Riwayat Abu Bakr Ash-Shiddiiq Ra (Seri 31)

khotbah jumat

Keteladanan Para Sahabat Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam (Manusia-Manusia Istimewa seri 165, Khulafa’ur Rasyidin Seri 04, Hadhrat ‘Abdullah Abu Bakr ibn ‘Utsman Abu Quhafah, radhiyAllahu ta’ala ‘anhu, Seri 31)

Hudhur ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz melanjutkan uraian tentang sifat-sifat terpuji Khalifah (Pemimpin Penerus) bermartabat luhur dan Rasyid (lurus) dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, Hadhrat Abu Bakr ibn Abu Quhafah, radhiyAllahu ta’ala ‘anhu. 

  • Peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam menghadapi bangsa Romawi di negeri Syam (Suriah dan negeri-negeri sekitarnya) di masa Khilafat beliau.
  • Pembahasan mengenai penyerangan pasukan Muslim ke kota penting kerajaan Romawi, yaitu Damaskus. Perang terakhir yang terjadi di masa Khilafat Hadhrat Abu Bakr (ra).
  • Pengepungan Damaskus oleh pasukan Muslim yang dipimpin oleh beberapa Amir (komandan) seperti Hadhrat Abu Ubaidah (ra) dan Hadhrat Khalid bin Walid (ra).
  • Musyawarah kedua panglima pada hari ke-20 pengepungan demi mendengar Raja Romawi tengah mengumpulkan pasukan yang banyak di kota Ajnadain. Pasukan Romawi juga tengah datang ke Damaskus membantu warga Dmaskus yang dikepung kaum Muslimin. Persoalan yang dibahas: apakah meninggalkan Damaskus menuju Ajnadain atau tetap melakukan pengepungan Romawi di Damaskus?
  • Setelah menimbang-nimbang berbagai argumentasi, pendapat yang diikuti ialah tetap mengepung Damaskus sembari mengirim pasukan berkuda untuk menahan kedatangan pasukan Romawi.
  • Hadhrat Dhirar ibnu al-Azwar (ra) diutus untuk memimpin pasukan berkuda melawan pasukan Romawi yang tengah datang. Duel (perang tanding satu lawan satu) antara Hadhrat Dhirar (ra) melawan putra Jenderal Romawi. Kekalahan sang putra jenderal dan ditangkapnya Hadhrat Dhirar (ra) oleh pasukan Romawi.
  • Musyawarah kedua panglima terkait kejadian tersebut. Hadhrat Khalid bin Walid (ra) bersama para rekannya mengejar pasukan Romawi yang menawan Hadhrat Dhirar (ra).
  • Munculnya ksatria wanita berkuda pemberani untuk menyelamatkan Hadhrat Dhirar (ra), Hadhrat Khaulah binti al-Azwar (ra), yang awalnya tidak dikenali pasukan Muslim.
  • Perubahan situasi yang membuat kaum Muslimin berhenti mengepung kota Damaskus dan segera bergerak ke Ajnadain.
  • Warga Damaskus mengatur kembali pasukannya dengan pemimpin baru, Bulis dibantu adiknya, Buthrus. Mimpi istri pasukan Romawi yang mengisyaratkan kekalahan pasukan Romawi, namun ditolak kebenarannya oleh pemimpin Romawi. 
  • Perjalanan pasukan Muslim ke Ajnadain. Firasat Hadhrat Khalid bin Walid (ra) untuk mendampingi rombongan kaum wanita Muslim di barisan belakang ditepis usulannya oleh Hadhrat Abu Ubaidah (ra) yang memintanya berada di depan pasukan Muslim.
  • Pasukan Romawi dari Damaskus mengejar rombongan pasukan Muslim.
  • Serangan pasukan Romawi dari Damaskus ke rombongan belakang pasukan Muslim dan atas peristiwa ini Hadhrat Abu Ubaidah (ra) membenarkan firasat Hadhrat Khalid bin Walid (ra) yang awalnya ingin di belakang pasukan.
  • Pasukan Muslim yang berada di barisan depan segera berkontingen ke tempat pasukan Muslim di bagian belakang yang tengah diserang Romawi.
  • Pasukan Romawi menangkap dan menawan banyak wanita Muslim. Pasukan Muslim menangkap dan menawan Bulis, pimpinan pasukan Romawi bagian kavaleri (penunggang kuda).
  • Buthrus bersama ribuan pasukannya menawan banyak wanita Muslim dan tengah menunggu Bulis.
  • Khaulah yang termasuk tertawan memotivasi para wanita Muslim yang tengah tertawan untuk melakukan perlawanan meski bersenjatakan kayu-kayu tiang perkemahan.
  • Khalid bersama pasukannya tiba ketika pasukan Romawi tengah mengepung para wanita Muslim. Pimpinan infanteri Romawi bernama Buthrus berhasil ditewaskan dan kaum wanita Muslim berhasil dibebaskan.
  • Bulis menolak masuk Islam meski akan dijanjikan keamanan dan malahan meminta dibunuh setelah mengetahui kabar Buthrus telah terbunuh.
  • Pertempuran di Ajnadain melawan Romawi Bizantium dan kemenangan pasukan Muslim. 
  • Kembalinya pasukan Muslim ke Damaskus dari Ajnadain setelah mengalahkan Romawi lalu mengepung kota Damaskus untuk kedua kalinya.
  • Pasukan Romawi di benteng kota Damaskus di bawah pimpinan Tomah melakukan perlawanan gigih selama berhari-hari.
  • Kesyahidan Aban bin Sa’id dalam pengepungan tersebut.
  • Pasukan Muslim tetap gigih mengepung meski musim dingin datang. Pasukan bantuan Romawi pun berhasil ditahan memasuki Damaskus.
  • Peranan wanita Muslim bernama Ummu Aban, istri Aban bin Sa’id yang berhasil menembakkan anak panah kepada pembawa salib Romawi yang juga penyebar semangat pasukan Romawi. Salib berhasil dirampas pihak Muslim. Ummu Aban juga berhasil menembakkan anak panahnya kepada Tomah, pimpinan Romawi.
  • Hadhrat Khalid (ra) secara jeli menangkap kabar apa saja yang terjadi di dalam benteng Romawi.
  • Kelalaian pasukan Romawi yang berpesta hingga lengah dimanfaatkan oleh Hadhrat Khalid (ra) bersama pasukannya untuk memasuki benteng dan membuka pintu gerbang benteng.
  • Penaklukan benteng kota Damaskus berhasil di saat Khalifah Abu Bakr (ra) telah wafat dan Hadhrat ‘Umar (ra) telah menjadi Khalifah.
  • Hudhur (atba) akan terus menyebutkan lebih lanjut berbagai kejadian dalam masa Hadhrat Abu Bakr radhiyAllahu ta’ala ‘anhu di khotbah-khotbah mendatang, khususnya segi-segi selain peperangan karena pembahasan peperangan di masa Hadhrat Abu Bakr (ra) telah berakhir.
  • Informasi kewafatan beberapa Ahmadi dan shalat jenazah setelah Jumatan: [1] yang terhormat Umar Abu Arkub Sahib, Ketua Jemaat Palestina Selatan; [2] yang terhormat Nasir Ahmad Sahib dari Mithi, Tharparkar, Pakistan; [3] Malik Sultan Ahmad Sahib, mantan Mu’alim Waqfi Jadid asal Jhang, Pakistan; [4] Mahbub Ahmad Rajiki Sahib dari Sa’adullah Pur, Mandi Bahauddin, Pakistan.

Khotbah Jumat Sayyidina Amirul Mu-minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 02 September 2022 (Zhuhur 1401 Hijriyah Syamsiyah/ Shafar 1444 Hijriyah Qamariyah) di Masjid Mubarak, Islamabad, Tilford, UK (United Kingdom of Britain/Britania Raya).

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم

[بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم* الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يوْم الدِّين * إيَّاكَ نعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ]

(آمين)

Masih berlanjut berkenaan dengan peperangan pada masa Hadhrat Abu Bakr (ra). Dalam hal ini, saya akan sampaikan beberapa rincian tentang penaklukan Damaskus pada tahun 13 Hijriah. Ini adalah pertempuran terakhir yang terjadi pada masa Hadhrat Abu Bakr ash-Shiddiq (ra). Mengenai lokasi terjadinya disebutkan bahwa Damaskus kuno ini adalah ibu kota Syam dan kota dengan tradisi sejarah. Pada awalnya itu adalah markas besar para penyembah berhala, tetapi ketika agama Kristen datang, tempat pemujaannya diubah menjadi gereja. Itu adalah pusat perdagangan yang penting. Orang Arab juga tinggal di sini dan kafilah dagang Muslim pun biasa datang ke sini dan itulah sebabnya mereka mendapat informasi tentang tempat ini. Damaskus adalah kota bertembok seperti benteng. Disebabkan oleh keamanan dan daya tahannya, tempat ini memiliki keistimewaan tersendiri. Dindingnya terbuat dari batu-batu besar. Dindingnya setinggi enam meter dan memiliki gerbang yang sangat kuat. Lebar temboknya tiga meter. Gerbang-gerbangnya terkunci rapat. Tembok itu dikelilingi oleh parit sedalam tiga meter. Parit ini selalu dipenuhi air sungai. Dengan demikian, Damaskus memiliki posisi yang kuat dan aman yang tidak mudah untuk ditembus.[1]

Ketika Hadhrat Abu Bakr (ra) mengirim berbagai pasukan ke Syam, beliau (ra) mengangkat Hadhrat Abu Ubaidah (ra) sebagai komandan pasukan dan memerintahkannya untuk menuju Hims. Hims adalah kota kuno yang terkenal dan besar di Syam dekat Damaskus.[2]

Atas petunjuk Hadhrat Abu Bakr (ra), Hadhrat Khalid bin Walid (ra) mencapai Damaskus dan mengepungnya dengan tentara Islam yang kedua. Penduduk Damaskus memanjati tembok benteng dan melemparkan batu dan anak-anak panah ke arah kaum Muslim. Pasukan Muslim menggunakan perisai kulit untuk melindungi diri. Pasukan Muslim juga menembaki mereka dengan anak-anak panah ketika mendapat kesempatan. Dengan cara ini dua puluh hari berlalu tetapi tidak ada hasil yang diperoleh. Penduduk Damaskus berada dalam kesulitan karena terkepung di benteng.

