Riwayat Abu Bakr Ash-Shiddiiq Ra (Seri 8)

Perang Hamraaul Asad sekembali dari perang Uhud pada tahun ke-3 Hijriyyah dan Penjelasan berdasarkan Kitab-Kitab Sirah dan Tarikh; Peranan Hadhrat Abu Bakr (ra) dan Hadhrat ‘Umar (ra) sebagai pihak yang dimintai musyawarah oleh Nabi (saw).

Pertempuran dengan kaum Yahudi Banu Nadhir yang terjadi di tahun ke-4 Hijriah. Peranan Hadhrat Abu Bakr (ra) dan beberapa Sahabat lainnya. Penjelasan berdasarkan Kitab-Kitab Sirah dan Tarikh mengenai peranan Hadhrat Abu Bakr (ra) yang mendapat tugas memimpin sekelompok pasukan.

Perang Badrul Mau’id yang terjadi di tahun ke-4 Hijriah: Peranan Hadhrat Abu Bakr (ra) dan Hadhrat ‘Umar (ra) yang datang ke hadapan Rasulullah (saw) untuk menyampaikan pendapat.

Hadhrat Mirza Basyir Ahmad (ra) menulis dalam buku Sirat Khataman Nabiyyin tentang Badrul Mau’id.

Perang Banu Mustaliq di tahun ke-5 Hijriah. Peranan Hadhrat Abu Bakr (ra) sebagai pemegang bendera Muhajirin menurut Penjelasan berdasarkan Kitab-Kitab Sirah dan Tarikh.

Riwayat dari Hadhrat ‘Aisyah (ra) dalam Shahih al-Bukhari perihal awal mula tuduhan kepadanya dan beredarnya Haditsul Ifki (kisah kebohongan); tertinggal sendirian dari rombongan dalam perjalanan pulang ke Madinah dan diantar oleh Sahabat Shafwan bin Mu’aththal (ra). Sakitnya Hadhrat ‘Aisyah (ra); perbedaan antara Hadhrat ‘Ali (ra) dan Hadhrat Usamah (ra) ketika dimintai musyawarah oleh Nabi (saw). Hadhrat Usamah (ra) menguatkan kesucian Hadhrat ‘Aisyah (ra). Hadhrat ‘Ali (ra) cenderung agar Hadhrat ‘Aisyah (ra) diceraikan meski menyarankan agar Nabi (saw) bertanya kepada budak perempuan yang senantiasa bersama Hadhrat ‘Aisyah (ra) karena dia akan jujur dan memang dengan jujur menguatkan kesucian Hadhrat ‘Aisyah (ra). Hadhrat Zainab binti Jahsy (ra), istri Nabi (saw) yang lain menguatkan kesucian Hadhrat ‘Aisyah (ra).

Peranan golongan Munafik di bawah pimpinan Abdullah bin Ubay bin Salul dalam membesar-besarkan tuduhan terhadap Hadhrat ‘Aisyah (ra); panasnya suasana antara golongan Aus dan Khazraj yang bertengkar dan hendak bertarung ketika Nabi (saw) meminta bantuan mereka untuk menangani Abdullah bin Ubay bin Salul.

Penjelasan Hadhrat Aqdas Masih Mau’ud ‘alaihish shalaatu was salaam.

Perang Ahzab (perang Khandak atau Parit) yang terjadi pada bulan Syawal, tahun ke-5 Hijriah. Peranan Hadhrat Abu Bakr (ra) dan Hadhrat ‘Umar (ra) yang senantiasa mendampingi Nabi (saw) dalam bergotong royong membangun parit. Peranan Hadhrat Abu Bakr (ra) sebagai pemimpin sekelompok pasukan Muslim.

Hudhur (atba) akan terus menyebutkan lebih lanjut berbagai kejadian dalam masa Hadhrat Abu Bakr radhiyAllahu ta’ala ‘anhu di khotbah-khotbah mendatang.

Shalat jenazah gaib tiga almarhum/ah: [1] yang terhormat Mubarikah Begum Sahibah yang adalah istri Mukhtar Ahmad Gundal Sahib. Beliau wafat pada 11 Januari di usia 93 tahun. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun; [2] Mir Abdul Wahid Sahib wafat pada malam antara 12-13 Januari. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun; [3] yang terhormat Sayyid Waqar Ahmad Sahib yang tinggal di Amerika pada 17 Januari. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun.

Khotbah Jumat Sayyidina Amirul Mu-minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 28 Januari 2022 (28 Sulh 1401 Hijriyah Syamsiyah/ 26 Jumadil Akhir 1443 Hijriyah Qamariyah) di Masjid Mubarak, Islamabad, Tilford, UK (United Kingdom of Britain/Britania Raya).

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم

]بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم* الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يوْم الدِّين * إيَّاكَ نعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ[، آمين .

Sebelumnya disampaikan tentang Hadhrat Abu Bakr (ra), dan sekarang pun masih melanjutkannya. Tentang Perang Hamraaul Asad tertera riwayat sebagai berikut: Rasulullah (saw) kembali dari Uhud di hari Sabtu. Saat fajar hari Ahad (minggu) terbit, Hadhrat Bilal mengumandangkan azan lalu duduk menanti datangnya Nabi yang mulia (saw).

Seketika itu Hadhrat Abdullah Bin Amru Bin Auf al-Muzani (عبد الله بن عمرو بن عوف المزني) datang seraya mencari Nabi yang mulia (saw). Tatkala beliau (saw) tiba, ia berdiri dan mengabarkan kepada beliau (saw) bahwa ia baru datang dari tempat keluarganya. Ketika berada di Malal, saat itu orang-orang Quraisy tengah beristirahat di sana. (Malal adalah nama satu tempat yang berada sejauh 18 mil dari Madinah ke arah Makkah).

Ia mendengar Abu Sufyan berkata kepada segenap temannya, ‘Kamu sekalian tidak melakukan apa-apa. Kalian telah menimpakan kerugian kepada mereka (yakni telah merugikan kaum Muslim), dan telah menyakiti mereka, lalu meninggalkan mereka dan tidak menghancurkannya (di dalamnya masih banyak pemimpin Muslim yang tersisa). Di antara orang-orang Muslim tersebut masih banyak tersisa pemimpin-pemimpin mereka, (orang-orang kafir itu berkata) yang akan bersatu untuk memerangi Anda sekalian. Maka dari itu, kembalilah supaya kita dapat menghabisi semua yang tersisa dari mereka hingga ke akar-akarnya.’

Shafwan bin Umayyah melarang mereka untuk melakukannya. Yakni saat itu ia tengah duduk di tengah kaum kafir dan melarang mereka dengan berkata, ‘Wahai kaumku, janganlah melakukannya, karena mereka itu telah berperang, dan saya khawatir bahwa kelompok mereka yang tidak ikut dalam peperangan pun akan bersatu dengan mereka untuk melawan kalian. Pulanglah karena kalian telah meraih kemenangan, dan saya takut jika kalian kembali, kalian akan mengalami kekalahan.’

Atas keadaan ini Rasulullah (saw) memanggil Hadhrat Abu Bakr dan Hadhrat Umar dan memberi tahu apa yang telah disampaikan Sahabat dari Muzani ini. Keduanya berkata, يا رسول الله، اطلب العدو، ولا يقحمون على الذرية ‘Wahai Rasulullah (saw), bergeraklah menuju musuh, supaya mereka tidak menyerang anak-anak kita.’

Ketika Rasulullah (saw) selesai shalat Subuh, beliau memanggil segenap orang dan bersabda kepada Hadhrat Bilal, أن رسول الله صلى الله عليه وسلم يأمركم بطلب عدوكم، ولا يخرج معنا إلا من شهد القتال بالامس ‘Umumkanlah bahwa Rasulullah memerintahkan Anda semua menghadapi musuh, dan yang akan berangkat adalah mereka yang ikut di pertempuran sebelumnya yakni Perang Uhud.’ Rasulullah (saw) meminta bendera beliau yang sejak hari sebelumnya terlipat dan tidak digunakan. Beliau (saw) menyerahkan bendera itu kepada Hadhrat Ali. Tertera juga bahwa beliau (saw) menyerahkannya kepada Hadhrat Abu Bakr.”[1]

Alhasil, tatkala kafilah ini tiba di Hamraul Asad sejauh 8 mil dari Madinah, kaum musyrik merasakan ketakutan dan mengabaikan keinginan untuk kembali ke Madinah lalu berangkat pulang menuju Makkah.[2]

Pertempuran dengan Banu Nadhir. Ini terjadi di tahun 4 Hijriah.[3] Rasulullah (saw) bersama sejumlah kecil sahabat berkunjung ke Banu Nadhir. Ada berbagai macam riwayat tentang mengapa beliau (saw) berkunjung ke sana. Menurut satu riwayat, beliau (saw) pergi untuk meminta diyat ‘tebusan’ atas terbunuhnya dua orang dari Banu Amir. Saat itu ada 10 sahabat bersama beliau (saw) yang diantaranya yaitu Hadhrat Abu Bakr, Hadhrat Umar, dan juga Hadhrat Ali. Setiba di sana, Rasulullah (saw) menyebut tentang jumlahnya kepada mereka, maka orang-orang Yahudi itu berkata, “Ya, wahai Abul Qasim, makanlah Anda terlebih dahulu lalu sampaikanlah keperluan Anda.”[4]

Saat itu beliau (saw) tengah duduk bersandar di satu dinding lalu orang-orang Yahudi itu membuat suatu rencana jahat; diantara mereka ada yang berkata, “Kamu tidak akan menemui kesempatan yang lebih baik lagi untuk membunuh orang ini (yakni Rasulullah (saw)). Maka siapakah yang mau naik ke atas bangunan ini dan menjatuhkan batu besar ke atasnya, supaya kita pun terbebas darinya?”

