Berjuang demi akhir yang baik dengan ibadah berkualitas, doa dan perbuatan baik

Khotbah Jumat

Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 22 Mei 2020 (Hijrah 1399 Hijriyah Syamsiyah/Ramadhan 1441 Hijriyah Qamariyah) di Masjid Mubarak, Tilford, UK (United Kingdom of Britain/Britania Raya)

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ. (آمين)

Pertama-tama saya ingin menyampaikan ucapan terimakasih kepada segenap Ahmadi yang pada beberapa waktu yang lalu ketika saya terluka telah mengungkapkan keharuannya dan mendoakan dengan penuh kekhusyu’an. Semoga Allah Ta’ala memberikan ganjaran yang terbaik kepada anda semua dan meningkatkan keikhlasan dan keseetiaan anda. Di zaman ini, demi Allah Ta’ala dan sesuai dengan firman Allah Ta’ala bahwa kecintaan satu sama lain, khususnya contoh keikhlasan dan kesetiaan terhadap Khalifah hanya bisa didapati dalam Jemaat Ahmadiyah. Kecintaan dua arah ini telah diciptakan oleh Allah Ta’ala. Dalam hal ini kita pun tidak dapat mengetahui siapa yang lebih memiliki simpati kepada yang lain. Terkadang nampak kecintaan anggota Jemaat pada Khilafat telah sampai pada puncaknya, dan jalinan serta kecintaan Khalifah-e-waqt dengan anggota Jemaat sebagian orang merasa tidak berada pada standar yang sama, namun bagaimanapun ini adalah kecintaan dan jalinan dua arah, dan sebagaimana yang telah saya katakana, ini adalah suatu jalinan yang permisalannya tidak ditemukan pada hubungan-hubungan duniawi.

Saya sangat menyukai kalimat dari Hadhrat Khalifatul Masih Ats-Tsalits rahimaLlahu ta’ala ‘anhu yang menyatakan bahwa Khalifah-e-waqt dan para anggota Jemaat adalah satu wujud dengan dua nama. Ini juga adalah pengabulan dari doa-doa anda sehingga dengan karunia Allah Ta’ala secara menakjubkan luka ini bisa sembuh dengan cepat. Bapak Dokter mengatakan kepada saya bahwa luka di wajah pada umumnya sembuh dengan cepat, namun berkenaan dengan begitu cepatnya luka ini sembuh Pak Dokter mengatakan bahwa beliau tidak membayangkan secepat itu.

Saya mengatakan kepada beliau bahwa memang di satu sisi ada pengobatan, namun perkara yang sesungguhnya adalah doa-doa yang dipanjatkan oleh para Ahmadi. Saya pun merasa bahwa begitu banyaknya luka ini dan mungkin paling tidak akan memerlukan waktu dua minggu untuk sembuh. Saya juga merasa mungkin akan menyisakan tanda-tanda bekas luka, namun dengan karunia Allah Ta’ala hanya dalam waktu tujuh atau delapan hari saja semuanya telah bersih.

Disebabkan oleh luka ini pun saya bisa merasakan pengobatan dengan marham Isa. Beberapa waktu yang lalu Bapak Mir Mahmud Ahmad Nasir telah mengirimkan kepada saya Marham Isa yang telah beliau buat dengan resep Syriani (orang-orang Syiria) dan saya menggunakannya. Demikian juga cream Homeopathy Calendula. Bagaimana pun karunia yang sesungguhnya adalah datang dari Allah Ta’ala, Dia lah Asy-Syafi (Yang Maha Penyembuh).

Saya menyebutkan obat-obatan tadi dengan tujuan supaya yang lain pun bisa memanfaatkannya ketika sewaktu-waktu membutuhkan. Doakanlah semoga Allah Ta’ala segera memberikan kesembuhan pada efek-efek yang masih tersisa dari luka ini dan menjauhkan dampak-dampak buruknya. Karunia Allah Ta’ala lah yang merupakan kekuatan yang sesungguhnya yang mana ini bisa didapatkan melalui doa-doa.

Saya ingat, untuk beberapa lama pundak dan lengan saya terasa sangat sakit. Sulit untuk mengangkat tangan, harus dibantu dengan tangan yang satu lagi. Ketika diperlihatkan kepada Dokter Spesialis, beliau mengatakan bahwa rasa sakit ini bisa dirasakan 6 minggu hingga 3-4 bulan. Beberapa hari kemudian Dokter memeriksa lagi, dan pada waktu itu dengan karunia Allah Ta’ala 90% rasa sakit itu telah hilang. Beliau sangat merasa heran. Saya mengatakan kepada beliau bahwa ketika ratusan ribu orang mendoakan, maka seperti ini lah Allah Ta’ala memberikan karunia-Nya. Dokter tersebut seorang berkebangsaan Inggris, beliau berkata, “Saya seorang Kristen dan keluarga kami juga keluarga yang taat beragama. Saya juga yakin dengan doa-doa dan tentu saja hanya dengan doa lah ini bisa terjadi.”

Alhasil, karunia Allah Ta’ala-lah yang hendaknya selalu kita mohonkan setiap waktu dan bersujudlah di hadapannya. Dalam keadaan yang tengah kita lalui belakangan ini kita perlu secara khusus tersungkur di hadapan Allah Ta’ala. Datang laporan dari UK dan negara-negara lainnya bahwa dalam keadaan seperti ini timbul banyak perhatian pada anggota Jemaat untuk tunduk di hadapan Allah Ta’ala. Disebabkan lock down di rumah-rumah timbul perhatian untuk melaksanakan shalat berjama’ah bersama dengan anggota keluarga. Daras-daras pun dilaksanakan. Dilaksanakan daras-daras kitab Hadits dan Al-Qur’an yang dengannya ilmu orang-orang dewasa pun meningkat dan anak-anak pun menjadi paham ilmu agama. Keimanan pada Allah Ta’ala pun meningkat.

Merupakan karunia Allah Ta’ala juga bahwa di tengah masa-masa ini bulan Ramadhan pun tiba, dan perhatian terhadap ibadah yang tengah timbul pada diri orang-orang semakin bertambah lagi lebih daripada sebelumnya. Sekarang Ramadhan ini akan berakhir, dan demikian juga pemerintah pun berniat untuk melonggarkan pembatasan-pembatasan lock down. Beberapa negara telah melakukannya. Di beberapa tempat telah mulai dilonggarkan. Satu hal yang ingin saya sampaikan, persyaratan-persyaratan yang telah ditetapkan oleh pemerintah pada pembatasan yang telah dilonggarkan ini, para Ahmadi harus berusaha untuk mematuhinya.

Namun hal yang paling utama dan penting yang harus diperhatikan oleh para Ahmadi adalah, izin untuk berbisnis, kelonggaran untuk pergi keluar, dan juga berakhirnya bulan Ramadhan ini, semua itu janganlah sampai mengakhiri atau mengurangi peribadahan kepada Allah Ta’ala dan kebaikan-kebaikan yang telah diraih oleh seorang Ahmadi, bahkan selama pembatasan untuk pergi ke mesjid masih diberlakukan, lanjutkanlah kebaikan-kebaikan tersebut dan tetap laksanakanlah shalat berjam’ah di rumah. Ketika telah dibolehkan untuk pergi ke mesjid, wajibkanlah pada diri sendiri untuk memakmurkan mesjid lebih daripada sebelumnya.

Para wanita hendaknya memberikan perhatian secara khusus terhadap pelaksanaan shalat di rumah sehingga anak-anak melihat teladan di hadapannya dan mereka pun meningkat dalam keimanan dan keyakinan pada Allah Ta’ala. Lanjutkanlah rangkaian beberapa menit daras supaya ilmu agama meningkat serta ilmu dan ma’rifat pun meningkat. Demikian juga tetap berikanlah perhatian untuk menyimak program-program MTA. Sebelumnya pun telah saya sampaikan berkenaan dengan hal ini.

