Hadhrat Umar (ra) pun setuju dan mengumumkan untuk kembali pulang.

Hadhrat Abu Ubaidah Bin Al-Jarrah pada saat itu bertanya, أَفِرَارًا مِنْ قَدَرِ اللَّهِ ‘Mungkinkah kita dapat menghindar (melarikan diri) dari takdir Allah?’

Hadhrat Umar bersabda, لَوْ غَيْرُكَ قَالَهَا يَا أَبَا عُبَيْدَةَ نَعَمْ نَفِرُّ مِنْ قَدَرِ اللَّهِ إِلَى قَدَرِ اللَّهِ أَرَأَيْتَ لَوْ كَانَ لَكَ إِبِلٌ فَهَبَطَتْ وَادِيًا لَهُ عُدْوَتَانِ إِحْدَاهُمَا مُخْصِبَةٌ وَالأُخْرَى جَدْبَةٌ أَلَيْسَ إِنْ رَعَيْتَ الْخَصِبَةَ رَعَيْتَهَا بِقَدَرِ اللَّهِ وَإِنْ رَعَيْتَ الْجَدْبَةَ رَعَيْتَهَا بِقَدَرِ اللَّهِ “Wahai Abu Ubaidah! Saya berharap yang mengatakan ini orang selain Anda. Iya, kita menghindar dari satu takdir Allah menuju satu takdir Allah lainnya. Jika Anda memiliki unta lalu Anda membawa unta tersebut ke sebuah lembah yang di dalamnya terdapat dua bagian. Bagian pertama area yang hijau dengan rerumputan. Itu takdir Allah. Sedangkan bagian yang kedua area gersang (kering). Itu pun adalah takdir Allah.”

Tidak lama kemudian, datanglah Hadhrat Abdurrahman Bin Auf yang terlambat karena suatu kesibukan. Beliau berkata, إِنَّ عِنْدِي مِنْ هَذَا عِلْمًا سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ “Saya memiliki pengetahuan akan hal ini. Saya pernah mendengar Rasulullah (saw) bersabda: إِذَا سَمِعْتُمْ بِهِ بِأَرْضٍ فَلاَ تَقْدَمُوا عَلَيْهِ وَإِذَا وَقَعَ بِأَرْضٍ وَأَنْتُمْ بِهَا فَلاَ تَخْرُجُوا فِرَارًا مِنْهُ ‘Jika kalian mendengar bahwa di suatu tempat wabah menjangkit penyakit menular, janganlah pergi ke tempat tersebut. Sementara jika kalian berada di daerah yang terjangkit wabah penyakit menular, janganlah meninggalkan tempat tersebut supaya penyakit tersebut tidak menular ke orang lain.’”[15] Atas hal ini, Hadhrat Umar bertahmid (memuji) kepada Allah dan kembali.

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) menyatakan tentang wabah Amwas, “Ketika Hadhrat Umar (ra) dalam perjalanan mengunjungi Syria dan saat itu di sana tengah terjadi wabah yang dikenal sebagai wabah Amwas. Beliau diterima oleh Hadhrat Abu Ubaidah dan tentara Islam. Para sahabat menasehati beliau, ‘Karena wabah itu ada di daerah tersebut pada saat itu dan epidemi tengah menyebar jadi Anda harus kembali.’

Hadhrat Umar menerima nasihat mereka dan memutuskan kembali.

Hadhrat Abu Ubaidah sangat bersikeras tampak mendesak. Ketika beliau mengetahui tentang keputusan ini, beliau berkata, أتفرّ من القضاء؟ ‘A tafirru minal qadha?’ – ‘Apakah Anda (Khalifah Umar) melarikan diri dari keputusan Allah?’

Hadhrat Umar bersabda, أفرّ من قضاء الله إلى قدر الله ‘Afirru min Qadhaa-iLlaahi ilaa QadariLlahi.’ – ‘Saya sedang berlari dari Qadha Allah menuju Takdir Allah.’ [16] Artinya, ‘Allah Ta’ala memiliki keputusan khusus dan keputusan umum, kedua keputusan ini adalah milik-Nya dan bukan milik selain-Nya. Jadi, saya tidak sedang berlari dari keputusan-Nya, tetapi saya berpindah dari satu keputusan-Nya ke keputusan-Nya yang lain.’

Tertulis dalam Kronik (Kitab-Kitab bernilai Sejarah) bahwa ketika Hadhrat Umar mendapat berita tentang wabah dan beliau mengumpulkan orang-orang untuk meminta saran dan nasehat, beliau bertanya, ‘Sebelumnya telah terjadi wabah di Syam (Suriah dan sekitarnya). Kemudian, apa yang orang-orang seharusnya lakukan pada saat-saat seperti itu?’

Mereka mengatakan, ‘Ketika wabah menyebar, orang-orang menyingkir darinya dan wabah itu mereda, yaitu mereka pergi ke ruang terbuka di sekitarnya daripada tinggal di kota.’

Merujuk pada saran tersebut, beliau bersabda sembari mengisyaratkan, ‘Tuhan telah membuat hukum umum bahwa siapapun yang meloloskan diri dari tempat wabah dan pergi kesana-kemari di alam terbuka maka akan diselamatkan. Dikarenakan hukum ini juga milik Tuhan dan buatan-Nya, maka dari itu, saya tidak melanggar salah satu hukum-Nya. Tetapi, saya akan pergi dari qadha-Nya menuju Qadr-Nya. Artinya, daripada melawan hukum khusus Tuhan, saya pergi menuju hukum umum-Nya. Jadi Anda tidak bisa mengatakan bahwa saya tengah melarikan diri. Saya hanya sedang berpindah dari satu hukum ke hukum lain dari-Nya.’

Hadhrat Umar kembali ke Madinah tetapi beliau sangat gugup dan cemas karena penyebaran wabah. Suatu hari Hadhrat Umar mengirim surat kepada Hadhrat Abu Ubaidah yang mengatakan, ‘Saya memiliki tugas penting untuk Anda jadi ketika surat ini sampai kepada Anda, segera berangkat ke Madinah. Jika surat datang pada malam hari, jangan menunggu sampai pagi, dan jika surat datang pada pagi hari jangan menunggu sampai malam.’

Ketika Hadhrat Abu Ubaidah membaca surat itu, dia berkata, عَرَفْتُ حَاجَةَ أَمِيْرِ المُؤْمِنِيْنَ، إِنَّهُ يُرِيْدُ أَنْ يَسْتَبْقِيَ مَنْ لَيْسَ بِبَاقٍ. ‘Saya tahu keperluan Amirul Mukminin. Semoga Allah mengasihi Hadhrat Umar. Beliau ingin mempertahankan mereka yang tidak akan selamat.’