Atas hal ini, seorang pemimpin Yahudi, Amr Bin Jihasy mendukungnya dan berkata, “Saya siap untuk tugas ini.”

Namun seketika itu juga Salam bin Misykam, seorang Yahudi lain menentang keinginan tersebut dan berkata, “Jangan sekali-kali melakukan ini!. Demi Tuhan, apapun yang kalian perbincangkan, ia pasti akan mengetahuinya. Ini merusak perjanjian, karena ada perjanjian antara kita dan mereka.”

Ketika orang yang tadi itu tiba di atas, yaitu yang hendak menjatuhkan batu ke atas Rasulullah (saw), maka dari Langit dikabarkan kepada Rasulullah (saw) tentang rencana buruk itu. Allah Ta’ala telah mengingatkan beliau tentang apa yang akan dilakukan oleh orang yYhudi. Beliau segera beranjak dari tempat itu dan meninggalkan para sahabat beliau seolah ada suatu pekerjaan yang ingin beliau laksanakan. Beliau dengan segera kembali ke Madinah. Setiba di Madinah, beliau mengirim Hadhrat Muhammad bin Maslamah ke Banu Nadhir dan memberi pesan kepada mereka agar keluar dari kota beliau yakni keluar dari Madinah. “Anda semua tidak dapat tinggal di kota saya dan rencana yang Anda lakukan adalah bentuk pemberontakan.”

Rasulullah (saw) memberi tenggat waktu 10 hari, namun mereka menolaknya dan berkata, “Kami sama sekali tidak akan meninggalkan negeri kami.”

Atas jawaban ini, kaum Muslim pun bersiap untuk peperangan. Tatkala segenap Muslim telah berkumpul, Rasulullah (saw) bergerak untuk menghadapi Banu Nadhir. Bendera perang dikibarkan oleh Hadhrat Ali. Rasulullah (saw) mengepung benteng mereka sehingga tidak ada bantuan yang datang bagi mereka. Rasulullah (saw) menempatkan pasukan mereka di Banu Nadhir. Kemudian di waktu Isya, Rasul yang mulia (saw) bersama 10 sahabat kembali ke kediaman beliau.

Menurut satu riwayat, Rasulullah (saw) menyerahkan kepemimpinan pasukan Islam kepada Hadhrat Ali (ra). Sementara di riwayat lain, karunia ini diterima oleh Hadhrat Abu Bakr (ra).[5]

Di satu sisi, Rasulullah (saw) mengepung mereka dengan tegas dan Allah Ta’ala melahirkan wibawa  kaum Muslim di dalam hati mereka yakni orang-orang Yahudi, hingga akhirnya mereka pun memohon kepada Rasulullah (saw) agar dapat dikeluarkan dari negerinya dan diampuni nyawanya dengan syarat mereka diperkenankan membawa semua barang kecuali persenjataan, yang dapat diangkut di unta-unta mereka. Rasulullah (saw) menyetujui syarat mereka ini.

Di dalam satu riwayat, beliau mengepung mereka hingga 15 hari, dan di riwayat lain ada perbedaan tentang jumlah hari ini.

Rasulullah (saw) dengan izin dari golongan Ansar, membagikan semua harta ganimah yang didapat dari pertempuran Banu Nadhir kepada para Muhajirin. Maka Hadhrat Abu Bakr bersabda, جزاكم الله يا معشر الأنصار خيرا “Wahai Jemaat Ansar, semoga Allah memberi anugerah terbaik kepada Anda semua.”[6]

Perang Badrul Mau’id. Ini terjadi di tahun 4 Hijriah. Sebab perang ini adalah, ketika Abu Sufyan Bin Harb kembali dari Perang Uhud, ia dengan suara tinggi berkata, “Kita akan bertemu pada tahun selanjutnya di tempat Badrus Safra. Di sana kita akan bertempur.”

Rasulullah (saw) bersabda kepada Hadhrat ‘Umar al-Faruq (ra), قل : نعم ، إن شاء الله “Katakan ‘Ya, Insya Allah’ kepadanya.”

Dengan demikian kedua pasukan saling berpisah. Pasukan Quraisy pulang dan menyampaikan perjanjian ini kepada kaum mereka.[7]

Badr adalah sebuah sumur terkenal yang ada diantara Makkah dan Madinah dan berada di antara lembah Safra dan tempat bernama Jar. Badr terletak sejauh 150 km ke arah barat daya Madinah. Di zaman jahiliyah, setiap tahunnya, pada tanggal 1 Zulqaidah terdapat perayaan besar hingga 8 hari lamanya.

Singkat kata, saat waktu yang dijanjikan itu semakin dekat, Abu Sufyan tidak ingin bergerak menuju Rasulullah (saw). Dirinya mulai diliputi ketakutan. Ia tidak ingin bertemu beliau di waktu yang telah ditentukan itu. (sebelumnya) Abu Sufyan mengungkapkan bahwa ia tengah bersiap menggerakkan suatu pasukan besar untuk menyerang beliau supaya kabar ini pun sampai ke Madinah bahwa ia tengah mengumpulkan satu pasukan besar. Ia pun telah menyebarkan ini hingga ke pelosok Arab supaya timbul ketakutan pada kaum Muslim.

Menurut satu riwayat, Hadhrat Abu Bakr (ra) dan Hadhrat ‘Umar (ra) pun datang ke hadapan Rasul Akram (saw). Mereka menyampaikan, يا رسول الله، إن الله مظهر نبيه ومعز دينه، وقد وعدنا القوم موعدا لا نحب أن نتخلف عنه، فيرون أن هذا جبن، فسر لموعدهم، فو الله إن في ذلك لخيرة “Wahai Rasulullah, Allah Ta’ala pasti akan memenangkan agama-Nya dan akan memberi kemuliaan kepada nabi-Nya (saw). Kita telah berjanji dengan suku kita ‘Quraisy’, dan kita tidak ingin menolaknya karena mereka yakni kaum kafir akan menganggapnya pengecut. Maka kiranya Anda pun berangkat sesuai dengan perjanjian itu. Demi Tuhan, pasti ada kebaikan di dalamnya.”

Mendengar gejolak ini, beliau (saw) sangat gembira. Tatkala Rasulullah (saw) mendengar kabar ini, yaitu persiapan pasukan Abu Sufyan dan lainnya, beliau (saw) mengangkat Hadhrat Abdullah Bin Rawahah sebagai Amir di Madinah yang menggantikan beliau. Menurut satu riwayat lain, yang diangkat sebagai Amir adalah Hadhrat Abdullah bin Abdullah bin Ubay bin Salul.[8]

Kemudian, beliau menyerahkan bendera beliau kepada Hadhrat Ali, dan berangkat menuju Badr bersama segenap Muslim. Ada 1500 Muslimin yang menyertai beliau. Orang-orang Muslim mendapat banyak keuntungan dari jual beli dan perdagangan di perayaan yang berlangsung di Badr. Setelah bermukim 8 hari lamanya, mereka kembali ke Madinah.[9] (Orang-orang Muslim pun menjalankan perdagangan di perayaan itu, dan jika pertempuran terjadi, mereka pun siap. Namun jika tidak terjadi, sekurang-kurangnya mereka telah pergi kesana dan mendapat banyak faidah darinya).

Kemudian tertera tentang terkait tantangan Abu Sufyan di perang Uhud bahwa ia akan kembali bertemu dengan segenap Muslim di tahun selanjutnya, terdapat pembahasan terinci tentang ini, yang disampaikan oleh Hadhrat Mirza Basyir Ahmad Sahib. Beliau menulis, “Setelah perang Uhud, sekembalinya dari medan perang, Abu Sufyan melontarkan tantangan kepada umat Muslim untuk berperang di medan Badr pada tahun depan. RasuluLlah (saw) mengumumkan bahwa beliau menerima tantangan itu. Untuk itu pada tahun berikutnya, pada tahun ke-4 Hijriyah di hari-hari akhir bulan Syawal, RasuluLlah (saw) membawa 1.500 sahabat berangkat dari Madinah dan beliau (saw) menetapkan Abdullah bin Abdullah bin Ubay bin Salul sebagai Amir Madinah dalam ketidakberadaan beliau (saw) di sana. [10]

Di sisi lain, Abu Sufyan bin Harb berangkat dari Makkah dengan membawa 2000 pasukan Quraisy. Namun, meski mendapatkan kemenangan pada perang Uhud dan disertai pasukan yang banyak, hatinya ciut. Walaupun bertekad kuat untuk menghancurkan Islam, ia tidak ingin berhadapan sebelum disediakan sebuah pasukan yang sangat besar. Maka dari itu, ia mengutus seseorang bernama Naim (نعيم بن مسعود الأشجعي) yang berasal dari kabilah netral dan memerintahkannya untuk sebisa mungkin menakut-nakuti umat Muslim dan berdusta supaya umat Muslim mengurungkan niat berperang.

