‘Perdamaian dunia akan terwujud jika kita menyadari Tuhan’ adalah pidato yang disampaikan oleh Hazrat Mirza Masroor Ahmad (aba), Pemimpin Dunia Jamaah Muslim Ahmadiyah, pada kesempatan Simposium Perdamaian ke-8 di UK pada Sabtu, 26 Maret 2011. Dalam simposium yang dihadiri para menteri, anggota parlemen dan berbagai tokoh ini beliau menyampaikan bahwa perlunya persatuan dan upaya bersama untuk mewujudkan perdamaian, di mulai dari lingkungan yang paling kecil. Untuk menciptakan perdamaian diperlukan syarat yaitu tegaknya keadilan, ketulusan dan saling membantu bukan mementingkan diri sendiri, dan semua prasyarat itu akan berjalan maksimal jika kita semua menyadari Tuhan, sang Pencipta kita, yang akan menumbuhkan semangat beribadah dan semangat membantu dan menunaikan hak-hak sesama.

Perdamaian Dunia akan Terwujud jika kita Menyadari Tuhan

Setelah membaca Tasyahud, Ta’awwudh dan Bismillah, Hazrat Khalifatul Masih V (aba) mengatakan:

Para tamu yang terhormat, Assalamu ‘alaikum warohmatullahi wa barokaatuhu.

Hari ini, kita kembali berkumpul di sini setelah periode satu tahun sesuai dengan tradisi tahunan kita sekarang. Pertemuan ini sekarang telah menjadi agenda tetap dalam kalender Ahmadiyah dan mayoritas orang yang hadir adalah teman baik kami dari luar komunitas.

Acara ini hanya memiliki satu tujuan, yaitu wadah kita untuk berkumpul dan duduk bersama dalam lingkungan yang bersahabat, membicarakan satu cita-cita dan berbagi satu tujuan yang kita junjung. Dan tujuan bersama ini adalah mempromosikan cinta, kasih sayang, persaudaraan dan perdamaian.

Meskipun penyelenggara Konferensi Perdamaian ini adalah Muslim Ahmadi, dan meskipun kami tidak terlalu disukai oleh beberapa komunitas Muslim atau kelompok Islam lainnya, kami tetap memiliki sahabat Muslim yang hadir di sini, yang datang dengan senang hati ke pertemuan ini. Demikian pula, para sahabat kami dari Kristen, Yahudi, Hindu dan sahabat-sahabat dari Sikh juga telah hadir dalam acara ini. Bahkan dari orang ateis juga hadir.

Selain itu, orang-orang dari berbagai negara dan bangsa datang untuk menghadiri acara ini. Saya diberitahu bahwa hari ini kita memiliki perwakilan dari hampir sepuluh negara. Dengan demikian, pertemuan ini adalah sebuah manisfestasi bahwa orang-orang yang baik berkumpul untuk mempertahankan dan mengembangkan nilai-nilai kemanusiaan, terlepas dari perbedaan dan sudut pandang agama, budaya, politik dan kebangsaan, sehingga ini menunjukkan kemanusiaan mereka. Orang-orang datang ke sini berupaya mengadopsi nilai bersama yang dengannya perdamaian dan harmoni dapat dibangun di dunia. Dengan kata lain, ini merupakan contoh kecil dari pertemuan multikultural dan multinasional untuk suatu tujuan yang sama.

Meskipun pertemuan ini tidak dapat secara langsung meningkatkan perdamaian dunia, tetapi, dengan saling bersatu kita dapat meningkatkan nilai-nilai kemanusiaan dalam diri kita.

Saat ini, banyak negara di dunia yang memiliki masyarakat multikultural dan menjadi rumah bagi berbagai agama. Dengan saling mendengarkan pandangan dan pendapat satu sama lain, dan dengan sering berkumpul, keraguan dan kecurigaan akan hilang secara alami dan juga meningkatkan toleransi. Ketika Anda mulai berteman dengan orang lain meski hanya sampai tingkat yang terbatas, maka hal-hal yang sangat kecil dan remeh tidak lagi menjadi masalah, bahkan diabaikan. Lebih jauh, ketika kita berinteraksi satu sama lain, secara alami hal itu akan menjadikan kita lebih terbuka dan murah hati.

