Ramadhan – Bulan Doa, Memohon Berkah atas Nabi Muhammad (saw) dan Mencari Pengampunan

Khotbah Jumat: Ramadhan – Bulan Doa, Memohon Berkah atas Nabi Muhammad (saw) dan Mencari Pengampunan

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 30 April 2021 (Syahadat 1400 Hijriyah Syamsiyah/Ramadhan 1442 Hijriyah Qamariyah) di Masjid Mubarak, Tilford, UK (United Kingdom of Britain/Britania Raya).

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ. (آمين)

Dengan karunia Allah Ta’ala kita saat ini sedang melewati bulan Ramadhan dan dalam dua hari ke depan kita akan memasuki ‘Asyrah [sepuluh hari] terakhir. Pada suatu kesempatan Nabi Muhammad (saw) menyatakan bahwa dalam sepuluh hari terakhir Ramadhan, Allah Ta’ala menganugerahkan keselamatan dari api neraka. Oleh karena itu, di hari-hari ini kita harus memberikan perhatian khusus untuk melakukan ibadah kita dengan cara yang paling baik, mengirimkan shalawat kepada Nabi (saw), beristighfar (meminta pengampunan dari Allah Yang Maha Kuasa), berdoa, taubat, memenuhi hak-hak Allah Ta’ala dan juga memenuhi hak-hak umat manusia; ini agar kita bisa meraih keridhaan Allah Ta’ala dan diselamatkan dari api neraka.

Bagaimana teladan Nabi (saw) dan dengan cara apa beliau melalui sepuluh hari terakhir Ramadhan; apa standar ibadah beliau? Bahkan di hari-hari biasa, standar ibadah beliau sedemikian rupa sehingga sulit digambarkan dengan kata-kata. Namun, bagaimana standar ibadah beliau selama Ramadhan? Sehubungan dengan hal ini, Hadhrat ‘Aisyah (ra) menceritakan bahwa beliau (saw) gigih [dalam ibadah] dengan cara yang tidak bisa diutarakan. Dari sini jelaslah bahwa di luar pemahaman kita, sejauh mana kegigihan Nabi (saw). Bahkan Hadhrat ‘Aisyah (ra) tidak dapat mengungkapkannya dengan kata-kata dan detail upaya beliau (saw).

Meskipun demikian, Allah Ta’ala telah memerintahkan orang-orang beriman untuk mengikuti Nabi (saw), karena beliau adalah teladan sempurna dan haru berusaha untuk mencapai standar tinggi yang telah ditetapkan oleh Rasulullah bagi kita, sesuai dengan kapasitas kita. Hanya dengan begitu Allah Ta’ala akan mendengarkan doa-doa kita dan hanya dengan begitu kita akan melangkah di jalan dan maju menuju standar yang digariskan untuk orang beriman. Selain itu, ini adalah standar yang harus dicapai oleh seorang beriman.

Oleh karena itu, pada hari-hari ini, kita harus secara khusus berusaha melibatkan diri dalam doa-doa. Saat ini, para Ahmadi harus memberikan perhatian khusus terhadap hal ini. Di beberapa negara, khususnya Pakistan dan juga di beberapa negara Muslim lainnya, berbagai macam penentangan meningkat terhadap Jemaat dan upaya sedang dilakukan untuk menyalakan api kebencian terhadap kita. Semoga Allah Yang Maha Kuasa melindungi kita dari tipu muslihat seperti itu dan semoga Dia mengembalikan hasil buruk dari upaya itu kembali kepada musuh. Begitu pula dengan pandemi saat ini, kita harus berdoa, semoga Allah Ta’ala melindungi kita darinya.

Kita beruntung Allah Ta’ala telah menarik perhatian kita pada doa-doa melalui perantaraan Hadhrat Rasulullah (saw) dan pecinta sejati Hadhrat Rasulullah (saw) di zaman ini, bahkan mengajarkan cara-cara supaya doa-doa itu terkabul.

Bersama dengan memuji Allah Ta’ala, mengirimkan shalawat pada Hadhrat Rasulullah (saw) pun sangatlah penting untuk pengabulan doa. Jika tidak, maka doa itu akan menggantung di antara bumi dan langit. Kemudian beliau (saw) bersabda, مَنْ نَسِيَ الصَّلاَةَ عَلَىَّ خَطِئَ طَرِيقَ الْجَنَّةِ ‘man nasiyash shalaata ‘alayya khathiyya thariqal jannah.’ – “Siapa yang tidak mengirimkan shalawat kepadaku maka ia telah kehilangan jalan menuju surga.”[1]

Demikian juga terdapat satu hadits berikut bahwa Hadhrat Rasulullah (saw) bersabda, صَلُّوا عَلَيَّ فَإِنَّ صَلَاتَكُمْ عَلَيَّ زَكَاةٌ لَكُمْ “Kirimkanlah shalawat kepadaku, pembacaan shalawat kalian akan menjadi sarana bagi kesucian dan kemajuan kalian sendiri.”[2]

Kemudian ini juga sabda Hadhrat Rasulullah (saw), مَنْ صَلَّى عَلَىَّ صَلاَةً وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرَ صَلَوَاتٍ وَحُطَّتْ عَنْهُ عَشْرُ خَطِيئَاتٍ وَرُفِعَتْ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ “Barangsiapa yang mengirimkan shalawat kepadaku dengan hati yang tulus, Allah Ta’ala akan mengirimkan sepuluh shalawat kepadanya dan meninggikannya sepuluh derajat dan menuliskan sepuluh kebaikan baginya.”[3]

Alhasil, dari riwayat-riwayat tersebut pentingnya shalawat menjadi jelas dan kita sebagai orang-orang yang menerima Hadhrat Masih Mau’ud (as) dan mengklaim telah meraih pemahaman akan maqam dan kedudukan Hadhrat Rasulullah (saw) melalui Hadhrat Masih Mau’ud (as), tanpa shalawat klaim tesebut tidaklah mungkin.

