Jalsah Salanah Britania Raya: Berkah-Berkah dan Syukur

mirza masroor ahmad pidato hak islam

Khotbah Jumat Sayyidina Amirul Mu’minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 13 Agustus 2021 (Zhuhur 1400 Hijriyah Syamsiyah/04 Muharram 1443 Hijriyah Qamariyah) di Masjid Mubarak, UK (United Kingdom of Britain/Britania Raya).

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم.

بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم * الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يَوْم الدِّين * إيَّاكَ نَعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْر الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضالِّينَ. (آمين)

Alhamdulillah, pada jumat lalu Jalsah salanah Jemaat Ahmadiyah UK, setelah tertunda satu tahun atau bisa dikatakan setelah dua tahun telah dimulai lagi dan berlangsung hingga tiga hari dengan menampilkan pemandangan suasana Ruhani dan tiba pada penutupan pada hari minggu lalu. Pada tahun 2020, Jalsah tidak dapat diadakan disebabkan oleh wabah Korona dan para panitia inti Jalsah pun beranggapan bahwa sebagaimana keadaan saat ini masih lebih kurang sama sehingga tahun ini pun Jalsah tampaknya sulit untuk terlaksana. Asumsi demikian mengakibatkan kurang perhatian pada persiapan. Saya pun telah menyinggung hal ini pada khotbah yang lalu.

Alhasil, ketika diinstruksikan kepada mereka bahwa insya Allah Jalsah akan diadakan, mereka mulai melakukan persiapan, namun saya merasa persiapan yang mereka lakukan tidak dengan sepenuh hati. Yang saya khawatirkan saat itu, jika para panitia inti tampak santai seperti itu, jangan sampai para panitia yang dibawahnya pun memiliki pemikiran yang sama. Namun, tetap menaruh harapan dan doa kepada Allah Ta’ala, semoga Dia memperbaiki seluruh pengaturan Jalsah, insya Allah dan juga berharap akan mendapatkan orang-orang yang akan bekerja untuk tugas ini.

Untuk itu pada satu kesempatan saya terpaksa harus memberikan penekanan keras kepada para panitia inti dengan mengatakan, “Jika Anda bekerja dengan tidak sepenuh hati dan tetap memiliki pemikiran gamang yakni entahlah apakah Jalsah bisa dilakukan ataukah tidak dan juga menampakkan sikap kurang yakin, saya akan tetapkan para panitia yang baru.” Alhasil, pernyataan saya tersebut telah membuat mereka terkejut, sehingga dimulailah persiapan dengan cepat.

Meskipun (persiapan) dilakukan terlambat, para panitia yang ada dibawah dan sukarelawan yang merupakan kekuatan inti, tampaknya mereka sudah gelisah dan tidak sabar lagi sehingga berdatangan dari berbagai tempat untuk mulai bekerja. Selama Jalsah, para sukarelawan yang siap bekerja mulai mengantri. Namun karena Jalsah akan dilaksanakan dalam skala kecil sehingga kita kesulitan dalam menyeleksi para sukarelawan itu. Alhasil, akhirnya beberapa Lajnah dan pengurus kaum pria menyeleksi calon panitia itu. Pihak lajnah mungkin telah memilih seperlima dari antara calon panitia itu, sedangkan kaum pria mungkin telah mengurangkan sepertiganya yakni yang tidak terseleksi untuk melakukan tugas. Karena itu yang tidak terpilih pun merasa sedih karena tidak mendapatkan kesempatan untuk berkhidmat.

Dalam hal ini saya ingin menyampaikan sesuatu kepada segenap pria, wanita, remaja, anak anak juga karena anak anak juga biasa melakukan tugas, bahwa Allah Ta’ala memberikan ganjaran atas niat baik kita. Niat baik Anda untuk mengkhidmati para tamu Hadhrat Masih Mau’ud (as) telah terpenuhi. Anda tidak mendapatkan kesempatan ini karena suatu alasan, namun Allah Ta’ala tidak akan meluputkan Anda dari ganjaran disebabkan oleh niat baik anda. Kita berdoa semoga Allah Ta’ala menganugerahkan ganjaran terbaik kepada mereka semua atas semangat pengkhidmatan ini.

Hal kedua, sebagaimana biasanya, pada khotbah Jumat setelah Jalsah, saya sampaikan ucapan terima kasih kepada segenap panitia yang telah atau masih bertugas dalam berbagai bidang kepanitiaan. Orang-orang dari seluruh dunia menulis surat kepada saya, menyampaikan ucapan terima kasih kepada para panitia yang telah berusaha untuk memenuhi tanggung jawab masing-masing untuk berkhidmat pada masing masing bidang. Hujan pernah menyebabkan kesulitan besar bagi para panitia untuk mengeluarkan mobil-mobil dari area parkir yang berlumpur. Para sukarelawan telah bekerja secara luar biasa. Mereka telah mengeluarkan mobil-mobil dari genangan lumpur dengan mengangkatnya sehingga beberapa panitia dari bidang lain yang sedang tidak bertugas ikut serta membantu.

Sebagian menulis kepada saya bahwa mereka terus memberikan bantuan. Kemudian, setelah melihat keadaan area parkir seperti itu, dibuatkan pengaturan tempat parkir di tempat lain. Namun pada hari pertama, kedua, atau beberapa saat, mereka menghadapi kesulitan untuk mengeluarkan mobil-mobil dari jebakan lumpur. Momen tersebut tertangkap kamera MTA lalu ditayangkan ke seluruh dunia. Setelah itu para pemirsa Ahmadi maupun bukan Ahmadi yang menyaksikan tayangan tersebut menyampaikan keheranannya, bahkan mereka yang bukan Ahmadi dan bukan Muslim mengatakan bahwa sulit untuk meyakini pemandangan seperti ini telah terjadi di dunia pada masa ini, bagaimana para pekerja dan juga atasannya ikut serta menerobos lumpur untuk mengeluarkan mobil-mobil dari lumpur. Mereka adalah orang-orang yang bekerja seperti jin yang dianugerahkan oleh Allah Ta’ala kepada Jemaat Hadhrat Masih Mau’ud (as).

Demikian pula, bidang kepanitiaan lainnya, seperti bidang kebersihan, konsumsi, juru masak dan yang terpenting pekerjaan pada waktu awal yakni memasang tenda-tenda kepanitiaan Jalsah dan juga jalan jalan buatan, untuk tugas tersebut para sukarelawan telah bekerja sampai berminggu-minggu, begitu juga untuk membereskannya seperti semula, saat ini mereka bekerja berhari-hari.

Setelah menyaksikan bagaimana orang-orang dari berbagai bidang kepanitiaan bekerja yang ditayangkan oleh MTA melalui live streaming, para pemirsa sangat terkesan. Para peserta Jalsah pun mengungkapkan rasa terima kasihnya. MTA juga telah memenuhi tanggung jawabnya dengan menayangkan tayangan-tayangan tersebut kepada dunia dan juga program-program lainnya dengan gigih. Mereka tidak hanya menayangkan prosesi Jalsah kepada dunia bahkan kita yang berada di Jalsah gah dapat menyaksikan bagaimana para pemirsa yang tengah menyaksikan siaran Jalsah secara berjamaah di berbagai negeri di seluruh dunia dan ditayangkan juga ke seluruh dunia.

MTA telah menayangkan seluruh prosesi Jalsah, juga pekerjaan yang dilakukan oleh para panitia sejak awal dan juga selama Jalsah berlangsung. Begitu juga tayangan program Jalsah yang sarat dengan keilmuan dan tarbiyat, pidato dan lain-lain yang mana setelah menyaksikan itu semua, para pemirsa Ahmadi maupun bukan Ahmadi dibuat terheran-heran dan berterima kasih karena mereka telah dapat menyaksikan tayangan itu semua. Ini telah menggambarkan satu bangunan rumah yang bersifat internasional.

Dalam hal ini saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada segenap panitia baik itu pria maupun wanita. Meskipun dalam keadaan yang kurang berpihak dan pengambilan keputusan dilakukan dalam keadaan tidak menentu, terlebih cuaca yang kurang bersahabat bagi mereka, segenap panitia telah bekerja dengan gigih dan memenuhi tanggung jawab dalam Jalsah. Saya pun ingin menyampaikan ucapan terima kasih atas nama para pemirsa Jalsah di seluruh dunia. Saya telah menerima banyak sekali surat yang berisi ucapan terima kasih.

Tadinya saya berpikiran akan menyampaikan topik khotbah sebagaimana biasa setelah terlebih dulu menyampaikan ucapan terima kasih kepada para panitia. Namun, karena banyak sekali surat dan laporan yang saya terima berisi kesan-kesan Jalsah dari berbagai negeri dan juga pengungkapan rasa haru dari para Ahmadi maupun bukan Ahmadi setelah menyaksikan Jalsah dan juga buah yang membahagiakan setelah Jalsah sehingga saya rasa pada khotbah hari ini pun sebagaimana biasanya akan saya sampaikan kesan-kesan orang-orang dan juga hujan karunia yang tercurah pada tahun ini. Tidak mungkin untuk menyampaikan semuanya sehingga akan saya sampaikan sebagiannya.