Jadi, janganlah setelah lock down ini usai maupun setelah Ramadhan ini berlalu ada diantara kita yang melupakan kebaikan-kebaikan tersebut, melainkan lanjutkanlah semua itu. Seorang Ahmadi dengan berbaiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud (as) berjanji untuk menciptakan perubahan suci pada dirinya, janganlah hendaknya melupakan janji baiat tersebut. Bukanlah amalan seorang beriman bahwa terkadang ia termasuk ke dalam golongan orang-orang yang mengenai mereka Allah Ta’ala berfirman, “Ketika mereka terjerumus dalam kesulitan mereka bersujud pada Allah Ta’ala dan berusaha untuk mendapatkan perlindungan-Nya, memohon pertolongan-Nya, berdoa kepada-Nya, namun ketika kesulitan itu telah hilang, lantas mereka menjadi lupa kepada Allah Ta’ala.”

Akhir-akhir ini orang-orang mencari tahu apakah penyakit Virus Corona ini adalah bencana alam ataukah azab ilahi. Ketika bencana dan wabah semacam ini datang melanda, maka dalam keadaan ini tugas seorang beriman adalah tunduk di hadapan Allah Ta’ala lebih dari pada sebelumnya. Janganlah sekedar mencari-cari apa yang sedang terjadi saat ini. Dan zaman ini yang merupakan zamannya Hadhrat Masih Mau’ud (as) di dalamnya begitu banyak janji-janji Allah Ta’ala kepada Hadhrat Masih Mau’ud (as) yang telah terpenuhi dan sedang terus terpenuhi dan demikian pula di masa yang akan datang pun akan terpenuhi. Jika ada perkara-perkara yang bersifat peringatan, maka yang pertama-pertama dilakukan oleh seorang beriman adalah ia gemetar dan merasa takut dan memperkuat keimanan serta keyakinannya dan berdoa untuk meraih anjaam bikhair (kesudahan yang baik) bagi dirinya. Ini lah tujuan yang sebenarnya, yakni anjaam bikhair.

Telah berulangkali saya sampaikan bahwa bencana-bencana, topan-topan dan musibah-musibah yang bermunculan di zaman ini memiliki kaitan yang khas dengan zaman Hadhrat Masih Mau’ud (as). Alhasil, kita hendaknya banyak berdoa untuk keimanan dan kesudahan yang baik bagi diri kita dan banyaklah berdoa juga untuk menyelamatkan dunia.

Ketika Allah Ta’ala memberikan kabar yang jelas kepada Hadhrat Masih Mau’ud (as) mengenai akan munculnya wabah tha’un sebagai tanda, beliau (as) pun dengan penuh kegelisahan terus berdoa untuk dunia. Orang-orang yang dari balik pintu mendengar doa-doa beliau meriwayatkan bahwa terdengar suara isak tangis yang sedemikian rupa hebat seperti suara mendidihnya air di dalam panci yang diletakkan di atas api. Beliau berdoa supaya Allah Ta’ala menyelamatkan umat manusia. Jadi, meskipun Allah Ta’ala memberitahukan kepada beliau bahwa ini sebagai tanda, kasih sayang beliau (as) kepada umat manusia lebih dominan. Beliau (as) terus berdoa untuk keselamatan dari kehancuran yang diakibatkan oleh penyakit dan wabah ini. Beliau as terus berdoa dengan penuh kekhusyuan. Alhasil kita pun telah melihat teladan beliau (as) ini.

Ada sebagian orang yang menghubung-hubungkan pandemi virus yang tersebar belakangan ini dengan satu artikel dari Hadhrat Khalifatul Masih Al-Rabi’ rahimaLlahu ta’ala ‘anhu yang berjudul “Bencana Alam Atau Azab Ilahi” dan mengemukakan ulasan-ulasan mereka. Sebagaimana yang telah saya katakan jelas setelah zaman Hadhrat Masih Mau’ud (as) jumlah bala bencana dan musibah terus meningkat dan mengenai hal ini Hadhrat Masih Mau’ud (as) menjelaskan bahwa kehancuran-kehancuran ini akan terjadi. Tidak ada keraguan dalam hal ini.

Namun sebagaimana yang telah saya sampaikan pada khutbah-khutbah yang lalu, sebagian orang beriman pun di bawah hukum qudrat akan terkena imbasnya, namun derajat mereka adalah syahid dan mereka mendapatkan kesudahan yang baik. Dan sesuai dengan sabda Hadhrat Rasululllah (saw) akhir kesudahan mereka akan membawa mereka ke dalam surga. Sebagaimana beliau (saw) bersabda,

وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ

‘wajabat lahul jannatu’-

“Jenazah seseorang yang atasnya orang-orang memberikan pujian, memuji pengkhidmatannya, memberikan kesaksian atas pemenuhan huquuqullah dan huquuqul ‘ibaad-nya maka surga wajib atasnya.” [1]

Kita pun melihat bahwa banyak orang Ahmadi yang mukhlis memberikan kesan-kesan positifnya mengenai mereka.

Namun jika kita melihat dampak yang sebenarnya dari pandemi ini, secara umum bisa dikatakan apa dampak yang terjadi pada kepada orang-orang duniawi? Orang-orang duniawi itu telah kehilangan kesadaran mereka. Dan kita melihat dunia pada hari-hari ini bagaimana keadaan mereka, tidak hanya individu-individunya saja melainkan juga pemerintahan-pemerintahan besar yang menganggap dirinya kuat seperti gunung-gunung. Perekonomian dan tatanan negara-negara adidaya hancur lebur dan upaya yang mereka lakukan untuk menarik perhatian rakyat mereka lebih berbahaya lagi karena mereka menggiring rakyatnya menuju pada peperangan dan kehancuran ekonomi yang lebih parah lagi.

Jadi, selama orang-orang ini tidak menciptakan perubahan dalam diri mereka yang akan menjauhkan kekacauan ini, mereka akan tenggelam dari satu kehancuran menuju kehancuran lainnya. Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda bahwa keislaman seseorang atau kekeliruan seseorang dalam hal agama akan diperhitungkan nanti pada saat hari kiamat. Allah Ta’ala akan memeriksanya pada saat itu. Namun kekacauan dan kekisruhan, perampasan hak-hak orang lain dan perolokkan terhadap hamba-hamba Allah Ta’ala akan menimbulkan kegelisahan dan membawa pada kehancuran. Oleh karena itu menjadi tugas kita untuk berdoa dan memberikan pemahaman kepada dunia dan mensucikan keadaan diri kita.

Tulisan Hadhrat Khalifatul Masih Al-Rabi’ (rha) yang saya bicarakan tadi adalah suatu artikel yang panjang, namun yang menjadi fokus perhatian para Ahmadi ketika membacanya adalah bukan hanya mengenai apa yang terjadi pada kaum-kaum terdahulu, atau apa yang telah dan sedang terjadi sekarang, kerusakan apa yang terjadi dan tidak terjadi. Memang hal-hal ini juga menimbulkan rasa takut dan membuat kita memberikan perhatian pada keadaan diri kita, namun perkara yang sebenarnya dan kata-kata yang layak untuk direnungkan atas apa yang beliau tulis adalah di dalamnya terdapat peringatan dan kabar suka bagi Jemaat Ahmadiyah. Peringatan itu adalah, status sebagai Ahmadi saja tidaklah cukup untuk bisa selamat, melainkan disertakan juga syarat ketakwaan.

