https://ahmadiyah.id/wp-content/uploads/2021/05/services-head-1.png

Ramadhan: Pemahaman atas Filosofi Pengabulan Doa-Doa

Ramadhan: Pemahaman atas Filosofi Pengabulan Doa-Doa

ramadhan pengabulan doa

Khotbah Jumat Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 16 April 2021 (Syahadat 1400 Hijriyah Syamsiyah/Ramadhan 1442 Hijriyah Qamariyah) di Masjid Mubarak, Tilford, UK (United Kingdom of Britain/Britania Raya).

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ. (آمين)

Table Of Contents

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

 أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ()

 شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْءَانُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

 وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

Terjemahan ayat-ayat tersebut ialah sebagai berikut:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atasmu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelummu, supaya kamu bertakwa.

Berpuasa yang diwajibkan ialah pada beberapa hari yang telah ditentukan bilangannya. Maka, siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan, hendaklah ia berpuasa sebanyak itu pada hari-hari lain dan bagi orang-orang yang berpuasa dengan kesukaran yang sangat hendaklah membayar fidyah berupa memberi makan seorang miskin. Dan siapa berbuat kebaikan dengan rela hati maka hal itu lebih baik baginya. Dan berpuasa itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi semua manusia disertai keterangan-keterangan yang nyata mengenai petunjuk dan pembeda. Maka dari itu, siapa di antaramu hadir pada bulan ini hendaklah ia berpuasa. Tetapi, siapa yang sakit atau dalam perjalanan maka berpuasalah pada hari-hari lain sebanyak bilangan hari yang luput dari berpuasa itu. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan Dia tidak menghendaki kesukaran bagimu dan kamu menyempurnakan bilangan puasa yang hilang itu dan supaya kamu mengagungkan Allah karena Dia telah memberi petunjuk kepadamu dan supaya kamu menjadi hamba-hamba yang bersyukur.

Maka dari itu, siapa di antaramu hadir pada bulan ini hendaklah ia berpuasa. Tetapi, siapa yang sakit atau dalam perjalanan maka berpuasalah pada hari-hari lain sebanyak bilangan hari yang luput dari berpuasa itu. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan Dia tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dia memerintahkan hal ini supaya kamu tidak dalam kesukaran, kamu menyempurnakan bilangan puasa yang hilang itu dan supaya kamu mengagungkan Allah karena Dia telah memberi petunjuk kepadamu dan supaya kamu menjadi hamba-hamba yang bersyukur.

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepada engkau tentang Aku, katakanlah kepada mereka sesungguhnya Aku dekat dengan mereka. Aku kabulkan doa-doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku, karena itu hendaklah mereka yang berdoa kepada-Ku menyambut seruan-Ku dan beriman kepada-Ku supaya mereka meraih petunjuk.” (Surah al-Baqarah: 2: 184-187. Bismilllahir Rahmaanir Rahiim dihitung ayat ke-1.)

Meraih Ketakwaan

Dengan karunia Allah Ta’ala tahun ini kita mendapatkan kesempatan lagi untuk memasuki bulan Ramadhan. Kita hendaknya selalu ingat dengan hanya memasuki bulan Ramadhan dan melewatinya saja tidaklah cukup atau hanya dengan makan sahur lalu berpuasa dan berbuka pada waktu sore tidaklah dapat memenuhi tujuan puasa. Melainkan puasa yang kita lakukan hendaknya sesuai dengan perintah Allah Ta’ala yaitu untuk menciptakan perubahan suci dalam diri. Berkenaan dengan puasa Allah Ta’ala telah memberikan beberapa ketentuan hukum kepada kita dan sebagai buahnya Dia menyampaikan kabar suka akan menganugerahkan Qurb Ilahi dan pengabulan doa.

Di dalam ayat-ayat yang saya tilawatkan tadi, Allah Ta’ala telah menarik perhatian kita akan kewajiban puasa. Allah Ta’ala pun memberitahukan bahwa jika sakit atau alasan yang dibenarkan lainnya, setelah memanfaatkan keringanan, hendaknya memenuhi bilangan puasa yang luput, di kemudian hari. Namun, jika sakitnya berkepanjangan sehingga tidak bisa melunasi bilangan yang tertinggal, maka diperintahkan untuk membayar fidyah. Perlu diingat bahwa meskipun di kemudian hari ia mampu untuk berpuasa, akan lebih baik baginya untuk tetap membayar fidyah, jika yang bersangkutan memiliki kemampuan dari sisi finansial.

Selanjutnya, berkenaan dengan keutamaan dan turunnya Al-Quran diberitahukan kepada kita bahwa Al Quran merupakan hidayah bagi kita dengan membacanya dan mengamalkannya dapat menjadi sarana untuk keteguhan dalam iman dan juga menjadi sarana untuk menjalin hubungan dengan Allah Ta’ala dan dapat memahami ajaran yang Allah berikan.

Allah ta’ala juga telah memberikan kabar suka kepada kita dengan menyatakan: Wahai Nabi! Katakanlah kepada hamba hamba-Ku, bahwa Aku dekat, Aku mendengar doa-doa dan mengabulkannya.

Berkenaan dengan Ramadhan, Rasulullah (saw) bahkan pernah bersabda, “Allah Ta’ala turun ke langit bagian bawah.” Artinya, Allah Ta’ala mendengar banyak sekali doa-doa hamba-Nya. Allah Ta’ala berfirman, “Jika kalian ingin Aku mendengar doa-doa kalian, kalian harus menaati perintah-Ku. Apapun yang Aku perintahkan, kalian harus mengamalkannya. Tidak hanya di bulan Ramadhan, bahkan kalian harus menjadikan kebaikan-kebaikan itu sebagai bagian dari kehidupan untuk selamanya dan kalian harus meneguhkan keimanan.

Syarat-Syarat bagi Terkabulnya Doa-Doa

Alhasil, untuk keterkabulan doapun terdapat beberapa syarat, jika kita menata doa-doa kita sesuai dengan syarat tersebut, maka kita akan mendapati Allah Ta’ala didekat kita dan mendengarkan doa do akita.

Hari ini saya akan sampaikan topik doa dengan mengutip beberapa sabda Hadhrat Masih Mau’ud (as), begitu juga keutamaannya. Sejauh berkenaan dengan perbaikan keadaan amalan, apa saja syarat pengabulan doa, begitu juga falsafah dan kedalamannya seperti yang beliau sabdakan, saya akan sampaikan sebagiannya. Masih banyak diantara kita yang setelah memanjatkan doa alakadarnya lalu mengatakan bahwa Allah Ta’ala tidak mengabulkan doa-doa kami. Dengan kata lain, seolah-olah Allah Ta’ala harus menuruti apa yang kita katakan yakni naudzubillah seolah-olah Allah Ta’ala terikat dengan perintah kita, sesuai dengan yang kita inginkan. Allah Ta’ala telah menyatakan secara jelas, “Itu tidak akan terjadi. Pertama, kalian harus mematuhi perintah-Ku dan menyelaraskan amalan sesuai dengan ajaran Al Quran.”

Dalam bulan Ramadhan, dimana tercipta suasana untuk melakukan kebaikan, dimulai mata rantai penyampaian dars, Allah Ta’ala mengatakan, “Perhatikanlah dengan seksama petunjuk dan perintah perintahKu dan amalkanlah. Evaluasilah keimanan kalian, seberapa teguh keimanan kalian, apakah keimanan kalian akan goyah Ketika ditimpa masalah atau menghadapi cobaan?”

Alhasil, ini merupakan topik dimana pertama tama hamba harus melangkahkan kaki dan ketika sudah sampai pada puncaknya, selanjutnya rahmat dan kasih sayang Allah Ta’ala akan memancar begitu juga karunia-Nya. Perlu bagi kita untuk memahami hal itu.

Bagaimana tanda-tanda bahwa Doa-Doa itu telah Dikabulkan?

Dalam satu kesempatan, Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda,

“Doa merupakan kebanggaan yang istimewa bagi Islam dan umat Muslim sangat bangga akan hal ini. Namun, perlu diingat, doa bukanlah nama ucapan lisan belaka melainkan hati dipenuhi oleh rasa takut kepada Allah Ta’ala. Ruh orang yang memanjatkan doa mengalir layaknya air lalu jatuh ke singgasana Ilahi, kemudian ia memohon daya, kekuatan dan ampunan dari Allah Ta’ala untuk menghilangkan segala kelemahan dan kealpaannya dan ini merupakan suatu keadaan yang dalam istilah lain dapat disebut dengan maut.