Jalsah yang khas pada tahun ini telah membuka pintu karunia Allah Ta’ala sehingga manusia memanjatkan syukur kepada Allah Ta’ala dan semakin menundukkan diri di hadapan-Nya. Meskipun keadaan saat ini tidak terlalu baik, namun begitu banyaknya karunia yang dianugerahkan Allah Ta’ala atas Jemaat ini. Ada satu kekurangan yang disampaikan oleh orang-orang pada umumnya yakni tahun ini tidak dilakukan baiat yang sangat dinanti-nantikan oleh mereka. Alhasil, akan sulit untuk melaksanakan baiat Internasional dalam keadaan seperti saat ini, untuk itu terpaksa tidak diadakan.

Sekarang akan saya sampaikan beberapa laporan dan kesan-kesan secara singkat. Tahun ini, untuk pertama kalinya Jemaat-Jemaat diikutsertakan dalam Jalsah dengan perantaraan live streaming yakni orang-orang dapat menyimak prosesi Jalsah dengan duduk di negaranya masing masing, begitu juga para peserta Jalsah di Jalsah Gah dapat menyaksikan mereka pada layar. Dilakukan pengaturan di 5 tempat di UK untuk duduk bersama sedangkan di negeri-negeri lainnya, meskipun terpaut waktu berjam-jam mereka tetap setia duduk menyimak prosesi Jalsah. Diantaranya adalah Australia, Indonesia, Guatemala, Bangladesh dan lain-lain.

Selain di Inggris Raya, orang-orang ikut serta dalam Jalsah salanah ini dengan perantaraan live streaming di 37 tempat, di 22 negara. Begitu juga untuk pertama kalinya dilakukan live streaming dari Jalsah gah kaum wanita, karena itu para wanita dari berbagai negeri memperlihatkan kebahagiaannya. Berdasarkan perkiraan, jumlah para wanita yang menyaksikan sesi Lajnah dan juga pidato-pidato dari Jalsah Gah Lajnah (ruangan tempat duduk kamu wanita) sekitar 30.000 sampai 35.000 orang. Negeri-negeri yang ikut serta menyaksikan itu diantaranya adalah Amerika, Kanada, Guatemala, diatur menjadi dua atau tiga tempat untuk menyaksikan. Begitu juga Guyana, Australia, Indonesia, Bangladesh, Mauritius, Kababir, India, Burkinafaso, Ghana, Nigeria, Gambia, Tanzania, Prancis, Switzerland, Jerman, Swedia, Belgia, Finland, Belanda, dan lain-lain.

Ada seorang bukan Ahmadi di Niger bernama Isa sahib yang selalu datang ke rumah misi untuk menyaksikan pidato saya selama tiga hari Jalsah. Beliau menuturkan, “Sebelum ini pun saya pernah mendengar tuduhan bahwa Jemaat Ahmadiyah bertentangan dengan Islam dan biasa orang Ahmadiyah memasang TV di masjid yang mana tidak dibenarkan. Namun setelah menyaksikan acara Jalsah, saya menjadi tahu bahwa jika seandainya seluruh Muslim dunia bersatu seperti Ahmadiyah dan menyampaikan pesan Ahmadiyah, umat Islam akan menjadi begitu kuat sehingga tidak aka nada kekuatan dunia yang mampu berbicara menghadapi Islam. Saya menyaksikan persatuan itu dalam Jalsah yang mana dalam pandangan saya ini merupakan satu dalil kebenaran.”

Selanjutnya, selain para Ahmadi mubayyin baru dari Zambia, ada juga beberapa yang bukan Ahmadi yang menyaksikan acara Jalsah. Di satu tempat di sana berkumpul 35 orang bukan Ahmadi pada satu tempat. Setelah menyimak acara Jalsah, seorang guru Kristen menuturkan, “Saya merasa bahagia setelah menyaksikan acara Jalsah. Saya mendapatkan wawasan perihal ajaran Islam. Sesuai akal dan wawasan saya, saya menjadi tahu bahwa Islamlah agama yang benar dan di dunia ini tidak ada agama lain yang membantu orang-orang yang membutuhkan. Saya mendapatkan banyak hal untuk dipelajari.”

Muballig Incharge Gabon menulis, “Ada seorang pejabat polisi bukan Muslim datang ke rumah misi untuk menyaksikan acara Jalsah dengan istri beliau. Sebelum ini beliau tidak memperlihatkan ketertarikan pada Jemaat, namun setelah mendengarkan kisah baiatnya seorang mubayyin baru dari Libanon, beliau bertanya, ‘Setelah Jalsah ini, bagaimana saya bisa menyaksikan MTA?’

Disampaikan kepada beliau bahwa beliau bisa mengakses MTA melalui youtube. Mendengar hal demikian, saat itu juga beliau membuka youtube di HPnya dan menyetel MTA channel Perancis lalu menyaksikan acara Jalsah. Beliau berkata, ‘Mulai hari ini saya akan mempelajari Jemaat Ahmadiyah lebih lanjut melalui channel ini.’”

Ada seorang kawan bukan Ahmadi dari Nigeria setelah menyaksikan acara Jalsah berkata, “Setelah menyaksikan acara Jalsah ini saya menjadi yakin bahwa jika saat ini ada firqah yang benar di dunia ini, itu adalah Jemaat Ahmadiyah dan saya akan segera bergabung ke dalam Jemaat Ahmadiyah.”

Ada juga seorang kawan bukan Ahmadi yang berkesan berkenaan dengan Jalsah, mengatakan, “Saya yakin Jemaat ini adalah Jemaat orang-orang yang benar. Ini adalah Jemaat orang-orang beriman. Saya menyaksikan sendiri bagaimana dalam keadaan hujan deras pun, para sukarelawan tetap bekerja dengan sepenuh hati untuk memberikan kenyamanan kepada para tamu.”

Beliau juga menyatakan terkesan dengan pidato yang saya sampaikan di area Jalsah Gah wanita.

Muballigh Incharge Jepang menulis, “Ada seorang bukan Ahmadi berasal dari Hiroshima bernama Mashema Osamu Sahib yang mana ketika saya (Hudhur) mengunjungi Hiroshima Jepang, beliau pun hadir pada saat itu dan mengkhidmati tamu. Beliau juga ikut serta pada acara Peace Conference (Konferensi Perdamaian) tahun 2007. Beliau menuturkan, ‘Saat ini saya tengah menyaksikan acara Jalsah, saya pun menyimak khotbah Huzur pada tanggal 6 Agustus. Setelah itu saya teringat dengan pengkhidmatan Jemaat Ahmadiyah Jepang. Bagaimana Khalifah Jemaat Ahmadiyah yang kedua menyuarakan dengan lantang berkenaan dengan tragedi bom atom Hiroshima pada 10 agustus 1945. Itu adalah suara-suara yang digaungkan untuk pertama kalinya untuk membela Hiroshima. Setelah itu Khalifah yang sekarang pun melakukan kunjungan ke Hiroshima dan pesan perdamaian yang beliau gaungkan bagi saya memberikan makna yang khas. Pada hari ini bertepatan dengan peringatan Hiroshima sembari menyaksikan tayangan MTA, pertama saya berkeinginan agar seperti MTA Afrika, semoga MTA Jepang pun segera berdiri. Setelah melihat suasana Jalsah dan berkumpulnya orang orang di seluruh dunia hari demi hari menyadarkan saya bahwa sepak terjang Jemaat Ahmadiyah untuk mengumpulkan dunia diatas satu platform dan menegakkan kedamaian di dunia ini, sangatlah penting.’”

Ada seorang guru bukan Ahmadi dari Masaka di Zambia menuturkan, “Pada hari ini kami telah mempelajari satu hal dari Khalifah Anda bahwa wanita dalam Islam mendapatkan kebebasan penuh untuk berpendapat dan Islam juga memberikan hak kepada para wanita untuk memilih calon pasangannya sesuai dengan yang ia sukai. Namun dalam sebagian kelompok masyarakat, wanita dinikahkan secara paksa dengan seseorang dan tidak memperhatikan hak-hak kemanusiaan.

Islam merupakan satu-satunya agama yang sangat memperhatikan hak-hak wanita. Pada satu segi, Islam memberikan izin kepada kaum pria untuk menikahi wanita lebih dari satu, di sisi lain, Islam menekankan kaum pria agar tidak melepaskan keadilan. Jika pria tidak mampu bersikap adil, cukupkanlah dengan beristri satu. Ajaran ini sangat indah dan Jemaat Ahmadiyah-lah yang mengganungkannya.”

Ada seorang kawan bukan Ahmadi dari Tasawa, Niger bernama Maman Ghali Sahib menuturkan, “Ini adalah kesempatan saya untuk pertama kalinya menyimak acara Jalsah dan saya sangat terkesan. Jika teladan ini dipegang oleh umat Islam lainnya, maka sudah barang tentu umat Islam akan meniti tangga kemajuan di dunia.”

Selanjutnya seorang insinyur bukan Ahmadi, Usama Sahib dari Niger menuturkan, “Yang paling mengesankan saya adalah meskipun berkumpul orang-orang dari sekian banyak negara yang berbeda bahasa dan budaya, namun mereka menampilkan teladan ketaatan. Meskipun dalam keadaan menghadapi wabah korona yang mematikan, namun mereka dapat melakukan pengaturan yang luar biasa seperti ini. Ini layak untuk mendapatkan pujian.”

Terkait:   Khotbah Idul Fitri 2019

Amir Sahib Niger menulis, “Ada seorang tamu bukan Ahmadi, Maryam Sahiba menuturkan, ‘Setelah mendengarkan khotbah Imam Jemaat Ahmadiyah, pada hari ini saya mendapatkan pemahaman hakiki terkait hak-hak wanita dan tanggung jawabnya.Di sini, di Afrika, begitu buruk kehidupan yang dilalui oleh kaum wanita sehingga sulit untuk ditemukan gambarannya di negeri-negeri maju. Amal perbuatan dan ucapan Anda memiliki kesesuaian. Jika amal perbuatan dan ucapan para Ahmadi sesuai, tidak ada lagi orang yang lebih baik daripada Anda.”