Inggris adalah salah satu negara yang telah menjadi rumah bagi orang-orang dari berbagai bangsa, budaya dan agama di dunia. Meskipun dibandingkan dengan negara-negara yang lebih besar, Inggris relatif lebih kecil, namun kelapangan hati penduduknya telah menjadikannya sebesar dunia itu sendiri.

Secara umum, beberapa negara Eropa melancarkan keberatan yang besar terhadap ajaran dan tradisi Islam. Bahkan, beberapa negara telah menetapkan pembatasan tertentu pada ajaran dan tradisi Islam, sementara yang lain masih mempertimbangkan menerapkannya. Namun, di Inggris hal ini tidak terjadi. Karena sifat terbuka dan progresif dari masyarakat Inggris, ada pengaruh yang positif di sini, sehingga partai politik mana pun yang berkuasa, ia tidak mempermainkan sentimen umat beragama ketika membahas masalah-masalah keagamaan. Saya berdoa semoga semangat keadilan ini tetap menjadi prinsip mereka.

Pada saat Inggris berkuasa di India, Pendiri Jamaah Muslim Ahmadiyah (as) memuji semangat keadilan bangsa Inggris ini dan beliau berulang kali memujinya. Secara khusus beliau memuji Pemerintah karena tidak mengganggu prinsip kebebasan beragama. Jika para misionaris Kristen memiliki kebebasan penuh untuk mengkhotbahkan iman mereka, maka umat Islam pun memiliki kebebasan penuh untuk menjalankan dan menyebarkan agama mereka.

Selama periode itu beberapa kasus pengadilan diajukan terhadap Pendiri Jemaat Ahmadiyah (as). Alasan utama yang mendasari berbagai tuduhan ini adalah penentangan keagamaan kelompok Muslim lain, Kristen dan Hindu terhadap Pendiri komunitas kami. Kasus-kasus pengadilan ini diketuai oleh orang Kristen, Hakim Inggris di Pengadilan dan beberapa kasus diajukan oleh orang Kristen sendiri. Namun pengadilan Inggris menegakkan keadilan dan mengeluarkan putusan yang memberatkan orang-orang yang seagama dengan mereka sendiri. Dengan demikian, di bawah Pemerintah Inggris, setiap warga negara diberikan hak yang sama. Hanya melalui integritas seperti itu perdamaian dapat dibangun dalam suatu masyarakat. Saya berharap dan menginginkan bahwa bangsa Inggris akan terus mempertahankan sifat berharga ini dan bahkan dalam situasi dunia saat ini mereka dapat memainkan peran mereka dengan cara yang sama.

Upaya Bersama Menciptakan Perdamaian Dunia

Saya baru saja mengatakan bahwa pertemuan ini adalah pertemuan negara-negara yang berbeda dan tujuannya adalah untuk memperjuangkan perdamaian dan menumbuhkan cinta dan persaudaraan. Tapi kita hanya bisa berjuang di masyarakat dan lingkungan kita sendiri. Malam ini para tamu di sini berasal dari berbagai segmen masyarakat. Misalnya, ada yang terkait dengan politik, ada dari pemerintah dan ada yang berasal dari kalangan diplomatik. Sebagian yang lain berasal dari organisasi dan kelompok-kelompok yang berusaha mewujudkan perdamaian dunia, seperti sahabat kami yang terhormat, Lord Eric Avebury, yang selalu berada di garis depan dalam mempromosikan hak asasi manusia.