Apabila keadaan seperti ini hadir, yakinlah bahwa pintu keterkabulan doa terbuka untuknya, dan ia dianugerahkan dengan kekuatan, karunia dan kesanggupan khas untuk terhindar dari keburukan-keburukan dan teguh dalam kebaikan-kebaikan. Inilah jalan yang unggul dan paling ampuh.”[1]

Walhasil, inilah metoda doa, jalan meraih kedekatan Allah Ta’ala, cara meraih pengabulan doa dan cara untuk suci dari dosa-dosa.

Dewasa ini kerap timbul pertanyaan, bagaimana kita mengetahui bahwa dosa kita telah diampuni dan Allah Ta’ala telah meridai kita?

Dalam hal ini, Hadhrat Masih Mau’ud (as) pun telah menjelaskan satu hal mendasar yaitu apabila hubungan hakiki dengan Allah Ta’ala – yang merupakan hubungan langgeng, dan yang untuknya insan itu telah berupaya secara hakiki – itu tegak, baginya suatu karunia Allah Ta’ala dimana Dia menganugerahinya kesanggupan untuk terhindar dari keburukan-keburukan; tidak hanya agar insan terhindar dari keburukan-keburukan, ia bahkan dianugerahi kekuatan untuk menjalankan kebaikan-kebaikan yang langgeng. Jika tidak demikian, tidaklah insan dapat mengatakan telah meraih kedekatan dengan Allah Ta’ala. Jadi, insan akan dapat menjadi hamba hakiki tatkala ia berpikir ke arahnya dan melakukan upaya sesuai dengannya; dan di bulan Ramadhan ini pun kita hendaknya berupaya untuknya.

Mengenai doa, sebagaimana saya telah sampaikan, saya akan menyampaikan beberapa sabda Hadhrat Masih Mau’ud (as) ke hadapan Anda sekalian. Pada satu kesempatan Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda berkenaan dengan pengabulan doa,

“Pada hakikatnya, pengabulan doa ini adalah satu cabang dalam pembahasan tentang doa; dan merupakan hal yang lazim, orang yang tidak memahami dasar sesuatu, ia akan mendapati kerumitan-kerumitan dalam memahami cabangnya, dan akan mengalami kesalahan. Untuk memahami sesuatu, perlu untuk memahami dasarnya. Jika ia tidak kunjung memahami hal yang mendasar, betapapun banyak penjabaran, tafsiran, dan penjelasan tentangnya, ia tidak akan dapat memahami.”

Beliau bersabda,

“Hakikat doa adalah, adanya satu hubungan mujazibah yaitu hubungan tarik menarik antara sesosok hamba suci dengan Rabbnya. Maksudnya, pertama sifat rahmaniyat Allah Ta’ala menarik hamba kearah-Nya lalu segenap daya upaya hakiki dari seorang hamba menjadikan Allah Ta’ala dekat dengannya. Jika semua daya upaya dari hamba itu adalah dengan kebenaran dan ketulusan hati, maka Allah Ta’ala akan menjadi dekat dengan hamba itu; dan dalam keadaan doa, hubungannya itu akan sampai pada suatu kedudukan khas, dimana ia menampakkan sifat-sifat mukjizatnya; berbagai corak keadaan yang luar biasa menjadi muncul.

Seorang hamba tatkala ia terjepit dalam suatu kesulitan besar lalu dengan penuh keyakinan, penuh pengharapan, penuh kecintaan, penuh kesetiaan, dan penuh kesabaran tunduk ke hadapan Allah Ta’ala dan dengan kesadaran sempurna ia merobek tabir-tabir kelalaian dan ia berupaya terus maju dalam medan kefanaan, apakah selanjutnya yang ia saksikan? Yaitu singgasana ketuhanan yang tiada lagi sekutu bagi-Nya; maka saat itulah ruhnya sampai pada singgasana-Nya itu. Di saat itu, baginya hanya Tuhan dan Tuhanlah yang tampak, dan segala seuatu menjadi gaib dalam pandangannya, artinya dunia tidak lagi memiliki kedudukan di hadapannya, segala sesuatu menjadi tak bermakna baginya dan hanya Tuhanlah yang ada. Jadi, akan timbul keadaan seperti ini, yaitu ketika ia melihat Tuhan, ruhnya pun rebah pada singgasana-Nya dan daya untuk menarik yang terdapat dalam dirinya itu menarik karunia-karunia Allah Ta’ala ke arahnya.

Di dalam diri seorang hamba pun terletak suatu daya untuk menarik, dimana ia pun mulai menarik karunia-karunia Allah Ta’ala itu. Maka, pada saat itulah Allah Yang Maha Kuasa pun mengarahkan wujud-Nya, dan memasukkan pengaruh doa itu ke dalam segenap sarana-sarana lahiriah. Apapun sarana-sarana mendasar yang penting untuk jalannya pekerjaan itu, segala sesuatu yang diperlukan, segala kelaziman yang diperlukan, Allah Ta’ala memasukkan pengaruh-Nya itu ke dalamnya, yang dengannya lahirlah sarana-sarana yang diperlukan untuk meraih tujuan itu. Contohnya, apabila ia berdoa supaya diturunkan hujan, maka setelah pengabulan doanya, yaitu dari pengaruh doanya itu maka diciptakanlah sarana-sarana alamiah yang diperlukan untuk turunnya hujan. Dan jika ia mendoakan buruk agar diturunkan kemarau, maka Wujud yang Maha Kuasa pun melahirkan sarana-sarana yang berlawanan dengan itu.”

Kemudian bersabda,

“Sedemikian banyaknya, ribuan mukjizat para nabi yang telah tampak, atau segenap karomah dan hal-hal luar biasa yang terus diperlihatkan oleh para wali hingga saat ini, asal dan sumbernya adalah doa ini; dan kebanyakan, pengaruh doa-doa itulah yang terus memperlihatkan berbagai macam pemandangan kodrat Ilahi yang luar biasa.”

Al-Quran Syarif pun penuh dengan nubuatan-nubuatan yang tak terbatas. Selain itu kita menyaksikan, bahwa di zaman Hadhrat Masih Mau’ud (as) pun banyak nubuatan-nubuatan yang telah sempurna, banyak orang suci yang mendapatkan mimpi-mimpi suci yang kemudian menjadi menjadi benar karena pengaruh dari doa-doa. Jadi, semua hal ini adalah terjadi tatkala seorang hamba dengan segenap ketulusan tunduk di handapan Allah Ta’ala.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) lebih jauh menjelaskan,

“Allah Ta’ala berfirman, وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا  ‘Walladziina jaahaduu fiina lanahdiyannahum subulana.’ – ‘siapa saja yang berusaha di jalan Kami, maka Kami akan memperlihatkan jalan-jalan Kami untuknya.’ (Al-Ankabut, 29:70). Di sini, usaha menjadi tugas pertama bagi manusia. Engkau [manusia] harus berusaha; ini merupakan suatu janji, dan di sini ada doa yaitu اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ . [Jadi] Allah Ta’ala telah berjanji, “berusahalah, maka Aku akan memperlihatkan jalan-Ku”, dan di sisi lain Dia pun mengajarkan doa اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ yaitu berikan kami petunjuk ke jalan yang lurus. Jadi, hendaknya insan memperhatikan bahwa di dalam solat ia harus berdoa dengan perih dan merintih, dan memohon agar ia termasuk di dalam orang-orang yang telah meraih kemajuan dan penglihatan ruhani; dan jangan sampai ia diangkat dari dunia ini dalam keadaan buta dan tanpa penglihatan ruhani. Maka dari itu Dia berfirman, وَمَن كَانَ فِي هَٰذِهِ أَعْمَىٰ فَهُوَ فِي الْآخِرَةِ أَعْمَىٰ وَأَضَلُّ سَبِيلًا () yaitu siapa saja yang buta di dunia ini, maka di dunia kelak pun ia akan buta.’ (Surah Al-Isra, 17:73)”

Artinya, ia yang buta secara ruhani, yaitu ia yang telah tenggelam di dalam keduniaan dan ia telah tidak mengenal Allah Ta’ala, tidak mengetahui hikmat doa-doa, tidak mengetahui adanya pengaruh doa-doa dan ia telah tenggelam dalam dunia, maka di dunia kelak ia pun tidak akan sanggup meraih kedekatan Allah Ta’ala.

Jadi beliau bersabda, “Persiapan untuk akhirat hendaknya di dilakukan di dunia ini dan persiapkanlah untuknya.”