Maka dari itu, para Ahmadi pun hendaknya menampilkan teladan yang sesuai dengan ajaran tersebut di rumahnya. Ajaran tersebut tidak hanya untuk diceramahkan, melainkan ajaran yang telah mendapatkan tempat di hati orang-orang ini, dapatlah diamalkan.

Ada seorang kawan bukan Ahmadi di Niger bernama Farid Musa Sahib. Beliau menyampaikan pujian atas pidato yang saya sampaikan di Jalsah Gah Lajnah (ruangan tempat duduk kamu wanita).

Ada seorang wanita bukan Ahmadi bernama Maryam Ilyas sahiba menuturkan, “Hak-hak wanita disampaikan uraiannya oleh Imam Jemaat Ahmadiyah yang setelah mengetahui ajaran hakiki Islam tersebut saya merasa bangga dengan status saya sebagai perempuan. Seandainya semua orang memahami hal ini, maka dunia akan menjadi perwujudan surga.”

Ada seorang wanita bukan Ahmadi dari Niger bernama Nafisah Admos menuturkan, “Bagi saya merupakan pengalaman pertama kali dapat mendengarkan pidato Imam Jemaat Ahmadiyah. Saya dapat memahami dengan jelas bahwa kehormatan dan kemuliaan yang diberikan oleh Hadhrat Rasulullah (saw) kepada para wanita, jika memang ada yang menggenapi hal tersebut di dunia ini, itu adalah Jamaah Ahnadiyah.”

Saya sampaikan sekali lagi bahwa hal ini harus menjadi bahan renungan bagi para pria Ahmadi agar memperbaiki sikap dan perilakunya dalam kehidupan rumah tangga. Janganlah menipu dunia.

Amir Sahib Niger menulis, “Ada seorang kawan bukan Ahmadi bernama Haji Husein, seorang pebisnis yang cukup sibuk. Namun, ketika beliau diundang untuk hadir menyaksikan acara Jalsah, beliau menerimanya. Setelah menyaksikan Jalsah, beliau menuturkan, ‘Tadinya saya hadir menyaksikan Jalsah untuk memenuhi formalitas saja dan saya berfikir barangkali acara yang ada dalam Jalsah ini layaknya kumpulan biasa saja. Namun ketika saya mulai menyimak Jalsah, saya berencana untuk datang mendengarkan Jalsah selama tiga hari ke depan. Hal yang paling berkesan bagi saya adalah suasana Jalsah. Setelah melihat bagaimana para sukarelawan bekerja, saya merasa dalam hati mereka terdapat satu gejolak yang memberikan semangat kepada mereka, jika tidak, perbuatan seperti ini tidak mungkin dilakukan oleh orang-orang yang materialistis.’”

Muballigh Incharge Guinea Conakry menuturkan, Muballig lokal Kiniar Region menulis, ‘Walikota setempat telah diundang untuk hadir menyaksikan Jalsah. Beliau mengatakan, “Saya tengah sakit, namun putra saya akan hadir.”’”

Ketika putranya hadir, saat itu pidato saya (Hudhur) di lajnah akan segera mulai. Namun di daerah ini sering mati listrik. Saat itu musim hujan, dan jika mati listrik, itu bisa berlangsung berjam-jam. Ketika acara akan dimulai, tiba-tiba listrik mati sedangkan tamu telah datang. Saat itu tidak ada generator.

Pak Muballig mengatakan, “Lalu kami berdoa: Ya Tuhan perlihatkanlah mukjizat-Mu pada hari ini sebagai bukti kebenaran Jemaat, datangkanlah listrik. Kami berdoa dengan penuh rintihan. Saat itu Hudhur belum menaiki mimbar untuk pidato, ternyata listrik hidup lagi.”

Allah Ta’ala telah mengabulkan doa kita yang lemah hamba-hambanya Al-Masihuz Zaman. Allah Ta’ala telah memperlihatkan tanda untuk membuktikan kebenaran Al-Masih yang dijanjikan dan Islam. Kejadian itu memberikan kesan mendalam dalam hati para tamu dan yang mengerankan adalah, seketika pidato saya (Hudhur) selesai, listrik mati lagi. Tamu itu berkata, “Saya tidak pernah mendengar pidato yang lengkap seperti ini. Apapun yang dituduhkan oleh orang-orang berkenaan dengan Jemaat Ahmadiyah, semuanya adalah keliru.”

Mu’alim dari Kamerun menuturkan, “Seorang kepala suku dari sebuah desa di dekat kota Marwa di wilayah selatan Kamerun yang bernama Alhaj ‘Utsman, dan ia adalah bukan Ahmadi, Ia menyaksikan acara Jalsah melalui MTA Afrika lalu mengungkapkan, ‘Semenjak kecil, saya terus menerus mendengar bahwa tatkala Imam Mahdi datang, maka seluruh dunia akan menyaksikannya. Dengan menyimak acara Jalsah ini, saya lantas meyakini bahwa Jemaat inilah yang merupakan Jemaat Imam Mahdi, yang seluruh dunia tengah menyaksikannya. Banyak juga orang-orang dari berbagai negara, yang ikut serta di Jalsah ini dari negara mereka dengan perantaraan MTA, dan mereka menyimak serta mendengar Imam Jemaat Ahmadiyah. Hari ini saya telah menyaksikan bagaimana perkataan Tuhan telah sempurna.’”

Amir Sahib Mali menulis tentang baiat yang terjadi melalui Jalsah, “Seorang guru dari kota Keyta, Umar Bari Sahib menyampaikan melalui telepon, ‘Saya bukanlah Ahmadi. Meski demikian, tidak hanya saya, bahkan seluruh anggota keluarga saya menyimak acara Jalsah dengan hati seksama. Khususnya, tatkala berbagai slogan dipekikkan, segenap anggota keluarga kami menjadi bersemangat dan kami pun mengulangi slogan tersebut.’ Umar Bari Sahib menuturkan, ‘Insya Allah kami bersama keluarga kami dengan segera akan datang ke kantor missi Ahmadiyah dan masuk ke dalam Jemaat Ahmadiyah.’”

Mubaligh Incharge Kamerun menuturkan, “Dawala Faruq Sahib, Imam dari suatu suku mengungkapkan, ‘Saya menyimak ceramah-ceramah Jalsah melalui MTA Afrika. Orang-orang menyatakan Jemaat sebagai organisasi kafir dan teroris. Sebagai Jawabannya adalah ayat khataman nabiyyin yang terpampang besar di dinding podium. Kini, dengan perantaraan MTA, insha Allah akan banyak kesalah-pahaman yang akan terselesaikan.’”

Amir Sahib Tanzania menulis, “Seorang wanita bukan Ahmadi bernama Jabu Sahibah dari wilayah Arosya menyampaikan, ‘Ini adalah kesempatan pertama saya menyaksikan Jalsah Salanah. Saya seumur hidup belum pernah melihat pertemuan yang demikian khidmat ini. Umumnya orang-orang akan berisik di saat ada pertemuan, dan diadakanlah berbagai acara humor untuk menghibur orang-orang. Namun di dalam Jalsah ini, hal demikian tidak ada. Bahkan, di setiap acara hanyalah ajaran hakiki Islam yang disampaikan. Tidak diragukan lagi, kecintaan para Ahmadi terhadap Khalifah nya ini tidak dapat ditemukan bandingannya di dunia.’”

Dari negara Kamerun, seorang Kepala Suku di kota Maroa yang menyimak acara Jalsah ini menuturkan, “Ini adalah keistimewaan Jemaat, betapa acara Jalsah salanah ini secara serentak diterjemahkan di banyak bahasa sehingga banyak orang yang mengambil manfaat darinya. Saya telah meraih manfaat dari Jalsah ini, dan ilmu saya bertambah. MTA adalah sebuah anugerah. Sekarang saya akan memasang TV kabel dan akan meraih manfaat dari MTA sembari saya duduk di rumah saya.”

Kini, orang luar pun telah tertarik dengan MTA. Mereka yang ingin mendapat manfaat dari hidangan rohani ini, dapat meraihnya. Inilah satu rahasia dari kemajuan ini; yaitu, jika ingin maju dalam kerohanian, para Ahmadi pun hendaknya banyak menaruh perhatian kepada MTA.

Mubalig Incharge Gabon menulis, “Ada seorang Ahmadi yang baru baiat menuturkan, ‘Pada hakikatnya ini adalah Jalsah seluruh dunia, yang mana kita pun ikut di dalamnya, dan orang-orang dari banyak negara lain pun ikut di dalamnya. Perkara ini sungguh memperteguh keimanan kita. Meski adanya perbedaan waktu, orang-orang dari seluruh dunia ini duduk di dalam Jalsah; dan pemandangan ini hanya dapat diperlihatkan oleh Ahmadiyah. Umat Muslim lain tidak mungkin melakukannya.’”

