Riwayat ‘Umar bin Al-Khaththab (6)

khotbah idul adha mirza masroor ahmad

Keteladanan Para Sahabat Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam (Manusia-Manusia Istimewa seri 116, Khulafa’ur Rasyidin Seri 22)

Hadhrat ‘Umar bin al-Khaththab radhiyAllahu ta’ala ‘anhu

Khotbah Jumat Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 18 Juni 2021 (Ihsan 1400 Hijriyah Syamsiyah/07 Dzulqa’idah 1442 Hijriyah Qamariyah) di Masjid Mubarak, Tilford, UK (United Kingdom of Britain/Britania Raya).

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ. (آمين)

Wasiyat Abu Bakar (ra) Terkait Calon Pengganti Beliau

Saat ini tengah dibahas berkenaan dengan Hadhrat ‘Umar (ra). Disebutkan, “Ketika waktu kewafatan Hadhrat Abu Bakr sudah dekat, Hadhrat Abu Bakr memanggil Hadhrat Abdurrahman Bin Auf lalu bersabda, ‘Berikan saya saran berkenaan dengan ‘Umar.’

Hadhrat Abdurrahman Bin Auf mengatakan, ‘Wahai Khalifah Rasulullah! Demi Tuhan, beliau lebih utama dari apa yang ada di benak Anda, kecuali, beliau memiliki tabiat yang keras.’

Hadhrat Abu Bakr bersabda, ‘Beliau bersikap keras untuk mengimbangi kelembutan saya. Namun, jika kepadanya diserahkan tanggung jawab untuk memimpin, beliau akan melepaskan hal-hal seperti itu. Karena saya perhatikan, ketika saya bersikap keras terhadap seseorang, ‘Umar berusaha untuk meyakinkan saya berkenaan dengan orang tersebut supaya saya bersikap lembut. Begitu pula, ketika saya bersikap lembut, ‘Umar ra biasanya meminta saya untuk bersikap tegas pada orang tersebut.’

Setelah itu Hadhrat Abu Bakr memanggil Hadhrat ‘Utsman dan meminta pendapat berkenaan dengan Hadhrat ‘Umar. Hadhrat ‘Utsman berkata, Batiniah beliau lebih baik dari penampilan lahiriah beliau dan tidak ada di antara kami yang menyerupai beliau.’”[1]

Hadhrat Abu Bakr bersabda kepada Hadhrat Abdurrahman Bin Auf dan Hadhrat ‘Utsman, ‘Apapun yang saya katakan kepada kalian berdua, jangan sampaikan kepada orang siapapun. Begitu pula, Jika saya mengabaikan (tidak memilih-Pent) ‘Umar, (pilihan kedua) tidak akan lepas dari ‘Utsman.’ (Dalam pandangan Hadhrat Abu Bakr, keduanya (Hadhrat ‘Umar dan Hadhrat ‘Utsman) layak untuk memenuhi hak sebagai Khalifah). Dan siapapun yang terpilih di antara mereka berdua nantinya, berhak untuk tidak mengurangi apapun yang berkaitan dengan urusan kalian. Saya akan terlepas dari segala urusan kalian dan menjadi pendahulu kalian (wafat).’”[2]

Ketika Hadhrat Abu Bakr sakit, Hadhrat Thalhah Bin Ubaidullah datang menemui beliau. Hadhrat Thalhah berkata kepada beliau, “Anda telah menetapkan Hadhrat ‘Umar sebagai Khalifah penerus Anda bagi umat Islam, padahal Anda sendiri mengetahui bagaimana beliau memperlakukan orang-orang di tengah keberadaan anda, lantas bagaimana keadaannya nanti sepeninggal tuan? Anda (Hadhrat Abu Bakr) akan pergi berjumpa dengan Tuhan. (di akhirat nanti) Tuhan akan menanyakan kepada Anda perihal pengikut anda.”

Hadhrat Abu Bakr bersabda, “Dudukkan saya.” Orang-orang lalu membantu Hadhrat Abu Bakr untuk duduk. Hadhrat Abu Bakr bersabda kepadanya: أَ“Apakah kamu memperingatkan saya dengan Allah Ta’ala? Ketika saya berjumpa dengan Allah Ta’ala nanti dan Dia bertanya kepada saya, akan katakan, ‘Saya telah memilih yang terbaik dari antara hamba Engkau untuk menjadi Khalifah bagi mereka.’”[3]

Ketika Hadhrat Abu Bakr memanggil Hadhrat ‘Utsman secara terpisah untuk mencatat wasiat berkenaan dengan Hadhrat ‘Umar, Hadhrat Abu Bakr bersabda, “Tulislah, Bismillaahirrahmaanirrahiim. Berikut ini adalah wasiat Abu Bakr ibn Quhafah untuk umat Muslim.’”

Setelah mengatakan itu, Hadhrat Abu Bakr pingsan. Kemudian Hadhrat ‘Utsman menuliskan sendiri sbb:

أَمَّا بَعْدُ، فَإِنِّي قَدِ اسْتَخْلَفْتُ عَلَيْكُمْ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ، وَلَمْ آلكم خيرا منه

“Saya telah menetapkan ‘Umar Bin Al-Khaththab untuk menjadi Khalifah bagi kalian dan saya tidak mengurangi dalam kebaikan berkenaan dengan kalian.”

Lalu Hadhrat Abu Bakr sadarkan diri dan bersabda, “Coba bacakan kepada saya, apa yang ditulis?”

Hadhrat ‘Utsman membacakannya untuk beliau. Setelah mendengar itu, Hadhrat Abu Bakr mengucapkan Allahu Akbar dan bersabda: “Saya beranggapan bahwa Anda khawatir, jika pada saat pingsan tadi saya wafat, jangan sampai timbul perselisihan di dalam umat.”

Hadhrat ‘Utsman berkata: “Ya, benar demikian.”

Hadhrat Abu Bakr bersabda: جَزَاكَ اللَّهُ خَيْرًا عَنِ الإِسْلامِ وَأَهْلِهِ “Semoga Allah Ta’ala memberikan ganjaran kepadamu dari pihak Islam dan umat Muslim.”[4] Itu artinya, Hadhrat Abu Bakr tidak berkeberatan atas apa yang ditulis oleh Hadhrat ‘Utsman berkenaan dengan penetapan Hadhrat ‘Umar sebagai Khalifah.

Tertulis dalam Tarikh Tabari bahwa Muhammad Bin Ibrahim Bin Harits (مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ بْنِ الْحَارِثِ) meriwayatkan, “Hadhrat Abu Bakr memanggil Hadhrat ‘Utsman secara terpisah dan bersabda, ‘Tulislah Bismillaahirrahmaanirrahiim. Persetujuan ini diterbitkan oleh Abu Bakr Bin Abu Quhafah teruntuk umat Muslim, amma Ba’du.’

Setelah mengucapkan itu Hadhrat Abu Bakr pingsan. Ketika sadarkan diri beliau memerintahkan Hadhrat ‘Utsman untuk memperdengarkan apa yang telah ditulis. Setelah mendengarnya, Hadhrat Abu Bakr bersabda, ‘Allahu Akbar. Semoga Allah Ta’ala memberikan ganjaran kebaikan padamu dari pihak Islam dan umat Islam atas kalimat yang telah Anda tulis ini.’ Hadhrat Abu Bakr membiarkan tulisan tersebut dan tidak merubahnya.’”[5]

Dalam satu Riwayat disebutkan, “Hadhrat Abu Bakr memanggil Hadhrat ‘Utsman lalu bersabda, ‘Berikanlah masukan kepadaku perihal orang yang akan ditetapkan sebagai khalifah selanjutnya. Demi Tuhan! Dalam pandangan saya, Anda layak untuk dimintai musyawarah.’

Hadhrat ‘Utsman berkata, ‘’Umar.’

Hadhrat Abu Bakr bersabda, ‘Tulislah.’

Hadhrat ‘Utsman pun mencatatnya dan setelah beliau menuliskan nama tersebut, Hadhrat Abu Bakr pingsan. Setelah sadarkan diri, Hadhrat Abu Bakr bersabda, ‘Tulislah nama ‘Umar!’”[6]

Dalam Riwayat lain dikatakan, (عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ:) Hadhrat Aisyah meriwayatkan, “Hadhrat ‘Utsman tengah mencatat wasiat yang didiktekan oleh Hadhrat Abu Bakr lalu Hadhrat Abu Bakr pingsan. Kemudian Hadhrat ‘Utsman menuliskan nama Hadhrat ‘Umar. Setelah sadarkan diri, Hadhrat Abu Bakr bertanya, ‘Apa yang Anda tulis?’

Hadhrat ‘Utsman menjawab, ‘Saya telah menuliskan nama ‘Umar.’

Hadhrat Abu Bakr bersabda, ‘Anda telah menulis apa yang ingin saya katakan. Jika Anda menuliskan nama Anda juga, anda pun layak untuk itu.’” [7]

Dalam satu riwayat disebutkan, “Ketika Hadhrat Abu Bakr jatuh sakit, beliau (ra) menyampaikan pesan kepada Hadhrat Ali, Hadhrat ‘Utsman dan beberapa orang dari kalangan Muhajirin dan kalangan Anshar untuk datang kepada beliau lalu bersabda kepada mereka, ‘Sekarang telah tiba saatnya [kewafatan], seperti apa yang telah kalian saksikan dan akan tidak ada yang berdiri untuk memberikan instruksi kepada kalian. Jika kalian menghendaki, kalian bisa memilih salah seorang diantara kalian [sebagai pemimpin], namun jika kalian menghendaki, akan saya pilihkan sendiri untuk kalian.

Mereka berkata, ‘Mohon Anda pilihkan untuk kami.’

