KEBERKATAN-KEBERKATAN NIZAM JEMAAT DAN KEWAJIBAN KITA

Oleh: Naseer Ahmad Qamar (Additional Wakilul Isyaat, UK)

“Dan berpegangteguhlah kamu sekalian pada tali Allah, janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah atasmu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan, lalu Dia menyatukan hatimu dengan kecintaan antara satu sama lain maka dengan nikmat-Nya itu kamu menjadi bersaudara, dan kamu dahulu berada di tepi jurang Api lalu Dia menyelamatkanmu darinya. Demikianlah Allah menjelaskan Ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali Imran 3: 104)

Saya dihadapan Anda sekalian akan menyampaikan ulasan ringkas berjudul

“Keberkatan-Keberkatan Nizam Jemaat dan Kewajiban-Kewajiban Kita”

Kata jemaat bermakna kumpulan orang yang telah bersatu dan sepakat untuk bekerja bersama di bawah satu sosok imam; dan mereka pun bekerja di bawah satu program yang sama. Saat ini, jumlah umat Islam di seluruh dunia, sesuai dengan perkiraan adalah sebanyak 1,8 milyar. Tetapi, apakah saat ini umat Islam di seluruh dunia telah sepakat untuk bersama-sama bekerja di bawah sesosok figur? Atau apakah mereka memiliki satu program yang sama?

Amatilah lembaga-lembaga diluar Jemaat Muslim Ahmadiyah yang menamakan dirinya muslim, maka kita menyaksikan bahwa mereka telah terpecah dalam berbagai mazhab dan golongan, dan terdapat perselisihan yang sangat tajam diantara mereka sehingga tidaklah tampak gambaran persatuan diantara mereka. Adanya perselisihan, perpecahan, dan hilangnya persatuan ini mengakibatkan umat Islam dewasa ini menjadi ada dibawah belas kasih kaum lain, dan tampak seolah-olah bahwa kehinaan dan kemiskina telah menjadi kelaziman bagi mereka. Mereka telah terpecah dalam berbagai hal politik. Mereka telah terbagi dalam berbagai pemerintahan yang berbeda. Semua upaya mereka untuk bersatu justru menjadikan perbedaan diantara mereka semakin melebar. Diantara mereka tidak ada satu kekuatan yang dapat menyatukan suara mereka.

Adapun mengenai adanya satu program yang sama, para muslim gair Ahmadi tersebut pun tidak memiliki satu program yang sama, baik dalam hal politik, sosial, maupun keagamaan. Jadi, secara program pun para muslim gair ahmadi bukanlah merupakan satu jemaat. Mereka dapat disebut sebagai satu kumpulan manusia yang sangat besar, namun tidak dapat disebut sebagai satu jemaat.

Jika dikatakan bahwa ada juga organisasi seperti ‘Rabtah’ yang bertujuan untuk mempersatukan dunia Islam, dan ada juga banyak organisasi lain yang menamakan dirinya sebagai persatuan bagi umat muslim, tetapi sebenarnya mereka jauh dari persatuan yang hakiki. Mereka sepakat dalam ucapan, namun hati mereka penuh dengan iri, dengki, dan kebencian. Ayat:

terpenuhi pada diri mereka. Semua organisasi mereka pun memiliki lingkup dan kemampuan yang terbatas.

Kini, di muka bumi ini, hanya Jemaat Ahmadiyah lah satu-satunya jemaat internasional, yang dengan berpegang pada khilafat Islam hakiki, berbaiat pada satu imam dan khalifah, dan mereka sedemikian rupa bersatu dalam untaian kecintaan ilahi dan dalam rantai persatuan Islam yang hakiki, sehingga khalifah dan jemaat adalah wujud yang satu meskipun dengan nama yang berbeda, atau wujud yang satu meski dari sudut pandang yang berbeda. Kesatuan dan persatuan diantara mereka sangatlah dalam, kuat, dan mapan. Sekarang, di seluruh dunia ini, Jemaat Ahmadiyah lah satu-satunya jemaat yang kendatipun telah tersebar di 213 negeri, mereka tetap merupakan satu jemaat yang terpusat. Kalbu para ahmadi yang tersebar hingga pelosok dunia bertaut satu sama lain seolah merupakan satu tubuh yang memiliki bagian-bagian yang berbeda. Di negara manapun di dunia ini, tatkala seorang ahmadi tertimpa kezaliman dan kabar pilunya tersebar di seluruh dunia, maka segenap jemaat ikut dalam kepiluan itu; dan dibawah petunjuk imamnya, mereka pun bergerak demi mengatasinya. Kecintaan, belas kasih, dan persaudaraan yang semata demi Tuhan ini, telah Allah Ta’ala masukkan ke dalam kalbu mereka. Ini adalah khazanah yang tidak dapat diraih meski dengan segenap perbendaharaan langit dan bumi. Hubungan cinta kasih ini pun merupakan satu modal yang dimiliki jemaat, dan satu kekuatan jemaat yang tidak sanggup diremehkan. Nizam Jemaat Ahmadiyah tidaklah dibatasi oleh wilayah, suku, atau bangsa. Jemaat ini bukanlah untuk timur ataupun barat. Tetapi ini adalah satu jemaat sedunia yang telah berdiri atas keberkatan sosok Rahmatan lil ‘alamin (saw.) dan atas kabar suka-kabar suka yang telah beliau (saw.) berikan. Lingkup upaya dan lingkup keberkatannya adalah untuk semua negara, semua bangsa, dan semua zaman.

