Keteladanan Para Sahabat Nabi Muhammad shallal-Laahu ‘alaihi wa sallam (Manusia-Manusia Istimewa, seri 65)

Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (ayyadahul-Laahu Taaalaa binashrihil ‘aziiz) pada 31 Januari 2020 (Sulh 1399 Hijriyah Syamsiyah/Jumadil Akhir 1441 Hijriyah Qamariyah) di Masjid Mubarak, Islamabad, Tilford, UK (United Kingdom of Britain/Britania Raya)

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ. (آمين)

Riwayat Sahabat Badr yang akan saya sampaikan pada hari ini adalah bernama Hadhrat Abu Talha (أَبُو طَلْحَةَ الأَنْصَارِيُّ زَيْدُ بنُ سَهْلِ بنِ الأَسْوَدِ). Nama asli beliau adalah Zaid. Beliau berasal dari kalangan Anshar, kabilah Khazraj dan beliau adalah pemimpin kabilah. Beliau lebih dikenal dengan sebutan Abu Talha. Ayahanda beliau bernama Sahl bin Aswad dan ibunda beliau bernama Ubadah Binti Malik.

Beliau mendapatkan taufik untuk baiat di tangan Rasulullah pada peristiwa Baiat Aqabah kedua. Beliau ikut serta pada perang Badr dan seluruh peperangan lainnya bersama dengan Rasulullah. Ketika Hadhrat Abu Ubaidah Bin Al Jarrah hijrah ke Madinah, maka Rasulullah menjalinkan persaudaraan antara Hadhrat Abu Talha dengan Hadhrat Abu Ubaidah.

Kulit beliau berwarna gandum, postur tubuh sedang dan beliau tidak pernah mengenakan Khidaab pada rambut atau janggut yakni apa adanya. Hadhrat Anas merupakan putra dari suami pertama Ummu Sulaim. Suami pertama Ummu Sulaim adalah Malik bin Nadzar. Paska kewafatan Malik Bin Nadzar, Ummu Sulaim menikah dengan Abu Talha. Dari pernikahan tersebut terlahir Abdulah dan Umair.

Hadhrat Anas meriwayatkan, Hadhrat Abu Talha mengirimkan pesan lamaran kepada Hadhrat Ummu Sulaim. Ummu Sulaim berkata: Demi Tuhan, saya tidak menolak untuk menikahi pria seperti anda, namun anda adalah seorang musyrik sedangkan saya muslimah (Riwayat sunan Nasai) Tidak diizinkan bagi saya untuk menikahi anda. Jika anda baiat masuk Islam, baiat tersebut akan menjadi mahar anda bagi saya, saya tidak menuntut apa apa lagi. Lalu Hadhrat Abu Talha baiat. Baiatnya beliau ditetapkan sebagai mahar. Hadhrat Tsabit Ra sering mengatakan: Saya tidak pernah mendengar dalam islam berkenaan dengan seorang wanita yang maharnya sangat terhormat seperti ini, sebagaimana maharnya Ummu Sulaim. Hadhrat Abu Talha ikut serta bersama dengan rasulullah pada perang Badr.

Diriwayatkan dari Hadhrat Abu Thalhah, bahwa Nabi (shallallahu ‘alaihi wasallam) memerintahkan untuk mengumpulkan jenazah 24 pemuka Quraisy yang terbunuh lalu melemparkan mereka ke dalam sebuah sumur yang kotor dan berbau. Biasanya, bila suatu kaum mendapatkan kemenangan, mereka tidak akan pulang ke rumah selama tiga malam. Pada hari ketiga dari Perang Badr, beliau meminta hewan kendaraannya dan mengikatnya. Kemudian beliau berjalan yang diikuti para shahabat hingga beliau berdiri di bibir sumur.

Beliau menyebutkan nama orang-orang musyrik yang jasadnya dilemparkan ke dalam sumur itu, termasuk nama bapak-bapak mereka, “Wahai Fulan bin Fulan, wahai Fulan bin Fulan, apakah kalian merasa gembira bila seandainya kalian menaati Allah dan Rasul-Nya? Sesungguhnya kami telah mendapatkan apa yang dijanjikan Rabb kami kepada kami adalah benar. Lalu apakah kalian mendapatkan apa yang dijanjikan Rabb kalian terhadap kalian juga benar?”

Umar bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapa tuan berbicara kepada jasad-jasad yang tidak bernyawa lagi?”

Beliau menjawab, “Demi yang diri Muhammad ada di Tangan-Nya, kalian tidak lebih bisa mendengar daripada mereka tentang apa yang kukatakan.”

Dalam riwayat lain disebutkan, “Kalian tidak lebih bisa mendengar daripada diriku. Hanya saja mereka tidak bisa menjawab.”

