Keteladanan Para Sahabat Nabi Muhammad shallaLlahu ‘alaihi wa sallam (Manusia-Manusia Istimewa, seri 91)

Pembahasan seorang Ahlu Badr (Para Sahabat Nabi Muhammad (saw) peserta perang Badr atau ditetapkan oleh Nabi (saw) mengikuti perang Badr) yaitu Hadhrat Mu’adz bin Jabal radhiyAllahu ta’ala ‘anhu.

riwayat sahabat, Mu'adz bin Jabal

Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 23 Oktober 2020 (Ikha 1399 Hijriyah Syamsiyah/ 06 Rabi’ul Awwal 1442 Hijriyah Qamariyah) di Masjid Mubarak, Tilford, UK (United Kingdom of Britain/Britania Raya)

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ. (آمين)

Hari ini sahabat yang akan sampaikan riwayatnya adalah bernama Hadhrat Mu’adz bin Jabal (مُعَاذُ بْنُ جَبَلِ بْنِ عَمْرِو بْنِ أَوْسِ بْنِ عَائِذِ بْنِ عَدِيِّ بْن كعب بْن عَمْرو بْن أدي بْن سعد بْن عَليّ بْن أسد بْن ساردة بْن تزيد بن جشم بْن الخزرج الأنصاري الخزرجي). Nama beliau adalah Mu’adz. Nama ayahanda beliau adalah Jabal bin ‘Amru. Ibunda beliau bernama Hindun binti Sahl (هند بِنْت سهل من جهينة ثُمَّ من بني الربعة) yang berasal dari Banu Rab’ah dan juga merupakan bagian dari Kabilah Juhaynah. Kuniyah Hadhrat Mu’adz bin Jabal (ra) adalah Abu Abdurrahman. Beliau berasal dari cabang Kabilah Khazraj, Adi bin Sa’d bin ‘Ali.[1]

Penulis Siyaarush Sahabah menulis bahwa Sa’d bin Ali mempunyai dua putra, yaitu Salamah dan Adi. Anak keturunan Salamah disebut sebagai Banu Salamah.

Pada masa Islam, hanya dua orang yang tersisa dari keluarga Adi bin Sa’d bin Ali, yang pertama adalah Hadhrat Mu’adz (ra) dan yang kedua adalah putra beliau, Abdurrahman. Rumah-rumah Banu Adi bertetangga dengan Banu Salamah.

Hadhrat Mu’adz bin Jabal (ra) berwajah sangat putih dan tampan, bergigi putih bersih, bermata indah. Beliau adalah yang paling tampan dan paling dermawan di antara para pemuda kaum beliau. Abu Nu’aim meriwayatkan, كَانَ مِنْ أَفْضَلِ شَبَابِ الْأَنْصَارِ حِلْمًا وَحَيَاءً، وَبَذْلًا وَسَخَاءً، وَضِيءَ الْوَجْهِ، أَكْحَلَ الْعَيْنَيْنِ، بَرَّاقَ الثَّنَايَا، جَمِيلًا وَسِيمًا “Beliau (Hadhrat Mu’ad bin Jabal) adalah yang terbaik dari antara para pemuda Anshor dalam hal kelemahlembutan, kerendahan hati dan kedermawanan…”[2]

Hadhrat Mu’adz bin Jabal (ra) ikut serta bersama 70 orang Anshor dalam Baiat Aqabah Kedua dan pada saat menerima Islam beliau berusia 18 tahun. Hadhrat Mu’adz bin Jabal (ra) ikut serta dalam perang Badar, perang Khandaq dan seluruh peperangan lainnya bersama Hadhrat Rasulullah (saw). Beliau turut serta dalam perang Badar pada saat berusia 20 atau 21 tahun. وَأَخُوهُ لأُمِّهِ عَبْدُ اللهِ بْنُ الْجَدِّ بْنِ قَيْسِ مِنْ أَهْلِ بَدْرٍ Saudara seibu beliau, Hadhrat Abdullah bin al-Jad (ra) juga ikut serta dalam perang Badr.[3]

Menurut Usdul Ghaabah, وإنما ادعته بنو سَلَمَة لأنه كَانَ أخا سَهْل بْن مُحَمَّد بْن الجد بْن قَيْس لأمه saudara seibu Hadhrat Mu’adz bin Jabal (ra) bernama Sahl bin Muhammad bin Jad dan Sahl berasal dari Banu Salamah sehingga Banu Salamah juga menganggap beliau termasuk dalam kabilah mereka.[4]

Ketika para Muhajirin Mekah berhijrah dan tiba di Madinah, Hadhrat Rasulullah (saw) mempersaudarakan Hadhrat Mu’adz bin Jabal (ra) dengan Hadhrat Abdullah bin Mas’ud (ra). Hal ini tertulis sama dalam berbagai kitab tarikh.

Setelah menerima Islam, Hadhrat Mu’adz bin Jabal (ra) bersama-sama dengan para pemuda Banu Salamah menghancurkan berhala Banu Salma. Sebelumnya telah disampaikan peristiwa ini berkenaan dengan seorang sahabat, bagaimana ia menghancurkan berhala keluarganya dan sekarang pun saya akan menyampaikannya. Hadhrat ‘Amru bin Jamuh (ra) membuat sebuah berhala kayu di rumahnya dan menamakannya Manaat dan sangat mengagungkannya.

Pada kesempatan baiat Aqabah kedua, beberapa pemuda dari Banu Salma berbaiat, di antara mereka termasuk juga Hadhrat Mu’adz bin Jabal (ra). Hadhrat Mu’adz (ra) putra Hadhrat ‘Amru (ra) juga berbaiat dan peristiwa yang sedang saya sampaikan ini telah saya sampaikan juga sebelumnya. Peristiwa ini telah disampaikan dalam pembahasan Hadhrat Mu’adz bin ‘Amru (ra). Diriwayatkan, untuk menyeru ayah beliau, yakni Hadhrat ‘Amru (ra) kepada Islam, Hadhrat Mu’adz bin ‘Amru (ra) melakukan upaya berikut. Pada malam hari beliau mengambil berhala Hadhrat ‘Amru (ra) yang dipajang di rumahnya dan membuangnya ke tumpukan sampah dan meminta bantuan dari beberapa pemuda untuk melakukan hal tersebut termasuk Hadhrat Mu’adz bin Jabal (ra).

Singkatnya, pada satu hari Hadhrat Mu’adz bin Amru (ra) mengambil berhala tersebut dan membuangnya ke tempat sampah. Hadhrat ‘Amru (ra) mencarinya lalu membawanya lagi ke rumah dan mengatakan, “Jika saya tahu orang yang melakukan ini kepada berhala saya, saya akan memberikan hukuman yang mengerikan kepadanya.” Keesokan harinya para pemuda itu melakukan hal yang serupa terhadap berhala tersebut. Mereka mengembalikannya lagi ke lubang sampah dan kemudian Hadhrat ‘Amru (ra) memungutnya kembali. Pada hari ketiga Hadhrat ‘Amru (ra) membersihkan berhala tersebut, memajangnya kembali dan menggantungkan pedang beliau padanya. Beliau berkata kepada berhala tersebut, “Demi Tuhan! Saya tidak tahu siapa yang melakukan ini padamu, namun sekarang saya meninggalkan pedang bersamamu, sekarang lindungilah dirimu sendiri, sekarang pedang ada padamu.”

Keesokan harinya Hadhrat ‘Amru (ra) melihat berhala itu sudah tidak ada lagi di tempatnya dan kemudian ditemukan di dalam tempat sampah di lingkungan itu dalam keadaan terikat di leher bangkai anjing. Melihat hal ini beliau sangat tercengang. Dengan sangat gelisah beliau terpaksa berpemikiran, “Berhala yang saya jadikan Tuhan, pada dirinya sedemikian rupa tidak ada kemampuan dan kekuatan untuk menyelamatkan dirinya dengan pedang yang ada padanya. Bagaimana ia akan melindungi saya?”

Lebih lanjut lagi bagaimana bisa tuhan ini bisa melekat pada leher seekor anjing yang mati. Singkatnya, hal ini membawa beliau untuk cenderung pada Islam dan menjadi sarana beliau untuk menerima Islam.

Kecintaan dan ketulusan Hadhrat Mu’adz bin Jabal (ra) terhadap Hadhrat Rasulullah (saw) dapat terlihat dari peristiwa berikut. Setelah perang Uhud, ketika Hadhrat Rasulullah (saw) pulang ke Madinah, terdengar suara tangisan dari lorong-lorong. Beliau (saw) bertanya, “Ada apa ini?”

Para sahabat menjawab, “Itu adalah suara tangisan dari para wanita Anshor yang menangisi para syuhada mereka.”

Beliau (saw) bersabda, “Tidak adakah yang menangis untuk Hadhrat Hamzah (ra)?”. Beliau (saw) lalu memanjatkan doa ampunan untuk Hadhrat Hamzah (ra).

Ketika Hadhrat Sa’d bin Mu’adz (ra), Hadhrat Sa’d bin ‘Ubadah (ra) dan Hadhrat Mu’adz bin Jabal (ra) mendengar hal ini, mereka lalu pergi ke lingkungan tempat tinggalnya masing-masing dan mengumpulkan para wanita yang menangis dan meratap tadi. Mereka mengatakan, “Selama tidak ada yang menangisi paman Nabi (saw), sekarang tidak boleh ada lagi yang menangisi para Syuhada Anshor, karena Nabi (saw) bersabda, ‘Di Madinah tidak ada seorang pun yang menangisi Hadhrat Hamzah (ra).”

Inilah kecintaan kepada Hadhrat Rasulullah (saw). Dikarenakan kesedihan Hadhrat Rasulullah (saw) atas Hadhrat Hamzah (ra) ini seolah-olah meskipun menangis dan meratap dilarang, pada kesempatan itu Hadhrat Rasulullah (saw) mengizinkannya untuk sementara waktu, atau setelah beliau (saw) melihat luapan perasaan orang-orang, lalu beliau (saw) sendiri mengungkapkan bahwa, “Seandainya untuk Hadhrat Hamzah (ra) pun ada yang meluapkan perasaannya.” Namun, bagaimanapun secara umum meratap tidak diperbolehkan dalam Islam. Hadhrat Rasulullah (saw) sendiri melarangnya.

Setelah Fatah Mekah, Hadhrat Rasulullah (saw) pergi ke Hunain. Hunain adalah suatu lembah yang terletak di arah timur laut Mekah, dekat Thaif. Hadhrat Rasulullah (saw) meninggalkan Hadhrat Mu’adz bin Jabal (ra) di Mekah supaya beliau bisa mengajarkan agama kepada para penduduk Mekah dan mengajarkan Al-Qur’an kepada mereka.

Hadhrat Mu’adz bin Jabal (ra) ikut ambil bagian penuh dalam perang Tabuk. Ketika Yang Mulia Nabi (saw) bertanya mengenai Hadhrat Ka’ab bin Malik (ra) yang pada saat itu tertinggal di Madinah, seseorang dari Banu Salamah mengatakan hal yang buruk mengenai Hadhrat Ka’ab bin Malik (ra). Hadhrat Mu’adz bin Jabal (ra) lalu menghardik orang tersebut dan mengatakan, بِئْسَ مَا قُلْتَ، وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ، مَا عَلِمْنَا عَلَيْهِ إِلاَّ خَيْرًا‏. “[Alangkah kejinya perkataanmu] Ya Rasulullah! Kami hanya melihat kebaikan pada diri Hadhrat Ka’ab bin Malik (ra). Tidak ada keburukan yang kami lihat.”[5] Inilah akhlak yang luhur, yakni tidak menjelek-jelekkan seseorang di belakang.

