Nubuatan Mushlih Mau’ud

website ahmadiyah bahasa kurdi

Allah Ta’ala sedemikian rupa memenuhi beliau (ra) dengan ilmu-ilmu sehingga selama 52 tahun kehidupan beliau menjadi saksi bahwa ketika beliau (ra) menyampaikan suatu pembahasan baik secara lisan maupun tulisan, entah itu seputar tema-tema keagamaan atau pun tema-tema duniawi maka beliau mengalirkan sungai ilmu dan makrifatnya.

Khotbah Jumat Sayyidina Amirul Mu-minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 18 Februari 2021 (18 Tabligh 1401 Hijriyah Syamsiyah/17 Rajab 1443 Hijriyah Qamariyah) di Masjid Mubarak, Islamabad, Tilford, UK (United Kingdom of Britain/Britania Raya).

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم* الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يوْم الدِّين * إيَّاكَ نعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَآمين .

Setiap tahun kita mengadakan acara pada tanggal 20 Februari yang berkaitan dengan nubuatan Mushlih Mau’ud dan kita memperingati hari tersebut. Nubuatan tersebut adalah nubuatan akan lahirnya seorang putra yang disampaikan oleh Hadhrat Masih Mau’ud (as) setelah mendapatkan kabar dari Allah Ta’ala sebagai jawaban atas keberatan-keberatan yang dilontarkan oleh para penentang Islam. Para musuh Islam mengatakan bahwa Islam tidak mampu untuk memperlihatkan tanda kebenaran. Beliau (as) bersabda, “Aku telah mendapatkan kabar dari Allah Ta’ala dan aku sampaikan satu tanda agung kebenaran Islam yang akan tergenapi dengan perantaraanku adalah kelahiran seorang putraku. Ia akan berumur panjang dan mengkhidmati Islam.”

Kemudian, beliau (as) memberitahukan keistimewaan lainnya yang jumlahnya sekitar 52 atau 53 keistimewaan. Ini bukanlah nubuatan biasa. Alhasil, Hadhrat Masih Mau’ud (as) pun memberitahukan jangka waktu tertentu putra tersebut akan lahir selanjutnya berumur panjang dan akan mendapatkan taufik untuk memberikan pengkhidmatan agung bagi Islam.

Setiap tahun berbagai sisi nubuatan tersebut diuraikan dalam Jalsah-Jalsah Jemaat. Tahun ini pun insya Allah akan diadakan Jalsah-Jalsah di Jemaat-Jemaat dan akan disampaikan banyak hal. Begitu juga di MTA pun ditayangkan. Rinciannya dapat diketahui dari acara acara tersebut.

Tetapi, saat ini saya akan sampaikan beberapa rujukan yang saya kutip dari sabda Hadhrat Mushlih Mau’ud langsung perihal bagaimana kehidupan masa awal beliau, keadaan kesehatan, dan bagaimana perlakuan Allah Ta’ala kepada beliau ra.

Nubuatan bahwa putra tersebut akan berumur panjang sebagai berikut, “Seorang putra akan berumur panjang.”

Anda dapat memperkirakan berkenaan dengan keadaan kesehatan putra yang akan berumur panjang tersebut, dari keterangan berikut, Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Ketika saya masih anak-anak, kesehatan saya sangat lemah. Pertama, saya mengidap batuk rejan[1] dan kesehatan saya sedemikian memburuk sehingga sampai usia 11 atau 12 tahun saya berada diambang perseteruan antara hidup dan mati. Pada umumnya ini jugalah yang menjadi anggapan bahwa saya tidak akan mungkin berumur panjang. Pada masa itu juga mata saya mulai sakit dan memerah. Begitu sakitnya sehingga satu mata saya lebih kurang telah tidak berfungsi yakni penglihatan mulai hilang. Karena itu, saya tidak dapat melihat dengan jelas. Saat ini pun penglihatan tidak jelas. Kemudian seiring bertambahnya umur, saya terjangkit demam berturut turut hingga 6 atau 7 bulan lamanya dan saya divonis terjangkit penyakit TBC. Disebabkan oleh hal-hal itu saya tidak dapat belajar dengan teratur. Saya tidak bisa pergi ke sekolah.

Seorang guru matematika di sekolah saya bernama Master Faqirullah Sahib, suatu kali pergi menemui Hadhrat Masih Mau’ud (as) untuk mengeluhkan saya bahwa saya tidak memiliki kemampuan untuk belajar dan sering absen dari sekolah.”

Hadhrat Mushlih Mau’ud bersabda, “Saya khawatir Masih Mau’ud (as) akan marah namun Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda, ‘Pak guru! Kesehatan anak ini lemah, sudah mampu begitu saja, saya bersyukur ia bisa masuk sekolah meskipun jarang sehingga setidaknya bisa ada yang masuk ke telinganya, anda tidak perlu memaksakannya.’ Hadhrat Masih Mau’ud (as) lebih lanjut bersabda, ‘Lagipula, dengan mengajarkan Matematika tidak akan terlalu berguna baginya, karena kami tidak akan memintanya untuk membuka toko.’”

Demikianlah keadaan kesehatan beliau pada masa anak-anak dan keadaan kebiasaan beliau di sekolah. Siapa yang dapat menjamin anak yang keadaannya seperti itu akan dapat berumur panjang? Tidak hanya berumur panjang bahkan terdapat nubuatan juga bahwa ia akan dipenuhi dengan ilmu lahiriah dan batiniah. Dalam keadaan kesehatan seperti itu, siapa yang dapat mengatakan bahwa ia pun akan meraih ilmu-ilmu tersebut.

Hadhrat Mushlih Mau’ud bersabda, “Alhasil, Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda, ‘Mempelajari Al Quran dan Hadits saja cukup baginya.’ Kesehatan saya begitu lemahnya sehingga saya benar-benar tidak mampu untuk mempelajari ilmu duniawi. Penglihatan saya pun lemah. Saya selalu gagal dalam mengikuti ujian Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah. Saya tidak pernah lulus dalam ujian mana pun. Namun Tuhan telah menubuatkan berkenaan dengan saya bahwa saya akan dipenuhi dengan ilmu zahir dan batin. Alhasil, meskipun saya tidak mempelajari ilmu apapun dari antara ilmu duniawi, namun Allah Ta’ala telah membuat saya dapat menulis buku buku yang luar biasa dengan perantaraan pena saya, yang dengan membacanya membuat dunia terheran heran dan mereka terpaksa mengakui bahwa tidak mungkin ada tulisan yang lebih baik dari ini berkenaan dengan permasalahan keislaman.”

Beliau ra bersabda, “Baru-baru ini saya telah selesai menulis satu bagian tafsir Al Quran yang dinamai Tafsir Kabir. Para ulama terkemuka penentang Setelah membacanya mengakui hingga hari ini bahwa tidak ada tulisan tafsir yang kualitasnya seperti tafsir ini. Saya sering berkunjung ke Lahore dan penduduk Lahore mengetahui bahwa para dosen universitas sering datang menemui saya, begitu juga para mahasiswa, dokter, pemimpin ternama dan pengacara, namun tidak pernah satu kali pun terjadi dimana saya tidak dapat menjawab dan membungkam keberatan yang dilontarkan oleh cendekiawan terkenal mana pun dengan merujuk pada ajaran Islam dan Al Quran sehingga akhirnya orang yang tadinya berkeberatan terpaksa mengakui bahwa memang benar tidak mungkin ada keberatan hakiki yang dapat dilontarkan terhadap Islam.

Ini semata-mata merupakan karunia Allah yang senantiasa menyertai saya, jika tidak, saya tidak mempelajari apa-apa dari sisi keilmuan duniawi, namun saya juga tidak mampu menolak bahwa Allah Ta’ala sendiri yang telah memberikan ilmu kepada saya dari sisi-Nya dan menganugerahkan bagian dari berbagai keilmuan lahiriah dan keilmuan batiniah kepada saya.”

Selanjutnya, beliau (ra) bersabda berkenaan dengan akan dipenuhinya beliau dengan ilmu lahiriah dan batiniah yakni bagaimana Allah mengajarkan keilmuan kepada beliau (ra), “Ketika masih anak-anak, saya melihat rukya ada sebuah lonceng berbunyi yang darinya muncul suara ‘tan’ yang semakin bertambah sehingga berubah bentuk menjadi sebuah bingkai gambar lalu saya melihat ada gambar muncul dari bingkai tersebut. Tidak lama kemudian gambar itu mulai bergerak. Seketika dari gambar tersebut ada satu keberadaan yang melompat lalu berada di hadapan saya. Keberadaan itu mengatakan, ‘Saya adalah malaikat Tuhan yang datang untuk mengajarkan tafsir Al Quran kepadamu.’

Saya berkata, ‘Silahkan ajarkan.’

Mulailah Malaikat tersebut mengajarkan tafsir surat Al Fatihah, ia terus mengajar, terus mengajar, dan terus mengajar hingga ketika sampai pada ayat إياك نعبد وإياك نستعين Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin, Malaikat itu berkata, ‘Sekian banyak ahli tafsir yang berlalu hingga hari ini, mereka semua hanya menulis hanya sampai ayat tersebut. Namun aku akan ajarkan kepadamu ayat yang selanjutnya juga.’

Kemudian malaikat tersebut mengajarkan tafsir seluruh surat Al Fatihah kepada saya. Makna dari Rukya tersebut sebenarnya adalah telah ditanamkan kedalam diri saya keahlian dalam memahami Al Quran. Keahlian tersebut sedemikian rupa tingginya di dalam diri saya sehingga saya dapat menyatakan bahwa dalam acara apapun saya bersedia untuk menyatakan bahwa saya dapat menjelaskan seluruh keilmuan Islami yang bersumber dari surat Al Fatihah.”

Beliau sampaikan tantangan demikian kepada dunia namun setelah itu tidak pernah ada yang datang untuk menyambut tantangan tersebut.

Beliau ra bersabda, “Ketika saya masih remaja tim sepak bola sekolah saya berangkat ke Amritsar untuk bertanding sepak bola dengan tim sepak bola Khalsa College Amritsar (non muslim- Pent). Tim sepak bola kami menang dalam pertandingan tersebut. Karena tim kami telah memberikan nama baik bagi umat muslim, untuk itu meskipun menentang jemaat kita, seorang tokoh muslim mengundang tim kami untuk minum teh cae.

Ketika sampai di sana, saya diminta untuk menyampaikan pidato, padahal saya tidak melakukan persiapan untuk pidato tersebut. Ketika saya diminta serta merta saya teringat dengan rukya yang saya terima berkenaan dengan Malaikat yang mengajarkan ilmu tafsir Quran kepada saya. Pertama tama saya memanjatkan doa kepada Allah Ta’ala, ‘Ya Tuhan! Malaikat Engkau telah mengajarkan kepadaku tafsir surat Al Fatihah dalam mimpi, pada hari ini saya ingin menguji, apakah mimpi tersebut berasal dari Engkau atau hanya tipuan suara hati. Jika memang mimpi tersebut dari Engkau, maka beritahukan hari ini padaku pokok bahasan dari surat Al Fatihah yang sebelum ini tidak pernah dijelaskan oleh mufassir manapun didunia ini.’

Seketika setelah selesai memanjatkan doa tersebut, Allah Ta’ala memasukkan satu pokok bahasan kedalam diri saya dan saya sampaikan, ‘Coba perhatikan, Allah Ta’ala mengajarkan doa berikut ini dalam Al Quran, غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ Ghairil Maghduubi alaihim walad dhaallin yang artinya, “Wahai umat Islam, kalian biasakanlah untuk membaca doa tersebut dalam setiap rakaat shalat 5 waktu yang maksudnya adalah jangan sampai kalian menjadi maghdhud dan dhallin.”’