Hadhrat Anas meriwayatkan: Ketika pasukan Muslim terpojok pada perang Uhud lalu berpisah dari Rasulullah, sementara itu Abu Talha tetap bertahan di dekat Nabi untuk melindungi Nabi dengan perisainya. Hadhrat Abu Talha adalah seorang ahli memanah yang sangat keras tarikan tali busurnya. Pada perang itu beliau mematahkan dua atau tiga busur panah. Ada seorang laki laki lewat di hadapannya dengan membawa sarung anak panah laluRasulullah (saw) berkata pada orang itu: Berikan itu kepada Abu Talha.Rasulullah (saw) mendongakkan kepala untuk melihat keberadaan musuh. Abu Talha berkata: WahaiRasulullah (saw) Allah! Demi ayah ibuku sebagai tebusannya, janganlah baginda mendongakkan kepala sebab, panah musuh bisa jadi mengenai baginda. Cukup saya saja yang menjadi taruhannya.

Hadhrat Anas meriwayatkan, Hadhrat Abu Talha melindungi Rasulullah dengan satu tameng, beliau adalah seorang pemanah handal. Ketika menontarkan panah, Rasulullah memandangnya dan menyaksikan tempat tertancapnya. (Bukhari) Yang sebelumnya pun dari Bukhari. Diriwayatkan juga bahwa pada perang Uhud, Hadhrat Abu Talha membacakan syair berikut: نفسي لنفسك الفداء … ووجهي لوجهك الوقاء nafsii linafsikal fidaa … wajhiy liwajhikal waqaa Artinya: Wajahku rela berkorban demi menyelamatkan wajahmu, jiwaku rela berkorban demi menyelamatkan jiwamu.

Hadhrat Anas meriwayatkan, Pilihlah seorang lelaki diantara anak anakmu yang dapat mengkhidmatiku untuk menempuh perjalanan ke Khaibar. Hadhrat Abu Talha mendudukan saya diatas kendaraan lalu membawa saya (Hadhrat Anas). Hadhrat Anas meriwayatkan, ketika itu aku masih muda mendekati baligh, saya selalu mengkhidmati Rasulullah, ketika Rasulullah (saw) turun, saya selalu mendengar Rasulullah (saw) memanjatkan doa: للَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ Artinya: “Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari rasa sesak dada dan gelisah, dan aku berlindung pada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, dan aku berlindung pada-Mu dari sifat pengecut dan kikir, dan aku berlindung pada-Mu dari belenggu hutang dan tekanan manusia”

Dalam riwayat lain Hadhrat Anas meriwayatkan, ketika Rasulullah tiba di Madinah, beliau tidak memiliki khadim. Hadhrat Abu Talha memegang tangan saya dan membawa saya kehadapan Rasulullah dan berkata: Wahai Rasul! Anas adalah pemuda yang dewasa, dia akan mengkhidmati tuan. Hadhrat Anas berkata: Sebagaimana dalam safar atau kondisi biasa pun saya selalu mengkhidmati Rasulullah. Pekerjaan apapun yang saya lakukan, Rasulullah (saw) tidak pernah mengatakan: kenapa kamu melakukannya demikian? Begitu juga pekerjaan yang saya tidak lakukan, Rasulullah (saw) tidak pernah bersabda, kenapa kamu tidak melakukannya begini? Yakni Rasulullah tidak suka mengomel.

Anas meriwayatkan, kami bersama dengan Rasulullah ketika Rasulullah (saw) kembali dari Usfan, sebuah nama tempat yang terletak diantara Mekah dan Madinah. Saat itu Rasulullah (saw) tengah mengendarai unta dan istri Rasul, Hadhrat Safiyah tengah duduk di belakang Rasul. Saat itu unta beliau tersandung sehingga beliau berdua ikut jatuh.

Melihat kejadian itu, Hadhrat Talha langsung melompat dari untanya dan berkata: Wahai Rasul: Aku rela berkorban demi tuan.

Rasul bersabda: Pertama tama lihat dulu keadaan wanita.

Hadhrat Abu Talha menutupi wajahnya dengan cadar lalu menghampiri Hadhrat Safiyah lalu menutupi Hadhrat Safiyah dengan pardah (Sedemikian rupa memperhatikan pardah) lalu Hadhrat Abu Talha menegakkan kendaraan Rasul. Kemudian beliau berdua menaikinya dan berangkat. Kami membuat formasi di sekeliling Rasul. Ketika sampaidi dataran tinggi Madinah, Rasulullah bersabda: Aaibuuna taaibuuna aabiduuna lirabbinaa haamiduuna. Kami kembali, kami taubat dihadirat Tuhan kami, kami beribadah kepada Tuhan kami, dan memujiNya. Beliau terus membacakan kalimat tersebut sampai memasuki Madinah.

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) menjelaskan peritiwa tersebut, bersabda: ketika Hadhrat Rasulullah dalam perjalanan pulang dari perang Khaibar. Saat itu istri beliau Hadhrat Shafiyah ikut menyertai Rasul, unta yang ditunggangi oleh beliau Saw dan Hadhrat Shafiyah tersungkur sehingga membuat beliau berdua jatuh juga. Unta yang ditunggangi oleh Hadhrat Abu Talha Anshari berada di belakang unta Rasul. Setelah melihat kejadian itu, Hadhrat Talha langsung melompat dari atas unta dan menghampiri Rasul, lalu berkata: Wahai Rasulullah! Jiwaku rela berkorban demi engkau, apakah Rasulullah (saw) terluka? Rasulullah (saw) bersabda: Abu Talha! Pertama tama lihat dulu wanita, lihat dulu wanita. Rasulullah (saw) bersabda dua kali.