Adalah menjadi kewajiban kita untuk memahami pentingnya shalawat dan berupaya keras untuk membaca shalawat sebanyak-banyaknya. Tujuannya bukan hanya supaya Allah Ta’ala mendengar doa-doa kita, bahkan supaya kesucian yang kekal menjadi bagian dari kehidupan kita. Dengan perantaraan shalawat ini kita menjadi orang-orang yang meraih qurub Allah Ta’ala. Dengan shalawat ini kita menjadi orang-orang yang mensucikan kehidupan kita secara terus-menerus dan meraih kemajuan agama serta rohani.

Janganlah hanya sekedar klaim di bibir saja bahwa kita telah menerima pecinta sejati Hadhrat Rasulullah (saw), bahkan setiap amalan dan gerak-gerik kita hendaknya mencerminkan klaim ini bahwa kita adalah orang-orang yang telah beriman kepada Masih Mau’ud dan Mahdi yang dijanjikan ini yang mengenainya para malaikat di langit pun mengatakan bahwa inilah orangnya yang paling mencintai Rasulullah (saw).

Hadhrat Masih Mau’ud (as) dalam menjelaskan ilham beliau (as) yaitu, صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وُلْدِ آدَم وَخَاتَمِ النَّبِيِّين shalli ‘alaa Muhammadin wa aali Muhammadin sayyidi wuldi Adama wa khaatamin Nabiyyiin. Kirimkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, pemimpin segenap anak keturunan Adam dan Khaatamul Anbiyaa (saw). Beliau (as) bersabda, “Ini menunjukkan semua tingkatan, kemurahan hati, dan nikmat ini adalah berkat [Nabi (saw)] dan sebagai buah dari mencintainya. Subhanallah! Betapa tinggi jenjang yang dimiliki Pemimpin dari semua ciptaan di hadapan Allah Ta’ala dan seperti apa kedekatan yang dia miliki dengan-Nya sehingga kekasihnya menjadi kekasih Tuhan, dan hamba-Nya ditunjuk sebagai pemimpin seluruh dunia!”

Dengan kata lain, orang yang memenuhi hak untuk menjadi hamba sejati Nabi (saw) mencapai peringkat di sisi Allah sehingga seluruh dunia bersatu untuk melayaninya. Dengan demikian, status Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad Qadiani, Hadhrat Masih Mau’ud dan Mahdi adalah karena penghambaan penuh dan kecintaan beliau kepada Nabi (saw). Karena cinta inilah Allah SWT menyatakan beliau sebagai Nabi Ummati, yang akan datang dalam status sebagai hamba sejati Rasulullah (saw) dan akan melanjutkan misinya. Dia diutus untuk menyebarkan Islam.

Kemudian Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda: “Pada saat ini, saya ingat bahwa suatu malam saya yang lemah membaca shalawat sedemikian rupa banyaknya sehingga hati dan jiwa saya menjadi harum dengannya. Pada malam yang sama saya melihat dalam mimpi bahwa mereka (para malaikat) membawa ke dalam rumah kantong air yang dipenuhi dengan cahaya ilahi dalam bentuk air murni dan salah satu dari mereka berkata, ‘Ini merupakan keberkatan atas apa yang telah kamu kirimkan kepada Muhammad saw.’

Saya ingat pengalaman luar biasa serupa. Suatu ketika saya menerima wahyu yang menunjukkan ada diskusi yang bersemangat di Majelis Tinggi di Surga. Artinya, kehendak Tuhan untuk menghidupkan agama sedang bergejolak, tetapi penunjukan orang untuk menghidupkan kembali agama itu belum diungkapkan kepada Majelis Tinggi, dan inilah mengapa mereka berselisih. Pada saat inilah dalam mimpi saya melihat orang-orang mencari sang penghidup. Seorang pria muncul di hadapan saya dan, sambil menunjuk ke arah saya, dia berkata: اللهِ رَسُوْلَ يٌحِبُّ رَجُلٌ هَذَا ‘Haadza rajulun yuhibbu RasulAllah’ – ‘inilah orangnya yang menyintai Hadhrat Rasulullah saw!’

Artinya, inilah pria yang mencintai Rasulullah (saw) Makna dari pernyataan ini adalah bahwa kualifikasi utama untuk misi ini adalah kecintaan kepada Nabi (saw) dan bahwa kualitas ini pasti ditemukan dalam diri saya.”

Karena itu, kita para pengikut al-Masih dan Mahdi, yang diutus oleh Allah SWT untuk menghidupkan agama. Dia diutus untuk tugas penting kebangkitan Islam dan untuk mengumpulkan seluruh dunia di bawah panji Nabi (saw) dan dalam penghambaannya. Hadhrat Masih Mau’ud (as) mencapai status ini karena kecintaan beliau yang dalam kepada Nabi (saw). Untuk itu, kita, yang telah bergabung dengan jemaat kekasih sejati Nabi (saw) ini dan di setiap kesempatan berjanji bahwa kita akan mendahulukan agama diatas dunia, bukankah itu merupakan tanggung jawab yang besar oleh karena itu sembari membantu untuk melanjutkan misi kebangkitan agama ini dan juga memenuhi janji kita dan mengirimkan salawat kepada Nabi (saw), kita menjadi pembantu dan pendukung Hadhrat Masih Mau’ud dan Mahdi?

Kita harus memberi tahu dunia bahwa orang-orang yang mereka anggap telah mencemarkan Nabi (saw), naudzubillah, sebenarnya adalah yang paling mencintai beliau (saw), paling banyak mengirimkan shalawat kepada Nabi (saw) setelah mendapatkan wawasan tentang makna dan esensi sebenarnya dari shalawat dan salam terhadap beliau (saw) yang mana diajarkan oleh kekasih sejati Nabi Muhammad (saw).

