Riwayat Abu Bakr Ash-Shiddiiq Ra (Seri 20)

Keteladanan Para Sahabat Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam (Manusia-Manusia Istimewa seri 154, Khulafa’ur Rasyidin Seri 04, Hadhrat ‘Abdullah Abu Bakr ibn ‘Utsman Abu Quhafah, radhiyAllahu ta’ala ‘anhu, Seri 20)

Hudhur ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz menguraikan sifat-sifat terpuji Khalifah (Pemimpin Penerus) bermartabat luhur dan Rasyid (lurus) dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, Hadhrat Abu Bakr ibn Abu Quhafah, radhiyAllahu ta’ala ‘anhu.

Perang-perang yang dilancarkan pihak kaum Munafik dan Penentang terhadap umat Islam dibawah Khilafat Hadhrat Abu Bakr radhiyAllahu ta’ala ‘anhu.

Pembahasan khusus perang Yamamah antara kaum Banu Hanifah dibawah Musailamah dan kaum Muslimin di bawah komandan lapangan, Hadhrat Khalid radhiyAllahu ta’ala ‘anhu.

Kesyahidan Hadhrat Zaid ibnu al-Khaththab radhiyAllahu ta’ala ‘anhu, saudara tiri Hadhrat ‘Umar ibnu al-Khaththab radhiyAllahu ta’ala ‘anhu.

Perang Yamamah dan keputusan taktis strategis Panglima Khalid bin Walid (ra) untuk memastikan kekalahan musuh, yaitu secepatnya menghabisi pimpinan musuh, Musailamah al-Kadzdzaab.

Penjelasan Hadhrat Sayyid Zainul Abidin Waliyullah radhiyAllahu ta’ala ‘anhu mengenai sebuah sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang tercantum dalam Kitab Shahih al-Bukhari.

Rincian lebih lanjut perang Yamamah tatkala para Hafizh Qur’an banyak yang disyahidkan musuh.

Hudhur (atba) akan terus menyebutkan lebih lanjut berbagai kejadian dalam masa Hadhrat Abu Bakr radhiyAllahu ta’ala ‘anhu di khotbah-khotbah mendatang.

Meningkatnya penentangan terhadap Ahmadiyah di Pakistan.

Kewafatan tiga Ahmadi dan informasi Shalat jenazah gaib. [1] yang terhormat Almarhum Nasim Mahdi Sahib; [2] Ananda Almarhum Muhammad Ahmad Sharim dari Rabwah; [3] Almarhumah Yth Nyonya Salimah Qamar, istri Almarhum Rashid Ahmad Sahib.

Khotbah Jumat Sayyidina Amirul Mu-minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 03 Juni 2022 (Ihsan 1401 Hijriyah Syamsiyah/Dzulqa’idah 1443 Hijriyah Qamariyah) di Masjid Mubarak, Islamabad, Tilford, UK (United Kingdom of Britain/Britania Raya).

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم

[بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم* الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يوْم الدِّين * إيَّاكَ نعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ]

(آمين)

Saya masih melanjutkan ulasan lalu tentang Hadhrat Abu Bakr Siddiq (ra.), yaitu tentang pertempuran-pertempuran yang terjadi segera setelah kewafatan Rasulullah (saw) melawan segenap orang munafik dan musuh [Islam]. Dalam hal ini mengenai pertempuran Hadhrat Khalid bin Walid menghadapi Musailimah Kazzab. Berikut ini akan dibahas tentang keberanian berbagai pemimpin pasukan Muslim. Telah disampaikan sebelumnya bahwa bendera kelompok Ansar dipegang oleh Hadhrat Tsabit bin Qais, sementara bendera kelompok Muhajir dipegang oleh Hadhrat Zaid bin Al-Khaththab. Hadhrat Zaid bin Al-Khaththab (زيد بن الخطاب) berseru kepada pasukan Muslim, أيها الناس عضوا على أضراسكم، واضربوا في عدوكم وامضوا قدما “Wahai segenap manusia, berdirilah dengan teguh, hadapilah musuh, dan berderaplah maju”. Lalu bersabda, والله لا أتكلم حتى يهزمهم الله، أو ألقى الله فأكلمه بحجتي “Demi Allah, saya tidak akan berbicara hingga Allah kelak mengalahkan mereka, atau saya akan berjumpa dengan Allah lalu bercakap-cakap dengan-Nya bersama dalil [yang nyata]”. Lalu Hadhrat Zaid pun mati syahid. [1]

Mengenai Hadhrat Zaid bin Al-Khaththab (ra.) ini tertera bahwa beliau adalah saudara tiri [satu ayah beda ibu] dengan Hadhrat Umar bin Al-Khaththab (ra.). Beliau termasuk dalam sahabat yang masuk Islam di masa permulaan. Beliau ikut di perang Badr dan perang-perang setelahnya. Setelah berhijrah, Rasulullah (saw) mempersaudarakan beliau dengan Ma’an bin ‘Adi Ansari (ra.), dan kedua sahabat ini syahid di Perang Yamamah.

Di Perang Yamamah, tatkala Hadhrat Khalid mengatur barisan pasukan, beliau menunjuk Hadhrat Zaid bin Al-Khaththab sebagai panglima salah satu bagian pasukan. Selain itu, bendera kaum muhajirin pun ada di tangan beliau. Hadhrat Zaid maju dengan membawa bendera dan bertempur dengan sangat berani hingga beliau pun syahid dan bendera terjatuh. Salim Maula Abi Huzaifah (r.anhuma) lalu mengambil bendera itu.

Di pertempuran ini, Zaid (ra.) membunuh Rajjal bin ‘Unfuwah, tangan kanan dan prajurit berkuda Musailimah yang pemberani. Adapun yang mensyahidkan beliau adalah Maryam Hanfi yang selanjutnya ia menjadi Muslim. Suatu saat tatkala Hadhrat Umar berkata kepadanya, “Kamu telah membunuh saudara saya”, maka ia menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, Allah Ta’ala telah memberikan kemuliaan kepada Zaid (ra.) melalui tangan saya, dan melalui tangannya juga saya menjadi tidak dihinakan”. (yakni, Hadhrat Zaid telah meraih mati syahid, dan seandainya saya mati di tangan Hadhrat Zaid, maka saya akan mati secara hina, namun kini saya telah mendapat taufik menerima Islam).

Putra Hadhrat Umar bin Al-Khaththab, Hadhrat Abdullah bin Umar pun ikut di perang Yamamah. Tatkala beliau kembali di Madinah, Hadhrat Umar bersabda demikian kepadanya karena sedih akibat saudaranya yang telah syahid, “Tatkala Zaid, pamanmu telah disyahidkan, maka mengapa Anda justru kembali dan tidak menyembunyikan wajah Anda dariku?”

Tatkala kabar terbunuhnya Zaid sampai kepada Hadhrat Umar (ra.), beliau bersabda, “Zaid telah unggul dari saya dalam dua kebaikan. (hal ini pun pernah disampaikan sebelumnya). Yakni, ia telah menerima Islam sebelum saya, dan ia telah syahid sebelum saya”.

Tatkala Hadhrat Khalid telah membunuh Malik bin Nuwairah, saudaranya yaitu Mutammim bin Nuwairah menulis syair tentang kematian saudaranya. Ia sangat mencintai saudaranya dan ia banyak menangis serta mengucapkan syair karena kehilangannya. Di satu saat tatkala ia berjumpa dengan Hadhrat Umar, dan ia memperdengarkan sajak kewafatan saudaranya itu ke hadapan Hadhrat Umar, maka lantas Hadhrat Umar bersabda, “Jika saya sanggup membuat syair, saya pun pasti akan mengucapkan syair tentang kematian saudara saya Zaid”.

Atas hal ini Mutammim berkata, “Jika kematian saudara saya adalah seperti kematian saudara Anda, (yakni mati syahid) maka saya tidak akan pernah bersedih akan saudara saya.”

Hadhrat Umar (ra.) bersabda, “Tidak ada seorang pun selain Anda yang dengan cara sedemikian indah telah mengenang kewafatan saudara saya.”