Terkait:   Kisah Sahabat Nabi: Khabbaab bin al-Aratt

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda: Abu Talha adalah pecinta Rasul. Ketika berkaitan dengan keselamatan Rasul, saat itu bagaimana beliau dapat tahan melihatnya. Namun Rasulullah (saw) bersabda, pergilah, dahulukan wanita. Bagaimana Rasulullah (saw) menjelaskan berkenaan dengan hak-hak wanita.

Hadhrat Anas meriwayatkan, Rasulullah Saw telah menyerang Khaibar dan kami pergi ke dekatnya lalu melaksnakan shalat subuh, ketika masih gelap. Lalu Rasulullah (saw) menaiki kendaraan begitu juga Hadhrat Abu Talha. Saya berada dibelakang Hadhrat Abu Talha. Rasulullah (saw) mengendarai kuda di jalan jalan Khaibar. Lutut saya bersentuhan dengan paha Rasul, karena begitu dekatnya. Disebabkan oleh panas atau untuk melenturkan beliau menaikkan salwarnya diatas lutut sampai sampai Nampak kepada saya paha Rasulullah (saw) yang putih. Maksud paha disini adalah bagian kaki sedikit diatas lutut. Ketika beliau memasuki desa, beliau bersabda: Allaahu akbar kharibat khaibar innaa idzaa nazalnaa bisaahati qoumin fasaa’a shabahul mundziriin. Allahu Akbar, binasalah Khaibar. Sesungguhnya jika kami datang di tempat musuh maka hancurlah kaum tersebut.” Yang mana terlebih dulu telah diperingatkan dengan azab Ilahi. Rasulullah (saw) bersabda demikian sebanyak tiga kali.

Anas meriwayatkan, orang-orang pergi keluar untuk bekerja, lalu mereka berkata: Muhammad (saw) dan Abdul Aziz mengatakan, beberapa kawan kita mengatakan Khamis kepada Muhammad yakni tentara. Hadhrat Anas mengatakan, kami telah berperang dan menaklukannya lalu tawanannya dikumpulkan, maka datanglah Dahiyah Kalbi dan berkata: Ya Nabi Allah! Berikanlah padaku satu tawanan wanita diantara para tawanan. Rasulullah (saw) bersabda: Silahkan ambil seorang gadis. Lalu beliau mengambil putri Huyyai bernama Safiyah. Lalu ada seseorang datang menemui Rasulullah dan berkata: Wahai Nabi Allah! Tuan telah memberikan Safiyah Binti Huyyaiyang merupakan pemimpin Banu Quraidhah dan Banu Nadhir kepada Dahiyah. Wanita itu hanya layak untuk untuk tuan saja. Rasulullah (saw) bersabda: pangil Dahiyah dengan Safiyah Lalu ia membawa Safiyah dan disertai juga oleh Hadhrat Dahiyah. Rasulullah (saw) bersabda kepada Hadhrat Dahiyah, Silahkan kamu pilih lagi dari antara tawanan lainnya. Hadhrat anas mengatakan: Lalu Rasulullah memerdekakan Hadhrat Safiyah dan menikahinya. Hadhrat Tsabit bertanya kepada Hadhrat Anas, mahar apa yang diberikan oleh Abu Hamza yakni Hadhrat Rasulullah?

Beliau menjawab: Rasulullah (saw) telah memerdekakannya dan menikahinya, kebebasannyalah yang merupakan mahar baginya. Ketika Rasulullah (saw) masih dijalan, Hadhrat Ummu Sulaim mendandani Hadhrat Safiyah untuk Rasulullah lalu menikahlah disana setelah dikirimkan kepada Rasul. Pada hari berikutnya, Rasulullah (saw) bersabda: barangsiapa yang memiliki sesuatu bawalah. Lalu Rasulullah (saw) menggelar taplak dari kulit, ada orang yang membawa kurma, ghi (mentega) Abdul Aziz mengatakan, saya rasa beliaupun menyebutkan bubur gandum. Lalu beliau mencampurkan semua bahan tersebut lalu di adon, seperti inilah undangan walimah pernikahan Rasulullah. Dalam riwayat lain dikatakan, setelah menaklukan banteng, Hadhrat Safiyah menjadi bagian Hadhrat Dahiyah. Lalu beb erapa sahabat datang menjumpai Rasulullah (saw) dan memuji sifat sifat Hadhrat Safiyah. Begitu juga dari sisi kedudukan dan martabat lebih tepat bagi Hadhrat Safiyah jika Rasulullah (saw) yang menikahinya. Lalu Rasulullah (saw) mengirim pesan kepada Hadhrat Dahiyah dan menukar Hadhrat Safiyah dengan 7 budak belian lalu menyerahkannya kepada Ummu Sulaim untuk tinggal bersamanya. Sebagaimana telah disebutkan diawal Rasulullah (saw) menikahi Hadhrat Safiyah.