Perbekalan di benteng juga hampir habis, selain itu, ladang penduduk Damaskus berada di luar benteng sehingga kegiatan bertani mereka terganggu. Gandum tidak bisa masuk ke dalam benteng. Juga terjadi kelangkaan barang konsumsi. Karena lamanya pengepungan, mereka berada dalam kesulitan dan masalah besar.

Pada saat yang sama, dua puluh hari telah berlalu sejak pengepungan Damaskus, kaum Muslim menerima kabar Raja Heraklius telah mengumpulkan pasukan Romawi yang banyak di Ajnadin (أَجْنادَين). Setelah mendengar berita ini, Hadhrat Khalid (ra) berangkat dari Bab Sharqi – pintu gerbang timur – (الباب الشرقي) dan datang ke Hadhrat Abu Ubaidah (ra) di Bab Jabiyah (باب الجابية) dan memberitahukan situasinya dan menyatakan pendapatnya, “Kita harus menghentikan pengepungan Damaskus dan menghadapi tentara Romawi di Ajnadin. Jika Allah memberikan kemenangan kepada kita maka kita akan kembali ke sini dan menyelesaikan masalah Damaskus.”

Hadhrat Abu Ubaidah (ra) mengatakan, “Pendapat saya adalah sebaliknya, karena orang-orang Damaskus sudah muak dikepung di benteng selama dua puluh hari dan ketakutan kepada kita telah menguasai hati mereka. Jika kita pergi dari sini, mereka akan lega dan akan menyetok [menyediakan] makanan dan minuman dalam jumlah besar di dalam benteng, dan ketika kita kembali ke sini dari Ajnadin, orang-orang ini akan mampu melawan kita untuk waktu yang lama.”

Hadhrat Khalid (ra) menyetujui pendapat Hadhrat Abu Ubaidah (ra) dan melanjutkan pengepungan serta memerintahkan semua komandan Muslim yang ditunjuk di berbagai gerbang benteng Damaskus untuk mengintensifkan serangan dari pihak masing-masing.

Mengikuti perintah Hadhrat Khalid (ra), tentara Islam melancarkan serangan sengit dari semua sisi. Dengan demikian dua puluh satu (21) hari berlalu dalam pengepungan Damaskus. Hadhrat Khalid (ra), mendorong kaum Muslim untuk meningkatkan intensitas serangan dan terus menyerang dengan ganas dari Bab Sharqi. Orang-orang Damaskus sekarang benar-benar sudah tidak tahan lagi dan menunggu bantuan Raja Heraklius. Hadhrat Khalid (ra) terus menyerang berturut-turut.

Ketika disibukkan dengan kemelut perang mereka melihat bahwa orang-orang Romawi yang berada di dinding benteng tiba-tiba mulai bertepuk tangan, melompat, menari dan mengekspresikan kegembiraan mereka. Orang-orang Muslim memandangnya dengan heran. Hadhrat Khalid bin Walid (ra) melihat ke satu sisi dan melihat debu mengepul ke atas sehingga langit tampak gelap, bahkan pada siang hari terlihat gelap. Hadhrat Khalid (ra) segera mengerti bahwa pasukan Raja Heraklius tengah datang untuk membantu rakyat Damaskus. Dalam waktu singkat, beberapa informan juga membenarkan berita bahwa mereka telah melihat pasukan berbaris menuju lembah gunung dan itu pasti pasukan Romawi.

Hadhrat Khalid (ra) segera datang dan memberitahu Hadhrat Abu Ubaidah (ra) tentang situasi saat itu dan berkata, “Saya telah memutuskan untuk pergi dengan semua tentara untuk berperang melawan tentara yang dikirim oleh Raja Heraklius, untuk itu saya berkonsultasi dengan Anda dalam masalah ini.”

 Hadhrat Abu Ubaidah (ra) berkata bahwa itu kurang sesuai karena jika kita meninggalkan tempat ini, orang-orang yang berada di benteng akan keluar dan melawan kita. Tentara, Heraklius akan menyerang dari satu sisi sementara rakyat Damaskus akan menyerang dari sisi lain. Kita akan terjebak di antara dua laskar Romawi.

Hadhrat Khalid (ra) berkata lalu apa pendapat Anda.

Hadhrat Abu Ubaidah (ra) berkata, “Pilihlah orang yang pemberani dan kesatria dan kirim laskar bersamanya untuk melawan musuh.”

Hadhrat Khalid bin Walid (ra) mengirim Hadhrat Dhirar (ra) bin Azwar (ضِرَارُ بْنُ الْأَزْوَرِ) (ra) dengan pasukan berjumlah lima ratus penunggang kuda untuk berperang melawan tentara Romawi. Dalam riwayat lain, jumlah tentara Hadhrat Dhirar (ra) (ra) juga disebutkan lima ribu.[3] Hadhrat Dhirar (ra) membawa lima ratus tentara atau berapa pun jumlahnya lalu bergerak menuju tentara Romawi.

Beberapa tentara melihat tentara Romawi dan berkata kepada beliau, “Tentara musuh sangat besar jumlahnya sedangkan tentara kita hanya lima ratus. Lebih baik kita kembali dan melawan mereka dengan tentara kita.”

Hadhrat Dhirar (ra) berkata: “Jangan takut dengan banyaknya musuh. Tuhan sering memberikan kemenangan kepada jumlah yang sedikit diatas jumlah yang banyak.[4] Saat ini pun Dia akan tetap membantu kita. Wahai kawan! Jika kembali sama dengan melarikan diri dari jihad dan itu tidak disukai Allah. Apakah kalian akan menodai keberanian dan jiwa rela berkorbannya orang Arab? Siapapun yang ingin kembali, silahkan, namun saya akan berjuang dan mengharumkan nama Islam. Semoga Tuhan tidak melihat saya melarikan diri.”

Semua kaum Muslimin sepakat mengatakan bahwa kami akan bersedia berkorban untuk Islam dan akan meraih status syahid, yaitu, kami siap berperang. Hadhrat Dhirar (ra) bahagia. Beliau memerintahkan untuk menyerang musuh sekaligus dan menghancurkannya. Pasukan Muslim dan Hadhrat Dhirar (ra) terus menerus menggempur tentara Romawi dan bertempur dengan gagah berani.

Putra jenderal Romawi menyerang Hadhrat Dhirar (ra) dan menusuk lengan kirinya dengan tombak yang menyebabkan darahnya mengalir deras. Setelah beberapa saat beliau membunuh sang putra jenderal dengan tombak menembus jantungnya. Tombak beliau menancap di dadanya dan menghancurkan jantungnya.

Ketika tentara Romawi melihat beliau tangan kosong, mereka bergegas ke arah Hadhrat Dhirar (ra) dan menangkap beliau karena beliau tidak memiliki senjata di tangan.[5]

Ketika para sahabat yang mulia melihat Hadhrat Dhirar (ra) tertangkap, mereka menjadi sangat sedih dan khawatir. Mereka melakukan beberapa serangan defensif tetapi tidak dapat melepaskan beliau.

Ketika berita tertangkapnya Hadhrat Dhirar (ra) sampai ke Hadhrat Khalid, beliau sangat khawatir dan setelah mengambil informasi dari para rekannya tentang keadaan tentara Romawi, beliau berkonsultasi dengan Hadhrat Abu Ubaidah (ra) dan menanyakan pendapatnya tentang serangan terhadap kaum Romawi itu.

Hadhrat Abu Ubaidah (ra) berkata, “Anda dapat menyerang mereka setelah terlebih dahulu membuat pengaturan yang baik untuk pengepungan Damaskus.” Pada saat itu yang bertugas sebagai komandan tertinggi adalah Hadhrat Abu Ubaidah (ra).

Hadhrat Khalid, setelah mengatur pengepungan dimaksud lalu pergi mengejar musuh bersama rekan-rekannya dan memerintahkan mereka untuk menyerang musuh secara tiba-tiba begitu menemukan mereka. Beliau berkata, “Jika Dhirar (ra) tidak dibunuh oleh orang-orang Romawi ini, mungkin kita akan membebaskan Dhirar (ra), namun jika Dhirar (ra) mati syahid, kita akan membalas dendam sepenuhnya kepada mereka, tapi kita berharap Allah tidak akan mengejutkan kita tentang nasib Dhirar (ra).”

