Khilafat: Buah Janji Ilahi

“Saya datang dari Tuhan sebagai manifestasi Kudrat Ilahi dan saya adalah Kudrat Tuhan yang berjasad. Kemudian sesudah saya tiada, akan ada lagi beberapa wujud lain yang akan menjadi mazhar (penampakan) Kudrat Kedua.” Hadhrat Masih Mau’ud ‘alaihish shalaatu was salaam (حضرت مسیح موعود علیہ الصلوٰۃ والسلام)

Jelas bahwa terdiamnya Hadhrat Rasulullah (saw) setelah menyampaikan, “Di akhir zaman Khilaafat ‘alaa minhaajin nubuwwah akan berdiri di tengah kalian”, menunjukkan bahwa Nizham ini akan berlangsung dalam masa yang panjang.

Sungguh beruntung dari antara kita yang senantiasa menjalin ikatan dengan Khilafat Ahmadiyah dan menasihatkan juga hal tersebut kepada anak keturunan mereka. Dan sungguh malang mereka yang ingin membatasi Khilafat Ahmadiyah sampai suatu masa tertentu atau memiliki pemikiran seperti itu. Orang-orang seperti itu selamanya akan menyaksikan ketidakberhasilan dan kegagalan.

Alhasil, nubuatan-nubuatan yang telah disampaikan oleh Hadhrat Masih Mau’ud (as) tersebut dan janji-janji Allah Ta’ala yang telah beliau (as) sebutkan akan sampai pada kesempurnaannya dan ini akan sempurna melalui perantaraan Nizham Khilafat yang berlangsung sepeninggal beliau (as).

Setiap Ahmadi pun seyogyanya memiliki jalinan keikhlasan dan kesetiaan dengan Khilafat. Siapa meraih tolok ukur tersebut, akan tergolong sebagai orang yang memenuhi hak baiat. Jika hal ini terpenuhi maka kita akan dapat memenuhi hak untuk merayakan Hari Khilafat pada hari ini.

Ulasan ringkas mengenai pentingnya Khilafat haqqah Islamiyah Ahmadiyah dan keberkatannya berkaitan dengan Hari Khilafat disertai pemandangan pertolongan Ilahi.

Hari ini adalah tanggal 27 Mei yang dalam Jemaat Ahmadiyah dikenal sebagai Hari Khilafat

Memahami Hakikat Hari Khilafat; Pemenuhan Janji Ilahi.

Kutipan Hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam mengenai nubuatan Khilafah ‘alaa Minhajin Nubuwwah (Khilafat yang mengikuti jejak langkah kenabian). Penjelasan Hadhrat Khalifatul Masih V (atba) mengenai Hadits ini.

Kutipan Pendiri Jemaat Ahmadiyah dalam buku ‘Al-Wasiyat’ mengenai janji Kudrat yang kedua.

Kudrat kedua ialah melanjutkan tugas seorang Rasul atau Nabi dalam bentuk Khilafat.

Ujian-ujian dan cobaan-cobaan yang dihadapi Jemaat setelah kewafatan Pendiri Jemaat Ahmadiyah. Penegakan Khilafat pertama, Khilafat kedua, Khilafat ketiga, Khilafat keempat dan Khilafat kelima. Buah-buah kemajuan dan keberhasilan Jemaat.

Jalan-jalan yang ajaib bagaimana Allah Ta’ala menunjukkan kebenaran. Kisah-kisah di masa Khilafat kelima mengenai orang-orang yang mengenali kebenaran Khilafat Ahmadiyah di berbagai Negara: Guinea Bissau, Gambia, Guatemala di benua Amerika Selatan, Indonesia, Burkina Faso, Mali, Guinea Bissau, Kongo Kinsasha, Mali, seorang wanita Arab, Nigeria, mubayyi’ah baru asal Arab di Norwegia, mubayyin baru asal Arab di Jerman.

Informasi Jalsah Salanah di Ghana dan di Gambia, Afrika. Dikarenakan situasi wabah pandemik maka P rogram Seratus Tahun Ahmadiyah Ghana (1921-2021) yang tadinya direncanakan pada 2021 akan diadakan selama dua tahun, 2022-2023

Khotbah Jumat Sayyidina Amirul Mu-minin, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, Khalifatul Masih al-Khaamis (ayyadahullaahu Ta’ala binashrihil ‘aziiz) pada 27 Mei 2022 (14 Ihsan 1401 Hijriyah Syamsiyah/ 1443 Hijriyah Qamariyah) di Masjid Mubarak, Islamabad, Tilford, UK (United Kingdom of Britain/Britania Raya).

Assalamu ‘alaikum wa rahmatullah

أشْهَدُ أنْ لا إله إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لا شَرِيك لَهُ ، وأشْهَدُ أنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

أما بعد فأعوذ بالله من الشيطان الرجيم

[بسْمِ الله الرَّحْمَن الرَّحيم* الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمينَ * الرَّحْمَن الرَّحيم * مَالك يوْم الدِّين * إيَّاكَ نعْبُدُ وَإيَّاكَ نَسْتَعينُ * اهْدنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقيمَ * صِرَاط الَّذِينَ أَنعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوب عَلَيْهمْ وَلا الضَّالِّينَ]

[آمين]

Hari ini adalah tanggal 27 Mei. Hari ini dalam Jemaat Ahmadiyah dikenal sebagai Hari Khilafat. Setiap tahun kita merayakan Jalsah Hari Khilafat di tanggal tersebut atau yang berdekatan dengannya. Tetapi mengapa? Kita hendaknya setiap saat mengingat jawaban dari pertanyaan ini dan menasihatkan kepada anak keturunan kita untuk memikirkan dan merenungkan hal ini juga. Hari ini dimulai pada tanggal 27 Mei 1908, ketika Allah Ta’ala sesuai dengan janji-Nya menurunkan karunia-Nya kepada kita dan melangsungkan sistem Khilafat dalam Jemaat Ahmadiyah. Allah Ta’ala telah menjanjikannya kepada Hadhrat Masih Mau’ud (as) untuk kemajuan Jemaat beliau (as) dan Dia telah menggenapinya pada hari tersebut.

Sejak jauh-jauh hari Hadhrat Masih Mau’ud (as) telah mempersiapkan Jemaat beliau (as) bahwa tidak ada manusia yang dapat terhindar dari kematian. Demikian juga para Nabi, ketika mereka telah menyempurnakan tugasnya, maka Allah Ta’ala pun mewafatkan mereka. Berulang kali beliau mempersiapkan Jemaat beliau (as) bahwa waktu kepulangan beliau (as) telah dekat, namun bersamaan dengan itu juga beliau (as) memberikan kabar suka bahwa Jemaat yang telah beliau (as) dirikan akan berkembang, berbuah dan menyebar luas, dan apa yang Allah Ta’ala janjikan kepada beliau (as) pasti tergenapi. Kemajuan Jemaat ini terjadi berkat karunia Allah Ta’ala dan tidak ada yang bisa menghalangi kemajuan ini.

Hadhrat Rasulullah (saw) pun dalam sebuah sabda-Nya telah memberikan gambaran mengenai Nizham Khilafat beliau (saw) yang berlangsung dari masa beliau (saw) hingga masa aakhariin, yakni masa Hadhrat Masih Mau’ud (as) dan sepeninggal beliau (as). Oleh karena itu, beliau (saw) menjelaskan dalam suatu majlisnya bersama para sahabat: تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ “Kenabian akan tetap tegak di antara kalian selama Allah Ta’ala menghendaki.”Maksudnya, wujud beliau (saw) tetap hadir di tengah-tengah para sahabat. ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ “Kemudian Dia akan mengangkatnya dan akan berdiri Khilaafat ‘alaa minhaajin nubuwwah.” Maksudnya, akan berdiri Khilafat Rasyidah yang akan berjalan mengikuti jejak langkah kenabian secara sepenuhnya. فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا “Kemudian ketika Allah Ta’ala menghendaki, Dia pun akan mengangkat nikmat tersebut.”