Terkait:   Ramadhan Dan Al-Qur'an

Orang tersebut lalu datang ke Madinah dan mengarang cerita dusta perihal kesiapan dan semangat bangsa Quraisy untuk berperang sehingga menciptakan kegelisahan di Madinah. Akibatnya, beberapa umat Muslim yang bermental lemah merasa ciut untuk ikut berperang. Namun, ketika RasuluLlah (saw) memerintahkan untuk berangkat dan bersabda dalam pidatonya, والذي نفسي بيده لأخرجن وإن لم يخرج معي أحد، فأذهب الله عنهم ما كانوا يجدون ‘Kita telah menerima tantangan kaum Kuffar dan berjanji untuk berangkat sekarang. Karena itu, kita tidak dapat melanggarnya. Jika kalian merasa gentar, sekali pun aku harus berangkat sendiri, aku akan pergi sendiri dan menghadapi musuh sendirian.’

Mendengar pidato RasuluLlah (saw) tersebut, hilanglah rasa takut yang meliputi umat Muslim dan dengan semangat dan tulus ikhlas siap untuk berangkat bersama dengan RasuluLlah (saw). [11]

Walhasil, Hadhrat RasuluLlah (saw) berangkat dari Madinah bersama 1500 sahabat. Abu Sufyan juga berangkat dari Makkah bersama dengan 2000 pasukan. Tetapi, bagaimana kuasa Tuhan, pasukan Muslim tiba di medan Badr menepati janjinya, namun pasukan Quraisy setelah menempuh jarak sekian jauh dan tidak terlalu jauh dari Badr lalu kembali lagi ke Makkah. Kisahnya sebagai berikut: Ketika Abu Sufyan mengetahui upaya Naim gagal untuk menakut-nakuti pasukan Muslim, Abu Sufyan menjadi ciut nyalinya dan memerintahkan pasukannya untuk kembali ke Makkah dengan alasan, ‘Tahun ini telah terjadi paceklik (kekeringan yang parah) sehingga orang-orang menghadapi kesulitan. Maka dari itu, bertempur saat ini tidaklah tepat. Setelah keadaan lebih baik lagi nanti, kita akan menyerang Madinah persiapan yang lebih baik.’ [12]

Namun, pasukan Islam tetap bertahan di medan Badr selama 8 hari lamanya. Sebagaimana biasa pada permulaan bulan Dzul Qadah di sana biasa diadakan keramaian di daerah tersebut. Pada saat itu para sahabat memperoleh banyak keuntungan dari perdagangan pada keramaian tersebut. Diriwayatkan selama 8 hari itu para sahabat menghasilkan keuntungan dua kali lipat dari jumlah modal sebelumnya. Setelah keramaian berakhir dan pasukan Quraisy tidak kunjung datang, RasuluLlah (saw) meninggalkan medan Badr dan pulang ke Madinah. Sedangkan Quraisy setelah sampai di Makkah, mulai melakukan persiapan lagi untuk melancarkan serangan ke Madinah. [13] Peristiwa ini disebut dengan Perang Badrul Mau’id.”[14]

Perang Banu Mustaliq yang terjadi pada bulan Syaban tahun ke-5 Hijriah. Berkenaan dengan perang tersebut diriwayatkan bahwa nama lain perang Banu Mustaliq adalah perang Muraisi. Banu Mustaliq merupakan ranting Khuza’ah. Kabilah tersebut menetap di dekat suatu sumur yang bernama Muraisi. Jarak tempuhnya satu hari dari Far’u.[15] Adapun Far’u berjarak sekitar 96 mil dari Madinah.

Allamah Ibnu Ishaq berpendapat bahwa Perang Banu Mustaliq terjadi pada 6 Hijriah. Sedangkan menurut Musa Bin Uqbah terjadi pada tahun 4 Hijriah. Adapun Waqidi berpendapat terjadi pada bulan Syaban tahun 5 Hijriah. Hadhrat Mirza Bashir Ahmad menuliskan perang tersebut terjadi pada tahun 5 hijriah. Ketika sampai kepada Rasulullah (saw) sebuah berita bahwa Banu Mustaliq berencana untuk menyerang umat Muslim maka Rasulullah (saw) bersama 700 sahabat pada bulan Sya’ban 5 Hijriah melakukan agresi [mendahului penyerangan]. Hadhrat Rasulullah menyerahkan bendera Muhajirin kepada Hadhrat Abu Bakr ra. Menurut Riwayat lain, beliau menyerahkan bendera Muhajirin kepada Hadhrat Ammar Bin Yasir sedangkan bendera Anshar kepada Hadhrat Sa’d Bin Ubadah.[16]

Peristiwa Ifk (tuduhan dusta terhadap Hadhrat ‘Aisyah). Berkenaan dengan ini selengkapnya sebagai berikut, sepulang dari perang Banu Mustaliq, Hadhrat Aisyah Binti Abu Bakr menjadi sasaran fitnah orang-orang Munafik. Dalam sejarah, Peristiwa tersebut dikenal dengan peristiwa Ifk.  Dalam Sahih bukhari terdapat Riwayat dari Hadhrat Aisyah. Meskipun kisah ini telah dijelaskan sebelum ini dalam tema salah seorang sahabat, namun perlu juga untuk disampaikan lagi disini dalam kaitannya dengan Hadhrat Abu Bakr ra.

“Biasanya Rasulullah (saw) apabila hendak keluar untuk melakukan suatu perjalanan, maka beliau mengundi di antara istri-istrinya.” Ini diriwayatkan oleh Hadhrat Aisyah (ra) “Maka, siapa saja di antara mereka yang keluar undiannya, dialah yang berangkat bersama Rasulullah (saw). Lalu beliau mengundi dan nama saya yang keluar sehingga saya ikut bersama beliau.

Kejadian ini sesudah ayat perintah tentang hijab diturunkan. Saya dibawa di dalam haudaj (sekedup atau tandu di atas punggung unta) yang diturunkan langsung bersama dengan tandunya lalu berjalan bersama Rasulullah (saw) hingga kembali dari perang tersebut. Ketika telah dekat dengan Madinah, pada suatu malam beliau (saw) memberi aba-aba agar berangkat. Ketika orang-orang mengumumkan untuk berangkat, saya pun beranjak.

Saat itu saya telah keluar dari tandu melewati para tentara untuk keperluan buang hajat. Ketika telah usai, saya kembali ke rombongan. Karena pergi untuk menunaikan hajat sehingga saya berjalan ke arah lain. Ketika menuju tandu saya meraba dada saya, ternyata kalung saya dari merjan zhifar terputus. Lalu saya kembali lagi untuk mencari kalung saya yang membuat saya terlambat.

Sementara rombongan yang mengawasi unta saya telah datang dan mengangkat tandu saya dan meletakkan tandu itu diatas unta yang biasa saya gunakan untuk safar, padahal tandu itu kosong. Mereka menganggap saya berada dalam tandu itu karena pada masa itu perempuan-perempuan rata-rata ringan, tidak berat, dan tidak banyak daging. Mereka hanya sedikit makan. Maka dari itu, mereka (para pengangkat tandu) tidak curiga dengan tandu yang ringan ketika mereka mengangkat dan membawanya. Di samping itu, usia saya masih sangat belia. Mereka membawa unta dan berjalan. Saya pun menemukan kalung saya setelah para tentara berlalu. Lantas saya datang ke tempat mereka. Ternyata di tempat itu tidak ada orang. Lalu saya bermaksud ke tempat saya tadi di waktu berhenti. Saya beranggapan mereka akan merasa kehilangan diri saya lalu kembali lagi untuk mencari saya.”

“Ketika sedang duduk, kedua mata saya merasakan kantuk yang tak tertahan. Saya pun tertidur. Shafwan bin al-Mu’aththal (صَفْوَانُ بْنُ الْمُعَطَّلِ السُّلَمِيُّ ثُمَّ الذَّكْوَانِيُّ) tertinggal di belakang para tentara yang bertugas mengecek segala sesuatu jika ada yang tertinggal.

Ia melihat hitam-hitam sosok seseorang yang tengah tidur, lantas ia menghampiri saya. Sungguh, ia pernah melihat saya sebelum ayat hijab turun. Ia melihat saya. Ia mengucapkan Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un ketika melihat saya. Mendengar suaranya saya terjaga dari tidur.

Kemudian, ia menderumkan kendaraannya. Ia memijak kaki depan unta, kemudian saya menunggangi unta. Selanjutnya ia menuntun kendaraan yang saya berada di atasnya sehingga kami dapat menyusul para tentara setelah mereka berhenti sejenak di tengah hari. Maka, binasalah orang yang memanfaatkan kejadian ini (menuduh berzina).”