Terkait:   Pendakwahan dan Ajaran Hadhrat Ahmad (as), Almasih dan Mahdi yang Dijanjikan

Sementara itu, Hadhrat Khalid (ra) melihat seorang ksatria di atas kuda merah yang gagah dengan tombak panjang yang bersinar di tangannya. Karakter ksatria tersebut ditandai dengan keberanian, kebijaksanaan, dan keterampilannya ketika bertarung. Pakaian dikenakan di atas baju besi. Seluruh tubuh dan wajahnya disembunyikan dan posisinya berada di depan pasukan.

Hadhrat Khalid (ra) berharap, “Seandainya aku tahu siapa gerangan ksatria ini. Demi Allah, sepertinya orang ini sangat pemberani dan ksatria. Semua orang mengikutinya di belakang.”

Ketika tentara Islam mendekati pasukan kafir, orang-orang melihat ksatria penunggang kuda itu menyerang orang-orang Romawi seperti elang menyambar burung pipit. Itu adalah serangan yang memporak-porandakan tentara musuh dan menumpukkan banyak korban lalu terus mencapai hingga tiba di tengah tentara musuh. Karena dia telah mempertaruhkan nyawanya, untuk itu dia berbalik dan bergegas masuk, menembus pasukan orang-orang kafir. Siapapun yang muncul di hadapannya ia binasakan. Beberapa orang mengira bahwa orang ini adalah Hadhrat Khalid (ra).

Rafi bertanya pada Khalid (ra) dengan heran siapa orang ini.

Hadhrat Khalid (ra) berkata, “Saya tidak tahu saya juga heran, siapa gerangan.” Hadhrat Khalid (ra) sedang berdiri di depan tentara ketika pengendara kuda yang sama keluar dari antara tentara Romawi. Tidak ada tentara Romawi yang datang melawan dia dan dia berperang sendirian melawan banyak orang di antara orang Romawi.

Sementara itu, Hadhrat Khalid (ra) melakukan serangan dan membawanya keluar dari lingkaran pasukan kafir dan orang ini bergabung dengan tentara Islam. Hadhrat Khalid (ra) berkata kepadanya, “Anda telah melampiaskan kemarahan Anda pada musuh-musuh Allah, beri tahu saya siapa Anda.”

Pengendara itu tidak mengatakan apa-apa dan kemudian bersiap untuk bertempur lagi.

Hadhrat Khalid (ra) berkata, “Wahai hamba Allah, Anda telah membuat saya dan semua Muslim cemas. Anda begitu tidak peduli. Siapa anda?”

Atas desakan Hadhrat Khalid (ra), ksatria itu menjawab, “Saya tidak menjawab bukan karena ketidaktaatan, melainkan saya merasa malu karena saya bukan laki-laki. Saya seorang perempuan.” – Para wanita pun biasa menampilkan contoh keberanian seperti itu – Rasa perih hati telah membawa saya ke medan perang ini.”

Khalid (ra) bertanya, “Wanita mana engkau?”

Dia berkata, “Saya Khaulah binti Azwar, saudara perempuan Dhirar (ra). Ketika saya mengetahui tentang tertangkapnya saudara saya, saya melakukan seperti yang Anda lihat.”

Hadhrat Khalid (ra) mendengar ini dan berkata, “Kita semua harus menyerang bersama. Semoga Allah membebaskan Dhirar (ra).”

Hadhrat Khaulah berkata, “Saya juga akan berjuang keras.”

Kemudian Khalid (ra) melancarkan serangan penuh. Pasukan Romawi terpukul mundur dan tercerai-berai. Hadhrat Rafi menunjukkan esensi keberanian.

Pasukan Muslim sekali lagi siap untuk serangan penuh, namun tiba-tiba beberapa penunggang kuda dari tentara kafir datang bergegas ke arah mereka mengajukan perdamaian. Hadhrat Khalid (ra) berkata, “Beri mereka perlindungan dan bawa mereka kepadaku.” Kemudian Khalid (ra) bertanya kepada mereka, “Siapa kalian?”

Mereka berkata, “Kami adalah orang-orang dari tentara Romawi dan penduduk Hims menginginkan perdamaian.”

Hadhrat Khalid (ra) mengatakan, “Perdamaian akan dilakukan setelah kami mencapai Hims. Kami tidak bisa berdamai di sini sebelum waktunya, tetapi Anda aman. Ketika Allah memutuskan dan kami menang, hal itu akan dibahas di sana. Tolong beri tahu saya apakah Anda tahu sesuatu tentang salah satu pria pemberani kami yang membunuh putra komandan kalian.”

Mereka mengatakan, “Mungkin anda bertanya tentang orang yang tidak mengenakan pakaian dan telah membunuh banyak orang kami dan membunuh putra kepala suku kami.”

Khalid (ra) menjawab, “Iya, benar.”

Mereka mengatakan, “Ketika dia tertangkap dan dihadirkan kepada Wardan, Wardan mengirimnya ke Hims dengan kawalan seratus penunggang kuda untuk dikirim ke raja.”

Khalid (ra) sangat senang mendengar ini dan memanggil Hadhrat Rafi dan berkata, “Anda mengetahui rute jalan dengan sangat baik. Selamatkan Hadhrat Dhirar (ra) sebelum mencapai Hims bersama orang-orang pilihan Anda dan raihlah pahala Anda dari Tuhan Anda.”

Hadhrat Rafi memilih seratus pemuda dan ketika akan beranjak pergi, Hadhrat Khaulah memohon izin kepada Hadhrat Khalid (ra) untuk ikut pergi. Pasukan dipimpin oleh Hadhrat Rafi berangkat ke Hims untuk membebaskan Hadhrat Dhirar (ra). Hadhrat Rafi bergerak dengan cepat dan saat mencapai suatu tempat, dia berkata kepada para sahabatnya, “Berbahagialah, musuh belum maju dan menyembunyikan salah satu pasukannya di sana.”

Orang-orang ini dalam keadaan sedemikian rupa sehingga debu tampak beterbangan. Hadhrat Rafi memerintahkan umat Islam untuk waspada. Kaum Muslim sudah siap ketika orang-orang Romawi tiba.

Hadhrat Dhirar (ra) berada di dalam kurungan mereka dan sedang membacakan puisi (sajak) dengan nada yang menyakitkan, ia mengatakan,

إلا بلغا قومي وخولة أنني ** أسيرٌ رهينٌ موثَقُ اليد بالقيدِ

وحولي عُلوجُ الروم من كل كافر ** وأصبحتُ معهم لا أعيد ولا أبدي

فلو أنني فوق المحجل راكبا ** وقائم حد الغضب قد ملكت يدي

لأذللت جمع الروم اذلال نقمة ** وأسقيتهم وسط الوغى أعظم الكد

فيا قلبِ مُتْ همًّا وحزنًا وحسرةً ** ويا دمعَ عيني كُنْ معينًا على خدّي

فلو أن أقوامي وخولة عندنا ** وألزم ما كنا عليه من العهد

“Wahai informan, sampaikan berita kepada orang-orangku dan Khaulah, aku seorang tertawan dan terikat. Orang-orang kafir dan fasik dari Syria berkumpul di sekelilingku berpakaian lengkap dengan baju besi. Wahai hati! Matilah kau oleh kesedihan dan wahai air mata masa muda! mengalirlah di wajahku.” Itu adalah arti syair yang beliau lantunkan

Hadhrat Khaulah berteriak keras mengatakan, قد أجاب الله دعاك وقبل تضرعك ونجواك أنا خولة “Doamu telah terkabul. Pertolongan Tuhan datang. Aku Khaulah saudarimu.” Setelah mengatakan ini, dia dengan keras mengucapkan Takbir lalu menyerang bersama pasukan lainnya.

Kaum Muslim berhasil menguasai pasukan musuh. Semuanya dibunuh.

Hadhrat Dhirar (ra) dibebaskan oleh Allah dan pasukan Muslim meraih harta ghanimah.[6] Hadhrat Khaulah melepaskan ikatan tali saudaranya dengan tangannya dan mengucapkan salam. Hadhrat Dhirar (ra) menyampaikan ucapan pujian dan selamat datang kepada saudarinya. Hadhrat Dhirar (ra) mengambil tombak panjang untuk dipegang di tangannya dan menaiki kuda. Beliau bersyukur kepada Allah Ta’ala. Kaum Muslimin di tempat ini merasa berbahagia sedangkan di sana, di Damaskus, Hadhrat Khalid (ra) mengalahkan Wardan dengan melakukan serangan dahsyat. Mereka melarikan diri dan kaum Muslim mengejar mereka. Di sana Hadhrat Dhirar (ra) bertemu dengan Muslim lainnya. Berita kemenangan itu disampaikan kepada Hadhrat Abu Ubaidah (ra). Sekarang kaum Muslim yakin bahwa Damaskus akan ditaklukkan.[7]