Dan sisi lain kabar gembiranya adalah para Ahmadi akan dengan cepat berusaha untuk melakukan perbaikan pada kelemahan-kelemahan dalam hal amalan yang telah terjadi dalam Jemaat ini. Bersamaan dengan itu mereka yang sekedar mencatatkan nama mereka ketika baiat dan keJemaatan mereka hanya label saja, mereka akan kembali kepada ajaran Hadhrat Masih Mau’ud (as) dan kembalinya mereka kepada Allah Ta’ala lah yang merupakan kabar suka bagi mereka, jika tidak maka tidak ada kabar suka.

Dan sebagaimana yang telah saya sampaikan, tawajuh yang telah tercipta di hari-hari ini, tetap teguhkanlah itu dan arahkanlah perhatian kita dan anak keturunan kita pada pemenuhan hak-hak Allah dan hak-hak hamba, karena setelah terjadi kehancuran dunia, ketika pandangan dunia tertuju pada Allah Ta’ala dan pada pemenuhan hak-hak hamba, maka orang-orang akan melihat kepada Jemaat. Kemudian hanya para Ahmadi lah yang bisa memberikan bimbingan yang benar kepada dunia, namun sebelum itu kita harus berdoa dengan penuh rintihan supaya periode itu tidak terjadi. Yaitu periode ketika dunia telah sampai pada keadaan di mana jalan keluar dari sana untuk menuju pada cahaya dan perdamaian telah tertutup, sebelum periode ini terjadi semoga pandangan manusia tertuju pada Allah Ta’ala.

Alhasil, seiring dengan doa-doa kita, kita pun perlu untuk memperlihatkan teladan kita. Kita perlu untuk memberitahukan kepada dunia bahwa hanya dengan menunaikan hak satu sama lain lah kalian akan meraih kasih sayang Allah Ta’ala dan Allah Ta’ala yang merupakan Tuhan yang satu, tanpa meraih kasih sayang-Nya kita tidak akan bisa sukses dalam usaha-usaha kita untuk menegakkan perdamaian di dunia dan begitu juga setelah meninggal nanti tidak akan meraih kesudahan yang baik. Dengan karunia Allah Ta’ala di hari-hari ini ketika di satu sisi para anggota Jemaat memberikan perhatian pada pelaksanaan ibadah-ibadah, maka di sisi lain mereka juga bekerja untuk melakukan pengkhidmatan kemanusiaan. Para pemuda, para Anshor yang sehat serta para lajnah, dari berbagai tempat datang laporan-laporan yang bagus berkenaan dengan hal ini. Pengkhidmatan kemanusiaan ini juga menjadi sarana penunjuk jalan bagi orang-orang duniawi yang tengah tersesat.

Beberapa hari yang lalu terdapat laporan dari Kanada. Ada seorang wanita pada pukul dua dini hari menelepon help line yang disediakan Khuddam, mengatakan bahwa ia terpaksa menelepon karena anaknya sakit dan semua jalan untuk membeli obat telah ditutup. Ia ditolak di semua tempat. Obat tidak bisa didapatkan sebelum pagi hari, sedangkan keadaan anaknya sangat buruk. Wanita itu menuturkan, “Saya berkata, orang-orang mengatakan bahwa Tuhan itu ada, meskipun saya tidak percaya Tuhan, kali ini saya akan mencobanya. Dalam keadaan sedih dan gelisah saya berkata, ‘Ya Tuhan! Saat ini anak saya dalam keadaan yang buruk, jika Engkau ada, sediakanlah obat untuknya.’

Ketika saya mengatakan ini terlintas di pikiran saya help line milik khudam. Saya menelepon lalu ada seseorang yang mengangkatnya. Saya menceritakan kepadanya keperluan saya. Ia mengatakan akan mengusahakannya. Tidak berapa lama kemudian masuk telepon dari khudam tadi mengatakan bahwa sekarang pukul dua malam, sulit untuk bisa mendapatkan obat. Khudam itu bertanya, ‘Bagaimana keadaan anak anda?’

Saya lalu menjelaskan semua keadaannya dan mengungkapkan kegelisahan saya. Ia lalu mengatakan, ‘Ok! Saya akan pergi dan mengeceknya sendiri. Saya akan pergi ke apotek yang masih terbuka di suatu daerah. Kalau masih buka saya akan membawakan obatnya.” Khudam tersebut bangun dan pergi malam itu.”

Wanita tersebut menuturkan, “Ketika saya membangunkannya dia dalam keadaan mengantuk. Namun kemudian dia menempuh perjalanan 50 km dan membawakan obat untuk saya. Disebabkan hal ini saya menjadi yakin akan keberadaan Tuhan dan keyakinan ini saya dapatkan berkat seorang pemuda Ahmadi. Saya berterima kasih kepadanya.”

Pada masa ini kita tengah mengkhidmati orang-orang dan dapat menjadi sarana untuk mendekatkan mereka kepada Allah Ta’ala. Untuk itu kita semua hendaknya berupaya bukannya terus menunggu apakah kehancuran akan terjadi ataukah tidak. Begitu juga pelajaran yang kita dapatkan dari Ramadhan untuk merasakan penderitaan orang lain, hendaknya terus biarkan berlangsung untuk senantiasa merasakan penderitaan orang lain, karena inilah salah satu tujuan dari Ramadhan yakni untuk menyadarkan untuk bersimpatik kepada orang lain.

Jadi, situasi dunia yang secara umum tercipta disebabkan oleh pandemik ini dan juga suasana Ramadhan hendaknya mengingatkan kita senantiasa akan tanggung jawab. Ramadhan akan berakhir esok ataupun lusa, namun kebaikan kebaikannya hendaknya kita simpan terus dalam diri kita, perubahan suci yang telah kita lakukan, hendaknya teruslah abadikan dan ketika diterapkan keringanan dalam aturan lockdown nantinya, maka kita janganlah melupakan tanggung jawab pada diri sendiri dan untuk kemanusiaan.

Hendaknya diingat, ketika kita sendiri menaruh perhatian untuk memenuhi hak hak Allah dan hambaNya, saat itu nasihatkanlah orang lain akan hal itu dan dengan teladan suci berupayalah untuk menjadikan dunia untuk memenuhi hak Allah Ta’ala dan hambaNya. Kita telah beriman kepada Hadhrat Masih Mau’ud (as) di zaman ini. Tidak ada majlis beliau yang di dalamnya beliau tidak berusaha untuk mengingatkan maqam dan standar kita berdasarkan ajaran Allah Ta’ala dan rasul-Nya.

Untuk itu setiap saat kita harus senantiasa mengingat nasihat beliau supaya kita meraih keyakinan dan keimanan yang hakiki. Daripada menaruh pandangan pada kelemahan-kelemahan orang lain, mawas dirilah keadaan sendiri.

Berkenaan dengan hal ini, saat ini saya akan sampaikan beberapa sabda Hadhrat Masih Mau’ud (as) yang perlu kita senantiasa renungkan. Menjelaskan berkenaan dengan hal ini, beliau bersabda:

“Hendaknya setiap orang berusaha bangun untuk tahajjud dan sertakan juga qunut pada setiap shalat lima waktu. Bertaubatlah dari segala hal yang akan membuat Allah murka.”

Maksud taubat dalam hal ini adalah tinggalkanlah segenap keburukan dan hal-hal yang membuat Allah tidak ridha lalu ciptakan perubahan sejati lalu melangkah majulah dan tempuhlah ketakwaan. Didalamnya terdapat rahmat Ilahi.