Arti Maghdub telah dijelaskan Rasulullah (saw) sendiri dalam Hadits-Hadits. Rasulullah (saw) bersabda, ‘Yang dimaksud al-Maghdub adalah Al-Yahud sedangkan adh-Dhaalliin adalah kaum Nasrani.’[2] Jadi, maksud Ghairil maghduub adalah, ‘Ya Tuhan! Jangan sampai kami menjadi seperti Yahudi’ dan maksud wa ladh dhaalliin adalah ‘…jangan sampai kami menjadi seperti Nasrani.’ Hal ini dijelaskan lebih lanjut karena Rasulullah (saw) bersabda, ‘Akan datang seorang Al-Masih di dalam umat.’ Jadi, siapa yang menolaknya, sudah pasti akan memiliki sifat seperti Yahudi. Di sisi lain beliau (saw) bersabda [yang maknanya], ‘Fitnah Kekristenan pada suatu zaman tertentu akan meningkat sehingga demi mendapatkan roti, pekerjaan dan meraih kehormatan dalam masyarakat, orang-orang akan memilih agama Kristen atau menerima Kristen karena terpedaya atau karena tidak memahami ajaran agamanya sendiri.’

Namun sungguh aneh, surat Al-Fatihah turun di Makkah yang mana saat itu kaum Kristen tidak terlalu menentang Islam. Tidak juga Yahudi. Pada saat itu yang paling banyak menentang adalah para penyembah berhala, namun tidak diajarkan doa, ‘Ya Tuhan! Jangan sampai kami menjadi seperti para penyembah berhala.’ Melainkan diajarkan doa, ‘Ya Tuhan! Jangan jadikan kami seperti Yahudi dan Nasrani.’ Dari ini dapat diketahui dengan jelas melalui doa tersebut bahwa Allah Ta’ala menubuatkan para penyembah berhala akan dihapus untuk selama-lamanya sehingga tidak akan tersisa lagi sedikit pun. Jadi tidaklah perlu umat Islam diajarkan doa yang berkaitan dengan mereka. Adapun Yahudi dan Kristen atau kedua-duanya akan terus ada sehingga perlu bagi kalian untuk senantiasa memanjatkan doa tersebut guna terhindar dari fitnah mereka.

Setelah saya selesai menyampaikan pidato tersebut, para tokoh terkemuka datang menemui saya dan mengatakan, ‘Anda telah mempelajari Al Quran dengan mendalam, kami baru pertama kali mendengar poin seperti yang Anda sampaikan tadi.’

Pada kenyataannya, silahkan perhatikan seluruh tafsir! Tidak ada seorang mufassir (ahli tafsir) pun yang menjelaskan pokok bahasan tersebut hingga hari ini. Padahal, umur saya saat itu sekitar 20 tahun tatkala Allah Ta’ala membukakan pokok bahasan tersebut kepada saya. Alhasil, Allah Ta’ala menganugerahkan ilmu Al Quran kepada saya dengan perantaraan Malaikat-Nya. Dia telah menyemaikan suatu keahlian di dalam diri saya sebagaimana seseorang mendapatkan kunci khazanah, seperti itulah saya mendapatkan kunci Ilmu Al Quran. Tidak ada satu pun ulama dunia yang tampil ke hadapan saya yang kepadanya saya tidak dapat menzahirkan keutamaan Al Quran.

Terkait:   Riwayat Umar bin Khattab (Seri 12)

Ini adalah kota Lahore, di sini terdapat universitas. (Saat itu beliau tengah menyampaikan pidato di Lahore). Banyak universitas yang dibuka di sini. Para pakar besar keilmuan dijumpai di sini. Saya katakan kepada semuanya, ‘Silahkan hadirkan pakar ilmu apapun ke hadapan saya! Silahkan hadirkan profesor bidang apa pun di dunia ini! Silahkan hadirkan ilmuwan dunia manapun ke hadapan saya! Silahkan mereka menyerang Al Quran dengan keilmuannya masing masing!’

Saya dengan karunia Allah Ta’ala dapat memberikan jawaban kepada mereka sehingga dunia akan mengakui bahwa keberatannya telah terbantahkan. Saya nyatakan akan menjawab mereka dengan menggunakan kalam Allah Ta’ala dan akan memperlihatkan kepada mereka bagaimana saya membantah keberatan mereka dengan menggunakan ayat-ayat Al-Quran.”[3]

Sebagaimana telah beliau sabdakan bahwa saat itu umur beliau masih 20 tahun namun telah memiliki keyakinan sempurna akan keberadaan Allah Ta’ala. Namun keyakinan sempurna tersebut timbul pada usia berapa tahun? Berkenaan dengan hal itu Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) sendiri bersabda yang darinya dapat diketahui bahwa Allah Ta’ala sendiri menjadikan beliau penggenapan sebagai Mushlih Mau’ud sejak kecil. Sebagaimana beliau bersabda, “Tahun 1900 telah mengarahkan hati saya pada hukum-hukum Islami. Saat itu saya masih berumur 11 tahun. Ada seseorang yang membawakan untuk Masih Mau’ud (as) satu pakaian jubah yang kainnya sejenis chint (cipratan) lalu saya meminta jubah itu dari beliau. Bukan atas dasar fikiran apa apa melainkan saya menyukai warna dan coraknya. Namun, saya tidak dapat mengenakannya, karena bagian bawahnya terlalu panjang hingga ke bawah kaki saya.

Ketika saya berusia 11 tahun dan 1900 tahun telah menapakkan kaki di dunia maksudnya tahun 1900 masehi telah menginjakkan kaki di dunia, timbullah pemikiran di dalam hati saya yakni kenapa saya beriman kepada Allah Ta’ala? Apa bukti keberadaan-Nya?

Pada malam hari saya terus merenungkan hal tersebut hingga lama. Akhirnya pada pukul 10 atau 11, hati saya memutuskan memang benar ada Tuhan Yang Esa. Detik itu merupakan detik sangat menggembirakan bagi saya. Sebagaimana ketika seorang anak menemukan ibunya akan merasakan bahagia, demikianlah saya pun saat itu merasa bahagia ketika menemukan pencipta saya.”

Seperti itu pemikiran beliau ketika berusia 11 tahun. Keimanan yang tadinya hanya dalam corak pendengarana saja, telah berubah menjadi pengetahuan. Alhasil beliau (ra) mengatakan bahwa saat itu beliau begitu larut dalam kebahagiaan, “Pada saat itu saya berdoa kepada Allah Ta’ala dan terus melakukannya hingga sekian masa yakni, ‘Ya Tuhanku! Jangan pernah timbul keraguan di dalam diriku berkenaan Dzat Engkau.’

Saat itu saya berusia 11 tahun dan saat ini saya sudah berusia 35 tahun, namun saat ini pun saya sangat memandang doa tersebut dengan penuh rasa hormat. Saat ini pun itu pula yang saya katakan, ‘Ya Tuhanku! Jangan pernah timbul keraguan di dalam diriku berkenaan Dzat Engkau.’

Memang pada saat itu saya masih kecil dan sekarang saya sudah lebih berpengalaman. Sekarang saya semakin mengintensifkannya dengan mengatakan, ‘Ya Tuhanku! Timbulkanlah haqqul yakin dalam diriku berkenaan dengan Dzat Engkau.’”

Beliau bersabda, “Topik pembicaraan semakin meluas, tadi saya tengah menulis bahwa saya telah meminta satu jubah Hadhrat Masih Mau’ud (as). Ketika dalam diri saya mulai timbul gelombang pemikiran seperti yang saya sebutkan diatas, suatu hari saya berwudhu pada waktu dhuha atau isyraq (pagi menjelang dhuha) dan saya minta jubah itu bukanlah karena coraknya indah melainkan karena jubah itu penuh berkat telah dikenakan oleh Hadhrat Masih Mau’ud (as). Ini adalah perasaan pertama yang timbul dalam hati saya akan kesucian utusan Tuhan.”

Kemudian beliau (ra) bersabda, “Saat itu saya menutup pintu rapat-rapat lalu melaksanakan ibadah nafal sambil menangis meratap.”[4]

Di dalam satu tempat lain Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) menjelaskan dengan lebih rinci tentang bagaimana beliau di usia 11 tahun telah mengenali keberadaan Allah Ta’ala. Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Saat itu saya berusia 11 tahun. Allah Ta’ala dengan karunia-Nya, telah menurunkan taufik kepada saya untuk mengubah akidah saya menjadi suatu keimanan. Saat itu adalah waktu setelah Maghrib. Saya tengah berdiri di kediaman saya dan sesaat terlintas dalam pikiran bahwa apakah saya menjadi seorang Ahmadi karena Pendiri Jemaat Ahmadiyah adalah Ayahanda saya, ataukah saya menjadi Ahmadi karena Ahmadiyah adalah benar dan ini adalah Jemaat yang telah didirikan oleh Allah Ta’ala?

Setelah muncul pemikiran demikian, saya memutuskan untuk tidak keluar sebelum merenungkannya dan jika akhirnya saya mengetahui bahwa Ahmadiyah tidak benar, saya tidak akan memasuki kamar saya dan saya akan beranjak dari halaman rumah ini menuju keluar.” Ini adalah pemikiran seorang anak berusia 11 tahun.

Hudhur bersabda, “Alhasil, setelah memutuskan demikian, saya mulai merenung dan secara alamiah muncul beberapa dalil di hadapan saya yang lalu saya uji. Terkadang saya memunculkan satu dalil lalu memecahkannya. Kemudian memunculkan dalil kedua lalu memecahkannya dan memunculkan dalil ketiga lalu memecahkannya sehingga seiring dengan ini muncullah pertanyaan ini di hadapan saya, ‘Apakah Muhammad (saw) adalah benar-benar Rasul Allah Ta’ala? Apakah saya meyakininya sebagai orang benar karena ini adalah ajaran ayah dan ibu saya bahwa beliau (saw) adalah benar atau saya meyakini beliau (saw) benar karena adanya dalil-dalil yang telah jelas di hadapan saya bahwa memang benar beliau (saw) adalah Rasul yang benar?’

Ketika pertanyaan ini tiba di hadapan saya, hati saya berkata bahwa saya pun harus memutuskan hal ini. Selanjutnya, secara alamiah, di dalam kalbu saya pun muncul pertanyaan tentang keberadaan Allah Ta’ala dan saya berkata bahwa ini pun adalah hal yang harus diselesaikan, ‘Apakah saya meyakini keberadaan Allah Ta’ala hanya sebatas ajaran saja, atau apakah hakikat akan keberadaan-Nya telah sungguh tersingkap pada diri saya, bahwa ada satu Keberadaan Tuhan di dunia?’

Saya pun mulai merenungi pertanyaan tentang keberadaan Allah Ta’ala ini dan hati saya berkata, ‘Jika Tuhan itu ada maka Muhammad (saw) benar-benar adalah seorang Rasul. Jika Muhammad (saw) adalah benar seorang Rasul maka Hadhrat Masih Mau’ud (as) pun adalah seorang yang benar. Jika Hadhrat Masih Mau’ud (as) adalah benar maka Ahmadiyah pun adalah benar. Lalu jika keberadaan Tuhan tidak terdapat di dunia, tidak ada satu pun diantara itu semua yang benar.’”

Atas hal itu Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Saya telah memutuskan hari itu harus menyelesaikan persoalan ini. Apabila hati saya memutuskan keberadaan Tuhan itu tidak ada maka saya tidak akan tinggal di rumah saya. Saya akan pergi keluar dengan segera.”

