Wahai yang Maha Pemurah, hamba-Mu yang amat lemah yang tidak berguna, penuh dengan dosa dan tanpa kelebihan apa pun, Ghulam Ahmad yang berdiam di Hindustan, memohon:

“Wahai yang Maha Pemurah, ridhailah aku dan ampunilah segala kesalahan dan dosaku karena Engkau-lah sesungguhnya Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang. Jadikanlah aku melakukan apa yang akan menggembirakan bagi-Engkau. Jauhkanlah egoku dari diriku sejauh jarak Timur sampai ke Barat dan jadikanlah hidupku, matiku dan segala fitrat yang aku miliki menjadi milik-Engkau. Biarkanlah aku hidup dalam kasih-Engkau dan matikanlah aku dalam kasih-Engkau dan bangkitkan aku di antara para pencinta-Engkau yang hakiki. Wahai Yang Maha Pemurah, berkat Rahmat-Engkau tuntaskanlah tugas yang telah Engkau bebankan atas diriku yang pelaksanaannya telah menumbuhkan kegairahan dalam kalbuku. Tegakkanlah secara teguh kebenaran Islam di mata para lawan Islam dan mereka yang tidak menyadari kebesaran Islam, melalui tangan hamba-Engkau yang lemah ini. Peliharakanlah hamba-Engkau yang lemah ini dan para sahabatku yang setia dalam naungan dan perlindungan Pengampunan dan Rahmat-Engkau. Jadilah Engkau sebagai pemelihara mereka dalam keimanan dan keduniawian serta bawalah mereka ke hadirat Keridhoan-Engkau dan sampaikanlah salam serta berkat yang mulia kepada Rasul-Engkau, para sahabat dan para pengikut beliau. Amin.” (Al-Hakam, 6 & 13 Agustus 1898, Maktubati Imami Hummam, vol. 1, hal. 61).

“Ya Allah yang Maha Perkasa, dengarlah doaku yang lemah ini dan bukakanlah telinga dan hati bangsa ini. Perlihatkanlah kepada kami saatnya penyembahan berhala lenyap dari muka bumi dan tinggal hanya Engkau semata yang disembah di dunia. Semoga bumi ini dipenuhi hamba-Engkau yang muttaqi yang beriman pada Ketauhidan-Engkau layaknya samudra berisi air, dan semoga kebesaran dan kebenaran Rasul- Mu MuhammadSaw tegak di hati umat manusia. Amin.”

“Ya Allah yang Maha Perkasa, perlihatkan kepadaku perubahan semua itu saat di dunia ini dan kabulkanlah doaku karena hanya Engkau semata yang memiliki semua kekuatan dan kekuasaan. Amin, ya Allah Yang Maha Kuasa.”

“Segala puji milik Allah semata, Tuhan seru sekalian alam.”

2] Doa ini dikirimkan oleh Hadhrat Masih Mau’udas dalam sebuah surat kepada Hadhrat Sufi Ahmad Jan Sahib dari Ludhiana dengan pesan: “Anda harus berdoa di Ka’bah, di hadhirat Yang Maha Pemurah atas nama diriku dengan mengikuti kata-kata dalam surat ini tanpa ada yang diubah. Simpan surat ini bersama anda untuk membantu ingatan anda agar tidak ada yang terlupa.” Sejalan dengan itu Sufi Sahib pada saat ibadah haji tahun 1302 H. mengajukan doa ini di Ka’bah dengan suara lantang dimana para sahabat lainnya mengaminkan. (Penterjemah)

(Haqiqatul Wahi, Qadian, Magazine Press, 1907; Ruhani Khazain, vol. 22, hal. 340, London, 1984).