Hadhrat Abu Bakr bersabda kepada Hadhrat ‘Utsman, ‘Tulislah! Ini merupakan pernyataan janji yang disampaikan oleh Abu Bakr Bin Abu Quhafah pada masa masa akhir hidupnya sebelum meninggalkan dunia ini dan merupakan janji pertama ketika menjelang masuk ke alam akhirat, dimana para pendosa akan taubat, orang kafir akan beriman dan pendusta akan membenarkan. Janji itu adalah dia memberikan kesaksian tidak ada yang patut disembah selain Allah dan Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya. Saya tetapkan Khalifah…’

Setelah mengatakan itu, Hadhrat Abu Bakr pingsan. Kemudian Hadhrat ‘Utsman sendiri berinisiatif menulis nama ‘Umar Bin Al-Khaththab. Setelah Hadhrat Abu Bakr sadarkan diri, beliau bersabda, ‘Apakah Anda telah menuliskan sesuatu?’

Hadhrat ‘Utsman menjawab, ‘Ya, saya menulis ‘Umar Bin Al-Khaththab.’

Mendengar itu Hadhrat Abu Bakr bersabda: Semoga Allah Ta’ala mencurahkan rahmatNya padamu. Jika Anda menulis nama Anda sendiri, Anda pun layak untuk itu (menjadi Khalifah). Tulislah bahwa aku menetapkan ‘Umar Bin Al-Khaththab sebagai Khalifah penggantiku bagi kalian dan aku ridha kepadanya bagi kalian.[8]

Setelah menulis wasiat, Hadhrat Abu Bakr bersabda, “Bacakan wasiat ini di hadapan orang-orang.”

Pembacaan Wasiat Abu Bakar yang Memilih Umar (ra) Sebagai Khalifah

Kemudian Hadhrat ‘Utsman mengumpulkan umat Muslim dan beliau mengirimkan surat melalui bekas budak beliau. Pada saat itu Hadhrat ‘Umar bersama dengannya. Hadhrat ‘Umar berkata kepada orang-orang yang tengah berkumpul, Diam dan simaklah perkataan Khalifah Rasulullah (saw) karena beliau (Hadhrat Abu Bakr) tidak mengurangi bagian kalian dalam itikad baik.

Kemudian orang-orang duduk dengan tenang. Lalu wasiat dibacakan di hadapan hadirin. Hadirin telah mendengarnya dan taat. Saat itu Hadhrat Abu Bakr mengarah kepada kumpulan orang dan bersabda: ‘Apakah kalian setuju dengan orang yang telah saya angkat sebagai Khalifah? Karena saya tidak menetapkan Khalifah dari antara kerabat saya sendiri. Sesungguhnya saya menetapkan ‘Umar sebagai Khalifah bagi kalian. Maka dari itu, dengarkanlah dan taatlah pada perintahnya. Demi Tuhan! Sesungguhnya saya telah menimbang dan merenungkan dengan baik berkenaan dengan hal ini dan tidak ada yang saya kurangi.’

Orang-orang mengatakan, ‘Kami telah mendengarnya dan kami taat.’

Pesan Abu Bakar (ra) kepada Umar (ra)

Hadhrat Abu Bakr lalu memanggil Hadhrat ‘Umar dan bersabda,

‘Saya telah menetapkan Anda untuk menjadi Khalifah atas para sahabat Rasulullah.’ Kemudian beliau (ra) mewasiatkan kepada Hadhrat ‘Umar untuk menempuh jalan takwa lalu bersabda, ‘Wahai ‘Umar! Wahai ‘Umar! Sesungguhnya ada perbuatan yang harus dikerjakan untuk Allah pada malam hari dan tidak diterima jika dikerjakan pada siang hari. Ada juga perbuatan yang harus dikerjakan untuk Allah pada siang hari dan tidak akan diterima jika dikerjakan pada malam hari. Sesungguhnya ibadah nafal tidak akan diterima sampai ibadah fardu dilaksanakan.

Wahai ‘Umar! Tidakkah kamu ketahui orang-orang yang memiliki timbangan amal kebaikan yang berat di akhirat, adalah mereka yang selalu mengikuti kebenaran di dunia. Kebenaran itulah yang memberatkan timbangan mereka. Sungguh, timbangan tidak akan menjadi berat kecuali di atasnya ada kebenaran. Adapun orang-orang yang memiliki timbangan amal kebaikan yang ringan di akhirat adalah mereka yang mengikuti kebatilan selama hidup di dunia. Kebatilan itulah yang membuat timbangan mereka menjadi ringan. Sungguh, timbangan tidak akan menjadi ringan kecuali di atasnya ada kebatilan.

Tidakkah engkau tahu bahwa Allah menurunkan ayat yang mengandung harapan bersamaan dengan ayat yang mengandung kesulitan, dan ayat yang mengandung kesulitan bersamaan ayat yang mengandung harapan? Hal ini dimaksudkan agar manusia selalu berharap dan takut kepada Allah, tidak membinasakan dirinya serta tidak memohon kepada Allah pada sesuatu yang tidak benar. 

Wahai ‘Umar! Tidakkah kamu melihat bahwa Allah Ta’ala mengingat para penghuni neraka semata mata disebabkan oleh amalan buruknya. Jadi, ketika kamu mengingat mereka, katakanlah bahwa sesungguhnya aku berharap agar aku tidak termasuk diantara mereka. Dan Allah Ta’ala mengingat para penghuni surga semata mata disebabkan oleh amalan baiknya. Karena Allah Ta’ala telah memaafkan keburukan mereka. Jadi, Ketika kamu mengingat mereka, katakanlah bahwa Apakah amalanku seperti amalan mereka?’”[9] Tanyakanlah kepada hatimu.

Ketika waktu kewafatan Hadhrat Abu Bakr telah dekat, beliau bersabda:

“Kembalikanlah harta umat Muslim yang ada pada saya, saya tidak ingin menggunakan harta itu walaupun sedikit. Beberapa lahan tanah yang terletak di berbagai tempat saya peruntukkan untuk umat Muslim sebagai ganti dari harta yang saya ambil dari Baitul Maal sebagai nafkah.

Lahan tanah, unta, pedang, budak belian, tukang politur dan kain seharga 5 dirham, semuanya telah diberikan kepada Hadhrat ‘Umar. Ketika Hadhrat ‘Umar melihat semua barang itu, beliau mengatakan: Hadhrat Abu Bakr telah menyulitkan orang yang menjadi pengganti beliau.[10]

Pembahasan tentang Tabiat Kasar Umar (ra)

Hadhrat Khalifatul Masih pertama menjelaskan, “Seseorang bertanya kepada Hadhrat ‘Umar, ‘Saat ini kami tidak melihat sifat kasar pada diri Anda seperti yang kami dapati pada masa jahiliyah. Mengapa demikian?’

Hadhrat ‘Umar menjawab, ‘Sifat kasar itu masih ada, namun saat ini hanya ditampakkan ketika menghadapi orang-orang kafir.’”[11]

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Orang-orang berkata kepada Hadhrat Abu Bakr (ra), ‘Anda telah menetapkan ‘Umar (ra) sebagai pengganti sepeninggal anda, padahal beliau memiliki tabiat yang kasar, karena beliau orangnya galak.’

Hadhrat Abu Bakr bersabda, ‘Gejolak amarah beliau akan terlihat demikian selama saya masih ada, namun jika saya telah tiada nanti, dengan sendirinya beliau akan menjadi lembut.’”[12]

Berkenaan dengan Hadhrat ‘Umar (ra), Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda, “Berkenaan dengan sifat kasar beliau diriwayatkan bahwa ada seseorang yang bertanya kepada Hadhrat ‘Umar, ‘Sebelum datang Islam, Anda adalah seorang yang galak.’

Hadhrat ‘Umar menjawab, ‘Sifat itu bahkan masih melekat dalam diri saya sampai saat ini. Namun bedanya, dahulu bukan pada tempatnya, tapi kalau saat ini sifat keras saya pada tempatnya.’”[13]

Jami’ Bin Syaddad meriwayatkan dari kerabat dekat, “Saya mendengar Hadhrat ‘Umar pernah mengatakan, اللَّهُمَّ إِنِّي ضَعِيفٌ فَقَوِّنِي. اللَّهُمَّ إِنِّي غَلِيظٌ فَلَيِّنِّي. اللَّهُمَّ إِنِّي بَخِيلٌ فَسَخِّنِي ‘Allahumma inni dha’iifun faqawwinii. Allahumma inni ghaliizhun fa-layyinii. Allahumma inni bakhiilun fa-sakhkhinii.’ – ‘Ya Tuhan aku sangat lemah, berikanlah aku kekuatan. Aku sungguh keras (kasar), lunakkanlah hatiku. Aku begitu kikir, jadikanlah aku dermawan.’”[14]

Pidato Pertama Umar (ra) Setelah Terpilih Sebagai Khalifah

Pidato pertama yang disampaikan oleh Hadhrat ‘Umar setelah terpilih sebagai Khalifah terdapat dalam beragam Riwayat. Salah satunya diriwayatkan bahwa Humaid Bin Hilal (حُمَيْدَ بْنَ هِلالٍ) meriwayatkan, “Orang-orang yang hadir pada saat kewafatan Hadhrat Abu Bakr memberitahukan kepada kami bahwa setelah selesai dari proses pemakaman Hadhrat Abu Bakr, Hadhrat ‘Umar merapikan tanah yang ada d iatas kuburan dengan tangan sendiri lalu berdiri pada tempatnya dan bersabda,

‘Allah telah menguji kalian dengan diriku dan menguji diriku lewat kalian. Sepeninggal kedua sahabatku (Nabi Muhammad (saw) dan Khalifah Abu Bakr (ra)), kini aku ada di tengah-tengah kalian. Demi Tuhan! Apapun urusan kalian yang dihadirkan ke hadapanku, tidak ada yang akan memperhatikannya selain aku. Urusan yang tidak dihadapkan kepadaku, akan aku tetapkan untuknya orang yang tangguh dan amanah yang akan mengawasi kalian. Kalau orang-orang berlaku baik, akan kuperlakukan dengan baik, tetapi kalau berbuat jahat, aku akan menghukumnya.’”[15]

Hasan mengatakan, : “Kami beranggapan pidato pertama yang disampaikan oleh Hadhrat ‘Umar adalah bahwa beliau menyampaikan puji sanjung ke hadirat Ilahi Rabbi lalu bersabda,