Hadhrat Umar kerap bersabda, ما هبت الصبا إلا وأنا أجد منها ريح زيد “Tatkala angin sejuk berhembus, menjadi segarlah ingatan akan Zaid.”[2]

Alhasil, masih terkait peperangan. Musailimah al-Kazzab masih teguh dalam pendiriannya, dan tempat ia berada menjadi pusat pertempuran kaum kafir. Hadhrat Khalid menilai bahwa selama Musailimah tidak terbunuh, maka peperangan ini tidak akan berakhir, karena meskipun ada yang terbunuh dari Banu Hanifah, hal ini tidak akan berpengaruh pada mereka, (yakni kepada teman-teman Musailimah). Atas hal ini, Hadhrat Khalid datang sendiri ke hadapan mereka dan menyeru mereka untuk bertempur satu lawan satu, dan beliau menyerukan slogan beliau. Slogan kaum Muslim saat itu yaitu يا محمداه! Ya Muhammadah. Alhasil, beliau membunuh siapa saja musuh yang datang menghadapi beliau. Setelah itu, kaum Muslim lalu berjuang dengan penuh gelora. Hadhrat Khalid menyeru Musailimah untuk maju. Ia menjawabnya, namun sebelumnya Hadhrat Khalid memberi beberapa benda untuknya sesuai dengan permintaannya. Lalu Hadhrat Khalid menyerangnya, namun ia melarikan diri bersama teman-temannya juga.

Hadhrat Khalid menyeru kepada segenap pasukan Muslim, “Perhatian, sekarang jangan ada yang melakukan kesalahan. Majulah, dan janganlah biarkan siapapun melarikan diri.” Mendengar ini pasukan Muslim berlari mengejar mereka.[3]

Para sahabat yang mulia memperlihatkan bukti kesabaran dan istiqamah yang sangat tinggi di pertempuran ini dan tiada bandingannya. Mereka terus maju mendesak musuh, hingga Allah Ta’ala menurunkan kemenangan atas musuh, dan kaum kafir pun melarikan diri. Pasukan Muslim berupaya mengejar mereka dan memerangi mereka, serta menyilangkan pedang pada leher mereka, hingga mereka pun terpaksa berlindung di suatu kebun.

Salah seorang pemuka Banu Hanifah, Muhakim bin Tufail berlari-lari seraya berkata kepada segenap orang, “Wahai semua, masuklah ke kebun ini. ini adalah kebun yang sangat luas dan memiliki dinding pagar.” Mereka pun memasuki kebun itu.[4]

Muhakim bin Tufail lalu mulai melawan prajurit Muslim yang mengejar pasukan Banu Hanifah. Perkebunan ini terletak di dekat medan pertempuran, dan adalah milik Musailimah. Kebun ini bernama Hadiqatur Rahman, sebagaimana Musailimah yang saat itu juga disebut Rahmanul Yamamah. Namun pada saat pertempuran itu, kebun ini disebut juga Hadiqatul Maut yakni kebun kematian karena banyaknya musuh Islam yang terbunuh di sini. Musailimah Kazzab pun datang ke kebun itu bersama para temannya.

Hadhrat Abdurrahman bin Abu Bakr melihat bahwa salah seorang pemuka Banu Hanifah, Muhakim, tengah berpidato. Ia lalu membidikkan panah ke arahnya dan membunuhnya. Banu Hanifah lalu menutup dinding pagarnya, dan para sahabat mengepung kebun itu di keempat penjuru. Saat itu kaum Muslim tengah mencari tempat agar dapat masuk ke dalam kebun itu, namun itu adalah kebun yang kokoh laksana benteng. Meskipun telah mencarinya, mereka tidak sanggup menemukan tempat untuk masuk ke dalamnya. Pada akhirnya, Hadhrat Bara bin Malik, yang merupakan saudara dari Hadhrat Anas bin Malik, dan beliau pun ikut serta dalam perang Uhud dan Khandaq bersama Rasulullah — Hadhrat Bara adalah sangat pemberani — beliau berkata, “Wahai kaum Muslim, kini hanya tersisa satu cara yaitu angkatlah dan terjunkanlah saya ke dalam kebun, maka saya akan membuka pintunya dari dalam”. Namun kaum Muslim tidak dapat membiarkan ia melakukannya, karena beliau adalah sahabat yang berkedudukan tinggi jika dibandingkan dengan ribuan musuh.

Mereka menolak Hadhrat Bara untuk melakukannya. Tetapi Hadhrat Bara bin Malik mulai bersikeras dan berkata, “Saya bersumpah demi Tuhan di hadapan Anda. Kini masukkanlah saya ke dalam dinding kebun ini”. Pada akhirnya, secara terpaksa kaum Muslim memanjatkan beliau ke atas dinding pagar. Setelah naik ke atas dinding, tatkala Hadhrat Bara bin Malik melihat jumlah musuh yang sangat banyak, beliau pun terhenti sejenak, tetapi beliau lalu melompat ke arah pintu kebun dengan menyebut nama Allah dan bertempur melawan musuh seraya berusaha menuju pintu kebun. Pada akhirnya beliau berhasil tiba di pintu dan membukanya. Pasukan Muslim di luar tengah menunggu terbukanya pintu. Tatkala pintu terbuka, mereka segera masuk ke dalam dan bertempur melawan musuh. Banu Hanifah berupaya melarikan diri dari hadapan pasukan Muslim, namun mereka tidak sanggup keluar dari kebun itu. Alhasil, ribuan prajurit musuh terbunuh di tangan pasukan Muslim.[5]

Di dalam satu riwayat tertera bahwa tidak hanya Hadhrat Bara bin Malik, tetapi banyak prajurit Muslim lainnya yang melompati dinding pagar untuk menuju pintu.

Di tengah pertempuran yang berlangsung, pasukan Muslim pun akhirnya sampai pada Musailimah Kazzab. Ia saat itu tengah berada di satu celah dinding; [ia tampak] seperti halnya unta berwarna abu-abu, ia berupaya untuk memanjat dinding itu hingga sangat geram seperti kehilangan akal.

Wahsyi bin Harb yang dahulu telah mensyahidkan Hadhrat Hamzah di perang Uhud, maju menuju Musailimah, lalu beliau melemparkan lembing yang dengannya Hadhrat Hamzah telah disyahidkan itu ke arah Musailamah, dan melukai serta menembus dadanya. Lalu dengan segera Abu Dujanah Simak bin Kharsyah maju ke arahnya dan menebaskan pedang hingga ia pun terjatuh di tanah. Ada seorang wanita yang menyeru dari benteng, وا أمير الوضاءة، قتله العبد الاسود “Betapa kecewanya, sosok Amir – Panglima – ini telah dibunuh oleh hamba sahaya berkulit hitam.” [6]

Tentang siapa yang telah mengantarkan Musailimah Kazzab ke Jahannam, al-Baladzuri menjelaskan bahwa menurut Kabilah Banu Amir, ada salah seorang dari kabilahnya bernama Khidasy bin Basyir (خداش بن بشير بن الأصم) yang telah membunuhnya. Menurut satu riwayat lain, Abdullah bin Zaid dari Kabilah Khazraj golongan Ansar lah yang telah membunuhnya. Sebagian ada yang berpendapat bahwa Hadhrat Abu Dujanah yang telah membunuhnya. Mu’awiyah bin Abu Sufyan menuturkan bahwa ia telah membunuhnya [membunuh Musailamah]. Menurut beberapa pendapat, ada kemungkinan mereka ikut semua dalam membunuhnya. [7]

Di dalam beberapa buku sejarah termasuk karya ath-Thabari, diketahui bahwa yang telah membunuh Musailimah adalah seorang dari Ansar bersama Wahsyi.[8]