Nizam Jemaat Ahmadiyah berdiri pada asas persamaan hakiki di dalam Islam, yaitu bersih dari segala macam fanatisme kesukuan, keturunan, bahasa, dan status kaya atau miskin. Disini, tidak ada seorangpun yang dianggap lebih utama dalam hal kebangsaan, bahasa, warna kulit, atau keturunan; baik arab terhadap non-arab atau non-arab terhadap arab, baik kulit hitam terhadap kulit putih, atau kulit putih terhadap kulit hitam; karena di dalam nizam ini, yang melebihkan satu dengan yang lain hanyalah ketakwaan. Oleh karena itu, di dalam nizam ini Anda akan menyaksikan ribuan ahmadi yang meskipun secara duniawi tidak memiliki keilmuan, status, kekayaan, dan kedudukan yang tinggi, namun dikarenakan keikhlasan, pengurbanan, kecintaan mereka kepada agama, dan ketakwaan, dan ketulusannya, mereka sampai pada kedudukan pengkhidmatan yang mulia di dalam jemaat.

Dari segi program, Jemaat Muslim Ahmadiyah lah yang memiliki satu program yang sama. Seluruh dunia adalah lingkup pengkhidmatannya. Inilah satu-satunya jemaat, yang demi memenangkan agama Islam di atas semua agama, menjalankan satu jihad yang suci dengan cara mengerahkan segenap kemampuannya dengan penuh kepatuhan, dan terus menapaki kemajuan dan kegemilangan.

Ini semata adalah keberkatan nizam khilafat, bahwa segenap ahmadi muslim yang teguh di bawah nizam jemaat, apapun warna kulit dan keturunan mereka, semuanya terwarnai dengan satu warna yang sama yaitu warna takwa. Meskipun mereka berbeda bangsa dan bahasa, jiwa tauhid terhadap Allah Ta’ala menjadikan mereka sedemikian rupa terjalin dalam satu persaudaraan iman, layaknya satu dinding yang sama rata. Pikiran mereka senada mengikuti kemana jalan pemikiran imam mereka. Langkah mereka menapaki tujuan yang sama, yaitu demi menegakkan tauhid Allah Ta’ala yang hakiki, murni, dan terang benderang ke seluruh dunia, menuju kemenangan Islam di seluruh dunia melalui berbagai bukti, argumen, dan tanda-tanda samawi yang cemerlang.

Ahmadiyah bukanlah nama sebuah organisasi sosial yang didirikan dengan tujuan suatu perbaikan tertentu. Ia pun bukan suatu organisasi yang bertujuan mencanangkan satu gerakan tertentu. Tetapi ini murni merupakan satu gerakan ilahi yang didirikan diatas jalan dan tuntunan sebagaimana halnya jemaat-jemaat ilahi yang semenjak awal terus ada. Nizam didalamnya adalah bercorak seperti halnya setiap jemaat ilahi yang telah datang di dunia ini.

Merupakan sunnah Allah Ta’ala, bahwa kapanpun umat manusia melupakan wujud Khaliq dan Pencipta-Nya, dan tergelincir di dalam kesesatan, kebatilan, dan kegelapan, maka Allah Ta’ala setelah melihat umat manusia tenggelam dalam kelalaian, kekufuran, dan syirik, sementara kebenaran, kesalehan pun berangsur sirna, Dia memilih seorang yang paling suci dan bertakwa diantara hamba-hamba-Nya agar memikul tugas kenabian untuk membimbing dan memberi
petunjuk kepada mereka, demi menegakkan kembali iman, ilmu, amalan, dan akhlak yang hakiki.

Kita meyakini bahwa di masa ini, tatkala keadaan iman setiap bangsa telah jatuh memudar, dan mereka menganggap bahwa alam akhirat hanyalah cerita lampau belaka, maka Allah Ta’ala sesuai dengan janji-Nya membangkitkan sesosok pengikut sejati dari Yang mulia Sayyidul Awwalin wal Akhirin, khataman nabiyyin, Nabi suci Muhammad mustafa (saw.), yang telah meraih keberkatan dari stempel para nabi (saw.), dan yang telah meraih martabat kenabian ummati secara zilli dan buruzi, yaitu sosok Pecinta sejati beliau, Hz. Mirza Ghulam Ahmad Qadiani, (as.), sang Almasih yang dijanjikan, dan beliau meletakkan pondasi Jemaat Ahmadiyah ini sesuai dengan wahyu dan ilham Allah Ta’ala.

Terkait:   Benarkah Nabi Muhammad Melanggar Perjanjian Hudaibiyah Ketika Menaklukkan Mekah?