‘Amma Ba’du, Allah telah menguji kalian dengan diriku dan menguji diriku melalui kalian. Sepeninggal kedua sahabatku, sekarang aku ada di tengah-tengah kalian. Apapun urusan kalian yang dihadirkan ke hadapanku, tidak ada yang akan memperhatikannya selain dari aku. Adapun urusan yang tidak dihadapkan kepadaku, aku akan tetapkan untuknya orang yang tangguh dan amanah yang akan mengawasi kalian. Kalau orang-orang berlaku baik, maka akan kuperlakukan dengan baik, tetapi kalau berbuat jahat, maka aku akan menghukumnya. Semoga Allah mengampuniku dan kalian.’”[16]

Terkait:   Riwayat 'Umar bin al-Khaththab (3)

Jami’ Bin Syaddad meriwayatkan dari ayahnya, ketika Hadhrat ‘Umar menaiki mimbar, kalimat pertama yang beliau sabdakan adalah اللَّهُمَّ إِنِّي شَدِيدٌ فَلَيِّنِّي ، وَإِنِّي ضَعِيفٌ فَقَوِّنِي ، وَإِنِّي بَخِيلٌ فَسَخِّنِي ‘Allahumma inni syadiidun fa-layyinii wa inni dha’iifun fa-qawwinii wa inni bakhiilun fasakhkhini’ – ‘Ya Allah, aku ini sungguh keras, kasar, maka lunakkanlah hatiku, Ya Allah aku sangat lemah, maka berikanlah kekuatan, Ya Allah aku ini kikir, jadikanlah aku dermawan bermurah hati.’”[17]

Jami’ Bin Syaddad meriwayatkan dari ayahnya, “Ketika Hadhrat ‘Umar terpilih sebagai Khalifah, beliau naik mimbar dan bersabda, ‘Saya akan sampaikan beberapa patah kata, jawablah dengan aamiin.’ Itulah ucapan pertama yang beliau sampaikan pada waktu terpilih sebagai Khalifah.”

Hushain al-Murri (حُصَيْنٍ الْمُرِّيِّ) meriwayatkan bahwa Hadhrat ‘Umar (ra) bersabda, “Sesungguhnya orang-orang Arab laksana unta jinak yang dengan patuh mengikuti Qa’id (penggembala)nya. Oleh karena itu, penggembala hendaklah memperhatikan hewan-hewan yang hendak dia bawa itu. Adapun aku, demi Tuhan Ka’bah, aku akan membawa mereka berada di atas jalan yang lurus.”[18]

Riwayat sebelumnya yang menyebutkan untuk menjawab Aamiin, tidak diterangkan lebih lanjut. Riwayat ini mungkin kelanjutannya.

Pendek kata, setelah Hadhrat ‘Umar (ra) terpilih sebagai Khalifah, pada hari ketiga, beliau menyampaikan pidato lengkap, yang riwayatnya sebagai berikut:

“Ketika Hadhrat ‘Umar mengetahui orang-orang khawatir dengan terpilihnya beliau sebagai Khalifah sehingga atas perintah beliau diserukanlah الصلاة جامعة (shalat akan dimulai) secara lantang kepada orang-orang sehingga orang-orang pun hadir. Hadhrat ‘Umar naik ke atas mimbar di tempat Hadhrat Abu Bakr biasa menginjakkan kaki. Ketika semua telah berdatangan, yakni orang-orang telah berkumpul, beliau berdiri lalu seperti biasa mengucapkan kalimat puji sanjung kepada Allah dan shalawat kepada Nabi (saw).[19] Beliau (ra) lalu bersabda,

‘Saya mendengar orang-orang takut dengan sifat keras saya, dan segan akan sikap tegas saya. Mereka berkata, “Umar pun bersikap keras kepada kami di masa Rasulullah (saw) masih ada di antara kami. Sikap keras ini pun berlanjut ketika Abu Bakr menjadi pemimpin kami. Kini tidak dapat dibayangkan apa yang akan terjadi tatkala segala kewenangan ada di tangannya (Hadhrat ‘Umar).” Orang yang berkata seperti itu adalah benar.’

“Memang saya ada bersama Rasulullah (saw), dan saya adalah hamba dan khadim beliau; dan mengenai Rasulullah (saw), tidak ada seorang pun yang tidak mengenal sifat lembut dan belas kasih beliau. Allah Ta’ala telah menamai beliau dengan (sifat) itu dan memberi nama beliau dengan julukan رَؤُوْف (sangat santun) dan رَحِیْم (penyayang). Sementara saya adalah pedang yang terhunus, dimana jika beliau menghendaki, saya akan menutupnya atau membiarkannya terhunus untuk menebas siapapun, hingga pada akhirnya Rasulullah (saw) pun wafat. Beliau rela hati atas saya. Saya pun bersyukur pada Allah akan keberuntungan yang turun atas saya ini.

Lalu Abu Bakr menjadi pimpinan untuk semua, dan beliau merupakan sosok di mana tidak ada seorang pun yang tidak mengenal kehalusan hati dan kelembutan budi beliau, dan saya adalah khadim serta penolongnya. Saya menyelaraskan sifat keras saya dengan kelembutan hatinya dan menjadi pedang yang terhunus baginya, di tangannya-lah apakah saya harus menutupnya atau menghunuskannya. Dalam keadaan demikianlah saya terus bersamanya hingga Allah yang Maha Kuasa mewafatkannya dan ia rida kepada saya. Alhamdulillah, saya merasa beruntung atas hal ini.

Lalu, wahai manusia, saya telah menjadi pemimpin atas urusan-urusan Anda semua. Kini yakinlah bahwa sifat keras itu telah mencair, namun ia akan muncul di hadapan mereka yang bersikap aniaya kepada orang-orang Islam. Saya lembut di hadapan Anda semua, namun sikap keras itu akan muncul di hadapan para musuh. Adapun terhadap orang-orang yang suci, bertakwa, dan memiliki kemuliaan; saya akan menjadi lebih lembut daripada kelembutan yang mereka perlihatkan diantara mereka, dan saya tidak akan membiarkan seorang pun yang bersikap aniaya kepada yang lain kecuali dengan membelenggu kedua kakinya diatas bumi hingga ia benar-benar memahami kebenaran (yakni saya akan bersikap sangat keras).

Wahai segenap manusia! Banyak sekali hak kalian atas diri saya, yang [ingin] saya sampaikan kepada kalian. Kalian dapat menuntut saya atas ini semua: Anda berhak untuk mengetahui kemana saja harta ini akan saya pergunakan; dan terhadap harta ganimah yang Allah Ta’ala berikan kepadamu, saya [berhak] agar membelanjakannya demi pekerjaan Allah Ta’ala. Saya memiliki kewajiban untuk membelanjakan harta itu sesuai dengan kebutuhannya, dan saya memiliki kewajiban untuk terus memberi tunjangan untuk memenuhi kebutuhanmu, dan saya memiliki kewajiban untuk menjaga kalian agar jangan jatuh kedalam kebinasaan. Lalu tatkala kalian bergabung untuk perang dan meninggalkan rumahmu, maka saya akan menjadi ayah bagi anak dan keluargamu hingga kalian pulang kembali. Saya mengatakan hal ini dan memohonkan ampunan kepada Allah bagi saya dan kalian.”[20]

Penjelasan tentang Masa Kekhalifahan Umar (ra)

Dalam menjelaskan masa kekhalifahan Hadhrat ‘Umar, Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Ayat ini, أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا senantiasa hadir di mata umat Islam. Itu artinya, ‘Hendaknya amanat ini dibebankan pada mereka yang berkemampuan dalam mengelola perkara pemerintahan. Lalu tatkala amanat ini telah dibebankan pada beberapa orang, hendaknya mereka memperhatikan perintah syariat ini yaitu supaya mereka memerintah dengan kejujuran dan keadilan. Lalu apabila engkau mengabaikan keadilan, apabila engkau tidak mengutamakan kejujuran, dan berlaku khianat terhadap amanat ini, maka yakinlah bahwa Tuhan akan mengambil perhitungan, dan engkau akan mendapat hukuman atas kejahatan ini.’

Inilah hal yang sangat membekas dan melekat pada kepribadian Hadhrat ‘Umar (ra), dimana manusia akan bergetar mendengarnya. Hadhrat ‘Umar yang merupakan khalifah kedua Islam, beliau telah sedemikian banyak berkorban demi kemajuan Islam dan umat muslim, hingga para penulis eropa yang di kesehariannya terus melontarkan keberatan kepada Rasulullah (saw) (di mana di dalam berbagai bukunya mereka dengan sangat keji menuliskan tentang Rasulullah (saw) bahwa na’udzubillah beliau tidak berlaku jujur) mereka dengan terpaksa harus menyebutkan tentang Abu Bakr dan ‘Umar bahwa kerja keras dan pengorbanan yang dilakukan oleh keduanya tidak ditemukan bandingannya dalam pemerintahan apapun di dunia. Secara khusus tentang jasa Hadhrat ‘Umar (ra), mereka sangat memujinya dan mengatakan bahwa inilah sosok yang siang malam dan dengan sangat tekun telah memenuhi kewajibannya untuk menyebarkan dan memajukan Islam.

Namun demikian, kita lihat bagaimana Hadhrat ‘Umar. Di hadapannya, meskipun beliau telah menyelesaikan ribuan pekerjaan, meskipun beliau telah memberi ribuan pengurbanan, meskipun beliau telah melewati ribuan kesulitan, ayat ini senantiasa ada [dalam diri beliau], yaitu إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا  lalu وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ . Yakni tatkala Tuhan memerintahkan kalian untuk melakukan suatu tugas, dan orang-orang di tempatmu dan kerabatmu memilih kalian untuk memimpin, maka menjadi kewajiban bagimu untuk berlaku adil dan menyerahkan segenap kekuatanmu untuk kebaikan dan kemajuan umat manusia.