Mengenai peristiwa Wahsyi bin Harb membunuh Musailimah, ia sendiri menjelaskan, …  فَلَمَّا رَجَعَ النَّاسُ رَجَعْتُ مَعَهُمْ فَأَقَمْتُ بِمَكَّةَ، حَتَّى فَشَا فِيهَا الإِسْلاَمُ، ثُمَّ خَرَجْتُ إِلَى الطَّائِفِ، فَأَرْسَلُوا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم رَسُولاً، فَقِيلَ لِي إِنَّهُ لاَ يَهِيجُ الرُّسُلَ ـ قَالَ ـ فَخَرَجْتُ مَعَهُمْ حَتَّى قَدِمْتُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَلَمَّا رَآنِي قَالَ ‏”‏ آنْتَ وَحْشِيٌّ ‏”‏‏.‏ قُلْتُ نَعَمْ‏.‏ قَالَ ‏”‏ أَنْتَ قَتَلْتَ حَمْزَةَ ‏”‏‏.‏ قُلْتُ قَدْ كَانَ مِنَ الأَمْرِ مَا بَلَغَكَ‏.‏ قَالَ ‏”‏ فَهَلْ تَسْتَطِيعُ أَنْ تُغَيِّبَ وَجْهَكَ عَنِّي ‏”‏‏.‏ قَالَ فَخَرَجْتُ، فَلَمَّا قُبِضَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَخَرَجَ مُسَيْلِمَةُ الْكَذَّابُ قُلْتُ لأَخْرُجَنَّ إِلَى مُسَيْلِمَةَ لَعَلِّي أَقْتُلُهُ فَأُكَافِئَ بِهِ حَمْزَةَ ـ قَالَ ـ فَخَرَجْتُ مَعَ النَّاسِ، فَكَانَ مِنْ أَمْرِهِ مَا كَانَ ـ قَالَ ـ فَإِذَا رَجُلٌ قَائِمٌ فِي ثَلْمَةِ جِدَارٍ، كَأَنَّهُ جَمَلٌ أَوْرَقُ ثَائِرُ الرَّأْسِ ـ قَالَ ـ فَرَمَيْتُهُ بِحَرْبَتِي، فَأَضَعُهَا بَيْنَ ثَدْيَيْهِ حَتَّى خَرَجَتْ مِنْ بَيْنِ كَتِفَيْهِ ـ قَالَ ـ وَوَثَبَ إِلَيْهِ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ، فَضَرَبَهُ بِالسَّيْفِ عَلَى هَامَتِهِ‏.‏ ‏ “Di Pertempuran Uhud, setelah saya mensyahidkan – membunuh – Hadhrat Hamzah dan segenap orang (kaum Quraisy) telah kembali, saat itu saya kembali bersama mereka dan saya terus tinggal di Mekkah. Lalu tatkala terjadi peristiwa Fath Makkah dibawah Rasulullah (saw) yang dengan ini Islam pun tersebar, saat itu saya melarikan diri menuju Thaif. Orang-orang di sana mengirim utusan kepada Rasulullah (saw) dan dikatakan kepada saya bahwa Rasulullah (saw) tidak akan mengganggu utusan dari manapun.” Wahsyi berkata, “Saya pun akan pergi bersama mereka. Hingga tatkala saya tiba menemui Rasulullah (saw), tatkala beliau (saw) melihat saya, beliau bersabda, ‘Apakah Anda Wahsyi?’

Terkait:   Keberkahan Pengorbanan Keuangan: Tahrik Jadid Tahun Baru 2021. Meraih Keberkahan dari Pengorbanan Keuangan dan Dimulainya Tahun Tahrik Jadid ke-88

Saya menjawab, ‘Ya.’

Beliau (saw) bersabda, ‘Duduklah dan sampaikan dengan rinci kepada saya bagaimana kamu telah membuhuh Hamzah.’ Lalu saya menjelaskan kepada beliau (saw) secara rinci. Tatkala saya selesai menyampaikannya, Rasulullah (saw) bersabda, فَهَلْ تَسْتَطِيعُ أَنْ تُغَيِّبَ وَجْهَكَ عَنِّي “Apakah mungkin bagi Anda untuk tidak berada di hadapan saya?’”

Wahsyi menuturkan, “Saat itu saya pun keluar dari sana. Kemudian, tatkala Rasulullah (saw) wafat dan Musailimah Kazzab melakukan pemberontakan, saat itu saya berkata bahwa saya pasti akan menuju ke Musailimah untuk membunuhnya supaya saya dapat membayar kaffarah [menebus] atas pembunuhan Hadhrat Hamzah.”

Alhasil, Wahsyi menuturkan bahwa dirinya pun berangkat bersama Muslim yang lain untuk ikut dalam pertempuran ini. Lalu yang terjadi selanjutnya adalah seperti yang dijelaskannya yaitu, “Saya melihat seseorang berdiri di celah dinding; ia tampak seolah unta berwarna gandum. Rambutnya terurai. Saya lalu menyerangnya dengan tombak dan melukai tengah dadanya, hingga menembus ke belakang bahunya.” Beliau meriwayatkan, “Setelah itu, seseorang dari kalangan Anshar berlari ke arahnya dan menebaskan pedang ke tempurung kepalanya.”

Seorang perawi bernama Sulaiman bin Yasar (سُلَيْمَانُ بْنُ يَسَارٍ) meriwayatkan dari Abdullah bin Umar, فَقَالَتْ جَارِيَةٌ عَلَى ظَهْرِ بَيْتٍ وَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ، قَتَلَهُ الْعَبْدُ الأَسْوَدُ “Ketika Musailamah terbunuh, seorang perempuan yang berada di atas atap rumah itu berkata, ‘Seorang budak berkulit hitam telah membunuh Amirul Mukminin, maksudnya Musailamah.’”[9] Ini adalah riwayat Bukhari.

Wahsyi menuturkan, وَقَبَضَ اللَّهُ نَبِيَّهُ عَلَيْهِ السَّلَامُ فَلَمَّا كَانَ مِنْ أَمْرِ مُسَيْلِمَةَ مَا كَانَ وَانْبَعَثَ إِلَيْهِ الْبَعْثُ انْبَعَثْتُ مَعَهُ وَأَخَذْتُ حَرْبَتِي فَالْتَقَيْنَا فَبَادَرْتُهُ أَنَا وَرَجُلٌ مِنَ الْأَنْصَارِ فَرَبُّكَ أَعْلَمُ أَيُّنَا قَتَلَهُ فَإِنْ كُنْتُ قَتَلْتُهُ فَقَدْ قَتَلْتُ خَيْرَ النَّاسِ وَشَرَّ النَّاسِ “…Allah-lah yang lebih mengetahui, siapa di antara kami berdua – yakni sahabat Anshor dan Hadhrat Wahsyi – yang membunuh Musailamah. Namun jika saya yang telah membunuhnya maka artinya saya telah membunuh seseorang yang terbaik setelah Rasulullah (saw) – yakni Hadhrat Hamzah (ra) – dan saya juga telah membunuh seseorang yang paling buruk.”[10]

Hadhrat Sayyid Zainul ‘Abidin Waliullah Syah menulis dalam syarh (komentar)nya berkenaan dengan sabda Hadhrat Rasulullah (saw) kepada Wahsyi yang terdapat dalam Shahih Bukhari, فَهَلْ تَسْتَطِيعُ أَنْ تُغَيِّبَ وَجْهَكَ عَنِّي “Apakah memungkinkan bagimu untuk tidak datang ke hadapanku?” sebagai berikut, “Perubahan yang terjadi dalam diri Wahsyi menunjukkan keikhlasannya. Beliau ingin menebus kesalahannya dengan suatu cara. Kemudian beliau berhasil memenuhi keinginan dan nazar beliau tersebut dalam pertempuran Yamamah yang mengerikan.”

Perawi, yakni Hadhrat Waliullah Syah menulis, “Perkataan Hadhrat Rasulullah (saw) ‘Apakah memungkinkan bagimu untuk tidak hadir di hadapanku?’, perkataan ini merupakan cerminan akhlak yang sangat luhur. Ungkapan keinginan yang disampaikan beliau (saw) kepada Wahsyi, ‘Jika bisa, janganlah engkau datang ke hadapanku’, ungkapan ini tidaklah bernada kesewenangan-wenangan, melainkan bernada permohonan dan darinya diketahui kecintaan dan penghormatan yang ada dalam hati Hadhrat Rasulullah (saw) terhadap Hadhrat Hamzah (ra).

Seorang yang bertabiat pendendam bisa saja memuaskan hati dengan membalas dendam, namun beliau (saw) bersikap memaafkan. Beliau (saw) hanya menginginkan supaya ia tidak datang ke hadapan beliau (saw), sehingga hati beliau (saw) tidak berduka karena mengingat kesyahidan Hadhrat Hamzah (ra) yang menyakitkan.”

Rincian dari perang Yamamah ini dijelaskan di tempat lain, yang di dalamnya disebutkan mengenai kegagahan dan keberanian dari pihak kaum Muslimin, sebagai berikut, “Terjadi pertempuran sengit di antara kedua belah pihak, hingga dari kedua belah pihak banyak yang tewas dan terluka. Dari kalangan Kaum Muslimin yang pertama syahid adalah Malik bin Aus. Dari kalangan kaum Muslimin banyak juga para Hafiz Al-Qur’an yang syahid.

Pertempuran berkecamuk antara kedua pasukan hingga kaum Muslimin berbaur dengan pasukan Musailamah dan pasukan Musailamah berbaur dengan pasukan kaum Muslimin. Ketika kaum Muslimin mundur, mereka bergerak maju sehingga mereka bisa mencapai Muja’ah. Salim Maula Abu Hudzaifah (سالم مولى أبي حذيفة) yang merupakan Maula (hamba sahaya yang telah dimerdekakan) Abu Hudzaifah menggali lubang hingga setengah betisnya. Ia membawa bendera Muhajirin, dan demikian juga Tsabit bin Qais menggali lubang untuk dirinya. Kemudian keduanya mendekap bendera mereka, sedangkan orang-orang tercerai-berai ke segala arah. Yakni, mereka menggali lubang, lalu berdiri di dalamnya dan memegang bendera mereka. Selagi Salim dan Tsabit berdiri teguh dengan bendera mereka, hingga Salim disyahidkan, ketika itu Abu Hudzaifah pun telah disyahidkan. Kepala Hadhrat Abu Hudzaifah (ra) berada di kedua kaki Hadhrat Salim (ra) dan kepala Hadhrat Salim (ra) pun berada di kedua kaki Hadhrat Abu Hudzaifah (Ra).[11]

Ketika Hadhrat Salim (ra) telah syahid, bendera tergeletak untuk beberapa lama. Hadhrat Yazid bin Qais (يزيد بن قيس) yang merupakan seorang sahabat Badar lalu bergerak maju dan mengangkat bendera tersebut hingga beliau syahid. Kemudian Hakam bin Sa’id bin ‘Ash (الحكم بن سعيد بن العاص) mengangkat bendera tersebut dan bertempur sepanjang hari untuk menjaganya, kemudian beliau syahid.