Dengan memahami penyebab kepanikan, kemudian Hadhrat Abu Ubaidah (ra) menjawab surat itu, إِنِّي قَدْ عَرَفْتُ حَاجَتَكَ، فَحَلِّلْنِي مِنْ عَزِيْمَتك، فَإِنِّي فِي جُنْدٍ
مِنْ أَجْنَادِ المُسْلِمِيْنَ، لاَ أَرْغَبُ بِنَفْسِي عَنْهُم
‘Wahai Amirul Mukminin, saya telah memahami niat Anda. Jangan panggil saya pulang ke Madinah. Biarkan saya tetap di sini. Saya salah satu tentara Muslim. Takdir akan terjadi. Bagaimana saya bisa berpaling dari mereka?’

Hadhrat Umar (ra) menangis saat membaca surat itu. Beliau tengah duduk di antara para Muhajirin. Mereka bertanya, مَاتَ أَبُو عُبَيْدَةَ؟ ‘Wahai Amirul Mukminin, apakah Hadhrat Abu Ubaidah telah wafat?’

Beliau bersabda, لاَ، وَكَأَنْ قَدْ. ‘Tidak, tapi seolah-olah sudah (mungkin akan wafat).’[17]

Kemudian Hadhrat Umar menulis kepada Hadhrat Abu Ubaidah supaya membawa umat Islam keluar dari wilayah ini ke tempat yang lebih sehat.

Kapan saja seorang tentara Muslim menjadi martir (syahid) karena wabah, Hadhrat Abu Ubaidah akan menangis dan berdoa meminta kepada Allah supaya beliau juga mati syahid. Menurut sebuah riwayat, pada saat itu beliau melafalkan do’a, اللَّهُمَّ نَصِيْبَكَ فِي آلِ أَبِي عُبَيْدَةَ! ‘Ya Allah, bukankah keluarga Abu Ubaidah termasuk di dalam kalangan syuhada?’

Suatu hari muncul benjolan kecil di jari Hadhrat Abu Ubaidah. Melihat hal ini, beliau bersabda, أَرْجُو أَنْ يُبَارِكَ اللهُ فِيْهَا، فَإِنَّهُ إِذَا بَارَكَ فِي القَلِيْلِ، كَانَ كَثِيْراً. ‘Saya berharap Allah memberkati hal kecil ini dan ketika ada berkah pada hal kecil ini, itu sudah cukup.’[18]

Irbaadh ibn Sariyah meriwayatkan, دخلت على أبي عبيدة في مرضه الذي مات فيه وهو محتضر فقال: “Ketika Hadhrat Abu Ubaidah jatuh sakit karena wabah dan menimbulkan kewafatannya kemudian, saya pernah datang mengkhidmatinya. Beliau bersabda kepada saya, سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: ‘Saya pernah mendengar sabda dari Rasulullah (saw), المطعون شهيد و المبطون شهيد و الغريق شهيد و الحرق شهيد و الهدم شهيد و المرأة تموت بجمع شهيدة و ذات الجنب شهيدة]،. “Orang yang meninggal karena wabah tha’un ialah syahid, orang yang meninggal karena sakit perut adalah syahid, orang yang tenggelam dan mati adalah syahid, orang yang terbakar dan meninggal ialah syahid, orang yang tertimpa reruntuhan dan meninggal adalah syahid…”’[19]

Ketika saat terakhir kehidupan Hadhrat Abu Ubaidah datang, beliau bersabda kepada orang-orang, إِنِّي مُوصِيكُمْ بِوَصِيَّةٍ إِنْ قَبِلْتُمُوهَا لَنْ تَزَالُوا بِخَيْرٍ: أَقِيمُوا الصَّلَاةَ، وَآتُوا الزَّكَاةَ، وَصُومُوا شَهْرَ رَمَضَانَ، وَتَصَدَّقُوا، وَحُجُّوا وَاعْتَمِرُوا، وَتَوَاصَوْا، وَانْصَحُوا لِأُمَرَائِكُمْ وَلَا تَغُشُّوهُمْ، وَلَا تُلْهِكُمُ الدُّنْيَا ، فإن امرءاً لَو عُمِّرَ أَلْفَ حَوْلٍ مَا كَانَ لَهُ بُدٌّ مِنْ أَنْ يَصِيرَ إلى مَصْرَعِي هَذَا الذي تَرَوْنَ. إِنَّ اللهَ كَتَبَ المَوْتَ عَلَى بَنِي آدَمَ فَهُمْ مَيِّتُونَ، وَأَكْيَسُهُمْ أَطْوَعُهُمْ لِرَبِّهِ، وَأَعْلَمُهُمْ لِيَوْمِ مَعَادِهِ. وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ. “Wahai manusia, saya membuatkan wasiat untuk Anda sekalian. Jika Anda sekalian menerimanya maka Anda akan mendapat manfaat. Nasihatnya adalah sebagai berikut: dirikanlah shalat, bayarlah zakat, berpuasasalah di bulan Ramadhan, beramal sedekahlah, tunaikanlah Haji, tunaikanlah Umrah, tegaskanlah hal-hal baik antara satu terhadap yang lain, bersikaplah tulus setia kepada para Amir (Pimpinan) Anda sekalian dan janganlah menipu mereka. Jangan biarkan kaum wanita mengalihkan perhatian Anda dari tugas-tugas Anda. Bahkan, jika seseorang hidup seribu tahun, suatu hari dia harus meninggalkan dunia ini sebagaimana Anda lihat saya juga hendak pergi dari dunia ini. Tuhan telah menetapkan kematian bagi setiap umat manusia (Bani Adam). Semua orang akan mati. Orang yang paling berakal adalah orang yang siap mati dan membuat persiapan untuk hari itu. Sampaikanlah salam saya kepada Amirul Mukminin (Khalifah Umar) dan sampaikan bahwa saya telah memenuhi semua tanggungjawab yang beliau amanahkan (percayakan) kepada saya.”[20]

Kemudian Hadhrat Abu Ubaidah berkata, ‘Kuburkanlah saya di sini sesuai dengan keputusan saya.’ Karena itulah, beliau dikuburkan di lembah Baisan, di tanah Yordania.

Menurut beberapa riwayat, Hadhrat Abu Ubaid ibn Jarrah sedang dalam perjalanan ke Baitul Muqaddas (Yerusalem) dari Jabiyah untuk shalat ketika tiba saat kematiannya.

Menurut riwayat lain, beliau meninggal di daerah Fihl, Syam.

