بسم اللہ الرحمن الرحیم

(Pembahasan dua orang Sahabat peserta perang Badr, Hazrat Utsman bin Mazh’un dan Hazrat Wahb bin Abdullah bin Abi Sarh radhiyAllahu ta’ala ‘anhuma)

Asal-usul dan riwayat singkat Sahabat berdasarkan data Kitab-Kitab Hadits Nabi Muhammad (saw), Tarikh (Sejarah) dan Sirah (biografi Nabi).

Sejarah Pekuburan Jannatul Baqi’ atau Baqi’ul Gharqad di Madinah. Pemilihan lahan pekuburan berdasarkan perintah Allah Ta’ala.

Penjelasan Hazrat Mirza Bashir Ahmad (ra).

Ucapan memastikan perihal keadaan terhormat seseorang di akhirat ialah kurang elok. Lebih baik mengedepankan kata-kata harapan baik dan doa.

Hazrat Wahb bin Sa’d bin Abi Sarh dan perannya di Perang Mu-tah.

Murtadnya penulis wahyu Abdullah bin Sa’d bin Abi Sarh, saudara Wahb bin Sa’d bin Abi Sarh. Pengampunannya pada masa Fath Makkah atas rekomendasi Hazrat Utsman bin Affan (ra).

Rincian sebab-sebab kemurtadan: merasa sama-sama mampu sebagaimana RasuluLlah (saw) dan beranggapan beliau (saw) membuat-buat ucapan wahyu.

Kewafatan Mukarram Malik Muhammad Akram Sahib (di Inggris. Almarhum asal Pakistan); Choudry Abdus Syakoor Sahib (di Pakistan); mukarram Muhammad Salih Muhammad sahib, muallim Waqf-e-Jadid [di Pakistan] dan mukarram Maushai Jummah sahib dari Tanzania.

Khotbah Jumat Sayyidina Amirul Mu’minin, Hazrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (أيده الله تعالى بنصره العزيز, ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 26 April 2019 (Syahadat 1398 Hijriyah Syamsiyah/20 Sya’ban 1440 Hijriyah Qamariyah) di Masjid Baitul Futuh, Morden UK (Britania)

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ.

(آمين)

Pada khotbah yang lalu saya telah menyampaikan berkenaan dengan riwayat hidup Hazrat Utsman bin Maz’un dan saya akhiri dengan menyampaikan bahwa beliau adalah orang pertama yang dimakamkan di Jannatul Baqi.[1]

Keterangan lengkap berkenaan dengan awal mula Jannatul Baqi adalah sebagai berikut, Ketika Hazrat RasuluLlah (saw) tiba di Madinah, telah banyak dijumpai pemakaman di sana. Kaum Yahudi memiliki pemakaman tersendiri, begitu juga beragam kabilah Arab memiliki pemakamannya masing-masing. Karena pada masa itu Madinah tayyibah terbagi kedalam berbagai daerah, untuk itu setiap kabilah menguburkan warganya pada kawasan terbuka di daerahnya. Daerah Quba memiliki pemakaman tersendiri yang sangat masyhur. Di sana terdapat banyak pemakaman kecil. Kabilah Banu Zhafr memiliki pemakaman tersendiri begitu juga dengan kabilah Banu Salamah.

Diantara pemakaman lainnya, pemakaman Banu Sa’dah yang di kemudian hari berdiri suuqun Nabi diatas area tersebut. Lahan yang diatasnya dibangun masjid Nabawi, pada bagian yang dipenuhi pohon kurma, dulunya merupakan pemakaman orang-orang musyrik.

Diantara pemakaman-pemakaman tersebut, Baqiiul gharqad (بقيع الغرقد) adalah yang tertua dan masyhur. Ketika RasuluLlah (saw) memilihnya sebagai pemakaman bagi umat Muslim, sejak saat itu sampai sekarang memiliki nilai dan keistimewaan tersendiri dan untuk selamanya.

Hazrat Ashim bin Ubaidullah bin Abi Rafi (عن عاصم بن عبيد الله بن أبي رافع) meriwayatkan, كان رسول الله صَلَّى الله عليه وسلم، يَرتادُ لأصْحابه مَقْبَرةً يُدْفَنونَ فيها فكان قد جاء نواحي المدينة وأطرافها “Hazrat RasuluLlah (saw) pada suatu saat tengah mencari suatu lahan yang nantinya akan digunakan untuk pemakaman umat Muslim saja. Untuk tujuan tersebut RasuluLlah (saw) mencari dan meninjau langsung ke berbagai tempat dan pojok-pojok Madinah. Akhirnya kehormatan itu didapatkan oleh area Baqiiul gharqad. Beliau (saw) bersabda, أُمِرْتُ بهذا الموضع، يعني البقيع ‘Saya mendapat perintah dari Allah Ta’ala untuk memilih Baqiiul gharqad.’”[2]

Pada masa itu tempat itu disebut juga Baqiiul Khabjabah (بقيعُ الخَبْجَبَة). Di kawasan tersebut terdapat banyak pohon Gharqad (الغَرْقَدَ) dan ilalang. Pada area tersebut terdapat banyak nyamuk dan serangga lainnya. Ketika nyamuk bermunculan yang disebabkan kekotoran atau hutan, terlihat seperti asap menyebar.

Seperti yang telah disampaikan tadi, فكان أوّلُ من قُبر هناك عثمانَ بن مظعون، فوضع رسول الله صَلَّى الله عليه وسلم، حجرًا عند رأسه وقال yang paling pertama dimakamkan di sana adalah Hazrat Utsman bin Mazh’un. RasuluLlah (saw) meletakkan sebuah batu nisan diatasnya lalu bersabda, هذا فَرَطُنا “Beliau ini yang telah mendahului kita semua.”

Para sahabat bertanya kepada Rasul, فكان إذا مات الميّتُ بعده قيل: يا رسول الله أينَ نَدْفِنُه؟ “Jika ada yang wafat setelah ini, akan dikuburkan dimana, wahai Rasul Allah?”

Rasul bersabda, عند فَرَطِنا عثمان بن مظعون “Di dekat pendahulu kita Utsman bin Mazh’un.”[3]

Kata Baqi’ (البَقِيعُ) dalam Bahasa Arab artinya adalah sebuah areal tanah tempat di mana akar pepohonan yang berbeda ditanam (المَوْضِعُ فِيهِ أَرُومُ الشَّجَرِ مِنْ ضُرُوبٍ شَتَّى).[4] Tempat tersebut di Madinah dikenal dengan nama Baqi’ul Gharqad karena di sana banyak pohon Gharqad.[5] Selain itu, di sana banyak juga rerimbunan dan ilalang gurun. Tempat itu disebut juga Jannatul Baqi (جنة البقیع). Salah satu arti Jannah dalam Bahasa Arab adalah kebun atau Firdaus. Tempat tersebut dikenal para peziarah bukan bangsa Arab dengan nama Jannatul Baqi. Abdul Hamid Qadiri Sahib, seorang penulis menulis keterangan tersebut.

Kemudian beliau menulis, “Hendaknya kita tidak lupa bahwa orang Arab biasa menyebut pemakaman-pemakaman mereka dengan sebutan Jannah. Sebutan lainnya juga adalah Maqabirul Baqi (مَقبرة البَقيع) yang lebih dikenal di kalangan orang-orang Arab penduduk gurun dan desa yang jauh.”

(عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ ، عَنْ أَبِيهِ ) Hazrat Salim bin Abdullah meriwayatkan dari ayahnya, أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا مَاتَ مَيِّتٌ قَالَ : “Ketika ada yang wafat, RasuluLlah (saw) bersabda, قَدِّمُوهُ عَلَى فَرَطِنَا عُثْمَانَ بْنِ مَظْعُونٍ ، فَنِعْمَ الْفَرَطُ ‘Kuburkan jenazahnya pada urutan setelah pendahulunya. Utsman bin Mazh’un adalah pendahulu yang sangat baik dalam umat saya.’”[6]

Hazrat Ibnu Abbas meriwayatkan, أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَى عُثْمَانَ بْنِ مَظْعُونٍ حِينَ مَاتَ ، فَانْكَبَّ عَلَيْهِ فَرَفَعَ رَأْسَهُ ، ثُمَّ حَنَى الثَّانِيَةَ ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ ، ثُمَّ حَنَى الثَّالِثَةَ ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ ، وَلَهُ شَهِيقٌ ، فَعَرَفُوا أَنَّهُ يَبْكِي فَبَكَى الْقَوْمُ “Ketika Hazrat Utsman wafat, RasuluLlah (saw) menghampiri jenazahnya. Tiga kali RasuluLlah (saw) menundukkan badan lalu mengangkat kepala dan bersabda dengan suara tinggi, أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ اذْهَبْ عَنْهَا أَبَا السَّائِبِ فَقَدْ خَرَجْتَ مِنْهَا وَلَمْ تَلْبَسْ مِنْهَا بِشَيْءٍ ‘Abu Saib! Semoga Allah Ta’ala mengampunimu, engkau telah meninggalkan dunia ini dalam keadaan bersih dari segala kekotoran dunia.’”