Wahsyi menuturkan, ‘Terjadi pertempuran yang sengit. Tiga kali kaum Muslimin mundur, keempat kalinya kaum Muslimin menyerang lagi dan mengokohkan kedudukan mereka dan bersiteguh di hadapan pedang-pedang musuh. Pedang-pedang mereka saling beradu hingga saya melihat bunga-bunga api memercik darinya dan terdengar suara seperti lonceng. Allah Ta’ala menurunkan pertolongan-Nya kepada kami dan Allah Ta’ala memberikan kekalahan kepada Banu Hanifah dan membunuh Musailamah.” Beliau menuturkan, “Pada hari itu saya menggunakan pedang saya dengan baik sehingga pedang yang ada di tangan saya tersebut hingga ke gagangnya penuh dengan darah.”[12]

Hadhrat Ibnu Umar (ra) meriwayatkan, “Saya melihat Hadhrat Amar (ra) naik ke atas sebuah batu. Beliau berseru, يا معشر المسلمين أمن الجنة تفرون إلي إلي أنا عمار بن ياسر هلموا إلي ‘Wahai Umat Islam! Apakah kalian melarikan diri dari surga? Aku Ammar bin Yasir. Datanglah kepadaku.’” Perawi mengatakan, “Saya melihat telinga beliau telah terpotong dan menggantung.”[13]

Abu Khaitsamah Najjari (أبو خيثمة النجاري) meriwayatkan, “Ketika umat Islam tercerai-berai di hari perang Yamamah, saya mundur ke satu arah dan di hadapan mata saya tampak pemandangan bahwa di hari itu saya melihat Hadhrat Abu Dujanah.”

Nama beliau adalah Simak bin Kharasyah dan dikenal dengan julukan Abu Dujanah (أَبُو دُجَانَةَ. وَاسْمُهُ سِمَاكُ بْنُ خَرَشَةَ بْنِ لَوْذَانَ بْنِ عَبْدِ وُدِّ بن زيد بن ثعلبة بن الخزرج بن ساعدة) radhiyallahu ta’ala ‘anhu. Beliau adalah seorang sahabat yang masyhur yang ikut serta dalam seluruh peperangan bersama Hadhrat Rasulullah (saw). Hadhrat Rasulullah (saw) pada perang Uhud bersabda sambil membawa sebuah pedang di tangannya,  مَنْ يَأْخُذُ هَذَا السَّيْفَ بِحَقِّهِ‏؟‏ ‘man ya’khudzu hadzas saifi bihaqqihii?’ yakni, ‘Siapa yang akan mengambil pedang ini dengan memenuhi haknya?’

Abu Dujanah berkata, “Aku akan menunaikannya.” Hadhrat Rasulullah (saw) memberikan pedang tersebut kepada beliau.

Dalam beberapa riwayat lainnya beliau bertanya, أَنَا آخُذُهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ بِحَقِّهِ، فَمَا حَقُّهُ‏؟‏ “Wahai Rasulullah (saw)! Saya akan ambil pedang tersebut dan memenuhi haknya. Apa haknya?”

 mengenai apa hak pedang tersebut? Hadhrat Rasulullah (saw) bersabda, أَنْ لَا تَقْتُلَ بِهِ مُسْلِمًا وَلَا تَفِرَّ بِهِ عَنْ كَافِرٍ ’Jangan gunakan pedang ini untuk membunuh orang Muslim dan janganlah melarikan diri dari pasukan kafir dalam keberadaannya yakni jangan mundur.’” [14]

Hadhrat Abu Dujanah (ra) seperti biasa mengikatkan kain merah di kepalanya, lalu berjalan dengan membusungkan dada dan berdiri di tengah barisan. Hadhrat Rasulullah (saw) bersabda, إِنَّهَا مِشْيَةٌ يُبْغِضُهَا اللهُ إِلَّا فِي هَذَا الْمَوْضِعِ “Meskipun sikap seperti ini tidak disukai oleh Allah Ta’ala, namun dalam kesempatan yang seperti ini – peperangan – tidaklah menjadi masalah.”[15]

Beliau bertempur di medan perang dengan gagah berani dan membunuh banyak sekali orang kafir dan mendapatkan banyak luka dalam melindungi Hadhrat Rasulullah (saw), namun beliau tidak mundur dari medan pertempuran.

Bagaimanapun, diriwayatkan pada peristiwa perang Yamamah bahwa dalam perang tersebut sekelompok Banu Hanifah menyerang Hadhrat Abu Dujanah (ra). Kisah yang sebelumnya tadi dibahas adalah terjadi di masa Hadhrat Rasulullah (saw) masih hidup. Saat ini dibahas berkenaan dengan apa yang terjadi di Yamamah. Berkenaan dengan hal tersebut tertulis, “Sekelompok Bani Hanifah menyerang beliau, maka beliau mengayunkan pedangnya ke depan, samping kanan dan kiri beliau. Beliau menyerang seseorang dan menjatuhkannya ke tanah. Beliau tidak berkata sepatah kata pun, hingga kelompok tersebut menyingkir dari beliau dan mereka berlalu pergi dan umat Islam mendekat.

Setelah menelan kekalahan, Bani Hanifah melarikan diri ke arah kebun. Umat Islam mengejar mereka dan memaksa mereka berlindung di dalam kebun. Mereka mengunci pintu kebun tersebut, maka Hadhrat Abu Dujanah berkata, “Masukkan saya ke dalam perisai dan lemparkan saya, supaya saya bisa masuk ke dalam dan membuka pintu kebun.”

Maka orang-orang Islam melakukan seperti demikian dan beliau sampai di dalam kebun. Beliau mengatakan, “Larinya kalian tidak akan bisa menyelamatkan kalian dari kami.” Beliau bertempur dengan hebat melawan mereka hingga berhasil membukakan pintu.

Perawi menuturkan, “Kami memasuki kebun ketika beliau dalam keadaan telah syahid.” Berdasarkan satu riwayat lain, Bara’ bin Malik-lah yang dilemparkan ke dalam kebun, namun riwayat yang pertama nampaknya lebih tepat, yakni riwayat yang menyebutkan Hadhrat Barra’ bin Malik (ra).”[16] Terdapat juga rincian dari peristiwa tersebut. Bagaimanapun, selebihnya masih akan berlanjut pada kesempatan yang akan datang.

Pada kesempatan ini saya ingin menghimbau untuk berdoa bagi Pakistan. Berdoalah secara khusus bagi para Ahmadi. Secara umum situasi Pakistan sedang memburuk. Dalam situasi seperti ini perhatian mereka menjadi tertuju pada para Ahmadi. Penentangan semakin meningkat. Bahkan mereka tidak segan untuk membongkar kuburan lama. Mereka adalah sejahat-jahatnya manusia. Semoga Allah Ta’ala mencengkeram mereka.

Demikian juga berdoalah untuk para Ahmadi di Aljazair. Mereka pun saat ini sedang mengalami kesulitan-kesulitan. Berdoalah juga untuk para Ahmadi di Afghanistan. Semoga Allah Ta’ala menurunkan karunia-Nya kepada semuanya.

Saat ini saya ingin menyampaikan riwayat beberapa Almarhum dan kemudian setelah salat saya akan memimpin salat jenazah mereka. Yang pertama adalah yang terhormat Nasim Mahdi Sahib, Mubaligh Jemaat putra yang terhormat Maulana Ahmad Khan Nasim Sahib (مکرم نسیم مہدی صاحب ابن مکرم مولانا احمد خان نسیم صاحب). Beliau wafat beberapa hari yang lalu pada usia 69 tahun. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun.

Dengan karunia Allah Ta’ala beliau adalah seorang Mushi. Beliau melakukan dua kali pernikahan. Istri pertama beliau telah wafat dan yang beliau tinggalkan saat ini adalah istri kedua beliau. Dari kedua istri tersebut beliau mendapatkan masing-masing dua putra dan satu putri.