Sejak beberapa waktu yang lalu, dalam rangkaian kisah para Sahabat Badr, saya juga menyampaikan riwayat para Khulafaur Rasyidin. Saat ini sedang dibahas riwayat Hadhrat Abu Bakar (ra). Dalam pembahasan riwayat seluruh Khalifah tersebut, nampak secara gamblang bahwa kesemuanya dengan sepenuh hati berjalan di atas sunnah Hadhrat Rasulullah (saw) dan menjalani masa kekhalifahan mereka dengan menjadikan Al-Qur’an Karim sebagai pedoman mereka dalam beramal. Seolah-olah pada setiap langkahnya, mereka berupaya untuk tetap berdiri di atas jalan kenabian.

Bagaimanapun, Hadhrat Rasulullah (saw) melanjutkan kembali sabdanya, ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا “Kemudian sesuai dengan taqdir-Nya, akan berdiri kerajaan yang kejam, yang membuat orang-orang merana dan merasakan kesempitan.” Masa ini akan berakhir, lalu sesuai dengan taqdir-Nya yang lain akan berdiri juga kerajaan yang lebih lalim dari itu. Sejarah menjadi saksi bahwa bahkan hingga hari ini pun para penguasa yang telah jauh dari agama memperlakukan rakyat Muslim mereka dengan cara seperti itu, baik itu pemerintahan-pemerintahan politik atau pun monarki. Satu kelompok atau kelompok lainnya, siapapun yang memiliki kekuasaan di tangannya, keduniawian begitu dominan pada diri mereka.

Bagaimanapun, Hadhrat Rasulullah (saw) bersabda, ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ “Ketika semua ini terjadi menimpa umat, kemudian gairah kasih sayang Allah Ta’ala akan bergejolak dan akan mengakhiri masa kezaliman tersebut. Kemudian Khilaafat ‘alaa minhaajin nubuwwah akan berdiri.” ثُمَّ سَكَتَ Setelah menyampaikan ini, beliau (saw) terdiam. [1]

Nubuatan yang disampaikan oleh Hadhrat Rasulullah (saw) mengenai akhir masa kezaliman dan penindasan itu adalah untuk mereka yang telah baiat kepada Sang Khaatamul Khulafaa Masih Mau’ud dan Mahdi Ma’hud (as) dan yang bertindak sesuai ajarannya. Allah Ta’ala telah mendirikan suatu Nizham yang jika orang-orang tidak mengikuti Nizham tersebut dan tetap bersikeras maka akibat yang akan terjadi dan telah terjadi adalah sebagaimana yang sedang disaksikan oleh umat Islam saat ini. Semoga Allah Ta’ala memberikan akal dan pemahaman kepada mereka dan dapat mengenali hamba sejati Hadhrat Rasulullah (saw), bukannya menolaknya dan semakin meningkat dalam kezaliman dan penindasan terhadap Jemaat Hadhrat Masih Mau’ud (as).

Bagaimanapun, hal ini pun jelas bahwa terdiamnya Hadhrat Rasulullah (saw) setelah menyampaikan, “Di akhir zaman Khilaafat ‘alaa minhaajin nubuwwah akan berdiri di tengah kalian”, menunjukkan bahwa Nizham ini akan berlangsung dalam masa yang panjang. Apa yang dikatakan sebagian orang karena ketidakpahaman mereka bahwa arti diamnya Hadhrat Rasululullah (saw) tersebut adalah, Nizham Khilafat setelah Hadhrat Masih Mau’ud (as) ini akan berakhir dengan cepat, mereka semua telah keliru. Hadhrat Masih Mau’ud (as) sendiri telah menjelaskan bahwa ini adalah Nizham yang akan terus berlangsung. Janji yang telah diberikan Allah Ta’ala kepada Hadhrat Masih Mau’ud (as) tersebut akan tergenapi. Bumi dan langit bisa dirubah, namun tidak akan ada yang bisa menghalangi penggenapan janji Allah Ta’ala.

Bagaimanapun, dalam menjelaskan Nizham Khilafat ini adalah Nizham yang akan senantiasa berlangsung, Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda kepada para anggota Jemaat: “Oleh sebab itu, wahai saudara-saudara! Karena sejak dahulu begitulah sunatullah (kebiasaan Allah), bahwa Allah Ta’ala menunjukkan dua kudrat-Nya, supaya diperlihatkan-Nya bagaimana cara menghapuskan dua kegirangan yang bukan-bukan dari musuh, maka sekarang tidak mungkin Allah Ta’ala akan meninggalkan sunnah-Nya yang tidak berubah-ubah itu. Maka janganlah kamu bersedih hati karena uraianku yang saya terangkan di hadapanmu ini. Jangan hendaknya hatimu menjadi kusut. karena bagimu perlu pula melihat kudrat yang kedua. Kedatangannya kepadamu membawa kebaikan bagimu, karena ia selamanya akan tinggal bersamamu, dan sampai hari kiamat silsilahnya tidak akan berakhir. Kudrat yang kedua itu tidak dapat datang sebelum saya pergi; akan tetapi bila saya pergi, maka Tuhan akan mengirimkan kudrat yang kedua itu kepadamu, yang akan tinggal bersamamu selama-lamanya; sebagaimana janji Allah Ta’ala dalam Barahin-e-Ahmadiyah.”[2]      

Jadi, ini merupakan kata-kata beliau (as), “Ini adalah janji Allah Ta’ala dan kudrat kedua yakni Khilafat akan tetap berdiri di tengah kalian hingga hari kiamat.” Akan selalu lahir orang-orang yang menjadi penjaga Khilafat Ahmadiyah. Alhasil, sungguh beruntung mereka dari antara kita yang senantiasa menjalin ikatan dengan Khilafat Ahmadiyah dan menasihatkan juga hal tersebut kepada anak keturunan mereka. Dan sungguh malang mereka yang ingin membatasi Khilafat Ahmadiyah sampai suatu masa tertentu atau memiliki pemikiran seperti itu. Orang-orang seperti itu selamanya akan menyaksikan ketidakberhasilan dan kegagalan. Sebagaimana yang diperlihatkan sejarah Jemaat kepada kita, para penentang Jemaat menyaksikan kegagalan demi kegagalan pada saat pemilihan Khalifah pertama dan Khalifah kedua.

Bagaimanapun, seraya menjelaskan lebih lanjut mengenai tetap tegaknya Khilafat, Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda: “Janji itu – yakni janji mengenai tetap berdirinya Khilafat – bukanlah untuk aku, melainkan untuk kalian, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: ‘Aku akan menjadikan Jemaat ini, yakni pengikut-pengikut engkau menang di atas golongan-golongan lain sampai kiamat.’

Oleh karena itu tidaklah dapat dihindari bahwa kalian akan menyaksikan hari perpisahan denganku, sehingga sesudah itu barulah datang Hari yang menjadi Hari Perjanjian yang kekal. Tuhan kita adalah Tuhan yang menepati janji, setia dan benar. Dia akan memperlihatkan kepada kalian segala apa yang sudah Dia janjikan. Meskipun masa ini adalah masa akhir dunia, serta banyak bala-bencana yang masih akan terjadi, namun demikian dunia ini akan tetap ada hingga segala hal yang telah dikabarkan Tuhan itu terjadi semuanya.” Saat ini masih banyak lagi janji Allah Ta’ala kepada beliau (as) yang akan tergenapi. Beliau (as) bersabda, “Saya datang dari Tuhan sebagai manifestasi Kudrat Ilahi dan saya adalah Kudrat Tuhan yang berjasad. Kemudian sesudah saya tiada, akan ada lagi beberapa wujud lain yang akan menjadi mazhar (penampakan) Kudrat Kedua.” [3]

Jadi, janji yang Allah Ta’ala telah berikan kepada Hadhrat Masih Mau’ud (as) berkenaan dengan kebangkitan Islam yang kedua dan yang pemenuhannya telah Allah Ta’ala sampaikan kepada beliau (as), insya Allah Ta’ala pasti akan terpenuhi. Janji tersebut pasti akan tergenapi.

Insya Allah Jemaat akan menyaksikan hari kemenangan Islam. Jemaat akan melihat masa kemajuan Jemaat. Insya Allah. Barangsiapa yang senantiasa menjalin ikatan dengan Khilafat, mereka akan senantiasa menjadi pewaris karunia-karunia Allah Ta’ala.