“Orang yang memperbesar tuduhan ini ialah Abdullah bin Ubay bin Salul (عَبْدَ اللَّهِ بْنَ أُبَىٍّ ابْنَ سَلُولَ‏). Kemudian kami sampai ke Madinah. Ketika kami telah sampai di Madinah saya sakit selama sebulan. Sedangkan orang-orang menyebarluaskan ucapan para pembohong. yang membuatku penasaran ketika saya sakit itu bahwa sesungguhnya saya tidak melihat kasih sayang Rasulullah (saw) sebagai mana mestinya yang biasanya saya lihat dari beliau ketika saya sakit. Fitnah itu telah menyebarluas dan kabarnya telah sampai kepada Rasulullah (saw). Saya tidak melihat kasih sayang Rasulullah (saw) sebagaimana mestinya yang biasanya saya lihat dari beliau ketika saya sakit.

Beliau (saw) hanya masuk, lalu mengucap salam dan berkata, ‘Bagaimana keadaanmu?’

Saya tidak tahu sedikit pun mengenai fitnah itu sampai saya menanyakannya kepada orang tua saya. Ketika pada masa-masa penyembuhan lalu saya dan Ummu Misthah pergi ke Manashi (الْمَنَاصِعِ), tempat untuk buang hajat, karena sebelum kami dapat membangun toilet di dekat rumah-rumah, kami biasa keluar malam untuk buang hajat. Pada masa itu orang-orang keluar rumah untuk melakukan buang hajat dan kaum wanita biasa di malam hari melakukannya. Keadaan kami (orang-orang Arab masa Nabi (saw)) melakukan buang hajat seperti orang-orang Arab kuno yakni pergi ke hutan atau keluar rumah untuk buang hajat.

Saya berjalan dengan putri Abu Ruhm, Ummu Misthah. Ummu Misthah terpeleset dengan pakaian wol yang dikenakannya. Serta-merta ia berujar, ‘Celakalah Misthah.’

Lantas saya berkata kepadanya, ‘Alangkah buruknya ucapanmu. Kamu mencela seorang lelaki yang ikut dalam perang Badr.’ Ia berkata, ‘Wahai wanita muda, apakah engkau belum mendengar apa yang telah orang-orang tuduhkan?’ Ia pun menceritakan kepada saya mengenai ucapan para pemfitnah bahwa mereka menuduh saya. Baru saja saya hampir sembuh, setelah mendengar kabar tersebut, saya pun bertambah sakit.”

Ketika saya pulang ke rumah, Rasulullah (saw) datang dan mengucapkan assalamualaikum kepada saya dan bersabda, ‘Bagaimana keadaanmu?’

Saya berkata, ‘Mohon izinkan saya untuk pergi ke rumah orang tua saya.’

Ketika itu saya ingin mengetahui secara pasti berita tersebut dari kedua orang tua saya. Rasulullah (saw) mengizinkan saya datang kepada kedua orang tua saya. Lantas saya bertanya kepada ibuku, ‘Wahai Ibu! Apa yang sedang hangat dibicarakan oleh orang-orang?’ Ibuku menjawab, ‘Wahai putriku! Tidak ada apa-apa, tenang saja. Demi Allah, jarang sekali seorang perempuan cantik yang dicintai suaminya sementara ia (suaminya) mempunyai beberapa madu [istri lainnya] melainkan para madu tersebut sering menyebut-nyebut aibnya.’

Lantas saya berkata, ‘Maha Suci Allah! Berarti orang-orang telah memperbincangkan hal ini.’ Maka, saya menangis pada malam tersebut sampai pagi. Air mata saya tiada henti dan saya tidak tidur sama sekali. Kemudian di pagi hari pun saya masih menangis.”

“Kemudian setelah pagi datang, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memanggil Ali bin Abi Thalib radhiyAllahu ta’ala ‘anhu dan Usamah bin Zaid radhiyAllahu ta’ala ‘anhu ketika wahyu tidak segera turun. Beliau (saw) bertanya kepada keduanya dan meminta pendapat keduanya perihal keputusan apakah saya ditinggalkan (diceraikan) atau tidak.

Usamah (ra) memberi pendapat kepada Rasulullah (saw), ‘Demi Allah! Wahai Rasulullah (saw)! Mereka adalah istri-istri tuan, kami tidak mengetahui apa-apa mengenai mereka selain kebaikannya, kami tidak melihat aib.’

Sedangkan Ali bin Abi Thalib berpendapat, ‘Wahai Rasulullah (saw)! Allah tidak akan memberikan kesempitan kepada tuan. (Tabiat Hadhrat Ali sedikit keras) Perempuan selain Aisyah masih banyak. Jika tuan bertanya kepada seorang budak perempuan, pasti ia akan berkata jujur kepada anda.’

Kemudian Rasulullah (saw) memanggil Barirah (ra). Beliau bertanya, ‘Hai Barirah! Apakah kamu melihat sesuatu yang mencurigakan dalam diri Aisyah?’

Barirah menjawab, ‘Demi Dzat yang telah mengutus engkau dengan kebenaran, saya tidak melihat sesuatu pun pada dirinya yang dianggap cela lebih dari bahwa dia adalah perempuan yang masih belia yang terkadang tertidur membiarkan adonan roti keluarganya sehingga binatang piaraannya datang lalu memakan adonan rotinya.’” Pelayan itu memberikan contoh bahwa tidak ada keburukan dalam Hadhrat Aisyah selain hanya keteledoran yakni suka ketiduran.

“Mendengarkan hal ini, lantas Rasulullah (saw) berdiri di atas mimbar seraya mengeluhkan Abdullah bin Ubay bin Salul karena ia yang telah menyebarkan fitnah ini, ‘Wahai kaum Muslimin! Siapakah yang sudi menangani untuk saya dari tuduhan seorang laki-laki yang telah menyakiti keluarga saya mengenai istri saya? Demi Allah, saya tidak mengetahui tentang keluarga saya kecuali kebaikan. Dan mereka juga menuduh seorang laki-laki (Shafwan) yang sepanjang pengetahuan saya adalah orang baik-baik, ia (Shafwan) tidak datang menemui keluarga saya kecuali bersama saya.’

Selanjutnya Hadhrat Sa’d bin Mu’adz al-Anshari radhiyAllahu ta’ala ‘anhu berdiri lalu berkata, ‘Saya akan membela Anda dan membalaskan untuk Anda, wahai Rasulullah (saw)! Jika ia dari kabilah Aus, akan kami tebas batang lehernya. Jika ia dari kalangan saudara-saudara kami kalangan Khazraj maka apa yang engkau perintahkan kepada kami, pastilah kami melaksanakan perintah Anda.’

Kemudian Sa’d bin Ubadah radhiyAllahu ta’ala ‘anhu berdiri. Ia adalah pemimpin kabilah Khazraj. Ia adalah lelaki yang shalih tetapi ia tersulut emosi demi kehormatan kesukuan. Lalu ia berkata kepada Sa’d bin Mu’adz (ra), ‘Kamu bohong! Demi Allah! Kamu tidak akan membunuhnya dan tidak akan mampu membunuhnya.’

Perdebatan pun mulai. Usaid bin Hudhair radhiyAllahu ta’ala ‘anhu berdiri. Tiga orang pun telah berdiri. Ia berkata kepada Sa’d bin Ubadah (ra), ‘Kamu keliru! Demi Allah. Sungguh kami akan membunuhnya. Kamu ini munafik dan berdebat untuk membela orang-orang munafik.’

Lantas terjadi keributan antara kedua kabilah, yakni Aus dan Khazraj sehingga hampir saja mereka saling berperang padahal Rasulullah (saw) masih di atas mimbar. Kemudian Rasulullah (saw) menenangkan mereka sampai mereka diam dan Rasulullah (saw) sendiri juga terdiam.”

Hadhrat Aisyah (ra) mengatakan sendiri bahwa pada hari itu seluruhnya beliau habiskan dengan menangis. Beliau baru mengetahui isu beredarnya. Namun, pada pokoknya beliau berkata bahwa apa yang sedang terjadi pun telah sedang terjadi tapi beliau berkata, “Pada hari itu seluruhnya saya habiskan dengan menangis. Air mata saya terus menetes tiada henti dan saya tidak tidur sama sekali. Kedua orang tua saya beranggapan tangisan dapat membelah hati saya.”

 “Ketika keduanya sedang duduk di samping saya sedangkan saya sedang menangis, tiba-tiba seorang perempuan dari kalangan Anshar meminta izin kepada saya lalu saya pun memberi izin kepadanya sehingga ia duduk seraya menangis di samping saya. Ketika kami masih dalam keadaan seperti itu, tiba-tiba Rasulullah (saw) masuk kemudian duduk. Hari itu beliau duduk. Sebelumnya itu. Beliau (saw) tidak pernah duduk di samping saya sejak beredarnya isu tersebut. Beliau pun tidak pernah lagi bertanya kabar kepada saya langsung melainkan menanyakan orang lain perihal kabar saya. Dan telah sebulan penuh tidak ada wahyu turun mengenai perkara saya ini. Namun, beliau datang kepada saya dan beliau menunggu apa yang akan Allah Ta’ala kabarkan mengenai perkara itu.