Beliau bersabda,

“Persiapan untuk akhirat hendaknya dilakukan di dunia ini juga. Maka siapkanlah untuknya. Ini bermakna bahwa untuk dapat melihat di dunia kelak (yang kemudian), kita harus berupaya membawa mata dari dunia ini juga.” (yakni, apabila ingin melihat dunia yang kelak, yaitu dunia yang kita raih dengan mendekatkan kepada Allah Ta’ala, maka untuk melihatnya kita harus berupaya untuk dapat melihat di dunia juga) yaitu kita harus mempersiapkan indra-indra yang tepat di dunia ini juga untuk merasakan pemahaman mengenai dunia yang akan datang. Jadi, dapatkah dianggap Allah Ta’ala berjanji dan Dia tidak menepatinya?”

Lalu bersabda,

“Maksud buta adalah ia yang kosong dari makrifat-makrifat dan kelezatan-kelezatan rohani. Seorang yang secara buta mengaku Muslim hanya karena ia telah terlahir dalam keluarga Muslim, maka ia tengah melakukan taklid buta. (ia hanya memiliki iman yang buta dan tengah mengikuti taklid buta; ia tidak mengamalkan apapun, dan hanya mengikut saja, karena dirinya telah lahir di keluarga Muslim sehingga ia mengaku Muslim) demikian pula contoh seorang Kristen yang mengaku Kristen hanya karena telah terlahir dalam keluarga Kristen. Keadaan inilah penyebab orang seperti demikian tidak menghormati Tuhan, Rasul, atau Al-Quran. Cinta orang seperti itu kepada agama pun layak dipertanyakan.

Siapa saja yang bertaklid buta, kecintaannya kepada agamanya pun layak dipertanyakan. Sebagian dari mereka tetap saja berteman dengan orang-orang yang menghina Tuhan dan Rasul. Sebab perbuatan mereka ialah karena orang seperti mereka tidak memiliki mata ruhani. Di dalam diri mereka tidak ada kecintaan terhadap agama. Apakah seorang yang sungguh mencintai, akan menyukai sesuatu yang berlawanan dengan [kesukaan] kekasihnya? (jika memang mencintai, ia tidak akan menyukai sesuatu yang berlawanan dengan kekasihnya) Maka dari itu, Allah Ta’ala telah mengajarkan, ‘Aku siap memberikan diin [petunjuk] jika engkau siap menerimanya.’ Jadi, doa seperti ini adalah sebagai persiapan dalam menerima petunjuk Ilahi.”

Menjadi Hamba-Hamba Sejati Tuhan

Walhasil, dalam hari-hari ini, banyaklah berdoa, اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ yang mana itu artinya, “Wahai Allah Ta’ala, bimbinglah kami ke jalan yang lurus. Bersihkanlah kalbu kami dan jadikanlah kami hamba yang hakiki; dan jadikanlah juga orang-orang yang memenuhi hak-hak para hamba Allah Ta’ala. Bukan menjadi seperti yang tengah dilakukan para ekstrimis dewasa ini, dimana mereka menganiaya atas nama Tuhan dan Rasul.”

Semoga Allah Ta’ala menyelamatkan setiap kita juga dari kejahatan mereka yang aniaya seperti ini.

Ada sebagian orang yang berkata bahwa dirinya telah sedemikian berdosa sehingga Allah Ta’ala tidak akan mengampuninya. Kemudian mereka bertanya, sampai batas mana dosa-dosa dapat diampuni? Maka dengan menyatakan dirinya tidak akan diampuni, justru menjadikan dirinya semakin jatuh dalam dosa-dosa. Pada dasarnya, setan tengah memasukkan keraguan di dalam hatinya, yaitu setan tengah menggunakan senjatanya untuk menjauhkannya dari Allah Ta’ala, dan orang seperti demikian semakin berputar di tangan setan.

Namun demikian, Hadhrat Masih Mau’ud (as) menjelaskan jalan untuk keluar dari serangan dan cengkeraman setan dengan bersabda,

“Pemikiran (anggapan) seseorang telah melakukan banyak dosa janganlah sama sekali menjadikan si pendosa itu untuk berhenti dari doa.” (Janganlah berhenti dengan mengatakan, “Saya telah banyak berdosa sehingga berhenti berdoa”).

Beliau (as) bersabda,

“Doa adalah obat penawar. Pada akhirnya, dengan doa, ia akan melihat betapa ia telah memandang benci kepada dosa itu.” (Doa itulah penyembuh untuk terhindar dari dosa-dosa. Jika engkau berdoa dengan kesabaran, maka engkau akan melihat betapa bencinya engkau terhadap dosa itu dan setan akan menjauh) “Orang yang tenggelam dalam pelanggaran dan putus asa akan pengabulan doa, dan tidak kembali kearah pertobatan, pada akhirnya ia akan menjadi pengingkar para Nabi serta pengaruh-pengaruh sucinya. Lalu mereka pun menjadi jauh dari agama. Orang seperti demikian telah jauh dari agama.”

Seraya mereka menjauh dari para Nabi, mereka pun akan sampai pada sikap ateisme [tidak mengakui adanya Tuhan]. Jadi, Islam pun memperlihatkan sinar harapan bagi orang seperti demikian yaitu mereka yang tenggelam dalam dosa-dosa. Ini adalah bulan Ramadhan yang tiada lain untuk melahirkan kesempatan seperti demikian, yaitu bagaimana agar bertaubat dari dosa-dosa dan untuk melahirkan suasana ini, Allah Ta’ala setiap tahun memperlihatkannya kepada kita. Jadi, hendaklah mengambil faedah dari bulan ini.

Hadhrat Masih Mau’ud seraya menyampaikan sebuah ilham yaitu اجیب کل دعائک , beliau bersabda:

“Tuhan Pelindung saya nan Pengasih dengan jelas berjanji kepada saya, اجیب کل دعائک  . Namun demikian saya sungguh memahami bahwa maksud kul [setiap] di sini adalah, [doa] yang jika tidak dikabulkan maka akan mendatangkan mudarat (kerugian).” (Maksudnya, saya menganggap “setiap doa” di sini tidaklah bermakna setiap doa akan dikabulkan; namun “setiap doa” di sini bermakna [doa] yang jika tidak dikabulkan maka akan mendatangkan mudarat (atau jika dikabulkan maka tidak akan merugikan).

“Tetapi, jika Allah Ta’ala menghendaki tarbiyat dan perbaikan untuknya, maka penolakan itulah yang merupakan bentuk pengabulan doanya. Ada sebagian kesempatan manusia terus gagal dalam suatu doa dan ia menganggap Allah Ta’ala telah menolak doanya, padahal sesungguhnya Allah Ta’ala telah mendengar doanya. Pengabulan-Nya itu adalah dalam corak penolakan, karena dibalik itu, dan pada hakikatnya, kebaikan untuknya adalah terdapat pada penolakan-Nya itu. Karena insan berpandangan terbatas dan tak mampu memandang jauh, dan bahkan menyukai hal lahiriah, hendaknya tatkala ia memanjatkan doa kepada Allah Ta’ala, dan secara lahiriah tampak hal yang diinginkannya tidak terwujud, janganlah ia menjadi berburuk sangka kepada Tuhan, ‘Dia telah tidak mendengarkan doa saya’; sesungguhnya, Dia mendengar doa setiap insan. Dia berfirman, ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ Ud’uuni astajib lakum – ‘Berdoalah kepada-Ku, niscara akan Aku kabulkan.’ (Surah al-Ghafir, 40:61) rahasianya adalah, kebaikan itu [terkadang] terletak pada tertolaknya doa. Yakni, kebaikan untuk pendoa itu terletak pada penolakan doanya itu.”

Kemudian dalam menjelaskan semakin jauh perkara ini beliau bersabda: “Asas doa adalah, Allah Ta’ala tidak mengikuti kehendak dan keinginan kita dalam mengabulkan doa. Lihatlah betapa seorang anak dicintai oleh ibunya dan ibunya menghendaki agar tidak ada suatu kesusahan apapun yang menimpanya. Namun, apabila anak itu dengan tidak pada tempatnya bersikeras akan sesuatu, dan ia meminta pisau tajam, kilatan api atau percikan bara api maka apakah ibu yang meskipun memiliki kecintaan dan belas kasih hakiki kepadanya akan tega untuk membiarkannya menyentuh bara api yang akan membakarnya itu atau membiarkannya melukai tangannya dengan pisau yang tajam itu? Sama sekali tidak. Dengan asas inilah kita dapat memahami asas pengabulan doa.”