Demikian pula, juga hadir bersama kita anggota parlemen kita, Siobhain McDonagh, yang telah memenuhi hak persahabatan dan keadilan. Saya juga harus menyebutkan Anggota Parlemen Dominic Grieve yang Terhormat, dan Ed Davey. Mereka semua telah membantu kami dalam mempromosikan perdamaian sesuai kemampuan kami. Terkadang sulit untuk menunaikan hak-hak persahabatan, di saat yang bersamaan juga menegakkan melaksanakan keadilan. Tetapi saya menghargai semua sahabat dan para pemimpin politik ini yang telah menjalankan kedua tugas ini.

Saya sungguh percaya bahwa jika semua tamu terhormat kami sama-sama berjuang untuk perdamaian dunia di ruang lingkup masing-masing, maka – seiring berjalannya waktu, mereka akan berkembang dan dapat melangkah lebih jauh dalam memainkan peran menciptakan perdamaian di seluruh dunia.

Berkenaan dengan peran komunitas kami, Jamaah Muslim Ahmadiyah, kami memiliki hasrat yang kuat untuk membangun perdamaian dan mengakhiri kekejaman berdasarkan ajaran Islam yang benar. Tetapi sayangnya, dalam praktik-nya kami tidak dapat mencapai ini karena kami tidak memiliki kekuatan dalam hal duniawi. Kami adalah komunitas keagamaan yang relatif kecil, sehingga tidak dianggap signifikan oleh dunia. Namun demikian, tujuan-tujuan yang kami gaungkan ini pada akhirnya membawa kami melakukan peran nyata untuk perdamaian, yang fondasinya didasarkan pada ajaran Islam yang sejati. Dunia akan mengakui nama “Islam” itu sendiri merupakan sumber perdamaian dan keamanan.

Ajaran Islam memerintahkan kita untuk membantu penindas maupun yang tertindas. Ketika para sahabat Rasululah (shallallahu ‘alaihi wasallam) diberitahu mengenai hal ini, mereka bertanya kepada beliau: Bagaimana menolong penindas itu? Beliau menjawab dengan bersabda bahwa kalian dapat membantunya dengan menghentikan tangannya, yaitu mencegahnya berbuat kejahatan. Para penindas berpikir bahwa dengan kekerasan dia dapat menaklukkan lawannya, tetapi orang-orang beriman percaya bahwa Allah Ta’ala adalah pemilik semua kekuatan, dan Dia pasti akan menghukum orang-orang zalim. Jadi, cara membantu penindas adalah dengan menghentikannya melakukan kekejaman, yang dengan itu akan menyelamatkannya dari murka Ilahi.

Terlepas dari kenyataan bahwa saat ini Jamaah kami tidak memiliki sarana yang nyata untuk menghentikan kezaliman dari para pelakunya, berdasarkan hak-hak yang dimiliki penindas dan yang tertindas yang harus ditunaikan, kami terus berupaya untuk menghentikan semua bentuk kekejaman dengan memberikan bimbingan kepada orang lain sejauh yang dapat dilakukan, atau dengan menarik perhatian para penguasa atau melalui doa-doa kami.

Jika pemerintah dan organisasi yang memiliki kekuasaan ataupun organisasi internasional tidak menunaikan peran mereka guna membangun perdamaian di dunia, maka meskipun memegang kekuasaan, kekuatan tersebut pada akhirnya menjadi tidak berguna.

Sekarang, jika kita menilai dan menimbang PBB, maka kita melihat bahwa dalam sejarahnya – kecuali dalam beberapa kesempatan, PBB tidak pernah memenuhi persyaratan keadilan sehingga mereka gagal menjalankan perannya dengan baik. Hal ini dikarenakan adanya faktor-faktor penghambat penegakan keadilan, seperti materialisme, pembentukan blok dan aliansi, kepentingan pribadi, permusuhan dan dendam pribadi. Jadi, PBB tidak berhasil membangun perdamaian karena PBB belum menunjukkan sikap netral dan perlakuan yang adil.