Beliau lulus dari Jamiah Rabwah pada 1976, kemudian beliau mendapatkan kesempatan berkhidmat di Islah-o-Irshad Maqami. Kemudian pada 1983 beliau dikirim sebagai Mubaligh Swiss. Beliau mendapatkan taufik berkhidmat di sana. Pada 1984 beliau ditetapkan sebagai Naib Wakilut Tabshir (نائب وکیل التبشیر). Beliau juga bekerja sebagai Qaim Muqam Wakilut Tabshir (قائمقام وکیل التبشیر) untuk beberapa bulan. Pada Desember 1984 beliau datang ke London. Di sini beliau mendapatkan taufik berkhidmat sebagai Private Secretary London.

Kemudian beberapa bulan kemudian, pada 1985, beliau berangkat dari London ke Kanada. Dari 1985 hingga 2008 beliau mendapatkan taufik berkhidmat sebagai Muballigh dan setelahnya sebagai Muballigh in Charge Kanada. Semasa itu beliau juga sebagai Amir Kanada.

Terkait:   Keteladanan Para Sahabat Nabi Muhammad (shallaLlahu ‘alaihi wa sallam) (Manusia-Manusia Istimewa seri 45)

Dari 2009 hingga 2016 beliau mendapatkan taufik berkhidmat sebagai Muballigh in Charge Amerika. Kemudian beliau ditugaskan kembali ke Swiss untuk kedua kalinya. Namun beliau menulis, “Dikarenakan keadaan kesehatan, Dokter mengatakan kepada saya bahwa saya tidak dapat lagi mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang berat.” Maka beliau mengambil cuti untuk waktu yang tidak ditentukan. Bagaimanapun, saya menulis kepada beliau, “Jika memang Dokter mengatakan keadaannya seperti itu, jagalah kesehatan anda. Ketika anda telah sehat, maka sampaikanlah, insya Allah anda akan kembali ditugaskan.” Namun, sakit beliau bertambah parah.

Sebagaimana telah saya katakan, pada 1985 beliau pergi bertugas ke Kanada. Pada 1986 dibeli lahan seluas 24 hektar untuk Rumah Misi Baitul Islam dan lahan itu kemudian ditinggali. Semasa beliau, banyak sekali para Ahmadi yang datang ke Kanada dan tinggal di sana. Beliau sangat membantu mereka. Beliau banyak berjasa pada orang-orang. Beliau melakukan komputerisasi sistem candah dan tajnid.

Dua masjid besar dibangun di Toronto dan Calgary dan pusat-pusat didirikan di Jemaat-jemaat lainnya. Seingat saya, kemungkinan Masjid Vancouver pun dibangun di masa beliau. Bagaimanapun, yang pasti adalah dua masjid yang besar tadi.

Pada 2003, di masa beliau juga dengan karunia Allah Ta’ala didirikan Jamiah Ahmadiyah Kanada. Beliau juga banyak berperan dalam pendirian Stasiun MTA Amerika Utara. Semoga Allah Ta’ala mengabulkan semua pengkhidmatan beliau ini.

Istri beliau, Amatun Nasir Sahibah menulis, “Selama 26 tahun kehidupan rumah tangga dengan Nasim Mahdi Sahib, saya mendapati beliau sebagai sahabat dalam suka dan duka. Beliau adalah sosok suami yang penyayang dan penuh penghargaan. Beliau seorang ayah yang penyayang dan saudara yang rela berkorban. Beliau seorang yang memiliki rasa simpati kemanusiaan, patuh dan taat pada Khilafat. Beliau seorang yang bertawakal kepada Allah Ta’ala dan saleh.”

Kemudian istri beliau menulis lebih lanjut, “Beliau mengkhidmati orang lain dengan tanpa pamrih dan memperlakukan orang lain dengan kecintaan. Beliau tidak biasa mendengarkan pembicaraan buruk yang menentang Jemaat dan tidak ada seorang pun yang berani melakukan itu di hadapan beliau. Beliau juga sangat ramah terhadap tamu. Beliau sangat memberikan perhatian pada pembacaan sholawat. Ketika saya pergi ke Umrah, saya bertanya:doa apa yang dipanjatkan? Beliau menjawab: Saya hanya membaca shalawat saja di sana.

Putri beliau, Sadiyah Mahdi menuturkan, “Ayah saya adalah seorang figur yang sangat rajin berdoa. Kapanpun saya meminta doa, beliau biasa mengatakan: Biasakanlah membaca shalawat. Kapanpun beliau diminta doa untuk suatu urusan, beliau senantiasa menekankan untuk membaca shalawat. Suatu hari saya bertanya kepada beliau: Ayah selalu menasihatkan untuk membaca shalawat dalam berbagai masalah. Beliau mengatakan: bacalah shalawat dan beliau juga menasihatkan doa yang paling besar adalah shalawat. Jika ini terkabul, maka semua doa yang lainnya akan terkabul.”

Asma Syarif Sahibah menuturkan, “Mahdi sahib adalah kakak ipar saya [suami saudari saya]. Saya melihat beliau dari dekat sekali selama masa waktu 22 tahun. Beliau adalah seorang figur yang sangat penyayang, besar perhatian dan besar kecintaan. Seorang insan yang sangat mencintai Khilafat.”

Saudari beliau menuturkan, “Ketika beliau sebagai Muballig Switserland, ada seorang gadis Ahmadi yang berkebangsaan Swiss datang ke Jalsah Rabwah dan berkunjung ke rumah kami di Rabwah. Beliau mengatakan, ‘Saya ingin berjumpa dengan ibunda Nasim Mahdi Sahib dan berkeinginan untuk berjumpa dengan ibu yang putranya sedemikian rupa cerdas yang dalam masa yang singkat dapat menguasai berbagai Bahasa dan sibuk dalam pekerjaan tabligh tanpa perasaan segan dan berbicara dalam berbagai tema dengan lancar.’”

Menantu perempuan beliau menuturkan, “Almarhum selalu menasihatkan kepada kami akan keutamaan shalawat dan perihal pengabulan doa yang disandarkan pada shalawat. Suatu ketika beliau pernah menceritakan, ‘Saya tengah berdiri pada antrian di bandara dan terpikir bahwa paspor saya sudah habis masa berlakunya. Setelah mengetahui hal itu, beliau mulai membaca shalawat dan tetap berada pada antrian.’ Tanpa  mengecek paspor beliau, petugas bandara langsung membubuhkan cap dan membiarkan beliau masuk.”

Menantu laki-laki beliau menuturkan, “Semenjak saya menikahi putri almarhum, beliau selalu memperlakukan saya dengan penuh kasih sayang. Beliau bahkan biasa membuatkan cae untuk saya dan duduk bersama saya bada shalat subuh. Saat itu beliau menjelaskan suatu ayat atau menyampaikan suatu peristiwa lalu menyampaikan tafsirnya. Dengan gaya yang lembut beliau memberikan tarbiyat kepada kami.”

Putri beliau, Nawal Mahdi menuturkan, “Saya selalu melihat kecintaan mendalam almarhum kepada Al-Qur’an, pecinta sejati Al-Qur’an. Beliau pun menasihatkan kami untuk menelaah Al-Qur’an dengan seksama dan berusaha untuk memahami makna dan artinya, dengan begitu akan Nampak kepadamu pemandangan qudrat Allah Ta’ala dan akan mulai meraih kebahagiaan. Beliau adalah sosok yang dawam melaksanakan shalat tahajjud. Ketika qiyam ruku dan sujud dalam shalat beliau lakukan dengan lama dan beliau lakukan dengan penuh kekhusyuan. Beliau selalu mengaturkan daras Al-Qur’an ketika bulan Ramadhan. Beliau siapkan bahan daras dengan tekun. Beliau biasa menjelaskan makna dan arti dari kata kata sulit dalam Al-Qur’an dan memberitahukan persamaan katanya sehingga orang orang menjadi mudah memahaminya.”

Laal Khan Sahib, Amir Jemaat Kanada menuturkan, “Saya bekerja dengan beliau (sebagai mantan Amir dan Missionary Incharge) dalam waktu yang cukup lama yakni dari tahun 1987.  Allah Ta’ala menganugerahkan sifat sifat yang istimewa. Beliau menggunakan sifat sifat istimewa tersebut untuk mengkhidmati jemaat. Allah Ta’ala memberikan taufik kepada beliau untuk menjalin pertemanan dan merawatnya dan menggunakan rabtah tersebut untuk kemanfaatan jemaat. Dengan adanya dukungan banyak Lembaga Canadian Society, almarhum menciptakan hunungan pribadi dengan mereka dan memperkenalkan mereka kepada jemaat. Masya Allah, kemahiran ini sangat dominan dalam diri beliau. Hubungan dengan siapapun yang dibina, sangat baik dan dalam dan orang lain menjaga hubungan ini. Pada saat beliau wafat, mereka menyampaikan banyak sekali rasa simpati.”