Hudhur bersabda, “Setelah memutuskan demikian, saya pun mulai merenung dan terus-menerus berpikir. Dari segi usia, saat itu saya berusia belia dan masih belum sanggup memberi jawaban logis. Meski demikian, saya terus-menerus merenung hingga pikiran saya pun menjadi letih. Saat itu saya memandang ke arah langit. Hari itu cuaca cerah tidak berawan.” (demikianlah bagaimana cara Allah Ta’ala mengajarkan beliau)

Hudhur bersabda, “Langit yang sangat jernih dan bintang gemintang yang tengah bercahaya dengan sangat indah di langit, apakah ada pemandangan lain selain ini yang dapat memberi ketentraman bagi pikiran yang penuh letih ini.” (Saat itu beliau telah sangat letih dan terus melihat ke langit dan bintang-bintang). “Maka saya pun mulai melihat ke arah bintang-gemintang sehingga saya tenggelam dalam memandang bintang-bintang. Beberapa saat kemudian, tatkala pikiran saya mendapat kesegaran kembali, saya berkata di dalam hati, ‘Betapa indahnya bintang-bintang itu, namun apakah yang ada setelah bintang-bintang itu?’

Dalam hati saya menjawab, ‘Setelahnya mungkin ada bintang-bintang lainnya.’

Saya lalu berkata, ‘Apa lagi yang ada setelahnya?’

Hati saya pun kembali menjawab bahwa setelahnya akan ada bintang-bintang lainnya. Kemudian hati saya bertanya, ‘Jika demikian, apa lagi setelahnya?’

Pikiran saya pun kembali menjawab bahwa setelah bintang-bintang itu mungkin ada bintang-bintang lainnya. Saya berkata, ‘Baik, lantas apa yang ada setelahnya?’

Demikian pulalah jawaban yang diberikan hati dan pikiran saya, ‘Mungkin ada beberapa bintang lain lagi.’

Hati saya pun berkata, ‘Mengapa demikian, setelah suatu gugusan bintang, ada gugusan kedua lalu setelah yang kedua ada yang ketiga dan setelah yang ketiga ada yang keempat. Kemudian, apakah rangkaian ini tidak akan berakhir? Bukankah pada suatu batas tertentu rangkaian bintang-bintang ini akan berakhir? Jika berakhir, apakah yang akan terjadi setelahnya?’

Inilah pertanyaan yang kebanyakan orang menjadi bertanya-tanya dan mereka berkata, ‘Apakah makna saat kita mengatakan Tuhan adalah Keberadaan yang tidak terbatas? Apa makna Tuhan adalah Keberadaan Abadi, karena pada akhirnya, hendaknya ada suatu batas dan suatu kesudahan?’

Berikut ini adalah pertanyaan yang muncul di hati saya tentang bintang-bintang dan saya berkata, ‘Apakah pada akhirnya ini akan berakhir ataukah tidak? Iya. Harus berakhir.

Jika iya, apakah yang terjadi setelahnya? Jika tidak berakhir maka rangkaian apakah yang tidak memiliki akhir dan tidak terbatas?’

Tatkala pikiran saya tiba di sini, saya berkata, ‘Persoalan tentang apakah keberadaan Tuhan itu terbatas atau tidak terbatas adalah pertanyaan yang sama sekali sia-sia. Biarkanlah mengenai Allah Ta’ala, apa yang akan Anda sekalian katakan tentang bintang-bintang yang tengah ada di depan kedua mata saya? Jika kita mengatakan bintang-bintang itu sebagai keberadaan yang terbatas, maka terbatas adalah sesuatu yang setelahnya akan muncul benda yang lain. Jadi, yang menjadi pertanyaan adalah, jika ini adalah sesuatu yang terbatas, maka apa lagi yang ada setelahnya atau di baliknya? Lalu jika ada yang berkata bahwa bintang-bintang ini pun tidak terbatas, yakni seandainya manusia dapat menerima bahwa bintang-bintang adalah tidak terbatas, maka pertanyaannya di sini ialah mengapa manusia tidak dapat menerima keberadaan Allah Ta’ala adalah tidak terbatas?

Pada saat itulah hati saya berkata, ‘Memang benar, Tuhan itu ada karena Dia telah meletakkan keberatan yang sama pada hukum alam yang merupakan ciptaan dari keberadaan-Nya dan Dia (Tuhan) menyampaikan, “Jika kalian keberatan atas keberadaan-Ku yang tidak terlihat maka perhatikan jawaban apakah yang kalian berikan terkait sesuatu yang tengah terlihat pada kalian, karena keberatan yang kalian berikan pada-Ku itu pun tertuju pada mereka. Kenyataannya, kalian tidak memiliki jawaban apa pun tentang hal itu, sementara kalian tanpa segan mengatakan bahwa kalian tidak mengetahui mengapa keberadaan Tuhan itu tidak terbatas.”

Di tempat lain Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Tatkala saya dapat membuktikan keberadaan Allah Ta’ala dengan dalil ini maka menjadi jelas pula di hadapan saya perihal kebenaran Rasulullah (saw) dan juga kebenaran Hadhrat Masih Mau’ud (as)”[5]

Alhasil, ini merupakan satu bukti Allah telah memenuhi beliau dengan berbagai ilmu, yaitu Dia telah memunculkan pertanyaan demikian di dalam kalbu seorang anak biasa yang tengah mencari ilmu, dan Dia juga yang telah membimbingnya.

Tentang bagaimana pendapat Hadhrat Khalifatul Masih Awwal terkait pribadi Hadhrat Muslih Mau’ud, Hadhrat Khalifatul Masih Awwal sendiri telah bersabda, – dan dari ini diketahui saat itu beliau (ra) telah menganggap anak tersebut akan menjadi Muslih Mau’ud dan akan menjadi pemenuhi nubuatan Muslih Mau’ud. Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) menyebutkan satu atau dua peristiwa. Beliau bersabda, “Telah berlalu waktu yang lama sejak saya pertama menjalankan risalah Tasyhidzul Adzhan bersama beberapa teman saya. Untuk menjadikan risalah tersebut mengemuka, di dalamnya terdapat tulisan karya saya yang berisi maksud dan tujuan risalah tersebut. Ketika tulisan itu terbit, Hadhrat Khalifatul Masih Awwal (ra) secara khusus memujinya di hadapan Hadhrat Masih Mau’ud (as) dan menyampaikan, ‘Tulisan ini sangat layak agar Hudhur pun berkenan membacanya.’

Maka dari itu, Hadhrat Masih Mau’ud (as) meminta risalah tersebut saat di Masjid Mubarak dan tampaknya beliau meminta Maulwi Muhammad Ali Sahib untuk memperdengarkan tulisan tersebut dan beliau pun memujinya. Namun setelah itu, tatkala saya bertemu dengan Hadhrat Khalifatul Masih Awwal (ra), beliau sebelumnya memang memuji ini di hadapan Hadhrat Masih Mau’ud (as), namun setelahnya, secara pribadi beliau menyampaikan, ‘Mian, tulisanmu sangatlah bagus, namun hati saya belum gembira.’ Beliau bersabda, ‘Di negeri kami, ada satu perumpamaan yang masyhur, ‘Unta 40 dan anaknya 42’, yakni harga seekor unta lebih murah dari harga anaknya selisih 2 rupiah. Kamu belum memenuhi perumpamaan ini.’”

Terkait:   Pengorbanan Harta: Tahun Baru Tahrik Jadid ke-87 (November 2020-Oktober 2021)

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Saat itu saya tidak terlalu paham bahasa Punjabi, dan tidak memahami maknanya. Melihat rona wajah saya yang keheranan, Hadhrat Khalifah Awwal pun bersabda, ‘Mungkin kamu belum memahami maknanya.’ Beliau lalu bersabda, ‘Ada perumpamaan di daerah kami tentang seseorang yang tengah menjual unta dan bersamanya ada anak unta juga yang di daerah kami disebut dengan toda. Ada yang menanyakan harganya lalu ia menjawab bahwa harga unta 40 rupee dan harga anak unta 42 rupee. Pembeli itu bertanya, “Mengapa seperti ini? Toda pun adalah seekor unta juga dan ia pun masih kecil.”’

Hadhrat Khalifah Awwal, ‘Demikian juga, di hadapanmu terdapat Barahin Ahmadiyah karya Hadhrat Masih Mau’ud (as). Tatkala buku ini ditulis, di hadapan beliau, (yakni di hadapan Hadhrat Masih Mau’ud (as)) tidak terdapat suatu literatur keislaman, namun di hadapanmu kini hal itu ada dan saya berharap kamu membuat sesuatu yang lebih dari itu dengan memanfaatkan buku tersebut.’”

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) menuturkan, “Siapakah yang dapat melampaui keilmuan yang dimiliki oleh utusan-utusan Tuhan. Yang beliau maksud bukanlah demikian, namun yang beliau inginkan adalah agar saya terus berupaya menggali khazanah-khazanah yang terpendam di dalamnya. Yang dimaksud oleh Hadhrat Khalifah Awwal (ra) adalah bahwa inilah yang menjadi tugas bagi generasi penerus, yaitu semakin meninggikan pondasi yang telah ada sebelumnya.”

Saat itu, Hadhrat Khalifah Awwal sungguh mengetahui bagaimana keadaan kesehatan beliau, dan kemampuan keilmuan beliau. Maka dari itu, pandangan beliau yang sangat tinggi terhadap Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) ini sesungguhnya menggambarkan betapa anak ini memiliki kemampuan dan ia sanggup menulis karya-karya yang sangat bernilai tinggi.

Alhasil, Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Ini adalah suatu hal yang apabila generasi selanjutnya mencamkan ini di dalam benak mereka maka mereka sendiri pun akan dapat meraih berbagai keberkatan dan karunia dan dapat menjadi sarana turunnya keberkatan dan karunia bagi bangsanya. Namun, upaya untuk lebih maju dari Ayahanda sendiri ini hendaknya di dalam hal-hal kebaikan. Bukan berarti anak seorang pencuri harus berupaya agar menjadi pencuri yang melampaui ayahnya, tetapi maknanya adalah, keturunan seorang yang dawam shalat harus berupaya dawam shalat yang melampaui ayahnya.”[6]

Tentang keadaan kesehatan Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) di masa belia, satu peristiwa yang telah saya jelaskan sebelumnya. Ada satu lagi peristiwa tentang keadaan kesehatan dan keilmuan beliau. Ini pun peristiwa tentang betapa kasih sayang dan kepedulian Hadhrat Khalifah Awwal dan Hadhrat Masih Mau’ud (as) kepada beliau (ra). Ini pun membuktikan keyakinan beliau anak inilah yang kelak akan menjadi Muslih Mau’ud. Alhasil, tentang peristiwa ini Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Dalam hal pendidikan saya, Hadhrat Khalifatul Masih Awwal (ra) adalah yang paling banyak berjasa kepada saya. Karena beliau sendiri adalah seorang tabib dan beliau telah memaklumi keadaan kesehatan saya tidak dapat memungkinkan saya untuk dapat membaca buku hingga waktu lama sehingga cara beliau adalah, beliau mempersilahkan saya duduk di dekat beliau dan bersabda, ‘Mia, saya akan terus membaca dan mohon terus menyimak.’”

Selanjutnya, Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) seraya menjelaskan keadaan kesehatannya bersabda, “Keadaan saya ini disebabkan, saya pernah menderita penyakit trakoma di kedua mata saya. (sebelumnya pun telah dijelaskan tentang penyakit mata ini), dan selama 3 hingga 4 tahun lamanya penglihatan saya terus buram, dan saya sedemikian menderita karena penyakit ini hingga dokter pun mengatakan bahwa saya akan kehilangan penglihatan. Atas hal ini, Hadhrat Masih Mau’ud (as) memulai doa-doa secara khusus untuk kesehatan saya. Bersamaan dengan itu, Hadhrat Masih Mau’ud (as) pun mulai melakukan puasa untuk saya.”