Qatadah meriwayatkan, “Saya mendengar Hadhrat Anas (ra) berkata, جَمَعَ الْقُرْآنَ عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَرْبَعَةٌ، كُلُّهُمْ مِنَ الأَنْصَارِ أُبَىٌّ، وَمُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ، وَأَبُو زَيْدٍ، وَزَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ‏.‏ قُلْتُ لأَنَسِ مَنْ أَبُو زَيْدٍ قَالَ أَحَدُ عُمُومَتِي‏. ‘Pada zaman Nabi (saw) ada empat orang yang mengumpulkan Al-Qur’an dan kesemuanya adalah sahabat dari kalangan Anshar. Hadhrat Ubay bin Ka’b (ra), Hadhrat Mu’adz bin Jabal (ra), Hadhrat Abu Zaid (ra) dan Hadhrat Zaid bin Tsabit (ra).’ Hadhrat Abu Zaid (ra) adalah paman Hadhrat Anas (ra).” Ini adalah riwayat Bukhari.[6]

 (عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو ـ رضى الله عنهما ـ) Hadhrat Abdullah bin ‘Amru bin al-‘Ash radhiyallahu ta’ala ‘anhuma meriwayatkan, سَمِعْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ ‏اسْتَقْرِئُوا الْقُرْآنَ مِنْ أَرْبَعَةٍ مِنَ ابْنِ مَسْعُودٍ وَسَالِمٍ مَوْلَى أَبِي حُذَيْفَةَ، وَأُبَىٍّ، وَمُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ ‏ “Saya telah mendengar Rasulullah pernah bersabda, ‘Pelajarilah Al Quran dari empat orang yakni Ibnu Mas’ud, mantan budak belian Abu Hudzaifah bernama Salim, Ubay Bin Ka’b dan Mu’adz Bin Jabal.’” (Bukhari)[7]

Hadhrat Khalifatul Masih Tsani ra bersabda dan pernah saya sampaikan sebelum ini dalam tema Hadhrat Ubay bin Ka’b bahwa Rasulullah menetapkan satu kelompok guru pengajar Al-Qur’an yang telah menghafal seluruh Al Quran dari Rasulullah lalu mengajarkannya kepada orang lain, “Hadhrat Rasulullah (saw) menetapkan satu kelompok guru yang mengajarkan Al-Qur’an, yang menghapalkan seluruh Al-Qur’an dari Rasulullah (saw) lalu mengajarkannya kepada orang-orang. Berikut adalah empat guru tertinggi yang tugasnya mempelajari Al-Qur’an dari Rasulullah (saw) dan mengajarkannya kepada orang-orang. Kemudian di bawah mereka terdapat banyak sahabat lainnya yang mengajarkan Al-Qur’an Syarif kepada orang-orang. Nama keempat guru besar tersebut adalah, Hadhrat Abdullah bin Mas’ud (ra), Hadhrat Salim Maula Abi Hudzaifah (ra) dan Hadhrat Mu’adz bin Jabal (ra), Hadhrat Ubay bin Ka’b (ra). Dua yang pertama adalah sahabat muhajir, sedangkan dua yang lainnya adalah sahabat Anshar, dan dari sisi profesi Hadhrat Abdullah bin Mas’ud (ra) adalah seorang buruh, Hadhrat Salim (ra) adalah seorang budak yang telah merdeka, Hadhrat Mu’adz bin Jabal (ra) dan Hadhrat Ubay bin Ka’b (ra) adalah termasuk di antara para pemimpin Madinah. Seolah-olah Hadhrat Rasulullah (saw) menetapkan Qari’ dengan memperhatikan semua golongan.

Terdapat dalam hadits bahwa Rasulullah (saw) bersabda, خُذُوا الْقُرْآنَ مِنْ أَرْبَعَةٍ مِنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ ـ فَبَدَأَ بِهِ ـ وَسَالِمٍ مَوْلَى أَبِي حُذَيْفَةَ، وَمُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ، وَأُبَىِّ بْنِ كَعْبٍ ‏‏ ‘Khudzul Quraana min arba’ah min Abdillaahi ibni Mas’ud, wa Salim maula Abi Hudzaifah wa Mu’adz ibni Jabal wa Ubay bni Ka’b.’ – Orang yang ingin mempelajari Al-Qur’an, dapat mempelajarinya dari keempat orang tersebut yakni Abdullah bin Mas’ud, Salim maula (mantan budak) Abi Hudzaifah, Mu’adz bin Jabal dan Ubay bin Ka’b.’[8]

Keempat orang ini mempelajari seluruh Al-Qur’an dari Rasulullah (saw) atau memperdengarkan bacaannya kepada Rasulullah (saw) lalu beliau (saw) memverifikasinya atau diperbaiki oleh beliau (saw) bila ada kesalahan. Namun selain mereka pun banyak juga para sahabat yang sedikit banyak mempelajari Al-Qur’an dari Rasulullah (saw) secara langsung. Sebagaimana dalam riwayat dikatakan bahwa suatu ketika Abdullah bin Mas’ud membaca Al-Quran dengan suatu gaya, lalu Hadhrat Umar menghentikan bacaannya dan berkata, ‘Bukan begitu bacanya, tapi begini.’

Abdullah bin Mas’ud berkata, ‘Tidak, Rasulullah (saw)-lah yang mengajarkan demikian kepada saya.’

Kemudian, Hadhrat Umar mengajak beliau ke hadapan Rasulullah (saw) dan berkata, ‘Wahai Rasul! Orang ini keliru bacaan Qurannya.’

Rasul yang mulia (saw) bersabda, ‘Abdullah! Coba bacakan.’

Ketika dibacakan oleh Abdullah, Rasulullah (saw) bersabda, ‘Bacaannya benar.’

Hadhrat Umar berkata, ‘Wahai Rasulullah (saw)! Bukankah Anda telah mengajarkan cara baca kata tersebut kepada saya dengan cara yang beda?’

Beliau (saw) bersabda, ‘Cara baca yang Anda lakukan pun benar.’”[9]

Dari kalimat itu dapat diketahui tidak hanya keempat sahabat tersebut yang mempelajari Al-Quran dari Rasulullah, ada juga sahabat-sahabat lainnya, sebagaimana pertanyaan Hadhrat Umar yang mengatakan, “Anda (Rasulullah (saw)) telah mengajarkan seperti ini kepada saya.” Hal itu memberitahukan bahwa Hadhrat Umar pun belajar dari Rasulullah (saw).

Hadhrat Anas bin Malik meriwayatkan bahwa Rasulullah (saw) bersabda, أَرْحَمُ أُمَّتِي بِأُمَّتِي أَبُو بَكْرٍ وَأَشَدُّهُمْ فِي دِينِ اللَّهِ عُمَرُ وَأَصْدَقُهُمْ حَيَاءً عُثْمَانُ وَأَقْضَاهُمْ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ وَأَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللَّهِ أُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ وَأَعْلَمُهُمْ بِالْحَلَالِ وَالْحَرَامِ مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ وَأَفْرَضُهُمْ زَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ أَلَا وَإِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ أَمِينًا وَأَمِينُ هَذِهِ الْأُمَّةِ أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ “Di kalangan umat saya yang paling penuh kasih sayang terhadap umat saya adalah Abu Bakr (ra), yang paling gigih dan tegas dalam menjaga agama adalah Umar (ra), yang paling pemalu adalah Utsman (ra), yang paling baik dalam memutuskan adalah Ali Bin Abi Thalib (ra), yang paling memahami kitab Allah Al-Qur’an adalah Ubay bin Ka’b (ra), yang paling alim (paham) mengenai hukum halal dan haram adalah Mu`adz bin Jabal (ra) dan yang paling memahami mengenai ilmu Faraidh (hukum waris) adalah Zaid Bin Tsabit (ra). Dengarlah! Bagi setiap umat memiliki seorang amiin (dipercaya) dan amiin umat ini adalah Abu Ubaidah bin Jarrah (ra).”[10] Riwayat tersebut telah saya sampaikan juga sebelumnya. Lebih kurang seperti itu.

(عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ :) Hadhrat Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah (saw) bersabda, نِعْمَ الرَّجُلُ أَبُو بَكْرٍ ، نِعْمَ الرَّجُلُ عُمَرُ ، نِعْمَ الرَّجُلُ أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ ، نِعْمَ الرَّجُلُ أُسَيْدُ بْنُ حُضَيْرٍ ، نِعْمَ الرَّجُلُ ثَابِتُ بْنُ قَيْسِ بْنِ شَمَّاسٍ ، نِعْمَ الرَّجُلُ مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ ، نِعْمَ الرَّجُلُ مُعَاذُ بْنُ عَمْرِو بْنِ الْجَمُوحِ “Betapa baiknya Abu Bakr, betapa baiknya Umar, betapa baiknya Abu Ubaidah bin Jarrah, betapa baiknya Usaid bin Hudhair, betapa baiknya Tsabit bin Qais bin Syamasy, betapa baiknya Mu’adz bin Jabal dan betapa baiknya Mu’adz bin ‘Amru bin Jamuh.”[11] (Musnad Ahmad Bin Hanbal)

Hadhrat Mu’adz Bin Jabal meriwayatkan bahwa suatu hari Rasulullah memegang tangannya dan bersabda: يَا مُعَاذُ إِنِّي لَأُحِبُّكَ ‘Yaa Mu’aadzu, inni la-uhibbuka.’ – “Wahai Mu’adz! Sesungguhnya saya mencintaimu.”

Hadhrat Mu’adz berkata: بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ وَأَنَا أُحِبُّكَ ‘bi-abi anta wa ummi ya Rasulallah! Wa ana uhibbuka.’ “Wahai Rasulullah! Kedua orang tua saya rela berkorban demi tuan, saya pun mencintai tuan.”

Rasul bersabda: أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ لَا تَدَعَنَّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ أَنْ تَقُولَ : اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ Wahai Mu’adz! Saya tegaskan kepada Anda supaya tidak melewatkan untuk membaca di setiap usai shalat, ‘Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatika – ‘Ya Allah, bantulah hamba untuk mengingat Engkau, bersyukur kepada Engkau, dan beribadah dengan sebaik-baiknya kepada Engkau.’”[12]

Hadhrat Mu’adz meriwayatkan, Rasulullah (saw) bersabda, ألَا أَدُلُّكَ عَلَى بَابٍ مِنْ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ ؟  “Maukah saya beritahukan padamu salah satu pintu diantara pintu-pintu surga?”

Terkait:   Keteladanan Para Sahabat Rasulullah (saw) seri 84

Hadhrat Mu’adz berkata, وَمَا هُوَ “Tentu wahai Rasul.”

Rasulullah bersabda, “Biasakanlah membaca لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ ‘Laa haula walaa quwwata illaa billaah.’ (Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dari Allah)”[13]

Hadhrat Mu’adz meriwayatkan bahwa beliau bertanya kepada Rasulullah berkenaan dengan keimanan yang paling utama, Rasulullah bersabda, أَفْضَلُ الْإِيمَانِ أَنْ تُحِبَّ لِلَّهِ ، وَتُبْغِضَ فِي اللَّهِ ، وَتُعْمِلَ لِسَانَكَ فِي ذِكْرِ “Keimanan yang paling utama adalah cintailah demi Allah, bencilah demi Allah dan sibukkanlah mulutmu untuk mengingat Allah.”