Alhasil, betapa pedihnya peristiwa yang dialami Hadhrat ‘Umar ini, tatkala ada seorang yang dangkal, yang menganggap beliau sebagai aniaya, dan dia dengan kejinya telah menusuk beliau dengan pisau sehingga beliau pun yakin akan kewafatan beliau; dan di atas tempat tidur, beliau dengan sangat pilu dan meronta berkali-kali mengucapkan اللَّهُمَّ لا عَلَيَّ وَلا لِي. اللَّهُمَّ لا عَلَيَّ وَلا لِي.[21]

Itu artinya, ‘Wahai Tuhan, Engkau telah menegakkan [amanat] pemerintahan ini atas diriku, dan Engkau telah meletakkan satu amanat [ini] diatas pundakku. Aku tidak tahu apakah diriku telah menjalankan sepenuhnya kewajibanku ini ataukah tidak. Kini waktu kematianku telah dekat dan aku akan meninggalkan dunia ini dan datang menuju Engkau. Wahai Tuhanku, Aku tidak mengharapkan ganjaran terbaik atas apapun amalku, dan aku tidak mengharapkan hadiah apapun. Tetapi wahai Tuhanku, aku hanya berharap Engkau berbelas kasih padaku dan memaafkanku. Dan apabila terdapat kesalahan dalam memenuhi tanggung jawabku ini, kiranya Engkau memaafkanku.’

‘Umar adalah insan berderajat mulia, dimana contoh keadilan seperti yang dicontohkan beliau amat sedikit di dunia ini. Yaitu sebagaimana ayat وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ. Tatkala beliau wafat, beliau wafat dalam keadaan yang sedemikian resah dan gelisah dimana meskipun dengan segenap hasil pengkhidmatan yang telah beliau persembahkan demi kebaikan negeri dan segenap manusia, bersama segenap pengkhidmatan beliau demi kemajuan Islam, semua itu sangat tidak berarti di mata beliau.

Seluruh pengkhidmatan yang baik di pandangan segenap Muslim di negeri beliau, seluruh pengkhidmatan yang juga baik di pandangan kaum non Muslim yang hidup di negeri beliau, seluruh pengkhidmatan yang tidak hanya dianggap baik oleh orang Muslim dan non Muslim di negeri beliau, bahkan oleh mereka yang di luar negeri beliau sekalipun, seluruh pengkhidmatan yang tidak hanya dianggap baik oleh orang-orang di masa beliau tetapi juga mereka yang ada sekarang setelah berlalu 1300 tahun lamanya, meskipun mereka (para Orientalis) menyerang (mengkritik) junjungan beliau [yaitu Rasulullah (saw)], namun tatkala menyebut pengkhidmatan Hadhrat ‘Umar, mereka berkata, ‘Tidak diragukan lagi, ‘Umar adalah sosok istimewa di dalam jasa-jasanya.’

Semua pengkhidmatan yang pada pandangan Hadhrat ‘Umar adalah sangat hina, hingga dengan gelisah beliau mengatakan, اللَّهُمَّ لا عَلَيَّ وَلا لِي yaitu ‘Wahai Tuhanku, ada satu amanat yang telah diletakkan diatas pundakku. Aku tidak tahu apakah aku telah memenuhi kewajibanku ataukah tidak. Oleh karena itu, hanya inilah yang kumohonkan supaya kiranya Engkau memaafkan kelemahan-kelemahanku, dan lindungilah aku dari hukuman.’”[22]

Lalu, Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) di dalam satu ceramah “Pembawa kebaikan bagi Dunia” menjelaskan, “Hadhrat ‘Umar ada satu sosok dimana meskipun para sejarawan Kristen menuliskan hal yang berbeda terkait Rasulullah (saw), mereka menulis bahwa tidak ada seseorang pun di dunia ini yang memerintah seperti beliau. Mereka melontarkan celaan kepada Rasulullah (saw) namun memuji Hadhrat ‘Umar (ra).

Sosok demikian, yang senantiasa dekat dengan beliau (saw), ia berharap agar di waktu wafat mendapatkan tempat di dekat telapak kaki Rasulullah (saw). Seandainya di dalam suatu tindakan Rasulullah (saw) terdapat suatu hal dimana beliau (saw) tidak melangkah sesuai dengan keridaan Tuhan, maka apakah sosok yang sampai pada derajat tinggi seperti Hadhrat ‘Umar ini akan memiliki suatu harapan agar mendapat tempat di dekat telapak kaki beliau (saw)?”[23]

Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) berupaya membuktikan bahwa hanya karena pengkhidmatan kepada wujud Rasulullah (saw) dan tarbiyat beliau (saw) sajalah Hadhrat ‘Umar telah berjasa dalam menjunjung keadilan dan memiliki jiwa yang sedemikian takwa terhadap Tuhan.”

Kecintaan dan Parhatian Umar (ra) kepada Ahli Bait

Mengenai bagaimana kecintaan Hadhrat ‘Umar kepada Ahli Bait, Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) bersabda, “Hadhrat Aisyah hidup lama sepeninggal Rasulullah (saw). Pada masa Khilafat Hadhrat ‘Umar dan beliau mendapat kemenangan atas Iran, saat itu dari Iran dibawakan juga alat penggiling gandum yang dapat menggiling sampai halus. Ketika tempat penggilingan pertama dibuka di Madinah, Hadhrat ‘Umar memerintahkan agar hasil tepung pertama dipersembahkan sebagai hadiah kepada Hadhrat Aisyah (r.anha), sehingga atas petunjuk beliau, tepung pertama dikirim ke hadapan Hadhrat Aisyah (r.anha), dan pembantu beliau pun menyiapkan adonan roti yang halus darinya. Para wanita Madinah yang belum pernah melihat tepung yang sedemikian halus itu lalu berkumpul di rumah Hadhrat Aisyah untuk melihat seperti apa tepung tersebut dan bagaimana roti yang dibuat darinya. Sepanjang halaman penuh dengan para wanita dan mereka menunggu bagaimana roti yang dibuat dari tepung itu.”

Saat itu Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) berkata kepada para wanita, “Anda sekalian mungkin berpikir bahwa itu adalah tepung yang berbeda. Itu bukanlah tepung yang berbeda. Itu hanyalah tepung yang lebih sederhana dari yang sehari-hari kita makan, dan bahkan lebih sederhana lagi. Tepung itu lebih sederhana dari yang kini dinikmati oleh wanita yang teramat miskin sekalipun. Namun demikian, tepung [dari iran itu] sangat lebih baik dari tepung yang umum di Madinah saat itu. Alhasil, para wanita pun menyiapkan roti dari tepung itu dan mereka pun terheran. Mereka meletakkan jemari mereka di lembaran roti itu dan langsung berkata, ‘Alangkah lembutnya roti ini. Apakah di dunia ini ada tepung yang dapat lebih baik lagi dari ini?’

Roti telah dihidangkan, namun kisah gejolak cinta Hadhrat Aisyah terhadap Rasulullah (saw) baru dimulai dan betapa tinggi gejolak rasa cinta beliau terhadap wujud Rasulullah (saw). Hadhrat Aisyah pun mengambil sedikit dari lembaran roti yang kecil itu dan memasukkannya di mulut beliau. Semua wanita yang ada di sana pun melihat wajah Hadhrat Aisyah.

Mereka berpikir bahwa setelah mencicipinya, Hadhrat Aisyah (ra) merasakan hal yang berbeda karena ini roti yang lembut dan beliau akan menikmatinya, menyukainya dan mengungkapkan bagaimana rasanya. Namun tatkala keratan roti itu masuk pada mulut Hadhrat Aisyah, roti itu tetap di tempatnya, sementara itu dari kedua mata beliau, air mata pun mengalir.

Para wanita bertanya, ‘Wahai Ibu, tepung ini sangatlah baik, dan roti yang darinya pun sangat lembut dan tiada bandingnya. Lantas apa yang terjadi pada anda? Hingga Anda tak dapat mengunyahnya, dan Anda lantas menangis? Apakah ada kekurangan di tepung ini?’

Hadhrat Aisyah bersabda, ‘Tidak ada kekurangan di tepung ini. Aku hanyalah teringat hari-hari tatkala Rasulullah (saw) menjalani akhir kehidupannya. Saat itu beliau (saw) telah sangat lemah, dan beliau tidak sanggup memakan makanan yang keras; meski demikian, di hari-hari itu kami mengolah roti dari gandum yang keras bagaikan batu dan memberikannya kepada beliau.’

Lalu Hadhrat Aisyah bersabda, ‘Sosok yang karenanya kita telah menerima nikmat-nikmat ini, sosok itu telah pergi dan luput dari nikmat-nikmat ini. Sementara itu, kita yang meraih semua kehormatan ini karenanya, kita tengah menikmati karunia-karunia ini.’

Beliau bersabda demikian dan mengeluarkan keratan roti itu lalu bersabda, ‘Singkirkanlah lembaran roti ini dari hadapan saya. Ini mengingatkan saya pada masa-masa Rasulullah (saw), yang ini sangat menyesakkan leher saya, dan saya tidak sanggup memakan roti ini.’”[24]

Diriwayatkan oleh Hadhrat Ibnu Abbas, “Ketika di masa Hadhrat ‘Umar, para sahabat Rasulullah (saw) telah memenangkan daerah Madain, (Madain adalah ibu kota pemerintahan Kisra di Iran dan sekitaranya), Hadhrat ‘Umar memerintahkan untuk meletakkan karpet kulit di Masjid dan memberikan petunjuk tentang harta-harta ganimah yang di simpan di dalam lembaran karpet itu. Kemudian para sahabat Rasulullah (saw) pun berkumpul. Orang paling pertama untuk mengambil harta ganimah itu adalah Hadhrat Hasan bin Ali.

Terkait:   Keteladanan Para Sahabat Nabi Muhammad (shallaLlahu ‘alaihi wa sallam) (Manusia-Manusia Istimewa seri 41)

Hadhrat Hasan berkata, ‘Wahai Amirul Mukminin, dari harta yang telah Allah Ta’ala berikan kepada umat Muslim ini, berikanlah yang menjadi bagian hak saya darinya.’ Hadhrat ‘Umar pun menjawab dengan ungkapan yang sangat senang dan hormat kepada beliau dan memerintahkan untuk memberi 1.000 dirham kepadanya.