Di sisi lain, tentara Islam tinggal di Damaskus dan pengepungan benteng masih berlangsung, Hadhrat Abbad bin Sa’id (عبّادُ بن سعيد) datang dari Bushra (بُصرى) ke Hadhrat Khalid (ra) dan melaporkan bahwa 90.000 (sembilan puluh ribu) laskar Romawi telah berkumpul di Ajnadin. Hadhrat Khalid (ra) berkonsultasi dengan Hadhrat Abu Ubaidah (ra) dan beliau – Hadhrat Abu Ubaidah (ra) – mengatakan, “Tentara kita tersebar di berbagai tempat di Syam, tulislah surat kepada mereka semua agar mereka datang dan menemui kita di Ajnadin dan kita sekarang akan meninggalkan pengepungan Benteng Damaskus dan pergi ke Ajnadin.”[8]

Heraklius telah menerima kabar kekalahan Wardan (وردان). Ia pun telah mengetahui perihal terbunuhnya putra Wardan secara rinci. Atas hal ini, Heraklius pun sangat marah kepadanya dan ia menulis, “Aku mendapat kabar bahwa bangsa Arab yang telanjang dan kelaparan telah mengalahkanmu dan telah membunuh putramu. Tidaklah Almasih mengasihimu dan mengasihinya. Jika bukan karena tersohornya keberanian dan kepakaranmu dalam menggunakan pedang, aku pasti akan membunuhmu. Kini apa yang telah terjadi maka terjadilah. Aku telah memberangkatkan 90.000 prajurit menuju Ajnadain dan aku menunjukmu sebagai pemimpinnya.”[9]

Setelah Hadhrat Khalid (ra) mengakhiri pengepungan di Damaskus, beliau memerintahkan pasukan beliau untuk bergerak menuju Ajnadain. Setelah menerima perintah, kaum Muslimin segera mencabut kemah-kemah mereka dan mulai meletakkan harta dan barang bawaan mereka ke atas unta-unta. Beliau menempatkan unta-unta yang membawa harta ghanimah dan harta benda lainnya di bagian belakang bersama para wanita dan anak-anak, sementara para prajurit lain yang berkuda beliau letakkan di bagian depan pasukan. 

Hadhrat Khalid bin Walid berkata kepada Hadhrat Abu Ubaidah (ra), “Saya berpikir agar saya berada di barisan belakang pasukan bersama para wanita dan anak-anak sedangkan Anda berada di pasukan bagian depan.”

Hadhrat Abu Ubaidah (ra) bersabda, “Mungkin Wardan telah memberangkatkan pasukannya dari Ajnadain menuju Damaskus sehingga kita pun akan berhadapan dengannya. Jika Anda tetap berada di depan pasukan maka Anda akan dapat menahannya dan mengalahkannya. Maka dari itu, tetaplah berada di depan sementara saya ada di belakang.”

Hadhrat Khalid (ra) berkata, “Usulan Anda adalah yang tepat untuk diamalkan. Saya tidak akan menolak pendapat dan usulan Anda.” 

Tatkala pasukan Islam meninggalkan pengepungan Damaskus lalu bergerak dari sana, orang-orang Damaskus menampakkan kegembiraan mereka dengan berjingkrak-jingkrak dan bertepuk tangan. Mengenai perginya pasukan Islam dari sana, para penduduk Damaskus menyampaikan beberapa pendapatnya. Ada yang berkata, “Mendengar kabar berkumpulnya pasukan kita yang besar di Ajnadain, segenap kaum Muslim di negeri Syam pun kembali bersatu bersama pasukannya.” Ada yang berkata, “Setelah mengalami kesulitan dalam pengepungan, mereka pergi ke suatu tempat lain untuk menyiapkan penyerangan.” Ada juga sebagian yang berkata, “Mereka tengah melarikan diri dan pulang menuju negeri Hijaz.”[10]

Orang-orang Damaskus berkumpul pada seseorang yang bernama Baulis (Paul) (بولص). Ia sebelumnya tidak tampak di suatu peperangan pun di hadapan sahabat. Ia adalah seorang yang sangat dipercaya oleh Heraklius dan juga pemanah ulung. Penduduk Damaskus menjadikannya sebagai Amir dan telah memberinya segenap iming-iming agar ia ikut berperang. Mereka pun telah bersumpah bahwa mereka tidak akan melarikan diri dari medan pertempuran dan ia akan diberi wewenang untuk membunuh sendiri siapa saja yang melarikan diri dari medan pertempuran.

Tatkala perjanjian ini telah terjadi dan Baulis (Paul) masuk ke rumahnya lalu memakai baju zirahnya, istrinya bertanya kepadanya kemana ia akan pergi.

Baulis (Paul) menjawab, “Orang-orang Damaskus telah menjadikan saya sebagai Amirnya, dan saya kini akan bertempur melawan bangsa Arab.”

Istrinya berkata kepadanya, “Jangan lakukan ini. Tinggallah kamu di rumah. Kamu tidak memiliki kekuatan untuk menghadapi bangsa Arab. Bagaimanapun juga jangan menghadapi mereka. Hari ini pun saya melihat dalam mimpi kamu tengah berburu burung gereja dan ada anak panah di tanganmu. Ada beberapa terluka dan jatuh, namun ia lalu bangkit dan terbang kembali. Saya saat itu terheran. Secara tiba-tiba saya melihat ada burung elang di atas. Tidak satu, tetapi ada banyak elang turun dan menyerang kamu serta segenap temanmu dan menghabisi semuanya.”

Baulis (Paul) berkata, “Kamu pun melihat saya di dalam mimpi itu?”

Ia menjawab, “Iya. Elang itu menyerangmu dengan kuat dan kamu pun pingsan.”

Baulis (Paul) yang mendengarnya lantas menampar istrinya dan berkata, “Di dalam hatimu telah muncul ketakutan terhadap bangsa Arab dan inilah ketakutan yang ada di dalam mimpimu itu. Jangan khawatir. Saat ini juga saya akan menjadikan Amir mereka menjadi pelayanmu dan para sahabatnya menjadi penggembala seluruh kambing dan babimu.” 

Baulis (Paul) yang berada dekat di belakang pasukan Muslim dengan sangat cepat keluar bersama 6.000 tentara berkuda dan 10.000 prajurit infantri untuk mengejar pasukan Muslim dan melawannya. Mereka hendak mengejar 1.000 prajurit Hadhrat Abu Ubaidah (ra) bersama para wanita, anak-anak, dan harta bendanya. Pasukan Muslim pun telah siap untuk menghadapi mereka dan dalam waktu singkat pasukan kafir pun tiba. Baulis (Paul) berada di paling depan. Ia bersama 6.000 tentaranya secara tiba-tiba menyerang Abu Ubaidah (ra). Saudara Baulis (Paul) yakni Buthrus (بطرسُ) atau Petrus bersama pasukan infantrinya bergerak ke arah para wanita. Ia menangkap beberapa wanita Muslim dan mengirim mereka ke Damaskus. Setiba di suatu tempat, ia berhenti untuk menunggu perintah kakaknya. 

Hadhrat Abu Ubaidah (ra) melihat musibah yang datang secara tiba-tiba ini bersabda, “Benar apa pendapat Khalid (ra) bahwa mereka akan [menyerang] dari belakang pasukan.” Dalam hal ini, para wanita dan anak-anak terus-menerus ber teriak, sementara 1.000 prajurit Muslim di sana bertempur dengan penuh keberanian. Baulis (Paul) berkali-kali menyerang Hadhrat Abu Ubaidah (ra). Beliau pun menghadapinya dengan gagah berani.

Hadhrat Sahal menunggangi kuda yang cepat lalu menemui Hadhrat Khalid (ra) dan menceritakan semuanya. Hadhrat Khalid (ra) mengucapkan Inna lillah. Beliau lalu memberangkatkan Hadhrat Rafi’ dan Hadhrat Abdurrahman bin Auf bersama masing-masing 1.000 prajurit untuk melindungi para wanita dan anak-anak. 

Setelah itu beliau memberangkatkan Hadhrat Dhirar (ra) bersama 1.000 tentara. Beliau pun pergi bersama pasukan beliau untuk menghadapi musuh. Di sana, Hadhrat Abu Ubaidah (ra) tengah sibuk menghadapi Baulis (Paul). Di saat itu juga berbagai pasukan Muslim dari berbagai tempat tiba. Mereka menyerang dengan sedemikian rupa dimana mereka telah yakin akan kehinaan dan kekalahan yang akan menimpa segenap pasukan Romawi yang datang dari Damaskus. Hadhrat Dhirar (ra) maju menuju Baulis (Paul) laksana semburan api. Ia lantas gemetar tatkala ia melihat Hadhrat Dhirar (ra), dimana ia pun mengenalnya. Baulis (Paul) turun dari kudanya dan hendak melarikan diri. Hadhrat Dhirar (ra) pun mengejarnya dan menangkapnya hidup-hidup lalu menawannya. 

Di pertempuran ini, dari 6.000 tentara kafir hanya tersisa 100 orang saja yang dengan sulit mereka dapat tetap hidup. Hadhrat Dhirar (ra) sangat cemas karena Hadhrat Khaulah pun telah tertawan. 

Hadhrat Khalid (ra) berkata, “Jangan khawatir, kita telah menawan seseorang yang sebagai gantinya kita dengan mudah akan membebaskan orang-orang kita yang tertawan.” Hadhrat Khalid (ra) mengambil 2.000 tentara bersamanya lalu memberikan seluruh sisa tentara kepada Hadhrat Abu Ubaidah (ra) untuk melindungi para wanita sementara beliau mencari para wanita Muslim yang tertawan dalam upaya membebaskan mereka. Beliau bergerak dengan cepat dan tiba di tempat musuh menawan para wanita Muslim.