Terkait:   Riwayat Abu Bakr Ash-Shiddiiq Ra (Seri 21)

Lantas Rasulullah (saw) membaca tasyahhud (Syahadat) lalu berkata kepada saya, ‘Amma ba’du, hai Aisyah! Sungguh, telah sampai kepada saya isu demikian dan demikian mengenai dirimu. Jika engkau memang bersih dari tuduhan tersebut, pastilah Allah Ta’ala akan membebaskanmu. Dan jika engkau melakukan dosa, maka memohonlah ampun kepada Allah Ta’ala dan bertaubatlah kepada-Nya, karena sesungguhnya seorang hamba yang mau mengakui dosanya dan bertaubat maka Allah Ta’ala akan menerima taubat-Nya.”

“Tatkala Rasulullah (saw) telah selesai menyampaikan sabdanya ini, maka derai air mata saya mulai menyusut, sehingga saya tidak merasakan satu tetes pun. Lalu saya berkata kepada ayah saya, ‘Tolong sampaikan jawaban kepada Rasulullah (saw) atas nama saya!’

Ia menjawab, ‘Demi Allah, saya tidak tahu apa yang harus saya sampaikan kepada Rasulullah (saw).’ Selanjutnya saya berkata kepada ibu, ‘Tolong sampaikan jawaban kepada Rasulullah (saw) atas nama!’ Ia menjawab, ‘Demi Allah, saya juga tidak tahu apa yang harus saya sampaikan kepada Rasulullah (saw).’

Lalu saya berkata, ‘Saya adalah seorang perempuan yang masih belia, tidak mengetahui banyak mengenai Al-Quran. Demi Allah, saya tahu anda semua telah mendengar yang orang-orang perbincangkan ini yang mana merupakan tuduhan amat kotor bagi saya; dan anda simpan hal itu di dalam hati. Anda semua menganggap mungkin tuduhan ini tidak benar dan Anda beranggapan hal itu perlu diluruskan. Namun, Anda semua menganggap mungkin tuduhan ini benar.

Maka dari itu, jika saya katakan kepada anda bahwa saya bersih dari tuduhan tersebut dan saya tidak melakukan apa-apa yang dituduhkan serta Allah Maha Mengetahui bahwa saya bersih dari tuduhan tersebut, mungkin anda tidak mempercayai kebenaran ucapan saya. Sebab, berita itu telah demikian tersebar luas dan orang-orang telah banyak yang membicarakannya bahwa saya telah tidak benar. Tetapi, jika saya mengakui di hadapan Anda sekalian sesuatu yang Allah Ta’ala mengetahui bahwa saya terbebas darinya dan saya tidak melakukan tindakan salah apa-apa, malah anda sungguh-sungguh mempercayai pernyataan seperti itu.

Demi Allah, saya tidak menjumpai pada diri saya dan diri anda suatu perumpamaan selain sebagaimana yang dikatakan oleh Hadhrat Yaqub (ayah Nabi Yusuf Alaihis Salaam) kepada saudara-saudara Hadhrat Yusuf, فَصَبْرٌ جَمِيلٌ وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَى مَا تَصِفُونَ fa-shabrun jamiilun waLlahul musta’aanu ‘ala maa tashifuun’ – ‘Maka hanya sabar itulah yang terbaik (bagi saya). Dan kepada Allah saja saya memohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.’ (QS. Yusuf, 12:19) Saya pun membaca ayat itu. Kemudian, saya berpaling ke suatu arah lain dan saya berbaring di tempat tidur saya. Saya berharap Allah akan membebaskan saya.’”

“Tetapi, demi Allah, saya tidak pernah menyangka akan Allah turunkan suatu wahyu untuk membebaskan saya. Sungguh persoalan saya ini terlalu remeh untuk difirmankan oleh Allah dan dijelaskan di dalam Al-Qur’an. Sebenarnya yang saya harapkan ialah Rasulullah (saw) bermimpi di dalam tidurnya yang di dalam mimpi tersebut Allah Ta’ala membebaskan saya dari tuduhan tersebut.”

Hadhrat Aisyah (ra) melanjutkan, “Demi Allah, Rasulullah (saw) belum sempat beranjak dari tempat duduknya dan belum ada seorang pun dari anggota keluarga saya yang keluar sehingga Allah Ta’ala menurunkan wahyu kepada Nabi-Nya. Nabi (saw) merasa berat ketika menerima wahyu sampai-sampai beliau bercucuran keringat bagaikan mutiara padahal hari itu sedang dingin. Hal ini lantaran beratnya wahyu yang diturunkan kepada beliau.”

Kontan, kesusahan telah lenyap dari hati Rasulullah (saw). Beliau tersenyum bahagia. Kalimat yang kali pertama beliau katakan ialah, ‘Aisyah bersyukurlah karena Allah Ta’ala telah membebaskan engkau.’ Kemudian, ibu saya berkata, ‘Bangun dan pergilah kepada Rasulullah (saw).’ Saya berkata, ‘Demi Allah, saya tidak akan bangun dan pergi kepada Nabi (saw). Saya tidak akan memuji kecuali hanya kepada Allah. Dialah Yang telah menurunkan wahyu ini, إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالْإِفْكِ عُصْبَةٌ مِّنكُمْ ۚ لَا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَّكُم ۖ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُم مَّا اكْتَسَبَ مِنَ الْإِثْمِ ۚ وَالَّذِي تَوَلَّىٰ كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ  “Orang-orang yang melontarkan fitnah adalah sekelompok dari antara kalian…”’ (QS. An-Nur, 24: 12)

“Ketika Allah Ta’ala telah menurunkan ayat ini yang menjelaskan tentang kebebasan saya, Abu Bakr (ra) –beliau adalah orang yang memberikan nafkah kepada Misthah bin Utsatsah (ra) karena masih ada hubungan kerabat dan karena ia orang fakir- berkata, ‘Demi Allah, saya tidak akan memberi nafkah kepadanya lagi untuk selamanya setelah apa yang ia katakan kepada Aisyah.’

Kemudian Allah Ta’ala menurunkan ayat berikut: وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنكُمْ وَالسَّعَةِ أَن يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ “Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nur, 24: 23)

“Lantas Abu Bakr (أَبُو بَكْرٍ الصِّدِّيقُ(ra) berkata, بَلَى وَاللَّهِ إِنِّي لأُحِبُّ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لِي ‘Baiklah. Demi Allah, sungguh saya suka bila Allah Ta’ala mengampuni saya.’ Kemudian beliau kembali memberi nafkah kepada Misthah yang memang sejak dahulu ia selalu memberinya nafkah.

Aisyah (ra) melanjutkan, ‘Rasulullah (saw) bertanya kepada Zainab binti Jahsy (ra), istri Nabi (saw) mengenai persoalan saya. Beliau berkata, مَاذَا عَلِمْتِ أَوْ رَأَيْتِ ‘Wahai Zainab, apa yang kamu ketahui atau yang kamu lihat?’

Ia menjawab, يَا رَسُولَ اللَّهِ أَحْمِي سَمْعِي وَبَصَرِي وَاللَّهِ مَا عَلِمْتُ إِلَّا خَيْرًا  ‘Wahai Rasulullah (saw)! Saya menjaga pendengaran dan penglihatan saya. Demi Allah, yang saya tahu dia hanyalah baik.’ Aisyah (ra) mengatakan,وَهِيَ الَّتِي كَانَتْ تُسَامِينِي مِنْ أَزْوَاجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَصَمَهَا اللَّهُ بِالْوَرَعِ ‘Dialah di antara istri-istri Nabi (saw) yang menyamai saya, tetapi Allah Ta’ala melindunginya dengan sifat wara’.”[17]

Hadhrat Aqdas Masih Mau’ud ‘alaihish shalaatu was salaam bersabda, “Allah Ta’ala memasukkan hal berikut sebagai akhlak-Nya bahwa dengan manusia bertaubat, istighfar dan sedekah, Dia akan menangkal nubuatan yang bersifat peringatan (ancaman). Demikian pula, Dia mengajarkan akhlak tersebut kepada insan. Sebagaimana terbukti dari Al Quran dan Hadits bahwa fitnah yang dilontarkan oleh orang-orang munafik berkenaan dengan Hadhrat Aisyah (ra) didasari dengan kejahatan semata, bahkan beberapa sahabat yang sederhana pun ikut terlibat dalam menyebarkannya. Diantaranya, ada seorang sahabat yang biasa memakan roti dua kali sehari di rumah Hadhrat Abu Bakr. Disebabkan keterlibatan sang sahabat dalam kesalahan tersebut sehingga Hadhrat Abu Bakr bersumpah dan berjanji dalam corak peringatan dengan mengatakan, ‘Sebagai hukuman atas ulah buruknya ini saya tidak akan pernah memberikan roti lagi kepada sahabat tersebut.’ Atas hal itu turunlah ayat.”