Laal Khan Sahib menulis, “Allah Ta’ala pun memberikan taufik kepada beliau untuk memenuhi tanggung jawab dalam membimbing dan membantu orang-orang dan keluarga dari Pakistan dan dari berbagai negeri. Hubungan beliau dengan para anggota amilah pun layaknya kawan. Saya mendapatkan taufik untuk berkhidmat selama lebih kurang 20 tahun pada masa kepemimpinan beliau. Pada masa itu beliau tidak membiarkan timbul perasaan dalam diri saya bahwa status beliau adalah amir dan saya adalah bawahan, melainkan sikap beliau bagaikan seorang teman bagi saya.”

Dr Asfand Daud menuturkan, “Naseem Mahdi Sahib mendapatkan penghargaan medali Order of Ontario pada tahun 2009 yakni penghargaan tertinggi di suatu provinsi yang dianugerahkan kepada seorang penduduk. Penghargaan ini dianugerahkan kepada seseorang yang berhasil atau memberikan pengkhidmatan luhur dalam medan lapangan apapun itu. Ketika beliau ditugaskan ke Amerika, suatu ketika saya berjumpa dengan beliau pada kesempatan jalsah salanah.

Pada saat itu beliau memberikan nasihat kepada saya, ‘Dalam kedudukan apapun anda saat ini, seberapapun banyaknya anda dapat mengkhidmati orang-orang maka lakukanlah. Kalaupun ada anggota jemaat yang datang kepada anda, bantulah ia, jangan pernah mengabaikannya. Apapun yang bisa anda lakukan untuknya, lakukanlah.’

Beliau pun mengatakan, ‘Terkadang orang tidak berbicara dengan baik dalam mengemukakan keperluannya, cari tahulah secara diam-diam apa yang dia perlukan lalu bantulah ia.’ Saya selalu melihat almarhum membantu orang-orang yang membutuhkan dan selalu membantu mereka secara diam-diam sehingga yang membutuhkan itu tidak merasa malu karenanya.”

Syakur Sahib, Muballig Silsilah menuturkan, “Diantara sekian banyak ucapan beliau nasihat yang terpatri di benak saya ketika saya duduk pada tahun-tahun awal di Jamiah, mungkin di tingkat dua. Suatu ketika saya datang ke masjid dengan mengenakan sandal, almarhum mengatakan kepada saya, ‘Para waqafin jemaat hendaknya terlebih dahulu mempersiapkan diri dari rumah untuk menghadapi berbagai keadaan, supaya jika ada perintah, anda akan dapat segera berangkat dari sana dalam keadaan siap untuk melaksanakan perintah tersebut, jangan sampai mengatakan, “Saya akan ke rumah dulu untuk bersiap siap. Selain mental, secara jasmani pun seseorang hendaknya selalu siap siaga.”’”

Firasat Qamar, Muballig silsilah menuturkan, “Ketika menghadapi ujian interview untuk masuk jamiah, Mahdi Sahib menyampaikan satu pertanyaan kepada saya: ‘Jika anda dikirim ke Afrika sebagai Muballigh dan di tempat anda tugas anda menghadapi penentangan dari penduduk local, siapa yang paling dulu anda hubungi, ibu anda atau Khalifatul Masih?’

Setelah berfikir, saya katakan, ‘Khalifatul Masih.’

Setelah mendengar jawaban saya, Mahdi Sahib berkata, ‘Saya rekomendasikan anda untuk lulus, atas dasar jawaban anda barusan. Inilah jawaban yang benar.’”

Kol. Deedar Sahib Sekretaris Mission House menuturkan, “Gejolak ketaatan kepada Khilafat sangat tampak dengan jelas dalam diri Nasim Mahdi Sahib. Salah satu jasa beliau adalah mendirikan Peace Village. Ini dapat berdiri pada masa ketika jalsah Salanah Kanada diselenggarakan di lapangan yang lokasinya berada di sebelah masjid Baitul Islam. Pemilik tanah ladang yang letaknya bersebelahan setiap tahunnya menyampaikan keluhan pada saat diadakan jalsah, ia mengatakan, ‘Keramaian Jalsah membuat saya gelisah, begitu juga saya tidak bisa tahan dengan aroma yang keluar dari dapur jalsah.’ Alhasil, setelah sekian lama, ketika pemerintah melakukan penetapan daerah atas tanah ladang tersebut lalu fungsinya dirubah menjadi area pemukiman.

Nasim Mahdi sahib berpikir bahwa seorang wanita pemilik tanah ladang sering menyampaikan keluhannya kepada kita, sekarang tidak hanya satu melainkan akan banyak yang membeli lahan lalu menjadi pemilik pemilik lainnya, keadaannya akan sangat sulit karena akan banyak pemilik rumah yang melontarkan keluhan nantinya. Atas hal itu, Almarhum menyampaikan satu rencana kehadapan para anggota jemaat, beliau mengusulkan kenapa tidak kita membuat pemukiman Ahmadi di sini. Para anggota dihimbau untuk membeli lahan di sana. Kemudian para Ahmadi mendukung Gerakan tersebut dan dengan karunia Allah Ta’ala pembangunan Peace Village dapat terlaksana.

Dzi Shan Goraiyah Sahib, Muballig menuturkan, “Banyak sekali para pemuda yang mendapatkan tarbiyat dari almarhum. Sebagai buah dari tarbiyat tersebut saat ini kami mendapatkan taufik untuk mengkhidmati jemaat sebagai muballigh diberbagai negeri. Berkat tarbiyat yang beliau berikan kami dapat belajar untuk mencintai Khilafat dan menyaksikan tumbuhnya ruh ketaatan dalam diri.”

Begitu juga Asif Khan Sahib sekretaris Umur Kharajah Kanada menuturkan, “Saya datang ke Wan. Pada masa itu di sekitar rumah misi jemaat ada sekitar beberapa lusin Ahmadi. Wawasan kejemaatan saya waktu itu sangat kurang. Kemudian Mahdi Sahib memperlakukan saya seperti anak beliau sendiri, menjadi guru bagi saya. Beliau ikut bermain basket dan mengajarkan ilmu kejemaatan kepada saya. Ketika saya masuk usia dewasa, beliau memberikan tugas kejemaatan kepada saya untuk melakukan rabtah kepada berbagai politikus. Demikian pula pada saat ini pun dengan karunia Allah saya dapat bekerja dengan baik. Semua ini merupakan buah tarbiyat dari beliau.”

Mirza Maghfur Ahmad Sahib, Amir Jemaat Amerika menuturkan, “Pada tahun 2016 almarhum mendapatkan taufik untuk berkhidmat sebagai Missionary Incharge dan Naib Amir jemaat Amerika. Beliau bekerja dengan sangat baik di Amerika dan melakukan banyak kunjungan. Beliau berusaha untuk memasuki berbagai kalangan. Ketika kunjungan beliau mulai membuat kegiatan tabligh semakin berpengaruh. Pada masa itu beliau mendapatkan taufik untuk menyebarkan tabligh Islam Ahmadiyah di Amerika dengan perantaraan media dan berbagai campaign.”

Kemudian berkenaan dengan pendirian jemaat di Meksiko, berdasarkan petunjuk Markaz  beliau juga mendapatkan taufik untuk membangun rumah misi di sana. Sekretaris Tabligh Amerika Waseem Sayyid Sahib menuturkan, “Almarhum adalah sosok yang menjalin hubungan kasih sayang dan kecintaan dengan setiap orang dan mendahului orang lain dalam kebaikan tersebut. Beliau mengetahui cara-cara untuk memberdayakan setiap orang untuk mengkhidmati Islam.

Setelah datang di Amerika beliau menjadikan acara-acara yang diadakan setiap tahun sebagai sarana yang ampuh untuk menyebarkan ajaran Islam (kaitannya dengan peristiwa 11 september) Beliau menginisiasi program-program yang bertemakan Muslim for life, Muhammad Messenger of Peace dan kehidupan Nabi Muhammad (saw). Disampaikan lecture-lecture (kuliah-kuliah) di 56 universitas di seluruh Amerika dengan tema tema tersebut. Para tamu yang hadir pada lecture tersebut dihadiahi buku Life Of Muhammad. Beliau juga yang menggagas misi Muslim for Loyalty. Menyampaikan lecture di berbagai universitas. Melakukan berbagai pertemuan dengan para pejabat lokal pemerintah dan menghidupkan ajaran Islam.