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Saat itu saya tidak ingat berapa hari beliau telah berpuasa dan kemungkinan beliau telah menjalankan 3 hingga 7 hari berpuasa. Ketika beliau berbuka di hari terakhir dan hendak memasukkan suapan ke mulut beliau, seketika itu saya membuka kedua mata saya dan mengucapkan bahwa pandangan saya mulai membaik.”

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) menuturkan, “Ketika Hadhrat Masih Mau’ud (as) hendak berbuka puasa, di saat itulah saya membuka kedua mata saya, dan setelah saya membukanya saya berkata, ‘Saya mulai dapat melihat dengan jelas’. Namun, akibat dari kerasnya penyakit tersebut dan penyakit yang menyerang secara terus-menerus menjadikan salah satu penglihatan saya melemah. (beliau menjelaskan ini secara rinci). Alhasil, penglihatan mata kiri saya sangat lemah; saya masih dapat melihat jalan, namun saya tidak sanggup membaca dengannya. Jika ada seorang yang saya kenal duduk di jarak 2 hingga 4 kaki dari saya maka saya masih dapat melihat dan mengenalinya, namun jika yang duduk adalah seorang yang tidak saya kenal maka saya tidak sanggup mengenali wajahnya. Hanya mata kanan lah yang bekerja. Namun ini pun telah terkena penyakit trakoma, dan penyakit itu menyerang dengan sangat kerasnya hingga saya harus melalui banyak malam dengan terjaga.”

Jadi, inilah keadaan kesehatan beliau. Namun, kini lihatlah betapa besar karya keilmuan beliau. Betapa besar pertolongan yang Allah Ta’ala anugerahkan kepada beliau.

Singkat kata, Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Hadhrat Masih Mau’ud (as) telah menyampaikan kepada para guru saya, ‘Pengajarannya agar disesuaikan dengan keinginannya. Silahkan ia belajar sesuai keinginannya dan jika tidak, janganlah ia dipaksakan, karena kesehatannya tidak memungkinkannya untuk dapat memikul seluruh beban pelajaran.’

Hadhrat Masih Mau’ud (as) hingga berulang kali, hanya bersabda demikian kepada saya, ‘Belajarlah terjemahan Al-Quran dan Kitab Hadits al-Bukhari dari Hadhrat Maulwi Sahib.’ (yakni Hadhrat Khalifah Awwal). Selain itu, Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda agar saya pun mempelajari ketabiban, karena ini merupakan keahlian turun-temurun keluarga kami.”

Alhasil, beliau bersabda, “Jadi, dengan corak keadaan inilah saya menjalani pendidikan dan saya menjalaninya dengan keterpaksaan, karena selain menderita penyakit mata, di masa belia pun saya menderita penyakit liver, dan banyak sekali penyakit lain yang saya derita. Berkali-kali selama enam bulan lamanya saya terus-menerus diberikan sari pati kacang hijau dan biji sawi. Bersamaan dengan itu pembengkakan yang ada di ‘limpa’ pun semakin membesar. Di tempat yang bengkak itu saya kerap dibaluri dengan red iodide of Mercury. Leher saya pun kerap dibaluri dengan ini karena saya pun menderita penyakit Skrofuloderma.[7] Jadi, saya menderita trakoma dan penyakit liver lalu menderita pembengkakan limpa ‘kelenjar getah bening’. Lalu saya mulai menderita demam yang tidak turun hingga 6 bulan terus-menerus sehingga untuk pendidikan saya pun orang tua memutuskan agar saya belajar sesuai dengan kemampuan dan supaya saya tidak dibebankan lebih. Dengan keadaan ini, siapapun dapat menerka bagaimana keadaan kemampuan pendidikan saya.

Satu saat, kakek dari jalur ibu saya, Hadhrat Mir Nasir Nawab Sahib (ra) menguji kemampuan bahasa Urdu saya. (Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda) hingga saat ini pun tulisan Urdu saya tidak sempurna. Namun, di saat itu, tulisan saya sangatlah buruk hingga sulit untuk dibaca. Beliau sangat berupaya untuk membaca tulisan saya saat itu, namun beliau tidak sanggup.

Kepribadian Mir Sahib sangat keras. Dalam keadaan marah beliau segera mendatangi Hadhrat Masih Mau’ud (as). kebetulan saat itu pun saya ada di rumah. Sejak awal saya kerap takut dengan tabiat beliau itu.”

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) menuturkan, “Beliau adalah kakek kami dari jalur ibu lalu beliau pun datang mengadu kepada Hadhrat Masih Mau’ud (as) sehingga kekhawatiran pun memuncak, apa yang akan terjadi. Jadi, Mir Sahib pun tiba dan beliau berkata kepada Hudhur, ‘Anda sama sekali tidak menaruh perhatian kepada pendidikan Mahmud. Saya baru saja menguji urdunya, dan mohon lihat sejenak hasilnya. Tulisannya sedemikian buruk hingga sulit untuk dibaca.’

Lalu dalam gejolak tersebut beliau pun berkata kepada Hadhrat Masih Mau’ud (as), ‘Anda sama sekali tidak menghiraukannya dan umurnya terus menjadi sia-sia.’

Tatkala Hadhrat Masih Mau’ud melihat Mir Sahib yang sedemikian bergejolak emosional ini, beliau bersabda, ‘Panggillah Maulwi Sahib!’ Ketika Hadhrat Masih Mau’ud (as) menghadapi suatu kesulitan, beliau (as) biasa memanggil Hadhrat Khalifah Awwal (ra). Hadhrat Khalifah Awwal (ra) sangat mencintai saya. Beliau (ra) datang dan seperti biasa berdiri di satu sisi sambil menundukkan kepala. Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda, ‘Maulwi Sahib, saya memanggil Anda karena Mir Sahib mengatakan tulisan Mahmud tidak bisa dibaca. Hati saya menginginkan supaya ia diuji.’ Seraya mengatakan ini, Hadhrat Masih Mau’ud (as) mengambil pena dan menulis sebuah kalimat dalam dua tiga baris lalu menyerahkannya kepada saya dan bersabda, ‘Salinlah ini.’ Inilah ujian yang diberikan oleh Hadhrat Masih Mau’ud (as) tersebut.

Saya menyalinnya dengan sangat hati-hati dan penuh pertimbangan. Pertama, kalimat itu tidak terlalu panjang. Yang kedua, saya hanya tinggal menyalinnya dan menyalin tentu lebih mudah karena semuanya sudah ada di hadapan. Kemudian saya menyalinnya secara perlahan-lahan. Saya menuliskan alif, ba dan sebagainya dengan hati-hati. Ketika Hadhrat Masih Mau’ud (as) melihatnya, maka beliau (as) bersabda, ‘Saya sangat mengkhawatirkan apa yang dikatakan Mir Sahib, namun tulisannya mirip dengan tulisan saya.’”

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) menuturkan, “Sejak awal, Hadhrat Khalifah Awwal (ra) ada di pihak saya dan mendukung saya. Beliau (ra) bersabda, ‘Hudhur! Mir Sahib terlalu bersemangat. Sebaliknya, tulisannya ternyata sangat bagus.’” Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) menuturkan, “Inilah keadaan saya. Lihatlah! Dalam keadaan seperti ini bagaimana saya bisa meraih ilmu lahiriah.”

Kemudian berkenaan dengan kemampuan akademisnya, Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda pada satu kesempatan: “Hadhrat Khalifah Awwal (ra) biasa mengatakan kepada saya, ‘Mian! Kesehatanmu tidak memungkinkanmu untuk bisa belajar sendiri. Datanglah pada saya. Saya akan membacakan dan kamu akan mendengarkan.’ Atas hal ini beliau (ra) dengan memberikan penekanan, pertama, mengajarkan Al-Qur’an kemudian mengajarkan Shahih Bukhari. Beliau (ra) tidak membacakan Al-Qur’an secara perlahan kepada saya, melainkan cara beliau (ra) adalah, beliau (ra) membacakan Al-Qur’an dan menerjemahkannya secara langsung. Jika ada hal yang dianggap penting, beliau (ra) menjelaskannya, jika tidak, beliau (ra) akan membacakannya dengan cepat. Hadhrat Khalifah Awwal (ra) mengajarkan saya seluruh Al-Qur’an dalam tiga bulan. Setelah itu, terselingi beberapa hal.”

Setelah kewafatan Hadhrat Masih Mau’ud (as), Hadhrat Khalifah Awwal (ra) mengatakan kepada saya, ‘Mian! Pelajarilah Kitab Hadits Shahih al-Bukhari dari saya secara keseluruhan.’ Sebenarnya saya menyampaikan kepada Hadhrat Khalifah Awwal (ra) bahwa Hadhrat Masih Mau’ud (as) sering mengatakan kepada saya, ‘Pelajarilah Al-Qur’an dan Bukhari dari Maulwi Sahib.’ Oleh karena itu, di masa kehidupan Hadhrat Masih Mau’ud (as) pun saya telah mulai mempelajari Al-Qur’an dan Bukhari dari Hadhrat Khalifatul Masih Awwal (Ra), meskipun sering terjeda. Demikian juga, atas petunjuk Hadhrat Masih Mau’ud (as), saya juga mulai mempelajari ilmu ketabiban dari beliau (ra).”

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) menuturkan, “Singkatnya, saya mempelajari ilmu ketabiban dari beliau (ra) dan juga tafsir Al-Qur’an. Beliau (ra) menyelesaikan pengajaran tafsir Al-Qur’an dalam dua bulan. Beliau (ra) mendudukkan saya di sampingnya dan terkadang membacakan setengah juz dan terkadang satu juz dengan terjemahannya. Beliau (ra) juga menafsirkan beberapa ayat. Demikian juga beliau (ra) menyelesaikan pengajaran Kitab Hadits Shahih Bukhari kepada saya dalam dua-tiga bulan. Suatu kali di bulan Ramadhan, Beliau (ra) menyampaikan daras seluruh Al-Qur’an. Saya juga hadir di dalamnya. Saya juga berkesempatan mempelajari beberapa risalah berbahasa Arab dari beliau (ra). Ringkasnya, inilah keilmuan saya.” [8]

Berkenaan dengan pidato pertama beliau (ra) dan pernyataan rasa suka Hadhrat Khalifatul Masih Awwal terhadap hal itu, Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Kami mempunyai seorang guru yang jika saya menyampaikan daras, maka beliau hadir secara rutin. Namun berlawanan dengan itu, saya mempunyai seorang guru lainnya yang ketika beliau menyampaikan daras, maka guru yang pertama tadi datang ke Masjid dan melihatnya tengah menyampaikan daras, maka beliau pergi dan mengatakan bahwa, “Apa yang harus didengar dari apa yang disampaikannya? Saya sudah pernah mendengarnya.” Namun dalam daras saya, meskipun saya adalah murid beliau, dikarenakan beliau berprasangka baik kepada saya, maka beliau selalu hadir dan biasa mengatakan, “Alasan saya hadir dalam darasnya adalah karena melaluinya saya mendapatkan pengertian-pengertian baru dari Al-Qur’an.” Ini adalah karunia Allah Ta’ala bahwa kepada sebagian orang di usia mudanya dibukakan ilmu-ilmu yang tidak pernah terpikirkan oleh yang lainnya.”

Terkait:   Riwayat ‘Ali bin Abi Thalib (Seri 3) – Manusia-Manusia Istimewa Seri 97

Pada hakikatnya hal ini adalah Allah Ta’ala ingin menjadikan beliau (ra) sebagai penggenapan dari Muslih Mau’ud, oleh karena itu Dia sendiri yang mengajarkan kepada beliau (ra).