Kemudian, Hadhrat Abu Bakr menggugurkan janjinya dan mulai memberikan roti lagi seperti biasa. Hadhrat Masih Mauud (as) bersabda, “Berdasarkan itulah, termasuk akhlak Islam yaitu jika seseorang menyampaikan janji yang bercorak peringatan (ancaman) lalu mematahkannya (membatalkannya) maka itu termasuk akhlak yang baik. Misalnya jika seseorang memberikan peringatan kepada pelayannya dengan bersumpah bahwa ia akan menghukumnya dengan 50 kali pukulan, namun jika ia mematahkan peringatan itu disertai taubat dan tadharru lalu memaafkannya maka itu termasuk Sunnah Islami sehingga dengan begitu menjadi implementasi dari تَخَلَّقُوا بِأَخْلاَقِ اللهِ ‘Takhallaqu biakhlaaqiLlah’ (berakhlaklah dengan akhlak Allah).[18] Namun melanggar janji tidaklah jaiz. Jika melanggar janji, seseorang harus bertanggung jawab, lain halnya dengan mematahkan atau melanggar wa’id (janji bersifat peringatan atau ancaman).”[19]

Bagaimanapun juga, sekarang kisah berkenaan dengan perang Ahzab yang terjadi pada bulan Syawal, tahun ke-5 Hijriah. Ini adalah pertempuran besar ketiga antara Quraisy Makkah dengan Kaum Muslimin yang juga disebut dengan perang Khandaq. Perang ini terjadi pada bulan Syawal, tahun ke-5 Hijriah. Dikarenakan orang-orang Quraisy, orang-orang Yahudi Khaibar dan banyak golongan lainnya berkomplot lalu menyerang Madinah sehingga nama Ahzaab (golongan-golongan atau kelompok demi kelompok) yang disebutkan dalam Al-Qur’an juga dikaitkan dengan pertempuran ini, yakni perang Ahzab.

Ketika Rasulullah (saw) mengusir kabilah Banu Nadhir, mereka pindah ke Khaibar. Beberapa orang terpandang dan terhormat mereka berangkat ke Makkah. Mereka mengumpulkan orang-orang Quraisy dan menghasut mereka untuk melawan Rasulullah (saw). Mereka melakukan perjanjian dengan orang-orang Quraisy dan semuanya sepakat untuk berperang melawan Rasulullah (saw) dan mereka menjanjikan satu waktu untuk itu.

Setelah mendatangi orang-orang Quraisy, orang-orang Banu Nadhir tersebut pergi ke Kabilah Ghathafan dan Salim, dan melakukan perjanjian semacam ini juga dengan mereka. Kemudian mereka beranjak pergi dari kabilah-kabilah tersebut.

Orang-orang Quraisy telah siap. Mereka mengumpulkan berbagai kabilah dan orang-orang Arab yang merupakan sekutu mereka, maka terkumpullah 4.000 pasukan. Abu Sufyan bin Harb menjadi pemimpin mereka. Di perjalanan, orang-orang dari kabilah lainnya pun bergabung dengan laskar ini. Dengan demikian total jumlah laskar ini menjadi 10.000 orang.

Kabar mengenai keberangkatan mereka dari Makkah ini sampai kepada Rasulullah (saw). Maka beliau (saw) memanggil para sahabat. Beliau (saw) menyampaikan kabar mengenai musuh kepada para sahabat dan meminta masukkan mereka mengenai hal ini. Atas hal itu, Hadhrat Salman Farsi (ra) memberikan usulan untuk membuat parit yang mana usulan ini disukai oleh kaum Muslimin.

Di zaman Nabi (saw), sisi utara kota Madinah terbuka. Sedangkan ketiga sisi lainnya merupakan perumahan dan kebun kurma yang tidak bisa dilewati oleh musuh. Oleh karena itu, diambil keputusan untuk mempertahankan kota dengan menggali parit pada sisi yang terbuka.

Rasulullah (saw) bersama 3000 orang Islam mulai menggali parit. Hadhrat Rasulullah (saw) bekerja menggali parit bersama orang-orang Islam lainnya supaya semangat orang-orang Islam meningkat. Total dalam waktu 6 hari parit ini telah digali. Panjang parit ini sejauh 6000 yard, atau sekitar 3,5 mil.

Hadhrat Abu Bakr (ra) selalu menyertai Hadhrat Rasulullah (saw). Pada saat penggalian parit, Hadhrat Abu Bakr (ra) mengangkut tanah dengan pakaian beliau dan beliau juga bekerjasama dengan para sahabat lainnya untuk menggali parit supaya pekerjaan penggalian parit ini bisa selesai secepatnya dalam waktu yang telah ditentukan. Tidak ada satu pun orang Islam yang tertinggal dalam penggalian parit ini. Ketika Hadhrat Abu Bakr (ra) dan Hadhrat Umar (ra) tidak mendapatkan keranjang, maka mereka dengan segera memindahkan tanah dengan menggunakan pakaian mereka dan keduanya tidak pernah terpisah satu sama lain dalam suatu pekerjaan maupun perjalanan apa pun.

Rasulullah (saw) begitu bekerja keras dalam penggalian parit. Terkadang beliau (saw) menggunakan cangkul, terkadang mengumpulkan tanah dengan sekop dan terkadang mengangkut tanah dengan keranjang. Suatu hari beliau (saw) merasa sangat kelelahan, maka beliau (saw) duduk. Kemudian beliau (saw) bersandar pada batu di sisi kiri beliau (saw) lalu tertidur. Maka Hadhrat Abu Bakr (ra) dan Hadhrat Umar (ra) berdiri di samping beliau (saw) dan mencegah orang-orang lewat di dekat beliau (saw) supaya jangan sampai mereka membuat beliau (saw) terbangun.[20]

Ketika Quraisy dan 10.000 laskar pendukungnya mengepung kaum Muslimin Madinah, pada masa pengepungan itu Hadhrat Abu Bakr (ra) memimpin satu bagian laskar kaum Muslimin. Di kemudian hari, pada tempat di mana Hadhrat Abu Bakr (ra) memimpin tersebut didirikan sebuah masjid yang dinamakan Masjid Shiddiiq.

Riwayat ini masih akan berlanjut pada kesempatan yang akan datang.

Sekarang, saya ingin menyampaikan riwayat beberapa Almarhum. Di antaranya, yang pertama adalah yang terhormat Mubarikah Begum Sahibah yang adalah istri Mukhtar Ahmad Gundal Sahib. Beliau wafat pada 11 Januari di usia 93 tahun. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Beliau adalah menantu dariChoudry Ghulam Muhammad Gundal Sahib. Beliau sangat gemar melakukan pengkhidmatan Jemaat. Beliau menjabat sebagai Sadr Lajnah di kampung beliau, Chak 99 Shumali. Beliau seorang wanita yang disiplin dalam puasa dan salat, menyantuni orang miskin dan mukhlis. Sepanjang hidupnya beliau mendapatkan taufik untuk mengajarkan Al-Qur’an kepada anak-anak dan orang dewasa. Almarhumah adalah seorang Mushiyah. Beliau meninggalkan 5 putra dan 3 putri. Iftikhar Ahmad Gundal Sahib, Mubaligh Jemaat Sierra Leone adalah putra beliau dan beliau adalah nenek dari Mubaligh Jemaat, Fawad Ahmad Sahib. Selain itu, dalam keluarga beliau, cucu-cucu beliau masih banyak lagi yang menjadi mubaligh dan Waqafin Zindegi. Semoga Allah Ta’ala memberikan maghfiroh dan rahmat kepada Almarhumah dan mengabulkan doa-doa beliau bagi anak keturunan beliau.

Jenazah kedua, Mir Abdul Wahid Sahib wafat pada malam antara 12-13 Januari. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Beliau berusia 58 tahun. Ahmadiyah masuk dalam keluarga beliau melalui kakek buyut beliau, Mir Ahmad Din Sahib yang menerima Ahmadiyah pada 1911 di masa Hadhrat Khalifatul Masih Awwal (ra) Beliau satu-satunya Ahmadi di keluarganya. Demikian juga dari pihak ibu, Ahmadiyah masuk melalui kakek beliau, Hadhrat Syekh Allah Bakhs Sahib dari Bannu. Kakek dari pihak ayah Abdul Wahid Sahib bernama Abdul Karim Sahib. Beliau sangat gemar bertabligh, oleh karena itu kakek beliau tersebut di Peshawar dikenal dengan Nama Maulwi Abdul Karim. Beliau banyak melakukan kajian pribadi di perpustakaan yang beliau buat. Pada 1974, ketika delegasi Jemaat di bawah kepemimpinan Hadhrat Khalifatul Masih Ats-Tsalits r.h tampil di parlemen, mereka  memerlukan beberapa buku langka yang kemudian didapatkan dari perpustakaan beliau. Hal ini diceritakan oleh saudari ipar beliau. Pada 9 September 2020, diajukan gugatan terhadap keluarga Mir Abdul Wahid di bawah pasal 295c atas tuduhan penistaan kenabian. Para ulama dan masyarakat umum mengepung rumah beliau, namun polisi dengan suatu cara mengeluarkan beliau beserta keluarga dari sana dan mengantarkan mereka ke Rawalpindi. Setelah beberapa hari, polisi melakukan penggerebekan dan menangkap putra beliau, Abdul Majid Sahib dari rumah beliau di Rawalpindi. Allah Ta’ala menganugerahkan kepada Mir Abdul Wahid Sahib 2 putra dan 1 putri. Salah seorang putra beliau, yang baru saja disebutkan, Abdul Majid Sahib hingga sekarang masih dipenjara di jalan Allah Ta’ala. Ketika ayahanda beliau wafat, beliau tidak bisa hadir. Semoga Allah Ta’ala memberikan maghfiroh kepada Almarhum dan memberikan kesabaran dan ketabahan kepada keluarga yang ditinggalkan dan putra beliau yang sedang ditahan, yang berusia sekitar 20 tahun, semoga Allah Ta’ala segera menciptakan sarana kebebasan bagi beliau.