Hadhrat Khalifatul Masih Tsalits pada kesempatan Jalsah Salanah, dalam pidatonya berkenaan ketangkasan almarhum dalam skema folders pengenalan jemaat dalam misi Switzerland, Hudhur III bersabda: “Para penggembala hewan yang menghuni gunung-gunung Switzerland terdiri dari tiga suku. Ketiga suku tersebut memiliki bahasa yang berbeda. Jumlah suku-suku tersebut ialah 28 ribu jiwa atau kurang dari itu. Secara kebetulan Nasim Mahdi sahib (Semoga Allah Ta’ala memberikan ganjaran kepada beliau) setelah meminta nasihat dari saya telah menerbitkan folders (selebaran) untuk 28 ribu pengguna bahasa dan telah menyampaikan 8 ribu folders ke setiap rumah yakni ke setiap rumah di daerah tersebut sehingga menimbulkan kehebohan. جزاه الله خيرا – jazaahuLlahu khairan –  semoga Allah mengganjar pahala baginya. Dua surat kabar menerbitkan tulisan yang berisi kritikan keras. Saya (Hudhur ke-3) katakan doa yang baik telah terkabul bagi beliau, ratusan ribu folders telah dibagikan. Alhamdu lillah.”

Terkait:   Riwayat 'Umar bin Khattab (Seri 13)

Demikianlah laporan singkat yang disampaikan oleh Hadhrat Khalifatul Masih Tsalits pada kesempatan jalsah. Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan magfirah dan rahmatNya kepada almarhum. Meninggikah derajatnya dan memberikan tempat di dekat para wujud kekasihNya. Menganugerahkan ketabahan kepada istri dan anak dan memberikan taufik kepada mereka untuk dapat melanjutkan segala kebaikan almarhum. Sebagaimana almarhum telah mengarungi kehidupan dengan penuh kesetiaan semoga anak keturunan beliau pun dapat mengarungi kehidupan dengan penuh kesetiaan.

Almarhum berikutnya adalah Ananda Muhammad Ahmad Sharim dari Rabwah (عزیزم محمد احمد شارم ربوہ). Anak ini wafat pada usia 16 tahun, Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raajiuwn. Ia adalah seorang pecinta Khilafat, ceria dan dicintai oleh banyak orang. Selalu berpartisipasi dengan oenuh antusias dalam pengorbanan harta. Beliau mengikuti program program jemaat dan badan dengan giat. Dengan karunia Allah Ta’ala beliau adalah musi, telah masuk kedalam skema Alwasiyat pada usia dini. Selain orang tua beliau meninggalkan dua saudari. Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan ketabahan kepada mereka semua.

Almarhum yang ketiga adalah Yth Nyonya Salimah Qamar, istri Almarhum Rashid Ahmad Sahib (مکرمہ سلیمہ قمر صاحبہ اہلیہ رشید احمد صاحب مرحوم). Yang wafat pada tanggal 16 Mei, innaa lillaahi wa innaa ilaihi raajiuwn. Dengan karunia Allah Ta’ala beliau adalah seorang Musiah.

Jemaat masuk kedalam keluarga beliau melalui kakek buyut beliau Hadhrat Maulwi Waziruddin Sahib dari Mekeriyan, sahabat Hadhrat Masih mAuud as dan seorang kepala sekolah di Kangra. Ayah almarhumah bernama Choudri Muhammad Sadiq Sahib, seorang Maulwi Fadhil dan seorang wujud suci jemaat. Beliau mendapatkan taufik untuk berkhidmat sebagai Incharge Khilafat Library untuk masa yang Panjang. Beliau mendapatkan taufik untuk berkhidmat sebagai Sadr Umumi Rabwah untuk masa yang Panjang.

Atas perintah Hadhrat Khalifatul Masih Tsani, Maulwi Sahib yakni ayahanada almarhumah mendapatkan kemuliaan untuk memasang kemah ketika mendirikan Rabwah dan tinggal di Rabwah pada malam pertama. Almarhumah menempuh Pendidikan dasar di Rabwah dan mendapatkan gelar MA Bahasa Arab dari Talimul Islam College.

Beliau juga mendapat taufik untuk berkhidmat di berbagai departemen jemaat dalam masa yang Panjang. Beliau mendapat kesempatan untuk berkhidmat sebagai sekretaris umum di Lajnah Imaillah local dari tahun 72 – 82. Pada tahun 82 – 87 bekerja sebagai petugas perpustakaan di Perpustakaan Ammatul Hayyi. Dari tahun 87 – 2018 selama 31 tahun sebagai direktur Risalah Misbah dan selama periode tersebut beliau menjalankan risalah tersebut dengan sangat baik, meskipun keadaan tidak mendukung.

Almarhumah adalah sosok yang salehah, rajin ibadah, rajin berdoa dan pemilik tabiat yang sederhana. Beliau dawam dalam melaksanakan shalat tahajjud dan shalat nafal lainnya seperti sahalat duha dan Isyraq. Beliau memiliki jalinan ketulusan dan kesetiaan dengan khilafat Ahmadiyah. Dalam setiap sisi kehidupan beliau Nampak jelas corak doa. Beliau adalah wanita yang memiliki sifat seperti malaikat. Menjalin hubungan yang penuh kesetiaan dan kasih saying dengan setiap orang. Tidak pernah marah kepada siapapun. Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan magfirah dan rahmatNya kepada Almarhumah  meninggikan derajat beliau dan semoga putra putri beliau diberikan taufik untuk melanjutkan segala kebaikan almarhumah.[17]

Khotbah II

الْحَمْدُ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا – مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ – وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ – عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ – أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُاللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ


[1] Ibnu Katsir (ابن كثير) dalam karyanya Al-Bidayah wan Nihayah (البداية والنهاية), juz ke-7 (الجزء السادس), pasal (فصل في خبر مالك بن نويرة اليربوعي التميمي) bahasan (مقتل مسيلمة الكذاب لعنه الله). Tarikh al-Kaamil (نام کتاب : الكامل في التاريخ – ط دار صادر و دار بیروت نویسنده : ابن الأثير، عزالدین    جلد : 2  صفحه : 363); Tarikh ath-Thabari (تاريخ الطبري – الطبري – ج ٢ – الصفحة ٥١٢).

[2] ‘Ali Muhammad Muhammad ash-Shalabi (عَلي محمد محمد الصَّلاَّبي) dalam karyanya Al-Insyirah war Raf’udh Dhayyiq fi Sirati Abi Bakr ash-Shiddiq syakhshiyatuhu wa ‘ashruhu (الانشراحُ وَرَفعُ الضِّيق في سِيرة أبي بَكْر الصِّديق شخصيته وَعَصره), penerbit Darut Tauzi’ wa Nasyr, Kairo-Mesir (دار التوزيع والنشر الإسلامية، القاهرة – مصر), tahun 1423 Hijriyyah atau 2002 (عام النشر: 1423 هـ – 2002 م), versi terjemahan Urdu terbitan Maktabah al-Furqan, Muzhaffaragah, Pakistan (ماخوذ از سیدناابوبکر شخصیت اور کارنامے از ڈاکٹر علی محمد صلابی صفحہ278مکتبہ الفرقان مظفرگڑھ پاکستان)

[3] Al-Kaamil fit Taarikh (الكامل في التاريخ) karya Ibnu al-Atsir (ابن الأثير).

[4] Ibnu Katsir (ابن كثير) dalam karyanya Al-Bidayah wan Nihayah (البداية والنهاية), juz ke-7 (الجزء السادس), pasal (فصل في خبر مالك بن نويرة اليربوعي التميمي) bahasan (مقتل مسيلمة الكذاب لعنه الله).

[5] Ibnu Katsir (ابن كثير) dalam karyanya Al-Bidayah wan Nihayah (البداية والنهاية), juz ke-7 (الجزء السادس), pasal (فصل في خبر مالك بن نويرة اليربوعي التميمي) bahasan (مقتل مسيلمة الكذاب لعنه الله).

[6] Ibnu Katsir (ابن كثير) dalam karyanya Al-Bidayah wan Nihayah (البداية والنهاية), juz ke-7 (الجزء السادس), pasal (فصل في خبر مالك بن نويرة اليربوعي التميمي) bahasan (مقتل مسيلمة الكذاب لعنه الله).