Terkait:   Kehidupan Hadhrat Rasulullah SAW (VI): Peristiwa di Dalam Perang Badar

Di sana Hadhrat Khalid (ra) melihat debu yang beterbangan. Beliau terheran mengapa sedang terjadi pertempuran di tempat ini. Akhirnya diketahui bahwa saudara Baulis (Paul) yakni Buthrus telah menangkap para wanita dan berhenti di tepi sungai seraya menunggu kakaknya dan kini mereka tengah membagi para wanita itu untuk mereka. Buthrus berkata terkait Hadhrat Khaulah bahwa Khaulah adalah miliknya. Mereka menawan para wanita di satu kemah lalu ia sendiri beristirahat sambil menungguh Baulis (Paul). Diantara para wanita itu, kebanyakan adalah para wanita pemberani dan prajurit berkuda berpengalaman yang mana mereka mengetahui setiap jenis peperangan. Mereka semua berkumpul dan Hadhrat Khaulah menyampaikan kepada mereka semua, يا بنات حمير بقية تبع أترضين بأنفسكن علوج الروم ويكون أولادكن عبيدا لاهل الشرك فأين شجاعتكن وبراعتكن التي نتحدث بها عنكن فيأحياء العرب ومحاضر الحضر ولا أراكن إلا بمعزل عن ذلك وإني أرى القتل عليكن أهون من هذه المصائب وما نزل بكم من خدمة الروم الكلاب “Wahai segenap putri Kabilah Humair! Wahai para pewaris Kabilah Tubah! Apakah Anda sekalian rida jika kaum kafir Romawi menjadikan Anda sebagai hamba sahaya? Kemana perginya keberanian Anda dan apa yang terjadi dengan semangat Anda yang sebelumnya terus digaungkan di majlis-majlis pertemuan orang-orang Arab? Sangat disayangkan kini saya mendapati Anda sekalian jauh dari semangat harga diri serta kosong dari keberanian dan kegigihan. Untuk musibah yang akan datang ini kematian adalah lebih utama bagi Anda.”

Mendengar ini, seorang Sahabiah berkata, “Wahai Khaulah, Apa yang telah Anda sampaikan sungguh benar. Namun bukankah kini kita tengah tertawan, tidak ada pedang dan tombak di tangan kita. Apa yang dapat kita lakukan? Kita tidak memiliki kuda dan senjata karena mereka menawan kita dengan tiba-tiba.”[11]

Hadhrat Khaulah bersabda, “Sadarlah! Ada tiang-tiang kemah di sekeliling kita. Kita harus mencabutnya untuk menyerang orang-orang durjana itu. Kelak Allah akan menurunkan pertolongan-Nya. Apakah kita akan menang, dan jika tidak kita pasti akan mati syahid.”

Mendengar ini setiap wanita mencabut semua tiang kayu di kemah itu. Hadhrat Khaulah meletakkan satu kayu di pundaknya dan maju ke depan.

Hadhrat Khaulah bersabda kepada segenap wanita di bawahnya, “Bersatulah laksana rangkaian rantai besi dan jangan berpisah. Jika tidak, kita semua akan terbunuh.” Setelah itu Hadhrat Khaulah maju dan membunuh seorang kafir Romawi.

Orang-orang Romawi terheran melihat keberanian dan kegigihannya. Buthrus berkata, “Pengacau, apa yang sedang kalian lakukan?”

Seorang Sahabiah menjawab, “Sekarang kami telah berketetapan untuk meluruskan otak kalian dengan tiang-tiang kayu ini lalu membunuh kalian demi menjaga kehormatan generasi kami nanti.”

Buthrus berkata, “Tangkap mereka hidup-hidup! Terutama tangkap Khaulah hidup-hidup!”

Sejumlah 3.000 tentara Romawi mengepung mereka di setiap penjuru, namun tidak ada seorang pun yang mau mendekati para wanita Muslim. Jika mereka maju, maka para wanita ini menyerang kuda-kuda mereka lalu membunuh mereka. Dengan cara ini para wanita Muslim itu telah menghabisi 30 tentara berkuda.

Melihat ini, Buthrus lantas sangat murka. Ia turun dari kudanya dan menyerang bersama rekan-rekannya dengan pedang. Meski demikian, para wanita Muslim ini bersatu di satu tempat dan bersama-sama menghadapi semuanya sehingga tidak ada yang dapat mendekati mereka.

Buthrus berkata kepada Hadhrat Khaulah, “Wahai Khaulah, kasihanilah jiwamu. Aku menghargaimu. Di dalam hatiku masih banyak tempat untukmu. Apakah kamu tidak ingin jika aku yang bagai raja ini menjadi majikanmu dan seluruh hartaku menjadi hartamu?”

Hadhrat Khaulah bersabda, “Wahai kafir durjana! Demi Tuhan, jika saya mampu, saat ini pun saya akan menebas kepalamu dengan kayu ini. Demi Allah! Saya pun tidak suka jika kamu menjadi penggembala kambing dan unta saya, meski kamu menganggap saya setara.”

Atas hal ini Buthrus (Petrus atau Peter) berkata kepada pasukannya untuk membunuh mereka semua. Para tentara lalu bersiap untuk serangan baru. Serangan pertama pun dilancarkan dan saat itu juga pasukan Muslim dibawah Hadhrat Khalid (ra) tiba di sana. Beliau telah mengetahui segenap keadaan yang terjadi. Kaum Muslimin sangat senang dengan keberanian dan perlawanan para wanita. Mereka lalu mengepung laskar kafir dan menyerang mereka secara serentak. Hadhrat Khaulah dengan lantang berseru, “Pertolongan Tuhan telah datang. Allah telah mengasihani kita.”

Tatkala Buthrus melihat pasukan Muslim, ia takut dan hendak melarikan diri. Namun sebelum melarikan diri, ia melihat dua tentara berkuda Muslim menuju ke arahnya. Keduanya adalah Hadhrat Khalid (ra) dan Hadhrat Dhirar (ra). Hadhrat Dhirar (ra) menebasnya dengan lembing sehingga ia pun terjatuh dari kudanya lalu Hadhrat Dhirar (ra) memberi tebasan kedua dan ia pun tumbang. Pasukan Muslim telah banyak membunuh tentara Romawi. Mereka yang lari melarikan diri ke Damaskus.

Tatkala Hadhrat Khalid (ra) kembali, ia memanggil Baulis (Paul) dan menyodorkan Islam kepadanya dan bersabda, “Terimalah Islam. Jika tidak, Anda akan diperlakukan seperti apa yang telah terjadi pada saudara Anda.”

Baulis (Paul) berkata, “Apa yang telah terjadi dengan saudaraku?”

Hadhrat Khalid (ra) bersabda, “Ia telah terbunuh.”

Melihat akhir saudaranya, Baulis (Paul) berkata, “Kini tidak ada lagi kebahagiaan untuk hidup. Pertemukanlah aku dengan saudaraku.” Maka ia pun akhirnya dibunuh.[12]

Alhasil, kini pasukan Islam berkumpul di Ajnadain dan tentang ini telah sebelumnya disebutkan.

Lalu kini tentang pengepungan Damaskus yang kedua. (Sebelumnya pernah dikepung namun pasukan Muslim menghentikannya). Setelah perang Ajnadain ini, mengenai pengepungan yang kedua atas Damaskus tertera: Setelah kemenangan di Ajnadain, Hadhrat Khalid (ra) memerintahkan pasukan Islam agar kembali ke Damaskus. Orang-orang Damaskus sebelumnya telah mengetahui kekalahan laskar Romawi di Ajnadain. Namun ketika mereka mendapat kabar laskar Islam pun kini sedang datang menuju Damaskus, mereka sangat takut. Mereka yang tinggal di sekeliling Damaskus melarikan diri dan mencari perlindungan di benteng. Mereka mengumpulkan bahan pangan pokok dan barang kebutuhan lainnya dalam jumlah banyak di dalam benteng supaya jika pengepungan pasukan Islam berlangsung lama, persediaan mereka tidak akan habis. Selain itu, mereka pun mengumpulkan senjata dan perlengkapan perang. Senjata pelontar, perisai dan pemanah disiapkan di dinding benteng untuk menyerang siapa saja yang mengepung benteng.

Pasukan Islam berkemah di dekat Damaskus. Kemudian pasukan Islam bergerak maju dan mengepung benteng. Hadhrat Khalid (ra) telah menetapkan para panglima beserta pasukannya masing-masing di setiap gerbang Damaskus.[13]

Saat itu pemimpin Damaskus adalah Tomah. Para pembesar dan kalangan terkemuka Damaskus memberi saran kepada Tomah bahwa kini mereka tidak memiliki kekuatan untuk menghadapi pasukan Islam. Maka dari itu, pilihlah antara meminta bantuan kepada Heraklius atau berdamai dengan kaum Muslim. Berikanlah apa yang mereka minta dan selamatkanlah jiwa masing-masing.

Mendengarnya, Tomah dengan takabur dan tinggi hati berkata, “Aku menganggap bangsa Arab tidak berkedudukan apa-apa. Aku adalah seorang menantu Heraklius dan ahli perang. Selama aku masih ada, kaum Muslim tidak akan berani menginjakkan kakinya di kota [Damaskus].”