Hadhrat Mu’adz berkata: وَمَاذَا يَا رَسُولَ اللَّهِ ؟ Wahai Rasulullah lalu apa selanjutnya?

Rasul bersabda, وَأَنْ تُحِبَّ لِلنَّاسِ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ ، وَتَكْرَهَ لَهُمْ مَا تَكْرَهُ لِنَفْسِكَ ، وَأَنْ تَقُولَ خَيْرًا أَوْ تَصْمُتَ “Sukailah untuk orang lain apa Anda sukai untuk diri Anda sendiri dan jangan sukai untuk orang lain apa apa yang Anda sendiri tidak sukai…”[14]

Hadhrat Jabir Bin Abdillah meriwayatkan, كَانَ مُعَاذٌ يُصَلِّي مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم ثُمَّ يَأْتِي قَوْمَهُ فَيُصَلِّي بِهِمْ‏. “Hadhrat Mu’adz biasa shalat bersama dengan Rasulullah di masjid Nabawi, kemudian dia kembali ke kaumnya untuk mengimami salat bersama mereka.” (Riwayat Bukhari)[15]

Hadhrat Jabir meriwayatkan, كَانَ مُعَاذٌ يُصَلِّي مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم ثُمَّ يَأْتِي فَيَؤُمُّ قَوْمَهُ فَصَلَّى لَيْلَةً مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم الْعِشَاءَ ثُمَّ أَتَى قَوْمَهُ فَأَمَّهُمْ فَافْتَتَحَ بِسُورَةِ الْبَقَرَةِ فَانْحَرَفَ رَجُلٌ فَسَلَّمَ ثُمَّ صَلَّى وَحْدَهُ وَانْصَرَفَ فَقَالُوا لَهُ أَنَافَقْتَ يَا فُلاَنُ “Hadhrat Mu’adz biasa melakukan shalat di belakang Rasulullah lalu dia kembali ke kaumnya untuk mengimami salat bersama mereka. Suatu malam beliau shalat isya bermakmum kepada Rasulullah lalu kembali ke kaumnya untuk mengimami mereka salat dengan membaca surat Al-Baqarah. Seorang laki-laki pun keluar (dari shaf) karena panjangnya surat yang dibaca Imam. Ia kemudian salat sendiri dengan salat yang agak ringan. Orang-orang berkata kepada orang tersebut, ‘Apakah engkau telah munafik (karena memisahkan dari shalat berjamaah)?’

Orang itu menjawab, لاَ وَاللَّهِ وَلآتِيَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَلأُخْبِرَنَّهُ ‘Demi Tuhan, saya tidaklah munafik. Saya akan menghadap Rasulullah dan akan menyampaikan kepada beliau bahwa saya telah melakukan ini. Jika saya munafik, pasti akan bersembunyi, sedangkan saya akan memberitahukan nanti kepada Rasulullah (saw). فَأَتَى رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا أَصْحَابُ نَوَاضِحَ نَعْمَلُ بِالنَّهَارِ وَإِنَّ مُعَاذًا صَلَّى مَعَكَ الْعِشَاءَ ثُمَّ أَتَى فَافْتَتَحَ بِسُورَةِ الْبَقَرَةِ ‏.‏ فَأَقْبَلَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَلَى مُعَاذٍ فَقَالَ Laki-laki itu langsung mendatangi Nabi (saw) sambil berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami adalah kaum yang memiliki pekerjaan membawa air dengan unta dari satu tempat ke rumah orang-orang. Kami bekerja seharian. Sementara itu, semalam Hadhrat Mu’adz setelah shalat bersama tuan, belliau datang mengimami kami shalat Isya dengan membaca surat Al-Baqarah.’

Nabi (saw) bersabda, يَا مُعَاذُ أَفَتَّانٌ أَنْتَ اقْرَأْ بِكَذَا وَاقْرَأْ بِكَذَا ‘Wahai Mu’adz, apakah Anda hendak memasukkan orang-orang ke dalam cobaan dengan menyusahkan orang-orang? Bacalah surat ini! Bacalah surat ini!’ (Beliau mengatakannya dua kali)

عَنْ جَابِرٍ أَنَّهُ قَالَ ‏”‏ اقْرَأْ وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا ‏.‏ وَالضُّحَى ‏.‏ وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى ‏.‏ وَسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ الأَعْلَى ‏”‏ ‏. Yang dimaksud ialah Surah Wasy syamsi wa dhuhāha, Surah Wadh dhuhaa, Surah wal  laili idzaa yaghsya dan Surah sabbihisma rabbikal a’la atau yang serupa dengannya.’ Rasulullah (saw) menyebutkan empat Surah tersebut sebagai contoh.[16] (Sahih Muslim)

Dalam Bukhari terdapat satu Riwayat sebagai berikut, Hadhrat Jabir Bin Abdillah Anshari meriwayatkan, أَقْبَلَ رَجُلٌ بِنَاضِحَيْنِ وَقَدْ جَنَحَ اللَّيْلُ، فَوَافَقَ مُعَاذًا يُصَلِّي، فَتَرَكَ نَاضِحَهُ وَأَقْبَلَ إِلَى مُعَاذٍ، فَقَرَأَ بِسُورَةِ الْبَقَرَةِ أَوِ النِّسَاءِ، فَانْطَلَقَ الرَّجُلُ، وَبَلَغَهُ أَنَّ مُعَاذًا نَالَ مِنْهُ، فَأَتَى النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم فَشَكَا إِلَيْهِ مُعَاذًا، فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ‏ “‏ يَا مُعَاذُ أَفَتَّانٌ أَنْتَ ـ أَوْ فَاتِنٌ ثَلاَثَ مِرَارٍ ـ فَلَوْلاَ صَلَّيْتَ بِسَبِّحِ اسْمَ رَبِّكَ، وَالشَّمْسِ وَضُحَاهَا، وَاللَّيْلِ إِذَا يَغْشَى، فَإِنَّهُ يُصَلِّي وَرَاءَكَ الْكَبِيرُ وَالضَّعِيفُ وَذُو الْحَاجَةِ ‏”‏‏.‏  “Ada seorang pria yang tengah membawa air dengan menggunakan dua unta, secara kebetulan pria tersebut mendapati Hadhrat Mu’adz tengah mengimami shalat Isya di masjid. Pria itu mendudukkan untanya lalu ikut bermakmum di belakang Hadhrat Mu’adz. Saat itu Imam tengah membaca surat Al-Baqarah atau An Nisa. Karena panjangnya Surat yang dibaca Imam, akhirnya pria itu meninggalkan shalat berjamaah. Kabar tersebut sampai kepada Hadhrat Mu’adz dan beliau kecewa karenanya.

Kemudian, pria itu datang menemui Rasulullah untuk mengeluhkan Hadhrat Mu’adz. Rasulullah bersabda tiga kali, ‘Wahai Mu’adz! Kenapa Anda memasukkan orang-orang ke dalam kesulitan dengan membaca surat surat yang panjang? Bacalah Sabbihisma rabbikal a’laa, wasysyamsi wa dhuhaahaa dan wallaili idza yaghsya! Sebab, di belakang Anda ada orang tua, orang yang lemah dan orang yang memiliki keperluan.” (Riwayat Bukhari)[17]

Mengenai Imam membaca surat-surat pendek ketika mengimami shalat, Hadhrat Khalifatul Masih Tsani ra mengutip nasihat Rasulullah (saw) kepada Hadhrat Mu’adz bin Jabal (ra), bersabda, “Pada umumnya Rasulullah lebih menyukai untuk membaca surat Al A’la, Al Ghasyiyah, Al Fajr dan surat-surat lainnya yang sejenis ketika mengimami shalat fardhu. An-Nasai meriwayatkan dari Jabir, جَاءَ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ وَقَدْ أُقِيمَتِ الصَّلاَةُ فَدَخَلَ الْمَسْجِدَ فَصَلَّى خَلْفَ مُعَاذٍ فَطَوَّلَ بِهِمْ فَانْصَرَفَ الرَّجُلُ فَصَلَّى فِي نَاحِيَةِ الْمَسْجِدِ ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَمَّا قَضَى مُعَاذٌ الصَّلاَةَ قِيلَ لَهُ إِنَّ فُلاَنًا فَعَلَ كَذَا وَكَذَا ‏.‏ ‘Suatu ketika Hadhrat Mu’adz bin Jabal tengah mengimami shalat, tiba-tiba ada seorang pria yang datang untuk bermakmum kepada beliau. Hadhrat Mu’adz membaca surat yang panjang.’” Dalam riwayat lain dikatakan bahwa beliau membaca surat Ali Imran atau An Nisa. “Setelah mengetahui hal itu pria tersebut meninggalkan shalat berjamaah, shalat sendiri di pojok Masjid lalu pergi setelah selesai. Setelah shalat, seseorang menceritakan kejadian tersebut kepada Hadhrat Mu’adz. Hadhrat Mu’adz berkata, ‘Ia munafik.’

فَقَالَ مُعَاذٌ لَئِنْ أَصْبَحْتُ لأَذْكُرَنَّ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏.‏ فَأَتَى مُعَاذٌ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم فَذَكَرَ ذَلِكَ لَهُ فَأَرْسَلَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِلَيْهِ فَقَالَ ‏”‏ مَا حَمَلَكَ عَلَى الَّذِي صَنَعْتَ ‏”‏ ‏.‏ Kemudian, Hadhrat Mu’adz menceritakan hal itu kepada Rasulullah (saw). Ketika pria itu mengetahui bahwa ia dilaporkan kepada Rasulullah, pria tersebut datang menghadap Rasulullah dan berkata, يَا رَسُولَ اللَّهِ عَمِلْتُ عَلَى نَاضِحِي مِنَ النَّهَارِ فَجِئْتُ وَقَدْ أُقِيمَتِ الصَّلاَةُ فَدَخَلْتُ الْمَسْجِدَ فَدَخَلْتُ مَعَهُ فِي الصَّلاَةِ فَقَرَأَ سُورَةَ كَذَا وَكَذَا فَطَوَّلَ فَانْصَرَفْتُ فَصَلَّيْتُ فِي نَاحِيَةِ الْمَسْجِدِ ‘Wahai Rasulullah! Beliau membaca surat yang panjang ketika mengimami shalat sedangkan kami biasa bekerja di siang hari. Saat itu unta saya tengah berada di luar tanpa ada makanan. Lalu saya tinggalkan shalat dan shalat sendiri di pojok lalu setelah setelah selesai shalat saya memberi makan unta saya.’

Mendengar itu Rasulullah marah kepada Hadhrat Mu’adz dan bersabda, أَفَتَّانٌ يَا مُعَاذُ أَفَتَّانٌ يَا مُعَاذُ أَفَتَّانٌ يَا مُعَاذُ ‘Mu’adz! Apakah Anda hendak menyusahkan orang-orang? اقْرَأْ بِسُورَةِ كَذَا وَسُورَةِ كَذَا Apa susahnya jika Anda membaca surat sabbihisma rabbikal a’laa, wasy syamsi wa dhuhaahaa, wal fajr dan wal laili idzaa yaghsya? Kenapa Anda tidak membaca surat-surat tersebut, malah membaca surat yang panjang?’[18]

Dari itu dapat diketahui bahwa Rasulullah menetapkan surat-surat tersebut sebagai surat ausath (pertengahan). Pada waktu waktu khusus silahkan saja jika ingin membaca surat-surat yang panjang atau bacalah surat pendek jika dalam keadaan yang sulit atau sedang sakit namun pada umumnya surat-surat pertengahan inilah yang seharusnya dibaca ketika mengimami shalat fardhu yang dikeraskan.”