Di Gambia, di provinsi timurnya, di kota Lusangazi, seorang Ahmadi baru bernama Ali Sahib yang juga adalah pemimpin di daerahnya menuturkan, “Sebelum menjadi Ahmadi, kami adalah Kristiani. Ahmadiyah berdiri di daerah kami sejak Februari 2021. Setelah berdiri, ulama bukan Ahmadi berulang-kali datang ke daerah kami dan berupaya menanamkan berbagai keraguan dan kebimbangan tentang Ahmadiyah ke dalam hati kami. Ketika dahulu kami Kristen, tidak ada yang perduli; namun saat kami telah Ahmadi, ulama bukan Ahmadi pun berdatangan untuk meluruskan agamanya.”

Ia menuturkan, “Kini kami mendapat karunia menyimak langsung Jalsah Salanah UK. Ini pertama kalinya dalam hidup saya melihat pemandangan satu konferensi yang teratur; dimana meskipun wabah melanda, orang-orang dalam jumlah banyak hadir, dan berbagai pemimpin dan petinggi negara mengirimkan pesan video mereka. Dengan karunia Allah Ta’ala, setelah menyaksikan Jalsah salanah ini, semua keraguan dan prasangka telah hilang, dan Ahmadiyah bukanlah suatu kelompok kecil, tetapi adalah satu Jemaat internasional. Apa yang disampaikan Khalifah terkait ajaran-ajaran Islam tentang hak-hak wanita dan orang lain, sungguh mengherankan bagi kami karena para wanita pun memiliki hak-haknya, sementara kami sama sekali mengesampingkan mereka. Insya Allah, apapun yang kami dengar dan saksikan di sini, akan kami sampaikan sepulang dari sini kepada saudara kami yang lain, demi menambah teguh iman mereka dan agar berupaya mengamalkannya.”

Dari Malaysia, seorang Ahmadi baru bernama Rusli bin Mappasule Sahib menuturkan, “setelah menyaksikan Jalsah Salanah UK, saya sangat bersyukur kepada Allah Ta’ala karena telah mendapat karunia masuk ke dalam Jemaat Ahmadiyah dan mengenal Imam Zaman. Memang saya sedang tidak berada di UK, namun tetap berkesempatan melihat dan menyimak pidato Hadhrat Khalifah. Jika saya tidak masuk ke dalam Jemaat Ahmadiyah, saya akan luput dari keberkatan ini. Kini saya berjanji akan senantiasa setia dan patuh terhadap Khilafat”.

Dari Brazil, seorang wanita bernama Pesyili Marlene Sahibah yang baru baiat beberapa bulan lalu menuturkan, “Saya sangat beruntung berkesempatan menyaksikan Jalsah Salanah untuk pertama kalinya. Meskipun saya tidak memahami bahasanya, saya telah menimba banyak ilmu dan belajar darinya. Saya bersyukur kepada Tuhan karena Dia telah menganugerahkan taufik kepada saya untuk menerima Ahmadiyah”.

Mubalig Incharge Guinea Bissau menulis, “Di satu Jemaat yang jauh di daerah Kaseni, ada 4 mubayyiah baru yang berjalan kaki 8 km ke Jemaat terdekatnya Masrah untuk menyaksikan acara Jalsah Salanah UK. Ketika mereka menyimak pidato [Huzur], mereka menuturkan, ‘Dengan karunia Allah kami telah menerima Ahmadiyah. Bahkan kami merasa betapa dahulu kami jauh dari nikmat yang sangat besar ini. Saat ini, iman kami dalam Ahmadiyah telah 100% sempurna, dan kami berjanji akan senantiasa datang untuk menyimak khotbah Hadhrat Khalifah.’” (betapa luar biasa perubahan-perubahan yang tengah Allah Ta’ala wujudkan ini)

Di Guyana pun orang-orang menghadiri Jalsah melalui live streaming. Muzaffar Kayusi Sahib, seorang Ahmadi baru menuturkan, “Ini adalah Jalsah Salanah pertama saya, dan pengalaman ini sangat luar biasa bagi saya. Khususnya, tatkala saya duduk bersama dengan saudara-saudara Ahmadi saya untuk menyimak Jalsah, dan melihat serta mendengar pidato Hadhrat Khalifah , semua ini merupakan pengalaman yang sangat luar biasa bagi saya. Saya belum pernah mendengar ada wanita Muslim yang tilawat dengan sedemikian baiknya.” Lalu ia menuturkan, “Para Ahmadi di sini dari berbagai desa dan provinsi dan berkumpul di satu tempat untuk menyimak Jalsah. Ini adalah keberkatan-keberkatan Khilafat dan Ahmadiyah yang telah Allah Ta’ala anugerahkan pada Jemaat ini. Melihat Jemaat yang dari berbagai negara ikut dalam Jalsah salanah ini secara virtual pun adalah hal yang sangat luar biasa. Saya melihat banyak negara yang sebelumnya saya tidak mengetahui bahwa Ahmadiyah pun telah ada di sana. Saya pun melihat bagaimana para anggota Jemaat bekerja sama untuk Jalsah ini.”

Di UK ada seorang Ahmadi yang bekerja di bank dan mengambil cuti lalu berkhidmat di Jalsah sebagai relawan, dan ia bermalam di mobilnya. Semua hal ini membuktikan bahwa para Ahmadi memiliki keikhlasan dan rela berkorban.

Ia berkata lagi, “Terkait hak-hak, saya pun mengetahuinya dari berbagai pidato [Jalsah].” (lihatlah bagaimana ia memperlihatkan kesan-kesannya)

Dari Mauritius, Shafwan Nayak Sahib, seorang Ahmadi baru menuturkan, “ini adalah pengalaman pertama menghadiri Jalsah melalui live streaming. Sungguh kesempatan ini semakin mendekatkan saya dengan Khilafat. Semua ucapan Hadhrat Khalifah membekas di hati saya. Saya sangat bahagia atas keputusan saya masuk Jemaat. Saya kini dapat belajar banyak tentang Hadhrat Masih Mau’ud (as) dari acara-acara MTA.”

Dari Austria, Asraf Zia Sahib berkata bahwa seorang bernama Donatella Sahibah telah baiat di awal tahun ini. Ia menuturkan, “Apapun yang disabdakan oleh Hadhrat Khalifah sungguh telah membakar semangat saya. Air mata saya terus mengalir selama beliau berpidato. Islam sungguh adalah jalan kebenaran dan pemberi kehidupan. Kehidupan saya perlahan-lahan menjadi sangat berubah. Saya sangat bersyukur kepada Allah Ta’ala yang telah memberi saya taufik untuk menerima Ahmadiyah.” (ia adalah seorang Austria)

Banyak sekali peristiwa mereka yang baiat setelah menghadiri Jalsah. Dari Pantai Gading, Hasan Sahib, seorang simpatisan bukan Ahmadi menuturkan, “Saya berkesempatan menyaksikan ketiga hari acara Jalsah. Ini sangat menyegarkan keimanan. Kedustaan tidak akan berusia panjang, dan ia akan mati dengan sendirinya, sementara kebenaran senantiasa tegak. Dari asas ini, kemajuan hari demi hari yang dialami oleh Jemaat Ahmadiyah menjadi bukti kebenarannya. Setelah penutupan Jalsah, saya dengan beberapa kawan tengah berbincang di sebuah restoran, lalu ada seorang yang tak kami kenal mendengar perbincangan kami dan berkata, ‘Jika ada sebuah Jemaat yang mengamalkan ajaran Islam yang hakiki, maka itu hanyalah Jemaat Ahmadiyah.’ Setelah menyebut ini, ia pun berlalu. Alhasil, Ahmadiyah lah yang mengamalkan Islam hakiki baik secara ucapan maupun amal perbuatan.”

Setelah ini, Hasan Sahib menemui muallim Jemaat dan berkata, “Saya ingin baiat masuk ke dalam Ahmadiyah. Sekarang saya tidak ingin membiarkan saya terus lama luput dari kebenaran ini.”

Mubalig Incharge Kongo Brazzaville menuturkan, “Jemaat Gamboma mendapat taufik menayangkan program Jalsah secara langsung selama 3 hari baik di TV maupun Radio. Di wilayah ini hanya ada satu stasiun televisi dan secara terus-menerus ditayangkan program Jalsah kita. Melalui perhitungan, kurang lebih 4.000 orang telah menyaksikan acara Jalsah. Di beberapa desa di sekeliling Gamboma pun ditayangkan acara Jalsah salanah melalui radio. Di daerah tersebut belum tersedia fasilitas listrik dan masyarakat di sana menyimak Jalsah melalui radio.”

Mereka pun menyimak pidato saya (Hudhur) yang juga diterjemahkan ke bahasa setempat yaitu bahasa Langgala. Mereka menuturkan, “Alhamdulillah, acara [Jalsah] sangat sukses.”

Kesan ini tidak hanya dirasa oleh Ahmadi tetapi bahkan mereka yang bukan Ahmadi. Ketiga hari kemarin sungguh merupakan suasana Jalsah Salanah. Makanan pun diatur sebagaimana halnya Jalsah salanah. Di saat Jalsah, dengan karunia Allah ada 12 orang yang mendapat taufik baiat masuk ke dalam Jemaat Ahmadiyah.

Mubalig di Guinea Bissau menulis, “Dengan karunia Allah, banyak mubayiin baru yang setelah menerima Ahmadiyah, mereka terus bertablig di daerahnya masing-masing dan kepada karib kerabatnya.”

Di kesempatan Jalsah Salanah UK yang penuh berkat ini, tatkala para anggota diseru untuk menyimak acara-acara Jalsah, para mubayiin baru itu pun secara khusus memanggil para sahabat dan kerabatnya untuk menyimak keempat pidato saya [Hudhur]. Mubalig ini menuturkan bahwa orang-orang datang dari 18 sampai 30 kilometer kemari dengan bersepeda hingga berjalan kaki. Kebanyakan mereka datang untuk menyimak pidato di hari pertama. Namun tatkala mereka mendengar pidato saya di hari pertama, keinginan mereka berubah dan mereka ingin tinggal sampai hari ketiga.