Atas saran dari para pembesar tadi, Tomah lalu menenangkan mereka dengan berkata,”tidak lama lagi tengah datang satu laskar besar dari Heraklius untuk menolong kita.” Tomah memerintahkan untuk menyerang pasukan Muslim secara dahsyat dari segala arah. Karena serangan ini, banyak orang Muslim yang terluka dan mati syahid.

Hadhrat Aban bin Sa’id (أبَانُ بن سعيدِ بْنِ العَاصِ بْنِ أميةَ بْنِ عَبْدِ شمسِ بنِ عبد مناف بن قُصَيِّ) pun terkena satu anak panah yang beracun. Setelah mengeluarkannya, ia mengikatkan sorban pada lukanya, namun dalam waktu singkat saja racun itu menguasai tubuhnya dan ia jatuh pingsan lalu tidak lama kemudian ia meraih kesyahidan. Hadhrat Aban menikah di saat pertempuran Ajnadain dengan Hadhrat Ummu Aban (أمُّ أبان). Di tangannya masih terdapat warna mehendi dan di wajahnya masih tersisa wewangian, yakni ia baru saja menikah.

Hadhrat Ummu Aban termasuk dari antara para wanita pemberani yang senantiasa terdepan dalam jihad. Tatkala ia menerima berita kesyahidan suaminya, ia pun datang seraya berlari dan tersandung dan berdiri tegar di samping tubuh suaminya dengan penuh kesabaran. Satu kata tidak bersyukur pun tidak keluar dari mulutnya dan ia mengucapkan beberapa puisi perpisahan kepada suaminya. Hadhrat Khalid bin Walid mengimami shalat jenazahnya.

Setelah menguburkan, Hadhrat Ummu Aban kembali menuju kemahnya dengan iradah yang teguh dan kuat. Ia menyandang senjata dan menutup kepalanya dengan kain dan tiba di gerbang Tomah dimana suaminya mati syahid. Saat itu tengah terjadi pertempuran sengit di gerbang Tomah. Hadhrat Ummu Aban masuk diantara para prajurit Muslim itu dan ikut bertempur dengan sengit. Dengan panahnya, ia dapat melukai banyak prajurit Romawi dan menumbangkan mereka. Pada akhirnya, di tengah pertempuran, ia berkesempatan untuk membidik penjaga Tomah yang di tangannya ia memegang salib yang besar. Salib itu terbuat dari emas dan bertahtakan berbagai batu mulia. Sosok yang mengangkat salib besar itu mendorong orang-orang Romawi agar terus bertempur, dan ia berdoa demi keberhasilan dan kemenangannya dengan perantaraan salib itu. Tatkala anak panah Hadhrat Ummu Aban melukai orang itu, salib pun terjatuh dari tangannya dan berada di tangan orang-orang Muslim.

Tatkala Tomah melihat salib itu telah dikuasai oleh orang-orang Muslim, ia pun turun bersama para temannya untuk mengambilnya kembali. Ia membuka gerbang dan mulai menghadapi orang-orang Muslim. Di saat itu, prajurit Romawi pun mulai menyerang dengan dahsyat dari atas benteng. Saat itu, Hadhrat Ummu Aban mendapat kesempatan untuk membidik anak panah ke mata Tomah, sehingga ia pun membutakan matanya untuk selamanya. Karena kejadian ini, Tomah bersama segenap temannya terpaksa mundur dan masuk ke benteng serta menutup pintu gerbang.

Melihat keadaan Tomah ini, penduduk Damaskus mengatakan, “Karena itulah kami mengatakan bahwa menghadapi orang-orang Arab ini berada di luar kemampuan kita. Oleh karena itu, hendaknya tempuhlah suatu corak perdamaian dengan orang-orang Arab.”

Atas hal itu, Tomah menjadi semakin murka dan mengatakan kepada kawan-kawannya, “Untuk membalas mataku yang telah buta ini aku akan membuat seribu mata menjadi buta.”[14]

Orang-orang Damaskus mengharapkan bantuan 20.000 pasukan datang dari Homs.[15] Tetapi, pasukan Islam telah melakukan upaya dengan mengerahkan satu unit pasukan di jalan menuju Damaskus sehingga menghentikan pasukan yang datang dari Homs di sana.

Kaum Muslimin mengepung Damaskus dengan sangat ketat. Dalam pengepungan ini, serangan panah dan ketapel terus mengganggu musuh. Ketika orang-orang Damaskus menjadi yakin bahwa bantuan tidak dapat menjangkau mereka maka kelemahan dan kepengecutan timbul di dalam diri mereka. Mereka menyerah untuk melakukan perjuangan lebih lanjut. Keinginan untuk menaklukkan mereka semakin meningkat di hati kaum Muslimin.[16]

Orang-orang Damaskus berpikir bahwa umat Islam tidak akan mampu menanggung kesulitan pengepungan yang panjang di kerasnya musim dingin, tetapi umat Islam dengan gagah berani menghadapi situasi tersebut. Rumah-rumah kosong di pinggiran Damaskus digunakan oleh umat Islam untuk beristirahat.

Berdasarkan pengaturan mingguan, secara bergantian pasukan yang berada di garis depan kembali dan beristirahat, dan ketika mereka berangkat lagi, pasukan lain kembali dan beristirahat, dan pasukan lainnya ditempatkan di belakang laskar yang ditugaskan di gerbang untuk mendukung dan memantau mereka. Dengan cara demikian, menjadi mudah untuk mengatasi pengepungan yang panjang.

Tetapi kaum Muslimin tidak berhenti sampai di situ, bahkan penyelidikan lapangan dan taktik perang mereka terus bekerja untuk menghancurkan rintangan terorganisir dari musuh dan dalam jangka panjang Hadhrat Khalid bin Walid (ra) berhasil memilih tempat yang cocok untuk memasuki Damaskus. Ini adalah dataran terbaik di Damaskus. Pada tempat ini air di parit cukup dalam dan masuk dari sana adalah pekerjaan yang cukup sulit. Hadhrat Khalid bin Walid (ra) menyusun rencana untuk memasuki Damaskus dengan menyambungkan beberapa tali sehingga dengan membuat simpul dapat difungsikan sebagai tangga untuk memanjat tembok benteng dan turun ke Damaskus.

Hadhrat Khalid bin Walid (ra) mendapatkan kabar dari beberapa sumber bahwa telah lahir seorang anak di keluarga Batrik (Uskup tertinggi) Damaskus yang merupakan komandan 10.000 pasukan Romawi, dan semua orang, termasuk para pengawalnya sibuk dalam pesta. Mereka semua banyak makan dan minum lalu tidur dalam keadaan mabuk dan mengabaikan tanggung jawab mereka. Pada kesempatan tersebut, Hadhrat Khalid bin Walid (ra) bersama beberapa temannya melintasi parit dengan bertumpu pada kantung-kantung air dan mencapai dinding benteng. Lalu mereka membuat simpul-simpul tali dan mengaitkannya dengan kuat pada dinding tembok sebagai tangga dan menggantungkan banyak tali di dinding. Kemudian sejumlah besar orang-orang Islam memanjat tembok dengan bantuan tali lalu turun ke dalam dan mencapai gerbang. Mereka memotong engsel pintu dengan pedang. Dengan cara demikianlah pasukan Islam memasuki kota Damaskus.[17]

Ketika pasukan Hadhrat Khalid (ra) menduduki gerbang timur, orang-orang Romawi dalam kepanikan memohon perdamaian kepada Hadhrat Abu Ubaidah (ra) di gerbang barat. Padahal sebelumnya mereka telah menolak permintaan untuk berdamai dari umat Islam dan bersikeras untuk berperang. Hadhrat Abu Ubaidah (ra) dengan senang hati menyetujui perdamaian. Atas hal itu, orang-orang Romawi membuka gerbang benteng dan menyuruh umat Islam untuk segera masuk dan menyelamatkan mereka dari para penyerang di gerbang timur, yaitu Hadhrat Khalid (ra). Hasilnya, kaum Muslimin memasuki kota dengan damai melalui semua gerbang, sedangkan Hadhrat Khalid (ra) memasuki kota dengan berperang melalui gerbang timur. Hadhrat Khalid (ra) dan keempat pemimpin Islam lainnya bertemu di tengah kota. Meskipun Hadhrat Khalid bin Walid (ra) telah menaklukkan sebagian Damaskus dengan berperang, tetapi karena Hadhrat Abu Ubaidah (ra) telah menyetujui perdamaian, persyaratan-persyaratan perdamaian juga telah diakui di wilayah yang telah ditaklukkan.[18]

Dalam hal ini jelas bahwa beberapa sejarawan menyatakan penaklukkan Damaskus terjadi di masa kekhalifahan Hadhrat Umar (ra), tetapi penaklukkan Damaskus ini telah dimulai pada masa kekhalifahan Hadhrat Abu Bakr Shiddiq (ra). Namun, ketika berita penaklukkannya dikirim ke Madinah, Hadhrat Abu Bakr (ra) telah wafat.

Terkait:   Riwayat Abu Bakr Ash-Shiddiiq Ra (Seri 12)

Jadi ini adalah pertempuran terakhir di masa Hadhrat Abu Bakr (ra). Pada kesempatan yang akan datang insya Allah akan disampaikan sisi-sisi lain dari kehidupan Hadhrat Abu Bakr (ra).