Alhasil, ini adalah jemaat yang dialiri dari mata air kenabian, dan meraih segenap keberkatan yang telah ditetapkan oleh Allah Ta’ala kepada sosok nabi ummati dari Yang mulia nabi Muhammad Mustafa (saw.). yakni, di zaman ini akan dibukakan kembali pintu-pintu karunia dan keberkatan Muhammad dengan sangat luar biasa.

Tatkala Hz. Aqdas Masih Mau’ud (as.) memulai silsilah baiat ini, beliau bersabda berkenaan dengan tujuan dasar berdirinya jemaat ini yaitu:

“Baiat ini hanyalah bertujuan untuk menghimpun satu jemaat orang-orang yang bertakwa, yakni mengumpulkan orang-orang yang memiliki ketakwaan hakiki dalam satu jemaat, supaya bangkit satu jemaat berisi sejumlah besar orang-orang bertakwa yang kelak dapat memberikan pengaruh kebaikan bagi dunia, agar kesatuan yang dimilikinya dapat memberi keberkatan, keagungan, dan hasil yang baik bagi Islam. Dan melalui kesatuan tekad mereka dalam meninggikan kalimat tauhid, pengkhidmatan suci terhadap Islam ini akan dapat segera terwujud; bukan sebaliknya yaitu muslim yang lalai, bakhil, dan tidak berarti. Bukan pula seperti halnya orang-orang yang tidak patut, yang sangat mendatangkan kerugian pada Islam akibat perpecahan dan ketidakadilan mereka, sehingga memberi noda pada wajah indahnya akibat kefasikan mereka. Dan tidak pula seperti para darwis yang lalai dan tidak tahu menahu akan kebutuhan-kebutuhan yang dihadapi Islam dan tidak ingin berbelas kasih akan kesulitan yang dihadapi saudara-saudaranya, dan tidak memiliki gejolak demi kebaikan umat manusia. Bahkan, jemaat ini sangatlah berbelas kasih kepada siapapun, dan ia menjadi naungan bagi orang-orang yang miskin, ayah bagi orang-orang yatim, dan senantiasa siap sedia untuk berkorban demi menyelesaikan tugas-tugas keIslaman dengan segenap kebulatan tekad. Dan segenap daya upayanya dikerahkan supaya keberkatan-keberkatannya tersebar di dunia ini. Segenap mata air suci kecintaan ilahi dan belas kasih terhadap sesama hamba Tuhan mengalir dari setiap kalbu mereka, lalu bersatu dan mengalir deras hingga terlihat laksana sebuah sungai yang besar”. (Izalah Auham, Ruhani Khazain, jilid 3, halaman 561-562)

Beliau (as.) bersabda:

“Tujuan utama baiat adalah mengorbankan jiwa demi pengkhidmatan atas junjungannya; dan meraih segenap ilmu, makrifat, dan keberkatan darinya, sehingga lahir suatu kekuatan iman dan kemajuan dalam makrifat, dan berupaya menjalin hubungan suci dengan Allah Ta’ala”. (Zaruratul Imam, Ruhani Khazain jilid 13, halaman 498)

Alhasil, melalui daya pensucian/quwwat qudsiyah beliau, dengan doa-doa beliau yang penuh kepiluan, dan pertolongan serta dukungan Allah Ta’ala, telah lahir suatu jemaat yang berisi orang-orang berfitrat suci dan bertakwa, yang merupakan pemenuhan dari ayat

dan menjadi tamsil dari para sahabat Rasulullah (saw.) ridwanallah ‘alaihim, dimana mereka telah meraih bagian dari segenap keberkatan-keberkatan yang telah dijanjikan akan bersama dengan wujud Almasih dan Mahdi yang dijanjikan itu. Mereka telah meraih cahaya dan keyakinan melalui tanda-tanda dan dukungan-dukungan yang terus datang dari Allah Ta’ala. Di jalan Tuhan, mereka telah memikul segenap kedukaan baik dari caci-makian, hinaan, sumpah serapah, dan berbagai corak kepiluan, keterasingan, dan lain sebagainya. Namun iman mereka sedikitpun tidak goyah dan tidak ada kemunduran dalam standar keteguhan mereka.

Keunggulan suatu jemaat ilahi adalah, ia senantiasa mengikuti sesosok imam yang wajib untuk taat kepadanya. Suatu jemaat tidaklah berarti tanpa adanya imam. Selama nabi hidup, ia menjadi imam untuk jemaatnya, dan setelah kewafatan nabi itu, khalifah setelahnya lah yang menjadi imam bagi mereka. Setelah kewafatan Hz. Aqdas Masih Mau’ud dan Mahdi Ma’hud (as.), nizam Jemaat Ahmadiyah berpegang teguh pada khilafah ‘ala minhajin nubuwwah. Khalifah yang ada senantiasa sebagai pusat dari nizam ini. Sosoknya berperan sebagai kalbu dan pikiran. Ia merupakan kendali pusat dan denyut nadinya.

