Oleh Hazrat Mirza Masroor Ahmad (aba), Pidato Peresmian Masjid Mahmud, Malmo, Swedia, 14 Mei 2016

masjid dan muslim sejati menyebarkan cinta dan perdamaian

“Para Tamu yang terhormat, Assalamu’alaikum Wa Rahmatullahi Wa Barakatuhu

Pertama-tama dalam kesempatan ini saya ingin menyampaikan penghargaan yang tulus kepada semua tamu yang telah menerima undangan untuk peresmian masjid baru kami di Malmo ini. Sebagian besar Anda sekalian bukanlah anggota Jamaah Ahmadiyah, sehingga kehadiran anda menunjukkan bahwa anda adalah orang-orang yang toleran dan terbuka serta layak menerima rasa terima kasih kami.

Saya yakin sebagian orang, bahkan mungkin diantara yang hadir, menyimpan keraguan atau kekhawatiran tertentu tentang peresmian masjid ini dan bahkan mungkin merasa waswas tentang kata “masjid” itu sendiri. Secara khusus, orang-orang yang memiliki sedikit atau tidak ada hubungan dengan orang Islam mungkin percaya bahwa masjid tidak boleh dibangun di barat atau di negara maju. Mereka mungkin menganggap masjid sebagai sarana yang dapat mengacaukan negara mereka dan meningkatkan perpecahan dan permusuhan. Sampai batas tertentu kekhawatiran semacam itu dapat dibenarkan, karena sayang disayangkan terdapat orang-orang yang menyebut diri sebagai Muslim menggunakan masjid untuk tujuan buruk, seperti menyebarkan ekstremisme dan menumbuhkan radikalisasi.

Karena itu, pertama-tama izinkan saya meyakinkan semua tamu dan orang-orang di kota dan negara ini, bahwa tidak perlu takut pada masjid ini. Alih-alih menyebarkan kebencian dan kejahatan, Muslim dan masjid sejati hanya menyebarkan cinta, perdamaian, dan persaudaraan ke seluruh masyarakat.

Tentu saja, ketika seseorang bertemu dengan Muslim sejati, dia pasti akan merasakan kedamaian dari mereka. Demikian pula, ketika seseorang memasuki masjid, yang ia rasakan hanyalah kedamaian dan kegembiraan. Jika kondisinya tidak seperti ini, mereka yang memasuki masjid bukanlah Muslim sejati dan tidak memahami ajaran Islam yang hakiki, atau mesjid tersebut dibangun tidak dengan niat suci atau untuk memenuhi tujuan sejati sebuah Masjid. Masjid-masjid yang menjadi sumber keburukan, bukanlah bagian Islam.

Sebuah peristiwa disebutkan dalam Al-Quran, ketika Rasulullah (shallallahu alaihi wasallam) memerintahkan untuk menghancurkan sebuah masjid, karena masjid itu dibangun bukan sebagai rumah kedamaian, tetapi dimaksudkan untuk menimbulkan konflik dan menyebarkan keonaran. Orang-orang yang membangun masjid itu adalah orang-orang munafik yang berusaha menimbulkan perpecahan dalam masyarakat, baik di internal umat Islam dan juga antara umat Islam dengan non-muslim pada masa itu. Jadi Alquran sangat jelas menjelaskan bahwa masjid yang dibangun dengan niat buruk seperti itu harus dihancurkan.

Selanjutnya, dalam pandangan Muslim Ahmadiyah, kami meyakini bahwa pendiri Jamaah kami, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad Qadiani as, telah diutus oleh Allah taala, sesuai dengan nubuat Alquran dan Rasulullah (shallallahu alaihi wasallam). Kami percaya beliau adalah Mujaddid abad ini, yang Nabi (shallallahu alaihi wasallam) sendiri menyebutnya sebagai Al-Masih dan Mahdi. Kami meyakini beliau diutus dengan dua tujuan utama, yaitu menyatukan umat manusia untuk menyembah Allah taala, dan menarik perhatian manusia dalam memenuhi hak-hak satu sama lain.

Beliau diutus untuk menciptakan perdamaian bagi seluruh dunia; dan karena itu para pengikut beliau adalah orang-orang yang senantiasa membangun sarana cinta dan kasih sayang dalam masyarakat. 127 tahun dalam sejarah Jamaah Ahmadiyah telah memberikan kesaksian bahwa kami menjalankan apa yang kami ajarkan yaitu kedamaian, cinta dan toleransi. Alih-alih memiliki ambisi duniawi atau politik, tujuan kami sepenuhnya adalah urusan rohani. Kami hanya mencari keridhaan Allah dan berusaha meringankan penderitaan umat manusia.