Terkait:   Jalsah Salanah Jerman 2019

Setelah menyimak pidato penutupan, mereka menuturkan, “Khalifah Anda telah memenangi hati kami, dan Islam yang beliau sampaikan sungguh adalah Islam sejati.”

Di kesempatan ini, 127 pria beserta wanita masuk ke dalam Ahmadiyah. Diadakan juga baiat secara bersama.

Dari Kongo, Ibrahim Sahib, Mu’allim Jemaat menuturkan, “Seorang kawan Kristen bernama Mokongga Cini Sahib diajak untuk melihat Jalsah. Ia pun menghadiri Jalsah bersama istrinya. Setelah menyaksikan Jalsah, ia berkata ke istrinya, ‘Saya menganggap bahwa ajaran dan bimbingan seperti ini tidak akan kita temui dimanapun. Kita telah menyia-nyiakan kehidupan kita yang panjang di Kristen. Apa yang kita pelajari selama 3 hari di sini tidak akan dapat kita temui meski dengan berguru seumur hidup di Kristen. Yang terbaik bagi kita kini ada di sini yaitu kita masuk ke dalamnya.’ Alhasil suami istri tersebut pun baiat masuk ke dalam Jemaat.”

Mubalig Incharge Guinea Bissau menulis, “Kamba Jao Sahib, kawan bukan Ahmadi yang berasal dari provinsi Bafta, menyaksikan 3 hari pelaksanaan Jalsah Salanah UK, dan menyimak pidato-pidato saya [Huzur], lalu menuturkan, ‘Saat ini Islam membutuhkan satu pemimpin, dan kini ada pada Jemaat Ahmadiyah dalam corak Khalifah dan di bawahnyalah segenap dunia Islam dapat bersatu.’ Ketika Jalsah selesai, ia pun segera baiat masuk ke dalam Ahmadiyah.”

Dari Kongo Brazzaville, Anggutani Sahib, seorang kawan Kristiani menuturkan, “Saya sebenarnya tidak menaruh perhatian terhadap agama tertentu, karena saat melihat Kristen, saya menganggap bahwa orang beragama tidaklah bersikap tulus. Saudara laki-laki saya telah sebelumnya masuk Jemaat. Ia mengundang saya menghadiri Jalsah dan saya pun hadir untuk memenuhi ucapannya. Seiring saya terus menyimak acara Jalsah, di dalam diri saya lahir suatu perubahan dan perhatian kepada agama. Pertama kali saya mendengar pidato Khalifah, saat itu pula hati saya bersaksi bahwa agama adalah kebenaran. Agama yang sejati mampu meluluhkan hati. Saat itu pun pertama kalinya saya menerima Jemaat Islam Ahmadiyah sebagai keyakinan [bagi saya].”

Dari Nigeria, seorang sahabat bukan Ahmadi mendapat taufik berbaiat setelah menyaksikan Jalsah. Ia menuturkan, “Setelah menyaksikan acara Jalsah, saya sangat tertarik karena inilah kebenaran yang terus saya cari dan kini saya menemukannya. Sekarang, saya ingin berbaiat.”

Dari Senegal, Muzaffar Iqbal Sahib menuturkan bahwa di Provinsi Anbur, pidato-pidato saya (Hudhur) selama 3 hari Jalsah ditayangkan di 1 televisi dan 4 radio secara langsung. Di satu radio, ada seorang moderator yang segera menerima Ahmadiyah setelah mendengar pidato-pidato tersebut; moderator itu sangat berilmu dan masyhur di kalangan masyarakat. Ia menuturkan, “Sebelum ini saya banyak mendengar tentang Jemaat, namun kini setelah mendengar sabda Imam Jemaat, saya menemukan hal yang sebenarnya, dan kini saya masuk ke dalam Jemaat Ahmadiyah.” Di hari itulah beliau baiat bersama keluarganya.

Di Kamerun, seorang Imam setempat dari Marwa menuturkan tentang Jalsah, “hal terpenting di Jalsah ini adalah pidato-pidato Imam Jemaat. Setiap sabda Khalifah Ahmadiyah berdasar atas Al-Qur’an dan hadits. Beliau memberi pengaruh sangat dalam pada kalbu saya. Jemaat dan Khalifah ini sungguh berasal dari Tuhan. Hati saya telah tentram, dan kini saya bersama sahabat-sahabat saya telah baiat masuk ke dalam Jemaat”. (dengan karunia Allah, diantara orang-orang yang memandang secara adil, ada juga para Ulama. Mereka melihat kebenaran dan menerimanya)

Di Mali, beberapa orang bukan Ahmadi pun baiat setelah melihat Jalsah. Sebelum Jalsah, di radio Jemaat ditayangkan berbagai program terkait Jalsah, dan setiap harinya terus diumumkan tentang acara Jalsah. Mereka menuturkan, “Kami telah mengundang setiap orang agar datang ke kantor misi untuk menyaksikan Jalsah. Maka dari itu, banyak warga bukan Ahmadi, selain anggota Jemaat yang datang untuk menyaksikan Jalsah. Di hari terakhir Jalsah, ada 4 orang yang baiat masuk ke dalam Jemaat. Mereka adalah tokoh yang berpendidikan dan mereka menuturkan, ‘Sudah sejak lama kami menyimak banyak radio di berbagai kota, dan kami telah menaruh perhatian khas pada Ahmadiyah. Tatkala kami mendengar dari radio terkait Jalsah, kami pun mencari tahu dan bermaksud menyaksikan Jalsah.’

Setelah melihat Jalsah mereka menuturkan, ‘Kesuksesan dan kemajuan Islam terpaut hanya dengan Ahmadiyah. Islam yang tengah disodorkan oleh Ahmadiyah di seluruh dunia adalah Islam yang hakiki dan sejati. Yang terpenting adalah, umat Islam kini membutuhkan satu Khalifah yang sanggup membimbing mereka. Dan di zaman ini, hal ini telah berjalan melalui Khilafat Ahmadiyah.’”

Mereka pun berkata, “Kami kini adalah Ahmadi sejati yang telah memberi candah setiap bulannya yang merupakan keharusan bagi seorang Ahmadi. Kami siap memberi candah setiap bulannya untuk mengkhidmati agama”.

Amir Sahib Mali menulis, “Banyak sahabat bukan Ahmadi datang ke berbagai rumah misi untuk menyaksikan penayangan Jalsah. Di hari ketiga Jalsah, tatkala ditayangkan video dokumenter terkait pemandangan baiat-baiat sebelumnya yang menyentuh iman, beberapa non-Ahmadi yang berpendidikan diantara mereka bertanya tentang apakah syarat-syarat baiat. Di waktu istirahat, muallim sahib menyampaikan terjemah syarat-syarat baiat dalam bahasa setempat. Tokoh non-Ahmadi itu menuturkan, ‘Ini adalah ringkasan Islam, dan ini adalah petunjuk terbaik untuk menjalani kehidupan bermasyarakat.’ Ia menambahkan, ‘Setiap orang sangat perlu untuk mengamalkannya.’ Alhasil setelah Jalsah, beliau pun baiat.”

Di Ghana, orang-orang mengikuti Jalsah melalui live streaming. Jalsah ini telah diselenggarakan di area hijau Bustan-e-Ahmad Accra. Dikatakan bahwa suasana [Jalsah] sangatlah indah dan patut dipuji. Baik pria maupun wanita disediakan dua tempat dengan dua layar video yang besar untuk menyaksikan pemandangan Jalsah secara langsung. Selama tiga hari, sekitar 2.500 anggota baik pria maupun wanita menghadiri Jalsah. Jalsah pun diselenggarakan secara besar di masjid pusat Ahmadiyah di Kumasi. Ada lebih dari 2000 orang yang hadir di sana selama tiga hari. Di Wa, provinsi Upper West, telah diselenggarakan penayangan bersama Jalsah Salanah di 12 masjid. Selain di tempat tersebut, acara ini pun serentak diadakan di 14 tempat di provinsi-provinsi lainnya. Di kota Wa ada 12 tempat, dan 14 tempat lain ada di provinsi lainnya. Alhasil, di sini pun ada lebih dari 2000 orang yang mendengarkan secara bersama. Selain melalui MTA Afrika dan MTA Ghana, pelaksanaan Jalsah pun dapat disimak di 3 saluran televisi lain di Ghana.

Akram Ali Al-Kahlani Sahib dari Yaman menuturkan, “Sekarang, Hadhrat Khalifah telah meniupkan kehidupan baru di dalam ruh dan kalbu kami melalui Jalsah ini dan pidato-pidato beliau. Air mata mengalir dari mata kami. Semua pertanyaan kembali kepada kami, dan hati yang keras telah berubah lunak. Jika segenap masyarakat mendengarkan pidato Hadhrat Khalifah kepada para wanita, dan secara utuh berupaya mengamalkannya, maka semua kekisruhan akan 100 persen terselesaikan. Demikian pula, ceramah terakhir terkait pengaturan Jalsah sangatlah mengesankan. Segenap pengaturan ini tidak ada bandingannya di dunia. Segenap wajah tampak tersenyum bahagia. Ini adalah karunia Tuhan yang telah mencipatkan Jemaat ini.”