Beliau (as) bersabda,

“Terapkanlah kebiasaan baik dalam diri manusia, janganlah marah marah, sebagai gantinya bersikaplah tawadhu dan rendah hati. Seiring dengan memperbaiki akhlak usahakanlah sebisa mungkin untuk bersedekah. وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَى حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا ‘wa yuth’imuunath tha’aama ‘alaa hubbihi miskiinaw wa yatiimaw wa asiira’ – Itu artinya, ‘Demi meraih keridhaan Ilahi, berikanlah makan kepada orang miskin, anak yatim, dan para tawanan.’ (Surah Al-Insan (Ad-Dahr), 76 : 9) Dikatakan, ‘Kami memberikannya secara khusus untuk meraih keridhaan Allah Ta’ala. Kami takut dengan hari yang sangat mengerikan.’ Singkatnya, berdoa dan taubatlah, berikanlah sedekah secara rutin supaya Allah Ta’ala mencurahkan karunia dan kasih sayangNya padamu.

Allah Ta’ala tidak memperdulikan siapapun kecuali orang saleh. Cipatakanlah jalinan kasih sayang dan persaudaraan di antara sesama, tinggalkanlah pertentangan. Tinggalkanlah segala jenis olok-olokan dan cibiran, karena olok-olokan akan menjauhkan hati manusia dari kebenaran dan menyampaikannya entah kemana. Perlakukan satu sama lain dengan penuh hormat, utamakanlah ketenangan saudaranya diatas ketenangannya sendiri.

Ciptakanlah satu jalinan damai sejati dengan Allah Ta’ala, kembalilalh dalam ketaatan padaNya. Murka Ilahi tengah turun ke bumi, yang akan terhindar dari murka itu adalah mereka yang seutuhnya taubat dari segala dosa dosanya lalu tunduk kepadaNya. Kalian ingatlah, jika kalian menyelaraskan diri kalian dengan firman Allah Ta’ala dan berjuang untuk menolong agamaNya, maka Allah Ta’ala akan menjauhkan segala macam hambatan dan kalian akan sukses.

Apakah kalian tidak melihat bagaimana petani akan mencabut benda-benda yang tidak berguna dari ladangnya untuk menghasilkan panen yang baik lalu menata ladangnya supaya Nampak indah dan penuh dengan pohon dan tanaman yang menghasilkan buah dan memeliharanya dan melindunginya dari segala sesuatu yang merugikannya. Namun pohon dan tanaman yang tidak menghasilkan buah dan mulai mengering, pemiliknya tidak akan memperdulikan jika ada hewan yang akan memakannya atau jika ada tukang kayu yang menebangnya untuk dijadikan bahan bakar. Demikian pulalah kalian, ingatlah bahwa jika kalian benar dalam pandangan Allah Ta’ala, maka penentangan siapapun tidak akan dapat menimpakan penderitaan padamu. Namun jika kalian tidak memperbaiki diri kalian dan tidak mengikat janji untuk setia kepada Allah Ta’ala, maka Allah Ta’ala tidak akan memperdulikan siapapun.”

Beliau (as) bersabda,

“Hendaknya kalian termasuk kedalam kekasih Allah Ta’ala, hilangkanlah segala jenis perselisihan, egoisme dan permusuhan diantara sesama kalian, karena telah tiba saatnya untuk menjauhnya hal-hal yang rendah dan sibukkanlah untuk tugas agung. Orang-orang akan menentang kalian, jangan pedulikan. Sebagai wasiyat, ingatlah, janganlah bersikap buas dan keras melainkan nasihatilah setiap oang dengan kelembutan, kehalusan da akhlak baik.”

Dalam menekankan untuk memperbaiki keadaan akhlak kita dan huququl ibad, beliau (as) bersabda,

“Dalam sebuah hadits disabdakan bahwa pada hari kiamat Allah Ta’ala akan berfirman kepada sebagian hamba, ‘Kalian sangat baik dan Aku ridha atas kalian karena dulu Aku pernah sangat kelaparan dan kalian memberikan-Ku makanan. Dahulu Aku telanjang dan kalian memberikan-Ku pakaian. Aku kehausan dan kalian memberikan-Ku minum. Aku sakit dan kalian menjenguk-Ku.

Para hamba akan berkata: ‘Ya Tuhan, Engkau adalah terbebas dari semua ini, kapan Engkau mengalami hal itu sehingga kami memperlakukan Engkau demikian?’

Allah Ta’ala menjawab: ‘Suatu ketika hamba-Ku demikian adanya lalu kalian merawatnya dengan demikian seolah olah kalian telah merawat-Ku.’

Didatangkanlah satu kelompok lainnya. Allah Ta’ala berfirman kepada mereka, ‘Kalian telah memperlakukan-Ku dengan buruk. Dulu Aku lapar, namun kalian tidak memberi-Ku makan. Aku haus, namun kalian tidak memberi-Ku minum. Aku telanjang, namun kalian tidak memberikan-Ku pakaian. Aku sakit, namun kalian tidak menjenguk-Ku.’

Sekelompok manusia tadi akan menjawab: ‘Ya Tuhan! Engkau Maha Suci dari semua keadaan itu. Kapan Engkau mengalami hal itu, sehingga kami berlaku demikian kepada Engkau?’

Allah Ta’ala menjawab, ‘Saat itu ada seseorang hamba tengah dalam keadaan demikian, namun kalian tidak bersikap simpatik dan tidak memperlakukannya dengan baik. Dengan bersikap begitu terhadap mereka seolah-olah kalian memperlakukan-Ku demikian.’ [2]

Jadi, bentuk kasih sayang terhadap umat manusia, tidak disyaratkan apa-apa dalam hal ini, apakah ia Muslim, hindu atau Kristen atau siapapun.”

Walhasil, bersikap kasih sayang terhadap umat manusia dan berbuat simpatik kepadanya merupakan ibadah yang sangat besar dan ini merupakan sarana yang sangat baik untuk meraih keridhaan Allah Ta’ala.

Namun saya melihat pada sisi ini Nampak banyak kelemahan, memandang orang lain dengan pandangan hina, mengolok oloknya. Terlalu jauh untuk merawatnya, memberikan bantuan kepada mereka ketika menghadapi musibah atau kesulitan, justru mereka tidak memperlakukan orang miskin dengan baik bahkan menganggapnya hina. Saya khawatr jangan sampai ia sendiri yang terjerumus dalam musibah ini. Bagi mereka yang telah diberikan karunia besar oleh Allah Ta’ala, sebagai bentuk rasa syukur akan hal itu adalah memperlakukan makhluknya dengan perlakukan ihsan, janganlah lantas menjadi takabbur atas karunia Allah itu dan janganlah menganiaya orang-orang miskin layaknya binatang.

Bersabda lebih lanjut:

“Sebenarnya tahapan yang paling sulit dan rentan adalah tahapan huququl ibad, Karena setiap saat berurusan dengannya, setiap saat diuji. Jadi, pada tahapan ini kita hendaknya melangkah dengan penuh kehati hatian. Saya berkeyakinan bahwa dengan musuh sekalipun janganlah kita bersikap terlalu keras. Sebagian orang berkeinginan untuk berusaha sebisa mungkin menghancurkan musuh lalu tidak memperdulikan apakah cara yang ditempuhnya jaiz ataukah tidak, untuk mencemarkan namanya dilontarkan tuduhan palsu, mengada-adakan dusta dan melakukan ghibat (back bitting) padanya lalu menghasut orang lain untuk menentangnya. Akhirnya, disebabkan oleh perselisihan yang remeh temeh bagaimana telah menjadikannya sebagai pewaris keburukan dan kejahatan begitu rupa. Ketika keburukan ini beranak pinak akan menyampaikannya sampai dimana. Aku katakan sejujurnya.”

Kita tengah menyaksikan bagaimana keadaan dunia saat ini apakah secara individu maupun kelompok dan juga pemerintahan.