Di dunia saat ini, begitu banyak perkataan dan tulisan yang menentang Islam, dengan mencap Islam sebagai agama ekstremis dan kejam. Kami menganggap bahwa semua gambaran itu sangat keliru, tetapi memang sangat disayangkan tindakan-tindakan mengerikan dari orang-orang yang menyebut diri Muslim telah membuka ruang bagi para penentang Islam untuk menyuarakan tuduhan palsu semacam itu.

Terkait:   Mencari Islam Sejati

Namun, sebagai seorang Muslim Ahmadi, ketika saya mengamati keadaan saat ini, hal itu tidak membuat saya putus asa tetapi justru menjadi sarana untuk memperkuat iman saya pada kebenaran Islam. Sebab lebih dari 1400 tahun yang lalu, Rasulullah (shallallahu alaihi wasallam) telah menubuatkan bahwa seiring berlalunya waktu ajaran Islam hakiki akan semakin memudar dan ajaran aslinya akan dilupakan. Beliau menubuatkan bahwa di saat kegelapan rohani itu, Allah taala akan mengutus Al-Masih yang dijanjikan untuk menghidupkan kembali ajaran Islam yang sejati. Seperti telah saya jelaskan, kami Muslim Ahmadi meyakini bahwa pendiri Jamaah kami adalah Almasih yang dijanjikan dan juga Imam Mahdi. Semata-mata membawa pesan rohani, beliau membawa cahaya yang menyinari ajaran Islam yang mulia dan abadi. Beliau menjelaskan tujuan hakiki pendirian masjid-masjid menurut ajaran Islam yang benar.

Di mana pun dan kapan pun Jamaah Muslim Ahmadiyah membangun masjid, maka masjid itu diperuntukkan sebagai rumah perdamaian bagi berkumpulnya orang-orang untuk beribadah kepada Allah taala, sesuai ajaran mulia Alquran. Jadi pintu-pintu masjid kami terbuka untuk semua orang yang damai yang ingin menyembah Allah taala dan terbuka bagi semua orang yang ingin menyebarkan nilai-nilai perdamaian, itikad baik, dan persatuan.

Sekarang masjid yang dinamai Masjid Mahmud ini telah dibuka, maka tugas utama Muslim Ahmadi setempat adalah mewujudkan ajaran Islam yang benar dan damai dalam semua aspek kehidupan mereka. Di satu sisi, mereka harus memakmurkan masjid ini setiap hari dengan beribadah kepada Allah, mereka juga harus memiliki tekad dan keinginan tulus untuk melayani masyarakat di mana mereka tinggal. Melalui perilaku mereka harus memancarkan kedamaian, belas kasih dan kebajikan, baik di lingkungan ini maupun di masyarakat yang lebih luas.

Rumah Keselamatan

Sederhananya, Islam adalah agama damai, inilah sebabnya Allah berfirman dalam Surah Yunus [10]: 26, Allah taala berfirman:

“Dan Allah menyeru ke Tempat Perdamaian.”

QS Yunus [10]: 26

‘Damai’ dalam bahasa Arabnya adalah ‘salaam’ dan kata tunggal ini memiliki banyak arti dan konotasi yang bermacam-macam. Ia memiliki arti ‘keselamatan’, ‘keamanan’ dan diselamatkan dari keburukan dan kejahatan. Ia juga memiliki makna ‘kedamaian dan ketaatan”.

‘As-Salam’ juga merupakan sifat Alah, yang artinya Allah Sumber Kedamaian dan umat Islam diperintahkan untuk mengadopsi sifat-Nya. Jadi ketika Allah adalah sumber kedamaian dan kemakmuran, maka umat Islam berkewajiban juga memberikan kedamaian, keamanan dan perlindungan bagi seluruh masyarakat.

Selanjutnya, tujuan dasar mendirikan masjid adalah sebagai tempat umat Islam untuk beribadah, dan dalam bahasa Arab kata untuk ibadah adalah ‘As-Sholah’ yang pada dasarnya berarti ‘belas kasih, cinta dan kemurahan hati’. Sehingga, seorang Muslim yang beribadah dengan tulus akan menjadi orang yang baik, perhatian dan penyayang, serta berusaha menjauhi tindakan-tindakan amoral, kegiatan ilegal dan segala bentuk kejahatan. Seorang ahli ibadah yang sejati adalah dia yang tidak pernah goyah dari jalan kebenaran dan yang melayani masyarakatnya sebaik mungkin. Singkatnya, Muslim sejati adalah orang yang memancarkan cinta dan kasih sayang di seluruh lingkungannya, dan masjid yang sejati adalah pusat perdamaian dan keamanan bagi seluruh umat manusia.