Hazrat Aisyah meriwayatkan Hazrat RasuluLlah (saw) mencium jenazah Hazrat Utsman sambil mencucurkan air mata.[7]

(عَنْ عَائِشَةَ) Hazrat Aisyah meriwayatkan, أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم قَبَّلَ عُثْمَانَ بْنَ مَظْعُونٍ ، وَهُوَ مَيِّتٌ ، قَالَتْ : فَرَأَيْتُ دُمُوعَ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَلَيه وسَلَّم تَسِيلُ عَلَى خَدِّ عُثْمَانَ بْنِ مَظْعُونٍ “Ketika Hazrat Utsman wafat, Hazrat RasuluLlah (saw) mencium almarhum. Saya melihat air mata RasuluLlah (saw) menetes ke kedua pipi jenazah almarhum. Sedemikian rupa derasnya air mata beliau sehingga membahasi kedua pipi almarhum.” [8]

Ketika putra Rasul, Hazrat Ibrahim wafat, RasuluLlah (saw) pun bersabda di depan jenazahnya, الحق بالسلف الصَّالِحِ عُثْمَانَ بْنِ مَظْعُوْنٍ. ‘ilhaq bisalaafish shaalih Utsman bin Mazh’un’ artinya, “Pergilah untuk bersahabat dengan pendahulu saleh, Utsman bin Mazh’un.”[9]

Hazrat Utsman bin Affan (عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ) meriwayatkan, ‏ أَنَّ النَّبِيَّ ـ صلى الله عليه وسلم ـ صَلَّى عَلَى عُثْمَانَ بْنِ مَظْعُونٍ وَكَبَّرَ عَلَيْهِ أَرْبَعًا ‏.‏ Hazrat RasuluLlah (saw) mengimami shalat jenazah Hazrat Utsman dan beliau takbir sebanyak 4 kali.[10] Sebagian orang terkadang mengatakan takbir tidak bisa lebih dari 3 kali, padahal bisa saja 4 kali.

Muthalib bin Abdullah bin Hanthab (المطلب بن عبد الله بن حَنْطَب) meriwayatkan, لَمَّا مَاتَ عُثْمَانُ بْنُ مَظْعُونٍ أُخْرِجَ بِجَنَازَتِهِ فَدُفِنَ أَمَرَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم رَجُلاً أَنْ يَأْتِيَهُ بِحَجَرٍ فَلَمْ يَسْتَطِعْ حَمْلَهُ ketika Utsman bin Mazh’un wafat lalu jenazah beliau diangkat untuk dimakamkan, lalu RasuluLlah (saw) memerintahkan seseorang untuk mengambil batu, namun orang tersebut tidak dapat mengangkat batunya karena berat. فَقَامَ إِلَيْهَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم وَحَسَرَ عَنْ ذِرَاعَيْهِ – قَالَ كَثِيرٌ قَالَ الْمُطَّلِبُ قَالَ الَّذِي يُخْبِرُنِي ذَلِكَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ – كَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى بَيَاضِ ذِرَاعَىْ رَسُولِ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم حِينَ حَسَرَ عَنْهُمَا kemudian RasuluLlah (saw) menghampiri lalu menyingsingkan kedua lengan baju, sehingga tampak putihnya lengan beliau dan sampai saat ini saya masih ingat dengan baik kejadian itu. ثُمَّ حَمَلَهَا فَوَضَعَهَا عِنْدَ رَأْسِهِ وَقَالَ Lalu RasuluLlah (saw) mengangkat batu tersebut dan meletakkannya diatas kuburan Hazrat Utsman lalu bersabda, أَتَعَلَّمُ بِهَا قَبْرَ أَخِي وَأَدْفِنُ إِلَيْهِ مَنْ مَاتَ مِنْ أَهْلِي ‘Saya akan mengenali kuburan saudara saya ini melalui nisan ini dan jika ada yang wafat dari keluarga saya, akan saya kuburkan di dekatnya.’” (Riwayat Sunan Abi Daud)[11]

Berkenaan dengan kewafatan Hazrat Utsman, saya akan sampaikan keterangan selengkapnya dari Hazrat Mirza Bashir Ahmad Sahib dalam menjelaskan kejadian pada tahun 2 Hijriyah, “Pada akhir tahun tersebut, RasuluLlah (saw) meminta untuk membangun sebuah pemakaman di Madinah untuk para sahabat beliau yang disebut dengan Jannatul Baqi. Setelah itu pada umumnya sahabat yang wafat dimakamkan di pemakaman tersebut. Sahabat pertama yang dimakamkan di sana adalah Utsman bin Mazh’un. Utsman termasuk Muslim awal, saleh, rajin beribadah dan bersifat sufi.

Setelah baiat, suatu ketika beliau memohon kepada RasuluLlah (saw), dengan mengatakan, ‘Jika RasuluLlah (saw) merestui, saya akan meninggalkan kehidupan dunia sepenuhnya dan memisahkan diri dari istri dan anak lalu akan mengabdikan hidup secara khusus untuk beribadah Ilahi.’ Akan tetapi, RasuluLlah (saw) tidak merestuinya.”

Saya pernah menyampaikan hal ini pada khotbah yang lalu. Walhasil, kewafatan Hazrat Utsman telah menyebabkan kesedihan yang mendalam di hati RasuluLlah (saw). Diriwayatkan, RasuluLlah (saw) mencium kening jenazah Hazrat Utsman sambil mencucurkan air mata. Setelah dikuburkan, RasuluLlah (saw) meletakkan batu nisan di atas kuburannya. Terkadang RasuluLlah (saw) berziarah ke Jannatul Baqi dan mendoakan beliau. Utsman adalah muhajir pertama yang wafat di Madinah.

Paska kewafatan Hazrat Utsman, istri beliau menuliskan bait syair (sajak) sebagai berikut,

يَا عَيْنُ جُودِي بِدَمْعٍ غَيْرِ مَمْنُونِ عَلَى رَزِيَّةِ عُثْمَانَ بْنِ مَظْعونِ

“Wahai mata! Alirkanlah air mata tak kunjung henti atas duka Utsman putra Mazh’un.

عَلَى امْرِئٍ كَانَ فِي رِضْوَانِ خَالِقِهِ

‘Tuk pria pelawat malam demi peroleh ridha Sang Pencipta.

طُوبَى لَهُ مِنْ فَقْيدِ الشَّخْصِ مَدْفُونِ

Berbahagialah wahai mata, seorang lelaki saleh telah dimakamkan.

طَابَ البَقِيعُ لَهُ سُكْنَى وَغَرْقَدُهُ

keberadaannya ‘jadikan Baqi dan pohon gharqad damai sejahtera.

 وَأَشْرَقَتْ أَرْضُهُ مِنْ بَعْدِ تَفْتِينِ

dikuburkannya di sana, tanahnya bercahaya.

وَأَوْرَثَ القَلْبَ حُزْنًا لَا انْقِطَاعَ لَهُ حَتَّى المَمَاتِ وَمَا تَرْقَى لَهُ شُونِي

Wafatnya ‘jadikan hati ini terasa nestapa tak kunjung sirna hingga maut, tak ‘kan pernah berubah keadaan ini.”

Demikianlah curahan perasaan istri beliau.[12]

Hazrat Ummul Alaa (أمّ العلاءِ), wanita dari kalangan Anshar yang telah baiat kepada Hazrat RasuluLlah (saw), meriwayatkan, نزل رسول الله صَلَّى الله عليه وسلم، والمهاجرون معه المدينة في الهجرة فتشاحّت الأنصار فيهم أنْ يُنْزِلوهم في منازلهم حتى اقْتَرَعوا عليهم، فطار لنا عثمان بن مظعون على القُرْعة، تعني وقع في سهمنا “Ketika kaum Anshar mengundi, rumah yang akan ditempati oleh kaum muhajirin, undian yang keluar untuk Hazrat Utsman adalah rumah kami dan kami menempatkan beliau di rumah kami.”[13]

Hazrat Ummul ‘Alaa mengatakan, “Ketika Hazrat Utsman tinggal di rumah kami, suatu ketika beliau sakit. Kami merawat beliau sehingga tiba kewafatan beliau, kami mengafani jenazah beliau dengan kain baju beliau sendiri.