Namun demikian, perlu diingat bahwa bukan maksudnya hanya surat-surat itu saja yang dibaca. Petunjuk pokoknya ialah ketika shalat berjamaah berlangsung, imam seyogyanya tidak  membaca surat-surat yang panjang. Namun, bacalah yang sesuai dengan keadaan dan sesuai dengan hapalannya. Terkadang sebagian dari mereka hanya menghapal surat-surat pendek untuk dibacakan yang jika Imam tidak mudah tanpa membaca itu ketika mengimami shalat berjamaah maka ia bisa juga membaca surat-surat pendek tersebut. Pada prinsipnya, janganlah membaca surat-surat yang panjang ketika mengimami shalat berjamaah karena terdapat beragam kalangan orang yang bermakmum. Ada yang tua, ada yang sakit dan ada yang pekerja.

Hadhrat Mu’adz Bin Jabal meriwayatkan, كُنْتُ رِدْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ بَيْنِي وَبَيْنَهُ إِلَّا مُؤْخِرَةُ الرَّحْلِ ، فَقَالَ : يَا مُعَاذُ بْنَ جَبَلٍ ، قُلْتُ : لَبَّيْكَ رَسُولَ اللَّهِ ، وَسَعْدَيْكَ ، ثُمَّ سَارَ سَاعَةً ، ثُمَّ قَالَ : يَا مُعَاذُ بْنَ جَبَلٍ قُلْتُ : لَبَّيْكَ رَسُولَ اللَّهِ وَسَعْدَيْكَ ، ثُمَّ سَارَ سَاعَةً ، ثُمَّ قَالَ : يَا مُعَاذُ بْنَ جَبَلٍ قُلْتُ : لَبَّيْكَ رَسُولَ اللَّهِ وَسَعْدَيْكَ ، قَالَ :  “Suatu ketika saya duduk di belakang Rasulullah diatas kendaraan. Diantara kami terdapat punuk unta bagian belakang Rasul bersabda: Wahai Mu’adz Bin Jabal. Hadhrat Mu’adz berkata: Saya hadir, wahai Rasulullah, ini merupakan kemuliaan bagi saya. Lalu setelah beberapa saat Rasul bersabda lagi: Wahai Mu’adz bin jabal. Saya berkata: Labbaik wahai Rasul! Ini merupakan kehormatan bagi saya. Lalu setelah beberapa saat Rasul bersabda lagi: Wahai Mu’adz bin jabal. Saya berkata: Labbaik wahai Rasul! Ini merupakan kehormatan bagi saya.

Bersabda: هَلْ تَدْرِي مَا حَقُّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ ؟ Tahukah Anda, apa hak Allah atas hambaNya?

Saya menjawab: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ Allah dan RasulNya yang lebih mengetahui.

Bersabda: فَإِنَّ حَقُّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ ، وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا Hak Allah atas hambanya adalah hambanya beribadah kepadaNya dan janganlah menyekutukan sesuatu denganNya.

Lalu tidak lama kemudian Rasul bersabda: يَا مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ Wahai Mu’adz Bin Jabal!

Saya berkata: لَبَّيْكَ رَسُولَ اللَّهِ ، وَسَعْدَيْكَ Labbaik wahai Rasul! Ini merupakan kehormatan bagi saya.

Beliau bersabda, هَلْ تَدْرِي مَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ إِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ ؟  Tahukah Anda apa hak hamba atas Allah Ta’ala? Yakni jika hamba Allah taat kepada perintah Allah Ta’ala dan memenuhi hakNya, (Tadi merupakan hak hak yang harus dipenuhi oleh hamba kepada Allah, sekarang sebaliknya)

Saya menjawab: اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.

Rasul bersabda: أَنْ لَا يُعَذِّبَهُمْ ‘Hak hamba atas Allah adalah supaya Allah tidak mengazabnya.’ Maksudnya, jika hamba hamba taat pada perintah Allah, hamba tersebut berhak supaya Allah tidak mengazabnya. (Sahih Muslim)[19]

Hadhrat Mu’adz Bin Jabal meriwayatkan, كُنْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ فَأَصْبَحْتُ يَوْمًا قَرِيبًا مِنْهُ وَنَحْنُ نَسِيرُ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنِي بِعَمَلٍ يُدْخِلُنِي الْجَنَّةَ وَيُبَاعِدُنِي مِنْ النَّارِ “Suatu hari saya berada dalam sfar bersama dengan rasulullah, saya dekat dengan beliau dan kami tengah berjalan. Saya berkata, ‘Wahai Rasulullah! Beritahukan kepada saya suatu amalan yang akan memasukkan saya kedalam surga dan menjauhkanku dari api neraka.’

Rasul bersabda: لَقَدْ سَأَلْتَ عَظِيمًا وَإِنَّهُ لَيَسِيرٌ عَلَى مَنْ يَسَّرَهُ اللَّهُ عَلَيْهِ تَعْبُدُ اللَّهَ لَا تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا وَتُقِيمُ الصَّلَاةَ وَتُؤْتِي الزَّكَاةَ وَتَصُومُ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ ‘Anda menanyakan suatu hal yang besar. Perkara ini mudah bagi orang-orang yang dimudahkan oleh Allah. Beribadahlah kepada Allah, janganlah menyekutukanNya dengan sesuatu yang lain, tegakkanlah shalat, bayarlah zakat, berpuasalah dibulan Ramadhan dan berhajilah ke Baitullah.’

ثُمَّ قَالَ أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى أَبْوَابِ الْخَيْرِ الصَّوْمُ جُنَّةٌ وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ كَمَا يُطْفِئُ النَّارَ الْمَاءُ وَصَلَاةُ الرَّجُلِ مِنْ جَوْفِ اللَّيْلِ ثُمَّ قَرَأَ { تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنْ الْمَضَاجِعِ حَتَّى بَلَغَ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ } ‘Maukah saya beritahukan perihal pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah tameng, sedekah sedemikian rupa menghapuskan dosa-dosa layaknya air memadamkan api dan shalat di pertengahan malam yakni tahajjud. Lalu beliau membaca ayat: تَتَجَافَىٰ جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ () فَلَا تَعْلَمُ نَفْسٌ مَّا أُخْفِيَ لَهُم مِّن قُرَّةِ أَعْيُنٍ جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ () ‘Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezeki yang Kami berikan. Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.’ (Surah as-Sajdah)

ثُمَّ قَالَ أَلَا أُخْبِرُكَ بِرَأْسِ الْأَمْرِ وَعَمُودِهِ وَذُرْوَةِ سَنَامِهِ الْجِهَادُ ثُمَّ قَالَ أَلَا أُخْبِرُكَ بِمِلَاكِ ذَلِكَ كُلِّهِ Lalu bersabda: Maukah kuberitahukan puncak ketinggian dari semua ini, tiangnya dan bagian atas dari ketinggian itu? Itu adalah jihad. Maukah kuberitahukan pondasi dari semua ini, yang mana segala sesuatu berputar disekelilingnya.

Saya berkata: Tentu wahai Rasulullah!

فَأَخَذَ بِلِسَانِهِ فَقَالَ تَكُفُّ عَلَيْكَ هَذَا Lalu Rasul menyentuh lidah (mulut) beliau dan bersabda: Jagalah ini (lidah)

قُلْتُ يَا نَبِيَّ اللَّهِ وَإِنَّا لَمُؤَاخَذُونَ بِمَا نَتَكَلَّمُ بِهِ Saya bertanya: Wahai Nabi Allah saw! Apakah kami akan diazab disebabkan apa yang dikatakannya (mulut)

Rasul bersabda: ثَكِلَتْكَ أُمُّكَ يَا مُعَاذُ وَهَلْ يُكِبُّ النَّاسَ عَلَى وُجُوهِهِمْ فِي النَّارِ إِلَّا حَصَائِدُ أَلْسِنَتِهِمْ Semoga kebaikan bagimu. Wahai Mu’adz! Apa yang Anda ucapkan dengan mulutmu yakni ucapan kasar dan melukai perasaan orang lain, yang menimbulkan kekacauan dan menciptakan banyak keburukan, Ketika mulut mengucapkan hal hal yang buruk atau menjadi sarana keburukan yang dapat merugikan diri juga, untuk itu jagalah mulut dan gunakanlah untuk mengucapkan hal hal yang baik.[20]

عَنْ مِصْرِهِ قَالَ كَعْبُ بْنُ مَالِكٍ : وَكَانَ مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ يُفْتِي بِالْمَدِينَةِ فِي حَيَاةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم وَأَبِي بَكْرٍ.  Hadhrat Ka’b bin Malik mengatakan, “Pada zaman Hadhrat Rasulullah dan dan juga Hadhrat Abu Bakr, Hadhrat Mu’adz Bin Jabal biasa memberikan fatwa.”[21]

عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سَهْلِ بْنِ أَبِي حَثْمَةَ ، عَنْ أَبِيهِ ، قَالَ : كَانَ الَّذِينَ يُفْتُونَ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم ثَلاَثَةُ نَفَرٍ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَثَلاَثَةٌ مِنَ الأَنْصَارِ : عُمَرُ ، وَعُثْمَانُ ، وَعَلِيُّ ، وَأُبَيُّ بْنُ كَعْبٍ ، وَمُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ ، وَزَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ. Muhammad Bin Sahl Bin Abu Khaitsmah meriwayatkan dari ayahnya bahwa pada zaman Rasulullah ada tiga orang dari antara Anshar dan tiga orang kalangan Muhajirin yang biasa memberikan fatwa. Mereka adalah Hadhrat Umar, Hadhrat ‘Usman dan Hadhrat Ali serta Hadhrat Ubay Bin Kaab, Hadhrat Mu’adz Bin Jabal dan Hadhrat Zaid Bin Tsabit.[22]

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْقَاسِمِ ، عَنْ أَبِيهِ : أَنَّ أَبَا بَكْرٍ الصِّدِّيقَ ، كَانَ إِذَا نَزَلَ بِهِ أَمَرٌ يُرِيدُ فِيهِ مُشَاوَرَةَ أَهْلِ الرَّأْيِ وَأَهْلِ الْفِقْهِ وَدَعَا رِجَالًا مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ دَعَا عُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيًّا وَعَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ عَوْفٍ وَمُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ وَأُبَيَّ بْنَ كَعْبٍ وَزَيْدَ بْنَ ثَابِتٍ ، وَكُلُّ هَؤُلَاءِ كَانَ يُفْتِي فِي خِلَافَةِ أَبِي بَكْرٍ ، وَإِنَّمَا تَصِيرُ فَتْوَى النَّاسِ إِلَى هَؤُلَاءِ Abdurrahman Bin Qasim meriwayatkan dari ayahnya bahwa Ketika Hadhrat Abu Bakar Sidddiq menghadapi suatu urusan dan ingin meminta pendapat orang dan juga ahli Fiqih, maka beliau memanggil perwakilan dari antara anshar dan muhajirin diantaranya Hadhrat Umar, Hadhrat Usman, Hadhrat Ali, Hadhrat Abdurrahman Bin Auf, Hadhrat Mu’adz Bin jabal, Hadhrat Ubay Bin Kaab dan Hadhrat Zaid Bin Tsabit. Mereka semua biasa memberikan fatwa pada zaman Hadhrat Abu Bakar Siddiq.[23]

Artinya, mereka merupakan anggota dewan Fatwa atau telah diberikan wewenang oleh beliau untuk memberikan fatwa karena keilmuan yang mereka dapatkan dari Rasulullah (saw).