Sekarang saya ingin menyampaikan riwayat beberapa almarhum. Yang pertama, yang terhormat Umar Abu Arkub Sahib, yang merupakan Ketua Jemaat Palestina Selatan. Beliau wafat pada 15 Agustus pada usia 70 tahun. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Umar Abu Arkub Sahib mengenal Jemaat melalui MTA pada 2010. Berkenaan dengan hal ini beliau mengatakan, “Ketika saya pertama kali melihat MTA, saya menyadari sungguh mereka ini adalah orang-orang baik dan saleh. Saya di satu sisi melihat dunia Islam dalam keadaan banyak pembunuhan, perampokan, pencurian dan saling membenci, sementara di sisi lain, Jemaat Ahmadiyah memberikan ajaran silaturahmi dan menganjurkan salat tahajud dan tilawat Al-Qur’an, yang mana ini membuat saya cukup terkesan dan saya mengatakan bahwa inilah Jemaat yang benar yang wajib untuk kita ikuti.”

Kemudian beliau mengatakan, “Setelah beristikharah, saya menjadi yakin. Lalu saya melihat sebuah mimpi bahwa ini adalah Jemaat yang benar.” Dan beliau berjanji, “Saya akan senantiasa menjalin ikatan dengan Jemaat ini hingga akhir hayat saya.”

Almarhum senantiasa melangkah teguh dalam masa-masa yang sulit. Almarhum biasa mengatakan, “Selama saya masih hidup, saya akan tetap teguh pada janji saya.”

Setelah beliau baiat, istri beliau melihat mimpi bahwa ada beberapa Ahmadi yang membawa Umar Sahib ke suatu kamar di rumahnya. Mereka memandikan beliau dan membuka dada beliau lalu membersihkannya. Mereka mengatakan kepada saya, “Lihatlah! Kami telah membawa kembali beliau dalam keadaan yang lebih baik.”

Beliau sosok yang sangat mencintai Khilafat dan banyak berdoa. Almarhum memiliki jalinan yang tulus dengan Jemaat. Satu bagian dari rumah beliau yang terletak di lantai bawah diwaqafkan untuk Jemaat. Jemaat Ahmadiyah Palestina Selatan biasa berkumpul di rumah almarhum untuk salat Jumat, salat Id dan pertemuan-pertemuan.

Putra almarhum mengatakan bahwa almarhum berwasiat supaya bagian rumah tersebut tetap diwaqafkan untuk Jemaat. Pada hari-hari sakitnya, para penentang Jemaat mengatakan kepada beliau, “Bertobatlah dari Jemaat Ahmadiyah, maka penyakit akan hilang.”

Meskipun demikian, almarhum melakukan perdebatan tabligh dengan mereka dan berdebat dengan seseorang yang sangat vokal dalam penentangan dan beliau betul-betul membuatnya bungkam sehingga tidak bisa menemukan jawaban apa pun. Karena beratnya penyakit, almarhum harus dipindahkan ke ICU keesokan harinya.

Pada saat perdebatan, putra almarhum mengatakan kepada maulwi yang sangat vokal ketika berdebat dengan beliau tersebut, “Tinggalkanlah ayah saya. Beliau seorang yang berpengalaman. Anda tidak akan bisa meyakinkan beliau.”

Bagaimanapun, putra beliau mengatakan bahwa almarhum memberikan nasihat pada saat sakit menjelang kewafatannya, “Janganlah bersedih atas kewafatanku.” Kemudian beliau berulang-ulang menyampaikan perkataan Hadhrat Bilal (ra) berikut, غدًا سألقى الأحبَّةَ ، محمَّدًا وصَحبَه yang artinya, ‘Besok aku akan bertemu dengan kekasihku Muhammad (saw) dan para sahabatnya.’”[19]

Almarhum seorang yang dicintai semua orang dan memiliki kepribadian yang indah. Almarhum memiliki seorang istri, 3 putra dan 4 putri. Semoga Allah Ta’ala juga memberikan taufik kepada putra-putri beliau yang belum menjadi Ahmadi untuk dapat menerima Ahmadiyah dan meninggikan derajat almarhum serta memperlakukan Almarhum dengan maghfiroh dan kasih sayang-Nya. 

Jenazah yang kedua, yang terhormat Nasir Ahmad Sahib dari Mithi, Tharparkar yang wafat beberapa hari yang lalu di usia 93 tahun. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Beliau adalah Ahmadi pertama di Mithi. Pada 1969 beliau menerima Ahmadiyah. Beliau adalah seorang Dai yang penuh semangat, memiliki gairat keagamaan dan Ahmadi yang pemberani. Dawam melaksanakan salat lima waktu, mengkhidmati tamu, sangat mencintai Khilafat adalah merupakan sifat-sifat beliau yang menonjol.

Beliau juga mendapatkan taufik untuk membaiatkan banyak orang di Mithi dan daerah sekitarnya. Masjid pertama di Mithi dibangun di atas lahan pemberian beliau. Beliau menghadapi penentangan yang keras dari keluarga dan kaum kerabat beliau. Khususnya ketika tiba saatnya pernikahan anak-anak beliau, kaum kerabat beliau memberikan tekanan yang kuat untuk mencegah pernikahan dengan sesama Ahmadi di luar keluarga mereka. Beliau diboikot. Mereka juga tidak hadir dalam pernikahan anak-anak beliau, namun dengan karunia Allah Ta’ala yang khas, meskipun adanya penentangan, beliau menikahkan semua anaknya dengan sesama Ahmadi.

Beliau memberikan perhatian yang istimewa terhadap tarbiyat anak-anak beliau. Beliau mengajarkan Al-Qur’an kepada semua anaknya dan mendisiplinkan mereka dalam salat. Beliau memakaikan burqah kepada para wanita dalam keluarga beliau yang sebelumnya beragama Hindu dan memiliki gaya berpakaian tradisional. 

Suatu kali Hadhrat Khalifatul Masih Al-Rabi’ (rh) memberikan pujian kepada beliau dengan bersabda, “Jika di setiap center Jemaat, kita menciptakan satu sosok seperti Nasir Sahib, pasti kita akan meraih kesuksesan.” Di antara yang ditinggalkan antara lain 2 putra dan 4 putri. Beberapa putra beliau juga tengah mengkhidmati agama sebagai waqaf zindegi. Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat almarhum. 

Jenazah yang ketiga, Malik Sultan Ahmad Sahib, mantan Mu’alim Waqfi Jadid yang wafat beberapa hari yang lalu di usia 84 tahun. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Beliau lahir di Pakka Nisoana, Distrik Jhang pada 1938. Beliau seorang Ahmadi keturunan. Ahmadiyah masuk ke dalam keluarga beliau melalui ayahanda beliau, yang terhormat Syahzadah Sahib Al-Ma’ruf yang datang ke datang ke Qadian di masa Hadhrat Muslih Mau’ud (ra) dan berbaiat.

Setelah menempuh pendidikan hingga Sekolah Menengah, beliau mengajukan permohonan untuk berkhidmat di bawah Waqfi Jadid pada 1960. Waqaf beliau diterima. Kemudian, ketika Hadhrat Khalifatul Masih Al-Rabi’ (rh) menjabat sebagai In Charge Waqfi Jadid, almarhum mendapatkan tarbiyat dari beliau dan setelah beberapa waktu mendapatkan tarbiyat dari sana, pada 1960 beliau ditugaskan sebagai Mu’allim. Beliau dikirim ke berbagai daerah di Tharparkar. Beliau melaksanakan tugas dengan baik. Beliau juga ditugaskan ke daerah-daerah lainnya di Pakistan.

Masa pengkhidmatan beliau lebih dari 38 tahun. Beliau melaksanakan tugas yang diamanahkan dengan sangat baik. Beliau sangat hobi bertabligh dan karena hal ini pada 1968 terjadi serangan percobaan pembunuhan terhadap beliau. Kejujuran, kerendahan hati, pengkhidmatan terhadap tamu dan keramahan merupakan sifat-sifat beliau yang utama.

Beliau rajin tahajud, disiplin dalam salat berjamaah dan rajin berdoa. Beliau menjaga ikatan kesetiaan dengan Khilafat hingga nafas terakhirnya dan senantiasa menasihatkan hal ini kepada putra-putrinya juga. Di antara yang ditinggalkan, selain istri, juga 3 putra dan 2 putri.

Semoga Allah Ta’ala memperlakukan beliau dengan maghfiroh dan kasih sayang-Nya dan meninggikan derajat beliau. 

Jenazah selanjutnya, yang terhormat Mahbub Ahmad Rajiki Sahib dari Sa’adullah Pur, Mandi Bahauddin. Beliau juga wafat beberapa hari yang lalu di usia 86 tahun. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Almarhum seorang mushi. Di antara yang ditinggalkan antara lain 2 putra dan 1 putri. Seorang putra beliau berada di Jerman dan yang lainnya tinggal di Lahore.

Almarhum adalah putra sahabat Hadhrat Masih Mau’ud (as), Hadhrat Ghulam Ali Sahib Rajiki dan keponakan Hadhrat Maulwi Ghulam Rasul Sahib Rajiki dan cucu dari Hadhrat Maulwi Ghauts Muhammad Sahib.