Terkait:   Kisah Sahabat: Mu'adz bin al-Harits, Sosok Pembunuh Abu Jahal

Kita adalah orang-orang yang tidak hanya berdoa untuk diri sendiri di bulan Ramadhan tetapi dengan cemas merenungkan bagaimana untuk dapat menyebarkan nama Muhammad (saw) dan mengibarkan benderanya tinggi-tinggi di seluruh dunia dan bagaimana untuk dapat membawa orang-orang di dunia di bawah penghambaan kepada Nabi (saw) sehingga memungkinkan mereka untuk mereformasi kehidupan mereka di dunia ini dan akhirat; bagaimana kita bisa membuat mereka merasa bangga telah tergolong sebagai hamba-hamba Nabi Muhammad (saw). Merea juga merasa bangga dan bahagia dikaitkan dengan nama Islam dan pemahaman bahwa inilah satu-satunya agama yang dapat menjamin perdamaian dan keselamatan dunia. Inilah satu-satunya agama yang memungkinkan seseorang untuk menjalin hubungan dengan Allah Ta’ala dan inilah satu-satunya agama yang mengklaim bahwa saat ini pun Allah Ta’ala mengabulkan doa-doa para pengikut Muhammad Rasulullah (saw) dan mengarunikan kepada mereka apa yang mereka minta disebabkan oleh kecintaan mereka pada beliau (saw).

Dengan demikian, ini adalah satu tanggung jawab sangat besar yang diembankan di pundak kita para Ahmadi. Kita lah yang harus menyampaikan ini kepada dunia. Jadi, hendaknya kita melihat seberapa benar dan mendalamnya kita memenuhi tugas ini dan kemudian kita akan menjadi orang-orang yang meraih berkat dari karunia-karunia dan nikmat-nikmat Allah Ta’ala. Jika kita ingin benar-benar menjadi pewaris nikmat-nikmat dan karunia-karunia itu hingga kiamat, maka kita secara individu maupun secara kolektif hendaknya mengirimkan shalawat dan salam kepada Hadhrat Rasulullah (saw) dan jika kita melaksanakan hal ini maka kita akan melihat bagaimana makar para musuh dan rencana-rencana mereka serta serangan-serangan mereka akan hancur dan binasa dengan karunia Allah Ta’ala.

Bagaimana Allah Ta’ala sendiri yang akan menjaga kira dari pihak-pihak yang memusuhi. Kita akan melihat diri kita dan anak-anak keturunan kita meraih kemajuan-kemajuan dalam hal kerohanian. Kita pun akan melihat pengabulan doa-doa yang sifatnya pribadi dan kita pun akan melihat tanda pengabulan doa-doa yang bersifat kolektif (keseluruhan) dan hal ini tidak akan pernah salah karena Rasul Allah Ta’ala (saw) telah memberikan jaminan kepada kita mengenai hal ini, “Doa yang kalian panjatkan dengan memuji Allah Ta’ala dan mengirimkan shalawat kepadaku adalah doa yang akan memenuhi keperluan-keperluan kalian.”

Itu akan menjadi doa yang memenuhi segenap hajat kalian, namun dengan syarat bahwa shalawat itu dilakukan dengan segala ketulusan hati. Harus ada suatu kegelisahan untuk semakin meninggikan derajat dan martabat Rasulullah (saw), [dan] berdoa dengan segenap hati di hadapan Allah Ta’ala; ini akan dapat terjadi ketika ia pun mengetahui secara mendalam hakikat dan hikmah dari hal ini.

Berkenaan dengan ini secara ringkas saya sampaikan, bahwa doa yang pilu terjadi tatkala seorang insan mengetahui doa apa yang ia panjatkan; sekedar mengucapkan tidaklah menjadikan dirinya paham kedalaman dan makna kata-kata itu dan tidak pula itu dapat memberikan pengaruh yang seharusnya. Jika tidak berpengaruh pada kalbu, gejolak dan kepiluan tak akan dapat lahir. Walhasil, demi pengaruh di kalbu, hendaknya seseorang memahami apa sebenarnya doa yang tengah ia panjatkan dan mengapa itu ia panjatkan. Ribuan bahkan jutaan orang terus mengucapkan shalawat dari mulut mereka, namun mereka tidak mengetahui apa maksud bershalawat itu, apa faedah itu baginya dan apa faedah itu bagi Rasulullah (saw).

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) di satu kesempatan menjelaskan yang secara singkat sampai batas tertentu saya sampaikan di sini, “Dalam shalawat, kata allahumma shalli diletakkan pertama lalu allahumma baarik diletakkan setelahnya. Hikmahnya adalah: shalat berarti doa (seruan) dan kalimat doa kita allahumma shalli berarti, ‘Wahai Allah, berdoalah Engkau untuk Muhammad (saw).’

Di sini ada dua jenis pendoa; pertama, pendoa yang dirinya tidak memiliki apa-apa dan ia meminta dari selain; kedua adalah doa dari Dzat [yaitu Tuhan] yang memiliki sesuatu dan Dia menganugerahkan kepada selainnya.

Ketika kita berkata, ‘Tuhan berdoa untuk Muhammad’, maknanya adalah, Dia berkata kepada para makhluk-Nya dan kepada segenap benda yang Dia ciptakan (baik itu air, bumi, gunung atau benda-benda lainnya) supaya mereka menolong hamba-Nya tersebut. Jadi, makna allahumma shalli ‘ala Muhammadin adalah, “Wahai Allah, mohonkanlah segala kebaikan dan keluhuran, dan kebaikan segala sesuatu di langit dan bumi teruntuk Rasul Engkau, karuniakanlah kehormatan dan kemuliaan kepadanya dan tambahkanlah kehormatan dan kemuliaannya”. Lalu lihatlah, ketika Allah Ta’ala menghendaki, maka tidak ada yang dapat lebih dari ini.