Hadhrat Abu Ubaidah menunjuk Hadhrat Mu’adz bin Jabal sebagai penerusnya pada waktu beliau menjelang wafat. Ketika Hadhrat Abu Ubaidah wafat, Hadhrat Mu’adz berkata kepada orang-orang, أيها الناس، قد فجعتم برجل ما أرى أني رأيت عبدا من عباد الله قطّ أبرأ صدرا منه، ولا أبعد منه غائلة، ولا أشد حبّا للعافية، ولا أنصح للعامة منه، فترحّموا عليه، رحمة الله، واحضروا الصلاة عليه، رحمة الله عليه. “Wahai orang-orang! Hari ini telah meninggal seseorang di antara kita yang lebih berhati murni, mencintai orang-orang tanpa kebencian dan saya belum melihat orang sedermawan dan setulus beliau. Berdoalah agar Allah menghujani beliau dengan berkah dan rahmat-Nya.”[21]

Hadhrat Abu Ubaidah bin Jarrah meninggal pada tahun 18 H. Beliau berusia 58 tahun saat itu.

أَنَّ عُمَرَ أَرْسَلَ إِلَى أَبِي عُبَيْدَةَ بِأَرْبَعَةِ آلاَفٍ، أَوْ بِأَرْبَعِ مَائَةِ دِيْنَارٍ، وَقَالَ لِلرَّسُوْلِ:  Suatu hari Hadhrat Umar memberikan 4000 dirham dan 400 dinar kepada Hadhrat Abu Ubaidah lalu bersabda kepada utusan yang akan mengirim uang itu, انْظُرْ مَا يَصْنَعُ بِهَا. “Coba lihat, apa yang akan dilakukan oleh Hadhrat Abu Ubaidah dengan harta ini.”

فَقَسَّمَهَا أَبُو عُبَيْدَةَ، ثُمَّ أَرْسَلَ إِلَى مُعَاذٍ بِمِثْلِهَا. فَقَسَّمَهَا، إِلاَّ شَيْئاً قَالَتْ لَهُ امْرَأَتُهُ نَحْتَاجُ إِلَيْهِ، Ketika pengirim tersebut tiba di tempat Hadhrat Abu Ubaidah, Hadhrat Abu Ubaidah membagikan seluruh uang tersebut kepada orang-orang. فَلَمَّا أَخْبَرَ الرَّسُوْلُ عُمَرَ، قَالَ: الحَمْدُ للهِ الَّذِي جَعَلَ فِي الإِسْلاَمِ مَنْ يَصْنَعُ هَذَا. Pengirim tersebut menceritakan hal tersebut kepada Hadhrat Umar, lalu Hadhrat Umar bersabda, “Saya bersyukur kepada Tuhan karena telah menciptakan orang yang berbuat seperti ini (yaitu Abu Ubaidah) dalam Islam.”[22]

Suatu ketika Hadhrat Umar bersabda kepada orang-orang, تَمَنَّوْا “Berharaplah akan sesuatu.” Ada yang mengatakan, أتمنى أن يكون ملء هذا البيت ذهبا فأنفقها في سبيل الله “Saya berkeinginan supaya rumah ini dipenuhi emas dan saya akan membelanjakannya di jalan Allah dan menyedekahkannya.”

Ada seseorang yang berkata, أتمنى أن يكون ملء هذا البيت جوهرا أو نحوه فأنفقه في سبيل الله “Saya ingin supaya rumah ini dipenuhi dengan permata dan perhiasan dan aku akan belanjakan di jalan Allah dan menyedakahkannya.”

Hadhrat Umar bersabda lagi, تَمَنَّوْا “Berharaplah akan sesuatu.”

Mereka mengatakan, ما تمنينا بعد هذا “Wahai Amirul Mukminin, entahlah apa yang harus kami inginkan.”

Hadhrat Umar bersabda, لكني أتمنى أن يكون ملء هذا البيت رِجَالَاً مِثْلَ أَبِي عُبَيْدَةَ بْنِ الْجَرَّاحِ، وَمُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ، وَسَالِمٍ مَوْلَى أَبِي حُــذَيْفَةَ، وَحُـذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ ـ فَأَسْتَعْمِلَهُمْ في طَاعَةِ اللهِ “Saya berkeinginan semoga rumah ini dipenuhi oleh orang-orang seperti Hadhrat Abu Ubaidah Bin Jarrah, Hadhrat Muadz Bin Jabal, Salim Maula Abu Hudzaifah dan Hudzaifah Bin Yaman.”[23]

Jadi betapa beruntungnya orang orang yang meraih keridhaan Allah Ta’ala di dunia ini juga dan juga di akhirat. Kisah mengenai beliau telah berakhir sampai di sini.

Saya akan menyampaikan dzikrekhair (in memoriam, kenangan baik para Almarhum). Pertama untuk seorang syahid (martir) kita yang telah disyahidkan beberapa hari yang lalu. Profesor Doktor Naeemuddin Khatak Sahib Ibnu (putra) Fazludin Khatak sahib dari daerah Peshawar. Pada tanggal 15 Oktober siang hari para penentang menembak beliau dan beliau pun disyahidkan. Inna lillaahi wa innaa ilaihi raajiuwn. Sekitar pukul 1:30 sepulang dari College Superior Science tempat beliau mengajar menuju rumah, datanglah orang-orang dengan mengendarai dua sepeda motor. Mereka menembaki beliau sehingga beliau syahid di tempat. Inna lillaahi wa innaa ilaihi raajiuwn. Beliau berusia 56 tahun.

Selama 25 tahun beliau menggeluti bidang mengajar. Beliau mendapatkan gelar Master of Philosophy dari Universitas Qaid-e-Azam. Beliau lalu mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan di China dan mendapatkan gelar PhD di sana dalam bidang Micro Enviromental Biology. Setelah itu berkhidmat di Islamiyah College University. Beliau juga mengajar di Peshawar University. Beliau juga adalah anggota yang memberikan wawancara bagi yang akan mendapatkan gelar PhD. Berbagai lembaga pendidikan Pakistan mengundang beliau untuk memberikan kuliahnya. Kebanyakan beliau berhubungan dengan bidang pendidikan.

Jemaat masuk dalam keluarga belaiu melalui kakek beliau dari jalur ayah, yaitu Ruknuddin Khattak Sahib penduduk daerah Karak dan nenek dari jalur ayah, Bibi Nur Namah yang juga masuk Jemaat. Ayah nenek beliau bernama Sher Zaman yang merupakan seorang sahabat Hadhrat Masih Mau’ud (as) dan pada saat pulang dari Qadian beliau mendapatkan sebuah kurtah (baju kemeja) sebagai hadiah tabarruk dari Hadhrat Masih Mau’ud (as) yang sampai sekarang tabarruk ini masih tersimpan di keluarga beliau.

Ayahanda Almarhum, Bapak Fazl Diin adalah seorang dokter hewan di Departemen Peternakan dan telah pensiun dari jabatan sebagai Deputy (wakil) Direktur. Beliau juga seorang penyair yang terkenal. Ibunda Almarhum, Ibu Mahbubaturrahman adalah seorang Deputy (wakil) Direktur di departemen pendidikan dan telah pensiun dari jabatan tersebut.