Beliau bersabda,

“Saya sendiri memiliki pengalaman akan hal ini, yaitu ketika di dalam doa ada satu bagiannya yang memudaratkan (membahayakan atau merugikan), doa itu sama sekali tidak akan terkabul. Ini bukanlah berarti semua doa saya telah terkabul. Allah Ta’ala lebih mengetahui. Dia mengetahui yang gaib tatkala di dalam doa tersebut terdapat hal yang memudaratkan dan merugikan, maka doa saya itu tidak akan dikabulkan.

Beliau bersabda,

“Hal ini sungguh dapat dipahami, ilmu pengetahuan kita tidak sungguh benar dan pasti. Banyak pekerjaan dimana kita menjalankannya dengan sangat senang dan menganggapnya beberkat, dan dalam pikiran kita hasilnya pun kita anggap akan sangat beberkat, namun pada akhirnya hasilnya adalah kesedihan dan musibah yang menimpa.”

Tidak Kecewa bila doa-doa tampaknya tidak dikabulkan

Banyak contoh yang dewasa ini pun kita menyaksikannya. Setiap hari, dalam surat-surat yang saya terima, saya melihat orang-orang menuliskan surat untuk memohon doa lalu mereka berpikir untuk memaksa melakukan pekerjaan itu dan mereka pun berupaya untuknya, namun pada akhirnya tidaklah berhasil baik kemudian ia beranggapan buruk kepada Allah Ta’ala, “Kami telah banyak berdoa, dan banyak bersedekah, dan telah memulai pekerjaan ini, namun demikian ini tidaklah berhasil baik, atau hal ini yaitu doa kami tidaklah dikabulkan.”

Hal yang pertama adalah, bahwa hal ini pun hendaknya dilihat, yaitu apakah hal-hal yang menjadikan doa itu terkabul telah terpenuhi, apakah hubungan dengan Allah Ta’ala itu telah terjalin, karena jika tidak maka itu hanyalah sekedar mengumpulkan kata-kata saja, yaitu seperti yang Hadhrat Masih Mau’ud (as) telah sabdakan.

Sementara itu, jika ia telah memanjatkan doanya hingga batasnya, lalu Allah Ta’ala tetap menolak doanya, atau tujuannya tidak tercapai, maka inilah hikmat dari Allah Ta’ala, dan di sinilah letak faedah untuk manusia itu. Kemudian, apabila karena kesalahannya ia tetap bersikeras, maka bukannya manusia berburuk sangka kepada Allah Ta’ala, hendaknya ia beristigfar dan mengakui kesalahannya yaitu ia bersikeras dalam hal yang bukan haknya.

Ada juga sebagaian orang yang telah berdoa dan memohon, ‘Ya Allah, jika hal ini baik kabulkanlah ia. Jikapun tidak baik maka tetap kabulkanlah ia”; hal ini kerap juga terjadi dalam sebagian hubungan pernikahan. Allah Ta’ala telah mendengar doanya, pernikahannya pun telah terjadi sebagaimana keinginannya, namun beberapa masa kemudian mereka pun berpisah. Doa seperti ini pun sebaiknya jangan dilakukan. Terkadang untuk memberikan pelajaran, Allah Ta’ala pun mengajarkan manusia, yaitu terkadang Dia mengabulkan doa-doanya yang seperti itu, yaitu doa yang tidak baik untuknya, namun tatkala hasilnya tampak di hadapannya, ia pun menjadi bertaubat dan beristigfar.

Maka dari itu beliau bersabda,

“Jadi, segala keinginan manusia tidaklah dapat dikatakan benar jika terpenuhi, karena manusia terdiri dari lupa dan juga kesalahan. Manusia kerap melakukan kesalahan-kesalahan; oleh karena itu, suatu hal yang mungkin bahwa sebagian keinginan manusia itu memudaratkannya. Dan seandainya Allah Ta’ala mengabulkannya, maka ini akan jelas berlawanan dengan sifat belas kasih-Nya.”

Sebagian keinginan adalah memudaratkan; lalu jika seorang itu adalah sungguh hamba Allah Ta’ala yang benar dan terkasih, maka ia tidak akan mengabulkan doanya itu untuknya, karena hal itu bertentangan dengan sifat belas kasih-Nya. Dia tidak akan memberikan kerugian kepada sosok-sosok terkasih-Nya dengan cara ini.

Beliau bersabda,

“Ini adalah perkara yang benar dan pasti, Allah Ta’ala mendengar doa hamba-hamba-Nya dan menganugerahkan kepada mereka kemuliaan pengabulan, tetapi tidak untuk setiap keinginan yang bodoh. Emosi batin membutakan seseorang terhadap apa yang terbaik untuk jangka panjang dan menggerakkannya untuk memanjatkan doa yang dapat merugikannya sendiri. (Tidak terfikir olehnya, apa akibat yang akan muncul nantinya) Namun, Allah Ta’ala yang notabene menginginkan yang terbaik untuk kita dalam arti yang sebenarnya dan melihat tujuan akhir dari segala sesuatu, kemudian Dia menolak doa yang akan mengantarkan si pemohon pada bahaya dan kerugian jika doa itu dikabulkan. Penolakan doa ini sebenarnya merupakan sebuah bentuk pengabulan baginya. (Demikianlah prinsip Allah Ta’ala bagi para kekasihNya). Jadi, Allah Ta’ala akan mengabulkan doa-doa yang didalamnya insan terlindung dari malapetaka dan kesulitan, namun doa-doa yang dapat merugikan akan dikabulkan oleh Allah Ta’ala dalam bentuk penolakan.

Saya telah mendapatkan ilham berikut berkali-kali,seperti yang telah disampaikan sebelumnya, berbunyi, اجیب کل دعائک  Aku akan mengabulkan setiap doa engkau.

Dengan kata lain, ini berarti bahwa setiap doa yang pada hakikatnya bermanfaat dan menguntungkan, akan dikabulkan.” (Beliau as menjelaskan bahwa doa yang dapat memberikan manfaat, akan dikabulkan, Selanjutnya bersabda),

“Ketika saya merenungkan poin ini, jiwa saya dipenuhi dengan kelezatan dan kebahagiaan. Pertama kali saya menerima wahyu ini, sekitar dua puluh lima atau tiga puluh tahun yang lalu, saya sangat senang, karena Allah Ta’ala akan menerima doa-doa yang akan saya panjatkan untuk diri saya sendiri maupun orang-orang yang saya sayangi. Setelah itu, saya berfikir bahwa dalam hal ini jangan bersikap kikir, karena ini merupakan nikmat Ilahi dan berkenaan dengan sifat orang-orang yang bertakwa, Allah Ta’ala berfirman, وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ () mereka membelajakan dari apa apa yang telah Kami rezekikan kepada mereka.’ Oleh karena itu, saya tetapkan prinsip ini bagi teman-teman saya, apakah mereka mengingatkan saya atau tidak; apakah mereka memberi tahu saya tentang masalah serius atau tidak, saya secara teratur berdoa untukkebaikan ruhani dan jasmani mereka.”

Berkenaan dengan syarat syarat pengabulan doa, Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda:

“Namun, perhatikan dengan penuh kehati-hatian bahwa ada prasyarat tertentu untuk terkabulnya doa. Beberapa diantaranya berhubungan dengan orang yang berdoa dan Sebagian lainnya berhubungan dengan orang yang untuknya doa dipanjatkan. adalah perlu bagi orang yang meminta orang lain untuk mendoakannya agar pertama-tama mereka takut kepada Allah Ta’ala..” (Ini adalah point yang sangat penting yang orang yang menyampaikan permohonan doa, adalah penting baginya untuk senantiasa memiliki rasa takut kepada Allah Ta’ala); “dan harus tetap kagum pada Keberadaan Tuhan karena Dia adalah Yang tidak bergantung kepada sesuatu; mereka harus menjalin hubungan damai dan jadikanlah beribadah kepada Tuhan sebagai sebuah kebiasaan kalian”; (Ini merupakan point yang sangat penting yakni jadikanlah hubungan damai dan ibadah kepada Tuhan sebagai suatu ciri khas) “mereka harus menyenangkan Allah dengan kebenaran dan ketakwaan. Jika demikian, pintu pengabulan doa akan dibuka untuknya.” (Jika muncul keadaan demikian, jika syarat syarat tersebut terpenuhi,, maka Allah Ta’ala akan membukakan pintu pengabulan doa) “Jika seseorang tidak menyenangkan Allah Ta’ala, berarti ia merusak hubungan dan menyulut peperangan dengan-Nya”, (ia tidak mengamalkan hukum-hukumNya dan tidak memenuhi hak hak Allah dan hambaNya). “Kenakalan dan perbuatan jahatnya akan menjadi gunung penghalang bagi terkabulnya doa.” (Akan menjadi dinding, penghalang tayaknya bukit) “Akibatnya, pintu pengabulan doa akan tertutup baginya.” (Doanya sendiri tidak dikabul begitu juga doa orang yang dimintai olehnya untuk mendoakannya pun tidak akan terkabul). “Karena itu, teman-teman kami harus menyelamatkan doa-doa kami agar tidak sia-sia dan jangan biarkan timbul penghalang yang mungkin saja timbul sebagai akibat dari tindakan mereka sendiri yang tidak dapat diterima.”