Hadhrat Mu’adz berangkat ke Syam pada zaman Hadhrat Abu Bakr dan menetap di sana. كَانَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ يَقُولُ حِينَ خَرَجَ مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ إِلَى الشَّامِ Pada hari ketika Hadhrat Mu’adz berangkat ke Syam, Hadhrat Umar berkata, لَقَدْ أَخَلَّ خُرُوجُهُ بِالْمَدِينَةِ وَأَهْلِهَا فِي الْفِقْهِ وَمَا كَانَ يُفْتِيهِمْ بِهِ “Disebabkan oleh kepergiannya sehingga sekarang penduduk Madinah merasa perlu oleh beliau karena sebelumnya beliau biasa memberikan fatwa dalam hal Fiqh dan lain-lain.”

Terkait:   Riwayat Sahabat: Thalhah Bin Ubaidullah

وَلَقَدْ كُنْتُ كَلَّمْتُ أَبَا بَكْرٍ رَحِمَهُ اللَّهُ أَنْ يَحْبِسَهُ لِحَاجَةِ النَّاسِ إِلَيْهِ فَأَبَى عَلَيَّ وَقَالَ Hadhrat Umar berkata kepada Hadhrat Abu bakar: Orang orang memerlukannya, mohon hentikan beliau untuk pergi. Namun Hadhrat Abu Bakar menolaknya dengan bersabda: رَجُلٌ أَرَادَ وَجْهًا يُرِيدُ الشَّهَادَةَ فَلَا أَحْبِسُهُ orang yang telah beriradah dan mengharapkan mati syahid, aku tidak dapat menghentikannya.

Hadhrat Umar berkata, وَاللَّهِ إِنَّ الرَّجُلَ لَيُرْزَقُ الشَّهَادَةَ وَهُوَ عَلَى فِرَاشِهِ وَفِي بَيْتِهِ عَظِيمُ الْغِنَى “Seseorang dapat dianugerahi mati syahid sekalipun ketika berada diatas ranjangnya.”[24]

Tsaur Bin Yazid meriwayatkan bahwa Hadhrat Mu’adz bin Jabal (معاذ بن جبل) radhiyAllahu ta’ala ‘anhu ketika shalat tahajud di malam hari berdoa sebagai berikut: اللَّهُمَّ قَدْ نَامَتِ الْعُيُونُ ، وَغَارَتِ النُّجُومُ  “Allahumma qad naamatil ‘uyuunu; wa ghaaratin nujuumu – “Ya Allah, mata-mata makhluk telah tertidur. Bintang gemintang telah tenggelam. وَأَنْتَ حَيٌّ قَيُّومٌ ، اللَّهُمَّ طَلَبِي لِلْجَنَّةِ بَطِيءٌ wa Anta Hayyun Qayyuumun; Allahumma thalabii lil jannati bathii-un Engkau Maha Hidup dan Senantiasa Mandiri serta menegakkan makhluk. Ya Allah pencarian hamba demi surga begitu berkekurangan (amat kurang beramal saleh). وَهَرَبِي مِنَ النَّارِ ضَعِيفٌ wa harabii minan naari dha’iifun – Hamba lemah dalam melarikan diri dari api neraka. اللَّهُمَّ اجْعَلْ لِي عِنْدَكَ هُدًى تَرُدُّهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ ، إِنَّكَ لا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ Allahummaj’al lii ‘indaka hudan tarudduhu ilaa yaumil qiyaamah; innaka laa tukhliful mii’aad. Wahai Allah bimbinglah hamba secara khusus dari Engkau, bimbingan yang Engkau berikan hingga hari Kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak mengingkari janji.”[25]

Hadhrat Anas bin Malik meriwayatkan, أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم وَمُعَاذٌ رَدِيفُهُ عَلَى الرَّحْلِ قَالَ ‏ “Suatu kali Hadhrat Mu’adz menunggang kendaraan di belakang Rasulullah (saw) dan beliau (saw) bersabda, يَا مُعَاذُ بْنَ جَبَلٍ ‘Ya (wahai) Mu’adz Bin Jabal.’ Beliau menjawab, لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَسَعْدَيْكَ‏ ‘Saya hadir, wahai Rasulullah. Saya di hadapan Anda.’

Beliau (saw) bersabda, يَا مُعَاذُ ‘Wahai Mu’adz!’ Beliau menjawab, لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَسَعْدَيْكَ ‘Saya hadir, wahai Rasulullah. Saya di hadapan Anda.’

Beliau (saw) bersabda, ‘Wahai Mu’adz!’ Beliau menjawab, ‘Saya hadir, wahai Rasulullah. Saya di hadapan Anda.’

Tiga kali beliau (saw) menyerunya kemudian beliau (saw) bersabda, مَا مِنْ أَحَدٍ يَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ صِدْقًا مِنْ قَلْبِهِ إِلاَّ حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ ‏ siapa yang bersaksi dengan hati yang jujur bahwa tiada sembahan selain Allah dan Muhammad (saw) adalah Rasul-Nya maka Allah pasti akan mengharamkan api neraka atasnya.

Beliau berkata, يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَفَلاَ أُخْبِرُ بِهِ النَّاسَ فَيَسْتَبْشِرُوا ya Rasulullah, tidakkah lebih baik aku beritahu orang-orang tentang ini, mereka pasti senang?

Beliau (saw) bersabda, إِذًا يَتَّكِلُوا ‘Kalau begitu mereka akan beranggapan cukup dengan mengatakan hal ini saja dan tidak perlu melakukan kebaikan lain. Oleh karena itu jangan sampaikan pada mereka.’ وَأَخْبَرَ بِهَا مُعَاذٌ عِنْدَ مَوْتِهِ تَأَثُّمًا Hadhrat Mu’adz memberitahukan hal ini ketika sakratul maut sehingga beliau selamat dari dosa.”[26]

Artinya, Hadhrat Mu’adz (ra) tidak menyampaikan apa yang disampaikan Rasulullah (saw) ini pada yang lain. Beliau berpikiran, “Hal ini harus saya sampaikan kepada orang-orang berilmu sebelum kematian saya.” Maka dari itu beliau memberitahunya. Tapi, beliau tidak memberitahu siapapun ketika beliau sehat.

Hadhrat Waliyullah Syah Sahib menulis dalam syarh (uraian dan tafsiran) atas Shahih al-Bukhari dan beliau juga menjelaskan referensi hadith-hadits termasuk Hadits yang tadi telah saya sampaikan di sini, “Membatasi hal-hal bersifat keilmuan pada orang-orang tertentu karena ini adalah masalah keilmuan sehingga dibatasi hanya untuk orang-orang tertentu saja. Sebab orang-orang awam akan mengalami kerugian dikarenakan tidak mampu memahami makna yang sebenarnya sehingga mereka merasa cukup hanya mengucapkan itu dan tidak perlu mengamalkan apapun. Jangan sampai mereka memahami bahwa kalau sudah mengucapkan laa ilaaha illallah maka tidak perlu lagi amal apapun. Meskipun demikian sekarang kita melihat keadaan umat Muslim sedemikian rupa bahwa mereka hanya Muslim sebatas nama saja. Mereka mengganggap setelah membaca dua Kalimah Syahadat maka tidak perlu amal apapun.”

Kemudian Hadhrat Syah Sahib menulis, “Hadits ini menjelaskan tentang hal-hal seperti ini. Berbagai hadits menjelaskan tentang ini dan hadits ini salah satunya.”

Kemudian beliau menulis, “Imam Muslim juga meriwayatkan riwayat Hadhrat Ibnu Mas’ud dari sanad yang sahih sebagai berikut: مَا أَنْتَ بِمُحَدِّثٍ قَوْمًا حَدِيثًا لَا تَبْلُغُهُ عُقُولُهُمْ ، إِلَّا كَانَ لِبَعْضِهِمْ فِتْنَةً Maksud dari petunjuk Nabi (saw) ini adalah, ‘Jika Anda berbicaralah dengan orang-orang tidak sesuai dengan akal dan pemahaman mereka maka hal demikian menjerumuskan sebagian mereka ke dalam fitnah.’”[27]

Kemudian Hadhrat Waliyullah Syah Sahib menulis, “Sekarang kita melihat seorang mukmin…” Bahkan Syah Sahib menulis, “…Baiklah, ini riwayat-riwayat lainnya.”

Penjelasannya cukup panjang sehingga saya tinggalkan rinciannya.

Bagaimanapun juga beliau menulis, “Bagaimana orang-orang yang mengaku mukmin (beriman) menjadikan ikrar Laa ilaaha illallah di mulut sebagai jaminan dan ingin memberikan sertifikat iman kepada umat manusia dengan membebaskan mereka dari kesulitan-kesulitan syariat lalu tidak memperdulikan shidqan min qalbihi (pembenaran dari hatinya), yakni mereka tidak memperhatikan kewajiban-kewajiban syariat. Setiap maulvi yang berpidato di mimbar berpemahaman, ‘Setiap orang yang shalat di belakangku dan membaca Syahadat, dia telah mendapatkan sertifikat sehingga tidak perlu apapun lagi.’”

Kemudian beliau menulis, “Perumpamaan (gambaran) mengenai orang-orang yang mengaku beriman di mulut semata-mata Rasulullah (saw) bersabda, ‘Saat itu iman tidak akan ada di hati dan lidah (mulut), tapi iman akan ada di bintang Tsurayya.’ Meskipun ini berkaitan tentang akhir zaman, tapi saat itu ada juga orang-orang seperti itu sehingga beliau (saw) menyampaikan perihal orang yang mengucapkan kalimat syahadat.”

Kemudian beliau menulis, “Beliau (saw) juga bersabda, مَنْ لَقِيَ اللَّهَ لاَ يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا دَخَلَ الْجَنَّةَ yang artinya, ‘Siapa yang menjauhi segala macam syirik hingga maut datang, dia akan masuk dalam surga.’[28] Diamnya Rasulullah (saw) setelah tiga kali menyeru Hadhrat Mu’adz dan kemudian menyampaikan hal ini sebenarnya beliau (saw) ingin memantik perasaan dan keingintahuan Hadhrat Mu’adz. Ketika sudah dua tiga kali beliau (saw) menyeru dan Hadhrat Mu’adz menjawab saya hadir saya hadir labbaik, maka timbullah perhatian dan rasa ingin tahu tentang apa yang ingin Rasulullah (saw) sampaikan. Ketika suatu spirit perhatian yang murni sudah timbul maka barulah Rasulullah (saw) memberitahu beliau…”

Kemudian Syah Sahib menulis, “…supaya apa yang disampaikan Rasulullah (saw) benar-benar diingat dengan baik dan pengaruhnya merasuk hingga ke jiwa. Jadi seruan beliau (saw) sebanyak dua tiga kali itu adalah untuk menarik perhatian. Hadhrat Mu’adz (ra) juga sepenuhnya menghormati seruan petunjuk Rasulullah (saw) untuk tidak memberitahukan hal itu. Ketika sakratul maut barulah Hadhrat Mu’adz (ra)  memberitahukan supaya jangan sampai beliau dimintai pertanggungjawaban karena tidak memberitahu suatu hal yang sangat penting. Jangan sampai Allah Ta’ala berkata, ‘Kamu mengetahui sesuatu tapi tidak membagikannya kepada orang-orang.’ Hal itu artinya, masalah keilmuan hendaknya disampaikan sekurang-kurangnya kepada orang-orang yang berilmu.