Jemaat Ahmadiyah akan tersebar luas di dunia dan inilah yang disabdakan oleh Hadhrat Masih Mau’ud (as). Oleh karena itu, beliau (as) bersabda berkenaan dengan kemenangan Jemaat beliau (as): “Ini adalah Sunnah Ilahi. Semenjak Dia menciptakan manusia di atas bumi ini, Dia senantiasa memperlihatkan Sunnah Ilahi ini. Yaitu Dia selalu menolong Nabi-nabi-Nya dan Rasul-rasul-Nya dan memberi kemenangan kepada mereka, sebagaimana firman-Nya: كَتَبَ اللّٰهُ لَاَغْلِبَنَّ اَنَا۠ وَرُسُلِيْۗ ‘Kataballahu laaghlibanna ana wa rusuli’ – ‘Allah sudah memutuskan, bahwa Aku dan Rasul-Rasul-Kulah yang akan menang.’ Dan yang dimaksud dengan ‘kemenangan’ ialah, sebagaimana cita-cita para Rasul dan para Nabi yaitu hujjah (keterangan dan dalil) Tuhan menjadi sempurna diatas bumi dan tidak ada seorang pun yang dapat melawannya, begitulah Tuhan membuktikan kebenaran mereka dengan tanda-tanda yang kuat. Dan kebenaran yang hendak dikembangkan oleh mereka di dunia, Tuhan menanamkan benihnya melalui tangan mereka itu. Akan tetapi, untuk menyempurnakannya tidak Dia lakukan melalui tangan mereka, para Rasul itu, bahkan…Dia (Tuhan) memperlihatkan tangan kudrat-Nya yang kedua dan Dia adakan bahan-bahan dan sarana-sarana yang dengan perantaraannya, cita-cita yang terbengkalai tadi akan sampai kepada kesempurnaannya.”[4]

Terkait:   Khilafah Ahmadiyah dan Dunia Islam

Alhasil, nubuatan-nubuatan yang telah disampaikan oleh Hadhrat Masih Mau’ud (as) tersebut dan janji-janji Allah Ta’ala yang telah beliau (as) sebutkan tadi akan sampai pada kesempurnaannya, dan ini akan sempurna melalui perantaraan Nizham Khilafat yang berlangsung sepeninggal beliau (as). Allah Ta’ala akan memberikan kemajuan pada Jemaat dan ini sedang berlangsung. Dia sendiri yang memberikan bimbingan kepada orang-orang. Dia akan menghubungkan mereka dengan Khilafat dan ini sedang berlangsung, jika tidak, ini adalah di luar kuasa manusia.

Dia menjalinkan para anggota Jemaat dengan Khalifah-e-waqt dalam satu ikatan kuat yang tidak mungkin ada bandingannya. Ini adalah perkara yang di luar kuasa manusia dan Allah Ta’ala tidak hanya menautkan hati para Ahmadi lama dengan Khilafat, bahkan Dia juga menjalinkan hati para mubayi’in baru yang baru saja bergabung dengan Jemaat dan belum mendapatkan tarbiyat secara penuh. Ini semata-mata pekerjaan Tuhan. Setelah baiat, mereka (yang baru baiat ini) memperlihatkan keikhlasan dan kesetiaan yang sama kepada Hadhrat Masih Mau’ud (as). Mereka memperlihatkan keikhlasan dan kesetiaan yang sama untuk menyempurnakan misi Hadhrat Masih Mau’ud (as) dan mereka memperlihatkannya juga kepada Khilafat Ahmadiyah setelah baiat kepada Hadhrat Masih Mau’ud (as). Bai’at yang dilakukan oleh orang-orang kepada Hadhrat Khalifatul Masih Awwal (ra), jika ini bukanlah murni dukungan dan pertolongan Allah Ta’ala, lantas apa lagi?

Selain segelintir orang-orang munafik yang selalu ada dalam setiap Jemaat, orang-orang yang berjiwa pengorbanan dan sangat mencintai Khilafat jumlahnya semakin bertambah, sedangkan mereka yang munafik, Hadhrat Khalifatul Masih Awwal (ra) menegur mereka dengan cara yang baik dan mengendalikan mereka. Mereka tidak berani mendongakkan kepala mereka.

Kemudian, pada saat pemilihan Khalifah Kedua, meskipun para penentang tersebut membuat kegaduhan, yakni mereka yang di masa Khalifah pertama tetap berada di dalam Jemaat ini dengan bersikap munafik, pada saat pemilihan Khalifah kedua, mereka melakukan penentangan, namun para anggota Jemaat berbai’at kepada Hadhrat Mian Sahib, yakni Hadhrat Mirza Basyiruddin Mahmud Ahmad, Khalifatul Masih Ats-Tsani (ra), meskipun para penentang tersebut berupaya menyesatkan orang-orang, membuat kegaduhan dan menimbulkan kekisruhan.

Kemudian dunia menyaksikan betapa cepatnya Jemaat ini meraih kemajuan. Rumah misi-rumah misi dibuka di seluruh dunia, masjid-masjid dibangun dan literatur-literatur diterbitkan. Tugas dan proyek yang demi menjalankannya Hadhrat Masih Mau’ud (as) telah datang, terus meraih kemajuan.

Kemudian di masa Khilafat Tsalitsah (kekhalifahan ketiga), sekalipun adanya serangan yang sangat hebat dari penguasa pada masa itu, Allah Ta’ala menganugerahkan kemajuan kepada Jemaat. Orang-orang yang mengira akan dapat menghancurkan Jemaat, malah mereka berlalu dari dunia ini dengan cara yang mengerikan.

Kemudian pada masa Khilafat Rabi’ah (kekhalifahan keempat) terbukalah satu bab baru kemajuan Jemaat. Kita menyaksikan pemandangan baru dukungan dan pertolongan Allah Ta’ala. Jalan-jalan baru penyebaran Islam menjadi terbuka. Mereka yang beranggapan akan memotong tangan Khalifah-e-waqt, justru tangan mereka sendiri yang terpotong dan jasad mereka hancur berkeping-keping di langit. Namun derap langkah kemajuan Jemaat tidak berhenti. Tercipta perluasan dalam medan pertablighan. MTA mulai didirikan, yang melaluinya pesan Ahmadiyah mulai sampai ke setiap rumah. Ini adalah kemajuan yang mengarah pada penyempurnaan janji-janji Allah Ta’ala kepada Hadhrat Masih Mau’ud (as), dan seandainya saja seseorang memahami, jika semua ini bukan penyempurnaan janji-janji Allah Ta’ala, lantas apa lagi?

Kemudian di masa Khilafat Khamisah (kekhalifahan kelima), Allah Ta’ala pun memperlihatkan pemandangan dukungan dan pertolongan-Nya. Di MTA, telah dibuka jalan-jalan baru untuk menyampaikan pesan Islam dan menyempurnakan misi Hadhrat Masih Mau’ud (as). Bukan satu, melainkan 7 hingga 8 channel MTA dirilis dalam berbagai bahasa. Berbagai program telah mulai diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia. MTA telah menjangkau seluruh pelosok dunia di mana sebelumnya MTA tidak sampai ke sana dan pesan Ahmadiyah dan Islam yang hakiki sampai kepada para penduduk di negeri-negeri dan wilayah-wilayah tersebut dalam bahasa mereka, yang melaluinya ratusan ribu orang berfitrat baik mendapatkan taufik untuk menerima Ahmadiyah. Kemudian selain melalui program-program MTA dan radio, Allah Ta’ala sendiri pun memberikan petunjuk kepada orang-orang dan memberikan taufik kepada mereka untuk menerima Ahmadiyah dengan perantaraan mimpi-mimpi dan berbagai literatur.

Ketika kita melihat sejarah Ahmadiyah, maka akan diketahui bagaimana pada masa Hadhrat Masih Mau’ud (as) pun Allah Ta’ala sendiri membimbing sebagian orang untuk menerima beliau (as). Kemudian mata rantai ini juga terus berlangsung di masa Hadhrat Khalifatul Masih Al-Awwal (ra). Allah Ta’ala sendiri memberikan petunjuk kepada orang-orang. Kemudian semakin banyak orang-orang yang berfitrat baik bergabung ke dalam Jemaat.