Hadhrat Anas Bin Malik meriwayatkan, عن إسحاق بن عبد الله بن أَبِي طَلْحَةَ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ- أَنّ رسول الله صلى الله عليه وسلم قال يَوْمَ حُنَيْنٍ: مَنْ قَتَلَ كَافِرًا فَلَهُ سَلَبُهُ، فَقَتَلَ أَبُو طَلْحَةَ يَوْمَئِذٍ عِشْرِينَ رَجُلا وَأَخَذَ أَسْلابَهُمْ. Rasulullah (saw) bersabda: pada hari Hunain, barangsiapa yang membunuh seorang kafir, maka ia akan mendapatkan harta orang kafir tersebut. Pada hari itu Hadhrat Abu Talha membunuh 20 kafir dan mengambil barang-barangnya. Hadhrat Abu Talha melihat Hadhrat Ummu Sulaim yang mana beliau memiliki sebuah pisau. Beliau bertanya: Ummu Sulaim, apa ini? Beliau menjawab: Demi Tuhan, saya beriradah, jika ada kafir yang mendekatiku, aku akan merobek perutnya dengan pisau. Hadhrat Abu Talha memberitahukan hal tersebut kepada Rasulullah (saw) (Sunan Abu Daud)

Hadhrat Anas meriwayatkan, Rasulullah (saw) bersabda: Suara Abu Talha terdengar nyaring diantara bala tentara. Dalam riwayat lain disebutkan bukan jamaat tetapi diantara 100 bahkan 1000 orang.

Hadhrat Abu Talhah r.a. wafat di Madinah pada 34 Hijriyah dan Hadhrat Usman r.a. yang memimpin shalat jenazah beliau. Ketika wafat usia beliau adalah 70 tahun; sedangkan, menurut penduduk Basrah, beliau wafat pada saat melakukan perjalanan laut dan dimakamkan di suatu pulau.

Hadhrat Anas meriwayatkan, disebabkan karena jihad sehingga Hadhrat Abu Talha tidak dapat melaksanakan puasa nafal, supaya tetap kuat. Hadhrat Anas lebih lanjut mengatakan bahwa setelah Rasulullah (saw) wafat, saya tidak pernah melihat beliau tidak puasa kecuali pada saat Idul Fitri dan Idul Adha. Yakni setelah itu beliau mulai puasa nafal secara dawam.

Berkenaan dengan pengkhidmatan beliau terhadap tamu terdapat keterangan yang diriwayatkan oleh Hadhrat Abu Hurairah, ada seseorang datang kepada Rasulullah. Rasulullah (saw) mengirimkan tamu tersebut kepada istri beliau. Istri Rasulullah (saw) berkata bahwa di rumah tidak ada makanan kecuali air. Rasulullah (saw) bersabda: Siapa yang akan mengkhidmati tamu ini? Ada yang bersedia dari kalangan anshar. Lalu anshar tersebut membawa sang tamu kerumahnya dan berkata kepada istrinya, khidmatilah tamu Rasulullah (saw) ini dengan sebaik baiknya. Istri beliau berkata, dirumah tidak ada makanan, hanya ada makanan yang itupun belum tentu cukup untuk anak kita. Sahabat itu berkata: Siapkan makanan tersebut dan nyalakan lentera, ketika anak kita minta makan malam nanti, tidurkan dia. Lalu sang istri menyiapkan makanan dan menyalakan lentera kemudian menidurkan anaknya. Lalu seolah-olah istrinya memperbaiki lentera padahal mematikannya, kedua suami istri memberikan kesan kepada tamu seolah-olah tengah ikut makan, padahal kedua suami istri itu melalui malam dengan perut kosong. Ketika pagi tiba, sahabat tersebut pergi menjumpai Rasulullah. Rasulullah (saw) bersabda: Pada malam tadi allah Ta’ala tersenyum disebabkan karena amalan kalian berdua yakni Allah sangat bahagia melihatnya. Allah menurunkan wahyu: Wa yutsiruuna alaa anfusihim wa lau kaana bihim khasaasah wa man yuuqa syuhha nafsihii faulaaika humul muflihuun. Artinya: Mereka lebih mengutamakan orang lain daripada diri mereka sendiri, meskipun mereka sendiri sedang mengalami kesempitan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.

Hadhrat Anas meriwayatkan, ketika Rasulullah (saw) meminta untuk mencabut rambutnya, Hadhrat Abu Talha adalah orang pertama yang mengambil beberapa helai rambut beliau Saw. Hadhrat Anas meriwayatkan, Hadhrat Abu talha berkata kepada Hadhrat Ummu Sulaim, saya mendengar suara Rasulullah (saw) terdengar lemas, saya mengira Rasulullah (saw) tengah lapar. Apakah kamu memiliki sesuatu untuk dimakan? Hadhrat ummi salim berkata: Ia menjawab, “Ya” Lalu ia mengeluarkan sejumlah roti yang terbuat dari gandum, kemudian mengeluarkan kerudungnya, lalu membungkus roti tersebut dengan sebagiannya. Kemudian ia melilitkannya di bawah tanganku, lalu mengutusku kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alahi Wassalam.