Bertahun-tahun keluarga ini menghadapi penentangan. Ayah mertua Almarhum, Bapak Bashir Ahmad Ketua Jemaat Chini Payan di Peshawar diculik pada tahun 2019 dan hingga sekarang tidak diketahui kabar dan keberadaannya.

Almarhum syahid memiliki banyak keistimewaan. Almarhum seorang yang terpelajar namun selalu hadir untuk tugas piket keamanan. Mengkhidmati tamu adalah sifat beliau yang sangat istimewa. Almarhum memiliki rasa simpati terhadap sesama makhluk, membantu orang-orang miskin, menyayangi semua anggota keluarga, memberikan perhatian khusus pada pendidikan, biasa memberikan nasihat kepada para anak Ahmadi untuk pendidikan mereka, Almarhum juga mengupayakan pendidikan yang tinggi untuk putra-putrinya.

Istri almarhum, Ibu Sa’diah Busyra menuturkan, “Seminggu sebelum syahid Almarhum datang ke Rabwah, ketika pergi ke Bahesyti Maqbarah mengatakan, ‘Seandainya kita juga mendapatkan tempat di sini’, namun kemudian Almarhum mengatakan, ‘Dari mana kita bisa beruntung mendapatkan tempat di sini.’ Alhasil, Allah Ta’ala telah memenuhi keinginan Almarhum ini dengan dimakamkannya di Rabwah.”

Saudara ipar Almarhum Syahid, Dokter Munir Ahmad Khan yang bekerja di Tahir Heart menuturkan bahwa Almarhum menceritakan kepadanya bahwa seorang Professor yang merupakan penentang memperlihatkan foto Almarhum dan anak-anaknya kepada para penentang dan menghasut mereka untuk membunuhnya. Di depan rumah Almarhum juga dipasang spanduk penentangan. Beliau kemudian menuturkan, “Almarhum datang menemui saya di sini seminggu sebelum wafat. Saya mengundang Almarhum untuk makan bersama, namun Almarhum mengatakan, ‘Saya akan makan di Langgar Khanah dan kelezatan makanan dari Langgar Khanah Masih Mau’ud (as) serta keberkatan yang didapat dari sana tidak bisa didapatkan dari mana pun. Mungkin nanti lain waktu.’”

Di antara yang ditinggalkan, selain istri beliau, Ibu Sa’diyah Nasim, juga tiga orang putri dan dua orang putra. Seorang putri beliau sudah menikah dan dua yang lainnya sedang menempuh pendidikan. Seorang putra beliau adalah insinyur dan seorang putra lainnya adalah mahasiswa tahun pertama. Nama mereka adalah Kalimudin Khattak dan Nurudin Khattak.  Nurudin Khattak adalah mahasiswa tahun pertama. Kalimudin adalah seorang insinyur. Seorang kerabat Almarhum lainnya yang sedang mengkhidmati Jemaat adalah Bapak Nawid Ahmad, Amir Jemaat Peshawar. Beliau juga adalah saudara ipar Almarhum.

Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan rahmat dan maghfiroh-Nya kepada Almarhum dan memberikan kesabaran kepada yang ditinggalkan.

Jenazah yang kedua yang tercinta Usama Shadiq, Mahasiswa Jamiah Ahmadiyah Jerman putra Muhammad Shadiq Sahib. Beberapa hari yang lalu Almarhum wafat karena tenggelam di sungai Rhine di Jerman. Innaalillaahi wainnaa ilaihi rooji’uun.

Ketika wafat Almarhum berusia 20 tahun. Beliau berasal dari Chak Sikandar, Gujrat. Almarhum adalah putra bungsu. Di antara yang ditinggalkan, selain kedua orang tua, Almarhum memiliki 5 saudara perempuan dan seorang saudara laki-laki.

Dari segi jalur ayah, Ahmadiyah diperkenalkan dalam keluarga Almarhum dimulai dari kakek beliau pada masa Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) ketika kakek beliau bersama dengan dua orang saudara laki-lakinya menjadi Ahmadi. Belakangan dua saudara tersebut keluar dari Ahmadiyah namun kakek beliau ini tetap teguh dalam Jemaat. Dari pihak ibu, Jemaat dimulai dari kakek buyut beliau yang bernama Hadhrat Syah Muhammad Sahib dan ayahnya Hadhrat Langgar Muhammad Sahib yang merupakan seorang sahabat Hadhrat Masih Mau’ud (as). Mereka (kakek buyut dan ayahnya) baiat pada tahun 1903 di Jhelum di tangan Hadhrat Masih Mauud (as).

Pada tahun 1989 keadaan Jemaat di Chak Sikandar sangat mengerikan. Banyak dilakukan demonstrasi menentang Jemaat. Kedua orang tua Almarhum juga menghadapi penentangan yang sangat berat. Ibunda Almarhum diperlakukan dengan buruk yaitu diserang. Ayahanda Almarhum diperkarakan di pengadilan dengan tuduhan palsu yang berlangsung hingga 7 tahun. Singkatnya, akhirnya mereka pindah ke Jerman dan Almarhum telah menempuh pendidikan dasarnya di Pakistan lalu masuk ke Jamiah di Jerman. Almarhum telah menyelesaikan tahun ketiganya di Jamiah namun merupakan taqdir Allah Ta’ala bahwa Dia memanggil Almarhum kepada-Nya.

Ayahanda Almarhum menuturkan, “Sebanyak apa pun saya memuji kebaikannya itu tidak akan cukup, karena di umurnya yang singkat Almarhum telah melakukan banyak hal. Almarhum seorang mahasiswa yang berbakat, sebagian besar waktunya digunakan untuk belajar. Dikarenakan Corona, Almarhum melewatkan tujuh bulan di rumahnya. Seiring dengan shalat berjamaah, Almarhum juga berpuasa sebulan penuh dan mengimami shalat tarawih berjamaah. Setelah selesai cuti, Almarhum bersiap-siap untuk kembali ke Jamiah, namun Almarhum kemudian wafat.”

Ibunda Almarhum mengatakan, “Almarhum banyak memiliki keistimewaan dan melaksanakan setiap pekerjaan dengan penuh tanggung jawab dan berusaha menyelesaikannya dengan cepat. Sosok yang sederhana, tidak banyak bicara, berbicara hanya ketika diperlukan, sangat menaati kedua orang tua, memiliki tekad yang kuat, seorang yang serius dan berpandangan jauh. Almarhum berusaha untuk menguasai berbagai bahasa dan memberikan perhatian secara khusus pada bahasa Arab, Parsi, Inggris dan Jerman.”

