Tujuan Kedatangan Al-Masih yang dijanjikan

Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 31 Juli 2020 (Wafa 1399 Hijriyah Syamsiyah/10 Dzulhijjah 1441 Hijriyah Qamariyah) di Masjid Mubarak, Tilford, UK (United Kingdom of Britain/Britania Raya)

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ. (آمين)

Pada pagi tadi kita telah melaksanakan shalat Eid dan hari ini juga bertepatan dengan hari jumat. Jika Eid dan Jumat menyatu dalam satu hari, kita temukan sabda Rasulullah saw, اجْتَمَعَ عِيدَانِ فِي يَوْمِكُمْ هَذَا فَمَنْ شَاءَ أَجْزَأَهُ مِنَ الْجُمُعَةِ  “Jika seseorang menghendaki untuk melakukan shalat Zhuhur saja, bukan Shalat Jumat, maka ia diizinkan.” Namun bersamaan dengan itu Rasulullah (saw) pun bersabda, وَإِنَّا مُجَمِّعُونَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ “Kami akan melaksanakan Jumat.”[1] Beliau saw melaksanakan ibadah Jumat.

Terkait hal itu, saya telah menyampaikan kepada Bapak Amir (Ketua Umum Jemaat Ahmadiyah Inggris), “Siapa yang ingin melaksanakan shalat Zhuhur, mereka dapat melaksanakan shalat Zhuhur secara berjamaah dan tidak perlu melaksanakan ibadah Jumat.”

Keadaan saat ini membuat orang-orang tidak dapat berkumpul dalam jumlah banyak di masjid. Secara umum orang-orang berada di rumah dan jika mereka leluasa di rumah, mereka dapat melaksanakan ibadah Jumat juga di rumah seperti biasa mereka lakukan sebelumnya. Bagi mereka yang memiliki kesibukan pekerjaan, mereka dapat melaksanakan shalat Zhuhur saja. Akan tetapi, dalam rangka mengikuti amal perbuatan Rasulullah (saw), saat ini kita mengadakan ibadah Jumat.

Demikian pula, pada zaman Hadhrat Mushlih Mau’ud (ra) suatu ketika Eid dan Jumat jatuh pada hari yang sama. Beberapa orang menyampaikan dalil-dalilnya lalu mengatakan bahwa hendaknya dilakukan shalat Zhuhur saja dan ibadah Jumat tidak perlu. Beliau ra memberikan jawaban yang sangat baik dengan bersabda, “Betapa dermawannya Tuhan kita yang mana Dia telah memberikan dua Eid (dua hari raya) sekaligus kepada kita. Bagi mereka yang akan mendapatkan dua roti capati (capati = roti dari bahan gandum dan air dan tidak beragi atau tawar), lantas kenapa pula ia menolak salah satu rotinya? Secara alami orang itu akan menerima keduanya kecuali jika ia mendapatkan satu keterpaksaan yang khas. Karena itulah Rasulullah (saw) mengizinkan. Maksudnya, jika seseorang menghadapi keterpaksaan lalu ingin melaksanakan shalat Zhuhur saja tanpa ibadah Jumat maka orang lain hendaknya tidak melontarkan keberatan pada orang itu.

Ada juga yang mendapatkan taufik untuk dapat melakukan kedua shalat tersebut, maka orang lain hendaknya tidak melontarkan keberatan kepadanya dengan mengatakan bahwa orang itu tidak memanfaatkan keringanan yang diberikan. Pendeknya, memang itu sebuah keringanan, namun yang tampak dari amal perbuatan Rasulullah (saw) kepada kita adalah beliau bersabda, ‘Kami akan melaksanakan ibadah Jumat (setelah eid).’”

Dengan demikian, sebagaimana telah yang saya katakan, kami tengah melakukan ibadah Jumat pada hari ini, namun khotbah akan saya sampaikan secara singkat saja. Saya telah memilih beberapa sabda Hadhrat Masih Mau’ud (as) yang di dalamnya beliau (as) menjelaskan tujuan diutusnya beliau. Beliau juga menyampaikan sabda yang penuh makrifat perihal meyakini Nabi Muhammad (saw) sebagai Khatamun Nabiyyin dan nabi yang hidup. Beliau juga menjelaskan perihal maqam dan martabat Rasulullah (saw).