Putra beliau, Mabrur Sahib menuturkan, “Beliau mendapatkan taufik berkhidmat sebagai Ketua Jemaat Sa’adullah Pur selama 37 tahun. Beliau sangat rajin berdoa, sangat mencintai Hadhrat Rasulullah (saw) dan Hadhrat Masih Mau’ud (as). Beliau sangat mencintai Khilafat dan seorang Khadim Jemaat yang pemberani. Beliau tiga kali mendapatkan taufik dipenjara di jalan Allah. Di samping disiplin dalam salat lima waktu, beliau juga secara dawam melaksanakan salat tahajud yang lama. Pada banyak kesempatan, Allah Ta’ala menganugerahkan pengabulan doa yang cepat kepada beliau.

Beliau juga seorang yang mendapatkan rukya dan kasyaf. Ketika menjalani masa penahanan, beliau beberapa kali mendapatkan mimpi bahwa di hari ini akan mendapatkan kebebasan, atau di waktu tertentu akan terjadi peristiwa ini dan demikianlah yang terjadi.

Pada siang hari beliau sibuk dalam membaca solawat dan berdoa, bahkan seseorang menulis bahwa suatu hari beliau datang untuk salat subuh. Orang itu memegang beliau, ternyata beliau sedang demam tinggi. Namun demikian, beliau tetap datang ke masjid untuk salat berjamaah. Keadaan jalinan beliau dengan MTA dan kecintaan terhadap Khilafat sedemikian rupa, sehingga beliau menyimak MTA dengan volume tinggi dan meskipun mengeraskan suara dan kurang paham, pada saat khutbah, beliau tetap duduk di depan TV dan berusaha untuk menyimak.

Setelah kewafatan beliau, banyak orang bukan Ahmadi dari kampung sekitar yang datang, yang bahkan sebelumnya mereka biasa datang. Mereka sangat menaruh kepercayaan kepada beliau dan memohon doa kepada beliau. Setelah beliau wafat, mereka datang untuk berbela sungkawa. Mereka mendoakan dan berkata, ‘Jika beliau bukan Ahmadi, ribuan orang akan menjadi murid beliau.’ Beberapa orang bukan Ahmadi juga menceritakan beberapa contoh peristiwa pengabulan doa-doa beliau.”

Semoga Allah Ta’ala memperlakukan beliau dengan maghfiroh dan kasih sayang-Nya, meninggikan derajat beliau dan memberikan taufik kepada anak keturunan beliau untuk dapat meneruskan kebaikan-kebaikan beliau. Insya Allah setelah salat akan dilaksanakan salat jenazah untuk mereka semua.[20]

Khotbah II

الْحَمْدُ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا – مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ – وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ – عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ – أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُاللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ


[1] Al-Salabi, Sayyiduna Umar (ra) bin Khattab [Muzaffar Garh, Pakistan: Maktabatul Al-Furqan], p. 225 (ماخوذ از سیدنا عمر بن خطابؓ از علی محمد الصلابی صفحہ725مکتبہ الفرقان مظفر گڑھ)

[2] Muhammad Ibn Jarir al-Tabari, Tarikh al-Tabari, Vol. 2 [Beirut, Lebanon: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2012], p. 333. (ماخوذ از تاریخ الطبری جلد2 صفحہ 333 دارالکتب العلمیۃ بیروت2012ء); Farhang-e-Sirat [Karachi, Pakistan: Zawwar Academy Publications], p. 106. (فرہنگ سیرت صفحہ 106 زوار اکیڈمی کراچی).

[3] Abdul Sattar Hamdani, Mardan-e-Arab, [Lahore, Akbar Book Sales], pp. 203-204); (ماخوذ ازمردانِ عرب حصہ اول از عبد الستار ہمدانی صفحہ 203-204 اکبر بک سیلر ز لاہور); Waqdi, Futuh Al-Sham, Vol. 1, p. 48 (فتوح الشام از واقدی جلد1صفحہ48).

[4] Surah al-Baqarah, 2:250: كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ ۗ “…Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.”

[5] Rafiq Anjum Makki, Islami Jangein, [Dar-ul-Kutub Lahore], pp. 123-125 (ماخوذ از اسلامی جنگیں صفحہ 123تا 125از رفیق انجم مکی دار الکتب لاہور); Abdul Sattar Hamdani, Mardan-e-Arab, [Lahore, Akbar Book Sales], pp. 203-206 (ماخوذ ازمردانِ عرب حصہ اول از عبد الستار ہمدانی صفحہ 206 اکبر بک سیلر ز لاہور).

[6] Kitab Futuhusy Syaam (فتوح الشام) karya Al-Waqidi (الواقدي), bahasan (ذكر فتح البهنسا وما فيه من الفضائل وما وقع فيه للصحابة رضي الله عنهم).

[7] Fazal Muhammad Yusuf Zai, Futuhaat-e-Sham, [Maktabatul Iman Wa Yaqeen], pp. 75-81 (ماخوذ از فتوحات شام از فضل محمد یوسف زئی صفحہ 75-81 مکتبہ ایمان و یقین)

[8] Abdul Sattar Hamdani, Mardan-e-Arab, [Lahore, Akbar Book Sales], p. 214 (ماخوذ ازمردانِ عرب حصہ اول از عبد الستار ہمدانی صفحہ 214اکبر بک سیلر ز لاہور).

[9] Fazal Muhammad Yusuf Zai, Futuhaat-e-Sham, [Maktabatul Iman Wa Yaqeen], p. 81

[10] Abdul Sattar Hamdani, Mardan-e-Arab, [Lahore, Akbar Book Sales], pp. 216-217 (ماخوذ ازمردانِ عرب حصہ اول از عبد الستار ہمدانی صفحہ 216-217اکبر بک سیلر ز لاہور)

[11] Sahabiyah ini bernama ‘Afrah binti Ghafar al-Himyariyah (عفرة بنت غفار الحميرية). Hal ini sebagaimana diceritakan dalam Kitab Futuhusy Syaam (فتوح الشام) karya Al-Waqidi (الواقدي), bahasan (ذكر فتح البهنسا وما فيه من الفضائل وما وقع فيه للصحابة رضي الله عنهم).

[12] Fazal Muhammad Yusuf Zai, Futuhaat-e-Sham, [Maktabatul Iman Wa Yaqeen], pp. 82-29) (ماخوذاز فتوحات شام از فضل محمد یوسف زئی صفحہ82تا89مکتبہ ایمان و یقین).

[13] Abdul Sattar Hamdani, Mardan-e-Arab, [Lahore, Akbar Book Sales], p. 247 (ماخوذ ازمردانِ عرب حصہ اول از عبد الستار ہمدانی صفحہ 247اکبر بک سیلر ز لاہور).

[14] Abdul Sattar Hamdani, Mardan-e-Arab, [Lahore, Akbar Book Sales], pp. 248-254.

[15] Al-Salabi, Sayyiduna Umar (ra) bin Khattab, p. 724.

[16] Muhammad Ibn Jarir al-Tabari, Tarikh al-Tabari, Vol. 2 [Beirut, Lebanon: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2012], pp. 357-358. (ماخوذ از تاریخ الطبری جلد2صفحہ357-358دار الکتب العلمیۃ بیروت 2012ء).

[17] Al-Salabi, Sayyiduna Umar (ra) bin Khattab [Muzaffar Garh, Pakistan: Maktabatul Al-Furqan], pp. 727-728 (سیدنا عمر بن خطابؓ از علی محمد الصلابی صفحہ727۔728مکتبہ الفرقان مظفر گڑھ).

[18] Muhammad Ibn Jarir al-Tabari, Tarikh al-Tabari, Vol. 2 [Beirut, Lebanon: Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, 2012], pp. 357-358. (تاریخ الطبری جلد2صفحہ357-358دار الکتب العلمیۃ بیروت 2012ء); Shibli Nomani, Al-Farooq, [Idaarah Al-Islamiyyat, 2004] pp. 106-107 (الفاروق از شبلی نعمانی صفحہ106-107مطبوعہ ادارہ اسلامیات 2004ء)..

[19] Sharah Al-Zarqani, Al-Mawahib al-Ladunniyyah, Vol. 1, p. 499, Dar-ul-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut, 1996.

[20] Sumber referensi: Official Urdu published in Al Fazl International, 23 September 2022, pp. 5-10. Translated by The Review of Religions pada link https://www.alhakam.org/friday-sermon-men-of-excellence-hazrat-abu-bakr-2-september-2022/ (الفضل انٹرنیشنل 23؍ستمبر2022ءصفحہ 5تا10) pada link https://www.alfazl.com/2022/09/18/55513/; https://www.alislam.org/friday-sermon/2022-09-02.html; https://www.alislam.org/urdu/khutba/2022-09-02/ (website resmi Jemaat Ahmadiyah Internasional bahasa Inggris dan Urdu) dan https://www.islamahmadiyya.net/cat.asp?id=116 (website resmi Jemaat Ahmadiyah Internasional bahasa Arab). Penerjemah: Mln. Mahmud Ahmad Wardi, Syahid (London-UK), Mln. Hasyim dan Mln. Fazli Umar Faruq. Editor: Dildaar Ahmad Dartono.

Leave a Reply

Begin typing your search above and press return to search.
Select Your Style

You can choose the color for yourself in the theme settings, сolors are shown for an example.