Ajaran Islam dalam Menghormati Tetangga

Prinsip emas Islam lainnya adalah umat Islam diperintahkan untuk memenuhi hak-hak tetangga mereka, melayani serta membantu mereka ketika mereka membutuhkan. Dan Rasulullah (shallallahu alaihi wasallam) pun pernah bersabda bahwa Allah taala telah sangat menekankan dalam memenuhi hak-hak tetangga sampai-sampai beliau menyangka bahwa para tentangga termasuk ahli waris dari seorang Muslim.

Terkait:   Masjid yang Baik, Tetangga yang Baik

Selanjutnya Allah taala berfirman:

“Dan, sembahlah Allah dan jangan kamu mempersekutukan sesuatu dengan-Nya; dan berbuat baiklah terhadap kedua orang tua, dan kaum kerabat, dan anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, dan tetangga yang sesanak-saudara dan tetangga yang bukan kerabat, dan handai taulan, dan orang musafir, dan yang dimiliki oleh tangan kananmu. Sesungguhnya, Allah tidak menyukai orang sombong, membanggakan diri.”


Surah An-Nisa [4]: 37

Ketika kita membaca dan merenungkan ayat ini, kita menyadari bahwa Islam telah memberikan banyak penekanan pada hak-hak umat manusia, di mana Allah telah mengkorelasikan hak-hak kepada-Nya (hablum min Allah) dengan hak-hak sesama manusia (hablun min an-nas). Ayat ini menunjukkan bahwa seorang Muslim berkewajiban untuk melayani semua umat manusia, tanpa membedakan warna kulit, kasta atau agama, mulai dari lingkungan terdekat – yang terdiri dari orang tua, keluarga dan sahabat – hingga lebih jauh lagi, termasuk orang miskin dan yang membutuhkan, anak yatim piatu dan anggota masyarakat lainnya.

Seperti yang telah disebutkan, seorang Muslim wajib melayani tetangganya, dan menurut ajaran Islam, ruang lingkup tetangga mereka sangat luas jangkauannya. Tidak hanya mencakup orang-orang yang tinggal di dekatnya, tetapi semua tingkatan, seperti rekan kerja dan teman seperjalanan. Dengan demikian, jangkauan cinta dalam Islam tidak terbatas. Jadi bagaimana mungkin seorang Muslim sejati akan berusaha menyakiti orang lain atau menjadi penyebab kekacauan di masyarakat? Tidak mungkin. Karena seseorang dikatakan sebagai Muslim hakiki jika ia telah memenuhi tugas dan kewajibannya kepada orang lain.

Tentu saja dapat dipahami, dalam kondisi saat ini, beberapa dari anda, terutama tetangga setempat yang terdekat, mungkin menyimpan keberatan pada masjid ini. Adalah wajar muncul ketakutan pada hal-hal yang tidak diketahui sehingga para tetangga mungkin khawatir bahwa kedamaian dan keamanan kota mereka akan terganggu karena adanya masjid ini. Namun, berdasarkan ajaran Islam yang saya tahu dan ikuti, izinkan saya meyakinkan anda bahwa masjid ini akan membuktikan dirinya sebagai sumber kedamaian, yang semata-mata memancarkan mata air cinta dan kasih sayang abadi. Insya Allah, anda akan melihat bahwa Muslim Ahmadiyah yang tinggal disini akan berusaha untuk mencintai, menghormati dan melayani tetangga mereka lebih dari sebelunya, karena ini adalah tuntutan agama mereka.

Ahmadiyah dan Upaya Kemanusiaan

Ini adalah ajaran tanpa pamrih dan mulia yang tidak saja di mulut semata tetapi dipraktikkan oleh Jemaat Ahmadiyah di seluruh dunia. Kami telah mendirikan ribuan masjid di seluruh dunia dan kami selalu menyaksikan sirnanya ketakutan masyarakat setempat setelah mereka mengenal kami, kemudian mereka menghargai, mengapresiasi dan menerima kami sebagai bagian integral masyarakat.

Seperti yang telah saya katakan segala ketakutan dengan cepat menghilang, sebaliknya tetangga kami datang untuk menghargai kehadiran kami dan pesan perdamaian yang bergema di segala arah dari masjid kami. Penduduk setempat menyaksikan bahwa Jamaah Muslim Ahmadiyah tidak hanya melakukan upaya dakwah atau membangun masjid, tetapi juga berupaya meringankan kesulitan orang-orang yang menderita dan memberikan harapan bagi mereka yang sebelumnya sudah putus asa.

Sebagai bagian dari upaya ini, Jamaah Muslim Ahmadiyah telah membangun rumah sakit dan sekolah di tempat-tempat yang sangat terpencil, dengan menyediakan layanan kesehatan dan pendidikan bagi orang-orang yang sangat miskin di dunia, tanpa memandang agama atau latar belakang mereka. Sebagai upaya kemanusiaan, kami juga menyediakan air bersih dengan memasang atau memperbaiki pompa air bagi orang-orang yang hidup dalam kondisi yang sangat terisolir.