Selanjutnya pada masa Khilafat Tsaniyah, terdapat banyak riwayat yang turun-temurun di keluarga para Ahmadi lama mengenai bagaimana Allah Ta’ala memberikan taufik kepada para leluhur mereka untuk menerima kebenaran. Kemudian pada masa Khilafat Tsalitsah silsilah ini pun terus berlangsung. Pada masa Khilafat Rabi’ah juga orang-orang yang berfitrat baik mendapatkan bimbingan dari Allah Ta’ala untuk menerima Ahmadiyah. Ini semua adalah merupakan hasil dari janji-janji Allah Ta’ala kepada Hadhrat Masih Mau’ud (as).

Demikianlah Jemaat terus berderap maju di setiap era kekhalifahan. Ini jugalah perlakuan Allah Ta’ala di dalam era khilafat yang kelima. Allah Ta’ala terus membukakan jalan-jalan baru dalam pertabligan, dan Dia terus mencondongkan kalbu orang-orang untuk mendengarkan dan menerima pesan Hadhrat Masih Mau’ud (as). Terdapat banyak peristiwa yang adalah murni menunjukkan kepada adanya dukungan Ilahi; karena jika hanya dengan usaha-usaha manusia, tidak mungkin mereka akan menerima Jemaat.

Saya akan menyampaikan beberapa peristiwa bagaimana Allah Ta’ala telah menyediakan sarana untuk mencondongkan hati orang-orang menuju Islam dan Ahmadiyah dimana kebenaran Khilafat Ahmadiyah pun terbuka atas mereka, dan bagaimana Dia telah memunculkan kecintaan kepada Khilafat di dalam hati mereka.

Guinea Bissau adalah satu negara yang jauh di Afrika. Di sana ada satu warganya yang tadinya seorang Kristen bernama Abdullah Sahib (bapak Abdullah). Beliau menerangkan, “Beberapa waktu sebelumnya saya melihat [dalam mimpi] wujud seseorang yang memiliki janggut putih, mengenakan turban, dan beliau tengah berpidato di hadapan segenap orang, dimana orang-orang menyimak pidato beliau dengan penuh khidmat. Cara sosok tersebut dalam menyampaikan pidato adalah sangat sederhana”.

Ia menuturkan, “[Orang yang kulihat dalam mimpi penampilannya] berbeda dengan keadaan orang-orang di daerah kami.” Ketika ia bangun, ia sama sekali tidak memahaminya, lalu ia pun lupa akan mimpi ini.

Beberapa hari kemudian, ia kembali melihat mimpi yang serupa sehingga dengan ini dirinya pun menjadi ingat dengan wajah sosok tersebut. Lalu untuk ketiga kalinya ia kembali bermimpi. Ia terus berusaha agar dapat mengetahui siapa gerangan sosok tersebut, namun ia tetap tidak mengetahuinya. Suatu hari secara kebetulan ia pergi ke masjid kita yang berada di kota yang dekat dengan kampungnya. Hari itu adalah hari Jumat. Saat itu segenap anggota Jemaat tengah menyimak khotbah Jumat saya di MTA.

Ia menuturkan, “Setelah melihatnya saya segera bertanya ke Muallim Sahib, siapakah sosok yang menyampaikan khotbah. Ia menjawab, ‘Beliau adalah sosok Khalifah kami.’”

Alhasil, ia terus duduk menyimak khotbah dengan khidmat, dan setelah khotbah Jumat ia pun shalat bersama-sama dengan anggota Jemaat.

Setelah shalat, ia segera berdiri dan berkata, “Hari ini saya memeluk Islam.”

Ia menyampaikan, “Sudah tiga kali Allah Ta’ala memperlihatkan sosok ini kepada saya di dalam mimpi, dan ini memberi pengaruh besar di dalam jiwa saya; saya telah mencarinya hingga satu masa, namun hari ini saya secara kebetulan datang ke masjid Anda dan menyaksikan Khalifah Anda. Inilah wajah yang telah saya lihat dahulu di dalam mimpi, dan ini jugalah pemandangan yang telah saya lihat di dalam mimpi, yaitu orang-orang tengah duduk menyimak khotbah dengan khidmat, dan kini saya masuk ke dalam Islam Ahmadiyah.”

Demikianlah, Allah Ta’ala memberikan bimbingan lewat mimpi kepada seseorang yang tinggal di tempat yang jauh, lalu Allah Ta’ala memberi sarana agar bagaimana orang itu melihat pemandangan seperti mimpinya itu. Sebagian orang berkata, “Mengapa hal ini tidak terjadi pada kami?”

Sesungguhnya ini adalah karunia Allah Ta’ala dan Dia memberi petunjuk bagi siapa yang Dia kehendaki. Namun untuk hal ini perlu juga adanya fitrat yang suci, dan penting juga tunduk di hadirat Allah Ta’ala. Pasti ada suatu kebaikan dari insan tersebut sehingga Allah Ta’ala pun menurunkan bimbingan kepadanya dengan cara ini.

Kemudian Amir Sahib di Gambia menulis, “Ada seorang wanita bernama Sister Fatu. Usianya sekitar 60 tahun. Ia berkata, ‘Suatu saat di daerah saya datang beberapa orang dari satu kelompok Islam. Mereka mulai mengucapkan hal-hal yang memusuhi Jemaat Ahmadiyah, seperti “Para Ahmadi adalah kafir dan tidak akan pernah masuk surga, jangan berjual beli apapun dengan mereka.” Sebagian besar orang-orang di kampung mempercayai ucapan mereka.’

Wanita tersebut diliputi kekhawatiran, hingga akhirnya berdoa kepada Allah Ta’ala untuk memohon petunjuk. Beberapa hari kemudian, ia bermimpi bahwa orang-orang dari kelompok tersebut yang sebelumnya berkunjung, mata mereka terlihat bersinar seperti bintang, dan di tangannya mereka memegang Al-Quran Majid, namun mereka mengeluhkan tidak dapat melihat tulisan Al-Quran Majid. Mereka pun ribut dan mengatakan bahwa Allah Ta’ala telah membutakan mata mereka dan dengan ini mereka tidak dapat melakukan pekerjaannya dan mereka pun menjadi hancur dan terhina.

Wanita ini menuturkan, ‘Di dalam mimpi, saya pun melihat bahwa orang-orang di kelompok itu ingin berjabat tangan dengan Khalifah Jemaat Ahmadiyah, tetapi mereka tidak berhasil dalam hal ini. Mereka pun mengakui, “Memang Ahmadiyah adalah benar. Namun jika saya menerimanya, pengikut-pengikut saya pasti akan menyingkir dari saya.”’ Alhasil, di pagi hari wanita tersebut menceritakan mimpi ini kepada keluarganya.”

Ini membantah perkataan sebagian orang yang menyatakan orang Afrika rendah dalam pemikiran dan pemahaman. Singkat kata, ia pun menafsirkan mimpinya seperti demikian yaitu: kendati mereka memiliki kedua mata yang bersinar, mereka tidak kunjung mengenal tulisan Al-Quran. Artinya adalah mereka telah sama sekali sesat dari kebenaran. Alhasil, terdapat peristiwa-peristiwa menakjubkan yang tampak pada diri mereka yang menerima Ahmadiyah yaitu bagaimana dukungan khas Allah Ta’ala yang tengah memperlihatkan kepada mereka pemandangan seperti ini.

Dari negara Guatemala, benua Amerika Selatan. Sejauh 250 km dari masjid kita di sana, di perbatasan dengan Meksiko, terdapat sebuah tempat bernama San Markos. Ada seorang wanita di sana bernama Yuronika Sahibah yang menuturkan, “Sepuluh (10) tahun yang lalu saya melihat di dalam mimpi bahwa ada satu sosok yang datang di mimpi saya dan berkata bahwa jalan kebenaran adalah Islam.”

Sosok itu menyuruh untuk membaca Al-Quran Majid, tetapi wanita itu menjawab, “Saya tidak bisa membaca Al-Quran.”

Namun, orang itu berkata, “Anda dapat membacanya”.

Di pagi hari, ia menceritakan mimpi ini kepada suami dan ayahnya. Mereka berkata, “Islam bukan jalan kebenaran. Ini adalah agama terorisme.” Mereka semua beragama Kristen.

Namun wanita itu berkata, “hati saya belum tenang. Saya lalu mulai meneliti tentang islam di Internet, dan saat itu saya mempelajari sendiri Islam melalui internet”.