Nabi (saw) datang ke rumah kami, saya (Hazrat Ummul ‘Alaa) mengatakan, رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَيْكَ أَبَا السَّائِبِ فَشَهَادَتِي عَلَيْكَ لَقَدْ أَكْرَمَكَ اللَّهُ ‘Semoga rahmat Tuhan tercurah padamu wahai Abu Saib.’ Saya mengulangi kalimat tersebut di hadapan RasuluLlah (saw), ‘Semoga rahmat Tuhan tercurah padamu wahai Abu Saib. Saya bersaksi mengenaimu bahwa Allah Ta’ala pasti telah menganugerahkan kemuliaan padamu.’

Ketika mendengar ucapat tersebut, RasuluLlah (saw) bertanya padanya, وَمَا يُدْرِيكِ ‘Bagaimana kamu tahu bahwa Allah Ta’ala pasti telah menganugerahkan kemuliaan padanya?’

Saya (Ummul ‘alaa) menjawab, لَا أَدْرِي وَاللَّهِ ‘Wahai RasuluLlah (saw)! Saya rela mengorbankan kedua orang tua saya demi engkau. Saya tidak mengetahuinya itu hanya luapan emosi saya semata.’

Rasul bersabda, أَمَّا هُوَ فَقَدْ جَاءَهُ الْيَقِينُ إِنِّي لَأَرْجُو لَهُ الْخَيْرَ مِنْ اللَّهِ ’Utsman telah wafat. Saya memohonkan kebaikan bagi beliau. Saya berdoa supaya Allah ta’ala menganugerahkan kehormatan kepada beliau.’

Namun RasuluLlah (saw) juga bersabda, وَاللَّهِ مَا أَدْرِي وَأَنَا رَسُولُ اللَّهِ مَا يُفْعَلُ بِي وَلَا بِكُمْ ‘Demi Tuhan! Saya pun tidak mengetahui apa yang akan terjadi dengan Utsman. Saya pasti berdoa namun tidak dapat mengatakan beliau pasti dianugerahi kemuliaan, padahal saya Rasul Allah. [Teks Arab di Hadits itu juga menyebutkan sabda beliau (saw) lainnya, ما أدري وأنا رسول الله ما يفعل بي ولا بكم]

Mendengar itu Hazrat Ummul ‘Alaa berkata, فَوَاللَّهِ لَا أُزَكِّي أَحَدًا بَعْدَهُ ‘Demi Tuhan setelah itu saya tidak akan mengatakan seperti itu lagi perihal pasti seseorang telah diampuni [menyatakan pasti akan kesuciannya].’”

Beliau (Ummul ‘Alaa, أُمِّ الْعَلَاءِ) mengatakan, تُوُفِّيَ عُثْمَانُ بْنُ مَظْعُونٍ فِي دَارِنَا ، فَلَمَّا نِمْتُ رَأَيْتُ عَيْنًا تَجْرِي لِعُثْمَانَ بْنِ مَظْعُونٍ ، فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “Saya tertidur membawa duka itu, karena saya memiliki ikatan yang khas dengan almarhum, emosional. Ketika tidur dalam mimpi diperlihatkan kepada saya sebuh sumber mata air Hazrat Utsman yang tengah mengalir. Setelah menyaksikan mimpi tersebut, saya datang ke hadapan RasuluLlah (saw) untuk menceritakan mimpi tersebut.”

Rasul bersabda, ذَاكِ عَمَلُهُ يَجْرِي لَهُ “Sumber mata air yang mengalir itu adalah amalannya.”[14]

Allah Ta’ala telah memperlihatkannya padamu bahwa ia tengah berada di surga dan itu adalah amalannya bagaikan sumber mata air yang mengalir di sana.

Walhasil, ini adalah satu cara tarbiyat RasuluLlah (saw) untuk jangan memberikan kesaksian dengan yakin seperti itu berkenaan dengan pengampunan Allah Ta’ala. Ketika amalan mulia Hazrat Utsman ditampakkan dalam bentuk sumber mata air mengalir di dalam mimpi kepada Hazrat Ummul ‘Alaa dan RasuluLlah (saw) membenarkan hal itu.

RasuluLlah (saw) mengetahui bahwa Allah Ta’ala ridha kepada para sahabat Badr dan doa RasuluLlah (saw) dan penampakan emosi jiwa RasuluLlah (saw) kepada beliau menjelaskan RasuluLlah (saw) yakin mengenai beliau bahwa Allah Ta’ala akan mendengar doa-doa tersebut dan beliau akan meraih qurb Ilahi. Namun demikian, beliau (saw) tetap mengatakan bahwa kita tidak dapat memberikan kesaksian seperti itu [memastikan seolah-olah Maha Tahu] mengenai seseorang.

Dalam Musnad Ahmad bin Hanbal dijelaskan mengenai kejadian ini yakni Kharijah bin Zaid meriwayatkan dari ibunya beliau mengatakan, “Ketika Hazrat Utsman bin Mazh’un wafat, ibunda Hazrat Kharijah bin Zaid (أم خارجة بنت زيد) mengatakan, طبت أبا السائب خير أيامك الخير ‘Wahai Abu Saib! Kamu suci, hari harimu yang baik sangatlah baik.’

Nabi (saw) mendengarnya dan bersabda, من هذه ‘Siapa ini?’

Beliau menjawab, أنا ‘Saya.’

Rasul bersabda, وما يدريك ‘Apa yang anda katakan?’

Saya katakan, يا رسول الله عثمان بن مظعون ‘Wahai RasuluLlah (saw)! Amalan dan ibadah Utsman bin Mazh’un memberitahukan kepada saya bahwa Allah Ta’ala pasti telah menganugerahkan magfirah kepada beliau.’

RasuluLlah (saw) bersabda, أجل عثمان بن مظعون ما رأينا إلا خيرا وهذا أنا رسول الله والله ما أدري ما يصنع بي ‘Kita tidak melihat dalam diri Utsman bin Mazh’un selain kebaikan, – namun seiring dengan itu beliau (saw) bersabda, ‘Ingatlah, aku adalah Rasul Allah, namun demi Allah, aku pun tidak tahu apa yang akan terjadi padaku nanti.’”[15]

Tidak ada orang yang lebih dicintai Allah Ta’ala melebihi RasuluLlah (saw), beliau adalah kekasih Allah, namun begitu dalamnya rasa takut beliau kepada Allah Ta’ala sehingga berkenaan dengan diri beliau sendiripun beliau bersabda bahwa beliaupun tidak tahu apa yang akan terjadi dengan beliau nantinya.

Walhasil, betapa menakutkannya bagi kita sekalian dan sudah seyogyanya kita berfikir untuk berbuat amal saleh dan menaruh perhatian untuk beribadah kepada Allah dan meskipun demikian, bukannya membanggakan diri, kita harus semakin memperlihatkan kerendahan hati dan senantiasalah memohon rahmat dan karunia Allah Ta’ala supaya Allah menganugerahkan rahmat dan fadhl (karunia)-Nya.

Satu riwayat berikut terdapat dalam Musnad Ahmad bin Hanbal, yaitu Hazrat Ummul ‘Alaa mengatakan, “Suatu ketika Utsman bin Mazh’un sakit di rumah kami dan kami merawatnya. Pada saat beliau wafat, kami mengafaninya dengan kain pakaian beliau sendiri. Kemudian RasuluLlah (saw) berkunjung ke rumah kami.

Saya katakan, رحمة الله عليك يا أبا السائب شهادتي عليك لقد أكرمك الله ‘Wahai Abu Saib! Semoga Rahmat Tuhan tercurah kepadamu. Saya memberi kesaksian atasmu bahwa Allah telah memuliakanmu.’

Mendengar itu RasuluLlah (saw) bersabda, وما يدريك أن الله أكرمه ‘Bagaimana anda tahu bahwa Allah Ta’ala telah memuliakannya?’

Saya menjawab, لا أدري بأبي أنت وأمي – ‘Laa adri bi-abi wa ummii’- ‘Saya tidak mengetahuinya. Orang tua saya rela berkorban demi Rasul.’

RasuluLlah (saw) bersabda, أما هو فقد جاءه اليقين من ربه وإني لأرجو الخير له ‘Sejauh berkenaan dengannya jelaslah bahwa pangilan maut telah datang dari Allah ta’ala kepadanya. Saya mengharapkan kebaikan baginya, semoga Allah ta’ala memperlakukannya dengan baik. والله ما أدري وأنا رسول الله ما يفعل بي Namun demi Allah! Meskipun saya seorang rasul Allah, saya pun tidak mengetahui apa yang akan terjadi pada saya nanti.’