[7] Kitab Sejarah Futuhul Buldan (فتوح البلدان) karya al-Baladzuri (أحمد بن يحيى بن جابر البلاذري), (الجزء الأول – اليمامة): ثم التقى الناس وقراء القرآن. ثم أن المسلمين فآءوا وثابوا، فأنزل الله عليهم نصره وهزم أهل اليمامة فأتبعوهم يقتلونهم قتلاً ذريعاً، ورمى عبد الرحمن ابن أبي بكر الصديق أخو عائشة لأبيها محكماً بسهم فقتله، وألجأوا الكفرة إلى الحديقة فسميت يومئذ حديقة الموت، وقتل الله مسيلمة في الحديقة، فبنو عامر بن لؤي بن غالب يقولون: قتلة خداش بن بشير بن الأصم، أحد بني معيص ابن عامر بن لؤي. وبعض الأنصار يقولون: قتله عبد الله بن زيد بن ثعلة، أحد بنى الحارث بن الخزرج، وهو الذي أرى الأذان. وبعضهم يقول: قتله أبو دجانة سماك بن خرشة مم استشهد. وقال بعضهم: بل قتله عبد الله بن زيد بن عاصم أخو حبيب بن زيد من بني مبذول من بني النجار. وقد كان مسلمة قطع يدي حبيب ورجليه. وكان وحشى بن حرب الحبشي قاتل حمزة رضي الله عنه يدعى قتله ويقول: قتلت خير الناس وشر الناس. وقال قوم: إن هؤلاء جميعاً شركوا في قتله. وكان معاوية بن أبي سفيان يدعي أنه قتله، ويدعي ذلك له بنو أمية . al-Kaamil fit Taarikh (الكامل في التاريخ » ذكر الوقت الذي أرسل فيه رسول الله صلى الله عليه وسلم » ذكر بيعة العقبة الثانية): وابنها الآخر عبد الله بن زيد المازني ، الذي حكى وضوء رسول الله صلى الله عليه وسلم ، قتل يوم الحرة وهو الذي قتل مسيلمة الكذاب بسيفه .

[8] Tarikh ath-Thabari (تاريخ الطبري – الطبري) atau (تاريخ الأمم والملوك) karya (محمد بن جرير الطبري أبو جعفر) bahasan (ذكر بقية خبر مسيلمة الكذاب وقومه من أهل اليمامة): وقتل وحشي مسيلمة وضربه رجل من الأنصار فشاركه فيه atau فاقتتلوا حتى قتل الله مسيلمة عدو الله واشترك في قتله وحشي مولى جبير بن مطعم ورجل من الأنصار كلاهما قد اصابه أما وحشي فدفع عليه حربته وأما الأنصاري فضربه بسيفه فكان وحشي يقول ربك أعلم أينا قتله .

[9] Sahih al-Bukhari, Kitab Al-Maghaazi (كتاب المغازى) – Military Expeditions led by the Prophet (pbuh) – Ekspedisi Militer pimpinan Nabi (saw) bab kesyahidan Hamzah (بَاب قَتْلِ حَمْزَةَ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ).

[10] Musnad ath-Thayalisi (مسند الطيالسي وَحْشِيُّ بْنُ حَرْبٍ) nomor 1398

[11] Lihat kitab Mustadrak karangan Hakim: 3/225.Penggalan kepala Hadhrat Abu Hudzaifah (ra) jatuh ditebas musuh dan berada di antara dua kaki Hadhrat Salim (ra) dan penggalan kepala Hadhrat Salim (ra) pun berada di kaki Hadhrat Abu Hudzaifah (Ra)

[12] Tercantum dalam Al-Iktifa’ bima Tadhammanahu min Maghazi Rasulillah wa Ats-Tsalatsah Al-Khulafa’ (الاكتفاء، بما تضمنه من مغازي رسول الله والثلاثة الخلفاء) karya Abu Ar-Rabi’ Sulaiman bin Musa Al-Kala’i Al-Andalusi (لأبي الربيع سليمان بن موسى الكلاعي الأندلسي (565-634هـ)): قال وحشى‏ : اقتتلنا قتالا شديدا، فهزموا المسلمين ثلاث مرات، و كر المسلمون فى الرابعة، و تاب الله عليهم، و ثبت أقدامهم، و صبروا لوقع السيوف، و اختلفت بينهم و بين بنى حنيفة السيوف، حتى رأيت شهب النار تخرج من خلالها، حتى سمعت لها أصواتا كالأجراس، و أنزل الله تعالى، علينا نصره، و هزم الله بنى حنيفة، و قتل الله مسيلمة. قال: و لقد ضربت بسيفى يومئذ حتى غرى قائمه فى كفى من دمائهم. .

[13] Usdul Ghabah (أسد الغابة – ابن الأثير – ج ٤ – الصفحة ٤٦): رأيت عمار بن ياسر يوم اليمامة على صخرة قد أشرف يصيح يا معشر المسلمين أمن الجنة تفرون إلي إلي أنا عمار بن ياسر هلموا إلي قال وأنا أنظر إلى اذنه قد قطعت .

[14] Al-Mustadrak ‘alash Shahihain (المستدرك على الصحيحين), (ذِكْرُ مَنَاقِبِ أَبِي دُجَانَةَ سِمَاكِ بْنِ خَرَشَةَ الْخَزْرَجِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قُتِلَ أَبُو دُجَانَةَ يَوْمَ مُسَيْلِمَةَ شَهِيدًا), (2000- ذِكْرُ شَجَاعَةِ أَبِي دُجَانَةَ), Vol. 3, p. 440, 441, Kitab Marifat al-Sahabah, Dhikr Manaqib Abi Dujanah, Riwayah No. 5088, Dar al-Kutub al-Fikr, Beirut, 2002; Sharh Allamah Zurqani ala al-Mawahib al-Laduniyyah, Vol. 2, p. 406, 407, Kirab al-Maghazi, Bab Ghazwat Uhud, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut, 1996 Tarikh Islam karya adz-Dzahabi (تاريخ الإسلام – الذهبي – ج ٢ – الصفحة ١٧١).

[15] Ibn Hajar al-Asqalani, Al-Isabah fi Tamyiz al-Sahabah, Vol. 7, Abu Dujanah al-Ansari [Beirut, Lebanon: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2005], 100) (Ali Ibn al-Athir, Usd al-Ghabah fi Ma‘rifat al-Sahabah, Vol. 2, Simak bin Kharashah [Beirut, Lebanon: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2003], 317. Abū Nuʿaym al-Aṣbahānī (أبو نعيم الأصبهاني ,d. 1038 CE) dalam Kitabnya, Maʿrifat al-ṣaḥāba (معرفة الصحابة).

[16] Tercantum dalam Al-Iktifa’ bima Tadhammanahu min Maghazi Rasulillah wa Ats-Tsalatsah Al-Khulafa’ (الاكتفاء، بما تضمنه من مغازي رسول الله والثلاثة الخلفاء) karya Abu Ar-Rabi’ Sulaiman bin Musa Al-Kala’i Al-Andalusi (لأبي الربيع سليمان بن موسى الكلاعي الأندلسي (565-634هـ)): وكان أبو خيثمة النجارى يقول: لما انكشف المسلمون يوم اليمامة تنحيت ناحية، وكأنى أنظر إلى أبى دجانة  يومئذ ما يولى ظهره منهزما، وما هو إلا فى نحور القوم، حتى قتل رحمه الله، وكان يختال فى مشيته عند الحرب سجية، ما يستطيع غير ذلك. قال: وكرت عليه طائفة من بنى حنيفة، فما زال يضرب بالسيف أمامه وعن يمينه وعن شماله، فحمل على رجل فصرعه، وما ينبس بكلمة، حتى انفرجوا عنه ونكصوا على أعقابهم، والمسلمون مولون، وقد ابيض ما بينهم وبينه، فما ترى إلا المهاجرين والأنصار، لا والله ما أرى أحدا يخالطهم، فقاموا ناحية، وتلاحق الناس، فدفعوا حنيفة دفعة واحدة، فانتهينا بهم إلى الحديقة، فأقحمناهم إياها. قال أبو دجانة: ألقونى على الترسة حتى أشغلهم، فكانوا قد أغلقوا الحديقة، فأخذوه فألقوه على الترسة، حتى وقع فى الحديقة، وهو يقول: لا ينجيكم منا الفرار، فضاربهم حتى فتحها، ودخلنا عليه مقتولا رحمه الله. وقد روى أن البراء بن مالك هو المرمى به فى الحديقة، والأول أثبت .

[17] Sumber referensi: www.alislam.org (website resmi Jemaat Ahmadiyah Internasional bahasa Inggris dan Urdu) dan www.Islamahmadiyya.net (website resmi Jemaat Ahmadiyah Internasional bahasa Arab) pada link https://www.islamahmadiyya.net/cat.asp?id=116. Penerjemah: Mln. Mahmud Ahmad Wardi, Syahid (London-UK), Mln. Hasyim dan Mln. Fazli ‘Umar Faruq. Editor: Dildaar Ahmad Dartono.

Leave a Reply

Begin typing your search above and press return to search.
Select Your Style

You can choose the color for yourself in the theme settings, сolors are shown for an example.