Hadhrat Masih Mau’ud (as) menyampaikan,

“Jika amal perbuatan kalian ini tidak benar, maka doa-doa yang saya panjatkan untuk kalian pun tidak akan dikabulkan, karena amalan kalian akan jadi penghalang terkabulnya doa.”

Untuk pengabulan doa juga, adalah perlu agar manusia kokoh dari sisi keyakinan. Ini merupakan syarat mendasar. Telah disebutkan juga sebelumnya perihal amalan saleh. Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman, “Taatlah pada perintahKu, berikanlah respon positif atas perintahKu dan amalkanlah.” Ini merupakan hal yang prinsipil yang perlu untuk pengabulan doa.

Dalam menjelaskan hal ini Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda,

“Memang benar, siapa tidak melakukan tindakan yang tepat berarti ia tidak benar-benar berdoa, melainkan menguji Tuhan. Jadi, sebelum memanjatkan doa, perlu untuk memaksimalkan segenap kekuatan dan inilah arti dari doa. Pertama, wajib bagi seseorang untuk memeriksa iman keyakinan dan tindakan mereka sendiri, karena merupakan kebiasaan Allah Ta’ala untuk melakukan reformasi melalui penggunaan cara dan sarana.” (Jika sarana yang diperlukan untuk perbaikan tersedia dan jika kalian memperbaiki keadaan kalian dan berupaya untuk memperbaikinya, maka akan tercipta perbaikan)

Beliau bersabda,

“Dia menciptakan semacam sarana, yang dapat menyebabkan timbulnya ishlah (perbaikan).” (Jika doa dipanjatkan dengan benar, maka Allah Ta’ala akan memberikan sarana yang akan menimbulkan perbaikan. Hal berikut ini perlu untuk mendapatkan perenungan yang khas)

“Orang-orang yang mengatakan bahwa jika ada doa, lantas apa perlunya sarana. Apakah orang-orang bodoh seperti itu tidak menyadari bahwa doa itu sendiri merupakan sarana yang halus? Kalimat اِياَّكَ نَعْبُدُ (Hanya kepada Engkau kami menyembah) diletakkan sebelum doa اِياَّكَ نَسْتَعِيْنُ (Hanya kepada Engkau kami memohon pertolongan) memberikan penjelasan khas akan hal itu. Oleh karena itu, inilah cara Allah yang kita amati, yakni Dia menciptakan sarana (menciptakan sarana bagi manusia). Amati bagaimana Tuhan menyediakan air untuk memadamkan rasa haus kita dan memberi kita makanan untuk memuaskan rasa lapar kita, tetapi Dia melakukannya melalui sarana.”

Haus tidaklah hilang begitu saja, atau air turun secara tiba tiba dari langit layaknya sulap atau makanan seketika tersedia. Pertama, tercipta sarana yang dengan perantaraannya manusia mendapatkan air dan makanan.

“Seperti itulah mata rantai sarana dan penciptaan sarana pasti terjadi karena Allah Ta’ala memiliki dua nama. Allah Yang Maha Kuasa menyatakan, وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا () Allah maha Perkasa, Maha Bijaksana’ (Surah al-Fath, 48:8). Berdasarkan nama-Nya, al-Aziz (Yang Perkasa), Tuhan melakukan apapun yang dibutuhkan. Nama al-Hakim (Yang Bijaksana) menunjukkan bahwa setiap tindakan-Nya dilakukan dengan kebijaksanaan, dan dilakukan dengan baik dan memadai sesuai dengan waktu dan tempat.

Perhatikan saja bagaimana tanaman dan benda mati memiliki sifat yang beragam. Bahkan satu tolah (jenis pengukuran) atau dua turpethum (jenis tanaman) sudah cukup untuk membersihkan isi perut, begitu pula halnya dengan scammonia. Allah Ta’ala memiliki kuasa untuk membersihkan isi perut seseorang tanpa penggunaan obat apa pun, atau untuk menghilangkan dahaga tanpa air”, (Bisa saja Alah Ta’ala menghilangkan rasa dahaga tanpa air) “…tapi itu perlu bagi umat manusia untuk mempelajari keajaiban alam. Sejauh mana keluasan seseorang dalam pengetahuan tentang keajaiban alam, maka sebesar itu pulalah manusia meningkat dalam pemahaman mereka tentang sifat-sifat Allah Ta’ala; dan ini memungkinkan seseorang untuk mencapai kedekatan dengan-Nya. Melalui pengobatan dan astronomi kita menemukan ribuan kualitas yang ada di alam.”

(Jika mata ruhani manusia dapat menyaksikan, maka seorang ilmuwan yang berpegang pada tauhid, setelah mendapatkan suatu penemuan atau setelah menyaksikan segala sesuatu, ia akan merenungkannya dan meraih bukti akan keberadaan wujud Tuhan dan itu menjadi penyebab meningkatnya keimanannya. Namun seorang Atheis mengatakan bahwa semua itu terjadi secara kebetulan dan proses alam. Beliau bersabda bahwa keajaiban keajaiban Qudrat ini diperlihatkan oleh Allah Ta’ala bertujuan agar manusia memahami bahwa segala sesuatu memiliki tujuan.

Selanjutnya beliau bersabda,

“Mereka harus menerapkan jalan ketakwaan karena ketakwaanlah yang dapat kita katakan sebagai inti syariah. Jika kita ingin menjelaskan syariat secara singkat, maka yang bisa menjadi esensi dari syariat adalah takwalah. Ada banyak tingkatan dan tahapan takwa. Namun, jika seorang pencari setia melintasi tingkatan dasar dan tingkat kesalehan dengan ketabahan dan ketulusan, mereka akhirnya akan mencapai nilai tertinggi disebabkan oleh kebajikan dan keinginan mereka untuk mencari kebenaran.

Allah Ta’ala berfirman, إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ () Artinya, Allah Ta’ala menerima doa orang-orang yang bertakwa (Surah Al-Maaidah, 5:28). Ini adalah janji ilahi dan Tuhan tidak pernah mengingkari janji-Nya. Dalam konteks ini, Dia menyatakan, إِنَّ اللَّهَ لَا يُخْلِفُ الْمِيعَادَ () Sesungguhnya Allah tidak mengingkari janji-Nya.’ (Surah Ali Imran, 3:10)

Ketakwaan adalah prasyarat yang diperlukan untuk pengabulan doa. Ini merupakan syarat yang tidak bisa dipisahkan darinya, tidak bisa ditinggalkan dan tidak bisa dikesampingkan. Sekarang jika seseorang mengharapkan pengabulan doa namun ia sendiri lalai tidak menempuh jalan sebagai mana mestinya, bukankah orang seperti itu bodoh dan tidak masuk akal? Untuk itu, merupakan suatu kewajiban bagi jemaat kita untuk sebisa mungkin mengikuti jalan ketakwaan agar mereka dapat meraih kebahagiaan dan kelezatan pengabulan doa dan mengambil bagian dalam peningkatan iman.” (Allah Ta’ala berfirman, berimanlah kepadaKu, dengan begitu keimanan akan meningkat).

Hadhrat Masih Mau’ud (as) menjelaskan perihal jenis-jenis ruhm sebagai berikut,

“Perlu diingat bahwa ada dua bentuk ruhm (kemurahan hati). Pertama, adalah Rahmaniyyat (Maha Pemurah); dan kedua, Rahimiyyat (belas kasihan). Rahmat ilahi rahmaniyyat adalah apa yang tersedia bahkan sebelum kita lahir. Misalnya, sebelum hal lain, melalui wawasan ilmu -Nya yang abadi, Allah menciptakan langit dan bumi dan hal-hal duniawi lainnya dan benda-benda langit, yang semuanya akan memberikan manfaat bagi kehidupan manusia — dan manusialah yang pada umumnya mengambil manfaat. Begitu pula kambing dan domba, dan hewan lain itu sendiri bermanfaat bagi manusia”, (Manfaat apa yang manusia peroleh? Semua hal ini diciptakan untuk kemaslahatan umat manusia, manfaat apa yang akan mereka dapatkan?