Dari Yaman, Yamir Ali Sahib menuturkan, “Tiga hari Jalsah ini adalah id bagi kami, karena kami telah menyaksikan turunnya karunia-karunia Allah Ta’ala dan sempurnanya janji-janji Hadhrat Masih Mau’ud (as) melalui Jalsah ini, hari demi hari keimanan kami terhadap Khilafat Ahmadiyah semakin bertambah, karena kami menyaksikan bagaimana dukungan Allah Ta’ala senantiasa ada bersama Khilafat Ahmadiyah. Di luar Khilafat, tidak ada lagi kecuali kegelapan. Tidak semua diantara kita dapat hadir secara jasmani di dalam Jalsah, namun hati kami senantiasa bersama engkau, dan kami tengah merasakan udara rohani yang suci dari Jalsah ini seolah kami pun berada di sana.”

Ia mengatakan, “Dengan melihat Anda (Hudhur) dan mendengar segala nasihat Anda, timbul gejolak yang tidak dapat diungkapkan dalam kata-kata. Ini sangat membekas di hati saya. Saya meraih banyak manfaat dari pidato-pidato. Kini lahir perhatian khas dalam diri untuk memenuhi tanggung jawab yang banyak ini. Saya pun menyadari banyak kesalahan dan kelalaian yang saya lakukan. Pemandangan para Ahmadi yang berasal dari berbagai negara lalu bersatu di dalam Jalsah ini, membangkitkan gejolak perih di hati saya, dan saya pun berdoa semoga Allah Ta’ala segera menganugerahkan kepada Yaman satu tempat agar kami dapat berkumpul bersama menghadiri Jalsah.”

Dari Yordania, Hamid sahib menuturkan, “Setiap tahunnya, orang-orang dari segenap negara menghadiri Jalsah dan menjadi saksi pemenuhan kebenaran nubuatan Hadhrat Masih Mau’ud (as). Jalsah tahun ini memiliki satu kelebihan, karena di tahun ini, melalui Internet dan MTA, segenap Ahmadi di seluruh dunia secara luas bersama-sama menghadirinya. Allah Ta’ala menolong Jemaat ini di setiap keadaan, karena ini adalah Jemaat yang benar. Saya melihat keberadaan Hadhrat Khalifah di Jalsah tahun ini sebagai satu pemandangan kasyaf rohani, atau perwujudan surga di dunia ini, yang buahnya telah kita nikmati di tiga hari tersebut. Bagi tabligh Islam yang hakiki, ini seolah terasa sebagai satu naungan samawi yang didirikan di tengah nuansa rohani.”

Dari Syam (Suriah dsk), Muhammad Badar Sahib menuturkan, “Di dalam Jalsah ini, segenap Ahmadi Muslim di bawah kepemimpinan Hadhrat Khalifah , bersatu di bawah bendera Jemaat meskipun berbeda mereka warna, keturunan, maupun budaya.”

Ia menambahkan, “Firman Allah Ta’ala ini terbukti benar atas mereka; yaitu, seandainya engkau membelanjakan segenap khazanah dunia, maka engkau tidak akan sanggup menyatukan hati mereka, melainkan Allah Ta’ala-lah yang menjalinkan hati mereka satu sama lain. Ini adalah ayat Al-Qur’an. Maka betapa besar karunia Allah atas kita.”

Kemudian beliau menuturkan, “Dari wajah para peserta Jalsah tercurah perasaan cinta.”

Beliau menuturkan, “Dalam Jalsah juga sangat dirasakan ketenangan dan kedamaian. Saya merasa bahwa kita semua para Ahmadi di samping pemimpin rohani kita, seperti berada di sebuah oasis rohani yang terletak di tengah gurun, yang di dalamnya hanya ada ketentraman dan ketentraman, serta kedamaian dan kedamaian. Saya dengan kuat merasakan bahwa saat ini dalam diri saya terdapat banyak sekali kelemahan dan saya harus berupaya keras untuk menciptakan perbaikan-perbaikan dalam diri saya. Saya harus meraih standar tinggi ketakwaan, mendahulukan agama di atas dunia dan demi memperbaiki kehidupan keluarga, saya harus bersikap penuh kecintaan dan kelemah lembutan kepada wanita.”

Dari Jerman, Abdurrahman Sahib yang berkebangsaan Libanon mengatakan, “Saya menyimak tiga hari prosesi Jalsah di Masjid Berlin bersama para anggota Jemaat. Saya merasakan suasana rohani Jalsah. Kami mengambil banyak faedah dari Jalsah. Kelemahan dalam kerohanian yang tengah kami rasakan, kini telah kembali.”

Umar Sahib dari Tepi Barat, Palestina menuturkan, “Saya berharap Jalsah ini dilaksanakan setiap hari, sehingga kami bisa menjadi seperti para Nabi dan para wali. Itu adalah satu perasaan yang unik. Saya duduk berkumpul menyimak Jalsah bersama saudara-saudara lainnya. Ada satu suasana cinta dan persaudaraan.”

Ridhwan Syahid Sahib dari Pantai Gading menulis, “Ketua Jemaat Mashar, Pantai Gading menyampaikan pemandangan yang paling berkesan di Jalsah adalah, Jemaat Ahmadiyah di seluruh dunia bersatu di bawah bendera Khilafat dan asyik dalam ketaatan pada Khilafat. Di satu tempat sedang siang hari, di tempat lain sedang tengah malam, semuanya menyimak sepenuhnya pidato dari Khalifah -e-waqt dan menyegarkan kembali keimanan mereka.”

Amir Nasional Kirgistan, Ilyas Kurbatov menuturkan, “Di dalam Jalsah disampaikan pidato-pidato yang dengan mendengarnya saya tidak bisa mengendalikan perasaan dan air mata mengalir dari mata saya. Saya menyaksikan Jalsah Salanah di YouTube dan saya sangat senang ketika melihat komunitas saudara-saudara saya di YouTube yang saling menyampaikan ucapan Jalsah mubarak [selamat Jalsah!] satu sama lain dan saling memberikan pesan kedamaian. Semua saudara-saudara ini berasal dari berbagai bangsa, seperti Rusia, Ukraina, Armenia, Tatar, Kazakhstan, Kirgistan, dsb. Pemandangan ini sangat menggetarkan jiwa.”

Seorang kawan Ahmadi dari Nigeria, Sulaiman Sahib menuturkan, “Merupakan suatu kehormatan bagi saya dapat menyimak secara langsung Khotbah Khalifah -e-Waqt dalam bahasa ibu saya, Hausa. Edisi bahasa Hausa di MTA 5 telah menyemarakkan Jalsah kami dan bagi kami Jalsah ini sekaligus juga Ied. Dapat menyimak sabda Khalifa-e-Waqt dalam bahasa Hausa adalah satu kemewahan bagi kami yang kelezatannya hanya bisa dipahami oleh penutur bahasa Hausa. Kali ini adalah pertama kalinya diterjemahkan secara langsung ke dalam bahasa Hausa.”

Seorang kawan dari satu Jemaat di Indonesia, Suwitono Sahib menuturkan, “Setelah menyaksikan Jalsah dan menyimak pidato-pidato Khalifah, dalam keluarga kami timbul satu ruh kecintaan kepada Khilafat. Kami melihat contoh luhur persaudaraan kemanusiaan yang tidak dapat ditemui di tempat lain di dunia ini. Khilafat benar-benar terbukti menjadi perwujudan cinta dan perdamaian di antara umat manusia melampaui ras dan warna kulit.”

Atif Zahid Sahib dari Australia menuturkan, “Siaran langsung pidato pembukaan dimulai pukul 00.45, meskipun demikian orang-orang menyimak prosesi Jalsah dengan penuh perhatian. Mereka secara bersama-sama datang ke sana dan seorang kawan membawa putranya yang masih kecil, setelah mereka menyimak Khotbah Jum’at yang selesai pada pukul 10.30, beliau memerintahkan putranya untuk pulang ke rumah. Putranya berkata, ‘Tidak, saya akan duduk di sini mendengarkan pidato.’ Lalu ia pun duduk hingga malam hari.”

Beliau menuturkan, “Pidato penutupan Jalsah dimulai pada minggu tengah malam dan keesokan harinya adalah hari kerja sehingga ada kekhawatiran orang-orang tidak akan datang ke masjid. Namun, dengan karunia Allah Ta’ala, para anggota Jemaat dalam jumlah besar datang untuk menyimak pidato penutupan dan bahkan jumlahnya melebihi kehadiran di sesi pembukaan.”

Seorang kawan dari Brazil, Ibrahim Sahib yang berasal dari Guinea Bissau. Beliau pergi ke Brazil untuk menempuh pendidikan. Beliau menuturkan, “Satu hal yang secara khusus menjadi fokus perhatian saya dan yang ingin saya sampaikan secara khusus adalah Nizam Khilafat, yang di bawah Nizam itu dalam satu waktu orang-orang dari berbagai negara saling berjumpa satu sama lain, mereka bersama-sama mendengar dan menyaksikan pidato-pidato dan acara-acara Jalsah. Ini adalah bukti hanya Jemaat Ahmadiyah-lah satu-satunya Jemaat yang benar-benar mewakili Islam, dan jika Imam Mahdi tidak datang, persatuan dan kesatuan di antara kita ini tidak akan terwujud. Saya bersyukur kepada Allah Ta’ala bahwa melalui Jalsah ini banyak kemajuan dalam keilmuan dan saya bersyukur kepada Allah Ta’ala telah menjadi anggota dari Jemaat ini.”