Sekretaris Tabligh Nasional Jerman, Bapak Farid menulis, “Tuan Usama memiliki banyak keistimewaan, di antaranya adalah dengan senang hati ikut ambil bagian dalam kegiatan-kegiatan pertablighan. Dua hari sebelum kewafatannya pun Almarhum pergi ke Jerman Timur untuk membagikan flyer tabligh selama tiga hari berturut-turut. Kapan pun diminta untuk membagikan flyer Almarhum tidak pernah menolak dan ikut serta dengan penuh semangat.”

Bapak Shuhaib Nashir, seorang Mubaligh yang lulus dari Jamiah Jerman menuturkan, “Almarhum empat tahun lebih junior dari saya, namun dalam hal ibadah Almarhum adalah teladan bagi saya. Di mesjid Almarhum sering kali terlihat di shaf pertama untuk shalat. Setelah datang ke Mesjid Almarhum biasa melaksanakan shalat-shalat nafal sebelum shalat berjama’ah. Setelah selesai shalat Almarhum sering kali larut dalam Dzikir Ilahi. Almarhum termasuk salah satu di antara para Mahasiswa yang paling awal datang ke masjid dan paling akhir keluar dari mesjid. Demikian juga pada shalat Jumat pun Almarhum duduk di shaf pertama. Almarhum sangat serius dalam pendidikan di Jamiah. Semoga Allah Ta’ala memberikan rahmat dan ampunan-Nya kepada Almarhum, meninggikan derajat Almarhum, memberikan kesabaran kepada kedua orang tua dan saudara-saudara kandung Almarhum.”

Jenazah selanjutnya, Salim Ahmad Malik Sahib yang pernah bekerja di pemerintahan di Departemen Pendidikan di sini (UK atau Inggris Raya). Setelah pensiun, ketika Jamiah mulai dibangun Almarhum menjadi dosen di Jamiah UK. Almarhum wafat pada 24 September di usia 87 tahun. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Kakek Almarhum, Hadhrat Malik Nuruddin dan Ayahanda Almarhum, Hadhrat Malik Aziz Ahmad adalah termasuk di antara para sahabat Hadhrat Masih Mau’ud (as)

Ibunda Almarhum menceritakan suatu peristiwa mengenai ayah Almarhum bahwa suatu kali di rumah keluarga besar mereka banyak orang yang meninggal dikarenakan suatu penyakit lalu ibunya yakni nenek Almarhum menceritakan kondisi anaknya kepada Hadhrat Hakim Maulana Nuruddin Sahib (ra), maka segera beliau datang ke rumah untuk menjenguknya dan bersabda bahwa sangat kecil kemungkinannya anak ini bisa selamat, hanya doalah yang bisa menyelamatkannya.

Setelah itu Hadhrat Khalifatul Masih Awwal (ra) datang ke hadapan Hadhrat Masih Mau’ud (as) dan memohon doa. Beliau (ra) bertemu dengan Hadhrat Masih Mau’ud (as) di anak tangga Masjid Aqsa dan memohon doa di sana, lalu Hahdrat Masih Mau’ud (as) bersabda, “Sekarang juga kita akan pergi menengok anak itu.”

Hadhrat Masih Mau’ud (as) pergi ke rumah mereka dan sesampainya di rumah anak tersebut, beliau (as) meletakkan tangannya di atas kening anak tersebut, dan bersabda, “Insya Allah anak ini akan sehat.” Dengan mukjizat doa Hadhrat Masih Mau’ud (as) ayahanda Almarhum tersebut sembuh dan kemudian hidup hingga usia 70 tahun.

Bapak Salim Malik mendapatkan pendidikan dasarnya di Qadian. Setelah berdirinya Pakistan beliau tinggal di Sialkot. Di sana Almarhum menempuh pendidikan di College. Kemudian pergi ke Karachi dan menempuh pendidikan di bidang Sains di sana. Pada 1960 Almarhum datang ke UK. Di sini Almarhum menjadi Professor di bidang Geokimia di Reading University hingga beberapa tahun.

Sejak awal pun Almarhum mendapatkan taufik berkhidmat di Jemaat UK pada berbagai bidang. Beliau pernah ditetapkan sebagai Sekretaris Ta’lim dan Tarbiyat Nasional. Beliau menjabat sebagai Sekretaris Ummur Kharajiah untuk waktu yang lama. Beliau banyak berperan di Departemen hubungan Internasional Jemaat. Almarhum dua kali pergi ke Pakistan bersama dengan Komite Hak Asasi Manusia yang meninjau keadaan para Ahmadi. Banyak pameran besar berskala internasional yang diselenggarakan di berbagai negara setiap tahunnya, pada tahun 1992 Almarhum Bapak Malik mendapatkan kesempatan untuk menyelenggarakan dan mengorganisasi stan Jemaat di UK dan Spanyol.

Pada tahun 1992, ketika Hadhrat Khalifatul Masih Ar-Rabi’ r.h. mendirikan komite mengenai pendirian Jamiah Ahmadiyah, beliau r.h. mengikutsertakan juga Bapak Salim Malik di dalamnya. Dengan demikian beliau ikut serta juga dalam komite yang mengawali pendirian Jamiah Ahmadiyah UK. Di masa-masa awal berdirinya Jamiah Ahmadiyah UK, Almarhum ditetapkan sebagai kepala administrasi. Almarhum menjalankan tugas ini hingga 13 November 2005. Almarhum mendapatkan taufik untuk mengajar mata kuliah bahasa Inggris dan sejarah kepada para mahasiswa Jamiah Ahmadiyah UK, yang mana ini berlangsung hingga kewafatan Almarhum. Ketika Islamabad dibeli, atas petunjuk Hadhrat Khalifatul Masih Al-Rabi’ r.h. Almarhum mendapatkan taufik untuk membuat perpustakaan reguler di sana.

Almarhum adalah sosok yang saleh, disiplin dalam shalat dan puasa, sangat penuh kasih sayang, seorang Da’i Ilallah yang fasih dalam berbicara, pengkhidmat tamu, sangat mencintai Khilafat, seorang suci yang memiliki ikatan keikhlasan dan kesetiaan. Di antara yang ditinggalkan, selain istri antara lain 3 orang putri dan banyak cucu.

Keponakan Almarhum, Mia Abdul Wahab menuturkan, “Almarhum menceritakan bahwa ketika pada tahun 1960 datang ke London, Ayah Almarhum memberikan nasihat kepada Almarhum. Bapak Malik Aziz Ahmad pada waktu itu sedang sakit, namun beliau memberikan nasihat kepada putranya dan nasihat tersebut adalah, ‘Yang pertama jangan pernah memutuskan hubungan dengan Jemaat. Dengan kamu pergi ke Inggris janganlah kemudian beranggapan  kamu kemudian menjadi larut tenggelam dalam warna-warni di sana. Yang kedua, bayarlah candah pada waktunya sesuai dengan ketentuan. Ini juga sangat penting untuk perbaikan diri. Yang ketiga, ketika ada orang yang meminta pertolongan, bagaimana pun kondisi kesempitan yang sedang dihadapi, janganlah menghindar.’