Seperti yang telah saya katakan, hampir semua dari kita yang hadir di sini, tidak dapat menciptakan perdamaian bagi dunia karena kita tidak memiliki kekuatan atau sumber daya untuk melakukannya. Meskipun demikian, kita tidak perlu berkecil hati dengan keadaan yang terjadi di dunia saat ini. Di setiap level kita harus melakukan upaya terbaik dan berkesinambungan. Jika di ruang lingkup yang paling kecil kita dapat memengaruhi orang lain supaya bersikap adil, maka kita tidak akan pernah melewatkan kesempatan seperti itu. Itulah sebabnya kami mengadakan Simposium Perdamaian ini setiap tahun, dan mengapa secara umum setiap kali ada kesempatan, kami menyerukan perdamaian di masyarakat.

Oleh karena itu, akan tiba masanya ketika orang-orang yang mendambakan keadilan akan berdatangan dari tempat yang jauh, karena pelajaran dasar yang diberikan oleh pendiri Jemaat Ahmadiyah (as) adalah perdamaian tidak dapat dibangun tanpa keadilan. Dan keadilan tidak dapat dibangun tanpa membentuk hubungan dengan Wujud yang Maha Tinggi. Hubungan kepada Sang Pencipta dunia ini adalah prasyarat tegaknya keadilan.

Berbuat Baik kepada Sesama

Allah Ta’ala telah memberi kita berkah yang tak terhitung jumlahnya dari semua jenis. Dan Dia telah mengajarkan kepada kita bahwa selain menjalin hubungan dengan-Nya, tugas kita yang paling penting adalah memenuhi hak-hak sesama, pria maupun wanita.

Sungguh, pendiri Jemaat Ahmadiyah (as) telah memerintahkan kami bahwa dalam kondisi tertentu, hak-hak umat manusia bahkan lebih penting daripada hak Allah Ta’ala. Kami menemukan banyak contoh tentang hal ini dalam kehidupan Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) yaitu hak-hak yang dimiliki umat manusia harus dipenuhi sebelum hak-hak terhadap Allah; misalnya, Shalat Fardu dapat dikerjakan di waktu lain dan mendahulukan untuk mengkhidmati umat manusia.

Kami para Ahmadi percaya bahwa di masa ini, Pendiri Jemaat Ahmadiyah (as), yang kami yakini sebagai Al-Masih yang Dijanjikan dan Mahdi, telah diutus oleh Allah Ta’ala untuk menegakkan kembali ajaran Islam yang sejati. Beliau telah menulis di salah satu bukunya:

‘Tugas yang untuk itu Tuhan telah mengutusku adalah untuk menghilangkan kekotoran yang muncul dalam hubungan antara Tuhan dengan makhluk-Nya, lalu menegakkan kembali hubungan cinta dan keikhlasan di antara mereka. Dengan menyatakan kebenaran dan dengan mengakhiri segala pertikaian agama, saya harus mewujudkan perdamaian dan menampakkan kebenaran Ilahi yang telah tersembunyi dari mata dunia.’

Jadi, jika manusia memahami prinsip tentang pentingnya menciptakan hubungan yang penuh kasih dengan Tuhan, dan jika Anda memahami bahwa Allah adalah Wujud yang mencintai makhluk-Nya, maka manusia akan secara alami mengembangkan cinta kasih kepada orang lain tanpa mengutamakan kepentingan pribadi mereka sendiri.

Pentingnya Keadilan dan Kejujuran

Nasihat lain yang sangat bijak yang telah beliau berikan adalah bahwa dengan mewujudkan kebenaran, perang agama akan berakhir. Bahkan perang agama tidak hanya akan berakhir, tetapi juga fondasi perdamaian dan rekonsiliasi akan diletakkan.

Meskipun kita telah melihat upaya-upaya untuk mewujudkan perdamaian dan rekonsiliasi tetapi masih banyak kekecewaan yang muncul. Karena kekecewaan yang berusaha dihilangkan atau perdamaian yang dibangun tidaklah didasari oleh kejujuran. Fondasi sejati perdamaian adalah kejujuran yang berasal dari hati.