Kehidupan masyarakat Barat, yang selalu mengalir air dari keran atau shower, sangat sulit untuk memahami betapa bernilainya air. Ketika anda mengunjungi bagian paling terpencil di Afrika, dan menyaksikan dengan mata kepala sendiri anak-anak berjalan berkilo-kilo meter setiap hari untuk mengisi wajan air yang kemudian mereka taruh di kepala untuk dibawa pulang, barulah anda menyadari bahwa air sangat berharga. Bahkan air yang dicari dengan upaya besar itu bukanlah air bersih, tetapi biasanya terkontaminasi dan sering menjadi sumber penyakit.

Terkait:   Pentingnya Khilafah

Dengan demikian, Muslim Ahmadi berusaha membantu dan menghibur orang-orang seperti itu dan meringankan penderitaan mereka sesuai dengan ajaran agama Islam. Kami menyediakan pengkhidmatan ini bagi orang-orang yang membutuhkan, tanpa membeda-bedakan agama, keyakinan atau latar belakang mereka.

Di mana pun kami membangun masjid, kami berusaha memberikan kontibusi positif bagi masyarakat setempat dan berupaya membantu orang-orang di sekitar kami. Oleh karena itu, izinkan saya sekali lagi meyakinkan orang-orang di kota ini dan masyarakat Swedia yang lebih luas, bahwa masjid ini insya Allah akan menjadi pusat cinta, kasih sayang dan kekeluargaan.

Saya juga ingin mengingatkan para Muslim Ahmadi yang tinggal di sini tentang meningkatnya tanggung jawab mereka. Di satu sisi kecintaan antara mereka harus meningkat, di sisi lain mereka juga harus menjadi duta Islam ajaran Islam yang indah dan menganggapnya sebagai kewajiban diri.

Setiap Muslim Ahmadi berkewajiban untuk menghilangkan ketakutan orang-orang terhadap Islam melalui akhlak yang baik dan perilaku mulia. Tentu saja, saya yakin Muslim Ahmadi di sini akan memperhatikan kata-kata saya dan akan menunjukkan kepada penduduk lokal apa itu Islam sebenarnya.

Dunia tengah melewati masa-masa yang genting, banyak terjadi kekacauan, konflik, dan ketidak-adilan di mana-mana. Satu-satunya penangkal dan obatnya adalah mengesampingkan kepentingan pribadi demi kebaikan yang lebih besar. Semangat cinta dan persatuan diperlukan untuk menjembatani kesenjangan yang telah menghancurkan begitu banyak masyarakat. Masalah ini terjadi bukan dalam skala kecil, tetapi negara-negara tertentu telah terlibat peperangan dan kekerasan. Yang sangat disesalkan, pusat konflik dan ketidakstabilan adalah negara-negara muslim tertentu, saat pemerintah mereka telah mengecewakan rakyat, akibatnya para pemberontak ekstremis atau kelompok-kelompok teroris merespons dengan cara-cara yang semakin memecah belah masyarakat.

Di dunia yang saling bergantung dan saling terhubung saat ini, tidak ada negara atau wilayah yang tidak terdampak, justru efek dari konflik yang terjadi di dunia Muslim telah menyebar lebih luas. Sebagai akibat dari perang dan kekerasan di dunia Arab kita menyaksikan juga meningkatnya konflik, ketidakpastian dan kekacauan di dunia Barat. Bahkan, beberapa kelompok Muslim ekstremis sekarang telah menembus Eropa dan anggota mereka tinggal di negara-negara ini dan menjadi ancaman besar bagi perdamaian dan kesejahteraan wilayah ini. Apa yang mereka lakukan tidak ada kaitannya dengan ajaran Islam yang hakiki, jadi kita semua yang menginginkan terciptanya perdamaian harus bersatu melawan kekuatan-kekuatan buruk yang berusaha memecah belah umat manusia. Kita harus melakukan segala upaya untuk menciptakan kedamaian, sehingga kita tidak mewariskan ‘hadiah’ berupa dunia yang hancur kepada anak-anak kita, sebaliknya kita harus memastikan bahwa kita mewariskan kondisi dunia yang damai dan makmur bagi generasi penerus kita.

Satu-satunya cara supaya hal ini dapat terwujud adalah jika umat manusia kembali kepada Sang Pencipta dan berupaya memenuhi hak-hak Allah dan hak-hak satu sama lain. Semoga Allah memberi kita kemampuan untuk mewujkannya. Aamiin.

Terakhir, saya ingin sekali lagi mengucapkan terima kasih karena Anda telah bergabung dengan kami hari ini. Semoga Allah memberkati Anda semua. Terima kasih banyak.”

Sumber: Review of Religions
Penerjemah: Husnur Rasyidi