Terkait:   Manusia-Manusia Istimewa seri 89 - Hadhrat Abu Ubaidah bin al-Jarrah (ra)

Jenazah yang ketiga, yang terhormat Sayyid Waqar Ahmad Sahib yang tinggal di Amerika. Pada 17 Januari beliau wafat di usia 58 tahun disebabkan serangan jantung. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Istri beliau adalah cicit dari Hadhrat Mirza Bashir Ahmad Sahib dan cicit dari Hadhrat Mirza Sharif Ahmad Sahib. Dari sisi ini, beliau termasuk khandan Hadhrat Masih Mau’ud a.s. Almarhum menikah dengan wanita dari keluarga ini.

Istri beliau, Shaziah Khan menuturkan, “Hadhrat Khalifatul Masih Al-Rabi’ r.h. memerintahkan saya berdoa untuk perjodohan saya dan setelah berdoa saya menyetujui perjodohan tersebut. Maka Hadhrat Khalifatul Masih Al-Rabi’ r.h. merestui perjodohan ini, yakni beliau r.h. melangsungkan perjodohan ini. Beliau menuturkan, “Selama 33 tahun pernikahan, Waqar Sahib telah membimbing saya. Beliau memperhatikan segala keperluan dan keinginan saya. Sosok ayah yang tiada tara. Beliau tidak pernah melakukan sesuatu untuk diri beliau pribadi dan merupakan sosok yang sederhana. Beliau tidak memiliki keinginan pribadi dan jika pun ada, maka beliau mengorbankannya untuk keluarga.”

Beliau menuturkan, “Hari terindah bagi saya adalah ketika beliau mengatakan kepada seseorang dengan bangga bahwa saya biasa pergi ke masjid dan mengulangi janji saya dan bagi saya tidak ada sesuatu yang lebih penting daripada memenuhi janji ini. Saya bisa mengorbankan segala sesuatu untuk janji ini.” Dan ini bukan sekedar kata-kata belaka, melainkan saya menyaksikannya. Saya mengetahui bahwa ketika ujian berat menimpa beliau, maka beliau memperhatikan janji ini. janji yang telah dan selalu beliau tunaikan ini, beliau telah memenuhinya dan beliau tidak mempedulikan suatu hubungan lainnya. Beliau tidak pernah melangkah keluar dari ketaatan kepada Khilafat. Hal yang beliau tidak pahami sekalipun, beliau tetap menaatinya dan mengatakan bahwa, “Tugas kita adalah taat”. Beliau seseorang yang senantiasa bersyukur dan selalu menasihatkan ini kepada saya setiap waktu. Beliau tidak pernah lalai dalam pengorbanan harta.

Putra beliau, yang tercinta Sayyid Adil Ahmad yang saat ini menjadi Mubaligh, beliau menyelesaikan syahid di Jamiah Ahmadiyah Kanada, beliau menuturkan bahwa dengan karunia Allah Ta’ala ayahanda saya adalah seorang yang sederhana dan mukhlis. Beliau tidak pernah merisaukan dirinya sendiri dan selalu memperhatikan kebutuhan-kebutuhan putra-putra beliau dan ibunda. Beliau tidak pernah membeli sesuatu yang bagus untuk diri beliau, bahkan beberapa kali harus diingatkan untuk membelanjakan bagi keperluan diri beliau sendiri. Beliau sangat menghormati para mubaligh dan nizam Jemaat. Mertua beliau, Mahmud Ahmad Khan Sahib yang merupakan cucu dari Hadhrat Mirza Bashir Ahmad Sahib dan cucu dari Hadhrat Nawwab Mubarikan Begum Sahibah menulis bahwa, “Waqar, – yakni menantu beliau – adalah sosok yang sangat berakhlak baik dan menghormati tamu.” Beliau menuturkan, “Saya tidak pernah melihat kening beliau mengerut. Apa pun yang diinginkan tamu dan berapa pun banyaknya tamu yang datang dan apapun yang terjadi, beliau tidak pernah risau.” Kemudian menuturkan, “Saya ingat, beliau sering menegur putranya, ‘Adil atas kecerobohannya di masa kecil, namun ketika ‘Adil mewaqafkan diri, maka kemudian sikap Waqar terhadapnya sama sekali berubah dan anak ini menjadi yang paling dekat di antara yang lainnya dan ia sangat menghormatinya.”

Munir Ahmad Sahib, Sabiq Amir Jemaat Abu Dhabi menulis, “Ketika Waqar Sahib bekerja di Abu Dhabi, terjalin hubungan dengan keluarga beliau. Beliau seorang profesional. Beliau bekerja di Bank. Kesederhanaan dan kerendahan hati menjadi sifat khas beliau. Beliau memiliki jalinan yang kuat dengan Jemaat dan Nizam. Beliau memiliki semangat kecintaan dan ketaatan yang tinggi terhadap Khilafat. Beliau menuturkan, “Hingga beliau pindah ke Amerika, beliau dengan senang hati mempersilahkan tempat tinggalnya untuk keperluan-keperluan Jemaat, seperti shalat Jumat dan pertemuan-pertemuan lainnya. Beliau juga mendapatkan taufik berkhidmat sebagai Internal Auditor Jemaat.

Demikian juga, Sayyid Hasyim Akbar menulis, “Saya bekerja bersama beliau dan selalu mendapati beliau sebagai sosok yang rendah hati dan memiliki semangat pengkhidmatan yang tinggi terhadap makhluk. Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan maghfiroh dan rahmat kepada beliau dan memberikan taufik kepada anak keturunan beliau untu melakukan kebaikan-kebaikan dan mengabulkan doa-doa beliau untuk anak keturunan beliau. Saya akan menyalatkan jenazah para Almarhum setelah shalat-shalat. Insya Allah.[21]

Khotbah II

الْحَمْدُ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا –

مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ –

وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ –

 عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ!

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ –

أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ


[1] ath-Thabaqaat al-Kubra (الطبقات الكبرى) karya (محمد بن سعد بن منيع أبو عبدالله البصري الزهري), (غزوة رسول الله، صلى الله عليه وسلم، حمراء الأسد): ودعا رسول الله، صلى الله عليه وسلم، بلوائه وهو معقود لم يحل فدفعه إلى علي بن أبي طالب، ويقال إلى أبي بكر الصديق، رضي الله عنهما . as-Sirah al-Halbiyah (السيرة الحلبية/غزوة حمراء الأسد) karya (علي بن برهان الدين الحلبي): ودعا رسول الله ﷺ بلوائه وهو معقود لم يحل، فدفعه لعلي بن أبي طالب كرم الله وجهه، ويقال لأبي بكر الصديق رضي الله عنه واستخلف على المدينة ابن أم. مكتوم . (عيون الأثر – ج٢ – ابن سيد الناس)

[2] Subulul Huda h. 308-311 (نام کتاب : سبل الهدى والرشاد نویسنده : الصالحي الشامي    جلد : 4  صفحه : 308)

[3] Ath-Thabaqaat al-Kubra (الطبقات الكبرى – محمد بن سعد – ج ٢ – الصفحة ٥٧): ثم غزوة رسول الله صلى الله عليه وسلم بني النضير في شهر ربيع الأول سنة أربع على رأس سبعة وثلاثين شهرا من مهاجره وكانت منازل بني النضير بناحية الغرس وما والاها مقبرة بني خطمة اليوم فكانوا حلفاء لبني عامر .

[4] (الدرر في اختصار المغازي والسير) karya Ibnu ‘Abdil Barr (ابن عبد البر), (غزوة بني النضير): وكان سبب غزوة بني النضير أن رسول الله صلى الله عليه وسلم لما قال لعمرو بن أمية: لقد قتلت قتيلين لأدينهما خرج إلى بني النضير مستعيناً بهم في دية ذينك القتيلين. فلما كلمهم قالوا: نعم يا أبا القاسم أجلس حتى تطعم وترجع بحاجتك فنقوم ونتشاور ونصلح أمرنا فيما جئتنا له. فقعد رسول الله صلى الله عليه وسلم مع أبي بكر وعمر وعلي ونفر من الأنصار إلى جدار من جدرهم .