Para penentang kita melontarkan keberatan kepada kita dengan mengatakan, “Kalian dengan beriman kepada Hadhrat Masih Mau’ud (as), berarti kalian telah – nauzubillah – mengurangi maqom dan martabat Rasulullah (saw).” Para penentang kita merasa bangga karena telah meluluskan sebuah resolusi di parlemen yang isinya kewajiban untuk menambahkan gelar Khatamun nabiyyin setelah menyebut nama Rasulullah (saw). Dengan melakukan hal ini, mereka merasa memperlihatkan kecintaan yang dalam kepada Rasulullah (saw) dan kedudukan beliau (saw).

Jika memang hati mereka pada hakikatnya memberikan kesaksian akan hal itu lalu menjadikan mereka mengamalkan teladan suci Rasulullah saw, tentu saja itu perkara yang sangat baik. Namun, amal perbuatan mereka telah menjauhkan mereka bermil-mil dari ajaran Nabi (saw).

Jika seseorang kembali sejenak pada zaman Nabi Muhammad (saw) lalu menerapkan ajaran dan teladan yang beliau (saw) contohkan, maka tidak akan ada umat Muslim saat ini tidak akan saling membunuh antara sesama. Daripada melakukan itu, mereka akan datang dengan berlari untuk baiat kepada Imam zaman dan hamba sejati Rasulullah (saw).

Mereka beranggapan bahwa dengan mengharuskan menulis gelar Khatamun Nabiyyin setelah menulis nama Rasulullah (saw) sebagai sebuah kewajiban [menurut Undang-Undang Pakistan], berarti telah memberikan jasa yang sangat besar dan dengan berbuat demikian beranggapan telah menghalangi jalan para Ahmadi.

Orang-orang yang tuna ilmu itu tidaklah menyadari bahwa justru para Ahmadi-lah yang memahami secara benar maqam (status) Khatamun Nabiyyin dan hal ini telah Hadhrat Masih Mau’ud (as) ajarkan kepada kita. Orang-orang ini tidak akan mempu mendekati kekuatan dan pengaruh yang terdapat dalam sabda-sabda Hadhrat Masih Mau’ud (as). Setiap amalan dan langkah Hadhrat Masih Mau’ud (as) merupakan perwujudan kecintaan sejati beliau (as) kepada Hadhrat Khatamul Anbiya Muhammad Mustafa (saw) hal mana pemikiran mereka pun tidak akan dapat sampai kepadanya. Berkenaaan dengan itu banyak sekali sabda Hadhrat Masih Mau’ud (as) dan juga tulisan beliau (as). Saat ini akan saya sampaikan beberapa diantaranya.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda mengenai tujuan pengutusan beliau dan kemajuan Jemaat. Beliau berbicara ditujukan kepada para penentang sebagai berikut,

“Kedatangan saya memiliki dua tujuan. Bagi umat Muslim adalah memastikan supaya mereka tegak diatas ketakwaan dan kesucian sejati serta menjadi Muslim sejati sesuai dengan makna Muslim seperti yang dikehendaki Allah Ta’ala dan mereka mengamalkan hokum-hukum Allah Ta’ala dengan segenap ketaatan.

Tujuan kedua pengutusan saya terkait bagi orang-orang Kristen adalah untuk mematahkan salib supaya gagasan salah tuhan palsu mereka tidak tampak dan dunia sepenuhnya melupakan hal itu lalu beribadah hanya kepada Tuhan yang Satu.”

Beliau (as) bersabda,

“Setelah mengetahui tujuan kedatangan saya tersebut, kenapa mereka masih menentang saya juga? Mereka hendaknya ingat bahwa amal perbuatan apa saja yang dilakukan dengan warna ketidaksucian dalam diri pelakunya dan terwarnai dengan kekotoran kehidupan duniawinya, maka hal itu akan binasa dengan sendirinya disebabkan oleh racun yang ada di dalamnya tersebut.”

Jika di dalam hati seseorang terdapat kemunafikan dan kekotoran maka tidak ada keberkatan dalam perbuatan yang seperti itu, bahkan serta merta hasilnya akan terlihat dan perbuatan-perbuatan tersebut akan sia-sia (gagal) dan dihancurkan.