Saya berkata, والله لا أزكي أحدا بعده أبدا ‘Setelah itu saya tidak akan menetapkan seseorang suci.’”

Setelah itu kewafatan tersebut telah menimbulkan kesedihan dalam diri. Lalu dijelaskan mengenai mimpi beliau kemudian menceritakannya kepada RasuluLlah (saw). Kejadian tersebut telah tertulis dalam dua kitab yang berbeda. [16]

Memang, Allah Ta’ala telah meninggikan derajat beliau berkat doa-doa RasuluLlah (saw) juga dan semoga Allah ta’ala senantiasa meninggikannya. Semoga kita pun dapat menegakkan teladan tersebut dalam diri kita.

Sahabat berikutnya Hazrat Wahb bin Sa’d bin Abi Sarh (وَهْبُ بْنُ سَعْدِ بْنِ أَبِي سَرْحٍ بن الحارث بن حبيب بن جذيمة بن مالك بن حسل بن عامر بن لؤي). Ayah beliau bernama Sa’d. Berasal dari kabilah Banu Amir bin Luay (من بني عامر بن لؤي). Beliau adalah saudara Abdullah bin Sa’d bin Abi Sarh (عبد الله بن سعد بن أبي سرح). Ibunda beliau bernama Mahanah Binti Jabir, berasal dari kabilah Asy’ari (مهانة بنت جابر من الأشعريين).

Saudara Hazrat Abdullah yang bernama Abdullah bin Sa’d bin Abi Sarh adalah penulis wahyu yang di kemudian hari murtad. Berkenaan dengan kakak Wahb bin Sa’d itu, Hazrat Mushlih Mau’ud (ra) menulis selengkapnya. Seorang penulis wahyu yang turun kepada RasuluLlah (saw) bernama Abdullah bin Abi Sarh. Dalam siratul halbiyah tertulis bahwa ia adalah saudara sepesususuan Hazrat Utsman bin Affan. Ketika wahyu turun kepada RasuluLlah (saw), Rasul memanggilnya lalu memerintahkannya untuk menulis wahyu tersebut. Suatu hari RasuluLlah (saw) tengah menuliskan (mendiktekan atau menyuruh menuliskan) surat Al-Mukminun ayat 14 dan 15.[17]

Ketika sampai pada kalimat, ثُمَّ أَنشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ۚ “…tsumma ansya’naahu khalqan aakhar” secara spontan keluar kalimat dari mulut penulis wahyu itu yang berbunyi, فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ fatabaarakallaahu ahsanal khaaliqiin.

RasuluLlah (saw) bersabda, كذا أنزلت عليَّ فاكتبها ‘Betul seperti itulah bunyi wahyunya, tulis saja kalimat itu.’[18]

Lantas tidak terfikir oleh orang yang tidak beruntung itu bahwa sebagai konsekwensi dari ayat-ayat sebelumnya, ayat yang berikutnya sudah lazim muncul dengan sendirinya.

Lalu ia beranggapan, “Sebagaimana ayat tersebut telah keluar dari mulutnya dan Rasul pun menyatakan kalimat yang saya ucapkan itu sebagai wahyu, seperti itu jugalah RasuluLlah (saw) mengada-adakan keseluruhan Al Quran.”

Na’uzubillah. Lalu ia murtad dan melarikan diri [dari Madinah] ke Makkah.

Pada saat Fatah Makkah, Abdullah bin Sa’d bin Abi Sarh termasuk salah satu orang yang diperintahkan oleh RasuluLlah (saw) untuk dibunuh, namun Hazrat Utsman Ra memberikan perlindungan padanya, berkenaan dengan perlindungan tersebut adalah, “Pada saat Fatah Makkah, ketika Abdullah bin Sa’d bin Abi Sarh tahu bahwa Rasul telah memerintahkan untuk membunuhnya, lalu ia pergi untuk mencari perlindungan kepada saudara sepesusuannya, Hazrat Utsman bin Affan. Ia berkata, ‘Saudaraku! Sebelum RasuluLlah (saw) memenggal leherku, mintakanlah jaminan keamanan bagiku.’” Tertulis hal ini di dalam Siratul Halabiyah.

Hazrat Mushlih Mau’ud (ra) menulis, “Ia sembunyi di rumah Hazrat Utsman selama 3,4 hari. Suatu hari ketika orang-orang tengah berbaiat kepada RasuluLlah (saw), Hazrat Utsman membawanya kehadapan RasuluLlah (saw) dan memohon kepada Rasul untuk berkenan menerima baiatnya kembali. Pada awalnya RasuluLlah (saw) tidak merespon, namun pada akhirnya Rasul menerima baiatnya. dengan demikiania baiat dua kali. Masih banyak lagi alasan lainnya yang membuatnya diperintahkan untuk dibunuh, diantaranya ia telah menyebabkan kekacauan dan provokasi. Alasan ia dihukum tidak hanya satu saja, ada juga hal lainnya sehingga ditetapkan untuk dibunuh.”[19]

Asim bin Umar (عاصم بن عمر) meriwayatkan, نزل وهب بن سعد لما هاجر على كلثوم بن الهدم ketika Hazrat Wahb bin Sa’d hijrah dari Makkah ke Madinah, beliau tinggal di rumah Hazrat Kultsum bin Hadam. قال وآخى رسول الله النبي صلى الله عليه وسلم بينه وبين سويد بن عمرو وقتلا يوم مؤتة قال وشهد وهب بن سعد أحدا والخندق والحديبية وخيبر وكان لما قتل بن أربعين سنة Hazrat RasuluLlah (saw) menjalinkan persaudaraan antara beliau dengan Hazrat Suwaid bin Amru (سويد بن عمرو). Beliau berdua syahid pada perang Mautah. Hazrat Wahab ikut serta pada perang Badr, Uhud, Khandaq, hudaibiyah dan Khaibar. Beliau syahid pada bulan jumadil ula tahun ke 8 Hijri pada perang mautah (يوم مؤتة). Pada saat disyahidkan beliau berusia 40 tahun.[20]

Berkenaan dengan perang mauta dan latar belakangnya, terdapat keterangan dalam kitab Tabaqatul Kubra. Perang tersebut terjadi pada bulan Jumadil ula tahun 8 Hijri. Hazrat RasuluLlah (saw) mengutus Hazrat Harits bin Umair (الْحَارِثَ بْنَ عُمَيْرٍ الْأَزْدِيّ) sebagai Qasid (kurir, pembawa pesan) kepada raja Basrah. Ketika Harits sampai di daerah Mu-tah, salah seorang yang ditugaskan oleh Kaisar untuk menjadi pemimpin di Syam bernama Syarjil (atau Syurahbil) bin Amru al-Ghassani (شُرَحْبِيلُ بْنُ عَمْرٍو الْغَسّانِيّ) menghentikannya lalu mensyahidkannya (menyuruh membunuhnya). Ini riwayat menurut Kitab Sirah An-Nabawiyyah karya Al-Halabiy)[21]

Selain Hazrat Harits bin Umair, tidak ada kurir RasuluLlah (saw) yang dibunuh. Ketika RasuluLlah (saw) mendapatkan kabar perihal kejadian tersebut, Rasul sangat menyesalkannya. Lalu rasul mengumpulkan 3000 pasukan untuk berperang. Rasul menetapkan Hazrat Zaid bin Haritsah sebagai komandan. Setelah menyiapkan bendera putih, RasuluLlah (saw) menyerahkannya kepada zaid dan bersabda, “Pergilah ke tempat dimana Hazrat Haris disyahidkan lalu serulah kepada Islam, jika mereka menerimanya itu baik, jika tidak mintalah pertolongan kepada Allah Ta’ala dalam menghadapi mereka lalu perangilah mereka.” Hazrat Wahb juga ikut serta dalam perang tersebut.

Hazrat Abdullah bin Umar meriwayatkan, saya akan jelaskan selengkapnya perihal perang tersebut. Hazrat RasuluLlah (saw) menetapkan sebelum keberangkatan pada perang Mautah, زَيْدُ بْنُ حَارِثَةَ أَمِيرُ النّاسِ فَإِنْ قُتِلَ زَيْدُ بْنُ حَارِثَةَ فَجَعْفَرُ بْنُ أَبِي طَالِبٍ فَإِنْ أُصِيبَ جَعْفَرٌ فَعَبْدُ اللّهِ بْنُ رَوَاحَةَ فَإِنْ أُصِيبَ عَبْدُ اللّهِ بْنُ رَوَاحَةَ فَلْيَرْتَضِ الْمُسْلِمُونَ بَيْنَهُمْ رَجُلًا فَلْيَجْعَلُوهُ عَلَيْهِمْ “Zaid bin Haritsah sebagai komandan. Jika Zaid syahid, yang akan menggantikannya adalah Ja’far bin Abi Thalib (kakak Hazrat Ali). Jika Ja’far pun syahid, akan digantikan oleh Abdullah bin Rawahah.”