Kita tidaklah dapat meliputi (membatasi) apa yang dikehendaki Allah Ta’ala. Jadi dengan doa ini, kita memohon ke hadapan Allah Ta’ala agar Dia berkehendak meninggikan kedudukan dan martabat kepada Nabi kita (saw) yang memungkinkan atau menetapkan apapun itu sebagaimana yang Dia kehendaki; dan allahumma baarik bermakna, ‘Wahai Allah, tambahkanlah segala rahmat, karunia dan kebaikan yang telah Engkau anugerahkan kepada Muhammad (saw) dengan sedemikian banyaknya sehingga karunia-karunia seluruh alam terkumpul pada wujudnya.’

Di sini, pertama, kita berdoa agar Allah Ta’ala, ‘Anugerahkanlah kepada beliau (saw) apa saja yang Engkau kehendaki, yang tentang ini pun kami [insan] tidak sanggup melingkupinya; kedua, anugerahkanlah keberkatan-keberkatan untuknya dengan senantiasa melipatgandakannya, dimana ini pun di luar gambaran dan kemampuan kami.’

Jadi, ketika semua ini (doa-doa ini) berkumpul pada wujud beliau dan kita pun berdoa untuk semakin meneguhkannya, maka kita pun akan menjadi bagian dari [pengabulan] doa-doa Rasulullah (saw) yang beliau peruntukkan untuk umat beliau. Ketika kita mendoa demi keluhuran agama beliau dan demi keunggulan beliau di seluruh dunia, maka Allah Ta’ala pun akan menjadikan kita bagian dari doa-doa itu dan menjadikan kita meraih karunia dari shalawat karena bersama shalawat itu pun terdapat doa untuk umat juga. Terhadap biji yang kita semai, kita pun akan meraih karunia dari buah-buahannya, sementara shalli adalah [seakan] sebuah biji, dan baarik adalah buah-buahnya; namun, semua ini akan terjadi dengan syarat adanya ketulusan niat dan kalbu. Yaitu mengamalkan ajaran yang telah dibawakan oleh Nabi (saw), dan berupaya mengamalkan huququllah [hak-hak Allah]dan huququl ‘ibad [hak-hak manusia], dan memenuhi hak dari aal [keluarga] hakiki beliau.

Bukannya seperti orang-orang yang bertindak aniaya atas nama Allah Ta’ala dan rasul-Nya, sementara itu mengucapkan shalawat seraya mengharapkan keberkatan-keberkatan darinya. Yaitu, mereka yang melanggar hukum dan merugikan masyarakat lalu berkata, “kami adalah pecinta rasul dan senantiasa bershalawat untuk beliau, sehingga janganlah usik kami”. Mereka menutup jalan sehingga yang sakit pun tak dapat tiba di rumah sakit, lantas berkata, “kami melakukan semua ini atas nama Allah dan rasul-Nya dan kamilah yang benar”. Ini semua adalah hal-hal yang secara jelas dan nyata merupakan pmbangkangan terhadap perintah-perintah Allah Ta’ala dan rasul-Nya, dan sungguh Allah Ta’ala tidak pernah mengizinkannya dan tidak pula Rasulullah (saw) pernah mengizinkannya, dan tidaklah shalawat orang-orang ini akan memberikan manfaat, dan hal ini bukannya meninggikan martabat Nabi (saw) tetapi justru merupakan upaya keji untuk merendahkannya, dan upaya yang memberikan nama buruk kepada Islam. Terhadap mereka yang bertindak aniaya atas nama Allah Ta’ala dan rasul-Nya, cengkeraman Allah Ta’ala sangatlah keras, dan hal ini harus senantiasa diingat.

Walhasil, jika ada yang mampu untuk memberikan pemahaman hakiki shalawat kepada dunia pada masa ini, maka kita para Ahmadi lah yang mampu untuk melakukannya. Oleh karena itu sebagaimana di dalam bulan Ramadhan perhatian banyak ditujukan kepada shalawat ini, maka berusahalah juga untuk melahirkan perubahan-perubahan suci di dalam diri, yang adalah penting untuk keterkabulan shalawat ini. Lalu apabila ini terkabul, maka faedahnya pun akan teruntuk insan juga. [yaitu] doa-doanya akan terkabul dan kerohaniannya akan meningkat. Dengan meraih kemajuan hakiki dalam mencintai rasul, insan akan meraih kedekatan hakiki terhadap Allah Ta’ala; shalawat hakiki yang sampai pada Nabi (saw) menjadi sarana untuk kemajuan-kemajuan umat beliau.

Pentingnya shalawat ini pun semakin tergambar dimana Allah Ta’ala di dalam Al-Quran Karim pun berfirman kepada orang-orang mukmin, “sampaikanlah shalawat kepada Nabi (saw)”. Allah berfirman, إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا ‘Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi ini. Hai orang-orang mukmin, mohonkanlah shalawat untuknya dan berilah selalu salam baginya.’(33:57)

Jadi, shalawat kepada Nabi (saw) adalah sedemikian penting dimana Allah Ta’ala dan para malaikat-Nya pun mengirim shalawat kepada beliau. Di sini, hal ini pun menjadi semakin jelas, bahwa apakah doa Allah Ta’ala itu; yaitu, Allah Ta’ala setiap waktunya senantiasa meninggikan derajat beliau, dan senantiasa menyiapkan sarana untuk menegakkan keagungan dan martabat beliau.