Lagi pula dewasa ini umat Muslim mengaku beriman dan dengan membaca syahadat mereka beranggapan sudah bersih dari syirik. Tapi hati mereka penuh dengan syirik dan bergantung pada benda-benda duniawi. Penceramah-penceramah ulung pun bergantung pada benda-benda duniawi jika keadaan mereka yang asli dibuka.

Hadits yang sudah dijelaskan di atas bahwa api neraka haram bagi orang-orang yang mengucapkan syahadat, dari hadits ini ada satu hal yang jelas bahwa Allah-lah yang memberikan ganjaran dan bukanlah kewenangan manusia untuk memfatwakan atas orang-orang Muslim yang membaca kalimat syahadat bahwa si fulan Muslim dan si fulan bukan Muslim. Fatwa-fatwa yang dibuat-buat sendiri ini bertentangan juga dengan ajaran al-Qur’an.

Pada hari-hari ini umat Muslim sangat mahsyur merayakan Miladun Nabi pada bulan Rabiul Awal. Pada dasarnya kita harus mengamalkan talim dan uswah Rasulullah saw. Jangan hanya menganggap diri kita Muslim sebatas pada pikiran belaka, bahkan serahkanlah urusan orang-orang yang membaca syahadat pada Allah Ta’ala. Inilah yang akan membuat ruh Rasulullah (saw) bahagia dan hal ini adalah rasa bahagia yang sampai pada beliau (saw) dari umat beliau. Seraya mengirimkan salawat, bersyukur jugalah pada Allah Ta’ala karena Dia tidak meninggalkan agama Rasulullah (saw) tanpa pewaris. Bahkan sesuai dengan janji dan nubuatan Dia mengutus Masih Mau’ud untuk menghidupkan agama yang memberitahu kita tentang hakikat kalimat syahadat dan pengamalan hukum-hukum syariat supaya api neraka benar-benar haram untuk kita.”

Semoga Allah Ta’ala juga memberi akal pada orang-orang yang mengingkari Hadhrat Masih Mauud as supaya mereka memahami hal ini. Semoga Allah Ta’ala menjadikan kita orang-orang yang memahami dan mengamalkan ajaran Islam hakiki dan hakikat kalimat syahadat.

Hadhrat Mu’adz bin Jabal meriwayatkan, خَرَجْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَامَ غَزْوَةِ تَبُوكَ فَكَانَ يَجْمَعُ الصَّلاَةَ فَصَلَّى الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيعًا وَالْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ جَمِيعًا حَتَّى إِذَا كَانَ يَوْمًا أَخَّرَ الصَّلاَةَ ثُمَّ خَرَجَ فَصَلَّى الظُّهْرَ وَالْعَصْرَ جَمِيعًا ثُمَّ دَخَلَ ثُمَّ خَرَجَ بَعْدَ ذَلِكَ فَصَلَّى الْمَغْرِبَ وَالْعِشَاءَ جَمِيعًا ‏ “Kami berangkat bersama dengan Rasulullah (saw) pada tahun perang Tabuk. Beliau (saw) menjamak shalat-shalat. Beliau menjamak shalat Zhuhur dengan Ashar dan Maghrib dengan Isya. Suatu hari beliau sedikit menta-khir (mengakhirkan) shalat. Beliau keluar dan menjamak shalat Zhuhur dengan Ashar kemudian masuk lagi ke dalam. Kemudian keluar dan menjamak shalat Maghrib dengan Isya.” (di sini bukan berarti keempat shalat ini dikerjakan dalam satu waktu. Melainkan jaraknya yang sedikit dan sedapat mungkin shalat zhuhur ashar dijamak di waktu ashar dan maghrib isya dikerjakan di waktu awal maghrib.)

ثُمَّ قَالَ ‏”‏ إِنَّكُمْ سَتَأْتُونَ غَدًا إِنْ شَاءَ اللَّهُ عَيْنَ تَبُوكَ وَإِنَّكُمْ لَنْ تَأْتُوهَا حَتَّى يُضْحِيَ النَّهَارُ فَمَنْ جَاءَهَا مِنْكُمْ فَلاَ يَمَسَّ مِنْ مَائِهَا شَيْئًا حَتَّى آتِيَ ‏ Kemudian beliau (saw) bersabda, ‘Besok insyallah kalian akan sampai di mata air tabuk. Bagaimanapun juga sebelum hari begitu siang kalian tidak akan sampai di mata air itu. Kalian tidak akan sampai di mata air itu sebelum siang.’

Yakni, beliau (saw) memperkirakan bahwa mereka akan sampai siang hari.

beliau (saw) bersabda, ‘Siapapun dari antara kalian yang sampai duluan di mata air itu, jangan sentuh air itu sebelum aku datang. Jangan minum dan sentuh air itu sebelum aku datang.’”

Perawi meriwayatkan, فَجِئْنَاهَا وَقَدْ سَبَقَنَا إِلَيْهَا رَجُلاَنِ وَالْعَيْنُ مِثْلُ الشِّرَاكِ تَبِضُّ بِشَىْءٍ مِنْ مَاءٍ “Kemudian kami sampai di mata air itu, tapi sebelum kami sudah ada dua orang yang sampai duluan. Mata air itu seperti tali sepatu yang mengalirkan air sedikit saja; sangat kecil alirannya.”

Perawi meriwayatkan, فَسَأَلَهُمَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم ‏”‏ هَلْ مَسَسْتُمَا مِنْ مَائِهَا شَيْئًا ‏”‏ ‏.‏ قَالاَ نَعَمْ ‏.‏ فَسَبَّهُمَا النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم وَقَالَ لَهُمَا مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَقُولَ “Rasulullah (saw) bertanya pada kedua orang itu, ‘Apakah kalian menyentuh airnya, apakah kalian mengacau airnya?’

Mereka berkata, ‘Ya kami mengeluarkan airnya dan meminumnya.’

Kemudian Rasulullah (saw) menegur mereka berdua, ‘Sudah saya larang kalian. Kenapa kalian menyentuhnya?’ Beliau mengucapkan pada mereka apa yang Allah inginkan.”

Perawi meriwayatkan, “Orang-orang mengeluarkan sedikit demi sedikit air dengan tangan mereka sehingga terkumpullah air itu di sebuah wadah air. Aliran airnya benar-benar sangat kecil.”

Perawi meriwayatkan, ثُمَّ غَرَفُوا بِأَيْدِيهِمْ مِنَ الْعَيْنِ قَلِيلاً قَلِيلاً حَتَّى اجْتَمَعَ فِي شَىْءٍ – قَالَ – وَغَسَلَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِيهِ يَدَيْهِ وَوَجْهَهُ ثُمَّ أَعَادَهُ فِيهَا فَجَرَتِ الْعَيْنُ بِمَاءٍ مُنْهَمِرٍ أَوْ قَالَ غَزِيرٍ – شَكَّ أَبُو عَلِيٍّ أَيُّهُمَا قَالَ – حَتَّى اسْتَقَى النَّاسُ ثُمَّ قَالَ “Kemudian Rasulullah (saw) mencuci kedua tangannya di wadah air itu lalu membasuh muka. Kemudian beliau kembali memasukkan air itu kedalam mata air. Maksudnya, beliau mencuci tangan dan muka sambil duduk di atas mata air itu sehingga air itu jatuh masuk kembali ke mata air. Kemudian mata air itu mengalir begitu deras. Ketika beliau (saw) mencuci tangan dan muka lalu memasukkan air itu ke dalam mata air maka mata air yang tadinya mengalir kecil sekarang mengalir deras sehingga orang-orang minum sepuasnya. Kemudian Rasulullah (saw) bersabda; يُوشِكُ يَا مُعَاذُ إِنْ طَالَتْ بِكَ حَيَاةٌ أَنْ تَرَى مَا هَا هُنَا قَدْ مُلِئَ جِنَانًا ‘Mu’adz, jika umur Anda panjang maka Anda akan melihat di sini penuh dengan kebun-kebun.’”[29]

Dari kitab-kitab Hadits diketahui bahwa mukjizat ini ketika Rasulullah (saw) baru saja sampai di area Tabuk. Menurut Sirah Ibnu Hisyam peristiwa ini terjadi di sebuah lembah bernama Musyqaq ketika kembali dari Tabuk.[30] Peristiwa ini juga diriwayatkan oleh Imam Malik dalam kitabnya Muwatha.

Dalam menjelaskan syarah (uraian) Hadits ini, Muhammad Bin Abdul Baqi az-Zurqani menulis, قَالَ الْبَاجِيُّ: وَهَذَا إِخْبَارٌ بِغَيْبٍ قَدْ وَقَعَ، وَخَصَّ مُعَاذًا بِذَلِكَ لِأَنَّهُ اسْتَوْطَنَ الشَّامَ وَبِهَا مَاتَ، فَعَلِمَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْوَحْيِ أَنَّهُ سَيَرَى ذَلِكَ الْمَوْضِعَ كَمَا ذَكَرَ، وَأَنَّهُ يَمْتَلِئُ جِنَانًا بِبَرَكَتِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَلَوْ لَمْ يَكُنْ لَهُ مُعْجِزَةٌ غَيْرَ هَذِهِ لَتَبَيَّنَ صِدْقُهُ وَظَهَرَتْ حُجَّتُهُ. “Abu Walid al-Baji berkata, ‘Ini adalah khabar ghaib yang terjadi dan Rasulullah (saw) secara khusus menyebutkan tentang Hadhrat Mu’adz karena Hadhrat Mu’adz akan pindah ke negeri Syam dan di sana beliau wafat. Beliau (saw) mengetahui melalui wahyu bahwa Hadhrat Mu’adz akan melihat tempat ini dan lembah ini akan menjadi kumpulan pepohonan dan kebun-kebun berkat beliau.’

وَقَالَ ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ: قَالَ ابْنُ وَضَّاحٍ: أَنَا رَأَيْتُ ذَلِكَ الْمَوْضِعَ كُلَّهُ حَوَالَيْ تِلْكَ الْعَيْنِ جِنَانًا خَضِرَةً نَضِرَةً وَلَعَلَّهُ يَتَمَادَى إِلَى قِيَامِ السَّاعَةِ وَهَكَذَا النُّبُوَّةُ، وَأَمَّا الشَّجَرُ فَلَا يَبْقَى بَعْدَ مُفَارَقَةِ صَاحِبِهِ اهـ. Allamah Ibnu Abdul Barri berkata bahwa Ibnu Wadhdhaah berkata, ‘Saya sudah melihat seluruh tempat di sekitar mata air itu. Hijau dan suburnya pepohonan sedemikian rupa sehingga barangkali ini akan berlangsung hingga hari kiamat dan seperti itulah nubuatan beliau.’”[31]

Dalam buku “Al-Aqdas”, sebuah buku tentang Siratun Nabi atau Biografi Nabi (saw) ditulis, “Seorang Kepala Bidang Syariah di Tabuk berkata bahwa mata air ini terus mengalir sampai dua tahun yang lalu sejak 1375 tahun lalu. Setelah itu pada area yang mengandung air digali sumur-sumur sehingga air dari mata air tersebut berpindah ke sumur-sumur tersebut. Itu artinya setelah dibagi ke dalam 25 sumur sekarang mata air ini mengering. Kemudian kami dibawa ke salah satu sumur. Di sana kami melihat ada sebuah pipa sebesar 4 inci yang terpasang dan dari pipa itu mengalir air dengan sangat deras tanpa bantuan mesin apapun. Kepada kami disampaikan bahwa seperti inilah kira-kira keadaan seluruh sumur. Ini merupakan keberkatan mukjizat Rasulullah (saw) yakni pada hari ini di Tabuk air begitu melimpah yang mana kami tidak pernah melihat air sebanyak ini selain di Madinah dan Khaibar. Bahkan pada hakikatnya bahwa air tabuk lebih banyak dari kedua tempat itu. Sekarang air itu dimanfaatkan untuk mengairi ladang-ladang di Tabuk. Dan sesuai dengan nubuatan Hadhrat Rasulullah (saw) sekarang daerah Tabuk dipenuhi dengan ladang-ladang dan hari demi hari terus bertambah.”