Lasykar tersebut disebut juga dengan nama Jaisy Umara.

Berkenaan dengan seorang yahudi, hazrat Mushlih Mau’ud (ra) Ra menulis: Tidak jauh dari tempat itu ada seorang Yahudi (النّعْمَانُ بْنُ فُنْحُصٍ الْيَهُودِيّ) yang tengah duduk. Ketika mendengar perkataan rasul, Yahudi itu mendatangi Hazrat Zaid dan mengatakan, اعْهَدْ فَلَا تَرْجِعْ إلَى مُحَمّدٍ أَبَدًا إنْ كَانَ نَبِيّا ‘Jika Muhammad (saw) adalah benar seorang Nabi, tidak akan ada dari antara kalian bertiga yang akan kembali dengan selamat.’

Hazrat Zaid menjawab, فَأَشْهَدُ أَنّهُ نَبِيّ صَادِقٌ بَارّ ‘Sekalipun saya kembali dalam keadaan hidup ataupun tidak, bagaimanapun RasuluLlah (saw) adalah nabi yang benar.’

Hazrat RasuluLlah (saw) mendapatkan kabar dari Allah Ta’ala perihal kondisi peperangan dan para syuhada. Berkenaan dengan itu terdapat satu riwayat, Hazrat Anas bin malik meriwayatkan, RasuluLlah (saw) bersabda, “Zaid telah memegang bendera lalu syahid. Selanjutnya, Ja’far memegang bendera itu dan syahid juga. Kemudian, Abdullah bin Rawahah memegang bendera itu dan ia pun syahid.”

Ketika memberikan kabar mengenainya, air mata mengalir dari mata RasuluLlah (saw). Lalu RasuluLlah (saw) bersabda, “Bendera itu lalu dipegang oleh Khalid bin Walid tanpa mengemban jabatan kemudian mereka menang.”[22]

Semoga Allah ta’ala senantiasa meninggikan setinggi-tingginya derajat para sahabat tersebut. Setelah ini saya akan menyampaikan beberapa Ahmadi yang wafat dan nanti saya pimpin shalat jenazah untuk mereka.

Jenazah pertama adalah Mukarram Malik Muhammad Akram Sahib. Beliau adalah seorang Muballigh. Pada tanggal 25 April kemarin beliau wafat di Manchester (Inggris). Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’un. Jenazah beliau hadir saat ini dan setelah salat Jumat, saya akan memimpin salat Jenazah beliau di luar, insya Allah.

Beliau lahir pada tanggal 2 Februari 1947 di Malkwaal distrik Gujarat. Beliau baiat sendiri pada tahun 1961. Kakak kandung beliau adalah Ahmadi pertama di sana yaitu Master A’zam Sahib. Beliau juga baiat dan melalui beliaulah almarhum baiat.

Almarhum menulis sebuah artikel. Saya ingat, di dalamnya tertulis bahwa beliau datang ke Rabwah untuk menuntut ilmu, kemudian setelahnya baiat dan terkesan dengan lingkungan Rabwah. Pada tahun 1962 beliau mewakafkan diri setelah baiat. Setelah mendapat gelar BA, beliau mendapat gelar Syahid dan HA. Beliau ditetapkan sebagai Mubaligh pada tahun 1971. Hazrat Khalifatul Masih III rh menikahkan beliau dengan Amatul Karim Sahibah, puteri Maulwi Abdul Basyarat Abdul Ghafur Sahib.

Beliau mendapatkan taufik untuk berkhidmat di beberapa daerah di Pakistan dan luar negeri juga. Di UK, beliau mendapatkan taufik untuk berkhidmat hingga 30 tahun di Jemaat Oxford, Manchester, Glasgow dan Carldof. Total masa pengkhidmatan beliau menjadi 48 tahun. Di UK juga, beliau menjadi naib officer jalsah gah selama beberapa tahun.

Dari 1971 hingga 1973, beliau tinggal di beberapa tempat di Pakistan. Dari 1973 hingga 1977, beliau tinggal di Gambia. Lalu, tinggal lagi di Karachi Pakistan dari 1977 hingga 1979. Kemudian, dari 1979 hingga 1980 beliau tinggal di markas wakilut tabshir Rabwah. Dari 1980 hingga 1983, beliau menjabat sebagai Principal (Kepala Sekolah) di Nigeria missionary college Hilaru. Lalu, beliau kembali ke Rabwah dan tinggal di Rabwah hingga 1989.

Dari 1989 hingga 2018, beliau kembali mendapat taufik untuk berkhidmat di UK. Pertama, beliau pensiun pada tahun 2007 karena usia. Pada bulan Februari 2007, beliau mengajukan kembali untuk berkhidmat dan mendapat taufik untuk berkhidmat hingga 2018. Karena sakit beberapa hari yang lalu, meskipun beliau tetap sebagai Waqif zindegi namun beliau menghentikan dulu pengkhidmatannya. Beliau tidak mampu menunaikan pengkhidmatan aktif lalu pensiun. Namun tidak bisa juga dikatakan bahwa beliau tidak berkhidmat selama beberapa bulan, adapun beliau beliau telah melewati beberapa bulan tanpa pengkhidmatan rutin, hingga pada akhirnya wafat dalam pengkhidmatan.

Amir Sahib UK menulis, “Almarhum adalah seorang pekerja keras dan taat. Beliau orang yang tabah. Apapun pengkhidmatan Jemaat yang diamanahkan kepada beliau, beliau tunaikan dengan kerja keras dan jujur dan beliau selalu dawan mengirimkan laporan. Beliau senantiasa mengirim laporan dengan segera. Pada saat ditugaskan di di Manchester dilakukan pembangunan masjid Darul Aman. Malik Sahib sangat berperan aktif dalam mengumpulkan dana masjid.”

Ataul Mujeeb Rasyid Sahib mengatakan, “Akram Sahib memiliki akhlak yang mulia dan banyak kelebihan. Beliau adalah Ahmadi yang sangat saleh, jujur, mukhlis dan rela berkorban. Beliau adalah mubalig yang semangat, bekerja dengan penuh tanggungjawab. Beliau adalah khadim Jemaat yang mempunyai maqam sangat tinggi dalam ketaatan kepada khilafat.”

Majeed Sialkoti Sahib menulis, “Almarhum mempunyai kelebihan yang banyak. Terutama beliau adalah khadim yang setia pada khilafat. Beliau sangat gemar tablig. Pada saat kami sekolah, beliau suatu kali datang ke kampung kami di saat liburan. Kemudian, di sana beliau mengajak kami bertabligh. Lalu, kami gencar bertablig dan menghabiskan masa-masa liburan kami untuk berkhidmat di bawah pengaturan badan khudam dan anshar. Beliau senantiasa mengarungi hidup dengan penuh ketaatan.”

Aslam Khalid Sahib yang berkhidmat di London sebagai sekretaris pribadi, mengatakan, “Saya memiliki kaitan kekerabatan dengan almarhum karena pernikahan. Di mana pun almarhum ditugaskan, beliau menaklukkan hati para anggota Jemaat dengan penuh kasih sayang, begitu juga saat sakit. Di mana pun beliau berkhidmat, khususnya di Manchester, beliau senantiasa mengenang para anggota dengan penuh cinta. Beliau punya ikatan kasih sayang terhadap anak-anak Jemaat dan para pemuda. Beliau menjadi teladan.”

Khalid Sahib menulis, “Saat ini anak-anak [Jemaat] itu sudah dewasa dan telah menikah. Salah seorang dari mereka menyampaikan kepada Almarhum melalui telepon setelah ia menikah dan anak mereka lahir pada pukul 2.30 malam, mengatakan, ‘Pak Muballig! di rumah saya telah lahir seorang anak laki-laki.’

Pada awalnya Akram Sahib mengatakan dalam hati, ‘Berita seperti ini kenapa pula disampaikan pada waktu yang tidak tepat di malam hari seperti ini, padahal bisa juga disampaikan pagi nanti.’

Namun itu merupakan bentuk kecintaan anak tersebut kepada muballigh yang telah memberikan tarbiyat padanya. Almarhum mengatakan, ‘Anak itu lalu membuat bungkam mulut saya dengan mengucapkan kalimat berikutnya, “Pak Muballigh! Sejak awal saya telah bertekad bahwa jika Allah Ta’ala menganugerahi saya anak laki laki, orang pertama yang akan saya kabari adalah tuan. Sekarang saya akan memberitahu ayah saya.”’ Demikianlah bentuk kasih sayang orang-orang dan para anggota kepada beliau.”