Terkait:   Perkembangan Ahmadiyah Ahmadiyah dalam Setahun (2021)

Atakhanova Dilyara Sahibah dari Kirgistan menulis, “Mendengarkan dan menyaksikan pidato-pidato penceramah dengan ketulusan sangatlah menarik. Dengan mendengarkan pidato-pidato Khalifah membuat saya tenggelam dalam suatu dunia yang di dalamnya tengah berlangsung kebangkitan Islam yang kedua. Kita semua dalam corak satu keluarga bersama-sama mendengarkan pidato-pidato Khalifah, khususnya pidato Khalifah -e-Waqt untuk para lajnah yang di dalamnya menjelaskan mengenai hak-hak perempuan dalam Islam. Dengan mendengar pidato Khalifah, kami ingin lebih bersujud di hadapan Allah Ta’ala, bahwa bagaimana Allah Ta’ala telah melindungi kami para wanita. Pidato-pidato membuat kami diliputi gejolak perasaan.”

Byron Sahib dari Guetamala menuturkan bahwa, “Hari Jalsah adalah satu hari yang istimewa dan tidak kurang dari suatu mukjizat, karena beberapa waktu sebelum Jalsah banyak anggota Jemaat Guetamala yang sakit karena virus Corona dan beberapa orang keadaannya cukup mengkhawatirkan, namun hari ini semua anggota di Guatemala duduk di sini bersama-sama menyimak Jalsah dan tidak ada seorangpun yang sakit. Ketika saya masih Kristen, gambaran dari mukjizat sangat aneh, setelah saya masuk Jemaat Ahmadiyah, saya memahami hakikat mukjizat bahwa mukjizat yang sejati adalah menciptakan satu perubahan suci dalam diri manusia. Setahun yang lalu saya pergi ke masjid sendirian, tidak mungkin rasanya keluarga saya pergi ke masjid dan menerima Islam. Hari ini saya mengajak istri, anak-anak, kakak, saudara ipar beserta keluarganya dan duduk menyimak Jalsah dan tentu saja saya menganggap ini sebagai satu mukjizat.”

Beliau ini adalah seorang Ahmadi yang tulus ikhlas dan bersahaja serta berpenghasilan sederhana, namun memiliki semangat tinggi dalam bertabligh. Kemana pun pergi beliau selalu bertabligh dan mengundang banyak orang untuk berkunjung ke mesjid dengan biaya beliau sendiri.

Ramiro Martinez Sahib yang juga dari Guatemala menuturkan, “Hari ini sangat istimewa bagi saya. Dengan menyaksikan Jalsah UK dan tayangan video dari berbagai tempat saya menjadi yakin bahwa nizam internasional ini adalah nizam Ilahi. Khalifah-e-Waqt benar-benar berbicara dari Allah Ta’ala yang mana menyampaikan kepada kita bagaimana seharusnya Muslim tampil di masyarakat. Saya merasa sangat senang. Kedepannya saya akan senantiasa menyimak pidato dari Khalifah.”

Beliau selama dua puluh lima tahun mengajarkan bibel dan menjadi anggota berbagai sekte Kristen, namun selalu berpindah-pindah dari satu sekte ke sekte lain dikarenakan perselisihan. Setelah meneliti sendiri beliau kemudian menerima Islam Ahmadiyah. Rumah beliau sejauh 20 km dari masjid. Sejak menerima Ahmadiyah, beliau hanya satu kali melewatkan shalat jum’at dikarenakan mobilnya rusak, selebihnya beliau secara dawam hadir dalam shalat Jum’at dan mengatur shalat lima waktu di rumahnya.

Eveline Benzelis dari Guatemala menuturkan, “Dengan hadir secara langsung dalam Jalsah UK saya mengetahui bahwa Jemaat Ahmadiyah memiliki satu nizam. Semuanya nampak dirangkai dengan satu tali dan saya bersyukur kepada Allah Ta’ala bahwa Dia telah memberikan kita kesempatan menjadi bagian dari nizam ini. Saya menyesalkan bahwa sebagian besar dunia mahrum dari menyimak sabda-sabda Khalfah-e-Waqt, dikarenakan hal ini ada banyak permasalahan di dunia dan juga peperangan. Setelah masuk Ahmadiyah saya memahami bahwa, dengan doa semuanya menjadi mungkin dan banyak sekali permasalahan kita yang terpecahkan dengan doa. Berkat doa Khalifah-e-Waqt rumah saya yang telah hancur menjadi selamat. Pada saat itu saya tidak bisa mengatakan apa-apa selain berterima kasih kepada Khalifah -e-Waqt.”

Beliau menuturkan, “Dikarenakan ikut serta untuk pertama kalinya saya bisa mengatakan ini adalah tahun kesuksesan dan kemenangan bagi saya. Kami belumlah sempurna, namun satu perjalanan rohani kami telah dimulai. Di masa mendatang pun saya akan selalu ikut serta dalam Jalsah setiap tahun.”

Seorang kawan Ahmadi dari Nigeria, Isa Baba mengatakan, “Saya dalam khotbah mendengar mengenai keramahan terhadap tamu bahwa bagaimana Imam Mahdi (as) mengutamakan kenyamanan tamu-tamunya di atas kenyamanan beliau sendiri dan Khalifah-e-Waqt menyampaikan contoh bagaimana Hadhrat Masih Mau’ud (as) memberikan tempat tidurnya sendiri untuk kenyamanan para tamu, sedangkan beliau melewati sepanjang malam dengan kesulitan. Dan kemudian saya melihat contohnya dalam Jalsah, bagaimana suasana persaudaraan telah tercipta. Para Khudam mengeluarkan mobil-mobil yang terjerembab ke dalam lumpur tanpa mempedulikan diri sendiri. Mungkin inilah persaudaraan, yang dikarenakan kurangnya persaudaraan ini, pada hari ini orang-orang Islam menelan kehinaan di dunia dan Khalifatul Masih telah memberitahukan solusinya kepada kita.”

Shomad Ghauri Sahib dari Albania menulis, “Seorang teman, Dokter Byar Sahib menyampaikan, ‘Selain pidato-pidato Khalifah -e-Waqt, saya juga menyaksikan program-program Jalsah Salanah UK lainnya. Di masa sekarang ini Jalsah Salanah adalah sesuatu kebutuhan yang sangat penting untuk memberikan hidayah bagi orang-orang.’”

Beliau menuturkan, “Pidato Khalifah-e-Waqt disampaikan dalam bahasa yang sangat sederhana namun membawa satu pesan agung berkenaan dengan masa sekarang ini. Di masa ini ketika semua norma-norma akhlak telah dirusak dan orang-orang mengatakan bahwa mereka akan memberikan hak-hak kemanusian dan menyelamatkan dunia, namun mereka lupa bahwa asas ini sebenarnya telah ditegakkan oleh Hadhrat Rasulullah (saw) 15 abad sebelumnya, yang mana pada hari ini yang menjadi pelopornya adalah Jemaat Ahmadiyah.

Di antara pemandangan yang saya saksikan di Jalsah Salanah kali ini, pemandangan pengkhidmatan yang dilakukan oleh Jemaat Ahmadiyah dan Humanity First di daerah-daerah terpencil Afrika telah membuat saya sangat terkesan. Mata yang berbinar-binar dari anak-anak ini telah menyingkapkan tabir dari kenyataan bahwa di hadapan mereka kata-kata dan propaganda-propaganda para pemimpin besar dunia tidaklah penting, mata-mata mereka menghendaki kehidupan, dan air adalah kehidupan yang mereka nikmati untuk pertama kalinya.”

Berkenaan dengan pesan-pesan ucapan selamat yang diterima pada kesempatan Jalsah Salanah, selain dari UK, juga diterima 109 pesan ucapan selamat dari figur-figur penting dari 9 negara. Termasuk di dalamnya pesan-pesan dalam bentuk video, audio maupun tulisan. Selain UK (Britania Raya), nama-nama negara yang darinya diterima pesan diantaranya adalah Amerika, Siera Leone, Gambia, Senegal, Kenya, Spanyol, Belanda, dan Jerman.

Perdana Menteri Inggris, Perdana Menteri Kanada, Pimpinan Partai Buruh Inggris, Pimpinan Partai Liberal Demokrat Inggris, demikian pula banyak lagi politisi lainnya juga menyampaikan ucapan selamat. Kemudian diterima juga pesan-pesan dari 8 menteri pemerintah, 12 anggota kabinet bayangan (partai oposisi), 4 mantan sekretaris negara, Komisaris Polisi London, 6 pemimpin nasional keagamaan dan 13 walikota. Selain itu diterima pesan dari orang-orang dari berbagai lapisan masyarakat.[1]

MTA Afrika melaporkan seperti halnya tahun-tahun yang sebelumnya, tahun ini pun melalui MTA Afrika, Jalsah Salanah UK disiarkan dan disimak di seluruh Afrika, yang mana kita pun telah melihat kesan-kesan dari orang-orang. Dengan karunia Allah Ta’ala, selain MTA Afrika, siaran Jalsah Salanah juga disiarkan di berbagai channel TV lokal. Tahun ini pidato-pidato saya disiarkan secara langsung di 14 Stasiun Televisi di Gambia, Sierra Leone, Liberia, Ghana, Uganda, Mali, Ruwanda, Burundi, Senegal dan Burkina Faso. Diperkirakan pesan Islam sampai kepada lebih dari 55 juta orang. Para tamu asing dari Afrika yang tidak bisa hadir dikarenakan Virus Corona, mereka meminta untuk diberikan kesempatan hadir.

