Tanggung Jawab Para Ahmadi Saat Menanggapi Tuduhan dan Caci Maki Para Penentang
Khotbah Jumat Sayyidinā Amīrul Mu’minīn, Hazrat Mirza Masroor Ahmad, Khalīfatul Masīḥ al-Khāmis (أيده الله تعالى بنصره العزيز, ayyadahullāhu Ta’ālā binashrihil ‘azīz) pada 6 Juni 2025 di Masjid Mubarak, Islamabad, Tilford (Surrey), UK (United Kingdom of Britain/Britania Raya)
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ
أَمَّا بَعْدُ، فَأَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ ١ الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ ٢ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ ٣ مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ ٤ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ ٥ اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ ٦
Saat ini, di satu sisi, terdapat manfaat dari media sosial dan manfaat ini pun diambil, tetapi di sisi lain, ada beberapa hal yang menyakitkan, dan dengan memanfaatkan hal ini, para penentang Jemaat di masa ini berbicara dengan sangat keji terhadap Jemaat. Mereka melontarkan kebohongan dan kata-kata cacian terhadap Hazrat Masih Mau’ud a.s. yang membuat hati seorang Ahmadi sangat bersedih ketika mendengarnya, dan kemudian sebagai reaksi, beberapa Ahmadi juga memberikan jawaban dengan cara yang salah. Meskipun niat mereka mungkin baik, namun terkadang kata-kata yang terucap adalah kata-kata yang bisa diambil makna yang keliru. Ini bukanlah cara kita, seorang Ahmadi harus menghindari hal ini.
Bukanlah jalan kita untuk menggunakan bahasa yang tidak pantas atau menjawab dengan cara yang membuat kita secara tidak sengaja mengucapkan kata-kata yang bisa menjadi bentuk penghinaan terhadap siapa pun, sehingga para penentang memanfaatkannya untuk terus mengatakan bahwa kita, na’ūżubillāh, menghina Nabi Muhammad saw. atau menghina para sahabat riḍwānullāh ‘alaihim. Padahal, kedudukan beliau saw. dan para sahabat di hati kita bahkan tidak bisa dipahami sepersejuta bagiannya oleh orang-orang ini. Kita mengorbankan segalanya untuk Rasulullah saw.. Beliau saw. adalah Khātamul-Anbiyā, yang merupakan nabi terakhir dan kekasih Allah Taala, dan mengenai para sahabat beliau, Hazrat Masih Mau’ud a.s. telah menyampaikan sabda-sabda dan ungkapan di banyak tempat yang bahkan melampaui pemikiran para penentang kita.
Alhasil, di hati kita bukan hanya kedudukan Nabi Muhammad saw. yang ada, [bahkan juga kedudukan para sahabat]. Tidak ada yang bisa mencapai tingkatan itu. Para sahabat beliau saw. juga memiliki kedudukan yang tinggi di hati kita, dan setiap Ahmadi harus mengingat hal ini dan menghindari perkataan yang dapat menimbulkan kesan yang keliru atau terdapat kekhawatiran menimbulkan kesan yang keliru dalam bentuk apa pun. Beberapa Ahmadi berpikir bahwa mereka telah menunjukkan gejolak semangat yang besar dengan memberikan jawaban seperti itu. Ketika mereka ditanya, inilah jawaban mereka. Padahal gejolak semangat palsu ini adalah suatu kebodohan, dan jika seorang Ahmadi mengucapkan hal-hal yang dapat ditafsirkan secara keliru dengan cara apa pun, maka ia akan mencemarkan nama Hazrat Masih Mau’ud a.s. dan Jemaat.
Hazrat Masih Mau’ud a.s. bersabda, “Kalian harus bersabar dan selalu menunjukkan kesabaran.” Di suatu tempat beliau a.s. bersabda, “Mereka mencaci maki diriku, tetapi aku tidak peduli dengan cacian mereka dan tidak juga merasa sedih karenanya, sebab mereka telah merasa benar-benar tidak berdaya dan tidak dapat menyembunyikan ketidakberdayaan dan kehinaan mereka kecuali dengan mencaci maki.” Mereka menggunakan cara-cara keji dan senjata rendahan ini karena mereka tidak memiliki argumen, tidak memiliki jawaban, sehingga orang-orang ini hanya ingin mencaci maki.