Semoga Allah Ta’ala senantiasa meninggikan derajat beliau, mengampuni beliau, menganugerahkan ketabahan kepada orang-orang yang ditinggalkan. Jenazah beliau saat ini ada. Sebagaimana saya telah katakan, saya akan memimpin salat jenazahnya di luar setelah salat Jumat.

Kedua adalah jenazah gaib Choudry Abdus Syakoor Sahib, mubalig silsilah. Beliau adalah putra dari Choudry Abdul Aziz Sahib Sialkoti. Beliau wafat pada tanggal 12 April. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raajiun. Beliau lahir pada tanggal 10 November 1935. Beliau adalah Ahmadi keturunan. Kakek beliau baiat pada tahun 1901. Mukarram Abdus Syakoor Sahib meraih gelar FA.

Kemudian, gelar Syahid, HA lalu mewakafkan hidup pada bulan Juni 1956. Sebelumnya beliau bekerja sebagai juru tulis di divisi jalan kereta api. Pada tahun 1962, beliau lulus ujian HA dan pada tahun 1963, beliau lulus ujian Syahid dari Jamiah Ahmadiyah [Rabwah, Pakistan]. Beliau ditugaskan di wakalat mal tsani sejak juli 1963, lalu berkhidmat di beberapa kantor di Rabwah. Pada tahun 1964, beliau diutus ke Sierra Leon untuk menyampaikan tabligh Islam. beliau mendapat taufik untuk berkhidmat di sana hingga November 1968. Dari Desember 1970 hingga Desember 1973, beliau menetap di Ghana. Dari 1975 hingga 1978, beliau tinggal di Gambia. Dari Februari hingga April 1986, beliau mendapat taufik untuk berkhidmat di Liberia. Di negara-negara tersebut, beliau mendapat taufik untuk berkhidmat sebagai Amir dan Missionary Incharge.

Pada tahun 1990, beliau ditetapkan sebagai naib wakilut tabshir. Beliau terus berkhidmat sebagai naib wakilul mal tsalits, sekretaris komite akomodasi, naib wakilul mal tsani dan setelah pensiun di tahun 1995, beliau mendapat taufik untuk berkhidmat setelah dikaryakan kembali hingga 2004. Karena derita sakit ada benjolan hitam di mata, beliau pensiun di tahun 2004.

Putra beliau, Dr. Abdus Shabur Sahib yang tinggal di Amerika mengatakan, “Ayah saya sangat sederhana dan gigih. Kami mendapatkan kesempatan untuk menyaksikan kehidupan beliau sebagai Amir dan Missionary Incharge sibuk dalam tugas tablig dan tarbiyat. Beliau senantiasa menyiapkan khotbah-khotbah dengan kerja keras. Beliau menyampaikan khotbah dengan baik dan mengutip rujukan dari al-Qur’anul Karim, Hadits, buku-buku Jemaat, Alkitab (Bibel) dan lain-lain. Beliau bertablig kepada orang-orang Kristen dan Islam dengan dalil-dalil dan berbicara dengan penuh kasih sayang.

Almarhum membiayai pendidikan kami dengan sarana terbatas dan membekali kami dengan pendidikan yang tinggi.”

Mahmud Tahir Sahib, Qaid Umumi Ansharullah Pakistan, mengatakan, “Almarhum merupakan sosok pengkhidmat yang tidak banyak bicara, pekerja keras dan memiliki gagasan-gagasan yang sangat baik.”

Naib wakilut tabshir, syekh Khalid mengatakan, “Almarhum sangat rendah hati, sosok yang sopan, lembut. Beliau sangat setia dan rela berkorban demi khilafat dan Jemaat.”

Haidar Ali zafar sahib, naib amir Jerman sekarang mengatakan, “Abdus syakoor sahib adalah pemilik banyak kelebihan, sangat mukhlis, sederhana, rendah hati, rajin, membelanjakan harta Jemaat dengan sangat hati-hati. Beliau seorang mutaki dan orang yang berprinsip.

Beliau menjalankan bookshop Jemaat di Liberia dengan sangat baik dan penghasilan yang diterima, beliau gunakan untuk renovasi masjid dan rumah Muballigh. Di tempat yang sederhana, beliau membangun sebuah kompleks yang di dalamnya terdapat perpustakaan dan ruang tamu. Di dalam masjid terdapat bagian terpisah bagi laki-laki dan perempuan. terdapat rumah muballig juga dan saat pembangunan masjid, beliau bekerja dengan tangan sendiri bersama para tukang. Beliau membangun masjid, kompleks dengan mencar dananya sendiri dan ikut serta dalam pembangunan.”

Haidar ali sahib mengatakan, “Pada tahun 1986, ketika saya menggantikan beliau dan diadakan acara perpisahan. Ketika disampaikan pujian atas kerja keras dan jasa-jasa beliau dalam membangun masjid dan rumah misi, beliau mengatakan dengan penuh kerendahan hati, ‘Mubalig sebelum saya telah mendapat taufik untuk membeli tempat ini dan Allah Ta’ala menganugerahi saya taufik sehingga tempat ini dapat berdiri pada masa saya. Kini anda dapat melakukan aktivitas tablig di sana dan sebenarnya ini semua karunia Allah Ta’ala. Dia anugerahkan taufik kepada saya.’”

Almarhum adalah mushi. Selain istri, beliau meninggalkan 2 orang putri dan 3 orang putra. Semoga Allah Ta’ala meninggikan derajat beliau.

Jenazah ketiga adalah jenazah gaib, yaitu jenazah mukarram Muhammad Salih Muhammad sahib, muallim Waqf-e-Jadid [di Pakistan]. Beliau wafat pada tanggal 21 April 2019 dengan putusan ilahi. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raajiuun. Buyut beliau, malik allah bakhs sahib adalah sahabat Hazrat Masih Mau’ud (as). Beliau menyaksikan gerhana bulan dan matahari pergi ke qadian jalan kaki dari Lodhran dan mendapatkan karunia berbaiat di tangan Hazrat Masih Mau’ud (as). Ayahanda beliau, mukarram malik ghulam muhammad sahib termasuk muallimin awalin Jemaat. Ayahanda beliau juga muallim.

Almarhum lahir pada tahun 1959. Pada tahun 1976, beliau berusaha untuk masuk jamiah Ahmadiyah, namun umur beliau cukup tua sehingga beliau tidak dapat masuk. Oleh karena itu, beliau bekerja di kota besar. Putra beliau menulis, “Kakek saya, malik ghulam muhammad sahib yang berkhidmat sebagai muallim, pergi ke kota besar itu untuk menemui beliau, namun setelah melihat lingkungan pekerjaannya kurang bagus, beliau menyarankan dengan segera supaya meninggalkan pekerjaan dan mewakafkan hidup menjadi muallim di bawah Waqf-e-Jadid. Oleh karena itu, beliau meninggalkan pekerjaan. Saat itu beliau sudah menikah.

Pada pekerjaan sebelumnya beliau mendapat gaji 450 rupees lalu bergabung dalam kelas muallim. Setelah menjadi muallim, beliau mendapat tunjangan dari Jemaat sebesar 135 rupe, tetapi beliau mengatakan bahwa ini merupakan kehormatan besar yang Allah Ta’ala anugerahkan kepada saya untuk mengkhidmati agama. Beliau mulai mewakafkan kira-kira ¼ atau 1/3 dari penghasilannya. Sebelumnya beliau mencari nafkah dunia semata. Beliau ditugaskan di NagarParkar pada tahun 1989. Saat itu kondisinya sulit sekali.”

Putra beliau juga adalah muballig menulis, “Ibu saya menceritakan bahwa setelah beliau dipindahtugaskan ke pusat kampung nagarparkar di sana susah sejak lama rumah muallim tidak digunakan, kondisinya sudah roboh. Lalu ayah saya mengambil air dan tanah dari tempat yang jauh pada siang hari, untuk beliau kumpulkan dan pada malam hari. Suami istri keduanya membuat batu bata mentah dan ketika sudah jadi batu bata, keduanya membangun tempat tinggal sendiri. Di sana pada awalnya tidak ada tempat untuk menetap.”

Seperti itulah keadaan para muallimin awalin yang rela berkorban di Sindh. Mereka menimba air sendiri dan membawa air dari jauh. Mereka mengumpulkan tanah, kemudian membuat batu bata dan membangun ruangan untuk menetap. Tidak pernah menuntut kepada Jemaat.