Meskipun kita melihat bahwa di dunia sekarang ini perang agama tidak benar-benar terjadi, namun rasa dendam dan niat buruk masih muncul antara satu sama lain. Seperti yang saya sebutkan sebelumnya, dampak dari perang tanpa senjata ini terjadi di beberapa negara, yaitu praktik-praktik keagamaan dan tradisi umat Islam yang sebenarnya tidak membahayakan kini dibatasi atau dilarang. Kemudian dikatakan bahwa langkah-langkah ini tidak ada kaitannya dengan agama tetapi batasan itu diperlukan untuk membantu umat Islam berintegrasi ke dalam masyarakat setempat.

Tentu saja ini adalah debat panjang yang tidak ingin saya sampaikan saat ini. Menanggapi langkah-langkah ini, sebagian dari umat Islam sangat terlecut dengan melakukan tindakan-tindakan yang justru bertentangan dengan Islam. Jadi di kedua sisi ketulusan tidak ditampilkan.

Sikap saling mencintai akan terbentuk jika ada ketulusan. Dan ketulusan mensyaratkan bahwa tidak boleh ada pertentangan antara apa yang ada di hati dan cara Anda bertindak terhadap dunia luar. Seseorang tidak sepatutnya memberikan gambaran yang palsu tentang dirinya sendiri. Standar kebenaran yang tinggi seperti itu biasanya tidak ditemukan di tingkat nasional atau internasional. Sebagai contoh, kita menyaksikan bagaimana di berbagai negara saat ini ada kekacauan politik domestik. Rakyat melawan pemimpin dan penguasa negara mereka. Kita menemukan contoh ini di negara-negara Arab, Teluk, Afrika Utara bahkan Afrika Barat, yang kita saksikan banyak pertentangan dan perselisihan internal.

Ini bisa menjadi ancaman bagi perdamaian dan keamanan internasional dan itulah sebabnya dunia yang lebih luas sangat menaruh kepedulian. Organisasi-organisasi internasional menekan pemerintah supaya memenuhi hak-hak publik dan menghentikan para penguasa supaya tidak menindas rakyat mereka, supaya nilai-nilai kemanusiaan dapat dipertahankan. Tetapi wujud integritas sejati adalah jika Anda ingin membantu rakyat suatu negara untuk menyelamatkan mereka dari penindasan para penguasanya, dan ingin menyelamatkan dunia dari kekacauan besar, maka masyarakat juga perlu diberi arahan bahwa mereka tidak boleh ikut melibatkan diri dalam bentuk-bentuk kekacauan atau melakukan tindakan-tindakan yang dapat merusak ekonomi bangsa.

Ketika perdamaian sudah terbangun maka harus terus dijaga dengan mengikuti prinsip ini. Namun yang terjadi, kebajikan sejati dan kejujuran tidak diterapkan. Inilah sebabnya mengapa mungkin terdapat dua negara yang berbeda yang menghadapi keadaan yang persis sama, tetapi dalam satu peristiwa, komunitas internasional mendukung pihak penguasa, dan dalam kesempatan lain mereka menembakkan rudal ke pasukan pemerintah, dengan alasan membebaskan rakyat.

Beberapa hari yang lalu, seorang jurnalis BBC mewawancarai seorang perwakilan Gedung Putih tentang keadaan terkini di dunia. Wartawan mengajukan pertanyaan bahwa ia tidak bisa mengerti mengapa Amerika mengambil pendekatan yang berbeda dengan Libya dibandingkan dengan Bahrain, Yaman dan negara-negara lain. Juru bicara tidak memiliki jawaban yang jelas atau tepat untuk pertanyaan ini.

Sekarang Anda dan saya sama-sama menyadari betul fakta bahwa kepentingan pribadi lebih diutamakan daripada kejujuran dan keadilan, berulang kali. Negara-negara kuat di dunia berkeinginan untuk mempertahankan kemudahan akses pada kekayaan dan sumber daya negara-negara tertentu, dan ingin menginginkan supaya negara-negara pesaing tidak memiliki akses penuh pada sumber daya tersebut. Itulah mengapa berbagai keputusan dibuat dengan dalih membantu rakyat, atau dengan alasan membangun perdamaian dunia.

