Apakah Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) Menolak Tawaran Damai dari orang Mekah?

Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) tiada hentinya memperjuangkan perdamaian, sementara orang-orang Mekah selalu berusaha menggagalkan setiap upaya tersebut. Orang-orang Mekah benar-benar ingin membunuh Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) lantaran Beliau berdakwah tentang Tauhid Ilahi, kendati Abu Thalib berupaya keras mendorong orang-orang Mekah untuk menjauhi tindak kekerasan.

Pada sebuah pertemuan di rumah Abu Talib antara Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) dengan orang Mekah, sejarah mencatat bahwa sesungguhnya niatan orang Mekah menghadiri pertemuan tersebut adalah untuk membunuh Nabi (shallallahu ‘alaihi wasallam).

“Tanpa mencapai kesepakatan apapun, para pemimpin berdiri. ‘Uqbah bin Abi Mu’it mulai berkata dengan keras, “Tinggalkan dia sendiri. Nasihat tidak ada gunanya. Dia [Muhammad] harus dibunuh; dia harus dihabisi.” [1]

Abu Thalib secara naluri terganggu atas ide pembunuhan keponakannya. Ketika beliau mendengar adanya pertemuan rahasia untuk menjalankan misi tersebut, beliau hadir dan berkata:

“Kemarin Muhammad telah menghilang selama beberapa waktu. Saya mengira kalian bertindak seperti yang dikatakan ‘Uqbah dan telah membunuhnya. Oleh karena itu, saya memutuskan untuk datang ke Masjidil Haram bersama dengan orang-orang ini. Saya juga telah menginstruksikan bahwa masing-masing dari mereka harus duduk di sebelah kalian, dan segera setelah mereka mendengar aba-aba keras dari saya, mereka harus bangkit dan menyerang kalian dengan senjata tersembunyi. Namun, untungnya saya mendapati bahwa Muhammad masih hidup dan aman dari kezaliman kalian.’ Kemudian beliau meminta orang-orangnya untuk menarik kembali senjata tersembunyi mereka dan mengakhiri pidatonya dengan kata-kata ini: “Demi Allah! Jika kalian membunuhnya, tidak ada seorang pun dari kalian yang akan selamat dan saya akan bertarung hingga akhir … [2]

Jadi, Abu Thalib – pemimpin suku yang sangat dihormati – melihat adanya kecenderungan masyarakat Mekah untuk melakukan kekerasan seperti keinginan mereka, dan Beliau secara proaktif memastikan agar keponakannya tetap aman. Seperti yang diakui oleh Sir William Muir:

Pengorbanan Abu Thalib yang mempertaruhkan dirinya dan keluarganya demi melindungi keponakannya, sementara beliau sendiri belum percaya akan misinya, menunjukkan karakter beliau sebagai pribadi yang amat mulia dan tidak mementingkan diri sendiri. Pada saat yang sama, hal ini menjadi bukti kuat akan ketulusan hati Muhammad. Abu Thalib tidak akan bertindak demikian rupa bagi seorang penipu; dan beliau sendiri juga memiliki banyak sekali sarana pengawasan. [3]

Pada akhirnya, menjelang kematiannya, kata-kata Abu Thalib berikut inilah yang terucap. Menunjukkan bahwa masyarakat Mekah-lah, bukan Nabi Muhammad, yang menolak untuk berdamai:

‘Saya merekomendasikan Muhammad kepada kalian, karena ia merupakan sosok yang dapat dipercaya dari kaum Quraisy, seorang Arab yang jujur, serta memiliki semua kebajikan. Dia membawa ajaran yang telah diterima oleh hati, namun lidah memilih untuk menyangkalnya karena takut akan olokan. Saya bisa melihat bahwa orang-orang Arab yang lemah dan tidak berdaya telah bangkit untuk mendukung Muhammad serta mempercayainya. Dan ia juga bangkit untuk membantu mereka menghancurkan kezaliman Quraisy. Dia telah mempermalukan para pemimpin Ouraisy, menghancurkan rumah-rumah mereka, serta membantu orang-orang yang lemah agar menjadi kuat dan memberi mereka status.’ Beliau mengakhiri pidatonya dengan kata-kata ini: ‘Wahai saudara-saudaraku! Jadilah teman dan pendukung keyakinannya(Islam). Siapapun yang mengikutinya ia akan berjaya. Seandainya kematian memberikan saya waktu lebih banyak, saya akan menangkal semua marabahaya yang menimpa dirinya.” [4]

Dalam catatan lain, Abu Thalib mengatakan:

‘Wahai kaum Quraisy! Di antara ciptaan Allah, kalian adalah kaum pilihan. Tuhan telah memberi kehormatan yang besar pada kalian. Saya mewasiatkan untuk berlaku baik pada Muhammad. Karena di antara kalian, ia adalah seorang yang berahlak mulia. Dia berbeda dari orang Arab lainnya karena jujur dan apa adanya. Jika kalian mencari kebenaran, dia telah membawa pesan kepada kita, sesuatu yang ditolak lisan namun hati menerimanya. Saya telah berdiri di samping Muhammad seumur hidup dan telah melangkah maju untuk melindunginya di setiap masa-masa sulit, dan jika saya mendapatkan lebih banyak waktu, saya akan terus melakukannya di masa depan juga. Dan hai kaum Quraisy! Saya juga sampaikan supaya jangan menimpakan kesulitan kepadanya, melainkan bantulah dan dukunglah dia. Karena kebaikan kalian terletak pada hal ini. [5]

Jadi, jika ada yang menyatakan ungkapan ‘penyerahan tanpa syarat, maka pernyataan Abu Thalib itulah contohnya. Fakta-fakta menunjukkan bahwa Abu Thalib sangat mengagumi contoh kebaikan Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) dan tidak menginginkan apapun selain untuk melindungi Rasulullah sehingga beliau dapat terus meningkatkan status orang-orang lemah dan tak berdaya.

Terkait:   Apakah Rasulullah pada Awalnya Mengizinkan Penyembahan Berhala?

Demikain juga Ibnu Ishaq mencatat dengan baik bahaya yang dihadapi Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) dan umat Islam di tangan orang-orang Mekah:

‘Kaum musyrik menganiaya umat Islam kalangan bawah: Kemudian Qurays menunjukkan sikap permusuhan pada semua orang yang mengikuti Rasul; setiap suku yang di dalamnya ada Muslim, maka mereka menyerangnya, memenjarakan, dan memukuli. Mereka membiarkan mereka tanpa makanan atau minuman, serta menjemur mereka di bawah teriknya panas di kota Mekah sebagai upaya agar mereka mau meninggalkan kepercayaan mereka. Beberapa menyerah di bawah tekanan penganiayaan sementara yang lainnya bertahan dalam perlindungan Tuhan. Umayya bin Khalaf bin Wahb bin Hudhafa bin Jumah biasa membawa Bilal (seorang budak yang telah menerima Islam) ke tempat yang paling panas di hari itu. Kemudian melemparkan punggungnya di lembah terbuka dan meletakkan batu besar di dadanya; kemudian dia berkata pada Bilal, ‘Kamu akan tetap di sini hingga mati atau menolak Muhammad dan menyembah Lata dan Uzza.’ Sembari bertahan, Bilal hanya berkata ‘ahad, ahad.[6]

Kata-kata Abu Thalib menjelang kematiannya menggambarkan keinginan beliau untuk menangkal semua bahaya yang datang kepada Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam). Beliau menggambarkan Nabi Muhammad (shallallahu ‘alaihi wasallam) sebagai pelindung orang miskin, seorang yang jujur lagi adil, dan seorang yang ditakdirkan untuk berjaya. Lebih jauh lagi, Abu Thalib memperingatkan orang Mekah bahwa beliau sendiri siap untuk melawan jika mereka berani berusaha untuk menyakiti keponakannya.

Terkait:   Apakah Nabi Muhammad Mengajarkan Taqiyah dalam Menyebarkan Islam?

Oleh karena itu, siapapun yang berakal tentu dapat melihat bahwa Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam) tanpa henti memperjuangkan perdamaian, sementara masyarakat di Mekah berusaha menggagalkan upaya-upaya tersebut.

Kesaksian dari Abu Thalib sangatlah jelas: Di Mekah, bahaya bukan berasal dari Nabi (shallallahu ‘alaihi wasallam) tetapi justru bahaya itu senantiasa ditujukan kepada Beliau (shallallahu ‘alaihi wasallam) dengan cara yang sangat kejam tak terkira. Bekas luka di punggung Bilal menjadi saksi. Jadi bertentangan dengan tuduhan itu, orang-orang Mekah-lah yang menolak membangun perdamaian, bukan Rasulullah (shallallahu ‘alaihi wasallam).

Sumber: Alislam.org – Did Muhammad reject Meccan efforts to establish peace?
Penerjemah: Khaula Nurrul Hakim

Referensi
[1] Tara’if (Jauzi), pg. 85 and al-Hujjah, pg. 59-61.
[2] Tara’if, pg. 85 and al-Hujjah, pg. 61.
[3] Sir William Muir, The Life of Mahomet 105 (Reprint of the 1894 Ed., Published by Voice of India New Delhi).
[4] Sirah Halabi, Vol. I, pg. 390.
[5] Sharh Zurqani Mawahib al-Ladunniyyah, Vol. 2, pg. 46-48, Bab Wafat Khadijah wa Abi ?alib, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Beirut, Lebanon, First Edition (1996).
[6] Alfred Guillaume, The Life of Muhammad: A Translation of Ishaq’s Sirat Rasul Allah 143-44 (Oxford University Press, 1955).

Terkait:   Keteladanan Para Sahabat Nabi Muhammad (shallaLlahu ‘alaihi wa sallam) (Manusia-Manusia Istimewa seri 41)