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Di Masjid yang sama (kemungkinan ini adalah Masjid Aqsa) pada 1907 saya untuk pertama kalinya menyampaikan pidato di depan publik. Ketika itu adalah pada kesempatan Jalsah. Peristiwa ini terjadi pada masa kehidupan Hadhrat Masih Mau’ud (as), satu tahun sebelum kewafatan beliau (as). Pada kesempatan Jalsah sangat banyak orang berkumpul. Hadhrat Khalifah Awwal (ra) juga hadir. Saya membaca ruku’ kedua surah Luqman dan menjelaskan tafsirnya.

Keadaan saya saat itu adalah, ketika saya berdiri untuk berpidato, dikarenakan sebelumnya saya tidak pernah berpidato di hadapan publik, usia saya pun saat itu masih delapan belas tahun kemudian saat itu hadir juga Hadhrat Khalifah Awwal (ra) dan juga para anggota Anjuman serta banyak kawan lainnya yang juga datang sehingga di depan mata saya menjadi gelap. Saat itu saya tidak mengetahui siapa saja yang duduk di depan saya dan siapa saja yang tidak.

Pidato berlangsung selama setengah jam atau tiga perempat jam. Saya ingat, ketika saya selesai berpidato lalu duduk, Hadhrat Khalifatul Masih Al-Awwal (ra) berdiri dan bersabda, ‘Mian! Saya ucapkan Mubarak (Selamat!) untukmu karena kamu telah menyampaikan pidato yang begitu hebat. Saya tidak mengatakan ini untuk menyenangkanmu. Saya memberikan keyakinan kepadamu bahwa pidato ini sungguh bagus.’”[9]

Alhasil, Allah Ta’ala sedemikian rupa memenuhi Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) dengan ilmu-ilmu sehingga selama 52 tahun kehidupan beliau (ra) menjadi saksi bahwa ketika beliau (ra) menyampaikan suatu pembahasan baik secara lisan maupun tulisan, entah itu seputar tema-tema keagamaan atau pun tema-tema duniawi maka beliau mengalirkan sungai ilmu dan makrifatnya. Dalam banyak kesempatan, pidato beliau (ra) diterima dengan sangat baik oleh kalangan bukan Ahmadi dan hal ini juga tercatat dan mereka menyampaikan pujiannya secara terbuka di depan publik. Suratkabar-suratkabar juga meliput beritanya dan dengan ini menjadi jelas bahwa nubuatan Hadhrat Masih Mau’ud (as) telah tergenapi dengan luar biasa. Singkatnya, literatur dan khotbah-khotbah Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) adalah suatu khazanah berharga yang tertuang dalam ribuan halaman, bahkan mungkin sekitar ratusan ribu halaman yang kini sedang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan berbagai bahasa lainnya. Menjadi tugas kita untuk mengambil manfaat darinya.

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) seraya menyatakan diri beliau (ra) sebagai penggenapan nubuatan Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Dengan karunia Allah Ta’ala dan rahmat-Nya, nubuatan yang penggenapannya dinanti-nantikan sejak sekian lama, Allah Ta’ala telah memberitahukan kepada saya melalui ilham dan pengumuman-Nya bahwa nubuatan tersebut telah terpenuhi dalam keberadaan saya dan sekarang Allah Ta’ala telah memberikan hujjah sempurna kepada para musuh Islam dan menjadikan perkara ini jelas atas mereka bahwa Islam adalah agama Allah Ta’ala yang benar, Muhammad Rasulullah (saw) adalah Rasul Allah Ta’ala yang benar dan Hadhrat Masih Mau’ud (as) adalah utusan Allah Ta’ala yang benar. Pembohonglah mereka yang mengatakan Islam sebagai kebohongan. Pendustalah mereka yang mengatakan Muhammad (saw) sebagai pendusta. Melalui nubuatan agung ini Tuhan telah mengemukakan kepada orang-orang satu bukti hidup dari kebenaran Islam dan Rasulullah (saw).

Lihatlah! Siapakah orangnya yang memiliki kemampuan bahwa ia – yaitu Hadhrat Masih Mau’ud (as) pada tahun 1886, 58 tahun yang lalu dari hari ini (Ketika Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) menjelaskan ini, saat itu telah 58 tahun), bahwa 58 tahun yang lalu dari hari ini, ia bisa memberikan kabar ini dari dirinya bahwa dalam masa 9 tahun akan lahir seorang putra bagi dirinya. Sang putra akan tumbuh dengan cepat. Ia akan mendapatkan kemasyhuran hingga ke pelosok-pelosok dunia, ia akan meyebarkan Islam dan nama Rasulullah (saw) di dunia, ia akan dipenuhi ilmu-ilmu lahiriah dan batiniah, ia akan menjadi sarana penampakan keagungan Tuhan (Jalaal-e-ilaahi) dan ia akan menjadi satu tanda hidup dari qudrat kekuasaan Allah Ta’ala, kedekatan-Nya dan rahmat-Nya. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat memberikan kabar semacam ini dari dirinya. Tuhan telah mengabarkan ini dan kemudian Tuhan juga yang telah memenuhi kabar tersebut melalui seorang yang mengenainya para Dokter tidak memiliki harapan bahwa ia akan tetap hidup atau usianya akan panjang.”

Kemudian Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda mengenai keadaan kesehatan beliau (ra): “Keadaan kesehatan saya ketika masa kanak-kanak begitu buruk sehingga pada satu kesempatan Dokter Mirza Yaqub Begh Sahib mengatakan mengenai diri saya kepada Hadhrat Masih Mau’ud (as), ‘Ia menderita TBC. Kirimlah ia ke daerah pegunungan.’ Oleh karena itu Hadhrat Masih Mau’ud (as) mengirimkan saya ke Shimla. Namun, setelah pergi ke sana saya merasa sedih dan dikarenakan hal ini saya segera pulang kembali.’”

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) menuturkan, “Singkatnya, seseorang yang kesehatannya tidak pernah satu hari pun dalam keadaan baik, telah Allah Ta’ala jaga tetap hidup dan Dia menjaganya tetap hidup dikarenakan dengan perantaraannya Dia akan menyempurnakan nubuatan-nubuatannya dan menyediakan bukti kebenaran Islam dan Ahmadiyah di hadapan orang-orang.

Kemudian, seorang yang tidak meraih ilmu apa pun dari antara ilmu-ilmu duniawi, namun Allah Ta’ala dengan karunia-Nya telah mengutus para malaikat untuk mengajariku dan memberitahukan kepadaku makna-makna Al-Qur’an yang bahkan tidak pernah terbayangkan dalam benak dan pemikiran seorang manusia. Ilmu yang telah Tuhan anugerahkan kepadaku adalah mata air rohani yang memancar dari dadaku.

Itu bukanlah khayalan atau kiasan, melainkan ini adalah hal yang qath’i dan meyakinkan bahwa aku memberikan tantangan kepada seluruh dunia bahwa jika di permukaan bumi ini ada seseorang yang mendakwakan diajarkan Al-Qur’an oleh Allah Ta’ala maka kapan pun aku siap untuk bertanding dengannya. Namun tidak ada seorang pun yang datang untuk bertanding. Namun aku mengetahui, hari ini di muka bumi ini tidak ada selain diriku yang dianugerahkan ilmu Al-Qur’an dari Allah Ta’ala. Allah Ta’ala telah menganugerahiku ilmu Al-Qur’an dan di zaman ini Dia telah menetapkanku sebagai guru bagi dunia untuk mengajarkan Al-Qur’an. Tuhan telah membangkitkanku untuk tujuan menyampaikan nama Muhammad Rasulullah (saw) dan Al-Qur’anul Karim ke penjuru-penjuru dunia dan supaya kukalahkan seluruh agama batil penentang Islam di dunia.”

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) telah melaksanakan tugas ini. Di masa beliau (ra) tidak terhitung banyaknya terjemahan Al-Qur’an telah diterbitkan. Bukan tidak terhitung, namun sampai batas tertentu cukup banyak telah diterbitkan dan kemudian pekerjaan ini hingga sekarang terus ditingkatkan. Di masa hidup beliau (ra) penerjemahan telah dilakukan ke dalam 17 atau 18 bahasa. Demikian juga di masa beliau (ra) tabligh Islam telah sampai ke penjuru-penjuru dunia.

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Biarkan dunia mengerahkan kekuatannya, biarkan ia menghimpun seluruh kekuatan dan persekutuannya, biarkan raja-raja Kristen dan pemerintahan-pemerintahannya bersatu, biarkan Eropa dan Amerika bersatu, biarkan semua negara-negara kaya dan adidaya berkumpul dan biarkan mereka bersatu untuk menggagalkanku dalam tujuan ini, aku bersumpah demi Allah! Tetap saja mereka akan gagal melawanku dan Tuhan akan menghancurkan seluruh rencana, makar dan tipu daya mereka di hadapan doa-doa dan upaya-upayaku. Dan melalui diriku atau murid-muridku serta kepengikutan kepadaku, untuk membuktikan kebenaran nubuatan ini, Tuhan akan menegakkan kehormatan Islam dengan wasilah dan perantaraan nama Rasulullah (saw) dan Dia tidak akan meninggalkan dunia selama Islam dengan segenap kemuliaannya belum kembali tegak di dunia dan selama Muhammad Rasulullah (saw) belum diakui sebagai Nabi yang hidup di dunia ini.” [10]

Alhasil, nubuatan ini telah sempurna. Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) telah melewatinya di masa beliau (ra) sendiri.

Akan tetapi kalimat-kalimat nubuatan ini akan tetap tegak dan insya Allah akan senantiasa tegak selama misi Hadhrat Masih Mau’ud (as) belum terpenuhi dan selama bendera Islam belum berkibar di seluruh dunia.

Alhasil, kita hendaknya selalu ingat bahwa Jalsah-jalsah kita untuk memperingati nubuatan tersebut serta mengingatnya baru akan memberikan manfaat jika kita senantiasa mengedepankan tujuan ini, bahwa kita harus menegakkan kehormatan dan kemuliaan Hadhrat Rasulullah (saw) di dunia dan memperlihatkan kebenaran Islam kepada dunia serta membawa semua orang di bawah bendera Hadhrat Rasulullah (saw).

Di masa sekarang ini, selain para pengikut Hadhrat Masih Mau’ud (as), tidak ada orang lain yang dengan perantaraannya bendera Islam akan berkibar kedua kalinya di dunia. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada kita. [11]

Khotbah II

الْحَمْدُ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَامَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُوَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُعِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَأُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُاللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ


[1] Batuk rejan merupakan infeksi pernapasan yang menyebabkan batuk hebat tidak terkendali. Bahkan membuat penderitanya kesulitan bernapas. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri dan dapat menyebar dengan mudah. Meskipun batuk rejan dapat menyerang orang pada usia berapapun, dapat sangat mematikan bagi bayi dan anak kecil. (https://ciputrahospital.com/batuk-rejan-penyebab-gejala-pantangan-dan-obatnya/)

[2] Jami` at-Tirmidhi 2954, bagian tentang Tafsir (كتاب تفسير القرآن عن رسول الله صلى الله عليه وسلم), bab Surah al-Fatihah (باب وَمِنْ سُورَةِ فَاتِحَةِ الْكِتَابِ): عَنْ عَبَّادِ بْنِ حُبَيْشٍ، عَنْ عَدِيِّ بْنِ حَاتِمٍ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ ” الْيَهُودُ مَغْضُوبٌ عَلَيْهِمْ وَالنَّصَارَى ضُلاَّلٌ ” . Narrated ‘Adiyy bin Hatim: that the Prophet () said: “The Jews are those who Allah is wrath with, and the Christians have strayed.”