Dua blok utama nampak seolah telah hancur di masa lalu, tetapi kenyataannya mereka tidak pernah hancur, tetapi hanya berhenti sesaat. Dalam tataran politik dan ekonomi dunia yang muncul saat ini, kami menemukan bahwa, blok-blok ini kembali membentuk formasi. Pada kenyataannya, faktor utama yang mendasari keadaan politik negara-negara ini adalah situasi ekonomi internasional saat ini, yang menarik kita ke arah perang dunia selanjutnya.

Jika kebenaran benar-benar ditampilkan maka negara-negara ini akan mendapatkan manfaat timbal balik dengan cara yang adil, dengan membentuk ikatan industri dan ekonomi yang tepat berdasarkan kesepakatan yang adil. Mereka tidak seharusnya mendapat keuntungan yang ilegal dari sumber daya satu sama lain, tetapi sebaliknya mereka harus bersatu dan saling membantu satu sama lain.

Al-Qur’an mengajarkan kita tentang kekayaan negara lain atau orang lain, dalam Surah Thaha [20] ayat 132 diterangkan:

‘Dan jangan sekali-kali engkau tujukan kedua mata engkau kepada apa yang telah Kami anugerahkan kepada beberapa golongan dari mereka berupa keindahan kehidupan dunia supaya Kami menguji mereka di dalamnya. Dan rezeki Tuhan engkau adalah lebih baik dan lebih kekal.’

Perintah ini diberikan karena adanya kegelisahan, kecemburuan dan permusuhan antar negara sebagian besar tercipta karena kekayaan dan sumber daya satu sama lain. Karena keserakahan maka muncullah perselisihan yang kemudian menimbulkan dampak yang serius. Salah satu penyebab utama perang dunia sebelumnya adalah karena rasa iri dengki.

Jadi, dalam upaya untuk menghindari kesalahan seperti itu, diturunkanlah perintah bahwa pihak-pihak yang memiliki sumber daya sedikit tidak boleh cemburu pada sumber daya pihak lain, dan demikian pula diperintahkan bahwa mereka yang memiliki sumber daya berlimpah harus peduli kepada pihak-pihak yang membutuhkan dan kurang mampu. Setiap bangsa telah diajarkan untuk mengikuti prinsip bahwa mereka harus memperoleh manfaat dari sumber daya orang lain, dengan cara yang sah.

Lagi pula, topik ini begitu luas sehingga tidak dapat dibahas sepenuhnya dalam waktu yang terbatas. Singkatnya, kekacauan yang terjadi akhir-akhir ini di dunia, baik dalam skala nasional maupun internasional, didasarkan hanya pada satu faktor – yaitu kurangnya keadilan, sehingga muncul kecemasan dan kegelisahan.

Pentingnya Menjalin Hubungan dengan Tuhan

Muncul pertanyaan, bagaimana situasi di dunia saat ini dapat diselesaikan? Saya telah memberikan jawaban untuk ini sebelumnya ketika mengutip tulisan-tulisan Pendiri Jemaat Ahmadiyah (as), di mana beliau berpesan kepada kita untuk menjalin hubungan dengan Tuhan dan menunjukkan kebenaran.

Dengan sangat menyesal saya harus mengatakan bahwa, dengan mengesampingkan orang-orang materialistik, orang-orang yang beragama dan bahkan menyatakan mewakili Islam, pada faktanya telah menyebarkan fanatisme agama. Namun, meskipun demikian, bukan berarti bahwa memiliki hubungan dengan Tuhan itu bukan sebuah solusi.

Jamaah Ahmadiyah mengklaim, dan orang-orang yang memiliki hubungan erat dengan kami menjadi saksi atas hal ini, bahwa kami tidak hanya menggaungkan slogan untuk perdamaian, tetapi sesungguhnya kami melakukan upaya nyata untuk membangun toleransi, kedamaian dan kesabaran, sehingga ajaran Islam sejati dapat diikuti dengan benar dan meraih keridhaan Tuhan menjadi hal yang diutamakan.