Di zaman ini, Allah Ta’ala telah memberikan tanggung jawab kepada jemaat Hadhrat Masih Mau’ud (as) agar mengamalkan secara hakiki perintah Allah Ta’ala ini dan senantiasa menyampaikan shalawat kepada Rasulullah (saw); dengan ini, Anda semua akan menjadi pewaris karunia-karunia Allah Ta’ala, dan Anda semua pun akan meraih keberkatan dari doa-doa para malaikat; karena, ketika para malaikat pun mengirimkan shalawat kepada Nabi (saw), maka keberkatan-keberkatannya pun akan sampai pada umat hakiki beliau dan orang-orang yang mengimani beliau. Lalu ketika karunia-karunia ini sampai pada kita, rasa syukur kita mengharuskan kita menjadi semakin banyak lagi menyampaikan shalawat; shalawat dan rasa syukur ini adalah satu mata rantai yang tak akan terputus, yang akan terus memberikan keberkatan kepada mukmin yang hakiki.

Terkait:   Puasa Menyucikan Rohani

Hadhrat Masih Mau’ud (as) dalam menjelaskan ayat tersebut bersabda di satu tempat: Lihatlah ketulusan dan kesetiaan junjungan kita Hadhrat Muhammad Rasulullah (saw). Beliau telah menghadapi segala jenis permusuhan, beliau telah memikul berbagai macam musibah dan penderitaan, namun beliau tidak menghiraukannya. Inilah ketulusan dan kesetiaan yang atasnya Allah Ta’ala pun menurunkan karunia-karunia-Nya. Karena inilah Allah Ta’ala berfirman, إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا ‘Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi ini. Hai orang-orang mukmin, mohonkanlah shalawat untuknya dan berilah selalu salam baginya.’(33:57)

Dari ayat ini terbukti bahwa amalan Nabi (saw) sedemikian rupa sehingga Allah SWT tidak membatasi sifat atau pujian kepada Nabi (saw) dengan menggunakan satu kata. Meski sebuah kata bisa saja digunakan, tapi Tuhan sendiri memilih untuk tidak membatasinya. Ini berarti akhlak dan tingkah laku yang baik dari Nabi (saw) tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata. (yaitu sangat sulit untuk memahami akhlak Nabi (saw) karena sangat luhur). Ayat seperti ini tidak digunakan untuk memuji nabi lainnya. Jiwa Nabi Suci dipenuhi dengan kejujuran dan kemurnian. Allah SWT menghormati amalan Nabi (saw) sedemikian rupa sehingga Dia mengeluarkan perintah untuk selama lamanya bahwa sebagai bentuk rasa syukur, orang-orang di masa yang akan datang harus mengirimkan salawat kepada beliau.”[4]

Dengan demikian, rasa syukur ini nantinya akan bermanfaat bagi kita. Di bulan Ramadhan ini dan sepanjang tahun, semoga Allah SWT memberikan taufik kepada kita untuk memahami pentingnya salawat dan juga taufik untuk mengirimkan salawat kepada Nabi (saw).

اللّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وعلى آل إبراهيم إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ. “  

“Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah limpahkan rahmat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau adalah Yang Maha Terpuji dan Maha Agung.”
اللّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وعلى آل محمد كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وعلى آل إبراهيم إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ

“Ya Allah, limpahkanlah keberkatan kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah limpahkan keberkatan kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau adalah Yang Maha Terpuji dan Maha Agung.”

Aspek kedua yang ingin saya soroti dan ingatkan secara khusus adalah Istighfar dan doa: Astagfirullaaha rabbi min kulli dzambin wa atuubu ilaihi, ‘Saya memohon pengampunan dari Allah, Tuhanku, untuk semua dosa saya, dan aku bertaubat kepada-Nya.’

Ini adalah doa yang sangat penting. Hadhrat Masih Mau’ud (as) menyatakan: “Makna dan hakikat sebenarnya dari istighfar adalah memohon kepada Tuhan agar tidak ada kelemahan manusiawi yang tampak bagi orang-orang lain dan agar Tuhan dapat mendukung sifat manusiawi dengan kekuatan-Nya dan menyelimuti itu di dalam lingkaran perlindungan dan pertolongan-Nya. Kata istighfar berasal dari kata ‘ghafara’ yang artinya menutupi.

Oleh karena itu, ini merupakan permohonan kepada Tuhan agar Dia, dengan kuasa-Nya, dapat menutupi kelemahan alami orang yang beristighfar. Makna ini kemudian diperluas bagi orang pada umumnya yakni agar Tuhan menutupi dosa-dosa yang telah dilakukan. Namun, arti yang benar dan tepat adalah bahwa Tuhan melindungi orang yang beristigfar dari kelemahan manusia, memberikan kekuatan dengan kekuatanNya, memberikan pengetahuan dengan ilmuNya dan cahaya dengan cahaya-Nya sendiri.

Karena setelah menciptakan manusia, Tuhan tidak meninggalkannya sendirian, sebagaimana Dia adalah Pencipta manusia dan Pencipta semua potensi eksternal dan internal manusia. Dia juga adalah Penopang manusia. (Dengan kata lain, Dia menjaga segala sesuatu yang telah Dia ciptakan dengan dukungan unik-Nya) Tuhan Maha Pemelihara dan memelihara ciptaan melalui dukungan-Nya sendiri. Oleh karena itu, adalah kewajiban manusia, sebagaimana dia terlahir melalui Tangan Tuhan yang menciptakan, begitu juga dia harus berusaha untuk melindungi ciptaannya dari kerusakan melalui dukungan Tuhan. Oleh karena itu, ini adalah kebutuhan alami manusia yang untuknya dia telah diarahkan untuk beristighfar. Hal inilah yang dirujuk Alquran sebagai berikut, اَللہُ لَاۤ اِلٰہَ اِلَّا ہُوَۚ اَلْحَیُّ الْقَیُّوۡمُ Jadi, Tuhanlah yang merupakan Pencipta dan Pemelihara. Sifat pencipta dimanifestasikan ketika manusia diciptakan, namun tugas pemeliharaan adalah untuk selama lamanya.

