Di samping pemahaman, yang dibutuhkan bagi keselamatan manusia adalah kecintaan kepada Allah Swt Kiranya jelas bahwa tidak ada siapa pun yang akan mengazab orang lain yang mencintai dirinya. Kecintaan akan menarik kasih kepada dirinya. Jika seseorang mencintai seorang lain secara tulus dan meskipun ia tidak memberitahukan rasa kasihnya kepada yang bersangkutan, sekurang-kurangnya akan berakibat pada keadaan bahwa ia tidak akan memusuhi orang yang dikasihinya. Karena itulah dikatakan bahwa sebuah hati memiliki kecenderungan kepada hati lainnya.

Daya tarik yang dimiliki para Nabi dan Rasul sehingga beribu manusia tertarik kepada mereka serta mengasihi mereka sedemikian rupa sehingga bersedia mengorbankan jiwa raganya, adalah karena hati para wujud suci tersebut dipenuhi oleh rasa welas asih kepada manusia lebih dari kasih seorang ibu kepada anaknya. Para wujud suci tersebut bersedia menderita sakit dan kesulitan demi kemaslahatan umatnya. Daya tarik diri mereka lalu menarik hati-hati yang suci ke arah mereka.

Bila seorang manusia menyadari adanya rasa kasih dari manusia lain kepada dirinya, bagaimana mungkin dengan Yang Maha Kuasa yang mengetahui segala hal yang tersembunyi, bisa menjadi tidak mengetahui adanya kasih yang tulus dari salah satu mahluk-Nya? Kecintaan adalah suatu hal yang ajaib. Kehangatan api kecintaan demikian bisa mengatasi api dosa dan memadamkan nyala kedurhakaan di hati manusia. Kasih yang bersifat tulus, langsung dan sempurna tidak mungkin ada berdampingan dengan pengazaban.

Salah satu tanda dari kasih hakiki adalah menjadi bagian dari fitrat dirinya untuk takut berpisah dengan kekasihnya. Ia akan merasa dirinya karam jika sampai melakukan kesalahan sekecil apa pun dan menganggap sebagai racun yang pahit untuk menentang sang kekasih. Sang pencinta ini akan selalu merindukan pertemuan dengan kekasih dan menganggap kejauhan dirinya sebagai siksaan yang sepertinya membawa kematian. Jangan lagi melakukan dosa dalam pengertian manusia biasa seperti membunuh, berzinah, mencuri, bersaksi palsu, bahkan sampai terjadi kelalaian kecil saja baginya sudah merupakan dosa akbar. Selain wujud Tuhan, ia tidak mempunyai kecenderungan apa pun lainnya lagi.

Terkait:   Pengertian Istighfar

Ia akan selalu menyibukkan diri dengan istighfar di hadapan Yang Maha Abadi. Karena batinnya tidak pernah bisa menerima rasa keterpisahan dengan Allah Yang Maha Agung, ia akan menganggap kelalaian sekecil apa pun akibat fitrat manusiawinya sebagai dosa sebesar gunung. Itulah yang menjadi sebab mengapa mereka yang memiliki hubungan suci dengan Allah Swt selalu sibuk dengan istighfar. Sudah menjadi karakteristik dari
suatu hubungan kecintaan bahwa seorang pencinta hakiki akan selalu ketakutan kalau yang dikasihinya sampai jengkel kepadanya. Kalbunya akan selalu mendambakan keridhaan Allah Swt Sebagaimana seorang peminum anggur tidak pernah puas minum hanya sekali saja, begitu juga bila kasih kepada Allah Swt marak di dalam hati seseorang. Hatinya akan terus menerus mengharapkan keridhaan Tuhan berulang-kali dan terus menerus.

Kadar intensitas kasih Ilahi ini menjadikan seseorang bertambah tekun memusatkan fikirannya pada ber-istighfar. Salah satu tanda seorang yang dianggap suci adalah ia terlihat lebih banyak beristighfar dibanding orang lain. Makna hakiki daripada istighfar adalah permohonan kepada Tuhan bahwa melalui berkat rahmat-Nya maka kelemahan manusiawi yang mungkin menjerumuskan dirinya, semoga ditutupi dan dipeliharakan. Makna daripada istighfar jika diperluas bagi manusia awam lainnya, mengandung arti sebagai permohonan kepada Tuhan dengan harapan semoga kesalahan apa pun yang telah terjadi, kiranya Tuhan berkenan memelihara si pemohon dari segala akibat buruknya, baik di dunia ini maupun di akhirat.