Almarhum menuturkan, ‘Saya senantiasa mengamalkan nasihat-nasihat orang tua saya ini.’”

Keponakan Almarhum menulis, “Almarhum tidak menceritakan mengenai hal ini, namun belakangan saya tahu bahwa suatu kali seorang kerabat Almarhum sedang membutuhkan uang yang banyak, Almarhum menjual rumahnya untuk memenuhi kebutuhan tersebut, namun Allah Ta’ala kemudian menurunkan karunia-Nya dan Almarhum mendapatkan rumah yang lebih besar dari sebelumnya.”

Dari segi keilmuan Almarhum adalah seorang yang sangat cendikia, saya (Hudhur) pun ketika bertemu pada awalnya tidak mengira dan saya tidak mengenal Almarhum, saya mengira Almarhum seorang Ahmadi biasa dan mengajar bahasa Inggris karena bahasa Inggris Almarhum sangat baik. Namun belakangan saya mengetahui Almarhum adalah seorang yang sangat tinggi dalam keikhlasan dan kesetiaan dan setiap saat selalu siap untuk mengkhidmati Jemaat. Almarhum memiliki jalinan dan kecintaan yang menonjol terhadap Khilafat.

Dari segi keilmuan Almarhum adalah Ensiklopedia berjalan. Almarhum menguasai setiap topik, terutama sejarah. Beliau sangat mencintai literatur baik yang berbahasa Inggris maupun Urdu, namun Almarhum tidak pernah berbangga diri dengan ilmunya. Almarhum selalu menghimbau kepada orang lain untuk meningkatkan ilmu agama dan duniawinya. Almarhum juga memiliki jaringan yang luas di kalangan komunitas akademisi dan politisi orang-orang Pakistan dan hubungan beliau tersebut pun digunakan untuk kemanfaatan bagi Jemaat. Ketika Almarhum sebagai sekretaris Umur Kharijah, Almarhum menjalin hubungan yang erat dengan Lord Avebury, melalui Almarhum-lah hubungan dengan Lord Avebury dapat terjalin, dan kunjungan pertama saya ke Parlement House juga di dalamnya terdapat peranan besar Bapak Malik.

Bapak Marwan Sarwar Gill, Mubaligh Argentina menuturkan, “Dikarenakan keilmuannya Almarhum dihormati secara istimewa oleh semua Mahasiswa termasuk saya, namun setelah lulus dari Jamiah terjalinlah hubungan yang personal dengan beliau. Ketika saya ditugaskan di Argentina Almarhum merasa sangat senang dan mengatakan kepada saya, ‘Anda adalah Mubaligh pionir (perintis). Oleh karena itu, perlu untuk banyak bekerja. Kibarkanlah nama Jemaat dan bertablighlah dengan cara yang tepat. Secara khusus pelajarilah bahasa di sana dan tolok ukur penguasaan bahasa tersebut harus sampai pada tahap dimana artikel tulisan Anda terbit atau dimuat di suratkabar-suratkabar.’ Ini adalah kecintaan beliau yang luar biasa terhadap ilmu. Demikian juga Almarhum seirng mengundang para mahasiswa ke rumah Almarhum, setelah itu membawa mereka ke perpustakaan pribadi beliau.”

Beberapa mahasiswa dan Mubaligh menulis ini kepada saya.

Kemudian Almarhum mengatakan, “Baiklah, setelah datang ke rumah saya, hadiah untuk kalian adalah, ambillah satu buku yang kalian suka dari perpustakaan ini. Itu hadiah bagi kalian”, dan selalu mengatakan bahwa Jamiah Ahmadiyah adalah satu Departemen yang luar biasa yang mana Khalifatul Masih sangat banyak menaruh harapan terhadapnya. Oleh karena itu, para Waqifin Zindegi yang memiliki hubungan dengan departemen ini hendaknya meraih tolok ukur keilmuan yang luar biasa.

Kemudian Marwan Sahib menulis, “Sebelum saya berangkat ke Argentina, Almarhum menasihatkan secara khusus, ‘Kuasailah bahasa setempat sedemikian rupa sehingga artikel Anda dalam bahasa Spanyol bisa terbit.’ Dan mengatakan juga kepada saya untuk selalu menulis surat kepada Almarhum. Terkadang saya merasa malas, namun kemudian Almarhum sendiri yang menghubungi saya dan meminta untuk menulis surat.”

Semoga Allah Ta’ala memberikan rahmat dan ampunan-Nya kepada Almarhum dan memberikan taufik kepada mereka yang ditinggalkan, yakni anak keturunan Almarhum untuk dapat menjalin hubungan kesetiaan dengan khilafat dan Jemaat. 

Khotbah II

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ – وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ!

 إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ –

أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Penerjemah: Mln. Mahmud Ahmad Wardi, Syahid (London, UK) dan Mln. Muhammad Hasyim (Indonesia). Editor: Dildaar Ahmad Dartono.

[1] Al-Iktifa fi Maghazi al-Mushthafa wats Tsalatah al-Khulafa-i (الاكتفاء في مغازي المصطفى والثلاثة الخلفاء) atau Al-Iktifa bima tadhammanahu min Maghazi RasuliLlahi (saw) wats Tsalatah al-Khulafa-i (الاكتفاء بما تضمنه من مغازي رسول الله – صلى الله عليه وسلم – والثلاثة الخلفاء) karya paling terkenal dan terkomprehensif dari sekian karya tulis Abu ar-Rabi’ Sulaiman bin Musa al-Kalaa’i (سليمان بن موسى الكلاعي، أبو الرّبيع). Masa hidupnya pada 1170-1237 Masehi atau 565-634 Hijriyyah. Beliau seorang yang tinggal di Andalus (sebuah daerah di Spanyol). Beliau adalah seorang Ahli Hadits, Sejarawan, Sastrawan dan Penyair.

[2] Kitab Futuhul Buldan h. 87-88, bab yaum al-Yarmuk, penerbit Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut, 2000. Penulis kitab ini, Ahmad Ibn Yahya al-Baladhuri, wafat antara 278-279 H/892 M, beliau orang Persia dan tinggal di Baghdad. لما جمع هرقل للمسلمين الجموع وبلغ المسلمين إقبالهم إليهم لوقعة اليرموك، ردوا على أهل حمص ما كانوا أخذوا منهم من الخراج، وقالوا شغلنا عن نصرتكم والدفع عنكم فأنتم على أمركم.. فقال أهل حمص: لولايتكم وعدلكم، أحب إلينا مما كنا فيه من الظلم والغشم، ولندفعن جند هرقل عن المدينة مع عاملكم، Saat perpisahan dengan penduduk Himsh yang mayoritas Kristen dan Yahudi, Abu Ubaidah memerintahkan pasukan Muslim  untuk mengembalikan pajak hasil pungutan dari penduduk karena tidak bisa melindungi mereka. Namun, penduduk Himsh menjawab, “Kami lebih menyukai pemerintahan dan keadilan kalian. Jauh lebih baik daripada keadaan sebelumnya dibawah Romawi yang penuh penindasan dan tirani. Dengan bantuan perwira anda, kami dapat memukul mundur pasukan Heraklius.”