Terkait:   Keteladanan Para Sahabat Rasulullah (saw), seri 78

Selebihnya insya Allah akan saya lanjutkan nanti.

Pada kesempatan ini setelah shalat Jum’at saya juga akan menyalatkan beberapa jenazah. Saya akan sampaikan riwayat mereka. Yang pertama, Bapak Maulwi Farzand Khan, Mubaligh Incharge Distrik Khordha, Dunyagarh Aresyah. Beliau sakit diabetes. Pada 10 September beliau dibawa ke rumah sakit dikarenakan sakit thypus dan pnemounia hebat secara tiba-tiba. Dan di sana beliau wafat. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Almarhum seorang Mushi. Selain Istri beliau, Ibu Sakinah Begum, beliau meninggalkan seorang putri, Farihah dan seorang putra yang bernama Reyhan.

Almarhum selalu terdepan dalam tugas-tugas Jema’at. Almarhum seorang yang bertakwa, memperhatikan para Mubaligh dan Mu’allim yang bekerja di bawah beliau, lemah lebut, rendah hati, berakhlak baik, sangat saleh dan sosok yang mukhlis. Pada tahun 1980 beliau masuk Jamiah Qadian dan lulus pada tahun 1988, lalu bertugas ke lapangan pengkhidmatan. Almarhum melakukan pengkhidmatan dengan penuh kerja keras, keikhlasan dan ruh waqaf selama 31 tahun. Dalam kurun waktu tersebut beliau membaiatkan banyak orang di berbagai tempat dan berdiri banyak Jema’at.

Istri Almarhum, Ibu Sakinah Begum menuturkan, “Maulwi Sahib menceritakan bahwa beliau pertama kali ditugaskan di Haryana. Di sana belum berdiri Jema’at dan tidak ada Ahmadi. Almarhum berkeliling ke berbagai tempat di daerah tersebut dan bertabligh serta mendirikan pusat Jema’at. Beliau datang ke kampung di Provinsi Haryana untuk menyampaikan pesan Jema’at. Di sana ada seorang penduduk lokal, ia mengatakan, ‘Kerbau kami tidak mengeluarkan susu. Jika Jema’at anda benar, maka doakanlah oleh anda, lalu saya akan minumkan sedikit kepada kerbau supaya kerbau saya mengeluarkan susu. Jika anda benar dan mukjizat ini terjadi, maka seluruh keluarga kami akan berbaiat.’”

Maulwi Sahib mengatakan, “Saya membaca surah Al-Fatihah dan Shalawat dan beberapa kalimat doa, lalu meniupkannya ke air dan memberikannya kepada orang tersebut.” Lalu ia pergi membawa air itu. Maulwi Sahib mengatakan, “Di kampung itu ada satu pohon dan saya melewati sepanjang malam dengan duduk dan berdoa di bawah pohon tersebut, semoga Allah Ta’ala membuktikkan mukjizat kebenaran Hadhrat Masih Mau’ud (as).” Keesokan paginya Maulwi Sahib melihat seseorang membawa sebuah ember. Ketika dilihat isinya ternyata susu. Orang itu mengatakan, “Maulwi Sahib! Kerbau kami mengeluarkan susu dan dengan senang hati saya dan seluruh keluarga saya sekarang memahami bahwa Jema’at Ahmadiyah benar. Kami akan bergabung ke dalamnya.”

Putra Almarhum, Rayhan menuturkan, “Almarhum adalah seorang yang sangat sederhana dan rendah hati, berhati lembut, bersikap kasih sayang kepada setiap orang. Almarhum menjalani hidupnya untuk keridhoan Allah Ta’ala dan demi mengkhidmati Jema’at. Mengucapkan labaik kepada setiap instruksi dan petunjuk Khalifah dan menekankan hal ini juga kepada kami. Almarhum selalu memperlakukan kami dengan kecintaan dan kasih sayang. Selain melaksanakan tugas-tugas Jema’at Almarhum juga membantu pekerjaan-pekerjaan rumah, membantu istri dan sepanjang usianya Almarhum menjaga shalatnya dan shalat-shalat kami juga. Selalu menasihatkan kepada kami untuk berjalan di atas Shiraat Mustaqiim. Semua Mu’allim dan Muballigh yang bekerja dengan beliau menulis bahwa beliau adalah seorang Muballigh teladan. Almarhum sosok yang penuh simpati dan kami tidak pernah melihat Almarhum dalam kondisi marah.”

Jenazah selanjutnya, Bapak Abdullah Musiku, Mubaligh Lokal Malaysia. Pada 7 Oktober beliau tidak sadarkan diri, lalu dibawa ke rumah sakit. Beliau tidak dapat bertahan dan wafat pada malam itu juga. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Almarhum berusia 68 tahun. Almarhum seorang mushi. Di antara yang ditinggalkan, selain istri juga ada 8 orang anak. Almarhum adalah mertua dua Muballigh Malaysia, Bapak Shalahuddin dan Bapak Masrur Ahmad.

Bapak Abdullah Musiku lahir di Filipina. Setelah lulus dari Universitas Almarhum bergabung dengan organisasi Muslim Moro Liberal Front. Organisasi ini menentang pemerintah. Tujuan mereka adalah mendirikan pemerintahan Islam di Filipina. Pada 1973 kedua orang tua Almarhum hijrah dari Filipina ke Malaysia dan tinggal di Sandakan, Sabah. Singkatnya, Allah Ta’ala menganugerahkan kepada Almarhum hati yang bersih. Dalam mimpi beliau berulangkali bertemu dengan Hadhrat Masih Mau’ud (as), Khalifatul Masih Ats-Tsani (ra) dan Khalifatul Masih Ats-Tsalits (rh). Dengan kehendak Allah Ta’ala, Almarhum mendapatkan kesempatan ikut serta pada Jalsah Salanah di Kota Kinabalu, pada tahun 1973 dan setelah menyaksikan Jalsah semua kondisi tersebut menjadi sarana meningkatnya keimanan dan akhirnya beliau baiat.

Di tempat di mana beliau tinggal di Sandakan, di sana tidak ada Mubaligh dan Almarhum memiliki ruh yang haus akan pengkhidmatan, oleh karena itu untuk menghilangkan rasa hausnya tersebut Almarhum banyak mempelajari literatur-literatur Jemaat. Almarhum sangat gemar bertabligh. Almarhum mewujudkan kegemarannnya ini dalam bentuk amalan nyata. Almarhum banyak bertabligh kepada kawan-kawan, sanak kerabat dan lingkungan. Hasilnya banyak orang yang bergabung ke dalam Jema’at. Dan dikarenakan kegemarannya bertabligh ini Almarhum mewaqafkan dirinya dan kemudian ditugaskan sebagai Muballigh. Kemudian demikian juga Almarhum mendapatkan kesempatan untuk bertugas di Filipina bersama dengan Bapak Maulana Khairuddin Barus dan dikarenakan fitrat beliau yang baik, kecintaan akan ilmu, kesederhanaan, kerendahan hati dan rasa takut kepada Allah Ta’ala, maka di sana pun Almarhum bekerja dengan sangat baik dan melakukan perdebatan-perdebatan juga dengan orang-orang Kristen. Almarhum membawa beberapa orang ke dalam pangkuan Islam.

Almarhum tidak bisa berbicara dalam bahasa Urdu namun senang mempelajarinya. Almarhum menghafal kutipan-kutipan dan nazm-nazm. Almarhum selalu senang mengkhidmati tamu. Pada hari Jum’at secara khusus Almarhum mengkhidmati para tamu. Almarhum sosok yang disiplin dan menginginkan setiap orang juga berdisiplin dan Almarhum melaksanakan tarbiyat berdasarkan ini. Sudah sejak beberapa tahun Almarhum kesulitan untuk berjalan. Meskipun demikian Almarhum tidak membiarkan rasa sakit ini menjadi penghalang dalam tugas-tugas Almarhum.

Jenazah yang ketiga, Bapak Abdul Wahid, Mu’allim di Qadian yang wafat pada 12 September di usia 56 tahun. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Almarhum berasal dari keluarga Kristen. Dalam keluarga Almarhum yang paling pertama mendapatkan karunia baiat adalah kakak beliau yang merupakan pensiunan Mu’allim, kemudian setelah itu seluruh keluarga berbaiat. Setelah menerima Ahmadiyah Almarhum mengambil kursus 3 tahun di Jami’atul Mubasyiriin. Setelah lulus dari sana Almarhum kemudian pergi bertabligh ke beberapa daerah. Almarhum juga melaksanakan tanggung jawab tarbiyat di berbagai daerah di Qadian. Almarhum adalah seorang yang sangat taat dan bekerja dengan penuh semangat.

Almarhum memiliki kemampuan bertabligh yang sangat baik, Melalui perantaraan beliau tiga keluarga Kristen dan tiga keluarga ghair Ahmadi bergabung ke dalam Jema’at dan dua orang di antara mereka juga dengan karunia Allah Ta’ala menjadi Mushi, yakni mereka tidak hanya baiat, melainkan juga meningkat dalam kebaikan. Di antara yang ditinggalkan, selain istri, juga seorang putra dan dua orang putri. Putra Almarhum tahun ini lulus dari Jamiah Ahmadiyah dan menjadi Mubaligh.

Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat para Almarhum, memberikan kepada mereka rahmat dan ampunan-Nya, menganugerahkan taufik kepada anak keturunan mereka untuk dapat meneruskan kebaikan-kebaikan mereka dan segala keinginan-keinginan mereka mengenai tarbiyat anak keturunan mereka, semoga Allah Ta’ala memenuhinya dan menjadi penolong sejati Khilafat. Beberapa putra mereka juga Waqaf Zindegi. Semoga Allah Ta’ala menganugerahkan rahmat dan ampunan-Nya.

Sebagaimana yang telah saya sampaikan, insya Allah setelah Jumat saya akan memimpin shalat jenazah mereka.

Khotbah II

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ – وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ!

 إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ –

أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Penerjemah: Mln. Mahmud Ahmad Wardi, Syahid (London, UK), Mln. Muhammad Hasyim (Indonesia) dan Mln. Saefullah MA (Qadian-India). Editor: Dildaar Ahmad Dartono. Rujukan pembanding: https://www.islamahmadiyya.net


[1] Usdul Ghaabah.

[2] Ma’rifatush Shahaabah karya Abu Nu’aim al-Ashbahani.

[3] Ath-Thabaqaat al-Kubra.

[4] Usdul Ghaabdah dan al-Isti’aab.

[5] Shahih al-Bukhari, Kitab al-Maghazi (كتاب المغازى), Bab Ka’b bin Malik (باب حَدِيثُ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ).

[6] Shahih al-Bukhari, Kitab Manaqib (كتاب مناقب الأنصار), bab Manaqib Zaid bin Tsabit (باب مَنَاقِبُ زَيْدِ بْنِ ثَابِتٍ رضى الله عنه).

[7] Sahih al-Bukhari 3806, Kitab keutamaan kaum Anshar (كتاب مناقب الأنصار), bab Manaqib Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu (باب مَنَاقِبُ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رضى الله عنه).

