Manusia Berdoa, Allah Menanggapi

Ketika seorang anak menangis karena dorongan lapar perutnya, maka susu segera dihasilkan di dada ibunya. Anak itu tidak tahu apa yang namanya doa tetapi tangisnya telah menghasilkan susu. Hal ini merupakan suatu hal yang bersifat universal. Terkadang meski si ibu tidak menyadari adanya susu di dadanya, tangis si anak akan membantunya menghasilkan susu. Lalu apakah tangis kita di hadapan Tuhan tidak akan menghasilkan apa pun? Sesungguhnya tangis itu akan menarik segalanya.

Namun mereka yang buta matanya, yang memperagakan dirinya sebagai cendekiawan dan filosof, tidak mampu melihatnya. Bila kita renungi falsafah dari doa, dengan merujuk pada hubungan antara ibu dengan anaknya, hal ini sebenarnya mudah dipahami.

Terkait:   Istighfar Lebih Dahulu Daripada Tobat

Bentuk kedua dari rahmat akan datang setelah mengajukan permohonan doa. Tetaplah kalian meminta dan kalian akan terus menerima. “Berdoalah kepada-Ku, Aku akan mengabulkan doamu (QS 40, Al-Mu’min: 61) bukanlah suatu istilah kosong tetapi merupakan bagian dari karakteristik fitrat manusia. Manusia bagiannya adalah memohon doa, sedangkan Allah bagian yang mengabulkan. Orang yang tidak memahaminya dan tidak meyakininya, sesungguhnya ia dusta. Ilustrasi tentang anak kecil di atas sudah memperjelas filosofi doa secara gamblang. (Malfuzat, vol. I, hal. 129-130).

Justru pada saat timbul cobaan maka sifat dan pengaruh doa yang ajaib akan dimanifestasikan. Sesungguhnya Tuhan kita hanya bisa dikenali melalui doa. (Malfuzat, vol. I, hal. 201).

Terkait:   Tiga Syarat Terkabulnya Doa

Sumber: Inti Ajaran Islam Bagian Kedua, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad, Neratja Press, 2017, hal. 182