Aku pun pergi dan menjumpai Rasulullah Shalallahu ‘Alahi Wasalam di masjid bersama sejumlah orang. Ketika aku berada di hadapan mereka, beliau bertanya kepadaku, “Apakah Abu Thalhah mengutusmu?” Aku menjawab, “Ya.” Beliau bertanya, “Dengan membawa makanan?” Aku menjawab, “Ya.” Maka Rasulullah Shalallahu ‘Alahi Wasalam bersabda kepada orang-orang yang bersamanya, “Berdirilah!” Beliaupun beranjak dan aku pun beranjak dari hadapan mereka hingga aku sampai kepada Abu Thalhah, lalu aku mengabarkan kepadanya.

Terkait:   Keteladanan Para Sahabat Nabi Muhammad (shallaLlahu ‘alaihi wa sallam) (Manusia-Manusia Istimewa seri 46)

Abu Thalhah berkata, “Wahai Ummu Sulaim, Rasulullah Shalallahu ‘Alahi Wasalam telah datang bersama sejumlah orang, sedangkan kita tidak mempunyai sesuatu untuk menjamu mereka.” Ia menjawab, “Allah dan RasulNya yang lebih tahu.” Lalu Abu Thalhah pergi hingga bertemu Rasulullah Shalallahu ‘Alahi Wasalam. Kemudian Rasulullah Shalallahu ‘Alahi Wasalam datang dan Abu Thalhah menyertainya, lalu beliau berkata, “Kemarilah wahai Ummu Sulaim, apa yang engkau miliki?” Maka ia membawa roti tersebut. Lantas Rasulullah Shalallahu ‘Alahi Wasalam memerintahkan untuk membukanya, dan Ummu Sulaim membuat kuah untuk menguahinya.

Kemudian Rasulullah Shalallahu ‘Alahi Wasalam mendoakan makanan itu apa yang hendak dikatakannya, kemudian beliau bersabda, “Izinkanlah untuk 10 orang!” lalu diizinkan dan mereka makan sampai kenyang, lalu mereka keluar. Kemudian beliau bersabda, “Izinkanlah untuk 10 orang!” Maka ia mengizinkan mereka, lalu mereka makan hingga kenyang, kemudian mereka keluar. Selanjutnya beliau mengatakan, “Izinkan untuk 10 orang!” Kemudian mereka semua makan hingga kenyang. Mereka semua berjumlah 70 atau 80 orang. Ini merupakan kisah keberkatan doa Hadhrat Rasulullah Saw.

Hadhrat Anas meriwayatkan: Abu Talha adalah orang yang paling banyak memiliki kebun kurma diantara sahabat anshar. Kebun yang paling beliau cintai adalah bernama Birhah yang terletak didepan masjid. Hadhrat Rasulullah biasa berkunjung ke kebun tersebut dan meminum air bersih disana. Hadhrat Anas berkata: ketika turun ayat yang berbunyi: Lan tanaalul birra hattaa tunfiquu mimmaa tuhibbuuna. Yakni kalian sekali kali tidak akan dapat meraih kebaikan sebelum memberikan sesuatu yang kalian cintai. Lalu bangkitlah Hadhrat Abu Talha dan berkata: Wahai rasul! Allah Ta’ala berfirman Lan tanaalul birra hattaa tunfiquu mimmaa tuhibbuuna. Yakni kalian sekali kali tidak akan dapat meraih kebaikan sebelum memberikan sesuatu yang kalian cintai. Diantara harta saya yang paling saya cintai adalah kebun Biruhah yang akan ku sedekahkan untuk Allah Ta’ala. Saya berharap semoga ini menjadi kebaikan yang diterima disisi Allah. Untuk itu ketika Allah memerintahkan kepada tuan, saat itu kami belanjakan.

Rasulullah (saw) bersabda: Bagus, ini merupakan harta yang memberikan faidah. Atau abadi. Rasulullah (saw) bersabda; Kamu telah mengatakan dan saya mendengarnya, menurut hemat saya bagikan kebun tersebut kepada kerabat atau anak anak paman. Saya akan amalkan perintah Rasulullah (saw) tersebut, lalu Abu Talha membagikannya kepada kerabat beliau. Hadhrat Abu Talha mendapatkan kemuliaan untuk memasuki kuburan putri Rasulullah untuk menurunkan jenazahnya. Hadhrat Anas meriwayatkan, suatu ketika penduduk Madinah ketakutan. Lalu Rasulullah (saw) mengendarai kuda Abu Talha yang berjalan dengan lambat yakni malas. Ketika Rasulullah (saw) kembali, bersabda: Hadhrat Abu Taha! Kami mendapati kudamu ada di sungai dan berlar kencang. Setelah itu tidak ada yang dapat menandingi kecepatan larinya kuda tersebut.

Hadhrat Anas meriwayatkan bahwa Rasulullah (saw) berjumpa dengan kami. Beliau dengan bercanda bersabda kepada adik laki-laki saya, “Wahai Abu ‘Umair, ada apa dengan Nughair?”. Abu ‘Umair memelihara seekor burung kecil yang diberi nama Nughair. Burung itu mati dan ia menjadi sangat sedih karenanya. Sambil bercanda Rasulullah (saw) bersabda mengenai burung itu, “Ia telah terbang.” Atau telah mati. Pendek kata, anak tersebut terhibur dengan perkataan Rasulullah (saw) tersebut.