Apakah seorang pendusta bisa berhasil? إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ مُسْرِفٌ كَذَّابٌ ()  ‘Innallaaha laa yahdii man huwa musrifun kadzdzaab.’ – ‘Sesungguhnya Allah Ta’ala tidaklah memberikan petunjuk kepada orang yang melampaui batas dan pendusta. إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ مُسْرِفٌ كَذَّابٌ ()  ‘Innallaaha laa yahdii man huwa musrifun kadzdzaab.’ – ‘Bagi si pendusta, cukuplah kedustaannya sebagai penyebab kehancurannya.’[2] (Artinya, jika seseorang berdusta, kesalahan mereka ini akan membawa mereka menuju kehancuran mereka.)

Namun, perbuatan apa pun yang dilakukan dengan membawa keberkatan Tuhan nan Perkasa dan Rasul-Nya (saw) dan merupakan tanaman yang ditanam oleh Tangan Tuhan sendiri, maka para malaikat sendirilah yang akan melindunginya.”

Bukanlah dibawah kemampuan manusia untuk melakukan hal itu. Dikarenakan Jemaat ini didirikan oleh Allah Ta’ala, maka para malaikat-Nya akan turun menjaganya. Siapa yang dapat menghancurkannya? Ini merupakan sebuah tantangan. Seberapa besar penentangan dihadapi, sebesar itu pulalah kemajuan Jemaat yang dialami, dengan karunia-Nya.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda,

“Ingatlah, jika memang Jemaat saya ini didirikan semata-mata demi kepentingan duniawi, maka ia akan hilang sampai ke akar-akarnya. Namun jika Jemaat ini berasal dari Allah Ta’ala, dan memang sesungguhnya berasal dari Allah ta’ala, sekalipun seluruh dunia menentangnya, maka tetap akan tumbuh berkembang dan para malaikat akan menjaganya. Jika tidak ada yang menyertai saya walau satu orang saja dan tidak ada yang membantu, tetap saja saya meyakini bahwa Jemaat ini akan berkembang dan berhasil.”

Beliau (as) bersabda,

“Saya tidak mempedulikan penentangan.” (karena itu akan selalu ada.) “…dan saya menganggap penentangan sebagai suatu keniscayaan bagi kemajuan Jemaat. Tidak pernah terjadi ketika Allah ta’ala mengutus seorang pilihan-Nya atau Khalifah-Nya ke dunia ini lalu orang-orang menerimanya dengan senang hati tanpa penentangan. Sungguh aneh keadaan dunia. Tanpa memperhatikan bagaimana luhurnya ketakwaan seseorang, ada saja manusia yang tidak mau berhenti untuk membiarkannya dan terus melontarkan keberatan kepadanya.”

Beliau (as) bersabda, “Dengan karunia Allah Ta’ala, kemajuan Jemaat kita terjadi secara luar biasa.”

Pada hari ini kita menyaksikan lebih dari 200 negeri yang terdapat orang-orang tulus yang baiat kepada beliau. Ketika beliau as menulis hal tersebut, jumlah Ahmadi masih ratusan. Saat ini dengan karunia Allah Ta’ala ratusan ribu yang baiat dari tahun ke tahun. Beliau (as) bersabda: “Tujuan utama mendirikan Jemaat ini adalah supaya manusia dapat keluar dari kekotoran duniawi dan meraih kesucian sejati serta mengarungi kehidupan seperti malaikat.”

Sesuai dengan sabda Hadhrat masih Mau’ud (as) tersebut, merupakan tanggung jawab kita untuk menyelaraskan keadaan kita sejalan dengan ajaran Islam yang sebenarnya. Inilah cara yang sebenarnya untuk mengalahkan mereka yang memusuhi kita dan memperoleh kemenangan atas mereka.

Hadhrat Aqdas Masih Mau’ud (as) menyampaikan mengenai pernyataan keimanan beliau dan yang juga diyakini Jemaat beliau dan ketaatan sejati kepada Nabi Muhammad (saw),

“Saya katakan dengan sebenar-benarnya, dan saya katakan dengan bersumpah demi Allah bahwa saya dan Jemaat saya adalah orang-orang Muslim. Jemaat saya mengimani Al-Quran al-Karim dan Nabi Muhammad (saw) sebagaimana seharusnya seorang Muslim sejati wajib mengimaninya.