Suatu ketika ia pergi ke pasar dania bertemu dengan wanita yang berpardah [berhijab]. Melihat wanita tersebut, jiwa keingintahuannya muncul. Ia mendatanginya dan bertanya kepadanya, “Pakaian apakah yang Anda kenakan ini?”

Wanita yang berpardah itu menjawab, “Saya adalah seorang Muslim sehingga saya berpardah.” Alhasil, ia mulai berhubungan (berkomunikasi) dengannya dan wanita itu menjelaskan Islam secara rinci. Wanita yang berpardah itu ternyata seorang Ahmadi.

Terkait:   Keteladanan Para Sahabat Rasulullah (saw) -Muhammad bin Maslamah ra

Wanita tadi menuturkan, “Sebenarnya saya telah berbaiat setelah mendengar apa yang ia katakan tentang ajaran Islam, tetapi saat itu keluarga saya tidak merestui. Mereka kerap melontarkan keberatan-keberatan yang mana saat itu saya tidak mampu menjawabnya.”

Ia lalu berpesan ke Ahmadi itu, “Anda datanglah ke rumah kami. Saya akan mengumpulkan keluarga besar saya. Mohon jawablah keberatan-keberatan itu.”

Alhasil telah banyak sekali pertemuan tabligh yang diadakan hingga ia pun mulai bertablig. Ia hanya belum melakukan baiat, namun ia sudah bertablig kepada orang lain. Ia telah mengumpulkan teman-temannya seraya menyiapkan hidangan untuk mereka.

Ia memiliki seorang putra yang sedang menempuh pendidikan hukum dan kini sudah ada di tahun terakhir di Universitas.

Anaknya itu pun baiat, dimana ia sedemikian semangatnya hingga ia pun belajar sendiri membaca Al-Quran melalui internet. Banyak sekali surah di dalam Al-Quran yang telah ia hafal. Lalu dengan mendengar Audio Al-Quran (ia masih belum bisa menulis dalam bahasa Arab), ia pun menulis keseluruhan Al-Quran dalam abjad Roman.

Amir Sahib menuturkan, “Tatkala saya pergi kunjungan, saya melihat buku catatan miliknya. ia menulis sendiri seluruh Al-Quran Karim dan kini ia sedang belajar bahasa Arab dan menuliskannya dalam bahasa Arab.”

Demikianlah Allah Ta’ala tidak hanya sedang membawa orang-orang yang berfitrat suci ke dalam Jemaat ini, tetapi juga menyempurnakan apa yang telah dijanjikan kepada Hadhrat Masih Mau’ud (as) setelah kewafatannya.

Di satu tempat lain yang jauh di Indonesia, ada seorang pemuda di sana yang telah disampaikan Tabligh dan ia pun segera berbaiat. Ketua Jemaat setempat, Nur Sahib (Bapak Nur) menuturkan, “Sebelum ia pulang, saya sempat memberi beberapa buku kepadanya dan juga brosur yang di dalamnya ada foto-foto Hadhrat Masih Mau’ud (as). Tatkala pemuda itu tiba di rumah, orang tuanya melihat salah satu brosur dan bertanya, ‘Foto siapakah ini?’

Putranya menjawab, ‘Ini adalah foto Imam Mahdi. kemarin malam saya melihat sebuah mimpi dimana Imam Mahdi telah datang sehingga saya yang sebelumnya telah memiliki pengetahuan tentang Jemaat Ahmadiyah segera melakukan baiat.’

Atas hal ini ayahnya berkata, ‘Saya pun ingin berbaiat.’”

Demikianlah, Allah Ta’ala memasukkan mereka ke dalam Jemaat.

Muallim di Burkina Faso, Azilah Karim Sahib menuturkan, “Ada seseorang yang tinggal di daerah kami yang bernama Hamid Sahib yang secara rutin mendengarkan radio Jemaat. ia memiliki rasa simpati terhadap Jemaat dan juga membayar candah. ia bahkan mulai memberikan candah secara rutin, tetapi tatkala ia diminta untuk berbaiat, ia menghindar dengan berbagai alasan. Ia mungkin tidak membayar candah Am, tetapi ia membayar candah Tahrik Jadid dan Waqfi Jadid, juga memberi sedekah. alhasil, ia membayar candah dan pengorbanan harta melalui Jemaat. Saya pun melihat hal ini di Ghana saat saya pernah tinggal di sana. orang-orang di sana yang telah wajib zakat, mereka datang memberi zakat mereka kepada Jemaat, dan mereka tidak memberikan kepada para Maulwi mereka karena takut disalahgunakan, sementara mereka yakin Jemaat Ahmadiyah akan menggunakannya secara benar. Alhasil, dengan cara demikianlah orang-orang memberikan candahnya.

Pada satu hari, ia melihat di dalam mimpi bahwa tengah ada suatu pertemuan dimana segenap orang tengah berada di dalam dinding pagar, dan ada beberapa yang berada di luar pagar. ia menuturkan, “Saya melihat bahwa yang ada di dalam dinding pagar semuanya adalah Ahmadi. Atas hal ini saya berkata: Saya pun bersama mereka, maka mohon masukkanlah saya ke dalam. lalu terdengar suara yang mengatakan bahwa: yang dapat masuk ke dalam dinding pagar ini hanyalah mereka yang telah melakukan baiat. karena Anda belum berbaiat, maka Anda tidak dapat masuk kedalam. oleh karena itu keesokan harinya, stelah mimpi ini, ia datang untuk berbaiat.

Bukanlah usaha-usaha manusia yang telah memasukkan mereka ke dalam Jemaat, tetapi karena ia adalah insan yang berfitrat suci, maka Allah Ta’ala tidak menyia-nyiakannya dan Allah Ta’ala tidak ingin menyia-nyiakannya. oleh karena itu dengan cara demikianlah Allah Ta’ala membimbingnya. ini pun merupakan jawaban bagi orang-orang yang mengatakan bahwa mereka tidak kunjung mendapatkan mimpi. pertama-tama, hendaknya memiliki fitrat yang suci, hendaknya membersihkan pikiran dan berdoa, maka kemudian AllahTa’ala pun akan membimbingnya.

Kemudian, ada seorang sahabat dari Mali bernama Muhammad Kone Sahib. ia kerap mendengar radio Jemaat. ia pun mendengar ucapan-ucapan orang-orang yang menentang Jemaat. maka kemudian ia mulai berdoa agar Allah Taala memperlhatkan jalan yang lurus kepadanya. Setelah itu ia menuturkan, “Saya melihat di dalam mimpi bahwa ada sesosok wujud yang berkata kepada saya bahwa setiap insan pada dasarnya adalah suci. Ia mengatakan, ‘Setiap orang akan masuk kedalam Ahmadiyah, apakah kini atau nanti. Hal ini kini kembali kepada takdir Allah Ta’ala.’”

Allah Ta’ala telah berjanji kepada Hadhrat Masih Mau’ud (as) dan sebagaimana yang telah disabdakan oleh Hadhrat Masih Mau’ud (as), bahwa melalui nikmat Khilafat Ahmadiyah yang terus berjalan inilah misi Hadhrat Masih Mau’ud (as) akan mencapai penyempurnaannya. Alhasil, melalui hal ini maka ia pun berbaiat.

Kemudian Muballigh dari Guinea Bissau menulis, “Ada Ahmadi yang baru baiat bernama Usman Sahib. Tatkala sebelumnya ia mengetahui sebagian besar keluarganya kini tengah menerima Ahmadiyah, ia mengumpulkan dan membawa beberapa Maulwi ke tempatnya supaya mereka dapat melakukan penentangan terhadap Jemaat. Maulwi kita berkata kepada mereka, ‘Silahkan Anda melakukan penentangan kepada kami, tidak ada yang akan menghalangi Anda. Tetapi, mohon dengarkanlah untuk satu kali saja pesan dari saya. Setelah itu, silahkan Anda lakukan penentangan dengan dalil-dalil Anda.’

Para maulwi itu menolak untuk datang mendengarkan pesan, tetapi Usman Sahib menerima ajakan tersebut dan ia datang untuk mendengar pesan dari Jemaat.”