Khilafat ini bukanlah ciptaan manusia. Allah Ta’ala sendirilah yang telah menegakkan nizam ini sebagaimana janji-Nya di dalam surah An-Nur ayat 56 dan sesuai dengan kabar suka dari yang mulia Muhammad Mustafa (saw.) yaitu

Imam kita tercinta Hz. Khalifatul Masih kelima (aba.) bersabda:

“Ini adalah ihsan yang teramat besar dari Allah Ta’ala kepada Jemaat Ahmadiyah, bahwa setelah Hz. Aqdas Masih Mau’ud (as.), Dia telah mendirikan nizam khilafat di dalam jemaat ini. Nizam khilafat ini terus bekerja mulai dari tingkat yang terkecil yaitu warga jemaat, kelompok, hingga tingkat kota bahkan negara. Yakni dari yang paling rendah yaitu ketua halqah hingga hingga Amir nasional, memiliki jalinan baik secara langsung maupun tidak langsung. Hingga
yang terkecil yaitu keluarga dan individu, dapat terjalin suatu hubungan. Setiap anggota jemaat pun dapat secara langsung menjalin hubungan dengan Khalifah.” (Khutubate Masrur, Jilid 2, halaman 942)

Khilafat yang hakiki adalah suatu kepemimpinan rohani yang mulia, penuh berkat, suci dan murni, yang melaluinya turunlah dukungan-dukungan samawi, dan yang dengan keberkatannya, manusia dapat menyaksikan kudrat Allah Ta’ala yang luar biasa secara terus menerus, sehingga ia pun dapat meraih keteguhan didalam keimanan-keimanannya.

Terkait keinginan yang Hz. Aqdas Masih Mau’ud (as.) miliki dalam berdirinya jemaat ini adalah, agar segenap anggota di dalamnya “senantiasa siap sedia berkorban dengan kebulatan tekad demi menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan Islam. Dan segenap daya upayanya dikerahkan supaya keberkatan-keberkatannya tersebar di dunia ini. Segenap mata air suci kecintaan ilahi dan belas kasih terhadap sesama hamba Tuhan mengalir dari setiap kalbu mereka, lalu bersatu dan mengalir deras hingga terlihat laksana sebuah sungai yang besar”, Kita menyaksikan dan pengalaman membuktikan bahwa keinginan penuh berkat dari Hudhur aba. (as.) ini tengah sempurna dengan sangat gemilang melalui nizam jemaat yang berpijak diatas khilafat Islam hakiki ini.

Merinci pekerjaan-pekerjaan yang telah ditempuh oleh jemaat dalam meneguhkan agama Islam dan mengkhidmati kemanusiaan adalah sangat panjang dan menjangkau masa 100 tahun lebih lamanya. Disini dengan singkat saya hanya akan menyebutkan beberapa darinya.

  • Sekarang di dunia ini hanya Jemaat Muslim Ahmadiyah Internasional lah satu-satunya jemaat yang mendapatkan taufik dan karunia menterjemahkan dan menerbitkan Al-Qur’an Majid ke dalam 76 bahasa. Dan ini terus berjalan secara bertahap.
  • Demi menegakkan tauhid Allah Ta’ala yang hakiki, dan untuk menegakkan ibadah yang hakiki, telah ada ribuan masjid yang dibangun, dan setiap tahun ini terus meningkat.
  • Literatur-literatur bernilai yang berisi tafsir-tafsir tentang hakikat dan makrifat Al-Qur’an, hadits-hadits nabi, dan tema-tema keIslaman telah diterbitkan ke dalam 125 bahasa dan pekerjaan ini terus berkelanjutan.
  • Disamping berbagai surat kabar jemaat yang telah diterbitkan dalam berbagai macam bahasa, ada juga situs-situs jemaat, internet, sarana-sarana di berbagai media sosial. Demikian pula di berbagai pameran, seperti pameran buku, atau berupa book stall, atau hingga melalui rabtah-rabtah perseorangan, yang datang hingga pintu ke pintu dengan misi sebagai da’i ilallah, sehingga pesan Islam semakin terus tersebar secara luas. Untuk tujuan inilah terdapat nizam yang terpusat terkait lembaga-lembaga jamiah demi menghasilkan para muballig, muallim, dan murabbi.
  • Di banyak negara telah berdiri pula stasiun radio jemaat. Kemudian MTA Internasional yang terdiri dari 8 saluran yang mengudara selama 24 jam di seluruh benua dan dalam berbagai bahasa untuk menyampaikan tablig Islam.
  • Alhasil, pesan Islam Ahmadiyah tengah tersebar di segenap kalangan dan lapisan masyarakat di seluruh dunia dengan sangat luar biasa; dan tidak hanya di masyarakat awam, bahkan kepada para pemimpin di berbagai negara di dunia dan di berbagai parlemen pun, pesan ini terus diserukan dan memberi dampak yang baik, dan dengan karunia Allah Ta’ala, banyak yang menerimanya dan setiap tahun ada ratusan ribu insan yang lantas memeluk Islam.
Terkait:   Jalsah Salana UK 2023: Bimbingan dan Nasehat

Hz. Muslih Mau’ud (ra.) di satu kesempatan bersabda:

“Ini semata hanyalah keberkatan khilafat, bahwa hanya Jemaat Ahmadiyah lah yang mengupayakan tablig Islam yang kini mahrum dilaksanakan oleh golongan Islam lainnya”.