Setiap kali komunitas kami mendapat penderitaan atau kesedihan, kami menghadapinya dengan kesabaran dan lapang dada. Ketika kami kehilangan hak sebagai warga negara, kami bersabar dan lapang dada. Ketika kami kerugian finansial ditimpakan kepada kami secara sengaja, kami pun bersabar dan lapang dada. Ketika harta benda kami dijarah atau dihancurkan, kami bersabar dan lapang dada. Bahkan ketika jiwa kami direnggut, kami bersabar dan lapang dada.

Di Pakistan kami dilarang menjalankan keyakinan kami, tetapi meskipun demikian kami tidak membuat kekacauan. Pada bulan Mei tahun lalu, 86 orang Muslim Ahmadiyah disyahidkan di saat melaksanakan shalat Jumat. Kami menghadapi tragedi ini dengan sabar. Di Indonesia baru-baru ini, para Ahmadi disyahidkan dengan cara yang sangat biadab dan kejam. Kami tidak menanggapi dengan kekerasan atau melakukan serangan rahasia.

Namun demikian, para Ahmadi yang tinggal di Pakistan, Indonesia dan di negara-negara lainnya masih warga negara dari negara-negara tersebut. Para Ahmadi juga berasal dari kalangan masyarakat dan kelompok yang sama. Para Ahmadi itu berasal dari masyarakat yang sama di tempat aksi terorisme itu terjadi. Kalaupun tidak secara terbuka, maka secara diam-diampun beberapa anggota kami dapat saja melakukan aksi yang tidak diinginkan atau tidak menyenangkan. Tetapi kami tidak pernah menunjukkan reaksi keras atau tanggapan yang salah dalam bentuk apa pun, karena kami telah diajarkan untuk menerapkan kesabaran dan toleransi.

Kami selalu menerapkan ajaran Islam bahwa Anda tidak boleh main hakim sendiri, dan selalu mengutamakan yang terbaik bagi kepentingan negara dan tidak pernah membuat huru-hara, karena ini adalah persyaratan cinta sejati untuk negara. Di negara manapun para Ahmadi tinggal, tidak peduli dari mana mereka berasal, apakah mereka orang Asia atau Afrika, Arab, Eropa atau Amerika, perilaku mereka selalu sama. Demi mencapai keridhaan Allah, mereka selalu menghindari segala bentuk kekacauan. Dan ini adalah perilaku yang suatu hari tidak hanya akan menyelamatkan dunia dari kekacauan, bahkan akan menjadi penjamin perdamaian dunia.

Saat ini, dunia sangat membutuhkan penerapan sikap ini di setiap tingkatan, yaitu menyadari Sang Pencipta dan memenuhi hak-hak makhluk-Nya. Orang-orang di dunia jangan hanya memperhatikan hak-hak mereka sendiri, tetapi juga harus menunaikan kewajiban mereka dan peduli untuk kesejahteraan orang lain. Prinsip ini harus diterapkan pada tingkat individu, nasional dan tingkat internasional. Prinsip ini harus diadopsi oleh para pemimpin nasional dan juga harus diperhatikan oleh negara-negara besar dunia. Tanpa ini, apapun upaya yang dilakukan hanya akan memiliki efek sementara, dan tidak akan menjamin perdamaian jangka panjang.

Saya berdoa semoga cita-cita kita untuk mewujudkan perdamaian di dunia segera tercapai.

Akhir kata, sekali lagi saya ingin mengucapkan berterima kasih yang sedalam-dalamnya kepada Anda semua karena telah [bersedia menerima] pencerahan pada malam ini dan mendengarkan kata-kata saya. Terima kasih.”

Sumber: Alislam.org – Recognition of Creator Required for World Peace
Penerjemah: Mln. Budi Rahman