[3] Surah an-Nisaa, 4:172-173 dengan basmalah menjadi ayat pertama.

[4] Al-Khashaish Kubra (الخصائص الكبرى) karya As-Suyuthi (السيوطي). Tercantum juga dalam Dalailun Nubuwwah karya al-Ashbahani (دلائل النبوة لإسماعيل لأصبهاني), Pasal keislaman Zaid bin Sa’nah (فَصْلُ فِي ذِكْرِ إِسْلَامِ زَيْدِ بْنِ سَعْنَةَ وَمَا فِي الْحَدِيثِ مِنْ دَلَائِلَ النُّبُوَّةِ). Menurut Kitab tersebut, perbincangan George dan Abu Ubaidah dilakukan melalui penerjemah. Kemungkinan George berbicara dalam bahasa yang dominan di kekaisaran Romawi, secara berurut yaitu Latin, Yunani atau Armaya (Aramik). George sendiri seorang Armenia.

[5] Al-Iktifa fi Maghazi al-Mushthafa wats Tsalatah al-Khulafa-i (الاكتفاء في مغازي المصطفى والثلاثة الخلفاء) karya paling terkenal dan terkomprehensif dari sekian karya tulis Abu ar-Rabi’ Sulaiman bin Musa al-Kalaa’i (سليمان بن موسى الكلاعي، أبو الرّبيع). Masa hidupnya pada 1170-1237 Masehi atau 565-634 Hijriyyah. Beliau seorang yang tinggal di Andalus (sebuah daerah di Spanyol). Beliau ahli Hadits, Sejarawan, Sastrawan dan Penyair.

[6] Futuhusy Syam (فتوح الشام الجزء الأول) karya al-Waqidi (الواقدي).

[7] Al-Bidaayah wan Nihaayah karya Ibnu Katsir (البداية والنهاية – ابن كثير – ج ٧ – الصفحة ١٤)

[8] Tarikh Dimasyq karya Ibnu Asakir bab Dzikr Tarikh waqi’ah Yarmuk (تاريخ دمشق لابن عساكر باب ذكر تاريخ وقعة اليرموك ومن قتل بها من سوقة الروم والملوك). Nama Imam Ibnu Asakir adalah Ali bin al-Hasan bin Habbatullah bin Abdullah bin Husein ad-Dimasyqi asy-Syafi’i (ulama madzhab Syafi’i). Kun-yahnya Abu al-Qasim. Ia dilahirkan pada bulan Muharram tahun 499 H/1105 M di Kota Damaskus. Ibnu Asakir rahimahullah wafat di malam senin 11 Rajab 571 H/1176 M. Sultan Shalahuddin al-Ayyubi turut serta menghadiri jenazahnya. Ia dimakamkan di sisi makam ayahnya. Pemakaman yang sama dengan jenazah Muawiyah bin Abu Sufyan radhiallahu ‘anhu dimakamkan. https://kisahmuslim.com/5652-mengenal-imam-ibnu-asakir.html

[9] Tarikh Madinah Dimashq karya Ibnu Asakir. Tercantum juga dalam Siyaar A’lamin Nubala karya Adz-Dzahabi. Di dalam Mukhtashar Tarikh Dimashq karya Ibnu Manzhur juga tertulis sebagai berikut: Tak lama Khalid mengetahui surat amanah tersebut. Ia bertanya kepada Abu Ubaidah, يغفر الله لك، أتاك كتاب أمير المؤمنين بالولاية فلم تعلمني، وأنت تصلي خلفي والسلطان سلطانك؟!  “Semoga Allah megampunimu, engkau tidak memberitahuku jika telah mendapat amanah dari Amirul Mukminin untuk menjabat panglima, sementara engkau shalat di belakangku. Mengapa demikian?”

وأنت يغفر الله لك، ما كنت لأعلمك ذلك حتى تعلمه من غيري. وما كنت لأكسر عليك حربك حتى ينقضي ذلك كله، ثم قد كنت أعلمك إن شاء الله. وما سلطان الدنيا أريد وما للدنيا أعمل، وأن ما ترى سيصير إلى زوال وانقطاع “Semoga Allah juga mengampunimu. Aku tidak akan memberi tahu kepadamu kecuali setelah engkau mendengar dari selainku. Aku tidak akan menyakitimu dengan perkataanku. Bukanlah dunia dan isinya yang aku inginkan. Bukan pula karena dunia aku beramal. Sebab dunia ini dan setiap yang engkau lihat akan lenyap,” jawab Abu Ubaidah. وإنما نحن إخوان وقوام بأمر الله عز وجل، وما يضير الرجل أن يلي عليه أخوه في دينه ولا دنياه. بل يعلم الوالي أنه كاد أن يكون أدناهما إلى الفتنة وأوقعهما في الخطيئة لما يعرض من الهلكة إلا من عصم الله “Sesungguhnya kita adalah bersaudara. Penegak perintah Allah tidak akan menyusahkan saudaranya, baik dalam urusan dunia maupun agama. Sebaliknya, pemimpin harus menyadari bahwa dirinya lebih dekat dengan fitnah, yang akan menjerumuskannya ke dalam kesalahan, kecuali orang-orang yang dilindungi Allah.” Setelah itu, Abu Ubaidah menujukan surat mandat dari Umar bin Khaththab kepada Khalid bin Walid.

[10] Tarikhul Umam wal Muluuk, karya Ath-Thabari, juz 4, h. 82, tsumma dakhalat sanah tsalaats ‘asyar (tahun ke-13 Hijriyah, tentang surat-surat Khalifah Abu Bakr), dan juga pada bab sanah sab’ah asyrah, Darul Fikr, Beirut, Lubnan, 2002: عن علي بن محمد بإسناده عن النفر الذين ذكرت روايتهم عنهم في أول ذكري أمر أبي بكر أنهم قالوا قدم بوفاة أبي بكر إلى الشأم شداد بن أوس بن ثابت الأنصاري ومحمية بن جزء ويرفأ فكتموا الخبر الناس حتى ظفر المسلمون وكانوا بالياقوصة يقاتلون عدوهم من الروم وذلك في رجب فأخبروا أبا عبيدة بوفاة أبي بكر وولايته حرب الشأم وضم عمر إليه الأمراء وعزل خالد بن الوليد . Tercantum dalam Fadhail ash-Shahaabah karya Imam Ahmad ibn Hanbal (فضائل الصحابة لابن حنبل),  bab keutamaan Abu Ubaidah (فَضَائِلُ أَبِي عُبَيْدَةَ بْنِ الْجَرَّاحِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ). Tercantum juga dalam Musnad Ahmad ibn Hanbal, Musnad asy-Syamiyyiin (Penduduk Syam), Hadits Yazid ibn al-A’wam ra, Alimul Kutub, Beirut, 1998, hadits 16869.