Terkait:   Kemampuan Melihat Tuhan

Dengan demikian jelas bahwa sumber dari keselamatan hakiki adalah kecintaan kepada Tuhan, dimana yang bersangkutan akan dapat menarik kasih Allah Swt kepadanya melalui laku rendah hati, berdoa dan selalu beristighfar. Jika kecintaan manusia kepada Tuhan-nya menjadi sempurna yang membakar habis nafsu-nafsu kemanusiaannya, maka kasih Allah Swt akan turun ke dalam hatinya yang akan menariknya keluar dari kubangan kehidupan berharkat rendah. Ia selanjutnya akan memperoleh warna kesucian Allah Yang Maha Hidup dan Yang Tegak dengan Dzat-Nya sendiri. Melalui pantulan refleksi ia akan memperoleh semua fitrat Ilahi. Ia akan menjadi manifestasi dari refleksi Ilahi dan melalui dirinya maka semua rahasia tersembunyi dan laten dari khazanah abadi Rabubiyat dibukakan kepada dunia.

(Chasmai Masihi, Qadian Magazine Press, 1906;

Ruhani Khazain, vol. 20, hal. 378-380, London, 1984).

Jangan pernah mengharapkan bahwa ada cara lain guna mensucikan ego manusia. Sebagaimana kegelapan dunia hanya bisa diusir dengan cahaya, begitu juga dengan kegelapan kalbu yang berdosa hanya

Terkait:   Istighfar Adalah Suatu Olah Ruhani

bisa dicerahkan oleh nur wahyu Ilahi. Melalui nur wahyu Ilahi dengan sinarnya yang cemerlang, akan nyata baginya bahwa Tuhan itu ada sehingga segala keraguan akan sirna dan ia memperoleh kepuasan dan ketenangan. Melalui daya tarik Samawi yang kuat maka yang bersangkutan akan diangkat ke langit. Semua obat penawar lainnya selain dengan cara di atas, adalah suatu hal yang dusta dan sia-sia.

Namun untuk pensucian yang sempurna, pemahaman saja tidaklah cukup. Masih harus disertai dengan doa yang khusuk. Allah Yang Maha Agung bersifat Tegak dengan Dzat-Nya sendiri, dimana untuk menarik rahmat-Nya diperlukan doa khusuk yang diikuti air mata tangis, ketulusan, kesalehan dan hati yang terenyuh. Kita sama mengetahui bagaimana seorang anak bayi mengenali ibunya dan bagaimana ibu itu menyayangi anaknya, namun yang merangsang keluarnya air susu ibu adalah tangis anak tersebut. Jika ada anak bayi menangis sedih karena lapar perutnya, sang ibu akan demikian terpengaruh oleh tangis tersebut sehingga air susu akan langsung dihasilkan dalam dadanya. Begitu juga kiranya para pencari kebenaran harus memperlihatkan kelaparan dan kehausan ruhaniahnya melalui ratap tangis agar susu ruhani bisa dihasilkan guna memuaskan batinnya.

Bagi pensucian ruhani, pemahaman saja tidaklah cukup. Untuk itu diperlukan juga tangis yang meratap hati layaknya anak kecil. Jangan pernah putus asa dan jangan mundur oleh fikiran bahwa kalian pernah tenggelam dalam berbagai dosa sehingga mengkhawatirkan doa kalian tidak akan berpengaruh. Manusia diciptakan untuk mencintai Tuhan-nya, dimana meski ia kemudian terangsang oleh api dosa, ia masih tetap memiliki fitrat bertobat yang dapat memadamkan api tersebut. Kalian tentunya mengetahui bahwa air yang sedemikian panasnya dihangatkan, tetapi jika dituangkan di atas api menyala tetap saja akan bisa memadamkannya.

Sejak AllahSwt menciptakan manusia, hati manusia selalu disucikan kembali dengan cara ini. Tanpa ada Tuhan Yang Maha Hidup yang memanifestasikan eksistensi, kekuasaan dan fitrat Ketuhanan-Nya serta mempertunjukkan keluhuran-Nya yang cemerlang, maka manusia tidak akan pernah bisa disucikan dari dosa.

(Barahin-i-Ahmadiyah, bag. V, Ruhani Khazain, vol. 21, hal. 33-34, London, 1984).