Putra beliau menulis, “Di nagarparkar, beliau pernah menceritakan dulu tidak ada sarana memadai. Oleh karena itu, ketika beliau datang untuk rapat, beliau membawa persediaan pangan untuk sebulan, obat-obat homeopati dan kebutuhan lainnya, karena beliau tinggal di area terpencil suatu kali, beliau pergi rapat, beliau lupa jalan pulang. Daerah di sana adalah belantara. Orang di sana menunjukkan jalan dengan melihat jejak langkah di atas pasir.

Beliau tidak bisa mengenali jejak yang pasti sehingga beliau lupa jalan, saat itu air sudah habis, di Sind sangat panas. Akhirnya, beliau jatuh pingsan akibat kehausan dan kecapean.

Saat itu ada 2 orang menunggangi unta lewat. Di sana mereka melihat seseorang terjatuh di atas pasir. Ketika mereka mendekati beliau, mereka tahu bahwa beliau adalah dokter sahib, karena beliau selalu memberikan obat-obat homeopati. Oleh karena itu, beliau tersohor dengan nama dokter sahib dan kedua orang ini adalah pasien beliau. Mereka mengenali beliau. Mereka memberi beliau air, kemudian membawa beliau ke rumah mereka. Di sana beliau bermalam. Hari berikutnya, beliau diantarkan ke center [cabang Jemaat].”

Putra beliau menulis, “Almarhum terus menekankan kepada anak keturunan beliau untuk salat. Beliau adalah sosok yang dawam tahajud. Ketika wafat pun, pada hari itu beliau melaksanakan tahajud dan membangunkan ibu juga. Beliau adalah pribadi yang berakhlak baik dan penyayang. Siapapun yang berlaku aniaya kepada beliau, beliau senantiasa sabar dan tidak pernah meresponnya. Beliau adalah orang yang sangat baik dalam menjalin hubungan dengan orang-orang dan cukup terkenal. Orang-orang biasa menitipkan amanat kepada beliau karena kejujurannya. Kapan pun ada perselisihan dalam keluarga, beliau selalu berusaha mendamaikan.”

Almarhum juga seorang mushi. Selain istri, beliau juga meninggalkan 3 orang putra dan 3 orang putri. Seorang putra beliau, mubarak ahmad munir sahib mendapat taufik untuk berkhidmat sebagai murabbi Jemaat di burkina faso dan beliau tidak dapat pergi ke Pakistan atas kewafatan ayahanda beliau. Semoga Allah Ta’ala senantiasa meninggikan derajat beliau, memperlakukan beliau dengan rahmat dan magfirah dan menganugerahkan taufik kepada anak keturunan beliau untuk berkhidmat kepada agama dengan ambisi dan pengorbanan tersebut.

Jenazah keempat adalah jenazah gaib mukarram Maushai Jummah sahib dari Tanzania. Beliau wafat pada tanggal 13 Maret. Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raajiuun. Beliau lahir antara tahun 1933 atau 1934 di daerah Morogoro, Tanzania. Pada tahun 1967, beliau bergabung ke dalam Jemaat Ahmadiyah. Peristiwa baiatnya beliau adalah sebagai berikut yakni di sebagian kalangan ulama sunni di sana terdapat tradisi akikah atas anak yang lekas wafat, bukannya anak yang hidup. Setelah wafat dilakukan akikah dan khataman sehingga menjadi ajang untuk berkali-kali mendapat makanan. Almarhum tidak pernah melihat tradisi seperti ini dalam ajaran islam. Melihat kondisi demikian beliau sangat sedih. Beliau senantiasa berdoa kepada Allah Ta’ala, “Ya Allah! Turunkanlah Hazrat Isa as supaya dia datang dan menghidupkan kembali Islam.”

Missionary incharge sahib menulis berdasarkan keterangan Almarhum sendiri, “Almarhum bertemu dengan mubalig Jemaat di sana. Saat itu adalah jameelur rehman rafiq sahib yang saat ini sebagai wakil isyaat di pakistan. Ketika beliau bertemu, beliau menyampaikan kepada almarhum bahwa ada sebuah hadis RasuluLlah (saw) yang berbunyi, siapa yang tidak mengenal imam zamannya, orang itu mati jahiliyah. Atas hal itu, beliau menganggap bahwa beliau belum mengenal imam zaman, dengan demikian bukan Muslim hakiki. Beliau berpikir dan tanpa menyia-nyiakan waktu, langsung baiat.

Setelah baiat, beliau pulang kampung dan menabligi saudara, keluarga, kawan-kawan dan mengumpulkan semuanya lalu menyampaikan tabligh Hazrat Masih Mau’ud (as). Pada tahun tersebut, saudara beliau edi salman sahib yang sekarang sudah wafat, jumah sahib dan istri bergabung kedalam Jemaat berkat tablig almarhum. Almarhum terpaksa harus menghadapi penentangan keras, tapi perlahan-lahan orang-orang mulai bergabung dalam Jemaat dan perkampungan yang berdekatan dengan kampung beliau, sehingga Jemaat telah berdiri di sana.”

Incharge Sahib menulis, “Makyuni adalah Jemaat teladan di daerah morogoro dan itu adalah Jemaat yang berdiri berkat andil usaha gigih Almarhum. Setelah bergabung dalam Jemaat hingga wafat, yang nampak dari setiap amal beliau adalah beliau sangat setia terhadap khilafat. Beliau sangat menghormati dan memuliakan para mubalig dan pengurus Jemaat. Beliau senantiasa mematuhi nizam Jemaat. Beliau sangat gemar dan berambisi dalam tablig dan senantiasa bertablig. Beliau tidak melepaskan kesempatan bertabligh. Beliau selalu terdepan dalam pembayaran candah, bahkan setiap saat berpikir bahwa berapa pun penghasilannya, harus dikeluarkan candahnya dan senantiasa mengatakan, ‘Dunia yang sementara ini tidak ada hakikatnya.’

Beliau adalah mushi dan senantiasa mendorong orang-orang untuk ikut serta dalam nizam beberkat ini. Beliau adalah teladan dalam menegakkan salat. Beliau sendiri dawam salat 5 waktu. Beliau juga menasihati anak cucu untuk dawam. Beliau senantiasa menunaikan tahajud dengan penuh kelezatan. Beliau banyak menghafal doa-doa RasuluLlah (saw). Beliau sangat gemar membaca buku-buku Hazrat Masih Mau’ud (as).”

Putra beliau, syam’un jumah sahib dosen jamiah Ahmadiyah Tanzania, mengatakan, “Dari tahun 1987 hingga 1990, kami tiga bersaudara belajar di jamiah tanzania. Di sana ada kursus mubasyir dan saya ingat suatu kali selama liburan kami bermusyawarah supaya salah seorang dari kami meninggalkan pendidikan jamiah dan kembali pulang dan membantu kedua orang tua. Kami menceritakan hal itu kepada ayahanda sahib, namun ayah marah.

Saya (syam’un jumah sahib dosen jamiah Ahmadiyah Tanzania) tidak lupa hari ketika ayahanda sahib dengan tegas menasihati kami, ‘Bertawakallah kepada Allah dan lanjutkan pendidikan di Jamiah, jangan sekali-kali meninggalkan pendidikan.’”

Almarhum meniupkan ruh pengkhidmatan Jemaat kepada ketiga putra beliau.

Semoga Allah Ta’ala mencurahkan rahmat dan maghfirahnya kepada beliau-beliau, meninggikan derajat nya dan menjadikan keturunan mereka sebagai khadim agama yang sejati. [aamiin].

Sebagaimana saya telah sampaikan bahwa setelah salat jumat, saya akan memimpin shalat jenazah untuk semuanya. Jenazah hadir malik akram sahib, saya akan salatkan di luar dan para anggota tetap di sini dan bisa ikut bergabung dalam salat di dalam masjid saja.

Khotbah II

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ

وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ

وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ!

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ

يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ

أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Penerjemah                    : Mln. Mahmud Ahmad Wardi, Syahid (London, UK) dan kawan-kawan; Editor: Dildaar Ahmad Dartono (Indonesia).


[1] Ath-Thabaqaat (الطبقات الكبرى – محمد بن سعد – ج ٣ الطبقة الأولى في البدريين من المهاجرين والأنصار): عن عبد الله بن عامر بن ربيعة قال: أوّلُ من دُفن بالبقيع من المسلمين عثمان بن مظعون فأمَرَ به رسول الله صَلَّى الله عليه وسلم، فدفن عند موضع الكِبَا اليومَ عند دار محمد بن الحنفيّة.