Seringkali ketika waktu shalat tiba, Nabi (saw) datang ke rumah kami. Beliau memerintahkan untuk menghamparkan selimut yang kemudian beliau duduk di atasnya. Oleh karena itu kami menghamparkannya dan membersihkannya. Kemudian beliau (saw) berdiri untuk shalat dan kami berdiri melaksanakan shalat di belakang beliau (saw). Hadhrat Anas Bin Malik meriwayatkan, ketika Abdullah Bin Abu Thalhah Anshori lahir – yaitu adik beliau, putera dari Abu Thalhah, adik yang seibu dengan beliau – maka saya membawanya ke hadapan Rasulullah (saw). Rasulullah (saw) sedang mengenakan selimut besar sembari mengecat tanda pada untanya. Beliau (saw) bersabda, “Apakah kamu mempunyai kurma?”

Saya menjawab, “Ya”.

Saya memberikan beberapa kurma kepada beliau (saw). Beliau (saw) memasukkannya ke dalam mulut dan mengunyahnya hingga lembut. Kemudian beliau (saw) membuka mulut bayi itu dan menyuapkannya ke mulut bayi tersebut lalu bayi itu mengisapnya. Kemudian Rasulullah (saw) bersabda, “Yang paling disukai orang-orang Anshor adalah buah kurma.” Yakni, bayi pun menyukainya dan beliau (saw) memberikan nama Abdullah kepada bayi tersebut.

Hadhrat Anas Bin Malik meriwayatkan, “Putra Hadhrat Abu Thalhah sakit. Hadhrat Abu Thalhah pergi keluar, lalu anak itu meninggal. Ketika pulang, Abu Thalhah menanyakan kepada istrinya kondisi dari puteranya. Hadhrat Ummu Sulaim menjawab, ‘Kondisinya sudah lebih tenang dari sebelumnya.’ Kemudian beliau menghidangkan makan malam. Sang suami pun menyantapnya. Malam pun berlalu, kemudian beliau memberitahukan bahwa, ‘Anak itu telah meninggal, pergilah untuk memakamkannya.’ Pada pagi harinya Hadhrat Abu Thalhah menceritakan ini kepada Hadhrat Rasulullah (saw). Hadhrat Rasulullah (saw) mendoakan anak mereka.

Hadhrat Muslih Mau’ud (ra) menjelaskan peristiwa ini sebagai berikut, “Pada hakikatnya bagi seorang mukmin mengorbankan nyawa tidaklah ada artinya. Orang-orang ramai membicarakan mengenai apakah Ghalib (penyair di zaman Mughal akhir) biasa minum minuman keras ataukah tidak.”

Namun beliau bersabda, “Dia pun adalah saudara saya dan saya mendengar dari kakek dan bibiku bahwa dia suka minum minuman keras. Orang yang suka mabuk-mabukkan seperti dia pun mengatakan:

Bahkan, jika jiwa yang adalah milik-Nya telah dipersembahkan

Pada kenyataannya kewajiban tidak terpenuhi

Yakni, jika kita memberikan nyawa kita di jalan Allah Ta’ala, lalu kenapa? Nyawa ini adalah pemberian-Nya. Jadi, jika seseorang memberikan nyawa-Nya untuk mengamalkan perintah Allah Ta’ala, ia tidaklah melakukan pengorbanan yang besar karena nyawa pun adalah kepunyaan-Nya dan mengembalikan amanat yang dititipkan seseorang bukanlah pengorbanan yang besar.”

Beliau (ra) bersabda, “Di dalam hadits ada sebuah kisah mengenai seorang sahabat wanita, yaitu Ummu Sulaim. Rasulullah (saw) mengutus suami beliau, Abu Thalhah untuk suatu tugas pengkhidmatan Islam. Putra beliau sedang sakit dan sudah sewajarnya beliau memikirkan putranya yang sedang sakit tersebut. Ketika sahabat tersebut pulang, putranya telah meninggal ketika beliau sedang tidak ada. Ibunya menutupi jenazah putranya tersebut dengan kain, lalu mandi dan memakai wangi-wangian, dan dengan antusias menyambut suaminya.

Suaminya sesampainya di rumah menanyakan mengenai kondisi anak itu. Sahabat wanita tadi menjawab, “Anak itu sangat tenang.”

Beliau menghidangkan makanan kemudian berbaring dengan tenang dan juga melakukan hubungan suami istri. Ketika beliau telah selesai bertemu dengan istrinya, kemudian istrinya mengatakan, “Saya ingin menanyakan satu hal kepada anda.”

Sang suami menjawab, “Apa?”

Sang istri berkata, “Jika ada yang memberikan amanat kepada seseorang dan setelah beberapa waktu ia ingin mengambil kembali barang tersebut, apakah barang tersebut harus dikembalikan ataukah tidak?”

Beliau menjawab, “Siapa yang begitu bodoh tidak mau mengembalikan amanat seseorang.”

Sang istri berkata, “Pada akhirnya ia akan menyesal telah mengembalikan amanat tersebut.”

Beliau menjawab, “Untuk apa menyesal? Barang itu bukanlah miliknya, jika ia mengembalikannya maka bagaimana mungkin menyesalinya.”