Saya meyakini bahwa satu dzarrah (satu hal kecil) saja melangkah keluar dari Islam merupakan penyebab kebinasaan. Dan inilah keyakinan saya, bahwa seberapa besar pun karunia dan berkat yang dapat seseorang peroleh, dan seberapa pun taqarrub ilahiyah (kedekatan pada Allah) yang dapat ia peroleh, semua itu dapat diperoleh semata-mata karena ketaatan sejati dan kecintaan sempurna kepada Nabi Muhammad (saw). Tanpa mengikuti beliau (saw), itu semua adalah mustahil. Selain beliau (saw) tidak ada lagi jalan kebaikan saat ini.

Memang benar pula saya sama sekali tidak percaya Nabi Isa (as) telah naik dan hidup di langit dengan tubuh jasmaninya dan sampai sekarang masih hidup. Hal ini karena mempercayai Nabi Isa (as) masih hidup berarti terang-terangan telah menghina dan merendahkan kehormatan Nabi Muhammad (saw).

Saya tidak dapat menerima penghinaan semacam itu barang sesaat pun. Semua orang mengetahui bahwa Nabi Muhammad (saw) telah wafat dalam usia 63 tahun dan pusara beliau ada di Madinah Thayyibah. Tiap tahun ribuan orang, bahkan ratusan ribu jamaah haji berziarah ke sana.

Jika seseorang meyakini Nabi Isa (as) telah wafat atau menganggap beliau (as) telah wafat merupakan suatu ketidakhormatan, maka saya bertanya, jika seseorang meyakini Nabi Muhammad (saw) telah wafat maka mengapa hal itu tidak dianggap telah berlaku tidak hormat dan tercela terhadap beliau (saw)?”

Mengapa orang-orang menerima bahwa Nabi Muhammad (saw) telah wafat dan dimakamkan di Madinah? [Sementara itu, mereka tidak menerima bila ada orang yang beranggapan Nabi isa (as) telah wafat.]

Selanjutnya Pendiri Jemaat (as) bersabda,

“Dengan amat gembira kalian mengatakan bahwa beliau (saw) telah wafat. Pada upacara kelahiran anak kalian, para penceramah menceritakan peristiwa-peristiwa dalam kehidupan Nabi Muhammad (saw) dan membicarakan kewafatan beliau (saw) dalam bahasa yang fasih dan irama merdu. Bahkan, kalian lebih bergembira daripada orang kafir dalam hal tanpa menentang kalian menerima bahwa Nabi (saw) telah wafat.

Karena itulah, saya tidak mengerti, mengapa terdapat huru-hara terhadap penyampaian bahwa Nabi Isa (as) telah wafat. Batu macam apakah yang telah menghantam kalian dengan begitu keras [sesuatu yang membuat kalian marah] sehingga hanya dengan menyatakan kewafatan Nabi Isa (as) saja kalian menjadi begitu marah?”

Saat ini pun sebagian orang, sebagian ulama dan sebagian firqah yang menyebabkan keributan terhadap kepercayaan ini dengan mengatakan, “Coba lihat, apa yang telah dilakukan oleh mereka (orang-orang Ahmadi).” Sebagian dari mereka menolak bahwa nabi Isa as akan datang. Sebagian lagi meyakini bahwa nabi Isa akan datang (turun), namun tidak meyakini bahwa Al-Masih yang dijanjikan adalah pendiri Jemaat karena menurut mereka Nabi Isa (as) masih hidup di langit.

Selanjutnya Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda:

“Kami juga tidak berkebaratan apabila kalian meneteskan air mata karena mendengar kata-kata perihal kewafatan Rasulullah (saw). Tetapi yang sangat disesalkan adalah kalian menerima dengan amat gembira kewafatan Sang Khataman Nabiyyiin dan Sarwar-e-do-’Alam (Pemimpin dunia ini dan selanjutnya). Namun berkenaan dengan seseorang yang menganggap dirinya sendiri tidak layak membuka tali sepatu Rasulullah (saw) [yaitu Nabi Isa (as)], kalian meyakini beliau (as) masih hidup. Dan kalian menjadi amat murka ketika mulut [seseorang] mengatakan bahwa Nabi Isa (as) sudah wafat. Andai saja Rasulullah (saw) masih hidup hingga saat ini, maka tidak masalah, karena beliau (saw) telah datang membawa petunjuk agung yang tidak dijumpai bandingannya di dunia ini. Dan beliau saw telah memperlihatkan keadaan-keadaan amalan dimana semenjak zaman Nabi Adam (as) sampai saat ini, tidak ada yang dapat mengemukakan contoh semisal dengan itu.