“Di antara hal-hal yang bersifat fisik, amati saja bagaimana manusia mengonsumsi banyak bentuk makanan yang sangat baik dan istimewa. daging yang berkualitas tinggi disediakan untuk manusia sedangkan sisa dan tulang dilemparkan untuk anjing. Secara jasmani, kesenangan dan kenyamanan itu dialami oleh manusia dan juga hewan, tetapi hak istimewa dan keutamaan diberikan kepada umat manusia. Hewan tidak mengambil bagian dalam kelezatan ruhani.” (kelezatan ruhani hanya diperuntukkan bagi manusia saja, hewan tidak diberikan bagian didalamnya)

Karena itu, ada dua bentuk kemurahan hati. Pertama, apa yang dihasilkan, sejak zaman paling awal, bahkan sebelum keberadaan kita, pada penciptaan elemen dan materi, dan yang terikat untuk melayani kita. Semua hal-hal ini hadir bahkan sebelum keberadaan kita sendiri, sebelum ada keinginan atau doa manusia, berdasarkan tuntutan rahmaniyyat.”

(Semua benda benda ini lahir berkat sifat rahmaniyyat Allah Ta’ala)

Bentuk kebaikan yang kedua adalah rahmat ilahi (rahimiyyat); artinya, jika kita berdoa, Allah menganugerahkan. Jika seseorang merenungkan, akan diketahui hubungan yang menyokong hukum alam selalu berkaitan erat dengan doa. Beberapa orang menganggap doa sebagai bidah. Namun, saya juga ingin menjelaskan tentang hubungan doa kita dengan Allah Ta’ala.

Ketika seorang anak menjadi gelisah karena lapar lalu berteriak menangis meminta susu, maka serta merta payudara seorang ibu akan mulai terisi dengan susu. Padahal, seorang anak tidak mengetahui konsep tentang doa, tetapi bagaimana tangisan seorang anak dapat menarik keluarnya air susu ibu? Setiap orang berpengalaman dalam hal ini dimana terkadang diketahui bahwa seorang ibu tidak merasakan susu di dadanya, tetapi segera setelah anaknya menangis, susu mulai mengalir keluar.

Sekarang, apakah jeritan kita di hadapan Allah Ta’ala tidak menghasilkan apa-apa? Ada, nikmat ilahi mengalir keluar dan semua tangisan kita didengar, tetapi mereka yang buta dan menganggap dirinya sebagai ulama dan filsuf tidak dapat melihatnya. Jika seseorang mengaitkan hubungan yang dimiliki seorang anak dengan ibunya dan merenungkan filosofi doa, maka akan menjadi sangat sederhana dan mudah dimengerti. Bentuk kedua dari rahiim mengajarkan kita bahwa satu bentuk kasih karunia diterima dengan memintanya. Jika seorang terus memelas meminta, mereka akan terus mendapatkannya. Sebagaimana Allah Ta’ala menyatakan, ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ Berdoalah padaKu, Aku akan mengabulkannya. Ini bukan sebagai frase kosong; sebaliknya, ini adalah karakteristik yang melekat pada tabiat manusia.”

Selanjutnya dalam menjelaskan perihal keutamaannya yakni meminta merupakan kekhasan dari manusia sedangkan mengabulkan adalah tugas Allah ta’ala, beliau bersabda,

“Meminta adalah kekhasan manusia sedngkan menganugerahkan adalah kekhasan Tuhan. Seseorang yang tidak mengerti dan menerima fakta ini adalah pendusta. Contoh anak yang baru saja saya jelaskan memberikan klarifikasi cukup akan falsafah doa. Rahmaniyyat dan Rahimiyyat bukanlah dua fenomena yang berdiri sendiri. Oleh karena itu, seorang individu yang meninggalkan satu dan mencari yang lainnya tidak akan bisa mendapatkan keuntungan dari keduanya. Rahmaniyyat menuntut agar mengembangkan dalam diri kita kekuatan untuk mendapatkan manfaat dari belas kasihan Tuhan.”

(Rahmaniyyat Allah Ta’ala adalah Dia memperlihatkan jalan-jalan kepada kita, memberikan segala sesuatu dan memberikan semangat untuk meminta sesuatu kepada-Nya. Karena itu, Dia memberikan sarananya. Jadi, Rahmaniyyat menciptakan sarana-sarana yang membantu kita untuk berdoa dan untuk meraih rahmat Allah Ta’ala).

Beliau bersabda,

“Orang yang tidak melakukan ini, maka ia adalah kufur ni’mat (tidak berterima kasih pada bantuan Ilahi). Kata إيَّاكَ نَعْبُدُ berarti bahwa kepada-Nya lah kami menyembah, dengan bantuan sarana lahiriah dan sarana yang jelas Dia sediakan bagi kita.

Perhatikan lidah, yang merupakan produk saraf dan otot kita” (sarafnya, ototnya, air liur yang merupakan bagian dari lidah), jika itu tidak ada, maka kita tidak akan bisa berbicara.” (Jika lidah kering, maka manusia tidak akan dapat bicara, ada saraf, otot dan setiap saat basah, dengan begitu manusia dapat menggerakkan lidah)

“Kita diberi lidah untuk berdoa, memiliki kemampuan untuk mengekspresikan perasaan hati kita. Jika kita tidak pernah memanfaatkan lidah kita untuk berdoa, itu adalah kemalangan kita sendiri.

Ada banyak penyakit, yang jika mengena pada lidah, seketika menghilangkan kemampuannya untuk berfungsi sehingga dapat menyebabkan kebisuan. Sungguh suatu perwujudan belas kasihan yang indah bahwa kita telah dianugerahi lidah. Demikian pula, jika telinga kita mengalami kerusakan, kita tidak akan bisa mendengar apapun. Begitu juga hati yang memberikan keadaan khusyu dan kerendah hatian dan memberikan kekuatan untuk berfikir dan bertafakkur, jika terjangkit penyakit, sedikit banyak, akan menjadi tidak berguna. Amati saja orang gila, bagaimana potensi mereka menjadi sia-sia.

Bukankah kemudian menjadi kewajiban kita untuk menghargai nikmat anugerah Tuhan ini? Jika kita tinggalkan kemampuan-kemampuan yang dianugerahkan oleh Allah Ta’ala kepada kita dengan limpahan karunia-Nya, tidak diragukan lagi, berarti kita tidak tahu berterima kasih atas nikmat Tuhan. Oleh karena itu, ingatlah, jika Anda berdoa dengan membiarkan kemampuan dan kekuatan Anda menganggur, doa seperti itu tidak akan ada gunanya. Ketika kita tidak memanfaatkan anugerah yang telah diberikan kepada kita, bagaimana kita bisa diharapkan dapat memanfaatkan orang lain dengan baik dan memberikan faedah?”

Dengan memberikan permisalan ini beliau as menjelaskan kepada kita untuk menghargai ni’mat nimat yang telah Allah Anugerahkan kepada kita. Manfaatkanlah itu dengan sebaik baiknya. Jika itu digunakan untuk memohon dengan benar kepada Allah Ta’ala, maka seorang hamba dapat dinyatakan memenuhi kewajibannya secara hakiki, dapat mensyukuri nikmat nimat yang Allah berikan. Rasa syukur tersebut akan dapat menarik karunia Ilahi dan segala sesuatu yang didapatkan melalui rahmaniyyat mengambil bagian dari rahimiyyat sehingga manusia dapat menyaksikan pemandangan pengabulan doa.

Dalam menjelaskan lebih lanjut, beliau as bersabda,

“Oleh karena itu, kata إيَّاكَ نَعْبُدُ (Hanya kepada Engkau kami menyembah), menyatakan, ‘Ya Tuhan dari semesta alam! Kami tidaklah membiarkan nikmat yang telah Engkau berikan kepada kami sebagai sesuatu yang rusak dan terbuang.’

Dalam doa: اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ telah diajarkan bahwa manusia harus memohon wawasan yang benar dari Allah Ta’ala. jika karunia dan kasih sayangNya tidak datang untuk membantu kita, maka sebagai manusia yang lemah dan terperangkap dalam kesuraman dan kegelapan yang begitu rupa, sehingga untuk berdoa pun ia tidak bisa.”