Untuk pertama kalinya dilakukan penerjemahan ke dalam bahasa Hausa. Bahasa ini digunakan oleh lebih dari 50 juta orang di Afrika. 16 Channel TV di Afrika menyiarkan berita mengenai Jalsah Salanah UK. Jumlah yang menyaksikan channnel-channel tersebut sebanyak 60 juta orang.

Muballigh dari Uganda, Zaki Sahib menulis, “Para penentang sebelumnya telah memulai propaganda menentang Jemaat di media sosial. Mereka mengatakan bahwa para Ahmadi mempunyai Al-Qur’an sendiri, dsb. Oleh karena itu jangan simak Jalsah. Ketika Jemaat mengumumkan ajakan menyimak Jalsah, maka mereka memulai propaganda bahwa, “Janganlah dengarkan Jalsah, karena mereka Qur’annya lain.” Akibat dari propaganda ini di Uganda timbul perhatian dari orang-orang dalam jumlah yang besar terhadap Jalsah Salanah. Efeknya menjadi terbalik dan banyak sekali orang-orang bukan Ahmadi yang mengungkapkan bahwa dikarenakan propaganda menentang Jemaat ini-lah kami menyelidiki mengenai Jalsah Salanah dan setelah menyaksikan Jalsah hati kami berubah dan kami menjadi tahu bahwa Al-Qur’an para Ahmadi adalah sama, bahkan mereka memiliki kecintaan yang lebih terhadap Al-Qur’an dibandingkan orang lain.

Seorang kawan Katolik dari Uganda menulis, “Saya menyaksikan pengumuman Jalsah di TV nasional, bahwa di UK sedang berlangsung suatu Konferensi Islam. Atas hal itu saya merasa bahwa saya harus melihatnya, Konferensi seperti apa ini? Lalu pada hari sabtu saya menyetel TV, maka saya melihat seseorang dengan serban putih yang sedang menyampaikan pidato. Saya mulai mendengarkan pidato dan tidak bisa beranjak dari depan TV, dan saya menyimak seluruh pidato dari awal hingga akhir.”

Beliau menuturkan, “Saya tidak pernah mendapati ajaran-ajaran Islam mengenai perempuan di manapun dan saya tidak pernah melihat seseorang sedemikian rupa menyuarakan berkenaan dengan hak-hak perempuan. Beliau pada waktu itu menghubungi nomor yang tertera di layar dan mengatakan, ‘Saya menginginkan naskah dari pidato ini.’ Yakni pidato berkenaan dengan para wanita. Oleh karena itu in syaa Allah akan dikirimkan kepada beliau.”

Seorang kawan bukan Ahmadi, Abdullah Kowi Sahib dari Liberia menuturkan, “Tujuan saya menyaksikan program Jalsah adalah untuk mengetahui perbedaan antara Muslim Ahmadi dengan Muslim-muslim lainnya dan menjadi jelas bagi saya bagaimana hakikat yang dikatakan para Ulama bukan Ahmadi mengenai Jemaat Ahmadiyah. Setelah menyaksikan Jalsah saya sepenuhnya yakin bahwa semua propaganda negatif terhadap Ahmadiyah adalah dusta. Faktanya, melalui Jemaat Ahmadiyah pesan Islam tengah sampai kepada dunia dan saya menganggap ini sebagai tanggung jawab saya untuk memberitahukan hakikat ini kepada orang lain bahwa hanya Jemaat Ahmadiyah yang pada hakikatnya tengah menyebarkan agama Islam.”

Seorang kawan bukan Ahmadi dari Liberia juga menuturkan, “Atas dasar toleransi keagamaan, saya ikut serta untuk menyaksikan prosesi Jalsah. Ketika saya membaca ayat Al-Qur’an yang tertulis di kain penutup panggung, ini sangat mengherankan bagi saya, bahwa para Ulama bukan Ahmadi biasa menyiarkan mengenai orang-orang Ahmadi bahwa Ahmadi tidak mengakui Rasulullah (saw) sebagai Khaatamun Nabiyyiin dan tidak menghormati beliau (saw), namun kebalikan dari semua itu, para Ahmadi sedang menyiarkan kecintaan kepada Rasulullah (saw) ke seluruh dunia, dan sebagaimana Khalifah Jemaat Ahmadiyah menyampaikan mengenai ajaran Al-Qur’an Karim dan berulangkali menyebutkan mengenai Rasulullah (saw) dalam pidatonya dan berbicara mengenai kecintaan kepada Rasulullah (saw), ini merupakan bukti tuduhan mereka itu tidak benar.”

Dengan karunia Allah Ta’ala terdapat juga peliputan dari pers dan media, dan BBC menyiarkan liputannya di TV daerah mereka. BBC South menyiarkannya dan menayangkan juga satu dokumenter dan berita ini juga disiarkan oleh BBC World yang disaksikan di 200 negara. Selain itu berita ini juga disiarkan di channel BBC National News dan terus menerus diulang.

Sulit untuk menyampaikan jumlah tepat kepada berapa orang pesan ini sampai, namun berdasarkan satu perkiraan liputan ini menjangkau hingga 52 juta orang. 40 website menyiarkan berita mengenai Jalsah. Pembaca mereka berjumlah 27 juta orang. Di 20 surat kabar dimuat artikel mengenai Jalsah. Jumlah pembaca mereka sebanyak 735.000 orang. 16 program radio menyiarkan mengenai Jalsah. Pesan sampai kepada 16 juta orang. Demikian juga 12 Channel Televisi menyiarkan berita mengenai Jalsah yang menjangkau 2.2 juta orang. Selain melalui sarana-sarana tersebut, melalui media sosial juga pesan sampai kepada kurang lebih 6.3 juta orang.

Bapak Amir Bangladesh menuturkan, “Di masjid pusat di Dakka dan di Narayan Ganj Brahman Barian, Chittagong dilakukan siaran langsung Jalsah. Berdasarkan laporan, lebih dari 800 orang tamu bukan Ahmadi menyimak acara Jalsah dan mengambil manfaat. Sejumlah 10 portal media online dan surat kabar menyiarkan berita mengenai Jalsah disertai dengan foto-foto. Tiga diantaranya sangat populer dan terkenal. Berdasarkan perhitungan yang hati-hati, melalui portal-portal berita online dan surat kabar-surat kabar kurang lebih 5.4 juta orang membaca berita-berita ini.”

Selanjutnya jangkauan melalui MTA Internasional. Sebanyak lebih dari 15 juta orang mengunjungi akun kita di YouTube dan MTA disaksikan kurang lebih selama 500.000 jam melalui YouTube. 35.000 orang melihat halaman MTA di Instagram dan menjangkau 197 juta orang. Di twitter lebih dari 100.000 orang melihat halaman MTA. Lebih dari 35.000 orang menyukainya dan membagikannya kepada yang lain. Melalui Facebook pesan sampai kepada 5.5 juta orang. Demikian juga website MTA dilihat sebanyak 100.000 kali. Melalui MTA on demand juga sebanyak lebih dari 200.000 orang menyaksikan Jalsah.

Inilah beberapa hal secara ringkas. Ini juga cukup memakan waktu. Semoga Allah Ta’ala juga menimbulkan dampak-dampak lainnya dari Jalsah dan pada diri orang-orang yang berftirat baik timbul perhatian yang lebih dari sebelumnya terhadap Islam yang hakiki. Semoga Allah Ta’ala menjaga Jemaat dan orang-orang yang berfitrat baik dari kejahatan para Maulwi.

Khotbah II

اَلْحَمْدُ ِللهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا – مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ – وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ – عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ – أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ

Penerjemah: Mln. Mahmud Ahmad Wardi, Syahid (London-UK), Mln. Hasyim dan Mln. Fazli ‘Umar Faruq.

Editor: Dildaar Ahmad Dartono. Rujukan pembanding: https://www.Islamahmadiyya.net (bahasa Arab)


[1] https://www.parliament.uk/site-information/glossary/shadow-cabinet/ Di sejumlah negara, Kabinet bayangan adalah sebuah badan berisi juru bicara senior yang dibentuk oleh pihak pemimpin oposisi dengan struktur yang menyerupai (atau membayangi) struktur kabinet yang dibentuk pemerintah. Tiap-tiap anggota kabinet bayangan harus mengamati kinerja setiap menteri pemerintah dan bilamana perlu mempertanyakan kebijakan yang diambil. Tujuan pembentukan kabinet bayangan ialah menjadikan partai oposisi ahli dan siap menggantikan bila kabinet pemerintah jatuh atau kalah pemilu. Menteri bayangan yang tidak bekerja baik juga bisa diganti. Kabinet bayangan dipraktikkan secara mapan dan mentradisi di Inggris, Selandia Baru, Kanada dan Amerika Serikat. Pada masa kepresidenan SBY di Indonesia di tahun 2007 juga dibentuk Koalisis Muda Parlemen Indonesia berisi 35 nama anggota Kabinet bayangan tanpa presiden dan wakil presiden. https://www.antaranews.com/berita/79463/kabinet-bayangan-juga-mengenal-reshuffle

Di tahun 2009, beberapa aktifis muda partai juga membentuk kabinet bayangan dengan Presiden Budiman Sujatmiko dan Wakil Presiden Poempida Hidayatullah.

Leave a Reply

Begin typing your search above and press return to search.
Select Your Style

You can choose the color for yourself in the theme settings, сolors are shown for an example.