Beliau (as) bersabda,

“Saya katakan sejujurnya, janganlah anggap siapapun sebagai musuh bebuyutan, sekali kali tinggalkanlah kebiasaan membenci. Jika Allah Ta’ala bersama kalian dan kalian menjadi milik Allah Ta’ala maka Dia dapat menjadikan musuh kalian sebagai pelayan kalian. Namun jika kalian memutuskan hubungan dengan Allah Ta’ala sehingga tidak tersisa lagi jalinan denganNya dan berseberangan denganNya sudah menjadi perilaku kalian, lantas siapakah musuh bagimu yang lebih besar dari Allah Ta’ala? Manusia dapat selamat dari permusuhan kepada makhluk, namun jika Tuhan yang menjadi musuhnya, sekalipun seluruh makhluk menjadi temannya, maka tidak akan bisa apa-apa. Untuk itu cara yang kalian tempuh harus cara-cara para Nabi.

Allah Ta’ala menghendaki supaya tidak ada kebencian pribadi. Ingatlah dengan baik, manusia akan mendapatkan kemuliaan dan kehormatan jika secara pribadi ia tidak menebar permusuhan kepada siapapun. Lain halnya demi kehormatan Allah dan RasulNya yakni siapa yang tidak memuliakan Allah dan Rasul-Nya bahkan memusuhi-Nya, maka anggaplah orang seperti itu sebagai musuhmu.”

Akan tetapi, dalam hal ini beliau menjelaskan perihal menganggap musuh, bersabda, menganggapnya sebagai musuh di sini maksudnya bukanlah kalian mengada-adakan kedustaan mengenainya atau merencanakan untuk menimpakan penderitaan padanya tanda sebab. Melainkan tinggalkanlah ia dan serahkan urusannya kepada Allah Ta’ala, jika mungkin doakanlah supaya ia mendapatkan ishlah (perbaikan). Janganlah memulai lagi permusuhan baru dari diri sendiri.

Hadhrat Masih Mauud bersabda,

“Keadaan akhlak harus sedemikian rupa lurus sehingga ketika kalian menasihati orang lain dengan niatan baik dan mengingatkannya dari kesalahan lakukanlah itu pada waktu yang tepat sehingga orang tersebut tidak tersinggung. Janganlah memandang orang lain dengan pandangan merendahkan, janganlah, jangan melukai perasaannya, jangan sampai tercipta kekacauan dan perkelahian dalam Jemaat. Janganlah memandang saudara ruhani yang miskin dengan pandangan hina, janganlah merendahkan orang lain dengan membanggakan harta atau kehebatan silsilah keluarga, karena yang mulia dalam pandangan Allah Ta’ala adalah yang bertakwa.

Hal ini sebagaimana Dia firmankan, يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ “…inna akramakum indallaahi atqaakum – “…sesungguhnya yang paling mulia diantara kalian adalah yang paling bertakwa.” Al-Ḥujurāt (49:14)

Perlakukanlah orang lain dengan akhlak mulia. Barangsiapa yang memperlihatkan contoh akhlak yang buruk, tidaklah baik. Orang-orang mencari-cari alasan untuk dapat mengangkat telunjuk kepada jemaat kita. Bagi orang lain satu thaun, sedangkan bagi jemaat kita dua thaun. Jika ada salah seorang anggota jemaat melakukan keburukan, maka disebabkan oleh satu orang tersebut dapat mencemarkan nama baik seluruh jemaat. Tingkatkanlah sikap bijak, kelembutan, dan keahlian untuk memaafkan. Ketika orang bodoh mengatakan sesuatu dengan mengatakan sesuatu dengan kebodohannya, jawablah dengan kepala dingin dan baik. Janganlah menjawab ucapan sia-sia dengan yang serupa.”

“Seyogyanya pada masa cobaan ini tempuhlah ketakwaan dengan membunuh hawa nafsu pribadi. Maksud saya adalah, peganglah nasihat, dunia adalah benda fana, pada akhirnya akan mati juga, kebahagiaan terletak dalam perara agama, tujuan yang utama adalah agama.”

Dalam satu kesempatan, Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda,

“Jemaat kita hendaknya jangan hanya ucapan belaka, melainkan harus memenuhi kehendak sesungguhnya dari baiat. Hendaknya menciptakan perubahan dalam diri. Dengan hanya menguasai permasalahan saja kalian tidak akan dapat membahagiakan Tuhan. Jika tidak terjadi perubahan diri, maka tidak ada bedanya antara kalian dengan ghair. Jika dalam diri kalia terdapat makar, tipu-daya, kemalasan, kelalaian, maka kalian akan dibinasakan terlebih dulu sebelum yang lainnya.

Hendaknya setiap orang mengangkat bebannya masing masing dan memenuhi janjinya. Umur tidak dapat dipercaya. Barangsiapa beramal baik sebelum berakhirnya umur, diharapkan akan suci dari dosa. Berusahalah untuk menciptakan perubahan diri, berdoalah dalam shalat. Masuklah kedalam وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا  ‘Walladziina jaahaduu fiina lanahdiyannahum subulana.’ – ‘siapa saja yang berusaha untuk berjumpa dengan-Ku, maka pasti Aku akan berikan taufik padanya untuk melangkah pada jalan-Ku.’ (Al-Ankabut, 29:70) dengan sedekah, khairaat dan berbagai cara lainnya.

Sebagaimana seorang yang tengah sakit pergi menemui tabib, mengkonsumsi obat, membersihkan perut, memeriksa darah, menstabilkan suhu tubuh dan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan kesembuhan; begitu juga untuk menjauhkan penyakit penyakit ruhani, lakukanlah beragam upaya. Tidak hanya di mulut saja bahkan beragam cara mujahadah yang telah Allah Ta’ala ajarkan, amalkanlah semuanya. Bersedekahlah dan lakukanlah khairat (berbagai kebaikan). Pergilah ke hutan dan berdoalah. Allah Ta’ala menyukai orang yang melakukan beragam upaya. Ketika manusia mengamalkan semua cara, maka pasti saja ada target yang mengena sasaran.”

Jadi, dalam hari hari ini khususnya dimana di Pakistan dan di beberapa negara lainnya suhu penentangan terhadap jemaat tengah meningkat, kita hendaknya berupaya untuk melakukan beragam upaya untuk dapat menarik karunia dan rahmat Ilahi. Ketika musuh telah sampai pada puncak penentangannya maka kitapun harus berusaha lebih dari sebelumnya untuk menarik karunia dan rahmat Ilahi.

Demikian pula, di zaman ini maqam dan martabat Rasulullah (saw) dan hakikat suri teladan ia akan mua ini yakni akhlak mulia dan pemenuhan huququllah dan huququl ibad dapat diraih hanya dengan mengikuti teladan Rasulullah. Hadhrat Masih Mau’ud (as) berkali-kali menasihatkan untuk jangan meninggalkan teladan Rasulullah (saw). Dalam hal ini beliau bersabda,

“Saya ingin sampaikan kepada kalian bahwa banyak sekali orang yang ingin meraih kesempurnaan itu dengan perantaraan cara-cara dan wirid buatan mereka sendiri atau ingin menjalin hubungan sejati dengan Allah Ta’ala, namun saya katakan kepada kalian bahwa selama kalian tidak menempuh teladan Rasulullah (saw), mana semua itu akan sia sia belaka. Siapakah yang lebih teruji dari Rasulullah (saw) dalam menempuh jalan mun’am alaihi (yang diberikan nikmat atasnya) kepada beliau berakhir segenap kesempurnaan nubuwwah. Cara-cara yang ditempuh oleh Rasulullah (saw) sangatlah sahih dan paling mendekati. Dengan meninggalkan cara-cara ini lalu menempuh jalan lain, meskipun pada lahiriahnya cara tersebut tampak baik, namun menurut hemat saya, cara tersebut akan menuntun pada kebinasaan. Itu jugalah yang Allah Ta’ala jelaskan pada saya.”