Ia menerima pesan tentang kedatangan Hadhrat Masih Mau’ud (as). Ia datang pada hari Jumat dan pada saat itu di MTA tengah ditayangkan Khotbah saya (Hudhur atba).

Muallim bertanya, “Jika Anda memiliki waktu, simaklah Khotbah untuk beberapa saat.”

Ia menjawab, “Waktu saya hanya tinggal sedikit dan saya hanya akan mendengarkan khotbah sejenak saja.” Namun, tatkala ia mulai mendengar khotbah, maka ia pun lupa akan berapa banyak waktu yang telah ia lalui, dan ia pun mendengarkan khotbah seluruhnya.

Setelah itu, ia mengatakan, “Tidak mungkin Ahmadiyah adalah kafir sebagaimana yang telah saya dengar sebelumnya, karena Khalifah Anda tengah menyampaikan peri kehidupan para sahabat Hadhrat Muhammad Rasulullah (saw) dan tidak ada suatu golongan kafir mana pun yang dapat menyampaikan pesan ini.” Setelah itu, ia berhenti memusuhi Jemaat. Setelah berlalu beberapa masa, ia pun masuk Jemaat bersama segenap keluarganya. Kini ia tidak hanya masuk Jemaat, tetapi ia pun tengah melakukan tablig. Ia juga membayar candah secara rutin.

Ini pun adalah pengaruh dari khotbah-khotbah yang Allah Ta’ala masukkan ke dalam khotbah-khotbah Khalifah pada waktunya.

Muballigh lokal di Kongo Kinsasha menuturkan, “Telah kami mulai suatu upaya pertabligan di satu wilayah, dan para ghair Ahmadi di sana pun mulai memberikan penentangan terencana. Setelah 3 bulan berlalu, satu hari salah seorang sahabat yang kemudian masuk Jemaat dari kalangan penentang bernama Usman Sahib, ia menghubungi rumah missi dan berkata, Saya ingin masuk Jemaat bersama seluruh keluarga saya.

Tatkala ditanyakan apa sebab ia berbaiat, ia menjawab, ‘Pada suatu hari istri saya sedang melihat satu saluran TV parabola, dan ia pun melihat saluran MTA. Karena ia mengetahui bahwa saya adalah terdepan dalam menentang Ahmadiyah, maka ia memanggil saya.

Tatkala saya mulai mengucapkan hal-hal yang salah tentang Jemaat, istri saya berkata, “Pertama-tama lihatlah acara ini hingga akhir lalu bicaralah.”’ Yang tengah tayang di MTA saat itu adalah khotbah Khalifah.

‘Setelah menyimak khotbah, saya menjadi yakin, dan suara yang kini tengah masuk ke dalam telinga saya adalah sungguh gambaran Islam yang hakiki, dan setelah mendengar Khalifah, tidak ada lagi suatu keraguan akan kebenaran Jemaat di dalam diri saya.’”

Di dalam hal ini, tidak ada suatu keistimewaan apapun dari sisi pribadi saya. Melainkan, ini adalah merupakan karunia yang Allah Ta’ala perlihatkan kepada orang-orang sebagaimana Allah Ta’ala telah janjikan untuk menyempurnakan misi Hadhrat Masih Mau’ud (as) melalui lembaga Khilafat ini.

Muballigh dari Guinea Bissau menuturkan bahwa di suatu desa telah dilakukan upaya tablig dan banyak orang yang masuk Jemaat. Ada 4 keluarga yang menolak menerima Ahmadiyah. Tatkala tim kita datang ke sana untuk memasang MTA, Muallim sahib pun mengundang semua keluarga yang menolak Jemaat untuk ke Masjid dan berkata, “Ini adalah saluran televisi Muslim kami. simaklah dan Anda juga akan dapat melihat foto Hadhrat Masih Mau’ud (as) dan khalifah yang saat ini ada.’”

Alhasil muallim mengatakan bahwa tatkala pemasangan telah selesai, setelah melaksanakan shalat, dan TV pun kembali dinyalakan, saat itu yang tengah ditayangkan di MTA adalah khotbah saya (Hudhur). Mereka yang bukan Ahmadi itu terus menyimak khotbah dengan sangat khidmat.

Karena khotbah tersebut tayang dalam terjemahan bahasa Inggris, maka muallim berkata, “Saya akan menerjemahkannya untuk Anda.” Salah satu dari mereka menjawab, “Meskipun saya tidak memahami khotbah ini, tetapi saya menyatakan dengan bersumpah kepada Tuhan bahwa orang yang tengah berbicara ini, tidak mungkin berdusta. Jika ini adalah Khalifah Jemaat Ahmadiyah, tidak mungkin Jemaat ini dusta.” Kemudian, beliau saat itu juga menyatakan menerima Ahmadiyah.

Muallim dari Mali menulis, “Ada seseorang yang datang ke rumah misi kami dan memberitahukan bahwa beliau mendengarkan radio kita secara rutin dan menyatakan ingin baiat. Beliau mengisi formular baiat. Sebagai seorang terpelajar, beliau mengatakan, ‘Jika ada literatur dalam Bahasa Perancis, mohon berikan kepada saya supaya saya bisa mengambil manfaat darinya dan juga bisa saya berikan kepada kawan kawan saya.’”

Selanjutnya, Pak Muallim memberikan beberapa buku dalam Bahasa Perancis yang berisi beragam pidato yang saya sampaikan berkenaan dengan perdamaian diantaranya world crisis and pathway to peace. Beliau langsung membuka buku itu dan ketika melihat foto saya (Hudhur V [atba], beliau menangis dan berkata, “Sebelum ini saya selalu memohon kepada Allah Ta’ala agar dibimbing ke jalan yang lurus, saat itu saya sering sekali melihat Khalifatul Masih dalam mimpi, saat itu saya tidak tahu siapa orang ini. Sekarang saya baru paham bahwa doa saya telah dikabul dan Allah Ta’ala telah membimbing saya.”

Seorang wanita berbangsa Arab menuturkan, “Dua tahun sebelum baiat saya melihat foto Hadhrat Masih Mau’ud (as) untuk pertama kalinya.”

Sebelum itu wanita tersebut menceritakan kisah ini, ia dalam suratnya kepada saya (Hudhur) menulis, “Anda (Hudhur) pernah menyebutkan tentang seorang anak laki-laki yang membuat garis-garis yang bengkok-bengkok lalu menulis: ‘Hudhur! Saya mencintai Hudhur.’ Seorang anak-anak tidaklah berbicara dusta. Hal itu memberikan kesan yang sangat besar dalam diri saya.”

Wanita itu pun baiat. Setelah berlalu beberapa waktu, wanita itu mengatakan kepada saya lewat surat, “Dua tahun sebelum baiat, saya pertama kali melihat foto Hadhrat Masih Mau’ud (as). Saya berkata kepada foto itu, ‘Raut wajah Anda memberitahukan bahwa Anda adalah seorang yang baik dan tidak berdusta, namun saya masih belum bisa meyakini kebenaran Anda diutus dari langit.’

Dua tahun setelah baiat saya mulai menelaah. Saya baiat pada awal tahun 2016, namun meskipun demikian masih menyimpan keraguan perihal Khilafat. Setan dalam diri saya mengatakan, ‘Bagaimana mungkin saya memberikan kendali bagi kehidupan saya kepada pendakwa Khilafat. Kenapa saya harus menulis surat kepada orang seperti ini untuk menceritakan keadaan saya? Apa manfaat Khilafat?’

Namun keraguan tersebut hilang setelah menelaah buku karya Hadhrat Muslih Mau’ud yang berjudul ‘Khilafat Rashidah’, ‘Nizham Khilafat dan ketaatan’, semuanya menjadi jelas bagi saya.

Kemudian, saya menulis surat lalu mendapatkan jawaban dari Anda (Hudhur) yang dengannya keraguan sama sekali sirna dan menjadi yakin bahwa Khilafat pun mengikuti jejak langkah Hadhrat Masih Mau’ud (as).”

Beliau menulis, “Kecintaan yang Allah Ta’ala sendiri semaikan ke dalam kalbu, dimasukkan dengan sangat kokoh dan kita tidak mengetahui sebabnya. Untuk itulah, pada umumnya para Ahmadi mencintai Hadhrat Masih Mau’ud (as) dan para Khalifahnya. Kecintaan kepada Anda khususnya seperti kecintaan kepada anak-anak. Sebelum baiat, tidak pernah terfikir oleh kami kecintaan yang seperti ini.”