Beliau bersabda:

“Anda sekalian menyaksikan betapa jemaat kita ini sedemikian berkekurangan, namun dengan karunia khilafat, hal ini memberikan dampak yang besar; dan dapat melakukan pekerjaan yang tidak sanggup dijalankan oleh golongan muslim lainnya.”

Demikian pula dalam corak cinta kasih kepada umat manusia dan pengkhidmatan kepadanya, di bawah bimbingan dan pengawasan Khilafat Ahmadiyah, di dalam jemaat ini banyak rencana dan gerakan yang dicanangkan.

Hz. Khalifatul Masih Al-Khamis (aba.) di satu kesempatan bersabda:

“Keunggulan yang dimiliki Jemaat Ahmadiyah adalah berupaya ikut andil besar dalam mengkhidmati kemanusiaan sesuai dengan taufik yang dimilikinya, dan menghadapi segenap kesukaran yang dialami mereka dengan sedapat mungkin menjalani khidmate khalq yaitu pengkhidmatan kepada kemanusiaan. Para anggota jemaat baik secara perseorangan dan jemaat, dengan segenap taufik yang dimilikinya, berupaya untuk memenuhi janji baiatnya dengan turut ambil bagian di bawah nizam jemaat dalam membantu menanggulangi kelaparan, mengupayakan pengobatan bagi mereka yang miskin, memberi bantuan pendidikan, dan membantu pernikahan orang-orang miskin”.

Oleh karena itu, di banyak negara miskin, telah berdiri puluhan yayasan pendidikan dan kesehatan, rumah sakit, klinik, dan pusat homoeopathy. Terdapat juga panti asuhan untuk membantu anak-anak yatim.

Dalam berbagai bencana alam seperti gempa bumi, banjir, kekeringan, bahkan bencana wabah, atau yang disebabkan oleh peperangan maupun keadaan-keadaan lainnya, nizam jemaat senantiasa berperan aktif dalam mengkhidmati kemanusiaan dengan membantu mereka yang terdampak.

Dalam mengkhidmati kemanusiaan, organisasi Humanity First yang didirikan oleh jemaat telah terdaftar di berbagai lembaga di dalam perserikatan bangsa bangsa serta di 60 negara. Di bawah naungannya terdapat program pembangunan berbagai sekolah dan rumah sakit, pendirian pusat-pusat kesehatan, beasiswa untuk para pelajar yang berkebutuhan, berbagai lembaga pelatihan keterampilan kerja, program water for life [pengadaan air], feed a village, food banks [penanggulangan kelaparan], orphan care [bantuan untuk lansia], gift of sight [donor mata], disaster relief [penanganan bencana], dan berbagai pelayanan lainnya.

Kemudian banyak juga pengkhidmatan-pengkhidmatan kemanusiaan yang tengah dijalankan baik oleh lembaga ikatan arsitek dan insinyur Ahmadiyah serta yang berada di bawah badan-badan jemaat, sesuai dengan petunjuk Hz. Khalifah, di mana dengan perantaraan ini setiap tahunnya ratusan ribu orang mengambil faedah darinya.

Alhasil, segenap anggota jemaat menyerukan labbaik terhadap apapun program dan rencana yang disampaikan oleh Hadhrat Khalifah demi penyebaran Islam dan pengkhidmatan sesama manusia. Seraya mengutamakan kepentingan agama diatas dunia, mereka mempersembahkan pengorbanan jiwa, harta, waktu, dan kehormatan, dan mengukirkan kisahkisah pengurbanan yang sangat mulia, serta terus menapaki berbagai tingkatan kedekatan Ilahi.

Di luar Jemaat Ahmadiyah, di dalam buku-buku terjemah dan tafsir Al-Qur’an Karim, serta hadits, yang tersebar secara umum di kalangan muslim, di dalamnya terdapat berbagai perkara yang justu bertolak dengan ajaran-ajaran Al-Qur’an dan bertentangan dengannya, dan di dalamnya terdapat ajaran-ajaran yang justru berlawanan dengan ajaran dasar Al-Qur’an Suci. Sebagai contoh, sebagian orang meyakini ajaran nasikh di dalam Al-Qur’an. Lalu ada sebagian yang menjadikan Hadits sebagai hakim bagi Al-Qur’an. Mengenai keberadaan Allah Ta’ala, tentang malaikat, para nabi ‘alaihimussalam, jin dan setan, taqdir, kebangkitan setelah mati, kenikmatan surga, dan lain sebagainya, di dalam buku-buku mereka terkandung hal-hal yang tidak mendasar, penuh umpatan, serta jelas-jelas berlawanan dengan akal, sejarah, pengalaman, dan hakikathakikat yang telah terbukti.