Oleh karena itu timbul kebutuhan untuk beristighfar secara konstan. Untuk Setiap sifat Tuhan melimpahkan suatu bentuk anugrah, dan istighfar dibutuhkan untuk menarik anugrah dukungan Tuhan. Hal inilah yang dirujuk oleh ayat Surat Al-Fatihah berikut: Iyyaaka na’budu wa iyyaa ka nasta’iin. Artinya: ‘Hanya kepada Engkau kami beribadah dan hanya keoada Engkau kami mohon pertolongan agar dukungan dan pemeliharaan-Mu dapat menopang kami dan melindungi kami dari ketersandungan, agar kami tidak menjadi mangsa kelemahan sehingga tidak dapat beribadah padaMu.’

Alhasil, untuk melaksanakan ibadah, untuk terhindar dari serangan syaitan, untuk mengamalkan hukum hukum Tuhan, istighfar adalah sesuatu yang sangat penting dan utama. Beristighfar bukan hanya setelah melakukan dosa saja. Tidak diragukan lagi, beristigfar dan taubat sangat perlu pada saat itu karena untuk menyelamatkan diri dari dosa yang akan datang dan untuk mendapatkan ampunan dari dosa-dosa yang telah lalu, diperlukan pertolongan Allah Ta’ala yang dapat dihasilkan dengan perantaraan istighfar. Jadi, istighfar sangat diperlukan dalam kedua keadaan itu yakni setelah melakukan dosa atau Ketika tidak melakukan dosa. Syaitan selalu berdiri menghalangi jalan kita, manusia tidak dapat menghindarkan diri dari syaitan dengan upayanya sendiri, jika manusia mengatakan bahwa aku akan terhindari dari syaitan dengan upaya sendiri, itu tidaklah mungkin.

Hanya satu sarana untuk itu yakni mohonlah pertolongan kepada Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman, untuk mendapatkan bantuanKu, untuk memohon pertolonganKu, banyak banyaklah beristighfar. Inilah sarana yang akan menyelamatkan kita dari seragan syaitan dimasa yang akan datang dan akan menjadi sarana untuk mendapatkan pengampunan dari dosa-dosa terdahulu. Manusia lemah, untuk itu istighfar sangat diperlukan, karena istighfar memberikan kekuatan untuk menyelamatkan kita dari kelemahan yang sifatnya manusiawi. Jadi, istighfar yang terus menerus dapat menggerakkan sifat Qoyyum Allah ta’ala dan orang yang beristghfar akan diselamatkan dari setiap keburukan. Allah Ta’ala akan mendekap orang-orang yang menghampiriNya. Barangsiapa bertaubat setelah terjerumus kedalam dosa dan melangkah padaNya, Allah Ta’ala juga akan menerima istighfarnya. Barangsiapa berlari kepadaNya untuk terhindar dari dosa-dosa dan dari serangan syaitan, Allah Ta’ala pun akan menerima istighfarnya. Akan menyelamatkannya dari serangan syaitan.”

Berkenaan dengan keluasan rahmat dan ampunan Allah Ta’ala, Allah Ta’ala sendiri berfirman bahwa itu meliputi segala sesuatu. Berkenaan dengan itu Rasulullah (saw) juga menceritakan satu kisah, ada seseorang yang telah membunuh 99 orang. Pada akhirnya ia menyesali perbuatannya dan berfikir untuk taubat dan pergi menemui seorang ulama untuk menanyakan perihal peluang taubat. Sang ulama mengatakan dosa kamu tidak dapat diampuni lagi karena dosa pembunuhan kamu sudah terlalu besar. Akhirnya si pembunuh itu menggenapkan jumlah korbannya menjadi 100 dengan membunuh sang ulama. Setelah itu ia menyesalinya lagi. Kemudian ia menemui seorang ulama besar dan menyampaikan niatnya. Ulama besar itu berkata bahwa Allah Ta’ala berfirman, pintu taubat setiap saat terbuka, jika kamu ingin melakukan taubat hakiki, pergilah ke suatu daerah, ditempat itu kamu akan mendapati banyak orang tengah sibuk beribadah kepada Allah Ta’ala dan tengah berkhidmat untuk agama, nanti kamu bergabunglah dengan mereka, namun ingatlah, setelah itu kamu jangan Kembali lagi ke daerah kamu. Taubat hakiki adalah dengan mengakhiri semua pergaulan lama yang menjadi penyebab timbulnya dosa-dosa.

Alkisah, si pembunuh tadi pergi menuju tempat yang disarankan itu. Namun orang itu meninggal setelah menempuh setengah perjalanan. Setelah itu datanglah Malaikat Rahmat dan Malaikat Adzab menghampirinya. Kedua malaikat tersebut sama sama berkeinginan untuk membawa ruh orang itu bersamanya. Malaikat Rahmat mengatakan bahwa orang ini telah bertaubat untuk itu ia harus masuk ke surga. Sedangkan malaikat adzab mengatakan bahwa orang ini tidak pernah berbuat baik selama hidupnya, bagaimana mungkin akan masuk ke surga, ia tidak dapat diampuni. Saat itu juga datanglah malaikat ke tiga yang berperan sebagai penengah. Malaikat penengah itu mengatakan bandingkanlah jarak antara tempat awal dia beranjak menuju tempat dimana ia meninggal dengan tempat ia meninggal menuju tempat tujuan. Yang mana yang lebih jauh jaraknya? Lalu diukurlah, ternyata jarak tempat ia meninggal dengan tempat yang ia tuju untuk bertaubat dan beramal saleh lebih dekat, untuk itu malaikat Rahmat membawanya untuk dimasukkan ke surga. Inilah sarana pengampunan dari Allah Ta’ala. Seorang yang sangat zalim dan pembunuh pun saat dalam keadaan sehat setelah bertaubat, Allah Ta’ala memberikan sarana untuk pengampunan.