Terkait:   Ramadhan: Pemahaman atas Filosofi Pengabulan Doa-Doa

Dari Nigeria, seorang Muballig menuturkan, “Dalam suatu acara soal jawab, terjadi perdebatan perihal ‘Apakah dibolehkan kita memanggil anak [menamai anak] dengan nama yang disandarkan pada nama keluarga leluhurnya secara turun-temurun bukan pada nama ayahnya yang sebenarnya.’ Saya jelaskan kepada mereka bagaimana ajaran Al-Quran agar memanggil [menamai] anak-anak dengan menghubungkan dengan nama ayahnya. Mendengar hal itu, beberapa orang yang hadir khususnya ghair Ahmadi dan para mubayyin baru masih belum puas sepenuhnya.

Namun, dua hari kemudian ketika Anda (Hudhur) menyampaikan khotbah berkenaan dengan topik para sahabat Nabi (saw), Anda menjelaskan Riwayat Hidup Hadhrat Zaid bin Haritsah – Zaid putra Haritsah – (زيد بن حارثة). Anda menjelaskan bahwa orang-orang Arab mulai memanggil Zaid dengan nama Zaid bin Muhammad (Zaid putra Muhammad) lalu turun perintah Allah Ta’ala agar memanggil Zaid dengan nama ayahnya (Haritsah). Setelah mendengar khotbah tersebut seluruh anggota dan para hadirin sangat berbahagia karena Khalifah telah memberikan jawaban atas hal yang tengah diperdebatkan dua hari lalu.”

Sebagian orang beranggapan mungkin saja pak Muballig telah menulis surat surat kepada Khalifah dalam waktu dua hari, lalu Khalifah menyampaikan topik tersebut dalam khotbahnya. Namun pak Muballigh mengatakan bahwa beliau tidak memberitahukan hal ini sedikit pun kepada Khalifah. Mereka berkata, “Kami sangat bahagia karena Allah Ta’ala sendiri telah memberikan jawaban atas pertanyaan kami.”

Sebagai bentuk rasa syukur atas kegembiraan ini, ada seorang Ahmadi kaya memberi sebuah TV besar untuk menonton MTA agar dipasang di pojok masjid tempat lajnah sehingga para wanita tidak luput dari keberkatan Khilafat. Beliau mengatakan bahwa Khilafat ada di dalam hati.

Sekarang, di pelosok daerah yang sangat jauh seperti itu, para Ahmadi yang hidup diberbagai negeri, bangsa, keturunan, siapa yang mencipatakan jalinan antara mereka dengan Khilafat. Sesungguhnya pertolongan dan dukungan Allah Ta’ala lah, karena pemikiran manusia tidak akan mampu menjangkaunya.

Selanjutnya ada seorang wanita Norwegia bernama Nyonya Brifan menuturkan, “Setiap Ahmadi sejati mengatakan bahwa Hudhur kita yang tercinta senantiasa ada dalam kalbu dan pandangan kami dan kami berdoa untuk beliau. Di dunia ini kesedihan kami tiada lain dari memikirkan cara-cara untuk membahagiakan dan mengurangi beban yang tertumpu pada beliau. Hudhur telah menyampaikan didalam khutbanya bagaimana para sahabat yang mulia rela bertahan dari serangan panah demi untuk melindungi Rasulullah (saw). Setelah memikirkan pemandangan tersebut mengalir air mata di mataku dan berfikir apa yang akan saya lakukan jika dihadapkan pada kesempatan demikian. (Beliau adalah wanita berasal dari negeri Arab) Lalu saya memanjatkan doa, semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada kita untuk dapat mengorbankan jiwa harta dan anak keturunan kita bagi Khalifah dan Khilafat dan melindunginya seperti yang dilakukan oleh para sahabat. Sudah bertahun tahun saya memanjatkan doa dalam shalat yakni sekian banyak kesedihan yang Hudhur rasakan dan sekian banyak tanggung jawab yang ada di pundak Hudhur, semoga sebanyak itu pulalah Allah Ta’ala menurunkan Malaikat yang akan melindungi Hudhur.”

Inilah jalinan ketulusan dan kesetiaan yang Allah Ta’ala ciptakan dalam kalbu orang-orang dan insya Allah Ta’ala Allah Ta’ala akan terus menganugerahkan Jemaat yang terus meningkat dalam keikhalasan dan kesetiaan kepada Hadhrat Masih Mau’ud (as) hingga hari kiamat. Orang-orang duniawi (materialistis) tidak akan dapat memahaminya.

Ada seorang mubayyin baru asal Arab di Jerman. Kawannya mengatakan kepadanya, “Apa ini? Apakah kamu telah menjadi Qadiani?”

Sang Ahmadi menjawab, “Meskipun orang Arab di sini jumlahnya ratusan, namun kalian tidak akan dapat bersatu dalam hal apapun. Adapun dalam Jemaat Ahmadiyah terdapat seorang Imam yang dipatuhi oleh jemaahnya sehingga terdapat keberkatan dalam tugas-tugasnya. Sekarang coba jawab, ‘Keistimewaan apa yang kalian miliki, sehingga saya harus bergabung dengan kalian lalu meninggalkan Ahmadiyah?’”

Alhasil, selama setiap Ahmadi terjalin ikatan dengan Khilafat, ia akan senantiasa menjadi pewaris karunia Ilahi. Untuk itu, kita harus menyelaraskan amalan kita sesuai dengan ajaran Allah Ta’ala, dengan begitu ni’mat tersebut baru akan memberikan faidah, inilah janji Allah Ta’ala yakni barangsiapa yang setelah beriman kemudian menyelaraskan amalannya sesuai dengan car acara yang diajarkan oleh Allah Ta’ala, maka mereka akan selalu meraih keberkatan keberkatan Khilafat. Yakni jika setelah memiliki keimanan kamil kepada Allah Ta’ala lalu memenuhi hak ibadah kepadaNya dan setiap amalannya ditujukan semata mata untuk mencari ridha Ilahi, baru kita akan meraih limahan keberkatan tersebut.

Hadhrat Aqdas Masih Mau’ud (as) bersabda, “Di dalam Al Quran Syarif Allah Ta’ala meletakkan keimanan bersamaan dengan amalan saleh. Yang disebut amal saleh adalah yang di dalamnya tidak terdapat kerusakan walau hanya sebesar zarrah (atom atau sekecil apa pun). Jika di sebuah rumah ada satu orang saja yang benar-benar beramal saleh maka rumah itu akan terlindungi. Hanya dengan percaya saja tanpa amal saleh, tidak akan memberikan manfaat apa-apa.”[5]

Untuk itu, kita hendaknya senantiasa mengevaluasi diri, yakni jangan sampai setan menyerang kita kapan saja. Allah Ta’ala telah memberikan taufik kepada leluhur kita untuk beriman kepada Hadhrat Masih Mau’ud (as) atau memberikan taufik kepada kita untuk beriman kepada beliau (as). Ini merupakan ihsan (kebaikan) Allah Ta’ala dan untuk mengalirkan limpahan ihsan tersebut perlu bagi kita untuk meningkatkan keimanan kita secara terus menerus dan mengarahkan pandangan pada keimanan kita, sehingga setiap kita dapat meraih bagian keberkatan yang telah dinubuatkan oleh Hadhrat Saw dan telah dijanjikan oleh Allah Ta’ala kepada Hz Masih Mau’ud (as), yakni Nizham Khilafat. Alhasil, perlu untuk selalu mengevaluasi diri yakni sejauh mana kita telah menjalinkan diri dengan Khilafat, supaya kita dapat bersatu untuk menegakkan tauhid Ilahi di dunia ini.

Dalam satu kesempatan Hadhrat Masih Mau’ud (as) bersabda, “Bersukacitalah kalian, sebab medan (ruang) untuk mencapai qurb (kedekatan) kepada Tuhan, sekarang lagi sunyi-sepi. Tiap-tiap bangsa sedang asyik dalam urusan dunia, dan tiap amal yang diridhai oleh Tuhan itu sedang tidak diacuhkan oleh dunia. Bagi orang-orang yang dengan sekuat tenaganya hendak memasuki pintu itu ada kesempatan baik untuk memperlihatkan kecakapannya serta memperoleh hadiah istimewa dari Tuhan. Janganlah kalian menyangka bahwa Tuhan akan menyia-nyiakan kalian. Kalian adalah sebuah benih dari Tuhan yang sudah ditanam dalam bumi.