[3] Me hi hu Mushlih Mau’ud ki pesygui ka mishdaaq hu, Anwarul ‘Uluum jilid 17 halaman 213-217 (ماخوذ از میں ہی مصلح موعود کی پیشگوئی کا مصداق ہوں، انوار العلوم جلد 17 صفحہ 213 تا 217)

[4] Yaad Ayyam atau hari-hari kenangan, Anwarul ‘Uluum jilid 8 halaman 265 (ماخوذ از یادِ ایام، انوار العلوم جلد 8 صفحہ 365-366)

[5] Khuthbaat-e-Mahmud jilid 19, halaman 689-692 (ماخوذ از خطباتِ محمود جلد 19 صفحہ 689تا 692)

[6] Khuthbaat-e-Mahmud jilid 3, halaman 484-485 (ماخوذ از خطباتِ محمود جلد 3صفحہ 484-485)

[7] Tuberkolosis kulit yang diawali pembesaran kelenjar getah bening.

[8] Al-Mau’ud, Anwarul ‘Ulum jilid 17, halaman 532-537 (ماخوذ از الموعود، انوار العلوم جلد 17 صفحہ 532تا 537).

[9] Khuthbaat-e-Mahmud jilid 22, halaman 472-473 (ماخوذ از خطباتِ محمود جلد 22 صفحہ 472-473)

[10] Al-Mau’ud, Anwarul ‘Ulum jilid 17, halaman 613-614 (الموعود، انوار العلوم جلد 17صفحہ 613-614).

[11] Penerjemah: Mln. Mahmud Ahmad Wardi, Syahid (London-UK), Mln. Hasyim dan Mln. Fazli ‘Umar Faruq. Editor: Dildaar Ahmad Dartono. Sumber referensi: Majalah Al-Fadhl International, 11 Maret 2022 (الفضل انٹرنیشنل 11؍مارچ2022ءصفحہ 5تا9) pada link (https://www.alfazl.com/2022/03/06/42128/); www.alislam.org (website resmi Jemaat Ahmadiyah Internasional bahasa Inggris dan Urdu) dan www.Islamahmadiyya.net (website resmi Jemaat Ahmadiyah Internasional bahasa Arab).

Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masrur Ahmad

Khalifatul Masih al-Khaamis ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz

17 Februari 2017 di Masjid Baitul Futuh, London, UK.

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ. (آمين)

 

Sebagaimana telah kita ketahui bersama, tanggal 20 Februari dikenal sebagai hari nubuatan Mushlih Mau’ud dalam Jemaat Ahmadiyah. Ini adalah nubuatan yang agung sekali. Dalam nubuatan ini, Allah Ta’ala memberikan kabar suka kepada Hadhrat Masih Mau’ud as berkenaan dengan kelahiran seorang putra agung yang akan memiliki banyak keistimewaan. Diantara keistimewaannya ialah ia akan hidup lama dan Jemaat yang didirikan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as akan meraih kemajuan-kemajuan luar biasa pada zaman Mushlih Mau’ud.

Sejarah Jemaat Ahmadiyah menjadi saksi terpenuhinya nubuatan ini huruf demi huruf pada masa Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad, Mushlih Mau’ud selama 52 tahun. [beliau lahir pada 12 Januari 1889 dan menjadi Khalifatul Masih pada tahun 1914, serta wafat pada 1965] Nubuwatan ini saja memadai untuk menyampaikan bukti kebenaran Hadhrat Masih Mau’ud as kepada tiap orang yang adil dan memiliki mata ruhaniah.

Peristiwa ini kita jumpai pada 20 Februari, yaitu tiga hari kemudian dari sekarang. Hari ini saya hendak menyajikan beberapa kutipan penjelasan Hadhrat Mushlih Mau’ud ra sendiri sebagai pengantar penjelasan nubuatan ini, dan itu menjelaskan garis besar penyempurnaan apa-apa yang tercantum dalam nubuatan “Ia telah dianugerahi ruhul haq (ruh kebenaran)”.

Hadhrat Muslih Mau’ud ra mendapatkan kehormatan berupa kedudukan Khilafat dari Allah Ta’ala pada tahun 1914. Pada saat itu orang-orang sudah berpandangan bahwa beliau ra adalah penyempurnaan seluruh hal yang tercantum dalam nubuatan mengenai Mushlih Mau’ud (pembaharu yang dijanjikan) dan kebanyakan ulama Jemaat dan anggota Jemaat telah menganggap beliau sebagai Mushlih Mau’ud. Tapi saat itu beliau belum pernah mendakwakan dirinya. Kemudian, baru pada tahun 1944 tepat 30 tahun masa Khilafat beliau, beliau mendakwakan diri sebagai Mushlih Mau’ud atas dasar ru-ya yg beliau terima. Beliau ra bersabda, “Saya merasa berat atas pengumuman ini dan menjelaskan ru-ya ini dengan rinci.” Bahkan, beliau telah bersabda di sejumlah kesempatan bahwa sesuai dengan itu beliau terbebani (enggan) dalam menjelaskan ru-ya dan ilham beliau tapi seiring dengan itu terpaksa menjelaskannya karena tuntutan beberapa keadaan.

Bagaimanapun, para ulama Jemaat dan anggota Jemaat dari awal meminta beliau untuk mendakwakan diri sebagai Muslih Mau’ud, namun beliau ra selalu menjawab, “Apa perlunya saya mendakwakan diri. Apabila semua tanda itu telah muncul pada diri saya maka itu sudahlah cukup. Tidak perlu pengumuman apa pun.”

Dalam menjawab pertanyaan orang-orang, beliau ra selalu bersabda, “Berapa banyak Mujaddid dari sekian banyak Mujaddid dalam umat Islam yang mengumumkan dakwa (pernyataan) mereka? Saya telah mendengar hal ini secara langsung dari Hadhrat Masih Mau’ud as sendiri yang bersabda, ‘Saya berpandangan Aurangzeb sebagai Mujaddid pada masanya.’[1] Namun apakah Aurangzeb membuat suatu pernyataan? Umar bin Abdul Aziz juga termasuk sebagai Mujaddid. Apakah beliau membuat suatu penyataan? Jadi tidaklah merupakan hal yang esensial (sangat penting, suatu keharusan) bagi mereka yang bukan ‘ma-mur’ (rasul) untuk mengumumkan pendakwaannya. Hanya, itu hal yang esensial bagi mereka yang ‘ma-mur minAllah’ (rasul Allah) untuk membuat pernyataan bahwa mereka adalah orang-orang yang disebut di dalam sesuatu nubuatan tersebut.

Mengenai seorang yang bukan ‘ma-mur’, kita hanya perlu melihat kepada pekerjaan yang mereka lakukan, dan jika pekerjaan yang mereka lakukan memenuhi kriteria sebagai Mujaddid (pembaharu), lalu apa perlunya penyataan dari mereka? Memang dalam kasus, bahwa meskipun jika ada seseorang yang memenuhi kriteria Mujaddid tersebut tetap menolak disebut dengan status Mujaddid itu, kita akan tetap mengatakan bahwa dia adalah seseorang yang dalam dirinya telah tergenapi nubuatan Mujaddid tersebut. Meskipun, seandainya Umar bin Abdul Aziz menyatakan menolak disebut sebagai seorang Mujadid, kita tetap dapat mengatakan bahwa beliau sebagai seorang mujadid pada masanya, karena bagi seorang mujadid tidak ada keperluan untuk membuat suatu pernyataan. [2] Perlunya membuat suatu pernyataan adalah hanya bagi para pembaharu yang merupakan ‘ma-mur minAllah’ (rasul Allah) saja.

Namun benar, bagi mereka yang bukan ‘ma-mur minAllah’, sementara mereka menegakkan Islam yang sedang mengalami kejatuhan pada masanya, kemudian mematahkan serangan-serangan penentang yang sedang memuncak, maka meskipun orang tersebut tidak sadar akan statusnya sebagai Mujaddid, namun kita dapat mengatakan mereka adalah Mujaddid pada masanya. Benar, seorang المجدد المأمور ‘al-Mujaddid al-Ma-mur’ adalah orang yang membuat suatu pendakwaaan sebagaimana yang dilakukan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as.

Jadi, dari pihak saya, tidak ada keharusan untuk memberikan pernyataan sebagai Mushlih Mau’ud. Dan tidak perlu merasa khawatir perkataan para penentang atas hal ini. Tidak ada ketakutan mendapatkan hinaan sehubungan dengan hal ini. Kehormatan sejati seseorang hanyalah yang berasal dari Allah Ta’ala meskipun dalam pandangan orang-orang di dunia dia mendapatkan hinaan dan celaan. Jika dia berjalan di jalan Allah maka pastilah di hadapan-Nya dia akan memperoleh kehormatan.

Tetapi, jika ada seseorang yang mengada-adakan pernyataan dusta dengan cara berbohong, dia tidak akan dapat meraih kehormatan di hadapan Ilahi meskipun ia memperoleh kehormatan di masyarakat dengan kepura-puraan dan intriknya, Dan orang yang tidak memperoleh kehormatan di hadapan Ilahi, maka orang seperti itu – terlepas dari betapa banyaknya kedudukan terhormat yang dia peroleh di mata dunia – telah mengalami kerugian dengan tidak meraih apapun dan pada akhirnya dia akan dihinakan.”[3]

Beliau bersabda, “Maka, kalian harus senantiasa berpegang teguh pada kejujuran dalam urusan keagamaan dan duniawi. Orang yang menanggung kerugian karena Allah, sebenarnya adalah orang yang beruntung. Jika telah jelas hal mendasar dalam hal ini bahwa seseorang telah terhitung benar dalam pandangan Allah maka Dia Sendiri yang akan mendukungnya dengan kesaksian-kesaksian secara tindakan supaya kebenaran orang itu tampak bagi orang lain. Maka dari itu, tidak perlu mengarahkan kebenarannya melalui pengumuman atau pernyataan. Namun, jika Allah Ta’ala menginginkan agar orang itu melakukan pengumuman maka orang itu dapat melakukannya. Jika kalian ingin memeriksa seseorang apakah ia mengerjakan pekerjaan agama sesuai kehendak Ilahi atau ia itu dari Allah atau tidak, maka kalian dapat melakukan pemeriksaan berdasarkan dukungan Ilahi yang ada padanya.”

Terkait:   Riwayat ‘Umar Bin Al-Khaththab (10)

Bagaimanapun, sebagaimana telah saya katakan dulu, ketika Allah memerintahkan beliau ra untuk mengumumkan dakwa beliau maka beliau pun mengumumkan juga, “Sesungguhnya Allah telah membukakan secara terang kepadaku sekarang dan sekarang saya umumkan bahwa saya-lah pembenaran nubuatan Mushlih Mau’ud.”

Pada satu segi, dalam terbitnya pengumuman ini para anggota Jemaat yang bergembira ria sedangkan pada segi lainnya, kalangan ghair Mubayyi’ (yang tidak baiat pada Khalifatul Masih II) mengajukan kritiknya. Beliau ra bersabda di hari kedua Jalsah Salanah 1945 yaitu pada 27 Desembernya menanggapi perkataan Maulwi Muhammad Ali secara khusus, “Sejak saya mengumumkan diri saya sebagai Mushlih Mau’ud, mulailah Maulwi Muhammad Ali yang terhormat mengkritik sebagaimana dulu Maulwi Tsanaullah mengkritik Hadhrat Masih Mau’ud as.