[2] Al-Mustadrak ‘alash Shahihain (المستدرك على الصحيحين), Kitab Ma’rifatish Shahabah (كتاب معرفة الصحابة رضي الله تعالى عنهم), Manaqib Utsman bin Mazh’un (ذكر مناقب عثمان بن مظعون).

[3] Al-Mustadrak ‘alash Shahihain (المستدرك على الصحيحين), Kitab Ma’rifatish Shahabah (كتاب معرفة الصحابة رضي الله تعالى عنهم), Manaqib Utsman bin Mazh’un (ذكر مناقب عثمان بن مظعون).

[4] Taajul ‘Uruus. Baqi dari akar kata baqa’a yang artinya sebuah areal tanah atau lapangan yang berbeda dengan areal sekitarnya, dan juga bermakna pepohonan atau akar-akarnya yang dalam kondisi terpisah satu sama lain.

[5] Gharqad: pohon berduri jenis Lycium shawii (bahasa Arab:Alaosaj) spesies dari Boxthorn

[6] Al-Mu’jam al-Ausath karya ath-Thabrani (المعجم الأوسط للطبراني), bab ba (باب الباء), (من اسمه بكر).

[7] Sunan at-Tirmidzi, Kitab Jenazah (كتاب الجنائز عن رسول الله صلى الله عليه وسلم), bab mencium mayat (باب مَا جَاءَ فِي تَقْبِيلِ الْمَيِّتِ).

عَنْ عَائِشَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم قَبَّلَ عُثْمَانَ بْنَ مَظْعُونٍ وَهُوَ مَيِّتٌ وَهُوَ يَبْكِي setelah kewafatan Hazrat Utsman, Hazrat RasuluLlah (saw) mencium kening jenazah Hazrat Utsman dan air mata mengalir dari mata Rasul.

[8] Asadul Ghabah. Tercantum juga dalam Ath-Thabaqaat al-Kabir atau al-Kubra karya Ibn Sa’d (الطبقات الكبير لابن سعد), jilid ketiga (المجلد الثالث ), bab Utsman bin Mazh’un (عُثْمَانُ بْنُ مَظْعُونِ بْنِ حَبِيبِ بْنِ وَهْبِ بْنِ حُذَافَةَ بْنِ جُمَحَ).

[9] Syarh az-Zurqani ‘ala Muwatha al-Imam Malik – uraian Imam az-Zurqani atas kitab Muwatha karya Imam Malik (شرح الزرقاني على موطأ الإمام مالك); Ansabul Asyraf (أنساب الأشراف 1-8 ج1) karya Abu Hasan Ahmad bin Yahya bin Jabir al-Baladzuri (أبي الحسن أحمد بن يحيى بن جابر/البلاذري).

[10] Sunan ibn Maajah, Kitab jenazah (كتاب الجنائز)

[11] Sunan Abi Daud, Kitab Jenazah, bab menandai kuburan (باب فِي جَمْعِ الْمَوْتَى فِي قَبْرٍ وَالْقَبْرُ يُعَلَّمُ).

[12] Al-Isti’aab (الاستيعاب في معرفة الأصحاب)

[13] Ath-Thabaqaat.

[14] Hadits Shahih Al-Bukhari No. 6500 – Kitab Ta’bir

[15] Musnad Ahmad ibn Hanbal (مسند أحمد بن حنبل/مسند القبائل/9), (حديث أم العلاء الأنصارية رضي الله عنها).

[16] Musnad Ahmad ibn Hanbal (مسند أحمد بن حنبل/مسند القبائل/9), (حديث أم العلاء الأنصارية رضي الله عنها).

[17] Teks Arabnya sebagai berikut: وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِن سُلَالَةٍ مِّن طِينٍ () “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. (QS. Al-Mukminun : ayat 13 jika basmalah dihitung ayat pertama). ثُمَّ جَعَلْنَاهُ نُطْفَةً فِي قَرَارٍ مَّكِينٍ () “Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).” (QS. Al-Mukminun : 14) ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظَامًا فَكَسَوْنَا الْعِظَامَ لَحْمًا ثُمَّ أَنشَأْنَاهُ خَلْقًا آخَرَ ۚ فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ ()  “Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.” (QS. Al-Mukminun : 15)

[18] At-Tafsir al-Kabir atau Mafaatihul Ghaib (التفسير الكبير أو مفاتيح الغيب), Surah al-Muminun (سورة المؤمنون), ayat wa laqad khalaqnal insaan (قوله تعالى ولقد خلقنا الإنسان من سلالة من طين); Al-Wahidi dalam kitab Asbabun Nuzul (الواحدي في “أسباب النزول); Tafsir al-Qurthubi; Tafsir Bahrul ‘Uluum juz 2 (تفسير السمرقندي المسمى بحر العلوم 1-3 ج2) karya Abu Laits as-Samarqandi. Abdullah bin Sa’d bin Abi Sarh kagum dengan keindahan ayat Al-Qur’an spontan mengucapkan, فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ fatabaarakallaahu ahsanal khaaliqiin. Ternyata, inilah lanjutan ayat sebelumnya.

[19] Pada zaman Khalifah Umar bin Khaththab, Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sarh diangkat menjadi gubernur daerah dataran tinggi Mesir. Pada zaman khalifah Utsman, dia mendapat kepercayaan lebih besar lagi, menjadi gubernur Mesir. Seluruh wilayah Mesir ia pimpin. Itu terjadi pada tahun 25 Hijriah. Setelah menjadi gubernur Mesir, ia mengirim surat kepada khalifah Utsman untuk meminta ijin menyebarkan Islam ke Tunisia. Alhamdulillah Islam pun menyebar dan berkembang di Tunisia sampai sekarang. Setelah Tunisia, diapun menyebarkan agama Islam ke daerah Sudan. Setelah Khalifah Ustman bin Affan wafat, Abdullah bin Sa’ad pergi ke kota Asqalan di Palestina. Di sana dia memfokuskan diri untuk beribadah. Abdullah bin Sa’ad selalu berdoa kepada Allah agar akhir hidupnya husnul khatimah, ditutup dengan ibadah, yaitu shalat subuh. Ketika waktu shalat subuh tiba, ia pun shalat mengimami kaum muslimin. Pada rakaat pertama membaca surat Al-fatihah dan surat Al- Adiyat. Setelah rakaat kedua, ia memberikan salam ke kanan, kemudian salam ke kiri, lalu Allah langsung mewafaatkannya. Abdullah bin Sa’ad wafat pada tahun 37 H dan dimakamkan di kota Asqalan Palestin. Meski agak dekat secara kerabat dengan Hazrat Muawiyah, ia tidak berpihak kepada Muawiyah saat Muawiyah bertentangan dengan Khalifah Ali setelah kewafatan Hazrat Utsman dan pemilihan Hazrat Ali (ra) sebagai Khalifah.

[20] Al-Ishabah (الإصابة في تمييز الصحابة) karya Al-Asqalani (أحمد بن علي بن حجر أبو الفضل العسقلاني الشافعي).

[21] Raja di Basra dan Raja al-Ghassani di Syam (wilayah Suriah dsk) ialah raja-raja Arab Kristen bawahan kekaisaran Romawi. Kitab al-Maghazi menyebutkan: غَزْوَةُ مُؤْتَةَ حَدّثَنَا الْوَاقِدِيّ قَالَ حَدّثَنِي رَبِيعَةُ بْنُ عُثْمَانَ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْحَكَمِ قَالَ بَعَثَ رَسُولُ اللّهِ صَلّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلّمَ الْحَارِثَ بْنَ عُمَيْرٍ الْأَزْدِيّ ثُمّ أَحَدَ ب َنِي لَهَبٍ ، إلَى مَلِكِ بُصْرَى بِكِتَابٍ فَلَمّا نَزَلَ مُؤْتَةَ عَرَضَ لَهُ شُرَحْبِيلُ بْنُ عَمْرٍو الْغَسّانِيّ فَقَالَ أَيْنَ تُرِيدُ ؟ قَالَ الشّامَ . قَالَ لَعَلّك مِنْ رُسُلِ مُحَمّدٍ ؟ قَالَ نَعَمْ أَنَا رَسُولُ رَسُولِ اللّهِ . فَأَمَرَ بِهِ فَأُوثِقَ رِبَاطًا ، ثُمّ قَدّمَهُ فَضَرَبَ عُنُقَهُ صَبْرًا .

[22] Peperangan terjadi di tempat yang amat jauh dari Madinah yaitu di Mu-tah, di wilayah Yordania sekarang. Sebelum pasukan pulang atau mengutus kurir untuk memberikan laporan, Nabi (saw) telah lebih dahulu menceritakan jalannya peperangan kepada para Sahabat yang ada di Madinah.