Saya katakan kepada kalian dengan sebenar-benarnya bahwa kaum Muslimin dan bahkan seluruh dunia lebih memerlukan keberadaan Rasulullah (saw) daripada keberadaan Nabi Isa (as). Wujud beliau (saw) adalah wujud yang penuh berkat sedemikian rupa sehingga pada saat kewafatan beliau (saw), keadaan para sahabat menjadi menghadapi tekanan perasaan yang hebat sampai-sampai Hadhrat Umar (ra) menghunus pedangnya dan mengatakan akan memenggal kepala siapa yang menyebut Rasulullah (saw) telah wafat. Dalam keadaan yang emosional itu, Allah Ta’ala menganugerahkan nur yang khas dan ketajaman pikiran kepada Hadhrat Abu Bakr ash-Shiddiq (ra). Beliau mengumpulkan semua orang lalu menyampaikan khotbah dengan membacakan ayat berikut: وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ الرُّسُلُ ۚ () yakni, ‘Muhammad hanyalah seorang Rasul dan telah berlalu semua Rasul sebelum beliau.’

Sekarang, renungkanlah oleh Anda, pikirkanlah katakan, mengapa Hadhrat Abu Bakr ash-Shiddiq (ra) membacakan ayat ini pada saat kewafatan Hadhrat Rasulullah (saw)? Apakah maksud serta tujuan beliau? Dan beliau ra membacakannya dalam keadaan semua sahabat hadir. Dengan sesungguhnya saya katakan, dan Anda pun tidak dapat mengingkarinya bahwa hati para sahabat dilanda kesedihan teramat dalam karena wafatnya Hadhrat Rasulullah (saw). Mereka menganggap kewafatan Rasulullah (saw) itu tidak dan belum pada waktunya. Mereka tidak dapat menerima kabar bahwa Hadhrat Rasulullah (saw) telah wafat.

Keadaannya sedemikian rupa sehingga Hadhrat Umar (ra) sebagai seorang sahabat yang terkemuka dan gagah berani pun tidak dapat mengendalikan kemarahannya dan di tengah keadaan yang mengharukan itu, hanya dengan menyimak ayat inilah yang membuat beliau menjadi tenang. Seandainya Hadhrat Umar (ra) berkeyakinan bahwa Hadhrat Isa (as) masih hidup, maka hal itu tentu akan menggoncangkan jiwa beliau, bahkan dpat membuat beliau mati seketika di sana. Hadhrat Umar (ra) adalah pecinta Nabi Muhammad (saw) dan selain hidupnya Nabi Muhammad (saw), beliau tidak dapat menerima seseorang lain masih hidup [di langit]. Maka dari itu, bagaimana bisa Hadhrat Umar (ra) meyakini kewafatan beliau (saw) tapi beranggapan Nabi Isa (as) masih hidup?

Dalam kata lain, betapa setelah menyimak Hadhrat Abu Bakr (ra) berkhotbah, gejolak hati beliau mereda. Saat itu para sahabat membaca ayat tersebut di jalanan kota Madinah dan merasa seolah-olah baru saat itulah ayat tersebut turun.

Hadhrat Hasan bin Tsabit (ra) menulis sebuah syair terkait peristiwa ini yang di dalamnya beliau mengatakan:

كُنتَ السَّوَادَ لِنَاظِرِي ‘Kuntas sawaada li naazhirii.’ – ‘Engkau dahulu adalah biji mataku,

فَعَميَ عَلَيْكَ النَّاظِرُ ‘Fa’amiya ‘alaykan naazhiru.’ – (Kini setelah kewafatan engkau) mataku menjadi buta.