Kemudian, Hadhrat Hasan pergi dan Hadhrat Husain bin Ali pun maju menuju beliau dan berkata, ‘Wahai Amirul Mukminin, dari harta yang telah Allah Ta’ala berikan kepada umat Muslim ini, berikanlah yang menjadi bagian hak saya darinya.’

 Lalu Hadhrat ‘Umar menjawab dengan ungkapan yang sangat senang dan hormat kepada beliau dan memerintahkan untuk memberi 1.000 dirham kepada Hadhrat Husain.

Lalu putra Hadhrat ‘Umar, yaitu Hadhrat Abdullah bin ‘Umar datang dan berkata, “Wahai Amirul Mukminin, dari harta yang telah Allah Ta’ala berikan kepada umat Muslim ini, berikanlah yang menjadi bagian hak saya darinya.’

Lalu Hadhrat ‘Umar menjawab dengan ungkapan yang sangat senang dan hormat kepadanya dan memerintahkan untuk memberi 500 dirham kepada Hadhrat Abdullah.

Atas hal ini Hadhrat Abdullah bin ‘Umar berkata, ‘Wahai Amirul Mukminin, saya adalah pria tangguh yang senantiasa menghunuskan pedang di depan Rasulullah (saw), sementara Hasan dan Husain saat itu masihlah seperti anak kecil yang kesana kemari di lorong-lorong Madinah, namun Anda memberikan kepada keduanya masing-masing 1.000 dirham sementara saya 500 dirham.’[25]

Hadhrat ‘Umar bersabda, ‘Pergilah dan bawalah ke hadapanku seorang ayah yang seperti ayah mereka berdua, seorang ibu yang seperti ibu mereka berdua, seorang kakek yang seperti kakek mereka berdua, dan seorang nenek yang seperti nenek mereka berdua, seorang paman dari pihak ayah yang seperti paman dari pihak ayah mereka berdua, seorang paman dari pihak ibu yang seperti paman dari pihak ibu mereka berdua, dan seorang bibi yang seperti bibi mereka berdua, dan tentu saja engkau tidak akan bisa membawanya ke hadapanku.”[26]

Diriwayatkan dari Abu Ja’far, “Ketika Hadhrat ‘Umar (ra) berniat untuk menetapkan Allowance (tunjangan) bagi orang-orang dan pendapat beliau lebih baik dari pendapat semua orang. Orang-orang berkata, ‘Mulailah dari diri Anda sendiri?’

Beliau (ra) bersabda, ‘Tidak’. Lalu beliau (ra) memulai dari kerabat yang paling dekat dengan Rasulullah (saw). Pertama, beliau menetapkan bagian Hadhrat Abbas (ra) dan kemudian Hadhrat Ali (ra)…”[27]

Hadhrat ‘Umar bin Al-Khaththab (ra) menghormati Hadhrat Imam Hasan (ra) dan Hadhrat Imam Husain (ra) dan menaikkan mereka ke tunggangan serta memberikan kepada mereka sebagaimana beliau memberikan kepada ayahanda mereka.

Suatu kali datang beberapa setelan pakaian dari Yaman, maka beliau membagikannya kepada putra-putra para sahabat dan tidak memberikan satu pun kepada mereka berdua, dan beliau (ra) bersabda, “Di antara semua setelan pakaian ini tidak ada yang layak untuk mereka berdua.” Lantas beliau (ra) mengirim pesan kepada utusan dari Yaman, maka ia membuatkan setelan pakaian yang pantas untuk mereka berdua.[28]

Riwayat ini in syaa Allah masih akan berlanjut pada kesempatan yang akan datang.

Sekarang saya akan menyampaikan riwayat beberapa Almarhum, kemudian setelah shalat Jum’at saya juga akan memimpin shalat jenazah mereka. Di antara mereka yang pertama adalah Suhailah Mahbub Sahibah, istri Almarhum Darwesh, Faiz Ahmad Sahib Gujrati, yang dulu menjabat sebagai Nazir Baitul Mal. Suhailah Sahibah wafat pada usia 90 tahun. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Dengan karunia Allah Ta’ala beliau seorang Mushiah. Beliau berasal dari satu keluarga yang terpelajar di Bihar. Ayahanda beliau bukan Ahmadi, tetapi ibunda beliau setelah ayahnya baiat mempelajari sendiri lalu baiat. Hingga 3-4 tahun (tiga sampai empat tahun) beliau (ibunya Suhailah) sangat menderita karena ketidakpedulian suaminya, namun beliau tetap teguh dalam Jemaat. Suami beliau memang bukan Ahmadi, namun belakangan ia tidak lagi menentang dan perjodohan putri-putrinya pun adalah dengan keluarga-keluarga Ahmadi. Demikian juga perjodohan Suhailah Sahibah pun dengan keluarga Ahmadi.

Pada 1958, ibunda Almarhumah untuk pertama kalinya datang ke Qadian bersama putrinya, Suhailah Mahbub. Suhailah Mahbub Sahibah menuturkan bahwa beliau telah begitu jatuh cinta dengan Desa Qadian dan banyak memanjatkan doa untuk bagaimana caranya bisa tinggal di Qadian. Singkatnya, beliau mewaqafkan diri. Pada saat itu, Nazir Khidmat-e-Darweshan, Hadhrat Mirza Bashir Ahmad Sahib menulis kepada beliau sebagai jawaban surat permohonan waqaf diri beliau, “Saya telah mengetahui waqaf Anda dan langkah Anda ini sangat patut dihargai. Di bawah waqaf, kewajiban pertama Anda adalah, pelajarilah ilmu agama, jadikanlah amalan-amalan Anda sesuai dengan Islam dan Ahmadiyah, sehingga menjadi teladan yang terbaik.” Singkatnya, pada 1964 beliau mewaqafkan diri.

Pada 1964 Almarhumah menikah dengan Choudry Abdullah Sahib Darweish, dari pernikahan ini lahir seorang putri, namun tidak berapa lama mereka bercerai.

Kemudian pernikahan beliau yang kedua adalah dengan Choudry Faiz Ahmad Sahib Gujrati Darwesh. Dari pernikahan ini lahir seorang putra, namun ia wafat ketika masih kecil. Hingga pensiunnya, Almarhumah mendapatkan kesempatan berkhidmat selama kurang lebih 30 tahun di Nusrat Girl High School, Qadian sebagai Kepala Sekolah.

Jenazah yang kedua, Muballigh Jemaat, Raja Khursyid Ahmad Munir Sahib yang wafat pada beberapa waktu yang lalu di Australia. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Almarhum seorang Mushi. Beliau mendapatkan taufik berkhidmat sebagai Muballigh Jemaat di berbagai daerah di Pakistan dan Azad Kashmir untuk jangka waktu yang lama. Seorang Mubaligh Jemaat yang pemberani. Di masa berkhidmat di Azad Kashmir beliau harus menghadapi penentangan yang sangat hebat. Di masa tahun 1974 yang kacau balau, beliau dengan sangat berani menghadapi penentangan.

Hadhrat Khalifatul Masih Ats-Tsalits r.h. dalam suatu pertemuan bersabda mengenai beliau, “Di sana ada satu Muballigh kita yang pemberani.” Beliau (ra) memberikan julukan muballigh pemberani kepada Almarhum. Raja Khursyid Ahmad Munir Sahib juga memberikan satu rumahnya di Rawalpindi kepada Jemaat sebagai hadiah dan di masa Khalifatul Masih Al-Rabi’ r.h., beliau r.h. menerima hadiah dari Almarhum tersebut. Setelah terjadi pemisahan Pakistan dan India, Raja Sahib pindah ke Ahmad Nagar, dari sini beliau melanjutkan pendidikannya di Jamiah Ahmadiyah. Untuk memenuhi biaya hidup, beliau membuka toko di satu kamar yang berukuran kecil.

Kemudian pada 1948 beliau juga ikut serta dalam Batalion Furqan. Pada 1949 beliau lulus ujian Maulwi Fazil dan setelah lulus ujian kelas pertama Syahid Jamiah Ahmadiyah, beliau mengkhidmati agama sebagai Muballigh Jemaat di berbagai tempat di Pakistan dan Kashmir. Pada 1974 rumah beliau diserang, namun beliau melakukan perlawanan dengan sangat berani dan beliau juga terluka akibat lemparan batu dari kumpulan masa, namun semua penghuni rumah selamat.

Beliau selalu memberikan nasihat untuk melangkah dengan teguh dan biasa mengatakan bahwa kepada Jemaat-Jemaat Ilahi biasa datang cobaan-cobaan dan ujian-ujian.. Beliau dengan penuh keberanian melakukan kunjungan ke Jemaat-Jemaat dan pergi ke rumah orang-orang. Dan beberapa kali terjadi pada saat beliau pergi untuk menemui para anggota Jemaat itu, orang-orang menangkap beliau dan memukuli beliau, namun beliau tidak pernah mengeluh. Beliau memiliki 4 putra dan 4 putri. Akhir-akhir ini beliau tinggal di Australia dan wafat di sana.

Jenazah selanjutnya Zamir Ahmad Nadim Sahib, yang wafat pada usia 56 tahun. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Beliau menderita kangker. Ahmadiyah masuk ke dalam keluarga beliau pada tahun 1897 melalui kakek buyut beliau, Rahim Bakhs Sahib, seorang Sahabat Hadhrat Masih Mau’ud a.s dan ketika kakek buyut beliau mendengar bahwa Imam Mahdi sudah datang, maka beliau berangkat dari kampung beliau, Shikarpur Machia, yang terletak di Distrik Gurdaspur menuju Qadian untuk hadir dalam Jalsah dan melakukan baiat. Kemudian beliau memberitahukan kepada seorang kerabatnya yang bernama Mehr Din Sahib, beliau pun berangkat dan baiat. Selanjutnya melalui tabligh beliau, kurang lebih seluruh kampung menjadi Ahmadi.

Zamir Sahib setelah lulus dari Qadian berkhidmat di lapangan untuk beberapa masa di bawah Ishlah-o-Irshad Maqami. Kemudian beliau ditugaskan di Komite Manshubah Bandi, kemudian beliau mendapatkan taufik berkhidmat di bawah Nazarat Ishlah-o-Irshad Markaziyah. Dari 2005 hingga wafat beliau sebagai Mu’awin Nazir Wasiat bagian penerimaan.