Sementara itu, betapa Allah Ta’ala telah sangat ihsan kepada kita, dan merupakan keberkatan dari adanya hubungan erat dengan Hz. Masih Mau’ud (as.), Nizam Khilafat, dan Nizam Jemaat, sehingga kita sanggup meraih pemahaman yang sebenar-benarnya dari segenap perintah dan ajaran Al-Qur’an serta hadits. Penjelasan-penjelasan yang disampaikan oleh Hz. Aqdas Masih Mau’ud (as.) dan para khalifah beliau dalam menafsirkan Al-Qur’an dan hadits sungguh penuh dengan hakikat dan hikmat, membuka mata ruhani, memberi ketentraman, dan memberi cahaya
nur makrifat kepada segenap hati dan pikiran, serta menampakkan keagungan Al-Qur’an dan hadits.

Selain itu, berkat dari nizam jemaat ini adalah kita senantiasa terjaga dari banyak bidah dan adat-istiadat yang sia-sia seperti jimat, pengkultusan, menyembah kubur, adat istiadat di saat kelahiran dan kematian, di saat gembira, duka, pernikahan, perceraian, dan lain sebagainya. Bahkan, di dalam Jemaat Muslim Ahmadiyah, berdiri suatu nizam dibawah khilafat, yang senantiasa membimbing dan mengawasi agar jangan sampai para ahmadi jatuh dalam kesia-siaan tersebut dan langkahnya tersingkir dari jalan siratal mustaqim. Bahkan, seorang ahmadi adalah sosok muslim sejati dan benar yang senantiasa teguh diatas tauhid yang murni.

Sementara itu, sebagian muslim lain diluar Ahmadiyah justru saling mengkafirkan bahkan membunuh satu sama lain hanya karena perselisihan dalam hal rafa’ yadain [angkat tangan saat shalat], amin dengan lantang, meletakkan tangan di dada, celana atau sarung di atas mata kaki, dan
lain sebagainya.

Tetapi, dengan berkat dari jemaat sosok Imam Mahdi dan Hakim yang adil (as.) yang telah dijanjikan kedatangannya oleh Rasulullah (saw.), serta berkat nizam khilafat, kita senantiasa terjaga dan terlindungi dari seluruh fitnah dan hiruk pikuk tersebut, dan kita senantiasa memiliki sesosok penuntun jalan untuk keluar dari masalah tersebut dan demi memahami ruh hakiki dari setiap perintah Allah dan Rasul-Nya.

Secara lahir, hal-hal ini tampak sederhana, namun jika Anda melihat bagaimana kehidupan di luar ahmadi, maka Anda akan menyaksikan betapa mereka tengah tergelincir dalam berbagai kemunduran, dan betapa hal-hal tersebut telah menjadikan kehidupan mereka menjadi dekat dengan api neraka.

Hz. Khalifatul Masih Al-Khamis (aba.) bersabda di dalam satu kesempatan:

“Saat ini, Allah Ta’ala tengah melakukan ihsan kepada kita karena Dia telah memberi taufik kepada kita untuk beriman kepada Hz. Masih Mau’ud (as.), dan kita ada di dalam suatu nizam yang senantiasa menekankan kita akan pengamalan terhadap perintah-perintah Allah Ta’ala, dan juga menekankan terhadap pengamalan sunnah nabi yang dicintai-Nya, Rasulullah (saw.), dan kita tidaklah terpecah belah sebagaimana golongan muslim lainnya, tetapi seperti rantai kita saling bertaut satu sama lain karena berkat khilafat”. (Khutbah Jumat, 9 Juni 2006)

Alhasil, keberkatan terbesar nizam jemaat adalah bahwa kita memiliki sesosok pemimpin. Kita memiliki sesosok imam yang melihat ke segenap anggota jemaat dengan nur firasat, mata ruhani, dan ketakwaan yang dianugerahkan Tuhan.

Hudhur aba., dalam menjaga setiap anggota jemaat dari segala corak keburukan akhlak, sosial, dan masyarakat, dalam melindungi dari berbagai penyakit jasmani dan rohani, serta dari segala macam bencana dan musibah, dan dalam upaya memperbaiki moral, Hudhur aba. tidak hanya memberi penekanan tentangnya secara berulang-kali, dan dengan memberikan jalan petunjuk secara jelas baik dari Al-Qur’an, sunnah, dan ajaran-ajaran Hz. Masih Mau’ud (as.), tetapi bahkan Hudhur aba., dengan doa-doa penuh kekhusyukan yang beliau panjatkan kehadapan singgasana Allah Ta’ala, beliau pun mengupayakan amalan-amalan lahiriah dan menggerakkan berbagai lembaga serta badan-badan yang terdapat di dalam nizam jemaat untuk senantiasa meneguhkan segenap anggota jemaat di atas jalan yang lurus ini.

Terkait:   Apakah Nama Ahmadiyah Berasal dari nama Mirza Ghulam Ahmad?

