HAKIKAT PENGABULAN DOA

hakikat pengabulan doa

Sekarang, marilah kita kembali kepada pokok pembicaraan, yakni doa dan pengabulannya. Perkara pengabulan doa adalah bagian hakikat doa, dan ini merupakan satu perkara dasar bahwa seseorang yang tidak memahami hakikat doa bagaimana ia akan mengerti apa sebenarnya pengabulan doa itu. Oleh karena itu pertama-tama mari kita berusaha untuk memahami apa sebenarnya doa itu. Tanpa pengertian sepenuhnya tentang doa akan dapat menimbulkan kesalahpahaman.

Apakah doa itu? Doa adalah suatu hubungan timbal-balik antara Allah dengan hamba-Nya yang patuh. Tahap pertama, rahmat dan karunia Allah Taala menarik seorang hamba ke arah-Nya yang bersifat Rahmān; kemudian rasa terimakasih dan syukur atas anugerah karunia dan rahmat-Nya menarik ia lebih dekat lagi kepada Allah Taala dan Tuhanpun menarik ke arah-Nya. Dalam doa, keadaan hubungan semacam ini dapat mencapai keadaan sedemikian rupa sehingga menimbulkan pengaruh yang luar biasa.

Misalnya, seseorang sedang dalam kesukaran yang sangat hebat. Dengan penuh keyakinan, pengharapan, kecintaan, dan kesetiaan ia sujud di hadapan Allah Taala hingga mencapai kesadaran yang luar biasa menembus tabir kegelapan, kemalasan dan kelengahan, terus menuju medan kefanaan diri dan akhirnya ia sampai ke haribaan Ilahi, Tuhan Yang Maha Esa. Jiwanya rebah di hadapan Singgasana Allah Taala. Selanjutnya kemampuan untuk menyerap rahmat Ilahi yang terkandung di dalam dirinya menarik rahmat serta karunia Allah kepadanya. Dalam keadaan demikian Allah Yang Maha Kuasa berpaling kepadanya dan berkenan mengabulkan doa-doanya. Setelah itu barulah doa akan menampakkan pengaruh dan khasiatnya.

Pengaruh pertama dari doa ialah Allah Taala menggerakkan sarana-sarana yang akan menyebabkan kondisi yang mendukung untuk tercapainya suatu maksud. Misalnya, jika doa itu dimaksudkan untuk memohon turunnya hujan, maka bersesuaian dengan terkabulnya doa itu Allah Taala menciptakan segala sarana alami (seperti angin, awan dan lain-lain) yang akan menyebabkan hujan turun. Apabila doa dipanjatkan untuk menjauhkan bencana kelaparan, maka Tuhan akan menciptakan sebab-sebab alami yang diperlukan untuk menjauhkan bencana tersebut. Orang-orang suci yang mempunyai pengalaman rohani semacam itu telah membuktikan bahwa di dalam doa yang sempurna terkandung suatu kekuatan yakni dengan seizin Allah Taala doa itu dapat menggerakkan benda-benda kasar seperti air, api, udara, bumi dan lain-lain bahkan alam samawi. Hati dan kehendak manusia dapat dipengaruhi dan digerakkan ke arah yang dikehendaki. Banyak contoh-contoh semacam itu terdapat di dalam kitab-kitab suci. Apa yang dikatakan mukjizat adalah contoh dari pengabulan doa. Ribuan mukjizat para nabi dan wali yang disaksikan sejak dahulu kala sampai sekarang merupakan contoh yang hidup dari pengabulan doa.

Suatu hal ajaib yang telah terjadi di padang pasir tanah Arab yang gersang ialah ratusan ribu manusia yang mati telah hidup kembali dalam waktu yang singkat. Mereka yang telah mati rohaninya dari generasi ke generasi telah hidup kembali dan menjadi orang-orang yang berakhlak suci dan shalih. Yang buta mulai melihat, yang tuli dan bisu mulai mendengar dan menerangkan kebenaran-kebenaran Ilahi. Revolusi rohani yang hebat seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya; belum pernah mata melihatnya dan belum pernah telinga mendengarnya. Apakah kalian tahu apa penyebabnya? Penyebab semua itu tidak lain adalah doa yang dipanjatkan oleh seorang fanafillah di kegelapan malam yang menggemparkan seluruh dunia. doa-doa yang menggetarkan arasy Ilahi dan membangkitkan revolusi yang demikian dahsyat sehingga tak seorang pun mampu menghubungkannya dengan seorang yang buta huruf seperti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Aku pun telah menyaksikan sendiri bahwa pengaruh doa jauh lebih kuat daripada pengaruh api dan air. Bahkan dapat menjadi satu Tanda dalam rangkaian bukti-bukti bahwa tidak ada sarana alami yang lebih hebat ketimbang doa.