Sang istri berkata, “Begitulah, anak kita adalah satu amanat dari Allah Ta’ala, dan Allah Ta’ala telah mengambilnya kembali dari kita.” Inilah ketabahan yang didapati dalam diri para wanita pada masa itu. Pendek kata, memberikan nyawa bukanlah sesuatu yang besar, khususnya bagi seorang mukmin, ini adalah suatu hal yang biasa. Kemudian sesuai dengan hadits yang telah disampaikan tadi, Rasulullah (saw) mendoakan mereka. Tidak berselang lama setelah peristiwa itu, lahirlah putra mereka dan Allah Ta’ala begitu besar memberikan karunia-Nya sehingga ada salah seorang Anshor meriwayatkan, “Saya melihat kesembilan anak Hadhrat Abu Thalhah dan ke semuanya adalah Qaari’ Al-Quran, yakni sembilan orang anak laki-laki.”

Terkait:   Keteladanan Muhammad bin Maslamah, Sahabat Rasulullah (saw)

‘Aashim Ahwal meriwayatkan, “Saya melihat mangkuk Nabi yang mulia (saw) ada pada Hadhrat Anas. Terdapat retakan di mangkuk tersebut. Hadhrat Anas menambalnya dengan perak. Itu adalah sebuah mangkuk yang besar dan indah yang terbuat dari kayu. Hadhrat Anas menuturkan, ‘Saya sering memberikan minum kepada Nabi yang mulia (saw) dengan mangkuk tersebut.’”

Ibnu Sirin mengatakan, “Mangkuk tersebut dipasangi kawat besi. Hadhrat Anas menginginkan supaya menggantinya dengan memasangkan emas atau perak. Namun Hadhrat Abu Talhah mengatakan kepadanya, ‘Janganlah sekali-kali merubah apa yang telah dibuat oleh Rasulullah (saw).’ Oleh karena itu beliau mengurungkan niatnya tersebut.”

Hadhrat Anas Bin Malik meriwayatkan, “Saya memberikan arak kurma kepada Hadhrat Abu Thalhah Anshari, Hadhrat Abu ‘Ubaidah Al-Jarah dan Hadhrat Ubay Bin Ka’ab. Tidak lama kemudian datanglah seseorang membawa berita bahwa arak telah diharamkan. Hadhrat Abu Thalhah seketika setelah mendengar berita dari orang tersebut berkata, “Wahai Anas! Pecahkanlah bejana-bejana itu!”

Hadhrat Anas mengatakan, “Saya memecahkan bejana-bejana itu dengan memukulkan sebuah batu ke bagian bawahnya.”

Hadhrat Anas bin Malik meriwayatkan, “Ketika Nabi yang mulia (saw) wafat, di Madinah ada satu orang yang biasa membuat lahad (model kuburan dengan ceruk di samping. pent) dan ada seorang lainnya yang biasa membuat syaq (model kuburan dengan jenazah diposisikan di tengah, dan ditutup sebelah atasnya lurus horizontal. pent).

Sahabat berkata, “Kami beristikharah kepada Tuhan kami dan memanggil keduanya. Diantara kedua orang tersebut yang datang belakangan maka kami akan meninggalkannya. Yakni, orang yang pertama datang lah yang akan dipekerjakan. Maka dipanggilah kedua orang tersebut, maka orang yang biasa membuat lahad lah yang pertama datang. Oleh karenanya sahabat itulah yang membuat lahad untuk Nabi yang mulia (saw).

Sekarang secara singkat saya akan menyampaikan riwayat seorang almarhum. Setelah shalat Jum’at saya akan menyalatkan jenazahnya. Yang terhormat Tn. Babu Muhammad Latif Amritsari ibnu (putra) Hadhrat Mia Nur Muhammad Sahib, seorang sahabat Hadhrat Masih Mau’ud (as). Beliau wafat pada tanggal 26 Januari 2020 di Rabwah pada usia 90 tahun. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Dengan karunia Allah Ta’ala beliau seorang mushi. Beliau adalah adik dari seorang mubaligh yang ternama, yang terhormat Maulana Muhammad Sadiq Amritsari. Ayah Tn. Babu Latif, Tn. Mia Nur Muhammad adalah sahabat Hadhrat Masih Mau’ud (as). Beliau membawa Tn. Babu Latif ketika masih remaja ke hadapan Hadhrat Khalifatul Masih Ats-Tsani (ra) untuk diwaqafkan. Hadhrat Khalifatul Masih Ats-Tsani berkata kepada beliau, “Anda mempunyai dua orang putra. Putra yang pertama telah waqaf zindegi dengan menjadi mubaligh, dia pun akan bekerja sepanjang usianya seperti halnya waqaf zindegi.” Demikianlah beliau bekerja seperti layaknya seorang waqaf.

Setelah 4,5 tahun bekerja di Direktorat Jenderal Perkeretaapian, pada bulan Oktober 1952 beliau mewaqafkan diri beliau sebagai karyawan untuk mengkhidmati Jema’at. Beliau mendapatkan taufik mengkhidmati Jema’at ini. Sejak 1952, pertama beliau ditugaskan di Nazarat Baitul Maal. Kemudian pada tahun 1954 beliau dipindahkan ke Kantor harian AL-Fazl.