Di satu kesempatan Hudhur aba. ayyadahullahu ta’ala bersabda:

“Kita memahami bahwa keindahan Jemaat Ahmadiyah adalah terletak di adanya hubungan erat dalam nizam jemaat dan nizam khilafat, dan ini jugalah yang menjadi kekuatan keyakinan dan amalan kita. Demikianlah, sosok khalifah senantiasa memberi perhatian kepada segenap jemaat dengan menyampaikan bahwa kelemahan-kelemahan apakah yang tengah dialaminya, supaya jangan ada seorang ahmadi yang jatuh tergelincir hingga ia tak sanggup lagi menemukan jalan kembali, dan supaya senantiasa beristigfar dan senantiasa waspada akan kelemahan-kelemahannya
sendiri, serta berupaya menjauhkannya, dan mengingat kebaikan-kebaikan yang telah Allah Ta’ala berikan kepadanya”.

Oleh karena itu, sejarah Ahmadiyah di seluruh dunia menjadi bukti bahwa kapanpun datang nasihat dari sosok Khalifah, dengan seraya menjadi pemenuhan ayat

maka sebagai mukmin sejati, mereka segera memulai jihad suci untuk menghiasi keadaan amal mereka dan menjauhkan kelemahan-kelemahan mereka; lalu melalui hasil dari doa dan perhatian Hadhrat Khalifah, program-program ta’lim dan tarbiyat Hudhur aba. yang penuh berkat, serta nasihat-nasihat yang mendalam, belas kasih, dan pertemuan-pertemuan suci, maka tumbuh danberkembanglah benih ketakwaan di dalam kalbu segenap anggota jemaat.

Kemudian segenap anggota jemaat, dengan akhlak mulia, ibadah, semangat ketakwaan, pengkhidmatan kepada makhluk Tuhan, belas kasih kepada sesama manusia, keikhlasan, pengorbanan, dan infaq fi sabilillah mereka, yang merupakan sifat-sifat mulia, mereka akan mencapai segala ketinggian. Lalu ia akan dianugerahkan suatu keunggulan dan perbedaan yang cemerlang dibandingkan dengan yang lainnya.

Hudhur aba. ayyadahullahu di satu kesempatan bersabda:

“Salah satu karunia yang Allah Ta’ala anugerahkan kepada Jemaat Ahmadiyah adalah, tatkala sosok Khalifah mengarahkan perhatiannya pada suatu hal, dan seandainya hal tersebut adalah upaya perbaikan amalan, maka dengan segera sebagian besar jemaat menuju kepada perbaikan tersebut”. (Khutbah Jumat, 7 Februari 2014)

Tak diragukan lagi bahwa ini adalah nikmat dan berkat teramat mulia yang Allah Ta’ala anugerahkan hanya kepada Jemaat Ahmadiyah. Hudhur aba. Anwar ayyadahullah bersabda:

“Salah satu ihsan Allah Ta’ala pun adalah, bahwa melalui berkat jemaat ini dan adanya satu nizam ini, kita memiliki suatu nizam jemaat dan juga lembaga badan-badan. Ada banyak kelas tarbiyat, ijtima’, jalsa, dan lain sebagainya, yang melalui ini tarbiyat anak-anak kita pun berjalan. Namun yang sepenuhnya mengambil faidah disini adalah mereka yang mengirimkan anak-anaknya ke pertemuan-pertemuan tersebut dan ikut andil sepenuhnya, yaitu mereka yang senantiasa menghubungkan keturunan-keturunan mereka dengan masjid, rumah misi, dan nizam jemaat… oleh karena itu, untuk menjauhi mereka dari lingkungan yang salah, teruslah merekatkan mereka dengan lingkungan nizam jemaat”. (Al-Azhar Lizawatil Khimar, jilid 3 bagian 1 halaman 10)

Salah satu keberkatan agung dari nizam khilafat pun adalah, bahwa Allah Ta’ala menampakkan kehendak-Nya kepada kita dengan perantaraan sosok khalifah yang diangkat-Nya. Dengan ini, segenap anggota senantiasa meraih bimbingan di setiap langkahnya.

Sejarah jemaat menjadi saksi bahwa kapanpun bangkit perlawanan terhadap jemaat, apakah itu berupa fitnah penolakan akan wujud khilafat, atau seperti keinginan golongan Ahrar di tahun 1934 untuk menyerang Qadian hingga runtuh berkeping-keping, atau seperti kerusakan luas yang dilancarkan terhadap para Ahmadi di Pakistan pada tahun 1953, atau seperti tahun 1974 tatkala majelis permusyawaratan Pakistan mendeklarasikan Ahmadi sebagai diluar Islam, atau di tahun 1984 tatkala segenap Ahmadi dihilangkan segala hak asasinya untuk beragama, dan dikatakan bahwa na’uzubillah Ahmadiyah adalah penyakit kanker yang harus diangkat hingga ke akar-akarnya, hingga pemerintahan militer saat itu menerbitkan satu ordonansi yang sangat zalim, atau seperti di tahun 2010, tatkala di Lahore, Pakistan, di satu hari saja yaitu Jumat, terjadi serangan teroris yang menyebabkan hingga 100 ahmadi disyahidkan di dua masjid jemaat sementara puluhan lainnya terluka, maka di segenap peristiwa tersebut, sengan adanya bimbingan dan keputusan yang penuh dengan nur samawi dari wujud khalifah, jemaat pun dengan sangat berhasil telah mampu keluar dari segenap ujian dan berbagai taufan hebat penganiayaan dan penekanan tersebut seraya menyerahkan setiap pengorbanan dengan penuh kesungguhan, dan rida akan kehendak Tuhannya, serta menghadapinya dengan raut wajah yang tersenyum, sehingga segenap langkahnya pun senantiasa menapaki berbagai kemajuan.