Terkait:   Istighfar Lebih Dahulu Daripada Tobat

Jika ada yang berkata bahwa doa kadang-kadang meleset dan tidak mempunyai efek sama sekali. Maka jawabanku adalah bahwa keadaan semacam itu sama seperti obat-obatan. Apakah obat-obatan sanggup menutup pintu kematian? Atau, apakah ada orang yang bisa mengatakan bahwa obat-obatan itu selamanya tidak mungkin meleset? Memang benar bahwa segala sesuatu terjadi sesuai dengan hukum dan takdir yang telah ditentukan, tetapi hal itu tidak berarti bahwa hukum dan takdir membuat ilmu pengetahuan tidak berarti dan tidak berguna. Dan tidak berarti pula bahwa usaha serta ikhtiar merupakan sesuatu yang tidak dapat dipercaya. Jika kita menggunakan pikiran dengan seksama maka akan nampak bahwa sarana jasmani dan rohani tidak lepas dari takdir Ilahi.

Misalnya, seorang pasien ditakdirkan akan sembuh, maka sebab-sebab untuk kesembuhan akan muncul sepenuhnya dan keadaan tubuh si pasien pun sanggup untuk menyerap dan menerima khasiat obat-obatan itu. Maka barulah obat akan tepat mengenai sasarannya. Demikian pula kaidah doa yakni semua syarat serta kondisi terkabulnya suatu doa akan berkumpul menjadi satu dimana irãdah Ilahi menghendaki pengabulan doa itu. Allah Taala menjadikan nizam rohani dan jasmani dalam satu silsilah ikatan hukum sebab dan akibat yang serupa. Kesalahan fatal yang telah dilakukan tuan Sayyid ialah beliau menerima dan mengakui adanya tatanan jasmani, tetapi mengingkari adanya tatanan rohani.

Haruskah Semua Doa Dikabulkan?

“Mengapa semua doa tidak dikabukan padahal di dalam Al-Quran Allah Taala menjanjikan bahwa semua doa akan dikabulkan oleh-Nya?”

Sebenarnya ayat ‘ud’uunii astajiblakum’ tidak menunjang pandangan beliau, karena di dalam ayat ini terkandung suatu perintah untuk berdoa, tapi yang dimaksud dengan berdoa disini bukanlah doa biasa melainkan ibadah-ibadah yang telah diwajibkan kepada manusia. Karena bentuk perintah dalam ayat itu, ‘ud’uunii’ menunjukkan kewajiban, bahkan Allah Taala di beberapa tempat memuji orang-orang yang tetap bersabar jika ditimpa kesusahan dan menerima nasib buruknya, mereka ikhlas sambil mengucapkan “innaa lillaahi” kami hidup semata-mata untuk Allah Taala.

Terkait:   Istighfar Adalah Suatu Olah Ruhani

Perintah yang terkandung di dalam ayat itu ialah perintah untuk beribadah yang dikuatkan dengan perintah untuk berdoa. Perintah ”berdoa-lah kepadaku” mengingatkan kepada perintah untuk beribadah dan meninggalkan ibadah dengan sengaja diancam dengan hukuman azab. Ancaman dan peringatan semacam ini tidak terdapat di dalam doa-doa lainnya. Kadang-kadang nabi-nabi juga ditegur berkenaan dengan sesuatu doa, terbukti dari ayat Al-Quran:

إِنّي أَعِظُكَ أَن تَكونَ مِنَ الجاهِلينَ

“Aku nasihatkan kepada engkau, supaya engkau jangan termasuk orang-orang jahil. (QS Hud, 11: 47)

Seandainya setiap doa merupakan ibadah, maka mengapa nabi Nuha.s. ditegur فَلا تَسأَلنِ “jangan meminta kepada-Ku”. Dan, kadang-kadang para wali dan nabi-nabi menganggap bahwa meminta kepada Tuhan merupakan suatu perbuatan kurang hormat. Orang-orang shalih selalu meminta fatwa kepada hati nuraninya sendiri sebelum berdoa semacam itu. Mereka beramal sesuai dengan apa yang dikatakan hati kecilnya. Yakni jika di dalam keadaan musibah hati kecilnya memberi fatwa untuk berdoa maka ia akan berdoa, dan jika hatinya mengatakan harus bersabar maka ia akan bersabar, dan mengelak dari berdoa. Selain dari itu Allah Taala tidak menjanjikan. Pengabulan tergantung kehendak Tuhan. Dia berfirman dalam Al-Quran:

بَل إِيّاهُ تَدعونَ فَيَكشِفُ ما تَدعونَ إِلَيهِ إِن شاءَ
“Sekali-kali tidak, hanya Dia-lah yang kamu seru, maka Dia akan menjauhkan apa-apa yang kamu berdoa kepada-Nya minta dijauhkan jika Dia menghendaki. (QS Al-An’am, 6: 42)