[8] Shahih al-Bukhari (صحيح البخاري), Kitab keutamaan orang Anshar (كتاب مناقب الأنصار), bab keutamaan Ubay ibn Ka’b (باب مَنَاقِبُ أُبَىِّ بْنِ كَعْبٍ رضى الله عنه), no. 3808.

[9] Pengantar Mempelajari Al-Qur’an, Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad, Anwarul ‘Uluum jilid 20, h. 427.

[10] Sunan Ibnu Majah hadis nomor 151 (Lihat: Hasyiatus Sindi Ibnu Majah) https://carihadis.com/Sunan_Ibnu_Majah/151; Ibn al-Athīr (d. 1233 CE) dalam karyanya Usd al-ghāba fī maʿrifat al-ṣaḥāba ابن الأثير – أسد الغابة
Ibn ʿAbd al-Barr (d. 1071 CE) dalam karyanya – al-Istīʿāb fī maʿrifat al-ṣaḥāba ابن عبد البر – الاستيعاب في معرفة الصحابة

[11] Musnad Ahmad bin Hanbal (مسند أحمد ابن حنبل), Musnad Abu Hurairah (مُسْنَدُ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ), 9268. Al-Mustadrak ‘alash Shahihain (  المستدرك على الصحيحين كِتَابُ مَعْرِفَةِ الصَّحَابَةِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ ذِكْرُ مَنَاقِبِ أَبِي عُبَيْدَةَ بْنِ الْجَرَّاحِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ حديث رقم 5164).

[12] Musnad Ahmad bin Hanbal (مسند أحمد ابن حنبل), Musnad al-Anshar (مُسْنَدُ الْأَنْصَارِ), Hadits Mu’adz bin Jabal (حَدِيثُ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ); Hadits-Hadits Tematik dari kumpulan Kitab Sepuluh Hadits (المسند الموضوعي الجامع للكتب العشرة) karya Shuhaib Abdul Jabbar (صهيب عبد الجبار), Tema ketiga yaitu Fiqh (ثالثا: الفقه), Jenis pertama dari kitab Fiqh yaitu Ibadah (القسم الأول من كتاب الفقه: العبادات), pasal kedua dari Kitab Ibadah yaitu shalat (الفصل الثاني من كتاب العبادات: {الصلاة}), bahasan dzikr sesudah shalat (الذكر والدعاء بعد الصلاة).

[13] Musnad Ahmad bin Hanbal (مسند أحمد ابن حنبل), Musnad al-Anshar (مُسْنَدُ الْأَنْصَارِ), Hadits Mu’adz bin Jabal (حَدِيثُ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ) nomor 20991: عَنْ الصُّنَابِحِيّ ، عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخَذَ بِيَدِهِ يَوْمًا ، ثُمَّ قَالَ : . Majma’uz Zawaaid (مجمع الزوائد ومنبع الفوائد), (باب ما جاء في لا حول ولا قوة إلا بالله), 16897.

[14] Musnad Ahmad bin Hanbal (مسند أحمد ابن حنبل), Musnad al-Anshar (مُسْنَدُ الْأَنْصَارِ), Hadits Mu’adz bin Jabal (حَدِيثُ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ), nomor 21652.

[15] Shahih al-Bukhari (صحيح البخاري), Kitab tentang Adzan (كتاب الأذان), bab jika seseorang telah shalat lalu menjadi imam shalat berjamaah bersama orang lain (باب إِذَا صَلَّى ثُمَّ أَمَّ قَوْمًا), 711.

[16] Shahih Muslim, Kitab tentang shalat (كتاب الصلاة), bab bacaan Surah saat shalat Isya (باب الْقِرَاءَةِ فِي الْعِشَاءِ).

[17] Shahih al-Bukhari (صحيح البخاري), Kitab tentang Adzan (كتاب الأذان), bab Imam digugat karena membaca Surah yang panjang atau membuat lama shalat berjamaah (باب مَنْ شَكَا إِمَامَهُ إِذَا طَوَّلَ).

[18] Sunan an-Nasai (سنن النسائي), Kitab Imamah (كتاب الإمامة), bab beda niat Imam dan Makmum (باب اخْتِلاَفِ نِيَّةِ الإِمَامِ وَالْمَأْمُومِ) dan bab keluarnya seseorang dari shalat berjamaah dan mendirikan shalat sendiri (باب خُرُوجِ الرَّجُلِ مِنْ صَلاَةِ الإِمَامِ وَفَرَاغِهِ مِنْ صَلاَتِهِ فِي نَاحِيَةِ الْمَسْجِدِ).

[19] Shahih Muslim, Kitab tentang shalat (كتاب الإيمان), bab bacaan Surah saat shalat Isya (باب مَنْ لَقِيَ اللَّهَ بِالإِيمَانِ وَهُوَ غَيْرُ شَاكٍّ فِيهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ وَحَرُمَ عَلَى النَّارِ).

[20] Sunan Ibnu Majah hadis nomor 3963 (Lihat: Hasyiatus Sindi Ibnu Majah) 3963/4332

[21] Hayaatush Shahaabah (حياة الصحابة 1-3 ج3), karya al-Kandahlawi (محمد يوسف/الكاندهلوي).

[22] Ath-Thabaqaat karya Ibnu Sa’d (الطبقات الكبير لابن سعد), bab kedua (المجلد الثاني), bab para cendekiawan dan pemberi fatwa dari kalangan Shahabat Rasulullah saw (بَابُ أَهْلِ الْعِلْمِ وَالْفَتْوَى مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم), nomor 2334. Tercantum juga dalam Mushannaf ‘Abdur Razzaaq (مصنف عبد الرزاق), (كتاب الجامع), (باب الرخص والشدائد).

[23] Ath-Thabaqaat karya Ibnu Sa’d (الطبقات الكبير لابن سعد), bab kedua (المجلد الثاني), bab para cendekiawan dan pemberi fatwa dari kalangan Shahabat Rasulullah saw (بَابُ أَهْلِ الْعِلْمِ وَالْفَتْوَى مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم), nomor 2333.

[24] Ath-Thabaqaat karya Ibnu Sa’d (الطبقات الكبير لابن سعد), bab kedua (المجلد الثاني), bab para cendekiawan dan pemberi fatwa dari kalangan Shahabat Rasulullah saw (بَابُ أَهْلِ الْعِلْمِ وَالْفَتْوَى مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم) 2325.

[25] Tarikh Dimasyq, h. 438. (تاريخ مدينة دمشق – ج 58 – مسعود – معافى); Usdul Ghabah fi ma’rifatish shaahabah, Mu’adz ibn Jabal, Darul Fikr, Beirut, 2003.

[26] Sahih al-Bukhari 128, Kitab tentang ilmu pengetahuan (كتاب العلم), bab tentang mereka yang hanya mengajarkan orang-orang tertentu saja karena khawatir bila mengajarkan kepada selain mereka maka tidak memahaminya (باب مَنْ خَصَّ بِالْعِلْمِ قَوْمًا دُونَ قَوْمٍ كَرَاهِيَةَ أَنْ لاَ يَفْهَمُوا).

[27] Shahih Muslim (صحيح مسلم), Kitab al-Muqaddimah (المُقدِّمة ), bab penjelasan mengenai iman kepada Allah dan jalan-jalan agama (بَابٌ فِي بَيَانِ الْإِيمَانِ بِاللَّهِ وَشَرَائِعِ الدِّينِ ), (حديث رقم 12).

[28] Sahih al-Bukhari 129, Kitab tentang ilmu pengetahuan (كتاب العلم), bab tentang mereka yang hanya mengajarkan orang-orang tertentu saja karena khawatir bila mengajarkan kepada selain mereka maka tidak memahaminya (باب مَنْ خَصَّ بِالْعِلْمِ قَوْمًا دُونَ قَوْمٍ كَرَاهِيَةَ أَنْ لاَ يَفْهَمُوا): قَالَ أَلاَ أُبَشِّرُ النَّاسَ قَالَ ‏”‏ لاَ، إِنِّي أَخَافُ أَنْ يَتَّكِلُوا ‏”‏‏ . Mu’adz bertanya, “Apakah saya beritahukan saja orang-orang mengenai ini?” Nabi (saw) menjawab, “Tidak. Saya khawatir mereka tergantung dengan ucapan ini.”

[29] Shahih Muslim, Kitab Keutamaan (كتاب الفضائل), bab Mu’jizat-Mu’jizat Nabi (saw) (باب فِي مُعْجِزَاتِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم).

[30] Sirah an-Nabawiyyah karya Ibnu Hisyam (السيرة النبوية لابن هشام), Ghazwah atau ekspedisi militer Tabuk (غَزْوَةُ تَبُوكَ فِي رَجَبٍ سَنَةَ تِسْعٍ), bahasan Lembah Musyqaq dan mata airnya (حَدِيثُ وَادِي الْمُشَقَّقِ وَمَائِهِ).

[31] Syarh az-Zurqani ‘ala Muwatha Imam Malik (Uraian az-Zurqani atas Kitab Hadits Muwatha karya Imam Malik) dan Az-Zurqani dalam Syarh atas al-Mawaahib al-Laduniyyah (شرح الزرقاني على المواهب اللدنية بالمنح المحمدية). Beliau adalah Abu Abdullah Muhammad ibn Abd al-Baqi bin Yusuf bin Ahmad bin ‘Ulwan az-Zurqani (أبوعبد الله محمد بن عبد الباقي بن يوسف بن أحمد بن علوان الزرقاني، الفقيه المالكي الأصولي) (lahir 1122 H/1645 – w 1122 H/1710 M). Zurqan ialah nama sebuah desa di Mesir. Karyanya yang lain ialah Mukhtaṣar al-maqāṣid al-ḥasanah fī bayān kathīr min al-aḥādīth al-mushtaharah ʻalá al-alsinah (مختصر المقاصد الحسنة للسَّخاوي وهو مطبوع).
Abu al-Walid al-Baji adalah seorang sarjana madzhab Maliki dan penyair terkenal dari Beja, Andalusia (Spanyol). Al-Baji bekerja di berbagai waktu sebagai penjaga dan pandai emas untuk menghidupi dirinya sendiri. Dia adalah sezaman dengan ahli hukum Ibnu Hazm. Dia meninggal pada 1081. Kelahiran: 27 Mei 1013, Badajoz, Spanyol. Meninggal: 1081, Almería, Spanyol.

Ibnu Al-Wadhdhah (ابْن وَضَّاحٍ أَبُو عَبْدِ اللهِ مُحَمَّدُ بنُ وَضَّاح المَرْوَانِيُّ) atau lengkapnya Abu Abdullah Muhammad bin Wadhdhaah bin Bazi’ al-Marwani, maula Shahibul Andalus mantan budak penguasa Andalusia keturunan Bani Marwan-Umayyah, ‘Abdurrahman bin Mu’awiyah ad-Dakhil (الإِمَامُ، الحَافِظُ، مُحَدِّثُ الأَنْدَلُس مَعَ بَقِيٍّ، أَبُو عَبْدِ اللهِ مُحَمَّدُ بنُ وَضَّاح بن بَزِيع المَرْوَانِي، مَوْلَى صَاحِب الأَنْدَلُس عبد الرَّحْمَن بن مُعَاوِيَةَ الدَّاخل). Beliau hidup dari tahun 199 Hijriyah hingga 287 Hijriyyah (815-899). Madzhab Maliki cukup dominan saat itu di Spanyol.

(Visited 76 times, 1 visits today)