Pada masa ini banyak sekali anak anak dan juga remaja yang bertanya, sejauh mana pengampunan yang Allah Ta’ala berikan. Dari hadits tersebut diketahui dengan jelas bahwa Allah Ta’ala berfirman, Aku menerima taubat dan rahmatKu Maha luas, tidak ada batasnya namun syaratnya adalah seseorang harus melakukan taubat hakiki.

Terkait:   Abu Talhah: Keteladanan Para Sahabat Rasulullah (shallal-Laahu ‘alaihi wasallam)

Dalam satu Riwayat, Rasulullah (saw) bersabda, “Demi Allah! Sedemikian rupa bahagianya Allah Ta’ala mengetahui taubat hambaNya, sehingga lebih Bahagia dibandingkan orang yang kehilangan untanya di hutan lalu dapat ditemukan lagi. Allah Ta’ala akan menyambut orang yang melangkah kepadaNya. Allah berfirman, ‘Jika hambaKu mendekat sejengkal padaKu, maka Aku akan mendekat sehasta. Jika hambaKu mendekat padaKu dengan berjalan, maka Aku akan mendekat dengan berlari.’”

Untuk itu, ini adalah tugas kita untuk menghampiri Allah Ta’ala untuk menyelamatkan diri dari dosa-dosa dan untuk memohon ampunan dari segala dosa dan hindarkan diri dari jahanam. Bulan ini Allah Ta’ala anugerahkan kepada kita secara khusus untuk tujuan ini. Ambillah manfaat dari bulan ini.

Dalam menjelaskan perihal taubat dan magfirah, Hadhrat Masih Mauud (as) bersabda dalam satu tempat, “Ingatlah bahwa menolak pertobatan dan pengampunan adalah menutup pintu kemajuan manusia. Jelas bagi semua orang sejak dahulu kala, manusia tidak sempurna pada zatnya, tetapi sebenarnya dia membutuhkan kesempurnaan. Sebagaimana setelah kelahirannya ia secara bertahap memperluas ilmunya dan tidak dilahirkan terpelajar dan terinformasi dengan baik, begitu juga, setelah kelahirannya ia mulai peka terhadap lingkungannya, kondisi moralnya berada pada surut yang sangat rendah.

Pengamatan terhadap kondisi anak kecil menunjukkan bahwa sebagian besar anak cenderung untuk memukul orang lain dengan sedikit provokasi dan banyak dari mereka yang terbiasa berbohong dan menggunakan kata-kata kotor dengan anak lain. Beberapa mencuri dan menggibat orang lain, serta iri dan kikir. Ketika mereka dewasa, mereka jatuh ke dalam cengkeraman nafsu ammarah yakni nafsu yang memicu kejahatan dan bersalah atas berbagai jenis kejahatan dan dosa. Jadi bagi kebanyakan orang tahap pertama kehidupan tidak murni, tetapi ketika orang yang beruntung muncul dari banjir dahsyat masa muda, ia berpaling kepada Tuhan dan menarik diri dari kegiatan yang tidak diinginkan melalui pertobatan yang tulus dan menyibukkan dirinya dengan memurnikan pakaian dari kodratnya. Ini adalah tahapan kehidupan manusia yang harus dilalui seseorang. Hal ini menunjukkan bahwa seandainya pertobatan tidak diterima berarti Tuhan tidak ingin menganugerahkan keselamatan kepada siapapun.”[5]

Dan ini tidak mungkin karena Tuhan Yang Maha Kuasa berkata bahwa Dia ingin memberikan keselamatan.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) kemudian menyatakan “Biarlah jelas bahwa dalam idiom bahasa Arab, Taubah (taubat) berarti ‘kembali’, dan itulah sebabnya dalam Al-Qur’an nama Tuhan juga at-Tawwaab, artinya, Dia Yang adalah Sering-Kembali. Artinya ketika seseorang yang memisahkan diri dari dosa lalu berpaling kepada Tuhan dengan hati yang tulus, maka Allah Ta’ala pun semakin mengarahkan perhatianNya padanya. Ini semuanya sesuai dengan hukum alam. Allah Ta’ala telah menjadikannya bagian dari kodrat manusia bahwa ketika seseorang berpaling kepada orang lain dengan hati yang tulus, hatinya juga dilembutkan untuknya. Lalu bagaimana bisa akal menerima bahwa ketika seorang hamba berpaling kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan hati yang benar, lantas Tuhan tidak memberikan perhatian kepadanya?”

Berkenaan dengan dua orang insan bisa saja melakukan demikian karena itu merupakan fitrat manusia, tetapi jika mengatakan sehubungan dengan Tuhan bahwa Dia tidak berpaling dengan belas kasihan, meskipun manusia berpaling kepada-Nya, itu tidak akan mungkin terjadi.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) kemudian bersabda, “Sesungguhnya Tuhan, Yang Maha Pengasih dan Penyayang, bahkan lebih banyak kembali kepada hamba-Nya. (Hadhrat Masih Mau’ud as) menyatakan bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa Maha Penyayang, dan bahkan lebih banyak Kembali kepada hamba-Nya.) Itulah sebabnya dalam Al-Qur’an, Tuhan juga bernama Tawwab, yang berarti Yang Banyak-Kembali. Manusia berpaling kepada Tuhan adalah melalui penyesalan dan kerendahan hati dan kelembutan hati, sedangkan Tuhan berpaling kepada manusia dengan belas kasihan dan pengampunan.