Tuhan berfirman bahwa benih ini akan tumbuh kian besar dan berbunga, dan cabang-cabangnya akan menyebar ke segala arah dan akan jadi sebuah pohon yang besar. Berbahagialah orang yang percaya kepada perkataan Tuhan, dan dia tidak gentar menghadapi cobaan-cobaan yang akan datang di pertengahan masa itu, sebab kedatangan cobaan-cobaan pun perlu pula supaya Tuhan menguji kalian, siapakah yang benar dalam pengakuan baiatnya dan siapa pula yang bohong.“[6]

Beliau (as) bersabda: “Tuhan berfirman kepadaku, bahwa saya harus memberitahu kepada Jemaatku, yaitu: orang-orang yang beriman, dengan iman yang tidak dicampuri keduniaan, iman yang tidak dinodai kemunafikan atau kegentaran, dan iman itu tidak kosong dari tingkat-tingkat ketaatan (meliputi semua derajat ketaatan), orang-orang yang demikian inilah yang disukai oleh Tuhan. Tuhan berfirman: Orang-orang inilah yang jejak dan langkahnya terletak di atas jejak kebenaran.”[7]

Semua ini beliau sabdakan dalam buku Al-Wasiyat yang di dalamnya juga beliau memberikan kabar suka akan beralangsungnya Khilafat. Jadi, sabda beliau ini menekankan bahwa setiap Ahmadi pun seyogyanya memiliki jalinan keikhlasan dan kesetiaan dengan Khilafat. Siapa meraih tolok ukur tersebut, akan tergolong sebagai orang yang memenuhi hak baiat. Jika ini itu terpenuhi maka kita akan dapat memenuhi hak untuk merayakan Hari Khilafat pada hari ini. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufik kepada kita semua untuk dapat memenuhi hak baiat kepada Khilafat dan dapat meraih karunia Allah Ta’ala.

Sekarang saya akan sampaikan pengumuman singkat bahwa pada hari ini Jemaat Ghana tengah mengadakan Jalsah Salanahnya untuk dua hari yakni pada tanggal 27 dan 28 yang diadakan di Bustan-e-Ahmad. Selain itu, mereka memusatkan di 119 tempat di seluruh penjuru negeri yang mana 5 diantaranya merupakan pusat perkumpulan dalam jumlah besar dan satu sama lain terkoneksi dengan perantaraan audio video.

Awal mula berdirinya Jemaat Ghana adalah pada bulan Februari 1921. Maulana Abdur Rahim Nayyar berangkat dari London dan tiba di Ghana. Pada tahun lalu Jemaat Ghana berkeinginan untuk mengadakan perayaan seabad Jemaatnya, namun tidak dapat diadakan karena Covid. Untuk itu, sekarang mereka memutuskan program [Seratus Tahun Ahmadiyah Ghana] akan diadakan selama dua tahun, 2022-2023. Semoga Allah Ta’ala memberkati jalsah mereka dari berbagai sisi dan semoga terus meningkatkan segenap Ahmadi dalam keikhlasan dan kesetiaan.

Demikian pula Jalsah Salanah Gambia tengah berlangsung pada hari ini selama tiga hari kedepan. Semoga Allah Ta’ala memberikan keberkatan dari berbagai sisinya. [8]

Khotbah II

الْحَمْدُ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنُؤْمِنُ بِهِ وَنَتَوَكَّلُ عَلَيْهِ وَنَعُوْذ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا –

مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ –

وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ –

 عِبَادَ اللهِ! رَحِمَكُمُ اللهُ!

إِنَّ اللهَ يَأْمُرُبِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذكَّرُوْنَ –

أُذكُرُوا اللهَ يَذكُرْكُمْ وَادْعُوْهُ يَسْتَجِبْ لَكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ


[1] Musnad Ahmad bin Hanbal, jilid 6, halaman 285, hadits an-Nu’man bin Basyir, hadits 18596, ‘Alamul Kutub, Beirut, Lebanon, 1998 (مسند احمد بن حنبل جلد 6 صفحہ 285حدیث 18596 مسندنعمان بن بشیرؓ مطبوعہ عالم الکتب بیروت1998ء). Diriwayatkan oleh Hadhrat Huzaifah (ra) bahwa Rasulullah (saw) bersabda: تَكُونُ النُّبُوَّةُ فِيكُمْ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةٌ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا عَاضًّا فَيَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ مُلْكًا جَبْرِيَّةً فَتَكُونُ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ تَكُونَ ثُمَّ يَرْفَعُهَا إِذَا شَاءَ أَنْ يَرْفَعَهَا ثُمَّ تَكُونُ خِلَافَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ثُمَّ سَكَتَ “ “Kenabian akan tetap di antara kalian selama Allah menghendakinya. Kemudian Dia akan mengambilnya lalu khilaafah ‘ala minhajin nubuwwah (Khilafat berdasarkan kenabian) akan dimulai, dan kemudian, ketika Allah menghendaki, Dia akan mengambil karunia ini juga. Kemudian sesuai dengan Taqdir-Nya, kerajaan yang menggigit (menyakitkan dan mengesalkan) akan tegak, yang akan membuat orang sedih dan merasa terkekang dan kemudian ketika era ini akan berakhir, sesuai dengan Taqdir Tuhan selanjutnya, kerajaan yang lalim akan muncul, sampai datang gelora rahmat Allah dan Dia mengakhiri era tirani dan penindasan ini. Kemudian, Khilafat berdasarkan kenabian akan tegak lagi.” Setelah mengatakan hal ini Rasulullah (saw) diam.

[2] Risalah al-Wasiyyat, Ruhani Khazain jilid 20, h. 305-306, terj. Indonesia, 2001, h. 14 (رسالہ الوصیت،روحانی خزائن جلد20صفحہ305).

[3] Risalah al-Wasiyyat, Ruhani Khazain jilid 20, h. 306-307, terjemah Indonesia, 2001, h. 15 (رسالہ الوصیت،روحانی خزائن جلد20صفحہ306،305).

[4] Risalah al-Wasiyyat, Ruhani Khazain jilid 20 h. 304, terj. Indonesia, 2001, h. 11 (رسالہ الوصیت،روحانی خزائن جلد20صفحہ304).

[5] Al-Badr 26 Desember 1902 (البدر، عدد 26/ 12/1902) tercantum juga dalam Malfuuzhaat (ملفوظات جلد چہارم صفحہ 274-275).

[6] Risalah Al-Wasiyyat, Ruhani Khazain jilid 20, h. 308-309 (رسالہ الوصیت،روحانی خزائن جلد20صفحہ308-309)

[7] Risalah Al-Wasiyyat, Ruhani Khazain jilid 20, h. 309 (رسالہ الوصیت، روحانی خزائن جلد 20صفحہ 309).

[8] Sumber referensi: Majalah Al-Fadhl International (الفضل انٹرنیشنل 17؍جون2022ءصفحہ5تا10) pada link https://www.alfazl.com/2022/06/12/49590/

www.alislam.org (website resmi Jemaat Ahmadiyah Internasional bahasa Inggris dan Urdu) dan www.IslamAhmadiyya.net (website resmi Jemaat Ahmadiyah Internasional bahasa Arab) pada link https://www.islamAhmadiyya.net/sermon.asp?recordId=34444. Penerjemah: Mln. Mahmud Ahmad Wardi, Syahid (London-UK), Mln. Hasyim dan Mln. Fazli ‘Umar Faruq. Editor: Dildaar Ahmad Dartono. Peringkas khulashah untuk judul tema dan bahasan khotbah dikutip dari Qamar Ahmad Zhafr, redaksi al-Fadhl online Jerman (قمر احمد ظفر۔ نمائندہ روزنامہ الفضل آن لائن جرمنی), (بشکریہ الفضل انٹرنیشنل).

Leave a Reply

Begin typing your search above and press return to search.
Select Your Style

You can choose the color for yourself in the theme settings, сolors are shown for an example.