Itulah yang tampak kepada kita perihal keadaan orang-orang yang meninggalkan Sunnah Rasulullah (saw), disebabkan oleh tafsir keliru yang disampaikan oleh peer, faqir dan mereka yang menyebut diri ulama, telah begitu mencemarkan ajaran Islam, namun meskipun demikian tetap saja mereka mengaku sebagai muslim sejati bahkan telah menyatakan kami terkeluar dari Islam.

Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda:

Tuhan dapat diraih dengan mengikuti sepenuhnya Rasulullah (saw). Dengan meninggalkan pengikutan kepada Rasulullah (saw), sekalipun sepanjang umur bersujud, namun ia tidak akan mungkin dapat meraih setiap tujuan. Sebagaimana Sadi mengatakan dalam Bahasa Farsi perihal perlunya mengikuti Rasulullah (saw),

بِزُہْدو وَرَعْ کُوْش وصِدْق وصَفَا

Bizuhd- o-wara kosy-o-shidq-o-shafa

وَلِیْکِن مَیْفَزَائِے بَرْمُصْطَفےٰ

wa lekin mayfaza-e-bar Mustafa

Tentu kalian harus berupaya untuk meraih zuhud, taqwa, namun janganlah melampaui cara-cara yang diajarkan oleh Mustafa (saw).[3] Sekali kali janganlah meninggalkan teladan Rasulullah (saw)

Saya melihat orang-orang membuat-buat wirid sendiri yang tidak karuan, bertapa seperti para yogi (petapa atau pegiat meditasi Hindu), namun semua itu tidak ada faidahnya. Cara-cara yang tidak jelas itu bukanlah Sunnah pada nabi yakni wirid-wirid buatan sendiri. Karena itulah Rasulullah (saw) disebut sebagai uswah hasanah. لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِىْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَة  — Laqod kâna lakum fî rosûlil-Lâhi –uswatun hasanah — Artinya: Sesungguhnya kalian dapati suri teladan yang sebaik-baiknya dalam pribadi Rasulullah. (Al-Ahzab : 22). Itu artinya, di dalam diri Rasulullah (saw) terdapat suri teladan bagi kalian. Ikutilah jejak langkah Rasulullah (saw) dan janganlah berusaha untuk melenceng walaupun hanya sebesar zarrah.

Alhasil, kesempurnaan yang terdapat dalam diri para mun’am alaihim (mereka yang mendapatkan karunia) dan apa yang Allah isyaratkan dalam shiraatalladziina an’amta alaihim (jalan mereka yang mendapatkan karunia-karunia dari Allah), meraihnya merupakan tujuan hidup setiap manusia dan jemaat kita hendaknya menaruh perhatian secara khusus karena dengan mendirikan jemaat ini Allah Ta’ala menghendaki untuk menciptakan sebuah jemaat seperti yang telah diciptakan oleh Rasulullah (saw) sehingga pada akhir zaman ini jemaat ini ditetapkan sebagai saksi akan kebenaran dan keagungan Al-Quran dan Rasulullah (saw).”

Jadi, setelah baiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud (as) kita termasuk ke dalam golongan pengikut sejati Rasulullah (saw) dan dalam inilah terletak keberlangsungan kita yakni setelah baiat kepada hamba sejati Rasulullah (saw) masuklah ke dalam golongan pengikut sejati Rasulullah (saw) dan berusahalah untuk menerapkan teladan beliau dengan segenap kapasitas. Masuklah ke dalam golongan mun’am alaihi dengan mengamalkan Sunnah dan hukum-hukum beliau (saw) dan hindarilah pengaruh buruk dari kelompok orang-orang menjadi sasaran murka Ilahi dan sesat. Jadilah orang-orang yang menciptakan kelezatan yang khas dalam shalat. Tempuhlah senantiasa kehidupan dengan mengamalkan segala hukum-hukumnya.

Doakan juga secara khusus untuk para Ahmadi yang tengah dipenjara di jalan Allah dan yang divonis hukuman keras secara zalim diantara para tahanan tadi.

Beberapa hari lalu seorang wanita Ahmadi bernama Ramadhan Bibi dijatuhi hukuman penjara pasal penodaan risalat. Keluarga beliau telah baiat kedalam jemaat sekitar tahun 2002. Suami beliau menulis surat kepada saya mengatakan, ”Kami tidak gentar untuk berkorban dan tidak juga merasa sedih karena kurungan penjara. Yang menjadi penyebab kesedihan saya dan istri saya adalah kami dituduh menodai kehormatan Rasul Saw padahal kami rela mati demi untuk menegakkan kemuliaan dan kehormatannya.”

Ingatlah selalu mereka dan juga para Ahmadi yang tengah dipenjara di jalan Allah yang telah divonis hukuman mati. Semoga Allah Ta’ala memberikan sarana kebebasan yang bercorak mukjizat kepada mereka dan merahmati mereka.

Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada pengadilan dan pemerintah untuk dapat menegakkan keadilan. Memang mereka menyebut nama Tuhan dan Rasul-Nya. Semoga dalam diri mereka tercipta rasa takut dan kecintaan sejati kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, mengamalkan teladan Rasulullah (saw).

Selain itu saya ingin menekankan pada beberapa doa, semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada setiap kita untuk dapat mengenali tujuan baiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud (as). Semoga kecintaan kepada Allah Ta’ala dan Hadhrat Khatamul Anbiya Muhammad Rasulullah (saw) unggul diatas segala kecintaan lainnya, dapat mengamalkan ajaran Islam yang hakiki dan rumah kita menjadi teladan dalam hal kecintaan dan kasih sayang.

Bagi anak-anak yang gelisah disebabkan oleh perselisihan kedua orang tuanya, semoga Allah Ta’ala menjauhkan kegelisahan mereka.

Doakan juga untuk segenap para waqifin, semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada mereka untuk dapat mengkhidmati agama dengan tulus dan taufik untuk mengkhidmati agama dan dapat memenuhi tanggung jawabnya sebagai waqifin.

Doakan juga untuk para waqifin-e-nou, semoga Allah Ta’aka memberikan taufik kepada mereka untuk dapat memenuhi janjinya dan janji orang tuanya. Doakan jura untuk para syuhada ahmadiyah dan keluarga mereka dan juga bagi para Ahmadi yang dirunsung kesulitan.

Doakanlah satu sama lain dan juga untuk diri sendiri. Doa-doa yang dipanjatkan ini dapat mearik karunia Allah ta’ala bagi satu sama lain dan diri sendiri. Doakan juga untuk perjodohan anak anak kita, khususnya untuk anak anak perempuan kita yang perjodohannya tertunda tanpa alasan yang jelas.

Doakan juga, semoga para Ahmadi terlindung dari dampak buruk yang ditimbulkan oleh keadaan saat ini terhadap ekonomi dunia. Jangan sampai keadaan ini menjadi hambatan dalam kegiatan dan program-program jemaat dan semoga Allah Ta’ala memberikan sarana kemajuan bagi jemaat dengan karuniaNya.

Banyak-banyak juga berdoa bagi orang-orang yang berkorban harta, semoga Allah Ta’ala memberikan keberkatan tak terhingga dalam harta dan jiwa mereka.

Doakan juga bagi para staf MTA, diantaranya ada sukarelawan dan karyawan tetap, mereka berkhidmat dengan sangat gigih untuk menyampaikan pesan Islam keseluruh dunia.

Doakan juga untuk dunia Islam, semoga perselisihan di antara mereka segera berakhir dan belajar untuk hidup dengan damai. Semoga Allah Ta’ala melindungi mereka dari kejahatan para penentang Islam dan itu dapat terwujud jika perselisihan diantara mereka berakhir.