مَنْ شَاءَ بَعْدَكَ فَلْيَمُتْ ‘Man syaa-a ba’daka falyamut.’ – Setelah kematian engkau, ‘ku tak peduli siapa pun yang mati,

فَعَلَيْكَ كَنتُ أُحَاذِرُ ‘Fa ’alaika kuntu uhaadziru.’ (namun yang) kutakutkan hanyalah kewafatan engkau.’[3]

Karena ayat yang disebut sebelumnya menyatakan bahwa semua orang sebelum Nabi Muhammad (saw) telah wafat, maka Hadhrat Hasan (ra) pun mengatakan: ‘Sekarang tidak kupedulikan siapa pun yang akan mengalami kematian. Pahamilah dengan sesungguhnya, terlalu sulit bagi para sahabat untuk percaya bahwa seorang [Nabi lain] masih hidup sedangkan Hadhrat Rasulullah (saw) telah wafat. Mereka tidak dapat menerima hal itu kecuali bagi Hadhrat Rasulullah (saw) saja. Dengan demikian, ini merupakan ijma’ pertama yang terjadi di dunia setelah wafatnya Hadhrat Rasulullah (saw) dan di dalamnya telah pula diputuskan perihal kewafatan Hadhrat Isa as.

Selanjutnya berkenaan dengan maqam dan martabat Rasulullah saw, Hadhrat Aqdas Masih Mau’ud (as) bersabda:

“Beliau-lah manusia yang dengan pribadinya, sifat-sifatnya, perbuatan-perbuatannya, tindakan-tindakannya dan dengan ruhani dan kedahsyatan daya kesuciannya telah menampilkan teladan sempurna dan penuh secara keilmuan, amal perbuatan, kebenaran dan keteguhan dan atas hal itu beliau disebut sebagai Insan Kamil (manusia sempurna).”

Tidak ada segi yang tersisa dalam hal beliau (saw) merupakan teladan dalam keilmuan, amal perbuatan, tolok ukur kebenaran, keteguhan dan ilmu makrifat juga. Atas dasar itulah, beliau (saw) disebut juga sebagai insan kamil.

Selanjutnya beliau (as) bersabda,

“Beliaulah manusia yang paling sempurna dari semua manusia. Beliau seorang sempurna baik sebagai manusia mau pun sebagai seorang Rasul. Beliau datang membawa berkat paling istimewa. Beliau yang telah menimbulkan kehidupan ruhani dan kebangkitan kembali menjadi penampakan dari Hasyr (penghakiman) pertama di dunia dan dengan demikian telah menghidupkan kembali [keruhanian] dunia.” (mereka dikaruniai dengan kehidupan ruhani baru.) “Beliaulah Rasul yang penuh berkat, beliau sayyiduna (junjungan kita) Khatamun Nabiyyin (sebuah dunia yang runtuh secara ruhani telah dihidupkan kembali melalui beliau saw), “imaamul ashfiyaa (imam para suci), penghulu para muttaqi, khatamul mursaliin (terbaik dari antara semua Rasul), fakhrun nabiyyiin (kebanggaan semua Nabi) adalah Muhammad Mushthafa shallallahu ‘alaihi wa sallam.

فيا ربنا الحبيب ارحم وسلِّم على هذا النبي الحبيب رحمة وسلاما لم ترحم وتسلِّم بمثلها على أحد منذ بدء الخليقة ‘Yaa Rabbanaa al-Habiib, arham wa sallim ‘alaa haadzan Nabiyyil habiibi rahmatan wa salaaman lam tarham wa tusallim bi mitslihaa ‘alaa ahadin mundzu bad-il khaliqah.’ – “Wahai Tuhan kami nan Tersayang, turunkanlah rahmat dan berilah kesejahteraan kepada nabi tersayang ini dengan jenis rahmat dan kesejahteraan yang belum pernah Engkau turunkan sebelumnya kepada siapa pun sejak awal penciptaan.”