(karunia Allah Ta’ala lah yang membimbingnya, menolongnya, jika tidak manusia lemah tak berdaya, yang terperangkap dalam kegelapan dunia, sehingga tidak mendapatkan kesempatan untuk berdoa. Jadi, sebelum seseorang memperoleh manfaat dari anugerah Tuhan, yang menjangkau mereka melalui karunia kemurahan (rahmaniyyat), dan berdoa, maka tidak akan ada hasil yang bisa dicapai. (Bagaimanapun manusia harus memanjatkan doa kepada Allah Ta’ala agar terkeluar dari kegelapan ini)

Saya menemukan, beberapa waktu lalu, bahwa dalam hukum Inggris, untuk mengamankan pinjaman pertanian, seseorang harus memperlihatkan bukti jaminan beberapa aset.”

Sebagaimana di sini ketika melakukan mortgage (melakukan pegadaian atau hipotek), maka kita harus memberikan uang terlebih dahulu sebagai jaminan. (Pada faktanya, perlu melakukan sesuatu)

“Demikian pula, seseorang harus memperhatikan hukum alam dan bertanya: apakah kita telah memanfaatkan dengan baik apa apa yang telah dianugerahkan kepada kita? Jika setelah diberikan akal sehat, mata dan telinga, kita tidak tersesat, dan tidak cenderung kearah ketidaknormalan dan ketidaktahuan, maka anda akan meraih rahmat ilahi melalui doa. Jika seseorang mendapatkan segala nikmat yang Allah berikan kemudian ia tidak tersesat, lalu jika berdoa, maka rahmat Ilahi akan terus meningkat. Jika tidak, akan tetap kehilangan dan tidak beruntung. Kita harus berusaha untuk banyak merenungkannya.”

Selanjutnya beliau bersabda,

“Pengabulan doa memiliki kesesuaian dengan hukum alam, dan dalam setiap era Dia memanifestasikan contoh yang hidup. Untuk itulh Tuhan mengajarkan kita doa, اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ ‘Bimbinglah kami ke jalan yang benar – Jalan orang-orang yang telah Engkau berkati. Ini adalah kehendak dan hukum Tuhan, yang tidak dapat diubah oleh siapa pun. Dari doa اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ dapat diketahui bahwa kami memohon kepada Tuhan untuk menyempurnakan dan memenuhi amalan kita. Dengan merenungkan kata-kata ini diketahui bahwa, meskipun pada zahirnya ayat ini memerintahkan kita untuk menggunakan kata-kata ini untuk memohon agar kita dibimbing ke jalan yang benar. Namun, sebelum ayat ini kata-kata إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ (Hanya kepada Engkau kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami mohon pertolongan) memberitahukan kami untuk mengambil manfaat dari instruksi ini.

Dengan kata lain, untuk melintasi tahapan dari ‘jalan yang benar’, seseorang harus menggunakan kapasitas mereka yang tidak ternoda untuk meminta bantuan dari Allah Ta’ala. Iyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’in memberitahukan bahwa jika ingin meraih siratal mustaqim, manfaatkan kapasitas yang Allah Ta’ala berikan kepada kalian untuk memohon bantuan kepada Allh ta’ala untuk dapat melangkah diatas siratal mustaqim. Jadi menghargai sarana zahir adalah perlu, barangsiapa meninggalkannya makai a mengingkari ni’mat Ilahi. Untuk melakukan kebaikan pun, harus meminta bantuan dari Allah Ta’ala Dia memberikan kepada kita lidah untuk berdoa yang dapat mengartikulasikan perasaan dan keinginan hati kita. Demikian pula Tuhan telah tanamkan di dalam hati sifat kerendahan hati dan kelembutan, dan telah menanamkannya dengan daya pemikiran dan tafakkur.

Oleh karena itu, ingatlah bahwa jika kita mengabaikan kekuatan dan kemampuan ini dalam doa, maka doa seperti itu tidak akan bermanfaat atau efektif. Karena ketika seseorang tidak menggunakan ni’mat yang sudah diberikan pada mereka, manfaat apa yang akan mereka peroleh dari orang lain? Inilah mengapa kata-kata إيَّاكَ نَعْبُدُ (Hanya kepada Engkau kami menyembah) diletakkan lebih dulu اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ (Bimbinglah kami ke jalan yang benar) mengungkapkan bahwa kami tidak meninggalkan dan menyia-nyiakan hadiah dan kemampuan telah diberikan kepada kita oleh Tuhan. Ingatlah! Kualitas yang khas rahmaniyyat adalah memberikan kemampuan untuk mendapatkan manfaat rahmat belas kasihan (rahimiyyat). Dalam konteks ini, Tuhan menyatakan ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ ini bukan sekedar kalimat belaka; pada kenyataannya, martabat manusia menuntutnya.

Meminta merupakan kekhasan manusiawi sedangkan menganugerahkan merupakan kekhasan Allah Ta’ala. Seseorang yang tidak menerima ini tidak adil (yakni barangsiapa tidak terus berupaya untuk meminta kepada Tuhan, adalah insan yang tidak adil) Doa adalah keadaan yang sangat membahagiakan. sayangnya, saya bingung menemukan kata-kata yang dapat menggambarkan sepenuhnya kegembiraan dan kesenangan ini di hadapan dunia. Ini hanya bisa dipahami jika seseorang mengalaminya sendiri. Singkatnya, di antara syarat-syarat lazim doa, pertama-tama adalah wajib bagi seseorang untuk beramal dan menimbulkan keyakinan. Karena jika seseorang tidak memperbaiki keyakinannya dan tidak beramal saleh, lalu berdoa, seolah olah ia menguji Allah Ta’ala. Jadi faktanya adalah bahwa dalam doa اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ tujuannya adalah untuk mohonlah supaya Tuhan menyempurnakan dan memenuhi amalan kita.

Kemudian, dengan kata-kata صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ menjadi lebih jelas lagi bahwa kami memohon bimbingan untuk dapat melangkah diatas jalan orang-orang yang telah Tuhan berkati dan kami memohon kepada Tuhan untuk menyelamatkan kami dari jalan orang-orang yang dimurkai dan yang disebabkan oleh perbuatan buruk mereka, mereka mendapatkan azab Tuhan. Selanjutnya kata adldlaalliin menunjukkan bahwa kita telah diajarkan untuk berdoa supaya kita dilindungi agar tidak tersesat, karena tanpa dukungan Tuhan, kita akan terus tersesat.”

Berdasarkan ini, perlu bagi kita untuk merenungkan dan berdoa seperti itu ketika membaca surat Al Fatihah.

Dalam menjelaskan lebih lanjut berkenaan dengan perlunya menghargai sarana ketika berdoa, beliau bersabda,

“Dengarlah! Doa yang dimaksud dalam ayat ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ menuntut semangat yang tulus. Jika dalam tadharu dan kekhusyuan itu tidak terdapat semangat yang tulus, maka doa itu tidak lebih dari ocehan belaka. Adakah yang bisa mengatakan bahwa penggunaan sarana tidak diperlukan? Ini adalah kesalahpahaman. Syariah tidak melarang penggunaan sarana dan jika anda bertanya, apakah doa juga bukan merupakan sarana? Atau, tidak identik dengan doa? Pencarian sarana itu sendiri adalah doa, dan doa itu sendiri adalah sumber sarana yang luar biasa!

Bentuk fisik manusia, yaitu dua tangan dan dua kaki mereka, secara alami membimbing dan mengarahkan kita untuk memahami bahwa kita telah diciptakan untuk saling membantu satu sama lain. Jika pemandangan ini dapat diamati pada manusia sendiri, lantas betapa mencengangkan dan mengejutkannya jika seseorang merasa sulit untuk memahami maksud dari ayat berikut, وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ Dan saling tolong menolong dalam kebaikan dan takwa. Sungguh, saya menyatakan bahwa Anda harus mencari sarana melalui doa! Di dalam konteks menolong sesama, saya tidak akan mengharapkan Anda untuk menolak kesimpulan saya, ketika saya menunjukkan sistem internal yang diciptakan oleh Allah Ta’ala yang ada di tubuh fisik Anda dan yang berfungsi sebagai panduan yang sempurna dalam hal ini. Untuk menjelaskan dan menegaskan lebih lanjut fakta ini kepada umat manusia, Allah Ta’ala telah menegakkan sistem satu mata rantai kenabian di dunia ini. Allah Ta’ala Maha Kuasa dari dulu hingga saat ini, yakni jika Dia menghendaki, Dia akan mengkeadaankan para Nabi tanpa perlu bantuan dalam bentuk apa pun dalam tugas mereka. Namun, meskipun demikian, tiba saatnya suatu Ketika mereka tidak punya pilihan selain menyatakan, مَنْ أَنصَارِي إِلَى اللَّهِ Siapa yang akan menolongku di jalan Allah. (Surah Ali Imran, 3:53)

Apakah para Nabi melakukan itu seperti seorang pengemis yang pergi dari rumah ke rumah mengumpulkan sisa-sisa roti? Tidak! Bahkan dalam kata-kata Siapa yang akan menolongku di jalan Allah, ‘terdapat keagungan dan rahmat. Faktanya, melalui pengumuman ini, para Nabi ingin mengajar orang-orang pentingnya menghargai sarana, yang merupakan aspek doa. Padahal, mereka memiliki keimanan dan keyakinan penuh dan sempurna atas janji-janji Allah Ta’ala. Mereka mengetahui bahwa janji Allah Ta’ala yang berbunyi, إِنَّا لَنَنصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِينَ آمَنُوا فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُومُ الْأَشْهَادُ () ‘Pasti Kami akan menolong para Utusan Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia.’ (Surah Ghafir, 40:52) Saya percaya bahwa jika Tuhan tidak menggerakkan hati seseorang untuk membantu orang lain, bagaimana mungkin ada yang termotivasi untuk melakukannya?