Saya harus mengemukakan ru-ya atau ilham dari Allah dan mengumumkan berdasarkan perintah Allah, tapi Tn. Maulwi Muhammad Ali tidak menyebutkan sebagai tandingannya satu saja ru-ya atau ilham. Pada dasarnya dia tidak bisa melakukannya. Hal demikian karena ia sekuat tenaga dengan upayanya yang susah payah selama tiga puluh tahun berjalan untuk mampu menyajikan ilham satu saja. Namun, fakta-fakta menganggapnya salah. Jika ia belum ada menerima ilham, bagaimana bisa menyajikannya kepada orang lain? Maka dari itulah, tidak ada yang ia miliki selain hanya menyampaikan keberatan-keberatan (kritik-kritik). Jika tidak berkeberatan bagaimana ia menghadapinya.

Musuh-musuh Hadhrat Ibraham as, Hadhrat Musa dan Hadhrat Isa ‘alaihimus salaam (damai atas mereka) tidak bisa menyangkal menerima ilham hal demikian karena para nabi sebelum mereka menerima ilham, dan mereka percaya pada hal itu, jadi mereka yang mendustakan terhadap Nabi-Nabi tidak menolak keberadaan ilham, tetapi mereka selalu mengatakan ilham-ilham para Nabi itu dibuat-buat saja dalam rangka membuktikan pandangan mereka itu benar dan menghadapi para Nabi. Inilah juga yang dikatakan oleh para penentang Nabi Muhammad saw dengan mengatakan bahwa beliau saw membuat-buat wahyu dari diri beliau saw sendiri.

 Jika perkataan orang Kristen dan Yahudi ini benar bahwa wahyu Nabi Muhammad saw itu dibuat oleh beliau sendiri –na’udzu billah- maka ghairat Allah menuntut untuk menurunkan atas mereka (penentang Nabi saw) ilham-ilham sebagai tandingan Nabi saw supaya memperjelas pengada-adaan tersebut dan membuat terang masalah mereka. Namun, Allah Ta’ala memuliakan kami dibanding mereka (Yahudi dan Nashrani) dalam hal ilham yang menunjukkan Rasul saw berada di posisi yang benar dan para penentang beliau dari kalangan Yahudi dan Nashrani itu tidak benar.”

Beliau bersabda, “Suatu hal yang aneh jika ada seseorang yang menyesatkan makhluk Tuhan siang dan malam serta menarik orang-orang ke jalan yang salah dengan makar dan penipuannya lalu tidak timbul sifat ghairat (kecemburuan atau ketersinggungan) Allah. Jika Allah tidak menunjukkan kecemburuannya maka sebabnya tidak ada selain Allah Yang Maha Mengetahui bahwa Tn. Maulwi telah sangat jauh dari kedekatan-Nya, sehingga Dia tidak turunkan kepadanya wahyu (ilham). Maka, dari awal itu tertutup baginya, mata rantai ini berlangsung sejak awal dan akan tetap berlanjut.”[4]

Selalu saja para penentang melakukan keberatan, tetapi mereka tidak menawarkan apa-apa sebagai perbandingan untuk menolak kebenaran dan mereka tidak mampu untuk melakukannya. Kami menawarkan ilham-ilham kami atau kasyaf-kasyaf kami dengan didukung Allah, tapi mereka tidak dapat melakukannya karena tahu akan dihukum jika mereka melakukannya [mengada-adakan kedustaan].

Saat ini saya hendak menyajikan beberapa ilham Hadhrat Mushlih Mau’ud ra dan juga kasyaf-kasyaf beliau yang telah beliau jelaskan terkait pengumuman beliau sebagai Mushlih Mau’ud. Beliau bersabda, “Yang pertama kali menunjuk pada kedudukan ini ialah ilham saya yang saya terima pada masa kehidupan Hadhrat Masih Mau’ud as. Ketika itu saya menceritakannya kepada beliau as dan beliau as memasukkan ilham itu dalam buku beliau as yang berisi daftar ilham.

Saya pun beberapa kali memberitahukan ilham itu kepada orang-orang. Awalnya saya mengira itu hanya berkaitan dengan Khilafat saja. Namun, sekarang saya berubah pikiran bahwa ilham ini menunjuk pada kedudukanku yang mana Allah Ta’ala memuliakanku dengannya. Ilham itu ialah, إنَّ الَّذِينَ اتَّبَعُوكَ فَوْقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ ‘Pastilah, orang-orang yang mengikuti engkau akan unggul di atas mereka yang menentang engkau hingga hari kiamat.’

Dalam ilham itu terkandung isyarat halus urutan penyempurnaan nubuatan; dan ilham yang diterima Hadhrat Masih Nashiri dan juga telah disebutkan oleh Al-Qur’an, kalimatnya ialah وَجَاعِلُ الَّذِينَ اتَّبَعُوكَ فَوْقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ (Surah Ali Imran, 3:56). Sedangkan ilham yang turun padaku ialah إنَّ الَّذِينَ اتَّبَعُوكَ فَوْقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. Penyebab hal itu ialah pendakwaan Hadhrat Al-Masih Nashiri (orang Nazaret) sebagai yang terakhir dari Nabi-Nabi mata rantai Musawi dan pada jenis pendakwaan ini pada awalnya orang-orang pasti menentangnya. Kemudian, setelah beberapa lama mereka pun beriman kepada Nabi itu. Namun, dikarenakan Allah ingin memenuhi nubuatan yang berkaitan dengan Mushlih Mau’ud yang akan Dia jadikan Khalifah, dan seiring dengan itu bagi Khalifah itu tersedia Jemaat yang telah didirikan sehingga atas hal itu tidak perlu kalimat وَجَاعِلُ الَّذِينَ ‘dan kami jadikan orang-orang’.

Ketika Hadhrat Al-Masih as mengemukakan di depan orang-orang pendakwaannya sebagai Nabi maka orang-orang yang mendengarkannya mulai berkata-kata tentangnya dengan mendustakannya. Tetapi jika ada orang yang mempunyai sifat Abu Bakr lalu beriman maka ini hal lain. Jika pun demikian, saat seorang Nabi mengumumkan kenabiannya, umumnya seluruh dunia menentangnya dengan menetapkannya berdusta. Dalam hal itu, pada masa permulaan dakwah Nabi Muhammad saw yang mengimani beliau saw hanya 3 orang saja. Namun, kepada Khalifah telah tersedia sebuah Jemaat yang mengikuti mereka sejak hari pertama mereka menjadi Khalifah.

Ringkasnya, Allah Ta’ala mengisyaratkan pada firman-Nya إنَّ الَّذِينَ اتَّبَعُوكَ فَوْقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ itu, ‘Aku (Allah Ta’ala) akan menganugerahimu sebuah Jemaat yang telah Ku-buat sebelumnya. Kemudian, ikatan Jemaat denganmu begitu kuat sehingga suatu hari ia akan dinamai sebagai Jemaat engkau secara zhilli (refleksi). Sebagian kalangan akan menentangmu namun hingga hari kiamat Allah akan memberi keunggulan (kemenangan) kepada orang-orang yang berbaiat kepadamu diatas orang-orang yang ingkar kepadamu. Keunggulan ini sejak engkau menjadi Imam.

Terkait:   Keteladanan Para Sahabat Nabi Muhammad (saw) (Manusia-Manusia Istimewa, seri 59)

Tidak akan ada perlunya bagian وَجَاعِلُ الَّذِينَ اتَّبَعُوكَ yang artinya, “Engkau menunggu-nunggu hingga sampai kapan orang-orang beriman padamu atau sebagian besar orang menentangmu dan melontarkan fatwa menentangmu, mengolok-olokanmu, berusaha menghinakanmu, merancang kehancuranmu dan melemparkan badai penentangan dari awal dunia hingga akhir” melainkan Allah Ta’ala akan memberimu kebanyakan orang dari Jemaat yang sudah didirikan oleh Hadhrat Masih Mau’ud as (Dia akan memberikannya pada Mushlih Mau’ud) dan hari engkau menerima Jemaat ini akan menjadi permulaan kemenangan orang-orang yang mengimanimu diatas mereka yang menolakmu.’”

Sabda beliau ra (Hadhrat Mushlih Mau’ud ra) selanjutnya, “Perhatikanlah, inilah yang telah terjadi. Jemaat Al-Masih dari Nazaret meraih kemenangan setelah 300 tahun namun pada Jemaat ini ialah sejak Allah menegakkanku pada kedudukan Khilafat, Dia memberiku dan para sahabatku kemenangan diatas mereka yang berdiri menentangku dan mengingkari kedudukanku, yaitu para Paighami (penentang Khilafat, golongan Ahmadiyah Lahore) dan kemenangan ini bertambah terus hari demi hari dengan karunia Ilahi.

Orang-orang Paighami mengatakan saya begitu berpusat hanya pada satu ilham saja – yaitu ru-ya yang menjadi dasar beliau mendakwakan diri sebagai Mushlih Mau’ud – padahal bukan hanya sekedar ru-ya karena di dalamnya terdapat kalimat-kalimat. Namun ilham ini yang saya sebutkan baru saja ialah ilham dan itu saya telah kemukakan 40 tahun. Allah telah mengabarkan bahwa saya kan menjadi Imam sebuah Jemaat.

Sebagian akan memusuhi saya sedangkan mayoritas Jemaat mengikuti saya, dan mereka yang mengikuti saya (menerima Khilafat) akan Allah jadikan unggul diatas yang lain. Firman-Nya, إنَّ الَّذِينَ اتَّبَعُوكَ فَوْقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ menunjukkan bahwa Allah akan menamai saya Al-Masih an-Nashiri dan Al-Masih al-Muhammadi secara zhilli, sebab Jemaat Khalifah akan terjadi pada masanya dan Jemaat para Nabi atau zhilli mereka akan terus berlanjut bahkan hingga setelah kewafatan mereka, kata ‘kafaruu’ (orang-orang ingkar) mengisyaratkan setelah Khilafat, saya meraih martabat lain menjadi zhilli sebagian para Nabi. سبحان الله لا يُسأل عما يفعل ‘Maha Suci Allah yang tidak ditanyai mengenai apa-apa yang Dia lakukan’.”[5]

Beliau bersabda, “Hal kedua, saya melihat kasyaf dalam kehidupan Hadhrat Masih Mau’ud as yang mana itu menunjukkan pada kedudukan ini. Saya melihat diri saya keluar dari kamar yang ditinggali oleh beliau as menuju halaman rumah dan mendapati beliau as tengah duduk. Saat itulah seseorang datang dan memberikan sebuah bingkisan sembari berkata, ‘Bagi engkau sebagian dan bagi Hadhrat Masih Mau’ud as juga sebagian.‘ Dalam keadaan kasyaf ketika saya melihat pada tema yang tertulis di bingkisan itu maka menjadi tampak jelas bagi saya bahwa tertulis dua nama juga di sana. Alamat yang tertulis ialah sebagai berikut, ‘Supaya disampaikan kepada Muhyiddin dan Mu’inuddin’.

Pada waktu itu, dari kasyaf, saya pun paham bahwa salah satu dari dua nama ini ialah untuk Hadhrat Masih Mau’ud as dan satu lagi untuk saya. Dikarenakan saat saya masih anak-anak saya tidak pernah mendengar nama Muhyiddin ibn Arabi dan saya tahu tentang Aurangzeb saja yang nama beliau juga Muhyiddin sehingga saya beranggapan maksud Muhyiddin ialah saya. Adapun nama Mu’inuddin Chisti amat terkenal di India sebagai seorang saleh sehingga saya juga beranggapan nama itu maksudnya ialah Hadhrat Masih Mau’ud as.