Saat ini saya akan bacakan beberapa doa-doa, silahkan anda mengikuti setelah saya,

اللَّهُمَّ إِنَّا نَجْعَلُكَ فِي نُحُورِهِمْ وَنَعُوذُ بِكَ مِنْ شُرُورِهِمْ

‘Allahumma innaa naj’aluka fii nuhuurihim wa na’uudzubika min syuruurihim.’

Ya Allah, sesungguhnya kami menjadikan Engkau sebagai pihak yang memegang leher-leher mereka dan kami berlindung kepada Engkau dari kejahatan mereka.”[4]

لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ الْعَظِيمُ الْحَلِيمُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَرَبُّ الأَرْضِ وَرَبُّ الْعَرْشِ الْكَرِيمِ‏.‏

‘Laa ilaaha illaLlahul ‘azhiimul haliimu, ‘laa ilaaha illaLlahul rabbul ‘arsyil ‘azhiimi, ‘laa ilaaha illaLlahul rabbus samaawaati wa rabbul ardhi wa rabbul ‘arsyil kariim.’ –

Tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Yang Maha Agung lagi Lemah-Lembut, Tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Tuhan Pemilik Arsy yang agung, Tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Tuhan pemilik langit dan bumi, dan pemilik Arsy yang mulia.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah)[5]

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ

‘Ya muqallibal quluubi tsabbit qalbi ala diinika.’

“Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hati hamba di atas agama Engkau.”[6]

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى ‏

‘Allahumma inni as-alukal huda wat tuqa wal ‘afaafa wal ghina’ –

“Ya Allah, hamba memohon kepada Engkau petunjuk, ketakwaan, diberikan sifat ‘afaf (dijauhkan dari yang tidak halal) dan ghina (kaya hati).”[7]

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ، وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ، وَفُجَأَةِ نِقْمَتِكَ، وَجَمِيعِ سَخَطِكَ

‘Allahumma inni a’uudzu bika min zawaali ni’matika, wa tahawwuli ‘aafiyatika, wa faja-ti niqmatika, wa jamii’i sakhathika.’ –

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hilangnya kenikmatan yang telah Engkau berikan, dari berubahnya kesehatan yang telah Engkau anugerahkan, dari siksa-Mu yang datang secara tiba-tiba, dan dari segala kemurkaan-Mu ”[8]

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّـمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ  

‘Rabbanaa zhalamnaa anfusanaa wa il lam taghfir lanaa wa tarhamnaa lanakuunanna minal khaasiriin.’ –

“Ya Tuhan kami! Kami telah menganiaya diri kami sendiri, jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak mengasihi kami, niscaya kami akan termasuk diantara orang-orang yang merugi.”

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

‘Rabbanaa laa tuzigh quluubanaa ba’da idz hadaitanaa wa hab lanaa mil ladunka rahmatan innaka antal Wahhaab’

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau biarkan hati kami sesat setelah Engkau memberi petunjuk pada kami dan berikanlah kami rahmat dari sisi Engkau; pasti, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi (Karunia).”(Surah Ali Imran, 3:9)

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

‘Rabbanaa aatinaa fid dunya hasanah wa fil aakhirati hasanah wa qinaa ‘adzaaban naar.’ –

Ya Tuhan kami! Berilah kami segala yang baik di dunia dan segala yang baik di akhirat, dan lindungilah kami dari azab Api. (Surah al-Baqarah, 2:202)

Terdapat satu doa Hadhrat Masih Mau’ud (as) yang berbunyi,

“Tuhan Semesta alam! Hamba tidak dapat sepadan dalam mensyukuri atas kebaikan-kebaikan Engkau. Engkau Maha pengasih dan penyayang. Begitu banyak sekali kebaikan Engkau atas hamba. Ampunilah dosa hamba supaya hamba tidak binasa. Masukkanlah kecintaan tulus padaMu ke dalam hati hamba supaya hamba dapat meraih kehidupan. Tutupilah segala kelemahan hamba dan buatlah hamba melakukan amal perbuatan yang dengannya Engkau ridha. Hamba memohon perlindungan pada Engkau dengan perantaraan kasih sayang engkau dari murka Engkau atas hamba. Kasihilah, kasihilah, kasihilah. Selamatkanlah hamba dari bala bencana di dunia dan akhirat karena setiap karunia dan kasih sayang berada di tangan Engkau.” Aamiin.

اللھم صل علیٰ محمد وعلیٰ اٰل محمد کما صلیت علیٰ ابراھیم وعلیٰ اٰل ابراھیم انک حمید مجید۔ اللھم بارک علیٰ محمد وعلیٰ اٰل محمد کما بارکت علیٰ ابراھیم وعلیٰ اٰل ابراھیم انک حمید مجید۔

‘Allahumma shalli ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa aali Muhammadin kama shallaita ‘ala Ibraahiima wa ‘alaa aali Ibraahima innaka hamidum majid. Allahumma baarik ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa aali Muhammadin kama baarakta ‘ala Ibraahiima wa ‘alaa aali Ibrahima innaka hamidum majid.

“Ya Allah! Berilah rahmat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberi rahmat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya engkau Maha Terpuji lagi Maha Penyayang. Ya Allah! Berilah berkat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberi berkat kepada Ibrahim dan keluarga Ibrahim. Sesungguhnya engkau Maha Terpuji lagi Maha Penyayang.”

Ini merupakan Jumat terakhir pada Ramadhan ini, semoga kebaikan yang telah kita lakukan pada bulan ramadhan ini atau perubahan yang telah cipptakan semoga Allah ta’ala memberikan taufik untuk dapat melanjutkannya. Semoga doa-doa tersebut terkabul bagi kita.

Saya ingin sampaikan sehubungan dengan Idul Fitri bahwa banyak orang telah menulis kepada saya bahwa menurut informasi di situs web, bulan baru tidak akan terlihat pada hari Minggu sehingga kami tidak dapat melakukan Idul Fitri pada tanggal 24. Selanjutnya, saya menulis kepada mereka [komite] dan juga termasuk beberapa ahli lain di bidang ini dan mereka mengadakan sejumlah pertemuan. Saya juga menginstruksikan Bpk. Amir (Ketua Jemaat di Inggris) untuk meneliti masalah ini juga.

Mereka mengirimkan bagan yang menunjukkan bahwa meskipun bulan tidak akan terlihat pada tanggal 23 Mei di kota-kota besar menurut situs web, tetapi menurut bagan yang telah mereka tunjukkan, ada area tertentu seperti Falmouth, Penzance dan Hayle di mana bulan baru akan terlihat dengan mata telanjang pada tanggal 23. Jika bulan terlihat di bagian manapun di negara itu maka Idul Fitri dapat dirayakan di seluruh Negara itu juga. Komite-komite yang bertugas untuk melihat bulan di negara-negara Muslim lainnya juga mengamalkan hal yang sama untuk menentukan penampakan bulan. Maka dari itu, setelah mengamati hal ini, melakukan ini dan beberapa kali setelah itu lagi, telah diputuskan bahwa Idul Fitri insya Allah akan dirayakan pada hari Minggu 24 Mei.

Khotbah II

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ

وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ –

 وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ!

 إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ

يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ –

أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

 Penerjemah: Mln. Mahmud Ahmad Wardi, Syahid (London, UK) dan Mln. Muhammad Hasyim. Editor: Dildaar Ahmad Dartono.