Jika belas kasihan bukan salah satu sifat Allah Ta’ala, tidak akan ada yang dapat meraih kebebasan. sangat disayangkan mereka tidak merenungkan sifat-sifat Allah Ta’ala dan bersandar pada amal dan perbuatannya dengan beranggapan bahwa berkat amalan kamilah, kami dapat meraih semua ini. Namun Tuhan itu yang telah menciptakan ribuan nikmat di bumi ini bagi manusia tanpa mensyaratkan suatu amalan, apakah mungkin ketika manusia yang penuh kelemahan diperingatkan dari kelalaiannya lalu ruju kepadaNya dan ruju yang dilakukanpun sedemikian rupa seolah-olah mengalami kematian lalu membuka jubah lamanya yang tidak suci dari tubuh lalu terbakar dalam api kecintaan padaNya, lantas Tuhan tidak mengarahkan perhatian Nya padanya dengan rahmat-Nya? Bukankah itu yang disebut dengan hukum qudrat Tuhan?”[6]

Beliau (as) bersabda, “Pintu karunia dan kasih sayang Allah Ta’ala tidak pernah tertutup. Jika manusia Kembali kepada Tuhan dengan segenap ketulusan hati, maka Allah Ta’ala adalah Maha Pengampun dan Penyayang dan juga Maha Penerima Taubat. Janganlah berfikir, jenis dosa apa saja yang akan diampuni, karena itu merupakan bentuk kelancangan dan sangat tidak sopan terhadap Allah Ta’ala. Khazanah rahmatNya Maha Luas dan tidak ada batasnya. Tidak ada kekurangan pada ZatNya, pintuNya tidak tertutup bagi siapapun. tidaklah seperti pekerjaan orang Inggris, di mana hanya orang yang berpendidikan tinggi yang akan diberikan pekerjaan. Semua orang yang mencapai hadirat Tuhan Yang Maha Esa akan mencapai tingkatan yang tinggi. Ini adalah janji yang pasti. Sungguh malang orang yang berputus asa kepada Allah Ta’ala dan berada dalam kondisi kebodohan pada saat kematiannya, memang dalam hal demikian pintu kemudian ditutup untuk mereka.”[7]

Alhasil, pintu magfirah Allah Ta’ala terbuka. Adalah penting bagi manusia untuk bertaubat sekalipun dalam keadaan sehat bukan hanya pada saat menghembuskan nafas terakhir. Pada hari hari ini, kita harus mengirimkan salawat dan beristigfar sebanyak banyaknya, karena bulan Ramadhan ini merupakan bulan pengabulan doa. Adapun 10 hari terakhir bulan Ramadhan dapat menyelamatkan kita dari api Jahanam.

Taufik untuk diampuni dari dosa dan untuk dapat berbuat amal saleh kita dapatkan dari Allah Ta’ala, jika kita terjalin hubungan dengan Allah Ta’ala maka kita akan selamat di dunia dan akhirat. Seperti yang saya katakan, dibeberapa tempat, bumi para Ahmadi disempitkan sampai sedemikian rupa. Hanya satu solusi untuk terhindar dari kesulitan ini yakni jalinkanlah ikatan kita dengan Allah Ta’ala. Jika hubungan telah terjalin, jika salawat dan istigfar kita telah dapat meraih keridhaan Allah Ta’ala, sekalipun para penentang melakukan ribuan upaya, namun mereka tidak dapat menimpakan kerugian kepada kita. Namun jika Allah Ta’ala tidak ridha kepada kita, maka Tidak ada upaya dunia yang akan memberikan manfaat kepada kita. Untuk itu kita harus menguatkan jalinan kita dengan Allah Ta’ala.

Dalam doa-doa Ramadhan, banyak-banyaklah juga berdoa untuk terhindar dari kejahatan para penentang. Seperti yang telah saya katakan, di beberapa tempat, para Ahmadi ditimpakan kesulitan, terperangkap dalam penderitaan yang berat. Semoga Allah Ta’ala memberikan kemudahan kepada mereka, melindungi mereka dari kejahatan pada penentang. Para Ahmadi Pakistan juga harus banyak banyak berdoa khususnya pada hari hari ini untuk diri pribadi dan juga untuk jemaat. Begitu juga wabah korona yang merebak, berdoalah agar terhindar darinya, semoga Allah Ta’ala menyelamatkan dunia dari bencana ini dan melindungi kita. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada kita untuk menyampaikan salawat dan istigfar dalm corak yang hakiki.

Khotbah II

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ

وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ

 وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ!

 إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ

يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ

أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Penerjemah: Mln. Mahmud Ahmad Wardi, Syahid (London-UK), Mln. Hasyim dan Mln. Fazli Umar Faruq.

Editor: Dildaar Ahmad Dartono. Rujukan pembanding: https://www.Islamahmadiyya.net (bahasa Arab)


[1] Sunan Ibn Majah, (كتاب إقامة الصلاة والسنة فيها), (باب الصَّلاَةِ عَلَى النَّبِيِّ ـ صلى الله عليه وسلم ـ), nomor 908.

[2] Musnad Imam Ahmad 8770 (وروى الإمام أحمد في ” المسند “); Ibnu Syaibah dalam al-Mushannaf (ابن أبي شيبة في “المصنف”) nomor 31784; al-Jahdhami dalam Fadhlush shalah (الجهضمي في ” فضل الصلاة “) nomor 46; Abu Ya’la dalam Musnadnya (أبو يعلى في مسنده) nomor 6414 dan Ibnu Rahawiyah dalam Musnadnya (ابن راهويه في مسنده) nomor 297 melalui jalan Laits, dari Ka’b, dari Abu Hurairah.

[3] Sunan an-Nasai, Kitab tentang lupa (كتاب السهو), bab keutamaan mendoakan Nabi (باب الْفَضْلِ فِي الصَّلاَةِ عَلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم), 1297. Misykatul Mashabih, Kitab tentang shalat (كتاب الصلاة), bab mendoakan Nabi dan keutamannya (باب الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم وفضلها – الفصل الثانيت), nomor 922.

[4] Pidato Jalsah Salanah 1897, h. 50-51.

[5] Chasmah Ma’rifat.

[6] Casmah Ma’rifat halaman 125-126.

[7] Malfuzhat jilid 3.

Leave a Reply

Begin typing your search above and press return to search.
Select Your Style

You can choose the color for yourself in the theme settings, сolors are shown for an example.