[5] As-Sirah al-Halbiyah (السيرة الحلبية = إنسان العيون في سيرة الأمين المأمون), ghazwah Bani an-Nadhir (غزوة بني النضير): قال: ولما جاء وقت العشاء رجع رسول الله صلى الله عليه وسلم إلى بيته في عشرة من أصحابه عليه الدرع وهو على فرس، واستعمل على العسكر علي بن أبي طالب ويقال أبا بكر وبات المسلمون يحاصرونهم ويكبرون حتى أصبحوا .
Subulul Huda (
سبل الهدى والرشاد، في سيرة خير العباد، وذكر فضائله وأعلام نبوته وأفعاله وأحواله في المبدأ والمعاد) karya (محمد بن يوسف الصالحي الشامي);    (تاريخ الخميس في أحوال أنفس النفيس); (الجزء الاول من تاريخ الخميس فى أحوال أنفس نفيس  ), (الموطن الرابع فى حوادث السنة الرابعة من الهجرة  غزوة بنى النضير)

(الدِّيار بَكْري): وفى المدارك مشى المسلمون اليهم على أرجلهم لانه على ميلين من المدينة وكان رسول الله صلّى الله عليه وسلم على حمار فحسب وعلىّ رضى الله عنه يحمل رايته واستخلف على المدينة ابن أم مكتوم .

[6] Futuhul Buldaan (نام کتاب : فتوح البلدان نویسنده : البلاذري    جلد : 1  صفحه : 21)

[7] Ash-Shahih min Siratin Nabiyyil A’zham (الصحيح من سيرة النبي الأعظم صلّى الله عليه وآله – ج ١٠) karya Sayyid Ja’far al-Murtadha al-Amili (السيد جعفر مرتضى العاملي). Syarh az-Zurqani ‘alal Mawaahib (نام کتاب : شرح الزرقاني علي المواهب اللدنيه بالمنح المحمديه نویسنده : الزرقاني، محمد بن عبد الباقي    جلد : 2  صفحه : 444): ولما انصرف أبو سفيان وأصحابه نادى: إن موعدكم بدر العام القابل، فقال -عليه الصلاة والسلام- لرجل من أصحابه: “قل نعم، هو بيننا وبينكم موعد . روى “الطبراني” من طريق سعيد بن عبد الرحمن عن أبي حازم، عن سهل بن سعد، “أنه لما” كان يوم أحد، “وانصرف المشركون, خرج النساء إلى الصحابة يعنَّهم، فكانت فاطمة” الزهراء سيدة النساء، “فيمن خرج، فلمَّا لقيت النبي -صلى الله عليه وسلم- اعتنقته” فرحًا وشوقًا، “وجعلت تغسل جراحاته بالماء، فيزداد الدم، فلمَّا رأت ذلك“. Setelah kepergian pasukan Musyrik, kaum wanita Muslim segera menuju Nabi (saw) dan para Sahabatnya. Diantara mereka ialah Hadhrat Fathimah (ra) putri Nabi (saw). Begitu berjumpa ayahnya, beliau segera memeluk ayahnya dengan dengan semangat dan gembira lalu membersihkan dan mengobati luka-luka ayahnya.

[8] As-Sirah al-Halbiyah (السيرة الحلبية = إنسان العيون في سيرة الأمين المأمون) karya Nuruddin al-Halabi (نور الدين الحلبي), ghazwah Bani an-Nadhir (الجزء الثاني باب ذكر مغازيه صلى الله عليه وسلم غزوة بدر الآخرة): وحين خرج صلى الله عليه وسلم من المدينة استخلف عليها عبد الله بن عبد الله بن أبي ابن سلول رضي الله تعالى عنه، وقيل عبد الله بن رواحة رضي الله عنه، وخرج في ألف وخمسمائة من أصحابه، وكان الخيل عشرة أفراس .

[9] Subulul Huda (سبل الهدى والرشاد، في سيرة خير العباد، وذكر فضائله وأعلام نبوته وأفعاله وأحواله في المبدأ والمعاد) karya Muhammad bin Yusuf ash-Shalihi asy-Syaami (محمد بن يوسف الصالحي الشامي), bab ke-16, ghazwah Badr al-Mau’id (الباب السادس عشر في غزوة بدر الموعد)

[10] As-Sīratun-Nabawiyyah, By Abū Muḥammad ‘Abdul-Mālik bin Hishām, p. 618, Ghazwatu Badril Ākhirah, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (2001)

[11] Aṭ-Ṭabaqātul-Kubrā, By Muḥammad bin Sa‘d, Volume 2, p. 279, Ghazwatu Rasūlillāhi (saw) Badril-Mau‘id, Dāru Iḥyā’it-Turāthil-‘Arabī, Beirut, Lebanon, First Edition (1996)

[12] As-Sīratun-Nabawiyyah, By Abū Muḥammad ‘Abdul Mālik bin Hishām, p. 618, Ghazwatu Badril Ākhirah, Dārul-Kutubil-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (2001); Aṭ-Ṭabaqātul Kubrā, By Muḥammad bin Sa‘d, Volume 2, pp. 535-536, Ghazwatu Rasūlillāhi (saw) Badril Mau‘id, Dāru Iḥyā’it-Turāthil-‘Arabī, Beirut, Lebanon, First Edition (1996); Aṭ-Ṭabaqātul-Kubrā, By Muḥammad bin Sa‘d, Volume 2, p. 279, Ghazwatu Rasūlillāhi (saw) Banin-Naḍīr, Dāru Iḥyā’it-Turāthil-‘Arabī, Beirut, Lebanon, First Edition (1996).

[13] Aṭ-Ṭabaqātul-Kubrā, By Muḥammad bin Sa‘d, Volume 2, p. 279, Ghazwatu Rasūlillāhi (saw) Badril-Mau‘id, Dāru Iḥyā’it-Turāthil-‘Arabī, Beirut, Lebanon, First Edition (1996)

[14] Sirah Khataman Nabiyyin (Seal of the Prophets – Volume II), Ghazwah of Badrul-Mau‘id – Dhū Qa‘dah

[15] Ash-Shahih min Siratin Nabiyyil A’zham (الصحيح من سيرة النبي الأعظم (ص) – السيد جعفر مرتضى – ج ١١ – الصفحة ٢٨٤); Siyar A’lamun Nubala (سير أعلام النبلاء), (السيرة النبوية), (أمر الهجرة والعهد المدني), (السنة الخامسة), (غزوة المريسيع). Hidayatul Baqi (هداية الباقي شرح وتحقيق درر العراقي وهو (شرح الفية الحافظ العراقي المسماة) karya Hafizh al-Iraqi (أبي الفضل عبد الرحيم بن الحسين/الحافظ العراقي)

[16] Imta’ul Asma (إمتاع الأسماع بما للنبي من الأحوال والأموال والحفدة والمتاع), (غزوة المريسيع «بني المصطلق): ودفع راية المهاجرين إلى أبي بكر رضي اللَّه عنه، وقيل إلى عمار بن ياسر، وراية الأنصار إلى سعد بن عبادة .

[17] Shahih al-Bukhari, Kitab al-Maghazi – ekspedisi militer (كتاب المغازى), bab mengenai berita bohong atau Hadits al-Ifki (باب حَدِيثُ الإِفْكِ), Hadith 4141, Vol. 8, p. 325, Nazarat Isha’at, Rabwah; Sahih Bukhari, Kitab al-Shahadat, Bab Ta’dil al-Nisa…, Hadith 2661, Vol. 4, pp. 721-731, Nazarat Isha’at, Rabwah.

[18] Perkataan تَخَلَّقُوا بِأَخْلاَقِ اللهِ ‘Takhallaqu biakhlaaqiLlah’ (berakhlaklah dengan akhlak Allah) disebutkan juga dalam Kitab Ta-yidul Haqiqah (تأييد الحقيقة العلية وتشييد الطريقة الشاذلية) karya Imam as-Suyuthi (جلال الدين عبد الرحمن بن أبي بكر/السيوطي).

[19] Zamima Barahin-e-Ahmadiyya, Vol. 5, Ruhani Khazain, Vol. 21, p. 181

[20] Subulul Huda (سبل الهدى والرشاد – الصالحي الشامي – ج ٤ – الصفحة ٣٦٧): ولو عبدنا غيره شقينا يا حبذا ربا وحب دينا قال محمد بن عمر: وكان رسول الله صلى الله عليه وسلم من شدة اجتهاده في العمل يضرب مرة بالمعول ومرة يغرف بالمسحاة التراب، ومرة يحمل التراب في المكتل، وبلغ منه التعب يوما مبلغا فجلس، ثم اتكأ على حجر على شقه الأيسر فنام: فقام أبو بكر وعمر رضي الله عنهما على رأسه ينحيان الناس عنه، أن يمروا به، فينبهوه، ثم استيقظ .

[21] Penerjemah: Mln. Mahmud Ahmad Wardi, Syahid (London-UK), Mln. Hasyim dan Mln. Fazli ‘Umar Faruq. Editor: Dildaar Ahmad Dartono. Referensi: www.alislam.org (website resmi Jemaat Ahmadiyah Internasional bahasa Inggris dan Urdu) dan www.Islamahmadiyya.net (website resmi Jemaat Ahmadiyah Internasional bahasa Arab).

Leave a Reply

Begin typing your search above and press return to search.
Select Your Style

You can choose the color for yourself in the theme settings, сolors are shown for an example.