Jadi, para nabi pun memerlukan sarana, namun mereka tunduk di hadapan Allah Ta’ala, kemudian Allah Ta’ala sendirilah yang menyediakan sarana untuk mereka. Allah Ta’ala memasukkan kedalam hati orang-orang dan mempersiapkan sultan nasir yang akan memajukan tugas tugas mereka.”

Dalam menjelaskan tujuan dan keutamaan shalat, beliau bersabda:

“Maksud dan inti sebenarnya dari shalat adalah doa dan berdoa adalah fenomena yang sesuai dengan hukum alam yang ditetapkan oleh Allah Ta’ala. Anda mungkin sering mengamati ketika seorang anak menangis dan merengek, dan mengekspresikan kecemasan, seorang ibu menjadi sangat gelisah lalu menysuinya. Hubungan antara ketuhanan (uluhiyyat) dan penghambaan (ubudiyyat) pun pada dasarnya serupa dan tidak dapat dipahami oleh semua orang. Saat seseorang tersungkur jatuh di pintu gerbang Allah Ta’ala dengan segala kerendahan hati yang, khusyu dan tadharu, dan menyampaikan keadaannya di hadapan Tuhan, dan menyampaikan kebutuhannya kepadaNya, maka kasih saying yang melekat dalam keilahian bergejolak dan menunjukkan belas kasihan kepada orang seperti itu. Susu kemurahan dan anugrah Tuhanpun membutuhkan air mata. (Untuk itu kita harus mempersembahkan mata yang mengalirkan air mata.”

Kemudian, beliau (as) bersabda,

“Sebagian orang beranggapan bahwa tidak ada gunanya menangis dan meratap di hadapan Allah Ta’ala Pandangan seperti ini sama sekali keliru dan batil. Orang seperti itu tidak percaya keberadaan, sifat-sifat, Qudrat dan kendali Allah Ta’ala. Jika mereka memiliki iman sejati, mereka tidak akan pernah berani mengatakan seperti itu. Kapan pun seseorang datang ke hadirat Tuhan, dan kembali padaNya dengan pertobatan yang tulus, dia senantiasa mencurahkan rahmat-Nya kepada orang seperti itu. Sungguh benar perkataan seseorang berikut ini:

Kekasih macam apa dia yang tidak menarik perhatian yang terkasih;

Tuan yang terhormat! Rasa sakit si sakit sama sekali hilang, karena jika tidak, dokter sudah dekat.

Alah Ta’ala menginginkan agar kalian datang kepada-Nya dengan hati yang murni. Satu-satunya syarat bagi kalian adalah membuat diri sendiri bersesuaian dengan-Nya dan mewujudkan perubahan sejati dalam dirimu yang membuat seseorang layak untuk menghadap Allah Ta’ala. Allah Ta’ala memiliki qudrat yang Maha menakjubkan, dan Dia memiliki karunia dan berkat yang tidak terbatas. Tapi demi dapat melihatnya dan meraihnya, Anda harus mengembangkan mata kecintaan. Jika seseorang memiliki kecintaan sejati, Allah Ta’ala akan mendengarkan doa-doa dan memberikan dukungannya.”

Lebih lanjut Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda,

“Allah Ta’ala berfirman dalam menjelaskan pujian mengenai definisi mukmin, الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هَٰذَا بَاطِلًا سُبْحَانَكَ فَقِنَا عَذَابَ النَّارِ () yaitu orang-orang yang selalu mengingat Allah sambil berdiri, duduk, dan berbaring atas rusuk mereka, dan mereka merenungkan tentang penciptaan seluruh langit dan bumi seraya berkata, “Wahai Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia.

Dengan kata lain, orang-orang beriman seperti itu tidak hanya melihat penciptaan alam semesta dan seluk-beluknya seperti manusia duniawi dan hanya merenungkan tampilannya, ukuran jari-jarinya, sifat tarikan gravitasinya dan hubungannya dengan matahari, bulan dan bintang. Bukannya hanya mempelajari kesempurnaan mutlak dalam penciptaannya dan menemukan seluk-beluk alam semesta, mereka berusaha menemukan Penciptanya dan memperkuat iman mereka.”

Dengan kata lain, setelah memperoleh ilmu tersebut, mereka bersujud di hadapan Allah dan mereka terus memperkuat keimanannya. Hal Ini adalah kualitas khas dan ciri seorang mukmin sejati.

Itulah beberapa hal yang saya kutip dari khazanah agung yang dianugerahkan oleh Hadhrat Masih Mau’ud (as) kepada kita. Melalui tulisan tersebut kita mendapatkan pencerahan berkenaan dengan keutamaan dan hikmah doa, metode dalam berdoa dan filosofinya. Jika kita dapat memahaminya maka kita dapat menciptakan revolusi dalam kehidupan kita, menciptakan keadaan khas dalam jalinan dengan Allah Ta’ala dan dapat menyerap karunia Ilahi. Dalam bulan Ramadhan ini, kita harus berupaya untuk melangkah diatas hukum-hukum tersebut sehingga dapat meraih Qurb Ilahi, dapat terus meneguhkan keimanan, memahami hikmah dan falsafah doa, termasuk golongan orang yang menciptakan islah dalam amalan dan orang-orang yang doa-doanya mendapatkan pengabulan dari Allah Ta’ala.

Semoga Ramadhan ini dapat menciptakan jalinan ruhani dengan Allah Ta’ala, dan revolusi dalam keruhanian kita.

Imbauan Mendoakan para Ahmadi di Pakistan, Aljazair dan dimanapun berada yang sedang dalam kesulitan karena penentangan terhadap Jemaat

Doakanlah juga untuk saudara-saudara kita. Saya sering sampaikan himbauan untuk banyak berdoa apakah itu untuk para Ahmadi Pakistan, Aljazair atau dimanapun berada yang sedang terperangkap dalam kesulitan akibat penentangan terhadap jemaat. Setiap hari ada saja penderitaan yang ditimpakan kepada para Ahmadi di Pakistan. Untuk itu kita harus mendoakannya secara khusus untuk mereka. Begitu juga untuk para Ahmadi di Aljazair, mungkin saja mereka memiliki iradah untuk membuka lagi kasus jemaat. Semoga Allah Ta’ala melindungi mereka.

Mendoakan orang lain menjadi sarana terkabulnya doa sendiri

Mendoakan orang lain pun dapat menjadi sarana terkabulnya doa doa kita sendiri. Hendaknya kita ingat selalu point ini. Bahkan malaikat akan mendoakan orang-orang yang mendoakan orang lain dan jika Malaikat memanjatkan doa, maka betapa itu merupakan jual beli yang sangat menguntungkan. Kita pun secara khusus harus sebanyak banyaknya mendoakan orang lain, jangan dibatasi untuk dii sendiri saja. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada kita untuk mengamalkannya khususnya di bulan Ramadhan ini.

Khotbah II

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ

وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ

 وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ!

 إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ

يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ

أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Penerjemah: Mln. Mahmud Ahmad Wardi, Syahid (London-UK) dan Mln. Fazli Umar Faruq.

Editor: Dildaar Ahmad Dartono. Rujukan pembanding: https://www.Islamahmadiyya.net (bahasa Arab)


[1] Al-Hakam.

Leave a Reply

Begin typing your search above and press return to search.