Jika Rasul agung ini tidak muncul di dunia maka kami tidak akan memiliki bukti kebenaran Rasul-Rasul yang berada di bawah derajat beliau (saw) seperti Yunus, Ayyub, Isa Ibnu Maryam, Malakhi, Yahya, Zakaria dan lain-lain. Memang benar, mereka itu semuanya adalah sosok-sosok terhormat, dekat dengan Allah Ta’ala dan dicintai Allah Ta’ala namun merupakan jasa baik Rasul agung ini sehingga mereka kemudian orang-orang mengakui kebenaran mereka. اللهم صلّ وسلّم وبارك عليه وآله وأصحابه أجمعين. ‘Allahumma shalli wa sallim wa barik ‘alaihi wa aalihi wa ashhaabihi ajma’iin.’ – ‘Ya Allah, turunkanlah salam dan berkat-Mu atas diri beliau, keluarga dan para pengikut beliau serta para sahabat beliau semuanya.’ Akhir seruan kami ialah الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ Semua puji bagi Allah, Tuhan seru sekalian alam.”[4]

Semoga Allah Ta’ala senantiasa menganugerahi kita pemahaman yang benar mengenai maqam (kedudukan) dan martabat Hadhrat Rasulullah saw dan memberikan taufik kepada kita untuk dapat mengirimkan shalawat kepada beliau. Semoga lebih dari sebelumnya kita menjadi orang-orang yang tunduk ke hadapan Allah Ta’ala. Dengan cara demikianlah kita buktikan kecintaan kepada Rasulullah (saw) dan kita akan tanamkan itu dalam hati kita sehingga kita akan dapat menjawab penentangan para penentang Jemaat, maksudnya keadaan ruhani kita akan menjawab keberatan para penentang kita. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik untuk itu kepada kita.

Khotbah II

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ – وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ!

 إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ –

أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Penerjemah: Mln. Mahmud Ahmad Wardi, Syahid (London, UK) dan Mln. Ataul Ghalib Yudi Hadiana (Bogor, Indonesia). Editor: Dildaar Ahmad Dartono.


[1] Sunan Ibni Maajah, Kitab tentang Shalat dan sunnah mengenainya, nomor 1311. عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ـ صلى الله عليه وسلم ـ أَنَّهُ قَالَ ‏ Riwayat Abdullah ibnu Abbas. Abu Daud di dalam Sunannya juga, kitab tentang shalat (كتاب الصلاة), bab jika Jumat satu hari dengan Idul Fithri atau Idul Adhha (باب إِذَا وَافَقَ يَوْمُ الْجُمُعَةِ يَوْمَ عِيدٍ), dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: قَدِ اجْتَمَعَ فِى يَوْمِكُمْ هَذَا عِيدَانِ فَمَنْ شَاءَ أَجْزَأَهُ مِنَ الْجُمُعَةِ وَإِنَّا مُجَمِّعُونَ Artinya: “Pada hari ini terkumpul bagi kalian dua hari raya, siapa yang ingin mencukupkan dengan (shalat id) daripada shalat Jumat, maka itu cukup baginya, tetapi kami tetap shalat Jumat bersama“. HR. Abu Daud (1/647, no. 1073).

[2] Surah Ghaafir (Mu-min), 40:29: وَقَالَ رَجُلٌ مُّؤْمِنٌ مِّنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَكْتُمُ إِيمَانَهُ أَتَقْتُلُونَ رَجُلًا أَن يَقُولَ رَبِّيَ اللَّهُ وَقَدْ جَاءَكُم بِالْبَيِّنَاتِ مِن رَّبِّكُمْ ۖ وَإِن يَكُ كَاذِبًا فَعَلَيْهِ كَذِبُهُ ۖ وَإِن يَكُ صَادِقًا يُصِبْكُم بَعْضُ الَّذِي يَعِدُكُمْ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ مُسْرِفٌ كَذَّابٌ ()  “Dan seseorang yang beriman di antara keluarga Fir‘aun yang menyembunyikan imannya berkata, ‘Apakah kamu akan membunuh seseorang karena dia berkata, “Tuhanku adalah Allah,” padahal sungguh, dia telah datang kepadamu dengan membawa bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu. Dan jika dia seorang pendusta maka dialah yang akan menanggung (dosa) dustanya itu; dan jika dia seorang yang benar, nis-caya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang yang melampaui batas dan pendusta.’”

[3] Diwan Hasan bin Tsabit. Tuhfah Gaznawiyah, Ruhani Khazain jilid 15 halaman 583

[4] [Inti Pokok Ajaran Islam Vol I hal 199 –Itmamul Hujjah, Ruhani Khazain Vol 8 hal 308]