Syarat Dikabulkannya Doa

Dan, jika kata ‘berdoalah’ ini kita artikan sebagai doa biasa seperti lazimnya, maka tidak ada pilihan lain bagi kita selain harus menerima bahwa doa yang diperintahkan di sini bukan doa biasa, tetapi doa yang mengandung syarat-syarat. Sedangkan untuk memenuhi syarat-syarat tersebut ada di luar kemampuan manusia. Tidak mungkin bagi seseorang untuk memenuhi syarat-syarat itu, kecuali dengan karunia dan pertolongan Allah Taala. Juga perlu diingat bahwa hanya kerendahan diri saja belum cukup untuk suatu doa, melainkan banyak lagi yang harus dipenuhi seperti ketakwaan, kecintaan yang sempurna, pemusatan pikiran yang sempurna. Segala sesuatu yang diminta dalam doa itu dalam pandangan Allah Taala harus yang berfaedah bagi yang berdoa baik di dunia ini maupun di akhirat nanti. Banyak doa tidak dikabulkan padahal syarat-syaratnya sudah dipenuhi. Itu terjadi karena apa yang diminta dalam doa itu akibatnya tidak baik untuk dirinya dalam pandangan Allah Taala.

Misalnya: seorang anak tersayang meminta pada ibunya sepotong bara api atau seekor anak ular. Atau si anak meminta racun yang mematikan. Apakah sang ibu akan memberikannya? Sekali-kali tidak. Meskipun barang yang diminta itu sangat menarik bagi si anak. Seandainya sang ibu memberikannya dan kebetulan si anak pun dapat diselamatkan dari kematian karena makan racun itu, tetapi badannya telah cacat untuk selamanya. Maka setelah anak itu besar ia tidak akan mengampuni sang ibu atas kebodohannya itu.

Terkait:   Pengertian Istighfar

Selain syarat-syarat tersebut di atas masih banyak syarat-syarat lain yang diperlukan untuk pengabulan suatu doa. Sebelum syarat-syarat itu terpenuhi, doa tidak akan dikabulkan. Dan, selama doa itu tidak disertai oleh jiwa ruhani dari orang yang berdoa dan orang yang didoakan kedua-duanya tidak memiliki kemampuan minimal untuk itu, maka doa-doa mereka tidak akan dikabulkan. Tuhan berkehendak mengabulkan suatu doa, namun syarat-syarat untuk tercapainya suatu doa tidak terpenuhi juga dan orang itu tidak dapat pula memusatkan pikiran, keteguhan dan ketabahan hati.

Tuan Sayyid percaya bahwa ganjaran-ganjaran di akhirat nanti seperti karunia, nikmat-nikmat, kelezatan kesenangan dan kegembiraan yang dapat diartikan sebagai najat, semua ini adalah buah dari doa yang didukung iman. Kalau memang demikian maka tuan Sayyid harus menerima tanpa keraguan lagi bahwa doa orang-orang suci mempunyai khasiat dan bisa menjauhkan bahaya dan merupakan kunci tercapainya suatu maksud. Jika doa tidak mempunyai khasiat dan pengaruh di dunia ini bagaimana mungkin nanti di akhirat. “Wahai orang-orang! berpikirlah sungguh-sungguh. Jika benar doa merupakan benda yang tidak mempunyai khasiat apa-apa dan tidak bisa menjauhkan bahaya musibah dalam kehidupan dunia ini, mengapa di hari pembalasan nanti mempunyai khasiat dan pengaruh.”

Jelaslah, bahwa jika doa mempunyai khasiat untuk menolak dan menjauhkan sesuatu musibah dan bisa menyelamatkan kita dari malapetaka, maka sudah seharusnyalah khasiat doa ini nampak di dunia ini juga supaya keimanan kita bertambah besar dan supaya kita lebih giat lagi berdoa untuk keselamatan akhirat nanti. Dan jika benar doa adalah benda yang tidak mempunyai pengaruh khasiat sama sekali seperti yang dikatakan tuan Sayyid dan doa tidak dapat menjauhkan musibah dunia maka pasti pada kehidupan akhirat nanti pun tidak akan berpengaruh. Maka dengan demikian menaruh harapan pada doa untuk keselamatan akhirat adalah suatu hal yang sia-sia belaka.

Aku tidak akan menulis lebih banyak lagi tentang hal ini, karena pembaca berhati bersih dan jujur mengerti bahwa aku telah membuktikan kesalahan fatal tuan Sayyid dalam mengartikan doa. Jika tuan Sayyid masih bertahan pada pendiriannya maka aku telah mengajukan suatu cara untuk menjelaskannya. Jika betul-betul ingin mencari kebenaran tentu akan menerima usulku tadi.

Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad, “Keberkatan Doa“, Neratja Press, 2015, hlm. 13-20