[1] Shahih al-Bukhari, Kitabul Janaa-iz bab tsanaaun naasi ‘alal mayyit, nomor 1367; سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ ـ رضى الله عنه ـ يَقُولُ مَرُّوا بِجَنَازَةٍ فَأَثْنَوْا عَلَيْهَا خَيْرًا، فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ‏”‏ وَجَبَتْ ‏”‏‏.‏ ثُمَّ مَرُّوا بِأُخْرَى فَأَثْنَوْا عَلَيْهَا شَرًّا فَقَالَ ‏”‏ وَجَبَتْ ‏”‏‏.‏ فَقَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ ـ رضى الله عنه ـ مَا وَجَبَتْ قَالَ ‏”‏ هَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ خَيْرًا فَوَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ، وَهَذَا أَثْنَيْتُمْ عَلَيْهِ شَرًّا فَوَجَبَتْ لَهُ النَّارُ، أَنْتُمْ شُهَدَاءُ اللَّهِ فِي الأَرْضِ ‏”‏‏.‏. Anas bin Malik radliallahu ‘anhu berkata,: “Mereka (para sahabat) pernah melewati satu jenazah lalu mereka menyanjungnya dengan kebaikan. Maka Nabi Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Pasti baginya”. Kemudian mereka melewati jenazah yang lain lalu mereka menyebutnya dengan keburukan, maka Beliaupun bersabda: “Pasti baginya”. Maka kemudian ‘Umar bin Al Khaththab radliallahu ‘anhu bertanya: “Apa yang dimaksud pasti baginya?”. Beliau menjawab: “Jenazah pertama kalian sanjung dengan kebaikan, maka pasti baginya masuk surga sedang jenazah kedua kalian menyebutnya dengan keburukan, berarti dia masuk neraka karena kalian adalah saksi-saksi Allah di muka bumi”.

[2] Kitab Shahih Muslim, (كتاب البر والصلة والآداب), bab menjenguk orang sakit (باب فَضْلِ عِيَادَةِ الْمَرِيضِ) dan juga Syi’bil Iimaan karya al-Baihaqi (شعب الإيمان للبيهقي), bab (الثَّالِثُ وَالسِّتُّونَ مِنْ شُعَبِ الإِيمَانِ): عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ” يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ : يَا ابْنَ آدَمَ مَرِضْتُ فَلَمْ تَعُدْنِي , قَالَ : أَيْ رَبِّ كَيْفَ أَعُودُكَ وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِينَ ؟ فَيَقُولُ : أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ عَبْدِي فُلانًا مَرِضَ فَلَمْ تَعُدْهُ ، أَمَا عَلِمْتَ أَنَّكَ لَوْ عُدْتَهُ وَجَدْتَنِي عِنْدَهُ . وَيَقُولُ : يَا ابْنَ آدَمَ ، اسْتَطْعَمْتُكَ فَلَمْ تُطْعِمْنِي ، فَيَقُولُ : أَيْ رَبِّ ، وَكَيْفَ أُطْعِمُكَ وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِينَ ؟ قَالَ : يَقُولُ : أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ عَبْدِي فُلانًا جَاءَكَ يَسْتَطْعِمُكَ فَلَمْ تُطْعِمْهُ ، أَمَا عَلِمْتَ أَنَّكَ لَوْ أَطْعَمْتَهُ وَجَدْتَ ذَلِكَ عِنْدِي . وَيَقُولُ : يَا ابْنَ آدَمَ ، اسْتَسْقَيْتُكَ فَلَمْ تَسْقِنِي . قَالَ : فَيَقُولُ : أَيْ رَبِّ ، وَكَيْفَ أَسْقِيكَ وَأَنْتَ رَبُّ الْعَالَمِينَ ؟ قَالَ : أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ عَبْدِي فُلانًا جَاءَكَ فَاسْتَسْقَاكَ فَلَمْ تَسْقِهِ ، أَمَا عَلِمْتَ لَوْ سَقَيْتَهُ وَجَدْتَ ذَلِكَ عِنْدِي “ “Sesungguhnya Allah (dalam hadits Qudsi) berfirman: ‘Hai Anak Cucu Adam, Aku sakit tetapi kamu tidak menjenguk-Ku.’ Lalu berkata (Anak Cucu Adam): ‘Ya Robb, bagaimana aku menjenguk-Mu, sedangkan Engkau adalah Tuhan Semesta Alam?’ Allah menjawab: ‘Apakah engkau tidak mengetahui, sesungguhnya ada hamba-Ku Fulan sedang sakit tetapi engkau tidak menjenguknya, tidakkah engkau tahu sesungguhnya ketika engkau menjengukya Aku pun berada di sisinya.’ (Kemudian Allah kembali berfirman): ‘Hai Anak Cucu Adam, Aku kelaparan tetapi engkau tidak memberi-Ku makan.’ Menjawab (Anak Cucu Adam): ‘Ya Robb, bagaimana aku memberi-Mu makan sedangkan Engkau adalah Tuhan Semesta Alam?’ Allah menjawab: ‘Apakah engkau tidak mengetahui sesungguhnya kelaparan hamba-Ku si Fulan tetapi engkau tidak memberinya makan, tidakkah engkau tahu sesungguhnya ketika engkau memberinya makan di sana juga ada Aku.’ (Lalu Allah berfirman), ‘Hai Anak Cucu Adam, Aku haus tetapi engkau tidak memberi-Ku minum.’ Menjawab (Anak Cucu Adam): ‘Ya Robb, bagaimana aku memberi-Mu minum sedangkan Engkau adalah Tuhan Semesta Alam?’ Allah menjawab: ‘Engkau (tahu) hamba-Ku meminta minum kepadamu tetapi tidak engkau berikan kepadanya, tidakkah engkau tahu ketika kau beri ia minum di sana pun ada Aku.’”

[3] Abu Muhammad Sheikh Muslihuddin Sa’di (شیخ سعدی) adalah seorang penyair sufi kelahiran Shiraz, Persia (1200-1291) yang menulis literatur klasik berjudul Bustan (بوستان) yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh para penyair barat berjudul “The Orchard” dan buku lainnya Gulistan “The Rose Garden”. Karyanya mengandung ajaran-ajaran dan kisah-kisah cinta, agama, kebijaksanaan, anekdot-anekdot dan aspek kehidupan lainnya. Selain Sa’di, Pendiri Jemaat juga terkadang mengutip sajak Hafiz Shirazi, penyair Persia lainnya (1316-1390).

[4] Sunan Abi Daud, kitab tentang Shalat, bab tentang doa yang sebaiknya dipanjatkan jika cemas akan kejahatan suatu kaum, hadits nomor 1537. Riwayat Hadits menceritakan, Rasulullah (saw) biasa membaca doa ini saat merasakan bahaya dari sekelompok orang

[5] Adabul Mufrad, kitab tentang doa (كتاب الدعاء) karya Imam Al-Bukhari riwayat Abdullah bin Harits dari Abdullah bin Abbas tentang doa Nabi (saw) saat mengalami kesulitan, (عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ الْحَارِثِ قَالَ‏:‏ سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ يَقُولُ‏:‏ كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ عِنْدَ الْكَرْبِ‏:‏) dengan tambahan, اللَّهُمَّ اصْرِفْ شَرَّهُ “Ya Allah hapuskanlah keburukannya.”

[6] Sunan at-Tirmidzi, Kitab tentang doa-doa, nomor 3522.

[7] Sunan at-Tirmidzi, Kitab tentang doa-doa, nomor 3489; Shahih Muslim, Kitab adz-Dzikr (كتاب الذكر والدعاء والتوبة والاستغفار), bab (باب التَّعَوُّذِ مِنْ شَرِّ مَا عَمِلَ وَمِنْ شَرِّ مَا لَمْ يَعْمَلْ) no. 2721;

[8] Adabul Mufrad, kitab tentang doa (كتاب الدعاء) karya Imam Al-Bukhari riwayat (عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ الْحَارِثِ قَالَ‏:‏ سَمِعْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ يَقُولُ‏:‏ كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ عِنْدَ الْكَرْبِ‏:‏)