[11] Mukhtashar Tarikh Dimashq (مختصر تاريخ دمشق) karya Ibnu Manzhur (ابن منظور). Rijaal Haular Rasul – Para lelaki di sekeliling Rasul – (رجال حول الرسول) karya Khalid Muhammad Khalid (خالد محمد خالد).

[12] Kitab Az-Zuhd karya Abu Daud (الزهد لأبي داود), khabar tentang Abu Ubaidah (مِنْ خَبَرِ أَبِي عُبَيْدَةَ).

[13] Al-Iktifa fi Maghazi al-Mushthafa wats Tsalatah al-Khulafa-i (الاكتفاء في مغازي المصطفى والثلاثة الخلفاء) karya tulis Abu ar-Rabi’ Sulaiman bin Musa al-Kalaa’i (سليمان بن موسى الكلاعي، أبو الرّبيع).

[14] Wabah Amwas (bahasa Arab: طاعون عمواس, translit. Tha’un Amwas‎) atau Wabah Emmaus adalah sebuah wabah yang menimpa negeri Syam pada masa akhir penaklukannya oleh Kekhalifahan Rasyidin, yaitu pada tahun 638–639 M (17–18 H). Kemungkinan wabah ini merupakan penyakit pes bubo yang muncul kembali setelah Wabah Yustinianus pada abad ke-6. Nama wabah ini berasal dari kota Amwas atau Emmaus-Nikopolis di Palestina, yang merupakan markas utama pasukan Muslim di Syam dan tempat wabah ini mulai menyebar. Wabah ini menyebabkan meninggalnya 25.000 prajurit Muslim  maupun keluarganya, termasuk panglima-panglima utama yaitu Abu Ubaidah bin Jarrah, Muadz bin Jabal, Yazid bin Abi Sufyan, serta Syurahbil bin Hasanah, yang juga merupakan para sahabat Nabi dalam Islam. Selain memakan ribuan korban jiwa, wabah ini juga memicu pengungsian penduduk asli Syam yang beragama Kristen. Akibat banyaknya panglima yang meninggal di Syam, Umar menunjuk Muawiyah bin Abi Sufyan, adik atau kakak dari Yazid yang telah meninggal akibat wabah, sebagai panglima dan wali negeri di Syam. Sejarawan Wilferd Madelung berpendapat bahwa akibat adanya wabah, Umar tidak bisa mengirim panglima baru dari Madinah sehingga harus memilih Muawiyah yang sudah berada di Syam. Tingginya tingkat kematian pasukan Muslim menjadi salah satu faktor penyebab Muawiyah selanjutnya lebih mengandalkan kabilah-kabilah Arab asal Syam yang sebelumnya merupakan sekutu Romawi Timur dan beragama Kristen, terutama Banu Kalb yang mengambil posisi netral dalam peperangan antara pasukan Muslim  dan Romawi Timur di Syam pada tahun 630-an. https://id.wikipedia.org/wiki/Wabah_Amwas

[15] Kitab Shahih al-Bukhari, (كتاب الطب), bab mengenai wabah tha’un (باب مَا يُذْكَرُ فِي الطَّاعُونِ); Muwatha karya Imam Malik, Kitab tentang Madinah (كتاب الْمَدِينَةِ).

[16] Aujazul Masaalik ila Muwatha Imam Malik (أوجز المسالك الى موطأ مالك 1-16 مع الفهارس ج14) karya Muhammad Zakariya bin Muhammad Yahya al-Kandahlawi (محمد زكريا بن محمد بن يحيى/الكاندهلوي).

[17] Siyaar A’lamin Nubala karya Adz-Dzahabi.

[18] Siyaar A’lamin Nubala karya Adz-Dzahabi.

[19] Ath-Thabaqaat al-Kubra (طبقات ابن سعد – ج 3 – الطبقة الأولى في البدريين من المهاجرين والأنصار -). Tercantum juga dalam Ansabul Asyraf.

[20] At-Ta’azi wa al-Mura-i (التعازي والمراثي) karya Abu al-‘Abbas Muhammad bin Yazid bin Abdu al-Akbar (أبو العباس محمد بن يزيد بن عبد الأكبر‎) atau lebih dikenal dengan Al-Mubarrad – المبرد, lahir di Basra pada 10 Zulhijah 210 H/25 Maret 826 wafat di Bagdad pada tahun 286 H/Oktober 898). Tercantum juga dalam Kanzul Umal (كنز العمال – المتقي الهندي ج 13) karya al-Muttaqi al-Hindi nomor Hadits 36666. Al-Mubarrad adalah seorang ulama besar di bidang nahwu, bahasa Arab, syair, balaghah dan kritik pada zamannya. Ia hidup pada masa kekhalifahan Abbasiyah abad ke-3 Hijriah dan abad ke-9 Masehi. Ia merupakan murid dari Shalih al-Jarmi. Abu ‘Utsman Bakr bin Muhammad bin ‘Utsman al-Mazini memberikan gelar Al-Mubarrad kepadanya karena ia adalah orang yang paling pandai dalam ilmu nahwu setelah Sibawaih. Beberapa karyanya ialah Al-Kamil fi al-Lughah wa al-Adab, Al-Fadhil, Al-Muqtadhab, Syarh Lamiyah al-‘Arab, Ma Ittafaqa Lafzhuwu wa Ikhtalafa Ma’nahu min al-Qur’an al-Majid, Al-Mudzakkar wa al-Mu`annats.

[21] Al-Mu’ammaruun wal Washaaya (المعمرون والوصايا) atau “Para Amir dan Pesan-Pesan Mereka” ialah salah satu karya Abu Hatim Sahl bin Muhammad bin ‘Utsman bin Yazid al-Jushami as-Sijistani (أبو حاتم سهل بن محمد بن عثمان الجشمي السجستاني (المتوفى: 248هـ)) yang wafat pada tahun 248 Hijriyyah atau 869 M. Seorang ulama linguis mazhab Basrah, ahli hadis, tafsir, dan filolog. al-Sijistani dinisbatkan kepada desa Sijistan, daerah dekat Basrah, tempat di mana Abu Hatim berasal.

[22] Siyaar A’lamin Nubala (Biografi Orang-Orang Mulia) karya adz-Dzahabi.

[23] At-Tarikh ash-Shaghir karya Imam al-Bukhari (التاريخ الصغير – البخاري – ج ١ – الصفحة ٧٩).