Tetapi, setelah itu saya pun mengetahui Muhyiddin ibn Arabi juga seorang saleh agung, dan saya pun paham bahwa maksud dari nama Muhyiddin ialah Hadhrat Masih Mau’ud as yang artinya seorang yang menghidupkan agama. Sedangkan maksud Mu’inuddin ialah saya yang membantu agama. Jadi, Muhyiddin ialah Masih Mau’ud dan saya adalah Nashir (penolong) uddin (agama) dan juga Mu’iin (pembantu)nya. Sebagaimana seorang ibu melahirkan anak dan menyusui anak yang masih menyusu.”[6]

Selanjutnya Hadhrat Mushlih Mau’ud ra menjelaskan yang ketiga, “Saya telah menyampaikan ilham ketika tetapi itu setelah kewafatan Hadhrat Masih Mau’ud as dan nashnya ialah اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا artinya ‘Kerjakanlah perintah-perintah Allah dengan rasa syukur kepada-Nya, wahai keluarga Daud!’. Dan dengan firman-Nya, اعْمَلُوا ‘Kerjakanlah’ dalam ilham ini, Allah Ta’ala mengarahkan perhatian kita pada perbuatan yang sesuai persis dengan kehendak-Nya. Dengan Firman-Nya, ‘Keluarga Daud’ berarti saya diumpamakan seperti Sulaiman. Telah diketahui bahwa Hadhrat Sulaiman as ialah seorang Khalifah setelah Hadhrat Daud as ‘alaihimas salaam dan putranya juga.”

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra melanjutkan, “Saya ingat bahwa ilham itu diilhamkan kepada saya dengan kuat sehingga pengaruh kualitas turunnya masih berlangsung dalam waktu lama. Ilham itu begitu jelas sehingga pernah terjadi suatu kali saya menceritakannya semasa dengan saya kepada ketika tengah berjalan-jalan setelah wafatnya Hadhrat Masih Mau’ud as. Namun, pemikiran kewafatan beliau hilang dari di ingatan saya tanpa saya sadari dan muncul semangat kuat pada diri saya untuk pergi kepada beliau dan menceritakan ilham ini, padahal saat itu beliau sudah wafat.”[7]

Hadhrat Mushlih Mau’ud ra melanjutkan, “Kesaksian keempat yang membenarkan ru-ya ini ialah saya melihat dalam kasyaf seseorang tengah duduk di Baitud Dua dan saya diberi pemahaman dalam kasyaf tersebut bahwa itu adalah Hadhrat Masih Mau’ud as. Saya berdoa kepada Allah dan dibukakanlah kepada saya secara mendadak bahwa beliau as adalah Ibrahim. Kemudian, disingkapkanlah padaku bahwa dalam umat ini sangat banyak Ibrahim. Sebagai contoh, saya diberitahu bahwa Hadhrat Khalifah Awal juga Ibrahim dan saya diberitahu namanya Ibrahim Adham. Telah diketahui bahwa Adham ialah raja yang meninggalkan kerajaannnya dan cenderung ke Tasawuf. Saya diberitahu pula bahwa Khalifah Awal ialah Ibrahim Adham. Saya juga diberi kabar mengenai diri saya, ‘Engkau pun adalah seorang Ibrahim’.”[8]

Terkait:   Riwayat Umar bin Khattab (Seri 12)

Dalam menjelaskan kesaksian kelima, beliau ra bersabda,”Kesaksian kelima yang saya terima dari Allah terkait hal ini menjelang wafat Hadhrat Masih Mau’ud as ialah pengalaman saya melihat sebuah ru-ya pada suatu hari. Saya melihat sebuah lonceng yang darinya terdengar sebuah bunyi seperti wadah kuningan yang dipukul. Dari lonceng itu keluar seperti persis suara berdentang. Namun, suara ini menggema (mendengung ke udara) dan bagus seperti berirama musik yang ada di seluruh dunia. Suara itu bertambah setahap demi setahap sehingga meliputi seluruh cakrawala.

Kemudian timbullah sebuah bingkai seperti bingkai-bingkai potret. Kemudian dalam bingkai itu mulai timbul sebuah gambar. Kemudian, saya lihat dalam gambar itu timbul sebuah gerak dan menjadi sebuah wujud yang indah dan sangat elok. Wujud gambar yang elok itu mulai bergerak dan keluar dari bingkai. Secara tiba-tiba ia datang kepada saya. Ketika itu perasaan saya berkata ini adalah seorang Malaikat. Malaikat itu berkata kepada saya, ‘Kemarilah, aku akan mengajarkan tafsir Fatihah kepadamu.’

Kemudian mulailah Malaikat itu mengajarkan tafsir Al-Fatihah kepada saya sehingga sampai kepada ‘iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in’. Sampai di sini dia berkata kepada saya, ‘Sampai saat ini berapa saja tafsir yang sudah ditulis orang, dia hanya sampai ke ayat maaliki yaumiddiin ini. Namun, saya akan mengajarkanmu tafsir ayat-ayat sesudahnya. Maka, ia mengajarkan tafsir Surah Al-Fatihah seluruhnya.

Ketika mata saya terbuka, maka saya lihat hanya ingat beberapa hal saja dari apa-apa yang malaikat ajarkan dalam ru-ya. Tapi, saya belum sempat menuliskannya dan kemudian lupa setelahnya. Pada pagi hari saya menceritakan hal ini kepada Khalifah Awal bahwa seorang malaikat telah mengajarkan kepada saya dalam mimpi yang saya ingat sebagian saat terbangun tidur tapi saya tidak ingat lagi setelahnya. Khalifah Awwal bersabda dengan marah, ‘Anda telah menyia-nyiakan ilmu yang banyak. Seharusnya Anda telah menuliskannya.’”

Beliau ra melanjutkan, “Allah masih tetap mengajarkan saya pokok-pokok bahasan baru Surah Al-Fatihah sejak hari itu dan hingga sekarang juga. Contohnya itu ialah setelah ru-ya tersebut saat saya berpikir mengenai pembentukan Nizham yang jelas untuk membuat ishlaah Jemaat dan untuk membuktikan keunggulan-keunggulan Nizham Islami, Allah Ta’ala melalui surah Al-Fatihah menjelaskan sebuah Nizham yang jelas dan sempurna yang mengandung cara-cara yang dikedepankan Islam. Penjelasan itu sedemikian rupa sampai-sampai pihak yang memusuhi heran atas perkara ini dan tidak lain selain mengakui keunggulan peradaban Islami.

Dengan mengamalkan program ini terkandung perbaikan semua kesalahan yang dilakukan oleh umat Muslim dalam memahami Nizham Islam dan Nizham peradaban setelah Nabi Muhammad saw. Allah Ta’ala telah membuat saya paham hal itu semua melalui sarana Surah Al-Fatihah. Tafsir hakiki atas ru-ya itu ialah kekuatan-kekuatan batiniah saya telah menyimpan ilmu Surah Al-Fatihah secara khusus dan pemahaman Al-Qur’an secara umum; dan ilmu ini muncul dengan perantaraan ilham batini di suatu dan lain waktu sesuai tuntutan kebutuhan.”[9]

Selanjutnya beliau ra menjelaskan sebuah ru-ya lainnya, “Pada masa terjadinya perselisihan di dalam Jemaat ini, Allah Ta’ala menurunkan ilham kepadaku, “لنمزّقنّهم” ‘Kami akan memecah mereka menjadi berkeping-keping.’ Orang-orang yang meninggalkan Jemaat Mubayyi’in (yang berbaiat) pada masa itu menyebut diri berjumlah 95% dari total Jemaat, namun bagaimana keadaan mereka sekarang? Mereka benar-benar dibuat pecah berkeping-keping oleh Allah Ta’ala sesuai dengan nubuatan. Sebelum kewafatannya, Tn. Khawaja Kamaluddin menulis, ‘Ilham yang Tn. Mirza Mahmud Ahmad terbitkan mengenai diri kami benar-benar terjadi dan kami telah pecah berkeping-keping.’”

Kemudian beliau ra bersabda, “Ringkasnya, Allah Ta’ala telah menampakkan padaku kegaiban-Nya berkali-kali dan dengan itu terpenuhilah nubuatan Mushlih Mau’ud akan dimuliakan dengan ruh haq (ruh kebenaran). Inilah tanda-tanda dari Allah yang Dia tampakkan melaluiku.“ Maka, demikianlah yang Hadhrat Mushlih Mau’ud ra katakan sendiri. Ini dan masih banyak lagi rincian lain yang panjang mengenai nubuatan.

Di hari-hari ke depan akan ada penyelenggaraan Jalsah di berbagai Jemaat seputar bahasan nubuatan ini. Ada pasti program di MTA dalam hal ini. Para anggota Jemaat harus berusaha sekuat tenaga untuk ikut serta dalam Jalsah-Jalsah ini dan menyimak program televisi saluran kita supaya mereka mengetahui nubuatan itu secara mendalam. Nubuatan tersebut mengandung banyak tanda yang mencapai 50 atau 55, bahkan telah dirinci darinya menjadi 60 tanda yang disebutkan oleh Hadhrat Mushlih Mau’ud ra. Setiap dari tanda itu telah sempurna dengan kuat dan cemerlang dalam pribadi Hadhrat Mushlih Mau’ud ra.

[1] Abul Muzaffar MuhyidDin Muhammad Aurangzeb, dikenal dengan Aurangzeb Alamgir dan gelar kekaisarannya Alamgir (1658-1707, raja Mughal, setelah Shah Jahan (ayahnya, nama kecil Khurram), Jahangir (kakeknya, nama kecil Salim) dan Jalaluddin Akbar, 1556-1605, buyutnya).

[2] Umar bin Abdul Aziz bin Marwan bin Hakam bin Abul Ash bin Umayyah bin Abdusy Syams bin Abdu Manaf bin Qusyay. Ibunya bernama Laila Ummu Asim binti Asim bin Umar bin Khaththab (Khalifah Rasyid ke-2). Menyatu dalam jalur silsilah dengan Nabi Muhammad saw pada Hasyim bin Abdu Manaf bin Qusyay. Bersatu dalam jalur keluarga Khalifah Utsman dengan silsilah‘Utsman bin Affan bin Abul Ash bin Umayyah bin Abdusy Syams. Juga dengan Muawiyah bin Sakhr (Abu Sufyan) bin Harb bin Umayyah bin Abdusy Syams. Umar bin Abdul Aziz lahir di Mesir pada 61 H/682-683 saat ayahnya menjabat Amir (gubernur) Mesir. Menjalani remaja dan pendidikan agama dengan beberapa sahabat Nabi saw dan para anak-anak sahabat di Madinah. Menjadi Amir Hejaz (Madinah, Makkah dsk) pada 706 (umur 28 tahun). Mendapat wasiat untuk menjadi Khalifah oleh Sulaiman bin Abdul Malik bin Marwan. Beliau menjadi Khalifah pada 717 dan wafat pada 720 (101 H awal abad ke-2 Hijrah). Beliau juga mendapat penentangan dari sebagian keluarga Umayyah sejak menjadi Amir Hejaz. Wafat di usia 39 tahun.

[3] Khuthutbaat-e-Mahmud, jilid 21, h. 59-60

[4] Anwarul ‘Ulum jilid 18, h. 240

[5] Khuthbaat-e-Mahmud, jilid 25, h. 85-87

[6] Khuthbaat-e-Mahmud, jilid 25, h. 89-90

[7] Khuthbaat-e-Mahmud, jilid 25, h. 90

[8] Khuthbaat-e-Mahmud, jilid 25, h. 90

[9] Khuthbaat-e-Mahmud, jilid 25, h. 90-95

Begin typing your search above and press return to search.
Select Your Style

You can choose the color for yourself in the theme settings, сolors are shown for an example.