Beliau a.s. bersabda, “Mereka mengeluarkan fatwa kufur, membuat kasus-kasus palsu, dan melancarkan berbagai macam fitnah dan tuduhan. Biarlah mereka menggunakan seluruh kekuatan mereka untuk melawanku dan lihatlah kepada siapa keputusan akhir akan berpihak. Lakukanlah apa pun usaha yang ingin kalian lakukan, tetapi Allah Taala bersamaku, keputusan akhir akan terlihat berpihak kepada siapa.”
Beliau a.s. bersabda, “Jika aku peduli dengan cacian mereka, maka pekerjaan utama yang Allah telah serahkan kepadaku akan terabaikan. Oleh karena itu, sementara aku tidak peduli dengan cacian mereka, aku menasihati Jemaatku supaya hendaknya mendengarkan cacian mereka dengan sabar dan jangan pernah membalas cacian dengan cacian, karena dengan cara ini keberkatan akan hilang. Tunjukkanlah teladan kesabaran dan ketabahan, perlihatkanlah akhlak kalian. Ingatlah dengan sungguh-sungguh bahwa antara akal dan amarah terdapat permusuhan yang berbahaya. Ketika gejolak amarah datang, akal tidak dapat tetap berfungsi. Namun, orang yang bersabar dan menunjukkan contoh kesabaran akan diberi cahaya yang menciptakan pencerahan baru dalam kekuatan akal dan pemikirannya, dan kemudian dari cahaya itu akan lahir cahaya lainnya. Dalam keadaan marah, karena hati dan pikiran menjadi gelap, maka kegelapan akan melahirkan kegelapan.”
Jadi, inilah pelajaran yang harus selalu kita ingat. Orang-orang yang telah menganggap diri mereka sendiri sebagai ulama dan mulai memberikan jawaban di media sosial, yang menjawab keberatan-keberatan dari para mullah palsu non-Ahmadi, mereka harus menghindari hal ini. Jika mereka ingin mencari jawaban, mereka harus bertanya kepada para ulama Jemat yang memiliki pengetahuan mendalam tentang literatur Jemaat, dan jawaban yang diberikan haruslah benar-benar kuat dan mampu membantah argumen dan tuduhan mereka.
Amalkanlah ajaran Hazrat Masih Mau’ud a.s. yang pada hakikatnya adalah ajaran Islam yang sejati. Jika tidak, maka kalian yang berada di dalam Jemaat justru akan mencemarkan nama Jemaat. Semoga Allah Taala melindungi kita dari kejahatan orang-orang yang jahat dan memberikan akal kepada mereka yang menunjukkan gejolak semangat yang palsu dan terkadang dengan tanpa alasan menggunakan kata-kata tertentu yang menyebabkan tersebarnya fitnah dan kekacauan. Jika kita, alih-alih memberikan jawaban di media sosial, tunduk di hadapan Allah Taala, melaksanakan salat-salat kita dengan baik, dan menciptakan keperihan dalam sujud kita yang membangkitkan gejolak kemuliaan Allah Taala, maka kita akan dapat memperoleh hasil yang jauh lebih baik daripada yang ingin dicapai oleh orang-orang ini melalui jawaban mereka.
Oleh karena itu, setiap Ahmadi harus menghindari hal ini dan jangan pernah mengatakan hal-hal yang justru memberi kesempatan kepada musuh untuk mengatakan bahwa seorang Ahmadi telah mengatakan ini dan itu. Akhlak kita harus sangat tinggi dan luhur, dan barangsiapa yang tidak memiliki akhlak yang luhur, ia belum memenuhi hak baiat kepada Hazrat Masih Mau’ud a.s.. Oleh karena itu, kita harus mengevaluasi diri kita sendiri, setiap orang harus mengevaluasi dirinya, berpikir, dan alih-alih memberikan jawaban yang salah, berikanlah perhatian kepada doa-doa. Semoga Allah Taala memberikan taufik kepada kita semua untuk menjalankan hal ini, semoga Dia membalikkan kejahatan para penentang kepada diri mereka sendiri, dan melindungi kita darinya.[1]
اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهٗ وَنَسْتَعِيْنُهٗ وَنَسْتَغْفِرُهٗ وَنُؤْمِنُ بِهٖ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَّهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهٗ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهٗ – وَنَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهٗ وَرَسُوْلُهٗ -عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ أُذكُرُوْ االلهَ يَذْكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
[1] Penerjemah: Mln. Muhammad Hasyim