Allah Ta’ala menganugerahkan kepada beliau 1 putra dan 1 putri. Putra beliau juga seorang Muballigh Jemaat. Beliau juga mampu menjalin rabtah dengan baik. Beliau pun sangat bagus dalam bermain basket, dikarenakan hal ini terjalin rabtah dan beliau menggunakan serta mengambil manfaat dari hubungan rabtah ini untuk Jemaat. Beliau rajin tahajud, sangat bertawakal kepada Allah Ta’ala, di waktu menghadapi kesulitan beliau biasa segera melaksanakan dua shalat nafal dan menulis surat kepada Khalifah-e-waqt. Dengan karunia Allah Ta’ala mengabulkan doa-doa dan nafal-nafal beliau.

Jenazah selanjutnya, yang terhormat Isa Muki Talimah sahib, dari Tanzania. Beliau wafat beberapa hari yang lalu. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Beliau lahir di keluarga Kristen.

Pada usia 19 tahun dikarenakan lingkungan dalam diri beliau timbul ketertarikan terhadap diskusi keagamaan. Beliau mendapatkan karunia menerima Islam. Beberapa tahun kemudian beliau berkenalan dengan akidah-akidah Jemaat dan setelah melakukan penelitian pada tahun 1992 beliau baiat bergabung ke dalam Ahmadiyah. Setelah baiat dalam diri Almarhum timbul satu perubahan suci yang mana ini juga dirasakan oleh kerabat-kerabat beliau dan dengan melihat perubahan suci beliau ini keluarga beliau pun baiat.

Setelah baiat Almarhum bekerja keras untuk meningkatkan ilmu agama beliau. Di masa bekerja pun beliau tidak melewatkan kesempatan untuk menablighkan Islam Ahmadiyah.

Beliau selalu terdepan dalam pembayaran candah-candah. Beliau sering kali mengungkapkan bahwa dengan berkorban di jalan Allah timbul keberkatan dalam bisnis dan harta. Beliau seorang pebisnis. Beliau seorang yang mudah bergaul, berakhlak baik dan sosok yang rendah hati. Beliau sangat bersikap hormat kepada para waqaf zindegi, pengurus dan karyawan Jemaat. Almarhum seorang Mushi. Beliau meninggalkan 2 orang istri dan 10 orang anak.

Amir dan Missionary in Charge Tanzania menulis, “Almarhum ditetapkan sebagai Amir Daerah Darussalam. Kesederhanaan sangat menonjol dalam karakter beliau yang karenanya begitu melekat di hati orang-orang. Beliau adalah figur yang melakukan pengkhidmatan tanpa banyak bicara.

Kemudian beliau ditetapkan sebagai Naib Amir Tanzania dan beliau melaksanakan tugas pengkhidmatan ini dengan corak yang terbaik. Beliau sosok yang memiliki gagasan-gagasan yang brilian, selalu menjaga wibawa dan kehormatan nizam Jemaat. Beliau selalu menasihatkan kepada para Ahmadi untuk hidup dengan sikap saling toleransi dan mengikatkan diri dengan Khilafat Ahmadiyah.

Beliau juga biasa memperhatikan keperluan-keperluan pribadi para karyawan Jemaat. Beliau selalu berusaha sebisa mungkin untuk memberikan bantuan, bahkan beliau biasa datang ke kantor pada pagi hari dengan mengajak para karyawan di mobil beliau, supaya waktu mereka tidak menjadi sia-sia dengan berangkat menggunakan bis. Beliau menjadikan satu ruangan di rumahnya sebagai shalat center yang di sana shalat-shalat dilaksanakan. Ketika beliau dihimbau untuk membayar Hissa Jaidad, maka beliau memohon penaksiran untuk dua properti beliau yang paling berharga dan membayar Hissa Jaidad-nya.

Jenazah selanjutnya, yang terhormat Mubashir Ahmad Sahib, Supervisor Nazarat Ta’mirat Qadian yang merupakan putra Syekh Israr Ahmad Sahib dari India. Beliau juga wafat beberapa hari yang lalu dikarenakan virus Corona-19. Beliau berusia 33 tahun. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Almarhum adalah Ahmadi keturunan. Keluarga beliau termasuk di antara keluarga lama Ahmadi.

Beliau seorang yang sangat berakhlak baik, rajin shalat dan seorang Khadim Jemaat yang selalu siap untuk mengkhidmati agama. Sedari kecil beliau telah memiliki jalinan yang istimewa dengan mesjid. Sejak delapan tahun lalu Almarhum melakukan pengkhidmatan di Nazamat Ta’mirat Qadian dengan sangat baik. Beliau seorang yang bekerja dengan sangat serius. Beliau melakukan pekerjaannya dengan sangat teliti. Selain istri, beliau meninggalkan kedua orang tua beliau, dua saudara laki-laki dan satu saudara perempuan.

Jenazah selanjutnya adalah yang terhormat Saif Ali Syahid Sahib yang wafat di Sidney. Inna lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Dengan karunia Allah Ta’ala beliau seorang Mushi. Dari pihak ibu beliau adalah keturunan dari sahabat Hadhrat Masih Mau’ud (as), Choudry Muhammad Ali Sahib dan Choudry Gami Khan Sahib, yang mana beliau adalah cucu dan cicit dari mereka.

Kakak beliau, Haidar Ali Zafar Sahib yang sekarang merupakan Mubaligh Jemaat dan Naib Amir Jerman menuturkan, “Pada 1961, beliau setelah menyelesaikan matrik lalu bekerja di Haidarabad. Kemudian setelah itu beliau menanggung biaya pendidikan kami dua bersaudara dan memenuhi biaya hidup kami juga, dan beliau juga mengkhidmati kedua orang tua dengan penuh ketulusan. Beliau seorang yang pandai bergaul, bertutur kata lembut dan sosok yang rendah hati. Beliau menyayangi anak-anak dan memperlakukan para pemuda dengan penuh kecintaan. Beliau memiliki ikatan kecintaan dan ketaatan yang kuat dengan Nizam Jemaat dan Khilafat. Beliau selalu menyampaikan daras mengenai kecintaan dan ketaatan terhadap Khilafat kepada anak-anaknya.

Beliau sangat menghormati para pengurus, beliau tidak tahan apabila mendengar suatu perkataan yang menentang seorang pengurus Jemaat. Beliau sosok yang sangat rajin berdoa. Beliau dawam melaksanakan shalat tahajud dan mengerjakan shalat dengan memperhatikan kualitasnya.

Ketika di Pakistan beliau mendapatkan taufik berkhidmat sebagai Sekretaris Mal dan Sekretaris Waqfi Jadid. Kemudian di Mirpur Khas Hadhrat Khalifatul Masih Al-Rabi’ r.h. menetapkan beliau sebagai Ketua Jemaat dan sampai berdirinya keamiran beliau tetap menjabat sebagai Ketua Jemaat. Setelah kesyahidan Dokter Abdul Manan Shiddiqi sahib beliau mendapatkan taufik berkhidmat sebagai Amir Maqami dan Amir Daerah dan hingga keberangkatan ke Australia beliau tetap menjabat sebagai Amir Daerah Mirpur Khas. Di badan-badan pun beliau cukup banyak mendapatkan taufik melakukan pengkhidmatan. Demikian juga di Australia beliau adalah anggota Qadha Board Australia, Naib Sadr Awwal Ansharullah dan demikian juga sejak 2016 beliau bekerja sebagai Sekretaris Rishtanata di Jemaat. Dua orang putra beliau meninggal semasa hidup beliau dan dengan penuh kesabaran beliau menanggung duka kewafatan mereka. Singkatnya, selain istri, beliau meninggalkan 4 orang putra.

Jenazah selanjutnya, yang terhormat Mas’ud Ahmad Hayat Sahib, Ibnu Rashid Ahmad Hayat Sahib, yang wafat pada usia 80 tahun. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Ahmadiyah masuk ke dalam keluarga beliau melalui kakek beliau, Hadhrat Babu ‘Umar Hayat Sahib bin Choudry Peer Bakhs Sahib. ‘Umar Hayat (ra) pada usia 14 tahun baiat masuk ke dalam Jemaat Ahmadiyah di tahun 1898. Awalnya beliau bekerja di ketentaraan, kemudian beliau pindah ke Kenya. Pada 1967 Mas’ud Hayat Sahib datang ke UK dan kemudian pindah ke sini dari Kenya. Beliau seorang yang sangat sopan dan disiplin dalam puasa dan shalat. Beliau sosok yang berakhlak baik, pandai bergaul, ramah kepada tamu dan penuh kasih sayang. Beliau mendapatkan taufik melakukan ibadah haji sebanyak dua kali.

Terkait:   Riwayat 'Umar bin Khattab ra (Seri 15)

Beliau mendapatkan taufik berkhidmat sebagai pengemudi dan security pada kunjugan-kunjungan Hadhrat Khalifatul Masih Al-Rabi’ r.h. ke berbagai negara.

Pada 1983, ketika mesjid Baitul Ahad dibeli, sebagian besarnya adalah dari beliau dan istri beliau, Almarhumah Tahira Hayat Sahibah. Allah Ta’ala memberikan karunia yang istimewa kepada beliau dari sisi harta dan satu bagian besar dari harta tersebut beliau belanjakan di jalan Allah Ta’ala. Ketika dilakukan pemisahan Jemaat Red Bridge East, Jemaat tersebut tidak mempunyai mesjid. Ketika beliau mengetahui hal ini, maka beliau mewaqafkan satu bagian dari rumahnya untuk Jemaat yang hingga tiga tahun menjadi pusat Jemaat dan berbagai program Jemaat pun di laksanakan di sana. Beliau memiliki dua orang putra. Istri pertama beliau sudah wafat, istri kedua beliau masih ada.

Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan maghfiroh dan rahmat-Nya kepada para Almarhum dan senantiasa menjalinkan anak keturunan mereka dengan Ahmadiyah dan semoga doa-doa mereka untuk keturunan yang akan datang dikabulkan. Sebagaimana yang telah saya sampaikan, setelah shalat saya akan memimpin shalat jenazah.[29]

Khotbah II

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Penerjemah: Mln. Mahmud Ahmad Wardi, Syahid (London-UK), Mln. Hasyim dan Mln. Fazli ‘Umar Faruq.

Editor: Dildaar Ahmad Dartono. Rujukan pembanding: https://www.Islamahmadiyya.net (bahasa Arab)


[1] Tarikh ath-Thabari (تاريخ الرسل والملوك وصله تاريخ الطبري نویسنده : الطبري، ابن جرير جلد : 3 صفحه : 428), pemilihan ‘Umar (ذكر استخلافه عمر بن الخطاب وعقد أبو بكر في مرضته التي توفي فيها لعمر بْن الخطاب عقد الخلافة من بعده).

[2] Al-Kamil Fi Al-Tarikh, Ibnu al-Atsir

[3] Tarikh ath-Thabari (تاريخ الرسل والملوك وصله تاريخ الطبري نویسنده : الطبري، ابن جرير جلد : 3 صفحه : 428), (ذكر استخلافه عمر بن الخطاب وعقد أبو بكر في مرضته التي توفي فيها لعمر بْن الخطاب عقد الخلافة من بعده).

[4] Al-Kamil Fi Al-Tarikh, Ibnu al-Atsir, Vol. 2, pp. 272-272, Dar-ul-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut [2003]). Tarikh ath-Thabari (نام کتاب : تاريخ الطبري تاريخ الرسل والملوك وصله تاريخ الطبري نویسنده : الطبري، ابن جرير جلد : 3 صفحه)

[5] Tarikh ath-Thabari, Vol. 2, p. 353, Dar-ul-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut [1987 (تاریخ الطبری جلد 2 صفحہ 353۔ سنۃ 13ھ، ذکر استخلاف عمر بن الخطاب۔ دار الکتب العلمیۃ بیروت 1987ء)

[6] Tarikh al-Madinah karya Ibnu Syabah (نام کتاب : تاريخ المدينة نویسنده : ابن شبة    جلد : 2  صفحه : 665). Tercantum juga dalam Kitab Manaqib Amiril Mukminin ‘Umar ibn al-Khaththab (مناقب امير المؤمنين عمر بن الخطاب) karya Ibnu al-Jauzi (ابن الجوزى). Tarikh Madinah Dimasyq karya Ibnu Asakir (نام کتاب : تاريخ مدينة دمشق نویسنده : ابن عساكر    جلد : 44  صفحه : 248).

[7] Sirah Umar bin Khaththab karya Ibnu Jauzi, terbitan al-Mishriyah al-Azhar, pp. 44-45. (سیرت عمر بن الخطاب از ابن جوزی صفحہ 44-45 فی ذکر عہد ابی بکرعلی عمر المطبعۃ المصریہ الازہر). tercantum juga dalam Mushannaf Ibni Abi Syaibah (مصنف ابن أبي شيبة) karya Abu Bakr bin Abi Syaibah [أبو بكر بن أبي شيبة], 32040.

[8] Shahih Tarikh ath-Thabari, Penerbit Dar Ibnu Katsir, Damaskus-Suriah, 2007 (صحیح تاریخ الطبری جلد 3 صفحہ 126 حاشیہ۔ ذکر استخلاف عمر بن الخطاب، دارابن کثیر دمشق2007ء). Tercantum juga dalam al-Kitab al-Awaa-il (الأوائل) karya al-‘Askari (العسكري), bab (الباب الرابع فيما روى عن الصحابة والتابعين أول من استخلف من الخلفاء أبو بكر (رضى الله عنه)), bahasan (أول من استخلف من الخلفاء أبو بكر).  Abū Hilāl al-‘Askarī (أبو هلال الحسن بن عبد الله بن سهل بن سعيد بن يحيى بن مهران العسكري) yang meninggal pada tahun ke-395 H/1005 M adalah seorang sarjana Islam. Diantara karyanya adalah Jamharat al-Amthal (Kumpulan Amsal), Kitab as-sinaatain, Diwan al-Maani, Kitāb mā takama bi-hi l-ḫulafā’ ilā l-quḍāt. Tercantum juga dalam al-Iktifa (الاكتفا بما تضمنه من مغازي رسول الله (ص) والثلاثة الخلفا 1-2 ج2) karya Abu ar-Rabi’ Sulaiman bin Musa al-Himyari al-Kala’i (أبي الربيع سليمان بن موسى/الحميري الكلاعي). tercantum juga dalam al-Iqdul Farid (العقد الفريد) karya Ibnu ‘Abdu Rabbihi al-Andalusi (ابن عبد ربه الأندلسي), (الجزء الخامس كتاب العسجدة الثانية في الخلفاء وتواريخهم وأيامهم أبي بكر الصديق رضي الله عنه استخلاف أبي بكر لعمر).

[9] Al-Kaamil fit Tarikh karya Ibnu Atsir, Vol. 2, pp. 273-274, Dar-ul-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut [2003] (الکامل فی التاریخ لابن اثیر جلد 2 صفحہ 273-274 دارالکتب العلمیۃ بیروت لبنان 2003ء). tercantum juga dalam Kitab berjudul Abu Bakr ash-Shiddiq (أبو بكر الصديق أول الخلفاء الراشدين) karya Muhammad Rasyid Ridha (محمد رشيد رضا), bahasan wasiat beliau (وصية أبي بكر).

[10] Ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibnu Sa’d, Vol. 3, p. 143, Dar-ul-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut [1990 (الطبقات الکبریٰ لابن سعد جلد 3 صفحہ 143 دارالکتب العلمیۃ بیروت 1990ء)

[11] Haqaiqul Furqaan, Vol. 1, p. 206 (ماخوذ از حقائق الفرقان جلد اوّل صفحہ206)

[12] Anwar-e-Khilafat, Anwarul ‘Uluum jilid 3, h. 151 (انوار خلافت، انوار العلوم جلد3 صفحہ151)

[13] Apa Perbedaan antara Ashmadi dan bukan Ahmadi?, Ruhani Khazain jilid 20, h. 487 (احمدی اور غیر احمدی میں کیا فرق ہے؟، روحانی خزائن جلد20صفحہ487) The Advent of the Promised Messiah (as), p. 45, Islam International Publications Ltd, UK, 2016.

[14] Ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibnu Sa’d.

[15] Ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibnu Sa’d.

[16] Ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibnu Sa’d, jilid ketiga (المجلد الثالث), bab pemilihan Umar (ذكر استخلاف عمر رحمه الله), nomor 3519.

[17] Ath-Thabaqaat al-Kubra karya Ibnu Sa’d, Vol. 3, p. 208, Dar-ul-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut [1990 (الطبقات الکبریٰ لابن سعد جلد 3 صفحہ 208۔ ذکر استخلاف عمر، دار الکتب العلمیۃ بیروت 1990ء)

[18] Tarikh ath-Thabari, Vol. 2, p. 355, Dar-ul-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut [1987 (تاریخ الطبری جلد 2 صفحہ 355۔ سنۃ 13ھ، دارالکتب العلمیۃ بیروت 1987ء). Ada beberapa penulis yang berjuluk Ath-Thabari, contohnya yaitu Abu Ja’far bin Jarir Ath Thabari (biasa dikenal dengan Ibnu Jarir), dan Muhib Ath Thabari. Abu Ja’far bin Jarir Ath Thabari, dia adalah Muhammad bin Jarir bin Yazid bin Katsir. Lahir 839 M di Thabaristan, tahun wafat 923 M di Baghdad. Imam di bidang fiqih, mujtahid mutlak, bahkan fiqihnya menjadi mazhab sendiri yaitu Jariri, hanya saja mazhab tersebut telah punah. Dia juga imamnya para ahli tafsir, dan sejarawan. Kitab tafsirnya menjadi kitab tafsir tertua dan induk terbesar tafsir, yaitu Jami’ul Bayan yang lebih dikenal dengan: Tafsir Ath Thabari. Karya lainnya yang rata-rata berjilid-jilid: Tarikhul Imam wal Muluk, Tahdzibul Atsar, dll.

Muhibuddin Ath Thabari, dia adalah Abul Abbas, Ahmad bin Abdullah bin Muhammad Ath Thabari, dia lahir 4 abad setelah Ibnu Jarir, yaitu 1218 M di Mekkah, wafat 1295 M juga di Mekkah. Dia imam fiqih mazhab Syafi’i. Di antara karyanya: Khulashah Siyar Sayyid Al Basyar, Ar Riyadh An Nadhrah fil Manaqib Al ‘Asyrah, Dzakhair Al’ Uqba fil Manaqib Dzawil Qurba, dll.

[19] Ar Riyadh An Nadhrah fil Manaqib Al ‘Asyrah karya Muhibuddin Ath Thabari. Tercantum juga dalam Kitab Hayatul Hayawaanil Kubra (كتاب حياة الحيوان الكبرى) karya Ad-Damiri (الدَّمِيري), juz pertama (الجزء الأول), bab hamzah (باب الهمزة), al-Iwaz (الإوز), faidah al-Ajnabiyah (فائدة أجنبية), Khilafah ‘Umar al-Faruq (خلافة عمر الفاروق رضي الله تعالى عنه).