Sementara itu, para penentang kita terpaksa menerima akibat kehinaan dan kegagalan
mereka, dan dunia pun menyaksikan bahwa [sebagaimana Hz. Muslih Mau’ud bersabda dalam
gubahan syair]

Dia telah memenuhi rumah kita dengan cahaya dan menjauhkan setiap kegelapan dari kita
Dia menjadikan musuh tersapu debu sementara kita telah ditolong-Nya di setiap waktu
Dia telah menampakkan kebenaran sejati ini kepada mereka meski tetaplah mereka dengan kegelapan hatinya
Mereka telah melihat kemenangan kita dan pertolongan-Nya sehingga mereka jatuh dalam kesedihan dan kedukaan
Telah Dia benderangkan malam kita dengan nur, telah Dia bahagiakan pagi kita, dan telah Dia suka citakan sore kita.
Tuhan telah memperlihatkan kebesarannya pada kita, sebagaimana telah Dia perlihatkan pada Musa di bukit Tur
Pada kitalah wujud guru serta khalifah itu, hingga semua berujar, nur diatas nur
Tuhanlah yang telah memberi kita kejayaan ini, Mahasuci Dia yang telah menyempurnakan janji-janji-Nya
(Kalame Mahmud)

Alhasil, terdapat juga berbagai macam keberkatan-keberkatan yang dengan karunia Allah Ta’ala telah diraih oleh segenap ahmadi yang senantiasa menjalin hubungan erat dengan nizam jemaat yang berpijak diatas khilafat ‘ala minhajin nubuwwah. Jutaan ahmadi yang tersebar di seluruh dunia menjadi saksi akannya dan mereka senantaiasa memanjatkan syukur atas nikmat mulia dari Allah Ta’ala ini.

Hz. Khalifatul Masih Kelima (aba.) bersabda:

“Landasan keberhasilan dan kemajuan nizam ini ada pada sosok-sosok yang senantiasa menjalin hubungan erat dengan nizam ini dan patuh sepenuhnya terhadap segenap kaidah dan aturan di dalamnya”.

Lalu Hudhur aba. bersabda:

“Ingatlah senantiasa perintah ini, yaitu teruslah berpegang erat pada tali Allah Ta’ala, dan teruslah teguh pada nizam jemaat, karena kini tidak ada lagi keberlangsungan engkau tanpanya”.

Alhasil, berkenaan dengan kewajiban kita, maka hendaknya kita sebagaimana perintah Allah Ta’ala bahwa:

Yakni hal ini hendaknya terus menjadi perhatian, bahwa kita bersama-sama harus menjadikan kedua tangan kita berpegang erat pada tali Allah tersebut yang telah Dia anugerahkan kepada kita dalam bentuk khilafat. Yakni, selain kita menyelaraskan sepenuhnya keyakinan kita dengan wujud khalifah, di dalam amalan pun kita harus terus maju dalam standar ketaatan kita terhadap nizam maupun imam [yaitu khalifah], lalu menjaga persatuan yang kita dapatkan dari berpegang teguh pada tali Allah tersebut dengan menghindar dari segala yang menjurus pada keretakan dan perpecahan.

Kita memiliki kewajiban untuk menarik keberkatan sebanyak-banyaknya baik dari segi ilmu lahiriah maupun makrifat ruhani yang terkandung di dalam sabda-sabda Hadhrat Khalifah di berbagai khutbah maupun ceramah beliau yang memberi nafas kehidupan baru, nasihat-nasihat suci Hudhur aba. di dalam berbagai mulaqat perseorangan atau bersama, petunjuk-petunjuk Hudhur aba. di dalam berbagai surat-surat, pernyataan-pernyataan, majlis ‘irfan, dan majlis soal jawab, serta terus berupaya menghiasi kehidupan dunia dan akhirat kita kelak dengannya.

Kita berkewajiban agar dengan mengingat keberkatan-keberkatan dari nikmat yang dianugerahkan Allah ini kepada kita ini, kita senantiasa mengharumkan lingkungan kita, supaya dengan mensyukuri nikmat ini, kita dan keturunan kita akan semakin meraih karunia-karunia dan keberkatan-keberkatan Allah Ta’ala. Amin

Penerjemah: Mln. Fazli Umar Faruq, Shd

Leave a Reply

Begin typing your search above and press return to search.
Select Your Style

You can choose the color for yourself in the theme settings, сolors are shown for an example.