Pada tahun 1961 beliau bekerja sebagai juru tulis di kantor Private Secretary. Beliau bekerja di kantor Private Secretary di Rabwah pada tiga tahun terakhir masa kekhilafahan Hadhrat Khalifatul Masih Ats-Tsani, kemudian di masa kekhilafahan Hadhrat Khalifatul Masih Ats-Tsalits. Setelah hijrahnya Hadhrat Khalifatul Masih Al-Rabi’ di sini berdiri kantor Private Secretary sampai sekarang. Di sana beliau mendapatkan taufik untuk berkhidmat hingga tahun 2014 dan pada usia 85 tahun diberikan tugas berkhidmat menjadi asisten Private Secretary, dan beliau melaksakan tugas beliau dengan sangat baik. Secara keseluruhan masa pengkhidmatan beliau adalah selama 62 tahun.

Beliau sangat mahir dalam bekerja, sangat cekatan dan fokus dalam bekerja, dan bersamaan dengan itu beliau pun memiliki kegemaran menelaah buku-buku jemaat. Beliau menelaah buku-buku Jema’at secara mendalam. Secara khusus beliau mendapatkan taufik berkhidmat dalam Nizam Syura’, beliau banyak berperan pada masa Khilafat ke-3 maupun setelahnya. Dalam rangkaian pelaksanaan tugas-tugas beliau di Private Secretary yang kaitannya dengan proses jual beli, beliau dengan sangat cakap dan penuh kerja keras membeli barang-barang dan menjaga harta milik Jema’at. Setelah berdirinya Pakistan beliau pun mendapatkan taufik untuk menjaga Markaz Qadian. Beliau tinggal di sana untuk beberapa lama. Beliau mempunyai lima orang putri dan satu orang putra. Beberapa hari sebelum beliau wafat seorang putri beliau juga wafat. Seorang putera beliau juga adalah mubaligh. Istri beliau juga tinggal di London beserta tiga orang putri dan satu orang putra beliau, Atiq Ahmad yang juga bekerja di sini.

Seorang karyawan di Private Secretary Tn. Rana Mubarak mengatakan, “Saya bekerja selama 32 tahun bersama beliau. Dalam kurun waktu yang lama beliau sendirian mengerjakan banyak sekali pekerjaan-pekerjaan kantor yang kaitannya dengan Majlis Syuro dan selalu menasihatkan, “Ketika kesulitan-kesulitan dan kegelisahan-kegelisahan duniawi muncul, maka seiring dengan berdoa, lebih sibukanlah diri dalam pekerjaan-pekerjaan kantor, maka Allah Ta’ala akan menjauhkan kegelisahan-kegelisahan tersebut. Jika para karyawan melakukan kekeliruan-kekeliruan, beliau memberikan nasihat dengan penuh kasih kasayang. Demikian juga karyawan lainnya pun menulis bahwa beliau adalah seorang yang sangat rajin bekerja. Beliau banyak memberikan bimbingan kepada para karyawan. Beliau sangat menguasai kaidah-kaidah anjuman, sangat baik dalam penulisan, dalam pemilihan kata pun sangat baik. Ketika mulai menulis, beliau mengawalinya dengan menuliskan bismillah, dan sangat disiplin dalam hal ketepatan waktu datang ke kantor. Namun tidak demikian halnya ketika pulang dari kantor, ketika waktu kantor telah selesai beliau tidak meninggalkan kantor, melainkan tetap duduk di sana selama pekerjaan belum selesai. Terkadang beliau duduk sepanjang malam dan pulang pada pagi hari keesokan harinya. Saya sendiri ketika masih tinggal di Rabwah berkali-kali melihat beliau melakukan seperti itu. Dengan rajin beliau datang ke kantor. Ketika waktu shalat maghrib tiba, beliau datang dari kantor, demikian juga pada waktu shalat Isya beliau datang dari kantor. Terkadang pada waktu shalat subuh pun beliau datang dari kantor. Beliau seorang pekerja keras. Tidak pernah mempedulikan pulang ke rumah atau jam kantor telah habis. Tujuan utama beliau adalah mengerjakan tugas Jema’at. Satu keistimewaan lainnya dari beliau adalah tidak pernah memperbincangkan suatu permasalahan dengan orang lain, beliau selalu menjaga kerahasiaan isi surat-surat.

Tn. Nasir Sa’id menulis, “Pada tahun 1974 ketika Hadhrat Khalifatul Masih Ats-tsalits (rh) hadir di Sidang Nasional Islamabad, almarhum berada di sana sebagai staff Private Secretary, dan selain mengerjakan pekerjaan kantor, beliau juga membantu pekerjaan-pekerjaan lainnya. Beliau mencuci gelas-gelas bersama dengan para karyawan-karyawan lainnya. Beliau adalah seorang yang tanpa pamrih.” Semoga Allah Ta’ala memberikan rahmat dan ampunan-Nya kepada beliau dan meninggikan derajat beliau. Semoga putra putri dan anak keturunan beliau melanjutkan kebaikan-kebaikan beliau.

Khotbah II

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ

وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ –

وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ‑

عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ!

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ

يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ –

أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Penerjemah: Mln. Mahmud Ahmad Wardi, Syahid (London, UK) dan Mln. Hashim; Editor: Dildaar Ahmad Dartono.