[20] (ازالۃ الخفاء عن خلافۃ الخلفاء مترجم از شاہ ولی اللہ محدث دہلوی جلد 3صفحہ 226تا228مطبوعہ قدیمی کتب خانہ کراچی) Izalatul Khafa ‘an Khilafatil Khulafa, bagian kedua (مقصد دوم), pasal kedua (فصل دوم), bahasan (مآثر فاروق أعظم رضي الله تعالى عنه وأرضاه), jilid 3 halaman 226-228, terbitan Qadimi Kutub Khanah, Karachi, Pakistan. Izalatul Khafa ‘an Khilafatil Khulafa (‘Penghapusan Ambiguitas atau keraguan tentang Khilafah para Khalifah’), sebuah buku otentik karya sarjana Islam Shah Waliullah Muhaddats Dehlawi dalam bahasa Persia dengan penulisan dalil ayat dan Hadits dalam bahasa Arab. Quṭb-ud-Dīn Aḥmad Walīullāh Ibn ʿAbd-ur-Raḥīm Ibn Wajīh-ud-Dīn Ibn Muʿaẓẓam Ibn Manṣūr Al-ʿUmarī Ad-Dehlawī (قطب الدين أحمد ولي الله بن عبد الرحيم العمري الدهلوي) yang hidup pada 1703-1762 dan lebih umum dikenal dengan sebutan Shāh Walīullāh Dehlawī (juga Shah Wali Allah), cendekiawan Muslim, muhaddits, pembaharu, sejarawan, bibliographer (ahli isi buku dan pandai menguraikannya), teolog dan ahli FIlsafat. Shah Waliullah adalah seorang penulis yang produktif dan membahas berbagai mata pelajaran yang berkaitan dengan studi Islam mencakup Tafsir, Hadis, Fiqh, Usul al-fiqh, ‘Aqa’id (keyakinan), Kalam (skolastik dan teologi), filsafat, Tasawwuf (ilmu spiritual), sejarah, biografi, puisi Arab, dan tata bahasa. Shah Waliullah lahir pada 21 Februari 1703. Ia adalah seorang cendekiawan Islam terkemuka Delhi. Dia dikenal sebagai Shah Waliullah karena kesalehannya. Dia hafal Al-Qur’an pada usia tujuh tahun. Segera setelah itu, ia menguasai huruf Arab dan Persia. Ia menikah pada usia empat belas tahun. Pada usia enam belas tahun ia telah menyelesaikan kurikulum standar hukum Hanafi, teologi, geometri, aritmatika dan logika. Ayahnya, Shah Abdul Rahim adalah pendiri Madrasah-i Rahimiyah. Ia menjadi anggota panitia yang ditunjuk oleh Aurangzeb, raja Mughal, untuk penyusunan kitab hukum, Fatawa-e-Alamgiri. Kakeknya, Syekh Wajihuddin, adalah seorang perwira penting dalam pasukan Shah Jahan. Ia memiliki seorang putra yang juga seorang ulama terkenal, Shah Abdul Aziz.

https://fa.wikisource.org/wiki/%D8%A5%D8%B2%D8%A7%D9%84%D8%A9_%D8%A7%D9%84%D8%AE%D9%81%D8%A7%D8%A1_%D8%B9%D9%86_%D8%AE%D9%84%D8%A7%D9%81%D8%A9_%D8%A7%D9%84%D8%AE%D9%84%D9%81%D8%A7%D8%A1/%D9%85%D9%82%D8%B5%D8%AF_%D8%AF%D9%88%D9%85/%D9%81%D8%B5%D9%84_%D8%AF%D9%88%D9%85

[21] al-Ṭabaqāt al-kubrā karya Ibn Saʿd (d. 845 CE) (ابن سعد – الطبقات الكبرى): عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ: لَمَّا حَضَرَتْ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ الْوَفَاةُ قَالَ: بِالإِمَارَةِ تغبطوني؟ فو الله لَوَدِدْتُ أَنِّي أَنْجُوَ كَفَافًا لا عَلَيَّ وَلا لِي . Ibnu Abid Dunya dalam Kitab al-Mutamanniin (كتاب المتمنين لابن أبي الدنيا), (فهرس الكتاب لوددت أني تركت كفافا، لا لي ولا علي): عَنْ عَمْرِو بْنِ مَيْمُونٍ، قَالَ: لَمَّا طُعِنَ عُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، دَخَلَ عَلَيْهِ شَابٌّ، فَقَالَ: أَبْشِرْ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ بِبُشْرَى اللَّهِ، قَدْ كَانَ لَكَ مِنَ الْقِدَمِ فِي الْإِسْلَامِ وَالصُّحْبَةِ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا قَدْ عَلِمْتَ، ثُمَّ اسْتُخْلِفْتَ فَعَدَلْتَ، ثُمَّ الشَّهَادَةُ، فَقَالَ “: يَا ابْنَ أَخِي، لَوَدِدْتُ أَنِّي تُرِكْتُ كَفَافًا، لَا لِي وَلَا عَلَيَّ.

[22] Islam ka Iqtishadi Nizham – The Economic System of Islam, Anwarul ‘Ulum, jilid 18, halaman 11-13 (اسلام کا اقتصادی نظام۔ انوار العلوم جلد 18 صفحہ 11تا 13)

[23] Dunya ka Muhsin, Anwarul ‘Ulum, jilid 10, halaman 262 (دنیا کا محسن۔ انوار العلوم جلد 10 صفحہ 262)

[24] Ainda Wohi Qaumein Izzat Paien Gi Jo Maali O Jaani Qurbaaniyo Mein Hissa Lein Gi – Suatu kaum yang ambil bagian dalam pengorbanan akan mendapatkan kehormatan di masa mendatang, Anwar-ul-Uloom, Vol. 21, pp. 155-156 (ماخوذ از آئندہ وہی قومیں عزت پائیں گی جو مالی و جانی قربانیوں میں حصہ لیں گی۔ انوار العلوم جلد 21 صفحہ 155-156)

[25] ‘Abdullah bin ‘Umar lahir di zaman Makkah sekitar tahun 610 M dan wafat pada 693 M. Ia berusia 13 tahun saat terjadi perang Badr sedangkan Imam Hasan dan Imam Husain (kakak-beradik selisih satu atau dua tahun) lahir di zaman Madinah, yaitu pada tahun antara 624 dan 626. Di zaman Nabi Muhammad (saw), ‘Abdullah bin ‘Umar diizinkan mengikuti perang Khandaq yang berarti saat itu telah berusia 15 tahun atau lebih. Hadhrat ‘Abdullah bin ‘Umar (ra) wafat 60 tahun setelah wafat Nabi Muhammad (saw) yang berarti ia mengalami 30 tahun zaman Khilafat Rasyidah dan beberapa Raja Banu Umayyah (Amir Muawiyah – sekitar 20 tahun, Yazid – sekitar 4 tahun, Muawiyah bin Yazid – setengah tahun, Marwan bin Hakam dan Abdul Malik bin Marwan).

[26] Izalatul Khafa ‘an Khilafatil Khulafa karya Syah WaliyuLlah Muhaddits Dehlawi, jilid 3 halaman 292-293, terbitan Qadimi Kutub Khanah, Karachi, Pakistan (ماخوذ از ازالۃ الخفاء عن خلافۃ الخلفاء مترجم از شاہ ولی اللہ محدث دہلوی جلد 3صفحہ 292-293 مطبوعہ قدیمی کتب خانہ کراچی): أخرج القاضي أبو يوسف في كتاب الخراج . Tercantum juga dalam Farhang Sirat halaman 264 zeewar Academy, Karachi, 2004 (فرہنگ سیرت صفحہ 264 زوار اکیڈیمی کراچی 2004ء). Tercantum juga dalam Kitab al-Mausu’ah al-Kubra ‘an Fathimah az-Zahra (الموسوعة الكبرى عن فاطمة الزهراء) karya Isma’il al-Anshari az-Zanjani (الأنصاري الزنجاني، إسماعيل), (الجزء : 6 صفحة : 152). Riyaadhun Nadhirah (الرياض النضرة في مناقب العشرة المبشرين بالجنة) karya Muhibbuddin ath-Thabari (الطبري، محب الدين), jilid kedua (المجلد الثاني), (تابع القسم الثاني: في مناقب الأفراد) bab kedua tentang keutamaan Amirul Mukminin Abi Hafsh ‘Umar ibn al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu (الباب الثاني: في مناقب أمير المؤمنين أبي حفص عمر بن الخطاب رضي الله عنه), pasal kesembilan (الفصل التاسع: في ذكر نبذة من فضائله -رضي الله تعالى عنه), bahasan (ذكر وقوفه عند كتاب الله, واقتفائه آثار النبوة وإيثاره لها, وكثرة اتباعه للسنة).

[27] Izalatul Khafa ‘an Khilafatil Khulafa karya Syah WaliyuLlah Muhaddits Dehlawi, jilid 3 halaman 241, terbitan Qadimi Kutub Khanah, Karachi, Pakistan. (ماخوذ ازازالۃ الخفاء عن خلافۃ الخلفاء مترجم از شاہ ولی اللہ محدث دہلوی جلد 3صفحہ 241 مطبوعہ قدیمی کتب خانہ کراچی). Kanzul ‘Ummal (كنز العمال), huruf mim, Kitab Jihad, (حرف الجيم كتاب الجهاد من قسم الأفعال باب في أحكام الجهاد الأرزاق والعطايا) nomor 11644. Al-Amali (أمالي المحاملي مجلس آخر حديث رقم 252); Kitab al-Mushannaf (الكتاب المصنف في الأحاديث و الآثار), (كتاب الجهاد), (فيمن يبدأ به في الأعطية).

[28] Al-Bidaayah wan Nihaayah (البداية والنهاية – ابن كثير – ج ٨ – الصفحة ٢٢٦) jilid 4 juz 8, bab fadhl dzikr fi syaiin min fadhailihi halaman 214-215, Darul Kutubil ‘Ilmiyyah, Beirut, 2001. (البدایۃ والنھایۃ جلد 4 جزء 8 باب فضل ذکر فی شیء من فضائلہ صفحہ 214-215دارالکتب العلمیۃ بیروت لبنان2001ء): عن عمرو بن ثابت، عن أبيه، عن أبي فاختة عن علي فذكر نحوه. وقد ثبت أن عمر بن الخطاب كان يكرمهما ويحملهما ويعطيهما كما يعطي أباهما، وجئ مرة بحلل من اليمن فقسمها بين أبناء الصحابة ولم يعطهما منهما شيئا، وقال: ليس فيها شئ يصلح لهما، ثم بعث إلى نائب اليمن فاستعمل لهما حلتين تناسبهما .

[29] Original Urdu transcript published in Al Fazl International, 9 July 2021, pp. 5-9. Translated by The Review of Religions (الفضل انٹرنیشنل 9؍جولائی 2021ء صفحہ 5تا9).

Leave a Reply

Begin typing your search above and press return to search.